IKN (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Timur menggelar Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Pendidikan Hidayatullah Kalimantan Timur yang dibuka di Aula Utama Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) pada Jumat, 7 Dzulqaidah 1447 (24/4/2026).
Forum tersebut mempertemukan unsur pengelola pendidikan Hidayatullah se-Kalimantan Timur untuk membahas penguatan sektor pendidikan di tengah perkembangan kawasan IKN yang terus berlangsung.
Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Timur, Hizbullah AS, dalam sambutannya menekankan pentingnya dukungan terhadap sektor pendidikan, khususnya kepada para guru.
Hizbullah menyampaikan bahwa keberadaan tenaga pendidik memiliki peran penting dalam menjaga kualitas pembelajaran di lingkungan pendidikan Hidayatullah. Dukungan terhadap guru menjadi salah satu poin yang mendapat perhatian dalam forum koordinasi tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara yang diwakili Direktur Pelayanan Dasar, Dr. Suwito, menjelaskan perkembangan pembangunan IKN. Ia menyampaikan bahwa tahap pertama pembangunan telah selesai dan saat ini memasuki tahap kedua.
Selain itu, Suwito juga memaparkan rencana pendirian sekolah bertaraf internasional di kawasan IKN sebagai bagian dari pengembangan layanan pendidikan di wilayah tersebut.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, secara resmi membuka Rakorwil tersebut. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kehadiran Hidayatullah di kawasan IKN, tidak hanya dalam kontribusi akademik tetapi juga pada aspek pembinaan mental dan spiritual masyarakat.
KH Naspi Arsyad juga menyampaikan pentingnya membangun sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak di kawasan IKN. Rakorwil ini menjadi ruang koordinasi bagi lembaga pendidikan Hidayatullah di Kalimantan Timur dalam menyiapkan peran yang lebih luas di tengah perkembangan pusat pemerintahan baru Indonesia.
ORGANISASI bisnis sudah lama mengenal bahkan mengaplikasikan Balanced Score Card (BSC). Sebagaimana disampaikan berbagai sumber, BSC merupakan salah satu teknik pengukuran untuk menentukan seberapa efektif aktivitas organisasi, baik bisnis maupun nirlaba. Dalam perkembangannya, BSC dapat juga digunakan untuk mengurai visi organisasi menjadi program kerja yang sistemik.
Organisasi nirlaba, walaupun tidak sama persis, diharapkan mengadaptasi penggunaan BSC dari organisasi bisnis. Hal ini penting agar organisasi nirlaba dapat berjalan, tidak hanya lancar tapi juga berdampak. Jika ini tidak diperhatikan, maka organisasi nirlaba akan kesulitan mendeteksi keberadaan silent killer pada dirinya. Akhirnya perlahan organisasi nirlaba akan menemui akhir sejarahnya.
Lebih jauh terdapat sejumlah aktivitas yang perlu terus dikuatkan di organisasi nirlaba. Salah satunya perkaderan. Sifatnya penting dan mendesak. Hal ini dikarenakan perkaderan merupakan sambung nyawa organisasi.
Dengan pengukuran berbasis BSC, semoga perkaderan sebagai aktivitas dapat ditentukan derajat efektivitasnya. Selain itu dapat ditentukan juga sisi mana yang perlu perbaikan. Sehingga perkaderan terus semakin baik.
Sebagaimana pengukuran BSC pada umumnya, empat sisi aktivitas diukur dengan seksama: Finansial, pelanggan, proses bisnis internal, dan pembelajaran-pertumbuhan.
Adaptasi istilah konseptual perlu dilakukan pada perkaderan. Hasilnya menjadi keuangan, kader, proses, dan murabbi.
Keuangan
Perkaderan sebagai aktivitas membutuhkan uang. Di sisi lain sering sekali organisasi kekurangan uang. Akhirnya efisiensi jadi pilihan.
