Beranda blog Halaman 375

Hidayatullah Dorong Melek Regulasi Ibu Kota Negara

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Rancangan Undang-Undang Ibu Kota Negara (RUU IKN) resmi disahkan menjadi Undang-Undang (UU) pada rapat paripurna DPR RI, Selasa, 16 Jumadil Akhir 1443 (18/01/2022) lalu. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo telah memilih nama untuk IKN yaitu “Nusantara”, yang saat ini berlokasi di Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur.

Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. H. Nashirul Haq, MA, menekankan pentingnya melek atau mencermati regulasi dan UU IKN untuk melangkah dalam menghadapi tantangan yang ada. Ia juga menyinggung terkait posisi dakwah Islam dalam menghadapi pemindahan ibu kota RI ini.

“Di sinilah tantangan kita ke depan, perlu wawasan untuk menghadapi (tantangan)nya,” ujar Nashirul pada acara Rapat Pleno Laporan Akhir Tahun 2021 dan Program Kerja 2022 Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan yang digelar hingga Sabtu (22/01/2022).

Dalam pada itu, Nashirul menekankan kepada dai-dai Hidayatullah terkait konsolidasi wawasan sebelum mengambil langkah terkait pengembangan dakwah. Baik wawasan lokal, nasional, internasional, dan lain sebagainya. “Terkhusus (wawasan terkait) PPU yang akan jadi ibu kota,” ujarnya.

Wawasan dimaksud, tambah Nashirul, antara lain terkait kultur sosial budaya di Kalimantan, khususnya Kaltim. Hal Ini, menurutnya, penting dalam pemetaan dan penguatan dakwah Islam terkait kehadiran IKN di Kaltim nantinya.

Apalagi, tambahnya, Hidayatullah lahir di Kota Balikpapan, Kaltim, 50-tahun yang lalu. Maka ia tidak menampik jika ada harapan besar umat Islam itu kepada ormas Islam termasuk Hidayatullah dalam penguatan dakwah di IKN nantinya.

“Bersama kita susun strategi pengembangan dakwah,” ujarnya menyerukan sinergi dakwah.

Rapat Pleno ini juga dihadiri oleh Pemimpin Umum Hidayatullah Ust H. Abdurrahman Muhammad, Ketua Dewan Pembina YPPH Muhammad Hasyim beserta Anggota Dewan Pembina dan Ketua Dewan Pengawas Sarbini Nasir beserta Anggota Dewan Pengawas.

Diikuti pula oleh seluruh pengurus YPPH Balikpapan, mulai dari Ketua Hamzah Akbar, Sekretaris Abul A’la Maududi, Bendahara Sujaib Saud, Ketua Bidang I Masykur, Ketua Bidang II Lukman Hakim Alatas, Ketua Bidang III Muhammad Kaspan, bersama seluruh jajaran pengurus masing-masing di setiap Departemen dan Unit.

Rapat Laporan Akhir Tahun 2021 diikuti pula oleh utusan dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Kalimantan Timur, BTH Ummat Mandiri, Tunas Alam Budi Mulia (Sekolah Alam), Badan Pengelola (BP) Kampus Mardhatillah (YIMI), dan Badan Pengelola Hidayatullah Karang Bugis (KDM).*/Muhammad Abdus Syakur (MCU)

Rakerwil Hidayatullah DIY-Jatengbagsel Tahun 2022

0

SLEMAN (Hidayatullah.or.id) — Dewab Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah DIY-Jawa Tengah Bagian Selatan (Jatengbagsel) gelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) bertempat di Kampus Hidayatullah Sleman, selama 2 hari, 20-21 Jumadil Akhir 1443 (22-23 Januari 2022)

Rakerwil mengambil tema “Konsolidasi Jati Diri, Organisasi, dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi dan Integrasi Sistemik”.

Sebagai pendamping dari DPP Hidayatullah, hadir Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Asih Subagyo. Selain itu, hadir pula Ustadz Abdul Khaliq, Lc., MA, anggota Dewan Mudzakarah.

Adapun kepesertaan diikuti oleh seluruh pengurus inti DPW Hidayatullah DIY-Jatengbagsel, DMW, organisasi-organisasi pendukung, dan amal-amal usaha.

Salah satu hasil Rakerwil yang penting adalah komitmen peserta Rakerwil untuk memperluas jaringan DPC dan juga Rumah Qur’an Hidayatullah. Hasil penting lainnya adalah pendirian dan pelantikan pengurus LBH Hidayatullah DIY-Jatengbagsel.

Pendirian dan pelantikan pengurus LBH Hidayatullah DIY-Jatengbagsel dikukuhkan oleh Direktur LBH Hidayatullah DR. Dudung Amadung Abdullah. Selain melantik, Dudung juga memberikan edukasi hukum kepada dai Hidayatullah.

