
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua DPP Hidayatullah Bidang Pendidikan, Muzakkir Usman, M.Pd., Ph.D., menegaskan pentingnya percepatan penyusunan buku ajar Pendidikan Integral Berbasis Tauhid (PIBT) sebagai bagian dari penguatan standar kurikulum Hidayatullah di seluruh jenjang pendidikan.
Hal itu disampaikan saat membuka Workshop Online Penulisan Buku Ajar PIBT bertema “Menjadi Penulis Produktif” yang digelar secara daring melalui platform Zoom, Jumat (3/7/2026). Kegiatan ini diikuti 120 tenaga pendidik Hidayatullah dari seluruh daerah di Indonesia yang dipersiapkan menjadi penulis buku ajar berbasis tauhid.
Menurut Muzakkir, pengembangan Pendidikan Integral Berbasis Tauhid selama ini telah melalui proses panjang melalui penyusunan standar kurikulum. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan kurikulum tersebut ke dalam buku ajar yang dapat digunakan secara sistematis di seluruh satuan pendidikan Hidayatullah.
“Harapan kita pada periode ini, kurikulum Pendidikan Integral Berbasis Tauhid dapat diturunkan ke dalam buku-buku ajar yang mencakup seluruh mata pelajaran di semua jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, hingga SMA,” ujarnya.
Ia menilai penyusunan buku ajar menjadi pekerjaan strategis yang memerlukan keterlibatan seluruh guru Hidayatullah. Potensi sumber daya yang tersebar di berbagai daerah dinilai menjadi modal besar untuk melahirkan bahan ajar yang lahir dari pengalaman praktik pendidikan di lapangan.
“Kita memiliki sumber daya yang luar biasa. Guru-guru dari seluruh Indonesia memiliki pengalaman yang saling melengkapi. Karena itu, proses penyusunan buku ini harus melibatkan sebanyak mungkin guru agar menjadi karya bersama,” katanya.
Muzakkir menegaskan bahwa buku yang disusun bukan sekadar menambahkan ayat Al-Qur’an atau pesan-pesan keagamaan pada setiap materi pelajaran. Menurutnya, pendekatan integral berbasis tauhid harus diwujudkan melalui cara pandang dan penyajian materi yang tetap menjaga kedalaman disiplin ilmu.

“Kita ingin menghadirkan buku matematika berbasis tauhid, sains berbasis tauhid, dan mata pelajaran lainnya. Tetapi jangan sampai pembelajaran sains atau matematika justru terasa seperti pelajaran Pendidikan Agama Islam. Pengetahuan sains dan matematikanya harus tetap bertambah, sementara nilai-nilai tauhid terintegrasi secara utuh,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa penyamaan paradigma mengenai Pendidikan Integral Berbasis Tauhid menjadi tahapan pertama yang harus dipahami seluruh penulis sebelum memasuki proses teknis penyusunan buku ajar.
“Yang pertama ingin kita samakan adalah paradigma Pendidikan Integral Berbasis Tauhid. Setelah itu baru bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai tauhid ke dalam materi ajar tanpa menghilangkan kedalaman substansi setiap mata pelajaran,” ujarnya.
Dalam proses penyusunan buku, para peserta akan mendapatkan pendampingan dari mentor yang berpengalaman dalam pengembangan bahan ajar. Pendampingan tersebut diharapkan mampu menghasilkan buku ajar yang memenuhi standar kurikulum Hidayatullah sekaligus relevan dengan kebutuhan pembelajaran di kelas.
Muzakkir mengungkapkan, DPP Hidayatullah menargetkan seluruh buku ajar selesai disusun secara bertahap dalam lima tahun ke depan. Pada tahap awal, penyusunan difokuskan untuk jenjang sekolah dasar, kemudian dilanjutkan ke tingkat menengah.
“Kita tidak ingin buku ini lahir melalui pendekatan top-down. Buku ajar ini harus lahir dari pengalaman para guru di lapangan, dari praktik-praktik terbaik yang selama bertahun-tahun mereka lakukan. Dari akar rumput itulah nanti lahir standar buku ajar Hidayatullah,” katanya.
Ia berharap workshop ini menjadi momentum lahirnya penulis-penulis produktif yang mampu menghasilkan buku ajar berkualitas sekaligus menjadi warisan intelektual bagi perkembangan pendidikan Hidayatullah.
“Mudah-mudahan dari kegiatan ini lahir banyak penulis buku ajar berbasis tauhid. Ini bukan hanya menjadi kontribusi bagi pendidikan Hidayatullah, tetapi juga menjadi amal jariah yang manfaatnya terus dirasakan sepanjang masa,” pungkasnya.






