Beranda blog Halaman 215

Meraih Nilai Ibadah yang Unlimited

0

SAHAM terbesar Allah Subhanahu wa ta’ala bagi kita adalah Dia menciptakan kita dari ketiadaan (Al Kholiq). Bukankah satu abad yang silam kita adalah sesuatu yang belum bisa disebut?

Setelah diciptakan kita tidak dibiarkan, tetapi dibimbing secara stimulan dan simultan (Al ‘Alim). Betapa besar kasih sayang-Nya terhadap makhluk ciptaan-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ٱلَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهۡدِينِ . وَٱلَّذِي هُوَ يُطۡعِمُنِي وَيَسۡقِينِ
وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ . وَٱلَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحۡيِينِ

“(yaitu) yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku,” “dan yang memberi makan dan minum kepadaku; “dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku,” dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali),” (QS. Asy-Syu’ara’ (26) : 78-81).

Untuk menjadi sosok yang shalih ritual dan shalih sosial Dia menurunkan syariat-Nya untuk kita.

Oleh karena itu untuk memelihara keshalihan dan melipat gandakan potensi diri kita dengan cara memperbaiki hubungan kita dengan-Nya melalui Ibadah yaumiyyah (harian), ibadah usbuiyyah (pekanan), ibadah syahriyyah (bulanan), ibadah ‘ammiyyah (tahunan), ibadah marrotan fil ‘umri (sekali seumur hidup).

Perbaikan ibadah ibadah itu dilakukan baik secara kualitas dan kuantitasnya yang mencakup ibadah wajib dan sunnah.

Setiap ibadah dalam syariat islam akan berdampak pada perubahan pola pikir dan sikap pelakunya.

لِكُلِّ عِبادَة مِن العِباداتِ الصَّحِيْحَة اَثارٌ فعّالَة لِتَقْويم القائِم بِها

“Setiap ibadah yang dikerjakan dengan lurus dan benar akan berdampak secara signifikan untuk meluruskan pikiran dan sikap pelakunya”

Dengan tuntunan Islam, kita dapat melakukan revolusi akhlak terutama dengan melalui manifestasi nilai nilai ibadah shalat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang efek shalat :

ٱتۡلُ مَآ أُوحِيَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَٰوةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَٰوةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ ۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ

“Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (sholat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-‘Ankabut 29: 45)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang dampak berpuasa :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah 2:183)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang tujuan zakat :

خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيۡهِمۡ ۖ إِنَّ صَلَٰوتَكَ سَكَنٞ لَّهُمۡ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah 9:103)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang tujuan ibadah haji :

ٱلۡحَجُّ أَشۡهُرٞ مَّعۡلُومَٰتٞ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلۡحَجَّ فَلَا رَفَثَ
وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي ٱلۡحَجِّ ۗ وَمَا تَفۡعَلُواْ مِنۡ خَيۡرٍ
يَعۡلَمۡهُ ٱللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰ ۖ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ

“(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!” (QS. Al-Baqarah 2: 197).

Keimanan adalah wasilah masuk surga. Dan sombong media masuk neraka secara permanen.

عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرٍ وَلَا يَدْخُلُ النَّارَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ خَرْدَلَةٍ مِنْ إِيمَانٍ قَالَ أَبُو دَاوُد رَوَاهُ الْقَسْمَلِيُّ عَنْ الْأَعْمَشِ مِثْلَهُ

Dari Alqamah dari Abdullah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi, dan tidak akan masuk ke dalam neraka orang yang dalam hatinya terdapat keimanan sebesar biji sawi”
(HR. Abu Daud: 3568).

عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَا الْأَسْوَدِ الدُّؤَلِيَّ حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَا ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَدَّثَهُ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ ثَوْبٌ أَبْيَضُ وَهُوَ نَائِمٌ ثُمَّ أَتَيْتُهُ وَقَدْ اسْتَيْقَظَ فَقَالَ مَا مِنْ عَبْدٍ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ثُمَّ مَاتَ عَلَى ذَلِكَ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Dari Yahya bin Ya’mar dia menceritakan kepadanya bahwa Abu Aswad Ad Du`ali telah menceritakan kepadanya bahwa Abu Dzar radliallahu ‘anhu telah menceritakan kepadanya, dia berkata : “Saya pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara beliau sedang tidur sambil mengenakan baju putih, lalu aku datang menemuinya dan beliau pun terbangun, beliau bersabda : “Tidaklah seorang hamba yang mengucapkan “Laa Ilaaha Illallah” kemudian mati karena itu melainkan ia akan masuk surga.” (HR. Bukhari :5379).

Ayat-ayat dan hadits diatas dapat dipahami bahwa rukun islam merupakan khulashah amal shalih. Dan amal shalih dapat menyelamatkan pelakunya dari kerusakan. Bahkan modal untuk bertemu dengan Allah SWT (QS. Al Kahfi : 110 ).

Agar Ibadah Puasa Berkualitas

Yang perlu digaris atasi disini bahwa setiap ibadah mempunyai standart pahala yang baku, definitif dan bahkan terukur, kecuali ibadah puasa.

Shalat berjamaah, pahalanya dilipatkan 27 derajat. Zakat, hartanya akan menjadi suci, berkah dan bertambah.

Haji mabrur, tiada balasan kecuali surga, ibadah yang lain dilipat gandakan pahalanya antara 10 sampai dengan 700 kali lipat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَا ۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَا وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ

“Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi).” (QS. Al-An’am 6: Ayat 160).

Senada dengan itu Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّاْئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2:261).

Tetapi, tidak berlaku demikian dengan puasa. Allah menyebut nilai ibadah puasa akan langsung dipersembahkan kepada-Nya. Dan, Dia yang akan memberikan hadiah excellent, tidak terukur karena pahalanya langsung dipersembahkan pada Allah SWT.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Setiap amal manusia itu kebaikannya akan dilipatkan sepuluh kali lipat semisalnya sampai tujuh ratus kelipatannya. Allah Swt. berfirman, “Kecuali puasa, karena sungguh ia adalah milikku dan Aku lah yang akan membalasnya, dia meninggalkan syahwatnya dan makanannya karenaKu.” (HR. Muslim).

Nilai dan pahala puasa yang unlimited value & unidentified value ini paralel dengan pahala kesabaran sebagaimana yang disebut dalam firma Allah Subhanahu wa ta’ala:

اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas. (QS. Az-Zumar : 10)

Sabar Faktor Kemenangan

اِصبِرْ قليلا وكُن بالله مُعْتَصِما # ﻻ تعجلن فإن العجْز فى العجَل
الصَّبر كالصَّبر مرّ فى مَذاقتِه # لكن عَواقبَه أحْلى مِن العَسل

Sabarlah walaupun sebentar dan jadilah engkau yang selalu kembali kepada Allah. Janganlah tergesa-gesa, karena ketidakmampuan itu ada di dalam orang yang tergesa-gesa. Sabar itu seperti buah shibr, rasanya pahit tetapi dampaknya lebih manis daripada madu.

Mengkorelasikan/munasabah dua nash ini, Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani menjelaskan bahwa pahala puasa yang sangat besar dan tanpa batas ini, karena puasa adalah manifestasi tiga macam kesabaran. Yaitu, sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dari yang diharamkan Allah dan sabar terhadap takdir Allah yang menyakitkan dari lapar, haus dan lemahnya badan serta jiwa.

Maka terkumpul di dalamnya tiga macam kesabaran. Maka patut orang berpuasa termasuk golongan orang-orang sabar dan masuk dalam pengertian QS Az-Zumar 10.

Sayangnya dengan pahala yang tak terukur dan nilai yang tidak terhingga ini, kebanyakan orang yang melakukan ibadah puasa akan tetapi tidak memperoleh apapun kecuali rasa lapar dan haus saja.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ . 

“Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Berapa banyak seorang yang berpuasa tidak ada bagian dari puasanya melainkan lapar dan berapa banyak seorang yang bangun beribadah pada malam hari tidak ada bagiannya dari bangun malamnya kecuali begadang.” (HR. Ibnu Majah)..

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : رُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ ، وَرُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ
مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ .

“Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berapa banyak seorang yang bangun (beribadah pada malam hari) bagiannya dari bangun malamnya (hanya) begadang dan berapa banyak seorang yang berpuasa bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga.”

Maka, jagalah puasa dari hal-hal yang merusak pahalanya !

قَالَ جَابِرٌ : إذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُك وَبَصَرُك وَلِسَانُك عَنِ الْكَذِبِ وَالْمَإِثْمَ ، وَدَعْ أَذَى الْخَادِمِ ، وَلْيَكُنْ عَلَيْك وَقَارٌ وَسَكِينَةٌ يَوْمَ صِيَامِكَ ، وَلاَ تَجْعَلْ يَوْمَ فِطْرِكَ وَيَوْمَ صِيَامِكَ سَوَاءً.

“Berkata Jabir radhiyallahu ‘anhu : “Jika kamu berpuasa maka berpuasalah pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari dusta dan dosa, tinggalkan dari menyakiti tetangga dan hendaknya kamu penuh ketenangan dan wibawa pada hari puasamu, dan jangan samakan hari berbukamu sama dengan hari puasamu.” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah, no. 8973)

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ لَيْسَ الصِّيَامُ مِنْ الشَّرَابِ وَالطَّعَامِ وَحْدَهُ وَلَكِنَّهُ مِنْ الْكَذِبِ, وَالْبَاطِلِ وَاللَّغْوِ

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bukanlah berpuasa dari makan dan minum saja, akan tetapi (berpuasa juga-pen) dari dusta, kebatilan dan perbuatan sia-sia.” (Lihat Al Muhalla, 4/305).