Dalam hal ini organisasi perlu memprioritaskan pengeluarannya. Diawali dengan menentukan kegiatan yang paling berdampak (leveraging) di bidang perkaderan, tahapan berikutnya adalah menentukan besaran anggaran yang relevan. Penekanan anggaran yang terlalu kuat berpotensi membuat kegiatan kehilangan kualitas. Akibatnya internalisasi nilai sulit terjadi pada kader.
Sementara itu, terkait pemasukan, mobilisasi dana dari kader itu satu opsi yang mungkin dilakukan organisasi. Bahkan mobilisasi dana dari kader bisa jadi ukuran loyalitas kepada organisasi. Asalkan organisasi memberikan timbal balik layanan dan nominal yang dikenakan masih logis, tidak masalah.
Ada satu catatan penting yang perlu dipahami bersama, yakni investasi di bidang sumber daya insani bersifat jangka panjang. Hasilnya tidak bisa kembali seperti investasi keuangan atau usaha. Oleh karena itu dalam mendesain kegiatan, hendaklah output dan outcomenya diperhatikan. Agar kegiatan terhindar dari kesia-siaan keuangan.
Rumusan daftar pertanyaannya kurang lebih sebagai berikut.
Sudahkah ada kajian terkait kegiatan yang paling berdampak?
Bagaimana keuangan mampu mendukung kegiatan tersebut hingga dampaknya optimal?
Seberapa efektif mobilisasi dana dari kader?
Apakah sebuah kegiatan disertai kajian tentang output dan outcome-nya?
Kader
Kader merupakan sasaran sekaligus penggerak berbagai aktivitas perkaderan. Agar ini terjadi, setiap kader perlu memiliki pemahaman sekaligus penghayatan nilai organisasi yang kuat. Sehubungan dengan hal tersebut, seperangkat instrumen pengukuran butuh diadakan.
Hasil pengukuran diharapkan jadi panduan untuk memetakan situasi kader, dalam hubungannya dengan nilai organisasi. Sehingga perbaikan bisa terus dilakukan dengan relatif presisi. Sumber daya tidak terhambur percuma.
Pemetaan persepsi kader kepada organisasi juga tidak bisa dilewatkan. Apabila persepsi yang terbentuk positif, maka sumbangsih kader dimungkinkan besar. Sebaliknya jika tidak, sumbangsih kader mengecil. Pemetaan persepsi kader akan menjadi panduan organisasi untuk menguatkan kecintaan kader kepada organisasi.
Dimensi lain dari kader yang tidak kalah penting adalah kapasitas kepemimpinan serta manajerial. Karena kader pengisi struktur organisasi, dari level nasional hingga kecamatan bahkan desa. Ikhtiar peningkatan kapasitas kader mesti disusun dengan seksama, jika ingin struktur organisasi terpenuhi sekaligus memainkan peran yang optimal di masyarakat.
Rumusan daftar pertanyaannya kurang lebih sebagai berikut.
Sudah adakah instrumen pengukuran tentang internalisasi nilai organisasi pada kader? Bila sudah, pernahkah digunakan? Bagaimana efektivitasnya?
Sudah pernahkah dilakukan pengukuran persepsi kader kepada organisasi? Bila sudah, bagaimana hasilnya? Bila belum, apa kendalanya?
Bagaimana ikhtiar organisasi dalam membangun kapasitas kepemimpinan dan manajerial kader?
Proses
Semakin berkualitas suatu proses, semoga hasilnya juga berkualitas. Demikian pula dengan perkaderan. Selain sebagai aktivitas, perkaderan juga satu proses. Dengan memperbaiki prosesnya, semoga hasil perkaderannya meningka
Beberapa prinsip yang kiranya dicatat dalam merancang proses perkaderan adalah: Panduan manhaj organisasi, andragogi, sinergi, literasi, dan digitalisasi.
Rumusan daftar pertanyaannya kurang lebih sebagai berikut.
Prinsip apa sajakah yang digunakan dalam merancang proses perkaderan?
Apakah prinsip-prinsip tersebut diuraikan dengan sistematis dalam proses perkaderan?
Bagaimana mengukur efektivitas proses perkaderan?
Murabbi
Murabbi merupakan inti aktivitas perkaderan. Sosoknya tidak saja pengajar, tapi juga teladan sekaligus penggerak. Lebih jauh sosoknya juga pemberi arah terhadap seluruh aktivitas perkaderan.
Murabbi tidak hanya hadir di tempat kajian. Bahkan sosoknya hadir di manapun kader berada. Tidak sekedar mendoakan, murabbi juga mendampingi serta menjadi teman bincang.
Lebih jauh murabbi merupakan sosok terdepan dalam merekrut kader baru. Inspirasinya dimudahkan Allah ta’ala untuk mempengaruhi orang lain untuk bergabung dengan organisasi lalu berkontribusi. Ada energi dahsyat dalam diri murabbi.
Mengingat beratnya amanah murabbi kiranya perlu agar kesejahterannya diperhatikan. Sumber keuangan organisasi yang memungkinkan dapat digunakan sebagai penopang kesejahteraan murabbi. Organisasi diharapkan mengeluarkan regulasi terkait perihal ini.
Selain itu wadah diskusi antarmurabbi perlu difasilitasi oleh organisasi. Agar tukar pendapat dan pandangan bisa dilakukan. Sehingga kapasitas murabbi semakin meningkat.
Rumusan daftar pertanyaannya kurang lebih sebagai berikut.
Sudah adakah gambaran sosok ideal murabbi?
Bagaimana langkah-langkah mencapai sosok ideal murabbi?
Bagaimana kesejahteraan murabbi dijamin oleh organisasi?
Bagaimana fasilitasi antarmurabbi berjalan efektif untuk meningkatkan kapasitas murabbi?
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Leaders Talk Forum Zakat yang mengangkat tema “Geopolitik & Masa Depan Zakat” menekankan pentingnya langkah bersama seluruh pemangku kepentingan zakat dalam menghadapi ketidakpastian global.
Forum yang digelar secara daring pada Kamis, 5 Dzulqa’dah 1447 (23/4/2026) itu menghadirkan sejumlah pembicara dari sektor filantropi, akademisi, dan pengamat geopolitik, serta dimoderatori oleh Public Relations BMH Pusat, Imam Nawawi.
Ketua Umum Forum Zakat (FOZ), Wildhan Dewayana, dalam sambutannya menyampaikan bahwa para pimpinan Lembaga Amil Zakat (LAZ) membutuhkan perspektif berbasis data dalam mengambil keputusan strategis di tengah dinamika global yang terus berubah.
“Karena ini tentang bagaimana kita merespon, baik ke dalam maupun keluar. Apakah masih ada peluang, seperti apa dukungan kita untuk Gaza dan Palestina, serta bagaimana kita tetap hadir secara otentik dalam situasi ini,” ujarnya.
Narasumber pertama, Rizky Wisnoentoro, Ph.D., Ketua Program Studi Master of Finance in Sustainable Finance Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), menyoroti kerentanan ekonomi nasional yang dinilai dapat memengaruhi sektor zakat.
“Sebelum perang Iran terjadi, kemiskinan di Indonesia itu sudah rentan. Apalagi sekarang nilai rupiah terus melemah terhadap dolar. Ini bisa memicu penurunan angka muzakki,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa tekanan ekonomi, termasuk potensi peningkatan subsidi energi di luar kapasitas APBN, dapat memengaruhi kemampuan masyarakat dalam menunaikan zakat.
Sementara itu, pengamat geopolitik nasional Pizaro Gozali Idrus menilai tantangan lembaga zakat akan semakin kompleks di tengah perubahan prioritas global yang kini banyak dipengaruhi konflik bersenjata dan tekanan ekonomi internasional.
“Tantangan ke depan berat bagi lembaga amil zakat. Karena fokus dunia pada perang, militer, dan ekonomi,” katanya.
Ia juga menyoroti isu Palestina yang dinilai semakin tersisih di tengah eskalasi konflik global yang terus berkembang.
Narasumber lainnya, CEO Rumah Zakat Irvan Nugraha, menyebut tantangan lembaga zakat tidak hanya terkait isu ekonomi, tetapi juga persoalan kemiskinan, krisis kemanusiaan, dan perubahan iklim.
“Utamanya adalah menghadapi kemiskinan, krisis kemanusiaan, dan juga perubahan iklim,” ujarnya.
Diketahui forum ini menjadi ruang diskusi bagi lembaga zakat dalam membaca dinamika global sekaligus menyiapkan strategi kolaboratif menghadapi tantangan yang berkembang.
BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Naspi Arsyad menegaskan agar penguatan program kelembagaan tidak mengabaikan dimensi spiritual para amil zakat. Pesan tersebut disampaikan dia saat pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Baitulmaal Hidayatullah (BMH) 2026 yang mengusung tema “Transformasi SDM dan Jaringan untuk Akselerasi BMH sebagai Lembaga Zakat Terdepan” di Semarang, Rabu, 4 Dzulqa’dah 1447 (22/4/2026).
Dalam arahannya, Naspi menekankan bahwa percepatan kinerja lembaga zakat harus berjalan seiring dengan penguatan kualitas ibadah individu. Menurutnya, profesionalitas kelembagaan tidak dapat dipisahkan dari fondasi spiritual yang kuat di kalangan para pengelola zakat.
“Jangan sampai amil BMH kuat secara program tetapi lemah secara spiritual. Ibadah tidak boleh terabaikan. Kepala perwakilan harus menjadi pionir dalam ibadah terbaik,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kepala perwakilan memiliki peran strategis dalam membangun kultur kerja yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian program, tetapi juga menempatkan disiplin ibadah sebagai bagian dari kepemimpinan.
Selain aspek spiritual, Naspi juga menyoroti pentingnya menjaga adab dalam membangun hubungan dengan berbagai pihak. Ia menyebut bahwa interaksi yang baik tidak hanya diperlukan dalam hubungan dengan muzakki, tetapi juga dengan seluruh mitra yang terlibat dalam aktivitas kelembagaan.
Menurutnya, adab memiliki keterkaitan dengan kepercayaan publik terhadap lembaga filantropi. Oleh karena itu, pengelolaan hubungan sosial harus dilakukan secara hati-hati dan profesional.
Naspi juga mengingatkan pentingnya menjaga komunikasi yang harmonis dengan organisasi serta menghindari kesimpulan yang terburu-buru yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dalam hubungan kelembagaan.
Di sisi lain, ia mendorong BMH untuk terus memperluas jaringan kerja sama sebagai bagian dari strategi penguatan lembaga. Pengembangan relasi dinilai penting dalam mendukung perluasan manfaat program bagi masyarakat.
Direktur BMH, Supendi, dalam kesempatan sama menjelaskan Rakernas BMH 2026 menjadi forum konsolidasi nasional dalam menyusun arah transformasi sumber daya manusia dan penguatan jaringan kelembagaan. Melalui agenda tersebut, BMH menargetkan penguatan kapasitas organisasi agar mampu menjalankan fungsi penghimpunan dan penyaluran zakat secara lebih luas.
Dia menambahkan forum ini juga menjadi ruang evaluasi dan penyusunan strategi agar BMH dapat memperkuat perannya sebagai lembaga zakat yang memiliki jangkauan pelayanan yang lebih besar di tengah masyarakat.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Organisasi, Dudung Amadung Abdullah, menyerukan masyarakat untuk merespons secara tenang polemik yang muncul terkait ceramah Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, yang sebelumnya dituduh mengandung unsur penistaan agama.
Saat berbicara dalam forum kesaksian para pelaku sejarah deklarasi damai Malino I di Poso dan Malino II di Maluku di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Selasa, 3 Dzulqa’dah 1447 (21/4/2026), Dudung menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan penelaahan terhadap materi ceramah Jusuf Kalla yang disampaikan di Universitas Gadjah Mada. Berdasarkan kajian tersebut, ia menyatakan tidak menemukan unsur pidana sebagaimana tuduhan yang berkembang di ruang publik.
“Menurut hemat kami, setelah kami menelaah apa yang disampaikan oleh Pak Jusuf Kalla di UGM, tidak ada satupun delik yang menunjukkan beliau melakukan penistaan terhadap agama,” ujar Dudung.
Dudung menegaskan perdebatan publik seharusnya diletakkan pada kerangka objektivitas hukum, bukan dorongan emosi yang berpotensi memperluas polarisasi sosial. Dalam konteks hukum Indonesia, dugaan penodaan agama diatur dalam Pasal 156a KUHP yang mensyaratkan adanya unsur kesengajaan dan tindakan yang secara jelas bersifat permusuhan atau penghinaan terhadap agama tertentu.
Sejumlah pakar hukum pidana sebelumnya juga menilai bahwa penafsiran terhadap pernyataan tokoh publik harus dilakukan secara utuh dengan mempertimbangkan konteks pidato, substansi narasi, serta dampaknya di masyarakat agar tidak menimbulkan kriminalisasi terhadap kebebasan berpendapat.
Dudung menilai polemik ini justru harus menjadi momentum memperkuat komunikasi lintas kelompok masyarakat. Ia menekankan pentingnya peran tokoh agama dalam menjaga stabilitas sosial di tengah meningkatnya sensitivitas isu identitas.
“Barangkali sekali lagi ini momen bagi kita untuk sama-sama menenangkan umat kita masing-masing,” katanya.
Seruan tersebut dinilai relevan di tengah tingginya penggunaan media sosial yang sering mempercepat penyebaran potongan informasi tanpa konteks utuh. Dalam situasi seperti ini, kehati-hatian publik menjadi penting agar perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi konflik horizontal.
Di tengah dinamika nasional yang kompleks, menjaga persatuan bangsa tetap menjadi kepentingan bersama. Perbedaan tafsir tidak seharusnya mengorbankan kohesi sosial yang selama ini menjadi fondasi kehidupan berbangsa di Indonesia.
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Dai yang juga pengasuh Kampus Ummulquraa Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, KH Anwari Hambali menyoroti konsep al-‘izzah atau kemuliaan sebagai fondasi moral seorang muslim sekaligus bagi pegiat dakwah agar tidak kehilangan arah perjuangan di tengah perubahan sosial yang semakin materialistik.
Hal itu disampaikan Anwari saat mengisi taujih dalam agenda Silaturrahim Murabbiyah mengangkat tema “Optimalisasi Peran Murabbiyah dalam Kaderisasi” digelar Majelis Murabbiyah Wilayah (MMW) Muslimat Hidayatullah Kalimantan Timur beberapa waktu lalu dan dinukil pada Kamis, 5 Dzulqa’dah 1447 (23/4/2026).
KH Anwari menjelaskan kemuliaan tidak lahir dari status sosial, kekuatan ekonomi, atau pengaruh politik, melainkan dari kualitas relasi manusia dengan Tuhan dan sesama. Ia merujuk pada QS Ali Imran ayat 112 yang menjelaskan bahwa kehinaan akan melekat pada manusia ketika mereka melepaskan pegangan terhadap nilai-nilai ketuhanan dan tanggung jawab sosial.
“Keimanan yang dijaga dalam kondisi sadar dan pilihan akan melahirkan kemuliaan, bukan kehinaan,” ujar KH Anwari.
Ia kemudian menguraikan kisah Bani Israil pada masa Nabi Musa sebagai refleksi historis yang tetap relevan dalam kehidupan modern. Ketika menghadapi tekanan rezim Fir’aun, kelompok tersebut menunjukkan keteguhan iman dan keberanian menghadapi ancaman kekuasaan.
Keteguhan itu, kata dia, menghadirkan pertolongan Tuhan yang tergambar dalam peristiwa terbelahnya laut sebagaimana termaktub dalam QS Asy-Syu’ara ayat 63.
Namun situasi berubah setelah mereka terbebas dari penindasan. KH Anwari menjelaskan bahwa sebagian dari mereka mulai bergeser dari orientasi perjuangan menuju kepentingan konsumsi. Mereka meminta ragam makanan duniawi sebagaimana dikisahkan dalam QS Al-Baqarah ayat 61. Dalam ayat tersebut, mereka meminta gandum, sayuran, mentimun, dan bawang, lalu mendapat teguran keras karena menukar sesuatu yang lebih baik dengan hal yang lebih rendah.
Menurut KH Anwari, perubahan orientasi itulah yang menjadi akar dari adz-dzillah atau kehinaan. Ketika hubungan spiritual melemah, manusia cenderung menggantungkan makna hidup pada kepemilikan materi, kenyamanan, dan simbol status.
“Ketika tali kepada Allah dilepas, maka tali dunia akan mengikatnya. Bisa jadi itu harta, kendaraan, atau berbagai kenikmatan yang melalaikan,” katanya memaknai.
Ia menegaskan bahwa tantangan serupa juga dihadapi organisasi, komunitas sosial, hingga individu pada era modern. Semangat pengabdian dapat bergeser menjadi pencarian kenyamanan pribadi apabila tidak dikawal dengan disiplin nilai.
Karena itu, ajaran Islam menempatkan kaderisasi bukan sekadar proses regenerasi struktural, melainkan upaya menjaga integritas manusia agar tetap berpihak pada nilai, pengabdian, dan tanggung jawab moral di tengah budaya yang semakin menormalisasi orientasi material.
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Tamsil Linrung menerima kunjungan kelembagaan dari jajaran Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah bersama Pemuda Hidayatullah di ruang kerjanya di Jakarta, Selasa, 3 Dzulqa’dah 1447 (21/4/2026).
Rombongan Hidayatullah dipimpin langsung oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad. Dalam pertemuan itu, jajaran pengurus memperkenalkan struktur kepengurusan baru Hidayatullah sekaligus menyampaikan berbagai program yang tengah dijalankan organisasi di berbagai wilayah Indonesia dan luar negeri.
Selain agenda pengenalan kepengurusan, pertemuan juga membahas sejumlah isu yang menjadi perhatian bersama. Diskusi mencakup persoalan ekonomi, peluang kemitraan kelembagaan, hingga pembahasan mengenai isu terkini terkait program MBG. Dalam forum tersebut, program MBG dibahas dengan harapan adanya peningkatan kualitas pelaksanaan dan tata kelola agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Pertemuan berlangsung dalam suasana dialog yang membahas peluang kolaborasi antara lembaga masyarakat dan institusi negara. Agenda tersebut juga menjadi ruang komunikasi untuk menyampaikan pandangan mengenai program-program yang berkaitan dengan pemberdayaan publik.
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Kita baru saja melewati bulan Ramadhan beberapa waktu lalu, bulan yang menghadirkan suasana ibadah yang begitu indah.
Hati terasa lebih tenang dengan dzikir, lisan terbiasa membaca Al-Qur’an, malam-malam hidup dengan tarawih dan qiyamul lail, sementara siang hari dipenuhi dengan kesabaran dalam berpuasa.
Ramadhan telah mendidik jiwa kita. Nafsu yang biasanya liar berhasil dikendalikan. Hati yang sering lalai kembali dilembutkan oleh ibadah. Kita merasakan bagaimana hidup terasa lebih bermakna ketika dekat dengan Allah.
Namun hari ini kita telah berada di bulan Dzulqa’dah, salah satu bulan mulia dalam Islam. Pertanyaannya bukan lagi bagaimana kita beribadah di Ramadhan, melainkan apakah cahaya ibadah itu masih bertahan dalam kehidupan kita hari ini?
Inilah ujian yang sesungguhnya. Banyak orang semangat beribadah pada musim tertentu, tetapi perlahan kembali lalai ketika suasana spiritual berlalu. Padahal keberhasilan Ramadhan bukan terletak pada semarak ibadah selama sebulan, tetapi pada kemampuan menjaga ketakwaan setelahnya.
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan puasa adalah melahirkan ketakwaan. Maka orang yang berhasil adalah mereka yang tetap menjaga kualitas ibadahnya meski Ramadhan telah berlalu.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Tantangan menjaga ketakwaan hari ini jauh lebih berat. Kita hidup di era yang bergerak sangat cepat. Informasi datang tanpa henti. Godaan dunia terbuka melalui genggaman tangan. Kebaikan sering tertutup oleh hiruk pikuk dunia digital yang melelahkan jiwa.
Rasulullah SAW telah mengingatkan tentang masa penuh fitnah seperti yang kita rasakan hari ini. Beliau bersabda:
“Bersegeralah melakukan amal saleh sebelum datang fitnah seperti gelapnya malam.” (HR. Muslim)
Hadis ini mengingatkan bahwa iman dapat melemah jika tidak dijaga dengan sungguh-sungguh.
Karena itu, salah satu nikmat terbesar adalah memiliki lingkungan yang saleh. Berteman dengan orang baik, berada di komunitas yang saling mengingatkan dalam kebaikan, serta berani menegur ketika ada kemungkaran adalah benteng penting bagi keimanan kita.
“Peliharalah dirimu dari azab yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian.” (QS. Al-Anfal: 25)
Ketika masyarakat membiarkan keburukan tumbuh tanpa kepedulian, kerusakan akan meluas kepada semua pihak.
Jamaah rahimakumullah,
Di bulan Dzulqa’dah ini, mari kita jadikan diri kita lebih kuat dalam menjaga takwa. Rawat shalat lima waktu berjamaah di masjid, hidupkan tilawah Al-Qur’an, perbanyak qiyamul lail, perkuat sedekah, dan pilih lingkungan yang menjaga iman kita.
Kita tidak tahu apakah masih dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya. Karena itu, mari kita berupaya menjadikan Dzulqa’dah ini sebagai momentum menjaga api ketakwaan agar tetap menyala.
Semoga Allah menjaga hati kita dalam ketaatan, melindungi kita dari fitnah zaman, dan menutup hidup kita dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) –– Delegasi MyGuide Malaysia melakukan kunjungan ke Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hidayatullah dalam rangka mempererat ukhuwah serta menjajaki kerja sama strategis di bidang dakwah internasional. Kegiatan ini berlangsung di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jakarta, pada Selasa, 3 Dzulqa’dah 1447 (21/4/2026).
Rombongan MyGuide Malaysia dipimpin oleh Nicholas Sylvester dan diikuti oleh Wan Ahmad Nizar Zakaria, Kasim Ali, Azmi, serta Dr. Salina Affendi. Kedatangan delegasi tersebut disambut langsung oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Naspi Arsyad bersama jajaran pengurus pusat yang membidangi pendidikan, dakwah, perkaderan, serta hubungan antarbangsa.
Pertemuan ini membahas sejumlah agenda yang berkaitan dengan penguatan kerja sama lintas negara. Salah satu fokus pembahasan adalah tindak lanjut rencana kolaborasi dakwah di Filipina, yang menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan kegiatan dakwah di kawasan Asia Tenggara.
Selain itu, kedua pihak juga bertukar pengalaman terkait penguatan ekonomi umat sebagai salah satu penopang keberlanjutan aktivitas dakwah.
Perwakilan MyGuide Malaysia menyampaikan bahwa kunjungan tersebut diarahkan sebagai langkah awal dalam membangun sinergi yang lebih luas di tingkat regional.
“Kami berharap pertemuan ini menjadi awal dari kerja sama yang lebih erat dalam menghadapi tantangan dakwah global yang semakin kompleks,” ujar Nicholas Sylvester.
Sementara itu, pihak DPP Hidayatullah menyampaikan kesiapan untuk membuka ruang kolaborasi dengan lembaga internasional dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan pengembangan dakwah dan pemberdayaan umat.
“Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan dakwah sekaligus memperkuat kontribusi umat di tingkat internasional,” disampaikan dalam forum tersebut.
Pertemuan berlangsung dalam suasana dialog yang konstruktif, dengan pembahasan yang mengarah pada penguatan program bersama di masa mendatang.
Kedua pihak menempatkan kerja sama ini sebagai bagian dari pengembangan jaringan dakwah yang melibatkan berbagai negara di kawasan Asia Tenggara.
Agenda ini juga menjadi sarana pertukaran gagasan mengenai pendekatan dakwah yang adaptif terhadap dinamika sosial di berbagai wilayah. Melalui kunjungan tersebut, diharapkan terbentuk koordinasi yang lebih terstruktur dalam pelaksanaan program lintas negara.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Badan Koordinasi Pembinaan Tilawatil Qur’an (BKPTQ) Hidayatullah memperkuat sinergi serta merumuskan langkah strategis ke depan diharapkan mampu menjadi magnet bagi masyarakat luas dalam penguatan pembinaan Al-Qur’an. Penguatan ini digelar dalam forum Rapat Kerja yang dibuka oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Naspi Arsyad secara daring dari Kota Manado pada Sabtu, 1 Zulkaidah 1447 (19/4/2026).
Rapat kerja tersebut menjadi forum konsolidasi pengurus dalam menyelaraskan arah program pembinaan Al-Qur’an di lingkungan Hidayatullah. Kegiatan ini mengusung tema “Berqur’an, Berkualitas, Mandiri, Maju dan Berpengaruh,” yang dirumuskan sebagai orientasi kerja bagi pengurus BKPTQ dalam mengembangkan kegiatan pembinaan tilawah dan pendidikan Al-Qur’an di tengah masyarakat.
Dalam arahannya, KH Naspi Arsyad menekankan pentingnya menjadikan BKPTQ sebagai institusi pembinaan Al-Qur’an yang memiliki daya tarik luas bagi masyarakat. Ia menyampaikan bahwa program yang dihasilkan dari rapat kerja perlu dirancang secara sistematis dan berkelanjutan.
“BKPTQ harus hadir sebagai badan Al-Qur’an yang mampu menjadi magnet bagi masyarakat, terutama dalam mendorong standarisasi bacaan Al-Qur’an yang baik dan benar,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan kualitas tilawah dan pemahaman Al-Qur’an memerlukan program yang konkret serta dapat diukur hasilnya, sehingga pembinaan yang dilakukan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi sistem pembelajaran yang berkelanjutan.
Pengurus Pusat BKPTQ Hidayatullah, Ustadz Muhdi Muhammad, dalam keterangannya juga menegaskan bahwa pembinaan Al-Qur’an memiliki peran penting dalam membangun kekuatan spiritual masyarakat.
“Penguatan pembinaan Al-Qur’an merupakan sarana penting dalam membangun fondasi rohani masyarakat. Melalui pembinaan yang terarah, nilai-nilai Al-Qur’an dapat lebih luas hadir dalam kehidupan umat,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa rapat kerja ini menjadi ruang untuk menyusun langkah strategis yang mampu memperluas jangkauan pembinaan Al-Qur’an di berbagai daerah. Menurutnya, program BKPTQ perlu disusun secara terstruktur agar mampu menghadirkan kegiatan pembinaan yang terorganisasi dan berkelanjutan.
Muhdi menambahkan, rapat kerja tersebut juga menjadi sarana koordinasi antar pengurus dalam menyusun agenda kerja yang selaras dengan visi penguatan pembinaan Al-Qur’an di Indonesia.