Beranda blog Halaman 343

Islam Menuntun Kita untuk Seimbang Dunia dan Akhirat

ISLAM agama sempurna. Ajarannya mencakup seluruh aspek kehidupan, dan selalu relevan di sepanjang jaman. Demikian juga aturannya, senantiasa selaras dengan fitrah manusia. Di mana secara fitrah manusia memiliki keinginan dan kebutuhan. Semuanya diberikan kesempatan yang sama. Sehingga hal yang berkenaan urusan hidup, ada tuntunan dan panduan yang seimbang antara kehidupan di dunia dan akhirat. Berlaku prinsip dan hukum keseimbangan di dalamnya.

Hal ini ditegaskan dalam Surat Al Qashash ayat 77, Allah ta’ala berfirman:

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Menurut Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam Tafsir as-Sa’di, dijelaskan: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat.” Maksudnya, memperoleh sesuatu yang ada di sisi Allah dan bersedekahlah; dan jangan sekali-kali kamu merasa cukup dengan hanya sekedar memperoleh kepuasan nafsu dan meraih berbagai kelezatan.

“Dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari duniawi”, maksudnya, Kami tidak memerintahmu agar menyedekahkan seluruh harta kekayaanmu sehingga engkau menjadi terlantar, akan tetapi berinfaklah untuk akhiratmu dan bersenang-senanglah dengan harta duniamu dengan tidak merusak agamamu dan tidak pula membahayakan akhiratmu.

“Dan berbuat baiklah,” kepada hamba-hamba Allah, “sebagaimana Allah telah berbuat baik” kepadamu dengan menganugerahimu harta kekayaan ini, “dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi,” dengan bersikap sombong dan berbuat berbagai maksiat terhadap Allah serta tenggelam di dalam kenikmatan dengan melupakan Pemberi nikmat itu. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” Bahkan Allah akan menyiksa mereka atas perbuatan itu dengan siksaan yang paling berat.

Terkait dengan kalimat “dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari duniawi”, Ibn ‘Asyur memahaminya dalam arti “Allah tidak mengecammu jika engkau mengambil bagianmu dari kenikmatan duniawi selama bagian itu tidak atas resiko kehilangan bagian kenikmatan ukhrawi.

Menurutnya, ini merupakan nasihat yang perlu dikemukakan agar orang yang dinasihati tidak menghindar dari tuntunan itu. Tanpa kalimat semacam ini, boleh jadi orang yang dinasihati memahami bahwa ia dilarang menggunakan hartanya kecuali untuk pendekatan diri kepada Allah dalam bentuk ibadah murni semata-mata.

Berdasarkan penjelasan Ibn ‘Asyur di atas, dapat dipahami bahwa seseorang boleh menggunakan hartanya untuk tujuan kenikmatan duniawi selama hak Allah menyangkut harta telah dipenuhinya dan selama penggunaannya tidak melanggar ketentuan Allah swt.

Dalam konteks Qarun, tidak mengapa seandainya ia mau menikmati kehidupan dunia dengan harta berlimpah, akan tetapi ia terlebih dahulu harus menunaikan kewajibannya seperti zakat dan tidak menggunakan kenikmatan tersebut untuk melakukan maksiat.

Keseimbangan yang dimaksud di atas memiliki kata kunci bahwa antara kebahagiaan perkara akhirat dengan berbagai perintah untuk melakukan amal kebaikan yang terkadung di dalamnya, minimal berbanding lurus dengan kehidupan di dunia dengan cara yang halal.

Artinya, tidak ada larangan untuk mencari rejeki sebanyak-banyaknya, namun tetap memperhatikan kehidupan disekitarnya dengan mengeluarkan zakat, infaq, shaqah dan lain sebagainya. Sehingga akan memperberat timbangan kebajikan di akhirat kelak.

Selanjutnya catatan pentingnya adalah ada perintah untuk senantiasa berbuat baik dan larangan untuk berbuat kerusakan di muka bumi. Karena Allah tidak suka dengan orang yang berbuat kerusakan apapun itu bentuknya, dan pasti menghukumnya, cepat atau lambat.

Dengan demikian maka, meskipun diciptakan manusia di dunia untuk beribadah kepada-Nya, dan ini menjadi kewajiban utama manusia. Namun, bukan berarti sepanjang hari mesti diisi ibadah dalam perspektif ritual sebagaimana yang dipahami oleh awam.

Akan, tetapi juga diberikan waktu untuk menikmati dunia secara halal. Dan yang kesemuanya itu juga dapat dikaitkan dengan perspektif ibadah. Karena bekerja itu sesungguhnya juga ibadah. Sedangkan hasil dari kerja itulah yang menjadi bagian dari yang dinikmati. Sehingga keseimbangan dalam kehidupan itu, nyata adanya.

Oleh karenanya, agar kita tidak tergelincir dan tetap berada dalan titik keseimbangan, selayaknya kita perlu menyimak nasihat Salafush Shalih Yahya bin Mu’adz رحمه الله berikut ini:

Wahai manusia…engkau mencari dunia dalam keadaan engkau bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya..dan engkau mencari akhirat dalam keadaan seperti orang yang tidak membutuhkannya (malas-malasan). Padahal dunia sudah mencukupimu walaupun engkau tidak mencarinya, sedangkan akhirat hanya didapatkan dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam mencarinya. Maka pahamilah keadaanmu !?”

Semoga nasihat ini, merupakan pengingat dan panduan kita dalam memaknai keseimbangan, sebagaimana yang telah diberikan Allah ta’ala kepada kita sebagai mahkluknya ini. Selanjutnya kita berussaha untuk dapat mengamalkannya semaksimal mungkin dalam hidup dan kehidupan kita. Wallahu a’lam

Ust Asih Subagyo

Inilah 4 Hal yang Harus Selalu Ditingkatkan oleh para Guru

PALEMBANG (Hidayatullah.or.id) — Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (Wasekjen DPP) Hidayatullah, Ust Abdul Ghofar Hadi, menyampaikan 4 hal yang harus diperhatikan oleh para guru khususnya penyelenggara pendidikan di lingkungan Hidayatullah.

