Beranda blog Halaman 192

[KHUTBAH JUM’AT] Ibrah Burung Hudhud dan Kepedulian Pada Kondisi Keimanan Umat

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah

Al Qur’an mengandung banyak kisah yang memberi ibrah atau pelajaran kepada orang orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Satu diantara kisah yang diceritakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala adalah kisah burung Hudhud.

Suatu hari, Nabi Sulaiman memeriksa kaumnya, dan melihat bahwa burung Hudhud tidak ada dalam barisan kaumnya tersebut. Ke mana Hudhud, kenapa aku tidak melihatnya hari ini?

وَتَفَقَّدَ ٱلطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِىَ لَآ أَرَى ٱلْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ ٱلْغَآئِبِينَ

“Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat Hudhud, apakah dia termasuk yang tidak hadir (QS. An-Naml: 20)

Inilah contoh seorang pemimpin yang mengetahui keadaan kaumnya. Sekian banyak hewan yang harus diperiksa, termasuk burung di dalamnya, belum lagi makhluk lainya seperti jin dan manusia, tetapi sosok Sulaiman mengetahui secara detail siapa yang tidak hadir dalam pertemuan yang digelar hari itu.

لَأُعَذِّبَنَّهُۥ عَذَابًا شَدِيدًا أَوْ لَأَا۟ذْبَحَنَّهُۥٓ أَوْ لَيَأْتِيَنِّى بِسُلْطَٰنٍ مُّبِينٍ

“Sungguh aku benar benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang” (QS. An-Naml: 21)

Di depan semua yang hadir, Sulaiman mengatakan, “aku akan mengadzabnya dengan adzab yang keras”, atau, “aku benar benar akan menyembelihnya”. Dan, pilihan yang terakhir adalah kecuali Hudhud itu datang dengan alasan yang dapat diterima, maka dia akan selamat dari dua opsi sebelumnya.

Bayangkan, jika Anda seorang karyawan, dan atasan Anda mengatakan hal seperti ini, dengan dua opsi yang pertama. Apakah Anda bernyali untuk tidak akan hadir ke kantor?

Tetapi, Sulaiman, sekali lagi, memperlihatkan figur dirinya sebagai kepemimpinan yang sangat bijaksana dengan memberi opsi ketiga. Yaitu, kalau Hudhud datang dengan memberi alasan yang tepat, masuk akal, dan dapat diterima, maka ia akan terlepas dari dua pilihan pertama.

فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ

“Maka tidak lama kemudian (datanglah Hudhud)” (QS. An-Naml: 22)

Hudhud pun datang kepada Sulaiman. Sulaiman adalah seorang raja, yang semua titahnya bukan hanya didengar tetapi juga ditaati.

Maka, ketika Hudhud datang menghadap Sulaiman, ia harus membawa alasan yang tepat untuk disampaikan dan cara menyampaikannya juga harus mampu meyakinkan sang raja agar alasannya dapat diterima.

فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِۦ

“Lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya” (Q.S. An Naml: 22)

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah

Sungguh sebuah permulaan kalimat yang sangat berani dan mencengangkan keluar dari lisan Hudhud. Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu, wahai Sulaiman, belum mengetahuinya.

Hudhud tentu bukan sedang berbicara dengan orang yang not well educated (terbelakang secara intelektual).

Ia juga bukan berhadapan dengan orang yang tidak memiliki akses informasi, tetapi Hudhud sedang berbicara kepada seorang hamba yang diberi kemampuan untuk menggerakkan angin dan memerintahkan bangsa jin.

Dengan suara lantang ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya.” Yang membuat tidak ada peluang bagi Sulaiman untuk menyelanya kecuali serius memperhatikan gerangan apa sesuatu yang belum ia ketahui.

وَجِئْتُكَ مِن سَبَإٍۭ بِنَبَإٍ يَقِينٍ

“Dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini” (QS. An-Naml: 22)

Saya pulang dari negeri Saba dan saya membawa suatu berita yang 100 persen kebenarannya. Lihatlah apa yang dikatakan Hudhud itu, sebagai sebuah ibrah bagi kita manusia akhir zaman.

Bahwa, jangan pernah men-share (menyebarkan) sebuah berita yang masih bersifat bias dan abu abu, bahkan cenderung masuk dalam ruang fitnah.

Bahwa, sebelum menyebarkan atau menyampaikan berita kepada orang lain, pengambil kebijakan, atau bahkan kepada khalayak ramai, kita harus memastikan bahwa berita itu 100 persen benar, dan layak untuk diinformasikan kebenarannya.

Kita belajar dari seekor burung, yaitu Hudhud, yang datang kepada seorang raja, seorang nabi, bahwa ia datang dengan membawa berita yang 100 persen benar.

Lihatlah reaksi Sulaiman, seorang nabi yang doanya dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan hanya diberikan kepada satu orang di muka bumi ini yaitu Sulaiman,

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَهَبْ لِيْ مُلْكًا لَّا يَنْۢبَغِيْ لِاَحَدٍ مِّنْۢ بَعْدِيْۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak seorang jua pun miliki sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (Q.S. Shaad: 35)

Seorang nabi yang diberi kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun setelahnya, dengan sangat bijaksana tidak menyela penyampaian Hudhud, bahkan ia serius mendengarkan fakta apa yang belum pernah ia dapatkan dan akan disampaikan oleh Hudhud tanpa kebohongan?

إِنِّى وَجَدتُّ ٱمْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِن كُلِّ شَىْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar (Q.S. An naml: 23)

Hudhud lalu berkata: “Saya terbang di atas negeri Saba, dan saya mendapati sebuah kaum yang dipimpin oleh seorang wanita.”

Sebuah hal yang berbeda keadaannya didapati oleh Hudhud, bahwa kaum ini dipimpin oleh seorang ratu yaitu seorang perempuan, bukan pria sebagaimana pada negeri Sulaiman.

