JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., menyampaikan Pesan Akhir Ramadhan dan 1 Syawal Idulfitri 1447 Hijriah pada Jum’at, 20 Maret 2026. Dalam pesannya, ia menegaskan pentingnya menjadikan Ramadhan sebagai medium penyucian jiwa tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi kehidupan bangsa secara kolosal.
Naspi Arsyad menyatakan bahwa Ramadhan menghadirkan proses pembinaan spiritual yang terstruktur melalui ibadah puasa, zakat, dan peningkatan amal sosial, yang secara sistemik membentuk karakter masyarakat yang lebih disiplin, empatik, dan bertanggung jawab.
“Ramadhan yang telah kita lalui harus dimaknai sebagai momentum penyucian jiwa bangsa, bukan hanya pengalaman ritual pribadi kita secara individu, tetapi fondasi moral bagi kehidupan bernegara,” ujarnya dalam keterangannya kepada media ini di Jakarta.
Ia menekankan bahwa nilai-nilai yang dilatih selama Ramadhan seperti pengendalian diri, kepedulian sosial, dan kejujuran, memiliki relevansi langsung dengan pembangunan kehidupan nasional. Dalam ranah sosial, internalisasi nilai tersebut menjadi modal penting dalam memperkuat kohesi sosial dan stabilitas bangsa di tengah tantangan ekonomi, politik, dan kemanusiaan yang terus berkembang.
Selain itu, Naspi menyerukan pentingnya memperkuat persatuan bangsa sebagai agenda utama pasca-Ramadhan. Menurutnya, perbedaan sosial, politik, maupun latar belakang tidak boleh menjadi faktor pemecah, melainkan harus dikelola dalam kerangka kebangsaan yang inklusif.
“Idulfitri adalah momentum rekonsiliasi sosial. Kita harus memperkuat persatuan bangsa dengan menjadikan nilai-nilai ukhuwah sebagai dasar kehidupan bersama,” ungkapnya.
Dalam kerangka pembangunan peradaban, Naspi Arsyad juga menegaskan pentingnya menegakkan nilai-nilai peradaban Islam dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam penyelenggaraan pemerintahan. Ia menyebut bahwa prinsip keadilan, amanah, dan keberpihakan kepada kemaslahatan umat merupakan bagian integral dari tata kelola pemerintahan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
“Peradaban Islam menempatkan keadilan dan kepedulian sebagai inti. Pemerintahan harus berpihak kepada kemaslahatan umat dan hadir sebagai pelayan masyarakat,” ujarnya.
Pesan tersebut juga mencakup doa dan solidaritas bagi masyarakat Indonesia yang tengah menghadapi berbagai bencana alam. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah wilayah di Indonesia mengalami banjir dan tanah longsor yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian material. Naspi mengajak seluruh elemen bangsa untuk menunjukkan empati dan kepedulian terhadap para penyintas.
“Kami mendoakan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah agar diberi kekuatan dan segera pulih, serta mengajak seluruh masyarakat untuk turut membantu meringankan beban mereka,” katanya.
Lebih lanjut, Naspi Arsyad menegaskan bahwa perhatian terhadap isu kemanusiaan global, khususnya Palestina, harus tetap menjadi bagian dari kesadaran kolektif umat Islam dan bangsa Indonesia. Ia menyebut bahwa kondisi Palestina yang masih berada dalam tekanan pendudukan berkepanjangan memerlukan dukungan moral dan politik yang konsisten dari komunitas internasional.
“Pembelaan terhadap Palestina adalah bagian dari komitmen kemanusiaan. Kita tidak boleh abai terhadap penderitaan yang masih dialami rakyat Palestina,” ujarnya.
Naspi menegaskan, seruan untuk terus membersamai Palestina sejalan dengan prinsip-prinsip kemerdekaan dan keadilan yang diakui dalam berbagai forum internasional serta mencerminkan posisi Indonesia yang secara konsisten mendukung kemerdekaan Palestina sejak era para pendiri bangsa (founding father).
Rais ‘Aam Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad (Foto: Bilal Tadzkir/ hidayatullah.or.id)
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Rais ‘Aam Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, menyampaikan bahwa ada standar protokol tetap (protap) yang hendaknya diperhatikan dalam interaksi dengan Al Qur’an. Hal itu disampaikan dia dalam acara yang bertajuk Refleksi Akhir Ramadhan dan Bekal Perjuangan di Kampus Ummulquraa Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan dan disiarkan secara daring melalui kanal Youtube Ummulqura Hidayatullah pada Kamis, 29 Ramadhan 1447 (19/3/2026).
KH Abdurrahman Muhammad menegaskan bahwa keberhasilan sebuah perjuangan sangat bergantung pada bagaimana seorang mukmin memosisikan kitab suci Al Qur’an sebagai media komunikasi sakral dengan Sang Pencipta.
Ia memaparkan filosofi waktu dan perjalanan hidup manusia. Menurutnya, hidup adalah rangkaian gerak dari detik ke detik dan dari tahun ke tahun yang penuh dengan ketidakpastian. Dalam dinamika tersebut, Allah SWT memberikan ruang khusus berupa bulan Ramadhan sebagai titik henti sementara bagi manusia. Beliau mengibaratkan Ramadhan sebagai sebuah terminal kehidupan yang strategis.
Di terminal inilah, terangnya, setiap individu memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak guna mengumpulkan bekal sebelum melanjutkan perjalanan panjang yang penuh dengan tantangan berat di masa depan.
Urgensi komunikasi dengan Allah menjadi inti dari refleksi yang disampaikan oleh Rais Aam Hidayatullah dalam forum yang digelar secara hibrida tersebut. Ia menekankan bahwa membaca Al Quran pada hakikatnya adalah sebuah dialog antara hamba dengan Tuhannya.
Mengutip sebuah kaidah, beliau menyatakan, Barang siapa yang ingin bercakap-cakap dengan Tuhannya, baca Quran. Namun, beliau memberikan catatan kritis bahwa percakapan ini tidak boleh dilakukan dengan sembarangan karena terdapat protokol tetap atau protap yang menyertainya.
Ia mengambil tamsil dari tradisi kebudayaan di Yogyakarta, khususnya mengenai kehidupan abdi dalem saat hendak menghadap Sultan di Keraton.
Dia menjelaskan, jika untuk menghadap raja di dunia saja seseorang harus mengikuti aturan protokoler yang sangat ketat agar tidak mendapatkan hukuman, maka sudah sepatutnya seorang mukmin memiliki adab yang jauh lebih tinggi saat menghadap Penguasa Semesta melalui Al Quran.
Adab Berinteraksi dengan Al Qur’an
Oleh karena itu, masih dalam taushiyahnya, Rais Aam Hidayatullah menekankan pentingnya membangun sikap mental yang tepat sebelum menyentuh dan membaca kitab suci. “Ini Quran bukan hal biasa biasa, sehingga kita harus berwudu, kita harus istighfar, kita harus beradab,” tegasnya.
