Beranda blog Halaman 356

Peringatan 12 Tahun Mavi Marmara Teguhkan Peran Indonesia Bela Palestina

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Jaringan silaturrahim Sahabat Al-Aqsha bersama DPP Hidayatullah, PP Pemuda Hidayatullah, majalah Suara Hidayatullah, dan Mavi Marmara Foundation menggelar peringatan 12 tahun peristiwa Mavi Marmara. Kegiatan itu diadakan di Gedung Pusat Dakwah Hdayatullah Jakarta, Selasa, 1 Dzulqaidah 1443 (31/5/2022).

Peringatan tradegi berdarah Mavi Marmara menarik ingatan pada peristiwa penyerangan brutal tentara zionis Israel terhadap konvoi kapal Gaza Freedom Flotilla yang sedang mengantarkan barang bantuan untuk rakyat Palestina yang dipelopori oleh Yayasan Bantuan Kemanusiaan (IHH) Turki. Peristiwa nahas yang terjadi di perairan internasional pada tanggal 31 Mei 2010 itu menewaskan sembilan aktivis kemanusiaan dan sedikitnya 60 korban terluka.

Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Dr Fadli Zon mengatakan selain menelaah kembali peristiwa yang dikecam masyarakat internasional tersebut, peringatan ini juga menjadi momentum meneguhkan peran bangsa Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina.

Fadli menegaskan, semua yang ikut serta mendukung dan berbuat untuk kemerdekaan Palestina sepenuhnya dilindungi oleh Undang-undang bahkan sangat sesuai dengan Pembukaan UUD 1945.

“Rakyat Indonesia yang berinisiatif dan bekerja lewat masyarakat madani (civil society) seperti Freedom Flotilla, Mavi Marmara, Hidayatullah, Sahabat Al-Aqsha ini berdampak diplomasi yang positif bagi Indonesia,” terangnya.

Ketua Mavi Marmara Foundation Behesti Ismail Songur yang bergabung dengan acara tersebut melalui sambungan virtual menyampaikan terima kasih atas dukungan Indonesia bagi perjuangan kemerdekaan Palestina dan Masjidil Aqsha.

“Terima kasih Indonesia untuk dukungannya yang besar bagi perjuangan kemerdekaan Palestina dan Masjidil Aqsha,” kata Ismail yang ayahnya, Cengiz Songür, termasuk salah satu dari sembilan syahid dalam peristiwa serangan brutal 12 tahun lalu itu.

Berbicara dalam kesempatan yang sama tersebut, mantan Duta Besar RI di Jordania Zainulbahar Noor mengungkapkan bahwasanya peringatan ini penting dilakukan. Bahkan ia menyarankan mestinya digelar setiap tahun. “Karena ini peristiwa bersejarah yang mesti diketahui oleh setiap generasi baru,” terangnya.

Senada dengan itu, Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Al-Shun menegaskan bahwa darah bangsa Palestina dan bangsa Indonesia telah menyatu di kapal Mavi Marmara.

Sementara itu, Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr H Nashirul Haq menyampaikan pentingnya menjaga niat dan cita cita luhur menjadi syahadah di Jalan Allah. Caranya, terang dia, adalah dengan “menjadikan perjalanan hidup kita mulia dengan jihad menegakkan keadilan yang menggantikan kezaliman.”

Sementara Ketua PP Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi dalam kesempatan itu menyampaikan bahwa transformasi pemahaman mengenai peristiwa dalam perjuangan seperti yang diberikan oleh acara ini kepada anak-anak muda sangat penting dalam pembangunan peradaban.

Hadir juga sejumlah tokoh dalam acara tersebut seperti wartawan korban peristiwa Mavi Marmara, Surya Fachrizal Aprianus Ginting, dan Prof Daud Rasyid Sitorus yang menggarisbawahi penyampaiannya bahwa dunia ilmu juga merupakan lapangan perjuangan di mana penyembunyian dan pemutarbalikan ilmu masih berlangsung bahkan semakin luas.

Acara ditutup dengan doa oleh Ketua Wantim Hidayatullah Ustadz Hamim Thohari seraya berpesan bahwa bersamaan dengan penindasan atas Palestina, “kita juga betugas untuk menghentikan kezaliman yang ada di sini. (ain/hio)

Refleksi Hari Lahir dan Mencari Figur Pancasilais

SETIAP 1 Juni, selalu terjadi polemik berkenaan hari lahir Pancasila. Hal ini mengacu kepada Pancasila versi mana yang dipakai dasar tonggak sejarah lahirnya dasar negara Indonesia itu. Sebab, banyak versi rumusan yang saat ini mudah untuk didapat, di tengah revolusi teknologi informasi.

Perdebatan panjang dan terus berulang itu, seringkali tidak berujung. Akhirnya, jalan tengahnya adalah, sama-sama menikmati kehadiran hari libur nasional, setiap tanggal 1 Juni ini. Untuk yang ini, tidak ada perbedaan.