“Sebagai seorang guru harus senantiasa meningkatkan empat hal,” kata Abdul Ghofar Hadi dalam acara pembinaan guru di Masjid Kampus Hidayatullah Palembang, Sabtu, 26 Dzulqaidah 1443 (25/6/2022).

Kegiatan rutin bulanan in dihadiri oleh bapak-bapak, ibu-ibu, dan guru pengabdian dari guru TK hingga guru SMA di Kampus Hidayatullah Palembang.

Adapun empat hal yang harus ditingkatkan, terang Ghofar, adalah, pertama, hubungan yang intens kepada Allah Ta’ala melalui ibadah dan munajat dengan pengharapan yang tinggi untuk kebaikan anak didik kita.

“Para santri yang dididik harus didoakan, diingat wajah, dan disebut namanya. Karena secerdas apapun guru dan sehebat apapun dia tapi jika tanpa doa, ilmunya hambar dan kurang bermanfaat,” katanya.

Beliau menjelaskan, doa adalah bagian dari aqidah dan aktualisasi Tauhid bahwa guru tidak bisa melakukan transformasi ilmu dan nilai tanpa melibatkan Allah.

“Doa juga menghindari putus asa dan menumbuhkan asa atau optimisme. Sehingga seorang guru harus rajin ibadah, dari yang fardhu maupun sunnah. Itu modal berharga sebelum dan sesudah mengajar sekaligus sebagai keteladanan,” katanya.

Kemudian, hal Kedua yang harus dilakukan adalah meningkatkan kemampuan diri sebagai seorang guru. Saat ini, untuk meningkatkan kapasitas diri dapat dilakukan dengan rajin ikut pelatihan, ikut seminar, micro teaching, ata bahkan bisa belajar otodidak dengan lihat Youtube.

“Era sekarang, tidak sulit untuk mengembangkan kemampuan mengajar bagi seorang guru,” kata kandidat doktor pendidikan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau ini.

Dia menambahkan, selain secara mandiri, pemantapan skil juga peru dilakukan pihak yayasan dan sekolah dengan menyelenggarakan program sekolah guru seperti mendatangkan ahli untuk training. “Sangat penting guru terus belajar,” katanya mengingatkan.

Hal Ketiga, lanjutnya, adalah meningkatkan hubungan dengan orangtua murid. Ia menegaskan bahwa kerja sama pendidikan dengan orangtua adalah keharusan.

“Mereka (orangtua) yang banyak memberikan pengaruh. Karena asal darah dagingnya dan banyak waktunya di saat kecil dengan orangtua,” imbuhnya.

Ghofar menjelaskan, semakin dekat hubungan guru dengan orangtua maka itu semakin berdampak positif bagi anak dan pendidikan. Oleh sebab itu Ghofar menekankan pentingnya pihak sekolah melakukan sinergi dengan orang tua, pengadaan program home visit, silaturahim atau acara bersama orangtua.

“Ironis jika komunikasi ke orangtua saat santri saat ketika ada masalah saja. Bahkan ada murid belajar tapi tidak kenal orangtuanya. Padahal mereka senang jika disapa dan dibina,” tukasnya.

Selanjutnya, hal Keempat yang harus dilakukan oleh guru, adalah meningkatkan hubungan di rumahnya. Ghofar mengatakan, suami istri harus kompak terlebih jika keduanya menjadi guru.

“Menjadi guru itu terkadang lelah karena harus disiplin dan banyak yang harus dikerjakan. Dari persiapan pembelajaran, evaluasi, menyiapkan metode, alat peraga, dan laporan administrasi. Semua tiada henti setiap hari. Sehingga kerja sama dan saling pengertian di rumah menjadi penting. Jika guru bermasalah di rumah, sulit konsentrasi di kelas,” jelasnya.

Ghofar menerangkan, sejatinya menjadi guru apa saja berat dan bebannya luar biasa, baik guru pada level pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi.

Kendati demikian, guru itu adalah tugas mulia, peluang mendapatkan amal jariah sangat besar. Karenanya, menurut Ghofar, dari sekian jam guru mengajar, ada beberapa menit yang ikhlas disampaikan maka itu sudah cukup jadi modal amal jariah.

“Dari sekian ratus murid yang pernah diajari, ada beberapa saja yang berhasil dan sholeh. Maka itu juga sudah cukup sebagai amal jariyah,” imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut Ust Abdul Ghofar banyak menceritakan pengalaman menjadi guru dari sejak menjadi mahasiswa hingga mengajar mahasiswa. Ia juga menguraikan beragam dinamika dan kiat kiatnya berangkat dari pengalamannya pernah aktif dalam manajemen pendidikan dari asrama hingga banyak unit pendidikan. Ada romantika, dinamika dan keasyikan menjadi guru.

“Berbahagialah menjadi guru karena nabi diutus salah satunya menjadi guru. Guru bagi para sahabat dan umat untuk mengajarkan risalah Islam ini,” tandasnya. (ybh/hio)

Semakin Beratnya Tantangan Dakwah Kian Nikmat Dijalani

USTADZ Yono dia biasa dipanggil. Nama lengkapnya Ustadz Sriyono. Awal bergabung Hidayatullah di Dumai. Pertama kali diajak oleh Ustadz Afifuddin yang bertugas di Kota Pengantin Berseri itu pada tahun 1998.

Sebenarnya, ia ke Dumai dengan tujuan mengantar istrinya mencari orang tuanya yang sejak kecil umur 18 bulan meninggalkannya di kampung Wonogiri dan tidak pernah pulang. Yang ada hanya surat dan kiriman uangnya.

Lama kelamaan tidak tahan rindu untuk ketemu orang tuanya. Sehingga, dari Wonogiri, ia membawa tiga anak laki-laki yang masih kecil menuju Dumai.

Rumah mertuanya dekat dengan lokasi pesantren. Bahkan ayah mertua menjatahkan khusus untuk masakan para santri yaitu ubi, sayuran, dan juga buah-buahan.

Ia lalu direkrut menjadi guru untuk bersama merintis pendidikan di Hidayatullah Dumai. Merasa ada kecocokan, ia pun menerima tawaran itu. Sebenarnya, sejak kuliah di IKIP Yogyakarta, Ustadz Sriyono sudah membaca majalah Suara Hidayatullah tahun 1988-1992.