Lalu Hudhud melanjutkan: Dan dia memiliki segala sesuatu, yaitu segala sesuatu yang memang pantas bagi dirinya untuk disebut sebagai seorang pemimpin pada kaumnya dan ia mempunyai singgasana yang besar.

Lihatlah kalimat ini, kalimat yang keluar dari lisan Hudhud yang sehari hari melihat keagungan istana Sulaiman, tetapi memproduksi kalimat وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ bahwa ratu di negeri Saba tersebut memiliki istana yang agung.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah

Lalu apa masalahnya dengan kaum yang dipimpin seorang wanita ini?

وَجَدتُّهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيْطَٰنُ أَعْمَٰلَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ ٱلسَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ

“Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk” (QS. An Naml: 24).

Lihatlah berita ini keluar dari lisan Hudhud, seekor burung yang tidak dibebani (mukalaf) untuk mengambil kepedulian terhadap kondisi manusia atau makhluk lainnya, apakah mereka sujud menyembah Allah Subhanahu wa ta’ala atau ingkar kepada Sang Maha Pencipta.

Burung yang terbang menempuh jarak 2000-an kilometer dari Palestina ke Negeri Saba, ternyata mendapati suatu kaum yang menyembah selain Allah Subhanahu wa ta’ala, dan ia gelisah sehingga harus memastikan keadaan kaum tersebut yang memang menyembah matahari sehingga membuat Hudhud terlambat menghadap Nabi Sulaiman.

Lalu bertambah kekhawatiran Hudhud, karena kaum di negeri Saba ini menyenangi perbuatan syirik mereka dan menganggapnya sebagai sebuah kebenaran, bahkan keindahan hasil dari beautifikasi yang dilakukan oleh syaithan.

Hudhud khawatir pandangan mereka akan tertutupi oleh kepalsuan yang dibuat oleh syaithan sehingga mereka tidak mampu merasakan kekuasaan Allah Subhanahu wa ta’ala yang telah memperlihatkan keindahan langit yang telah dilihat oleh Hudhud sepanjang hidupnya serta keindahan bumi.

أَلَّا يَسْجُدُوا۟ لِلَّهِ ٱلَّذِى يُخْرِجُ ٱلْخَبْءَ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُخْفُونَ وَمَا تُعْلِنُونَ

“Agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan” (Q.S. An Naml: 25)

Hudhud khawatir kaum di negeri Saba ini, tidak akan mengetahui kekuasaan Allah Subhanahu wa ta’ala yang mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka tampakkan.

Pertanyaannya, kapan terakhir kali kita memiliki kekhawatiran sebagaimana yang dirasakan oleh Hudhud ketika melihat satu kondisi dimana teman kita, tetangga kita, masyarakat kita, atau bahkan keluarga kita dalam keadaan syirik menyekutukan Allah Subhanahu wa ta’ala?

Bukan hanya tidak peduli, bahkan mungkin ada diantara kita yang kagum terhadap perbuatan syirik yang dilakukan dan bahkan berpartisipasi dalam tindakan kesyirikan tersebut.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah

Lihatlah Hudhud, dia kembali ke Sulaiman, menyampaikan perbuatan syirik ratu Saba dan kaumnya. Dengan nikmat iman yang dimilikinya, Hudhud merasa terganggu dengan kondisi tersebut, sehingga ia menghadap dan melapor kepada Nabi Sulaiman.

Lantas, seberapa resah kita ketika melihat orang orang di sekitar kita yang larut dalam kesyirikan. Seberapa khawatir kita ketika melihat komunitas di tengah tengah kita mengabaikan perintah Allah Subhanahu wa ta’ala dan terjerumus dalam kemaksiatan yang diperindah oleh syaithan?

Seberapa peduli kita untuk menarik keluarga, sahabat, tetangga, kolega, untuk masuk ke dalam lingkaran orang orang shalih yang tunduk kepada Allah Subhanahu wa ta’ala?

Dalam dunia yang serba instant, dimana akses teknologi menjadi menu utama sehari hari, kepedulian sebagai makhluk sosial harus tetap dan terus ditumbuhkan khususnya dalam hal melibatkan sebanyak mungkin orang untuk tunduk dan menyembah hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Bukankah dalam banyak hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah mengingatkan bahwa orang beriman adalah orang yang mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

Maka, keledzatan iman yang sudah dirasakan oleh seorang hamba harus menggerakkan dirinya untuk mengajak orang lain agar merasakan nikmat keimanan yang sama.

Orang beriman harus memiliki kepedulian dalam hal keimanan melebihi burung Hudhud. Orang beriman harus produktif untuk membagikan kelezatan iman yang membuatnya tunduk, rukuk, sujud, dan rindu dengan dzikrullah.

Rindu dengan baca Qur’an dan menebarkan kerinduan itu kepada saudaranya, sahabatnya, tetangganya, koleganya, agar kenikmatan iman tersebut juga dirasakan oleh mereka.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Do’a Penutup

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ……. عِبَادَ اللهِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَ
عَلَّكُمْ تَذَكَّرُو

Sosialisasi PDO dan PO, Hidayatullah Bali Komitmen Kuatkan Jamsoskad Perlindungan Janda Kader

0

DENPASAR (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Bali menggelar sosialisasi pemantapan pemahaman terhadap Pedoman Dasar Organisasi (PDO) dan Peraturan Organisasi (PO) kepada pengurus digelar di Kampus Madya Hidayatullah Denpasar, Ahad, 18 Dzulqaidah 1445 (26/5/2024).

Sosialiasi yang berlangsung intensif sehari ini diikuti oleh 50 orang peserta dari berbagai unsur yaitu DPW, Pengurus Harian Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah se-Bali, Dewan Murabbi Wilayah (DMW), Pengurus Wilayah (PW) Muslimat Hidayatullah (Mushida), Pemuda Hidayatullah, serta unsur amal dan badan usaha Hidayatullah Bali.

