MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Mamuju Dra. Hj. Murniani, MM., apresiasi peran Hidayatullah berkhidmat dalam pembangunan kawasan khususnya di bidang pendidikan yang dinilai telah berkontribusi dalam mengatasi masalah masih tingginya angka putus sekolah di Sulawesi Barat (Sulbar).
“Hidayatullah merupakan solusi bagi orang tua untuk menyekolahkan anak mereka di sekolah milik Hidayatullah, tidak hanya untuk bersekolah, tetapi anak-anak akan dididik dengan pendidikan karakter,” katanya.
Hal itu disampaikan Kadisdikpora saat memberikan sambutan sekaligus membuka acara Penamatan Tahun Ajaran 2023-2024 Sekolah Integral Al Furqan Hidayatullah di Aula Kantor Bupati Mamuju, Jl. Cut Nyak Dien, Karema, Kecamatan Mamuju, Kabupaten Mamuju, Ahad, 18 Dzulqaidah 1445 (26/5/2024).
Acara tersebut turut dihadiri juga oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Barat Ust. Drs. H. Mardhatillah beserta jajarannya.
Masih dalam sambutannya, Kadisdikpora Dra. Hj. Murniani, MM mengungkapkan rasa bangga dan dukungannya terhadap Hidayatullah.
“Sekolah kita (Al Furqan) sudah memiliki jenjang pendidikan dari TK hingga SMA, semoga kedepannya dapat memiliki perguruan tinggi juga,” harapnya, seperti dilansir laman Hidayatullasulbar.com
Murniani meyakini bahwa budaya literasi dan numerasi di Hidayatullah terjaga dengan baik.
“Target pendidikan karakter sangat ditekankan di sekolah ini dengan pendekatan para ustadz dan ustadzah yang mengintegrasikan kurikulum pemerintah dan agama,” terangnya.
Digelar Gabungan
Acara Penamatan Gabungan Peserta Didik Tahun Ajaran 2023-2024 ini menandai kelulusan 52 siswa tingkat SD Integral Al Furqan Hidayatullah Angkatan ke-13 dan 30 siswa tingkat SMP Integral Hidayatullah Mamuju Angkatan ke-19. Acara khidmat ini dihadiri oleh orang tua dan wali murid, para wisudawan, serta tamu undangan terhormat.
Dengan mengusung motto “Pendidikan Integral Berbasis Tauhid”, Sekolah Integral Al Furqan Hidayatullah Mamuju berkomitmen untuk terus mencetak generasi muda yang cerdas, berakhlak mulia, dan beriman. Ketua Panitia Pelaksana Acara, Suaib, S.Pd, berharap para wisudawan dapat menjadi penerus bangsa yang membawa perubahan positif bagi masyarakat.
Penamatan Sekolah Integral Al Furqan Hidayatullah Mamuju tahun 2024 menandakan momen penting bagi para wisudawan dalam melangkah menuju masa depan.
Dengan bekal ilmu pengetahuan dan moralitas yang kuat, terang Suaib, diharapkan mereka dapat menjadi generasi penerus bangsa yang membawa perubahan positif dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara.
Lebih jauh disampaikan dia, penyatuan penamatan gabungan angkatan SD dan SMP kali ini didasari oleh beberapa pertimbangan teknis, dengan tujuan utama untuk memastikan kelancaran acara dan kesuksesan para wisudawan di masa depan.
“Penyatuan ini dilakukan dengan beberapa pertimbangan teknis, namun yang terpenting adalah suksesnya acara dan wisudawan kami dapat meraih kesuksesan di masa depan,” kata Suaib.
Senada dengan Suaib, Najamuddin, M.Pd., ketua Yayasan Pendidikan Cerdas Mandiri (YPCM), menegaskan pentingnya pendidikan berbasis tauhid sebagai solusi di tengah krisis moral yang melanda.
“Kita ingin mereka cerdas secara intelektual, tetapi memiliki akhlak yang mulia. Kita juga ingin mereka menjadi pekerja profesional, namun tetap menjalankan ibadah dengan baik dan amanah,” ujar Najamuddin.
Sekolah Integral Al Furqan Hidayatullah Mamuju mengintegrasikan nilai dasar ketauhidan dan muatan ilmu umum dalam proses pembelajarannya, diiringi dengan penanaman adab dan akhlak mulia antara guru dan murid.
Integrasi keilmuan tersebut sejalan dengan visi dan misi sekolah untuk mencetak generasi muda yang cerdas, berakhlak, dan beriman.*/Muhammad Bashori
PASURUAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah, Ust. H. Dr. Tasyrif Amin, M.Pd.I menyebutkan empat tugas atau amanah yang dibebankan kepada setiap murabbi dimana hendaknya mereka mesti berupaya memerankan keempat amanah tersebut.
Benang merah itu ditekankan Tasyrif saat memberikan arahan dalam kegiatan Silaturrahim & Upgrading Murobbi Hidayatullah se-Jawa Timur.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) bekerja sama dengan Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jawa Timur selama 2 hari bertempat di Pondok Tahfidzul Qur’an Kampus Madya Darul Hijrah Salam, Kota Pasuruan, dibuka Sabtu, 17 Dzulqaidah 1445 (25/5/2024).