Ketua DPW Hidayatullah DIY-Jatengbagsel, Ustadz Abdullah Munir, S.Ag. menyampaikan bahwa dakwah perlu terus diperkuat. Salah satunya dakwah Al-Qur’an. “Karena dakwah Al-Qur’an merekatkan umat. Di sisi lain, umat sedang bersemangat dalam ber-Qur’an”.

Adapun LBH, dia melanjutkan, merupakan bagian dari upaya khidmat kepada umat dan masyarakat. “Semoga masyarakat terlayani dan kehadiran Hidayatullah semakin dirasakan”.*/Fuad

Jangan Tergesa gesa Membaca Al Qur’an

PERNAHKAH Anda mendengar orang membaca Al-Qur’an dengan cepat-cepat dan sangat terburu-buru, seolah-olah dikejar jadwal keberangkatan pesawat terbang? Atau, kita sendiri sering membaca Al-Qur’an dengan cara itu? Jika ya, tahukah Anda apa sebenarnya bahaya yang tengah menunggu kita di belakangnya?

Untuk itu, mari kita ikuti kisah berikut:

Ibnu ‘Abbas berkata: seseorang datang kepada Umar, dan mulailah beliau menanyainya perihal keadaan orang-orang. Ia menjawab, “Wahai amirul mu’minin, sebagian dari mereka membaca Al-Qur’an begini-begitu.” Aku pun berkata, “Demi Allah, saya tidak senang mereka tergesa-gesa (membaca) Al-Qur’an pada hari-hari ini sebagaimana mereka melakukannya.” Umar membentakku dan berkata, “Apa?!” Aku pun beranjak pergi menemui keluargaku dengan diliputi kemuraman dan bersedih.

Aku katakan (pada diriku sendiri), “Aku telah mencapai kedudukan tertentu di hadapan orang ini, namun menurutku (sekarang) aku telah jatuh dalam pandangannya.” Aku pun pulang ke rumahku lalu berbaring di atas alas tidurku, sampai-sampai para wanita di kalangan keluargaku menjengukku, padahal aku tidak merasakan keluhan apapun. Semua itu hanyalah (akibat dari) apa yang kuterima dari Umar.

Ketika aku masih dalam kondisi begitu, seseorang mendatangiku dan berkata, “Penuhi panggilan amirul mu’minin!” Aku pun keluar, dan ternyata beliau telah berdiri menungguku. Beliau menggandeng tanganku dan mengajakku menyendiri, lalu bertanya, “Apa yang tidak engkau senangi dari apa yang dikatakan orang itu tadi?”

Aku menjawab, “Wahai amirul mu’minin, bila saya bersalah maka saya mohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Jatuhkan kepada saya (hukuman) apa saja yang Anda sukai.” Beliau berkata, “Sungguh, beritahu saya apa yang tidak engkau senangi dari apa yang dikatakan orang itu!”

Aku berkata, “Wahai amirul mu’minin, kapan pun mereka tergesa-gesa membaca Al-Qur’an maka mereka akan berada di tepi (kehancuran); dan kapan pun mereka berada di tepi maka mereka akan bertengkar; dan kapan pun mereka bertengkar maka mereka akan berselisih; dan kapan pun mereka berselisih maka mereka akan bunuh-membunuh.”

Umar lantas berkata, “Demi Allah, sungguh aku telah merahasiakan hal ini dari orang banyak, sampai (akhirnya) engkau justru membukanya!” (Riwayat ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf, semua perawinya bisa dipercaya).

Wah!! Demikian hebatkah dampak buruk dari sikap tergesa-gesa dalam membaca Al-Qur’an?

Sesungguhnya, itu adalah matarantai sebab-akibat yang logis. Bukankah Al-Qur’an diturunkan agar didengarkan dengan sepenuh hati, kemudian direnungi, diresapi dan diamalkan?

Allah berfirman,

“Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS al-A’raf: 204).

Jika kita membacanya dengan tergesa-gesa, sempatkah kita memperhatikan dan merenunginya? Jika kita tidak sempat memperhatikan dan merenungi, bukankah pemahaman kita terhadapnya akan teramat dangkal dan sepotong-sepotong?

Jika pemahaman kita dangkal dan sepotong-sepotong, bukankah kita akan mudah bertengkar dan berselisih paham dalam memaknai dan mengamalkannya? Jika kita bertengkar dan berselisih paham, bukankah kita akan saling membenci dan pada akhirnya saling menghancurkan, membunuh? Na’udzu billah.