Ketua DPW Hidayatullah Bali, Abdullah Salim, mengatakan sosialisasi ini digelar untuk memastikan adanya keseragaman pemahaman dan kesamaan frekuensi sehingga dapat dijalankan dengan baik.

“Sosialisasi PDO dan PO secara bertahap ini penting, agar semakin menajamkan pemahaman terhadap organisasi. Dan ini menjadi reminder dalam mengambil suatu kebijakan,” kata Abdullah.

Abdullah berharap, sosialisasi ini dilakukan berkesinambungan melibatkan semua elemen kelembagaan internal yang terkait sehingga dapat ditemukan keseragaman pemahaman.

“Dalam sosialisasi yang lalu sudah pernah disampaikan tentang PO Keuangan, sehingga hari ini perlu ada penyampaian PO yang lain diantaranya, PO Susduk, PO SDI, PO Amal Usaha, PO Jamsoskad, dan PO Pesantren,” terang Abdullah.

Saking pentingnya terkait hal ini, Abdullah pun menegaskan bahwa semua kader harus memiliki semua PO ini lalu membaca, mempelajari, memahami, menyerap, dan menerapkannya.

“Jadi PDO dan PO ini wajib dibaca dan dipahami, jangan hanya sampai di tangan saja lalu masuk ke arsip atau lemari,” selorohnya disambut tawa hadirin.

Salah satu yang menjadi sorotan dalam kegiatan sosialisasi ini adalah masalah Jaminan Sosial Kader (Jamsoskad) dan Perlindungan Janda Kader. Pembahasan kedua topik tersebut terutama penekanan pada asas maslahat dan bagaimana dapat berjalan sebagaimana mestinya sehingga anggota dapat merasakan manfaatnya.

“PO yang dikeluarkan Musyawarah Majelis Syura (MMS) Hidayatullah ini harus menjadi ikhtiar dan komitmen kita bersama untuk melaksanakan secara maksimal di Bali,” kata Abdullah.

Abdullah menyebutkan, sebagai contoh PO Jamsoskad ada memuat pasal yang mengatur tentang Janda Kader. Pasal ini, tegas dia, harus menjadi tanggungjawab lembaga walaupun ada berbagai kendala finansial.

“Kita harus usahakan. Kita harus berupaya memberikan yang terbaik kepada para istri istri almarhum yang telah menjadi janda kader,” imbuhnya.

Presentasi PDO dan PO disampaikan oleh departemen DPW yang terkait dengan PO tersebut, diantaranya, PDO dan PO Susduk disampaikan oleh Sekwil, PO Amal Usaha oleh Departemen Pendidikan, PO Pesantren oleh Departemen Kepesantrenan, PO Jamsoskad oleh Departemen Sosial, dan PO SDI oleh Departemen Organisasi.

Setelah sosiaisasi berupa penyajian presentasi, lalu dilanjutkan sesi diskusi dan tanya jawab oleh peserta dan pemateri, sehingga semua peserta aktif dalam kegiatan sosialisasi tersebut.*/Pungki Hurmadani

Sekolah Dai Bogor Buka Pendaftaran Tahun 2024 Angkatan ke-X, Klik di Sini!

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Dai Hidayatullah di Ciomas, Bogor, Jawa Barat, membuka pendaftaran penerimaan calon mahasiswa peserta didik baru untuk angkatan ke-X Tahun akademik 2024-2025 dalam program kuliah dakwah intensif berasrama untuk lulusan SMA/ sederajat.

Adapun batas akhir pendaftaran adalah hingga 23 April 2024 untuk Gelombang Pertama dan 18 Agustus 2024 untuk Gelombang Kedua. Demikian dikutip dari laman Posdai.or.id, Rabu, 21 Dzulqaidah 1445 (29/5/2024).

Bagi peserta yang dinyatakan lulus seleksi berkas dan verfikasi faktual, harus sudah berada di tempat pendidikan paling lambat 25 Agustus 2024 dan akan menjalanu masa orientasi selama sepekan. Kegiatan belajar dimulai pada 2 September 2024.

Pandaftaran Sekolah Dai Ciomas Bogor ini sendiri telah dibuka sejak 1 Januari lalu dengan pemberlakuan limitasi peserta sehingga hanya pendaftar yang lulus seleksi dan memenuhi syarat saja yang dapat mengikuti program.

Sekolah Dai Hidayatullah Ciomas Bogor adalah wadah pendidikan untuk mencetak kader dai yang fokus dalam mendidik dan membina putra-putra daerah untuk mencetak kader-kader dai yang siap ditugaskan sebagai dai di daerah-daerah yang membutuhkan sentuhan dakwah.

Masa pendidikan Sekolah Dai adalah selama 1 tahun dengan program berasrama untuk menciptakan sistem pendidikan yang berkualitas. Setelah masa pendaftaran dan seleksi, peserta mulai masuk asrama dan kegiatan belajar mengajar akan dimulai.

Sekolah Dai memiliki sejumlah keunggulan yaitu diantaranya full beasiswa, dosen pengampu berlatar dari kampus dalam maupun luar negeri dengan basis kampus LIPIA Jakarta, UIN Antasari Banjarmasin, Universitas Sudan dan lainnya. Dosen pengampu juga sudah berpengalaman berdakwah di berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Selain itu, kurikulum Sekolah Dai juga mengacu pada tujuan pendidikan nasional dalam rangka pembentukan karakter kader yang Islam yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, terampil, unggul dan terampil.

Alumni Sekolah Dai juga mendapat kesempatan jaminan bursa kerja ikatan dinas di jejaring Hidayatullah seluruh Indonesia serta mendapatkan kesetaraan sebagai sarjana yang bekerjasama dengan STAIL Surabaya.

Untuk membekali peserta dengan kemampuan soft dan hard skill, mereka akan mendapatkan mentoring selama masa pedidikan di asrama.

Adapun sarana dan fasilitas untuk menunjang sukses penyelenggaraan program Sekolai Dai, diantaranya adalah pusat kegiatan yang berlokasi di kawasan asri, luas, dan rekreatif.