Ustadz Tasyrif memulai arahannya dengan mengutip Kaalamullah di dalam Al Qur’an surah As-Shaf ayat 9:
“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai”
Ia lantas menyebutkan ada 4 poin yang perlu digarisbawahi pada ayat yang baru dibacakannya itu. Empal hal tersebut adalah, Pertama, Allah sebagai Sumber Ilmu. Kedua, Rasul sebagai Contoh Teladan. Ketiga, Al Quran sebagai Petunjuk, dan, Keempat, Agama sebagai Jalan Hidup.
“Keempat hal itu kemudian diamanahkan kepada kita semua untuk ditampakkan dan dipraktekkan dihadapan semua agama,” jelasnya.
“Maka inilah tugas murabbi, adalah mengantar anggota halaqahnya mengenalkan Allah, mencontoh Nabi, mempelajari Al Qur’an dan ulumuddin,” lanjutnya.
Dan itupun belum berhenti di situ, katanya. Tasyrif menegaskan, berikutnya harus ada upaya berkelanjutan dan sistemik dari para murabbi dan anggotanya untuk menampakkan keimanan, akhlak, dan syariat kepada seluruh alam semesta.
“Tugas halaqah itu saling mengingatkan untuk memperagakan ajaran Islam ini hingga seluruh insan beragama di dunia ini mampu melihat keagungan Islam,” jelasnya lagi.
Lebih lanjut, Ketua Dewan Murabbi Pusat ini memberikan apresiasi kepada DMW dan DPW Jawa Timur yang telah menginisiasi kegiatan yang sangat baik ini.
“Jawa Timur sejak awal Hidayatullah telah menjadi pilar pergerakan organisasi, saya berharap hal baik ini terus diupayakan dan menjadi inspirasi nasional,” pungkasnya.
Acara ini menghadirkan pembicara yang ahli pada pada bidangnya. Diantaranya Ust. H. Drs. Abdrurrahman sebagai Murabbi Jawa Timur yang juga Anggota Dewan Pertimbangan, Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. H. Dr. Nashirul Haq, Ust. H. Abdul Kholiq sebagai anggota Dewan Mudzakarah dan Ust. Ir. Hanifullah sebagai anggota DMP.
Acara ini juga diikuti oleh 190 peserta, terdiri dari 41 Murobbi Wustho, 110 Murobbi Ula dan 41 Murobbiyah se-Jawa Timur. Kegiatan ini juga adalah pra acara Halaqah Kubro dan Kemah Dai yang akan dilaksanakan pada bulan Juli mendatang.*/Herim
BUDAYA organisasi, biasanya melekat pada pendiri organisasi yang paham betul secara filosofis, mengapa organisasi itu dibentuk dan kemana organisasi akan dikembangkan. Kemudian, ditransformasikan kepada seluruh elemen yang ada dalam organisasi, dan selanjutnya menjadi kebiasaan dan tradisi yang menjadi spirit/ruh sebuah organisasi. Tidak jarang kemudian dituangkan dalam sebuah kredo, yang diturunkan dalam aturan main (rule of the game), dan mengikat seluruh elemen organisasi tersebut.
Di era penuh gejolak, dinamis, kompleks, dan ambigu (VUCA) ini, maka budaya organisasi perlu dikaji ulang, agar dapat inline dan menjawab tantanga jaman. Demikian pula, dunia terus bergerak cepat dengan hadirnya Industri 4.0 dan Society 5.0 yang mentransformasi cara hidup dan bekerja. Hal ini juga berdampak terhadap organisasi Islam, Ia harus beradaptasi dan berinovasi agar tetap relevan dan berdaya guna, sehingga tidak punah ditelan jaman.
Meski kita pahami bahwa budaya organisasi, juga terkait dengan bagaimana sebuah organisasi mampu mengimplementasikan visi, visi, dan tujuannya, yang berasal dari elaborasi jatidiri (karakter) dari sebuah organisasi. Sehingga jatidiri, bukan hanya sekedar slogan, kalimat ataupun paragraph paragraf yang tersusun dengan sistematis dan indah. Melainkan ia mesti mendenyuti setiap gerak dari organisasi untuk diejawantahkan dalam program-program strategis sesuai dengan tingkatannya.
Realitas tersebut di atas memicu pemikiran kembali (rethinking) terhadap organisasi, sehingga tidak hanya mengikuti arus perubahan, akan tetapi dapat riding the wave. Disinilah pemahaman yang utuh terhadap realitas internal dan dinamika eksternal menjadi kunci, untuk merekonstruksikan kembali budaya organisasi, tanpa meninggalkan jatidiri organisasi itu sendiri, melainkan menjaadikan jatidiri sebagai basis dari perumusan kembali budaya organisasi.
Dengan demikian, kehadiran budaya organisasi Islam bukanlah sekadar ritual atau formalitas, melainkan fondasi yang memahami esensi keadilan, transparansi, dan kepemimpinan berbasis nilai-nilai Islam. Dalam kompetisi, keberagaman dan kompleksitas kehidupan dunia saat ini , maka budaya organisasi Islam mesti harus mengalami memandang setiap individu sebagai amanah yang harus dikelola dengan adil dan bijaksana.
Tantangan dan Peluang
Dalam era VUCA yang penuh tantangan, dimana Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity merajalela, rethinking budaya organisasi Islam menjadi keniscayaan. Industri 4.0 dan Society 5.0 mendorong kita untuk tidak hanya beradaptasi, tetapi juga menggali akar nilai-nilai Islami yang mampu menjadi pilar keberlanjutan dan ketangguhan organisasi.
