Beranda blog Halaman 117

Merawat Optimisme dan Kesungguhan Diiringi Pengharapan kepada Allah

0

SIANG itu, selepas menunaikan salat dzuhur, ponsel yang tersimpan di saku celana tiba-tiba berdering. Suara seorang teman dari ujung telepon terdengar akrab.

Teman saya ini, yang baru saja pindah ke Jakarta, memulai pembicaraan dengan keluhan dan kekhawatiran tentang kehidupan di ibu kota yang terkenal dengan biaya hidupnya yang tinggi.

Sejenak saya teringat perjalanannya. Selepas menyelesaikan pendidikan menengah di kampung halaman, dia melanjutkan studi di Makassar. Setelah itu, dia melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, sebelum akhirnya meniti karir di Jakarta.

Kini, kabar bahagia tentang rencana pernikahannya dengan seorang dosen di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) disertai kegelisahan mengenai masa depan kehidupan rumah tangga di Jakarta.

Mendengar keluhannya, saya menyampaikan sebuah nasihat yang terinspirasi dari Ustadz Abdullah Said, pendiri Hidayatullah: “Tuhan yang di Makassar itu juga Tuhan yang di Jakarta.”

Ungkapan Ustadz Abdullah Said ini sering betul diulas dalam banyak kesempatan sebagai sebuah pengingat mendalam tentang kebesaran Allah yang melampaui batas geografis. Firman Allah dalam Al-Qur’an mempertegas keyakinan ini:

وَلِلَّهِ ٱلْمَشْرِقُ وَٱلْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا۟ فَثَمَّ وَجْهُ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Surah Al-Baqarah ayat 115 ini mengingatkan bahwa Allah “hadir” di mana saja. Tidak ada ruang atau tempat yang dapat membatasi-Nya. Hal yang diperlukan dari seorang hamba adalah iman yang kokoh dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita, bahkan di tengah tantangan sebesar apa pun.

Hadirkan Ketenangan

Dalam menghadapi tantangan hidup, termasuk tingginya biaya hidup di Jakarta yang dicemaskan kawan tadi, ulama berpesan bahwa iman adalah obatnya. Keimanan kepada Allah menciptakan ketenangan batin yang memungkinkan seseorang untuk tidak larut dalam kecemasan. Sebagaimana firman Allah:

لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

“Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)

Ayat ini memberikan pemahaman yang sangat tegas bahwa rezeki adalah tanggung jawab Allah, bukan urusan manusia. Namun, ini bukan berarti manusia bisa berpangku tangan.

Justru, ayat ini mengajarkan bahwa dengan ketakwaan dan kesungguhan, seseorang akan mendapatkan keberkahan rezeki yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka.

Selain iman, usaha maksimal adalah bentuk nyata dari keimanan dan syukur kepada Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bekerja keras mencari karunia-Nya di muka bumi:

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

Lafaz Al Qur’an ayat kesepuluh dari surah Al Jumu’ah di atas ini menjadi pedoman bahwa setelah menyelesaikan kewajiban kepada Allah, manusia diperintahkan untuk menjemput karunia-Nya dengan usaha yang maksimal.

Fan tasyiruu fil ardh!

Hamparan bumi adalah tempat manusia untuk mencari rezeki dan meraih keberhasilan. Namun, kerja keras ini harus diiringi dengan zikir dan ingatan kepada Allah agar usaha tersebut menjadi berkah.

Pepatah Arab “Man jadda wajada” (Barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil) menjadi cerminan prinsip ini. Kesungguhan dan ketekunan dalam usaha, dengan tetap bersandar pada Allah, adalah kunci kebahagiaan. Dan, kebahagiaan itulah sejatinya kesuksesan.

Selalu Optimis

Tingginya biaya hidup di kota besar seperti Jakarta seringkali menimbulkan kekhawatiran. Namun, iman kepada Allah memberikan keyakinan bahwa setiap masalah memiliki solusi. Allah telah menjamin rezeki bagi setiap makhluk-Nya. Rasulullah SAW bersabda:

لَو أَنَّكُمْ تَوكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرزُقُ الطَّيرَ ، تَغدُو خِماصاً ، وتَروحُ بِطَاناً

“Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi pagi hari dalam keadaan lapar, lalu pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)

Hadis dengan sanad yang kuat dan perawi yang tsiqqah ini mengajarkan bahwa Allah tidak hanya memberikan janji, tetapi juga solusi. Burung, yang tidak memiliki gudang atau tempat penyimpanan, tetap mendapatkan rezeki setiap hari.

Maka, manusia sebagai makhluk yang diberikan akal dan kemampuan lebih, tentu memiliki peluang yang lebih besar jika mau berusaha.

Kesungguhan usaha diiringi keimanan kepada Allah menjadi kombinasi yang tak terkalahkan. Dalam Islam, kerja keras bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga sebentuk ibadah. Setiap langkah dalam mencari rezeki, jika diniatkan karena Allah, akan bernilai pahala.

Kuncinya terletak pada kesungguhan dan ketakwaan. Sebagaimana janji Allah dalam Al-Qur’an:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2-3)

Semoga Allah Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk selalu menjadikan iman sebagai landasan, kerja keras sebagai jalan ikhtiar, dan doa sebagai penguat, niscaya Allah akan mencurahkan rahmat-Nya tanpa batas, Aaamiiin.[]

*) Adam Sukiman, penulis founder komunitas Emas Jakarta dan dan Ketua Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta

Menakar Masa Depan dan Regenerasi Terencana Berbasis Nilai

0

KATA “transisi” sering kali memicu ketegangan, terutama di kalangan generasi senior yang khawatir akan keberlanjutan estafet dakwah. Kekhawatiran ini wajar, terutama ketika melihat dinamika di mana kelompok muda mulai menerima amanah besar dalam organisasi.

Namun, seperti yang tercermin dalam kisah Nabi Ya’kub yang bertanya kepada anak-anaknya, “Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku?” fokus kekhawatiran seharusnya bukan pada hal teknis, melainkan pada orientasi nilai dan tujuan.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah generasi penerus masih memiliki komitmen terhadap nilai dan prinsip-prinsip dasar yang telah menjadi pilar organisasi?

Menurut data dari penelitian oleh Harvard Business Review (2007), 70% organisasi yang gagal dalam transisi kepemimpinan disebabkan kurangnya persiapan regenerasi yang matang. Angka ini menunjukkan bahwa transisi bukan hanya tentang mengganti pemimpin lama dengan yang baru, tetapi juga tentang memastikan kesinambungan nilai, visi, dan tujuan organisasi.

Gejala ini juga sudah dipikirkan oleh orang-orang senior, seperti yang dijelaskan dalam buku Nilai Kepemimpinan AR Fachrudin karya Muhammad Ikhwan Ahada, yang menyodorkan beberapa kriteria tentang kapasitas yang wajib dimiliki kaum muda yang layak memimpin Muhammadiyah, yaitu menjaga maksud dan tujuan organisasi, memiliki kepribadian Muhammadiyah, menjaga keutuhan organisasi, mencintai ilmu dan amal, berani amar ma’ruf nahi munkar, serta suka berderma.

Kriteria dari AR Fachrudin ini menegaskan bahwa regenerasi bukan hanya tentang usia muda, tetapi juga kesiapan intelektual, spiritual, dan sosial. Dengan demikian, pertanyaan penting berikutnya bukanlah apakah generasi muda siap menerima amanah besar ini, melainkan apakah organisasi telah melakukan upaya yang cukup untuk menyiapkan mereka?

Kunci Sukses Regenerasi

Sejarah telah membuktikan bahwa regenerasi yang sukses selalu bergantung pada persiapan yang matang. Sayyidina Ali pernah berkata, “Jika kamu ingin melihat masa depan sebuah negara, lihatlah pemuda-pemudinya hari ini.”

Pesan Ali ini menjadi panduan strategis yang telah dipraktikkan sejak awal oleh Rasulullah SAW. Usamah bin Zaid, yang berusia 18 tahun, memimpin pasukan besar umat Islam yang beranggotakan tokoh-tokoh senior seperti Abu Bakar dan Umar.

Contoh lain adalah Al-Arqam bin Abil Arqam, yang pada usia 16 tahun telah menawarkan rumahnya sebagai markas dakwah Nabi Muhammad SAW.

Mempersiapkan generasi muda tidak bisa dilakukan secara spontan tapi hal ini amat mendasar untuk dilakukan. Karena, kita menyadari bahwa dengan program regenerasi formal, tingkat keberhasilan transisi kepemimpinan lebih tinggi dibandingkan jika tidak memiliki program serupa.

Persiapan adalah investasi yang sangat penting. Organisasi harus mulai memberikan ruang bagi pemuda untuk belajar, berproses, dan berkembang dalam berbagai aspek, seperti kepemimpinan, pengelolaan organisasi, dan penguatan spiritual.

Penting untuk memastikan bahwa calon pemimpin muda tidak hanya memahami visi dan misi organisasi, tetapi juga memiliki keterampilan teknis, seperti administrasi, komunikasi, dan pengelolaan sumber daya.

Lebih jauh, mereka juga harus dilatih untuk menghadapi dinamika sosial, menjaga harmoni dalam organisasi, dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan pemicu konflik.

Belajar dari Sejarah

Sejarah Islam mencatat banyak pemimpin muda yang berhasil membawa perubahan besar karena persiapan yang matang sejak dini. Salah satu contohnya adalah Abdurrahman Al-Nasir, cucu Abdurrahman Al-Dakhil.

Abdurrahman Al-Nasir dikenal sebagai salah satu pemimpin besar di Andalusia yang memadukan kepemimpinan visioner dengan komitmen pada nilai-nilai Islam.

Pada usia muda, ia telah menguasai seni kepemimpinan, administrasi, dan ilmu pengetahuan, serta terlatih dalam seni keprajuritan.

Kisah sosok Abdurrahman Al-Nasir ini memberikan pelajaran penting bahwa regenerasi yang sukses membutuhkan proses panjang yang dimulai sejak dini. Pemimpin muda yang sukses bukanlah hasil dari seleksi instan, tetapi dari pembinaan berkelanjutan yang melibatkan pendidikan, pengalaman, dan keteladanan.

Dalam kerangka organisasi modern, proses panjang ini juga mempertimbangkan aspek lainnya mengenai perlunya program pelatihan kepemimpinan, mentoring, dan pembekalan yang terintegrasi.

Regenerasi sering kali diiringi oleh kekhawatiran dan keraguan, terutama dari generasi senior yang mungkin merasa sulit melepas kontrol. Namun, seperti yang telah dikemukakan, fokus seharusnya bukan pada mempertanyakan kemampuan generasi muda, tetapi pada mempersiapkan mereka dengan baik.

Rasulullah SAW telah memberikan contoh nyata bagaimana membangun kapasitas pemuda dengan memberikan mereka ruang dan kepercayaan untuk berkembang.

Oleh karena itu, organisasi perlu mengubah paradigma dari “meragukan kemampuan” menjadi “membangun kapasitas”. Seperti halnya sistem operasi Android di HP kita yang terus diperbarui, organisasi juga harus terus memperbarui program pembinaan kader muda.

Langkah-langkah seperti pelatihan kepemimpinan berbasis nilai, pembekalan teknis, dan peningkatan keterampilan komunikasi adalah bagian dari upaya ini.

Regenerasi bukan tentang siapa yang memimpin, tetapi bagaimana memastikan bahwa pemimpin berikutnya adalah individu yang tepat, dengan visi dan kapasitas yang sesuai. Dengan persiapan yang matang, transisi akan menjadi proses yang mulus, dan organisasi dapat terus bergerak maju dengan keyakinan, bukan keraguan.

Singkatnya, regenerasi adalah keniscayaan dalam setiap organisasi, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada bagaimana persiapan dilakukan. Dan, perlu diingat, regenerasi bukanlah proses instan.

Oleh karena itu, sekali lagi, organisasi harus berinvestasi dalam program pembinaan yang komprehensif untuk memastikan bahwa generasi muda tidak hanya siap secara teknis, tetapi juga memiliki komitmen terhadap nilai dan tujuan organisasi.

Sebagai generasi senior, tugas kita bukanlah mempertanyakan, tetapi membimbing, mendukung, dan mempercayakan estafet perjuangan kepada mereka yang telah kita siapkan.[]

*) Imam Nawawi, penulis Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah 2020-2023, Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect)

Mujahid Dakwah Ismail Ali Meninggal Saat Mengunjungi Suku Taa Wana

0
Almarhum Ust Ismail Ali (baju merah) besama Ketua Posdai Ust Abdul Muin (Foto: istimewa/ hidayatullah.or.id)

MORAWALI UTARA (Hidayatullah.or.id) — Innalillahi wa innailaihi rojiun. Telah meninggal dunia mujahid dakwah, Ust Ismail Ali, saat mendampingi tim PosDai Hidayatullah mengunjungi suku pedalaman Taa Wana, Sulawesi Tengah, pada Senin, 21 Jumadil Akhir 1446/ 23 Desember 2024 sekitar pukul 15.00.

Ust Ismail Ali sebenarnya sudah lama ingin mengunjungi dan terlibat dalam dakwah di suku Taa Wana. Namun, kesempatan itu belum juga datang, hingga Kamis malam (19/12/2024), ketika tim PsDai berencana mengantarkan sejumlah bantuan ke suku Taa Wana, Ust Ismail Ali menawarkan diri untuk ikut.

“Kami sangat senang Ust Ismail bisa ikut karena memang sudah lama beliau ingin terlibat dalam dakwah di Suku Wana,” jelas Ketua PosDai Pusat, Abdul Muin yang memimpin langsung perjalanan ke Suku Wana.

Perjalanan dari Palu menuju Toili dan terus ke Desa Salubiro ditempuh dengan mobil. Namun, hujan deras turun dan terpaksa perjalanan dilanjutkan berjalan kaki setelah hujan reda.

Setelah berjalan selama empat jam, tim tiba di pinggir Sungai Bongka. Perkampungan Watu Marando, tempat Suku Wana yang dibina oleh PosDai Hidayatullah menetap, berada di seberang sungai. Perjalanan sedikit lagi sampai.

Ust Ismail sempat memberi semangat kepada tim dengan berteriak, “Kita ini lelah, tapi tetap semangat karena lillah.” Namun, beberapa saat kemudian, beliau roboh.

Tubuh beliau sempat dibawa ke anjungan terdekat. Namun, Allah Ta’ala berkehendak memangil beliau. Sang Mujahid Dakwah itu pergi menghadap Sang Khaliq dalam perjalanan dakwah yang indah.

Semoga Allah Ta’ala mengampuni dan merahmati beliau serta memasukkan beliau ke Surga Firdaus bersama para Nabi, syuhada, dan orang-orang saleh. Semoga keluarga yang ditinggalkan ikhlas menerima takdir ini. Aamiiin.*/Mahladi

Kejujuran dan Selalu Ada Jalan untuk Bangkit dari Kesalahan Masa Lalu

0

SETIAP orang tentu tidak ingin melakukan kesalahan, apalagi harus menanggung kesalahan yang diperbuat oleh orang lain. Meski demikian, dalam kenyataan hidup, kesalahan tidak dapat dihindari.

Kesalahan sering kali meninggalkan dampak psikologis yang mendalam, seperti rasa malu, tidak tenang, berkurangnya kepercayaan diri, hingga stres akibat tekanan mental yang berat. Namun, apakah berbuat salah adalah sesuatu yang sepenuhnya buruk dan harus dihindari?

Kesalahan adalah bagian dari kehidupan manusia. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَهُوَ ٱلَّذِى يَقْبَلُ ٱلتَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِۦ وَيَعْفُوا۟ عَنِ ٱلسَّيِّـَٔاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

“Dan Dia menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Asy-Syura: 25).

Ayat ini menegaskan bahwa manusia memang memiliki kecenderungan untuk melakukan kesalahan, namun Allah Maha Penerima Taubat dan Pengampun.

Oleh karena itu, alih-alih memandang kesalahan sebagai sesuatu yang harus diratapi belaka, kita dapat memanfaatkannya sebagai peluang untuk belajar dan bertumbuh.

Dengan bekal ilmu dan pengalaman, kita dapat menganalisis dan merenungkan tindakan kita agar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Mutiara Berharga

Bagi mereka yang berkomitmen untuk terus tumbuh, kesalahan tidak selalu berdampak negatif. Kesalahan dapat menjadi “mutiara berharga” yang membimbing kita menjadi pribadi yang lebih baik dengan dibarengi taubatan nasuha.

Dalam setiap kesalahan terdapat pelajaran yang dapat dijadikan acuan untuk perbaikan. Dengan evaluasi yang mendalam, kita dapat memahami kelemahan dan mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasinya.

Ilmuan Steven Brown pernah menyatakan begini, “Pada dasarnya ada dua tindakan dalam hidup; perbuatan dan dalih. Buatlah suatu keputusan seperti halnya yang Anda terima dari diri Anda sendiri”. Pandangan Brown ini menggambarkan pentingnya bertindak berdasarkan kejujuran, tanpa dalih atau alasan yang memperburuk situasi.

Mengakui kesalahan adalah langkah awal menuju perbaikan. Sebaliknya, bersembunyi di balik dalih hanya akan menggerus kepercayaan orang lain. Ketika seseorang dengan jujur mengakui kesalahan, mereka menunjukkan integritas dan tanggung jawab. Hal ini selaras dengan hadis Nabi Muhammad SAW:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

“Setiap anak Adam adalah pendosa, dan sebaik-baik pendosa adalah mereka yang bertaubat” (HR. Tirmidzi)

Mengakui kesalahan juga membuka pintu menuju produktivitas yang lebih tinggi. Dengan menghindari pola pikir defensif, seseorang dapat lebih fokus pada solusi daripada menyalahkan keadaan atau orang lain. Sebagai hasilnya, kita tidak hanya memperbaiki diri tetapi juga membangun kredibilitas yang kokoh di mata orang lain.

Kejujuran

Kejujuran adalah nilai utama yang mendasari integritas. Dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan manusia untuk selalu jujur:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah, dan ucapkanlah perkataan yang benar” (QS. Al-Ahzab: 70).

Kejujuran membawa berbagai manfaat, baik secara individu maupun sosial. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang jujur cenderung memiliki hubungan yang lebih harmonis, tingkat stres yang lebih rendah, dan kesehatan mental yang lebih baik.

Sebaliknya, berbohong atau berkelit dapat menyebabkan perasaan bersalah, kecemasan, dan rusaknya kepercayaan dalam hubungan.

Manfaat kejujuran juga dirasakan dalam konteks profesional. Individu yang jujur dan transparan lebih dihargai dan dipercaya oleh rekan kerja maupun atasan. Mereka dianggap sebagai orang yang dapat diandalkan dan berintegritas, sehingga peluang karier mereka lebih besar.

Dalam pada itu, kesalahan adalah bagian tak terpisahkan dari proses belajar. Ketika kita menerima kesalahan sebagai bagian dari perjalanan menuju kesuksesan (baca: kebahagiaan), kita dapat membangun kebiasaan baik seperti introspeksi, evaluasi, dan perbaikan diri.

Penting kiranya untuk melakukan evaluasi diri saat kita sadar telah melakukan kesalahan. Setelah melakukan kesalahan, luangkan waktu untuk merenungkan apa yang salah dan bagaimana hal itu dapat diperbaiki.

Di waktu yang sama, kita perlu menepikan ego dan melapangkan hati membuka diri untuk belajar dari orang lain, terutama mengamati bagaimana orang lain menghadapi tantangan serupa dan kita belajar dari pengalaman mereka.

Komitmen untuk perubahan harus juga didukung dengan rencana konkret untuk menghindari kesalahan yang sama di masa depan.

Bahkan, tak perlu malu, jika kesalahan kita merugikan orang lain, untuk segera minta maaf dan berupaya memperbaiki kerugian tersebut.

Dalam Islam, kejujuran dan berbuat baik sangat dianjurkan. Allah berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan” (QS. An-Nahl: 90).

Selain itu, berbagai penelitian menunjukkan manfaat luar biasa dari berbuat baik. Studi di bidang psikologi sosial menemukan bahwa berbuat baik meningkatkan hormon kebahagiaan seperti serotonin dan dopamin. Tindakan ini juga mempromosikan kesehatan fisik dengan mengurangi tekanan darah dan meningkatkan sistem imun.

Kejujuran, yang menjadi inti dari berbuat baik, memiliki efek jangka panjang yang positif. Sebuah studi dari University of Notre Dame menemukan bahwa orang yang hidup dengan jujur cenderung lebih sehat secara fisik dan emosional.

Peneliti menyimpulkan bahwa kejujuran mengurangi stres akibat kebohongan dan meningkatkan kualitas hubungan interpersonal.

Kesalahan adalah bagian dari kehidupan, tetapi cara kita meresponsnya menentukan siapa kita sebenarnya. Dengan mengakui kesalahan, berkomitmen untuk belajar, dan berpegang pada nilai kejujuran, kita dapat mengubah kesalahan menjadi langkah titik balik untuk menjadi lebih baik lagi.

Dalam setiap perjalanan yang gelap tertutup awan dosa dan kesalahan yang berkelindan, selalu ada peluang untuk bangkit menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bijak, dan lebih bermanfaat bagi sesama.[]

*) Adam Sukiman, penulis adalah khatib dan guru ngaji. Saat ini diamanahi sebagai Ketua Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta

Keutamaan Shadaqah Shubuh, Bukti Keimanan dan Jalan Menuju Keberkahan Hidup

0

AMALAN pagi utama berikutnya setelah shalat shubuh berjamaah di masjid dan wirid pagi adalah shadaqah shubuh. Dua amalan yang mulia, shadaqahnya mulia dan waktu shubuhnya berkah.

Shadaqah adalah salah satu amalan yang dicintai oleh Allah karena berdimensi dua yaitu bernilai di sisi Allah dan bermanfaat bagi orang lain. Biasanya amal yang dicintai Allah, pelaksanaannya berat karena berhadapan dengan nafsu yang biasanya menghalanginya.

Menurut terminologi, shadaqah berasal dari kata “shidqoh” yang artinya “benar”. Menurut penjelasan para ulama, orang yang suka bersedekah adalah orang yang benar pengakuan imannya.

Jadi, shadaqah adalah perwujudan pembenaran sekaligus bukti keimanan seseorang. Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadist:

الصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ

“Sedekah itu adalah bukti (iman) yang nyata…” (HR. Muslim)

Shadaqah juga bisa diartikan sebagai pembelanjaan yang dilakukan di jalan Allah. Shadaqah juga dapat bermakna infak, zakat, dan kebaikan non-materi. seperti tersenyum, berbagi ilmu, membantu menyelesaikan masalah orang lain, bahkan shalat sunnah.

Sebenarnya shadaqah bisa kapan saja dan semuanya baik. Tapi ada waktu yang khusus disebutkan oleh Rasulullah yaitu shadaqah di waktu shubuh, artinya ada pengkhususan yang istimewa di waktu shubuh untuk bershadaqah.

Shadaqah shubuh termasuk amalan agung dan dahsyat pahala yang disiapkan oleh Allah.

Salah satu keistimewaan shadaqah di waktu shubuh karena ada malaikat yang ditugaskan secara khusus setiap shubuh. Sebagaimana Abu Hurairah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)

Subhanallah, siapa yang tidak mau didoakan oleh malaikat, mahluk yang paling taat dengan perintah dan tentu dekat dengan Allah maka doanya tentu mustajab.

Semua orang ingin hajat dan keinginannya bisa terkabul maka shadaqah yang diiringi dengan doa bisa menjadi jalan untuk memudahkan urusannya.

Kedua, apa tidak takut didoakan malaikat dengan bagi orang yang tidak bershadaqah didoakan untuk mendapatkan musibah, malapetaka atau kebangkrutan. Bukankah semua orang mengharapkan keuntungan, keselamatan dan kesuksesan di dunia dan akherat.

Hadist di atas, bagi orang beriman tidak ada pilihan kecuali harus bershadaqah setiap shubuh untuk mendapatkan kebaikan dan menghindarkan dari kebangkrutan. Berusaha memprioritaskan secara konsisten untuk bershadaqah setiap shubuh.

Selama ini, mungkin kita sudah sering berdoa dan minta doa dari orang lain sebagai bentuk ikhtiar dan wujud kehambaan kepada Allah. Bahkan sebagian orang pergi ke sana ke mari, dari ustadz satu ke ustadz lain untuk minta doa. Ada juga yang menyimpang dengan meminta doa kepada kuburan orang-orang sholeh atau mereka sudah wafat.

Doa adalah kebutuhan bagi seorang hamba atas segala hajat atau menghindarkan dari segala bahaya yang mengancamnya, mengurai berbagai kesulitan hidup yang dihadapinya.

Doa bukan masalah diijabah atau tidaknya oleh Allah tapi tentang keyakinan bahwa menjadi hamba itu lemah dan Allah Maha Kuasa.

Urgensi doa, sehingga Allah memberikan kesempatan manusia didoakan oleh malaikat. Mahluk yang tidak pernah berdosa, tidak memiliki inters, tidak punya nafsu, sehingga doa memiliki kedudukan tersendiri di hadapan Allah.

Pagi hari dari mulai shubuh memulai dengan kebaikan, salah satunya dengan kebaikan shadaqah. Jika awal sudah baik, insya Allah sepanjang hari akan diberikan banyak kebaikan dan keberkahan.

Shadaqah di waktu shubuh artinya memulai hari dengan mindset dan orientasi beramal kebaikan untuk meringankan beban orang lain. Ada keyakinan terhadap janji Allah terhadap dua doa malaikat di setiap shubuh.

Alhamdulillah saat ini mulai marak gerakan shadaqah shubuh dari banyak kalangan, masjid, majelis taklim, sekolah, pesantren. Geliat ini karena meningkatnya dakwah dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya shadaqah shubuh.

Ada yang terang-terangan dengan memilih shubuh Jumat, ada berbagi makanan setiap shubuh kepada orang-orang tidak mampu di sepanjang jalan. Ada juga yang diam-diam dengan transfer setiap shubuh ke rekening masjid, pesantren, panti asuhan, atau lembaga amil zakat.