Lima Kiat Meraih Ibadah Puasa Yang Berkualitas

Ada beberapa tips/kiat supaya puasa yang dilakukan setiap orang Islam menjadi puasa yang sesuai dengan kehendak sang pembuat aturan puasa:

Pertama, Ikhlas

Ikhlas adalah mensterilkan, memurnikan motivasi beribadah dari selain ridha Allah Swt. Inilah penentu awal kualitas puasa setiap orang Islam. Tidak hanya puasa, bahkan seluruh amal akan ditentukan pertama kali oleh standar ini.

Jika amal dilakukan dengan ikhlas karena Allah maka amalnya menuju Allah (berpeluang diterima Allah), tetapi jika dilakukan karena selain Allah, maka amal itu tidak memiliki peluang sama sekali untuk menjadi bernilai di sisi Allah SWT.

Memang tidak sederhana mewujudkan amal, dan yang paling berat lagi adalah memelihara kualitas amal.

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian sia-siakan derma kalian dengan cara mengungkit-ngungkit dan berkata-kata yang menyakitkan hati (QS. Al Baqorah (2) : 264).

Wahai orang-orang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul, dan jangnlah kalian menjadikan hasil usaha kalian sia-sia di akhirat kelak (QS. Muhammad (47) : 33).

Apakah orang-orang munafik itu mengira bahwa Allah tidak menampakkan kepada orang-orang mukmin kedengkian yang mereka rahasiakan dalam hati mereka (QS. Muhammad (47) : 29).

Kita khawatir amal shalih kita berakhir dengan sia-sia.

وَقَدِمۡنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُواْ مِنۡ عَمَلٍ فَجَعَلۡنَٰهُ هَبَآءً مَّنثُورًا

“Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan 25 : 23)..

Sebagaimana pengalaman Umar bin Khathab ketika membuka pintu gerbang Baitul Maqdis pasca pembebasannya oleh mujahid yang dipimpin Amru bin ‘Ash. Sebelum gembok dibuka dari tangan pendeta, khalifah kedua ini menatap dengan tajam pemimpin Nasrani tersebut.

Dalam batin Umar, pendeta ini telah menghabiskan umurnya hingga beruban untuk mengabdi, tapi sayang perjuangannya hanya membuat lubang kehancurannya sendiri, karena tidak didasari oleh iman. Umar membaca firman Allah SWT surat Al Ghosyiyah (88) : 3-7) berikut :

عَامِلَةٞ نَّاصِبَةٞ . تَصۡلَىٰ نَارًا حَامِيَةً تُسۡقَىٰ مِنۡ عَيۡنٍ ءَانِيَةٍ
لَّيۡسَ لَهُمۡ طَعَامٌ إِلَّا مِن ضَرِيعٍ لَّا يُسۡمِنُ وَلَا يُغۡنِي مِن جُوعٍ

“(karena) bekerja keras lagi kepayahan,” mereka memasuki api yang sangat panas (neraka). diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas.” Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon yang berduri,” (yang) tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar.” (QS. Al-Ghasyiyah 88:3- 7).

Salah satu alasan/hujjah pahala puasa itu unlimited value and unindentified value adalah karena hampir semua ibadah berpotensi terkontaminasi/terkotori sikap riya’, kecuali ibadah puasa.

Menurut Imam Al-Qurtuby, ketika amalan-amalan yang lain bisa saja terserang penyakit riya, maka puasa tidak ada yang dapat mengetahui amalan tersebut kecuali Allah, maka Allah sandarkan puasa kepada Diri-Nya sendiri. Betapa tinggi kedudukan ibadah puasa.

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah berkata, ‘Semua ibadah terlihat amalannya oleh orang lain. Sehingga berbuat ikhlas terbukti tidak mudah. Maka, sedikit sekali yang selamat dari godaan (riya). Dan ini berbeda dengan ibadah puasa. Inilah makna yang terkandung hadits Rasulullah SAW:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وفي حديث مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

“Siapa yang puasa Ramadhan karena iman dan ihtisab (mengharapkan pahala) niscaya diampuni baginya dosa-dosanya yang terdahulu.” Dalam hadits lain “Siapa yang berdiri (shalat) Ramadhan karena iman dan ihtisab (mengharapkan pahala) niscaya diampuni baginya dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari-Muslim).

Dan menjaga/memelihara keikhlasan puasa itu lebih mudah dari pada ibadah lain, karena puasa adalah amalan batin/ibadah qalbiyyah. Maka Imam Al-Ghazali menjelaskan dalam Ihya’ Ulumiddin:

“Puasa itu sendiri rahasia yang padanya tidak ada amal yang disaksikan. Seluruh amal ketaatan itu disaksikan dan dilihat oleh makhluk sedangkan puasa hanya dilihat oleh Allah Azza wa Jalla, karena puasa itu amal batin dengan semata-mata kesabaran.”

Kedua, Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa (al Imsak ‘anil mufthirat)

Agar puasa menjadi berkualitas, maka puasa itu harus sah dan benar sesuai kaifiyah dan regulasi puasa. Artinya, setiap orang yang melaksanakan puasa harus melaksanakan syarat rukun puasa serta meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa.

Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah menjelaskan hal-hal yang membatalkan puasa itu dibagi menjadi dua ;

Pertama, yang membatalkan puasa dan wajib qadha’. Yaitu :

a. Makan atau minum dengan sengaja. Jika seseorang makan dan minum dalam keadaan lupa, itu tidak membatalkan puasanya;
b. Muntah dengan sengaja;
c. Mengeluarkan sperma, baik karena mencium istrinya atau hal lain di luar bersetubuh dan mimpi. Jika bersetubuh ia terkena kafarat, jika karena mimpi maka tidak mempengaruhi puasanya;
d. Meniatkan berbuka. Karena niat merupakan rukun puasa, maka niat berbuka berarti membatalkan puasanya.

Kedua, yang membatalkan puasa dan wajib qadha’ dan membayar kafarat.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa tindakan membatalkan puasa yang mengharuskan wajib qadha serta membayar kifarat hanyalah bersenggama dan tidak ada yang lain. Kafaratnya dengan cara memerdekakan budak, jika tidak mampu maka berpuasa dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu memberikan makan kepada enam puluh orang miskin.

Ketiga, Menahan diri dari hal-hal yang merusak pahala puasa (al imsak ‘anil muhlikat)

Hal lain yang harus dilakukan agar puasa menjadi berkualitas adalah meninggalkan hal-hal yang membuat puasa sia-sia. Ini dilakukan dengan cara meninggalkan perkara-perkara yang telah diharamkan Allah SWT. Kemampuan menjauhi hal-hal membuat puasa ini menjadi sia-sia ini akan menjadi standart derajat puasa seseorang.

Secara klasifikatif, Imam Ghazali membagi orang yang berpuasa ini dalam tiga kategori, yaitu: puasa umum (puasanya orang awam), puasa khusus, dan puasa paling khusus.

Yang dimaksud puasa umum ialah sekedar menahan lapar, haus dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat (puasa pisik). Sekedar memenuhi syarat dan rukun puasa secara lahiriyah saja.

Sedangkan puasa khusus, selain menahan lapar, menahan haus, menahan syahwat, juga menahan pendengaran, mata. lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari semua maksiat dosa (puasa batin).

Mempuasakan mata dengan menghindarkan mata dari penglihatan dunia riil dari segala maksiat, juga mempuasakan mata dari dunia maya yang kalau tidak terkontrol justru jauh lebih berbahaya dan lebih mudah menimbulkan maksiat daripada dunia nyata.

إِنَّ النَّظْرَةَ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومٌ، مَنْ تَرَكَهَا من مَخَافَتِي أَبْدَلْتُهُ إِيمَانًا يَجِدُ حَلاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ رواه الحاكم، والطبراني..

Pandangan itu salah satu anak panah Iblis yang berbisa. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah Azza wa Jalla memberinya keimanan yang manisnya didapati dalam hatinya (HR. Hakim dan Thabraniy).

Mempuasakan lidah dengan memeliharanya dari berbicara tanpa arah, dusta, menggunjing, mengumpat, berkata buruk, berkata kasar, permusuhan dan mendzalimi orang lain.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ : الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ. وَفِي رِوَايَةٍ : وَلاَ يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ

“Puasa adalah perisai. Maka (orang yang melaksanakannya) janganlah berbuat kotor (rafats) dan jangan pula ribut-ribut.” Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Dan jangan berbuat bodoh.” “Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka katakanlah aku sedang shaum (ia mengulang ucapannya dua kali).” (Al-Bukhari-Muslim).

Mempuasakan telinga dari mendengarkan segala sesuatu yang haram dan makruh. Karena segala sesuatu yang haram diucapkan adalah haram pula untuk didengarkan. Bahkan, Allah SWT menyamakan orang yang mencari pendengaran haram dengan pemakan harta haram.

سَمَّٰعُونَ لِلۡكَذِبِ أَكَّٰلُونَ لِلسُّحۡتِ ۚ فَإِن جَآءُوكَ فَٱحۡكُم بَيۡنَهُمۡ
أَوۡ أَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ ۖ وَإِن تُعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ فَلَن يَضُرُّوكَ شَيۡئًا ۖ وَإِنۡ حَكَمۡتَ فَٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِٱلۡقِسۡطِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ

“Mereka sangat suka mendengar berita bohong, banyak memakan (makanan) yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (Muhammad untuk meminta putusan), maka berilah putusan di antara mereka atau berpalinglah dari mereka, dan jika engkau berpaling dari mereka, maka mereka tidak akan membahayakanmu sedikit pun. Tetapi jika engkau memutuskan (perkara mereka), maka putuskanlah dengan adil. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.” (QS. Al-Ma’idah 5 : 42).

Bahkan ketika seseorang mendengar berita dan langsung diinformasikan kepada orang lain, seperti yang dilakukan beberapa orang ketika menerima sebuah informasi dari media sosial kemudian menyebar luaskan berita yang tidak jelas validitas dan akuasinya, maka Rasulullah mengkategorikannya sebagai pembohong.

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukup seseorang dikatakan dusta, jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar.” (HR. Muslim)..

Mempuasakan tangan dengan cara tidak mendzalimi orang lain, tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya, serta tidak melakukan perbuatan lain yang dilarang syariat.

وَلَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٰلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَٰطِلِ وَتُدۡلُواْ بِهَآ إِلَى ٱلۡحُكَّامِ لِتَأۡكُلُواْ فَرِيقًا مِّنۡ أَمۡوَٰلِ ٱلنَّاسِ بِٱلۡإِثۡمِ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

“Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2:188)..

Terkait larangan ini, hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Umamah secara marfu’ disebutkan:

مَنِ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بِيَمِينِهِ، فَقَدْ أَوْجَبَ اللهُ لَهُ النَّارَ وَحَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: وَإِنْ كَانَ شَيْئًا يَسِيرًا يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : وَإِنْ قَضِيبًا مِنْ أَرَاكٍ

“Barangsiapa yang mengambil harta saudaranya dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan dia masuk neraka dan mengharamkan masuk surga. Lalu ada seorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, meskipun hanya sedikit ?” Beliau menjawab, “Meskipun hanya sebatang kayu araak (kayu untuk siwak).“

Demikian pula mempuasakan semua anggota tubuh lainnya dari hal-hal yang diharamkan Allah SWT. Pada saatnya, semua anggota tubuh akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah SWT.

ٱلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰٓ أَفْوَٰهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS. Yasin : 65).

Mempuasakan hati dari penyakit-penyakit ruhiyah seperti dengki, iri, marah, bermusuhan dengan sesama muslim.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً . الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَكْذِبُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ . التَّقْوَى هَهُنَا – وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسَبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ [رواه مسلم].

“Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling marah dan saling memutuskan hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. Taqwa itu disini (seraya menunjuk dadanya sebanyak tiga kali-). Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain; haram.”

Adapun puasa paling khusus (khushushul khushus), selain menahan hal hal sebagaimana disebut pada kategori pertama dan kedua, juga menahan hati agar tidak mendekati kehinaan, memikirkan dunia, dan semata-mata hanya memikirkan Allah SWT.

وَأمّا صَوْمُ خُصُوصِ الخُصُوص : فصَوْم القَلْب عَنِ الهِمَم الدَّنيّة والأفكارِ الدُّنيَوِيَّة وَكَفُّه عَمّا سِوى الله عَزَّ وَجَلَّ بِالْكُليّة

“Puasa sangat khusus berpuasanya hati dari keinginan-keinginan yang rendah dan pikiran-duniawi serta menahan hati dari segala tujuan selain Allah dengan totalitas.”

Tingkat atas adalah tingkat tertinggi, sehingga paling berat dan paling sulit dicapai. Puasanya hati dan pikiran, memahami hakekat dari puasa yang sangat istimewa.

Puasanya semacam ini tiada yang diharapkan dalam ibadah kecuali Zat Allah SWT. Tiada pengharapan pahala ataupun surga. Puasanya adalah wujud kepatuhannya kepada Allah SWT.

Keempat, Menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat.

Orang yang melakukan puasa, adakalanya merasa bosan dengan aktifitas rutin sehari-hari kemudian mengisi siang harinya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Dengan alasan agar lupa rasa lapar dan haus selama puasa mereka.

Seharian menghabiskan waktu dengan banyak berselancar di dunia maya, menghabiskan waktu di depan televisi, memperbanyak main game, dan sebagainya. Hal-hal seperti ini hendaknya ditinggalkan agar puasa kita benar-benar berkualitas.

مِن حُسن إسْلامِ المَرء تَرْكُه ما لا يَعْنِيه

”Sesungguhnya di antara kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi).

Kelima, memperbanyak amal shalih selama Ramadhan.

Banyak orang terkecoh dengan memperbanyak tidur saat puasa karena menilai itu sebagai ibadah. Bahwa tidur itu lebih baik dibandingkan jika melakukan hal-hal yang makruh atau haram, logis memang.

Akan tetapi, tentu lebih baik lagi jika pada saat puasa kita lebih aktif, kreatif, produktif, memperbanyak amal sholeh, mengisinya dengan aktifitas- aktifitas positif yang bernilai ibadah di sisi Allah SWT seperti memperbanyak tilawah Al-Qur’an, berdzikir kepada Allah, shalat sunnah, tafakur, mengkaji ilmu-ilmu agama, memperbanyak infaq, dan lain sebagainya.

Rasulullah dan para sahabatnya sangat mengerti keutamaan Ramadan dan bagaimana memperbaiki kualitas puasa mereka. Karenanya dalam setiap Ramadhan mereka melakukan riyadhoh/mujahadatun nafs dengan semakin memperbanyak amal sholeh.

Ibnu Abbas menuturkan bagaimana peningkatan amal sholeh Rasulullah SAW, khususnya tilawah dan infaq sebagai berikut :

كانَ النَّبي صلى الله عليه وسلم أجْوَد النَّاس بالخَير وكان أجْوَد ما يكون فِي رَمضان حِيْن يلقاه جِبريل فيُدارِسُه القرآن وكان جِبريل عليه السلام يلقاه كُل ليْلة في رَمضان حتى ينسلخ يعرض عليه النبي ﷺ القرآن فإذا لقيَه جِبْريل عليه السلام كان أجْود بالخَير مِن الرّيح المُرْسَلَة..

“Adalah Nabi orang yang paling dermawan dalam kebaikan dan sifat dermawannya semakin bertambah pada bulan Ramadhan tatkala malaikat Jibril menemui Beliau untuk mengajarkan Al-Qur’an. Jibril ‘alaihissalam biasa mendatangi beliau setiap malam bulan Romadhon hingga berakhirnya bulan tersebut. Pada setiap malam itu Nabi senantiasa memperdengarkan bacaan Alqurannya kepada Jibril. Apabila Jibril ‘alaihissalam menjumpai beliau maka beliau sangat dermawan pada kebaikan melebihi angin yang berembus.” (HR. Al-Bukhari- Muslim).

Demikianlah cara mewujudkan puasa yang berkualitas. Semoga kita termasuk orang-orang yang dimudahkan Allah Subhanahu wa ta’ala sehingga bisa berpuasa dengan kualitas seperti itu dan akhirnya mencapai derajat taqwa, mendapatkan ampunan Allah Subhanahu wa ta’ala, meraih ridha dan dimasukkan ke dalam surga- Nya.

Wallaahu a’lam bish shawab.

*) Ust. Sholih Hasyim S.Sos.I, penulis anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah

Indonesia Bercerita di SDN Sukamaju 10 Gugah Murid Selami Hikmah Ibadah

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Program Indonesia Bercerita kembali hadir menyapa anak anak negeri. Kali ini di Kota Depok dalam suasana kebersamaan yang penuh kehangatan.

Program edukasi yang digulirkan oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) kali ini hadir di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sukamaju 10, Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu, 7 Sya’ban 1445 (17/2/2024).

Kegiatan berlangsung seru yang dipenuhi tawa dan cerita yang menggugah hati dalam acara bertajuk “Rajin Shalatku Meningkatkan Prestasiku” yang disampaikan penuh atraktif oleh Kak Tardi, seorang pendongeng cilik.

Kegiatan ini dipandu oleh Kepala Sekolah, Ibu Neni Trisnawati Anggraeni, S.Pd, yang penuh semangat mempersembahkan pengalaman berharga bagi para siswa.

Lembaga pendidikan negeri yang terletak di Jl. Bdni I No.1, Sukamaju, Kec. Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat ini menjadi saksi kebersamaan dalam mengeksplorasi tema keagamaan dan prestasi.

Kehadiran para siswa dan guru-guru memberikan warna tersendiri dalam perhelatan ini. Mereka menyatukan kekuatan untuk menghadirkan momen tak terlupakan di lingkungan pendidikan mereka.

“Acara ini menjadi momen berharga bagi kami untuk meningkatkan kecintaan terhadap sholat dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari,” kata Neni Trisnawati.

Ia berharap semoga pesan kebaikan dari acara ini terus membawa berkah bagi seluruh siswa.

Dengan semangat yang berkobar, SDN Sukamaju 10 membuktikan bahwa melalui pendidikan agama, prestasi bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai. Akan selalu ada ruang untuk tumbuh dan berkembang, baik dalam bidang akademis maupun spiritual.

Amil BMH Depok, Khairul, yang hadir membersamai acara tersebut mengatakan hal ini menjadi momen berharga yang memperkaya kisah pembelajaran di SDN Sukamaju 10.

“Dengan semangat kebersamaan dan cinta akan pendidikan, kita bisa menciptakan prestasi yang menginspirasi. Mari kita terus berusaha dan berdoa agar setiap langkah kita menjadi berkah bagi diri sendiri dan orang lain,” tutup Khairul.*/Herim

Rakor Komunikasi dan Penyiaran Mantapkan Program Dakwah Nasional

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Departemen Komunikasi dan Penyiaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Dakwah Nasional dilaksanakan secara daring yang dibagi dalam 3 regional, Rabu, 11 Sya’ban 1445 (21/2/2024).

Kegiatan ini dihadiri oleh Tim Departemen Komunikasi dan Penyiaran DPP Hidayatullah, Posdai Pusat, Kadep Dakwah Dewan Pengurus Wilayah, Ketua Pos Dai Wilayah, Penanggung Jawab Program Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) Wilayah, dan Pengelola Sekolah Dai Wilayah.

