Beranda blog Halaman 441

Tips Membangun Emotional Bonding dan Hilangkan Tekanan Masa Lalu

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ikatan emosional atau emotional bonding yang baik antar pasangan merupakan hal penting dalam menjalani kehidupan yang bahagia. Tak kalah penting, ikatan hati antara orangtua dan anak-anak juga amat dipengaruhi oleh hubungan yang baik orangtua.

Namun, karena sebab tertentu, ikatan emosional itu sukar terjalin terutama pada orang-orang memiliki masa lalu yang kurang menyenangkan yang menyebabkan trauma berkepanjangan.

Menurut Psikolog yang juga spesialis pengasuhan anak Elly Risman Musa, tekanan masa lalu tersebut memang mempengaruhi kualitas hidup bahkan dampaknya pun bisa berpengaruh terhadap kepengasuhan anak.

“Bagaimana kita menyelesaikan masalah dengan kepengasuhan anak anak kita, maka pertama tama harus selesaikan dulu masalah kita orangtua sebagai suami istri,” katanya dalam acara Webinar Series 02 Pra Munas V Hidayatullah bertajuk “Mengokohkan Jatidiri Keluarga Sebagai Basis Peradaban Islam” seperti dikutip dari siaran live streaming kanal Youtube Hidayatullah ID, Sabtu (19/9/2020).

Elly pun berbagi tips bagaimana membangun emotional bonding dan menghilangkan tekanan masa lalu yang barangkali selama ini selalu menghimpit dada.

Tips dari Elly ini mengambil spirit kontemplatif dari kitab suci Al Qur’an surah Al Imron ayat 159, yang artinya:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.

Dia menjelaskan, lemah lembut akan mengilangkan syak wasangka. Dengan memaafkan dan memintakan ampun serta membangun dialog, akan meneguhkan kebersamaan dalam jalinan ikatan hati. Dan, terus bersungguh sungguh dalam upaya tersebut.

Dia menambahkan tipsnya. Setelah kita shalat, lanjutkan membaca istighfar seraya mengusapkan telapak tangan dari ujung kaki ke ujung kepala dan berkata pada tangan, “Wagai lenganku, aku izinkan engkau menjadi detektor untuk menemukan di mana tubuhku terasa berat karena beban emosiku selama ini”.

Setelah itu, bisa meletakkan telapan tangan di dada dan katakan kepada telapak tangan dan jari jari, “Wahai telapak tanganku dan jari jariku, aku izinkan kau mencabut semua beban emosiku”. Letakkan tangan kita semua ke bagian tubuh.

Jika merasa harus diteriakkan, maka silahkan diteriakkan dalam satu hentakan. Karena itu, perlu disiapkan kain atau bantal untuk menutup mulut wajah agar tidak membuat orang lain terganggu.

Setelah itu lakukan relaksasi dengan mengatur pernafasan. Bisa berelaksasi dengan bersandar seraya melafaskan shalawat dengan gerakan mulut hingga getarananya terasa di lekukan wajah. Lakukan berulang-ulang secara istiqomah.

“Kemudian duduklah berdua membicarakan perwakinan kita dulu. Ambillah kertas. Lihatlah anak anak kita masing masing. Anak nomor satu, kita kelirunya di mana. Panggil anak kita dan duduklah bersama secara berjejer tiga, bukan berhadapan seperti menyidang,” kata Elly berbagi tipsnya.

Elly menyarankan agar ayah yang harus memulai bicara ke anak pada momen tersebut. Kalau perlu latihan dulu, karena mungkin saja ayahnya pendiam sekali, atau bertipikal kasar, atau mungkin ayah yang lembut.

“Ceritakan semua pada anak tentang realitas selama masa pandemi ini, perasaannya, dan sebagainya. Cara kita bicara harus berubah. Dengan dada yang sudah merdeka, kita tak mungkin lagi marah marah,” tukasnya.

Dalam proses komunikasi dengan anak tersebut, orangtua harus berubah caranya seperti menurunkan frekuensi, jeli dalam membaca bahasa tubuh anak agar mengalirkan emosi anak, mampukan diri untuk menebak perasaannya dan jangan pakai gaya 12 bahasa populer.

Webinar ini juga menghadirkan narasumber lainnya yaitu Presidium Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) Dr Hj Sabriati Aziz, Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida) Drs Reni Susilawati, Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah Dr Tasyrif Amin dan dimoderatori oleh Ust Hanafi Usman..*/Ainuddin Chalik

Psikolog Elly Risman Sentil Kesadaran Kepengasuhan di Masa Pandemi

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Psikolog yang juga spesialis pengasuhan anak Elly Risman Musa mengajak merenungi kembali pentingnya keluarga dan menyentil kesadaran dalam kepengasuhan di masa pandemi.

Diantaranya pendiri Yayasan Kita dan Buah Hati ini mengemukakan perihal realitas baru yang harus dihadapi oleh orangtua di rumah. Trend pandemi Covid-19 hingga kini masih tinggi, anak anak belum sekolah. Semua di rumah.

“Kita tidak pernah jadi guru, sekarang kita harus jadi guru. Sekarang satu anak saja mata pelajarannya berbeda beda dan sekarang kita harus menjadi guru dari sekian anak, sekian jenjang. Setelah itu kita tidak mengerti dan lebih lebih mereka (anak) tidak mengerti. Lalu mereka tanya kita, kita nggak tau harus jawab apa,” kata Elly.

Hal itu disampaikan Elly dalam acara Webinar Series 02 Pra Munas V Hidayatullah bertajuk “Mengokohkan Jatidiri Keluarga Sebagai Basis Peradaban Islam” seperti dikutip dari siaran live streaming kanal Youtube Hidayatullah ID, Sabtu (19/9/2020).

“Sebelumnya kita sub-kontrakkan anak kita ke sekolah selama delapan jam atau ke pesantren berbulan bulan. Nanti anak ketemu kita orangtua setelah berbulan bulan. Kita tidak tahu dan tidak pernah bersama seperti saat sekarang ini,” imbuhnya.

Dengan adanya pandemi, Elly melanjutkan, orangtua akhirnya harus jadi guru bahkan sebagai guru les serta berperan sebagai guru semua jenjang dan tidak bisa minta tolong kepada siapa siapa.

Di sisi lain, terdapat masalah pelik dimana tidak sedikit guru guru tidak pernah diajar bagaimana mengajar daring dan anak anak tidak diberi instruksi sebagai bekal.

Elly kemudian mengajak peserta membayangkan dan menjawab perasaan masing-masing tentang pandemi yang sudah berlangsung lama ini di secarik kertas/ kolom chat. Ada yang menjawab stres, khawatir, takut dan lain sebagainya.

“Perasaan adalah sesuatu yang sangat penting bagi manusia. Kalau (perasaan) dikenali, apalagi dia diterima, orang itu akan merasa seluruh dirinya diterima,” imbuhnya.

Elly lalu meminta para ayah ibu untuk kembali membayangkan, selama 6 bulan masa pandemi ini tak ada yang tanya tentang perasaannya.

“Selama 6 bulan pandemi ini, ada nggak sih yang menanyakan perasaan Anda? Jangan jangan ayah bunda juga nggak ada yang nanya perasaannya. Bercampur aduk perasaannya, apalagi sekarang dipertontonkan jenazah, kuburan, rumah sakit, 117 paramedis yang meninggal,” tukasnya.

Bunda Elly lantas menuturkan ilustrasi dengan berkisah yang memisalkan peserta, yang diwakili moderator acara, sebagai anaknya. Diasumsikan dialog ini terjadi antara orangtua kepada sang anak.

“Hidup itu dulu susah. Mama dulu itu ngerasain nak sebelum melahirkan kamu, itu mama pernah ngalamin pergi antri sembako. Pernah dulu mama kecil, baju sekampung itu sama. Jadi, sulit sekali”.

“Oleh sebab itu, mama sama bapak nak berusaha benar dan berjanji beritikad berdua agar bagaimana caranya kamu dan adik adikmu nak sekolah sampai ke tingkat tertinggi kalau bisa. Kenapa, kalau kau bisa sarjana nak, kami harapkan hidupmu akan lebih baik daripada kami”.

“Sampai di situ, kamu ngerti nak?”

“Jadi oleh sebab itulah mama dan papa berusaha menekankan keberhasilan akademis. Supaya sukses bahkan kalau bisa jadi pegawai negeri karena PNS itu nggak ada bangkrutnya,” lanjut Elly meneruskan analoginya.

Elly kemudian mengajak peserta webinar menarik ibrah dari tamsil yang dituturkannya tersebut. “Sampai di sini berhenti dulu menjadi anak. Jadilah orangtua,” katanya.

“Bukankah engkau, anak anakku, selalu menekankan keberhasilan akademik anak anakmu. Dan engkeu terus mengindoktrinasi mereka untuk menjadi pegawai negeri. Dari mana nak? Dari mama,” ujarnya seraya mengajak berefleksi.

“Dari jaringan jaringan otakmu yang mama bentuk sejak kecil, penting banget reputasi akademik itu. Mama nak gak bisa mengenali diri mama nak,” lanjutnya.

Orangtua acapkali mengutamakan aspek akademik semata dengan harapan kelak anak menonjol dari sisi keduniaan namun lupa mentahtakan Allah SWT dalam hati dan sanubarinya.