Beliau menyebutkan bahwa pembahasan mengenai adab terhadap Al Quran sering kali dianggap sederhana, padahal cakupannya sangat luas dan belum tuntas untuk digali. Tanpa wasilah atau perantara berupa adab dan sikap mental yang benar, Al Quran tidak akan memberikan pengaruh mukjizat atau ilham pada diri pembacanya.
Menurut pandangannya, hubungan antara Al Quran, takwa, dan iman adalah satu kesatuan asasi yang tidak dapat dipisahkan. Ia mengingatkan bahwa tanpa landasan iman yang kokoh, ilmu tentang Al Quran tidak akan pernah dicapai secara hakiki maupun zahiri.
Disamping itu, kesungguhan dalam berinteraksi dengan Al Quran juga memerlukan refleksi atas sejarah perjuangan para nabi dan sahabat terdahulu. KH Abdurrahman Muhammad mengingatkan mengenai betapa mahalnya nilai keimanan yang mereka pegang saat ini. Ia merujuk pada penderitaan nabi-nabi Bani Israil yang dibelah kepalanya, hingga penyiksaan fisik yang dialami oleh Bilal bin Rabah serta keluarga Yasir demi mempertahankan prinsip tauhid.
Nilai mahal dari iman inilah yang menurutnya seharusnya menjadi pendorong bagi setiap individu untuk memberikan penghormatan tertinggi kepada Al Quran melalui pembacaan yang benar atau haqqa tilawati. Beliau menegaskan bahwa program utama di Ummulqura haruslah dimulai dengan mengilmui iman terhadap kitab suci tersebut.
Menyeimbangkan Kuanitas dan Tadabbur
Masih dalam kesempatan yang sama, Rais Aam Hidayatullah ini juga memberikan kritik terhadap kecenderungan membaca Al Quran secara terburu-buru demi mengejar target kuantitas tanpa kualitas tadabbur yang memadai.
Ia berpendapat bahwa jika menggunakan standar yang benar, membaca satu juz Al Quran memerlukan waktu lebih dari satu jam karena tuntutan untuk merenungi setiap ayat. Beliau memperingatkan adanya ancaman berupa hati yang terkunci bagi mereka yang enggan melakukan tadabbur.
“Interaksi yang ideal dengan Al Quran adalah ketika bacaan tersebut mampu menyampaikan hati seseorang hingga seolah-olah melihat realitas surga dan neraka,” katanya.
Abdurrahman menekankan bahwa meletakkan jejak iman terhadap Al Quran adalah pekerjaan besar yang membutuhkan mujahadah atau kesungguhan luar biasa, karena tanpa hal tersebut, semangat jihad tidak akan pernah lahir secara otentik.
Lebih lanjut, KH Abdurrahman Muhammad mengarahkan perhatian pada pentingnya penguatan akidah melalui perenungan terhadap surat-surat terakhir dalam Al Quran, yakni Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.
Surat-surat tersebut menurutnya merupakan sandaran akidah yang mengajarkan tentang keesaan Allah serta memberikan perlindungan dari penyakit hati seperti hasad atau dengki yang dapat menghancurkan amal manusia.
Beliau menegaskan bahwa penataan tauhid, baik itu tauhid mulkiah, ibadah, maupun rububiyah, harus diperbaiki secara menyeluruh. Segala bentuk ibadah, termasuk salat, akan terasa hambar dan berlalu begitu saja jika seseorang tidak merasakan kehadiran Allah dalam setiap prosesinya.
Memperbaiki Interaksi dengan Qur’an
Rais Aam Hidayatullah mengajak untuk membangun satu sistem kesadaran bahwa Al Quran adalah wasilah utama untuk menghindarkan diri dari neraka dan meraih surga.
Ia berharap agar setiap kader Hidayatullah memiliki komitmen kuat dalam memperbaiki interaksi mereka dengan Al Quran, dimulai dari penataan adab hingga pendalaman makna melalui tadabbur yang berkelanjutan.
Bekal perjuangan yang paling hakiki dalam pandangannya bukanlah pada kekuatan fisik atau materi semata, melainkan pada kedalaman spiritualitas yang bersumber dari dialog intensif dengan Allah SWT melalui kitab suci-Nya.
Dengan demikian, refleksi akhir Ramadhan ini diharapkan mampu melahirkan semangat baru dalam menjalankan amanah perjuangan dakwah di masa depan.[]
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Rais ‘Aam Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad sampaikan pandangan terkait dinamika penentuan Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah. Dalam acara taushiyah bertajuk Refleksi Akhir Ramadhan dan Bekal Perjuangan yang berlangsung pada Kamis, 19 Maret 2026, beliau menekankan pentingnya menyikapi potensi perbedaan tanggal lebaran dengan basis keilmuan yang kokoh serta ketenangan spiritual yang tinggi.
KH Abdurrahman Muhammad mengajak umat untuk tetap fokus pada esensi ibadah tanpa harus terganggu oleh ketidakpastian mengenai waktu hari raya. Ia menegaskan bahwa kepastian waktu lebaran bukanlah sebuah persoalan yang harus memicu keresahan sosial.
Menurutnya, jika memang penetapan 1 Syawal belum diputuskan untuk esok hari, maka tugas seorang mukmin adalah melanjutkan rangkaian ibadah dengan penuh ketekunan.
“Kira-kira kira-kira besok lebaran, kah? Ndak masalah kita lebaran atau belum lebaran ya. Kalau belum lebaran, ya kita salat lagi. Salat malamnya disambung lagi. Kalau belum lebaran besok, masih tarawih kita karena masih Ramadan. Dan tidak ada salat tarawih setelah Ramadan,” katanya.
Lebih lanjut, dalam tinjauan teologis, Rais Aam memberikan ulasan mengenai legalitas perbedaan metode ijtihad dalam Islam. Ia menyitir kaidah kenabian yang menyatakan bahwa umat Islam tidak akan bersepakat dalam sebuah kesesatan selama keputusan tersebut didasarkan pada landasan metodologi yang ilmiah.
Dalam pandangannya, baik metode Hisab yang sering diterapkan oleh Muhammadiyah maupun metode Rukyah yang diikuti oleh pemerintah dan organisasi Islam lainnya termasuk Nahdlatul Ulama (NU), keduanya memiliki basis argumentasi yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan secara syar’i maupun rasional.
“Semua berdiri di atas ilmu. Muhammadiyah berdiri di atas ilmu dan rukyah berdiri di atas ilmu. Jadi ndak ada masalah, gak usah disalahkan, gak usah dicaci maki,” katanya.
Sikap yang paling bijaksana dalam menghadapi keragaman ini, menurut KH Abdurrahman Muhammad, adalah mengambil jalan tawaqquf atau menahan diri. Beliau menginstruksikan agar umat Islam tidak perlu melontarkan komentar negatif atau terlibat dalam aksi saling merendahkan.
