Beranda blog Halaman 216

Kolaborasi Kemenag, Baznas, FOZ, dan Laznas BMH Bersatu untuk Korban Banjir Demak

0

DEMAK (Hidayatullah.or.id) — Semangat gotong royong dan kepedulian terhadap sesama terus mengalir di tengah-tengah bencana banjir yang melanda Demak. Kali ini, kolaborasi antara Kementerian Agama (Kemenag), Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Jawa Tengah, Forum Zakat (FOZ), dan Baitulmaal Hidayatullah (BMH) memberikan sinar harapan bagi para korban banjir.

Koordinator BMH Perwakilan Jawa Tengah, Gerai Demak, Aqiful Khair, menyambut baik kunjungan dari Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag RI, Prof. Waryono Abdul Ghafur, beserta timnya dari Jakarta, serta perwakilan Baznas Provinsi Jawa Tengah, juga Fozwil Jawa Tengah.

“Dalam kunjungan ini, kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran Bapak Prof. Waryono Abdul Ghafur dan tim dari Jakarta alias Kemenag RI, serta Baznas Provinsi Jawa Tengah, yang turut merasakan penderitaan masyarakat di sini,” ungkap Aqiful Khair dalam keteranganya diterima media ini, Senin, 9 Sya’ban 1445 (19/2/2024).

Prof. Waryono Abdul Ghafur juga menyampaikan rasa empatinya, “Kita hadir di sini untuk merasakan dan memberikan dukungan kepada masyarakat yang terdampak banjir. Kehadiran kami diharapkan dapat memberikan optimisme, terutama menjelang bulan Ramadan.”

Para pengungsi yang berada di posko induk BMH turut menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan yang telah diberikan. Salah satu pengungsi, Bapak Mudhoffar, mengucapkan, “Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu kami, termasuk BPBD, PMI, dan Laznas BMH, yang telah bersama-sama memberikan dukungan di posko induk ini.”

Kunjungan Direktur Zakat dan Wakaf Kemenag didampingi oleh Kasubdit Edukasi, Inovasi, dan Kerja Sama Zakat dan Wakaf, Bapak Muhibuddin, yang menjelaskan tujuan dari kolaborasi ini.

“Kolaborasi ini adalah upaya untuk membangun sinergi dan koordinasi antara Baznas dan Laznas dalam menghadapi bencana ini,” tambahnya.

Perlu diinformasikan bahwa jumlah pengungsi akibat banjir Demak di Kabupaten Kudus mencapai lebih dari 4300 orang.

“Kolaborasi ini menjadi bentuk nyata dari kepedulian dan gotong royong untuk membantu sesama yang sedang mengalami kesulitan,” tutup Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Tengah, Yusran Yauma.

Menurut Yusran BMH terus bersiaga di lokasi banjir Demak, tepatnya di posko, hingga kemudian tiba masa masyarakat bisa kembali ke rumah masing-masing.*/Herim

Kiprah Ustadz Rahim Membina Masyarakat Pesisir Desa Suliliran

0

PASER (Hidayatullah.or.id) — Di balik gemuruh sungai yang mengalir tenang, terdapat seorang paruh baya yang sorot matanya menyala optimisme untuk kebaikan umat dan bangsa.

Dialah Ustadz Abdul Rahim, seorang dai yang telah mengajar dan mendakwahkan Islam hingga ke ujung-ujung desa yang terpencil di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.

Pada Kamis, 5 Sya’ban 1445 (15/2/2024), sinar harapan menyinari hati Abdul Rahim tatkalaLembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Gerai Paser datang ke kediamannya, di Desa Suliliran, Kecamatan Paser Belengkong, Paser, menyampaikan amanah berupa insentif yang hangat untuknya, sebagai penghargaan atas dedikasinya yang tak kenal lelah.

Setiap bulan, BMH dengan penuh rasa tanggung jawab menyampaikan amanah dari para donatur dalam program kafalah da’i.

Program ini bertujuan untuk meringankan beban ekonomi para da’i yang berjuang keras di pedalaman. Dan, Ustadz Abdul Rahim, dengan segala keihklasan, menjadi satu-satunya da’i yang ada di wilayah Paser.

Ali Ridho, Koordinator BMH Paser, dengan penuh semangat mengungkapkan, bahwa Ustadz Abdul Rahim tidak hanya berkarya di lingkungan sekitar.

Rahim saban waktu menembus batas-batas wilayah, menjejakkan kaki dan menaburkan ilmu hingga ke pelosok-pelosok terdalam dan pinggiran kota.

“Berkat dukungan para donatur, kami terus membantu para Dai Tangguh Pedalaman. Keberadaan mereka adalah harapan besar bagi kami untuk memudahkan anak-anak dan masyarakat dalam mempelajari Al-Quran,” ujar Ali Ridho.

“Mohon doanya insha Allah menjelang Ramadhan akan ada hadiah berupa sarung untuk 100 jama’ah yang dibina Ustadz Abdul Rahim di Paser ini,” imbuhnya.

Ustadz Abdul Rahim, dengan rasa syukur yang mendalam, mengucapkan terima kasih kepada BMH dan para donatur atas bantuan yang mereka berikan.

“Dengan kerendahan hati, saya menerima bantuan ini sebagai bagian dari rahmat Allah. Semoga setiap langkah kebaikan ini membawa berkah bagi semua,” tutur Ustadz Abdul Rahim sambil tersenyum bahagia.*/Herim

Simpul Sinergi Adakan Trauma Healing untuk Anak Penyintas Banjir Demak

0

DEMAK (Hidayatullah.or.id) — Setelah musibah banjir melanda, adaptasi bagi para pengungsi bukanlah perkara mudah. Namun, mereka menemukan harapan di tengah beban berat melalui kegiatan trauma healing.

Kegiatan trauma healing ini diselenggarakan oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) yang bekerja sama dengan simpul sinergi Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo dan Komunitas Taman Baca Masyarakat (YBM) Demak.

Koordinator BMH Gerai Demak, Aqiful Khair, mengaku merasa bersyukur dan menerima keadaan adalah langkah pertama dalam memulihkan suasana hati korban banjir.

“Oleh karena itu, BMH bersama mitra-mitra lokal mengadakan kegiatan trauma healing untuk memberikan dukungan bagi para pengungsi,” ungkap Aqiful Khair, Sabtu, 7 Sya’ban 1445 (17/2/2024).

Salah satu anak pengungsi, Abdullah, mengungkapkan rasa senangnya setelah mengikuti kegiatan tersebut.

“Senang bisa bermain dan tertawa bersama kakak-kakak. Saya bahkan lupa kalau kita masih mengungsi karena banjir,” ceritanya dengan polos.

Koordinator aksi trauma healing, Faiqotul Ilmiyah, menyampaikan perubahan yang terlihat pada anak-anak setelah kegiatan tersebut.