Hingga beberapa tahun kemudian, ia berhasil merintis dan mendirikan pendidikan SD dan SMP di Hidayatullah Dumai. Setelah beberapa tahun, beliau bersama istri berniat mengantar temannya pindah tugas ke Hidayatullah Medan. Sekaligus rihlah bersama keluarga.

Rupanya, setiba di Medan, ia ditahan oleh Ustads Ali Hermawan untuk bergabung di Hidayatullah Medan. Tepatnya di Tanjung Marowa. Ia diminta untuk menemani Ustadz Khairul Anam yang baru datang dari Hidayatullah Balikpapan.

Tidak lama di Medan, lalu ditugaskan ke Pulau Nias. Sebuah daerah yang minoritas muslim, hanya 6 % saja. Daerah tempat berdiri Hidayatullah Nias, muslimnya hanya satu KK saja.

Pertama kali datang di Nias kala itu, ada jadwal khutbah di daerah komunitas muslim. Selesai khutbah, Ustadz Sriyono langsung ditarik oleh anak muda keluarga Kepala Desa setempat.

“Mana si Fulan!” tanyanya dengan nada marah dan mengertak.
“Saya tidak kenal dan tidak tahu” jawab Ustadz Sriyono kebingungan.
“Jangan bohong kamu” kata anak muda itu dengan nada masih marah
“Sebenarnya, ada masalah apa dengan dia. Saya petugas yang baru datang dari Medan dan tidak tahu masalah,” tanyanya dengan agak tenang.

Akhirnya anak muda itu mencerahkan panjang lebar. Ustadz Sriyono hanya mengatakan, “berarti kita sama-sama korban dan dirugikan. Mari kita ikhtiar dan doa sama-sama”

Peristiwa yang lebih menegangkan lagi, ketika mau berangkat khutbah Jumat. Ada orang mengetuk pintunya dengan keras dan kasar.

Saat membuka pintu, ternyata, ada tetangga non muslim telah menghunuskan pedangnya. Dengan wajah merah dan berkata, “siapa yang melepas pipa air saya”.

Subhanallah, Ustads Sriyono saat itu tidak ada takut sama sekali. Ia tenang menghadapinya. Salah bicara atau salah sikap sedikit, pedang yang ada di depan matanya itu bisa saja melayang menebas leher.

“Mungkin, bapak yang punya tanah itu. Mungkin lupa beliau mengembalikan pipanya. Kalau tak percaya silahkan bicara dengannya, saya telponkan”

Ustadz Sriyono dengan tenang menelpon orang yang dimaksud. Setelah tersambung, langsung diserahkan untuk langsung bicara.

Ternyata tetangga non muslim tersebut dimarahi karena dianggap bersalah. Sehingga pedang itu turun dan marahnya pun mereda. Selanjutnya orang itu diajak menjadi salah tukang di Pesantren Hidayatullah Nias.

Ada masalah yang tak kalah menegangkan. Santri kelas 3 MTs-nya tidak bisa ikut ujian negara. Sementara tinggal 2 hari dikasih waktu oleh Diknas untuk melengkapi persyaratannya. Uang kas juga tinggal 100 ribu.

Akhirnya, dengan kemampuan yang ada, pagi, siang, sore malam lembur. Berbagai cara ditempuh. Alhamdulillah 8 santri bisa ikut ujian.

Merintis Pendidikan

Ustadz Sriyono datang ke Nias bersama istrinya. Saat itu, belum ada rekan yang bisa membantu. Sementara, ada pendidikan SMP dengan 24 santrinya yang harus tetap berjalan.

Tak ayal, ia pun harus sendirian mengajar tiga kelas. Caranya, kelas 1 dan 2 digabung diberi pelajaran dan tugas. Setelah itu ia pindah ke ruang kelas tiga. Setelah itu, ia kembali ke ruang kelas 1 dan 2. “Terus begitu hingga enam bulan,” katanya kepada penulis.

Ustadz Sriyono melihat kegiatan pendidikan generasi tak boleh terhenti apapun keadaannya. Ia pun memutar otak mencari cara bagaimana ada guru yang bisa membantu. Ia pun menggencarkan silaturahim mendatangi guru lama untuk mengajar kembali. Diyakinkan satu persatu. Akhirnya ada beberapa guru yang mau membantu mengajar.

Masalah belum selesai. Ada beberapa santri minta ijin pindah karena tidak puas dengan pendidikan di Hidayatullah Nias. Ini pukulan berat, sudah bersungguh-sungguh tapi ternyata masih ada yang belum puas.

Akhirnya beliau berkata kepada beberapa santri yang minta pindah itu.

“Begini adik-adik, ustadz tidak melarang atau menghalangi kalian pindah. Tapi kasih waktu ustadz satu tahun ini. Jika tidak ada peningkatan murid, guru, dan kualitas. Maka silahkan adik adik pindah dan mungkin pendidikan akan kita tutup”

Akhirnya kerja keras ustadz Sriyono mencari santri dan meningkatkan pendidikan di Hidayatullah Nias menuai hasil yang cukup menggembirakan. Tahun pertama santri 38, tahun kedua 87, dan terus meningkat pada tahun ketiga 100 lebih santrinya.

Bagi Ustadz Sriyono, bertugas di daerah minoritas itu menarik dan menantang. Salah satu sisi menariknya adalah umat Islam bersatu, kompak, dan tidak ada sekat.

“Jika ada masalah saudara muslim, maka bahu membahu untuk membantu dan menyelamatkannya. Pesantren Hidayatullah senantiasa diminta untuk terdepan menjadi pelopor,” ujarnya.

Seperti sebuah kata mutiara “dibalik laki-laki sukses, ada wanita hebat di belakangnya”. Inilah pula yang dirasakan oleh Ustadz Sriyono yang selalu didampingi istri tercinta dalam setiap tugas dakwah yang dilakoninya.

Istrinya paham dan selalu taat ikut kemanapun tugas. Jika suami berangkat maka ikut berangkat apapun resikonya. Salah satu prinsip kalau pindah tidak perlu repot, cukup membawa baju dan buku. Peralatan yang lain tidak pernah beliau bawa.

Sejak tugas dari Dumai ke Medan, lalu Medan ke Nias kemudian ke Medan lagi. Terakhir, dari Medan ke Palembang juga hanya bawa baju dan buku bukunya saja.