Ia mengingatkan bahwa segala perbedaan pendapat dalam urusan fikih penanggalan pada akhirnya akan diadili oleh Allah SWT di akhirat kelak. Oleh karena itu, energi umat seharusnya dialokasikan untuk peningkatan kualitas ketakwaan daripada perselisihan.
“Sudah, tawaqquf saja. Ndak usah komentar. Itu urusan Allah dan Allah selalu mengulang-ulang di Quran (bahwa) nanti di akhirat kamu diadili semua tentang perbedaan-perbedaan itu,” katanya, seraya menyampaikan keyakinan optimisnya bahwa Allah SWT akan memberikan ampunan terhadap perbedaan ijtihadiyah semacam ini.
Dalam analisis sejarah dan sosiologi agama di Indonesia, KH Abdurrahman Muhammad mencatat adanya harmoni fundamental yang mengikat ormas-ormas besar di tanah air. Beliau mengamati bahwa meskipun terdapat perbedaan gaya institusional dan metodologi, akar akidah yang dianut tetap bersumber pada tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.
Ia memberikan catatan sejarah mengenai perkembangan pemikiran modernis yang dibawa oleh tokoh seperti Syekh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha yang kemudian memengaruhi model pendidikan Muhammadiyah melalui inspirasi dari Taman Siswa.
Di sisi lain, beliau menghormati konsistensi KH Hasyim Asy’ari dalam menjaga tradisi pesantren. Meskipun terdapat evolusi dalam pola pikir dan strategi perjuangan, ia melihat bahwa pada akhirnya umat ini tetap menyatu dalam esensi ajaran yang sama.
Sebagai penutup, KH Abdurrahman Muhammad menegaskan bahwa keberadaan perbedaan pandangan justru merupakan bukti dari keunggulan intelektual para ulama.
Menurutnya, kapasitas untuk menghasilkan pemikiran yang beragam namun tetap berpijak pada disiplin ilmu yang ketat adalah sebuah kekayaan bagi peradaban Islam.
Ia berpesan agar umat mampu melihat perbedaan bukan sebagai titik lemah, melainkan sebagai manifestasi dari luasnya cakrawala keilmuan Islam. “Ada perbedaan dan itulah keunggulan karena ulama berpikir itu punya ilmu untuk berbeda seperti yang lain. Ada ilmunya,” tandasnya.
Refleksi Akhir Ramadan yang digelar Kampus Ummulqura Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, ini diharapkan menjadi seruan bagi kader termasuk seluruh elemen umat untuk mengedepankan ukhuwah, menghargai ijtihad, dan menjaga kehormatan sesama muslim dalam menyongsong Idulfitri 1447 Hijriah.
BATAM (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kepulauan Riau menyalurkan zakat fitrah kepada masyarakat di Pulau Air, Batam, pada Kamis, 19 Maret 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari penyaluran zakat menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Sebanyak 40 orang tercatat sebagai penerima manfaat dalam kegiatan tersebut. Penyaluran dilakukan secara langsung kepada warga yang berada di wilayah Pulau Air.
Pulau Air merupakan salah satu wilayah kepulauan di Batam. Kondisi geografis wilayah kepulauan mempengaruhi akses distribusi kebutuhan pokok bagi masyarakat setempat.
Amil BMH Kepulauan Riau, Jepriansyah, menyampaikan bahwa penyaluran zakat fitrah telah diterima oleh masyarakat. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para donatur yang menyalurkan zakat melalui BMH Kepulauan Riau.
“Alhamdulillah, manfaatnya sudah dirasakan oleh masyarakat. Kami mengucapkan terima kasih kepada bapak dan ibu yang telah menitipkan zakat fitrah melalui BMH Kepri,” ujar Jepriansyah.
Zakat fitrah merupakan kewajiban bagi umat Islam yang ditunaikan menjelang Idul Fitri. Penyaluran zakat fitrah ditujukan kepada penerima yang berhak, termasuk masyarakat yang membutuhkan.
Kegiatan penyaluran zakat fitrah di Pulau Air ini menjadi bagian dari program distribusi zakat yang dilakukan oleh BMH Kepulauan Riau di wilayah kepulauan.
Selain memenuhi kebutuhan menjelang Idul Fitri, penyaluran zakat fitrah juga merupakan bagian dari pelaksanaan kewajiban keagamaan yang dilakukan oleh umat Islam.
Penyaluran ini melibatkan partisipasi para donatur yang menyalurkan zakat melalui lembaga amil zakat. BMH Kepulauan Riau berperan sebagai perantara dalam proses penghimpunan dan pendistribusian zakat kepada masyarakat penerima.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian program Ramadhan yang berlangsung hingga menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah.
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, Ust. H. Dr. Ir. Abdul Aziz Qahhar Muzakkar, M.Si., menyampaikan bahwa menjelang berakhirnya Ramadhan terdapat satu perasaan yang hampir dirasakan banyak orang, yakni adanya kekurangan dalam amal yang telah dilakukan sepanjang bulan suci.
“Selalu ada yang kita rasa kurang setiap Ramadhan akan berakhir,” ujarnya dalam sesi Refleksi Ramadhan di Masjid Ummul Qura, Pesantren Hidayatullah Depok, pada Kamis, 29 Ramadhan 1447 (19/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa perasaan tersebut tidak menunjukkan kelemahan iman, melainkan mencerminkan keterbatasan manusia dalam menjalankan ibadah. “Ini bukan tanda iman yang kurang. Ini tanda bahwa kita sebagai manusia memang tidak sempurna dalam beramal,” lanjutnya.
Kegiatan refleksi yang berlangsung menjelang akhir Ramadhan 1447 Hijriah itu menghadirkan suasana yang kondusif untuk perenungan atas ibadah yang telah dijalankan. Dalam forum tersebut, Aziz mengajak bersama memahami dimensi ruhani dari praktik ibadah yang dilakukan selama bulan Ramadhan.
Ia menekankan pada pentingnya memaknai pengalaman ibadah secara lebih mendalam, bukan sekadar menjalankannya sebagai rutinitas tahunan.
Abdul Aziz Qahhar Muzakkar menegaskan bahwa Ramadhan merupakan momentum untuk merasakan kedalaman spiritual melalui ibadah, salah satunya shalat malam. Ia menyebutkan bahwa pengalaman menikmati shalat lail menjadi bagian penting dari proses pembinaan ruhani.
“Menikmati shalat lail dan tadabbur Al-Qur’an ini yang harus bisa kita rasakan,” tuturnya.
Ia mengungkapkan bahwa praktik shalat malam telah menjadi tradisi yang dijaga dalam lingkungan gerakan Hidayatullah selama lebih dari satu dekade. Tradisi tersebut, menurutnya, bukan semata rutinitas ibadah, tetapi juga menjadi sumber pengalaman spiritual yang bernilai. “Shalat lail kita sangat syukuri. Ini benar-benar kenikmatan yang sangat besar,” ujarnya.