Selain membahas program yang telah dicanangkan, forum Rakor juga melakukan konsolidasi gerakan dakwah nasional, koordinasi pelaksanaan program Grand MBA nasional, koordinasi pendirian dan legalisasi Pos Dai Wilayah, dan koordinasi dan pendampingan program Sekolah Dai.

Rakor ini juga sebagai tindak lanjut Rakernas Hidayatullah akhir tahun 2021 yang menetapkan tema “Konsolidasi Manhaj, Organisasi, dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik”.

“Agar gerakan dakwah ini bisa berjalan secara nasional maka perlu di-backup dengan sistem dan jaringan yang baik. Keberadaan sistem ini untuk memastikan bahwa program dakwah bisa berjalan dengan baik siapapun yang mengelola,” kata Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran DPP Hidayatullah, Drs. Shohibul Anwar, M.Pd.I, dalam keterangannya.

Dia menjelaskan, sistem ini menjadikan gerakan dakwah menjadi simpel dan aplikatif memungkinkan untuk dijalankan oleh seluruh kader dan jaringan organisasi.

“Langkah berikutnya yang sudah dilakukan adalah melakukan sosialiasi dan pelatihan-pelatihan,” terangnya.

Untuk itu, katanya menambahkan, perlu dilakukan rapat koordinasi antara Departemen Komunikasi dan Penyiaran DPP Hidayatullah dengan Departemen Dakwah DPW se-Indonesia dan elemen terkait lainnya.

Rapart koordinasi ini dilaksanakan secara daring yang dibagi dalam 3 regional yaitu Regional 1: Papua, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Barat Daya, Papua Selatan, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Berikutnya Regional 2 meliputi Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, Kalimantan
Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.

Rakor regional ketiga adalah Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, Lampung, Sumatra Selatan, Bengkulu, Bangka Belitung, Jambi, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Utara, dan Aceh. (malik/hidayatullah.or.id)

Inilah 5 Kiat Menuju Ibadah Puasa yang Excellent

0

SETIAP ibadah mempunyai standar (miqyas) pahala yang baku, definitif, dan bahkan terukur, kecuali ibadah puasa.

Shalat berjamaah, pahalanya dilipatkan dua puluh tujuh derajat. Zakat, hartanya akan menjadi berkah, mensucikan dan bertambah.

Haji mabrur, tiada balasan kecuali surga, Ibadah lain dilipatkan pahalanya antara sepuluh sampai dengan tujuh ratus kali lipat.

Akan tetapi, tidak demikian dengan puasa. Allah Subhanahu wa ta’ala menyebut nilai ibadah puasa akan langsung dipersembahkan kepada-Nya.

Dan, Allah Subhanahu wa ta’ala yang akan memberikan hadiah excellent (mumtaz), ganjaran yang tidak terukur karena pahalanya langsung dipersembahkan pada Allah Subhanahu wa ta’ala.

كلّ عمَل اْبنِ ادم يضاعَف الحسنة عشر أمثالها إلى سيعمائة ضِعف إلا الصومُ فإنه ليِ وأنا أجْزي به

“Semua amal keturunan Adam dilipatgandakan sepuluh sampai dengan tujuh ratus kali lipat kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya” (HR Muslim dari Abu Hurairah)

Nilai dan pahala puasa yang unlimited value dan unidentified value ini paralel dengan pahala kesabaran sebagaimana yang disebut dalam firman Allah SWT:

اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas” (QS Az-Zumar 10).

Mengkorelasikan dua nash tersebut, Syeikh Imam Ibnu Hajar menjelaskan: pahala puasa yang sangat besar dan tanpa batas ini, karena puasa adalah manifestasi: sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dari yang diharamkan Allah, serta sabar terhadap takdir Allah yang menyakitkan dari lapar, haus, dan lemahnya badan serta jiwa.

Maka terkumpul di dalamnya tiga macam kesabaran. Maka layak orang puasa termasuk golongan orang-orang sabar dan masuk dalam makna pada Al Qur’an surah Az-Zumar ayat 10.

Sayangnya, dengan pahala yang tak terukur ini, banyak orang yang melakukan puasa akan tetapi tidak mendapatkan manfaat apapun kecuali rasa lapar dan haus saja.

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إَّلا الْجُوْعِ وَالْعَطْشِ. (رواه النسائي)

“Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapat pahala puasa kecuali hanya lapar dan haus saja” (HR. Imam An-Nasai).

Beberapa Kiat

Ada beberapa kiat/tips, supaya puasa yang dilakukan setiap orang Islam menjadi puasa yang sesuai dengan kehendak sang pembuat aturan puasa.

Pertama, Ikhlas

Yakni, memurnikan niat hanya mengharap ridha Allah Subhanahu wa ta’ala. Inilah penentu awal kualitas puasa setiap orang Islam.

Motivasi intrinstik inilah yang bisa mengurai problem finansial. Tidak hanya puasa, bahkan seluruh amal akan ditentukan pertama kali oleh standar ini.

Jika amal dilakukan dengan ikhlas karena Allah maka amalnya menuju Allah (berpeluang diterima Allah), tetapi jika dilakukan karena selain Allah Subhanahu wa ta’ala, maka amal itu tidak memiliki peluang sama sekali untuk menjadi bernilai di Sisi-Nya.

“Man shaluhat bidayatuhu shaluhat nihayatuhu waman fasadat bidayatuhu fasadat nihayatuhu”, Salah satu alasan pahala puasa itu unlimited value adalah karena hampir semua ibadah berpotensi terkontaminasi sikap riya’ (caper), kecuali ibadah puasa.

Menurut Imam Al-Qurtuby, ketika amalan-amalan yang lain dapat terserang penyakit riya, maka puasa tidak ada yang dapat mengetahui amalan tersebut kecuali Allah, maka Allah sandarkan puasa kepada Diri-Nya.

Senada dengan itu, Imam Ibnu Al-Jauzi berkata, ‘Semua ibadah terlihat amalannya oleh orang lain. Dan sedikit sekali yang selamat dari godaan penyakit ruhani (riya) ini. Dan ini berbeda dengan ibadah puasa. Inilah makna yang terkandung hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وفي حديث مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang puasa Ramadhan karena iman dan ihtisab (mengharapkan pahala) niscaya diampuni baginya dosa-dosanya yang terdahulu.” Dalam hadits lain “Siapa yang berdiri (shalat) Ramadhan karena iman dan ihtisab (mengharapkan pahala) niscaya diampuni baginya dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari-Muslim).

Dan menjaga keikhlasan puasa itu lebih mudah dari pada ibadah lain, karena puasa adalah amalan batin (rahasia).

Maka Imam Al-Ghazali menjelaskan dalam Ihya’ Ulumiddin: “Puasa itu sendiri rahasia yang padanya tidak ada amal yang disaksikan. Seluruh amal ketaatan itu disaksikan dan dilihat oleh makhluk sedangkan puasa hanya dilihat oleh Allah Azza wa Jalla, karena puasa itu amal batin dengan semata-mata kesabaran.”

Kedua, Meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa

Agar puasa menjadi berkualitas, maka puasa itu harus sah dan benar sesuai kaifiyah dan regulasi puasa. Artinya, setiap orang yang melaksanakan puasa harus melaksanakan syarat rukun puasa serta meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa. Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah menjelaskan hal-hal yang membatalkan puasa itu dibagi menjadi dua;

Pertama, yang membatalkan puasa dan wajib qadha’. Yaitu :

  1. Makan atau minum dengan sengaja. Jika seseorang makan dan minum dalam keadaan lupa, itu tidak membatalkan puasanya;
  2. Muntah dengan sengaja;
  3. Mengeluarkan sperma, baik karena mencium istrinya atau hal lain di luar bersetubuh dan mimpi. Jika bersetubuh ia terkena kafarat, jika karena mimpi maka tidak mempengaruhi puasanya;
  4. Meniatkan berbuka. Karena niat merupakan rukun puasa, maka niat berbuka berarti membatalkan puasanya.

Kedua, yang membatalkan puasa dan wajib qadha’ dan membayar kafarat

Mayoritas ulama berpendapat bahwa tindakan membatalkan puasa yang mengharuskan wajib qadha serta membayar kifarat hanyalah bersenggama dan tidak ada yang lain. Kafaratnya dengan cara memerdekakan budak, jika tidak mampu maka berpuasa dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu memberikan makan kepada enam puluh orang miskin.

Ketiga, Meninggalkan hal-hal yang membuat puasa sia-sia

Hal lain yang harus dilakukan agar puasa menjadi berkualitas adalah meninggalkan hal-hal yang membuat puasa sia-sia. Ini dilakukan dengan cara menjauhi perkara-perkara yang telah diharamkan Allah SWT. Kemampuan meninggalkan hal-hal membuat puasa ini menjadi sia-sia ini akan menjadi tolok ukuran status puasa seseorang.

Secara klasifikatif, Imam Ghazali membagi orang yang berpuasa ini dalam tiga kategori, yaitu : puasa umum (puasanya orang awam), puasa khusus, dan puasa paling khusus.

Yang dimaksud puasa umum ialah sekedar menahan lapar, haus dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat. Sekedar memenuhi syarat dan rukun puasa secara formal (lahiriyah) saja.

Sedangkan puasa khusus, selain menahan lapar, menahan haus, menahan syahwat, juga menahan pendengaran, mata. lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari semua maksiat dosa.

Mempuasakan mata dengan menghindarkan mata dari penglihatan dunia riil dari segala maksiat, juga mempuasakan mata dari dunia maya yang kalau tidak terkontrol justru jauh lebih berbahaya dan lebih mudah menimbulkan maksiat daripada dunia nyata.

إِنَّ النَّظْرَةَ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومٌ، مَنْ تَرَكَهَا من مَخَافَتِي أَبْدَلْتُهُ إِيمَانًا يَجِدُ حَلاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ رواه الحاكم، والطبراني

“Pandangan itu salah satu anak panah Iblis yang berbisa. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah Azza wa Jalla memberinya keimanan yang manisnya didapati dalam hatinya” (HR. Hakim & Thabrani)

Mempuasakan lidah dengan memeliharanya dari berbicara tanpa arah, dusta, menggunjing, mengumpat, berkata buruk, berkata kasar, permusuhan dan mendzalimi orang lain.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ. وَفِي رِوَايَةٍ : وَلاَ يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ

“Puasa adalah perisai. Maka (orang yang melaksanakannya) janganlah berbuat kotor (rafats) dan jangan pula ribut-ribut.” Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Dan jangan berbuat bodoh.” “Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka katakanlah aku sedang shaum (ia mengulang ucapannya dua kali).” (Al-Bukhari-Muslim).

Mempuasakan telinga dari mendengarkan segala sesuatu yang haram dan makruh. Karena segala sesuatu yang haram diucapkan adalah haram pula untuk didengarkan. Bahkan, Allah Subhanahu wa ta’ala menyamakan orang yang mencari pendengaran haram dengan pemakan harta haram.

سَمّٰعُوْنَ لِلْكَذِبِ اَكّٰلُوْنَ لِلسُّحْتِۗ فَاِنْ جَاۤءُوْكَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ اَوْ اَعْرِضْ عَنْهُمْ ۚوَاِنْ تُعْرِضْ عَنْهُمْ فَلَنْ يَّضُرُّوْكَ شَيْـًٔا ۗ وَاِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

“Mereka sangat suka mendengar berita bohong, banyak memakan (makanan) yang haram” (QS. Al-Maidah (5) :42).

Bahkan ketika seseorang mendengar berita dan langsung diinformasikan kepada orang lain, seperti yang dilakukan beberapa orang ketika menerima sebuah informasi dari media sosial kemudian menyebar luaskan berita yang tidak jelas validitas dan akurasinya, maka Rasulullah mengkategorikannya sebagai pembohong.

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukup seseorang dikatakan dusta, jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar.” (HR. Muslim).

Mempuasakan tangan dengan cara tidak mendzalimi orang lain, tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya, serta tidak melakukan perbuatan lain yang dilarang syariat.

وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui”

Terkait larangan ini, dalam Hadits Riwayat Muslim Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Siapapun yang mengambil hak orang muslim dengan sumpahnya, Allah menentukan neraka baginya. Lalu, mengharamkan surga baginya”

Lalu ada lelaki yang bertanya kepada Nabi SAW: Walaupun hal tersebut merupakan hal yang sangat sederhana wahai Rasulullah? Kemudian Nabi Muhammad SAW menjawab: “Walaupun itu sebatang kayu syiwa dari pohon arak”.

Demikian pula mempuasakan semua anggota tubuh lainnya dari hal-hal yang diharamkan Allah SWT. Pada saatnya, semua anggota tubuh akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah SWT.

ٱلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰٓ أَفْوَٰهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS Yasin: 65).

Mempuasakan hati dari penyakit-penyakit ruhiyah seperti dengki, iri, marah, bermusuhan dengan sesama muslim.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً . الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَكْذِبُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ . التَّقْوَى هَهُنَا – وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسَبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ [رواه مسلم]

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling marah dan saling memutuskan hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. Taqwa itu disini (seraya menunjuk dadanya sebanyak tiga kali-). Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain; haram darahnya, hartanya dan kehormatannya” (HR. Muslim) .

Adapun puasa paling khusus, selain menahan hal hal sebagaimana disebut pada kategori pertama dan kedua, juga menahan hati agar tidak mendekati kehinaan, memikirkan dunia, dan semata-mata hanya memikirkan Allah SWT.

وأمَّا صومُ خُصوصِ الخصُوص: فصومُ القَلب عَن الهِمَم الدنيِّة والأفْكار الدنيوِيَّة وكفُّه عمَّا سوى الله عز وجل بالكليَّة

“Puasa sangat khusus berpuasanya hati dari keinginan-keinginan yang rendah dan pikiran-duniawi serta menahan hati dari segala tujuan selain Allah dengan totalitas. Tingkat atas adalah tingkat tertinggi, sehingga paling berat dan paling sulit dicapai. Puasanya hati dan pikiran, memahami hakekat dari puasa yang sangat istimewa”

Puasanya semacam ini tiada yang diharapkan dalam ibadah kecuali Zat Allah SWT. Tiada pengharapan pahala ataupun Surga. Puasanya adalah wujud kepatuhannya kepada Allah SWT.

Keempat, Meninggalkan hal-hal yang sia-sia

Orang yang melakukan puasa, adakalanya merasa suntuk dan bosan dengan aktifitas sehari-hari kemudian mengisi siang harinya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Tak jarang, dengan alasan agar lupa rasa lapar dan haus selama puasa mereka. Seharian menghabiskan waktu dengan banyak berselancar di dunia maya, menghabiskan waktu di depan televisi, memperbanyak main game, dan sebagainya.

Hal-hal seperti ini hendaknya ditinggalkan agar puasa kita benar-benar berkualitas.

من حُسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

”Sesungguhnya di antara kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat.” (HR Tirmidzi)

Kelima, Memperbanyak amal shalih selama Ramadhan

Banyak orang terkecoh dengan memperbanyak tidur saat puasa karena menilai itu sebagai ibadah. Bahwa tidur itu lebih baik dibandingkan jika melakukan hal-hal yang makruh atau haram, memang ya.

Akan tetapi, tentu lebih baik lagi jika pada saat puasa kita memperbanyak amal shaleh, mengisinya dengan aktifitas- aktifitas positif yang bernilai ibadah di sisi Allah SWT seperti memperbanyak tilawah Al-Qur’an, berdzikir kepada Allah, shalat sunnah, tafakur, mengkaji ilmu-ilmu agama, memperbanyak infaq, dan lain sebagainya.

Rasulullah dan para sahabatnya sangat mengerti keutamaan Ramadan dan bagaimana memperbaiki kualitas puasa mereka. Karenanya dalam setiap Ramadhan mereka melakukan riyadhoh dengan semakin memperbanyak amal shaleh. Ibnu Abbas menuturkan bagaimana peningkatan amal soleh Rasulullah SAW, khususnya tilawah dan infaq sebagai berikut:

كان النبي صلى الله عليه وسلم أجود الناس بالخير وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل فيدارسه القرآن وكان جبريل عليه السلام يلقاه كل ليلة في رمضان حتى ينسلخ يعرض عليه النبي ﷺ القرآن فإذا لقيه جبريل عليه السلام كان أجود بالخير من الريح المرسلة

“Adalah Nabi orang yang paling dermawan dalam kebaikan dan sifat dermawannya semakin bertambah pada bulan Ramadhan tatkala malaikat Jibril menemui Beliau untuk mengajarkan Al-Qur’an. Jibril ‘alaihissalam biasa mendatangi beliau setiap malam bulan Romadhon hingga berakhirnya bulan tersebut. Pada setiap malam itu Nabi senantiasa memperdengarkan bacaan Alqurannya kepada Jibril. Apabila Jibril ‘alaihissalam menjumpai beliau maka beliau sangat dermawan pada kebaikan melebihi angin yang berembus.” (HR. Al-Bukhari- Muslim).

Demikianlah cara mewujudkan puasa yang berkualitas. Semoga kita termasuk orang-orang yang dibimbing dan dimudahkan Allah SWT sehingga bisa berpuasa dengan kualitas seperti itu dan akhirnya mencapai derajat taqwa.

Semoga kita mendapatkan ampunan Allah Subhanahu wa ta’ala, meraih ridho-Nya dan dimasukkan ke dalam surga dan dijauhkan dari siksa- Nya. Amiin. Wallaahu a’lam bish shawab. 

*) Ust. Sholih Hasyim S.Sos.I, penulis Anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah

Dikdasmen – HI Gelar Training Kepemimpinan Kepala Sekolah #Batch 3

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah bekerjasama dengan Hidayatullah Institute (HI) kembali menggelar training kepemimpinan dalam rangka peningkatan kompetensi Kepemimpinan Kepala Sekolah/Madrasah di lingkungan sekolah Hidayatullah.

Kegiatan ini digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak I/14, Otista Polonia, Jakarta, yang dibuka pada Selasa, 10 Sya’ban 1445 (20/2/2024).

Pelatihan yang mengangkat tajuk “Kemimpinan Manhaji: Mencetak Kepala Sekolah yang Profetik dan Profesional” digelar selama 5 hari.

Direktur Hidayatullah Institute Ust. Dr (cand.) Muzakkir Usman Asyari, SS., M.Ed menyampaikan dengan begitu banyaknya aktivitas Hidayatullah di hampir semua bidang meliputi dakwah, pendidikan, sosial, dan ekonomi, maka diperlukan peningkatan kemampuan bagi para pemangku amanah di segala lini.

Di bidang pendidikan, Hidayatullah memiliki lembaga profesional yang dikenal dengan istilah “kampus” atau pesantren berbadan hukum yayasan. Di dalamnya diselenggarakan program pendidikan mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi.

“Karena fungsi strategis lembaga pendidikan dalam melakukan fungsi tarbiyah kepada umat, sehingga diperlukan pengelolaan sekolah yang profetik dengan tata kelola manajemen yang profesional,” kata Muzakkir.

Peran strategis lembaga pendidikan salah satunya adalah ia mampu melakukan multiplayer effect perubahan dalam berkontribusi mencapai visi lembaga, yaitu membangun peradaban Islam.

Sebagai conveyer (pembawa) dan performer (peraga) peradaban Islam, jelas Muzakkir, lembaga pendidikan harus mampu memeragakan lembaga pendidikan yang Islamiah, ilmiah, dan alamiah. Disinilah, kata dia, diperlukan hadirnya pemimpin pemimpin lembaga pendidikan yang harus mampu mengoptimalkan dan mengaktualisasikan fungsi dan nilai tarbiyah sesuai dengan cita-cita dan harapan para pendiri dan perintis Hidayatullah.

“Kemampuan memahami fungsi dan model kepemimpinan Islam, merupakan modal utama bagi para pemimpin lembaga pendidikan untuk memiliki kemampuan berpikir strategis guna melahirkan inspirasi dan gagasan-gagasan besar,” terangnya.

Kepemimpinan Manhaji

Lebih jauh Muzakkir menjelaskan konsep kepemimpinan Islam yang coba dihadirkan oleh Hidayatullah menjadi wawasan penting bagi para kepala lembaga pendidikan untuk menjalankan amanah yang mereka emban di lembaga strategis guna mentransformasi nilai nilai berbasis manhaj nubuwwah.

“Gagasan besar seorang pemimpin lembaga pendidikan perlu diperkaya dengan khazanah tentang kepemimpinan profetik yang teraktualisasi dalam nilai budaya lembaga pendidikan yang diperagakan oleh seluruh stakeholders yang ada di lembaga pendidikan,” jelasnya.

Dia menerangkan, kemampuan membangun budaya organisasi berbasis profetik ini diharapkan dapat mendorong para pemimpin pendidikan untuk meningkatkan mutu dan produktivitas pendidikan dan pengkaderan.

Pelatihan kepemimpinan yang dirancang untuk para kepala pendidikan ini, menurutnya, juga akan memberi perhatian terhadap profesionalisme para pemimpin dalam mengelola lembaga pendidikan.

Profesionalisme memimpin lembaga pendidikan ditunjukkan dengan bagaimana para pemimpin memahami visi pendidikan, merencanakan, dan mendesain pendidikan yang berbasis pengkaderan.

“Serta mengelola transformasi ilmu pengetahuan, sikap, dan keterampilan sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh para siswa untuk mampu berdaya saing menjadi kader kader ummat yang memberi manfaat di masa depan,” imbuhnya.

Disamping itu, kemajuan teknologi belakangan ini, menjadi tantangan sekaligus peluang bagi para pengelola pendidikan baik dalam bentuk fullday atau boarding school untuk mencari strategi tepat dalam mengintegrasikan kemudahan kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi tersebut dengan sistem pendidikan di sekolah.

“Dan tentu saja, sebagai pimpinan di sekolah, kepala sekolah harus mampu melakukan penjaminan mutu terhadap program – program yang dilaksanakan di sekolah,” tandasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Perkuat Pondasi Gerakan, Perkaderan DPP Hidayatullah Siapkan Agenda Rakornas

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di balik kemajuan sebuah organisasi, terdapat sebuah pondasi kuat yang dibangun dengan teliti. Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah memahami urgensi ini dengan baik, dan tengah bersiap-siap untuk menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengkaderan Hidayatullah.

Rapat persiapan yang dipimpin oleh Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah Ust. Muhammad Shaleh Utsman S.S, M.I., didampingi Sekretaris, Imam Nawawi, ini merupakan langkah awal yang penting untuk menjamin kelancaran acara tersebut.

Rencananya, kegiatan yang akan digelar pada pada tanggal 1-3 Maret 2024 ini digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah.

“Persiapan ini tak hanya sekadar rutinitas, tetapi merupakan fondasi yang penting untuk menjaga agar program-program utama Hidayatullah dapat berjalan dengan baik,” kata Shaleh yang ditemui media ini di ruang kerjanya, Selasa, 10 Sya’ban 1445 (20/2/2024).

Dia mengatakan, Rakornas Pengkaderan menjadi momen strategis di mana arah dan langkah-langkah kedepan akan ditetapkan, serta potensi-potensi baru dalam pengembangan kader akan dijajaki.

“Dalam konteks ini, pengkaderan menjadi inti dari pembangunan organisasi. Tanpa kader yang kuat dan berkomitmen, sebuah organisasi akan kesulitan untuk berkembang dan mencapai tujuannya,” imbuhnya.

Maka dari itu, lanjutnya, pelaksanaan Rakornas Pengkaderan Hidayatullah 1445 H bukanlah sekadar agenda biasa, tetapi merupakan investasi jangka panjang bagi kemajuan Hidayatullah.

“Seperti pepatah mengatakan, ‘organizations don’t grow. People do’, kita tak boleh melupakan bahwa pondasi organisasi yang tangguh dibangun dari keseriusan dalam pembinaan dan pengembangan kader-kader yang berkualitas,” terangnya.

Dengan semangat kebersamaan dan komitmen yang kuat, Departemen Pengkaderan DPP Hidayatullah siap membawa organisasi ini menuju puncak kesuksesan, melalui pembinaan kader-kader yang unggul dan berintegritas.

Ketua Pengkaderan DPW Hidayatullah DKI, Jawa Barat, dan Kampus Utama Depok akan menjadi skuad suksesnya acara tersebut. (ybh/hidayatullah.or.id)

Patologi Organisasi: Mendiagnosa Penyakit Organisasi

0

TANPA kita sadari, dalam sebuah organisasi yang nampak sehat baik dari kinerga manajemen, program, keuangan dan lain sebagainya, ada kalanya juga menderita sebuah “penyakit”. Bisa jadi penyakit itu sifatnya ringan, hingga pada level yang akut dan parah.

Sayangnya, elemen organisasi, dari pucuk pimpinan hingga level bawah, acapkali tidak aware terhadap masalah ini. Sehingga, tahu-tahu organisasi mengalami decline, bahkan tidak jarang yang akhirnya mati.

Patologi organisasi merupakan analogi yang merujuk pada kondisi atau gangguan serius dalam struktur dan fungsi suatu organisasi, mirip dengan cara patologi mengacu pada studi penyakit dalam tubuh manusia.

Seperti halnya dalam patologi medis, patologi organisasi melibatkan identifikasi, analisis, dan pemahaman terhadap masalah atau disfungsi yang mungkin terjadi di berbagai tingkatan organisasi.

Seperti penyakit yang dapat mempengaruhi sistem tubuh secara keseluruhan, patologi organisasi mencakup aspek-aspek seperti kepemimpinan yang tidak efektif, komunikasi yang buruk, ketidakcocokan budaya, atau kebijakan yang tidak sesuai.

Dalam konteks ini, “diagnosis” patologi organisasi melibatkan pemahaman mendalam terhadap penyebab masalah, serta upaya untuk mengembangkan solusi yang efektif.

Mirip dengan penanganan penyakit fisik, penyembuhan patologi organisasi memerlukan tindakan yang terkoordinasi dan seringkali melibatkan perubahan dalam kebijakan, struktur organisasi, atau budaya perusahaan.

Sebagaimana upaya penyembuhan pada manusia, mengatasi patologi organisasi memerlukan kolaborasi, komitmen, dan adaptabilitas untuk mencapai pemulihan dan meningkatkan kesehatan jangka panjang organisasi tersebut.

Apa Penyebab Patologi Organisasi?

Penyebab patologi organisasi dapat bervariasi, dan seringkali merupakan hasil dari kombinasi faktor internal dan eksternal. Beberapa penyebab umum melibatkan:

Kepemimpinan yang Tidak Efektif: Kepemimpinan yang lemah atau tidak mampu mengelola organisasi secara efektif dapat menjadi pemicu utama patologi organisasi. Secara struktur pemimpin dalam organisasi masih ada dan eksis, akan tetapi tidak dapat lagi memberikan energi sebagai quwwah dan qudwah dalam organisasi, akhirnya terjadi delegitimasi kepemimpinan.

Komunikasi yang Buruk: Ketidakjelasan dalam komunikasi, kurangnya transparansi, atau hambatan komunikasi dapat menciptakan konflik dan disfungsi di dalam organisasi. Komunikasi yang cenderung satu arah, tanpa memperhatikan suara dari bawah dan akomodatif pada level rendah, seringkali memicu disharmonis bahkan distrust terhadap organisasi.

Budaya Organisasi yang Tidak Sehat: Budaya organisasi yang tidak mendukung kolaborasi, inovasi, atau keseimbangan kehidupan kerja, tidak hanya dapat menyebabkan masalah organisasional, akan tetapi merambah ke individual struktur organisasi dan anggota. Sehingga menyebabkan menurunkan daya juang dan motivasi, yang ujungnya mengarah rendahnya loyalitas dan produktifitas.

Ketidakcocokan Antara Struktur dan Tujuan: Jika struktur organisasi tidak sejalan dengan tujuan atau visi organisasi, hal ini dapat menghasilkan ketidakefisienan dan konflik internal. Sehingga prinsip the right man, the right place and the right time, merupakan kata kunci yang perlu diterapkan. Penempatan struktur berdasarkan meritokrasi yang jauh dari subyektifitas, like or dislike, secara obyektif akan mendekatkan struktur dengan visi, misi dan tujuan organisasi.

Ketidakmampuan Beradaptasi: Organisasi yang tidak dapat beradaptasi dengan perubahan pasar (internal dan eksternal), teknologi, atau lingkungan bisnis dapat mengalami patologi karena kekakuan. Ketidakmampuan beradaptasi ini, juga menyebabkan organisasi tidak mampu melakukan evolusi, dimana siapapun yang tidak berubah, maka dia akan punah.

Kurangnya Pengembangan Sumber Daya Insasni (SDI): Jika organisasi gagal memberikan pelatihan atau pengembangan SDI, hal ini dapat menyebabkan ketidakpuasan, kurangnya motivasi, dan penurunan kinerja. Disisi lain akan melemahkan daya saing yang menyebabkan demotivasi untuk melakukan perubahan organisasi menuju yang lebih baik. Apalagi jika terdapat “pembatasan” dalam pengembangan organiasi

Kebijakan yang Tidak Tepat: Kebijakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan atau tidak diterapkan dengan baik dapat merugikan struktur dan produktivitas organisasi. Selain itu juga dapat terkait dengan gaya kepemimpinan, manajemen, pemanfaatan teknologi, keuangan dan lain sebagainya, yang tidak diatur dalam sebuah kesepakatan atau prosedur yang dipahami oleh semua pihak.

Perubahan Eksternal: Faktor eksternal seperti krisis ekonomi, perubahan regulasi, atau persaingan pasar yang ketat dapat memberikan tekanan tambahan pada organisasi. Kemampuan membaca dinamika eksternal dan kemudian ditemukan formulasi untuk riding the wave, merupakan sebuah langkah cerdas menghadapi cepat dan ketidakpastiannya perubahan eksternal.

Penting untuk menyadari bahwa penyebab patologi organisasi tidak tunggal, seringkali kompleks dan saling terkait satu dengan lainnya. Solusi yang efektif untuk mengatasi patologi organisasi seringkali melibatkan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan.

Siapa yang Bisa Mendiagnosa Patologi Sebuah Organisasi?

Diagnosa patologi organisasi umumnya dilakukan oleh para ahli manajemen, konsultan organisasi, atau tim internal yang memiliki pemahaman mendalam tentang struktur, proses, dan dinamika organisasi. Beberapa pihak yang dapat mendiagnosa patologi organisasi melibatkan:

Konsultan Manajemen Organisasi: Profesional konsultan yang memiliki referensi akademik sekaligus pengalaman dan keahlian khusus yang panjang dan kompleks dalam menganalisis dan memecahkan masalah organisasi. Mereka dapat membantu organisasi dari mengidentifikasi masalah, memberikan rekomendasi, hingga pada tatarasn mendukung implementasi perubahan.

Manajemen Internal: Tim manajemen internal yang memiliki wawasan yang baik tentang operasi sehari-hari organisasi. Mereka dapat melakukan evaluasi internal, mengidentifikasi kelemahan, dan merancang strategi perbaikan. Biasanya manajemen internal juga melakukan benchmarking dari organisasi sejenis yang menghadapi penyakit yang serupa.

Ahli Sumber Daya Manusia (SDM): Profesional SDM dapat membantu dalam menganalisis aspek-aspek budaya organisasi, kebijakan SDM, penempatan SDM dalam sebuah struktur/amanah tertentu serta dinamika interpersonal yang dapat mempengaruhi kesehatan organisasi. Mereka akan melakukan pendekatan berdasarkan aspek psikologis dan humanis lainnya, sehingga masing-masing SDM dapat melakukan self healing, terhadap dirinya masing-masing.

Pemimpin dan Eksekutif Senior: Pemimpin organisasi dan eksekutif senior memiliki tanggung jawab besar terhadap kesehatan organisasi. Mereka dapat memimpin proses diagnosa dan berkolaborasi dengan tim untuk merumuskan solusi. Pemimpin dan eksekutif mesti melakukan muhasabah atas pelaksanaan kepemimpinannya selama ini, dan selanjutnya meninggalkan hal-hal yang kontraproduktif dan meningkatan aktifitas yang dapat memperkuat dan mengembangkan Organisasi.

Analisis Kepuasan Karyawan: Survei dan analisis kepuasan karyawan dapat memberikan wawasan penting tentang tingkat kepuasan, motivasi, dan persepsi karyawan terhadap kondisi organisasi. Survei ini bisa dilakukan secara internal, ataupun dengan menggunakan jasa dari konsultan psikologi/SDM.

Dalam melakukan diagnosa patologi organisasi, seringkali diperlukan pendekatan multidimensional yang melibatkan analisis data, observasi, wawancara, dan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Proses ini memungkinkan penyelidikan yang holistik untuk memahami akar masalah dan merancang solusi yang tepat.

Bagaimana Mengobati Patologi Organisasi

Setelah melakukan diagnosa di atas, dan kemudian diketemukan penyakitnya, atau setidaknya gejala-gejala yang mengarah sakitnya sebuah organisasi, maka mengobati patologi organisasi melibatkan serangkaian langkah perbaikan yang holistik.

Berikut adalah beberapa solusi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kesehatan organisasi:

Evaluasi dan Analisis Mendalam: Lakukan evaluasi menyeluruh terhadap struktur, proses, dan budaya organisasi untuk mengidentifikasi akar masalah. Libatkan pemangku kepentingan kunci dalam proses ini.

Perbaikan Kepemimpinan: Fokus pada pengembangan kepemimpinan yang efektif. Pelatihan dan pembinaan kepemimpinan dapat membantu pemimpin dalam mengelola tim, mengkomunikasikan visi, dan memotivasi karyawan.

Perbaikan Komunikasi: Tingkatkan transparansi dan efektivitas komunikasi di seluruh organisasi. Pastikan bahwa informasi mengalir dengan baik dari tingkat puncak ke tingkat operasional.

Pengembangan Budaya Organisasi: Bangun budaya kerja yang mendukung kolaborasi, inovasi, dan keseimbangan kehidupan kerja. Pastikan bahwa nilai-nilai organisasi tercermin dalam tindakan sehari-hari.

Pengembangan Karyawan: Berikan pelatihan dan pengembangan kepada karyawan. Ini tidak hanya meningkatkan keterampilan mereka, tetapi juga dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan.

Revisi Kebijakan dan Prosedur: Pastikan kebijakan dan prosedur organisasi mendukung tujuan strategis dan memberikan panduan yang jelas bagi karyawan.

Fasilitasi Partisipasi Karyawan: Libatkan karyawan dalam pengambilan keputusan dan proses perbaikan. Fasilitasi partisipasi dapat meningkatkan rasa kepemilikan dan keterlibatan.

Fleksibilitas dan Adaptabilitas: Kembangkan kemampuan organisasi untuk beradaptasi dengan perubahan eksternal. Fleksibilitas akan menjadi kunci untuk tetap relevan di pasar yang terus berubah.

Pemanfaatan Teknologi: Pemilihan, pemanfaatan dan penggunaan teknologi cerata tepat dan benar, akan membantu mempercepat pemulihan Organisasi dari sakit. Sebab banyak faktor yang kemudian dapat diatasi dengan memanfaatkan teknologi yang tepat guna.

Pemantauan dan Evaluasi Berkelanjutan: Terapkan sistem pemantauan dan evaluasi untuk mengukur kemajuan dan mengidentifikasi area yang memerlukan perhatian lebih lanjut. Hal ini memungkinkan organisasi untuk tetap responsif terhadap perubahan.

Komitmen Pemimpin: Pemimpin organisasi harus komitmen untuk perubahan dan kesehatan organisasi. Mereka perlu menjadi teladan dalam menerapkan nilai-nilai yang diinginkan dan mengampanyekan perbaikan.

Dengan demikian maka, mengobati patologi organisasi memerlukan kesabaran, komitmen, dan kolaborasi. Implementasi solusi ini harus diarahkan untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan dan meningkatkan kesehatan jangka panjang organisasi.

Kesimpulan

Dalam menghadapi patologi organisasi, solusinya melibatkan pendekatan holistik yang mencakup evaluasi mendalam, perbaikan kepemimpinan, peningkatan komunikasi, pengembangan budaya organisasi yang sehat, dan keterlibatan karyawan. Dengan fokus pada fleksibilitas, adaptabilitas, dan komitmen pemimpin, organisasi dapat mencapai perubahan positif.

Proses perbaikan yang berkelanjutan, didukung oleh pemantauan dan evaluasi, akan membantu meningkatkan kesehatan organisasi secara keseluruhan. Keseluruhan, memahami dan mengatasi patologi organisasi memerlukan kerjasama, keterlibatan, dan dedikasi dari seluruh pemangku kepentingan. Wallahu a’lam.

*) Asih Subagyo, Peneliti Senior Hidayatullah Institute

Inilah Dua Keutamaan Menjalin Silaturrahim

0

BERTEMU merupakan satu momen penting yang amat dinantikan, baik itu dengan anak, istri, saudara maupun kerabat. Terlebih lagi jika pertemuan dengan orangtua tercinta.

Perjumpaan yang hangat atau silaturahim merupakan istilah dalam budaya Indonesia yang berarti menjalin hubungan sosial antarindividu, keluarga, dan komunitas.

Islam sendiri begitu menekankan para pemeluknya untuk menjalin persaudaraan melalui silaturrahim.

Selain memiliki nilai pahala yang besar, silaturahim juga setidaknya memiliki dua keutamaan penting.

Pertama, kelapangan rezeki dan umur panjang

Silaturahim bukan sekadar tradisi atau kebiasaan, tetapi merupakan ajaran yang mendalam dalam Islam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menjelaskan bahwa dengan menjaga silaturahim, seseorang akan mendapatkan kelapangan rezeki dan umur yang panjang.

Hal Ini bukanlah janji kosong, melainkan anugerah yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala kepada hamba-Nya yang taat. Keberkahan dalam rezeki dan umur yang panjang menjadi bagian dari balasan bagi orang yang terus menjaga hubungan baik dengan sesama.

Dengan silaturahim, pelakunya dijanjikan kelapangan rezeki serta dipanjangkan umurnya. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dilapangkan umurnya, maka sambunglah talil silaturahmi” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, indikator keimanan dan kebahagiaan

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyatakan bahwa silaturrahim merupakan ciri atau indikator keimanan seseorang kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan hari akhir.

ومَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ واليَومِ الآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan hari akhir, maka sambunglah silaturahim” (HR. Bukhari)

Penegasan hadis ini menunjukkan bahwa menjaga hubungan baik dengan sesama bukanlah sekadar tindakan sosial biasa, tetapi juga merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Hal ini juga menjadi sebuah indikator bahwa hati yang penuh iman akan selalu terbuka untuk menjaga dan mempererat tali silaturahim, sehingga menciptakan kebahagiaan dan kedamaian dalam hidup.

Memahami Hakikat Rezeki

Rezeki bukanlah semata-mata tentang harta yang melimpah, tetapi juga mencakup segala aspek kehidupan yang diberkahi oleh Allah. Hal ini termasuk dalam menjaga kesehatan jasmani dan rohani, memiliki hubungan yang baik dengan sesama, serta keberkahan dalam segala hal yang dilakukan.

Pada titik ini, dapat dikatakan bahwa rezeki yang sejati adalah ketika seseorang dapat menjalani hidup dengan penuh ketenangan dan kebahagiaan, meskipun dalam kesederhanaan.

Disnilah kita perlu masuk ke dalam ruang perenungan bahwa mengeratkan tali silaturahim bukan hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga merupakan bagian dari membangun kesejahteraan bersama dalam masyarakat.

Dengan saling menghormati, mendukung, dan menyayangi satu sama lain, kita dapat menciptakan lingkungan yang harmonis dan penuh kasih. Inilah yang menjadi pondasi bagi terwujudnya kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Dari dua dimensi penting dari silaturahim yang dipaparkan di atas, kita dapat menarik hikmah kehidupan, bahwa untuk dapat mencapai surga-Nya, salah satunya dapat ditempuh dengan menyambungkan tali silaturahim.

Prof. Buya Hamka sendiri menefinisikan kata rezeki sebagai pemperian atau karunia yang diberikan Tuhan kepada mahluk-Nya untuk dimanfaatkan dalam kehidupan.

Seperti Al Qur’an menukil, “Makanlah dari karunia Allah yang halal dan baik”. ‘Karunia’ di sini diartikan sebagai rezeki atau pemberian dari Allah kepada mahluk-Nya tanpa terkecuali.

Rezeki dan umur yang panjang sejatinya digunakan untuk mencapai ketakwaan dengan menjalankan semua perintahnya dan menjauhi larangan-Nya melalui cara yang diajarkan oleh syariat Islam.

Rezeki tidak melulu tentang harta, namun bisa dalam bentuk lain, misalnya dalam bentuk jasmani yang sehat, hubungan baik antar sesama, tempat tinggal yang nyaman, kesehatan dan keturunan yang shaleh/ shalehah.

Dengan begitu, akan memungkinkan seseorang melaksanakan ibadah dengan baik dan maksimal.

Sebaliknya, memiliki kekayaan harta yang melimpah dan jabatan yang tinggi namun tidak ada ketenangan jiwa. Di waktu yang sama terputus hubungan kekeluargaan dan terus merasa terancam. Maka, jika seperti ini, sesungguhnya tidak ada rezeki yang baik yang diperolehnya.

Mengeratkan tali silaurahim menjadi hal mendaar yang harus dilakukan agar kebahagian di dunia dapat diperoleh, apalagi nanti kebahagian di akhirat.

Akhinya, dalam menjalani kehidupan, mari kita selalu mengingat pentingnya menjaga silaturahim. Karena dengan setiap langkah yang kita ambil untuk mempererat hubungan dengan sesama, kita juga sedang mendekatkan diri kepada ridha Allah Subhanahu wa ta’ala.

Semoga kita semua selalu diberkahi dalam setiap langkah yang kita ambil menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Aamiin.

*) Adam Sukiman At Tiniji, penulis adalah pemetik buah hikmah kehidupan. Ketua PW Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta

Simak Tausiah Maghrib di Forum Sidang Majelis Ilmuan Nusantara

PERLIS (Hidayatullah.or.id) — Departemen Mufti Negeri Perlis bersama Majelis Agama Islam dan Adat Melayu Perlis (MAIPs) dan Perguruan Tinggi Universitas Islam (KUIPs) Perlis menggelar kegiatan Majelis Ilmuan Nusantara (MIN) 2024 yang mengangkat tajuk “Manhaj Ahlus Sunnah Asas Penyatuan Ummah” dalam rangka memperkuat kerjasama dan kemaslahatan dakwah di Asia Tenggara sebagai sarana gerakan dakwah.

Kegiatan ini dirangkai dengan Tausiah Maghrib yang diisi Nashirul Haq bersama dengan 10 Ilmuan Nusantara dari sejumlah negara. Berikut rekamannya yang dimuat di channel Youtube PROmediaTAJDID:

Forum Sidang Majelis Ilmuan Nusantara, Nashirul Haq Tekankan Pentingnya Persatuan

PERLIS (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, Lc, MA, menghadiri forum Persidangan Majelis Ilmuan Nusatara (MIN) 2024 yang berlangsung selama dua hari di Perlis, Malaysia, Jum’at-Sabtu, 6-7 Sya’ban 1445 (16-17/2/2024).

Kegiatan Majelis Ilmuan Nusantara yang diselenggarakan oleh Departemen Mufti Negeri Perlis bersama Majelis Agama Islam dan Adat Melayu Perlis (MAIPs) dan Perguruan Tinggi Universitas Islam (KUIPs) Perlis ini mengangkat tajuk “Manhaj Ahlus Sunnah Asas Penyatuan Ummah” dalam rangka memperkuat kerjasama dan kemaslahatan dakwah di Asia Tenggara sebagai sarana gerakan dakwah.

Kegiatan ini dirangkai dengan Tausiah Maghrib yang diisi Nashirul Haq bersama dengan 10 Ilmuan Nusantara dari sejumlah negara.

Pada kesempatan singkat tersebut, Nashirul menekankan pentingnya persatuan umat dalam bingkai ahlus sunnah wal jamaah.

Dengan menukil Al Qur’an surah Ali ‘Imran ayat 103, beliau menekankan ada dua perkara asas yang utama dalam Islam yang Allah Ta’ala perintahkan, yaitu, Pertama, berpegang teguh dengan tali agama Allah yakni Al Quran dan Sunnah.

“Istiqamah dengan kebenaran (al-haqq),” tegasnya.

Kemudian, perkara asas Kedua, adalah perintah untuk kita agar bersatu dan berhimpun dalam al Haqq.

“Dan, Allah melarang kita untuk bercerai berai,” terangnya, seraya menukil perkataan Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengenai ayat ini, bahwa Allah Ta’ala memerintahkan kaum muslimin untuk beesatu dan melarang mereka bercerai berai.

“Itulah sebabnya, dua perkara ini menjadi prinsip utama dalam Islam dan inilah yang dianut oleh ahlus sunnah wal jamaah yang berpandukan pada manhaj Rasulullah,” tegasnya lagi.

Dihadiri Tokoh Antarbangsa

Selain Nashirul Haq, persidangan MIN 2024 ini dihadiri langsung oleh tuan rumah yang juga Mufti Perlis, Prof. Datuk Dr. Mohd Asri Zainul Abidin (Dr. MAZA), Ketua Pegawai Eksekutif (CEO) MAIPs, Mohd Nazim Mohd Noor, dan Menteri Besar Mohd Shukri Ramli.

Kegiatan ini dihadiri oleh 28 peserta dari berbagai perwakilan ulama yang terdiri dari ilmuan antarbangsa, diantaranya dari Indonesia ada Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. Syamsul Anwar, MA, Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) KH. Dr. Jeje Zaenudin, Ketua DPP Wahdah Islamiyah Ust. Dr. H. Zaitun Rasmin.

Selain itu, turut hadir cendekiawan muda nusantara Ust. Dr. Fahmi Salim dan Rektor Universitas Muhammadiyah Riau, Prof. Dr. H. Saidul Amin.

Berikutnya ada tokoh dari Kamboja yaitu Dr. Hosen Mohamad Farid, dari Thailand ada figur Prof. Madya Dr. Abdur Rahman Japakiya dan Syeikh Wan Syukri Wan Ismail al-Fatono, dan dari Vietnam hadir dai Dr. Ma Thanh Thanh Hoang.

Pembahasan Pokok

Forum Persidangan Majelis Ilmuan Nusatara kali ini setidaknya menyuguhkan 3 poin utama yang menjadi pokok pembahasan yaitu seruan untuk saling menguatkan dalam kebersamaan utamanya dalam dunia dakwah, pengarusutanmaan isu-isu keummatan, dan upaya menemukan model sebagai solusi serta strategi dalam merespon persoalan tersebut.

Dalam sambutannya, Mufti Perlis, Dr. MAZA, menyatakan harapannya bahwa persidangan ini akan membawa berkah dan menjadi sarana untuk mengembalikan kehormatan umat Islam.

Demikian pula, pertemuan ini diharapkan pula dapat menjadi awal dari langkah-langkah konkret dalam meraih keberkahan dan menyatukan umat Islam di seluruh Nusantara.

Acara yang didukung sepenuhnya oleh pemerintah Kerajaan Perlis, Malaysia, telah diresmikan oleh Raja Muda Perlis, Tuanku Syed Faizuddin Putra Jamalullai didampingi Mufti Perlis, Dr. MAZA.

Kehadiran tokoh-tokoh tersebut menegaskan komitmen mereka terhadap upaya memperkuat persatuan umat Islam dalam konteks regional. (ybh/hio)

TONTON JUGA: Tausiah Maghrib Dr H Nashirul Haq di Forum Majelis Ilmuan Nusantara Perlis 2024