MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Murid murid SMP-SMA Integral Al-Furqan Hidayatullah Mamuju mengadakan kunjungan edukasi dan mengikuti kegiatan sosialisasi wawasan kebangsaan (wasbang) di Komando Distrik Militer (Kodim) 1418 Mamuju beberapa waktu lalu (5/3/2022).
Bertempat di Aula KODIM Mamuju Jl. Ahmad Yani No. 2 Mamuju. Kunjungan ini bertujuan untuk menambah wawasan kebangsaan kepada siswa agar semakin mencintai bangsa dan negara tercinta Indonesia.
Dalam sambutannya Pasiter KODIM 1418 Kapten Infanteri Arif mewakili Komandan Kodim menyampaikan tentang pentingnya wawasan keindonesiaan.
Pasiter KODIM 1418 Kapten Infanteri Arif mendorong santri SMP-SMA Integral Al-Furqan Hidayatullah Mamuju selalu menjaga rasa cinta Tanah Air, merawat kultur rela berkorban, serta menjadi generasi muda yang tidak mudah menyerah dan senantiasa menerapkan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari hari.
“Begitu pula bahwa kita sebagai generasi milenial jangan sampai kehilangan jati diri kita sebagai Bangsa Indonesia,” kata Pasiter KODIM 1418 Kapten Infanteri Arif berpesan.
Pada kesempatan tersebut, murid murid juga diingatkan untuk merefleksikan nilai nilai dalam Sumpah Pemuda 1928, meneguhkan Pancasila dan memahami muatan Bhinneka Tunggal Ika sebagai falsafah bangsa.
Perwakilan Kodim 1418 juga memberikan materi wawasan kebangsaan yang menambah wawasan para santri serta menumbuhkan rasa cinta tanah air dengan mengenalkan 4 Pilar Negara Indonesia yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika..*/Gianto AH
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Keluarga merupakan unit terkecil dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat yang apabila ia kokoh maka akan mengokohkan ketahanan bangsa. Keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak merupakan bagian dari interaksi sosial sehari-hari yang harus terus dikuatkan.
Demikian dituturkan oleh Prof. Dr. Ir. Euis Sunarti, M.Si pada Seminar Ketahanan Keluarga yang menjadi rangkaian acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Muslimat Hidayatullah (Mushida) pada 6/3/2022 di Aula Gedung Dakwah, Cipinang, Jakarta. Seminar tersebut dilaksanakan secara daring dan luring.
Menurut Prof Euis, kemajuan teknologi informasi yang terjadi saat ini menyebabkan keluarga dalam perubahan revolusi. Sehingga keluarga harus memiliki kesiapan dan menjadi bagian dari era 5.0. Kata dia, society 5.0 adalah suatu konsep sosial yang berpusat pada manusia (human-centered) dan berbasis teknologi (technology based).
“Kita harus memanfaatkan zaman teknologi dan informasi tanpa harus merusak kehidupan sosial dan harus hati-hati terhadap dampak negatifnya. Untuk itu, keluarga harus memiliki ketahanan,” ucap Profesor dan dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) ini yang memberikan materi secara daring.
Tantangan pembangunan keluarga di antaranya yaitu, terperangkap pada teknologi digital dan sosial media yang mengubah keseimbangan hidup, konten pornografi serta penyimpangan sosial dan seksual, dan ketidakmampuan keluarga menangani perubahan.
“Agar keluarga memiliki ketahanan maka perlu memenuhi seluruh komponen, peran, fungsi, dan tugas sepanjang kehidupannya,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, narasumber berikutnya Ketua Umum PP Mushida, Hani Akbar, S.Sos.I menyebutkan bahwa ibu sebagai pilar ketahanan keluarga harus mempersiapkan bekal keteladanan, ilmu agama dan pengetahuan, pola komunikasi, kreatifitas dan keterampilan.
Dari keluarga, seorang anak mendapatkan keteladanan. Sekolah merupakan sistem dan proses yang berorientasi pada nilai kejujuran. Masyarakat, proaktif mendukung dengan mengontrol karakter jujur.
“Untuk itu dibutuhkan niat ikhlas, mengantarkan anak untuk bersikap jujur, menjaga amanah, dan semangat belajar. Profil seorang ibu, tenang dan tidak berburu-buru, lembut, memiliki hati yang penyayang, dan memilih jalan yang termudah,” terangnya.
Seminar Ketahanan Keluarga sebagai rangkaian Rakernas. Rakernas yang dilaksanakan pada 2-3 Sya’ban 1443 H/5-6 Maret 2022 ini, dihadiri oleh Pengurus Pusat Mushida, Pengurus Inti Wilayah Mushida 34 Provinsi, dan Kepala PAUD/TK Kampus Utama Hidayatullah.*/Arsyis Musyahadah
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Badan pendidikan dan pelatihan Hidayatullah Institute (HI) menggelar leadership training selama 5 hari yang diikuti oleh pengurus inti kampus Induk dan Kampus Utama Hidayatullah yang digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta yang dibuka pada Jum’at, 7 Sya’ban 1443 (11/3/2022).
Adapun kampus peserta pelatihan kepemimpinan dan manajemen ini yaitu kampus induk Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan, Depok, Surabaya, Makassar, Samarinda, Timika, Medan, dan Kampus Hidayatullah Batam.
“Hai orang yang berkemul (berselimut)! Bangunlah, lalu berilah peringatan!”(QS al-Muddatsir [74] : 1-2)
DEWASA ini, geliat dakwah serta spirit untuk kembali kepada Islam menunjukkan tanda-tanda penguatan. Di negara-negara Eropa dan Amerika, Islam ternyata menjadi agama yang semakin diminati. Bahkan, kampanye anti-terorisme yang semula ditujukan untuk merusak Islam justru membawa berkah tersendiri.
Masyarakat non-muslim yang semula cuek dan buta tehadap Islam, justru penasaran dan berduyun-duyun memburu segala informasi tentang Islam. Peluang baik ini disergap lembaga-lembaga dakwah Islam, dan berdampak meningkatnya jumlah mu’allaf atau muhtadin.
Pada saat bersamaan di Indonesia sendiri, kampanye untuk memilih dan menerapkan solusi Islami semakin mendapat sambutan. Terlihat, misalnya dengan meningkatnya daerah-daerah yang berusaha menerapkan syariat Islam bagi warganya. Busana muslim bagi wanita juga tidak lagi asing atau terlarang, bahkan sudah menjadi salah satu pilihan yang diterima banyak kalangan.
Pertumbuhan usaha-usaha berbasis syariah juga menggembirakan, misalnya di sektor perbankan, perhotelan, pegadaian, investasi, asuransi, dan juga tentu saja wisata halal.
Perkembangan ini tentu patut disyukuri dan dijadikan penambah motivasi untuk terus melangkah maju. Terbukti, bahwa pilihan kembali kepada Islam bukan sesuatu yang tanpa masa depan. Sebaliknya, memilih penerapan Islam dalam segala segi adalah upaya manusiawi untuk menarik berkah dan peran Allah dalam mendukung kehidupan kita sebagai hamba-Nya di dunia.
Waspadai motif yang keliru
Di tengah gegap-gempita keberhasilan itu, ada satu hal yang harus kita waspadai, dan sejak awal melangkah dalam dakwah tidak boleh keliru memilih. Seluruh kampanye untuk menarik umat kembali ke dalam pangkuan Islam tidak boleh hanya menawarkan sisi-sisi gemerlap materialnya.
Sebab, jika keseluruhan seruan itu hanya “didandani” semenarik mungkin dengan iming-iming kesuksesan duniawi, tanpa penguatan spirit ukhrawi, maka pada dasarnya kita sudah terjebak menyeru untuk mencintai dunia semata-mata. Ini adalah perangkap materialisme. Tidak ada yang bisa diraih oleh dakwah semacam ini selain mengagung-agungkan kegemilangan fisik yang semu.
Dakwah pada dasarnya harus berorientasi ke akhirat. Titik berat seruannya mestilah mengajak manusia untuk mempersiapkan kehidupan akhirat yang abadi, tepatnya mendayagunakan potensi dan kesempatan yang Allah anugerahkan di dunia ini untuk meraih kebahagiaan yang kekal.
Ajakan kembali kepada prinsip-prinsip ekonomi Islam tidak boleh hanya disuguhkan sebagai alternatif untuk memperbesar pundi-pundi kekayaan, tanpa sedikitpun diarahkan untuk mengumpulkan bekal beribadah dan berjihad.
Jika ekonomi Islam hanya disoroti dari sisi efektifitasnya dalam mengeruk materi, maka sebenarnya itu merupakan perselingkuhan terang-terangan dengan ide kufur: materialisme dan kapitalisme. Islam hanya dijadikan feature, hiasan pemanis, kasarnya diperalat untuk meraih tujuan-tujuan yang tidak Islami.
Demikianlah, jika seluruh kampanye untuk membesarkan perbankan syariah tidak dibarengi pelurusan orientasi, pada akhirnya tidak akan berbeda dengan bank berbasis riba. Seluruh aktifitasnya hanya digerakkan menuju terakumulasinya kekayaan serta laba. Terlihat megah namun rapuh. Ini adalah manipulasi dan menjual agama dengan harga yang murah.
Berorientasi kepada akhirat
Dalam sejarah dakwah Rasulullah, seruan untuk lebih berorientasi kepada akhirat adalah nafas dakwah beliau sejak awal sampai akhir. Tidak ada tujuan lain kecuali ini.
Setelah wahyu pertama surah al-‘Alaq : 1-5 turun, maka wahyu kedua yang turun adalah surah al-Muddatsir: 1-5. Perintah yang diterima Rasulullah adalah “bangkit, berilah peringatan”.
Memberi peringatan (indzar), dalam penggunaan ayat-ayat al-Qur’an, biasanya dikaitkan dengan kedahsyatan peristiwa akhirat, khususnya masalah siksa yang pedih bagi mereka yang lalai. Perintah inilah yang pertama-tama beliau serukan kepada kaumnya.
Dari sini kita menangkap kesan betapa pentingnya keimanan kepada Hari Akhir itu, sehingga dijadikan sebagai materi pertama dakwah Rasulullah kepada manusia. Dengan kata lain, kepercayaan pada Hari Akhir adalah materi paling asasi dalam dakwah Islam dan upaya meneguhkan sendi-sendi iman lainnya.
Tidak akan mungkin ditegakkan bagunan iman tanpa kejernihan mengimani Hari Akhir. Dan, setiap iman yang produktif pasti bergantung kepada tingkat kesungguhan dalam mengimani Hari Akhir itu.
Allah tidak menciptakan manusia untuk main-main belaka. Kehidupan manusia yang merupakan makhluk paling sempurna tidak mungkin terbatas hanya pada periode pendek dunia ini. Pasti ada sebuah periode lagi di belakangnya, yang lebih sempurna, abadi dan berjangkauan amat panjang. Di saat itulah keimanan, kebenaran dan kemurnian pribadi menjadi dominan; di saat seluruh kesesatan, kedurhakaan, dan kezhaliman diluluhlantakkan.
Keadilan Allah pun tidak membenarkan lolosnya para pencoleng dari pertanggungjawaban atas kejahatannya, padahal di dunia ini banyak sekali orang-orang seperti itu yang bebas berkeliaran bahkan tetap dihormati dan berkuasa.
Juga tidak mungkin orang-orang beriman akan tersia-siakan, dimana segala amal yang mereka bangun dan kepedihan yang mereka alami dalam menjaga komitmennya, justru musnah tanpa bekas. Padahal, betapa banyak orang beriman yang bahkan tidak sempat merasakan kesejahteraan di bawah kolong langit ciptaan Allah ini, di saat mereka tidak pernah menyerahkan raga, hati, pikiran, perasaan dan jiwanya kepada siapapun selain Allah.
Adakah Allah akan mengabaikan hamba-hamba terbaik-Nya merana tanpa pembela?
Sungguh kesadaran terhadap akhirat, berikut segala apa yang akan terjadi di dalamnya, merupakan poin tersendiri yang amat berpengaruh dalam jiwa manusia.
Mereka yang tidak mengkhawatirkan akhirat dan bahkan tidak mempercayainya, sangat jarang untuk memperdulikan kebenaran dan kebajikan di segala segi, bahkan akan terang-terangan menolak serta memusuhinya. Ini bukan permusuhan sandiwara, namun permusuhan hakiki yang didukung oleh segenap pikiran dan perasaan.
Kalangan ini juga akan dengan ringan melanggar norma, tanpa sedikitpun merasa takut dihukum. Sebab, mereka yang tidak mengimani akhirat, pada akhirnya sangat jarang menjaga diri dari dosa, kemunkaran dan perbuatan biadab. Apalagi, jika mereka merasa aman dari akibat yang secara langsung dapat dirasakan di dunia, atau meyakini dapat lolos dari jerat hukum dan pengadilan duniawi.
Fenomena kampanye pencegahan HIV/AIDS dewasa ini memperlihatkan kegamangan serupa. Banyak orang yang sadar bahwa HIV/AIDS sangat mematikan, namun karena tidak ada keimanan kepada akhirat, mereka hanya berpikir untuk mengamankan diri dari akibat di dunia ini. Muncullah kampanye penggunaan kondom atau jarum suntik sekali pakai bagi pengguna narkoba suntik.
Mereka merasa aman dengan solusi tersebut, dan tidak berpikir untuk mengakhiri perzinaan atau ketergantungan obat terlarang agar sekaligus aman dari akibat berkepanjangan di akhirat. Sebab, pada dasarnya yang membawa masalah bukan hubungan seksual tanpa kondom atau disuntik dengan jarum, tetapi perzinaan, gonta-ganti pasangan dan penggunaan obat terlarang. Jika hal-hal terakhir ini dihentikan, jelas masalahnya akan berakhir dengan sendirinya.
Demikianlah, saat manusia mampu menciptakan rasa aman dalam dirinya terhadap bencana di dunia, dimana keimanan kepada akhirat tidak juga melandasi, ia akan dengan lapang hati berkubang di dalam kemunkarannya; sampai kapan pun!
Penutup
Maka, secara pribadi, adalah penting bagi kita untuk senantiasa mempertebal keyakinan tentang akhirat. Dan, pintu pertama untuk memasuki akhirat adalah kematian. Rasulullah sering menasihati kita untuk tidak melupakan kematian; agar tidak lalai dan lemah dalam beramal shalih; agar tidak berlarut-larut dalam dosa dan kemungkaran.
Umat juga harus diberi keyakinan yang benar dan lurus tentang akhirat ini. Seluruh seruan kembali kepada Islam, dalam aspek sosial, politik, ekonomi, dsb harus bernuansa ukhrawi.
Generasi salaf dari umat ini meraih ridha Allah dengan meyakini kebenaran akhirat, mewaspadai kematian, menyiapkan bekal lewat amal shalih, bertaubat, menjauhi dosa, dst.
Tidak mungkin ada keikhlasan dan jihad jika umat tidak meyakini akhirat. Mendustakan akhirat, atau kelemahan akidah terhadap rukun iman ke-5 ini, akan membelokkan manusia ke jalan iblis, berupa kecintaan kepada dunia dan segala pesta-poranya. Na’udzu billah. Wallahu ‘alam bish-shawab.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah turut melakukan pengajuan untuk menjadi Lembaga Pemeriksa Halal (LPH).
Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Candra Kurnianto mengatakan, pengajuan dilakukan dalam upaya melaksanakan amanah Musyawarah Nasional V Hidayatullah.
Candra menjelaskan DPP Hidayatullah, mendirikan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) sebagai upaya melaksanakan amanah Musyawarah Nasional V Hidayatullah akhir 2020 lalu yang tertuang dalam Kebijakan-kebijakan Strategis Hidayatullah tahun 2020-2025.
Dia menyebutkan salah satunya menjadi pelopor halal food dengan mengedukasi masyarakat lebih memperhatikan soal kehalalan makanan yang dikonsumsi setiap hari.
Candra melanjutkan, Hidayatullah tidak ingin sekadar memberikan edukasi, akan tetapi juga terjun langsung menangani bisnis makanan halal. Hal ini agar masyarakat Muslim dapat menikmati keberkahan dari Allah SWT.
“Saat ini kami baru lolos proses verifikasi yang dilakukan oleh BPJPH (Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal) dan DSN MUI (Dewan Syariah Nasional–Majelis Ulama Indonesia),” kata Candra di Jakarta belum lama ini seperti dilansir Republika.
Candra mengungkapkan, salah satu yang menjadi program prioritas sekarang yakni menginisiasi Gerakan Sembelihan Halal.
Persiapan yang saat ini tengah dilakukan di antaranya menyiapakan auditor-auditor halal yang dilatih oleh LPPOM MUI serta persiapan infrastruktur LPH lainnya.
“Selain LPH, kami juga sedang mempersiapkan Lembaga Pendamping PPH (Proses produk Halal) yang akan membantu produk-produk UKMK untuk memperoleh sertifikat halal dan ditarget BPJPH untuk memilik 500 orang Pendamping PPH,” kata Candra.
Dia mengatakan, untuk kebetuhan laboratorium, Hidayatullah sudah melakukan kerja sama dengan salah satu laboratorium halal swasta, dan tengah diupayakan juga bekerja sama dengan laboratorium halal IPB.
“Ke depan, Hidayatullah akan berupaya memiliki laboratorium halal sendiri yang dibiayai dengan konsep wakaf,” tutur dia.(ybh/hio)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menggelar acara Musyawarah Khusus Kampus Induk dan Kampus Utama dalam rangka menguatkan konsolidasi jati diri, organisasi, dan wawasan di semua lini organisasi, termasuk di tingkat amal usaha organisasi berupa Kampus Induk dan Utama di seluruh Indonesia.
Wakil Sekretaris Jenderal II DPP Hidayatullah, Iwan Ruswanda, mengatakan Musyawarah Khusus Kampus Induk dan Utama ini juga untuk menjalanlankan Peraturan Organisasi No. 3 Tahun 2015 tentang Pesantren Hidayatullah Bab VI Pasal 19.
“Acara digelar intensif selama dua hari,” katanya seraya menambahkan peserta Musyawarah Khusus Kampus Induk dan Utama adalah unsur Dewan Pengurus Pusat, pembina Kampus Induk dan Utama, dan Pengurus Kampus Induk dan Utama.
Acara yang berlangsung selama 2 hari, Selasa-Rabu, 4-5 Syaban 1443/9-10 Maret 2022, itu juga merupakan forum evaluasi tahunan Kampus Induk dan Utama berdasarkan Renstra, Proker, dan Aanggaran Pendapatan dan Belanja Yayasan yang dihasilkan oleh Rapat Kerja Kampus Induk dan Utama.
Musyawarah juga menyusun garis besar rencana program kerja Kampus Induk dan Utama tahun 2022, menindak lanjuti dari rekomendasi hasil Asesmen Standardisasi Kampus Induk dan Utama Yayasan Pesantren Hidayatullah di seluruh Indonesia dan sebagai proses menuju terwujudnya standardisasi, sentralisasi dan integrasi sistemik manajemen Yayasan Kampus Induk dan Utama.
Musyawarah Khusus Kampus Induk dan Kampus Utama ini mengangkat tema “Konsolidasi Jati Diri, Organisasi dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik Kampus Induk dan Utama” yang digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jl. Cipinang Cempedak 1/10 Polonia, Jakarta.*/Haqqul Yaqin
“Alif laam miin. Kitab (Al- Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS Al-Baqarah : 1-2)
AL QUR’AN adalah kitab yang diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Oleh karena itu, ia sangat detail membahas tentang manusia beserta karakternya ketika ia berhadapan dengan petunjuk itu sendiri. Sebab, tidaklah manusia menolak, menerima maupun meragukan petunjuk Allah kecuali terdorong oleh apa yang ada dalam dirinya itu.
Paling tidak, ada 3 pola umum karakter manusia yang disinggungnya, dimana masing-masing memiliki ciri khas dan nilai tersendiri. Pembukaan surah al-Baqarah, mulai ayat pertama sampai ke-20, mengupas ketiga bentuk karakter tersebut, yakni muttaqin, kafir, dan fi qulubihim maradh (munafiq).
Ketiga pola karakter tersebut tidak semata-mata bersifat teknis, atau hanya terkait dengan terminologi dalam aqidah. Lebih jauh, al-Qur’an tengah memberi peringatan dan bimbingan, agar manusia lebih memahami potensi internal dalam dirinya sendiri, lalu secara sadar bergerak untuk menyambut petunjuk yang Allah berikan. Sebab, al-Qur’an tidak menyebutkan ketiganya secara bebas, namun dengan menyertakan ciri-ciri yang dengan itu siapapun dapat mendiagnosa dirinya sendiri.
Termasuk golongan manakah dia? Jika dia telah memahami status dirinya, maka diharapkan ia waspada dan senantiasa memohon kepada Allah agar diberi bimbingan serta dukungan menuju jalan-Nya.
Artikel ringkas ini akan mengupas karakter pertama, dan insya-Allah akan diperlengkapi dengan uraian atas dua karakter berikutnya dalam artikel terpisah.
Lima Karakter Muttaqin
Karakter pertama dan terbaik yang disebutkan al-Qur’an adalah muttaqin, yakni orang-orang yang bertaqwa. Biasanya, istilah taqwa dialihbahasakan menjadi “takut (kepada Allah)”, atau lebih luas lagi menjadi “melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.”
Akan tetapi, penjelasan seperti ini lebih merupakan penjabaran atas konsekuensi dari taqwa, dan bukan makna asli maupun ciri lengkapnya. Sebaliknya, al-Qur’an surah al-Baqarah 1-5 menjelaskan ciri lengkap karakter ini, sehingga setiap orang yang ingin bertaqwa dapat mencontohnya.
Secara bahasa, taqwa berarti melindungi diri atau memakai perisai. Yang dimaksud disini adalah melindungi diri dari siksa serta murka Allah. Jadi, pada dasarnya orang yang menyandang karakter muttaqin adalah mereka yang berusaha agar senantiasa terhindar dari siksa dan murka Allah. Sebagai konsekuensinya, ia selalu menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Itu bermakna pula, bahwa mereka yang tidak memiliki disiplin diri seperti itu termasuk golongan yang tidak akan terlindungi dari murka dan siksa-Nya.
Mengimani yang ghaib
Dalam pembukaan surah al-Baqarah, karakter pertama yang diperlihatkan oleh para muttaqin adalah mengimani yang ghaib. Istilah ghaib disini bukan dalam pengertian mistik dan dunia hantu, seperti yang dikesankan oleh banyak sinetron dan tabloid.
Ghaib adalah segala sesuatu yang ada namun tidak tampak oleh mata, seperti surga, neraka, malaikat, dll. Bahkan, seluruh Rukun Iman pun pada dasarnya mengimani kepada yang ghaib itu.
Al-Qur’an mengajarkan kepada manusia untuk tidak bersikap materialis, hanya mengandalkan kepada apa yang tampak dan empiris. Dalam banyak ayat, al-Qur’an bahkan mencela orang-orang yang terlalu cenderung kepada dunia, menganggapnya sebagai segala-galanya dan satu-satunya tujuan. Sikap melupakan adanya alam ghaib adalah kebodohan besar yang sering diingatkan oleh para Nabi sejak zaman dahulu.
Hal ini penting, sebab jika manusia tidak menyadari adanya alam ghaib dan berpikir semata-mata berdasar alam materi ini, maka ia tidak akan terdorong untuk mempersiapkan kehidupan abadinya kelak. Sebaliknya, ia tidak akan merasa takut untuk berbuat buruk, terutama jika ia yakin bisa terhindar dari akibatnya atau kemungkinan besar dapat lolos dari jangkauan hukum. Ini adalah awal kerusakan dan penyimpangan moral, dan ini adalah sikap yang sangat berlawanan dengan ketakwaan.
2. Menegakkan shalat
Karakter muttaqin yang kedua adalah menegakkan shalat. Dalam agama dan sistem kepercayaan apapun, baik yang sesat maupun lurus, selalu ada prosesi ritual tertentu yang menyatukan para pemeluknya ke dalam satu identitas. Di dalamnya ada protokoler yang tetap dan ajeg, ucapan yang khusus, pakaian seragam yang spesifik, petugas yang tetap, tempat dan peralatan unik, yang semua itu harus dipenuhi dan dilaksanakan sebagai syarat keabsahannya. Jika ada yang tertinggal atau berjalan kurang lancar, maka ritual itu pun menjadi tidak khidmat, kurang sempurna.
Disini, Al-Qur’an menjelaskan bahwa diantara karakter muttaqin adalah kedisiplinannya yang tinggi dalam menegakkan shalat, baik terkait etika, waktu, syarat, rukun, tata cara, tempat, kekhusyu’an, dsb. Di tempat lain, al-Qur’an menyebutkan manfaat shalat ini sebagai pencegah dari perbuatan keji dan munkar (QS 29:45). Menegakkan shalat adalah cermin dari kesadaran yang tinggi untuk selalu memelihara hubungan dengan Allah. Dengan kata lain, menegakkan shalat adalah benteng untuk memelihara sikap taqwa.
3. Kesediaan untuk berbagi
Karakter muttaqin yang ketiga adalah kemauan berbagi kepada sesama atas rezeki yang diterima dari Allah. Sejak awal dakwah Rasulullah, bahkan ketika beliau dan para sahabat pertama masih terjepit serta tertindas di Makkah, beliau sudah berkali-kali menyerukan sikap-sikap mulia berikut: menyantuni anak yatim, memperhatikan fakir miskin, memerdekakan budak, bersedekah, dan sejenisnya.
Sikap seperti ini merupakan pilar penopang keberlangsungan sebuah komunitas, agar seluruhnya ternaungi dalam kasih sayang dan kebersamaan yang berkeadilan. Bila tidak, maka manusia akan terjerembab ke jurang egoisme dan keserakahan, yang pada akhirnya merusak sikap takwa dan mengundang kemurkaan Allah.
Dalam surah al-Maa’un, Al-Qur’an mencela beberapa perilaku manusia, salah satunya adalah keengganan untuk menolang dengan barang yang berguna (yamna’uuna al-maa’uun). Sebetulnya, frase tersebut semula berarti keengganan untuk mempersilakan orang lain makan dari piringnya. Demikianlah, perilaku ini dapat diperluas kepada makna-makna lain yang sejenis.
4. Menerima otoritas ilahiyah
Pada bagian selanjutnya, karakter muttaqin dicirikan dengan kesediaan menerima otoritas Ilahi dalam mengatur kehidupan. Ketundukan, kepercayaan penuh, dan kesediaan untuk menerapkan aturan Ilahi adalah mutlak sebagai konsekuensi ketaqwaan. Sebab, ia tahu bahwa kehidupannya hanya untuk Allah, dan jalan paling aman untuk menuju kesana hanyalah dengan memperhatikan rambu-rambu-Nya.
Ia tidak berhenti berpikir dan mempergunakan segenap potensi manusiawi yang dimiliki, namun ia tidak menjadikannya sebagai sandaran tunggal. Bahkan, ia tidak mungkin menggantikan otoritas ilahi itu dengan buah pikiran dan prasangka akal manusia, seperti isme-isme dan ideologi lain.
Ia selalu berpegang teguh pada otoritas ilahiyah, dan berpikir serta bekerja keras untuk mengikuti saran-sarannya. Otoritas Ilahi tersebut terangkum dalam kitab suci yang Allah anugerahkan kepada Nabi pilihan-Nya: Al-Qur’an, yang membenarkan kitab-kitab yang telah Dia turunkan sebelumnya.
5. Meyakini adanya alam akhirat
Terakhir, golongan muttaqin adalah mereka yang meyakini adanya alam akhirat. Sebagaimana telah disinggung di atas, keimanan kepada akhirat sangat penting perannya dalam membangun ketaqwaan.
Jika manusia berpikir bahwa kehidupan dunia ini adalah puncak terakhir eksistensinya, maka ia akan terjebak kepada beragam penyimpangan dan dominasi nafsu. Ia tidak perduli pada amalnya, sepanjang menyenangkan dan memuaskan. Sedikit sekali keperduliannya kepada kebenaran, keadilan, kebajikan dan nilai-nilai kemuliaan manusia.
Al-Qur’an menyebut golongan pengingkar akhirat sebagai manusia yang “tidak bisa mengenali apa pun” serta penuh kesombongan (QS 16:22). Tidak bisa mengenali apapun termasuk tidak mengenal Allah, kebajikan, keburukan, bahkan dirinya sendiri.
Hati mereka telah tuli sehingga tidak bisa mendengar, bisu sehingga tidak bisa diajak berdialog, buta sehingga tidak bisa membedakan apa-apa di hadapannya. Jelas, manusia seperti ini sangat amat sombong dan melampaui batas.
MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pertimbangan Pimpinan Umum Hidayatullah Ust Dr H Abd Aziz Qahhar Mudzakkar MSi meresmikan pembukaan Rumah Potong Ayam (RPA) Hidayatullah, Selasa, 5 Sya’ban 1443 (8/3/2022).
RPA Hidayatullah yang terletak di depan Pasar Sentral BTP Jl Poros BTP, Makassar, ini merupakan unit usaha terbaru jaringan Resto Ayam Crispy Om Chick bersama DPW Hidayatullah Sulsel dan Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar.
Dalam sambutan pembukaan RPA tersebut, Aziz menjelaskan kehadiran usaha RPA sebagai gambaran adanya sebuah langkah paradigmatik kemandirian Hidayatullah sebagai lembaga dakwah dan tarbiyah di Sulsel.
“Kita ingin bangun sebuah lembaga dakwah dan pendidikan yang ditopang oleh ekonomi. Karena sebelumnya Hidayatullah lebih dikenal ekonominya berdimensi sosial. Tapi sekarang kita ingin ekonomi yang mandiri,” urai Ketua Dewan Pembina Yayasan Al Bayan tersebut.
Sebelumnya Owner Resto Om Chick Ali Murthada mengaku bahagia bisa berkontribusi bagi dakwah melalui kerjasama kemitraan usaha dengan Hidayatullah.
“Ini sebagai amanah besar bagi kami, mohon doa semoga bermanfaat bagi semua,” ujar Ali Murthada.
Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nasri Bukhari MPd mengakui kemitraann usaha dengan Om Chick Ayam Crispy dengan membuka RPA sebagai langkah besar bagi kemandirian ekonomi dakwah dan tarbiyah Hidayatullah di Sulsel.
“Semoga RPA ini bisa dikembangkan ke daerah dan Indonesia timur secara umum dimana Hidayatullah berada. Ini merupakan kolaborasi kami dengan tujuh elemen di Hidayatullah mulai dari Dewan Murabi, BMH, Mushida hingga Pemuda Hidayatullah,” urainya.
Hadir pula pada pembukaan RPA tersebut Ketua Dewan Murabi Wilayah Hidayatullah Sulsel Ust Ir Abdul Majid MA, jajaran pengurus DPW Hidayatullah Sulsel, Ketua Yayasan Al Bayan Hidayatullah dan jajaran.
Dewan Pembina Yayasan Al Bayan Ust Ahkam Sumadiana MA, Kepala BMH Perwakilan Sulsel Kadir MM, Ketua DPD Hidayatullah Maros Ust Drs Muh Kaisar.
Sebagai sosialisasi dan promosi kepada pasar, RPA Hidayatullah menawarkan paket promo Rp 100 ribu untuk 4 ekor ayam potong.
Paket ini berlaku sejak hari ini hingga 13 Maret mendatang. RPA Hidayatullah memastikan proses pemotongan dan penanganan ayam potong 100 persen sesuai syarat.*/Firmansyah Lafiri – AMC
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Bulan suci Ramadhan 1443 insya Allah segera tiba menghampiri kita sebentar lagi. Jelang bulan penuh ampunan itu, Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad menyampaikan sejumlah imbauan.
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Bulan suci Ramadhan 1443 insya Allah segera tiba menghampiri kita sebentar lagi. Jelang bulan penuh ampunan itu, Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad menyampaikan sejumlah imbauan.
Setidaknya ada tiga imbauan yang ditekankan, yaitu menjaga ibadah, menjaga ukhuwah (persaudaraan), serta menjaga keamanan negeri ini.
Ustadz Abdurrahman, demikian dikenal, antara lain mengingatkan sekaligus mengajak kaum Muslimin untuk menjaga spiritualitas. Secara khusus menjaga dzikir kepada Allah, lebih khusus lagi dengan membaca Al-Qur’an.
Sebab, kata Ustadz Abdurrahman bahwa membaca Al-Qur’an merupakan sebaik-baik dzikir.
“Dzikir terbaik membaca Al-Qur’an,” ujarnya saat memberikan taushiyah singkat di Masjid Ar-Riyadh, Kampus Induk Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (01/03/2022), bertepatan 28 Rajab 1443 H.
“Al-Qur’an itu dzikir,” ujarnya juga.
Berdzikir kepada Allah pun, imbaunya, mesti dilakukan secara terus menerus (istiqamah). Sebab, manusia merupakan tempatnya dosa dan salah.
Menurut Ustadz Abdurrahman, dzikir adalah perintah yang paling banyak diperintahkan. Berdzikir pun, tambahnya, tidak ada batasannya.
Ia lantas mengutip ceramah salah seorang ustadz yang menyebutkan, “Kualitas suatu amal tergantung berapa banyak kita mengingat Allah dalam amalan itu.”
Selain menjaga ibadah, Ustadz Abdurrahman juga berpesan agar kaum Muslimin turut serta menjaga keamanan. Ia berpesan agar menjaga keamanan dari berbagai ancaman lingkungan sekitar, apalagi mengingat situasi dan kondisi di Indonesia belakangan ini.
Pemimpin Umum Hidayatullah juga mengimbau umat Islam untuk menjaga persaudaraan sebagai sesama pemeluk agama, termasuk tentu persatuan bangsa Indonesia.
“Dijaga kualitas kebersamaan jamaah ukhuwah Islamiyyah,” pesannya, seraya mengingatkan jamaahnya agar tidak terprovokasi oleh berbagai dinamika yang ada.
Selain itu, Pemimpin Umum Hidayatullah juga mengajak dan mengingatkan kaum Muslimin agar senantiasa menjaga keistiqamahan dalam kebaikan-kebaikan lainnya.
“Istiqamah dalam kesabaran, istiqamah dalam ketenangan, tidak marah marah,” pesannya.
Pemerintah memang belum menetapkan secara resmi awal Ramadhan 1443H. Ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU) telah menetapkan akhir bulan Sya’ban 1443 H jatuh pada 1 April 2022. Berdasarkan data ini, maka tanggal 1 Ramadhan 2022/1443 H diperkirakan jatuh pada 2 April 2022 M.
Sedangkan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1443 H akan jatuh pada 2 April 2022.
Sementara keputusan ormas Hidayatullah selama ini berdasarkan ketetapan resmi pemerintah yang rutin menggelar sidang isbat penentuan awal Ramadhan.* (SKR/MCU)
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Bulan suci Ramadhan 1443 insya Allah segera tiba menghampiri kita sebentar lagi. Jelang bulan penuh ampunan itu, Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad menyampaikan sejumlah imbauan.
Setidaknya ada tiga imbauan yang ditekankan, yaitu menjaga ibadah, menjaga ukhuwah (persaudaraan), serta menjaga keamanan negeri ini.
Ustadz Abdurrahman, demikian dikenal, antara lain mengingatkan sekaligus mengajak kaum Muslimin untuk menjaga spiritualitas. Secara khusus menjaga dzikir kepada Allah, lebih khusus lagi dengan membaca Al-Qur’an.
Sebab, kata Ustadz Abdurrahman bahwa membaca Al-Qur’an merupakan sebaik-baik dzikir.
“Dzikir terbaik membaca Al-Qur’an,” ujarnya saat memberikan taushiyah singkat di Masjid Ar-Riyadh, Kampus Induk Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (01/03/2022), bertepatan 28 Rajab 1443 H.
“Al-Qur’an itu dzikir,” ujarnya juga.
Berdzikir kepada Allah pun, imbaunya, mesti dilakukan secara terus menerus (istiqamah). Sebab, manusia merupakan tempatnya dosa dan salah.
Menurut Ustadz Abdurrahman, dzikir adalah perintah yang paling banyak diperintahkan. Berdzikir pun, tambahnya, tidak ada batasannya.
Ia lantas mengutip ceramah salah seorang ustadz yang menyebutkan, “Kualitas suatu amal tergantung berapa banyak kita mengingat Allah dalam amalan itu.”
Selain menjaga ibadah, Ustadz Abdurrahman juga berpesan agar kaum Muslimin turut serta menjaga keamanan. Ia berpesan agar menjaga keamanan dari berbagai ancaman lingkungan sekitar, apalagi mengingat situasi dan kondisi di Indonesia belakangan ini.
Pemimpin Umum Hidayatullah juga mengimbau umat Islam untuk menjaga persaudaraan sebagai sesama pemeluk agama, termasuk tentu persatuan bangsa Indonesia.
“Dijaga kualitas kebersamaan jamaah ukhuwah Islamiyyah,” pesannya, seraya mengingatkan jamaahnya agar tidak terprovokasi oleh berbagai dinamika yang ada.
Selain itu, Pemimpin Umum Hidayatullah juga mengajak dan mengingatkan kaum Muslimin agar senantiasa menjaga keistiqamahan dalam kebaikan-kebaikan lainnya.
“Istiqamah dalam kesabaran, istiqamah dalam ketenangan, tidak marah marah,” pesannya.
Pemerintah memang belum menetapkan secara resmi awal Ramadhan 1443H. Ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU) telah menetapkan akhir bulan Sya’ban 1443 H jatuh pada 1 April 2022. Berdasarkan data ini, maka tanggal 1 Ramadhan 2022/1443 H diperkirakan jatuh pada 2 April 2022 M.
Sedangkan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1443 H akan jatuh pada 2 April 2022.
Sementara keputusan ormas Hidayatullah selama ini berdasarkan ketetapan resmi pemerintah yang rutin menggelar sidang isbat penentuan awal Ramadhan.*(SKR/MCU)
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu: Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Seorang muslim adalah saudara dari sesama muslim, dia tidak boleh menzhalimi dan menelantarkannya.” Beliau melanjutkan, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman tangan-Nya, tidaklah dua orang yang berkasih-sayang itu kemudian berpisah kecuali karena suatu dosa yang diperbuat oleh salah seorang dari mereka.”
(Riwayat Ahmad, menurut al-Mundziri: sanad-nya hasan, di bawah ini teks Arabnya)
عن ابن عمر رضي الله عنه: أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقول: الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَيَقُوْلُ: وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ مَا تَوَادَّ اثْنَانِ فَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا إِلاَّ بِذَنْبٍ يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا
~~***~~
BERAPA kali Anda terheran-heran oleh berita-berita ‘heboh’ yang beredar luas di tengah-tengah masyarakat? Tentang kerusuhan satu kelompok dengan kelompok lainnya? Kerusuhan sebelum atau sesudah Pilkada? Tentang keretakan rumah-tangga public-figure yang sebelumnya dipuja-puji sebagai pasangan serasi? Tentang partai yang tiba-tiba pecah setelah menang atau kalah Pemilu?
Atau, tentang kekisruhan di tubuh berbagai lembaga yang sebelumnya solid, justru ketika mereka sedang makmur dan kaya-raya? Tentang serumpun manusia bersaudara yang tiba-tiba bertengkar hebat? Tentang beragam permusuhan, kebencian, perpecahan dan ketidakharmonisan yang muncul tiba-tiba, dari sebuah “taman yang indah permai”?
Atau, Anda pun bingung memahami diri sendiri yang sedang terlibat kericuhan di hari-hari ini? Mengapa? Dari mana semua itu bermula?
Hadits di atas memperlihatkan latar-belakang batiniah dari segenap perpecahan dan pertikaian. Jika dua orang yang saling berkasih-sayang secara tiba-tiba berpisah dan kini justru berhadap-hadapan sebagai musuh, pasti ada dosa yang telah muncul di tengah-tengah mereka. Hal semacam ini dapat terjadi pada keluarga, lembaga, perusahaan, partai, negara, pendeknya segala jenis ‘kumpulan’ manusia.
Perbuatan dosa mencakup segala tindakan yang dibenci oleh Allah, baik dalam kaitannya dengan peribadatan, pemikiran, moralitas, maupun perilaku-perilaku praktis keseharian. Sementara itu, permusuhan dan perpecahan sendiri bukanlah satu-satunya akibat dari dosa. Akibat semacam itu hanya salah satu, karena lain-lainnya sudah antri menunggu.
Sebagai contoh, sebuah hubungan dekat yang diwarnai sikap tidak hormat dan suka mengolok, misalnya dalam hal nama dan ciri-ciri fisik, cepat atau lambat akan terbakar oleh kebencian. Sebab, olok-olok adalah dosa dan pelanggaran terhadap aturan Allah dalam surah al-Hujurat : 11.
“Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
Kemitraan dalam bisnis yang lancar dan menguntungkan segera akan berakhir manakala ada pengkhianatan oleh salah satu pihak.
Rasulullah memberitakan sebuah Hadits Qudsi, dimana di dalamnya Allah berfirman:
“Aku (Allah) adalah pihak yang ketiga diantara dua orang yang bermitra (dalam usaha), selama salah satu dari mereka tidak mengkhianati partnernya. Jika salah salah satu mengkhianati lainnya, maka Aku keluar dari (kemitraan) mereka itu.” (Riwayat Abu Dawud, al-Hakim, al-Baihaqi dan ad-Daruquthni).
Jelasnya, berkah Allah akan dicabut dari setiap hal yang di dalamnya terkandung dosa dan kemaksiatan. Setelah itu, perjalanan selanjutnya pun akan bergerak tanpa sandaran rahmat dan ma’unah-Nya, sehingga hal-hal yang besar akan menjadi beban pemberat, sedangkan masalah-masalah kecil bakal menjadi sandungan yang menyendat langkah.
Demikianlah. Tidak ada perbuatan manusia yang lolos tanpa konsekuensi, baik segera maupun tertunda, di dunia sekarang atau di akhirat kelak.
Ayat-ayat Kitab Suci dan juga hadits-hadits Nabi merumuskan sebuah kaidah, bahwa dosa adalah tiupan syetan. Jika dipatuhi, maka di titik ini syetan menjebak para pengikutnya dalam lingkaran tak berujung, kecuali bagi mereka yang – atas rahmat Allah – mau bertaubat.
Segala dosa akan memicu kebencian dan permusuhan abadi, baik diantara sesama pelaku maupun orang lain yang tidak terlibat. Ayat 90-92 surah al-Maidah berikut ini berbicara tentang induk-induk dosa, yakni meminum khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib, serta akibat-akibat yang ditimbulkannya:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. Al-Maidah [5] : 90-92)
Dengan gamblang al-Qur’an mengintrodusir bahwa dosa akan membawa manusia ke jurang permusuhan dan kebencian. Disini, besar kecilnya akibat dipengaruhi oleh kadar dosanya. Semakin besar dosanya, maka semakin hebat pula dampak permusuhan dan kebencian yang akan disemai.
Jangan Melanggar Hak Orang Lain
Hadits yang kita kutip di awal artikel ini memiliki teks pelengkap, juga teks tambahan dari jalur lain, yang semakin memperjelas makna maupun konteks praktis hadits ini. Selengkapnya hadits diatas dilanjutkan dengan:
“Seorang muslim memiliki 6 hak kebaikan (al-ma’ruf) dari saudaranya: didoakan jika bersin, dijenguk jika sakit, dinasehati jika tidak hadir dan (juga jika ia) hadir, diberi ucapan salam jika bertemu, dihadiri jika ia mengundang, dan diiringi jenazahnya jika meninggal.”
Beliau juga melarang seorang muslim memutuskan hubungan dengan saudaranya lebih dari 3 hari. Rangkaian kebajikan yang disebutkan Rasulullah ini memilik satu bingkai yang jelas, yakni rumus-rumus praktis memelihara keutuhan sebuah ikatan. Jika logikanya dibalik, maka melanggar hak-hak ini sama dengan mengurai ikatan secara sengaja.
Sebagai misal, kita semua menyadari betapa hebatnya aktifitas sederhana berupa menghadiri undangan atau mengucapkan salam saat berpapasan. Pernahkan di hati terbetik suatu prasangka buruk manakala seseorang yang kita undang tidak hadir tanpa alasan yang jelas? Dan, bukankah di hati segera timbul perasaan tidak enak jika berpapasan dengan seseorang yang kita kenal sementara ia tidak mengucapkan salam, bahkan menoleh pun tidak?
Dalam kasus lain, tatanan dunia sekarang ini dikacaubalaukan oleh kampanye-kampanye yang mengatasnamakan pembelaan hak asasi, namun sesungguhnya merupakan pelanggaran pertama terhadap hak asasi itu sendiri. Dengan menggunakan kaidah umum dari hadits di atas, kita dapat memahami bahwa akar keruwetan tersebut berawal dari pelanggaran hak sesama.
Ketika seseorang, sekelompok ras atau etnik, sebentuk pemikiran, sebuah lembaga, suatu rezim, melakukan kezhaliman dan penelantaran terhadap hak pihak lain, maka akibatnya tidak usah ditunggu terlalu lama. Permusuhan pun bangkit, kehancuran pasti ditanggung kedua belak pihak, sementara syetanlah yang akan tampil sebagai pemenangnya.
Jangan Menjadi Pihak yang Pertamakali Berdosa
Dari jalur lain diriwayatkan teks hadits yang sedikit berbeda, namun memberi kita tambahan makna yang sangat berharga:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ التَّقْوَى هَهُنَا, قال حماد: وقال بيده إلى صدره. وَمَا تَوَادَّ رَجُلاَنِ فِي اللهِ عز وجل فَتَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا إِلاَّ بِحَدَثٍ يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا وَالْمُحْدِثُ شَرٌّ وَالْمُحْدِثُ شَرٌّ وَالْمُحْدِثُ شَرٌّ
“Seorang muslim adalah saudara dari muslim lainnya, dia tidak boleh menzhalimi serta menelantarkannya. Taqwa itu disini.” Rasulullah menunjuk ke dada beliau, (kemudian melanjutkan), “Tidaklah dua orang yang saling berkasih-sayang di jalan Allah ‘Azza wa Jalla kemudian saling berpecah-belah kecuali karena suatu perbuatan (dosa) yang diperbuat oleh salah satu dari mereka. Dan, pihak yang melakukan dosa itulah yang paling buruk (diantara keduanya). Dan, pihak yang melakukan dosa itulah yang paling buruk. Dan, pihak yang melakukan dosa itulah yang paling buruk.”
Uniknya, Rasulullah mengaitkan persaudaran sesama muslim dengan ketakwaan di dalam hati. Seolah-olah beliau hendak memperingatkan bahwa persaudaraan itu hanya akan langgeng seiring langgengnya ketakwaan. Jika ketakwaan menipis atau bahkan lenyap, maka tali persaudaraan itupun terancam putus.
Sebagaimana kita mengerti, definisi paling masyhur dari taqwa itu sendiri adalah “melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya”. Sekali lagi kita berjumpa dengan satu kaidah penting, bahwa keharmonisan hanya akan lestari melalui amal-amal shalih yang diridhai Allah, dan akan punah diterjang kemaksiatan.
Penghujung riwayat dari jalur ini juga memperingatkan, bahwa pihak yang melakukan dosa adalah pihak yang paling buruk. Sebab, dialah yang menjadi penyebab kehancuran dan kebencian. Kaidah semacam ini pernah pula beliau ungkap berkenaan dengan para perintis serta pelopor suatu amal. Para pelopor amal baik akan memperoleh pahala dari amalnya sekaligus bonus jika ada yang menirunya setelah itu.
Hal yang sama berlaku terhadap para perintis keburukan. Orang yang mengajarkan serta melatih sebuah kebajikan akan mendapatkan pula kesempatan meraih pahala yang beranak-pinak seperti ini. Para perintis amal shalih tetaplah yang terbaik, walaupun generasi yang datang setelah itu mampu mempersembahkan yang lebih baik.
Sebaliknya pula, para pelopor kemaksiaatan adalah yang terburuk diantara semuanya, walau orang-orang yang mengikuti jejaknya setelah itu melakukan dosa yang lebih dahsyat lagi.
Jauhilah Dosa Sekuat Tenaga
Rangkaian ayat serta hadits di atas menggiring kita kepada satu kesimpulan, bahwa resep paling manjur untuk merawat keutuhan rumah tangga, kesolidan jamaah, kerukunan masyarakat, integrasi bangsa, kedamaian dunia dan segala jenis perkumpulan manusia hanyalah dengan menjauhi dosa.
Dengan demikian, itu bermakna betapa perlunya kita untuk mematuhi Allah, Rabb yang satu. Sebab, dengan sepenuhnya tunduk di bawah hukum-Nya maka segenap celah perpecahan ditutup. Ketidaktaatan kepada hukum Allah pada dasarnya membuka pintu masuk syetan, yang segera mengobrak-abrik kesatuan dan membubarkan shaff jamaah.
Dalam QS 05:13-14 dan 05:64, Allah menyatakan dengan gamblang bahwa penyebab permusuhan (al-‘adawah) dan kebencian (al-baghdla’) di kalangan dua umat terdahulu, Yahudi dan Nasrani, adalah karena mereka melupakan perintah serta perjanjian dengan Allah.
Dalam QS 60:04, kaidah ini ditegaskan kembali lewat lisan Nabi Ibrahim, yang menyatakan bahwa sebab kebencian dan permusuhan antara beliau dengan kaumnya adalah karena mereka melakukan kesyirikan, yakni dosa yang paling besar.
Satu hal yang menarik bahwa al-Qur’an surah al-Maidah ayat 90-92 di atas mengaitkan permusuhan dan kebencian dengan syetan, makhluk penggoda yang diciptakan dari api. Sebagaimana kita tahu, api senantiasa melambangkan kehancuran, kebinasaan, penderitaan; sehingga al-Qur’an memakai kata an-naar (api) untuk menyatakan kumpulan adzab Allah di akhirat, yakni neraka.
Akan tetapi, daya bakar yang dibawa syetan ini bukanlah kekuatan mutlak di alam semesta. Ia tetap berada dalam batasannya, dan tidak ada artinya di hadapan Allah. Maka, daya ini pun hanya akan takluk oleh sikap pasrah kepada perlindungan-Nya. Maka, kita pun diminta untuk senantiasa ber-isti’adzah, memohon pemeliharaan dan perlindungan Allah.
Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud, beliau memberi tips untuk meredam marah dengan berwudhu’, karena panasnya kemarahan yang dikobarkan syetan akan padam oleh dinginnya air wudhu’. Kata kuncinya bukan pada air yang mendinginkan gejolak kemarahan, tetapi lebih pada aktifitas wudhu’, yakni bentuk ketaatan kepada Allah. Sekali lagi kita menemukan bahwa ketaatan kepada Allah akan menghindarkan kita dari kebencian dan permusuhan yang dikobarkan syetan.
Sebagaimana kita tahu pula, daya bakar dari permusuhan dan kebencian sanggup menghanguskan segala jasa baik dan kisah-kisah indah sebuah kebersamaan. Kita pun sudah mafhum, bahwa tindakan saling membongkar aib dan menafikan jasa seperti ini acapkali terdengar dari tragedi perceraian dan perebutan kursi kekuasaan, padahal sebelumnya terlihat serasi dan kompak.
Dalam istilah lain, lebih jauh Rasulullah menyebut kebencian dan iri-hati sebagai “pencukur”. Bukan pisau cukur dari logam yang memotong habis rambut di kepala, namun pisau cukur tak terlihat yang akan mengikis tandas agama (dien) dalam diri seseorang, jamaah, masyarakat. Demikian menurut riwayat al-Bazzar, yang dinilai jayyid (baik) sanad-nya oleh al-Mundziri.
Itu berarti setiap pribadi, rumah tangga, lembaga, partai, rezim, negara, yang telah terjangkiti sikap iri-hati (al-hasad) dan kebencian (al-baghdla’) pasti bakal menemukan dirinya telah kehilangan sensitifitas keagamaan. Sikap-sikap religius dan kepekaan terhadap cahaya Allah akan memudar, atau bahkan padam samasekali. Pada tahap berikutnya, boleh jadi akan lahir tindakan-tindakan yang tak terkendali dan berada di luar pemikiran akal sehat. Na’udzu billah.
Di seluruh dunia kita juga sedang menyaksikan adegan-adegan terbuka dari drama pertikaian berkepanjangan antar kelompok ras dan etnis, penguasa dengan rakyat, sesama partai yang saling beroposisi, bahkan grup negara-negara tertentu harus berhadapan dengan grup negara-negara lainnya. Yang terbaru dan sedang panas adalah kasus perang Rusia dan Ukraina. Kita mencatat suatu kesamaan latar belakang di sana: kezhaliman, ketidakadilan, kebohongan, keserakahan, penindasan, iri-hati, kesombongan, kesewenang-wenangan, kelicikan, kebencian, dan masih panjang deretan jenis dosa-dosa lainnya.
Maka, benarlah Rasulullah yang memperingatkan kita untuk menghindari dosa, dan membiasakan diri dengan kebajikan. Beliau bersabda:
“Hendaklah kalian jujur (ash-shidq), sebab kejujuran itu akan membimbing kepada kebajikan (al-birr), sedangkan kebajikan akan mengantarkan ke surga. Seseorang yang selalu jujur dan membiasakan diri dengan kejujuran, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang selalu jujur (shiddiq). Jauhilah kebohongan (al-kadzib), karena kebohongan itu akan membimbing kepada pelanggaran hukum (al-fujuur), sementara pelanggaran itu akan membawa ke neraka. Seseorang yang selalu berbohong dan membiasakan diri dengan kebohongan, maka ia akan tercatat sebagai pembohong (kadzdzab) di sisi Allah.” (Riwayat al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan at-Tirmidzi).