Pada suatu kali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar sekelompok orang mempertentangkan (ayat-ayat) Al-Qur’an, maka beliau pun bersabda, “Umat sebelum kalian binasa hanya karena ini. Mereka membenturkan (isi kandungan) Kitabullah satu sama lain, padahal ia diturunkan untuk saling membenarkan. Maka, jangan sampai kalian mendustakan sebagian isinya dengan (menggunakan) sebagian yang lain. Apa yang kalian ketahui darinya maka katakanlah, sementara apa yang tidak kalian ketahui maka serahkan kepada orang yang mengetahuinya.” (Hadits riwayat ‘Abdurrazzaq, Ahmad dan Ibnu Majah. Hadits shahih).

Dewasa ini, kita sering mendengar kelompok-kelompok yang saling bertentangan beradu argumen dengan sama-sama mengutip ayat Al-Qur’an. Ayat satu dikutip pihak A, lalu dibenturkan dengan ayat lain oleh pihak B. Apa hasilnya? Kita semua gagal memperoleh petunjuk darinya, karena justru ayat satu seolah membatalkan ayat yang lain. Padahal, sebenarnya bukan ayat-ayat itu yang bertentangan, namun isi pikiran kita sendiri yang sudah menyimpang.

Menurut Ibnu ‘Abbas, semua itu berawal dari kurangnya keseriusan untuk memahami dan merenungi isi kandungan ayat-ayatnya. Diantara ciri utama kurangnya keseriusan adalah kecenderungan untuk membaca Al-Qur’an dengan cepat dan terburu-buru.

Bangsa Arab saja – di zaman Ibnu ‘Abbas – tetap tidak akan bisa memahaminya dengan sempurna bila ia dibaca dengan tergesa-gesa, padahal ia diturunkan dalam bahasa mereka. Lalu, apa yang akan terjadi kepada kita yang sebagian besarnya tidak paham bahasa Arab? Sempatkah kita merenungi, padahal artinya saja kita tidak tahu-menahu?

Maka, agar bahaya besar itu tidak jatuh menimpa, mari memperbaiki diri. Pertama, paling kurang milikilah mushaf Al-Qur’an yang disertai terjemahannya dalam bahasa kita.

Saat ini, harga mushaf seperti itu sangat terjangkau. Dengan adanya terjemahan itu, semoga kita tertarik untuk melirik sedikit demi sedikit maknanya. Jika ada ayat yang menarik, kita bisa segera memeriksa apa maksudnya secara ringkas.

Jika mau lebih luas, mungkin kita bisa membeli rujukan kitab-kitab tafsir, seperti Tafsir Ibnu Katsir. Kedua, kurangi kecepatan bacaan kita. Allah memerintahkan kita untuk membaca Al-Qur’an secara tartil, huruf demi huruf, dengan baik dan benar (QS al-Muzzammil: 04).

Ketiga, jika sempat dan mampu, belajarlah Bahasa Arab agar kita bisa lebih dalam memahami maksud dan tujuan ayat-ayatnya secara langsung. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Pengurus LBH Hidayatullah Yogyakarta Periode 2022 – 2026 Dilantik

SLEMAN (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta resmi terbentuk yang dilantik dan dikukuhkan disela penutupan Rapat Kerja Hidayatullah DIY-Jatengbagsel di Kampus Hidayatullah, Balong, Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Sabtu, 20 Jumadil Akhir 1443 (22/1/2022).

Pengurus LBH Hidayatullah DI Yogyakarta Periode 2022 – 2026 dilantik secara langsung oleh Direktur LBH Hidayatullah, Dudung A. Abdullah, yang turut dikukuhkan oleh Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi DPP Hidayatullah Asih Subagyo yang menyematkan plakat tanda anggota.

Adapun susunan dewan pengurus LBH Hidayatullah DI Yogyakarta Periode 2022 – 2026 dipimpin oleh Hersona Bangun, SH, yang mengemban amanah sebagai Direktur. Lalu ada Pembina dan Pengawas LBH DIY, KH. Abdullah Munir dan Ust Jidi Diponegoro, MA.

Hersona didampingi Direktur Litigasi Bambang Rimalio Suryo Wibowo, Wakil Direktur Non Litigasi dan Edukasi Fu’ad Fahruddin, dan Wakil Direksi Administrasi Arif I.

Dudung dalam sambutannya, menitip pesan kepada pengurus baru LBH Hidayatullah DIY untuk menjaga nilai utama kehadiran LBH Hidayatullah di masyarakat yang bergerak dalam pendidikan, sosialisasi dan penyadaran hukum di tengah masyarakat agar sadar akan hak dan kewajibannya sebagai subyek hukum.

“Kita berharap dengan dilantiknya pengurus LBH Hidayatullah Yogyakarta ini, LBH Hidayatullah bisa memberi kontribusi terbaik untuk umat, untuk Indonesia, dan untuk peradaban yang bermartabat,” kata Dudung dalam keterangannya diterima media ini, Senin (24/1/2022).