“Awalnya terlihat ada rasa trauma, namun seiring berjalannya waktu dan dengan bantuan kakak-kakak mahasiswa dan YBM, mereka mulai menemukan kembali keceriaan mereka. Senang melihat mereka kembali tersenyum dengan penuh kebahagiaan,” ujarnya penuh haru.

BMH berkomitmen untuk terus menemani para pengungsi dalam proses pemulihan mereka. Dengan berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi, BMH membuka donasi kepedulian untuk membantu mereka yang terdampak banjir di Demak.

Dalam kondisi seperti ini, kehadiran kebaikan dan dukungan dari berbagai pihak memberikan harapan baru bagi para korban banjir untuk melangkah maju dan memulai kembali kehidupan mereka.

“BMH insha Allah akan terus mengawal bantuan umat untuk masyarakat penyintas banjir Demak,” tutup Aqiful.*/Herim

Bantuan 3 Unit Hunian untuk Dukung Kelanjutan Dakwah di Papua Tengah

0

TIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Tidak semua pendakwah memiliki kemampuan praktis dalam menghasilkan pendapatan harian, terutama di kawasan pedalaman dan terpencil dengan akses ekonomi yang terbatas.

Karena itu, untuk mendukung kiprah dai mengabdi ini, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Gerai BMH Timika yang merupakan bagian dari BMH Perwakilan Papua Tengah menggelar acara serah terima 3 unit hunian atau rumah untuk dai tangguh, Rabu, 4 Sya’ban 1445 (14/2/2024).

Acara tersebut dihadiri oleh Ketua Yayasan Kampus Utama Hidayatullah Timika, Ustadz Al Jufri Muhammad, beserta jajaran pengurus lainnya, serta para dai Hidayatullah di Timika.

Dalam sambutannya, Ketua Perwakilan BMH Papua Tengah, Hasyim Albahar, menyampaikan bahwa program rumah dai tangguh ini merupakan program tahunan yang akan terus dijalankan.

“Tujuan utamanya adalah memberikan tempat tinggal bagi para dai yang bertugas di pedalaman yang belum memiliki rumah. Dengan adanya program ini, diharapkan para dai semakin termotivasi untuk melanjutkan dakwah mereka,” ungkapnya.

Syukur dan Terima Kasih dari Ust. Al Jufri Muhammad juga disampaikan di hadapan hadirin.

“Alhamdulillah kita patut bersyukur atas terlaksananya program rumah dai yang kedua oleh Gerai BMH Timika ini. Semoga program ini menjadi amal jariyah bagi semua pihak yang terlibat dan menguatkan dakwah di Papua Tengah,” tuturnya.

Dengan kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak, program rumah dai tangguh ini memberikan dampak yang besar bagi para dai yang berjuang di daerah terpencil.

“Semoga program-program seperti ini terus dilaksanakan dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat,” tutup Koordinator BMH Gerai Timika, Warsito.*/Herim

Rakornas Dikdasmen 2024 Perkuat Standardisasi Pendidikan Unggul

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Kemeriahan dan semangat tinggi berdedikasi untuk umat, bangsa, dan negara menyertai acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pendidilan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Hidayatullah 2024 mengusung tema “Standardisasi PIBT Nasional Menciptakan Pendidikan yang Unggul”, digelar selama 3 hari di Kampus Utama Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Sabtu – Senin, 7-9 Sya’ban 1445 (17-19/2/2024).

Dihadiri oleh 33 Kepala Departemen Pendidikan DPW Hidayatullah dari seluruh penjuru Indonesia, acara ini menjadi tonggak bersejarah dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan Hidayatullah.

Terutama dalam menguatkan dan meningkatkan kualitas standarisasi pendidikan di lingkungan Hidayatullah yang memiliki tagline Pendidikan Integral Berbasis Tauhid atau PIBT.

Ketua Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah DPP Hidayatullah Dr. Nanang Nur Patria, M.Pd menjelaskan bahwa acara ini dirancang dengan memperhatikan secara langsung observasi pendidikan di Hidayatullah Depok, baik di lapangan maupun di kelas.

“Tujuannya adalah untuk memberikan pandangan yang jelas dan inspiratif kepada setiap peserta, sehingga mereka memiliki pemikiran yang kuat berbasis pengetahuan dan pengalaman lapangan,” ungkapnya.

Salah satu komitmen utama yang diungkapkan dalam acara ini adalah keterhubungan seluruh sekolah Hidayatullah, yang diharapkan memiliki benang merah yang tidak boleh putus.

“Langkah konkret dalam hal ini adalah pemberian Nomor Induk Sekolah Hidayatullah (NISH), yang akan memperkuat sistem dan struktur pendidikan di lingkungan Hidayatullah.

Selain itu, upaya peningkatan kualitas kepala sekolah juga menjadi fokus, dengan rencana sinergi bersama Hidayatullah Institut yang akan dilakukan pekan depan.

“Hal ini mencerminkan komitmen Hidayatullah untuk terus berkembang dan meningkatkan standar pendidikan yang ada,” sambungnya menerangkan.

Sementara itu Ketua Bidang Tarbiyah, Abu A’la Abdullah, MHI, menegaskan bahwa Hidayatullah tidak hanya sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga sebuah idealisme yang bertujuan untuk melayani masyarakat dan mengajarkan keindahan ajaran Islam.

“Pendidikan dipandang sebagai wadah untuk mengaktualisasikan idealisme Hidayatullah, sebagaimana yang diamanatkan oleh Ustadz Abdullah Said,” tegasnya.

“Dengan demikian, pendidikan di Hidayatullah bukan hanya menjadi sebuah proses, tetapi juga menjadi jembatan menuju cita-cita umat, bangsa, dan negara,” imbuhnya.

Semangat untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas pendidikan menjadi landasan utama dalam setiap langkah Hidayatullah menuju masa depan yang lebih cerah sesuai jati diri Hidayatullah itu sendiri.* (Abu Ilmia/MCU)

Kimia Organisasi dalam Perspektif Islam: Menjalin Ikatan Ruhiyah dan Kekuatan Kolektif

0

ORGANISASI Islam, sesugguhnya dapat diibaratkan sebagai sebuah ramuan kimia yang kompleks. Dia bukan sebuah campuran, yang dapat dilihat dan dibedakan satu sama lainnya. Melainkan sebuah senyawa, yang secara kasat mata tidak dapat dibedakan dan dipisahkan, meskipun masing-masing sebenarnya masih memiliki identitas yang jelas. Sehingga, dalam perspekstif organisasi, di dalamnya terkandung berbagai elemen, mulai dari individu dengan tujuan dan semangat awalnya berbeda, hingga membentuk sebuah struktur dan aturan yang mengatur interaksi mereka.