Dalam penjelasannya, ia juga mengangkat contoh teladan dari Rasulullah dan juga bagaimana pendiri Hidayatullah Ust. Abdullah Said yang dikenal menempatkan penghayatan sebagai aspek utama dalam ibadah. Ia menggambarkan bahwa dalam pelaksanaan shalat, aspek kekhusyukan menjadi perhatian utama.
“Rukuk dan sujudnya lama, karena yang diutamakan adalah penghayatan dalam shalat,” ungkapnya, menggambarkan praktik ibadah yang dilakukan dengan kesungguhan.
Berdampak dalam Kehidupan
Selain shalat malam, Aziz pada kesempatan itu juga menyoroti pentingnya tadabbur Al-Qur’an sebagai bagian dari pengalaman Ramadhan. Ia menyampaikan bahwa interaksi dengan Al-Qur’an tidak cukup hanya melalui tilawah, tetapi perlu disertai dengan upaya memahami maknanya. “Nikmat Ramadhan juga tentang tadabbur, bukan hanya tilawah,” ujarnya.
Menurutnya, pemahaman terhadap kandungan Al-Qur’an memberikan pengaruh yang lebih luas terhadap kehidupan. Ia menekankan bahwa tadabbur berfungsi sebagai penguatan spiritual yang berdampak pada kondisi batin. “Tadabbur itu memberi nutrisi bagi hati. Jangan sampai hati kita terkunci,” tegasnya.
Aziz juga menyampaikan praktik yang ia lakukan dalam memahami Al-Qur’an, yaitu dengan membaca terjemahan dan tafsirnya untuk memperdalam pemahaman terhadap ayat-ayat yang belum sepenuhnya dipahami. “Saya tadarus sekaligus membaca terjemahannya, khususnya pada ayat yang belum saya tangkap maknanya,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa proses tersebut memberikan tambahan wawasan dan memperkuat semangat dalam menjalani kehidupan.
Dengan pendekatan tersebut, ia menekankan, interaksi dengan Al-Qur’an tidak hanya bersifat tekstual, tetapi juga menjadi bagian dari proses refleksi yang berkelanjutan.
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang istiqamah dalam kebaikan.
Ramadhan selalu hadir sebagai bulan penuh cahaya, bulan yang membuka pintu-pintu rahmat dan mengalirkan keberkahan ke dalam hati setiap hamba.
Di hari Jum’at penghujung Ramadhan ini, kita seakan diajak untuk menengok kembali perjalanan spiritual yang telah ditempuh: dari menahan lapar dan dahaga, melatih kesabaran hingga dzikir dan interaksi dengan Al Qur’an.
Semua itu bukan sekadar ritual, melainkan proses membersihkan dan menguatkan hati, karena dari sanalah hadirnya iman dan ketaqwaan.
Masih beberapa jam ke depan Ramadhan bersama kita. Jangan abaikan waktu-waktu yang mustajab untuk melengkapi ibadah dan amalan-amalan kita. Kita yakin dengan ayat Allah Ta’ala,walal akhiratu khairullaka minal ula, bahwa saat injuritime, detik-detik terakhir datang ampunan dan pertolongan Allah swt.
Melepas Ramadhan bukan berarti melepas semangat ibadah. Justru, ia adalah titik awal untuk membuktikan apakah pelajaran yang kita dapat selama sebulan penuh benar-benar meresap ke dalam jiwa. Taqwa bukan sekadar label, melainkan kondisi hati yang senantiasa sadar akan kehadiran Allah, dalam suka maupun duka, dalam terang maupun gelap.
Maka, detik-detik melepas Ramadhan seharusnya diisi dengan rasa syukur yang mendalam. Syukur karena diberi kesempatan menjalani bulan penuh berkah, syukur karena masih bisa berdoa, berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan berbagi dengan sesama. Syukur itu kemudian diwujudkan dalam tekad: menjaga semangat Ramadhan sepanjang tahun, hingga bertemu kembali dengan Ramadhan berikutnya.
Artinya, merawat hati adalah sebuah perjalanan panjang yang tidak berhenti hanya di bulan Ramadhan. Hati yang bersih akan menjadi sumber kekuatan iman, sementara hati yang kotor karena dosa dan cinta dunia akan melemahkan iman dan menutup jalan menuju taqwa.
Oleh karena itu, menjaga kebersihan hati adalah kewajiban yang harus terus dilakukan, agar kita tidak terjebak dalam kelalaian yang membuat hidup kehilangan arah spiritualnya.
Setelah Ramadhan, godaan dunia kembali terasa lebih kuat. Di sinilah pentingnya istighfar, dzikir, doa, dan tilawah – tadabbur Al-Qur’an sebagai benteng penjaga hati.
Dengan istighfar, kita membersihkan noda dosa; dengan dzikir, kita menghidupkan kesadaran akan Allah; dengan doa, kita menyambungkan hati kepada Sang Pencipta; dan dengan tilawah, kita meneguhkan petunjuk hidup. Semua amalan ini adalah cara agar hati tetap lembut, tidak keras, dan selalu terarah kepada kebaikan.
Kesungguhan dalam merawat hati akan melahirkan iman yang kokoh dan taqwa yang tumbuh subur. Hati yang terjaga akan memancarkan ketenangan, menjauhkan dari cinta dunia berlebihan, serta menguatkan langkah menuju ridha Allah.
Maka, kita jangan pernah lengah, karena hati adalah pusat kehidupan spiritual kita. Bila hati terawat, seluruh amal akan menjadi indah, dan jalan menuju taqwa akan terbuka lebar.
Jama’ah Jum’at yang Berbahagia
Kita sangat sadar bahwa kualitas ibadah kita di bulan Ramadhan tidak akan bisa dipertahankan secara penuh, karena memang sebagian perintahnya beda dengan bulan-bulan lainnya. Namun, ibadah-ibadah umum seyogyanya kita bisa istiqamah menjaganya. Rasulullah juga sangat faham kondisi umatnya, sehingga beliau bersabda:
“Dari Aisyah RA, dia berkata, Rasulullah Saw bersabda: ‘Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang berterusan walaupun jumlahnya sedikit.’” (HR. Bukhari no. 6465)
Istiqamah yang sedikitpun itu perkara berat kalau menjalankan sendiri-sendiri. Misalnya belajar perlu ada guru, shalat menghadiri jama’ah, dan intinya ketika lalai harus ada orang sekitar yang menasihati. Karena pentingnya hidup bersama dan berjama’ah, sampai Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Quran Surat Ali ‘Imran ayat 103:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam Islam, kebersamaan bukan sekadar kebutuhan duniawi, tetapi juga bagian dari ibadah dan jalan menuju ridha Allah.
Tidak ada seorang pun yang mampu merawat keislamannya secara mandiri tanpa dukungan lingkungan, majelis ilmu, shalat berjama’ah, dan kepemimpinan yang menuntun. Suasana kebersamaan yang kita rasakan di bulan Ramadhan adalah contoh nyata bagaimana umat Islam dapat saling menguatkan dalam iman, amal, dan ukhuwah.
Rasulullah saw tidak membiarkan umatnya kalah dalam mempertahankan nilai keislaman dan tersesat dari arus menuju visi keagungan Islam. Sehingga meskipun dalam perjalanan dan hanya berjumlah tiga orang tetap wajib berjama’ah, sebagaimana dalam hadits yang masyhur:
Jika tiga orang berada dalam suatu perjalanan maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin.(HR Abu Dawud).
Pesan inti dari hadits ini adalah tetap bersatu dan saling menasihati. Persatuan yang dibingkai dengan nasihat, yaitu amar makruf nahi munkar adalah cara terbaik menjaga nilai-nilai keislaman.
Sungguh banyak kelompok atau negara kuat sumber daya alam, manusianya cerdas-cerdas, tetapi karena tidak bersatu dan tidak membawa misi amar makruf nahi munkar akhirnya dilanda krisis moral berkepanjangan.
Kebiasaan di bulan Ramadhan mendatangi majelis-majelis ilmu hendaknya bisa dilanjutkan. Selain semua ibadah dan mu’amalat harus dengan ilmu yang benar, juga dengan ilmu, manusia bisa mencapai peradaban yang tinggi. Tanpa ilmu, ibadah bisa kehilangan arah dan makna. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.“(HR. Muslim)
Syi’ar yang identik dengan bulan Ramadhan adalah shalat berjama’ah di masjid, baik shalat wajib lima waktu ataupun dengan tarawih. Tentu saja suasana ini akan turun drastis seiring lepasnya bulan Ramadhan. Mari kita tetap menghidupkannya karena shalat jama’ah adalah gambaran visi hidup, simbol persatuan dan kepemimpinan.
Dari arah manapun jama’ah datang, menghadapnya sama di dalam masjid, ini adalah proses membangun visi, yaitu menuju Allah swt. Semua bacaan dan gerakan sama, komando hanya satu, yaitu dari imam selaku pemimpin.
Secara tidak sadar, peserta shalat jama’ah sedang membangun shaff dan sistem hidup yang solid. Dan ketika tetap dilakukan di setiap waktu shalat lambat laun akan merefleksi dalam wujud kepemimpinan di tengah masyarakat.
Selain itu, shalat berjama’ah mencerminkan nilai kepemimpinan yang kuat. Imam berdiri di depan, memandu gerakan dan bacaan, sementara makmum mengikuti dengan penuh disiplin. Hal ini mengajarkan bahwa kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar posisi, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab.
Makmum pun belajar untuk taat, sabar, dan menjaga kesatuan barisan, sehingga tercipta harmoni antara pemimpin dan pengikut.
Sidang jama’ah Jum’ah yang Berbahagia
Ramadhan adalah bulan penuh berkah yang tidak hanya mengajarkan umat Islam untuk beribadah secara ritual, tetapi juga mendidik mereka dalam aspek moral dan sosial. Selama sebulan penuh, manusia dilatih untuk menahan hawa nafsu, menjaga kejujuran, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Nilai-nilai ini seharusnya tidak berhenti ketika Ramadhan usai, melainkan menjadi fondasi dalam membangun sistem sosial yang lebih sehat dan beradab. Khutbah ini akan menguraikan tiga esensi bagaimana refleksi Ramadhan dapat memengaruhi kehidupan sosial, mulai dari kesabaran, kejujuran, hingga solidaritas.
Pertama,kesabaran dan pengendalian diri. Puasa di bulan Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kesabaran dan pengendalian diri. Apa yang setiap hari menjadi santapan enak lezat, meski halal, dia harus ditinggalkan.
Ada orang mengajak bertengkar atau kelahi, dijawab, No! Saya puasa!. Kemampuan menahan nafsu dan amarah adalah kekuatan dahsyat, sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menunjukkan bahwa pengendalian diri adalah bentuk kekuatan sejati. Masyarakat yang terbiasa bersabar akan lebih mampu menahan emosi, sehingga perbedaan tidak berujung pada pertikaian. Kesabaran melahirkan sikap bijak, yang menjadi kunci dalam menyelesaikan masalah dengan cara damai.
Hasil dari latihan kesabaran di bulan Ramadhan dapat menjadi energi sosial yang menekan potensi konflik dan memperkuat persatuan. Dengan terbiasa menahan diri, umat Islam akan lebih mudah menumbuhkan rasa empati, tenggang rasa, dan solidaritas. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ: “Puasa adalah perisai” (HR. Bukhari dan Muslim), yakni pelindung dari perbuatan buruk dan pertikaian.
Maka, Ramadhan bukan hanya membentuk pribadi yang sabar, tetapi juga menciptakan masyarakat yang harmonis, damai, dan penuh persaudaraan.
Kedua,kejujuran sebagai fondasi sosial. Ramadhan juga menekankan pentingnya kejujuran. Dalam ibadah, kejujuran diuji melalui niat dan konsistensi menjalankan puasa.
Dalam kehidupan sosial, kejujuran menjadi modal utama untuk membangun kepercayaan. Masyarakat yang jujur akan lebih kokoh, bebas dari praktik manipulasi dan korupsi.
Kejujuran yang lahir dari refleksi Ramadhan dapat memperkuat integritas sosial, sehingga sistem sosial berjalan dengan lebih adil dan transparan.
Dengan demikian, Ramadhan berfungsi sebagai pengingat bahwa kejujuran bukan sekadar nilai pribadi, melainkan fondasi kehidupan bersama.
Kejujuran termasuk dalam mengungkap kebenaran akan membawa pelakunya pada kebaikan, dan itulan jalan menuju syurga. Rasulullah saw bersabda:
Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).
Ketiga,kepedulian dan solidaritas sosial. Ramadhan identik dengan zakat, infak, dan sedekah. Nilai ini menumbuhkan rasa empati terhadap sesama, terutama mereka yang kurang beruntung.
Kepedulian sosial yang lahir dari Ramadhan memperkuat ikatan antar individu dan mengurangi kesenjangan sosial. Solidaritas ini menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, di mana setiap orang merasa memiliki tanggung jawab untuk saling menopang.
Jika nilai kepedulian ini terus dijaga, maka masyarakat akan lebih tangguh menghadapi tantangan, baik ekonomi maupun sosial.
Kepedulian sosial pasca Ramadhan adalah wujud nyata dari nilai ta’awun yang diajarkan Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Ma’idah ayat 2:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.”
Ayat ini mengajarkan prinsip dasar kehidupan sosial dalam Islam, yaitu pentingnya bekerja sama dalam hal-hal yang membawa kebaikan, seperti menolong sesama, menjaga keadilan, dan memperkuat ketakwaan kepada Allah.
Sebaliknya, ayat ini melarang keras segala bentuk kerja sama yang mengarah pada kezaliman, dosa, atau permusuhan. Pesan utamanya adalah bahwa solidaritas dan kolaborasi harus diarahkan pada hal-hal positif yang mendekatkan manusia kepada Allah.
Sidang jama’ah Jum’ah yang Berbahagia
Ramadhan adalah momentum transformasi. Kesabaran, kejujuran, dan kepedulian yang dilatih selama sebulan penuh seharusnya menjadi karakter permanen dalam kehidupan sosial.
Jika refleksi ini benar-benar diinternalisasi, maka masyarakat akan lebih damai dan beradab. Ramadhan bukan hanya ritual tahunan, melainkan sebuah proses pendidikan sosial yang mampu memperbaiki sistem kehidupan bersama.
Dengan menjadikan nilai-nilai Ramadhan sebagai pedoman, kita dapat membangun masyarakat yang lebih kuat, berintegritas, dan penuh kasih sayang.
Mengumpulkan nilai di akhir Ramadhan bukan berarti menutup buku, melainkan membuka lembaran baru. Dzikir menenangkan hati, doa menghapus dosa, dan tilawah menguatkan jiwa.
Semua itu bermuara pada satu hadiah: taqwa! Hadiah yang tidak bisa dibeli dengan harta, tetapi hanya bisa diraih dengan kesungguhan ibadah dan ketulusan hati.
Ramadhan mengajarkan bahwa hidup adalah perjalanan menuju Allah. Di akhir bulan suci, kita diajak untuk membawa semangat Ramadhan ke dalam kehidupan sehari-hari: menjaga lisan, menahan amarah, memperbanyak doa, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman. Dengan begitu, Ramadhan terus hidup dalam jiwa.
Hadiah taqwa adalah bekal paling berharga. Ia menjadikan kita pribadi yang lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih kuat menghadapi ujian.
Maka, mari kita jadikan akhir Ramadhan sebagai titik tolak untuk kehidupan baru yang lebih bermakna, lebih terarah, dan lebih dekat dengan Allah.[]
DALAM tradisi keilmuan Islam, keberlanjutan sebuah gerakan tidak pernah dilepaskan dari kekuatan sanad. Sanad bukan sekadar rantai periwayatan, melainkan sebuah mekanisme penjagaan makna, kesinambungan orientasi, dan pemeliharaan ruh perjuangan.
Oleh karenanya, para ulama sejak generasi awal telah menempatkan sanad sebagai bagian inheren dari agama itu sendiri, sebagaimana ditegaskan dalam tradisi ulama salaf, di antaranya Muhammad ibn Sirin dan Abdullah ibn al-Mubarak, bahwa sanad merupakan bagian inheren dari agama; tanpanya, setiap orang akan dengan mudah menyampaikan apa saja tanpa pijakan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam kerangka inilah, sanad tidak hanya berfungsi menjaga kebenaran informasi, tetapi juga menjaga cara memahami, merasakan, dan mengamalkan kebenaran tersebut.
Dengan perspektif ini, dinamika sebuah gerakan tidak cukup dibaca melalui kacamata struktur organisasi atau kecanggihan programnya semata. Ia harus dipahami sebagai proses epistemologis yang hidup, di mana nilai, kesadaran, dan praksis saling bertaut dalam satu sistem yang berkesinambungan.
Penting untuk meletakkan sistematika wahyu selain sebagai sumber normatif, juga sebagai sistem pembentukan manusia yang memiliki urutan dan metodologi yang jelas. Sistematika wahyu membentuk kesadaran, kesadaran melahirkan tindakan, dan tindakan yang terjaga melahirkan peradaban. Dalam alur inilah sanad bekerja sebagai penghubung yang memastikan kesinambungan proses tersebut tertransmisikan antar generasi.
Jika kerangka ini digunakan untuk membaca ijtihad Allahuyarhan Ustaz Abdullah Said, maka apa yang tampak sebagai ijtihad-ijtihad praksis dalam mendirikan lembaga perjuangan Hidayatullah sesungguhnya merupakan manifestasi dari perjalanan panjang hidayah dan pergulatan spiritual yang berakar pada sanad keilmuan dan perjuangan yang kuat dan mengakar.
Beliau mungkin tidak mewariskannya dalam sebuah grand design dan tertuang dalam dokumen yang sistematis, tetapi telah terbukti mewariskan sesuatu yang lebih fundamental: manhaj yang hidup. Metode ini tidak bekerja dalam teks semata, tetapi dalam kesadaran yang kemudian menjelma menjadi pola pikir, pola sikap, dan pola gerak.
Demikianlah hingga kini, Hidayatullah memperlihatkan karakter sistemiknya. Sebuah sistem sosial yang bekerja secara internal dan berkesinambungan. Sistem ini memiliki daya hidup yang memungkinkan gerakan tetap berjalan.
Dalam istilah yang sering digunakan, sistem ini bekerja seperti “auto pilot” dengan mekanisme enam jati dirinya dan tujuh prinsip tertib organisasinya: Hidayatullah memiliki arah yang jelas, mekanisme internal yang terjaga, serta kemampuan untuk terus bergerak dalam berbagai kondisi tanpa kehilangan orientasi dasarnya.
Lebih dari itu, sistem ini menunjukkan tingkat kompatibilitas yang tinggi terhadap dinamika sosial yang terus berubah. Ia mampu hadir dalam berbagai konteks tanpa kehilangan identitasnya. Hal ini dimungkinkan karena sejak awal telah ada kejelasan yang tegas dalam membedakan antara aspek yang bersifat tetap dan yang bersifat berubah.
Penegasan ini sering dibingkai oleh Ust Dr Ir Abdul Aziz Qahhar melalui pembedaan antara tsawabit dan mutaghayyirat. Sebuah penegasan yang jelas mana yang menjadi substansi nilai yang tidak berubah, dan mana yang merupakan metode yang dapat disesuaikan dengan tuntutan zaman. Dengan kata lain, terdapat diferensiasi yang matang antara fondasi nilai sebagai “software” dan perangkat operasional sebagai “hardware”.
Kejelasan antara tsawabit dan mutaghayyirat inilah yang menjadikan gerakan ini idealnya tidak kaku, tetapi juga tidak kehilangan arah. Ia mampu bergerak dinamis tanpa tercerabut dari akar, dan mampu beradaptasi tanpa larut dalam perubahan.
Namun, keunggulan sistemik ini tidak akan memiliki makna jika tidak diikuti dengan proses transformasi dan transmisi yang berkelanjutan. Sebab, sistem yang paling kokoh sekalipun dapat mengalami pelemahan jika tidak diwariskan secara utuh kepada generasi berikutnya.
Di sinilah urgensinya untuk mentransformasikan dan mentransmisikan sanad gerakan manhaji ini. Transformasi mengandung makna internalisasi, yaitu bagaimana nilai dan manhaj itu dihidupkan dalam kesadaran individu. Sementara transmisi mengandung makna pewarisan, yaitu bagaimana kesadaran tersebut dipindahkan dan ditumbuhkan dalam diri generasi pelanjut.
Kedua proses ini tidak dapat dipisahkan, karena tanpa transformasi, transmisi hanya akan melahirkan reproduksi yang dangkal; dan tanpa transmisi, transformasi akan berhenti pada pengalaman individual yang tidak berkelanjutan.
Apa yang berlangsung dalam kegiatan Ngaji Manhaj Sistematika Wahyu, kajian spesial i’tikaf di Masjid Umar Al Faruq di bawah bimbingan langsung Ust Abdul Aziz Qahhar dapat dibaca sebagai ikhtiar konkret dalam menjembatani dua proses tersebut. I’tikaf menjadi ruang pedagogis dan epistemologis, dimana sanad tidak hanya dibicarakan, tetapi dihadirkan dalam pengalaman.
Dalam suasana yang memungkinkan perjumpaan antara wahyu, refleksi diri, dan pengalaman kolektif itu, nilai-nilai tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi diinternalisasi secara eksistensial.
Atmosfir ruang seperti ini, proses transmisi berlangsung secara lebih utuh. Generasi pelanjut tidak sekadar menerima pengetahuan, tetapi mengalami pembentukan cara pandang dan orientasi tindakan. Di sinilah proses penyemaian apa yang dapat disebut sebagai chemistry antar generasi.
Chemistry ini bukan sekadar keterhubungan emosional, tetapi keselarasan antara konsepsi dan aplikasi, antara nilai yang diyakini dan tindakan yang dijalankan. Ia menjadi indikator bahwa sanad tidak hanya berpindah, tetapi benar-benar hidup dalam diri generasi baru.
Tanpa chemistry ini, sanad berisiko berhenti sebagai narasi historis yang telah banyak kita jumpai. Generasi pelanjut mungkin mengetahui nama-nama besar dan cerita-cerita perjuangan, tetapi tidak mampu menghidupkan kembali ruh yang melahirkannya.
Sebaliknya, dengan chemistry yang terbangun, perbedaan konteks antar generasi tidak menjadi penghalang, tetapi justru menjadi ruang bagi aktualisasi manhaj yang lebih relevan. Generasi baru tidak sekadar mengulang, tetapi melanjutkan dengan kesadaran yang lebih kontekstual, tanpa kehilangan akar epistemologisnya.
Demikianlah adanya, mentransformasikan dan mentransmisikan sanad gerakan manhaji adalah upaya menjaga kehidupan gerakan itu sendiri. Ia memastikan bahwa setiap generasi tidak memulai dari titik nol, tetapi melanjutkan estafet perjuangan dengan fondasi yang kokoh dan arah yang jelas.
Sanad gerakan manhaji sebagai energi masa depan. Dan, di situlah sebuah gerakan menemukan daya tahannya: bukan hanya pada kekuatan strukturnya, tetapi pada kemampuannya menyemai chemistry antar generasi yang menjaga kesinambungan antara nilai, kesadaran, dan tindakan dalam lintasan sejarah yang terus bergerak. Wallahualam.
*) Dr Irfan Yahya,penulis Sosiolog dan Ketua Dewan Pengurus Daerah Hidayarullah Makassar
PERNAHKAH membayangkan, kitab suci yang kita dekap, yang ayat-ayatnya kita lantunkan dengan syahdu, justru berbalik menjadi penggugat di hadapan Allah?
Imam Al-Ghazali dalam mahakarya Ihya’ Ulumuddin mengutip perkataan Anas bin Malik yang mampu menggetarkan arasy kesadaran kita: “Betapa banyak orang yang membaca Al-Qur’an, namun Al-Qur’an justru melaknatinya.” Kalimat pendek ini adalah alarm yang memekakkan telinga batin. Al-Qur’an adalah pedang bermata dua; ia bisa menjadi pembela (syafaat), namun ia juga bisa menjadi pelaknat.
Luka pertama yang mengundang adalah ketika memperlakukan ayat-ayat Allah dengan sembrono. Membaca Al-Qur’an bukanlah sekadar mengeluarkan bunyi, melainkan menjaga amanah setiap makhraj, sifat, dan mad. Tanpa tajwid yang benar, makna bisa bergeser, dan pesan-pesan Allah bisa terdistorsi.
Namun, di balik teknis bacaan, ada musuh yang lebih besar: Rasa malu dan kesombongan. Imam Mujahid telah memperingatkan bahwa dua hal inilah penghalang ilmu.
Kita merasa malu dianggap bodoh di usia dewasa apalagi senior sehingga enggan duduk di depan guru mengaji. Rasa malu yang seperti menjadi penghalang orang untuk belajar
Kita merasa sombong dengan gelar, jabatan dan status duniawi, hingga merasa tak perlu lagi atau merasa rendah saat memperbaiki alif, ba, ta.
Padahal, apa gunanya harga diri di mata manusia jika di hadapan Al-Qur’an kita adalah jiwa yang buta? Apalah artinya malu di dunia yang sifatnya sementara dibandingkan malu di akherat yang selama-lamanya.
Alasan sibuk atau tidak ada waktu seringkali hanyalah kedok bagi hati yang belum meletakkan Allah sebagai prioritas. Kita selalu punya waktu untuk apa yang kita cintai, maka jika tak ada waktu untuk Al-Qur’an, barangkali cinta itu memang belum tumbuh.
Kriteria kedua yang lebih menyayat hati adalah Anomali Spiritual. Ini adalah kondisi di mana terjadi kesenjangan yang lebar antara apa yang dibaca oleh lisan dan apa yang dilakukan oleh anggota badan.
Betapa pedihnya saat lisan yang baru saja basah oleh ayat-ayat suci tentang kesucian, tiba-tiba berubah menjadi belati yang mencaci, menghina, atau menebar kebohongan. Bagaimana mungkin tangan yang memegang mushaf yang mengharamkan riba, di saat yang lain justru terjebak dalam transaksi riba yang memusuhi Allah?
Al-Qur’an dalam kondisi ini barulah sampai di tenggorokan, belum menyentuh sanubari. Ia belum menjadi Al-Furqan (pembeda) dalam sikap. Jika Al-Qur’an tidak mampu mengubah akhlak kita, maka ia hanya akan menjadi saksi atas kemunafikan kita.
Membaca Al-Qur’an seharusnya menjadi proses pencucian jiwa. Setiap ayat adalah obat, setiap surat adalah cahaya. Jangan biarkan ia menjadi beban yang melaknat karena ketidakpedulian pada adab dan pengamalannya.
Mari kita tundukkan kepala, buang jauh rasa malu yang semu, dan mulailah belajar kembali. Biarlah Al-Qur’an mengalir dalam darah kita, merapikan lisan kita dari kata-kata kotor, dan membimbing langkah kita menjauhi yang dilarang-Nya. Karena pada akhirnya, kita tidak ingin Al-Qur’an hanya menjadi penghias rak buku, melainkan cahaya yang menuntun kita pulang kepada Rabb dengan selamat.
