
PEKANBARU (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah Student Forum (HiSuF) wilayah Pekanbaru-Dumai resmi bergulir pada Rabu (09/09/2026). Kegiatan yang diikuti sejumlah santri tersebut digelar secara daring melalui Google Meet.
Meski berlangsung secara virtual, forum berjalan interaktif. Para peserta aktif menyimak materi, berdiskusi, serta mengajukan pertanyaan terkait peran dan masa depan mereka sebagai kader Hidayatullah.
Hari pertama HiSuF menghadirkan sejumlah narasumber dari tingkat pusat. Materi yang disampaikan diarahkan untuk membantu peserta memahami sejarah dan identitas diri, sekaligus menumbuhkan keberanian berpikir, semangat belajar, serta kesadaran bahwa masa muda merupakan momentum penting untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin dan pembangun peradaban.
Belajar dari Muhammad Al-Fatih
Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Riau, Ustadz Abdul Ja’far Shadiq, dalam sambutan pembukaan mengajak peserta mengambil pelajaran dari perjalanan Sultan Muhammad Al-Fatih.
Menurutnya, keberhasilan Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel tidak lahir secara tiba-tiba. Sejak kecil, gurunya telah menanamkan keyakinan bahwa sosok yang dimaksud dalam kabar gembira Rasulullah SAW tentang penakluk Konstantinopel adalah dirinya.
Pendidikan tersebut, menurut Abdul Ja’far, turut membentuk keberanian berpikir dan bertindak hingga akhirnya mengubah arah sejarah dunia.
“Jangan pernah merasa terlalu muda untuk melakukan sesuatu yang besar. Justru masa muda adalah kesempatan terbaik memulai tindakan yang benar, positif, dan bernilai,” pesannya.
Ia juga mengingatkan ungkapan Bung Karno, “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia,” sebagai gambaran besarnya potensi yang dimiliki generasi muda.
Meneguhkan Identitas Santri
Pada sesi berikutnya, Ketua Departemen Rekrutmen DPP Hidayatullah, Imam Nawawi, mengajak peserta memahami identitas seorang Muslim.
Menurutnya, identitas seorang pelajar tidak berhenti pada nama atau status yang tercantum dalam kartu pelajar, tetapi berakar pada jati diri sebagai umat Nabi Muhammad SAW.
“Sejak sekarang kita perlu menyiapkan kapasitas diri untuk menjadi pemimpin di masa depan. Itulah identitas yang seharusnya tumbuh dalam diri seorang santri,” jelasnya.
Imam yang juga dikenal melalui media sosial dengan nama Mas Imam Nawawi itu kemudian mengajak peserta membiasakan diri berpikir ilmiah.
Ia menilai, berbagai persoalan umat dapat diurai ketika generasi muda terbiasa membangun pendapat berdasarkan ilmu dan rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Setiap ungkapan yang kita tulis atau sampaikan harus memiliki dasar ilmu dan referensi yang valid. Itulah disiplin berpikir ilmiah yang perlu terus kita latih,” ujarnya.
Menemukan Identitas Diri
Suasana forum semakin hidup ketika salah seorang santriwati, Zhafira, mengajukan pertanyaan tentang bagaimana menemukan identitas diri sebagai santri Hidayatullah.
Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk membahas arah hidup seorang kader. Menanggapi hal itu, Imam menjelaskan bahwa misi seorang santri tidak berhenti pada keberhasilan pribadi.
Lebih dari itu, setiap kader memikul amanah untuk ikut membangun peradaban melalui budaya membaca, menulis, berdakwah, serta membiasakan amalan-amalan utama yang terkandung dalam Surah Al-Muzzammil.
Sesi berikutnya dilanjutkan Ketua Departemen Perkaderan Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH), Beny Soleh, yang saat ini sedang menempuh studi di LIPIA Jakarta.
Rangkaian HiSuF Pekanbaru-Dumai akan berlanjut pada Kamis (10/9/2026). Pada hari kedua, peserta dijadwalkan mengikuti materi yang disampaikan Wasekjen PP Pemuda Hidayatullah, Bang Refra, dan Kepala Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, Fuadz Fahruddin.