Kimia organisasi dalam konteks organisasi Islam membentuk fondasi yang kuat untuk mencapai visi dan misi bersama dalam rangka merealisasikan jatidirnya. Ibarat reaksi kimia yang membutuhkan elemen-elemen yang tepat untuk menciptakan suatu senyawa, dalam perspektif organisasi Islam demikian, dimana membutuhkan adanya : koordinasi, komunikasi, sinergi, integrasi dan komitmen yang seimbang dari seluruh anggotanya.

Dalam organisasi Islam, setiap individu dapat diibaratkan sebagai molekul yang berkontribusi pada keutuhan dan tujuan bersama. Seperti atom yang menyatukan diri untuk membentuk ikatan yang kokoh, anggota organisasi bersatu untuk membangun fondasi moral dan spiritual yang kuat. Sehingga melahirkan sebuah reaksi fusi maupun fisi, yang mengkombinanan antara atom kuat dan lemah serta sebaliknya, selanjutnya akan menjadi satu inti yang memiliki energi jauh lebih besar.

Tak ubahnya, seperti reaksi kimia, dimana memerlukan keseimbangan dan proporsi yang tepat, organisasi Islam juga perlu mengintegrasikan nilai-nilai agama dengan tata kelola yang efisien. Dalam hal ini, kepemimpinan yang adil dan berintegritas berperan sebagai katalisator yang mempercepat pencapaian tujuan bersama. Pada saat yang bersamaan juga memerlukan katalisator untuk mempercepat sebuah proses.

Selain itu, sebagaimana dalam kimia organik menciptakan senyawa yang kompleks dan beragam, mendorong organisasi Islam agar dapat memanfaatkan keberagaman anggotanya untuk menciptakan ide-ide dan solusi yang inovatif, dengan sebuah goal/tuuan yang jelas dan terukur. Padaa saat yang bersamaan, juga melibatkan berbagai lapisan masyarakat dalam pengambilan keputusan dapat menghasilkan strategi yang lebih holistik dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Prasyarat Kokohnya Kimia Organisasi

Tidak dipungkiri bahwa untuk melahirkan sebuah kimia organisasi yang kokoh, maka diperlukan beberapa prasyarat sebagai berikut:

  1. Landasan Ideologi yang Kokoh

Organisasi Islam harus memiliki landasan ideologi yang kokoh, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Hal ini penting untuk memastikan bahwa organisasi tersebut bergerak dalam koridor Islam dan tidak menyimpang dari nilai-nilai Islam.

  1. Kepemimpinan yang Visioner dan Berintegritas

Kepemimpinan yang visioner dan berintegritas sangat penting untuk mengarahkan organisasi Islam ke arah yang benar. Pemimpin harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang Islam, memiliki visi yang jelas untuk organisasi, dan mampu menginspirasi anggota untuk mencapai tujuan bersama.

  1. Kaderisasi dan Regenerasi yang Sistematis dan Berkelanjutan

Organisasi Islam perlu melakukan kaderisasi dan regenerasi melalui rejuvenasi secara sistematis dan berkelanjutan untuk memastikan keberlangsungan organisasi. Kaderisasi ini harus fokus pada pengembangan karakter, pengetahuan Islam, dan keterampilan kepemimpinan, terutama bagi generasi pelanjut dalam organisasi itu sendiri, sekaligus merekrut kader dari eksternal jika memungkinkan.

  1. Budaya Kerja yang Islami
    Organisasi Islam harus membangun budaya kerja yang Islami, yang didasarkan pada nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, kerjasama, dan saling menghormati. Budaya kerja ini akan membantu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi anggota untuk berkembang dan mencapai tujuan bersama.
  2. Spiritualitas yang Tinggi

Spiritualitas yang tinggi merupakan prasyarat penting bagi kesuksesan organisasi Islam. Anggota organisasi harus memiliki komitmen yang kuat terhadap Islam dan selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwanya, melalui pelaksanaan ibadah mahdhah dan ghairu mahdhoh serta amaliyah nawafil lainnya.

  1. Transparansi dan Akuntabilitas

Organisasi Islam harus mengedepankan transparansi dan akuntabilitas dalam segala hal. Hal ini penting untuk membangun kepercayaan dan menjaga kredibilitas organisasi.Sehingga Organisasi dan seluruh amal usaha yang dimiliki, akan dikelola secara profetik dan profesional.

  1. Kerjasama dan Kolaborasi

Organisasi Islam perlu menjalin kerjasama dan kolaborasi dengan berbagai pihak, baik internal maupun eksternal. Hal ini akan membantu memperkuat organisasi dan memperluas jangkauan dakwahnya.

Tujuh hal tersebut di atas merupakan prasyarat minimal yang mesti dipenuhi oleh sebuah organisasi Islam, agar dapat melahirkan kimia organisasi yang padu.

Keuntungan Menerapkan Kimia Organisasi

Dengan menerapkan kimia organisasi secara benar, setidaknya organisasi akan memperoleh banyak keuntungan, diantaranya adalah:

Pertama, Menemukan Keseimbangan. Seperti halnya kimia, keseimbangan adalah kunci. Organisasi Islam harus mampu menyeimbangkan antara spiritualitas dan pragmatisme. Di satu sisi, organisasi ini harus berlandaskan nilai-nilai Islam yang luhur, seperti akhlak mulia dan kepedulian sosial. Di sisi lain, organisasi ini juga harus mampu menjalankan fungsinya secara efektif dan mencapai tujuannya.

Kedua, Membangun Ikatan Spiritual: Ikatan spiritual bagaikan perekat yang menyatukan anggota organisasi. Ikatan ruhiyah yang didasari dengan keimanan dan ketaqwaan, melebihi ikatan dalam bentk apapun juga. Sehingga Organisasi Islam dapat membangun ikatan ini melalui berbagai kegiatan, seperti: Kajian dan pengajian: Memperkaya pengetahuan dan pemahaman Islam. Dalam organisasi Islam, seperti dalam ilmu kimia, pengkajian dan pengajian harus terus menerus diperlukan. Evaluasi berkala terhadap kinerja organisasi memastikan adanya perbaikan dan pengembangan yang berkelanjutan. Sebagaimana zat-zat kimia yang mengalami transformasi, organisasi Islam juga perlu beradaptasi dengan perubahan zaman dan memastikan relevansinya dalam menghadapi tantangan kontemporer.

Kegiatan sosial: Menumbuhkan rasa kepedulian dan solidaritas antar anggota. Kegiatan sosial sendiri, juga mesti memberikan dampak yang signifikan bagi kehidupan sosial masyarakat. Dan dimulai dari kesadaran sosial, dimana rakyat mesti aware, bahwa keadilan sosial adalah merupakan hak yang melekat pada dirinya sebagai umat dan sebagai warga negara.
Instrospeksi dan muhasabah: dalam reaksi kimia maka perlu juga dilihat unsur-unsur apa saja yang melamahkan dan menguatkan, demikian pula dalam organisasi, selain intrspeksi terhadap hubungan dengan sesama anggorta organisasi juga, memperkuat hubungan dengan Allah SWT dan introspeksi diri.

