DI TENGAH dinamika global yang penuh tantangan, umat Islam dihadapkan pada berbagai persoalan yang menguji persatuan, kepemimpinan, dan keteguhan dalam memegang ajaran agama. Perubahan geopolitik, krisis moral, serta berbagai bentuk ketidakadilan menjadi pengingat bahwa kebangkitan umat tidak dapat diraih hanya dengan kekuatan materi, tetapi harus dibangun di atas fondasi iman, ilmu, dan ketaatan kepada Allah SWT.
Melalui khutbah berjudul “Pilar-Pilar Kebangkitan Umat Islam”, K.H. Dr. Tasyrif Amin, M.Pd.I menguraikan bahwa kebangkitan umat harus meneladani keberhasilan Rasulullah ﷺ membangun masyarakat Madinah. Kepemimpinan yang berlandaskan wahyu, pembinaan umat melalui majelis ilmu, penguatan shalat berjamaah berbasis masjid, serta persatuan dalam menjalankan syariat menjadi pilar-pilar utama dalam membangun kembali peradaban Islam yang mulia.
Dapatkan teks lengkap Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) sebagai pengingat bahwa kemuliaan umat hanya dapat diraih dengan kembali menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidup, memperkuat ukhuwah, dan menghidupkan peran masjid sebagai pusat pembinaan umat.
SERPONG (Hidayatullah.or.id) — Momentum peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2026 yang jatuh pada hari ini, Kamis, 8 Safar 1448 (23/7/2026), dimanfaatkan oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Banten untuk melakukan refleksi dalam rangka menguatkan peran pendidikan pesantren, terlebih ditengah dinamika geopolitik global dan akselerasi teknologi yang menuntut reorientasi radikal dalam penetapan prioritas pembangunan nasional.
Menurut Ketua DPW Hidayatullah Banten, Dadan Abdul Fattah, peringatan Hari Anak Nasional dengan pesan utama “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan” kali ini memberi kompas strategis bahwa kedaulatan sebuah negara di masa depan sangat ditentukan oleh kualitas tumbuh kembang anak-anak hari ini.
“Tanpa investasi yang terstruktur dan terukur pada anak-anak Indonesia, potensi bonus demografi berisiko terdegradasi menjadi bencana demografi,” kata Dadan.
Menurut Dadan, tantangan utama pembangunan manusia adalah ancaman fragmentasi sosial, penurunan kualitas kesehatan mental remaja, serta kerentanan terhadap pengaruh permisif dari luar yang merusak tenun kebangsaan.
Menjawab tantangan ini, Dadan menilai, ide gerakan dakwah inklusif yang sering ditekankan oleh Rais Aam Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad dapat menjadi acuan moral yang menekankan bahwa pembentukan anak yang tangguh mensyaratkan sinergi antara nilai keagamaan yang seimbang (wasathiyah) dan wawasan keindonesiaan yang utuh.
“Anak Indonesia harus dibentuk menjadi pribadi yang rahmatan lil ‘alamin, membawa kemanfaatan luas bagi kemanusiaan dan tanah airnya. Disnilah pesantren menjadi wadah pembentukan generasi masa depan bangsa,” tegas Dadan yang didampingi didampingi Sekretaris Wilayah, Muhammad Irwan, dan Bendahara Gunawan.
Disamping itu, Dadan menerangkan, pesantren hadir sebagai laboratorium sosial yang paling efektif dalam mencetak SDM berkualitas tinggi. Keunggulan komparatif pesantren ini terletak pada sistem pendidikan berkesinambungan 24 jam yang mengintegrasikan penguatan kapasitas kognitif, afektif, dan psikomotorik secara simultan.
“Pesantren mengajarkan nilai-nilai gotong royong, kedisiplinan, keberagaman, dan kepemimpinan secara aktual dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar teori di dalam kelas,” tukasnya.
Dia menambahkan, transformasi pesantren modern di Indonesia saat ini telah membuktikan bahwa penguasaan sains, teknologi, dan bahasa asing dapat berjalan selaras dengan pendalaman spiritualitas. Oleh karena itu, Dadan memandang penguatan ekosistem pesantren sebagai instrumen pembangunan SDM merupakan langkah politik-kebijakan yang rasional dan terukur.
“Mengakui dan memperkuat peran pesantren dalam momentum Hari Anak Nasional 2026 adalah manifestasi nyata dari strategi penyiapan benteng ketahanan nasional, tempat generasi muda dilindungi dari berbagai ancaman zaman sekaligus dibekali keahlian untuk membawa Indonesia bersaing di tingkat global,” tutupnya.
LINGGA (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 13 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Agama Islam (IAI) Hidayatullah Batam resmi diterima Pemerintah Kabupaten Lingga dalam seremoni penyambutan di Ruang Rapat VIP Kantor Bupati Lingga, Kepulauan Riau, Rabu (22/7/2026). Penerimaan tersebut menandai dimulainya misi pengabdian mahasiswa di kawasan pulau-pulau terluar yang masih membutuhkan penguatan pendidikan dan pembinaan keagamaan.