“Metodenya silaturahim ke komunitas muslim dan mengkomunikasikan dengan baik pendidikan dan dakwah Hidayatullah Nias. Perbaiki ibadah dan doa,” kata Ustadz Sriyono mengungkap salah satu kiatnya dalam setiap tugas yang dijalani.

Beliau mengatakan, semakin berat tantangan dakwah maka semakin nikmat dijalani baik itu tantangan lokasi, masyarakat, maupun dinamika yang ada. “Sesulit apapun, semua nikmat insya Allah,” pungkasnya.

ABDUL GHOFAR HADI

Berusaha Sekuat Tenaga Mewarisi Surga

DIMANAKAH tempat kembali kita di akhirat nanti? Apakah kita akan dimasukkan Allah ke dalam surga-Nya, atau justru dijebloskan ke dalam neraka? Pertanyaan semacam ini telah menjadi sumber kerisauan orang-orang shalih sepanjang zaman. Dan, karenanya, mereka berusaha sekuat tenaga untuk mendekatkan diri kepada keridhaan Allah, sehingga Dia berkenan memasukkan mereka ke surga. Sebab, sungguh siksa neraka bukan sesuatu yang bisa dianggap enteng (lihat: Qs. al-Isra’: 57).

Akan tetapi, Nabi pernah bersabda, “Tidak seorang pun dari kalian kecuali pasti memiliki satu tempat tinggal di surga dan satunya lagi di neraka. Jika dia mati lalu masuk neraka, maka penghuni surga akan mewarisi tempat tinggalnya (yang di surga). Inilah yang dimaksud firman Allah: ‘Mereka itulah para pewaris.’” (Qs. al-Mu’minun: 10). (Riwayat Ibnu Majah, dari Abu Hurairah. Hadits shahih).

Sepertinya, ini pulalah yang dimaksudkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Dan bagi orang yang takut terhadap saat menghadap Tuhannya, ada dua surga.” (Qs. ar-Rahman: 46). Surga yang satu adalah hak miliknya sendiri, sedang lainnya adalah hak milik orang lain yang masuk neraka, sehingga diwariskan untuknya oleh Allah.

Jadi, sesungguhnya Allah telah mempersiapkan tempat kembali yang sangat menawan bagi setiap orang diantara kita, di dalam surga-Nya yang abadi. Hadiah itu telah disediakan-Nya setiap kali satu jiwa terlahir ke dunia, dan menunggu untuk diserahkan.

Akan tetapi, pada saat bersamaan, Allah pun telah menentukan satu tempat bagi kita di neraka yang menyala-nyala, menunggu bagaimana kita beramal. Maka, ada diantara kita yang menempuh jalan lurus dan berakhir dalam kebahagiaan abadi, sementara ada kalangan lain yang tersesat dan akhirnya terjerembab dalam kehinaan tanpa akhir.

Allah pun telah menanamkan benih ketaqwaan maupun kedurjanaan dalam diri kita masing-masing, yang memungkinkan kita berjalan ke arah mana pun yang kita sukai. Tentu saja, dengan konsekuensi yang harus kita tanggung di akhirat kelak.

Allah berfirman, “Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka, Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kedurhakaan dan ketakwaannya. Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.” (Qs. asy-Syams: 7-10).

Maka, pada kenyataannya Allah tidak pernah berbuat zhalim bila menyiksa atau memberi anugerah kepada hamba-Nya di akhirat. Sebab, banyak hal telah dipersiapkan-Nya bagi mereka.

Sebelum mereka beramal, Allah telah menanamkan benih-benih dalam jiwanya, entah yang jahat atau baik. Ketika telah beramal, Allah pun mengirim para Rasul dan menurunkan wahyu, untuk membimbing mereka menempuh jalan yang lurus. Dan, di akhirat pun telah disediakan-Nya dua “alamat” tujuan yang jelas: surga atau neraka, untuk setiap individu. Kurang apa lagi? Mana yang kita pilih?

Maka dari itu, Allah seringkali menyitir suasana hati kaum kafir di Hari Kiamat. Mereka diliputi ketakutan dan teror dahsyat, sebab sungguh mereka tahu persis akan kemana tempat kembalinya. Mereka menyadari amal-amal perbuatannya, dan tahu pula apa konsekuensinya. Sedemikian hebatnya ketakutan itu, mereka bahkan bersedia mengorbankan apa saja yang sangat dicintainya di dunia ini, demi menebus serta membebaskan diri mereka dari adzab.

Allah berfirman, “Dan tidak ada seorang teman akrab pun yang menanyakan temannya. Sedang mereka saling memandang. Orang kafir sangat ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari adzab di hari itu dengan anak-anaknya. Juga dengan isteri dan saudaranya. Dan dengan kaum familinya yang melindunginya (di dunia). Dan dengan orang-orang di muka bumi seluruhnya, kemudian (ia berharap agar) tebusan itu dapat menyelamatkannya.” (Qs. al-Ma’arij: 10-14).

Sebaliknya, orang-orang beriman pun sudah sangat tahu mana tempat tinggal mereka masing-masing di akhirat kelak, sebagaimana yang pernah diceritakan oleh Rasulullah:

“Bila orang-orang beriman telah terbebas dari (ancaman) neraka, maka mereka akan ditahan pada sebuah jembatan (yang membentang) diantara surga dan neraka. Lalu, mereka akan saling memaafkan dan membebaskan kezhaliman-kezhaliman yang pernah terjadi diantara mereka semasa di dunia. Maka, apabila mereka telah dibersihkan dan disucikan, mereka pun diizinkan memasuki surga. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh salah seorang diantara kalian lebih tahu mana tempat tinggalnya di surga dibanding mana tempat tinggalnya di dunia.” (Riwayat Bukhari, dari Abu Sa’id al-Khudry).

Walhasil, pada dasarnya setiap individu adalah pewaris. Entah ia mewarisi surga, atau justru mewarisi neraka. Masing-masing telah ditetapkan baginya dua tempat di akhirat; satu penuh kenikmatan, lainnya dijejali dengan siksaan.