Ketiga, Memanfaatkan Kekuatan Kolektif: Organisasi Islam memiliki kekuatan kolektif yang besar untuk mencapai tujuan bersama. Jumlah yang besar semestinya menjadi subyek bukan menjadi obyek. Sehingga kesadaran dari kuantitatif ini juga mesti diikuti dengan kualitas yang memadai. Sehingga Kekuatan ini dapat dimanfaatkan untuk:

Advokasi dan dakwah: Menyuarakan nilai-nilai Islam dan memperjuangkan keadilan sosial. Pada saat yang bersamaan juga membela umat untuk memperoleh rasa keadilan, mendampingi serta membangun kepercayaan diri umat, sekaligus dalam rangka memperluas jangkauan dakwah, sehingga semakin banyak rakyat yang tercerahkan.

Pemberdayaan masyarakat: Meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui berbagai program. Terlibat dan melibatkan diri dalam proyek-proyek keummatan dalam rangka mengagkat harkat dan martabat umat.

Pendidikan dan pengembangan: Mendidik generasi muda Islam yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia, dalam rangka menciptakan kader-kader pemimpin bangsa dan pemimpin muslim yang kompeten dan berintegritas di masa mendatang.

Kesimpulan dan Urgensi Kimia Organisasi dalam Perspektif Islam

Dengan memahami dan menerapkan konsep “kimia organisasi” dalam konteks Islam, organisasi dapat menjadi wahana yang menggabungkan elemen-elemen moral, etika, dan spiritualitas. Ini tidak hanya memperkuat pondasi organisasi, tetapi juga menciptakan ikatan yang mendalam antara anggotanya. Kimia organisasi Islam membawa esensi kebersamaan yang memanfaatkan keragaman dan keunikan setiap individu untuk mencapai tujuan bersama.

Sebagaimana zat-zat kimia bekerja bersama untuk menciptakan senyawa bernilai, anggota organisasi Islam dengan kimia organisasinya dapat merangkul berbagai potensi untuk membentuk sebuah entitas yang memberdayakan, adil, dan berlandaskan prinsip-prinsip Islam. Oleh karena itu, penting bagi setiap organisasi Islam untuk menjadikan kimia organisasi sebagai elemen kritis dalam upaya mereka untuk membangun komunitas yang kokoh, produktif, dan penuh nilai-nilai luhur Islam.

Dengan demikian maka, kimia organisasi dalam Islam merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan untuk mencapai tujuan bersama. Dengan membangun landasan ideologi yang kokoh, kepemimpinan yang visioner, dan budaya kerja yang Islami, organisasi Islam dapat menjadi kekuatan yang positif dan konstruktif dalam masyarakat.

Urgensi kimia organisasi dalam perspektif Islam semakin penting di era modern yang penuh dengan tantangan dan peluang. Organisasi Islam perlu beradaptasi dengan perubahan zaman dan memanfaatkan teknologi untuk memperluas jangkauan dakwahnya. Dengan mengoptimalkan kimia organisasi, organisasi Islam dapat berperan aktif dalam membangun masyarakat yang adil, sejahtera, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.

Marilah kita bersama-sama membangun dan memperkuat kimia organisasi Islam agar dapat menjadi kekuatan yang membawa manfaat bagi umat dan bangsa. Wallahu a’lam.

*) Asih Subagyo, penulis Peneliti Senior Pada Hidayatullah Institute

[Khutbah Jum’at] Beribadah dan Bertawakkal hanya Kepada Allah

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، وَهُوَ الَّذِيْ أَدَّبَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا ﷺ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ خَلْقِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أما بعد
فيا أيها الحاضرون، أُوْصِيْنِي نَفْسِيْ وَ إِيَّاكُم بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْن. قال الله تعالى في كتابه الكريم، بسم الله الرحمن الرحيم، وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Hadirin kaum muslimin rahimakumullah

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al – qur’an Surat Hud ayat 123:

وَلِلَّهِ غَيْبُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ ٱلْأَمْرُ كُلُّهُۥ فَٱعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Dan kepunyaan Allah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepadaNya dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan”

Dalam ayat yang menjadi akhir penutup surat Hud ini, Allah Subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa وَلِلَّهِ غَيْبُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ Kepunyaan Allah Subhanahu wa ta’ala hal – hal yang ghaib, baik di langit atau di bumi.

Hal ini berarti bahwa segala peristiwa yang terjadi di tujuh lapisan langit, baik hembusan angin yang bertiup, gerakan kontelasi bintang, hingga seberapa cepat putaran planet yang sangat besar ukurannya seperti Jupiter dan Saturnus, sesungguhnya semua hanya diketahui Allah Subhanahu wa ta’ala.

Begitu juga hal hal ghaib yang terjadi di bumi, apa yang sedang dilakukan seekor gurita kaca di kedalaman laut yang begitu gelap, juga seekor cacing tanah di kedalaman bumi yang tidak terlihat di permukaan, menjadi rahasia Allah Subhanahu wa ta’ala.

Ayat ini menegaskan bahwa kekuasaan Allah Subhanahu wa ta’ala yang mengetahui hal – hal yang ghaib baik di langit maupun di bumi tidak mampu ditandingi oleh kekuatan satupun makhluk di muka bumi ini.

وَلِلَّهِ غَيْبُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ

Siapa yang bisa memprediksi secara akurat kapan hujan akan membasahi bumi selain Allah Subhanahu wa ta’ala?

Siapa yang bisa mengetahui seberapa panjang musim kemarau akan menimpa sebuah kota selain Allah Subhanahu wa ta’ala? Adakah yang mengetahui siapa yang akan menjadi pemimpin (presiden) di suatu negeri selain Allah Subhanahu wa ta’ala?

Lihatlah puluhan bahkan ratusan wanita yang sedang mengandung dan terbaring di rumah rumah sakit, apakah ada yang berani menjamin bahwa janin yang ada dalam rahim wanita wanita tersebut akan terlahir semua menjadi seorang bayi?

Bahkan Jam 7 pagi tadi, semua pekerja yang telah merencanakan untuk berangkat ke tempat kerja sejak malam sebelumnya, ternyata tidak semua berhasil hadir di tempat kerja, karena sebab yang tidak bisa diprediksi sebelumnya.

Bahkan, ada di antara kita yang sudah merencanakan untuk menutup usia dekat dengan keluarga, ternyata harus mengakhiri hidupnya di lokasi yang nun jauh di sana, jauh dari keramaian.