Sehingga, dalam merespon VUCA, Industri 4.0, dan Society 5.0, diperlukan rethinking budaya organisasi Islam sebagai langkah yang strategis, agar tidak kehilangan relevansi. Hal ini, bukan hanya sekedar sebagai bentuk adaptasi terhadap realitas yang ada, tetapi lebih jauh dari itu, sebagai upaya mendalam untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam setiap aspek kehidupan organisasi, menciptakan fondasi yang kuat untuk menghadapi masa depan yang penuh kompleksitas dan perubahan
Jika kita elaborasi lebih jauh, maka tantangan dan peluang yang dapat kita uraikan secara ringkas, sebagaimana beringkut:
Kehadiran VUCA, telah memberikan peluang dan tantangan bagi setiap organisasi, tak terkecuali organisasi Islam. Berbagai tantangan dapat dirumuskan sebagai berikut: 1) perubahan yang cepat dan tidak terduga: Budaya organisasi yang kaku dan tradisional akan sulit beradaptasi dengan perubahan yang cepat dan tidak terduga. 2) ketidakpastian dan kompleksitas: Budaya organisasi yang kurang fleksibel dan kolaboratif akan kesulitan menghadapi ketidakpastian dan kompleksitas yang semakin tinggi. 3) ambiguitas dan interpretasi yang beragam: Budaya organisasi yang kurang transparan dan terbuka terhadap ide-ide baru akan kesulitan dalam memahami dan menafsirkan informasi yang kompleks.
Sedangkan yang menjadi peluangnya adalah: 1) meningkatkan kelincahan dan adaptabilitas: Budaya organisasi yang gesit dan adaptif dapat dengan mudah beradaptasi dengan perubahan dan memanfaatkan peluang baru. 2) memperkuat kolaborasi dan komunikasi: Budaya organisasi yang kolaboratif dan terbuka dapat meningkatkan komunikasi dan kerjasama antar anggota, sehingga mampu menyelesaikan masalah kompleks secara bersama-sama. 3). meningkatkan kemampuan belajar dan inovasi: Budaya organisasi yang menghargai pembelajaran dan inovasi dapat menghasilkan ide-ide baru dan solusi kreatif untuk menghadapi berbagai tantangan.
Kedua, Industri 4.0
Revolusi Industri 4.0 atau sering disingkat sebagai industry 4.0, juga menghadirkan tantangan yang cukup menantang diantaranya adalah : 1) disrupsi teknologi: Budaya organisasi yang resisten terhadap teknologi baru akan tertinggal dan tidak mampu bersaing di era digital. 2) perubahan model bisnis: Budaya organisasi yang berfokus pada model bisnis tradisional akan kesulitan beradaptasi dengan model bisnis baru yang muncul di era Industri 4.0. 3) kehilangan pekerjaan: Budaya organisasi yang tidak mempersiapkan anggotanya untuk menghadapi perubahan pekerjaan akan mengakibatkan terjadinya pengangguran atau tidak tterserapnya sumberdaya karena diganti perannya oleh teknologi.
Adapun peluangan yang didapatkan dari industry 4.0 bagi organisasi Islam adalah : 1) meningkatkan efisiensi dan produktivitas: Budaya organisasi yang mengadopsi teknologi baru dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. 2) menciptakan peluang bisnis baru: Budaya organisasi yang inovatif dan kreatif dapat menciptakan peluang bisnis baru di era Industri 4.0. 3) mengembangkan keterampilan digital: Budaya organisasi yang mendorong pembelajaran dan pengembangan keterampilan digital dapat membantu anggotanya untuk tetap relevan di era Industri 4.0.
Ketiga, Society 5.0
Keberadaan society 5,0 juga melahirkan berbagai tantangan baru yang perlu diantisipasi, diantaranya adalah : 1) perubahan demografi: Budaya organisasi yang tidak inklusif dan tidak mampu beradaptasi dengan perubahan demografi akan kehilangan anggota dan pendukungnya. 2) ketidaksetaraan sosial: Budaya organisasi yang tidak peka terhadap isu-isu ketidaksetaraan sosial akan memperburuk masalah dan memicu konflik. 3) degradasi nilai-nilai moral: Budaya organisasi yang tidak menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika akan kehilangan kepercayaan masyarakat.
Adapun peluang yang dihasilkan dari society 5.0 adalah : 1) meningkatkan inklusivitas dan keberagaman: Budaya organisasi yang inklusif dan terbuka terhadap keberagaman dapat menarik anggota baru dan memperkuat persatuan. 2) membangun komunitas yang berkelanjutan: Budaya organisasi yang peduli terhadap isu-isu sosial dan lingkungan dapat membangun komunitas yang berkelanjutan dan tangguh. 3) meningkatkan moralitas dan etika: Budaya organisasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika dapat membangun kepercayaan dan meningkatkan citra organisasi.
Dengan demikian maka, dalam menghadapi tantangan dan peluang dari ketiga dinamika tersebut, organisasi Islam perlu melakukan rethinking terhadap budaya organisasinya. Ini mencakup pengembangan budaya yang inklusif, kolaboratif, dan terbuka terhadap perubahan, serta membangun lingkungan kerja yang mendukung inovasi, kreativitas, dan pembelajaran berkelanjutan.
Dengan cara tersebut, organisasi Islam dapat “riding the wave” dari VUCA, Industri 4.0, dan Society 5.0, dan menjadikan perubahan sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas pelayanan, relevansi, dan dampak positif bagi umat dan masyarakat secara keseluruhan.