“Masa depan itu tergantung pendidikan, bukan karena Allah. Itu indoktrinasi yang selalu ditanamkan. Sementara kita nggak pernah mendengarkan perasaan. Coba ayah bunda menanyakan perasaan itu semua,” ujarnya.

Orangtua, lanjut Elly, harus berusaha mendengarkan, memahami dan mendeteksi perasaan anak. Meruyaknya data kasus kenakalan remaja, pergaulan bebas atau perceraian karena disebabkan perasaan yang tidak didengarkan.

Hal itu terjadi karena orangtua menggunakan pola interaksi yang keliru kepada anak-anaknya sehingga membuat moralnya jatuh, kepercayaan dirinya ambruk dan akhirnya menjadi terasing. Karena itu, orangtua harus memiliki waktu mendengar aktif dan menghindari 12 gaya populer yang masih kerap dilakukan kepada anak.

Elly menekankan, orangtua perlu sekali menghindari 12 gaya tersebut yaitu memerintah anak, menyalahkan, meremehkan, membanding bandingkan, mencap atau memberi label buruk, mengancam, menasehatinya di waktu yang tidak tepat sambil memaksanya harus menyimak dengan kata kata misalnya “dengerin mama!”.

Orangtua juga jangan sekali kali membohongi anak dengan janji yang tak ditepati, menghiburnya dengan kesenangan sementara seperti memberi uang jajan tanpa memberikan pengertian terlebih dahulu, mengkritiknya dengan kasar, menyindir dan menganalisa semua hal yang kita anggap negatif pada dirinya.

Webinar ini juga menghadirkan narasumber lainnya yaitu Presidium Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) Dr Hj Sabriati Aziz, Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida) Drs Reni Susilawati, Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah Dr Tasyrif Amin dan dimoderatori oleh Ust Hanafi Usman.*/Ainuddin Chalik

Lindungi Generasi Muda Dengan Tiga Benteng

0
Sabriati Azis, Sumber Gambar: Hidayatullah.com

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Presidium Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) Dr Sabriati Azis M.pd menyebutkan ada tiga hal yang menjadi benteng pertahanan utama untuk menjaga generasi sehingga pengokohan jati diri keluarga dapat tercapai. Hal tersebut disampaikan pada webinar pra musyawarah nasional (Munas) ke-V Hidayatullah (19/09/2020).

“Keluarga tentunya perlu dibentengi, sehingga genersi kita terlindu dari hal-hal yang merusak. Tiga penjaga benteng ini ialah negara, masyarakat, dan juga keluarga” jelasnya.

Sabriati mengutip sebuah hadis nabi Muhammad SAW mengenai kenapa negara menjadi alasan perlindung generasi “Sesungguhnya iman (Khalifah) itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnyaa dan berlindung denganya. (HR. Muslim)”. Ia mengatakan kewajiban sebuah negara ialah sebagai penjaga benteng dari serangan-serangan yang meyebabkan generasi islam khususnya kehilangan jati dirinya.

“Tentunya negara mempunyai kewajiban sebagai penjaga gerbang, penjaga utama generasi kita dari serangan-serangan yang dapat merusak moral mereka, sebagaimana hadis nabi yang saya sebutkan tadi” ucapnya.

Selain negara, masyarakat juga mempunyai kewajiban untuk menjaga generasi kita. Sabriati mengatakan bahwa kurangnya kepekaan masyarakat dalam melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dapat menyebabkan adanya kerusakan moral di masyarakat dan hal tersebut dapat menenggelamkan mereka sendiri.

“Suatu komunitas masyarakat jika mengabaikan atau membiarkan begitu saja terhadap hal-hal yang dapat merusak generasi dan tidak melakukan amalan amar ma’ruf nahi mungkar maka bisa jadi mereka akan semakin tenggelam dalam kerusakan moral” jelas Sabriati.

Selain negara yang menjadi benteng utama dan juga masyarakat, keluarga juga mempunyai kewajiban menjega generasi bangsa. Bahkan keluarga menjadi madrasah pertama bagi generasi bangs ini. Dengan banyaknya pihak yang ingin merusak generasi bangsa, seperti maraknya tersebar situs porno, usaha mereka melegalkan LGBT, penjualan narkoba yang mengincar usia usia remaja. Tentunya hal ini menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi keluarga. Maka menurut Sabriati setidaknya para keluarga mendidik generasi untuk beriman serta bertaqwa kepada Allah SWT.

“Dengan banyaknya hal yang dapat merusak generasi, keluarga mempunyai pekerjaan rumah yang berat. Setidaknya para keluarga mengajari generasi kita untuk beriman serta bertaqwa kepada Allah SWT, lalu mengajarkan mereka tentang adab, zikir, ilmu dan hal-hal dasar yang dapat melindungi mereka” pungkasnya *Amanjikefron

Kemanakah Pemuda Ideal?