Bila kita masuk surga, maka dua tempat telah menunggu kita. Sama halnya, bila seseorang masuk neraka, ia pun mendapatkan dua neraka. Surga warisan, neraka warisan. Tentu saja, kita tidak akan mau diwarisi hal-hal tidak menyenangkan, apalagi neraka yang menyala-nyala.

Maka, beriman dan beramallah, agar keridhaan Allah terlimpah kepada kita, sehingga Dia mewariskan surga kepada kita. Oleh karenanya, di dalam Al-Qur’an Allah mengajarkan kita untuk berdoa, “Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, juga kebaikan di akhirat, dan selamatkanlah kami dari siksa neraka.” (Qs. al-Baqarah: 201). Amin. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Cerita Ustadz Lukman Hakim yang 4 Kali Ketua Wilayah

SOSOKNYA low profile, dengan badannya yang tambun dan dikenal humoris. Suka cerita lucu-lucu tapi kadang bicara serius.

Ustadz Lukman Hakim, alumni STAIL Surabaya tahun 2002. Tugas pertama setelah lulus ke Hidayatullah Bengkulu bersama dengan Ustasz Hasan teman seangkatan.

Awalnya sebagian pengurus yang tidak respek dengan kedatangan mereka berdua. Karena sejumlah alumni STAIL Surabaya yang tugas di Sumatera tidak betah atau pulang pindah ke cabang Hidayatullah lain.

Namun beliau berdua cuek, tetap melakukan pendekatan dan berusaha menjalankan amanah apa saja yang diberikan. Sehingga akhirnya mendapatkan trust atau kepercayaan.

Hingga akhirnya ditunjuk menjadi ketua DPW termuda yaitu di Bengkulu tahun 2005. Saat itu usianya baru 26 tahun. Padahal beliau bukan kandidat, tapi kandidat yang terpilih saat itu yaitu Ustads Ali Hermawan memberikan amanah kepada Ustadz Lukman.

Alhamdulillah amanah menjadi ketua DPW Bengkulu hingga dua periode berturut-turut. Artinya ada prestasi dan kepercayaan.

Tahun 2015-2020 diberikan amanah pindah tugas menjadi ketua DPW Sumatera Utara. Awalnya berat juga karena sudah merasa mapan dan nyaman di Bengkulu, tapi karena tugas maka harus berangkat.

Saat itu sedang menikmati kebahagiaan dengan istri dan anak-anak yang masih kecil. Berangkat tugas ke Medan sambil mengantar anak sekolah di Hidayatullah Batam.

Padahal saat di Bengkulu hendak pindah tugas ke medan dalam posisi menurut orang orang “sedang mapan” rumah, gaji, sertifikasi guru sudah lumayan. Ketika pindah ke daerah tugas itu semua harus rela berpisah dan ditinggalkan.

Karena di Bengkulu sertifikasi Diknas sementara di Medan sekolahnya berafiliasi ke Kemenag. Waktu itu tidak bisa diurus perpindahan sertifikasinya.

Di Sumatera Utara yang awalnya berat membenahi sana-sini, dengan law profile nya bisa membuat tim yang lumayan solid dan program berjalan cukup baik. Berharap ada waktu untuk menyempurnakan, apalagi masa pandemi covid-19.

Ternyata hanya satu periode saja dan ditugaskan kembali menjadi ketua DPW Sumatera Selatan. Padahal Palembang adalah kota yang selama dihindari karena sudah tahu sedikit banyak tantangan dakwah tarbiyahnya yang berat.

Alhamdulillah jiwa kekaderannya tetap ada, meski seberat apapun tugas. Beliau tetap berangkat untuk menjadi ketua DPW keempat kalinya.

Ustadz Lukman pertama kali masuk Hidayatullah Kudus saat masih usia SMA. Waktu itu sedang sekolah di MAN 2 Kudus karena di dalam belum ada pendidikan. Waktu itu ada ustadz Imam Syahid dan ustadz Sholeh Hasyim.

Selain sekolah, juga diamanatkan menjaga toko Amanah milik Pesantren Hidayatullah di kota. Sehingga berangkat ke sekolah jam 06.00 pulang jsm 21.00 karena lamgsung jaga toko.

Sebenarnya tersiksa sekolah di MAN karena bercampur putra dan putri. Bertentangan dengan prinsipnya dan ajaran di Hidayatullah. Maka setelah lulus dan ditawari kuliah di STAIL, semangat dan langsung berangkat.

Ustadz Lukman menikah dengan salah satu guru yaitu ibu Herlina rekrutmen di Hidayatullah Bengkulu alumni PGTK Aisyiah Palembang. Pernikahan cukup sedih juga, karena tidak dihadiri keluarga satupun, mungkin jauh. Hidangannya adalah bersamaan dengan aqidah lahirnya putri ketiga anak ustadz Ali Hermawan.

Alhamdulillah sudah paham dan menguatkan serta lebih nyaman bergabung di Hidayatullah. Walaupun masih baru rekrutmen tapi dalam penghayatan kelembagaan cukup lumayan cepat. Salah satu buktinya siap menemani tugas suami yang cukup berat dan menantang.

Sementara pada umumnya wanita maunya bahagia dan nyaman dengan terpenuhinya fasilitas.

Pengalaman yang terkesan dari ustadz Lukman saat tugas di Sumatera Utara adalah berdakwah di kampung muallaf. Tiba-tiba datang anak muda yang menyampaikan bahwa bapaknya wafat.

Dia ingin bapaknya dimakamkan secara Islam. Tapi saat ditanya, “Apa agamanya bapak?”

” Tidak jelas, pernah masuk Islam lalu Kristen, masuk Islam lagi dan Kristen lagi.”

” Jadi terakhir agamanya apa?”

” Tidak tahu, tapi yang jelas kami ingin dia dimakamkan secara Islam”

Ustadz Lukman bingung juga, lalu diskusi dengan Ustadz Sriyono, rekanya, untuk mencari solusi.

” Begini, kita sama-sama tanya ibu atau istrinya bapak karena dia orang yang paling dekat sehari hari menemaninya” kata ustadz Lukman.