Rethinking Budaya organisasi
Dengan melihagt realitas di atas, maka mau tidak mau organisasi Islam perlu melakukan rethinking (memikirkan kembali/tajdid) terhadap budaya organisasinya dalam rangka menghadapi dinamika global tersebut, yang dengan cepat sudah menjadi dinamika lokal yang cukup memperngaruhi eksistensi organisasi. Dalam proses rethinking ini yang perlu diperhatikan adalah:
Pertama : memperkuat nilai-nilai inti: Dimana mempertahankan nilai-nilai Islam sebagai jatidiri organisasi yang tertuang dalam aspek: akidah, syariah, akhlak, dan muamalah sebagai fondasi organisasi. Sehingga budaya organisasi Islam yang terbentuk harus menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika untuk membangun kepercayaan dan meningkatkan citra organisasi.
Kedua, menumbuhkan budaya belajar dan inovasi : Agar tetap relevan dalam mengadapi dinamika yang ada, maka organisasi mendorong budaya belajar yang berkelanjutan dan memfasilitasi anggota untuk mng-upgrade wawasan dalam mengikuti perkembangan zaman. Dan pada saat bersamaan juga melakukan inovasi untuk menghasilkan ide-ide baru dan solusi kreatif.
Ketiga, memanfaatkan teknologi : kehadiran teknologi yang tumbuh dengan cepat mesti dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh organisasi Islam dengan cara mengadopsi teknologi digital untuk dakwah, edukasi, dan pemberdayaan umat, yang sesuai dengan kebutuhan dan sekaligus tuntutan zaman.
Keempat, mempromosikan kolaborasi dan komunikasi: dewasa ini bukan eranya segala sesuatu dikerjakan sendiri, akan tetapi dituntut untuk melakukan kolaborasi. Oleh karenanya bekerja sama dengan organisasi lain tertutama yang memiliki visi yang sama untuk mencapai tujuan bersama menjadi solusi saat ini. Dan pada saat bersamaan budaya organisasi Islam harus mendorong kerjasama dan komunikasi yang terbuka antar anggota.
Kelima, mengembangkan kepemimpinan yang adaptif dan visioner: Kepemimpinan merupakan kunci eksistensi organisasi, oleh karenanya membangun pemimpin yang visioner, inspiratif, dan mampu beradaptasi dengan perubahan, menjadi salah satu kunci keberlangsungan organisasi mesti terjadi perubahan.
Kenam, membangun komunitas yang berkelanjutan: Budaya organisasi Islam harus peduli terhadap isu-isu sosial dan lingkungan untuk membangun komunitas yang berkelanjutan dan tangguh. Sehingga budaya yang terbangun dapat diimplementasikan dalam berbagai jenis dan varian komunitas masyarakat yang ada
Ketujuh, meningkatkan kelincahan dan adaptabilitas: Budaya organisasi Islam harus mampu beradaptasi dengan perubahan dengan cepat dan mudah. Membangun struktur organisasi yang agile, akan melahirkan model organisasi yang mempu merepon dengan cepat dan tepat terhadap dinamika yang ada, baik berasa, dari internal maupun eksternal organisasi.
Dengan demikian maka, rethinking terhadap budaya organisasi, berarti bahwa organisasi Islam dapat menjadi “riding the wave” terhadap dinamika yang terjadi, artinya tidak diombang-ambingkan perubaha, akan tetapi berselancar serta mengendalikannya. Dampaknya, dengan mengubah tantangan menjadi peluang dan mengambil langkah-langkah strategis untuk memperkuat ketahanan organisasi, meningkatkan daya saing, dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat dan umat Islam secara luas
Penutup
Perubahan budaya organisasi membutuhkan waktu dan usaha yang berkelanjutan. Dengan kepemimpinan yang kuat, adaptif dan visioner, komitmen yang tinggi, dan kolaborasi yang harmonis, organisasi Islam dapat berhasil melakukan“riding the wave” terhadap perubahan dan menjadi organisasi yang relevan dan berkelanjutan di masa depan.
Akhirnya, rethinking budaya organisasi Islam adalah sebuah keniscayaan untuk menghadapi era VUCA, Industri 4.0, dan Society 5.0. Dengan memperkuat nilai-nilai inti, menumbuhkan budaya belajar, memanfaatkan teknologi, mempromosikan kolaborasi, dan mengembangkan kepemimpinan yang adaptif, organisasi Islam dapat mengendalikan perubahan di era baru ini. Hanya dengan rethinking budaya organisasi Islam, kita dapat memastikan bahwa Islam selalu menjadi kekuatan yang relevan dan positif di dunia yang terus berubah. Wallahu a’lam.[]
*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)
PASURUAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah, Ust. H. Dr. Tasyrif Amin, M.Pd.I. memberikan arahan dalam kegiatan Silaturrahim & Upgrading Murobbi Hidayatullah se-Jawa Timur.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) bekerja sama dengan Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jawa Timur selama 2 hari bertempat di Pondok Tahfidzul Qur’an Kampus Madya Darul Hijrah Salam, Kota Pasuruan, dibuka Sabtu, 17 Dzulqaidah 1445 (25/5/2024).
Ustadz Tasyrif memulai arahannya dengan mengutip kalamullah di dalam Al Qur’an surah As-Shaf ayat 9:
“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai”
Ia lantas menyebutkan ada 4 poin yang perlu digarisbawahi pada ayat yang baru dibacakannya itu. Empal hal tersebut adalah Allah sebagai Sumber Ilmu, Rasul sebagai Contoh Teladan, Al Quran sebagai Petunjuk dan Agama sebagai Jalan Hidup.
“Keempat hal itu kemudian diamanahkan kepada kita semua untuk ditampakkan dan dipraktekkan dihadapan semua agama,” jelasnya.
“Maka inilah tugas murabbi, adalah mengantar anggota halaqahnya mengenalkan Allah, mencontoh Nabi, mempelajari Al Qur’an dan ulumuddin,” lanjutnya.
Dan itupun belum berhenti di situ, tegasnya. Harus ada upaya berkelanjutan dan sistemik dari para murabbi dan anggotanya untuk menampakkan keimanan, akhlak, dan syariat kepada seluruh alam semesta.
“Tugas halaqah itu saling mengingatkan untuk memperagakan ajaran Islam ini hingga seluruh insan beragama di dunia ini mampu melihat keagungan Islam,” jelasnya lagi.
Lebih lanjut, Ketua Dewan Murabbi Pusat ini memberikan apresiasi kepada DMW dan DPW Jawa Timur yang telah menginisiasi kegiatan yang sangat baik ini.
“Jawa Timur sejak awal Hidayatullah telah menjadi pilar pergerakan organisasi, saya berharap hal baik ini terus diupayakan dan menjadi inspirasi nasional,” pungkasnya.
Acara ini menghadirkan pembicara yang ahli pada pada bidangnya. Diantaranya Ust. H. Drs. Abdrurrahman sebagai Murabbi Jawa Timur yang juga Anggota Dewan Pertimbangan, Ketua DPP Hidayatullah Ust. H. Dr. Nashirul Haq, Ust. H. Abdul Kholiq sebagai anggota Dewan Mudzakarah dan Ust. Ir. Hanifullah sebagai anggota DMP.
Acara ini juga diikuti oleh 190 peserta, terdiri dari 41 Murobbi Wustho, 110 Murobbi Ula dan 41 Murobbiyah se-Jawa Timur. Kegiatan ini juga adalah pra acara Halaqah Kubro dan Kemah Dai yang akan dilaksanakan pada bulan Juli mendatang.*/Herim
PASURUAN (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) dan Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Jawa Timur menyelenggarakan Silaturrahmi dan Upgrading Murabbi Se Jawa Timur di Pondok Tahfidzul Qur’an Kampus Madya Darul Hijrah Salam, Kota Pasuruan, dibuka Sabtu, 17 Dzulqaidah 1445 (25/5/2024).
Acara ini dihadiri oleh 161 peserta, terdiri dari 120 Murobbi dan 41 Murobbiyah, dan dibuka oleh Ketua Dewan Murabbi Pusat, Ust. H. Dr. Tasyrif Amin, M.Pd.I.
Ia menyampaikan, silaturrahmi dan upgrading murabbi ini bertujuan untuk mendorong kemajuan dan standardisasi pemahaman murobbi dalam menjalankan tugas-tugas tarbiyah serta sosialisasi aplikasi halaqah.
Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman murobbi tentang materi dakwah dan pembinaan halaqah, sehingga mereka dapat memberikan bimbingan yang lebih berkualitas kepada para peserta halaqah.
Kemudian sosialisasi aplikasi halaqah memperkenalkan dan mensosialisasikan aplikasi halaqah kepada para murobbi.
Aplikasi ini bertujuan untuk membantu murobbi dalam mengelola data peserta halaqah, memantau kehadiran peserta, dan meningkatkan kontrol pelaksanaan halaqah.
Acara ini juga untuk semakin menguatkan jalinan silaturrahmi antar unsur murobbi baik dari pusat, wilayah, maupun daerah.
Acara ini diisi dengan berbagai materi. Mulai dari Materi Umum.
“Materi ini disampaikan oleh Ustadz Abdurrahman dan berfokus pada tema dakwah dan pembinaan Halaqah,” terang Sekretaris DPW Hidayatullah Jawa Timur, M. Idris.
Kemudian Materi Khusus Murobbi Wustho. “Materi ini disampaikan oleh Ustadz Nashirul dan Ustaz Abdul Kholiq dan membahas tentang teknik dakwah dan pembinaan halaqah tingkat menengah,” sambungnya.
Selanjutnya Materi Khusus Murobbi Ula. “Materi ini disampaikan oleh Ustadz Tasrif Amin dan Ustaz Hanifullah dan membahas tentang teknik dakwah dan pembinaan Halaqah tingkat dasar,” jelasnya.
Peserta yang hadir antusias mengikuti acara ini. Mereka mendapatkan banyak ilmu dan wawasan baru yang dapat mereka terapkan dalam melaksanakan tugas dakwah dan pembinaan Halaqah.
Idris menjelaskan, Silaturrahmi dan Upgrading Murabbi ini merupakan salah satu upaya dari DPW dan DMW Jawa Timur untuk membangun jaringan murabbi yang kuat dan terstandar.
“Dengan jaringan Murabbi yang kuat, diharapkan dakwah dan pembinaan Halaqah di Jawa Timur akan semakin efektif dan bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.*/Herim
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Kementerian Agama (Kemenag) RI Prof Kamaruddin Amin mengatakan organisasi masyarakat (ormas) Islam adalah infrakstuktur sosial Indonesia dalam membangun dan mengantar kemajuan dalam pembangunan bangsa.
Karenanya, ormas Islam di Indonesia berperan penting dalam mengawal perkembangan bangsa dari zaman dahulu hingga sekarang
“Jauh sebelum Indonesia merdeka, mereka (ormas Islam) mereka sudah mengabdi, sudah membina masyarakat,” kata Kamaruddin dalam program Podcast Mitra Umat Islam bertajuk “Peran Ormas Islam Merawat Kerukunan Bangsa” di channel Youtube Bimas Islam TV, Rabu, 14 Dzulqaidah 1445 (22/5/2024).
Kamaruddin lalu menyebut sejumlah ormas Islam yang telah mengabdi jauh sebelum Indonesia mereka seperti Syarikat Islam (1905), Muhammadiyah (1912), Al-Irsyad (1914), Mathla’ul Anwar (1916), Nahdlatul Ulama (1926), Al-Wasliyah, dan juga peran ormas lainnya yang hadir pasca kemerdekaan.
“Kontribusinya tentu sangat fudamental, karena, sebelum Indonesia merdeka, mereka sudah punya infrastruktur sosial. Kemudian pasca Indonesia merdeka, mereka terus berkiprah mengembangkan pengabdiannya dalam berbagai hal baik dalam bidang pendidikan, dakwah, sosial, dan seterusnya,” katanya.
Kamaruddin menyampaikan ia sering menyebut ormas Islam sebagai ‘infrastruktur sosial Indonesia’. Menurutnya Indonesia sebagai negara bangsa yang multikultural kita tidak hanya butuh infrastruktur fisik tapi infrastiktur sosial tak kalah pentingnya.
“Dan mereka ini (ormas Islam) adalah infrastruktur sosial yang sangat fundamental karena merekalah yag bersinergi berkolaborasi dengan pemerintah untuk menciptakan Indonesia yang damai, tenang, peacefull, toleran, bahkan demokrastis,” katanya.
Dengan posisinya yang sedemikian penting tersebut, jelas Kamaruddin, ada share vision dan share values dari ormas ormas keagamaan yang menurutnya selama ini telah berkontribusi fundamental dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Infrastruktur sosial tersebut, terang Kamaruddin, berlanjut hingga kini melalui berbagai sinergi untuk menguatkan kiprah pengabdian untuk masyarakat dalam berbagai bentuk, seperti pendidikan, dakwah, sosial, dan lain sebagainya.
“Tujuannya saya kira sama. Inilah yang saya sering menyebutnya sebagai characteristic feature of Indonesian Islam. Jadi kekhasan Islam Indonesia itu, karena Indonesia memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang bisa memperkuat atau menjaga diversitas kita, yang bisa menjaga keragaman kita,” ungkapnya.
Menurut Kamaruddin, seluruh Ormas Islam di Indonesia memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga negara Indonesia agar tetap damai, yang selaras dengan tujuan pemerintah dalam menciptakan sikap moderasi beragama dalam bermasyarakat.
“Kita harus terus bersama. Pemerintah, ormas, ikut menjaga ideologi bangsa, menjaga moderasi beragama kita, menjaga suasana sosial politik kita yang harus saling menghormati dan saling menghargai,” tuturnya. (ybh/hidayatullah.or.id)
BOVEN DIGOEL (Hidayatullah.or.id) — Polres Boven Digoel bersama pengurus dan santri Pesantren Hidayatullah Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, melakukan kerja bakti pengecoran dak lantai 2 masjid pesantren pada Sabtu ini, 17 Dzulqaidah 1445 (25/5/2024).
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Wakapolres Boven Digoel, Kompol Handoyo Prasetyo, dan dihadiri oleh AKP Harjaka (Ka Bag Ops Polres Boven Digoel), Ipda Herik Donal (Ka Sie Propam Polres Boven Digoel), dan Iptu Inosain (Ka Sat Polair Polres Boven Digoel).
Kompol Handoyo Prasetyo mengungkapkan rasa senangnya atas kesempatan untuk berpartisipasi dalam kerja bakti ini.
“Saya sangat senang ketika mendengar ada kerja bakti di pondok dan atas izin kapolres Boven Digoel kepada wakapolres Boven Digoel, dan beliau langsung meminpin anggotanya menuju pondok pesantren Hidayatullah Boven Digoel,” katanya.
Kerja bakti ini merupakan wujud kepedulian dan sinergi antara Polres Boven Digoel dan Pesantren Hidayatullah Boven Digoel dalam membangun sarana ibadah yang representatif.
Ketua Pesantren Hidayatullah Boven Digul, Ustadz Zainal, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada jajaran kepolisian yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini.
“Kami sangat tersanjung dan bangga terhadap jajaran kepolisian yang berbaur dengan rakyat, utamanya dalam membantu lembaga pendidikan untuk generasi bangsa. Spesial Kompol Handoyo semoga sehat selalu, berkah dan lancar dalam mencapai cita-citanya,” ujar Ustadz Zainal.
Zainal menambahkan, dengan kerja sama dan sinergi dari berbagai pihak, pembangunan masjid pesantren Hidayatullah ini diharapkan dapat segera diselesaikan dan dapat dimanfaatkan oleh para santri untuk beribadah dengan khusyuk.*/Herim
JAKARTA UTARA (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah DKI Jakarta bersama Yayasan Baitul Maal Merapi Merbabu (BM3) melaksanakan Panen Raya Kerang Hijau di Kampung Nelayan, Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, pada Kamis, 15 Dzulqaidah 1445 (23/5/2024).
Kegiatan ini menjadi puncak dari program budidaya kerang hijau yang telah berjalan selama satu tahun sebagai bentuk sinergi antara kedua lembaga.
Budidaya kerang hijau ini merupakan inisiatif bersama antara BM3 dan DPW Hidayatullah DKI Jakarta yang bertujuan untuk mendukung kegiatan dakwah di Jakarta. Program ini juga berperan penting dalam pemberdayaan masyarakat sekitar dengan memberikan manfaat ekonomi yang nyata.
Ade Syariful Allam, pengurus DPW Hidayatullah DKI Jakarta, menjelaskan bahwa hasil penjualan kerang hijau ini akan digunakan untuk membiayai program dakwah Hidayatullah di Jakarta.
Kata Ade, salah satu program utama yang didukung adalah Program Rumah Qur’an yang telah berjalan selama enam tahun dan membina lebih dari 100 rumah Qur’an.
“Kami sangat bersyukur dan bahagia atas terlaksananya panen raya ini. Semoga hasil panennya memuaskan sehingga dapat mendukung berbagai kegiatan dakwah di Jakarta, terutama untuk Program Rumah Qur’an yang tersebar di wilayah DKI Jakarta,” ujar Ade seperti dilansir laman Gardakota.com.
Manfaat Ekonomi dan Sosial
Ade juga menyampaikan terima kasih kepada Baitul Maal Merapi Merbabu (BM3) atas kerja sama yang telah terjalin. Program ini, menurut Ade, tidak hanya mendukung kegiatan dakwah, tetapi juga mampu memberdayakan masyarakat sekitar.
“Kami berharap sinergi ini dapat terus diperluas dengan berbagai mitra, baik dalam bentuk investasi maupun donasi,” lanjutnya yang juga menjabat sebagai Bendahara Wilayah DPW Hidayatullah DKI Jakarta.
Ade berharap program ini diharapkan dapat terus berlanjut dan berkembang, sehingga semakin banyak manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas.
Disamping itu melalui kerja sama yang solid dan program-program yang berkelanjutan, DPW Hidayatullah DKI Jakarta dan BM3 berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan dakwah sekaligus memberdayakan masyarakat, menciptakan lingkungan yang lebih baik dan berdaya saing.
“Panen Raya Kerang Hijau ini hanyalah salah satu langkah menuju tujuan tersebut, dan masih banyak potensi yang bisa digali di masa depan,” tandas Ade.
RM. Suryanto Sarjodiningrat, perwakilan dari Baitul Maal Merapi Merbabu (BM3), turut menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang telah terjalin.
“Program pemberdayaan ekonomi antara DPW Hidayatullah DKI Jakarta dan BM3 ini sangat luar biasa. Hasilnya akan dinikmati oleh Rumah Qur’an binaan yang ada di DKI Jakarta dan sekitarnya,” ungkapnya.
Suryanto juga menyampaikan rasa terima kasih dan doa kepada semua pihak yang terlibat dalam program ini. “Semoga Allah memberikan keberkahan kepada kita semua,” tambahnya.
Kegiatan panen raya ini juga dihadiri oleh Kepala Departemen Pengkaderan DPW Hidayatullah DKI Jakarta Munawwir Baddu, Ketua DPD Hidayatullah Jakarta Utara Maswiyana beserta jajarannya, serta pengurus dan manajemen Rumah Qur’an Hidayatullah DKI Jakarta. (ybh/hidayatullah.or.id)
KH. MUHAMMAD Hasyim Harjo Suprapto atau Ustadz Hasyim HS, pendiri Hidayatullah, adalah sosok yang penuh keteladanan dengan karakter khas yang begitu melekat dalam hati banyak orang.
Kelembutannya, nada suaranya yang datar namun penuh ketangguhan dalam dakwah, serta nasihat-nasihatnya yang simpel namun mendalam, membuat guru asal Muntilan, Jawa Tengah, ini menjadi panutan bagi banyak orang.
Salah satu nasihat yang sering ia kutip dari sahabatnya, Ustadz Abdullah Said, adalah, “Pahamilah orang lain jangan minta dipahami.”
Kematian adalah bagian dari siklus kehidupan yang tak terelakkan. Kepergian Ustadz Hasyim HS menjadi momen yang mengajak kita untuk merenungkan beberapa hikmah mendalam.
Sangat mungkin, Allah menjadikan Ustadz Hasyim HS lebih panjang umur daripada sahabatnya, Ustadz Abdullah Said, untuk memberikan kita beberapa pelajaran berharga.
Berikut adalah tiga hikmah yang dapat kita petik dari kepergian beliau:
Pertama, Persahabatan Iman yang Teguh
Persahabatan antara Ustadz Hasyim HS dan Ustadz Abdullah Said adalah bukti nyata bahwa persahabatan yang dibangun atas dasar iman dan perjuangan di jalan Allah akan selalu teguh.
Meski Ustadz Abdullah Said telah lebih dulu berpulang, Ustadz Hasyim HS tetap menjaga nilai-nilai persahabatan mereka dengan terus berjuang dan melanjutkan misi dakwah bersama.
Keduanya mengajarkan bahwa persahabatan sejati adalah yang terus hidup meski salah satu dari mereka telah tiada, memberikan inspirasi bagi kita semua untuk membangun persahabatan yang kuat dan penuh makna.
Kedua,Janji untuk Berjuang Selamanya
Keberanian dan keteguhan Ustadz Hasyim HS dalam berdakwah mencerminkan janji yang dibuat untuk berjuang selamanya. Beliau telah meneladankan kepada kita semua bahwa berjuang di jalan Allah tidak pernah mengenal kata akhir, hingga nyawa berpisah dari raga.
Sikap konsisten dan dedikasinya menjadi pelajaran penting bagi kita untuk terus berjuang, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk umat.
Janji yang ia tunjukkan dalam perjuangannya adalah cerminan dari keimanan yang kuat dan semangat yang tak pernah padam.
Ketiga,Tekad yang Kuat dalam Barisan Jama’ah
Ustadz Hasyim HS menunjukkan bahwa tekad yang kuat dalam menjaga barisan jama’ah adalah hal yang harus kita pegang teguh. Meskipun berbagai cobaan datang silih berganti, beliau tetap setia pada perjuangan dan barisan jama’ahnya.
Tekad ini menjadi teladan kuat bagi kita semua, mengingatkan bahwa dalam kebersamaan, kita dapat mencapai tujuan yang lebih besar.
Kedisiplinan dan kesetiaan Ustadz Hasyim HS dalam barisan jama’ah mengajarkan kita pentingnya persatuan dan solidaritas dalam mencapai tujuan bersama.
Petik dan Miliki
Kepergian Ustadz Hasyim HS adalah kehilangan besar bagi kita semua. Namun, hikmah yang dapat kita petik dari perjalanan hidup dan perjuangannya adalah warisan yang akan terus menginspirasi.
Semoga kita dapat memetik pelajaran dari setiap langkahnya, meneruskan perjuangannya, dan menjaga nilai-nilai yang telah ia tanamkan.
Kita tak boleh larut dalam kesedihan dan heroisme beliau dalam bentuk oral semata, tapi juga harus hadir dalam aksi nyata kehidupan ini.
Mari kita pahami orang lain, jangan meminta untuk dipahami, seperti yang selalu beliau nasihatkan. Karena kesadaran itu membuat kita cair dalam bergaul, mudah dalam komunikasi, dan tenang berhadapan dengan siapapun. Serta kokoh dalam jama’ah.
Teringat akan sebuah ayat yang saya kira penting jadi renungan kita semua.
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23).
Ayat itu memberikan pelajaran seperti penjelasan Tafsir Al-Muyassar, bahwa orang beriman itu teguh pada janji. Meski dengan janji itu ia harus banyak bersabar di atas kesulitan, kesempitan dan guncangan-guncangan. Api perjuangannya tak pernah padam. Ia yakin sampai waktu kematian tiba. Dan, dalam hatinya tidak ada keinginan mengubah janjinya sedikit pun.
Semoga Allah merahmati Ustadz Hasyim HS dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin.*
*) Mas Imam Nawawi, penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah 2020-2023 dan DirekturProgressive Studies & Empowerment Center (Prospect)
PASURUAN (Hidyatullah.or.id) — Disela kegiatan memenuhi undangan Silaturrahim dan Upgrading Murabbi se-Jawa Timur, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA, meluangkan waktu meninjau kampus Pondok Tahfidzul Qur’an Kampus Madya Darul Hijrah Salam dan menyapa santri di pondok Qur’an yang berada di Kota Pasuruan itu, Sabtu, 17 Dzulqaidah 1445 (25/5/2024).
Pada kesempatan tersebut Ketua Umum menyapa santri sekaligus meluangkan waktu memberikan motivasinya. Nashirul menyampaikan kebahagiaannya bisa hadir di tengah-tengah para santri penghafal Al Quran.
“Saya senang bisa hadir di kampus ini bersama dengan kalian para santri penghafal Al Quran,” ungkapnya.
Ustadz Nashirul Haq, yang merupakan alumni Universitas Islam Madinah, mengajak para santri untuk selalu mensyukuri nikmat Allah. Ia menjelaskan bahwa ada dua jenis nikmat yang diberikan Allah kepada manusia.
“Pertama, nikmat yang bersifat umum,” katanya.
Nikmat pertama ini, dijelaskan beliau, diberikan kepada siapa saja, tanpa memandang bangsa atau agama.
“Siapapun dia, apapun bangsanya dan agamanya, diberikan harta, pangkat, dan jabatan jika dia berusaha,” lanjutnya.
“Kedua adalah nikmat yang bersifat khusus,” tambahnya.
Ia menjelaskan, nikmat kedua ini berupa taufiq, hidayah, dan iman, yang diberikan hanya kepada hamba-hamba yang dicintai-Nya.
“Kalian hadir di tempat ini karena mendapatkan nikmat khusus ini. Hadir untuk menuntut ilmu syariah dan menghafal Al Quran,” jelasnya lebih lanjut.
Mengutip hadis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Ustadz Nashirul menekankan pentingnya menuntut ilmu dan mengajarkannya.
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, dari Usman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu, ‘Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya,” katanya, yang menekankan pesan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Tirmidzi tersebut.
Lebih jauh, jelas beliau, pernyataan ini juga sejalan dengan pesan Imam Al Nawawi yang menukil pendapat Imam Al Syafii dalam Majmu Syarah Al Muhadzab:
“Barangsiapa yang hendak menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat, hendaklah ia menguasai ilmu,” terang Ustadz Nashirul.
Tausiyah yang disampaikan Ketua Umum di Masjid Darul Hijrah setelah shubuh ini diakhiri dengan ajakan untuk selalu bersyukur.
“Jangan iri dengan mereka yang hanya diberikan nikmat umum yang bersifat duniawi. Kalian telah dimuliakan oleh Allah dengan nikmat-Nya yang sangat agung, yaitu mempelajari Ulumuddin dan menghafal Al Quran,” pungkasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)