Terlebih di bulan Ramadhan, bulan yang dipilih Allah sebagai waktu turunnya Al-Qur’an (Syahrul Qur’an), semesta seolah membuka pintu kemudahan bagi siapa pun untuk mendekat. Di bulan ini, lisan terasa lebih ringan melantunkan ayat demi ayat, dan masjid-masjid bergetar oleh tadarus yang tak putus. Namun, kemudahan ini jangan sampai membuat lalai akan hakikat diturunkannya al-Qur’an.
Ramadhan seharusnya menjadi momentum di mana lisan dan hati bersatu dalam frekuensi yang sama; bukan sekadar mengejar khatam secara kuantitas, melainkan membangun keintiman spiritual yang mendalam. Jika di bulan yang mulia ini kita tidak mampu mendekapkan hati pada petunjuk-Nya, maka kapankah lagi jiwa ini akan menemukan cahayanya? Jadikanlah setiap tarikan napas di bulan suci ini sebagai ikhtiar agar Al-Qur’an meresap ke dalam pori-pori kesadaran, mengubah perilaku, dan membentengi kita dari akibat kelalaian.[]
ACEH TAMIANG (Hidayatullah.or.id) — Peresmian Kampung Inspirasi di Dusun Karya, Desa Seumadam, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang pada Senin, 26 Ramadhan 1447 (16/3/2026), menjadi momentum istimewa dalam upaya pemulihan wilayah pascabencana.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah bersama ormas Hidayatullah ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Naspi Arsyad, Bupati Aceh Tamiang Irjen. Pol. (Purn.) Drs. Armia Pahmi, MH, Direktur BMH Supendi, serta Direksi Prodaya BMH Pusat Syamsuddin. Program ini difungsikan sebagai instrumen penguatan masyarakat yang sebelumnya mengalami dampak signifikan akibat bencana alam di wilayah tersebut.
Kondisi awal di Dusun Karya saat bencana terjadi digambarkan melalui keterangan Pemimpin Dusun Karya, Bapak Imam, yang menyebutkan adanya keterisolasian dan kendala akses kebutuhan pokok. Masyarakat menghadapi situasi di mana toko-toko tutup dan logistik makanan sulit didapatkan, sementara perangkat desa memiliki keterbatasan dalam menjangkau seluruh kebutuhan warga. Dalam fase tanggap darurat, BMH melakukan intervensi dengan menembus wilayah terisolasi untuk mendistribusikan bantuan kebutuhan mendasar seperti beras, sarden, dan bahan pangan lainnya.
Data operasional menunjukkan bahwa BMH mengerahkan sekitar 100 relawan yang tersebar di berbagai titik terdampak di Aceh Tamiang. Langkah sistematis yang dilakukan mencakup penyediaan air bersih, pengoperasian dapur mobile untuk menyalurkan makanan siap saji, serta pemenuhan kebutuhan pokok warga.
Pada tahap pemulihan fisik, terdapat program khusus bernama Recycle House yang berfokus pada relokasi dan renovasi hunian warga. Tercatat sebanyak 80 rumah warga telah selesai direnovasi sehingga dapat ditempati kembali oleh pemiliknya sebelum memasuki bulan Ramadhan.
Warga setempat, termasuk Ibu Ayu, mengatakan bahwa bantuan tersebut mencakup perbaikan rumah dan keberlanjutan dukungan yang memberikan landasan bagi masyarakat untuk bangkit.
Saat ini, terdapat lebih dari 120 kepala keluarga di Dusun Karya yang terintegrasi dalam program pemulihan dan pemberdayaan melalui mekanisme Kampung Inspirasi. Program ini tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga mencakup aspek ekonomi, sosial, pendidikan, dan dakwah sebagai sebuah proyek percontohan.
Implementasi program ini juga menyentuh aspek keberlanjutan lingkungan dan mitigasi bencana di masa depan. BMH melaksanakan gerakan penanaman pohon serta edukasi kebersihan lingkungan dengan melibatkan instansi terkait. Selain itu, dibentuk tim siaga bencana di Desa Seumadam untuk membekali masyarakat dengan kemampuan penyelamatan dini dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana mendatang.
Perwakilan BMH, Syamsuddin, menegaskan komitmen lembaga seraya menegaskan bahwa peresmian Kampung Inspirasi merupakan titik awal dari pendampingan berkelanjutan terhadap komunitas lokal. “Ini bukan akhir dari perjalanan kami. Justru ini adalah awal untuk terus mendekat dan membersamai masyarakat,” katanya.
Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, memberikan apresiasi atas sinergi pemerintah daerah dalam proses pemulihan ini. Dia juga menyebutkan bahwa jaringan Hidayatullah telah beroperasi di 38 provinsi di seluruh Indonesia untuk memberikan pelayanan serupa, yang didanai melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah masyarakat.
“Apa yang kami lakukan ini seperti butiran pasir di lautan luas, belum sebanding dengan apa yang dirasakan masyarakat. Namun sinergi ini berusaha semaksimal mungkin untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat,” katanya.
Naspi berharap pola kolaborasi lintas institusi kemanusiaan, masyarakat, dan pemerintah dalam mendukung upaya bersama dalam merekonstruksi harapan warga pascabencana.
Sementara itu, Bupati Aceh Tamiang, Irjen. Pol. (Purn.) Drs. Armia Pahmi, MH, memaparkan langkah pemerintah dalam melakukan klasifikasi kerusakan rumah warga menjadi kategori ringan, sedang, dan berat.
Pemerintah daerah, jelas Armia, telah memproyeksikan pembangunan sekitar 8.000 hunian tetap (huntap), di mana 4.000 hunian sementara (huntara) telah disiapkan.
Dukungan finansial dan logistik juga disalurkan melalui Kementerian Sosial dengan rincian bantuan perabot rumah tangga senilai Rp3 juta, bantuan pemberdayaan ekonomi sebesar Rp5 juta, serta dana jaminan hidup Rp500 ribu per individu selama periode tiga bulan.
Bupati juga memberikan penekanan pada aspek akuntabilitas pelayanan publik dengan membuka akses pelaporan langsung bagi warga yang belum menerima bantuan.
“Jika ada masyarakat yang belum mendapatkan bantuan, silakan datang ke kantor bupati. Jika ada hambatan, datang langsung kepada saya,” kata Bupati. Dia menegaskan adanya jaminan aksesibilitas dari pihak eksekutif daerah untuk memastikan distribusi bantuan tepat sasaran.
Bupati Armia mengharapkan dukungan doa dari masyarakat agar pemerintah daerah dapat terus menjalankan fungsi pelayanan dan pengabdian secara optimal bagi warga Aceh Tamiang.
MANUSIA adalah makhluk ciptaan Allah yang terbaik. Allah memuliakannya dengan kesempurnaan jasmani dan ruhani. Tetapi Ketika nafsu yang menjadi penguasa dalam diri, manusia jatuh pada derajat yang rendah.
Download naskah khutbah Idulfitri 1447 ini selengkapnya, klik di sini.