Dalam Al Quran, disebutkan bahwa manusia yang sudah wafat, mereka memohon agar hidup lagi supaya bisa bersedekah. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (QS. Al Munafiqun: 10)

Mengapa pada ayat tersebut disebutkan manusia ingin hidup lagi dan beramal shadaqah secara khusus, bukan amal-amal lainnya? Mengapa mereka tidak menyebut ingin hidup lagi untuk shalat, puasa, umroh, haji atau ibadah-ibadah yang lain? Ini pertanyaan-pertanyaan yang menarik untuk dikaji dan dipahami.

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa shadaqah merupakan salah satu amal yang pahalanya mengalir tanpa terputus atau mengalir. Meskipun telah meninggal dunia, tapi pahala shadaqah akan terus mengalir pahalanya bagi orang yang telah bershadaqah.

Maka, sebelum Allah memanggil, semoga kita diberi kemampuan selalu bersegera untuk shadaqah terutama shadaqah secara konsisten setiap shubuh yang sangat jelas keutamaannya. Jika tidak memiliki cukup uang untuk bershadaqah, maka sebarkan tulisan, quote, cerita-cerita tentang keutamaan shadaqah.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Warisan Keteladanan Pendiri Hidayatullah dan Transformasi Nilai Sistematika Wahyu

0

BULUNGAN (Hidayatullah.or.id) — Tabligh Akbar yang berlangsung di Pesantren Hidayatullah, Tanjung Selor, Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara), Ahad, 20 Jumadil Akhir 1446 (23/12/2024) menjadi momentum istimewa untuk menegaskan kembali nilai-nilai perjuangan yang diwariskan oleh Ustadz Abdullah Said (UAS), pendiri Hidayatullah.

Acara ini menghadirkan Anggota Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah Ust. Dr. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, MSi, sebagai narasumber utama, yang membahas bagaimana warisan tersebut tetap relevan dan menjadi panduan dalam membangun generasi pejuang yang siap berkhidmat untuk agama dan bangsa.

Aziz menguraikan bahwa perjalanan Hidayatullah adalah perjalanan panjang yang berakar pada nilai-nilai transformatif yang diwariskan oleh pendirinya.

Dengan berpegang teguh pada Sistematika Wahyu, model kepemimpinan imamah jama’ah, dan lembaga perjuangan sebagai wadah dakwah, Hidayatullah mampu melahirkan kader-kader yang siap menghadapi tantangan zaman.

Melalui transformasi dan transmisi nilai-nilai ini, semangat perjuangan UAS tetap hidup, tidak hanya dalam narasi sejarah, tetapi dalam setiap langkah perjuangan para kadernya.

Dalam tausiyahnya, Aziz menggarisbawahi bahwa warisan perjuangan UAS lebih dari sekadar konsep tertulis. “Beliau meninggalkan kader-kader yang telah digembleng langsung selama bertahun-tahun,” ujar Aziz. Warisan tersebut bukan berupa dokumen yang kaku, melainkan hidup dan bernapas dalam pribadi setiap kader yang siap mengabdi di berbagai penjuru Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, Aziz memaparkan tiga pilar utama yang menjadi inti dari perjuangan UAS. Pertama, sistematika wahyu sebagai manhaj hidup. Menurut Aziz, UAS mendirikan Hidayatullah dengan landasan kokoh, yakni Sistematika Wahyu.

“Kalau bukan karena Sistematika Wahyu, maka Hidayatullah ini tidak perlu ada, hanya akan memperpanjang barisan organisasi Islam,” tegas Aziz. Landasan ini menegaskan bahwa keberadaan Hidayatullah bukan sekadar tambahan dalam deretan organisasi Islam, melainkan memiliki visi dan misi yang unik.

Kedua, kepemimpinan dalam Hidayatullah yang berpusat pada model imamah jama’ah, yakni kepemimpinan yang terstruktur dan jelas. Dalam hal ini, Rasulullah SAW menjadi teladan utama.

Aziz mengutip Surat Ali Imran ayat 159, yang menekankan pentingnya kelembutan hati seorang pemimpin. Namun, kelembutan ini harus diimbangi dengan ketegasan, sebagaimana dicontohkan oleh UAS dalam mendisiplinkan kader tanpa kehilangan rasa kasih.

Pilar ketiga, Hidayatullah sebagai lembaga perjuangan sebagai wadah dakwah yang bertujuan membangun masyarakat yang cerdas, adil, dan makmur.

Menurut Aziz, UAS tidak hanya mendirikan pesantren atau sekolah, melainkan menciptakan individu yang siap berjuang di lapangan. Prinsip ini melandasi penyebaran kader-kader Hidayatullah ke berbagai wilayah Indonesia.

Ustadz Aziz menekankan bahwa kelembutan hati adalah anugerah besar dalam kepemimpinan, namun hal ini tidak menghilangkan kebutuhan akan ketegasan.

Sebagai contoh, ia menceritakan bagaimana UAS menugaskan Ustadz Abdurrahman Muhammad ke Papua sebagai bentuk disiplin karena terlambat kembali dari kampung halaman.

“Ini bukan soal menghukum, tapi tentang menegakkan disiplin dan tanggung jawab,” jelasnya. Keteladanan semacam ini, terang Aziz, menjadi panduan bagi para pemimpin untuk menyeimbangkan empati dan otoritas.

Kunci Keberlanjutan

Salah satu poin penting yang disampaikan Aziz adalah pentingnya transformasi (alih konsepsi) dan transmisi (pewarisan) nilai-nilai perjuangan Hidayatullah.

“Kekuatan Hidayatullah bukan pada gedung-gedung megah, tapi pada jati diri yang tertransformasikan dan tertransmisikan kepada kader-kadernya,” tegasnya. Gedung dan fasilitas fisik, tegas dia, hanyalah alat. Sementara esensi perjuangan terletak pada karakter dan nilai yang tertanam dalam diri setiap kader.

Halaqah, sebagai bentuk kelompok pembinaan, menjadi elemen vital dalam proses ini. Aziz mengingatkan bahwa halaqah harus menjadi kewajiban yang tidak boleh diabaikan.

“Jangan mudah meminta izin untuk tidak berhalaqah,” pesannya. Menurutnya, halaqah bukan hanya sekadar rutinitas, melainkan wahana pembentukan karakter dan pemantapan jati diri.

Masih dalam tausiyahnya, Aziz juga menyoroti kegagalan sistem pendidikan karakter di Indonesia. Menurutnya, karakter tidak dapat dibentuk melalui pelajaran tekstual semata, melainkan melalui keteladanan dan pembiasaan.

Di sinilah, terang dia, peran penting seorang murobbi (pembina) dalam mendampingi kader. “Karakter itu lahir dari proses pembentukan yang konsisten, bukan dari teori belaka,” ujarnya.

Ustadz Aziz mengakhiri tausiyahnya dengan mengingatkan bahwa warisan sejati bukanlah institusi atau fasilitas, melainkan semangat dan nilai-nilai yang ditanamkan pada generasi penerus. “Kader-kader Hidayatullah adalah bukti nyata bahwa perjuangan ini tidak akan pernah berhenti,” pungkasnya.*/Herim

Keutamaan Wirid Pagi untuk Dunia dan Akhirat

0

DALAM salah satu kitabnya yang berjudul, Al-Mufhim Lima Asykala min Talkhis Syarh Shahih Muslim (Dar Ibnu Hazm, Beirut), Imam al-Qurthubi bercerita.

Suatu ketika ia sedang berada di Mahdia, sebuah kota di pesisir Tunisia. Lalu tiba-tiba kakinya disengat oleh kalajengking. Padahal beliau sudah merasa berhati-hati dan memakai pengaman alas kaki.

Setelah mengobati sengatan kalajengking, ulama besar bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr Al-Anshari al-Qurthubi ini merenung sejenak dan teringat bahwa tadi pagi belum sempat wirid atau doa pagi.  

Bacaan wirid memiliki banyak keutamaan yang bisa dirasakan bagi yang konsisten melaksanakan, baik faedah secara fisik maupun mental. Faedahnya bukan hanya pahala untuk kehidupan di akherat, tapi juga bisa dirasakan selama di dunia.

Pagi-pagi setelah shalat shubuh berjamaah di masjid, dianjurkan tidak langsung pulang ke rumah tapi menyempurnakan dengan melakukan dzikir atau wirid pagi.

Bagi orang yang ingin meraih cinta Allah, wirid pagi adalah kebutuhan dan pasti ada rasa yang kurang (gelisah, risau) jika tidak dzikir pagi.

Berikut ini beberapa faedah dari wirid pagi yang menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman.

Pertama, mendapat rahmat, ampunan dan cahaya dari Allah

Allah berfirman dalam surat al-Ahzab ayat 42-43 yang memberikan informasi dan motivasi yang menarik bagi orang-orang gemar melaksanakan wirid pagi dengan doa-doa di dalamnya.

وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. هُوَ ٱلَّذِى يُصَلِّى عَلَيْكُمْ وَمَلَٰٓئِكَتُهُۥ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ۚ وَكَانَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan sore, Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman” (QS. Al-Ahzab: 42-43).

Berdzikir hanya bisa dilakukan dengan nikmat oleh orang-orang yang berusaha mencintai Allah. Sebab orang yang berusaha untuk meraih cinta Allah maka bisa dipastikan akan selalu mengingat yang dicintainya (Allah) dalam keadaan dan aktivitas apapun.

Dalam surat al-Ahzab ayat 42 dan 43, sangat jelas sekali dari manfaat dzikir pagi dan petang. Minimal tiga keutamaan yaitu mendapatkan kasih sayang, ampunan dan diberikan cahaya dengan dikeluarkan dari kegelapan.

Mendapatkan kasih sayang atau perhatian dari orang tua saja luar biasa bahagianya. Mendapatkan cinta dari kekasih atau pasangan juga terasa terbang saking bahagianya. Apalagi mendapatkan kasih sayang dari Allah, tentu sangat luar biasa bahagia dan ketenangannya.

Saat berbuat salah kepada seorang guru atau orang lain lalu dimaafkan maka rasanya plong karena sudah tidak ada beban lagi. Para narapidana saja, saat mendapatkan remisi atau bebas dari hukuman, merasa senang sekali.

Lantas, bagaimana rasanya, dosa yang berjibun dari remaja hingga tua bertumpuk-tumpuk, baik yang diingat ataupun tidak, lalu Allah memberikan ampunan di akherat nanti?. Tentu inilah kebahagiaan sejati dan abadi.

Ketika mendapatkan musibah masalah yang rumit, dunia terasa sempit dengan hutang yang melilit-lilit, tiba-tiba ada seseorang dermawan membawakan sejumlah uang untuk melunasi hutang-hutangnya. Tentu ada rasa bahagia yang luar biasa.

Allah dari itu semua dalam menjamin orang-orang yang senantiasa wirid pagi dan petang. Akan mengeluarkan dari kegelapan kepada cahaya, kerumitan menjadi kelapangan dan kesengsaraan menjadi kebahagiaan yang abadi.

Kedua, Mendapat Anugerah Rasa Sabar

Allah berfirman dalam surat Qaf ayat 39 tentang perintah bertasbih setiap pagi dan petang.

فَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ ٱلشَّمْسِ وَقَبْلَ ٱلْغُرُوبِ

Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya)” (QS. Qaf: 39)

Dalam kehidupan ini, selalu ada fase yang tidak cocok atau tidak sesuai dengan harapan. Bahkan tidak jarang diberikan musibah yang tidak ringan dan ada rasa berat untuk melaksanakan perintah Allah. Maka fase-fase berat seperti itu diperlukan karakter sabar sebagai benteng untuk bertahan.

Berdzikir pagi petang dengan mengingat Allah, tentu hati dan jiwa akan menjadi lebih sabar, sebab selalu mengingat terantar untuk memahami bahwa itu semua ketentuan datangnya dari Allah. Tidak mudah bagi orang yang mendapatkan musibah untuk cepat bisa bersandar kepada Allah.

Kondisinya beda dengan orang yang lalai mengingat Allah, di hatinya akan terasa tidak tenang dan jauh dari damai. Sebagian orang stress, gangguan jiwa atau bunuh diri karena tidak kuat menghadapi beratnya ujian hidup.

Bacaan wirid dapat membantu menghilangkan stress dan kegelisahan yang seringkali banyak orang mengalami dalam kehidupan sehari-hari. Bacaan wirid menjadikan perasaan dan pikiran akan teralihkan dari masalah-masalah sehari-hari yang membuat gelisah.

Bacaan wirid dapat membantu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Dengan terus mengingat nama-Nya melalui wirid, akan semakin dekat dengan-Nya dan merasakan kehadiran-Nya dalam setiap aspek kehidupan. Hal ini akan membantu menjalani hidup dengan penuh keyakinan dan kepercayaan kepada Allah SWT.

Ketiga, Menghindarkan dari Musibah

Salah satu bacaan wirid pagi adalah doa di bawah ini. Isi doa hanya dua hal yaitu permohonan kebaikan dan dihindarkan dari musibah. Berikut ini doa yang mencakup keduanya dan dahsyat jika dibacakan secara rutin setiap pagi dan sore.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh).” (HR. Abu Dawud, An-Nasai dan Ibnu Majjah)

Mampu bersabar menghadapi ujian, menumbuhkan ketenangan menjalani kehidupan dan bisa menolak bala’ atau musibah, ditutup aib-aib dan kekurangan.

Bagi para pecinta wirid pagi petang, saat merenungi makna-makna doa dan dzikir-dzikir yang dianjurkan Rasulullah maka terasa luar biasa faedahnya.

Bagi orang-orang yang menyadari betapa rentan dan banyak bahaya yang mengancam diri, maka wirid menjadi benteng kuat untuk menjadikan lebih yakin dan percaya diri dalam perlindungan Allah.

Sangat sayang sekali untuk melewatkan pagi hari tanpa wirid, bahkan mengurangi bilangannya saja rasanya sayang. Contoh, membaca tiga surat Qul tidak diringkas hanya sekali tapi masing-masing harus tiga kali. Termasuk doa-doa yang lain juga menuntut pengulangan lebih dari sekali.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Raih Anugerah Eco Office Pesantren, Hidayatullah Balikpapan Ajak Bersama Wujudkan Lingkungan Sehat

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kelurahan Teritip, Kalimantan Timur, meraih Juara 1 Penghargaan Eco Office Pesantren se-Kota Balikpapan.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Gunung Tembak Balikpapan Ust. H. Hamzah Akbar menyampaikan ucapan terima kasih kepada jajaran Pemerintah Kota Balikpapan atas prestasi tersebut.

“Terima kasih atas penghargaan ini, semoga memicu kami lebih semangat dalam pengelolaan lingkungan bersih, hijau, dan sehat,” Ustadz Hamzah Akbar dalam keterangannya kepada media di Gunung Tembak, Balikpapan, Kamis, 18 Jumadil Akhir 1446 (19/12/2024) pagi.

Hamzah juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah kota atas perhatian dan dukungannya selama ini terutama dalam pelestarian lingkungan.

“Terima kasih Bapak Wali Kota Balikpapan H Rahmad Mas’ud, yang selalu mengedukasi kami, agar selalu bersahabat dengan alam,” kata Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Kota Balikpapan masa khidmat 2021-2026 ini.

Dia menyebutkan, apresiasi dan penghargaan Wali Kota Balikpapan melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan ini kepada Pesantren Hidayatullah ini dalam kegiatan Clean, Green, and Healthy (CGH) dan Eco Office di lingkungan Pondok Pesantren. Pesantren Hidayatullah berhasil meraih kategori peraih peringkat satu, Eco Office Swasta dan Pondok Pesantren.

Ustadz Hamzah menyatakan, menjaga lingkungan yang nyaman, bersahabat, dan sehat merupakan kewajiban bersama segenap warga Balikpapan pada khususnya dan warga negara Indonesia pada umumnya.

Penghargaan tersebut tegas dia merupakan pemantik bagi Ponpes Hidayatullah untuk terus menciptakan lingkungan pesantren yang “Islamiah, Ilmiah, dan Alamiah” sesuai motto Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak.

Hamzah pun menyampaikan terima kasih kepada segenap warga Ponpes Hidayatullah, para pengurus pesantren, serta para santri dan wali santri, atas kerja samanya selama ini dalam menjaga lingkungan pesantren.

HIdayatullah selama ini selalu mendukung dan turut menyukseskan program Clean, Green, and Healthy dan Eco Office, yang secara khusus merupakan program dari DLH Pemkot Balikpapan.

“Sebagai bagian dari Kota Balikpapan, punya kewajiban yang sama dengan masyarakat lainnya, mewujudkan lingkungan nyaman dihuni, bersahabat, dan yang pasti sehat,” ujarnya.

“Teruslah berkiprah, untuk lingkungan yang bersih, hijau dan sehat,” pungkas ustadz yang juga pegiat berkebun di samping rumahnya ini.

Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak meraih Peringkat 1 Penghargaan Eco Office Pesantren Kota Balikpapan Tahun 2024.

Penghargaan Awarding RT. CGH & ECO OFFICE 2024 digelar di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Balikpapan, Rabu, 16 Jumadal Akhir 1446 H (18/12/2024) pagi.

Turut hadir pada acara itu Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan Ustadz Hamzah Akbar dan Ketua Bidang 3 (membawahi lingkungan) YPPH Ustadz Muhammad Kaspan.

Dengan lahan seluas 138 hektare dan berbagai jenis pepohonan yang tumbuh di situ, sejak awal Ponpes Hidayatullah Balikpapan menyelenggarakan pelayanan pendidikan yang ramah lingkungan.

Sehingga, para santri dan para penghuni pesantren lainnya dapat tumbuh dan belajar dengan asupan oksigen terbaik.* (Masykur/SKR/Media Center @Ummulqurahidayatullah)

Menteri Agama Ajak Ormas Keagamaan Solid Membangun Umat dan Bangsa

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak tokoh agama dan organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan agar selalu solid dalam membina dan membangun kehidupan keagamaan yang lebih baik untuk kemaslahatan bangsa.

“Saya mengajak para tokoh agama dan seluruh ormas agar selalu solid, abaikan perbedaan yang mengarah perpecahan. Saya senang dan bahagia bertemu dengan para tokoh agama malam ini. Para tokoh agama memikirkan bangsa ini siang malam tanpa kenal lelah,” kata Menag Nasaruddin Umar, dilansir laman Kemenag, Kamis, 18 Jumadil Akhir 1446 (19/12/2024).

“Semoga para tokoh agama tidak bosan melihat Saya. Karena, Saya akan sering mengundang para bapak/ibu. Semakin banyak kepala yang memikirkan persoalan bangsa, maka akan semakin baik dari pada satu kepala yang memikirkannya. Kita solid dan bersama-sama memecahkan persoalan keumatan,” sambung Menag.

Menag Nasaruddin menyampaikan saat ini banyak tempat yang bisa dijadikan ruang pertemuan. Gedung dan ruangan di Istiqlal, gedung MH Thamrin, dan gedung Kementerian Agama Lapangan Banteng.

“Saya sengaja memilih tempat pertama untuk pertemuan malam ini di Masjid Istiqlal untuk keberkahan perjumpaan ini,” kata Menag Nasaruddin Umar.

Ke depannya, lanjut Menag Nasaruddin Umar, pertemuan dengan para tokoh-tokoh agama akan semakin sering dilakukan seperti malam ini. Di Masjid Istiqlal, setiap malam jumat banyak kegiatan, seperti membaca Yasin, tafsir, mengaji, salat sunnat, dan muhasabah.

“Alhamdulillah sampai saat ini berjalan lancar dan semakin banyak yang mengikutinya dari berbagai daerah. Di Masjid ini juga sebagai tempat untuk curhat kepada Tuhan. Ini rutin kita lakukan. Dan banyak orang-orang hebat dan terpandang yang hadir,” kata Menag Nasaruddin Umar.

Menag Nasaruddin Umar juga berpesan kepada seluruh tokoh agama yang hadir, agar jangan sungkan ketika ada hal-hal yang perlu dilakukan.

“Saya dan Dirjen Bimas Islam siap membantu. Kita sama. Apa yang kita miliki di Kemenag, akan kita share. Apa yang bisa kami bantu, mohon disampaikan,” pesan Menag Nasaruddin Umar.

Semisal, ada persoalan perkawinan, pelecehan seksual, asusila dan lain-lain. Kementerian Agama concern untuk menyelesaikan persoalan-persoalan keumatan.

“Saya mohon kita bersama-sama dan solid menyelesaikan persoalan keumatan. Ini menjadi concern bersama. Banyak persoalan global, kalau kita tidak solid, maka akan semakin parah. Jangan sesama kita saling fitnah,” tegas Menag Nasaruddin Umar.

Menag Nasaruddin Umar juga mengajak seluruh tokoh agama untuk menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan bersama untuk mencari solusi persoalan yang ada.

“Masjid juga bisa kita jadikan sebagai tempat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Spirit kebersamaan harus terus dibangun. Insya Allah, kita bisa menyelesaikan persoalan-persoalan besar lewat masjid ini,” kata Menag Nasaruddin Umar.

Bahkan, lanjut Menag Nasaruddin Umar, Masjid Istiqlal juga sudah memiliki program kader ulama yang sepenuhnya dibiayai oleh negara.

“Semakin sering ke Istiqlal, maka semakin banyak diplomasi yang kita dapatkan. Istiqlal akan menjadi tempat perubahan dan perkembangan umat yang lebih baik,” harap Menag Nasaruddin Umar.

Dirjen Bimas Islam, Kamaruddin Amin menyampaikan terima kasih atas waktu dan kesempatan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang meluangkan waktu untuk pertemuan dengan para tokoh agama.

“Terima kasih Pak Menteri. Peserta yang hadir di sini adalah para pimpinan ormas, dan tokoh agama yang terdiri dari 38 Ormas. Semoga kehadiran kita di sini membawa berkah,” kata Kamaruddin Amin. (adm/hidayatullah.or.id)

Rakerwil Jateng, Arfan Tekankan Iman Hendaknya Beriring Amal Shaleh dan Lahirkan Karya

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Sumber Daya Insani (SDI) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr Arfan AU menyampaikan arahan strategis sekaligus memperkuat konsolidasi kader dan pengurus di wilayah Jawa Tengah. Dia menekankan bahwa iman harus beriring dengan amal shaleh dan karya.

“Keimananlah yang menuntut kita terus berjuang, melakukan amal shaleh dan melahirkan karya di berbagai bidang demi meraih kebahagiaan di dunia ini dan keselamatan di akhirat kelak,” tegasnya.

Hal itu disampaikan Arfan saat membacakan sambutan dalam acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullaj Jawa Tengah (Jateng) Tahun 2025 di Hotel Candi Indah Convention, Kota Semarang.

Kegiatan yang berlangsung 3 hari ini mengusung tema “Konsolidasi Jatidiri, Organisasi, dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik” yang dibuka pada Sabtu, 12 Jumadil Akhir 1446 (14/12/2024).

“Kita juga harus meyakini bahwa segala bentuk karya yang dihasilkan, kinerja yang dicapai, serta prestasi yang diraih semuanya akan dinilai dan diberi ganjaran oleh Allah SWT, bahkan disaksikan oleh Rasulullah saw dan orang-orang beriman kelak di Akhirat,” katanya, seraya menukil Al Qur’an surah At Taubah ayat 105.

“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.

Dia menjelaskan, ayat ini mengandung pesan bahwa segala bentuk amal dan pekerjaan yang dilakukan, akan dinilai dipertanggung jawabkan kepada Allah, pemimpin, serta orang-orang mukmin.

Pada kesempatan itu dia juga menegaskan kembali beberapa hal penting yang perlu mendapatkan perhatian secara serius pada tahun 2025 nanti.

Diantaranya, terang dia, menggalakkan dakwah tarbiyah sebagai mainstream gerakan dengan manajemen yang baik untuk memenuhi kebutuhan sumber daya insani di tingkat wilayah dan daerah.

Selain itu, ia juga menyampaikan pentingnya menindak lanjuti pembinaan lulusan SLTA di Lembaga Pendidkan Hidayatullah yang sedang melanjutkan pendidikan di berbagai perguruan tinggi Non-Hidayatullah di berbagai kota dan daerah.

Ia juga menyoroti upaya penyempurnaan sistem database anggota dan kader melalui SISTAHID untuk perencanaan SDI di struktural dan non-struktural yang kompeten, profetik, dan profesional di berbagai bidang.

Disamping itu, ia juga mendorong dioptimalkannya potensi asset dan memanfaatkan tanah milik organisasi dan amal usaha sebagai lahan produktif dalam berkhidmat untuk umat dalam berbagai sektor sesuai potensinya masing-masing.

Selain itu, ia juga menekankan implementasi nilai-nilai profetik dan profesionalisme dalam sistem keuangan organisasi, amal usaha dan badan usaha.

Selain itu menekankan beberapa hal yang harus diupayakan secara sungguh-sungguh pada tahun terakhir periode ini sebagaimana dalam rekomendasi Rakernas Hidayatullah beberapa waktu lalu, yaitu menggalakkan silaturrahim dan pembinaan umat.

Upaya penting lainnya melakukan standardisasi halaqah sebagai wadah peningkatan kualitas iman, ilmu dan amal serta mendorong dan menfasilitasi generasi muda, kalangan professional, dan cendekiawan untuk terlibat dalam gerakan tarbiyah dan dakwah melalui Hidayatullah.

“Untuk mewujudkan visi organisasi, yakni terbangunnya peradaban Islam yang agung, Hidayatullah hadir sebagai wadah berjamaah untuk beramal saleh, wadah pendidikan untuk melahirkan generasi unggul, wadah dakwah untuk menyebarkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, serta wadah pelayanan dan pemberdayaan umat,” imbuhnya menandaskan.

Rapat kerja wilayah merupakan agenda tahunan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) yang dihadiri oleh seluruh anggota Dewan Pengurus Wilayah, unsur Dewan Murobbi Wilayah (DMW), unsur Dewan Pengurus Daerah (DPD), unsur Organisasi Pendukung (Pengurus Wilayah Pemuda dan Pengurus Wilayah Muslimat), unsur amal usaha tingkat wilayah, juga badan usaha, serta unsur Dewan Pengurus Pusat sebagai pendamping.

Dalam Rapat Kerja Wilayah dilakukan konsolidasi, koordinasi, sosialisasi, dan evaluasi serta merumuskan program-program yang akan dikerjakan dalam tahun 2025 nanti. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas amal shaleh secara kolektif dengan sistem kinerja yang dapat diukur.*/Muhammad Dwi Eviq Erwiandy