Penerimaan mahasiswa dipimpin Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Lingga, Gandime Diyanto, S.T., M.IP. Turut hadir Tenaga Ahli Bupati Lingga, H. Abdullah, S.Th.I., M.Si., C.EAA., serta Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lingga, Jhoni Indra MS, S.T., M.M.
Selama menjalankan program pengabdian, para mahasiswa akan didampingi Mutawali dan Umair Al Amin.
Dalam sambutannya, Gandime Diyanto mengapresiasi kepercayaan IAI Hidayatullah Batam yang kembali menjadikan Kabupaten Lingga sebagai lokasi pelaksanaan KKN selama empat tahun berturut-turut.
“Kepercayaan ini menjadi kehormatan bagi Kabupaten Lingga. Kami berharap kehadiran adik-adik mahasiswa tidak hanya menjadi bagian dari program akademik, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan ikut mendukung pembangunan daerah melalui pengabdian yang tulus,” ujarnya.
Menurut Gandime, Kuliah Kerja Nyata merupakan ruang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah dalam kehidupan masyarakat. Kehadiran mereka diharapkan mampu memperkuat kehidupan sosial sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan dan pembinaan keagamaan di daerah.
Sementara itu, H. Abdullah menegaskan bahwa fokus utama pengabdian mahasiswa adalah memperkuat pendidikan Islam di tengah masyarakat.
Ia berpesan agar mahasiswa mengajarkan dasar-dasar keislaman, seperti membaca Al-Qur’an, rukun iman, rukun Islam, serta membimbing praktik ibadah yang benar. Di sisi lain, ia mengingatkan agar para mahasiswa menghindari perdebatan khilafiyah yang berpotensi memecah persatuan masyarakat.
“Datanglah untuk menyatukan, bukan mempertentangkan. Jadikan dakwah sebagai jalan menghadirkan kasih sayang, hikmah, dan keteladanan,” pesannya.
Pesan serupa disampaikan Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lingga, Jhoni Indra MS. Ia menilai keberhasilan pengabdian tidak hanya ditentukan oleh banyaknya program yang dilaksanakan, tetapi juga oleh akhlak para mahasiswa selama berinteraksi dengan masyarakat.
“Jagalah adab, sopan santun, dan keramahan dalam menyampaikan ajaran agama. Di mana pun kalian berada, masyarakat akan menerima dengan baik apabila kalian hadir dengan akhlak yang mulia,” katanya.
Adapun lokasi pengabdian mahasiswa tahun ini difokuskan pada kawasan Komunitas Adat Terpencil (KAT), khususnya di kampung-kampung mualaf Selat Kongki, Pulau Buluh, dan Kentar. Ketiga wilayah tersebut berada di kawasan kepulauan dengan akses transportasi yang cukup menantang dan masih memerlukan pendampingan dalam bidang pendidikan serta pembinaan keagamaan.
Pendamping mahasiswa, Umair Al Amin, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Lingga atas dukungan yang diberikan terhadap pelaksanaan program KKN.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Lingga atas sambutan dan dukungannya. Insya Allah mahasiswa akan mengabdikan diri dengan sungguh-sungguh di Selat Kongki, Pulau Buluh, dan Kentar, membawa semangat melayani masyarakat melalui pendidikan dan pembinaan agama,” ujarnya.
Program KKN ini menjadi wujud komitmen IAI Hidayatullah Batam dalam menghadirkan pengabdian yang menjangkau wilayah-wilayah terdepan dan terluar Indonesia. Melalui pembelajaran Al-Qur’an, penguatan akidah, pendampingan ibadah, serta pembinaan masyarakat, para mahasiswa diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata sekaligus mengasah kepedulian sosial sebagai bekal pengabdian kepada umat dan bangsa.
Mengusung semangat “Selamat Datang di Bunda Tanah Melayu”, Pemerintah Kabupaten Lingga berharap seluruh mahasiswa menjadikan masa KKN sebagai momentum mengamalkan ilmu, memperkuat nilai-nilai keislaman, serta meninggalkan jejak pengabdian yang bermanfaat bagi masyarakat di wilayah kepulauan terluar.
Jajaran Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah dalam Musyawarah Majelis Syura: KH. Naspi Arsyad, Lc. (Ketua Umum DPP Hidayatullah), KH. Hamim Thohari, M.Si. (Ketua Pimpinan Majelis Syura) dan KH. Nashirul Haq, Lc., M.A. (Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura). Foto: Muhammad Azka Alfath / Hidayatullah.or.id
JAKARTA(Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menutup rangkaian Musyawarah Majelis Syura yang berlangsung selama dua hari, 21–22 Juli 2026, di Ruang Pleno Gedung Dakwah Hidayatullah Pusat, Jakarta. Sebagai forum permusyawaratan tertinggi organisasi, Musyawarah Majelis Syura menghasilkan sejumlah keputusan strategis yang menegaskan komitmen Hidayatullah untuk memperkuat budaya musyawarah, menjaga disiplin organisasi, serta mendorong percepatan pengembangan Wilayah sebagai salah satu agenda prioritas organisasi.
Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Hamim Thohari, M.Si., dalam sambutan pembukaan menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya Musyawarah Majelis Syura sebagai amanat konstitusi organisasi. Ia mengungkapkan bahwa hampir seluruh anggota Majelis Syura hadir dalam forum tersebut, kecuali dua orang yang berhalangan karena alasan kesehatan.
Hamim menyampaikan bahwa Pemimpin Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad, yang masih menjalani masa pemulihan, menitipkan salam kepada seluruh peserta Musyawarah Majelis Syura. Menurutnya, KH. Abdurrahman juga menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas doa yang dipanjatkan sehingga proses operasinya berjalan lancar. Ia berharap, apabila proses pemulihan berlangsung sesuai rencana, dapat kembali mengikuti Musyawarah Majelis Syura pada kesempatan berikutnya.
“Insya Allah apabila proses pemulihan berjalan sesuai harapan, pada Musyawarah Majelis Syura berikutnya beliau sudah dapat bergabung kembali bersama kita,” ujar Hamim.
Selain itu, Hamim juga menyampaikan salam dari Ustadz Rosyam yang belum dapat menghadiri musyawarah karena masih menjalani masa pemulihan kesehatan.
Disiplin Organisasi Jadi Budaya yang Harus Dijaga
Dalam sambutannya, Hamim menyampaikan sejumlah pesan yang diterimanya dari KH. Abdurrahman Muhammad saat menjenguk beliau beberapa hari sebelumnya.
Pesan pertama adalah apresiasi terhadap budaya organisasi Hidayatullah yang dinilai konsisten menjaga disiplin dalam menjalankan konstitusi organisasi, termasuk penyelenggaraan Musyawarah Majelis Syura secara rutin.
Menurutnya, tingkat kehadiran peserta dalam berbagai forum organisasi hampir selalu berada di atas 90 persen. Hal tersebut dinilai sebagai wujud nyata ketaatan terhadap kepemimpinan dan penghormatan terhadap mekanisme organisasi.
“Budaya ketaatan, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap kepemimpinan harus terus dijaga sebagai bagian dari kultur Hidayatullah yang diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.
Dinamika Organisasi Diselesaikan Melalui Musyawarah
Hamim menjelaskan bahwa dinamika pemikiran dalam organisasi merupakan hal yang wajar selama diselesaikan melalui mekanisme musyawarah.
Ia mencontohkan sikap KH. Abdurrahman Muhammad yang selama ini dikenal selalu mengedepankan musyawarah sebelum mengambil keputusan, termasuk dalam berbagai persoalan strategis organisasi.
“Beliau memberikan teladan bahwa sekalipun dinamika berlangsung cukup kuat, semuanya tetap dapat diselesaikan melalui musyawarah dan saling memahami,” ujarnya.
Dorong Pengembangan Wilayah Khusus Kalimantan
Dalam forum tersebut juga dibahas pengembangan Wilayah Khusus Kalimantan sebagai bagian dari strategi penguatan organisasi di masa mendatang.
Hamim menyampaikan bahwa KH. Abdurrahman Muhammad menyambut baik usulan pembentukan Badan Pengkajian dan Pengembangan Wilayah Khusus Kalimantan. Menurutnya, badan tersebut diharapkan memiliki koridor yang jelas sehingga mampu menjadi solusi bagi seluruh pemangku kepentingan.
Selain aspek kelembagaan, pengembangan wilayah khusus juga diarahkan untuk diperkuat melalui kemandirian ekonomi organisasi.
Salah satu gagasan yang mengemuka adalah pengembangan perkebunan kelapa sawit sebagai basis ekonomi. Konsep tersebut antara lain mendorong setiap Rumah Qur’an memiliki lahan sekitar 10 hektare, setiap kader sekitar 5 hektare, setiap DPD sekitar 10 hektare, dan setiap DPW sekitar 20 hektare.
“Apabila konsep tersebut dapat diwujudkan secara bertahap, insya Allah kebutuhan pembiayaan pendidikan, dakwah, dan berbagai program organisasi akan memiliki fondasi ekonomi yang semakin kuat,” jelas Hamim.
Optimistis dengan Pertumbuhan Pendidikan
Hamim juga menyampaikan kabar menggembirakan mengenai perkembangan pendidikan Hidayatullah di Kalimantan Timur. Di tengah kecenderungan penurunan jumlah santri baru di sejumlah daerah, beberapa pesantren Hidayatullah justru mengalami peningkatan jumlah pendaftar.