Selain itu, juga tersedia gedung kuliah yang representatif, asrama mahasantri yang juga memadai, serta adanya sarana ibadah dan olahraga.

Untuk menjadi peserta didik, Sekolah Dai mensyaratkan sejumlah hal kepada peminat, yaitu mengisi formulir pendaftaran, ada surat rekomendasi DPW atau DPD Hidayatullah terdekat, menyerahkan foto copy Ijazah SMA/ sederajat 3 lembar, dan mampu membaca Al Quran.

Calon peserta juga harus mengikuti tes tulis dan tes wawancara, menyerahkan berkas foto copy KTP & KK yang masih berlaku 1 lembar, menyerahkan foto berwarna ukuran 2×3 & 3×4 masing-masing 4 lembar, bersedia mengikuti seluruh peraturan yang berlaku, tidak merokok, dan dipastikan pendaftar adalah lulusan SMA atau berusia minimal 18 tahun.

Bagi yang ingin mendaftar, dapat melalui tautan link pendaftaran berikut atau klik di sini. Pendaftaran juga dapat dilakukan dengan datang langsung ke lokasi Sekretariat Kampus Sekolah Dai Ciomas, Desa Sukaharja, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610.

Atau hubungi call center Sekolah Dai Ciomas Bogor +62 812-8348-2527 serta dapat juga megakses website www.sekolahdai.org, email [email protected] dan mengisi formulir pendaftaran pada tautan berikut https://forms.gle/Ttbfp3zBEpZf8YVG6 atau klik di sini.

Ukiran Senyum Bahagia Lansia Dusun Mbunder Terima Bantuan Mukena dan Sembako

0

TUBAN (Hidayatullah.or.id) — Di pelosok Dusun Mbunder, Desa Prunggahan Kulon, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, senyum bahagia terpancar dari wajah para lansia.

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), dengan penuh kepedulian, hadir membawa bantuan mukena dan sembako untuk meringankan beban mereka.

Penyaluran bantuan ini merupakan bagian dari program Laznas BMH untuk mendistribusikan mukena kepada 1000 penerima manfaat di seluruh Jawa Timur.

Ramijah, salah satu penerima manfaat, mengungkapkan rasa haru dan terima kasihnya. “Saya sangat berterima kasih kepada Laznas BMH atas bantuan mukena dan sembako ini. Bantuan ini sangat berarti bagi kami yang berada di pelosok desa,” ujar Ramijah.

Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jatim, Imam Muslim, menjelaskan bahwa program ini adalah wujud komitmen BMH untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, terutama lansia di daerah terpencil.

“Penyaluran mukena dan sembako ini adalah salah satu cara kami untuk mendukung kebutuhan dasar para lansia di pelosok desa,” katanya.

“Kami berharap program ini dapat memberikan kenyamanan dan kebahagiaan bagi mereka dalam menjalankan ibadah dan kehidupan sehari-hari,” kata Muslim melanjutkan.

Lebih dari sekadar bantuan, Muslim menambahkan, program ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dengan meningkatkan kenyamanan para lansia dalam menjalankan ibadah.*/Herim

Tinjau DMU di Malang, Saleh Usman Dorong Santri Miliki Mental Juang Membangun Bangsa

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen (Kadep) Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Muhammad Saleh Usman, melakukan peninjauan langsung terhadap pelaksanaan Daurah Marahlah Ula (DMU) di Malang, Jawa Timur, pada hari Selasa, 20 Dzulqaidah 1445 (28/5/2024). Peninjauan ini dilakukan di Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Ar Rohmah Putra Malang.

Dalam kunjungannya, Saleh Usman didampingi oleh Sekretaris Perkaderan DPP Hidayatullah Imam Nawawi dan Sekretaris DPW Hidayatullah Jawa Timur, M. Idris.

Di hadapan para peserta DMU, Saleh Usman mendorong mereka untuk memiliki mental juang yang kuat dalam dakwah dan pendidikan bangsa.

“Kita harus memiliki mental juang yang kuat untuk menyebarkan dakwah dan membangun pendidikan bangsa. Kita harus menjadi generasi yang tangguh dan siap menghadapi tantangan zaman,” ujar Saleh Usman.

Saleh Usman juga menyampaikan bahwa DMU merupakan salah satu program strategis DPP Hidayatullah untuk mencetak kader-kader dakwah dan pendidikan yang berkualitas.

“DMU ini merupakan program penting untuk mencetak kader-kader dakwah dan pendidikan yang berkualitas. Kita harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin untuk belajar dan meningkatkan ilmu pengetahuan kita,” tambahnya.

Peninjauan ini dilanjutkan dengan mengunjungi Ar Rohmah Putri dan Ar Rohmah Tahfidz Malang.

Di dua tempat tersebut, Saleh Usman juga memberikan motivasi dan semangat kepada para santri untuk terus belajar dan berkarya.

Tentang DMU

Daurah Marahlah Ula (DMU) adalah program pembinaan kader dakwah dan pendidikan yang diselenggarakan oleh DPP Hidayatullah. Program ini bertujuan untuk mencetak kader-kader yang memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan, dan mental juang yang kuat dalam dakwah dan pendidikan bangsa.

Daurah Marhalah Ula Nasional Tingkat SMA 2024 digelar secara serentak di seluruh Indonesia dengan mengusung tema “Kader Muda Hidayatullah: Aktif Berhalaqah, Cerdas Militan dan Pemimpin Masa Depan”.

DMU 2024 berlangsung selama 3 hari, mulai dari tanggal 27 Mei hingga 29 Mei 2024, di semua kampus Hidayatullah se-Indonesia.

Pembukaan Dauroh Marhalah Ulaa ini sendiri diselenggarakan secara hybrid pada hari Senin (2705/2024).

Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Depok dan Surabaya, ditunjuk sebagai tuan rumah yang menyelenggarakan pembukaan secara online. Adapun daerah yang lain se-Indonesia mengikuti via jaringan meeting Zoom.*/Herim

Pelajarilah Ilmu, Jangan Buang Kesempatan dan Meremehkannya

0

MENDIANG Steve Jobs, bos perusahaan teknologi multinasional Apple Inc, mengalami masa kuliah yang sulit dan tidak sukses. Hanya enam bulan bertahan di Reed College, sebelum akhirnya memilih drop out (DO). Salah satunya karena faktor biaya.

Namun, pada masa itu, ia sempat mengambil kelas kaligrafi, di mana ia mempelajari jenis-jenis huruf, membuat variasi spasi antar kombinasi kata, dan kiat membuat tipografi yang hebat.

Saat itu, ia sendiri tidak mengerti apa manfaat kaligrafi baginya. Tapi, sepuluh tahun kemudian, ketika mendesain komputernya yang pertama, Macintosh, semuanya baru kelihatan jelas.

Di Standford University, Steve Jobs menceritakan kisah tersebut dan berkata:

“Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak akan ada pula PC yang seperti itu. Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang.”

Satu cerita lain, tentang William “Billy” Avery Bishop (1894-1956). Billy Bishop dibesarkan di Owen Sound, Ontario (Kanada), yang waktu itu diserang hama tupai. Ayahnya menawarkan 25 sen untuk setiap tupai yang ditembaknya, dan Billy mampu menjatuhkan tupai yang sedang berlari secara tepat dan telak.

Kepiawaian Billy ini sebenarnya tidak begitu menguntungkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan pada saat tinggal di Perancis bakatnya tersebut bahkan tidak mungkin dipergunakan. Ia bisa dipenjara karenanya.

Ketika masuk Royal Military College di Kingston, ia dianggap sebagai kadet terburuk yang pernah ada. Namun, dalam Perang Dunia I, ia menjadi pahlawan karena rekornya menembak jatuh 72 pesawat AU Jerman.

Sebagai pilot pesawat pemburu, penglihatan Billy yang tajam dan kemahirannya menembak obyek bergerak sangat berguna, meski keduanya tidak diakui di masa damai dan bahkan tidak bermanfaat (lihat: Why Things Go Wrong dan Encyclopaedia Britannica).

Ada banyak cerita lain yang serupa. Intinya, sesuatu yang pada mulanya dijalani sebagai hal biasa, bahkan diremehkan atau terpaksa, tiba-tiba menemukan momentum yang tepat pada suatu waktu dan kondisi berbeda.

Seperti kata Steve Jobs, pelakunya tidak mungkin menyadari kegunaannya seketika. Mereka baru bisa mengerti manfaatnya di masa depan, dalam rentang waktu yang cukup jauh dan tidak terjangkau prediksi manusiawi.

Pelajarilah Ilmu

Untuk itulah, dulu Ibnu Mas’ud pernah berpesan kepada murid-muridnya, “Hendaknya kalian mempelajari ilmu sebelum ia dicabut, dan dicabutnya ilmu adalah dengan diwafatkannya para ahlinya. Hendaknya kalian mempelajari ilmu, sebab siapa pun dari kalian tentu tidak tahu kapan ia membutuhkannya — atau: membutuhkan kepada ilmu yang ada padanya. Hendaknya kalian mempelajari ilmu.” (Riwayat ‘Abdurrazzaq, no. 20465).

Pada kenyataannya, perjalanan hidup kita tidak selalu mulus sesuai rencana. Banyak tokoh termasyhur yang latar belakang pendidikannya tidak berhubungan dengan profesinya saat ini. Tapi, masing-masing dari mereka mengakui bahwa pada suatu saat di masa lalu pernah mempelajari sesuatu yang sangat bermanfaat dan menjadi penopang utama kehidupannya sekarang.

Kadangkala, hal itu terjadi tanpa disengaja, terpaksa, dan tidak dipedulikan. Kini mereka tersenyum lega karena pernah melalui fase itu bertahun-tahun sebelumnya.

Jadi, hargailah kesempatan apa saja yang disodorkan oleh Allah saat ini. Kita tidak pernah tahu apa rencana-Nya di masa mendatang. Bukankah dalam sejarah hidup para Nabi pun kita mendengar cerita serupa?

Suatu saat, para Sahabat sedang memetik kabats, sejenis buah tin yang bisa dimakan manusia. Melihat hal itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Pilihlah yang hitam, karena itu yang paling enak.” Mereka bertanya, “Apakah Anda pernah menggembalakan kambing?” Beliau menjawab, “Adakah Nabi yang tidak pernah menggembalakannya?” (Riwayat Bukhari, dari Jabir).

Tampaknya, para Sahabat heran karena deskripsi secermat itu sulit diketahui orang yang tidak pernah menggembalakan kambing dan terpaksa memakan apa saja yang ditemuinya di semak-semak.

Tapi, yang lebih penting adalah manfaat menggembala itu setelah menjadi Nabi. Jelas tidak gampang menggembala puluhan sampai ratusan ekor kambing di tempat di mana rumput dan semak sangat sulit ditemukan. Ini bukan di Selandia Baru yang dipenuhi padang rumput, tapi di Jazirah Arab yang kering dan tandus.

Rasulullah sendiri sebenarnya menggembala karena terpaksa bekerja demi membantu pamannya, Abu Thalib. Beliau diupah beberapa qirath untuk pekerjaan itu (Riwayat Bukhari, dari Abu Hurairah). Belakangan, keterampilan itu menjadi bekal penting saat memimpin umat yang terdiri dari beragam karakter, dan menuai sukses besar.

Nabi Musa juga menggembala karena terpaksa. Setelah kabur dari Mesir karena membunuh, beliau sampai di Madyan. Melewati serangkaian kisah, beliau akhirnya diambil menantu oleh Nabi Syu’aib.

Tapi, beliau pemuda pelarian yang melarat, sehingga diminta menggembala kambing selama 8 atau 10 tahun sebagai mahar bagi istrinya. Keterpaksaan ini berbuah di kemudian hari, ketika beliau memimpin Bani Israil yang terkenal keras kepala itu. Kita bisa membaca kisah selengkapnya dalam surah al-Qashash.