Bahkan seorang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hanya mampu mengungkap tanda tanda hari kiamat tanpa mengetahui secara pasti kapan tepatnya peristiwa kiamat itu akan terjadi.

إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلْمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ

“Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.” (Q.S. Luqman: 34)

Hadirin kaum muslimin rahimakumullah

Allah lalu melanjutkan وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ ٱلْأَمْرُ كُلُّهُۥ dan kepada-Nya dikembalikan semua urusan, yang berarti bahwa segala sesuatu yang terjadi, peristiwa langit dan peristiwa bumi, juga peristiwa hari akhir, semua terjadi karena kehendak Allah Subhanahu wa ta’ala.

Tidak ada satu peristiwa pun yang terjadi dalam kehidupan ini, baik di langit maupun di bumi, baik di dunia maupun di akhirat kelak, kecuali semuanya atas kehendak Allah Subhanahu wa ta’ala. Baik dan buruknya peristiwa yang menimpa seseorang, semuanya ada dalam ketetapan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Lalu, setelah menjelaskan kekuasan-Nya yang tak tertandingi, Allah Subhanahu wa ta’ala memberi perintah فَٱعْبُدْهُ, Maka sembahlah Allah Subhanahu wa ta’ala. Inilah wujud pengakuan seorang hamba kepada yang maha Mengetahui hal yang Ghaib, yaitu dengan rukuk dan sujud hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Inilah peragaan seorang muwahhid, yang mengakui bahwa “Laa ilaaha illalaahu”, tidak ada yang maha Kuasa dan patut untuk disembah selain Allah Subhanahu wa ta’ala.

Kalau seorang manusia sangat taat dan tunduk kepada sesama manusia, hanya karena ia adalah orang yang memberinya pekerjaan, promosikan jabatan, memberikan pendapatan bulanan, hingga orang tersebut selalu mengatakan “siap” setiapkali ia diminta untuk mengerjakan sesuatu oleh atasannya tersebut.

Maka, bagaimana mungkin orang tersebut tidak tunduk kepada Dzat yang memberikan perlindungan melebihi perlindungan yang diberikan atasannya tersebut? Memberikan rezeki lebih banyak daripada terbatasnya nominal rupiah yang ia terima dari atasannya?

Maka beribadah adalah wujud deklarasi ketundukan seorang hamba kepada Sang Pemilik Jiwa, yang mengetahui kapan jiwa itu akan menjumpai Rabbnya, dan dimana ia akan ditempatkan kelak di akhirat.

Dengarlah apa yang dikatakan oleh Abubakar Asshiddiq radhiyallaahu anhu, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam wafat:

“Siapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah mati, dan siapa yang menyembah Allah Subhanahu wa ta’ala, Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala Maha hidup dan tidak pernah mati”.

Inilah wujud orang yang muwahhid, yaitu orang yang beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala karena kesadaran bahwa Allah Maha Kuasa, dan tidak yang mampu menandingi kekuasan-Nya.

Hadirin kaum muslimin rahimakumullahu

وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ Dan bertawakkal lah hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala saja. Setelah meyakini bahwa segala urusan dikembalikan hanya kepada Allah, maka seorang hamba hendaknya bergantung dengan penuh keyakinan atas segala urusan hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dan, untuk mampu berserah diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, maka diperlukan keyakinan yang kuat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan usaha yang penuh kesungguhan.

Keyakinan yang kuat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala hanya bisa lahir kalau seseorang mengenal Sang Maha Pencipta yang mengetahui segala hal yang ghaib dan menentukan segala urusan.

Bukankah di antara kita, ketika harus meninggalkan keluarga di rumah karena harus berdinas ke luar kota, bisa merasakan perasaan tenang kalau meninggalkan anak dan istri di lingkungan masyarakat yang rukun, guyub, sholih, dan sholihah?

Kita tidak akan merasa khawatir akan peristiwa jahat yang menimpa mereka, karena kita mengenal dengan sangat baik tetangga depan belakang, kiri dan kanan, yang bahkan senantiasa shalat berjamaah bersama sama kita di mesjid tempat kita tinggal.

Seperti itulah kira kira penyerahan diri kita kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Kita akan menyerahkan keputusan segala urusan yang kita lakukan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan penuh keyakinan.

Dan syarat yang kedua, bahwa tawakkal mengandung usaha secara sungguh sungguh untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Jika kalian bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian, sebagaimana Dia telah memberikan rezeki kepada burung yang berangkat di pagi hari dalam keadaan perut kosong dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad).

Seekor burung yang berangkat meninggalkan sarangnya di pagi hari, diberi jaminan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala melalui hadits di atas, untuk kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.

Hadits ini menggaris bawahi kalimat berangkat di pagi hari, yang berarti bahwa harus ada upaya yang dilakukan seorang hamba untuk mendapatkan keinginannya. Sehingga tawakkal mengandung makna usaha yang sungguh sungguh dengan menyerahkan hasilnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Tanpa upaya yang sungguh sungguh untuk mencari rezeki, maka keyakinan seorang hamba bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala adalah arrozzaq hanya akan terucap di bibir saja.

Hadirin kaum muslimin rahimakumullahu

Allah lalu menutup ayat ini dengan kalimat وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. Hal ini bermakna, bahwa segala perbuatan akan mendapatkan ganjaran di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala.

Allah tidak akan membiarkan satu perbuatan pun kecuali akan mendapatkan balasan di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala, di dunia atau di akhirat kelak.

Maka Beribadahlah kepada yang Maha mengetahui hal hal yang ghaib, karena ibadah kita akan mendapat ganjaran di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dan bertawakkallah hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan usaha yang sungguh sungguh dan penuh keyakinan, karena Dialah Allah Subhanahu wa ta’ala yang menentukan segala urusan, dan Dia tidak akan pernah mengabaikan sekecil apapun perbuatan yang dilakukan oleh hamba-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Do’a Penutup

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ……. عِبَادَ اللهِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُو

Kudapan Khas Jalangkote Jadi Menu Favorit Santri Buka Puasa di Maros

0

MAROS (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) telah menggelar kegiatan buka puasa bersama santri Daarul Hijrah Maros pada Kamis, 5 Sya’ban 1445 (15/2/2024).

Menu spesial jalangkote menjadi incaran santri untuk berbuka, dengan cita rasa khas dan sambal cair yang menggugah selera.

Program puasa sunnah telah menjadi agenda rutin bagi seluruh santri setiap Senin dan Kamis. Dimulai dari sholat tahajud pukul 03.00, dilanjutkan dengan sahur bersama.

Dengan jumlah santri mencapai 80 orang, kegiatan ibadah dan sahur bersama sudah membuat mereka merasakan suasana Ramadhan.