Saya tidak ingin mengulang perdebatan itu. Sebab dengan mudah, kita bisa mencari informasi dan menemukan bagaimana proses penetapan. Sampai kemudian ketika ada “pemaksaan” penerapannya sebagai azas tunggal di Era Orde baru. Lengkap dengan adanya penolakan dan penerimaanya. Hal tersebut menjadi sebuah keniscayaan sebagai catatan sejarah panjang bangsa ini yang tidak bisa dilupakan.

Dalam kesempatan ini, saya ingin mengajak untuk obyektif. Namun jika ada yang melihat subyektif itu juga relatif. Saya mengajak kita menggunakan akal pikiran. Maka jika cermat dan jujur saat membaca masing-masing format yang ada, sesungguhnya sangat mudah menilai dan memilih, format usulan mana yang paling sesuai dengan apa yang sekarang kita kenal sebagai dasar negara ini.

Tetapi, lagi-lagi apapun dialektika yang terus terjadi ini, kita tetap merujuk lima sila yang kita kenal sebagai lima urutan yang menjadi pedoman hidup sebagai rakyat Indonesia.

Berdasarkan catatan sejarah pula, maka Pancasila itu digali dari sejarah panjang dari bangsa Indonesia. Di mana nilai filosofis keindonesiaan menjadi landasannya. Dari sini kemudian disepakati untuk dijadikan sebagai landasan falsafah dan nilai bangsa.

Akan tetapi realitasnya, nilai-nilai yang diusung dalam Pancasila tersebut, belum pernah terwujud dengan baik di negeri ini. Dan sebenarnya, semua rezim yang pernah memerintah di negeri ini, belum pernah melaksanakannya, secara apa yang dulu sering disebut dengan istilah murni dan konsekuen.

Nilai-nilai kebangsaan yang diharapkan itu, pada prakteknya tidak pernah terimplementasikan. Dan jika kita membaca ulang sejarah bangsa sejak merdeka hingga saat ini, maka akan kita temukan nilai-nilai asing yang ada.

Dan ini sebenarnya berseberangan secara diametral dengan landasan filosofis dan semangat yang ada. Bandul negeri ini terus bergoyang tiada henti, dari sosialisme, kapitalisme, komunisme, sekularisme, demokrasi liberal, dan seterusnya.

Maka sangat wajar jika kemudian dalam praktek kebangsaan dan kenegaraan belum mampu melaksanakan ke-5 sila yang ada secara proporsional. Sehingga tafsir Pancasila itu sendiri menjadi sesuai dengan kemauan siapa yang sedang berkuasa dan memerintah.

Akibatnya, ia hanya menjadi alat legitimasi kekuasaan. Bahkan, tidak jarang menjadi alat penekan dan penindas. Bukan sarana untuk menjadikan bangsa ini menuju cita-cita luhurnya. Ini sebuah ironi, tetapi faktanya memang begitu.

Oleh karenanya, ketika terjadi praktek pelecehan terhadap agama, baik secara fisik maupun verbal dan tulisan, kriminalisai terhadap tokoh-tokoh agama, dan lain sebagainya, maka dimanakah Ketuhanan Yang Maha Esa itu?

Demikian halnya betapa mudahnya kita menjumpai pelaksanaan hukum yang tebang pilih. Tajam ke bawah tumpul ke atas. Terjadi politik belah bambu. Diikuti perilaku yang diskriminatif dan menunjukkan sikap yang amoral serta tidak beradab, dengan terang benderang kita jumpai, maka dimanakah kemanusiaan yang adil dan beradab itu.

Ketika saat ini terjadi polarisasi antar anak bangsa yang sangat tajam, sebagai buntut dari pelaksanaan pemilu dan pilkada, seharusnya menjadi bahan introspeksi. Demikian juga seringkali terjadi tindakan rasis yang melanggar SARA. Dari sini bisa memicu terjadi disintegrasi bangsa, maka dimanakah Persatuan Indonesia itu.

Selanjutnya praktik demokrasi yang liberal dan politik transaksional yang terjadi, mengakibatkan terjadinya politik dagang sapi dan seterusnya. Demikian juga model kepemimpinan yang menuju oligarki, sedangkan musyawarah direduksi menjadi voting. Maka dimanakah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

Pada saat yang sama terjadinya ketimpangan antara si kaya dan simiskin, penguasaan ekonomi nasional hanya dikuasai oleh segelintir kelompok, bahkan kekayaan negara yang sudah tergadaikan kepada asing, maka dimanakah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu.

Sebenarnya, masing-masing sila sangat mudah untuk diuraikan. Sengaja saya cuplik poin-pointnya saja. Saya melihat semua ini, seolah terjadi pembiaran, dan terkesan ada kesengajaan ataupun dipelihara. Hal ini dipertegas saat terdapat pihak yang berseberangan dan mendaku yang paling NKRI dan paling Pancasialis.

Kemudian saling mengklaim, selanjutnya saling mengejek, membully bahkan menegasikan satu dengan lainnya. Semua merasa paling benar. Akan tetapi parameter dan indikatornya absurd, bahkan jauh dari kelima sila yang ada. Apalagi jika kita tarik dalam praktik kenegaraan yang lagi-lagi memang belum mencerminkan pelaksanaan kelima sila yang ada.

Jika secara kenegaraan tafsirnya masih beragam, demikian juga implementasinya masih jauh panggang dari api, maka pertanyaan kritisnya adalah siapakah role model yang dapat dijadikan figur sebagai pribadi yang pancasialis itu? Siapa patron utamanya, sehingga dapat diteladani dan darinya akan menjadi penggerak bangsa ini untuk menjadi bangsa yang unggul? Ternyata kita kebingungan.

Taruhlah disodorkan salah satu figur disepanjang sejarah bangsa. Pun demikian model pemerintahan yang pernah ada hingga kini yang telah mempraktikkan terbukti dengan benar. Maka percayalah masing-masing contoh itu, dengan sangat mudah untuk ditemukan kekurangannya.

Saya tidak sedang menggugat dasar negara ini. Tetapi pertanyaan kunci di atas itu memang membutuhkan jawaban pasti. Sebab semakin kedepan, setiap generasi memerlukan contoh konkritnya.

Setidaknya ada indikator yang disepakati, dan menjadi parameternya. Bukan klaim “ngawur” dan serampangan sebagaimana terjadi belakangan ini. Jika ini dilanjutkan, maka keterbelahan anak bangsa, tidak akan berkesudahan. Semoga bangsa ini menjadi semakin membaik. Wallahu a’lam

Asih Subagyo│Senior Researcher Hidayatullah Institute

DPW Hidayatullah Sultra Serahkan Tali Asih kepada Kader

0

RAHA (Hidayatullah.or.id) — Sejatinya seorang mukmin adalah orang yang selalu merasakan kedekatan dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Seorang mukmin juga merasakan penderitaan yang sama dirasakan oleh saudara mukmin yang lain sehingga melahirkan rasa simpati dan empati kepada saudara-saudara seimannya.

Karena eratnya ikatan persaudaraan sesama kaum Muslim ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR Bukhari dan Muslim).

Olehnya itu, di sela-sela kesibukan organisasi, Ustadz Alimuddin, S.Pd.I. selaku Ketua Departemen Sosial dan Kesehatan DPW Hidayatullah Sulawesi Tenggara (Sultra) menyempatkan diri menjenguk Ketua DPD Hidayatullah Buton Ustadz La Ode Haidir yang masih dalam masa perawatan di RSUD dr. LM Baharuddin, Raha, Kab. Muna, Rabu, 1 Dzulqo’dah 1443 H (1 Juni 2022).

Sebelumnya diinfokan Ust. Haidir mendapatkan perawatan rawat inap di RS Siloam Kota Baubau selama 3 hari dan 3 malam dengan diagnosa awal maag akut. Setelah itu, berpindah ke RSUD dr. LM Baharuddin Kab. Muna saat lebaran Idul Fitri hingga hari ini. Terhitung sudah 3 pekan lebih dalam perawatan.

Saat pembesukan di Ruangan Mawar Kelas 2 terlihat kondisi Ust. Haidir yang mulai membaik. “Alhamdulillah, tadi sudah bisa makan, bisa mandi sendiri, cerita seperti biasa sambil duduk, dan infus sudah dibuka sementara,” terang Ust. Ali, sapaan Ust. Alimuddin.

Beberapa saat kemudian Ust. Ali juga menyempatkan membesuk Ustadzah Wiwin Ermawan istri dari Ust. Nurdin Ketua DPD Hidayatullah Buton Tengah (Buteng) yang baru saja melahirkan melalui operasi cesar di RS Siloam Kota Baubau.

DPWH Sultra dalam dua kesempatan tersebut memberikan tali asih biaya pengobatan dan biaya rawat inap hasil dari penggalangan dana ta’awun partisipasi kader dan jama’ah yang dikoordinir oleh DPWH Sultra bidang kesejahteraan sosial tersebut.

“Atas nama DPW Hidayatullah Sultra kami ucapkan jazakumullah khairan katsiran kepada semua kader dan jama’ah yang turut berpartisipasi membantu pengobatan Ust. Haidir dan Ustzh. Wiwin. Mari kita do’akan semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kesehatan dan kesembuhan bagi keduanya dalam waktu cepat untuk kembali dalam perjuangan membina ummat. Aamin yaa Rabbal ‘Alamin,” tutup Ust. Ali./*Noer Akbar

Sekolah Daiyah Hidayatullah Sultanbatara di Bone Resmi Dibuka

0

BONE (Hidayatullahor.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel membuka Sekolah Daiyah Hidayatullah (SDH) di Kampus Putri Ponpes Hidayatullah Panyula, Kabupaten Bone, Jumat, 26 Syawal 1443 (27/5/2022).

Pembukaan Sekolah Daiyah tersebut ditandai dengan acara seremonial dihadiri oleh Dewan Pengurus Wilayah, Anggota Dewan Murobbi Wilayah, Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Zona Bosowa, manajemen SDH Parepare dan tokoh-tokoh agama di Watampone.

Di hadapan para undangan yang hadir Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nasri Bukhari MPd mengapresiasi hadirnya Sekolah Daiyah Hidayatullah Sultanbara tersebut.