Ketika ditanya istrinya, dia menjawab “Dia Islam ustadz, saat mau wafat sering mengucapkan syahadat dan dia ingin rajin ke masjid”

Akhirnya diputuskan dimandikan, dikafani, dan dikubur secara Islam. Malamnya berkumpul semua tetangganya, Kristen dan Islam bercampur. Mereka membaca Yasin dan tahlil. Yang umat Kristen hanya mendengarkan saja.

Setelah itu, Ustadz Lukman memberikan tausyiah.

“Bapak-bapak, ibu-ibu bahwa agama itu penting untuk dunia dan akherat. Salah satunya biar mudah kalau wafat, mau dirawat Islam atau Kristen”. Itu intinya.

Besoknya ada 8 orang bersyahadat masuk Islam dan minta dikhitan meski sudah berkeluarga, diajari wudhu, dan sholat.

Ustadz Lukman Hakim sudah selesai S2, ingin diakhir umurnya untuk mengajar. Istrinya sedang kuliah S2 dan menjadi Sekretaris Pengurus Wilayah Mushida Sumatera Selatan. Anaknya tiga. Anak pertama sedang belajar di Turki, kedua di Jawa dan ketiga masih di rumah.

Kunci kepemimpinannya adalah merangkul semua pihak, berkomunikasi yang baik dan disiplin musyawarah. Pendekatan sederhana itu yang membuat beliau mudah diterima dan mudah mengembangkan program organisasi.

ABDUL GHOFAR HADI

Hidayatullah Ogan Ilir Tengah Hutan, Sarang Kalajengking

Ustadz Qosim dan Ustadz Agus (Foto: Abdul Ghodar Hadi)

SAAT mobil menyusuri jalan dan menembus kebun sawit. Tapi belum ada tanda-tanda ada lokasi yang akan dituju. Jauh dari kota, baru terlihat papan nama kecil Pesantren Hidayatullah.

Setelah itu mobil masuk gang dengan jalan setapak di tengah hutan. Awalnya ragu salah jalan, namun sekitar dua kilometer. Alhamdulillah sampai kampus Hidayatullah Ogan Ilir.

Subhanallah di tengah hutan, ada Pesantren Hidayatullah yang luasnya dua hektar. Sudah ada bangunan masjid, MCK, asrama 4 lokal dan dua rumah tangga.

Ustadz Qosim sebagai perintis Pesantren Hidayatullah Ogan Ilir mengatakan bahwa tanah ini wakaf dari salah satu pegawai Bank Sumatera Selatan dan Bangka Belitung. Beliau sudah wafat, semoga Allah memberikan ampunan dan pahala kebaikan kepada beliau serta kedudukan yang mulia yaitu surga.

Tanah ini awalnya hutan belantara, sedikit demi sedikit dirintis oleh dua orang saja. Yaitu ustadz Qosim dan Ustadz Agus.

Kewalahan tentunya, belum selesai sampai belakang tapi di depan sudah tumbuh lagi. Menebang pohon-pohon besar, hutan belukar.

Akhirnya menyuruh orang yang menunggu hutan itu untuk menebang pohon-pohon besar dan menjual kayunya untuk upah. Sehingga pekerjaan merintis lebih mudah dan cepat selesai.

Setelah itu membuat gubuk-gubuk untuk tempat tinggal sementara. Beralas karpet plastik, atap seng dan dinding apa adanya. Sekitar satu tahun lebih tidur di situ.

Sebenarnya Ustadz Qosim sudah ada istri dan anak, tapi sementara dikontrakkan rumah. Beliau harus bergantian menemani Ustadz Agus tidur di hutan dan terkadang sama istri. Karena tenaga baru dua orang.

Tidak disadari, ternyata selama ini di bawah alas tidurnya adalah sarang kalajengking ratusan. Bukan kalajengking biasa tapi kalajengking hutan yang besar, ganas, dan berbisa.

Subhanallah Allahu Akbar …

Laa haula wa laa quwwata illa billah, seandainya satu ekor saja kalajengking itu keluar dan menggigit. Maka bisa terkapar salah satu dari mereka.

Selama ini Allah memberikan perlindungan sehingga kalajengking itu tidak merasa terganggu meski ada dua orang tidur di atas sarangnya.

Almarhumah ibunda Aidah Cered pada tahun 2018 pernah berkunjung silaturahim ke kampus Hidayatullah Ogan Ilir. Meski waktu itu baru selesai merintis hutan dan hanya satu bangunan sementara.

Ibunda Aidah Ceret mengapresiasi sajian makan dengan ikan nila. Pelayanan dan semangatnya kader muda Hidayatullah.

Sekarang sudah ada beberapa santri mukimnya. Listrik juga sudah terpasang dari PLN. Meski di tengah hutan. Ini karena doa jamaah dan ikhtiar silaturahim ke muhsinin diantaranya manajer PLN.

Keberadaan Pesantren Hidayatullah Ogan Ilir ini tentu tidak tiba-tiba. Tapi melalui proses panjang. Silaturahim dari pintu ke pintu dengan penuh keyakinan dan munajat yang serius.

Sekarang, ustadz Qosim ditarik menjadi pengurus DPW Sumatera Selatan sebagai kepala Departemen Ekonomi dan Aset. Tugasnya di Hidayatullah Ogan olir diteruskan ustadz Agus Sopyan dan ditemani ustadz Edi.

Ustadz Agus Sopyan alumni SMP Hidayatullah Palembang dan SMA Hidayatullah Medan, istrinya alumni UIN Palembang sebelumnya santri Hidayatullah Palembang. Sedangkan ustadz sempat kuliah di STAIL Surabaya tapi hanya semester lima dan istrinya alumni STIS Hidayatullah Balikpapan.

Berdua dan beberapa santri kecil menyiapkan acara halaqah gabungan. Karena biaya tukang mahal, akhirnya mereka berdua yang menjadi tukang bangunan memperbaiki fasilitas di pesantren.

Subhanallah luar biasa keberanian dua keluarga ini. Menjadi pengurus pesantren di tengah hutan. Di Palembang lagi, yang dikenal murah nyawa dan banyak kriminalitas.

Menurut ustasz Agus, terkadang ada khawatir kalau berdua harus meninggalkan kampus. Tapi mau bagaimana lagi. Sehingga berharap berharap merekrut dan dikirimkan SDI yang menbantu merintis pendidikan di Hidayatullah Ogan Ilir.