Dalam pada itu, Dudung berharap LBH Hidayatullah dapat terlibat memberikan bantuan hukum kepada masyarakat luas yang tidak mampu khususnya kaum muslimin atau aktifis dakwah yang tertindas dan terzalimi dalam ranah hukum.

LBH Hidayatullah juga, lanjut Dudung, memberikan peluang dan tempat berkumpul kepada kader yang mempunyai profesi sebagai advokat, sarjana hukum atau mereka yang ingin terjun dalam pembelaan hak-hak kaum tertindas.

“Harapannya, bisa memberikan pembelaan dan pendampingan terhadap masyarakat yang lemah, juga bisa memberikan kontribusi pemikiran untuk membangun negera hukum yang berkeadilan, khususnya di DIY,” imbuh Dudung yang juga pendiri Kantor Hukum DRDR ini.

Dalam kesempatan tersebut, Dudung dalam kesempatan seminar disela kegiatan tersebut menjelaskan diantara tujuan kehadiran LBH Hidayatullah lainnya adalah mengajukan pendapat baik berupa usul, kritik, maupun komentar tentang masalah-masalah hukum baik yang akan dan/atau sudah diimplementasikan kepada lembaga lembaga yang berwenang di bidang yudikatif, legislatif maupun eksekutif serta kepada masyarakat luas.

“Itulah tujuan kehadiran LBH Hidayatullah,” kata Dudung sembari menjabarkan 4 bidang program utama LBH Hidayatullah yaitu di bidang Legislasi, Edukasi, Advokasi, dan Rehabilitasi.*/Ain

Rakerwil Aceh untuk Kuatkan Pengabdian Hingga Daerah Terluar dan Pelosok

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) bertempat di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Nusa, Lhok Nga, Aceh Besar, yang dibuka pada Jum’at, 9 Jumadil Akhir 1443 (21/1/2022).

Ketua DPW Hidayatullah Aceh, Ustadz M. Choffadz, S.Ag dalam sambutannya mengatakan Rakerwil selain untuk melakukan evaluasi dan membahas derivasi program kerja, juga merupakan momentum konsolidasi dalam rangka menguatkan pengabdian keumatan Hidayatullah hingga ke daerah terpencil dan terluar di Aceh.

Dalam pembukaan acara Rakerwil tersebut dirangkai pula dengan peluncuran Program Pendirian 1001 Rumah Qur’an & Tebar 1001 Da’i Pedalaman. Program ini, dijelaskan Choffadz, adalah merupakan salah satu program utama yang diusung oleh Hidayatullah ditahun 2022.

Dia menuturkan bahwa diusungnya program ini adalah demi menjawab tantangan dakwah di Aceh, dimana menurut Kepala Dinas Syariat Islam Aceh DR. EMK. Alidar, S.Ag,. M.Hum, bahwa pemerintah saat ini tengah kesulitan mendapatkan dai yang mau diterjunkan ke daerah pedalaman dalam membina umat.

“Hidayatullah hadir di Bumi Serambi Mekkah ini adalah demi memenuhi kebutuhan umat yang mampu mencerahkan dan menyelesaikan problematika umat Islam,” imbuh Choffadz yang disambut dengan pekikan takbir dari seluruh peserta rapat.

Kepala Dinas Syariat Islam Aceh DR. EMK. Alidar, S.Ag,. M.Hum dalam sambutannya membuka secara resmi gelaran Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah tersebut, selain memaparkan sejumlah tantangan dakwah di kawasan, ia mengapresiasi eksistensi Hidayatullah yang senantiasa berkontribusi dalam membantu pemerintah Aceh, khususnya dalam kegiatan keagamaan ditengah masyarakat mulai dari perkotaan hingga ke perbatasan dan daerah terluar seperti Pulau Simeulue.

Ia pun mengapresiasi kerja kerja yang telah dilakukan Hidayatullah yang menjangkau semua lapisan dan terus teguh dalam melayani umat di bidang dakwah dan pendidikan, tanpa mengenal lelah.

“Hidayatullah yang memiliki jangkauan sangat luas dan keberadaan para dainya yang dikenal memiliki militansi yang kuat, tentu dapat menjadi landasan kuat untuk kebangkitan umat,” katanya ketika memberikan sambutan membuka acara tersebut.

Kadis Syariat Islam Aceh ini menilai Hidayatullah sebagai organisasi yang terus bergerak dinamis, berkiprah, mencerahkan ummat, begitu terasa manfaatnya, tidak saja bagi pemerintah tapi juga masyarakat Aceh pada umumnya.

“Hidayatullah itu salah satu ormas yang memiliki kader-kader militan, dan tidak pernah mengeluh, seperti salah satu dai Hidayatullah yang bertugas di Pulau Simeulue,” imbuhnya.