Maka, pelajarilah apa saja hari ini. Jangan membuang kesempatan dan meremehkan ilmu. Sungguh kita tidak pernah tahu kapan membutuhkannya, atau kapan ilmu itu dibutuhkan orang banyak. Wallahu a’lam.

*) Ust. M. Alimin Mukhtar, pengasuh di Yayasan Pendidikan Ar Rohmah Hidayatullah Batu Malang, Jawa Timur

Capai Tujuan Pendidikan Nasional dengan Padukan Spiritual hingga Aspek Kepemimpinan

Peserta Dauroh Marhalah Ulaa (DMU) Putra Tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA/Sederajat) Tahun 2024 Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, berfoto bersama dengan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, usai pembukaan secara hybrid kegiatan tersebut, Senin, 27 Mei 2024 (Foto: ist/hidayatullah.or.id)

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, M.A, mengatakan sistem pendidikan di Hidayatullah adalah pendidikan integral yang memadukan aspek spiritual, aspek intelektual, aspek jasmani, aspek sosial, dan aspek kepemimpinan.

“Ini dalam rangka melahirkan generasi yang siap untuk menghadapi tantangan zaman yang begitu berat menantang,” katanya.

Hal itu diungkapkan Nashirul saat menyampaikan arahan umum pada acara pembukaan Dauroh Marhalah Ulaa (DMU) Tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA/Sederajat) Tahun 2024, Senin, 19 Dzulqaidah 1445 (27/5/2024).

Ia menjelaskan, semangat kependidikan dan kepengasuhan untuk membangun karakter generasi muda Islam tersebut setarikan nafas dengan seruan konstitusi negara untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Hal tersebut, ia menyebutkan, sebagaimana telah tertuang dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengamanatkan bahwa tujuan pendidikan yaitu lahirnya peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

“Dan, yang bisa menjawab dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional itu insya Allah adalah lembaga pendidikan Hidayatullah yang menempatkan aspek spiritual ruhiyah di urutan paling utama dan pertama,” katanya.

Barulah setelah itu ada aspek intelektual atau aqliyah tsaqofiyah yang membekali generasi dengan ilmu dan wawasan yang luas.

“Oleh sebab itu setiap santri harus tampil percaya diri dan tekun berlatih sehingga cakap dalam berbagai bidang dalam menjalankan amanah yang diberikan kepadanya,” pesannya kepada 2.833 santri dengan rincian 1.554 santri putri dan 1.279 santri putra yang mengikuti pembukaan kegiatan ini.

Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menggelar Daurah Marhalah Ula Nasional Tingkat SMA 2024 secara serentak di seluruh Indonesia dengan mengusung tema “Kader Muda Hidayatullah: Aktif Berhalaqah, Cerdas Militan dan Pemimpin Masa Depan”.

DMU 2024 berlangsung selama 3 hari, mulai dari tanggal 27 Mei hingga 29 Mei 2024, di semua kampus Hidayatullah se-Indonesia.

Pembukaan Dauroh Marhalah Ulaa ini sendiri diselenggarakan secara hybrid pada hari Senin (2705/2024).

Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Depok dan Surabaya, ditunjuk sebagai tuan rumah yang menyelenggarakan pembukaan secara online. Adapun daerah yang lain se-Indonesia mengikuti via jaringan meeting Zoom.*/Muhammad Zuhri Fadhlullah

Pendidikan Integral Mencakup Juga Masalah Pentingnya Kesehatan Jasmani

Suasana pembukaan Dauroh Marhalah Ulaa (DMU) Tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA/Sederajat) Tahun 2024 di Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur, Senin, 27 Mei 2024 (Foto: ist/hidayatullah.or.id)

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, M.A, menyampaikan bahwa aktualisasi pendidikan integral berbasis Tauhid yang diusung Hidayatullah mencakup semua aspek kehidupan termasuk masalah pentingnya kesehatan jasmani.

“Konsep pendidikan kita, tidak hanya ingin mengantarkan anak didik sukses di dunia semata. Namun, juga sampai akhirat, ” ungkapnya.

Hal itu diungkapkan Nashirul saat menyampaikan arahan umum pada acara pembukaan Dauroh Marhalah Ulaa (DMU) Tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA/Sederajat) Tahun 2024, Senin, 19 Dzulqaidah 1445 (27/5/2024).

Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menggelar Daurah Marhalah Ula Nasional Tingkat SMA 2024 secara serentak di seluruh Indonesia dengan mengusung tema “Kader Muda Hidayatullah: Aktif Berhalaqah, Cerdas Militan dan Pemimpin Masa Depan”.

DMU 2024 berlangsung selama 3 hari, mulai dari tanggal 27 Mei hingga 29 Mei 2024, di semua kampus Hidayatullah se-Indonesia.

Dam sambutannya, Ustadz Nashirul, demikian panggilan akrabnya, menjabarkan kepada para peserta DMU, tujuan pendidikan integral yang dibangun Hidayatullah.

“Konsep pendidikan kita, tidak hanya ingin mengantarkan anak didik sukses di dunia semata. Namun, juga sampai akhirat, ” tegasnya.

Karena itu, sambung lulusan program doktoral International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC-IIUM) ini, dalam penerapan sistem pendidikannya, menjangkau semua dimensi kehidupan manusia.

Tidak hanya intelektualitas yang menjadi pokok garapan. Lebih dari itu, pendidikan integral juga menyasar aspek spiritualitas yang sangat ditekankan melalui praktik ibadah-ibadah, baik itu yang wajib maupun yang sunnah, seperti wirid, puasa sunnah, dan shalat tahajjud.

Demikian pula ia menekankan pentingnya kesehatan jasmani dalam pengembangan diri secara keseluruhan. Kesehatan jasmani menurutnya mencakup kemampuan fisik dan stamina yang baik, yang sangat penting untuk mendukung aktivitas sehari-hari dan tugas-tugas intelektual maupun spiritual.

“Aspek kesehatan jasmani juga sangat penting untuk dikembangkan, sebab, tidaklah maksimal tingginya ruhiyah dan intelektualitas, bilamana kesehatan terganggu,” jelasnya.

Ketika kesehatan fisik terganggu, terangnya, kemampuan seseorang untuk mencapai potensi maksimal dalam aspek ruhiyah (spiritualitas) dan intelektualitas juga akan terhambat. Karena itu, penerapan pendidikan integral menempatkan aspek kesehatan jasmani sebagai fondasi yang mendukung keseimbangan dan perkembangan aspek lain dari kehidupan seseorang.

Suasana olahraga senam pagi murid Madrasah Aliyah (MAS) Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, peserta Dauroh Marhalah Ulaa (DMU) Tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA/Sederajat) Tahun 2024 (ist/hidayatullah.or.id)

Sayangnya, sambung Nashirul, aspek satu ini kurang mendapat perhatian khususnya oleh generasi muda yang kini banyak dibuai oleh gadget. Akibatnya, sehingga kurang gerak yang akhirnya terserang penyakit yang aneh-aneh padahal usia masih belia.

“Adanya kegiatan Pandu dalam rangka menjaga kesehatan tubuh (jasadiyah) para santri. Karena untuk menjadi pemimpin yang ideal, selain ilmu, kesehatan tubuh menjadi bekal yang sangat penting, ” ulasnya.

Disamping itu, upaya membangun kebugaran diri ini hendaknya dipadukan dengan kegiatan halaqah agar terjadi keseimbangan antara kesehatan jasmani dan rohani.

Karena, mengingat sifat dasar manusia yang mengalami pasang-surut semangat dan motivasi, khusunya dalam beribadah, maka kegiatan halaqah menjadi solusi konkrit untuk menjaga spirit itu.

“Di halaqah itulah kita saling menguatkan satu sama lain, akan iman, ibadah dan amal sholih lainnya,” paparnya.

Karena itu, Ustadz Nashirul pun menghimbau, selepas acara DMU, para peserta harus proaktif mengikuti halaqah seminggu sekali yang akan dibagi oleh pengurus untuk mendalami dan meresapi nilai-nilai manhaji yang diusung Hidayatullah.

“Target halaqah ini bukan hanya sampai lulus SMA. Tapi berlanjut, ketika kuliah di manapun juga, hingga akhirnya sampai tingkat Wustho, Ulaa, sampai akhir benar-benar keluar sebagai pemimpin yang diharapkan, ” tutupnya.

Pembukaan DMU ini sendiri diselenggarakan secara hybrid pada hari Senin (2705/2024). Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Depok dan Surabaya, ditunjuk sebagai tuan rumah yang menyelenggarakan pembukaan secara online. Adapun daerah yang lain se-Indonesia mengikuti via jaringan meeting Zoom.*/Herim

Dibuka Ketua Umum, Gelaran Daurah Marhalah Ula Nasional SMA 2024 Serentak se-Indonesia

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menggelar Daurah Marhalah Ula (DMU) Nasional SMA secara serentak di seluruh Indonesia. Kegiatan yang mengusung tema “Kader Muda Hidayatullah: Aktif Berhalaqah, Cerdas Militan dan Pemimpin Masa Depan” ini berlangsung selama 3 hari, mulai dari tanggal 27 Mei hingga 29 Mei 2024, di semua kampus Hidayatullah se-Indonesia.

Acara pembukaan DMU Nasional SMA Hidayatullah dilaksanakan di Kampus Utama Hidayatullah Surabaya pada hari Senin, 19 Dzulqaidah 1445 (27/05/2024). Acara ini dihadiri oleh ribuan peserta secara offline di lokasi pembukaan acara dan secara online dari 38 provinsi di seluruh Indonesia.

Pembukan acara ini dihadiri juga oleh sejumlah pengurus DPP Hidayatullah diantaranya Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah Ir. Abu A’la Abdullah, Ketua Departemen Ust. Muhammad Sholeh Usman, M.I.Kom., Ketua Departemen Kepesantrenan KH Muhammad Syakir Syafi’i, dan hadir juga unsur Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah.

Sambutan Ketua Umum

Dalam sambutannya, Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, M.A., menyampaikan bahwa DMU Nasional SMA Hidayatullah bertujuan untuk melahirkan generasi rabbani yang berkualitas dan siap membangun peradaban Islam.

“Hidayatullah adalah wadah tarbiyah, wadah pendidikan untuk melahirkan generasi yang berkualitas dan menyemai lahirnya generasi Rabbani,” ujarnya.

Dalam sambutan pembukaan acara DMU yang bertitik Pusat di Kampus Utama Hidayatullah Surabaya ini, beliau menyapa ribuan hadirin peserta offline di lokasi pembukaan acara maupun hadirin yang mengikuti secara online dari 38 provinsi se-Indonesia,

Seraya menyapa, ia menyampaikan bahwa Hidayatullah adalah wadah tarbiyah. Yakni, wadah pendidikan untuk melahirkan generasi yang berkualitas dan menyemai lahirnya generasi rabbani.

“Pesantren dan sekolah Hidayatullah adalah salah satu wadah untuk mewujudkan misi ini,” imbuhnya dalam pidatonya dari Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat.

Lebih lanjut, ia mengatakan, Hidayatullah juga sebagai wadah dakwah untuk menyebarkan nilai-nilai Islam ke seluruh umat manusia dan menjadi rahmat bagi semesta.

“Dengan peran itu, Hidayatullah adalah wadah pelayanan dan pemberdayaan umat dengan berbagai program-programnya di masyarakat,” tuturnya.

Tak kalah penting, ia menerangkan bahwa Hidayatullah adalah wadah pemersatu dan penyalur memperjuangkan aspirasi umat Islam.

Kesemua upaya tersebut, tegas beliau, berorientasi untuk mewujudkan peradaban Islam yaitu terbangunnya sebuah kehidupan yang berlandaskan nilai iman dan nilai nilai Islam yang dilandasi niat yang suci untuk memajukan umat, bangsa, dan negara.

Maka, jelasnya melanjutkan, untuk tujuan itulah Hidayatullah menghadirkan lembaga-lembaga pendidikan agar melahirkan pejuang-pejuang peradaban yang berkualitas.

“Berkualitas ilmunya, berkualitas imannya, berkualitas amalnya, dan ini harus menyatu sehingga lahir generasi rabbani yang ditunggu dan diharapkan oleh dunia,” pesannya memotivasi.

Pendidikan Integral

Diriingi pula oleh semangat tersebut, Ustadz Nashirul masih dalam sambutannya menyebutkan bahwa sistem pendidikan di Hidayatullah adalah pendidikan integral yang memadukan aspek spiritual, aspek intelektual, aspek jasmani, aspek sosial, dan aspek kepemimpinan.

“Ini dalam rangka melahirkan generasi yang siap untuk menghadapi tantangan zaman yang begitu berat menantang,” katanya.

Ia menjelaskan, semangat kependidikan dan kepengasuhan untuk membangun karakter generasi muda Islam tersebut setarikan nafas dengan seruan konstitusi negara.

Hal tersebut, ia menyebutkan, sebagaimana telah tertuang dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengamanatkan bahwa tujuan pendidikan yaitu lahirnya peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

“Dan, yang bisa menjawab dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional itu insya Allah adalah lembaga pendidikan Hidayatullah yang menempatkan aspek spiritual ruhiyah di urutan paling utama dan pertama,” katanya.

Barulah setelah itu ada aspek intelektual atau aqliyah tsaqofiyah yang membekali generasi dengan ilmu dan wawasan yang luas.

“Oleh sebab itu setiap santri harus tampil percaya diri dan tekun berlatih sehingga cakap dalam berbagai bidang dalam menjalankan amanah yang diberikan kepadanya,” pesannya kepada 2.833 santri dengan rincian 1.554 santri putri dan 1.279 santri putra yang mengikuti kegiatan ini.

Jaga Kesehatan

Tak lupa ia juga mengingatkan akan pentingnya menjaga kesehatan jasmani. Ia menyebutan fenomena kekinian dimana sekarang tidak sedikit generasi muda yang sudah punya penyakit seperti orang tua.

Karena itu ia berpesan agar santri harus selalu menjaga kesehatan. Menurutnya, kesehatan jasmani seringkali diabaikan padahal ia sangat penting.

Maka dari itu, ia pun menekankan kepada para pengasuh henkdanya tidak mengabaikan untuk memperhatikan ini kepada santrinya.

“Anugerah terbesar yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala kepada hamba-Nya setelah keimanan kepada Allah adalah kesehatan,” imbuhnya, seraya menitipkan pesan untuk menjalani semua proses sebagai santri dengan sebaik baiknya.

“Karena pemimpin hari ini adalah pemimpin masa depan dan semua itu ditentukan dari awal bagaimana prosesnya. Student today, leaders tomorrow. Insya Allah, kalian adalah calon calon pemimpin yang menyelamatkan negeri dan dunia,” tandasnya.*/Muhammad Zuhri Fadhlullah

Menyerap Keteladanan dari Para Perintis dan Senior Hidayatullah

Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr Nashirul Haq, menyampaikan takziyah atas wafatnya Ustadz Hasyim HS di mimbar Masjid Ar-Riyadh, Kamis, 15 Dzulqaidah 1445 H (23/5/2024) bakda subuh.* [Foto: SKR/MCU]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA, mengajak umat Islam khususnya warga Hidayatullah saat ini untuk bisa menyerap sebanyak mungkin keteladanan dari para perintis dan senior Hidayatullah yang masih hidup.

“Mumpung para orang tua kita masih ada,” ujarnya berpesan, saat menyampaikan takziyah atas wafatnya Ustadz Muhammad Hasyim Harjo Suprapto (HS) di mimbar Masjid Ar-Riyadh, Kamis, 15 Dzulqaidah 1445 H (23/5/2024) bakda subuh

Terutama, kata Nashirul, mereka-mereka yang memiliki sanad langsung dengan almarhum Pendiri Hidayatullah, KH Abdullah Said yang juga sahabat seperjuangan Ustadz Hasyim HS.

Ustadz Nashirul Haq mengatakan, Ustadz Hasyim memiliki begitu banyak kebaikan. Tentunya bukan sebatas dikenang, tapi juga diikuti.

“Terlalu banyak kebaikan (beliau),” katanya, baik yang bisa disebutkan maupun tidak, “Untuk kita teladani,” tambahnya, seperti dilansir laman ummulqurahidayatullah.id.

Di antara keteladanan Ustadz Hasyim, tutur Ustadz Nashirul Haq, adalah kalau almarhum berbicara, isinya berkualitas.

“Setiap kali kita dengar ceramah beliau, dari awal sampai akhir itu ‘daging’ semua. Tidak ada embel-embelnya,” ungkap alumnus Universitas Islam Madinah ini.

Selain itu, kalau Ustadz Hasyim diminta berbicara selama 10 menit, misalnya, “ya 10 menit.”

“Beliau benar-benar istiqamah,” tambah Ustadz Nashirul Haq yang juga sempat merasakan didikan langsung dari Ustadz Hasyim HS di Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.

Selain itu, ia mengatakan, Ustadz Hasyim sangat berhati-hati dalam berbicara. Baik di forum maupun di luar forum.

“Dan tidak pernah menyinggung orang lain. Menyindir saja tidak pernah,” tuturnya.

Sebelumnya diberitakan, salah seorang dari lima Pendiri Hidayatullah, yaitu Ustadz H. Muhammad Hasyim Harjo Suprapto (HS), berpulang ke Rahmatullah.

Ketua Majelis Penasehat Hidayatullah ini meninggal dunia di kediamannya di Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa, 13 Dzulqaidah 1445 H (21/5/2024) sekitar pukul 11.58 WITA.* (SKR/MCU)