Ust Nasri berharap Sekolah Daiyah tersebut bisa menjadi solusi kurangnya tenaga daiyah dan muhafizah di semua kampus- kampus Pesantren Hidayatullah khususnya di Sulawesi Selatan.

“Sebagai Sekolah Daiyah Hidayatullah yang pertama berdiri maka harus ditangani secara maksimal dan professional sehingga bisa menjadi role model bagi lahirnya Sekolah Daiyah Hidayatullah (SDH Putri ) di wilayah lainnya,” ujarnya.

Ketua pengelola SDH Putri Ustadz Muallip MPd menuturkan program dan jenjang perkuliahan yang dibuka di 2022 adalah program Takhasus 1 tahun dan program Strata 1 Tahfizh yang dikerjasamakan dengan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Bayan Makassar.*/Dwi Tjahjadi

Silaturrahim Syawal DPW Jabar Launching Yayasan Ta’awun Da’i Indonesia

CIREBON (Hidayatullah.or.id) — Momentum kebersamaan Silaturahmi Syawal 1443 H digelar oleh Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Barat, Sabtu, 28 Mei 2022/27 Syawal 1443 H, di Yayasan Manarussalam Pesantren Hidayatullah Kota Cirebon, Gg. Langgar Kel. Karyamulya, Kec. Kesambi, Kota Cirebon.

Acara yang bertema “Merajut Ukhuwah dan Membangun Komitmen Berjamaah dalam Mewujudkan Peradaban Islam” ini dihadiri sekitar 700 orang, di antaranya Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, anggota DPRD, Kapolsek, perwakilan Camat, RT/RW, dan tokoh masyarakat. Selain itu, pengurus DMW, DPW, DPD, BMH, PEMUDA, SAR, Mushida serta amal usaha lainnya se-Jawa Barat.

Ketua DPW Hidayatullah Jawa Barat Ustadz Taufik Wahyudiono, S.Pd dalam sambutannya menyampaikan bahwa acara silaturahmi Syawal ini merupakan kultur di Hidayatullah yang harus dipertahankan dan dilakukan oleh para kader Hidayatullah. Taufik juga mengapresiasi kehadiran seluruh kader, jamaah dan tamu undangan.

“Silaturahmi ini perlu diadakan karena ini kultur di Hidayatullah untuk membangun ukhuwah agar tugas-tugas bisa dilakukan dengan berjamaah, penuh semangat dan rukun untuk membangun Jabar lebih baik,” ungkap Taufik.

“Terima kasih atas kehadiran di acara ini dan berharap para dai bisa menjalin hubungan yang lebih baik lagi di masyarakat, pemerintahan, aparat keamanan sehingga tercipta suasana yang aman dan kondusif,” imbuhnya.

Sementara, Ketua DMW Hidayatullah Jabar Ustadz Dadang Abu Hamzah menguatkan pentingnya makna silaturahmi dalam meraih kebahagiaan dan keberhasilan dalam berdakwah.

“Alhamdulillah tahun ini kita bisa berkumpul dan bersilaturahmi. Kesempatan ini sangat ditunggu-tunggu karena para dai bisa bertukar pikiran, pengalaman di daerah masing-masing,” kata Dadang Abu Hamzah.

“Karena silaturahmi ini diperintahkan oleh Nabi SAW. Barangsiapa yang ingin rezekinya dilapangkan dan panjang umur, hendaklah ia menyambung kerabatnya (silaturahim), Dadang menegaskan.

Hadir dalam kesempatan ini Kapolsek Kesambi Polres Cirebon Kota Iptu. Sudarsono, SH yang mewakili Kapolres. Kapolsek menyambut gembira acara Silatrahmi Syawal ini. Menurutnya, dapat merekatkan ukhuwah antara pesantren, pemerintah, dan masyarakat.

“Acara ini banyak manfaatnya. Kami menghimbau agar para dai dan pengurus pesantren bisa bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban,” ujarnya.

Launching YATADI

Acara yang dirangkai dengan Launching Yayasan Taawun Dai Indonesia atau YATADI ini diresmikan langsung oleh anggota DPRD Kota Cirebon R. Endah Arisanasyakanti, SH.

“Masya Allah, acara ini bagus sekali apalagi di-launching Yayasan Taawun Dai Indonesia ini. Mudah-mudahan dari pihak pemerintah bisa mendorong, memotivasi, dan membantunya,” ujar Endah.

Adapun tujuan didirikannya YATADI ini adalah menjadi solusi dan sarana edukasi untuk saling tolong-menolong, dan berbagi kebaikan. Selain itu, memudahkan para dai yang kesulitan ekonomi dalam menjalankan tugasnya di daerah.

Ketua DPP Hidayatullah Dr. Nashirul Haq, Lc, MA dalam tausiyahnya berpesan agar para dai tetap semangat, bersatu, menjaga hati, dan istiqamah dalam memperkuat nilai-nilai ukhuwah imaniyah.

“Silaturahmi ini penting untuk melapangkan hati kita dan saling memaafkan. Karena itu, kita harus menjaga dan memperkuat persaudaraan. Persaudaraan itu masalah hati dan Allah-lah yang mempersatukan hati kita. Inilah yang disebut ukhuwah imaniyah,” papar Nashirul Haq.

“Selain orang beriman tidak ada persaudaraan imaniyah (abadi). Jadi, jangan ada hasad yang dapat menghancurkan tali persaudaraan ini,” imbuhnya.

Acara ini diakhiri dengan sosialisasi program perkaderan dan perguruan tinggi Hidayatullah, STIE Hidayatullah Depok*/Asju, Dadang Kusmayadi

Kemuliaan Bekerja untuk Mengais Rezeki yang Halal

SYUAIB bin Harb – seorang shighar atba’ tabi’in – berkata, “Jangan menyepelekan uang receh (fulus) yang engkau dapatkan melalui suatu cara dimana engkau menaati Allah di dalamnya. Bukan uang receh itu yang akan digiring (menuju Allah), akan tetapi ketaatanmu. Bisa jadi dengan uang receh itu engkau membeli sayur-mayur, dan tidaklah ia berdiam di dalam rongga tubuhmu hingga akhirnya dosa-dosamu diampuni.” (Dari: al-Hatstsu ‘ala at-Tijarah wa ash-Shina’ah, karya Abu Bakr al-Khallal).

Demikianlah, sebuah perkerjaan tidaklah dinilai dari besar kecilnya gaji yang diperoleh, akan tetapi dari cara kita melakukannya.

Pertanyaan mendasar yang harus dicamkan adalah, “Apakah Allah ridha dengan pekerjaanku ini?” Inilah cara berpikir seorang muslim, sebagaimana diajarkan Nabinya; bukan menuruti logika materialis-atheis yang hanya mengedepankan pragmatisme.

Cara berpikir pragmatis tak bertuhan inilah yang membuat sebagian orang dengan berani menyebut perzinaan sebagai “pekerjaan”, seolah-olah hendak menyamakannya dengan guru, petani, buruh bangunan, penjahit, pedagang, advokat atau birokrat. Bukankah sebagian besar kita telah terbiasa melafalkan PSK (Pekerja Seks Komersial), dan bukannya pelacur atau pezina? Astaghfirullah!.

Bekerja mendapatkan rezeki yang halal adalah kebajikan, apapun bentuk dan derajatnya di mata manusia. Bahkan, Rasulullah menjadikannya sebagai salah satu kewajiban bagi umatnya. Beliau bersabda, “Mencari yang halal adalah kewajiban setiap muslim.” (Riwayat Thabrani dalam al-Awsath, dari Anas bin Malik. Menurut al-Haitsami: isnad-nya hasan).

Itu artinya, pekerjaan yang halal bisa bermakna ibadah. Setiap tetes keringat akan dihargai dengan pahala berlipat ganda. Apapun yang dihasilkannya menjadi berkah, dan semakin menguatkan tali perhubungan dengan Sang Pencipta.

Rasulullah bersabda:

“Sungguh, tidaklah engkau memberikan nafkah yang dengan itu engkau mengharapkan wajah Allah, melainkan engkau pasti diberi pahala, bahkan terhadap (sesuap makanan) yang engkau suapkan ke mulut istrimu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Sa’ad bin Abi Waqqash).

Pekerjaan kasar yang mengandalkan otot sama mulianya dengan pekerjaan intelektual, asalkan halal. Dan, tentu saja bekerja jauh lebih baik dibanding mengemis, bagaimana pun caranya.

Anas bin Malik bercerita, bahwa seseorang dari kaum Anshar datang kepada Nabi untuk meminta-minta. Beliau pun bertanya, “Tidak adakah sesuatu apa pun di rumahmu?” Ia menjawab, “Ya, ada. Kain alas pelana yang sebagian kami buat pakaian dan sebagian lagi kami hamparkan (untuk tikar), serta gelas besar yang kami gunakan untuk minum.” Beliau bersabda, “Bawalah keduanya kepadaku.”

Ia kemudian membawanya. Nabi lalu mengambilnya dengan tangan beliau dan berkata, “Siapa yang mau membeli kedua barang ini?” Seorang laki-laki berkata, “Saya membelinya dengan satu dirham.” Beliau berkata, “Siapa yang menambah lebih dari satu dirham?” Beliau mengatakannya dua atau tiga kali. Seorang laki-laki berkata, “Saya membelinya dengan dua dirham.”

Kemudian beliau memberikannya kepada orang tersebut, dan mengambil uang dua dirham. Beliau memberikan uangnya kepada orang Anshar itu dan bersabda, “Belilah makanan dengan satu dirham kemudian berikan kepada keluargamu, dan belilah (mata) kapak lalu bawalah kepadaku.”

Orang Anshar itu membawa (mata) kapaknya kepada Nabi, lalu beliau mengikatkan sebatang kayu padanya dengan tangan beliau sendiri. Beliau bersabda, “Pergilah, kemudian carilah kayu dan juallah. Jangan sampai aku melihatmu selama lima belas hari.”

Orang itu pun pergi mencari kayu serta menjualnya, lalu datang lagi dan telah memperoleh uang sepuluh dirham. Sebagian ia belikan pakaian, sebagian lagi makanan. Kemudian Rasulullah bersabda, “Ini lebih baik bagimu daripada sikap meminta-minta itu kelak berubah menjadi noktah di wajahmu pada Hari Kiamat. Sungguh, meminta-minta itu tidak layak kecuali bagi tiga (jenis) orang, yaitu: orang fakir yang sangat melarat, atau orang yang terbebani hutang sangat berat, atau orang yang menanggung diyat (biaya tebusan atas pembunuhan) sementara ia tidak mampu membayarnya.” (Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah. Sanad-nya dha’if).

Sebaliknya, pekerjaan yang terkesan mentereng dan bergaji besar, sangat boleh jadi hanya akan menjadi beban dosa dan kehinaan jika tidak diridhai Allah. Dari waktu ke waktu hanya akan memicu kegersangan, kekacauan, dan berakhir sebagai siksa tak terperikan. Semakin digeluti semakin menggelisahkan, sebab dosa-dosanya semakin menumpuk.

Dalam tafsir Zaadul Masir dikatakan bahwa pekerjaan yang haram adalah bagian dari siksa Allah, yaitu “kehidupan yang sempit” sebagai akibat dari kelalaian, keberpalingan, dan meninggalkan tuntunan Allah. Sebagaimana firman-Nya,

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya bisa melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.”” (Qs. Thaha: 124-126).

Dengan kata lain, menurut Islam, kehidupan yang lapang – pertama-tama – bukan diukur dari lapangnya materi, namun dari aspek keselarasan kehidupan itu dengan tuntunan Allah. Baru setelahnya, aspek-aspek lain mengikuti.

Entah melarat atau kaya-raya, jika kehidupan seseorang tidak sejalan syari’at, maka layak disebut sebagai “kehidupan yang sempit”. Sama juga, apakah fakir atau serba berkecukupan, kehidupan yang mengikuti aturan Allah adalah “kehidupan yang lapang”. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Hidayatullah Ikuti Silaturrahim Halal Bihalal Bersama Ulama dan Umara Bali

DENPASAR (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah menjadi bagian dari acara Silaturahmi dan Halal BI Halal 1443 bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali yang diadakan di Musholla Baitul Mukminin (BM) BKDI, Panjer, Denpasar Selatan, Ahad, 28 Syawal 1443 (29/5/2022).

Hadir membuka acara Silaturahmi dan Halal BI Halal 1443H bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali tersebut Gubernur Bali I Wayan Koster.

“Saya sangat senang hadir di pertemuan Majelis Majelis Keagamaan seperti ini. Saya selalu sempatkan untuk hadir walaupun saya sedang sibuk, karena saya yakin bila kita berkumpul dengan orang orang baik yang berpikiran positif, tentu kita akan ikut menjadi positif,” ujar I Wayan Koster pada sambutannya di depan Pengurus dan Anggota MUI se Provinsi Bali seperti dilansir laman MUI.

Tema Halal Bi Halal tahun ini adalah Momentum Penguatan Silahturahim dan ukhuwah umat Islam Bali. Pada kesempatan ini, Ketua MUI Prov. Bali K.H. Mahrusun mengungkapkan bahwa tujuan diadakannya kegiatan silaturahmi ini adalah untuk mempererat tali persaudaraan seluruh elemen bangsa baik itu Pemerintahan maupun masyarakat.

Acara ini di hadiri sekitar 250 orang yang terdiri dari Pengurus MUI Bali, Sekjen MUI pusat: KH Emirsyah Tambunan, KH Noor Hadi, Lembaga lembaga yang dibawah MUI, Ormas Islam, Perguruan Tinggi Islam, para tokoh dan alim Ulama di Bali.

“Sementara dari pihak Pemerintah/Umaroh hadir para pejabat Pimpinan daerah Provinsi Bali atau yang mewakili, hingga Camat Denpasar Selatan, Lurah Panjer, Kelian Adat dan Kelian Dinas dilingkungan Musholla BM,” tambah Eko Teguh, Ketua Panitia Halal Bihalal tahun ini.

Setelah acara Halal bi Halal Gubernur Koster lanjut meninjau Lokasi Sosial Market yang berada di sisi utara Musholla Baitul Mukminin.

“Kami ingin Musholla Baitul Mukminin menjadi sentral dan percontohan bagi Masjid dan Musholla di Kota Denpasar khususnya maupun di seluruh Bali” ujar H. Mardi Soemitro Ketua Yayasan BM BKDI. Musholla yang sangat tertata rapi Manajemen Masjidnya ini, juga membantu sekitar 30 warga Masyarakat non Muslim untuk mendapat beras gratis setiap bulannya, melalui ATM Beras yang telah disediakan. (ybh/hio)

Muslimat Hidayatullah Sulbar Kuatkan Konsolidasi Organisasi

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Kepengurusan Muslimat Hidayatullah (Mushida) di tingktat wilayah provinsi Sulawesi Barat memiliki trik sendiri dalam menjalankan konsolidasi ke tingkat daerah.

Bekerja sama dengan DPW Hidayatulah Sulbar dalam hal ini ketua departemen Organisasi dan SDI, untuk melakukan konsolidasi jati diri, organisasi dan wawasan pada rapat kerja daerah khususnya di kabupaten Mamuju Tengah dan Pasangkayu pada Sabtu-Ahad, 27-28 Syawal 1443 (28-29/5/2022).

Hal tersebut setelah sukses melakukan agenda yang sama di kabupaten Majene dan Polman, sebagaimana dijelaskan Salbiana, S.Pd ketua PW Mushida Sulawesi Barat.

“Setelah Rakerda di Mamuju Tengah dan Pasangkayu, PD Mushida Mamuju yang terakhir, mudah mudahan sukses,” ungkapnya seperti dinukil di laman Hidayatullah Sulbar.

Dia menekankan agar seluruh pengurus di daerah dapat mengaplikasikan aspek aspek konsolidasi organisasi ke dalam kinerja pengurus.

Aspek tersebut adalah berjalannya secara standard administrasi kantor di seluruh PD Mushida se Sulawesi Barat.

Hal itu, kata Salbiana, mestinya ditandai adanya ruang khusus yang dijadikan sentra persuratan, mengarsipkan seluruh notulensi dan dijadikan ruang untuk berkantor oleh pengurus.

Juga aspek regulasi yang terus digaungkan ke seluruh stakeholder, agar senantiasa menetapkan aturan berdasar pada pedoman pedoman organisasi yang ditetapkan oleh DPP.

Manajemen dan Kepemimpinan sebagai salah satu aspek dalam konsolidasi organisasi juga ditegaskan, karena kedua hal tersebut sangat erat hubungannya dengan dinamika kepengurusan Mushida, khususnya.

Adapun Rakerda PD Mushida Mamuju Tengah (28/5/2022) banyak menekankan konsolidasi jati diri sebagai skala prioritas dalam menopang kinerja pengurus.

Di ruang kegiatan TK Yaa Bunayya kampus Hidayatullah Pasangkayu, rapat kerja PD Mushida berlangsung yang diikuti seluruh pengurus daerah.

Peserta rapat sangat antusias mendengarkan penjelasan penjelasan tentang aspek aspek yang dikonsolidasikan.

Termasuk ketika membahas aspek imamah – jamaah, yang banyak menyinggung peran Mushida sebagai organisasi pendukung tersebut.

Tercatat di berbagai event organisasi Mushida mengambil peran penting di dalamnya, hal itu karena adanya koordinasi yang baik.

Meski demikian tidak menafikan adanya kasuistik tentang intervensi kurang tepat dalam kebijakan suami sebagai pemimpin organisasi.

Terakhir, menyoal kultur dan aspek sipiritualitas organisasi, lebih menekankan agar program unggulan seperti, kerja bakti, halaqah, mabit, Rumah Quran Hidayatulah (RQH), majelis Quran Hidayatullah (MQH) dan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) dijadikan sebagai ikon pengurus dan kader Mushida.*/Bashori

Semarak Silaturrahim Mukhoyyam Syawal Hidayatullah Sulsel

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Ratusan peserta hadir pada kegiatan Mukhoyyam Syawal Yayasan Albayan kampus utama Hidayatullah Makassar di Wadi Barakah Hidayatullah Tompobulu Pucak Maros, Sabtu-Ahad, 27-28 Syawal 1443 (28-29/5/2022).

Peserta terdiri dari perintis dan pendiri Yayasan Albayan, pengurus, guru dan staf, alumni pesantren Albayan Islamic School maupun simpatisan bersama keluarganya.

Dari agenda tausiyah para perintis dan pendiri terungkap pendirian Yayasan Albayan Hidayatullah di Makassar serta Hidayatullah di Sulsel umumnya merupakan kegelisahan dan ide dari para aktivis dan pengurus HMI Cabang Makassar.

Perintis dan pendiri diantaranya Dewan Pembina Ust Dr H Abd Aziz Qahhar Mudzakkar MSi, merupakan mantan Ketua Cabang HMI Makassar dan Badko HMI Indonesia timur, Ust Ir H Abd Majid MA, Ust Drs H Ahkam Sumadiyana, instruktur utama pengkaderan HMI Makassar

Perintis dan pendiri lainnya juga merupakan pengurus teras HMI Makassar saat itu Ust Dr H Tasyrif Amin MPd, Ust H Khairil Baits MA, Ust Muntazar SE dan Ust Drs Sundusin.

“Aktivis mahasiswa era 1980an, khususnya di HMI aktif kajian tentang pemikiran dan peradaban Islam, di sini awalnya,” urai Ust Tasyrif yang juga merupakan Ketua Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah itu.

Suatu ketika, tuturnya, datang ke Makassar allahuyarham pendiri Hidayatullah KH Abdullah Said yang diundang menjadi pembicara pada serangkaian seminar di Unhas, IKIP/UNM dan UMI.

Pada seminar tersebut mahasiswa Makassar terkesima dengan penjelasan konsep miniatur peradaban Islam yang sedang diimplementasikan oleh Hidayatullah di pesantren Gunung Tembak, Balikpapan.

“Penawaran tersebut seakan menjadi solusi atas kebuntuan masalah yang didiskusikan para aktivis. Bahwa apa yang dikajikan harus ada pelaksanaannya,” ujarnya seperti dilansir laman Hidayatullahmakassar.id.

Hadir pula memberikan testimoni terkait keterlibatan di gerakan dakwah dan tarbiyah Hidayatullah, arsitek Muaz Yahya dan owner Resto Om Chick Ali Murthada.

Juga testimoni para santri awal dan perintis. Ketua Departemen Pengkaderan DPP Hidayatullah Ust Muh Saleh Usman MIkom dan Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nashri Bukhari MPd

Pada agenda utama tausyiah Ust Aziz Qahhar lebih banyak memaparkan visi dan prinsip gerakan dakwah Hidayatullah serta agenda pengembangan Pesantren Hidayatullah Makassar di kawasan Pucak Maros.

“Karena miniatur peradaban Islam yang kita inginkan tak memadai hanya di implementasikan di kampus di BTP dengan luas hanya 3 hektar. Maka di Pucak ini (luas 26 hektar) kita telah memulai membangun kampus yang Islamiah, ilmiah dan alamiah,” ujarnya.

Maka harapnya, dibutuhkan kebersamaan dan mujahadah sungguh-sungguh dan membuka peluang kepada semua pihak untuk bersama mewujudkannya.

Kegiatan mukhoyyam juga diisi dengan serangkaian agenda kegiatan bersama shalat lail berjamaah hingga wisata keluarga di area wisata alam Wadi Barakah.*/AMC/Firmansyah Lafiri

Gelar Halal Bihalal 1000 Ketupat, SAR Hidayatullah Teguhkan Semangat Kerelawanan

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Pusat Search and Rescue (SAR) Hidayatullah menggelar silaturrahim Syawal bertajuk Halal Bihalal 1000 Ketupat yang mengangkat tema “SAR Hidayatullah Semakin Solid dan Berdedikasi” yang digelar di Komplek Asri Pondok Quran Hidayaturrahman, Desa Pancawati, Caringin, Bogor, Jawa Barat, Ahad, 28 Syawal 1443 (29/5/2022).

Ketua Umum SAR Hidayatullah Muhammad Irwan Harun dalam keterangannya mengatakan helatan silaturrahim ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang digelar dalam rangka mensyukuri telah diselesaikannya ibadah puasa 6 hari di bulan Syawal.

Selain itu, momentum tersebut juga menjadi ajang silaturrahim sekaligus konsolidasi idiil guna meneguhkan semangat kerelawanan.

“Ketupat ini menjadi simbol sebenarnya terutama bagi relawan kemanusiaan seperti SAR Hidayatullah, bahwa dalam kerja kerja kemanusiaan yang dilakukan dibutuhkan bukan saja keandalan skil dan kesigapan tetapi juga kesabaran,” kata Harun.

Irwan menerangkan, anyaman janur kuning berkelindan yang menjadi pembungkus ketupat melambangkan kerumitan, namun dapat tersusun rapi segi empat diagonal karena adanya ketekunan dan kesabaran pembuatnya.

“Semoga dengan kegiatan ini semakin menguatkan soliditas dan dedikasi SAR Hidayatullah dimanapun dan kapanpun, tanpa tapi tanpa nanti,” katanya.

Irwan juga menyampaikan rasa syukur dan terimakasih kepada segenap Pembina, Pengawas, Pengurus Harian, Anggota dan seluruh tamu undangan yang berkenan hadir di acara yang berlangsung dalam suasana asri dan nyaman di lingkungan teduh Pondok Tahfidz Quran Hidayaturrahman berlokasi dengan view Gunung Pangrango itu.

“Dengan penuh tawaqqal dan istiqamah serta dukungan kita semua, SAR Hidayatullah bisa terus mengawal Search and Rescue yang bergerak di bidang kemanusiaan terus maju dan berkembang,” tandasnya.

Dalam kesempatan yang sama, pembina Pondok Tahfidz Quran Hidayaturrahman, Ust Asdar Majhari Taewang, menyampaikan sambutannya dengan menekankan keutamaan bekal spiritual dalam menjalani kehidupan termasuk di bidang kebencanaan.

Asdar menyampaikan hendaknya peran peran kemanusiaan dalam berbagai aspeknya senantiasa menjadi nafas gerakan sebab hal ini juga merupakan spirit yang sering dipesankan oleh pendiri Hidayatullah Allahyarham Ust Abdullah Said.

“Islam adalah petunjuk untuk semua manusia sebagai rahmat untuk semesta alam. Islam kaffatan linnas rahmatan lil ‘alamiin,” tandasnya.

Dalam acara tersebut hadir unsur amal dam badan usaha Hidayatullah serta organisasi pendukung diantaranya BMH, PosDai, IMS, Pemuda Hidayatullah, STIE Hidayatullah, Aphida, SAI, Mushida, SRU se-Jabodetabek dan juga tuan Rumah PQH.*(ybh/hio)