spot_img

Gender Nonbiner Menyimpang dan Lampaui Batas, Harus Disembuhkan

Content Partner

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam Islam gender hanya dikenal laki laki dan perempuan. Keduanya merupakan fitrah kehidupan dimana Allah SWT meciptakannya untuk berpasang pasangan.

Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi mengatakan jika ada gender diluar dua kelamin tersebut seperti klaim gender nonbiner, maka itu adalah bentuk kesombongan, menyimpang, dan melampaui batas.

Imam menilai, paradigma Barat tentang gender telah terlampau jauh merasuk ke dalam sistem berpikir masyarakat sehingga acapkali dianggap benar dan yang menerimanya diglorifikasi sebagai open minded.

Padahal, terang Imam, Islam dengan konfrehensif mengatur relasi gender yang menjunjung tinggi nilai keadilan dan persamaan keduanya dihadapan Allah SWT sebagai hamba dan khalifah di bumi dengan kapasitas fitrahnya masing masing.

“Saya sendiri pun heran, mengapa kita sebagai bangsa Indonesia, lebih khsuus umat beragama, harus menerima, mengakui dan menghormati nilai-nilai dunia global begitu saja,” kata Imam dalam obrolan dengan media ini ruang kerjanya di Jakarta, Selasa, 25 Muharram 1444 (23/8/2022).

“Pada saat yang sama, mengapa dunia global tidak menghargai pandangan bangsa Indonesia, terkhusus umat Islam. Mengapa tidak setara seperti itu,” imbuhnya heran.

Penulis buku Mindset Surga ini pun mempertanyakan mengapa paradigma Barat tentang gender begitu amat dipaksakan, yang, siapapun berbeda dengannya, akan diinsinuasi sebagai pelanggar hak asasi manusia (HAM).

“Kemudian ‘manusia’, mengapa harus versi Barat semata. Kenapa versi Indonesia, versi umat Islam tentang manusia tidak dapat pengakuan dunia,” tanyanya.

Dia menjelaskan seraya bertanya, ketika menyebut HAM, maka “M” alias manusianya itu manusia yang mana, yang berpaham apa? Lalu kalau benar dunia saling menghargai, mengapa “M” Barat harus kita terima sebagai “M” Indonesia?

“Sedangkan Barat tidak mau menerima “M” Indonesia. Apakah ini bukan “penjajahan” atas istilah “manusia. Lebih dalam lagi, apakah begini keadilan dalam menghargai sama-sama manusia modern.

Di sisi lain, Pancasila sebagai falsafah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara telah mendemarkasi secara tegas dan lugas bahwa nilai nilai ketuhanan dan keadaban moral hendaknya menjadi penuntun.

“Lantas, kalau kita terima pandangan global yang memaksa seperti itu, lalu dimana kita letakkan Pancasila,” tukasnya.

Oleh sebab itu, menurut Imam, amat penting menanamkan cara berpikir (framework) dan pandangan hidup (worldviews) yang benar kepada generasi muda sebagaimana tuntunan Ilahi agar mereka tak tercerabut dari akarnya sebagai bangsa yang beradab dan berketuhanan.

“Disamping itu, mereka yang terperosok dan terbawa arus, harus dibantu untuk disembuhkan dengan melakukan gerakan pencerahan dan penyadaran secara terus menerus,” tandasnya.

Seperti diketahui, belakangan ini sedang viral isu identitas nonbiner (non binary) yang dilontarkan oleh seorang mahasiswa di Makassar, yaitu identitas gender yang tidak merujuk secara spesifik pada salah satu gender seperti perempuan maupun laki-laki. Ia tak bisa mengasosiasikan dirinya ke dalam jenis kelamin pria atau wanita.*/Ain

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Selamat Jalan, Wahai Kawan kawanku!

SETELAH epicentrum gerakan spiritual dan moral, berikutnya adalah menjadikan kampus-kampus Hidayatullah di seluruh Indonesia sebagai epicentrum gerakan keilmuan. Karena...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img