Kadis berharap, Rapat Kerja Wilayah ke-II Hidayatullah Aceh tahun 2022 ini berjalan lancar dan melahirkan program-program yang bermanfaat untuk semua lapisan masyarakat.

Pembukaan Rakerwil Aceh ini selain dihadiri oleh utusan dari DPP Hidayatullah Ust Syamsuddin, hadir pula dalam kesempatan tersebut jajaran Pemerintah Kota Aceh, pejabat dari unsur Polri dan TNI, pimpinan organisasi Islam Aceh, serta tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat.*/Wahid Hanif

Gubernur Anies Baswedan Buka Rakerwil Hidayatullah DKI Jakarta

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta H. Anies Rasyid Baswedan, S.E., M.P.P., Ph.D membuka secara resmi gelaran Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) II Hidayatullah DKI Jakara yang berlangsung di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jatinegara, Jakarta, Jum’at, 9 Jumadil Akhir 1443 (21/1/2022).

Hadir pula dalam kesempatan tersebut sesepuh Hidayatullah H. Andi Imam Karim Loebis, jajaran Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur, pimpinan organisasi Islam DKI Jakarta, serta tokoh masyarakat dan tokoh agama.

Tampak pula hadir pengurus DPP Hidayatullah diantaranya Sekretaris Jenderal Candra Kurnianto dan Wasekjen Abdul Ghofar Hadi. Hadir juga pimpinan Baznas Bazis DKI, Laznas BMH, pengurus DPD dan perwakilan guru Rumah Qur’an se-DKI Jakarta.

Dalam sambutannya, Anies mengapresiasi keberadaan Hidayatullah yang senantiasa berkontribusi dalam membangun kota Jakarta sebagai kota kolaborasi.

Ia pun mengapresiasi kerja kerja yang telah dilakukan Hidayatullah, yang, menurutnya, menjangkau semua lapisan dan terus teguh dalam melayani umat.

“Hidayatullah yang memiliki jangkauan sangat luas dapat menjadi landasan kuat untuk kebangkitan umat,” katanya ketika memberikan sambutan membuka acara tersebut.

Gubernur Anies menilai Hidayatullah sebagai organisasi yang terus bergerak dinamis, berkiprah, dan senantiasa bertumbuh dengan mimpi mimpinya.

“Hidayatullah itu salah satu organisasi yang ketika punya mimpi, jaraknya dengan kenyataan itu pendek sekali, bahkan kadang-kadang kenyataanya itu datang duluan ketimbang mimpinya. Karena Hidayatullah itu pergerakanya selalu cepat,” imbuhnya.

Dia berharap, Rapat Kerja Wilayah ke-II Hidayatullah DKI Jakarta tahun 2022 ini berjalan lancar dan menghasilkan terobosan yang bermanfaat untuk semua.

Dalam pembukaan acara Rakerwil ini, dilakukan penanda tanganan kerjasama atau Memorandum Of Understanding (MoU) antara DPW Hidayatullah DKI Jakarta dengan Baznas Bazis DKI Jakarta, Laznas Baitul Maal Hidayatullah, dan STIE Hidayatullah.

Rakerwil ini juga dirangkai dengan Seminar Peradaban Islam yang menghadirkan narasumber Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah KH Abu A’la Abdullah, Sekretaris Umum MUI DKI Jakarta KH Yusuf Aman, MA, Direktur LSIP Suharsono, Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta Muhammad Isnaini, dan dipandu oleh Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi.*/Ainuddin

Rakornas Baitut Tamwil Hidayatullah Teguhkan Profesionalisme

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Baitut Tamwil Hidayatullah (BTH) 2022 meneguhkan komitmen menjadi lembaga yang amanah dan profesional yang menyelaraskan langkahnya dengan perkembangan era digital.

“Karena itu dengan memohon rahmat dan karunia Allah SWT, BTH melaksanakan rapat koordinasi nasional tahun 2022 dengan tema menerapkan standardisasi, sentralisasi dan integrasi, mewujudkan Baitut Tamwil Hidayatullah yang amanah dan profesional di era digital,” kata Ketua Departemen Keuangan DPP Hidayatullah, Saiful Anwar, ME, dalam keterangannya kepada media ini, Kamis, 18 Jumadil Akhir 1443 (20/1/2021).

Saiful menjelaskan, sebagai sebuah entitas baru disektor lembaga keuangan, Baitut Tamwil Hidayatullah yang berawal dari konsep BMT belum sepenuhnya terorganisir secara ideal. Oleh sebab itu, eksistensi dan pertumbuhannya sangat bergantung pada sumberdaya yang dimiliki oleh masing-masing BTH.