0

Narasi pemuda ideal belakangan mulai kurang terdengar, seperti sebuah produk teknologi, seakan-akan idealisme adalah barang usang yang mesti ditinggalkan.

Pemuda sekarang senang dengan posisi prestise di dalam organisasi, lebih-lebih yang secara langsung memberikan keuntungan materi, duduk sebagai A, B, dan C. Pada mereka yang ada di posisi itu, banyak anak muda memandang bahwa itulah keberhasilan, itulah kesuksesan. Bisa jadi benar, itulah kesuksesan. Akan tetapi, benarkah itu keberhasilan ideal?

Jika posisi itu memberikan daya dorong terhadap kemajuan umat, rakyat, bangsa dan negara, maka insya Allah itu kebaikan besar yang memang harus diperoleh. Namun jika ternyata hanya berdampak pribadi, maka itu adalah hal yang mesti diwaspadai.

Menarik catatan Dr KH Abdullah Syukri Zarkasyi MA dalam artikelnya di Majalah Gontor Edisi Mei 2020 bahwa “..ada orang yang berbuat hanya untuk sekedar urusan perutnya. Mendirikan pesantren hanya untuk mencari pengaruh, wibawa, kekuasaan, atau rezeki. Orang seperti itu tak beda dengan burung yang kerjanya hanya mencari makan, kawin, dan punya anak.”

Dan, menurut Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor itu, tantangan terberat saat ini adalah perubahan pola berpikir.

“Perubahan zaman dan perubahan pola pikir kini menjadi ujian berat para kader pejuang ketika terjun ke dalam masyarakat kelak. Mereka harus berjuang keras melawan arus yang memang sudah keliru, bukan hanya membendungnya. Sudah kuat atau belum (idealisme) kita ini.”

Dalam kata lain, pemuda sekarang berhadapan dengan gelombang arus besar bernama materialisme yang telah merenggut kecerdasan banyak orang, ketulusan sebagian besar orang, bahkan telah membayar idealisme banyak sosok yang sebelumnya dikenal segabai penyeimbang dan berposisi melawan setiap kebijakan yang bertentangan dengan nurani lebih-lebih UUD 45.

Dasar Idealisme

Idealisme secara sederhana dapat dimaknai sebagai superioritas yang menjadikan seseorang tidak tunduk apalagi dijajah oleh siapapun, selain dari kebenaran yang divalidasi iman, akal sehat, dan tujuang besar bersama di dalam berbangsa dan bernegara. Bahkan, andai idealisme itu ditawar, dibayar dengan kedudukan tinggi yang menggiurkan, sang pemuda idealis tak akan pernah mau menjualnya.

Namun apa yang mendasari idealisme itu sendiri?

Jika belajar pada Nabi Ibrahim, maka dasar idealisme itu adalah pemahaman mendalam tentang siapa Allah sebagai Tuhan semesta alam. Maka tidak heran jika sepak terjang Ibrahim adalah sangat luar biasa, lebih dari sekedar heroik, tapi benar-benar visioner. Menariknya, itu dilakukan hanya seorang diri.

Jika belajar pada Nabi Muhammad SAW idealisme itu adalah kemenangan dakwah, tegaknya Islam, dan selamatnya umat manusia dari menyembah berhala. Maka saat tawaran kedudukan dan kenikmatan wanita datang, beliau menyatakan bahwa andai matahari dan rembulan diberikan, beliau tidak akan pernah menanggalkan risalah Islam ini.

Jika dua makna sekaligus manivestasi dari idealisme ini diejawantahkan para pemuda saat ini, maka akan ada cahaya baru, harapan baru, bahkan perubahan baru. Sebab jika tidak, maka disadari atau tidak, negeri ini akan menuju kehancuran. Karena kaum muda hidup tanpa idealisme lagi. Mereka terseret arus yang mementingkan materialisme di atas apapun, bahkan di atas iman dan ukhuwah perjuangan.

Menariknya, Hidayatullah memiliki Manhaj Sistematika Wahyu dan GNH sebagai model manivestasi yang jika ini benar-benar hidup dalam diri, insya Allah idealisme itu masih bisa diselamatkan, masih ada tenaga besar untuk membuat semangat melawan arus. Namun, jika tidak, maka lenyaplah idealisme dalam diri. Hidup tidak lagi penting berpikir umat, apalagi sampai berjuang dan berkorban, mendiskusikannya pun sudah tidak lagi bersemangat.

Oleh karena itu, pesan bapak pimpinan dalam sarasehan pemuda di Pesantren Hidayatullah Depok, Pemuda itu harus punya idealisme yang amat sangat. Bahkan saking kuatnya itu idealisme, kata beliau dalam tausiyah Munas Pemuda Hidayatullah di Jakarta, tidur pun (kalau bisa) dalam kondisi berlari.

Langkah Strategis

Pertanyaannya kemudian apa langkah yang diperlukan untuk menjadi ideal. Menurut KH. Syukri Zarkasyi ada tiga. Pertama, insiatif. Kedua, memanfaatkan jaringan dengan baik. Ketiga, dapat dipercaya.

“Dan tiga hal ini juga menjadi unsur penting bagi keberhasilan perkembangan seseorang, lembaga, maupun pesantren. Karena itu, dalam menjalankan kehidupannya, seseorang hendaknya, Pertama, selalu banyak mengambil inisiatif, tidak pasif, tapi justru agresif. Ia harus mengambil langkah-langkah inisiatif untuk memajukan pesanteren, lembaga pendidikan, atau dirinya sendiri.

Ia juga harus progresif, dengan selalu berpikir ke depan. Itualah ciri manusia modern. Dengan begitu ia akan selalu dinamis, terus bergerak, dan menggerakkan kehidupan.”

Saya kemudian teringat ungkapan Ustadz Abdullah Said bahwa kader dai harusnya tidak melewati sedetik pun kecuali untuk kemajuan dakwah dan tarbiyah. Semoga, uraian sederhana ini dapat membantu segenap kader muda Hidayatullah menemukan alat ukur dan mengembangkannya agar idealisme di dalam dada dan pikirannya tidak diganti oleh materialisme. Allahu a’lam.

Imam Nawawi, Ketua Pemuda Hidayatullah

Momentum Pernikahan Mubarak Hidayatullah Teguhkan Warisan Luhur

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Panitia Pernikahan Mubarak di Balikpapan, Ustadz Naspi Arsyad, Lc mengatakan, momentum pernikahan massal Hidayatullah yang digelar sekaligus menyambut Munas V Hidayatullah adalah sebuah penajaman dari warisan nilai dan kepedulian terhadap Indonesia lewat dakwah.

“Pekerjaan keummatan seperti Pernikahan Mubarak ini adalah warisan nilai dan kepedulian terhadap kader dakwah dari Pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said rahimahullah,” ungkapnya sebagaimana siaran pers panitia Munas V(irtual) Hidayatullah kepada media, Rabu (16/09/2020).

Salah seorang pengantin, M. Khuluqun Azhim asal Samarinda mendapatkan pasangan, Farhah Nur Azkiah dari Tangerang Selatan. Azhim menyebutkan, Pernikahan Mubarak adalah langkah awal untuk menjadi generasi bangsa yang siap totalitas dalam dakwah.

“Saya mengikuti Pernikahan Mubarak ini dalam upaya menjaga semangat diri untuk terus bisa bermanfaat bagi umat,” ucapnya.

Peserta Pernikahan Mubarok terbesar pernah diikuti oleh 100 pasang santri yang kala itu sempat dihadiri oleh mendiang Presiden RI ketiga, Prof. Dr. BJ. Habibie.

Pernikahan Mubarak merupakan agenda yang terus dilangsungkan oleh Pesantren Hidayatullah, bahkan kini tidak saja di Ummul Quro Gunung Tembak tapi juga rutin digelar di berbagai kampus Hidayatullah di Indonesia.

Pada masa pandemi Covid-19 saat ini, pernikahan massal tersebut digelar dengan menerapkan protokol kesehatan. Saat di pelaminan, misalnya, para pengantin diatur tempat duduknya dengan berjarak.

Dalam acara yang disiarkan live streaming di kanal Youtube LPPH Gunung Tembak itu, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan Ustadz Hamzah Akbar menilai bahwa menggelar pernikahan di tengah pandemi tersebut merupakan tantangan tersendiri. 

Hamzah menilai, menerapkan protokol kesehatan di tengah pandemi merupakan kebaikan yang mesti dipatuhi. Sementara menikahkan para pemuda-pemudi bangsa juga suatu kebaikan.

Semarak Agenda Keummatan Hidayatullah Sambut Munas Kelima

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Menjelang Musyawarah Nasional ke-V Hidayatullah yang akan digelar secara virtual pada akhir Oktober mendatang, Hidayatullah menggelar berbagai acara pra Munas.

Semarak kegiatan-kegiatan keummatan yang bisa diikuti secara terbuka tersebut antara lain webinar dengan berbagai tema, pembicara, dan waktu berbeda; Tabligh Akbar Muslimat Hidayatullah; Sharing Kepengasuhan; Seminar Parenting Nasional, dan lain sebagainya. Beberapa waktu lalu juga digelar pernikahan mubarak 20 pasang santri.

Sebelumnya, Hidayatullah lewat Islamic Medical Service (IMS) juga menggelar acara pembinaan dan pendampingan Sahabat Tobat (SOBAT) di Bogor, Jawa Barat, dengan penerapan protokol kesehatan.

Humas Panitia Munas V Hidayatullah dalam keterangan kepada wartawan, Rabu (16/09/2020), menjelaskan, hingga saat ini, panitia terus melakukan berbagai persiapan untuk mensukseskan Munas virtual tersebut.

Dijelaskan, webinar perdana pra Munas Hidayatullah digelar pada Sabtu (12/09/2020) sore, dengan tema “Perlukah Milenial Muslim Berorganisasi? Format Organisasi Kepemudaan Muslim yang Lebih Friendly”.

Webinar ini diisi oleh dua pemateri, yaitu Ketua Umum Pemuda Hidayatullah, Imam Nawawi M.Pd.I, yang juga penulis berbagai buku motivasi kepemudaan dan Ketua Umum Pemuda Dewan Masjid Indonesia (DMI), Drg Muh. Arief Rosyid, M.KM.

Arief merupakan Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) periode 2013 – 2015. Ia dikenal sebagai dokter yang hijrah menjadi aktivis yang peduli pembangunan SDM muda.

Webinar ini dilangsungkan melalui zoom, dipandu host Suhardi Sukiman, mantan Ketua Umum Pemuda Hidayatullah yang kini Ketua Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) DKI Jakarta. Webinar tersebut disiarkan secara live streaming melalui kanal Youtube Hidayatullah.id.

Sementara itu, acara Walimatul ‘Urs Pernikahan Mubarakah 20 Pasang Santri digelar di Masjid Ar-Riyadh, Kampus Ummul Quro Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, Ahad (13/09/2020) pagi.

Pada acara ini, panitia menerapkan protokol kesehatan dalam upaya turut mencegah penyebaran Covid-19. Panitia antara lain melakukan pembatasan jumlah tamu, pembatasan jarak antara pengantin, termasuk pemisahan antara pengantin putra dan putri serta para tamu masing-masing. Para pengantin, panitia, dan tamu undangan pun menggunakan masker.

Menariknya, proses akad para pengantin dilakukan secara bergelombang dengan tempat dan waktu berbeda-beda.

Selama pra Munas, Hidayatullah akan menggelar webinar-webinar selanjutnya dengan pemateri beragam, mulai tokoh nasional hingga tokoh agama. Munas V Hidayatullah akan digelar secara virtual pada 29-31 Oktober 2020. (ybh/hidayatullah.or.id)

Sudah Saatnya Organisasi Pemuda Islam Bersatu Membangun Ekonomi Umat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua umum Pemuda Dewan Masjid Indonesia Arief Rosyid dalam webinar yang diadakan panitia Munas Hidayatullah pada sabtu (9/20) mengatakan bahwa umat islam di Indonesia mempunyai pekerjaan rumah yang amat besar mengenai perkembangan okonomi islam dapat secepatnya bangkit dan mengusai sistem ekonomi dunia.

Ia menjelaskan bahwa bagaimana dengan adanya penyebaran pandemi yang hampir menimpa semua negera di dunia merupakan suatu kesempatan besar membuktikan bahwa islam merupakan sebuah solusi, terkhusus dibidang ekonomi.

“Tentunya kita mempunyai PR bagaimana agar ekonomi islam dapat secepetnya bangkit. Pandemi kali ini merupakan sebuah kesempatan besar untuk membuktikan bahwa ekonomi islam merupakan sebuah solusi”

lanjut Arief “Dalam suatu kriris, keadaan biasanya dapat berbalik 180 derajat. Maka jika kita seringkali mengeluh akan ekonomi islam yang lesu, mungkin inilah saat kebangkitanya” jelasnya.

Arief juga mengapresiasi Hidayatullah yang secara konsisten memerhatikan dan berusaha menumbuhkan ekonomi umat islam di Indonesia.

“Sebuah apresiasi yang sangat besar kepada Hidayatullah, karena secara istiqomah memerhatikan tumbuhnya ekonomi islam di Indonesia” ucapnya.

Dengan banyaknya organisasi islam, terkhusus kepemudaan islam. Arief berpendapat bahwa membanbgun kebangkitan ekonomi islam tidak bisa dibebankan kepada satu organisasisaja. Dibutuhkanya upaya bersama-sama sehingga apa yang kita harapkan dapat segera tercapai. Ia berharap perbedaan seperti perbedaan pandangan politik atau lain sebagainya bukan menjadi persoalan untuk bersatu.

“Dengan banyaknya pemuda organisasi islam, tentunya suatu kesukuran. Karena upaya mwndorong kebangkitan ekonomi umat dapat segera tercapai. Tentunya ini merupakan tanggung jawab bersama. Jika hanya maslaah perbedaan pandangan politik, tentunya itu jangan jadi penghalang” pungkas Arief. *Amanjikefron

Berorganisasi Harus Memberikan Manfaat, Tidak Boleh Sekadar Nama Saja

0
Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Pemuda Hidayatullah, Imam Nawawi mengatakan bahwa dengan banyaknya persoalan yang dihadapi bangsa saat ini seperti kemiskinan, putus sekolah, bencana pandemi sesungguhnya tidak akan bisa dilakukan sendiri-sendiri. Menurutnya dibutuhkannya upaya bersama terutama dari kaum milenial untuk bergerak dalam visi berorganisasi. Hal tersebut disampaikan saat acara webinar pertama pra Munas pada kanal YouTube HidayatullahID (12/9/2020).

“Banyak tantangan dan persoalan bangsa yang setiap hari muncul. Tentunya dibutuhkan upaya bersama untuk menyelesaikan persoalan ini” ucapnya.

Imam menjelaskan bahwa sebenarnya jikalau melihat perkembangan zaman teknologi untuk saat ini. Sesungguhnya manusia bisa saja bersantai-santai dan tidak lagi banyak melakukan aktivitas. seperti memesan makanan dapat melalui cara daring, belajar jarak jauh dan sebagainya. Namun, Imam mengatakan bahwa sesungguhnya kehidupan itu bukan sebatas memenuhi kebutuhan pribadi saja, banyak hal yang mestinya bisa dilakukan bersama.

“Tentunya sebagai manusia, kita tidak dapat melakukan apa saja secara sendiri secara terus menerus, karena hal tersebut sebagai konsekuensi menjadi manusia. Akan banyak hal yang bisa dilakukan jika kita bersama-sama” jelasnya.

Hal tersebutlah yang menjadikan alasan mengapa organisasi sangat penting terlebih lagi dikalangan milenial. Imam mengatakan bahwa sesungguhnya Islam bisa besar hingga saat ini berasal dari kekuatan organisasi jama’ah. ia menjelaskan bagaimana sesungguhnya sistem organisasi seperti layaknya tubuh manusia.

“Organisasi itu layakanya tubuh manusia. Yang terbagi menjadi beberapa bagian dengan fungsi dan kelebihannya masing-masing. Sesungguhnya kita akan merasakan kemanafatan yang sangat besar jika setiap fungsi itu berjalan dengan baik” terang Imam.

Lalu, imam mengatakan bahwa sesungguhnya organisasi juga harus memberikan manfaat yang besar kepada masyarakat. Tidak boleh sekadar sebatas nama saja.

“Organisasi harus benar-benar menampakkan jati dirinya. Tidak boleh sekadar nama saja. Sehingga upaya menebarkan manfaat dapat berjalan dengan baik” lanjut imam “organisasi milenial sesungguhnya harus mampu berfikir jauh ke depan atas apa yang akan terjadi dan juga berpikir kritis. Sehingga persoalan-persoalan yang akan dan sedang dihadapi bangsa dapat segera teratasi” AmanjiKefron

Hidayatullah Bangun Ekonomi Keummatan Berbasis Digital

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Organisasi masyarakat (ormas) Islam Hidayatullah optimis dapat membangun ekonomi berbasis komunitas di lingkungan komunitas Hidayatullah, melalui kerja sama dengan PT Visi Jaya Indonesia dan juga bersama PT Niaga Bintang Indonesia.

Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Asih Subagyo mengatakan bahwa tujuan kerja sama ini adalah pemanfaatan teknologi yang semakin berkembang pesat sehingga kekuatan ekonomi Hidayatullah semakin terbangun. Hal itu disampaikan saat pertemuan Hidayatullah bersama kedua PT tersebut bertempat di Kantor DPP Hidayatullah (9/9/2020).

“Tujuan Kerja sama ini adalah memanfaatkan teknologi informasi, termasuk e-commerce, e-money dan lain sebaginya, sebagai tahapan membangun kekuatan ekonomi berbasis digital, untuk mengintegrasikan semua potensi ekonomi Hidayatullah” jelasnya.

Karena itu, Asih menjelaskan bahwa jika hal ini dapat segera terealisasi maka akan terbangunya kekuatan platform e-commerce yang ada disetiap jaringan Hidayatullah diseluruh Indonesia.

“Target terdekatnya yang ingin kita capai adalah terbagunnya platform e-commerce yang bisa diakses oleh seluh jaringan hidayatullah, dengan memanfaatkan e-money (eidupay), untuk mengembangkan closed loop economy dengan memanfaatkan cashless society” ucapnya.

Asih mengatakan bahwa ada alasan kuat Hidayatullah berkeja sama dengan PT Visi Jaya Indonesia dan PT Niaga Bintang Indonesia. Salah satu alasanya ialah adanya kesamaan visi yang sama-sama ingin membangun kekuatan ekonomi keummatan. Asih mengatakan bahwa tentunya ini merupakan sebuah kesempatan yang baik, karena membangun ekonomi keummatan memang dibutuhkanya kerja sama.

“Tentunya kerja sama ini ada karena memiliki kesamaan visi dan misi dalam melakukan pemberdayaan dan pengembangan ekonomi umat, sehingga umat Islam menjadi tuan di negeri sendiri, menjadi golongan tanfan di atas, bukan tangan di bawah, dst. Semuanya itu bermuara demi tegaknya peradaban Islam”

Jika kerja sama ini berjalan lancer dan sesuai harapan maka platform ini akan menadi lading market bagi setiap jamaah Hidayatullah untuk menyediakan barang jualan mereka dan juga diberi kebebesan untuk mengatur e-commerce dan e-money sebagai alat pembayaran sah pada platform tersebut.

“Tentunya jaringan Hidayatullah bisa menyiapkan produk, market, serta pengelola (manajemen) dari e-commerce dan e-money. Disamping itu juga Hidayatullah akan menjamin setiap proses akad-akadnya, serta kedepan menjamin produk halal dari Lembaga Pemeriksa Halal Hidayatullah, yang sementara ini masih proses di Badan Penyelenggara Jaminan Produl Halal”

Asih mengajak kepada seluruh komunitas Hidayatullah untuk memanfaatkan sebaik-baiknya platform ini, sehingga visi membangun kekuatan ekonomi keummatan dapat tercapai.

“Mari kita manfaatkan platform yang kita miliki ini untuk menjadi sarana kemandirian ekonomi umat. Kini saatnya kita memproduksi sendiri, memasarkan sendiri, membiayai sendiri dan memanfaatkan produk sendiri” jelasnya.

Dalam penandatanganan MOU antara Hidayatullah dan juga dua PT tersebut, Ketua Umum DPP Hidayatullah Nashirul Haq yang juga membubuhkan tanda tangan sebagi saksi tersebut menyampaikan bahwan”Hidayatullah terus berupaya memanfaatkan Teknologi Digital dalam pengembangan Organisasi, termasuk dunia usaha yang jadi prioritas”

Demikian juga Direktur Balimuda Group, yang menaungi dua perusahaan tersebut, Ir.Heppy Trenggono, M.Kom, juga menyampaikan bahwa “kerja sama ini dapat mengutkan perekonomian Hidayatullah, terutama memasuki era digital saat ini“.

Diadakan Secara Virtual, Munas V Hidayatullah Patuhi Protokol Kesehatan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ormas Hidayatullah akan menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) ke-V pada 12-14 Rabiul Awal 1442 H atau bertepatan dengan 29-31 Oktober 2020 bertempat di Kampus Utama Ponpes Hidayatullah Depok, Jawa Barat.

Ketua Panitia Munas V Hidayatullah Drs Wahyu Rahman mengatakan helatan nasional lima tahunan akan berlangsung secara virtual dan fisik.

Wahyu Rahman menjelaskan penyelenggaraan munas secara virtual dalam rangka mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Oleh karena itu, panitia membatasi peserta Munas yang boleh hadir ke Depok.

“Yang hadir online adalah kader dan jamaah pada siaran dengan aplikasi virtual yang direlai terbuka. Adpaun peserta yang hadir fisik adalah ketua DPW dan sebagian pengurus pusat,” katanya.

Dia menjelaskan para peserta Munas yang akan hadir di lokasi acara di Depok harus menjalani rapid test guna mendeteksi apakah terinfeksi Covid-19 atau tidak.

Tes ini menurutu dia dilakukan bekerja sama dengan lembaga kesehatan IMS yang sudah berstandar dalam rapid test. Mereka juga diwajibkan untuk terus mematuhi protokol kesehatan dengan mengenakan masker dan social distancing.

“Kami harap semua mentaati protokol kesehatan,” ucap dia.

Adapun agenda Munas adalah membahas laporan pertanggungjawaban kepengurusan DPP periode 2015-2020 yang bakal disampaikan langsung oleh Ketua Umum KH DR Nashirul Haq dan mendengarkan pandangan-pandangan DPD/ DPW dari seluruh provinsi di Indonesia.

Dalam rangkaian acara munas yang berlangsung 3 hari ini diselingi dengan berbagai kegiatan seperti webinar atau talkshow dengan berbagai topik menarik yang menghadirkan tokoh dari dalam dan luar negeri.

Wahyu juga mengatakan bahwa segela persiapan telah dilakukan agar mendukung acara ini berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

“Kita akan semaksimal mungkin membuat acara ini berjalan dengan sangat baik. Selain protokol kesehatan yang kami awasi dengan ketat, kami juga mengadakan sosialisasi kepada 34 cabang yang akan mengikuti rangkaian acara ini. Kami meminta mereka menyiapkan generator cadangan jika sekirahnya terjadi ganguan listrik dan persiapan lainya juga harus disiapkan” jelasnya.