Hidayatullah terus melahirkan kader yang memiliki spirit, idealisme, loyalitas dan militansi sebagaimana kader awal Hidayatullah. Salah satunya di Ogan Ilir dan banyak tempat juga banyak kader muda Hidayatullah yang luar biasa perjuangan dan pengorbanan di era sekarang ini.

Abdul Ghofar Hadi

Halaqah Gabungan Hidayatullah Sumatera Selatan dan Jambi

OGAN ILIR (Hidayatullah.or.id) — Kampus Hidayatullah Ogan Ilir menjadi tuan rumah halaqah gabungan Sumatera Selatan dan Jambi. Kegiatan ini dilaksanakan dua hari Kamis dan Jumat, 24-25 Dzulqaidah 1443 (23-24/6/2022).

Halaqah gabungan dilaksanakan setiap tiga bulan sekali. Tuan rumah dipergilirkan secara pergantian di kampus DPD yang ditunjuk dan siap.

Ada motivasi juga dari tuan rumah untuk memperbaiki kampusnya dan memberikan pelayanan kepada saudara-saudaranya. Memberikan motivasi berharga kepada kader-kader dengan sharing pengalaman.

Menurut Ust Lukman Hakim, S.Sos.I, M.H.I sebagai ketua DPW Sumatera Selatan, halaqah gabungan ini sebagai kegiatan yang penting bagi semua anggota, kader dan pengurus Hidayatullah.

“Selain untuk silaturahim juga evaluasi program DPD-DPD,” kata Lukman perihal agenda triwulan ini.

Tema dalam halaqah gabungan ini adalah konsolidasi jatidiri melalui disiplin halaqah. Dia menambahkan, diharapkan setelah halaqah gabungan ini meningkat jumlah anggota halaqah dan lebih semangat berhalaqah.

Dalam halaqah gabungan kali ini mengundang Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah Ust Abdul Ghofar Hadi, S.Sos.I, M.S.I untuk menjadi salah satu pemateri.

Dalam sambutannya, Ghofar mengapresiasi halaqah gabungan ini sebagai kegiatan yang terus dikuatkan. “Ini bagus untuk silaturahim, update dan upgrading kepada seluruh kader Hidayatullah,” katanya.

Agenda ini juga menjadi momen istimewa dalam rangka update informasi perkembangan Hidayatullah secara umum dan secara khusus di daerah-daerah. Selain itu, juga wadah upgrade untuk peningkatan kemampuan dan pengetahuan kader tentang keislaman dan manhaj kelembagaan.

Dalam kesempatan tersebut, Ghofar menyampaikan materi urgensi memahami histori bagi jati diri Hidayatullah. Ia mengatakan, seorang kader tidak bisa memahami jati diri Hidayatullah jika tidak memahami sejarah perjalanan Hidayatullah dari awal hingga perubahannya.

“Fase-fase perubahan Hidayatullah dari awal berdiri hingga tersebar ke seluruh pelosok nusantara harus dipahami. Perubahan dari pesantren, organisasi sosial menjadi organisasi massa,” kata kandidat doktor Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau ini.

Ghofar berharap, dengan beragam program dan kiprahnya, semoga Hidayatullah di Sumatera Selatan dan Jambi bisa terus berkembang dan solid untuk terbangunnya peradaban mulia untuk Indonesia yang maju dan bermartabat.

Selanjutnya materi kedua disampaikan oleh Ust Joko Mustofa, ketua Dewan Murobbi Wilayah Sumatera Selatan dan Jambi. Ia menyampaikan tentang Sistematika Wahyu dalam jatidiri Hidayatullah.

Joko membahas Sistematika Wahyu dari sisi kajian atau dirasiyah, sisi aplikasi atau tatbiqiyah, dan sisi gerakan atau manhajiah.

Peserta halaqah sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini. Meski lokasi Hidayatullah Ogan Ilir jauh dari pemukiman, terletak di tengah kebun sawit. Sulit sinyal internet dan terbatas fasilitasnya. (ybh/hio)

Kapolda Maluku Utara Beri Sembako untuk Santri Hidayatullah

0

TERNATE (Hidayatullah.or.id) — Pesantren Hidayatullah Ternate, Maluku Utara,menerima kunjungan Kapolda Maluku Utara, Irjen Pol. Risyapudin Nursin, S.I.K. dan rombongan pada Senin, 21 Dzulqaidah 1443 (20/6/2022).

Kunjungan tersebut merupakan rangkaian dari peringatan Hari Bayangkara ke 67 yang puncaknya akan berlangsung pada 1 Juli 2022 mendatang.

Dalam sambutannya Risyapudin menyampaikan tujuan kunjungan mereka adalah untuk bersilaturahim sekaligus berbagi kebahagiaan kepada semua penghuni pesantren Hidayatullah. Apalagi saat ini usia Polri sudah memasuki 76 tahun, usia yang tidak muda lagi.

Rombongan Kapolda yang berjumlah sekitar 20 orang tersebut tiba di Pesantren Hidayatullah sekitar pukul 10.45 WITA. Mereka diterima oleh Kepala Pesantren Hidayatullah dan Ketua Yayasan Hidayatullah Maluku Utara, serta sejumlah pimpinan pondok dengan diiringi lantunan shalawat oleh para santri.

Kepala Pesantren Hidayatullah, Dr La Ode Ilman Lc menyampaikan ucapan terima kasih atas kunjungan dan bantuan yang diberikan Polda Maluku Utara kepada para santri Hidayatullah. Bantuan berupa sembako tersebut diterima langsung oleh Ust Sholeh Syukur, Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah Maluku Utara.

La Ode juga menceritakan bagaimana sejarah berdirinya Pesantren Hidayatullah di Maluku Utara dari awal sampai sekarang. Menurut La Ode, negara kita akan berjaya bila semua komponen bangsa bisa bersatu untuk membangun negeri ini, terlebih lagi aparat dan santri.

Acara kunjungan ini berakhir pada pukul 11:30 dan ditutup dengan doa oleh Syaikh Sameeh Aly, seorang muhafiz bersanad dari Yaman, Hadramaut. (Mahladi)

Aziz Qahhar Narasumber Kajian Ilmiah Moderasi Beragama di Timika

TIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Anggota DPD RI 3 Periode yang juga Anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah Dr. H. Ir. Abdul Aziz Qahhar, M.Si, menjadi narasumber dalam kajian ilmiah yang dikemas dalam bentuk talkshow bertajuk moderasi beragama digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mimika bertempat di Aula Cenderawasih Hotel Serayu, Timika, Provinsi Papua, Rabu, 22 Dzulqoidah 1443 (23/6/2022).

Kajian yang digelar menyambut Milad MUI Ke-47 di tahun 2022 ini mengangkat tema sentral “Moderasi Beragama sebagai Perekat dan Pemersatu Bangsa”. Dalam kesempatan tersebut, hadir juga menjadi narasumber Ketua MUI Kabupaten Mimika KH Muhammad Amin.

Pada kesempatan tersebut, Dewan Pembina Yayasan Al-Bayan Hidayatullah Makassar ini memberikan materi tentang moderasi beragama menurut pandangan Islam di hadapan ratusan peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Diawal pemaparannya, Aziz mengatakan masih ada yang keliru dalam memaknai moderasi beragama sebagai menyamakan semua agama atau (pluralisme).

Dalam pengertiannya, pluralisme didefinisikannya sebagai paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan, karena itu, tiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim agamanya saja yang benar sedangkan agama lainnya salah.

Padahal sejatinya, dalam masalah aqidah dan ibadah, umat Islam wajib bersikap eksklusif. Namun, di saat yang sama, sifat eksklusif demikian tidak menghalangi orang Islam untuk berinteraksi secara wajar dengan umat agama lain.

Begitupula sebaliknya, umat selain Islam pun harus bersifat eksklusif dengan meyakini bahwa hanya agamanya yang benar tanpa membatasi diri untuk berinteraksi dengan umat agama lainnya.

“Islam itu adalah ajaran wasathiyah atau ajaran pertengahan. Menjadi umat pertengahan, yaitu tidak ekstrim kanan dan tidak ekstrim kiri,” katanya seraya menukil Al Quran surah Al Baqarah ayat 143.

Menurut Aziz, ada 3 hal yang dapat dijelaskan dalam pengertian wasathiyah sebagaimana termaktub dalam ayat tersebut. Pertama, terang dia, adalah berada di pertengahan. Dan, yang Kedua, adalah menegakkan keadilan.

Aziz lantas menamsilkan sikap pertengahan ini seperti wasit yang harus bersikap adil, berada di tengah tengah, tak berat sebelah, dan tegak lurus hanya tunduk pada kebenaran. Hal ini juga sejalan dengan kata wasit yang berasal dari bahasa Arab.

“Wasit berasal dari bahasa Arab yang diartikan berada ditengah-tengah yang dalam dalam hal ini menegakkan keadilan. Apabila ia sudah tidak berada ditengah-tengah atau hanya cenderung pada salah satu berarti ia sudah tidak “wasit” atau tidak adil,” jelasnya.

Aziz melanjutkan, hikmah wasathiyah Ketiga yang dapat ditarik dari ayat tersebut adalah seruan agar kita menjadi ummat yang terbaik (khairu ummah).

Ia menjelaskan, khairah ummah adalah adalah umat yang adil, seimbang, proporsional, namun di sisi lain tidak longgar atau jadi liberal sekuler dalam pemahaman mendasar berkenaan dengan aqidah dan ibadah.

“Yang harus kita letakkan pemahaman dasar kita di sini adalah jangan sampai pemahaman wasathiyah ini kita tafsirkan terlalu ke kiri, sebab sebagian ummat Islam ada yang sering melebih lebihkan dan ada juga yang mengurangi,” ungkapnya.

Lebih jauh, terang Aziz, berbicara tentang moderasi beragama pasti tidak terlepas dari kata toleransi. Menurutnya, toleransi adalah mutlak dalam Islam sebagaimana dalam surah Al Kaafirun, dan di sisi lain umat Islam harus meyakini agamanya yang unggul dan tidak ada keraguan di dalamnya. Hal ini sesuai dengan apa yang tertuang dalam Al Quran Surah Ali Imaran ayat 19.

“Menurut saya agama Islam adalah ajaran atau keyakinan yang benar. Begitu juga pendapat saudara-saudara kita dari agama-agama yang lain, mereka pasti dan harus mengatakan bahwa agama dan keyakinan yang benar adalah agama mereka,” terangnya.

Jadi, tambah dia, toleransi itu tidak dimaknai tukar menukar agama atau mengikuti ibadah agama orang lain. Namun, toleransi yang benar dan otentik adalah mantap dengan keyakinan agama masing-masing tanpa menghalangi untuk saling berinteraksi, saling menghargai dan menghormati tanpa ada paksaan.

“Dengan manghargai pemeluk agama lain dalam menjalankan dan melaksanakan ibadahnya masing-masing berarti kita telah menjalankan toleransi dan menjalankan moderasi beragama dalam kehidupan kita yang majemuk kita sehari-hari,” katanya.

Dialog ilmiah ini akhirnya usai karena keterbatasan waktu, walaupun peserta masih sangat haus akan meteri yang disampaikan oleh narasumber. Kegiatan diakhiri denga foto bersama dan ramah tamah bersama ormas Islam dan peseta kajian ilmiah.

Peserta undangan yang hadir dari ormas Islam se-Kabupaten Mimika, Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Mimika, organisasi kepemudaan, majelis-majelis Taklim se-Kabupaten Mimika, serta Dewan Kemakmuran Masjid se-Kabupaten Mimika, tokoh agama dan masyarakat.*/Absir

[KHUTBAH JUM’AT] Menempa Iman untuk Lahirkan Maslahat Kehidupan

Alhamdulillah, kita bersyukur kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala penguasa alam raya, penentu segala peristiwa dan pemberi rezeki kepada seluruh makhluk-Nya, sehingga kita bisa sama-sama merasakan nikat iman, Islam, sehat dan persaudaraan dalam nilai dan ajaran Islam. Shalawat dan saam semoga selalu Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang setia.

Teks Khutbah Jum’at kerjasama Korps Muballigh Hidayatullah (KMH), Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai), Pemuda Hidayatullah dan Hidayatullah.or.id, berikut selengkapnya: