JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, bersilaturahmi dengan Pengurus Pusat Ormas Hidayatullah di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah kawasan Cipinang Cimpedak, Jakarta Timur, Jumat, 14 Ramadan 1443 (15/4/2022).
LaNyalla hadir didampingi Staf Khusus Ketua DPD RI Sefdin Syaifuddin, Sekjen DPD RI Rahman Hadi, Deputi Administrasi DPD RI Lalu Niqman Zahir, Staf Ahli Ketua DPD RI Baso Juherman beserta jajaran staf lainnya.
Dari Pengurus Pusat Hidayatullah hadir Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Nashirul Haq didampingi Sekretaris Jenderal Candra Kurnianto. Pertemuan juga dihadiri Dewan Murrabi Pusat Hidayatullah, Dewan Mudzakarah Hidayatullah, unsur Pengurus DPP Hidayatullah, Pengurus Organisasi Pendukung Tingkat Pusat Hidayatullah dan Pengurus Amal Usaha Tingkat Pusat Hidayatullah.
Saat berdialog, LaNyalla memaparkan situasi nasional dan internasional terkini. Salah satunya mengenai bagaimana pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dan Hari Melawan Islamophobia yang telah ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 15 Maret lalu.
LaNyalla juga menyampaikan jika DPD RI memiliki kewenangan yang berbeda dengan DPR RI.
“DPD RI itu hanya pengawasan dan menerima aspirasi. Sementara DPR RI memiliki kewenangan budgeting dan membentuk serta memutuskan UU,” kata LaNyalla.
Senator asal Jawa Timur itu melanjutkan, sejauh ini, katanya, dalam pandangannya DPR RI tidak maksimal memainkan fungsi kontrol terhadap pemerintah.
“Yang terjadi justru partai berkoalisi dengan pemerintah. Maka, kami DPD RI mengambil peran pengawasan terhadap roda pemerintahan,” ujar LaNyalla.
Sebagai wakil rakyat, LaNyalla menegaskan jika saat menjabat, dia disumpah atas nama Allah SWT, untuk menjalankan konstitusi dengan benar. Dimana salah satu tujuan negara ini menurut konstitusi adalah memajukan kesejahteraan umum.
“Artinya saya wajib mewakafkan diri saya untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Dan situasi hari ini, rakyat makin banyak yang tidak sejahtera akibat dampak pandemi dan krisis ekonomi. Itulah mengapa saya melakukan koreksi atas sistem pengelolaan SDA negara ini,” tukasnya.
LaNyalla, menambahkan, konsep pengelolaan SDA mutlak dikembalikan ke sistem ekonomi Pancasila, yang sesuai dengan konsepsi Islam. Dimana SDA adalah public good, bukan commercial good. Yang terjadi sekarang, yang menikmati oligarki. Rakyat tetap kere.
“Kalau kita memikirkan diri sendiri, kita tinggal menikmati saja perpanjangan tiga periode ini. Tapi kita tak mau seperti itu. Sama saja kami ini memperkaya oligarki dan membuat rakyat kita tambah kere,” kata LaNyalla.
Di sisi lain, LaNyalla juga menyinggung soal Hari Anti Islamophobia yang baru saja ditetapkan oleh PBB. Ia meminta pengurus Hidayatullah memassifkan informasi tersebut agar dapat menjadi peringatan yang bermakna bagi masyarakat Muslim dunia.
Sementara Staf Khusus Ketua DPD RI, Sefdin Syaifudin, menyayangkan Hari Anti Islamophobia tak disambut dengan gegap gempita oleh umat Muslim Indonesia.
“Saya kira perlu ada desakan kepada Legislatif untuk diratifikasi menjadi regulasi, meskipun tidak semua kesepakatan internasional itu mutlak diratifikasi,” tegas Sefdin.
Ia juga menyinggung polarisasi yang terjadi di Indonesia. Menurutnya, hal itu imbas dari Presidential Threshold 20 persen dan semakin meruncing sejak Pemilu 2014.
Menurutnta, Presidential Threshold 20 persen tak membuka ruang bagi putera dan puteri terbaik bangsa untuk berkontestasi dalam pemilu.
“Dan hal itu yang menyumbang polarisasi yang sampai hari ini dipelihara. Kita merasakan polarisasi itu sejak 7 tahun yang lalu, tepatnya sejak Pemilu 2014. Sebelumnya, kita tak pernah merasakan hal itu. Presidential Threshold ini adalah kunci masalah polarisasi bangsa ini. Ini juga menjadi concern Ketua DPD RI,” papar Sefdin.
Selanjutnya, dalam hal pengelolaan SDA, Sefdin memaparkan jika menurut catatan Salamudin Daeng, pemerhati masalah energi, hasil produksi batubara nasional mencapai 610 juta ton atau senilai 158,6 miliar dolar atau dalam rupiah menjadi Rp2.299 triliun.
Jika dibagi dua dengan negara, maka pemerintah bisa membayar seluruh utangnya hanya dalam tempo tujuh tahun lunas. Produksi Sawit sebanyak 47 juta ton atau senilai Rp950 triliun, maka jika dibagi dua dengan negara, pemerintah bisa menggratiskan biaya pendidikan dan memberi gaji guru honorer yang layak.
“Kalau dikelola negara sebesar 55 persen, lalu sebesar 35 persen kotraktor yang mengerjakan dan 10 persen untuk masyarakat di sekitar situ, 7 tahun kita bisa bayar utang Rp7 ribu triliun. Itu hanya dari batubara saja, belum lainnya,” ujarnya.
Sementara saat ini, dana yang masuk ke negara dari royalti dan bea ekspor dari sektor mineral dan batubara sejak tahun 2014 hingga 2020, berdasarkan data di Kementerian ESDM, setiap tahunnya tidak pernah mencapai Rp50 triliun.
Hanya di tahun 2021 kemarin, saat harga batubara dan sejumlah komoditi mineral mengalami kenaikan drastis, sehingga tembus Rp75 triliun.
Sementara itu, Ketua Umum DPP Hidayatullah, Nashirul Haq menjelaskan organisasinya sudah sejak 20 tahun lalu menjelma menjadi Organisasi Kemasyarakatan (Ormas). Hidayatullah, Nashirul Haq melanjutkan, memiliki target pada tahun 2025 tersebar di seluruh kabupaten/kota se-Indonesia.
“Tahun 2025 kami menarget sudah ada di seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Kami memiliki jaringan pesantren yang cukup banyak. Jadi, kami ini merupakan ormas yang menggabungkan antara NU dan Muhammdiyah. Muhammadiyah terpusat dengan pendidikan, NU dengan pesantrennya. Hidayatullah seperti itu. Kulturnya pesantren, formalnya sekolah,” papar dia. (hio/lc)
Gambar ilustrasi umat muslim sedang berbuka puasa (Ahmad Ardity/ Pixabay)
SALAH satu sebutan bulan ramadhan adalah syahrut tarbiyah (bulan pendidikan). Menurut para ulama, ramadhan dinamakan sebagai syahrut tarbiyah karena begitu banyak hikmah dan nilai-nilai pendidikan yang dikandungnya.
Oleh karenanya, dalam upaya menyemarakkan ramadhan sebagai syahrut tarbiyah atau bulan pendidikan, sudah barang tentu umat Islam wajib mengisinya dengan kegiatan edukatif, mencerdaskan dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil di dalam Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur, saat menafsirkan QS Al-Baqarah: 183 menyebutkan sebagai madrasah takwa, adapun secara lengkap sebagai berikut:
“Ramadhan merupakan madrasah taqwa, perhatikanlah bagaimana kata taqwa disebutkan diawal ayat dan di akhir ayat diantara ayat-ayat puasa; hal itu karena puasa menjadi salah satu hal yang paling agung untuk mewujudkan ketaqwaan dalam diri seorang hamba, maka hendaklah kita melihat bagaimana pengaruh puasa terhadap ketaqwaan kita kepada Allah baik dalam hal pendengaran dan penglihatan maupun ucapan; agar kita bisa mencapai sebuah tujuan yang mulia : { لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ }.
Sebagai sebuah madrasah, maka sudah barang tentu memiliki tata aturan. Misalkan dalam hal ini syarat masuknya mesti jelas, yaitu orang-orang yang beriman. Demikian juga kualifikasi dan standar kelulusannya juga terukur, yaitu bertakwa. Dimana kesemuanya itu memiliki rujukan yang sangat komprehenshif dan unggul.
Adapun rujukan utamanya adalah Al-Qur’an, As-Sunnah, Sirah Nabawiyah, dan dilengkapi dengan pendapat salafus shalih dan fuqaha yang tertuang dalam kitab-kitab terdahulu hingga kontemporer. Dan demikian halnya dengan seluruh kehidupan umat manusia di dunia. Karena sesungguhnya madrasah ini merupakan kehidupan itu sediri.
Pertanyaannya kemudian adalah, untuk menghasilkan lulusan dan mendapatkan predikat takwa tersebut, kurikulum apa yang harus diajarkan? Hal ini sekaligus untuk menjawab peringatan dari Rasulullah saw, bahwa Iman itu kadang naik kadang turun.
Oleh karenanya, setidaknya ada 8 (delapan) materi pokok, yang mesti ditarbiyahkan (diajarkan) dalam madrasah ramadhan tersebut, yaitu:
1.Tarbiyah ruhiyah (pembinaan spritual)
Ramadhan merupakan media yang kondusif dalam meningkatan kualitas ruhiyah. Karena betapa banyak aktifitas ibadah yang memungkinkan menyertai pelaksanaan shiyam ramahan ini.
Disis lain, pada dasarnya setiap ibadah yang Allah swt perintahkan kepada hamba-hamba-Nya, mengandung ada dua dimensi. Yang pertama merupakan kewajiban diciptakannya manusia dan makhluk lainnya, juga merupakan sarana untuk membersihkan diri manusia itu sendiri dari kotoran dan dosa yang melumuri jiwanya. Sehingga tidak ada satu ibadah pun yang lepas dari arah tersebut. Dan inilah yang mendorong perbaikan ruhiyah.
Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, saat menafsirkan Surat an-Najm: 32 di dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, beliau menjelaskan tentang ( فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ) (maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci). Yakni janganlah kalian mengaku suci dari dosa-dosa, dan janganlah kalian memuji diri kalian bahwa kalian dapat berlepas diri dari dosa-dosa bahkan dari dosa-dosa kecil.
2. Tarbiyah jasadiyah (pembinaan jasmani)
Ibadah puasa tidak hanya membutuhkan pengendalian hawa nafsu. Juga membutuhkan kesehatan dan kekuatan fisik. Hal ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah saw : “Shumu Tashihhu; Puasalah niscaya kamu akan sehat” (HR. al-Thabrani).
Dalam hadis yang lain, Nabi Saw bersabda :”Perut adalah rumah penyakit, dan pengaturan makanan adalah obat utamanya.” (Sahih-Muslim). Sehingga sebgaiman dalam QS al – Baqarah : 183, maka puasa tidak diwajibkan bagi mereka yang kesehatannya tidak prima. Seperti orang tua yang renta, orang sakit, wanita yang sedang hamil tua atau menyusui. Serta orang yang sedang musafir (orang dalam perjalanan). Kesemuanya itu, merupakan keringanan (rukhsah) bagi mereka.
3. Tarbiyah tsaqofiyah (pembinaan wawasan)
Sebagaimana diketahui bahwa islam itu bukan hanya untuk suku bangsa tertentu, akan tetapi untuk seluruh umat manusia dan seluruh alam (kafatan linnas wa rahmatan lil ’alamin). Sehingga Ramadhan merupakan sarana untuk itu, dengan menggali imu pengetahuan dari sumber utamanya, yaitu al-Qur’an.
Sebagaimana diperintahkan dalam surat pertama yang turun (dan ini di bulan ramadhan), QS al-Alaq ayat 1: iqra’ bismirabbik. Dimana kata Iqra’ dalam kamus memiliki beragam macam makna; menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan beberapa makna lainnya.
Dan, lebih ditekankan lagi bahwa proses ber-iqra’nya harus atas nama Tuhan yang menciptakan. Sehingga wawasan yang dilahirkan memiliki pijakan yang kokoh.
4. Tarbiyah ijtima’iyah (pembinaan sosial)
Yakni menumbuhkan kesadaran umat bahwa kita adalah makhluk sosial yang pasti membutuhkan bantuan orang lain. Sehingga terciptalah jaringan sosial berupa kepekaan dan kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.
Memiliki jiwa kepedulian dan solidaritas yang kuat kepada sesama. Sebab bagi seorang muslim, hendaknya tidak saja cerdas dalam berfikir tetapi juga memiliki rasa kepedulian yang diantaranya ditunjukkan dengan kecakapan interaksi dalam bersosialisasi dan kemampuan memahami, berempati, dan peduli terhadap berbagai keadaan ditengah masyarakat .
Beberapa kegiatan yang dilakukan misalnya kegiatan bakti sosial, penggalangan dana untuk korban bencana, saling berbagi makanan, saling berkunjung, dlsb.
Dalam tafsir As Sa’di, saat menasfirkan QS al-Maidah ayat 2, berkenaan dengan wa ta’āwanụ ‘alal-birri wat-taqwā adalah sebagai berikut:
“Maksudnya, hendaknya sebagaian dari kamu membantu segaian yang lain dalam kebaikan. Kebajikan adalah nama yang mengumpulkan segalan perbuatan, baik lahir maupun batin, baik hak Allah maupun hak manusia yang di cintai dan diridhai oleh Allah.. Setiap perbuatan baik yang di perintahkan untuk dikerjakan atau setiap perbuatan buruk yang diperintahkan untuk dijauhi, maka seorang hamba diperintahkan untuk melaksanakannya sendiri dan dengan bantuan dari orang lain dari kalangan saudara-saudaranya yang beriman, baik dengan ucapan atau perbuatan yang mamacu dan mendorong kepadanya”.
5. Tarbiyah khuluqiyah (pembinaan akhlak)
Puasa juga mendidik manusia untuk memiliki akhlak yang mulia dan terpuji. Sabar dan jujur seta tegar terhadap segala ujian dan cobaan. Tentang hal tersebut, Rasulullah Muhammad SAW bersabda dalam hadistnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a:
“Apabila seorang dari kamu sekalian berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan berteriak. Bila dicela atau dimusuhi orang lain, katakanlah, aku ini sungguh sedang berpuasa,”.
Dalam tafsir al Wajiz, Prof. Dr. Wahbah Azzuhaili, saat menafsirkan Surat al-Qalam ayat 4, wa innaka la’ala khuluqin adhim adalah:
“Sesungguhnya kamu wahai Rasulallah benar-benar berakhlak mulia karena engkau dididik oleh Tuhanmu dalam Al-Quran. ‘Aisyah RA ditanya mengenai akhlak beliau (sebagaimana ditetapkan dalam hadits shahih), lalu dia menjawab: “Sesungguhnya Akhlak beliau adalah Al-Quran. Tidakkah kamu membaca Al-Quran ayat {Qad aflahal mu’minuun} [Al-Mu’minun 23/1] sampai sepuluh ayat?”
6. Tarbiyah iqtishodiyyah (pembinaan ekonomi)
Umat harus sadar bahwa ekonomi sangat berpengaruh pada dakwah Islam. Sehingga kurikulumnya diarahkan kepada kemandirian ekonomi dan pendidikan cerdas finansial yaitu dengan memberikan pendidikan kepada umat.
Pendidikan ini bertujuan untuk membina kemampuan umat dalam mengelola keuangan, memberi kesadaran akan peranan ekonomi di bidang pembangunan, produksi, dan ivestasi serta memberi pengetahuan problematika ekonomi umat. Dimulai dengan bermu’amalah sesama umat baik dalam bentuk musyarakah maupun mudharabah, sehingga terjadi pemerataan ekonomi.
Dalam hal ini As-Sa’di saat menafsirkan Surat al Hasyr ayat 7 tentang supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu, adalah:
“Sebab andai Allah tidak menetapkan ketentuan di atas tentu hanya orang-orang kaya saja yang akan memutarkan uang dan orang-orang lemah tidak akan mendapatkan sedikit pun, yang mana hal itu akan menimbulkan kerusakan yang hanya diketahui oleh Allah. Sebagaimana dalam mengikuti perintah dan syariat Allah yang tidak termasuk dalam pembatasan di atas juga termasuk maslahat”.
7. Tarbiyah jihadiyah (pembinaan jihad)
Puasa juga merupakan sarana dalam menumbuhkan semangat jihad dalam diri ummat. Terutama jihad dalam memerangi musuh yang ada dalam jiwa setiap muslim, mengikis hawa nafsu, dan berusaha menghilangkan dominasi jiwa yang selalu membawanya kepada perbuatan yang menyimpang.
Tentang hal tersebut, Allah SWT berfirman :” Barang siapa yang bersungguh sungguh di jalan Kami, maka Kami akan tunjukkan jalan – jalan Kami (jalan yang lurus”, (QS. 29 ayat 69).
Selain itu yang dimaksud dengan jihad juga memeiliki dua dimensi, yaitu jihad bil amwal (harta) dan jihad bil anfus (jiwa). Banyak ayat yang menerangkan tetang ini seperti: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar” (QS. Al-Hujurat [49]: 15).
8. Tarbiyah Qiyadiyah (pembinaan kepemimpinan)
Dengan puasa, umat disadarkan atas pentingnya kepemimpinan. Dalam kepemimpinan juga terkandung ketaatan. Sehingga, umat diajarkan untuk memiliki kecakapan leadership. Dengan demikian mereka akan mampu menjadi pribadi yang bijak dalam memimpin dan bisa menjadi uswah bagi para anggotanya. Demikian juga bisa menjadi rakyat (umat) yang bisa untuk dipimpin.
Sebab ada kaidah yang mendasar untuk memahami kepemimpinan ini sebagaimana sebagaimana sabda Rasulullah saw. “Sebaik-baiknya pemimpin adalah mereka yang kamu cintai dan mencintai kamu, kamu berdoa untuk mereka dan mereka berdoa untuk kamu. Seburuk-buruk pemimpin adalah mereka yang kamu benci dan mereka membenci kamu, kamu melaknati mereka dan mereka melaknati kamu.” (HR Muslim).
Maka sudah selayaknya kurikulum madrasah ramadhan ini bisa dielaborasi dan dikembangkan lagi lebih sempurna. Selanjutnya bisa diturunkan dalam tujuan intsruksi umum dan tujuan instruksi khusus yang memadai dan disesuaikan dengan realitas kehidupan yang ada.
Sementara itu, setiap kita adalah guru sekaligus muridnya. Metode bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.
Selanjutnya aktifitas madrasah ini dimulai dari setiap pribadi, di keluarga-keluarga, di surau-surau, di mushala-mushala, di masjid-masjid dan terus membesar menjadi madrasatul alam, maka in Syaa Allah akan mengahilkan lulusan madrasah ramadhan sebagai insan kamil. Dan pada gilirannya akan mengubah peradaban dunia yang rahmatan lil ‘alamin.
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Jamaah masjid dibuat heboh bakda ashar itu. Pemicu kehebohan itu adalah seorang pria keturunan Tionghoa. Suasana sore selepas siang yang biasanya relatif tenang, kali ini sempat “bikin tegang”.
Di atas podium, seorang kiai berdiri, “mencari-cari” pria bermata sipit itu. Umat Islam setempat yang baru saja selesai shalat, dibuat terperanjat.
Kejadian bermula dari “tingkah” seorang remaja asal Mahakam Ulu (Mahulu), sebuah Kabupaten berpenduduk mayoritas non-Muslim di Kalimantan Timur.
Jumat sore, 6 Ramadhan 1443 H (08/04/2022) itu, terungkap, ada seseorang misterius yang mengirimkan surat kepada sang kiai.
“Beberapa hari lalu saya baca Al-Qur’an, pas saya buka (mushaf) eh ternyata ada (terselip) surat,” ungkap KH Abdurrahman Muhammad, Pemimpin Umum Hidayatullah, di Masjid Ar-Riyadh, Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim.
Jelas saja pengakuan itu membuat kaget jamaah shalat ashar. Bisa jadi ada yang tegang menerima info pengiriman surat misterius itu.
Ini “peristiwa” langka di lingkup Pesantren Hidayatullah. Berani-beraninya ada orang mengirimkan surat secara misterius kepada Pemimpin Umum, ada apa? kira-kira begitu mungkin kekhawatiran di benak jamaah.
Surat itu diketahui memang tanpa disertai identitas nama pengirim sama sekali. Di dalam kertas itu, sang pengirim surat menyampaikan satu permintaan kepada sang kiai. Begitu mendengar permintaan itu, jamaah di masjid malah tertawa.
“Terus dia ada bilang begini, ‘kalau sekiranya berkenan bolehkah ustadz memberikan saya syal’,” tutur Kiai Abdurrahman membuat jamaah tergelitik.
Ternyata isi suratnya “tidak jadi bikin tegang”. Tapi tetap saja mengundang kehebohan. Bagaimana tidak, sorban yang sudah menjadi ciri khas sang kiai itu ingin dimiliki oleh pengirim surat misterius itu.
Lalu bagaimana tanggapan Sang Kiai? Apakah ia berkenan langsung memberikan sorbannya?
Alih-alih begitu, Kiai Abdurrahman justru sempat merasa bingung, makhluk apa itu syal, hehehe…. Sesaat setelah membaca surat itu, tuturnya, ia menanyakannya kepada beberapa orang santri, ternyata juga tidak tahu.
“Saya tidak tahu syal itu apa, karena tulisannya juga agak susah dibaca, saya panggil santri suruh dibaca ulang, baru saya tanya syal itu apa?” ceritanya, menambah kehebohan jamaah.
Kemudian, lanjut ceritanya, salah seorang santri lain yang ditanya, berkata, “Sorban ini kayaknya (yang dimaksud syal), ustadz,” lanjut Kiai Abdurrahman sembari tertawa kecil.
Setelah paham maksud pengirim surat itu, sang kiai segera menuruti permintaannya. Sorban yang akan diberikan kepada pengirim surat itu pun segera disiapkan.
“Saya sudah taruh (sorbannya) di atas situ (tempat Al-Qur’an, red), sudah 2 hari, tapi ndak diambil-ambil, saya rasa dia malu,” ujar Kiai Abdurrahman menduga.
Lalu ia kepikiran membikin surat balasan ke pengirim surat itu. “Baru saya taruh juga di dekat situ (tempat Al-Qur’an). Tapi saya pikir dia pasti tambah malu lagi, jadi saya batalkan,” tambahnya lagi-lagi membuat jamaah tergelitik.
Setelah lama menceritakan kejadian unik itu di atas mambar, Kiai Abdurrahman pun bertanya kepada publik Masjid Ar-Riyadh. Siapa gerangan yang merasa menulis surat itu?
Pantauan hidayatullah.com, tidak seorang pun yang mengakuinya. “Silakan ambil (sorban itu),” ujar Kiai. Belum ada yang mengaku.
Jurusnya pun dikeluarkan. Kata Kiai Abdurrahman, kalau nanti tidak ada yang mengaku mengirim surat itu, siapa saja boleh mengambil sorban darinya itu.
Sontak saja, seorang santri tampak mengangkat tangan dengan malu-malu. Sikapnya pun disambut tawa kagum oleh jamaah atas keberaniannya.
Singkat cerita, bakda ceramah sekitar 1 jam, sang santri itu pun menemui Kiai Abdurrahman di dekat mimbar. Sang kiai lantas memberikan hadiahnya kepada pengirim surat misterius itu.
Siapa Santri itu?
Santri pemberani itu adalah Lucky Karl Farrel Salim (17 tahun). Kedua orang tuanya juga Muslim. Ayahnya keturunan China, ibunya bersuku Mandar. Saat ditemui hidayatullah.com, santri kelas 4 Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH/1 MA) Balikpapan ini tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya.
Bagaimana ceritanya kok terpikir mengirim surat ke Pemimpin Umum Hidayatullah?
“Saya pengen pulang kampung, mau berdakwah, membantu Ustadz Taufik, cuman saya pengen dapat berkahnya dari yang paling tinggi (di kepemimpinan Hidayatullah). Makanya saya nekat tulis surat terus saya sempilkan di Al-Qur’annya Ustadz Abdurrahman Muhammad,” tutur Lucky.
Paginya, sehari setelah mengirim surat itu, kata Lucky, sang kiai membaca surat tersebut. Tak lama kemudian, Lucky menanti jawaban dari surat itu. Ia sempat bertanya-tanya, kenapa sorban yang dimintanya tak kunjung ditaruh di tempat sebagaimana isi surat tersebut. Apakah permintaannya tidak diterima.
“Sekalinya (sorban itu) ditaruhnya di dalam bungkusan, jadinya saya gak tahu,” tuturnya, menyebut alasannya telat mengambil hadiah tersebut.
Lucky menulis tangan surat kepada Pemimpin Umum Hidayatullah dalam secarik kertas putih bekas yang sudah tidak utuh. Surat itu masih tersimpan di dalam bungkusan hadiah yang diberikan sang kiai. Pengamatan hidayatullah.com, isi surat itu begini:
“Assalamualaikum Wrwb, Bapak Pimpinan Umum. Saya santri SMH ingin minta izin bolehkah minta syalnya. Saya gak berani ngomong langsung. Pengen banget syalnya Pimpinan (untuk) pergi berdakwah ke Mahakam Ulu bantu Ustadz Taufik.Jika Ustadz berkenan, tinggalkan syal itu di tempat namun jika tidak juga gak papa J. Assalamu’alaikum.”
Rupanya, masih pada kertas yang sama, Kiai Abdurrahman telah membalas permintaan itu dengan menulis sepenggal kalimat di bawahnya. Sang kiai menulis:
“Saya tidak mengerti apa yg dimaksud dan sudah tanya beberapa orang juga tidak mengerti,” jawaban sang kiai disertai parafnya.
Rupanya lagi, di halaman baliknya, Kiai Abdurrahman juga telah menuliskan pesan untuk Lucky. Begini pesannya:
“Tidak mengapa sampaikan langsung kepada saya”. Juga disertai paraf Kiai Abdurrahman. Ia berharap santri tak perlu segan menemuinya langsung jika ada hajat dengan dirinya.
Selain sorban merah, sang kiai menambahkan hadiah lain dalam bungkusan itu, yaitu selembar sarung.
“Alhamdulillah,” ungkap Lucky senang. Sehari sebelum meninggalkan Gunung Tembak untuk liburan sembari berdakwah, permintaannya dikabulkan Allah lewat hadiah pemberian Kiai itu.
Sebagai informasi, nama seseorang yang dimaksud di dalam surat itu adalah ustadz muda Muhammad Taufik. Dai Hidayatullah yang telah bertahun-tahun berdakwah di Mahulu. Lucky merupakan salah seorang santri binaan Taufik.*
SUKABUMI (Hidayatullah.or.id) — Ma’had Tahfizh Al Qur’an Al Humaira Hidayatullah menggelar acara penyerahan sertifikat tahfidz 30 juz dan pembagian raport yang digelar di Aula Kampus Ma’had Tahfizh Al Qur’an Al Humaira Jl. Raya Cikukulu, Talaga, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Kamis, 12 Ramadhan 1443 (14/4/2022).
Acara ini dihadiri oleh Ketua DPD Hidayatullah Kabupaten Sukabumi Ust. Fakhruddin Rifa’i beserta jajaran pengurus DPD Hidayatullah Kabupaten Sukabumi dan Ust. H. Naspi Arsyad selaku Direktur Ma’had Al Humaira.
Dalam sambutannya, Naspi Arsyad menyampaikan rasa syukurnya atas keberhasilan santri-santri Al Humaira yang berhasil menuntaskan hapalan 30 juz-nya.
“Duduk menghapal Al Qur’an itu tidak mudah. Tidak semua orang diberi kesabaran oleh Allah untuk melakoninya. Apalagi menghapal 30 juz, hanya orang-orang pilihan Allah yang mendapatkan kemuliaan tersebut,” kata pria 3 anak ini.
Naspi menambahkan, karena menghapal Al Qur’an itu merupakan karunia besar maka santri yang telah Allah titipkan padanya 30 Juz harus mensyukurinya sepenuh hati.
“Caranya dengan banyak muraja’ah (mengulang-ulang), mengamalkan dan mengajarkannya. Tiga langkah ini mutlak agar hapalan Al Qur’an kita menjadi jembatan keberkahan ilmu dan hidup di dunia,” kata pendiri Pesantren Mahasiswa Dai (Pesmadai) ini.
Naspi mengatakan, salah satu langkah untuk menjaga hapalan Al Qur’an adalah memilih lingkungan yang kondusif. Baik sistemnya atau orang-orang yang mengitari kita.
“Jangan sampai salah memilih lingkungan dan kawan pergaulan, membuat nikmat hapalan Al Qur’an yang Allah berikan hilang secara perlahan bahkan sampai pada tingkat orang tidak percaya bahwa kita pernah menghapal Al Qur’an,” lanjut alumnus Islamic University of Madinah ini.
Melanjutkan sambutan yang disampaikan oleh Ust. Naspi Arsyad, Ketua DPD Hidayatullah Kabupaten Sukabumi, Ust. Fakhruddin Rifa’i menambahkan bahwa sistem kepesantrenan yang dianut oleh Hidayatullah relatif memiliki karakter yang sedikit berbeda dibanding pesantren-pesantren pada umumnya.
Kata Fakhruddin, kriteria kenaikan kelas di Hidayatullah bukan sekedar pada pencapaian kognitifnya semata atau pada nilai yang tertulis di raport belaka.
“Santri Hidayatullah yang nilai raportnya tinggi bisa saja tinggal kelas berdasarkan aspek lainnya. Semisal malas shalat berjamaah di masjid, banyak pelanggarannya selama nyantri atau sebab lainnya yang tidak terkait dengan nilai raport,” kata Fakhruddin.
Pria yang telah bertugas dakwah di banyak daerah ini menceritakan sistem pendidikan di Hidayatullah Gunung Tembak sebagai cikal bakal Hidayatullah se-Indonesia.
“Bukan barang aneh jika ada yang rangking 2 bahkan rangking 1 tapi tinggal kelas. Ada yang disebabkan karena malas shalat di masjid, ada yang karena sering melanggar bahkan ada tinggal kelas karena pernah berbohong,” kenangnya yang disambut dengan tawa para santri.
Memungkasi sambutannya, Fakhruddin mewanti-wanti bahwa tantangan hakiki telah ada dihadapan mata bagi santri-santri yang akan menamatkan pendidikannya di Al Humaira.
“Tidak mudah menjaga diri di tengah lingkungan yang tidak kondusif. Tidak sedikit orang yang ketika nyantri hijabnya terjaga namun setelah meninggalkan pesantren malah mencampakkan jilbabnya,” katanya mengingatkan.
Diakhir acara, para santri yang telah mengkhatamkan hapalan Al Qur’annya menerima sertifikat hapalan Al Qur’an 30 Juz serta cinderamata dari Ma’had Al Humaira.*/Ain
Gambar ilustrasi sistem waktu oleh Gerd Altmann/ Pixabay
KATA “sistem” banyak sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari, baik oleh orang awam, dalam forum diskusi maupun di dalam dokumen ilmiah. Kata ini digunakan untuk banyak hal, dan pada banyak bidang pula, sehingga maknanya menjadi beragam.
Dalam pengertian yang paling umum, sebuah sistem adalah sekumpulan benda dan fungsi yang memiliki hubungan di antara mereka untuk mencapai tujuan tertentu.
Sehingga, secara garis besar sistem memiliki unsur-unsur yang mewakili suatu sistem secara umum adalah memasukan (input), pengolahan (processing), dan keluaran (output). Selanjutnya untuk memastikan bahwa sebuah sistem bekerja dengan baik maka diperlukan umpan balik (feedback).
Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa masukan (input) sistem adalah segala sesuatu yang masuk ke dalam sistem dan selanjutnya menjadi bahan yang diproses. Masukan dapat berupa hal-hal yang berwujud (tampak secara fisik) maupun yang tidak tampak.
Pengolahan (processing) merupakan bagian yang melakukan perubahan atau transformasi dari masukan menjadi keluaran yang berguna dan lebih bernilai, misalnya berupa informasi dan produk, tetapi juga bisa berupa hal-hal yang tidak berguna, misalnya saja sisa pembuangan atau limbah.
Keluaran (output) merupakan hasil dari pemrosesan. Pada banyak hal, keluaran itu tidak mesti berupa material (fisik) yang sifatnya kuantutatif, akan tetapi juga berupa hal yang nonfisik yang bersifat kualitatif.
Umpan balik (feedback) sebuah mekanisme yang digunakan untuk mengendalikan baik masukan maupun proses. Tujuannya adalah untuk mengatur agar sistem berjalan sesuai dengan tujuan. Selanjutnya memberikan informasi terkait perbaikan sistem dikemudian hari jika terjadi masalah.
Keterkaitan antar komponen tersebut selanjutnya membuat sebuah tata aturan yang disebut dengan siklus sistem itu sendiri. Dimana mereka akan terus melakukan looping, pada setiap komponen, elemen dan tahapan, yang sebenarnya tidak ada akhirnya.
Sebab, ketika satu tujuan telah dipenuhi, maka input akan berubah, sehingga memicu perubahan dalam proses, demikian juga merubah keluarannya. Selanjutnya umpan balik akan memberikan informasi terhadap perubahan masing-masing itu, dan begitu seterusnya.
Siklus Ramadhan
Firman Allah SWT, tidak akan pernah bisa ditandingi oleh pemikiran manusia sepanjang masa. Ia selalu unggul, dimanapun dan kapanpun. Sehebat apapun manusia berteori dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, maka mustahil menyamai apalagi mengungguli ketentuan Allah itu sendiri.
Manusia, seringkali hanya bisa membenarkan dan kemudian menjelaskan apa yang terjadi dengan teori, kemudian dikaitkan dalam persepektif al-Qur’an sebagai kalam ilahi tersebut. Karena sunnatullahnya memang begitu. Hal ini juga bisa kita lakukan dalam menjelaskan QS Al-Baqarah : 183
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Surat Al-Baqarah Ayat 183).
Jika kita uraikan dengan pendekatan sistem di atas, maka akan kita dapati bahwa dalam surat al-Baqarah 183 ini, inputannya adalah orang-orang beriman. Prosesnya adalah menjalankan shiyam (puasa). Sedangkan outputnya adalah predikat takwa.
Durasi prosesnya adalah 1 bulan, selama ramadhan. Selanjutnya untuk feedback (umpan balik) nya, dilakukan 11 (sebelas) bulan berikutnya, dan selanjutnya akan menjadi input yang akan diproses pada ramadhan tahun berikutnya, begitulah seterusnya. Dalam konteks individu sampai maut memanggil.
Selanjutnya jika kita uraikan lebih detail akan didapati bahwa orang-orang yang beriman adalah menjadi prasyarat dalam sistem ini. Sehingga tidak berlaku bagi orang tidak beriman. Sedangkan definisi iman sendiri jumhur ulama adalah: pembenaran dengan hati, pengakuan dengan lisan, dan amal dengan anggota badan.
Sedangkan secara lebih terperinci dapat dijelaskan bahwa iman itu berupa pembenaran hati, artinya hati menerima semua ajaran yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam. ‘Pengakuan dengan lisan’ artinya mengucapkan dua kalimat syahadat ‘asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah’.
Sedangkan ‘perbuatan dengan anggota badan’ artinya amal hati yang berupa keyakinan-keyakinan dan beramal dengan anggota badan yang lainnya dengan melakukan ibadah-ibadah sesuai dengan kemampuannya. (Kitab At Tauhid li Shaff Ats Tsaani Al ‘Aali). Inilah yang menjadi input untuk shiyam ramadhan.
Sedangkan dalam prosesnya adalah shiyam (puasa). Secara bahasa, baik kata shiyam maupun shaum berasal dari صام – يصوم, artinya imsak (menahan), shamt (diam tidak berbicara), rukud (diam tidak bergerak), dan wuquf (berhenti) sebagaimana disampaikan Khalil bin Ahmad al-Farahidi dalam Kamus al-‘Ain. Jadi, kedua istilah tersebut secara literal bermakna meninggalkan makan dan minum, tidak berbicara dan tidak mengerjakan apapun.
Secara syar’i, Prof. Dr. Wahbah az Zuhaili, menjelaskan arti puasa secara istilah syariat adalah menahan diri pada siang hari dari hal-hal yang membatalkan puasa disertai niat, sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.
Artinya, puasa adalah penahanan diri dari syahwat perut dan kemaluan serta dari segala benda konkret yang memasuki rongga tubuh (seperti obat dan lainnya) dalam rentang waktu tertentu oleh orang tertentu yang memenuhi syarat, disertai niat (Fiqih Islam wa Adillatuhu).
Selanjutnya ibadah lain yang dilaksanakan selama shiyam ramadhan adalah menegakkan shalat fardu di awal waktu, qiyamul lail, melaksanakan tarawih, serta sholat sunah lainnya, memperbanyak interaksi dengan al-Qur’an baik kualitas maupun kuantitas, memperbanyak bersedekah, serta i’tikaf di 10 hari ramadhan dan lain sebagainya. Sehingga dalam proses ini, harus dilaksanakan secara maksimal dan sebaik-baiknya agar menghasilkan output yang optimal pula.
Dari sisi output adalah takwa. Secara bahasa takwa (taqwa) berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara, yakni menjaga diri agar selamat dunia dan akhirat.
Kata waqa juga bermakna melindungi sesuatu, yakni melindunginya dari berbagai hal yang membahayakan dan merugikan. Sedangkan Imam Ar-Raghib Al-Asfahani dalam Al-Mufradat Fi Gharibil Qur’an mendenifisikan: “Takwa yaitu menjaga jiwa dari perbuatan yang membuatnya berdosa, dan itu dengan meninggalkan apa yang dilarang, dan menjadi sempurna dengan meninggalkan sebagian yang dihalalkan”.
Output takwa inilah yang kemudian dijaga dan terus ditingkatkan dalam 11 (sebelas) bulan berikutnya. Oleh karenanya maka harus ada feedback (umpan balik) agar dapat melakukan improvement pada bulan-bulan berikutnya, hingga ketemu ramadhan mendatang.
Caranya bagaimana? Yaitu dengan menjalankan amalan yaumiyah (amal harian) sebagaimanya yang telah disyariatkan, baik yang sifatnya mahdhoh maupun yang ghairu mahdhoh.
Supaya lebih terukur, bisa menggunakan toolsmutaba’ah yaumiyah (evaluasi amal harian). Yang berisi check list aktifitas dan ibadah apa saja yang kita lakukan setiap hari. Dan saat ini, mutaba’ah yaumiyah ini, tidak harus berupa buku, sudah banyak apps yang tersedia. Bisa didapatkan dan diunduh secara online. Selanjutnya bisa dioperasikan dan dilihat melalui gadget kita.
Melalui pendekatan sistem sebagaimana diterangkan di atas, maka kita dapat mengambil ibrah yang luar biasa dari sistem ramadhan ini. Sehingga diharapkan akan memberikan kemudahan bagi siapa saja dalam memahami dan sekaligus mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dan hal ini, sesungguhnya, membuktikan bahwa ajaran Islam itu tidak akan pernah berselisih dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, asalkan semua dilakukan dalam kerangka bismirabbik. Dengan demikian maka seharusnya seluruh iptek bersandar dan bersumber dari ajaran Islam. Wallahu a’lam.
BATAM (Hidayatullah.or.id) — Memasuki hari ke 11 bulan Ramadhan, Laznas BMH Perwakilan Kepulauan Riau menggelar buka bersama 1000 santri Hidayatullah Batam Kampus II Tanjung Uncang dengan mengusung tema “Spirit Berkah Ramadhan Dengan Menjalin Ukhuwah”.
Kepala Perwakilan BMH Kepri Abdul Aziz Elhaqqy mengatakan buka bersama ini sudah masuk tahun ke-3 yang dilaksanakan BMH perwakilan Kepulauan Riau dan bekerja sama dengan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Putri STIT Hidayatullah Batam.
“Dengan diadakannya kegiatan ini semoga dapat mempererat tali silaturahmi dan ukhuwah islamiyah,” kata Abdul Aziz.
Abdul menambahkan, Bukber ini merupakan salah satu program yang dilakukan serentak oleh BMH yang ada di seluruh Indonesia. “Dan kami berharap kegiatan ini akan terus dilaksanakan setiap tahunnya di bulan Ramadhan,” katanya.
Sebanyak 1000 takjil dan 1000 nasi box dibagikan kepada santriwati dan mahasantri yang antusias mengikuti acara yang digelar di masjid Hidayatullah.
Di kesempatan yang sama, Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Putri STIT Hidayatullah Batam, Yumna Salsabila, mengatakan pihaknya dari DEMA putri STIT Hidayatullah Batam mengucapkan terima kasih banyak kepada para donatur yang telah ikut berkontribusi dalam acara ini.
“Kami juga berterima kasih kepada pihak Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Kepri yang telah memberikan kepercayaan kepada kami sebagai event organizer,” tutur Yumna.
Selain menikmati hidangan para santri dan mahasantri juga mendapat siraman ruhani dari pembina Hidayatullah Batam, KH Jamaluddin Nur.
Dalam tausiyahnya, KH Jamaluddin Nur, mengungkapkan bahwa buka puasa bersama atau berjamaah akan menambah semangat dan energi yang positif karena para santri dan mahasantri adalah orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk berpuasa karena Allah Subhana wa ta’ala.
“Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga,” tutur KH Jamaluddin Nur mengutip sebuah hadits.
Kegiatan ini sendiri mendapat sambutan luar biasa dari para santri dan mahasiswa di lingkungan Kampus Hidayatullah Batam Kampus II Tanjung Uncang, seperti yang diutarakan Sinta.
Sinta yang merupakan mahasiswi Institut Agama Islam Abdullah Said (IAIAS) Batam ini menyampaikan rasa syukur Alhamdulillah dengan adanya buka bersama ini.
Menurut Sinta, kegiatan ini kian menguatkan dan mengeratkan ukhuwah antar sesama teman-teman, juga menambah pengetahuan sebab ada kajian yang diisi oleh KH Jamaluddin Nur.
“Kami sangat bersyukur atas sajian yang di berikan serta kami berharap semoga buka bersama ini akan selalu dilaksanakan setiap tahunya,” tandas Sinta.*/ Laporan Deka Septiana
TUAL (Hidayatullah.or.id) — Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) Pangkalan Angkatan Udara (Lanud) Dominicus Dumatubun melaksanakan anjangsana ke Pondok Pesantren Hidayatullah Ohoitel, Kota Tual, dalam rangkaian peringatan Ke-76 HUT TNI Angkatan Udara, Selasa, 11 Ramadan 1443 (12/04/2022).
Anjangsana silaturrahim yang dibarengi dengan kegiatan bakti sosial ini dipimpin langsung oleh Komandan Lanud D. Dumatubun Letkol Pnb Ruli Surya P.S., didampingi ketua PIA Ardhya Garini Cab. 5 / D.III Lanud D. Dumatubun Ny. Renny Ruli Surya, beserta para Perwira dan anggota Lanud DMN.
Komandan Lanud D. Dumatubun Letkol Pnb Ruli Surya P.S menyampaikan maksud kedatangannya adalah silaturahmi dalam rangka Hari Ulang Tahun TNI Angkatan Udara yang saat ini juga bertepatan dengan bulan Ramadan.
“Salah satunya dengan berbagi kepada sesama yang membutuhkan utamanya kepada anak-anak yatim piatu di Pondok Pesantren Hidayatullah ini,” katanya.
Danlanud dalam sambutannya mengatakan pentingnya sinergi dan kebersamaan dalam rangka bersama membangun bangsa lebih baik di masa mendatang.
Lebih lanjut Danlanud mengapresiasi Hidayatullah di Ohoitel yang konsisten memberikan pendidikan dan pendampingan kepada generasi bangsa terutama membina kalangan yatim dan dhuafa agar mampu menjadi manusia yang berguna bagi agama dan bangsa Indonesia.
“Pesantren Hidayatullah Ohoitel ini harus lebih baik lagi dan tidak berhenti melakukan kebaikan demi kebaikan untuk umat manusia,” pesannya.
Selain bersilaturrahim kepada pengurus Pondok dan anak santri pondok pesantren, pada HUT TNI Angkatan Udara ke-76 kali ini Lanud D. Dumatubun juga menyerahkan bingkisan kepada anak-anak yang berada di pondok pesantren Hidayatullah yang langsung diserahkan oleh Komandan Lanud D. Dumatubun secara simbolis kepada Ketua Pondok Pesantren Hidayatullah Ohoitel Ust. H. Ismail Ernas.
Di kesempatan yang sama Ketua Pondok Pesantren Hidayatullah Ohoitel Ust. H. Ismail Ernas menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Lanud Dominicus Dumatubun Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masalah kebangsaan khususnya perhatiannya kepada Ponpes Hidayatullah di Ohoitel.*/TNI AU
BATAM (Hidayatullah.or.id) — Memeriahkan Ramadhan 1443 H, Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) perwakilan Kepulauan Riau menggelar lomba di salah satu Rumah Qur’an binaan BMH yaitu di Rumah Quran Hidayatullah (RQH) Jabal Arafah yang berada di kampus 2 Hidayatullah, Tanjung Uncang, Batam, 9-10 Ramadhan 1443 H (11-12/4/2022).
Kegiatan yang mengambil tema “Ramadhan Ceria 1443 H” ini diikuti 25 siswa dan siswi yang merupakan anak-anak warga di lingkungan Pesantren Hidayatullah Batam dan sekitarnya. Adapun kategori yang dilombakan adalah adzan, doa harian, hafalan juz amma.
General Manager BMH Kepri, Abdul Aziz Elhaqqy mengatakan target lomba Ramadhan Ceria yang digelar di beberapa Rumah Quran binaan BMH agar Ramadhan kali ini benar-benar sebagai bulan madrasah.
Sebab, lanjut Aziz, Ramadhan adalah momentum terbaik untuk mengadakan kegiatan-kegiatan yang mengarahkan anak-anak lebih mencintai al Quran, sebab Ramadhan juga adalah bulan diturunkannya al Quran.
“Lomba di rumah Qur’an Hidayatullah ini kita harapkan menjadi pemantik atau sebagai pemicu untuk meningkatkan semangat belajar dan kecintaan terhadap ilmu khususnya materi pelajaran yang selama ini telah diberikan,” lanjut Aziz.
Kegiatan lomba juga diadakan di RQH Atok Somad, pulau Panjang Timur, RQH pulau Seraya, Batam dan RQH Muhammad Sulthon, Tanjung Pinang, yang merupakan rangkaian gerakan besar BMH mengantarkan umat untuk berbahagia dan ceria dalam menjalani bulan suci Ramadhan.
Ustadzah Nurul Nahdah Islamiah selaku ketua Rumah Qur’an Hidayatullah Jabal Arafah mengungkapkan, dengan diadakan kegiatan ini anak-anak lebih bersemangat dalam menghafal dan murojaah hafalan Al-Qur’an.
“Alhamdulillah anak-anak sangat antusias dan semangat dalam mengikuti kegiatan ini. Apalagi ada hadiahnya, anak-anak lebih termotivasi,” ujar ustadzah yang juga menjabat ketua muslimat Hidayatullah, Batam ini.
Para orang tua juga antusias mendampingi putra-putrinya mengikuti lomba.
“Alhamdulillah dengan adanya lomba ini anak-anak jadi lebih semangat lagi untuk menghafal dan murojaah hafalan,” ujar ustadzah Sri Muliati Musran, salah satu orang tua dari peserta lomba.*/Mardiyah
ALLAH SWT telah menurunkan firman-Nya melalui malaikat pembawa wahyu, yaitu Malaikat Jibril. Dalam membawa firman Allah tersebut, Malaikat Jibril lalu menyampaikan kepada Nabi Muhammad SAW.
Ayat pertama yang diturunkan Allah ke bumi adalah “Iqra'” yang berarti, “bacalah”. Berbeda dengan terma – تلى – يتلو – تلاوة – memiliki arti membaca yang mengharuskan teks tertulis.
Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al Quran). Tidak ada (seorangpun) yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari pada-Nya. Yakni, Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Rabb-Mu. Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dan engkau tidak akan mendapatkan perlindungan selain perlindungan-Nya.
Sedangkan istilah قراَ – يقراُ – قرانا – وقِراءَةً
memiliki spektrum makna yang luas dan tidak bertepi (seluas yang bisa dijangkau oleh bacaan). Quran juga mengandung bacaan yang sempurna. Disinilah berlaku kaidah bahasa Arab :
هَدْفُ المَعْمُولِ يُفِيْدُ العُمُوْمَ
Membuang makmul/ obyek memberi spektrum makna umum/luas.
Allah menyebutkan kata Iqra’ secara berulang kali dalam Surah Al-Alaq ayat 1-5. Perintah iqra pertama, ilmu yang diserap berkat usaha pelakunya (ilmu kasb). Dan perintah kedua diperoleh dalam kondisi ruhani yang bersih (ilmu ladunni). Ikhtiar lahir disempurnakan dengan ikhtiar batin. Dan kedua ilmu tersebut bersumber dari yang Maha ‘Alimul Ghaibi Was Syahadah. “Satu kata saja dalam Alquran itu pasti mempunyai makna yang sangat besar,” likulli rasmmakna (setiap tulisan menyimpan makna).
Setidaknya terdapat empat tahapan dalam membaca merujuk Al Quran:
Pertama: How To Read
Bahwa makna Iqra’ pertama dalam Surah tersebut adalah how to read, yaitu bagaimana cara kita membaca Alquran dengan baik dan benar, serta dapat mengkhatamkannya. “Meskipun tidak tahu artinya, tapi dapat pahala.
Terdapat sejumlah hadits Nabi yang menjelaskan mengenai keutamaan membaca Alquran. Keutamaan di dalam hadits-hadits tersebut sudah seyogianya membuat umat Islam tidak meninggalkan Alquran dan terus membaca dan mengamalkannya.
Berikut beberapa hadits mengenai keutamaan membaca Alquran yaitu di antaranya HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah:
لا حَسَدَ إلَّا في اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَهو يَتْلُوهُ آناءَ اللَّيْلِ، وآناءَ النَّهارِ، فَسَمِعَهُ جارٌ له، فقالَ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ ما أُوتِيَ فُلانٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ ما يَعْمَ
“Beriri hatilah hanya kedada dua jenis orang: (yakni salah satunya) orang yang dapat membaca/menghafal Alquran (atas kuasa dan karunia Allah SWT), lalu ia membacanya pada malam dan siang hari. Kemudian serang tetangga mendengarnya dan berkata: saya berharap bahwa saya telah diberikan seperti yang telah diberikan si fulan atas (karunia itu), sehingga saya dapat melakukan apa yang dia lakukan.”
Namun demikian, Islam juga tidak mengesampingkan aspek psikologis para kaum Muslimin yang belum pandai membaca atau mengenali Alquran namun yang bersangkutan masih tetap mendekatkan dirinya kepada Alquran. Dalam hal ini, Rasulullah SAW juga bersabda:
الَّذي يقرأُ القرآنَ وهو ماهرٌ به مع السَّفَرةِ الكِرامِ البَررةِ، والَّذي يقرأُ القرآنَ وهو عليه شاقٌّ فله أجران
“Keutamaan membaca Alquran didapatkan kepada orang Mukmin yang pandai membaca Alquran, maka kedudukannya di akhirat ditemani para malaikat yang mulia. Dan orang yang membaca Alquran dengan gagap, sulit membaca dan memahami Alquran, baginya terdapat dua pahala kebaikan.” (HR Muttafaq ‘Alaih dari Aisyah RA).
Selain membaca psikologis umat Islam dalam kemampuan dan pemahaman terhadap Alquran, Islam juga memberikan jaminan ganjaran pahala yang jelas kepada mereka yang membaca Alquran dalam parameter banyak atau sedikitnya. Rasulullah bersabda:
من قرأ حرفًا من كتابِ اللهِ فله به حسنةٌ والحسنةُ بعشرِ أمثالِها، لا أقولُ ألم حرفٌ، ولكن ألفٌ حرفٌ، ولامٌ حرفٌ، وميمٌ حرفٌ
“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Alquran, maka baginya satu kebaikan dengan membaca tersebut. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan di setiap satu huruf: akan tetapi Alif satu huruf, lam satu. Aku tidak mengatakan bahwa (yang dimaksud huruf) berarti Mim (dimaknai) satu huruf.”
Kedua: How To Learn
Kemudian, Iqra’ yang kedua adalah how to learn, yang berarti tentang bagaimana mendalami Alquran dengan mengetahui artinya, tafsirnya, bahkan takwilnya.
Untuk menafsirkan Alquran, ada beberapa ilmu yang harus dikuasai. Dalam kitab Fadhilah Amal yang ditulis oleh Maulana Zakariyya Al Khandahlawi disebutkan, Ibnu Mas’ud RA berkata, “jika kita ingin memperoleh ilmu, maka pikirkan dan renungkanlah makna-makna Alquran, karena di dalamnya terkandung ilmu orang-orang dahulu dan sekarang.”
Namun, menurut Maulana Zakariyya, untuk memahaminya, kita mesti menunaikan syarat dan adab-adabnya terlebih dahulu. Berdasarkan keterangan para ulama, Maulana Zakariyya menyebut untuk menafsirkan Alquran diperlukan keahlian dalam lima belas bidang ilmu.
”Saya akan meringkas kelima belas ilmu itu semata-mata agar diketahui bahwa tidak mudah bagi setiap orang memahami makna batin Alquran ini,” kata Maulana Zakariyya.
Kelimabelas ilmu itu adalah :
Pertama, Ilmu Lughat, yaitu ilmu untuk mengetahui arti setiap kata Alquran. Mujahid rah.a berkata, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka tidak layak baginya berkomentar tentang tentang ayat-ayat al Qur’an tanpa mengetahui ilmu lughat. Sedikit pengetahuan tentang lughat tidaklah cukup karena kadang kala satu kata mengandung berbagai arti. Jika hanya mengetahui satu atau dua arti, tidaklah cukup. Bisa jadi kata itu mempunyai arti dan maksud yang berbeda.”
Kedua, Ilmu Nahwu (tata bahasa). Sangat penting mengetahui ilmu nahwu, karena sedikit saja I’rab hanya didapat dalam ilmu nahwu.
Ketiga, Ilmu Sharaf (perubahan bentuk kata). Mengetahui ilmu sharaf sangat penting, karena perubahan sedikit bentuk suatu kata akan mengubah maknanya.
Ibnu Faris berkata, “jika seseorang tidak mempunyai ilmu sharaf, berarti ia telah kehilangan banyak hal.” Dalam Ujubatut Tafsir, Syaikh Zamakhsyari rah.a. menulis bahwa ada seseorang yang menerjemahkan ayat al Qur’an yang berbunyi:
{ يَوْمَ نَدْعُوْا كُلَّ أُنَاسٍ بِامَامِهِم}
“(ingatlah) pada suatu hari (yang pada hari itu) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya.” (QS. Al Isra [17] : 71)
Karena ketidaktahuannya tentang ilmu Sharaf, ia menerjemahkan ayat itu seperti ini : “pada hari ketika manusia dipanggil dengan ibu-ibu mereka.” Ia mengira bahwa kata ‘imaam’ (pemimpin) yang merupakan bentuk mufrad (tunggal) adalah bentuk memahami ilmu sharaf, tidak mungkin akan mengartikan ‘imaam’ sebagai ibu-ibu.
Keempat, Ilmu Isytiqaq (akar kata). Mengetahui ilmu isytiqaq sangatlah penting. Dengan ilmu ini dapat diketahui asal-usul kata. Ada beberapa kata yang berasal dari dua kata yang berbeda, sehingga berbeda makna. Seperti kata ‘masih’ berasal dari kata ‘masah’ yang artinya menyentuh atau menggerakan tangan yang basah ke atas suatu benda, atau juga berasal dari kata ‘masahat’ yang berarti ukuran.
Kelima, Ilmu Ma’ani. Ilmu ini sangat penting diketahui, karena dengan ilmu ini susunan kalimat dapat diketahui dengan melihat maknanya.
Keenam, Ilmu Bayaan. Yaitu ilmu yang mempelajari makna kata yang zhahir dan yang tersembunyi, juga mempelajari kiasan serta permisalan kata.
Ketujuh, Ilmu Badi’, yakni ilmu yang mempelajari keindahan bahasa. Ketiga bidang ilmu diatas juga disebutsebagai cabang ilmu balaghah yang sangat penting dimiliki oleh para ahli tafsir. Alquran adalah mukjizat yang agung, maka dengan ilmu-ilmu diatas, kemukjizatan Alquran dapat diketahui.
Kedelapan, Ilmu Qira’at, Ilmu ini sangat penting dipelajari, karena perbedaan bacaan dapat mengubah makna ayat. Ilmu ini membantu menentukan makna paling tepat diantara makna-makna suatu kata.
Kesembilan, Ilmu Aqa’id. Ilmu yang sangat penting dipelajari ini mempelajari dasar-dasar keimanan. Kadangkala ada satu ayat yang arti zhahirnya tidak mungkin diperuntukkan bagi Allah Swt. Untuk memahaminya diperlukan takwil ayat itu.
Kesepuluh, Ushul Fiqih. Mempelajari ilmu ushul fiqih sangat penting, karena dengan ilmu ini kita dapat mengambil dalil dan menggali hukum dari suatu ayat.
Kesebelas, Ilmu Asbabun-Nuzul. Yaitu ilmu untuk mengetahui sebab-sebab turunnya, maka maksud suatu ayat mudah dipahami. Karena kadangkala maksud suatu ayat itu bergantung pada asbabun nuzul-nya.
Keduabelas, Ilmu Nasikh Mansukh. Dengan ilmu ini dapat dipelajari suatu hukum yang sudah dihapus dan hukum yang masih tetap berlaku.
Ketigabelas, Ilmu Fiqih. Ilmu ini sangat penting dipelajari. Dengan menguasai hukum-hukum yang rinci akan mudah mengetahui hukum global.
Keempatbelas, Ilmu Hadits. Ilmu untuk mengetahui hadits-hadits yang menafsirkan ayat-ayat al Qur’an.
Kelimabelas, Ilmu Wahbi. Ilmu khusus yang diberikan kepada Allah kepada hamba-Nya yang istimewa, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
مَنْ عَمِلَ بِما عَلِمَ وَرَثَهُ الله عِلْمَ مَالَمْ يَعْلَمْ
“Barangsiapa mengamalkan apa yang ia ketahui, maka Allah akan memberikan kepadanya ilmu yang tidak ia ketahui” (HR. Abu Syaikh)..
Juga sebagaimana disebutkan dalam riwayat, bahwa Ali RA pernah ditanya oleh seseorang, “Apakah Rasulullah telah memberimu suatu ilmu atau nasihat khusus yang tidak diberikan kepada orang lain ?” maka ia menjawab, “Demi Allah, demi Yang menciptakan Surga dan Jiwa. Aku tidak memiliki sesuatu yang khusus kecuali pemahaman Alquran yang Allah berikan kepada hamba-Nya.” Ibnu Adi Dunya berkata, “Ilmu Alquran dan pengetahuan yang didapat darinya seperti lautan yang tidak bertepi.”
Menurut Maulana Zakariyya, ilmu-ilmu yang telah diterangkan di atas adalah alat bagi para mufassir Alquran. “Seseorang yang tidak memiliki ilmu-ilmu tersebut lalu menafsirkan Alquran, berarti ia telah menafsirkan menurut pendapatnya sendiri, yang larangannya telah disebutkan dalam banyak hadits,” kata Maulana Zakariyya.
Para sahabat telah memperoleh ilmu bahasa Arab secara turun temurun, dan ilmu lainnya mereka dapatkan melalui cahaya Nubuwwah. Imam Suyuthi rah.a. berkata, “Mungkin kalian berpendapat bahwa ilmu Wahbi itu berada diluar kemampuan manusia. Padahal tidak demikian, karena Allah sendiri telah menunjukan caranya, misalnya dengan mengamalkan ilmu yang dimiliki dan tidak mencintai dunia.”
Ketiga: How To Understand
Selanjutnya, iqra’ yang ketiga adalah how to understand, yaitu bagaimana kita menghayati kitab Allah tersebut.
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS Shad [38]: 29).
Allah SWT dalam ayat di atas menegaskan, Alquran sebagai panduan hidup (al-Kitab) yang diturunkan ke qalbu Muhammad saw penuh dengan berkah (mubarak) atau mengandung banyak manfaat bagi manusia dalam semua hal, baik yang berkenaan dengan dunia maupun akhirat.