Di beberapa cabang BTH mengalami pertumbuhan pesat, namun juga terdapat beberapa BMT yang lampau mengalami tantangan yang tidak mudah baik material dan immaterial.

Tahun 2021 yang disepakati sebagai tahun standardisasi, sentralisasi dan integrasi BTH, dimulai dengan finalisasi konsep Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi (SSI) dan strategi implementasinya. Dalam konsep tersebut, SSI mencakup aspek branding, operasional, keuangan, SDI dan kelembagaan.

“Dimana setiap aspek memiliki indikator yang harus dipenuhi oleh seluruh BTH yang berdiri di Hidayatullah,” imbuh Saiful seraya menambahkan selain yang bersifat kualitatif, SSI BTH juga diharap membawa dampak positif terhadap kuantitatif BTH secara nasional. Baik dalam aspek sumber daya insani maupun keuangan.

Dia menyebutkan, per 30 Desember 2021 BTH dengan jaringan di 10 kantor telah melayani 5.546 anggota. BTH membukukan asset sebesar 41 milyar, DPK 30 milyar, pendapatan 3,9 milyar, dan laba 1,29 milyar.

“Memasuki 2022, BTH diharapkan dapat mampu membangun kekuatan internal melalui konsolidasi baik dalam unsur pengurus, pengawas, dan pengelola agar dapat melakukan perencanaan bersama dalam aspek keuangan, SDI, pengembangan produk, pemasaran dan lain-lain,” harapnya.

Selain itu, Saiful mengatakan pihaknya juga akan menguatkan aspek digital yang tidak dapat dipungkiri dapat menjadi ancaman bagi semua sektor bisnis yang tidak mampu melakukan adaptasi dan penyesuaian strategi bisnis. “Termasuk di dalamnya BTH jika tidak melakukan upaya digitalisasi dalam semua konsep operasional dan layanannya baik dalam aspek funding maupun funding,” ujarnya.

Berbagai dinamika tersebut menjadi bagian yang menjadi fokus dalam pembahasan Rakor BTH untuk tahun buku 2022, dengan harapan BTH yang ada semakin siap dalam satu gerakan yang sama dalam integrasi manajemen yang terpusat.

“Juga agar program kerja tahunan BTH lebih tertata secara sistematis mulai program jangka panjang, program jangka pendek, program tahunan, program nasional dan program turunan di BTH,” tandas Saiful.

Rakornas yang berlangsung selama 2 hari ini, Rabu-Kamis, 19-20 Januari 2022, digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta.

Rakornas yang dihadiri unsur pengurus 10 cabang BTH ini juga menghadirkan pembicara kegiatan seminar dan diklat dari DPP Hidayatullah seperti Kabid Ekonomi Wahyu Rahman, Kabid Organisasi Asih Subagyo serta Direktur PBMT Institute Kartiko Adi Wibowo dan hadir juga komisaris Bank Syariah Indonesia (BSI) Arief Rosyid Hasan. (ybh/hio)

Pra-raker, Hidayatullah Kepri Kuatkan Khidmat di Pulau

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Para pengurus DPW Hidayatullah Kepri, Rabu, 17 Jumadil Akhir 1443 (19/1/2022) sambangi pulau Panjang Timur untuk menggelar Pra-raker di Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH) Atok Somad yang juga kediaman Ato Somad, mitra BMH dan DPW.

Agenda Pra Rakerwil dalam rangka mematangkan pelaksanaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) yang akan dilangsung pada 28 Januari 2022 di kampus Madya Hidayatullah Bintan.

Menurut Ust Darmansyah, ketua DPW Hidayatullah Kepri, Pulau Panjang Timur dipilih selain agar lebih fokus membahas program kerja di tahun 2022 juga untuk mendekatkan organisasi pada ummat, khususnya di pulau-pulau.

Darmansyah mengatakan, dalam menyusun program kerja, DPW Hidayatullah Kepri mengacu pada gerakan mainstream Hidayatullah yaitu Tarbiyah dan Dakwah.

“Untuk melakukan lompatan-lompatan pencapaian organisasi, maka para pengurus dan aktivis tarbiyah dan dakwah harus menguatkan spirit Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) sebagai basis spiritual,” tegas Darmansyah.

BMH Kepri yang memfasilitasi agenda Pra Raker ini berharap program tarbiyah dan dakwah di Kepri yang terdiri dari kepulauan akan semakin menggeliat dengan sinergi yang terjalin antara BMH dan DPW dalam menguatkan khidmat untuk umat. Harapan itu disampaikan ustadz Abdul Aziz, General manager BMH Kepri.

“Sengaja diadakan di pulau sebagai simbol penguatan tarbiyah dan dakwah ke pulau-pulau, juga bagian dari upaya lebih mendekatkan diri kepada ummat kita, semangat sinergi dan kolaborasi terus kita gaungkan,” kata Aziz.