“Alhamdulillah, biasanya buka puasa dengan gorengan, itu favorit,” ungkap salah seorang santri, Halil.

Kegiatan jelang berbuka puasa sunnah diawali dengan khataman Al-Qur’an, dilanjutkan dengan pembacaan hajat dan doa pagi para donatur. Acara ditutup dengan tausiyah oleh ustadz setempat.

Ketua Yayasan Daarul Hijrah Maros, Ustadz Abdul Hadi, menyambut baik kegiatan yang diadakan oleh Laznas BMH di pesantrennya.

“Sudah terasa Ramadhannya,” ucapnya.

Program pra-Ramadhan yang digagas oleh Laznas BMH bertujuan untuk mempersiapkan para santri menghadapi bulan Ramadhan. Kadiv Prodaya BMH Sulsel, Basori Shobirin, menjelaskan bahwa program ini akan dilaksanakan di 9 titik, dengan lebih dari seribu orang sebagai penerima manfaat.

“Dengan kerjasama dan kepedulian dari Laznas BMH serta partisipasi dari para donatur, diharapkan program ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi para santri dan masyarakat yang membutuhkan, terutama bagi banyak santri lainnya, menjelang dan selama Ramadhan. Mari bahagia dengan berbagi,” tuturnya.*/Herim

Merespon Berita Al-Qur’an tentang Ramadhan, Termasuk Golongan Manakah Kita?

0

TIDAK terasa kita sudah di bulan Sya’ban. Berarti kurang dari satu bulan lagi kita kedatangan tamu agung bulan Ramadhan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengibaratkan bulan Rajab dan Sya’ban bagaikan atletik yang hampir mencapai garis finish.

Sehingga segala energi dan potensi dikerahkan secara optimal agar bisa mengungguli peserta lainnya untuk menjadi juara. Petani mendekati masa panen. Pebisnis mendekati tahun buku.

Maka langkah yang dilakukan uswah hasanah kita meningkatkan grafik keimanan dengan memperbanyak puasa, tartilul Quran, infaq, mudawamatul wirid, mempersiapkan finansial, agar pisik dan mental memiliki kesiapan untuk memasuki Madrasah Ramadhan Mubarak 1445 H.

اللهمّ بارِك لنا في رجب وشعبان وبلّغنا رمضان واغفر لنا ذنوبنا برحمتك ياارحم الراحمين

Ya Allah berkahilah pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan. Dan ampunilah segala dosa kami. Dengan rahmat-MU wahai Yang paling Penyayang diantara para penyayang.

Sambutan Kita

Jika menatap realitas lingkungan sosial umat kita, sungguh miris rasanya. Seakan-akan umat ini tidak merasa akan kedatangan tamu. Berita yang menghiasi dunia maya dan dunia nyata lebih banyak menyuguhkan info Pilpres 2024 dan kegaduhan serta penyakit moral yang menggurita di negeri ini.

Sudah saatnya kita bermuhasabah dan bermujahadah, termasuk golongan manakah kita dalam merespon berita Al-Quran, diantaranya bulan Ramadhan 1445?

Dalam Al Qur’an surah Shad ayat 29, Allah Subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa Alquran diturunkan kepada hamba-hamba-Nya dengan penuh berkah supaya mereka mendadabburi ayat-ayat-Nya dan agar mendapat pelajaran dari Alquran.

كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ

“Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran” (QS. Sad (38): 29).

Berkah adalah tetapnya kebaikan ilahi pada sesuatu (tsubutul khoiril Ilahiy fisy sya-i). Dalam mengarungi dinamika, flutuasi dan pasang surut kebaikan, bisa mengambil keindahan-keindahannya. Dinamika yang sangat dinamis dimaknai sebagai romantika kehidupan.

Pada Kitab Al-Hikam Hikmah ke-24, Mushannif berkata :

لا تستغرِب وُقوع الأكْدار ما دُمْتَ فِى هَذِه الدّار. فإنها
ما أبْرزت إلا ما هو مستحِق وصفها وَواجِب نعتها

“Jangan merasa aneh dengan kesulitan-kesulitan yang ada selama kamu berada di dunia. Karena dunia tidak diciptakan kecuali dengan sifat dan gambaran yang menjadi haknya. ”

Inilah dunia. Di sini tidak ada kesenangan yang sejati. Di sini pula tidak ada kesedihan yang abadi. Senang dan sedih datang silih berganti. Susah dan gembira dipergilirkan dan dipergulirkan. Untuk bisa senang pun, di sini ongkosnya mahal: menguras pikiran dan tenaga. Dan itu pun tidaklah pasti.

Oleh karena itu, jangan terlalu larut dalam kesedihan, kebingungan dan nestapa. Jangan pula kaget dengan semua itu.

Inilah dunia yang dibuat dan diciptakan dengan karakter dan sifat seperti itu. Jalani saja semuanya sembari menatap pandangan ke depan, kepada keadaan setelah ini, Akhirat. Di sana, semuanya serba pasti dan sejati. Kebahagiannya sejati, sebagaimana juga kesengsaraannya. Galau dengan sesuatu yang semu hanya akan membuat kita melalaikan kesenangan yang abadi.

Kata imam Ali bin Abi Thalib krw: “Kalian mencari dua hal, yaitu ketenangan dan kesenangan. Kalian tidak akan mendapatkan keduanya kecuali nanti di surga.”

Tiga Golongan Manusia Dalam Merespon Berita Al-Quran

Ibnu Qayyin al-Jauzi menerangkan bahwa apabila kita hendak memetik manfaat maksimal dari Alquran, maka pahami dan renungkanlah (tadabbur). Atas dasar inilah, penulis hendak mendatabburi QS. Al-Fathir [35] : 32.

ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ فَمِنۡهُمۡ ظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ وَمِنۡهُم مُّقۡتَصِدٞ وَمِنۡهُمۡ سَابِقُۢ بِٱلۡخَيۡرَٰتِ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ 

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.”

Para ulama tafsir sepakat bahwa makna “orang-orang yang kami pilih diantara hamba-hamba kami” adalah umat Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, makna ayat di atas adalah Allah mewariskan Alquran kepada umat Nabi Muhammad, umat terbaik sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali Imran 110 dan QS. al-Baqarah 143.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُواْ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيۡكُمۡ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلۡنَا ٱلۡقِبۡلَةَ ٱلَّتِي كُنتَ عَلَيۡهَآ إِلَّا لِنَعۡلَمَ مَن يَتَّبِعُ ٱلرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ ۚ وَإِن كَانَتۡ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمۡ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٞ رَّحِيمٞ

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) “umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya, melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 143)..

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman pula :

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرًا لَّهُم ۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 110)

Namun, di antara umat Nabi Muhammad itu, dalam hal mengamalkan Alquran, terbagi menjadi tiga golongan.