As-Sa’dy dalam menafsirkan kata mubarakun menjelaskan, pada Alquran ada kebaikan yang banyak, ilmu yang luas dan dalam. Berisi petunjuk yang mengeluarkan diri dari kesesatan, penyembuh dan penawar dari berbagai macam racun dan penyakit.
Selain itu berisi cahaya yang dapat mengeluarkan seseorang dari kegelapan hawa nafsu, bimbingan hukum dan aturan yang dibutuhkan setiap mukalaf (orang yang telah berusia terbebani hukum).
Juga petunjuk dalil-dalil yang jelas dan pasti yang dibutuhkan untuk segala ruang dan waktu. Tidak ada keterbatasan padanya dan telah menjadi panduan bagi alam semesta sejak awal penciptannya.
Bertadabur secara kosakata adalah sebuah proses berpikir mendalam dan menyeluruh yang dapat menghubungkan seseorang ke pesan paling akhir sebuah perkataan dan mencapai tujuan maknanya yang terjauh.
Menadaburi perkataan maksudnya memperhatikannya dari permulaan hingga akhir, kemudian mengulangi perhatian itu berkali-kali.
Prof Dr Nasser al-Omar, ketua Lembaga Tadabur Quran Internasional yang juga Sekretaris Jenderal Ulama Muslim Dunia mengatakan semua problematika umat yang kita saksikan di negeri kaum Muslimin hari ini berupa kehinaan, kelemahan, kemunduran, dan berbagai problem lainnya disebabkan oleh jauhnya kaum Muslimin dari Alquran.
Karena, mereka tidak menadaburi dan mengamalkan Alquran. Oleh karena itu, jika umat ingin keluar dari semua problem tersebut dan ingin bangkit dari keterpurukannya, harus menadaburi Alquran dan mengamalkannya.
Rasulullah saw sangat menyayangkan orang yang tidak mengacuhkan Alquran atau tidak mengambil manfaat yang begitu banyak dalam Alquran.
Keluh kesah Rasulullah itu kemudian tergambar dalam ayat berikut, “Berkatalah Rasul, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Alquran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.’” (QS al-Furqan [25]: 30).
Imam Ibnu Katsir dan Ibnu Qayyim al-Jauziyah mencontohkan orang yang menjadikan Alquran sesuatu yang tidak diacuhkan, di antara maksudnya adalah orang yang tidak menadaburi Alquran karena bacaan mereka tidak mendatangkan manfaat bagi mereka.
Orang yang menadaburi Alquran juga akan merasakan beberapa manfaat penting dalam kehidupannya. Di antaranya, pertama, mendapatkan hidayah (petunjuk dari kesesatan).
Manusia membutuhkan ilmu dalam menjalani hidupnya agar tidak tersesat, ketahuilah bahwa ilmu sesungguhnya yang dapat mengeluarkan manusia dari ketersesatan adalah ilmu yang berasal dari Allah saja.
Alquran adalah sekumpulan firman Allah yang berisi ilmu-ilmu dari Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. “Katakanlah, apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran ? Katakanlah, Allahlah yang menunjuki kepada kebenaran. Maka, apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (QS Yunus [10]: 35).
Kedua, mendapatkan cahaya. Ada banyak kegelapan yang dihadapi manusia dalam menjalani hidupnya. Ada makhluk kegelapan yang tercipta, ada kekuatan jahat yang bekerja kala malam mulai kelam, ada kejahatan para tukang sihir yang meniupkan mantera ke benda-benda, ada kejahatan orang yang hasad (dengki) jika melihat yang tidak ia sukai.
Selain itu, setiap orang di dunia ini sangat membutuhkan cahaya agar tidak salah jalan, tidak terjerembap, bahkan terjatuh, ke jurang yang berbahaya.
Manusia membutuhkan cahaya untuk dapat membedakan jenis dan bentuk sesuatu, membedakan warna-warni. Dengan bertadabur Alquran, manusia akan mendapatkan bimbingan cahaya terang benderang.
“Maka, berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Alquran) yang telah Kami turunkan. Dan, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Taghabun [64]: 8).
Ketiga, manusia akan mendapatkan furqan (pembeda antara hak dan batil). Ilmu manusia sangatlah sedikit karena kemampuannya menyerap ilmu dari sekitarnya juga amat terbatas.
Rasio manusia juga sangat lemah dan kurang meluas sehingga tak dapat menjangkau alam lain yang tak pernah terindera oleh organ inderawinya. Informasi yang sampai dari seseorang kepada orang lain sering kali mengalami distorsi.
Berbagai keterbatasan inilah yang sering membuat manusia bimbang dan ragu dalam menyikapi sesuatu, membuat manusia bingung dalam mengambil keputusan yang bermanfaat bagi kehidupan masa kini atau masa depannya, membuat manusia tak pasti dalam menatap dan melangkah.
Saat itulah manusia membutuhkan kekuatan lain yang berasal dari luar dirinya agar yakin dalam memandang, menyikapi, dan melangkah ke arah kebenaran.
Alquran sebagai furqan-lah yang dapat membebaskan manusia dari semua kebimbangan dan keraguannya. “Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (Alquran) kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS al-Furqan [25]: 1).
Demikian beberapa manfaat tadabur Alquran. Semoga Allah merahmati kita semua dengan kecintaan menadaburi Alquran.
“Jadi yang ketiga ini adalah secara emosional, spiritual. Mungkin bukan hanya dia yang mampu menafsirkan Alquran, tapi Alquran juga mampu menafsirkan dirinya sendiri..
Keempat: Mukasyafah Tabir Al Quran
Makna Iqra’ yang keempat atau yang terakhir, yaitu bagaimana memukasyafahkan (menyingkap tabir-tabir kehebatan di dalam Alquran). Jadi, Iqra’ Alquran itu sudah disempurnakan oleh Iqra’ yang keempat tersebut.
Kalau kita membaca dan menelusuri surah Al-Baqarah, di pembuka surah tersebut, akan di dapatkan sebuah statement Allah bahwa di dalam Al-Qur’an tidak ada satu ayat pun yang patut diragukan kebenaran dan otentisitasnya. Kemudian, di ayat-ayat berikutnya, Allah mengklasifikasi manusia dari dimensi teologi menjadi tiga jenis: Mu’min, Kafir, dan Munafik.
Setelah membagi dan menggolongkan jenis manusia, masih di awal surah tersebut, Allah menguatkan masing-masing pengertian di atas dengan mensugesti hati nurani manusia -agar terbuka menerima kebenaran- dengan ayat-ayat yang argumentatif, bukan sekedar stimulatif.
Pendekatan yang digunakan sangat jelas dan tegas, sehingga diharapkan keyakinan dan iman manusia bertambah kuat dan kokoh. Setelah bukti-bukti naluriah, Allah menguatkan iman manusia dengan bukti-bukti teoritik.
“Dan jika kalian tetap dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah (saja) yang semisal Al-Qur’an itu, dan ajaklah saksi-saksimu selain Allah, jika kalian memang orang-orang yang benar” (QS. 2:23).
Allah tidak pernah memaksa manusia. Islam datang untuk membebaskan akal manusia dari belenggu sistem yang ada. Islam memberi cahaya pelita agar akal mampu melihat nilai baik atau buruk.
Oleh karena itu, untuk meyakinkan eksistensi kemukjizatan Al-Qur’an, Allah menggunakan variasi-variasi pendekatan sebagai berikut:
Mula-mula meyakinkan mereka yang meragukan Al-Qur’an. Pada tahap ini, Allah menantang mereka agar dapat menunjukkan sebuah ‘duplikat’ Kitab yang menyamai Al-Qur’an. Boleh dibantu unsur manusia dan jin (QS. 17:88).
Ketika mereka masih beranggapan Muhammad yang membuat Al-Qur’an dan meyakini tesisnya itu benar, sementara mereka tidak bisa membuat yang semisal, maka -dengan bijak- Allah menurunkan standar permintaan kepada mereka untuk mendatangkan sepuluh surah saja yang mereka buat dan mampu menyamai Al-Qur’an, sekalipun dibantu oleh para sastrawan handal. (QS. 11:13).
Bahkan, ketika mereka tidak mampu membuat sepuluh surat, dan masih tidak meyakini kebenarannya, Allah mempersilahkan mereka membuat satu surah saja, walau pun dibantu oleh para pemimpin terkemuka. (QS. 2:23).
Sebagai statement terakhir, setelah ternyata mereka terbukti tidak mampu, Allah memberikan peringatan secara keras, bahwa mereka harus tunduk, atau neraka yang berbahan bakar orang kafir itu sebagai tempat semayamnya.
Biasanya, apabila Allah swt sampai membuat statemen yang disertai dengan ancaman, berarti permasalahan tersebut masuk dalam kategori VIP (Very Important Principle), masalah prinsip yang sangat penting.
Kehebatan Al-Qur’an antara lain dapat dilihat dari dua sisi pendekatan :
Pertama: Pendekatan Historis
Telah dimaklumi bersama, bahwa bangsa Arab adalah bangsa yang paling fasih lisannya dan paling utama bahasanya. Mereka membanggakan-banggakan kelebihan tersebut terutama pada tiga kesempatan, yaitu: ketika kelahiran anak laki-laki, ketika mencari kuda-kuda pilihan, dan ketika lomba cipta syair antar suku. Anak laki-laki dijadikan unsur motivator, kuda digunakan untuk berperang, sedang syair sebagai ciri keutamaan lisan suatu suku.
Mereka kerap menyelenggarakan parade-parade dan kompetisi sastra. Media mereka adalah lisan. Mereka juga sering mengadakan festival-festival sastra tingkat tinggi, dengan mengangkat para juri yang bertugas menilai syair dan prosa hasil buah pikiran dan perenungan para sastrawan utusan masing-masing suku. Juri-juri ini dipilih dari para pakar yang menguasai parameter serta kaidah-kaidah bahasa dan sastra. Kemampuan tata bahasa dan kefasihan mereka sangat tinggi.
Setelah kehadiran Nabi Muhammad saw, yang datang dengan membawa kalam Ilahi, ternyata mereka tidak mampu menyainginya. Mereka semua seolah tenggelam dalam lautan keindahan ‘sastra’ yang belum pernah mereka kenal sebelumnya. Mereka semua terpana dalam kekaguman akan isi dan makna ucapan Muhammad saw yang mereka anggap luar biasa. Padahal isi pembicaraan beliau bukanlah sejenis pidato, pantun, syair, ataupun prosa. Yang jelas nampak dalam pembicaraan beliau adalah kalimat-kalimat lugas yang sarat dengan makna dan kebenaran.
“Katakanlah, “Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakan-nya kepadamu, dan tidak pula memberitahukan kepadamu. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Maka apa kalian tidak memikirkannya?” (QS. 10:16).
Demikianlah, mereka terpaku di hadapan keagungan Al-Qur’an seraya tertunduk malu. Lihatlah Abu Jahal, pemuka orang-orang kafir dan musyrik, ketika datang kepada Nadlir bin Hakim, seorang jaksa dan tokoh pembesar mereka, dan berkata: “Wahai Nadlir, engkau termasuk orang yang paling tahu tentang Muhammad, coba katakan apa yang menarik dari Al-Qur’an?”.
Nadlir menjawab, “Demi Allah, aku lebih tahu tentang syair serta seni bahasa dan sastra daripada kamu. Aku pun paham tentang sihir dan paranormal. Demi Allah, Al-Qur’an bukanlah jenis perkataan paranormal dan bukan pula jenis jampi-jampi tukang sihir. Sungguh, Al-Qur’an memiliki kemanisan dan keindahan yang menakjubkan. Bagian atasnya berbuah dan bagian bawahnya tumbuh lebat. Jelas kitab ini bukan buatan manusia.”.
Abu jahal balik meminta, “Coba upayakan agar Al-Qur’an ini dinilai sebagai sihir. Pikirkan dan otak-atiklah!”. Akhirnya Nadlir pun menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah sihir yang dapat dipelajari.
Maka, turunlah ayat:
“Sesungguhnya dia telah memikir-mikirkan dan membuat ketetapan. Maka celakalah dia! Bagaimana dia bisa membuat ketetapan (seperti itu)?. Kemudian celakalah dia! Bagaimana dia bisa membuat ketetapan (seperti itu)?. Kemudian dia memikir-mikirkan, kemudian dia bermuka masam dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan takabur (menyombongkan diri), lalu dia berkata: “(Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia” (QS. 74 :18-25).
Bila para ahli bahasa, ahli sastra, ahli balaghah saja lumpuh dihadapan Al-Qur’an, bagaimana dengan yang selain mereka?
Kedua: Pendekatan Ilmiah
Dalam pendekatan ilmiah, ada dua sudut tinjauan. Tinjauan etimonologi dan tinjauan terminologi. Bahasa dan istilah atau makna. Dari sudut bahasa, para ahli mendapatkan bahwa di setiap ayat, kata, bahkan huruf Al-Qur’an terdapat suatu pengertian yang hebat, yang menampilkan sisi-sisi kemukjizatannya.
Makna yang tinggi itu dibentuk sedemikian rupa, sehingga mempunyai jangkauan-jangkauan yang jauh, cakupan yang luas, normatif, sekaligus metodologis dan sistematis.
Diriwayatkan, suatu hari datang seorang laki-laki kepada seorang ulama yang nampak begitu gembira dan senang. Lelaki itu bertanya, “Mengapa anda kelihatan demikian gembira?”. Ulama itu menjawab, “Aku baru saja membaca sebuah ayat Al-Qur’an. Dalam satu ayat tadi, aku mendapatkan dua kabar, dua perintah, dua larangan dan sekaligus dua anugerah”. “Apa itu termaktub semua?”, tanya lelaki itu. Sang ulama pun menjelaskan: “Inilah ayatnya:
“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: “Susukanlah dia. Dan apabila kamu khawatir tehadapnya, maka jatuhkanlah ia ke dalam sungai. Janganlah kamu khawatir dan janganlah bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya (salah seorang) dari para Rasul” (QS. 28:7).
Kata “Kami ilhamkan” dan “kamu khawatir” adalah dua kabar. Kata “Susukanlah dia” dan “jatuhkanlah dia” adalah dua perintah. Kata “Janganlah kamu khawatir” dan “janganlah kamu bersedih hati” adalah dua larangan. Kata “Kami akan mengembalikannya kepadamu” dan “menjadikannya (salah seorang) dari para Rasul” adalah dua pernyataan anugerah”.
Juga dalam surah Ali ‘Imran, 3:191, yang berisi tentang pribadi Ulul Albab. Ayat ini bukan hanya bersifat normatif karena kandungan doktrinnya, tetapi juga berisi spesifikasi dan karakteristik Ulul Albab, metododologi pencapaiannya secara sistematik, sekaligus implikasi dan pengaruh positif dari terbentuknya pribadi Ulul Albab.
Demikian pula dalam surah 16:125. Ayat ini bukan saja berisi tuntutan normatif tentang da’wah, tetapi sekaligus bermuatan tuntunan metodologis yang sangat sistematis dan ilmiah. Serta masih banyak ayat-ayat lain yang serupa.
Adapun dipandang dari sudut terminologis (makna ayat), kandungan Al-Qur’an dapat diikhtisarkan menjadi tiga dimensi sifat: Komprehensif, karena membahas berbagai disiplin ilmu pengetahuan, seni, dan terapi jiwa; Eternal dan Reformis; serta menjangkau dimensi-dimensi non-inderawi (gaib).
Pertama, Al-Qur’an bersifat komprehensif, membicarakan segala aspek.
Seluruh materi kehidupan terhimpun dalam Al-Qur’an melalui perkataan Nabi Muhammad “al-Ummiy”. Walaupun dia bukan seorang akademisi, bahkan tidak bisa baca tulis, namun dia mampu menjabarkan seluruh apa yang dibutuhkan manusia serta memecahkan berbagai problematika yang mereka hadapi. Problematika yang meliputi, hukum, undang-undang, sistem stratifikasi sosial kemasyarakatan, keluarga, serta masalah-masalah pribadi.
Misalnya, sistem hukum dapat dipecahkan melalui delapan kata: “Wa syaawirhum fil amri, faidzaa ‘azamta fatawakkal ‘alallah” (“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam permasalahan, maka jika kalian telah ber’azam (bertekad, sepakat) bertawakkallah kepada Allah”).
Dalam problema sosial ekonomi kemasyarakatan yang mengandung implikasi politik, cukup dipecahkan dengan empat belas kata. Tujuh kata dialamatkan kepada ‘Haakim’ (pemerintah): “Khudz min amwaalihim shadaqatan tuthahhiruhum wa tuzakkiihim bihaa” (“Ambillah dari harta-harta mereka sebagai shadaqah untuk membersihkan dan menyucikan mereka”).
Dan tujuh kata lain dialamatkan kepada ‘mahkuuminn’ (rakyat): “Wa fii amwaalihim haqqun ma’luumun lis-saailiin wal-marhuum” (“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang-orang miskin yang meminta dan orang-orang miskin yang tidak memperoleh bagian”).
Dalam problem rumah tangga, dipecahkan melalui delapan kata: “Walahunna mitslul-ladzii ‘alaihinna bil-ma’ruuf walir-rijaali ‘alaihim darajah” (“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf, akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya”).
Jadi, untuk memecahkan problematika manusia, berupa hukum, undang-undang, masalah sosial, ekonomi, dan politik kemasyarakatan, serta kerumah-tanggaan, Al-Qur’an cukup hanya menggunakan tiga puluh kata saja.
Demikian pula problema keduniaan yang universal. Para ilmuwan, pengamat, pakar dan pemikir, telah menghabiskan umur untuk memecahkan problematika ini, namun tidaklah berhasil sebagaimana yang dicapai Al-Qur’an, yang telah membuka ‘kran’ ilmu pengetahuan bagi manusia hingga mengalir tak habis-habisnya. Al-Qur’an juga membuka kesempatan seluas-luasnya bagi manusia dalam mengembangkan dinamika keilmuannya.
Barangkali inilah pengertian kemukjizatan Al-Qur’an. Jika semua solusi qur’ani di atas diterapkan secara tepat, niscaya tidak akan muncul di permukaan bumi ini problema kemiskinan, kesenjangan sosial ekonomi yang lebar, situasi politik yang serba caos, disharmoni keluarga, dan kehancuran rumah tangga.
Para hartawan dan pengusaha merasa aman dengan usahanya, para penerima shadaqah merasa tenang dengan keberlangsungan hidupnya, masyarakat umum merasa tenteram dalam harmonika kehidupan yang adil dan sejahtera.
Kedua: Al-Qur’an bersifat eternal dan reformis. Berjalan sesuai dengan tuntutan zaman.
Tidak kontradiksi dengan perkembangan rasio dan keilmuwan. Allah mengetahui bahwa manusia selalu berkembang, dinamis dan progresif. Andaikan hukum-hukum alam serta teori-teori ilmiah disusun secara definitif dan terbatas, maka manusia akan kacau balau, bingung, dan akan ingkar serta mendustakan kebenaran agama.
Adalah suatu realitas yang tetap dalam tradisi kemanusiaan dalam hal produk berfikir. Bahwa kebenaran kemarin merupakan cerita bohong hari ini, dan kebenaran hari ini merupakan ketakhayulan hari esok. Rasio manusia senantiasa mencari-cari dan melayang.
Karena ciri-ciri demikian, maka al-Qur’an datang dalam format elastis, berjalan seiring dengan derap kemajuan manusia. Semakin ilmu pengetahuan manusia bertambah, kian terbukti pula kemukjizatan dan kehebatan Al-Qur’an.
“Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk serta pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka, bahwa sesungguhnya Al-Qur’an itu benar…” (QS. 41:53).
Demikian pula, setiap ditemukan kebenaran ilmiah, disitu sudah diisyaratkan dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak bertentangan dengan kebenaran ilmiah. Dan inilah sebagian rahasia dari berbagai rahasia Al-Qur’an.
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari Allah, tentu mereka akan mendapatkan di dalamnya banyak yang bertentangan” (QS. 4:82).
Ketiga: Al-Qur’an mampu menjangkau dimensi-dimensi non-inderawi.
Misalnya, Al-Qur’an telah memprediksi kemenangan Romawi Timur yang berpusat di Konstantinopel, setelah beberapa saat sebelumnya mengalami kekalahan besar dari bangsa Persia. Ternyata prediksi Al-Qur’an itu benar-benar terbukti (QS. 30:2-3).
Uraian di atas mengantar kita yakin akan kemukjizatan dan kehebatan Al-Qur’an. Manusia, bahkan jin, secara jelas tidak akan pernah mampu membuat semisal Al-Qur’an. Mengapa kita masih enggan mempelajarinya?.
Al-Qur’an pedoman hidup
Setiap manusia menginginkan hidupnya selamat di dunia dan di akhirat. Oleh karenanya, ia membutuhkan pedoman yang akan menuntunnya dalam meniti jalan kehidupan ini. Al-Qur’an, sebagai the way of life for human ciptaan Allah swt, akan dapat menjadi pedoman, petunjuk, pembimbing, penjelas, dan berita gembira bagai setiap manusia apabila:
Pertama: Meyakini penuh, tanpa ada unsur ragu terhadap kebenaran Al-Qur’an.
Tiada satu sistem pun di dunia ini yang dapat menyelamatkan manusia, kecuali sistem Qur’ani. Semua sistem yang ada -baik politik, ekonomi, maupun social- yang tidak merujuk pada Al-Qur’an telah terbukti gagal menyejahterakan umat manusia.
Islam adalah agama yang lengkap, utuh dan integral. Kita mesti yakin Islamlah alternatif sistem yang paling tepat untuk menyelesaikan berbagai problema kehidupan dalam segala dimensinya.
Kedua: Menjadikan Al-Qur’an sebagai mitra, guru, dan ‘surat cinta’.
Tiada hari terlewatkan tanpa berkomunikasi dengan Kalam Allah, sebagaimana dilakukan para ulama shalafush-shalih. Hari-hari dalam kehidupan mereka tidak pernah lengang dari Al-Qur’an. Setiap bulan -minimal- mereka mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an.
Pada masa Kekhalifah Umar bin Abdul Aziz, beliau selalu menyelesaikan masalah-masalah kenegaraan dengan merujuk langsung pada Al-Qur’an. Beliau selalu membacanya meskipun hanya dua atau tiga ayat, kemudian berkomentar, ” mudah-mudahan aku tidak tergolong orang-orang yang meninggalkan Al-Qur’an”.
Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa membaca satu ayat Al-Qur’an, baginya pahala sepuluh kebaikan dalam setiap huruf. Dan barangsiapa yang mendengarkan, baginya cahaya di hari Kiamat.”
Para huffazh (penghafal Al-Qur’an) dianggap membuat suatu kesalahan bila dia lupa (tidak memperhatikannya). Oleh karena itu, kita harus memperbanyak membaca Al-Qur’an serta membiasakannya secara rutin dan berkesinambungan.
Ini dalam rangka mengikuti jejak para sahabat, para ulama shalafush-shalih, sekaligus menaati perintah Allah dan Rasul-Nya untuk membaca dan memahami isi kandungannya.
Ketiga: Meperhatikan etika dan kaidah membaca dan men-tadabbur-i (memahami dan menghayati) Al-Qur’an.
Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan dalam keheningan. Maka menangislah dikala membacanya. Bila tidak bisa, maka berusahalah menangis-nangiskannya”.
Hadits ini mengharuskan adanya usaha ke arah penghayatan Al-Qur’an dan menjaga tipu daya setan yang selalu berusaha memalingkan manusia dari kesukaan tadabbur Al-Qur’an. Meskipun baru sampai pada taraf oral, kita dituntut untuk terus membaca, sehingga Al-Qur’an benar-benar membekas dalam qalbu.
Suatu malam, ketika kebanyakan manusia tengah terlelap dalam tidurnya, khalifah Umar bin Khattab sedang melakukan hirasah (ronda), beliau mendengar seseorang tengah membaca Al-Qur’an dengan syahdu:
“Dengan menyebut Asma’ Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demi bukit. Demi Kitab yang tertulis, pada lembaran yang terbuka. Demi Baitul Ma’mur. Demi atap (langit) yang ditinggikan. Demi laut yang menggelora. Sungguh adzab Rabb-mu pasti dan nyata akan datang!”(QS. 52:1-7).
Ketika mendengar ayat ini dibaca, tiba-tiba beliau seperti menggigil dan berkata, “Sungguh, ini adalah sebuah persaksian (sumpah) yang benar. Demi Rabbnya Ka’bah “, setelah itu beliau terjatuh pingsan.
Salah seorang sahabat yang sempat menyaksikan kejadian tersebut, segera mengangkat dan membawa masuk ke rumahnya. Tiga puluh hari beliau di sana karena sakit.
Menjadi kebiasaan Umar bin ‘Abdul ‘Aziz selesai shalat Isya’ beliau mengambil air wudhu kemudian shalat dan membaca ayat:
“(Kepada malaikat diperintahkan): ‘Kumpulkan orang-orang zhalim beserta teman sejawat mereka dan sesembahan yang selalu mereka sembah selain Allah; maka tunjukkanlah mereka jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka, karena sesungguhnya mereka akan ditanya’.” (QS. 37:22-24).
Beliau selalu mengulang ayat: “waqifuuhum innahum mas’uuluun” (Dan tahanlah mereka, karena sesungguhnya mereka akan ditanya). Demikian dilakukan sampai datang azan subuh.
Bahwa konsep menghatamkan Alquran itu bukan hanya mengkhatamkan 30 juz atau bukan hanya menghafalkan 30 juz saja, tapi bagaimana agar seluruh umat Islam bisa menghatamkan Alquran dengan proses Iqra’ pertama sampai ke empat tersebut.
Iqra’ pertama sekedar membaca, iqra’ kedua mendalaminya, iqra’ ketiga menghayati dan mengamalkan, dan keempat adalah menyingkap tabir Al Quran.
Ust H Sholih Hasyim | Kampus Induk, Senin, 08 Februari 2021
KRISIS kepemimpinan, kini terjadi dimana-mana. Ukuranya sederhana. Siapapun yang saat ini disebut pemimpin, dalam berbagai tingkatan dan level, rata-rata sibuk mengkapitalisasi dirinya dan kelompoknya untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan kelompoknya lebih banyak dan banyak lagi.
Tidak tanggung-tanggung, bisa dilakuan dengan berbagai daya dan upaya. Seolah mengamini dalil Lord Acton yang masyhur itu, ”Power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely”. Dimana, korupsi dalam perspektif Acton tidak hanya menyangkut dengan uang saja, tetapi juga terkait dengan kebijakan, politik, sosial, budaya dan lain sebagainya.
Sehingga “wajar” jika semakin sesorang mendapat kekuasaan semakin menggila dan gelap mata. Akibatnya enggan melepas kekuasannya itu. Dampaknya terus melakuan mobilisasi dan menjalin aliansi dengan berbagai pihak, agar kekuasaannya semakin kuat, langgeng dan tidak jatuh.
Seolah merekalah merupakan pengatur segalanya, orang lain (rakyat) dianggap buta, tidak tahu apa-apa. Lebih parah lagi jika kemudian ada yang memanfaatkan kepemimpinan dan kekuasaan itu. Biasanya dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya dan kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan.
Mereka seringkali menjadi penyokong yang tidak waras. Sebab mereka juga takut kehilangan bagian dari “kue” kekuasaan yang telah dinikmati atau yang dijanjikan. Maka berbagai upaya pembelaan dan penjerumusanpun dilakukan. Menjilat. Asal bapak senang (ABS) dan istilah serta perilaku sejenis lainnya.
Akibatnya, pemimpinnya mati kutu, sebab semakin mendapat pembenaran, bukan kebenaran. Apalagi jika seorang pemimpin tidak cukup memiliki ilmu, kapasitas, integitas, dan kecakapan yang memadai dalam memimpin. Maka dia akan larut dan diombang-ambingkan oleh situasi, kondisi dan keadaan.
Ada virus yang dihembuskan, bahwa memimpin itu artinya menguasai. Dengan demikian pendekatannya pasti dengan kekuasaan. Sedangkan pendekatan kekuasaan itu, seringkali dilakukan dengan paksaan, kesewenang-wenangan, hingga tidak jarang menggunakan intimidasi dan kekerasan. Ini kaidah umumnya.
Tambah semakin berkelindan lagi, jika ternyata ada cukong yang mem-backup kekuasaan tersebut. Tidak jarang mengatasnamakan demokrasi. Padahal kalangan berduit yang kemudian membayar seseorang untuk dapat berkuasa. Dipoles sedemikian rupa, dipantas-pantaskan meskipun tidak pantas, dan seterusnya.
Cukong berhitung sebagai investasi. Sehingga dengan mudah dapat dikalkulasi dalam perspektif bisnis. Berapa cost yang harus dikeluarkan untuk menjadikan seseorang untuk menjabat level kekuasaan tertentu. Dan berapa lama nanti investasinya akan kembali, serta mendapat keuntungan berapa besar. Semua bisa dihitung. Kaidah transaksional terjadi.
Dan selanjutnya bisa kita tebak, siapapun yang berkuasa, dia akan menjadi boneka dan berada dalam pengaruh dan kendali para bandar itu. Dan Inilah oligarki yang sempurnya. Kolaborasi Peng-peng (penguasa dan pengusaha). Sehingga kecurangan dan menghalalkan segala cara dianggap hal biasa. Bahkan dilakukan secara terstruktur dan sistemik. Saling melindungi dan saling menutupi.
Sesungguhnya pemimpin yang demikian ini tersandera dan juga saling menyandera. Meski didukung dengan data statistik misalnya, akan tetapi tetap saja bisa direkayasa dan dimanipulasi, sebab ada juga kaidah lie’s with statistic (berbohong dengan statistik).
Praktik-praktik kotor seperti ini, saat ini dengan terang benderang dan masif dipertontonkan kepada kita dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kancah dunia, misalnya dengan kasat mata juga menunjukkan hal itu, sejak lama. Pun demikian dalam konteks Indonesia, juga tidak kalah hebonya. Semuanya, dengan mudah kita jumpai, kita saksikan dan kita rasakan.
Apalagi di era media sosial, maka tidak ada yang tersembunyi setiap kejadian di kolong langit ini. Bahkan, kini laksana terjadi tsunami informasi yang datang bertubi-tubi, dan kita tidak bisa menghindarinya. Akibatnya, kita sangat sulit untuk melakukan cross check/tabayyun dan melakukan verifikasi, apakah informasi yang kita terima benar apakah hoax. Ini era yang dinamakan dengan post trust.
Disisi lain, seolah kita juga tidak berdaya dan tidak mempunyai kekuatan untuk melawan. Bahkan menunjukkan raw-model kepemimpinan yang baik itu seperti apa, tidak mampu. Seakan tidak ada pembanding. Jika ada, maka kalah popularitasnya dengan praktik yang ada.
Tenggelam dengan mainstream yang sedang terjadi, dengan selalu dicekoki dengan model kepemimpinan yang menjijikkan dari berbagai media itu. Apalagi kini media mainstream juga sudah dibeli dan terbeli. Akibatnya, seakan jika ingin melihat praktik kepemimpinan yang baik itu, hanya ada dalam buku, dongeng dan cerita saja. Tidak ada wujudnya yang nampak.
Hal tersebut sangat membahayakan dan mengkhawatirkan. Apalagi bagi generasi milenial dan sesudahnya. Sebab generasi saat ini, lebih suka menonton daripada membaca. Lantas jika tontonannya dari waktu ke waktu terus seperti itu, bisa jadi dalam alam bawah sadarnya akan menjadi mindset, selanjutnya membenarkan praktik-praktik seperti ini.
Hakikat Kepemimpinan
Kesalahan paradigmatik tentang kepemimpinan itulah yang kemudian merusak hakikat kepemimpinan itu sendiri. Seorang pemimpin, di level apapun juga, seharusnya sudah selesai dengan urusan dirinya sendiri. Artinya bukan tidak boleh memikirkan dirinya sendiri, tetapi porsinya kecil. Dia lebih mengutamakan kemaslahatan bagi yang dipimpinnya.
Disisi lain para pemimpin harus sadar, bahwa memimpin itu identik dengan melayani. Memberikan yang lebih baik dan lebih banyak terhadap orang lain. Bukan menjadi yang dilayani. Sehingga meminta lebih banyak dari orang lain. Jika kaidah ini dipahami dan dilaksanakan, maka keluarganya, orang-orang di sekitarnya, serta siapapun yang punya kepentingan dengannya, juga akan mengikuti arus utama itu.
Bagaimana kita menanamkan dan menginjeksi model kepemimpinan yang melayani ini, sebagai hakikat kepemimpinan itu sendiri. Setidaknya kita bisa mengambil contoh dari praktik yang indah dan diteladankan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra, cucu dari Umar bin Khaththab ra ini.
Dimana, sesaat setelah diangkat menjadi khalifah, menggantikan pamannya Sulaiman bin Malik ra, beliau berpidato di atas mimbar. Selanjutnya beliau turun dari mimbar dan beranjak menuju rumahnya dan masuk ke dalam kamarnya.
Beliau ingin sekali istirahat barang sejenak setelah menguras tenaganya karena banyaknya kesibukan pasca wafatnya khalifah sebelumnya. Akan tetapi, belum lagi lurus punggungnya di tempat tidur, tiba-tiba datanglah putra beliau yang bernama Abdul Malik –ketika itu dia berumur 17 tahun- dia berkata,
Abdul Malik: “Apa yang ingin Anda lakukan wahai Amirul Mukminin?”
Umar bin Abdul Aziz: “Wahai anakku, aku ingin memejamkan mata barang sejenak karena sudah tak ada lagi tenaga yang tersisa”
Abdul Malik: “Apakah Anda akan tidur sebelum mengembalikan hak orang-orang yang dizalimi wahai Amirul Mukminin?”
Umar bin Abdul Aziz: “Wahai anakku, aku telah begadang semalaman untuk mengurus pemakaman pamanmu Sulaiman, nanti jika telah datang waktu zuhur aku akan shalat bersama orang-orang dan akan aku kembalikan hak orang-orang yang dizalimi kepada pemiliknya, insya Allah”
Abdul Malik: “Siapa yang menjamin bahwa Anda masih hidup hingga datang waktu zuhur wahai amirul mukminin?”
Kata-kata ini telah menggugah semangat Umar bin Abdul Aziz, hilanglah rasa kantuknya, kembalilah semua kekuatan dan tekad pada jasadnya yang telah lelah, beliau berkata, “Mendekatlah engkau nak!”.
Lalu mendekatlah putra beliau kemudian beliau merangkul dan mencium keningnya sembari berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah mengeluarkan dari tulang sulbiku seorang anak yang dapat membantu melaksanakan agamaku”.
Kemudian beliau bangun dan memerintahkan untuk menyeru kepada manusia, “Barangsiapa yang merasa dizalimi hendaklah segera melapor”.
Itulah salah satu raw-model kepemimpinan yang telah dipraktikkan dengan indah dalam khazanah Islam. Dan masih banyak lagi contoh yang bisa ditampilkan. Jika dari hal yang nampak sederhana sudah dilakukan perbaikan maka, akan berimbas pada yang lebih besar.
Terbukti, hanya sekitar 2 (dua) tahun menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz mampu mengubah tatanan bernegara dan mensejahterakan rakyatnya.
Hal ini senada dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiaullahanha berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah bersabda di rumahku ini, “Ya Allah siapa yang menguasai sesuatu dari urusan umatku, lalu mempersukar pada mereka, maka persukarlah baginya. Dan siapa yang mengurusi umatku lalu berlemah lembut pada mereka, maka permudahlah baginya.” (HR Muslim).
Yang menjadi soal adalah, bukan tentang istilah, definisi, dan contoh-contoh tersebut di atas, akan tetapi lebih dari itu, yaitu bagaimana mempraktikkan semua itu dalam kehidupan sehari-hari. Tentu tidak mudah. Tetapi bukan berati tidak bisa.
Mari memulainya dari diri kita sendiri, berlanjut ke keluarga kita, komunitas kita, dan seterusnya. Semuanya sepatutnya dimulai dari hal-hal kecil, hingga berlanjut menjadi roadmap, dan membesar serta mempengaruhi perubahan dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara, selanjutnya dapat memperbaiki tata kehidupan dunia. Wallahu a’lam.
Asih Subagyo | Instruktur pada Hidayatullah Institute