BMH dengan agenda program pemberdayaannya, terang Aziz, harus ditopang dengan kegiatan pembinaan yang fokus dan tuntas sehingga butuh Sinergi dengan berbagai pihak utamanya para dai yang dikoordinir pengurus wilayah, imbuh Abdul Aziz.

Atok Somad yang berprofesi sebagai nelayan sangat senang kediamannya menjadi tempat digelarnya Pra Rakerwil DPW Hidayatullah Kepri. Beragam jenis hidangan sea food segar menyambut kedatangan para mujahid muda.*/Mujahid M. Salbu

STAIL Gelar Haflatu Takrim Penyerahan Sanad al-Qur’an

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Menutup semester ganjil tahun ajaran 2021-2022, Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman al-Hakim (STAIL), Surabaya, menyelenggarakan acara Haflatu al-Takrim; penyerahan Sanad Tahfidz al-Qur’an 30 juz.

Adalah Tsabit Amin Fuadi, mahasiswa STAIL program Takhasus Bersanad, yang telah mampu menyetorkan hafalan 30 juz bersanad, dengan qiroah Imam ‘Asim dengan dua riwayatnya Hafs dan Syu’bah dan Imam Nafi’ Al- Madani dengan dua riwayatnya Qalun dan Warsy

Selain Tsabit, ada juga M. Haris al-Anshori. Mahasiswa asal Mojokerto, yang juga mengambil program serupa, telah selesai mengkhatamkan setoran hafalan al-Qur’an 30 juz.

Dr. Mashud, M.Si, ketua STAIL, mengungkapkan kebahagiaannya terhadap penyelenggaraan acara, yang dinilainya sangat penting lagi bersejarah itu.

“Mudah-mudahan ini menjadi start point bagi STAIL, untuk lebih baik lagi kedepannya. Dalam semua program. Ini adalah salah satu program unggulan dari STAIL,” katanya seperti dalam keterangannya kepada media ini, Rabu, 17 Jumadil Akhir 1443 (19/1/2022).

Sementara itu, Ust Syamsuddin, SE, MM, selaku ketua Badan Pengurus Yayasan Hidayatullah, Surabaya, turut menegaskan akan spesialisasi program kuliah Tahfidz bersanad ini.

Program tahfidz bersanad ini kita desain secara khusus. Bahkan pengajarnya pun kualifikasinya jelas, bersanad, dengan harapan akan lahir para hafidz dan hafidzah berkualitas dan memiliki jiwa juang yang kuat.

“Animo masyarakat terhadap rumah al-Qur’an yang diinisiasi oleh Hidayatullah, sangat tinggi. Ini membutuhkan murobbi/ murobbiyah. Siapa yang akan mengisi kalau bukan para generasi muda,” tegas beliau.

Selain pengukuhan dan penyerahan sanad, acara juga diisi taujih oleh ketua dewan pembina Yayasan Hidayatullah Surabaya, Ust Abdurrahman, S.E.

Dalam tausiahnya, Ust Abdurrahman mengingatkan hadirin untuk lebih menseriusi dalam mempelajari al-Qur’an. Tidak hanya sebagai bacaan, tapi juga panduan dan inspirasi hidup.

Turut hadir dalam acara yang diadakan di masjid Aqshol Madinah itu, selain unsur pembina, pengawas, pengurus yayasan, dan pengelola STAIL, juga nampak al-syiakh Mahdi al-Yamani, pembina utama program Tahfidz Bersanad, seluruh kepala unit TK-SMA, Mudir Ma’had Darul Hijrah, Muslimat Hidayatullah Jawa Timur, dan mahasiswa dan mahasiswi program tahfidz.*/Robinsah

Memperhatikan Kembali Tema Pembicaraan Kita

APA YANG keluar dari mulut kita, secara alamiah dan sukarela, pada dasarnya adalah cerminan murni isi jiwa kita sendiri. Ia merefleksikan apa yang menjadi kecenderungan utama diri kita, baik dalam waktu sesaat maupun berkelanjutan. Ia bisa jadi menggambarkan segala rasa cinta maupun benci, memperlihatkan seluruh harapan maupun kecemasan, menyingkap sekian banyak rahasia dan misteri.

Oleh karenanya, Allah memberitahu kita, bahwa kemunafikan yang sebenarnya sangat tersembunyi di dasar hati itu pun dapat dilacak dari kata-kata dan tema pembicaraan seseorang.

Allah berfirman,

“Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan dapat mengenali mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka, dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.” (QS Muhammad: 29-30)

Seseorang yang dari jam ke jam terus menerus membicarakan uang dan pekerjaan, tidak akan bisa mungkir bahwa itulah pusat gravitasi kehidupannya.