Ia menyebut Kampus Gunung Tembak Balikpapan, Bontang, Sangatta, hingga Berau mencatat perkembangan positif. Bahkan, Pondok Pesantren Hidayatullah Berau menutup pendaftaran lebih awal karena kuota santri baru telah terpenuhi.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi modal penting dalam mendukung pengembangan Wilayah Khusus Kalimantan sekaligus memperkuat peran Hidayatullah di bidang pendidikan dan dakwah.
Jajaran Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah dalam Musyawarah Majelis Syura. ( Foto: Muhammad Azka Alfath / Hidayatullah.or.id )
Musyawarah Majelis Syura 2026 kemudian ditutup dengan penegasan komitmen seluruh peserta untuk terus memperkuat budaya musyawarah, meningkatkan kualitas tata kelola organisasi, serta mengakselerasi berbagai program strategis guna mendukung kemajuan dakwah, pendidikan, dan kemandirian ekonomi Hidayatullah.
Sebulan lalu, tepatnya 29 Juni, Ustadz Dr. Muzakkir Usman menuliskan artikel apik dengan pemaparan yang elaboratif tentang perjalanan pendidikan pesantren. Di sisi lain, masih ditemukan sebuah pertanyaan besar di akhir artikel tersebut: ke manakah arah perjalanan pendidikan pesantren, khususnya Pesantren Hidayatullah?
Pertanyaan besar tersebut lahir dari dinamika di berbagai pesantren yang berdampak tidak ringan. Bahkan, sebagian pesantren mulai menunjukkan gejala penurunan, walaupun sebagiannya masih relatif stabil dan terus menguatkan geliatnya sembari meningkatkan kepekaan terhadap potensi turbulensi. Dengan kepekaan tersebut, semoga turbulensi bisa diantisipasi sedini mungkin.
Di sisi lain, lembaga-lembaga pendidikan baru terus bermunculan. Formatnya tidak lagi sederhana dan seragam, tetapi membentuk varian-varian baru, sesuatu yang diorientasikan oleh konsep blue ocean. Akhirnya, kompetisi antarlembaga pendidikan semakin sengit sekaligus rumit. Kompetitor dan kolaborator sulit dipetakan secara jelas.
Di situasi inilah kemudian pesantren, sebagaimana disampaikan oleh Ustadz Dr. Muzakkir Usman, perlu menjawab sebuah pertanyaan penting dan mendasar: ke manakah pendidikan pesantren akan meneruskan perjalanannya?
Sebelumnya, marilah melihat definisi pesantren sebagaimana tercantum dalam UU Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, yakni:
“Lembaga yang berbasis masyarakat dan didirikan oleh perseorangan, yayasan, organisasi masyarakat Islam, dan/atau masyarakat yang menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, menyemaikan akhlak mulia, serta memegang teguh ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin yang tercermin dari sikap rendah hati, toleran, keseimbangan, moderat, dan nilai luhur bangsa Indonesia lainnya melalui pendidikan, dakwah Islam, keteladanan, dan pemberdayaan masyarakat dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.”
Sejumlah unsur, masih dari UU yang sama, harus terlihat dari entitas pesantren: kiai, santri yang bermukim di pesantren, musala atau masjid, dan kajian kitab kuning atau dirasah Islamiyah.
Meskipun faktor kiai, santri mukim, dan lahan merupakan unsur utama pesantren, peluang pesantren memberikan layanan langsung kepada masyarakat tidak menjadi tertutup. Bahkan, UU Pesantren menguatkannya lewat diksi pemberdayaan masyarakat. Sementara secara faktual, pesantren telah memberikan banyak layanan langsung kepada masyarakat di berbagai bidang selain pengkajian agama. Di bidang pendidikan, misalkan, pesantren membuka pendidikan formal. Di bidang dakwah, pesantren menyediakan layanan dai dan mubalig. Demikian pula di bidang ekonomi, pesantren memberdayakan masyarakat lewat banyak kerja sama ekonomi yang sinergis.
Sejalan dengan UU Pesantren, Peraturan Organisasi Hidayatullah Nomor 9 Tahun 2024 menyebutkan beberapa fungsi pesantren: pendidikan dan pengaderan, dakwah dan rekrutmen anggota, kemandirian ekonomi, pemberdayaan sosial, dan mewujudkan komunitas Islam.
Penelitian-penelitian juga memotret aktivitas pesantren dalam memberdayakan masyarakat. Salah satunya penelitian Muhammad Tang (2016) yang menggambarkan peran Ustadz Abdullah Said dalam pemberdayaan masyarakat lewat pendidikan. Ada juga penelitian Imam Nurhadi (2018) yang menggambarkan peran Pesantren Nurul Ulum Munjungan. Tidak ketinggalan penelitian M. Junaidi (2022) tentang strategi efektif pesantren dalam memberdayakan masyarakat.
Berdasarkan seluruh uraian tersebut, maka sebenarnya pesantren, khususnya Pesantren Hidayatullah, telah memiliki arah perjalanan, yakni melayani masyarakat berorientasikan nilai-nilai peradaban Islam. Aktivitasnya bisa sangat beragam, sesuai dengan situasi yang berkembang. Apabila diversifikasi atau ekstensifikasi layanan pendidikan saat ini menjadi bincangan, maka ada baiknya untuk kembali menengok perjalanan pesantren secara menyeluruh. Bahwa diversifikasi layanan pendidikan sudah dilakukan oleh sejumlah pesantren dan tidak ditemukan adanya kendala berarti.
Mungkin permasalahannya bukan pada diperlukan atau tidaknya diversifikasi layanan pendidikan. Akan tetapi, ada masalah lain yang lebih fundamental. Salah satunya adalah kapasitas kepemimpinan dan manajerial.
Hal ini dikarenakan praktik blue ocean membutuhkan kapasitas kepemimpinan dan manajerial yang adaptif sekaligus fleksibel. Bahwa selalu terbuka peluang untuk pesantren beradaptasi dengan perkembangan eksternal tanpa kehilangan jati dirinya. Para pemimpin menjadi pionir sekaligus teladan inspiratif untuk berjiwa adaptif dan fleksibel. Mereka terlihat lebih proaktif, empatik, sistemik, dan efektif.
Tanpa peningkatan kapasitas kepemimpinan dan manajerial di pesantren, diversifikasi layanan berpotensi membuat jerat jebakan yang berbahaya untuk pesantren. Seluruh personel pengelola pesantren akan mengalami gagap peristiwa dan budaya. Tantangan-tantangan baru, jika tidak boleh disebut sebagai masalah baru, bermunculan. Sedangkan antisipasi belum disiapkan. Frustrasi telah terlihat di depan mata.
Terdapat banyak model peningkatan kapasitas kepemimpinan dan manajerial. Hal terpenting yang harus dimiliki oleh para pengelola pesantren adalah apa yang disebut dengan fleksibilitas kognitif, suatu istilah yang menunjukkan kesiapan belajar, terutama di aspek intelektual. Seberapa berat pun tantangan intelektual yang dihadapi, pengelola pesantren berusaha menuntaskannya.
Elegi masa lalu hendaklah dilepaskan. Salah satunya tentang cara lama yang harus terus dipertahankan karena telah menjadi jalan kesuksesan. Pun pembelaan diri lewat ungkapan “kami orang lapangan”, sesuatu yang terdengar heroik, tetapi punya daya bunuh ampuh terhadap potensi kognitif.
Transformasi dibutuhkan oleh para pengelola pesantren, sepelan atau secepat apa pun. Berhenti di satu titik perjalanan pemikiran bukan pilihan bijak. Terus berjalan, bahkan berlari, itulah yang perlu dilakukan.
Berat? Sangat berat.
Semoga beratnya ikhtiar yang dilakukan semakin menambah keyakinan bahwa jalan menanjak sedang didaki. Di puncak sana, ada sesuatu yang indah sedang menunggu. Itulah kebaikan duniawi sekaligus ukhrawi. Demikian arah yang dituju oleh pendidikan pesantren, sebagai jawaban atas pertanyaan: Quo vadis pendidikan pesantren?
KH. Hamim Thohari, M.Si., Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, menyampaikan arahan dalam Musyawarah Majelis Syura yang berlangsung di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta. 21/07/2026. ( Foto: Muhammad Azka Alfath / Hidayatullah.or.id )
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menggelar Musyawarah Majelis Syura selama dua hari, 21–22 Juli 2026, di Ruang Pleno Gedung Dakwah Hidayatullah Pusat, Jakarta. Forum konstitusional tertinggi organisasi tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus merumuskan arah kebijakan strategis dalam menghadapi tantangan dakwah dan pembangunan umat ke depan.
Musyawarah Majelis Syura diikuti jajaran pimpinan Majelis Syura, Dewan Pengurus Pusat, Dewan Murobbi Pusat, Dewan Pakar, serta unsur pimpinan organisasi lainnya. Selama dua hari, peserta membahas berbagai agenda strategis, mulai dari penyampaian laporan Dewan Pengurus Pusat (DPP), Dewan Murobbi Pusat (DMP), dan Dewan Mudzakarah (DM), hingga pembahasan sejumlah isu yang menjadi pijakan pengembangan organisasi pada masa mendatang.
Salah satu isu yang mendapat perhatian dalam forum tersebut ialah pengembangan di Berbagai Wilayah, Khusus Kalimantan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Pembahasan itu diarahkan sebagai bagian dari upaya memperkuat peran Hidayatullah dalam bidang dakwah, pendidikan, kaderisasi, pemberdayaan umat, dan pengembangan kelembagaan di wilayah strategis nasional.
Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Hamim Thohari, M.Si., mengatakan Musyawarah Majelis Syura merupakan wadah untuk mengevaluasi pelaksanaan program sekaligus menyusun arah kebijakan organisasi secara komprehensif agar mampu menjawab dinamika zaman.
Menurutnya, berbagai keputusan dan rekomendasi yang dihasilkan diharapkan semakin memperkuat gerakan dakwah Hidayatullah serta menjadi pedoman dalam pengembangan organisasi di berbagai bidang pelayanan kepada umat.
Hamim menilai perkembangan Hidayatullah dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang positif. Jaringan organisasi terus meluas, amal usaha bertambah, dan aktivitas dakwah berkembang di berbagai daerah. Kondisi tersebut, kata dia, menuntut tersedianya sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki kapasitas kepemimpinan yang memadai.
“Alhamdulillah, Hidayatullah terus eksis, berkembang, dan maju. Jaringannya semakin luas, amal usahanya juga terus bertambah dan berkembang. Kondisi ini tentu menuntut sumber daya manusia yang berkualitas, sekaligus memiliki jumlah yang memadai untuk mengelola dan mengendalikan organisasi beserta seluruh jaringannya,” ujar Hamim.
Ia menegaskan satu dekade mendatang akan menjadi fase penting dalam proses regenerasi kepemimpinan Hidayatullah. Para senior diharapkan semakin berfokus melakukan pendampingan dan mentransmisikan nilai-nilai perjuangan organisasi kepada generasi penerus.
Di sisi lain, generasi muda didorong untuk menghadirkan inovasi dan kemampuan beradaptasi terhadap berbagai perubahan sehingga mampu membawa Hidayatullah semakin maju tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar perjuangan organisasi.
“Intinya adalah melakukan konsolidasi agar seluruh pengurus, kader, dan jamaah tetap solid, sekaligus menyiapkan generasi penerus yang berkualitas,” katanya.
Menurut Hamim, proses regenerasi kepemimpinan telah berjalan dan akan terus diperkuat melalui berbagai program pembinaan kader sehingga semakin banyak generasi muda mengambil peran strategis dalam mengembangkan dakwah dan amal usaha Hidayatullah.
Musyawarah Majelis Syura ditutup dengan komitmen seluruh peserta untuk terus memperkuat budaya musyawarah, menjaga soliditas organisasi, serta mengakselerasi berbagai program strategis guna mewujudkan Hidayatullah yang semakin maju, adaptif, dan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar bagi umat, bangsa, dan negara.
Suasana sidang Musyawarah Majelis Syura Hidayatullah yang berlangsung di Ruang Pleno Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Selasa 21/Juli/2026. Forum ini membahas laporan, evaluasi organisasi, serta berbagai kebijakan strategis untuk penguatan gerakan Hidayatullah. ( Foto: Muhammad Azka Alfath / Hidayatullah.or.id )
Denpasar, Bali (Hidayatullah.or.id) — Soliditas, semangat kolaborasi, dan penguatan spiritual menjadi pesan utama yang disampaikan Ustadz Suwadi, S.Pd.I., Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Provinsi Bali sekaligus Ketua Yayasan Al Islam Hidayatullah Denpasar, dalam silaturahmi bersama Pemuda Hidayatullah Bali, Pemuda Al Irsyad dan Pemuda Dewan Dakwah Bali di Gacoan, Minggu (20/7/2026).
Dalam arahannya, Ustadz Suwadi menegaskan bahwa generasi muda memiliki posisi strategis dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Menurutnya, banyak tugas dan amanah yang hanya dapat dijalankan secara optimal oleh anak-anak muda karena mereka memiliki semangat, energi, serta keberanian untuk mengambil peran dan berinisiatif.
“Anak muda harus menjaga soliditas. Banyak tugas-tugas yang hanya bisa dilakukan oleh anak muda. Karena itu, jangan menunggu, tetapi ambillah peran yang lebih besar dan milikilah inisiatif dalam melihat setiap keadaan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa karakter anak muda yang penuh semangat dan energik harus diarahkan untuk menghadirkan manfaat bagi umat dan bangsa. Semangat tersebut perlu diwujudkan melalui kerja sama dan kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat, khususnya organisasi dan komunitas kepemudaan.
“Teruslah berkolaborasi dalam gerakan-gerakan kebaikan bersama setiap elemen bangsa, khususnya di bidang kepemudaan. Persatuan dan sinergi akan melahirkan kekuatan besar untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” pesannya.
Selain membangun kapasitas kepemimpinan dan kerja sama, Suwadi juga mengingatkan pentingnya fondasi spiritual bagi setiap aktivis muda. Menurutnya, kekuatan ruhiyah merupakan sumber utama ketangguhan dalam menjalankan amanah dakwah dan pengabdian.
“Perkuat spiritual anak-anak muda. Shalat malam adalah milik anak-anak muda. Dari sanalah lahir kekuatan, keikhlasan, dan keteguhan dalam memimpin gerakan kebaikan,” tegas Suwandi.
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan tersebut menjadi momentum mempererat ukhuwah antara Pemuda Hidayatullah, Pemuda Al Irsyad dan Pemuda Dewan Dakwah Bali. Silaturahmi ini diharapkan semakin memperkuat sinergi antarorganisasi kepemudaan Islam dalam menghadirkan berbagai program yang bermanfaat bagi umat, masyarakat, dan bangsa.
BALIKPAPAN(Hidayatullah.or.id) — Guru dan dosen Hidayatullah Ummulqura mengikuti Pelatihan Guru Al-Qur’an Metode Al Hidayah sebagai bagian dari upaya memperkuat kompetensi pengajar sekaligus mendorong standardisasi pembelajaran Al-Qur’an di lingkungan Hidayatullah. Kegiatan berlangsung di Aula Prasmanan Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Jumat (17/7/2026).
Pelatihan menghadirkan Ketua Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al-Qur’an (GranD MBA) Pusat, Ustadz Muhdi Muhammad, yang menekankan bahwa pembinaan Al-Qur’an harus menjadi orientasi utama dalam setiap aktivitas pendidikan di lingkungan Hidayatullah.
“Tujuan kita hidup adalah untuk Al-Qur’an. Jika bukan untuk Al-Qur’an, lalu untuk apa kita hidup,” tegasnya, mengutip pesan Rais ‘Am Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad.
Muhdi juga menjelaskan penguatan kelembagaan pembinaan Al-Qur’an melalui Badan Koordinasi Pembinaan Tilawah Al-Qur’an (BKPTQ) Hidayatullah, yang kini berada langsung di bawah Ketua Umum DPP Hidayatullah. Menurutnya, kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pembinaan Al-Qur’an menjadi salah satu prioritas strategis organisasi.
“BKPTQ sekarang tidak lagi berada di bawah bidang tertentu. DPP memberikan perhatian yang lebih serius dengan menempatkannya langsung di bawah Ketua Umum DPP Hidayatullah. Ini menunjukkan bahwa pembinaan Al-Qur’an menjadi prioritas utama dalam gerakan Hidayatullah,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Bidang I Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan, Ustadz Irwan Budiana, menegaskan bahwa Metode Al Hidayah diharapkan menjadi standar bersama dalam pembelajaran Al-Qur’an di seluruh satuan pendidikan Hidayatullah.
“Kami berharap Metode Al Hidayah menjadi instrumen standardisasi pembelajaran Al-Qur’an di seluruh satuan pendidikan. Hal terbaik yang harus kita miliki adalah pengajar Al-Qur’an yang berkualitas dan memiliki standar kompetensi yang sama,” katanya.
Ia menambahkan bahwa peningkatan kualitas guru Al-Qur’an merupakan faktor penting dalam keberhasilan pembinaan santri.
“Kegiatan ini berkaitan langsung dengan Al-Qur’an dan pembinaan santri. Karena itu, setiap pengajar harus memiliki semangat untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan menjadi teladan dalam mengajarkan Al-Qur’an,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan mampu memahami dan mengimplementasikan Metode Al Hidayah secara optimal sehingga proses pembelajaran Al-Qur’an di seluruh lembaga pendidikan Hidayatullah berlangsung lebih terarah, terstandar, dan mampu melahirkan generasi yang memiliki kedekatan dengan Al-Qur’an.
SAMARINDA(Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Timur memperkuat tata kelola organisasi melalui Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program Kerja Semester I Tahun 2026 sekaligus meluncurkan website resmi HidayatullahKaltim.id sebagai bagian dari transformasi digital organisasi. Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor DPW Hidayatullah Kalimantan Timur, Samarinda, Senin (20/7/2026).
Monitoring dan evaluasi dipimpin Ketua Umum DPP Hidayatullah sekaligus Pendamping Wilayah Kalimantan Timur, KH. Naspi Arsyad, Lc., serta diikuti jajaran pengurus harian dan para kepala departemen DPW Hidayatullah Kalimantan Timur.
Setiap departemen memaparkan capaian program selama Semester I Tahun 2026, tingkat keterlaksanaan program, berbagai tantangan yang dihadapi, serta strategi pelaksanaan pada Semester II.
Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Timur, KH. Hizbullah AS, S.Pd.I., menegaskan bahwa monitoring dan evaluasi merupakan instrumen penting dalam membangun organisasi yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada hasil.
“Monitoring dan evaluasi merupakan ikhtiar untuk menjadikan Hidayatullah semakin maju melalui perbaikan tata kelola organisasi. Kemajuan sebuah organisasi sangat ditentukan oleh sistem pengelolaan yang baik, akuntabel, dan berorientasi pada hasil,” ujarnya.
Menurutnya, budaya evaluasi harus terus dikembangkan agar setiap program yang dijalankan tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi mampu memberikan manfaat nyata bagi organisasi maupun masyarakat.
Sementara itu, KH. Naspi Arsyad mengingatkan pentingnya komitmen seluruh pengurus dalam memastikan setiap program kerja dapat dituntaskan sesuai target yang telah ditetapkan.
“Seluruh pengurus tidak hanya dituntut mampu menyusun program kerja, tetapi juga memiliki komitmen untuk menuntaskan pelaksanaannya. Program yang dijalankan harus menghadirkan dampak nyata bagi umat, bukan sekadar menjadi kegiatan seremonial,” tegasnya.
Ia juga menilai Kalimantan Timur memiliki posisi strategis sehingga membutuhkan pendekatan yang inovatif dalam pengembangan dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
“Kalimantan Timur merupakan wilayah yang sangat strategis. Karena itu, harus memiliki karakter, inovasi, dan keunggulan yang dapat menjadi contoh bagi wilayah lain dalam pengembangan dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan umat,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, DPW Hidayatullah Kalimantan Timur meluncurkan website resmi HidayatullahKaltim.id sebagai media informasi dan publikasi organisasi.
KH. Hizbullah menjelaskan, kehadiran platform digital tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat komunikasi publik, dokumentasi kegiatan, serta penyebaran informasi dakwah secara lebih luas.
“Website ini diharapkan menjadi corong informasi yang menyuarakan nilai-nilai peradaban Islam, memperkuat syiar dakwah Hidayatullah, sekaligus menjadi media komunikasi yang menghubungkan aktivitas dakwah di seluruh Kalimantan Timur,” ujarnya.
Melalui platform digital tersebut, masyarakat diharapkan dapat mengakses informasi mengenai program, kegiatan, dan perkembangan Hidayatullah di Kalimantan Timur secara lebih cepat, akurat, dan terpercaya.
Sebagai tindak lanjut hasil monitoring dan evaluasi, DPW Hidayatullah Kalimantan Timur akan melaksanakan pemantauan ke seluruh Dewan Pengurus Daerah (DPD) dan amal usaha Hidayatullah di Kalimantan Timur. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan setiap program berjalan sesuai sasaran, meningkatkan akuntabilitas organisasi, serta memperkuat budaya kerja yang profesional, efektif, dan berdampak bagi umat.
BALIKPAPAN(Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka menyemarakkan Hari Bhayangkara ke-80, sejumlah pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan melakukan silaturahim dengan Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur (Kapolda Kaltim), Irjen Pol. Endar Priantoro, S.H., M.H., di Markas Polda Kalimantan Timur, Rabu (17/6/2026).
Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara lembaga pendidikan Islam dan Kepolisian dalam mendukung pelayanan kepada masyarakat, ketahanan sosial, serta pembinaan generasi muda.
Rombongan dipimpin Ketua YPPH Balikpapan, Dr. Arfan, didampingi Sekretaris YPPH Masykur, Ketua Bidang Sosial Kewargaan H. Syamsul Ma’arif, Humas Dayat Harja, serta Kepala Hubungan Antar Lembaga Ali Sarwanto.
Dalam pertemuan tersebut, Dr. Arfan menyampaikan apresiasi kepada jajaran Kepolisian Daerah Kalimantan Timur atas berbagai upaya menjaga keamanan, ketertiban, dan kenyamanan masyarakat, termasuk di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak.
Menurutnya, Hidayatullah siap terus membangun kolaborasi dengan Kepolisian dalam berbagai program yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Insya Allah, kami siap bersinergi dengan Kepolisian. Visi besar kita sama, yaitu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat Balikpapan dan Kalimantan Timur,” ujar Dr. Arfan.
Kapolda Kalimantan Timur, Irjen Pol. Endar Priantoro, menyambut baik komitmen tersebut. Ia mengapresiasi hubungan kemitraan yang selama ini telah terjalin antara Hidayatullah dan Kepolisian serta berharap kolaborasi tersebut terus diperkuat.
Selain membahas penguatan sinergi dalam pelayanan masyarakat, Kapolda juga mendorong optimalisasi potensi yang dimiliki Pondok Pesantren Hidayatullah, khususnya di bidang ketahanan pangan.
“Selama ini Polri mendapat tugas mendukung program pertanian jagung. Ke depan kita bisa bersinergi dalam pengembangan budidaya jagung,” kata Endar.
Ia juga mengingatkan pentingnya kolaborasi seluruh elemen masyarakat dalam menghadapi ancaman penyalahgunaan narkotika yang semakin menyasar kalangan remaja.
“Generasi masa depan bangsa adalah tanggung jawab kita bersama. Dibutuhkan pengawasan dari keluarga, pendidikan karakter, serta penguatan wawasan kebangsaan yang dilakukan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Sebagai penutup, kedua pihak saling bertukar cendera mata sebagai simbol komitmen untuk terus memperkuat kerja sama dalam mendukung keamanan, ketahanan sosial, dan pelayanan kepada masyarakat di Kalimantan Timur.