Pertama, dzalimun linafsih

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan golongan pertama, yakni orang yang menganiaya diri sendiri (dzalimun linafsi) sebagai orang yang melalaikan sebagian dari kewajiban yang diperintahkan oleh Allah dan mengerjakan sebagian hal-hal yang dilarang atau diharamkan oleh Allah SWT.

Lebih lanjut, al-Maraghi mengatakan bahwa golongan pertama ini amal buruknya lebih berat dari pada amal baiknya. Oleh Imam al-Ghazali dalam Minhajul ‘Abidin, disebut sebagai golongan yang rugi besar.

Disebut merugi lantaran dunia yang menjadi ladang untuk kehidupan yang lebih kekal (di akhirat) justru dimanfaatkan untuk melanggar aturan Allah SWT, menuruti hawa nafsu, berbuat dosa pada Allah dan enggan bertaubat.

Sementara itu, Ibnu Abu Najih telah meriwayatkan dari Mujahid, sehubungan dengan firman-Nya: “Lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri”, adalah orang-orang yang menerima catatan amal perbuatannya dari arah kirinya. Meskipun demikian, Ibnu Abbas menjelaskan bahwa kelompok ini masuk surga karena syafaat Nabi Muhammad SAW.

Hal ini juga senada dengan sebuah hadis. Dalam Kitab Shahih Muslim pada bab Iman, terdapat sebuah hadis. Nabi bersabda: “Akan keluar dari surga orang yang mengucap ‘laa ilaaha illaa Allah’ dan di hatinya ada sebutir kebaikan.

Terkait syafaat, dalam kitab Misykah al-Masabih, Imam al-Tabrizi menukil sebuah hadis dari Imam Bukhari seperti ini;

Dari ‘Imran bin Husain, berkata: Rasūlullah bersabda: “Akan keluar suatu kaum dari neraka berkat syafaat Muhammad, kemudian mereka akan masuk ke dalam surga, dan dinamakan aljahannamiyyūn. Pada riawayat yang lain, dikatakan ‘akan keluar suatu kaum dari golongan umatku dari neraka, sebab syafaatku, mereka dinamakan aljahannamiyyun”. (HR. Bukhari).

Kedua, muqtashid

Yaitu golongan pertengahan. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa golongan ini adalah mereka yang melaksanakan segala kewajiban dan meninggalkan apa-apa yang di larang dalam agama-Nya.

Namun, golongan ini tidak mementingkan ibadah-ibadah sunnah. Secara bersamaan, ia juga mengerjakan pekerjaan yang hukumnya makruh.

Imam al-Qurtubi memberikan penjelasan tentang golongan kedua ini sebagai orang yang tibangan amal baik dan buruknya seimbang. Dan di akhirat nanti, golongan ini akan dihisab dengan hisab yang ringan.

Ketiga, saabiqun bi al-khairaat

Yaitu orang yang bersegara dalam mengerjakan amal shalih. Inilah golongan paling tinggi dan mulia disisi-Nya. Tentu saja, golongan ini masuk surga dengan tanpa hisab.

Sebab, mereka tidak hanya sekedar taat dan istiqomah mengerjakan segala kewajiban dan meninggalkan seluruh larangan-Nya, melainkan juga rajin dan tekun mengerjakan hal-hal yang disunnahkan. Hal-hal yang makruh dan syubhat juga dijauhi kelompok ini. Sehingga, jika dihisab, maka amal kebaikannya lebih berat daripada amal tercela.

Dalam QS. al-Waqiah, golongan ketiga ini diistilahkan dengan ‘al-muqarrabun’. Nasib golongan ini di akhirat sebagaimana firman-Nya:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلسَّٰبِقُونَ

“dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga),” (QS. Al-Waqi’ah 56: Ayat 10)

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلۡمُقَرَّبُونَ

“mereka itulah orang yang dekat (kepada Allah),”. (QS. Al-Waqi’ah 56: Ayat 11)

فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ

“berada dalam surga kenikmatan,” (QS. Al-Waqi’ah 56: Ayat 12)..

Merujuk hadits qudsi, seseorang yang aktif menjalankan ibadah wajib dalam rangka taqarrub ilallah dan diiringi aktif menjalankan ibadah nafilah untuk membangun mahabbah secara timbal-balik dengan Allah Swt. Sehingga penglihatannya, pendengarannya, langkah-langkahnya merupakan jelmaan dari kehendak dan langkah-Nya. Inilah tingkatan ibadah tertinggi (ihsan). Masya Allah.

Maka, menyongsong bulan Ramadhan, sudah melakukan persiapan sejak bulan Rajab. Bulan Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban bulan menyiram, Ramadhan bulan memanen, meminjam istilah Ibnu Rajab Al-Hanbali.

Dalam perspektif tasawuf, seseorang yang semula pasif kemudian aktif beribadah dia pada level nurul hidayah, seseorang yang aktif secara lahiriyah kemudian meningkat menjadi orang yang ikhlas berada pada level nurul ‘inayah, dan seseorang yang ikhlas naik pada level ma’rifat disebut nurul wishal.

Justru efek berlomba-lomba dalam kebaikan, disamping berefek dalam kehidupan dunia yang penuh berkah, juga mendapatkankan surga. Begitulah pengampunan dan bentuk rasa syukur-Nya kepada hamba yang bersegera merespon seruan-Nya.

Dan itulah makna keutamaan yang besar yang disinggung pada penghujung ayat 32. Dan berhak mendapatkan karunia Allah yang dijelaskan pada ayat berikutnya:

جَنَّٰتُ عَدۡنٍ يَدۡخُلُونَهَا يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَلُؤۡلُؤًا ۖ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ

“(Mereka akan mendapat) Surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutra.” (QS. Fatir 35: Ayat 33)

وَقَالُواْ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِيٓ أَذۡهَبَ عَنَّا ٱلۡحَزَنَ ۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٞ شَكُورٌ

“Dan mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguh, Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Mensyukuri,” (QS. Fatir 35: Ayat 34).

Mengakhiri uraian ini, penulis mengajak pada diri penulis sendiri dan umat Islam secara keseluruhan untuk merenungi QS. al-Fathir ayat 32; pada golongan mana kita saat ini?

Jika masih dalam golongan pertama, maka segeralah bertaubat.

Sementara yang merasa berada pada tingkatan muqtashid, tetap harus selalu berusaha meraih golongan pertama. Diantara ciri utama golongan pertama adalah menjadikan amal shalih sebagai kebutuhan utama.[]

Bahkan, Hajar Aswad pun Dimakelar!

0

INI KISAH nyata dari seorang Ustadz yang menunaikan umrah, beberapa waktu lalu. Di tengah khusyu’ berdzikir dan berdoa di Masjidil Haram, tiba-tiba pundaknya dicolek-colek seseorang dari belakang.

Beliau menoleh, dan langsung terkejut. Seorang wanita! Tanpa rikuh, wanita itu langsung bertanya, “Bapak sudah mencium Hajar Aswad?” Dengan rikuh dan enggan, beliau menjawab, “Belum.” “Kalau mau, saya bantu, Pak! Murah, cuma 50 Riyal!” Subhanallah!

Begitulah, bila hati telah tenggelam dalam hubbud-dunya. Ibadah pun tidak luput menjadi ladang untuk memperebutkan dunia.

Ia tidak lagi dipandang sebagai jalan pengabdian kepada Allah, namun salah satu cara untuk menjayakan nafsu dan mereguk kepuasan syahwat. Tanpa sungkan dan rikuh, bahkan tidak juga memperdulikan adab maupun kepantasan, yang penting uang didapatkan!

Siapa pun yang pernah berhaji atau menunaikan umrah, pasti mengerti fenomena ini. Kadangkala kecenderungan seperti itu tidak hanya menjangkiti muqimin asal Indonesia di Tanah Suci, namun segenap unsur yang terlibat dalam ibadah haji dan umrah pun menunjukkan gejala serupa.

Ada diantara jamaah haji/umrah, pembimbing manasik, petugas resmi, maupun agen perjalanan yang gagal mencerna pesan-pesan di balik rangkaian ibadah tsb.

Mereka mungkin telah berulangkali mengunjungi Rumah Allah, akan tetapi hatinya tetap saja terpaku erat-erat pada peluang-peluang duniawi, lepas dari misi-misi ruhiyah yang sebenarnya.

Misalnya, betapa banyak orang berlomba-lomba mencium Hajar Aswad, shalat di Hijir Ismail, berdoa di Raudhah, dan menuntaskan Shalat Arba’in. Kadangkala segenap cara ditempuh dan segala jalan pun dihalalkan.

Akan tetapi, begitu kembali ke Tanah Air, hatinya seolah membeku dan telinganya menjadi tuli. Seruan adzan menggema bersahut-sahutan, namun tubuhnya tidak beranjak untuk memenuhi panggilannya.

Kemana semangat Shalat Arba’in itu? Dimana lagi doa-doa dan munajat itu?

Al-Qur’an pernah mencela perilaku kaum Quraisy ketika mereka melakukan ritual di sekeliling Ka’bah.

Allah berfirman,

وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِندَ ٱلْبَيْتِ إِلَّا مُكَآءً وَتَصْدِيَةً ۚ فَذُوقُوا۟ ٱلْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ

“Shalat mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu.” (QS al-Anfal: 35)

Di masa itu, bangsa Arab masih berthawaf, namun mereka telah kehilangan ruhnya. Mereka masih melakukan Sa’i di antara Shafa dan Marwa, akan tetapi hanya sekedar berjalan-jalan diantara dua bukit untuk kemudian mengusap berhala Isaf dan Nailah di kedua ujungnya.

Mereka masih berkumpul dalam momen tahunan Haji, namun bukan lagi demi mengagungkan nama Allah. Mereka membanjiri Tanah Suci untuk menghadiri Festival Kebudayaan di Pasar ‘Ukazh.

Di sana para penyair mendendangkan karya-karyanya, dan seluruh masyarakat Arab pun tenggelam dalam pesta serta jual-beli komoditas andalan masing-masing!

Kadang, kita menyaksiakan fenomena yang nyaris serupa di zaman ini. Ribuan orang bolak-balik mengunjungi Baitullah, namun mereka lebih sibuk untuk meng-update status Whatsapp dan Facebook-nya daripada merenungi kebesaran Allah dan beristighfar atas dosa-dosanya.

Foto-foto selfie di Masjid Nabawi membanjiri media sosial (medsos), seakan-akan sedang pelesir ke Bali. Bukankah ini nyaris identik dengan “siulan dan tepukan tangan” yang dicela Allah dalam Kitab-Nya?

Apalagi, dengan semakin menjulangnya gedung-gedung pencakar langit di sekitar Masjidil Haram belakangan ini, dimana semakin sedikit “pemandangan langit bebas” yang tersisa di sana. Bila kita tidak jauh-jauh hari menata hati, meneguhkan niat, dan meluruskan tujuan hanya demi Allah, niscaya sulit untuk bisa merasakan keagungan-Nya.

Makanan di hotel yang begitu mewah dan kamar penginapan yang sangat nyaman, mungkin juga bisa mengalahkan sejuknya bermunajat kepada Allah dan nikmatnya bersujud di kaki Ka’bah.

Air Zamzam bisa kehilangan kelezatannya ketika bayangan mujahadah Ibunda Hajar telah lenyap dari hati, hanya tersisa bagaikan dongeng yang tak perlu dipusingkan makna-makna agungnya.

Oleh karenanya, Al-Qur’an sejak awal telah mewanti-wanti kaum muslimin agar berhati-hati ketika berhaji.

Allah berfirman,

ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَٰتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِى ٱلْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ ٱللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS al-Baqarah: 197).

Menurut para ulama’, yang dimaksud “rafats” adalah melakukan hubungan suami-istri atau hal-hal yang mengarah kesana, seperti merayu, menggoda, mencium, dsb.

Ada pula yang menafsirkan “rafats” sebagai omongan tidak berguna dan main-main. Adapun “perbuatan fasik” adalah saling mengejek, mencela orang lain, menggelari orang lain dengan gelar buruk, atau segala jenis maksiat secara umum. Demikian pernyataan al-Hafizh Ibnul Jauzi dalam Tafsir Zadul Masir.

Tampaknya, sejak dulu sudah ada kecenderungan seperti itu dalam ibadah haji. Ketika jutaan manusia dari beragam suku/bangsa berkumpul menjadi satu, jelas sangat beragam pula kemungkinan yang terjadi di sana; seberagam karakter, latar belakang, niat, serta tingkatan ilmu dan iman masing-masing.

Ada orang-orang yang kemudian saling tertarik secara seksual, terpesona oleh kekayaan orang lain, jengkel mendapati kesewenang-wenangan sesama, saling memperdebatkan khilafiyah fiqh dalam tatacara ibadah, melakukan perbuatan kriminal, terjerumus dalam kemusyrikan, dst. Daftar ini masih bisa diperpanjang lagi.

Maka, bila ada rencana mengunjungi Baitullah, ada baiknya kita menata hati sejak sekarang; agar tidak terjebak dalam fenomena-fenomena negatif yang dicela Allah; berhasil meraih Haji Mabrur dan umrah yang diterima. Wallahu a’lam.

*) Ust. M. Alimin Mukhtar, penulis adalah pengasuh YPI Ar Rohmah Pondok Pesantren Hidayatullah Batu, Malang, Jawa Timur