Mereka yang dari lisannya senantiasa terdengar dengungan lagu-lagu cinta penyubur syahwat, mustahil mengelak bahwa memang disanalah jiwanya tertawan.

Siapapun yang tema percakapannya melulu hal-hal sepele dan tidak bermakna, tidak dapat menghindari tudingan bahwa itulah hakikat jatidirinya.

Bukankah kita hanya akan merasa nyaman dengan apa yang kita cintai dan sukai? Adakah kita betah berlama-lama memperbincangkan sepakbola atau koalisi antar partai politik, jika kita tidak menyukai keduanya? Sebaliknya, bukankah hanya butuh sedikit pancingan ringan saja untuk membuat kita tenggelam membahas sport dan politik jika jiwa kita sangat gandrung kepadanya?

Sungguh, jika kita menyukai Al-Qur’an, ia akan ringan tercetus di mulut, dan mungkin menjadi senandung kita di saat-saat senggang. Ada cukup banyak ayat dan surahnya yang kita hafalkan serta hayati, lalu kita renungkan bagian demi bagian untuk menjadi pedoman hidup.

Namun, bila di dada kita lebih banyak berisi lagu-lagu pemicu syahwat lawan jenis, syair-syair cengeng tanpa makna, maka kesanalah jiwa kita akan terbimbing. Al-Qur’an kemungkinan besar akan terdepak keluar dari hati dan tidak enak untuk dilafalkan, sebab ada saingan lain yang dominan disana.

Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, pernah ada seorang sahabat yang ditunjuk kaumnya untuk menjadi imam di Masjid Quba’. Setiap kali memimpin shalat, setelah membaca Al-Fatihah, dia selalu membaca surah Al-Ikhlas sampai selesai, baru dilanjutkan dengan satu surah lainnya.

Ia melakukan yang demikian itu di setiap rakaat. Sebagian teman-temannya pun protes dan menegurnya, “Engkau selalu memulai dengan membaca surah ini, dan engkau tidak merasa cukup dengannya sehingga masih membaca surah lainnya. Mengapa engkau tidak membaca surah ini saja, atau engkau tinggalkan surah ini dan kaubaca surah lainnya?”

Ia menjawab, “Aku tidak mau meninggalkannya. Jika kalian mau, aku akan tetap mengimami kalian dengan surah itu, jika tidak maka aku berhenti saja.” Akan tetapi kaumnya menilai orang itu sebagai figur terbaik yang mereka miliki dan mereka tidak mau diimami oleh orang selainnya.

Maka, tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang berkunjung, mereka pun mengadukan permasalahan itu kepada beliau. Beliau bertanya kepada orang tadi, “Hai fulan, mengapa engkau enggan menerima usulan teman-temanmu, dan apa yang menyebabkanmu selalu membaca surah itu di setiap rakaat?” Orang itu menjawab, “Saya mencintainya.” Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Cintamu kepadanya akan membawamu masuk surga!” (Hadits riwayat Bukhari)

Mudah dimengerti dari hadits ini, bahwa kecintaan sahabat itu kepada surah Al-Ikhlas, yang mendorongnya untuk mengulang-ulang bacaannya, pada akhirnya akan membentuk karakternya juga. Lalu, karakter itulah yang akan mengantarkan kakinya melangkah menyusuri tapak demi tapak kehidupan.

Tentu saja kita tidak akan merasa asing dengan kesimpulan akhirnya yang berbuah surga, sebab sudah sangat masyhur jika isi kandungan surah Al-Ikhlas adalah mentauhidkan Allah ta’ala. Tauhid itulah yang mengantarnya ke jalan surga.

Kalau begitu, kemana jalan anak-anak kita akan menuju, jika kelas 1 SD pun lebih banyak menghafal syair-syair pengobar syahwat atau lirik tanpa makna? Tidakkah kita merasakan betapa sukarnya menanamkan akhlaq mulia dan kepatuhan kepada Allah dewasa ini?

Lalu, tidakkah kita menyadari bahwa ternyata setiap saat justru lebih banyak “juru dakwah” gadungan yang menanamkan pesan pesannya ke dalam jiwa mereka, juga jiwa kita sendiri?

Apa sebenarnya yang ditanamkan oleh lagu-lagu itu ke dalam jiwa kita? Jelas, syair-syair itulah yang akan mewarnai pikiran kita, membentuk cara kita berpikir dan menilai persoalan, dan akhirnya membimbing kita tentang bagaimana caranya menjalani kehidupan.

Maka, berhatilah-hatilah dengan tema-tema pembicaraan kita. Dan, sebelum itu, kita tampaknya harus berhati-hati sekali terhadap apa yang masuk ke dalam diri kita. Sebab, apa yang masuk, itu jugalah yang nantinya akan keluar. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar