Beranda blog Halaman 450

Mushida Sleman Gelar “Ramadan Gemar Berbagi”

SLEMAN (Hidayatullah.or.id) — Mengejar keberkahan serta kebaikan bulan suci Ramadan 1441 H dan juga dalam suasana pandemi Covid-19,  Muslimat Hidayatullah (Mushida) Daerah Istimewah Yogyakarta (DIY) menggelar program Mushida Gemar Berbagi. program Mushida Gemar Berbagi ini rencananya akan berlangsung dari 17-21 Ramadhan 1441 H/10-14 Mei 2020.

Ummu Aisy menjelaskan bahwa program ini mengajak kita semua agar semakin semangat untuk bersedekah dan membantu sesama, apalagi saat ini adalah bulan Ramadan yang mana bulan penuh keberkahan. Belum lagi saat ini sedang masa pandemi dengan masyarakat yyang terdampak sangat banyak.

“Program ini mengajak semua pihak, terutama unsur Mushida untuk benar-benar semangat bersedekah agar mendatangkan keberkahan dari Allah di bulan Ramadhan,” terang Koordinator Aksi, Ummu Aisy. Senin (11/5).

Ummu Aisy juga menjelaskan untuk sementara ini program gemar berbagi akan dimulai dari lingkungan terdekat dari Pesantren Hidayatullah yang ada di kelurahan Ngaglik Sleman. Lalu akan terus dilanjutkan sesuai target awal.

“Program Mushida Gemar Berbagi fokus memberikan layanan untuk masyarakat yang ada di Kelurahan Ngaglik Sleman Yogyakarta, terutama dusun-dusun yang tidak jauh dari Pesantren Hidayatullah Yogyakarta,” imbuh Ummu Aisy.

Mushida berharap program “Gemar Berbagi” dapat memberi manfaat kepada msyarakat dan selain memberi manfaat kepada masyarakat yang membutuhkan juga menjadi sebab datangnya keberkahan dari Allah SWT.

“Ini bulan mulia, di mana bersedekah akan mendatangkan keridhaan dan rezeki yang berlipat dari Allah. Apalagi di bulan Ramadhan,  pintu-pintu amal terbuka lebar dengan balasan berlipat” terang Ummu Aisy.

Mushida juga mengajak agar disaat masa pandemi yang panjang ini untuk kita saling bahu-membahu dan saling tolong sesama

“Ditambah dengan adanya kondisi wabah Corona yang entah sampai kapan, sudah seharusnya kita  bahu-membahu membantu sesama. Semoga dengan yang sedikit ini Allah akan mendatangkan jalan kemudahan dan mengangkat wabah ini,” tutup Ummu Aisy.

Pesmadai Sinergi Ajak Cegah CoVid-19 Dengan Bagi-Bagi Masker

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Aksi bagi-bagi masker gratis terus dilakukan di berbagai daerah, hal tersebut senada dengan imbauan pemerintah untuk terus mengenakan masker ketika keluar rumah. Sejalan dengan gerakan positif tersebut, Pesantren Mahasiswa Dai (PESMADAI) bersinergi bersama Forum Muslimah Bella Casa (Formusa) menggelar aksi bagi-bagi masker gratis ke sejumlah warga di Depok (Jawa Barat) dan Ciputat, Tangerang Selatan.

Aksi ini merupakan gerakan lanjutan dari aksi-aksi yang lalu, setelah sebelumnya Pesmadai juga telah sukses dengan gerakan aksi bagi-bagi rempah, masker, dan sembako gratis kepada masyarakat. Dimana semua aksi tersebut sebagai bentuk gerakan solidaritas antar sesama dan juga untuk memberikan spirit optimisme kepada warga untuk melawan Covid-19.

Menurut penuturan Puji Asmoro, selaku santri Pesmadai Ciputat, bahwa gerakan ini sebagai langkah ikhtiar santri untuk membantu masyarakat dalam memutus rantai penyebaran Covid-19.

“Daripada kita mengeluh terhadap keadaan, lebih baik kita ciptakan gerakan-gerakan positif kepada masyarakat. Saat ini kita perlu segera membantu usaha pemerintah dalam mengatasi penyebaran virus Covid-19 dengan cara menumbuhkan kesadaran untuk memakai masker dan sekaligus mengajak untuk berdonasi agar masyarakat yang kurang mampu dapat menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah,” tuturnya, Sabtu (09/05/2020).

Selain itu, gerakan bagi-bagi masker gratis yang dilakukan pada tanggal 09 Mei 2020, juga memberikan momen haru kepada warga sekitar. Pasalnya, di tengah pandemi seperti ini, banyak masyarakat yang kesulitan mendapatkan masker. Dengan adanya program gerakan bagi masker secara gratis. Masyarakat jadi dapat menggunakan masker secara gratis.

Seperti yang dikatakan Ahmad, selaku warga Ciputat yang mendapatkan masker gratis.

“Kami sangat berterima kasih kepada Formusa dan santri Pesmadai atas bantuan seperti ini, jujur saja saya tidak memakai masker karena masker yang dijual terlalu mahal,” tuturnya.

Adapun masker yang dibagikan merupakan masker kain, bukan masker medis. Masker yang dibagikan adalah masker kain non-medis yang dapat digunakan secara berulang namun tetap terlindung dari penularan Covid-19. Selain itu masker kain dapat dicuci dan digunakan kembali.

Direktur Pesmadai Ahmad Muzakki menuturkan, bahwa sebagai masyarakat kita menjalankan tugas sesuai tupoksinya masing-masing untuk menghadapi pandemi corona.

“Kami melakukan apa yang bisa kami lakukan untuk mencegah Novel Coronavirus. Bagi kami mengkampanyekan gerakan memakai masker kepada masyarakat, merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memakai masker ketika berada di luar agar masyarakat tidak terpapar virus covid-19,” jelasnya.

Semoga kegiatan-kegiatan positif senantiasa tersalurkan kepada masyarakat dalam menghadapi Novel Coronavirus. Kita berjuang sesuai dengan tupoksi masing-masing.

Pemerintah dengan perannya, tenaga medis dengan perannya, dan kita sebagai masyarakat berperan sesuai dengan apa yang bisa kita lakukan.*

Hidayatullah Kobi Ajak Maksimalkan Kebaikan di Bulan Ramadan

0

MALUKU (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Kobi bergerak untuk membantu para guru-guru mengaji di tengah menyebarnya virus Covid-19. Kegiatan itu sengaja dilakukan demi mengurangi beban para guru yang terkena dampak wabah. Pimpinan Hidayatullah Kobi, Ustad Hasnan Hanif mengatakan bahwa wabah Covid-19 sangat memberikan dampak besar bagi kehidupan ekonomi para guru ngaji. Mereka tidak meminta-meminta, mereka lebih memilih menjual atau menggadaikan barang yang mereka miliki, bahkan ada di antara mereka yang lebih memilih berhutang demi memenuhi kebutuhan makan sehari hari keluarganya, dengan harapan setelah wabah ini selesai mereka akan mengembalikannya.

“Bulan Ramadhan ini adalah momen terbaik bagi kami memperhatikan para guru mengaji yang sangat jarang diperhatikan nasibnya saat pandemi ini. Kami tentunya berbagi bukan hanya saat dikala mudah melainkan juga berbagi dikala sempit” jelasnya

Selain para guru mengaji, Pondok Pesantren Hidayatullah Kobi juga menyalurkan bantuan kepada Dai dan juga sahabat-sahabat mualaf. Adapun bantuanya berupa bantuan langsung tunai yang menargetkan 28 dai, 10 guru ngaji dan 30 mualaf. 

“Tentunya pada bulan Ramadan, Hidayatullah Kobi ingin memaksimalkanya dengan lebih banyak berbagi, terlebih untuk kondisi saat ini” jelas Hasnan.

Ponpes Hidayatullah Kobi, juga telah melaksanakan buka puasa bersama santri, Meskipun dalam suasana sangat berbeda karena pelaksanaan tahun ini ditengah pandemi Covid-19, Ponpes Hidayatullah Kobi tetap melaksanakan bukber bersama santri sembari dengan konsep yang telah ditetapkan yaitu sosial distance dengan tidak mengundang orang lain selain warga lingkungan pesantren. Tentunya hal ini agar para santri bisa tetap semangat dalam suasana Ramadan. 

“Walaupun dengan suasana Ramadan yang berbeda kali ini, kita akan tetap menjaga semangat para santri dalam melaksanakan ibadah Ramadan, salah satu halnya ialah mengadakan bukber bersama warga lingkungan Pesantren untuk mentaati protokol dari pemerintah” terang Hasnan.

Hasnan Hanif juga menjelaskan bahwa mereka masih akan terus mengupayakan melakukan kegiatan bantuanya ini selama bulan Ramadan berlangsung. Ia juga menjelaskan membuka peluang kebaikan bersama, jika masyarakat yang juga ingin mengikuti program bantuan sosial yangsedang dilaksanakan, dapat menghubungi Ponpes Hidayatullah Kobi.

“Kita akan terus memaksimalkan berbagi kebaikan selama bulan Ramadan dan tentunya kita juga mengajak masyarakat untung saling bantu serta saling tolong, terutama kepada mereka yang sangat jarang diperhatikan selama pandemi Covid-19 berlangsung. Jika ingin mengikuti program kami, maka dapat menghubungi Ponpes Hidayatullah Kobi” jelas Hasnan.*Amanjikefron

Wajah Baru Indonesia Setelah Wabah Berakhir

0

Sekalipun menimbulkan masalah, mulai dari kesehatan, ekonomi, dan sosial, bahkan politik dan hukum, wabah Covid-19 ternyata juga membawa serangkaian hikmah positif yang patut disyukuri dan dikembangkan menjadi identitas utama bangsa Indonesia dalam kehidupan ke depan. Mulai dari kebiasaan hidup sehat dan bersih, hingga kemampuan mengontrol diri untuk tidak panik, belanja berlebihan, senantiasa memupuk kepedulian, dan tentu saja, tidak meninggalkan rumah, kecuali urusan yang benar-benar penting.

Kesadaran dan langkah ke arah tersebut sangat penting, mengingat catatan terakhir, jumlah penularan Covid-19 sudah mulai melandai di DKI Jakarta (Tajuk Republika 29/4). Artinya, ada sejenis kegembiraan dan jalan pikiran banyak orang untuk segera menyudahi masa PSBB. Pada sisi lain, Selandia Baru juga telah mengakhiri lockdown. Perlu langkah komprehensif dan kebijaksanaan yang memadai agar Indonesia, terutama DKI Jakarta benar-benar sukses mengakhiri wabah Covid-19 secara tuntas.

Saat Selandia Baru mengangkat status lockdown, sang Perdana Menteri Jacinda Ardern menegaskan bahwa tidak ada lagi bagian dari masyarakat yang tidak terdeteksi perihal penularan virus Corona, sehingga langkah pemerintah mengakhiri lockdown dinilai tepat. Dalam kata yang lain, jika DKI Jakarta dan Indonesia secara umum bersiap memasuki masa akhir lockdown, harus dari sekarang memastikan standar pengukurannya, sehingga begitu dinyatakan dibuka, benar-benar negeri ini telah bersih dari wabah.

Pada saat yang sama, negara harus memastikan bahwa selama masa lockdown hal positif yang telah dijalankan oleh masyarakat benar-benar harus dipertahankan. Dengan demikian, begitu lockdown dibuka ada disiplin baru yang mewarnai kehidupan masyarakat sehari-hari. Mulai dari senantiasa menerapkan pola hidup sehat dan bersih hingga kedisiplinan dalam segala sisi. Ibarat kata, jangan sampai negeri ini tidak bisa belajar dari musibah yang pernah dialami. Begitu lepas dari keadaan sulit, ternyata tidak ada karakter positif yang terbentuk, sehingga tabiat dan kebiasaan menjadi tidak terkontrol lebih baik.

Hal ini sangat mungkin dilakukan, karena pada dasarnya manusia memiliki kerelaan yang tinggi jika sebuah regulasi diterapkan berdasarkan pada kebutuhan masyarakat itu sendiri. Ibn Khaldun mengatakan dalam Muqaddimah bahwa pada dasarnya manusia butuh terhadap kerjasama antara sesamanya untuk dapat hidup baik guna mendapatkan kebutuhan dasarnya, seperti memperoleh makanan dan dan mempertahankan diri.

Bahkan, sejatinya secara faktual kita dapati kenyataan menarik kala berita Korona menguasai ruang media massa dan media sosial, masyarakat satu sama lain, bahu membahu, gotong royong, saling bantu satu sama lain, sehingga kala pemerintah datang dengan regulasi yang walaupun katakan terlambat, masyarakat cenderung mematuhi, karena memang demi kepentingan dan kebutuhan bersama. Bahkan, para ulama, dai, dan ustadz juga menguatkan imbauan pemerintah agar masyarakat lebih memilih di rumah saja.

Dalam kata yang lain, Indonesia punya potensi menjadi negara yang lebih baik pascawabah ini. Tinggal bagaimana segenap elemen bangsa, mulai dari pemerintah, partai politik, ormas, organisasi kepemudaan, hingga lembaga sosial dan kemanusiaan, berpadu dalam sebuah kolaborasi menuju wajah baru Indonesia. Wajah yang menjadikan bangsa dan negara Indonesia benar-benar progressif dalam segala sisi kehidupan, mulai dari literasi hingga teknologi, dari tutur kata hingga tata negara.

Mental Manusia

Hadirnya virus Korona ini lagi-lagi memberikan sebuah penegasan bahwa yang pertama dan utama harus menjadi perhatian pemerintah dan negara di dalam mengelola bangsa dan rakyat ini adalah pembangunan manusia.

Membangun apapun tidak akan banyak berdampak signifikan dan komprehensif, jika manusianya dibiarkan terbelakang secara mental dan intelektual, bahkan spiritual. Seperti Italia, Amerika, dan negara-negara maju yang jumlah meninggal dunianya tinggi karena Korona bukan karena kurang fasiltas dan orang cerdas, tapi mental manusianya yang cenderung abai terhadap “bahaya” yang mengancam. Oleh karena itu perlu langkah penguatan mental bangsa Indonesia. Dan, Presiden Jokowi punya tanggungjawab mengenai hal ini, karena sempat dikenal dengan program hebatnya, “Revolusi Mental.”

Secara historis langkah ini yang dilakukan Jepang kala menghadapi situasi krisis karena bom atom di Hirosima dan Nagasaki. Penguasa kala itu tidak bertanya berapa gedung yang utuh, tapi berapa guru yang tersisa. Lebih jauh kalau melihat sosok Nabi Muhammad SAW, prestasi utama yang tak mungkin disusul oleh pemimpin manapun di dunia ini adalah kemampuannya melahirkan manusia-manusia bermental tangguh dalam segala sisi kehidupan.

Jika Indonesia, katakanlah ingin menerapkan paradigma ekonomi dalam melihat wabah ini, dimana harus ada keuntungan besar yang diperoleh pascawabah, maka hal yang sangat utama dan pertama harus dilakukan adalah membuat kebijakan yang mendorong kemajuan mental manusia Indonesia, yang secara faktual, potensi perubahan menjadi lebih baik, mulai dari pola hidup bersih dan sehat, hingga kedisiplinan dan kepedulian, tidak sekedar ada, melainkan sangat nyata, besar, dan sangat mungkin jadi kekuatan dahsyat yang benar-benar mengubah wajah Indonesia pascawabah.

Apabila ini benar-benar dapat disadari dan menjadi sebuah kebijakan, maka seperti kata Ibn Khaldun dalam Muqaddimah, syarat kebangkitan telah benar-benar ada pada bangsa ini, yakni suburnya ilmu dan tegaknya peradaban yang mulia, manusiawi, dan tentu saja progressif. Ketika ini terwujud, maka bangsa Indonesia akan memiliki wajah baru pascawabah dan bahkan sangat mungkin menjadi rujukan dan kekuatan baru yang mencerahkan dunia, yang belakangan dilanda keguncangan lahir dan batin.

Semua ini butuh kebesaran jiwa pemangku kebijakan, sehingga semua unsur, elemen, dan komponen masyarakat benar-benar dilibatkan dalam setiap proses dan mekanisme pengambilan kebijakan, sehingga tidak melulu berdimensi ekonomi semata. Sebab, bagaimanapun manusia secara hakikat adalah makhluk sosial dan sekaligus makhluk yang berperadaban, makhluk yang butuh pencerahan ilmu pengetahuan bukan pertengkaran demi pertengkaradab*

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Mengikuti Cara Interaksi Nabi Saat Bersama Keluarga

0

Ketauladanan dalam berinteraksi dengan sanak keluarga dicontohkan dengan sangat baik oleh Rasulullah ﷺ. Dalam sejarah kehidupan beliau ﷺ, hubungan baik beliau bukan saja berhenti pada istri dan anaknya, bahkan kepada sanak keluarganya pun juga sangat perhatian. Pada contoh berikut, akan diungkap betapa paiawainya beliau dalam berinteraksi dengan sanak keluarga.

Saat Abu Thalib kesusahan karena memiliki anak banyak dengan kemampuan finansial yang memprihatinkan, beliau dengan Hamzah berinisiatif membantunya. Waktu itu nabi Muhammad ﷺ membantu pamannya mengurusi salah satu anaknya. Dibawalah Ali bin Abi Thalib  ke rumahnya untuk diasuh supaya meringankan beban beban Abu Thalib.

Menariknya, ketika ikut bersama Nabi ﷺ , Ali deperlakukan seperti anaknya sendiri. Di rumah itu Ali sejak kecil bisa melihat keteladanan Rasulullah dalam bergaul. Tidak mengherankan jika kemudian Ali sangat berkesan dan terpengaruh dengan akhlak Nabi ﷺ. Kelak, ia menjadi yang pertama kali masuk Islam dari kalangan anak-anak. Ini adalah salah satu bentuk bagaimana kepedulian Nabi ﷺ kepada sanak familinya yang perlu diteladani.

Lebih dari itu, sampai pada menjelang kematian pun, beliau ﷺ berusaha dengan keras membantu pamannya agar pengorbanan yang selama ini dilakukan tidak sia-sia. Meski pada akhirnya Abu Thalib mati dalam keadaan kafir. Beliau pun sempat memintakan ampun, sampai pada akhirnya beliau ditegur Allah. Dialah yang memberi petunjuk, Muhammad ﷺ hanya bertugas sebagai penyampai.

Akibat dari kematian pamannya yang meninggal dalam kondisi musyrik pada tahun 10 kenabian, beliau ﷺ kesedihan luar biasa. Dalam Sirah Nabawiyah peristiwa itu biasa disebut dengan “Āmu al-Huzni” (Tahun Duka Cita) yang tiga bulan setelahnya disusul oleh isteri tercintanya: Khadijah binti Khuwailid.

Interaksi beliau ﷺ bukan saja kepada sanak keluarga dekat, di sisi lain beliau juga sangat peduli terhadap kerabat dan teman akrab istri. Setiap kali Rasulullah ﷺ menyembelih kambing, ia berkata: ‘Kirimkan sebagiannya kepada teman-teman Khadijah.’ (HR. Muslim). Padahal, Khadijah sudah meninggal dunia. Tapi, tetap saja Rasulullah ﷺ berbuat baik kepada kerabat dan teman akrabnya. Begitu pedulinya beliau kepada keluarga Khadijah, sampai-sampai ‘Aisyah pernah merasa cemburu dengannya.

Peristiwa menarik lain yang bisa diungkap di sini, selepas perang Badar, ada beberapa sanak keluarga nabi ﷺ (seperti: Abbas bin Abdil Muthalib, Abu `Āsh bin Rabi`), menjadi tawanan perang. Rasulullah ﷺ akhirnya bermusyawarah dengan Abu Bakar dan Umar. Abu Bakar berpendapat lebih baik tawanan itu dibebaskan dengan tebusan, karena di antara mereka adalah masih saudara dan famili. Hal itu dilakukan dengan harapan Allah ﷻ memberi petunjuk mereka pada Islam. Umar berpendapat lain. Menurutnya, orang seperti mereka harus dihabis. Rasul ﷺ pun lebih condong pada pendapat Abu bakar (Maqrezi, Imtā`u al-Asmā`, 344). Ini menunjukkan, bagaimana kepedulian nabi kepada kerabatnya.

Demikian juga pasca Perang Hunain (8 H), Kabilah Hawāzin ada yang menjadi tawanan. Saat Nabi Muhammad ﷺ tahu kalau di antara mereka ada saudari sesusunya (Syaimā` binti Halimah As-Sa`diyah), yang dilakukan nabi adalah: memuliakan, melepaskan, diberikan ghanimah, dan kembali ke kampungnya dengan gembira (An-Nimri, Al-Durar fī Ikhtiṣāri al-Maghāzi wa al-Siyar, 230-231). Bayangkan! Saudara sesusu saja diperlakukan dengan sangat baik oleh Rasulullah ﷺ.

Peristiwa lain yang bisa dicatat ialah ketika nabi ﷺ hendak keluar Mekah (pasca Umrah Qadhā`, 6 H), beliau ﷺ dipanggil anak permpuan Hamzah bin Abdul Muthallib, “Paman, Paman.” (Terenyuhlah hati beliau). Berebutlah Ali, Ja`far dan Zaid bin Haritsah untuk mengasuhnya. Rasul ﷺ pun memutuskan agar ia diasuh oleh bibinya [saudara ibunya] (Abu Hasa al-Nadawi, al-Sirah al-Nabawiah, 433).

Semua itu adalah contoh kecil bagaimana perhatian nabi ﷺ kepada sanak familinya. Sebagai Rasulullah ﷺ –yang akhlaqnya digambarkan Aisyah seperti al-Qur`an—interaksi dengan sanak keluarga telah dilakukan dengan sangat baik oleh beliau. Semoga, umat Islam bisa meneladaninya.*Hidcom

Direktur LBH Hidayatullah Ingatkan Hukum Menyelewengkan Dana Bantuan

Dr Dudung A Abdullah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kepala biro hukum dewan pengurus pusat (DPP) Hidayatullah dan Direktur lembaga bantuan hukum (LBH) Hidayatullah, Dr Dudung A. Abdullah, SH, MH menyampaikan rasa prihatin terhadap beberapa sektor terpengaruh akibat adanya wabah covid-19, termasuk ekonomi masyarakat. Ia menjelaskan banyak rakyat Indonesia yang khususnya para pekerja harian hingga para pekerja yang diupah bulanan sekalipun terkena dampak dari adanya wabah kali ini.

Dudung juga menyampaikan apresiasinya terhadap terhadap bantuan-bantuan yang diberikan baik bantuan yang dari pemerintah maupun bantuan yang berasal dari berbagai lembaga sosial kepada masyarakat yang terkena dampak, terutama dari faktor ekonomi.

“Selain dari bantuan dari pemerintah, masyarakat ada juga yang menerima bantuan yang berasal dari lembaga swasta, lembaga sosial maupun lembaga filantropi yang dana bantuan berasal dari donasi masyarakat” jelasnya sebagaimana pada akun youtube LBH Hidayatullah (6/5/2020).

Namun, Dudung menjelaskan bahwa bagaimana seandainya dana yang seharusnya disalurkan kepada masyarakat yang terdampak tidak sampai kepada mereka. Dikarenakan adanya penyelewengan dari beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab dengan dana tersebut?

“Tentunya ada uu no 24 tahun 2007 mengenai penanggulangan bencana. Pada pasal 78 yang menyebutkan jika adanya penyelewengan bantuan maka hukumannya bisa seumur hidup atau 4 hingga 20 tahun dengan denda 6 miliar sampai 12 miliar” jelas Dudung.

Dudung juga menjelaskan bahwa pelanggaran penyelewengan dana ini bisa saja dijatuhi pasal yang berlapis salah satunya ialah UU tindak pidana korupsi yang membuat hukuman untuk para pelanggar ini semakin dijatuhi hukuman yang berat. Sedangkan untuk lembaga swasta bisa terkena kasus penipuan yang membuat badan hukum mereka tidak berfungsi lagi.

“Untuk aparatur sipil negara (ASN) bisa saja terkena hukuman berlapis, yaitu tindak pidana korupsi. Sedangkan jika yang melakukan penyelewengan dana adalah lembaga swasta atau filantropi maka bisa saja lembaga tersebut dicabut izin operasionalnya dan dengan dendanya yang besar” terang Dudung.

Lalu Dudung juga menjelaskan adanya UU yang mengatur untuk orang-orang yang melakukan penimbunan terhadap bantuan logistik dan kesehatan sebagaimana tertera dalam UU no 24 tahun 2007 pasal 77.

“Sebagaimana pasal 77, orang yang melakukan penimbunan logistik dapat dianggap menghalangi pemerintah untuk mendapatkan akses logistik dalam membantu bencana sehinnga bisa mendapat pidana penjara paling singkat 3 tahun atau paling lama 6 tahun dan denda paling sedikit dua miliar rupiah atau denda paling banyak empat miliar rupiah.” jelasnya.

Terakhir Dudung A Abdullah mengajak untuk semua elemen yang mendapatkan amanah menyalurkan bantuan dapat menjalankan tugas serta kewajibannya sesuai tempatnya dan mengajak masyarakat untuk saling mengawasi, bukan untuk saling curiga, tetapi agar negeri kita cepat bangkit dari wabah Covid-19.

“Mari kita sama-sama bantu, saling dukung, dan saling mengawasi untuk bentuk kebaikan negeri. Sehingga negeri kita Indonesia cepat bangkit” tutup Dudung.*Amanjikefron

Tingkatan Mutu SDI, Hidayatullah Adakan Training Online

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Departemen Sumber Daya Insani (SDI) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menyelenggarakan upgrading kepemimpinan dan manajemen online dengan tema “Penguatan Kepemimpinan dan Keterampilan Manajerial untuk Mewujudkan Organisasi yang Unggul” pada tanggal 8-14 Ramadan 1441 / 2-8 Mei 2020 diikuti oleh 54 peserta utusan dari sembilan Dewan pengurus wilayah (DPW).

Ketua departemen SDI DPP Hidayatullah, Abdul Muhaimin, SPi, MM menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk menstandarkan pemahaman tentang organisasi beserta peraturan dan kebijakannya, juga meningkatkan jiwa kepemimpinan dan keterampilan manajerial yang terkait dengan bidang tugas kader sebagai seorang pengurus baik di lini struktural, kultural, fungsional maupun profesional di Hidayatullah, serta menyiapkan peserta untuk lebih siap memimpin maupun dipimpin.

“Standarisasi SDI ini penting agar tercipta sinergitas dan integrasi program antara induk organisasi, amal usaha dan badan usaha milik organisasi guna meraih maksud dan tujuan organisasi sebagaimana yang tercantum pada pedoman dasar organisasi Hidayatullah. Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk mendukung terwujudnya sentralisasi kebijakan dan pengelolaan semua sumber daya yang ada di organisasi,” kata Abdul Muhaimin dalam wawancara kami (06/05/2020).

Abdul Muhaimin juga menerangkan bahwa pola baru pelatihan online ini diadakan saat pandemi covid-19 mewabah. Rupanya hal ini merupakan sisi lain yang bersifat positif dari kondisi para peserta dan narasumber yang tak memungkinkan melakukan bepergian dan bertatap muka langsung, yang mana sebelumnya telah diusulkan perlu adanya jenis pelatihan tertentu yang dilaksanakan secara online.

“Upgrading ini adalah pelatihan tingkat dasar di bidang kepemimpinan dan manajemen, dimana materi yang sama dengan pelatihan ini telah diikuti oleh 502 pengurus Hidayatullah yang diadakan secara konvensional (tatap muka) sebanyak 14 angkatan dengan nama kegiatan upgrading pengurus struktural organisasi dan konsolidasi. level berikutnya dari pelatihan ini adalah training kepemimpinan.” jelasnya.

Meskipun kali ini merupakan upgrading pertama secara online, namun para peserta ternyata dapat cepat beradaptasi. Antusiasme terhadap kegiatan ini tampak dari adanya 22 orang calon peserta yang dengan terpaksa tidak tertampung menjadi peserta dan dipersilakan untuk mengikuti upgrading angkatan berikutnya dikarenakan pertimbangan efektifitas kelas. Antusiasme peserta juga tampak pada responnya yang tinggi pada pesan-pesan tertulis di WA group yang diinisiasi oleh panitia.

Panitia memberikan pesan-pesan di grup WA ini dimaksudkan agar peserta tetap dapat disiplin mengikuti ketentuan pelatihan online pertama mereka ini sehingga pelatihan dapat berjalan optimal dan efektif. Di antara hal yang baru tercipta secara kondusif pada hari kedua adalah kesadaran dan kedisiplinan peserta dalam mematikan mikrofon saat narasumber bicara dan memanfaatkan chat untuk bertanya kepada narasumber.

“Keaktifan peserta juga terlihat dari adanya peserta yang memberikan komentar di group WA tersebut bahwa dirinya sedang mengerjakan tugas mandiri upgrading hingga larut malam pukul 23.00. Namun, sayangnya beberapa peserta ada juga yang tidak dapat mengikuti pelatihan ini dengan baik dikarenakan faktor jaringan. Selain di area perkotaan, peserta angkatan ini ada yang tinggal di pedesaan, ada yang di kepulauan terluar dan ada yang di kabupaten terluar di Indonesia timur” terang Abdul Muhaimin.

“Pelatihan aspek kepemimpinan dan manajemen ini insyaallah akan terus diadakan secara berkelanjutan, berjenjang dan terencana lebih baik lagi. Keberadaan pelatihan ini dan daurah marhalah ula/wustha, misalnya, yang lebih fokus mengkaji aspek manhaj gerakan dakwah dan tarbiyah adalah saling melengkapi dan sangat bermanfaat bagi kader dan pengurus untuk ber-Hidayatullah dan berislam lebih baik” jelas Abdul Muhaimin.

Abdul Muhaimin berharap pelatihan seperti ini dapat terus diadakan, baik secara online maupun tatap muka langsung, sehingga terciptanya standarisasi SDI serta sinergitas dan integrasi program antara induk organisasi, amal usaha dan badan usaha milik organisasi guna meraih maksud dan tujuan organisasi sebagaimana yang tercantum pada pedoman dasar organisasi Hidayatullah.

“Kita berharap pelatihan ini, baik secara online maupun tatap langsung, akan diadakan lagi pada priode kepengurusan ini dan kepengurusan yang akan datang agar standarisasi dan sentralisasi SDI Hidayatullah dapat tercapai,” jelas Abdul Muhaimin.*Amanjikefron

Tentang Bulan Suci Ramadan dan Rasa Kepekaan Seorang Pemimpin

0

Ramadan secara logis dapat diibaratkan seperti sebuah “bengkel” bagi kendaraan bermotor, di mana segala kerusakan dapat dideteksi dan onderdil yang aus dapat segera diganti, sehingga keluar dari bengkel, kendaraan ini siap tempur melibas segala medan dan menjelajah perjalanan sejauh apa pun juga.

Jika mengacu pada ilustrasi tersebut, seharusnya dalam puasa Ramadhan ini semua sisi dalam diri manusia, jiwa dan raga, benar-benar dapat diperbaiki hingga kembali pada kondisi paling prima. Dalam hal ini jika dia sorang pemimpin atas dirinya dia akan berhenti dari berbuat maksiat dan kerusakan. Jika dia pemimpin keluarga, ia akan menjadi teladan dalam ibadah, kebaikan, dan beragam amal sholeh. Jika dia pemimpin masyarakat, dari RT hingga Presiden, maka Ramadhan idealnya mengantarkan mereka memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi terhadap masyarakat yang dipimpinnya.

Hal ini dapat dirujuk dari hadits Nabi Muhammad ﷺ bahwa puasa adalah rahasia Allah dengan hamba-Nya.

“Allah Ta’ala berfirman, semua amal perbuatan anak Adam untuknya, kecuali puasa, maka itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari Muslim).

Hadits Qudsi itu menerangkan bahwa puasa menghendaki ketulusan iman, kejujuran jiwa, apakah diri benar-benar tunduk, patuh, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah kepada-Nya, membantu sesama, dan juga menebar kebaikan dalam kehidupan. Jika puasa ternyata hanya menghilangkan lapar dan dahaga, alias pindah jadwal makan, maka bukan itu yang menjadi target Ramadhan.

Dalam kata yang lain, Ramadhan memang idealnya mendorong setiap pemimpin bergerak lebih gesit, berempati lebih tajam, dan peduli lebih besar terhadap kondisi masyarakat yang dipimpinnya. Terlebih secara fisik, mulai dapat dirasakan sendiri pengalaman diri menahan lapar dan haus. Keadaan seperti itu adalah kondisi biasa bagi masyarakat yang penghasilannya tidak tetap.

Meminjam klasifikasi Imam Al-Ghazali perihal tingkatan puasa, seorang pemimpin harusnya tidak puasa seperti puasanya orang awam, yang hanya menahan diri dari lapar dan haus. Seorang pemimpin harus mampu menahan diri dari nafsu keserakahan, nafsu kediktatoran, dan nafsu kezaliman dengan lisan dan tandatangan yang akan menjadi kebijakan di tengah-tengah masyarakat.

Dalam hal ini kita perlu belajar dari sosok Nabi Yusuf Alayhissalam. Dalam keadaan memimpin, memegang amanah dan kewenangan besar, ternyata beliau melazimkan puasa atas dirinya dan membiasakan diri lapar. Tentu bukan alasan diet agar tetap menawan kala tampil di depan publik, tetapi memang karena sebuah tanggung jawab iman.

Ketika para pembantunya bertanya, “Mengapa Tuan berlapar-lapar, sedangkan Tuan memegang gudang-gudang kekayaan bumi?”

Beliau menjawab, “Aku khawatir, jika aku kenyang, aku akan melupakan orang lapar.”

Dengan kata lain, jika pemimpin puasanya benar, ia akan semakin agresif dalam membantu rakyatnya yang kelaparan. Ia akan semakin produktif dengan gagasan bahkan terobosan dan regulasi baru yang mensejahterakan rakyatnya. Seperti Umar bin Khathab, sepanjang kepemimpinannya tidak ada yang terjadi melainkan prestasi demi prestasi yang diberikan oleh rakyat kepadanya, bahkan sejarah. Jadi bukan penghargaan semu dari sebuah institusi yang kerapkali menipu banyak pemimpin di dunia saat ini.

Gesit dan Bijaksana

Sungguh, sangat beruntung pemimpin yang mendapatkan nikmat bertemu Ramadhan lantas ia menjelma menjadi sosok yang sabar, teguh pendirian dan tidak mengutamakan, kecuali kepentingan rakyat.

Sebab, pada hakikatnya, puasa itu mampu mengubah tradisi dan kebiasaan. Terlebih seperti sekarang, Ramadhan di tengah pandemi. Sebuah keadaan yang jika benar disikapi akan mendorong diri lebih nikmat dalam ibadah, lebih disiplin dalam menghadap kepada Allah, dan tentu saja lebih banyak waktu memberikan keteladanan terhadap keluarga. Bahkan lebih jauh, lebih dituntut untuk bisa membantu sesama yang terdampak wabah Covid-19.

Secara empiris, puasa memang melatih diri mengendalikan jiwa dari niat, pikiran dan perilaku negatif. Puasa juga melatih diri tahan derita, kuat kemauan, teguh, dan tahan uji (tahammul). Pada saat yang sama puasa juga melatih kesabaran. Dan, menurut Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, puasa itu seperempat keimanan.

Jika hal itu benar-benar bisa dilakukan, maka puasa akan menjadikan seorang pemimpin memiliki ketajaman mata hati dan intuisi.

Ini bisa kita pelajari dari sosok Imam Syafi’i, ia mengatakan bahwa dirinya tidak pernah makan kenyang selama enam belas tahun, kecuali hanya sekali.

Alasannya jelas, makan kenyang memberatkan tubuh, mematikan hati, melenyapkan kecerdasan, mendorong tidur, dan membuat malas beribadah.

Sekarang bayangkan, para pejabat atau pemimpin di negeri ini, makannya seperti apa? Lantas, kalau dicek lebih jauh, sumbernya bagaimana? Jika makan kenyang saja berdampak seperti itu, bagaimana jika ternyata lebih dari sekedar makan kenyang?

Luqman Al-Hakim juga menasihatkan kepada putranya, “Anakku, bila perutmu penuh, maka pikiranmu tidur, kebijaksanaanmu kelu, dan anggota tubuhmu malas menjalankan ibadah.”

Dari sebuah untaian bijak yang singkat ini kita dapat analisa, mengapa para wakil rakyat di DPR tidak banyak yang tergerak membela rakyat dalam situasi seperti sekarang di bulan Ramadhan? Boleh jadi karena memang lapar itu amat asing dalam kehidupan mereka.

Inilah momentumnya jika bangsa ini ingin lebih baik, para pemimpin harus benar-benar menjadikan Ramadhan sebagai sarana melaparkan diri untuk menajamkan hati, intuisi, kepekaan dan altruisme, sehingga gesit dalam bertindak menjaga, melindungi dan menyejahterakan rakyat. Pada saat yang sama perilaku dan tutur katanya penuh kebijaksanaan.

Kalau sudah seperti itu kelas pencapaian puasa Ramadhannya, tenu saja para pemimpin tak perlu turun ke jalan, lempar bantuan kepada masyarakat. Cukup ciptakan terobosan regulasi yang menjadikan kesejahteraan pasca pandemi ini benar-benar dapat dibuktikan, sehingga negeri ini tidak perlu gaduh karena ungkapan dan perilaku yang tak bermutu. Allahu a’lam.*

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Hidayatullah Bersiap Menghadapi Babak Baru Ekonomi

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dampak dari terjadinya wabah Covid-19 ini bukan hanya sekadar penyakit yang mempengaruhi kesehatan, namun juga dampak secara ekonomi.

Ketua Bidang perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Asih Subagyo menjelaskan adanya beberapa amal usaha milik Hidayatullah yang ikut terdampak dengan adanya pandemi covid-19. Terutama amal usaha yang bergerak di bidang Sekolah dan Pesantren.

“Tentunya dengan adanya pandemi Covid-19, amal usaha seperti Sekolah dan Pesantren harus diliburkan. Namun, proses pendidikan akan tetap dipandu oleh ustad maupun ustadzah mereka” Jelas Asih (05/05/2020).

Namun, beberapa sekolah milik Hidayatullah tidak dapat meliburkan santrinya karena terkendala berbagai hal teknis. Dampak dari hal tersebut membuat para orang tua murid tidak dapat menyelesaikan pembayaran SPP karena masalah pandemi ini.

“Tentunya karena beberapa hal, ada Pesantren yang tidak dapat meliburkan santrinya. disisi lain juga para orang tua tidak dapat melakukan pembayaran SPP akibat pandemi ini” jelasnya.

Sedangkan dalam hal bisnis ritel Asih menjelaskan bahwa masih berjalan dengan baik sembari terus melakukan protokol kesehatan yang ada.

Asih menyebutkan bahkan dibeberapa tempat, bisnis ritel berjalan dengan cukup baik dengan jumlah omset naik, tetapi terkendala dalam hal ketersediaan stok barang.

“Walaupun bisnis percetakan mengalami kendala, dalam bisnis ritel kita mengalami kenaikan omset dibeberapa daerah. Kendala bisnis ritel saat ini adalah mengenai ketersedian stok yang kurang” ucap Asih.

Lalu, dalam sektor pertanian dan peternakan, juga perikanan dilaporkan Hidayatullah tetap mengalami pertumbuhan yang baik.

“Walaupun kita terkendala dalam sektor transportasi dan juga distribusi barang. alhamdulilah, kita mengalami pertumbuhan yang baik dalam tiga sektor tersebut”.

Pada sektor microfinance, sedang mengalami kendala, salah satunya ialah banyaknya nasabah Baitut Tamwil Hidayatullah (BMT) yang melakukan penarikan dana simpananya sedangkan hal ini tidak diimbangi dengan nasabah yang melakukan peminjaman.

“Pada sektor microfinance, kita mengalami kendala keseimbangan keuangan. Dengan adanya pandemi saat ini, banyak nasabah yang melakukan penarikan dana. Namun, tidak diimbangi dengan pelunasan pinjaman dana oleh nasabah lain” ucap Asih.

Asih lalu menjelaskan bahwa secara umum memang benar adanya bahwa banyak amal usaha milik Hidayatullah yang sedang mengalami kontraksi, tetapi hal tersebut masih dapat dikendalikan karena sebelumnya Hidayatullah telah melaksanakan protokol krisis yang dikeluarkan lembaga beberapa waktu yang lalu.

“Memang benar adanya kontraksi pada bisnis Hidayatullah. Namun, hal tersebut alhamdulillah, masih bisa kita atasi melalui protokol krisis. Kini kita sedang menyiapkan beberapa rancangan bisnis untuk memasuki babak baru pasca Covid-19 ini” pungkasnya.*/Amanji Kefron

Hidayatullah Global Forum in Ramadan 1441

COVID-19 Pandemic Forces Major Powershifts

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Professor Abd Al-Fattah El-Awaisi, the founder of ISRA (IslamicJerusalem Research Academy in Ankara) and Hüseyin Oruç, the Vice President of IHH, one of the most prominent Turkish humanitarian organizations, have consecutively shared their views on crucial issues at two separate Hidayatullah Global Forum events this Ramadan.

On Friday, April 24, the first day of Ramadan, Abd Al-Fattah El-Awaisi, a professor of international relations and Baitul Maqdis studies at ASBÜ (Social Sciences University of Ankara), described what he believed to be

major power shifts taking place internationally as the world is scrambling for survival in the face of the COVID-19 pandemic. Included in such shift is what he believed to be a decrease in the economic support from the USA, UK and France for the Zionist State of Israel.

“We’re seeing significant changes in the map of world global powers,” he said during the forum. However, he stated that whatever happens in the international geopolitics, Baitul Maqdis will remain the pivot of global powers as shown and proven in history.

Prof. El-Awaisi also predicted that the powershifts would lead to a global war where the Communist China and Russia would attain new positions currently being vacated by the US and its allies. At this stage, he believed the Muslim Ummah would assume a new important role with Turkey as its leader.

“Amidst the pandemic, Turkey has sent medical aids to 40 countries. This shows that the Turkish leadership has managed to control the impacts of the pandemic internally, (and has) even succeeded to rapidly build its capacity to help other countries,” he concluded.

Among the participants of the forum were Dr. Fadli Zon, a member of the Indonesian parliament as well as Vice President of the World Parliamentary League for Palestine, Dr. Shofwan Al-Banna Choiruzzad, Head of International Relations Studies at the University of Indonesia, and Dr. Tiar Anwar Bachtiar, Lecturer of History at Padjadjaran University.

Responding to a question posed by Dr. Choiruzzad about what he believed to be the weak economic and military capacity of the Palestinians to play a role in powershifts, El-Awaisi said the centrality of Baitul Maqdis should not be measured from the Palestinian situation, rather from the geopolitical and geostrategic position of the area. “My theory shows that any power (seeking) to control the world must (first) liberate or occupy the Baitul Maqdis and the surrounding region. Those who

control this region will control the rest of the world,” he said.

He also emphasised the importance of collaboration between the Muslim world leaders and the scholars in outlining the strategic plans and actions to liberate Baitul Maqdis. “We cannot liberate Baitul Maqdis and lead the world without the proper science and knowledge. ‘Umar bin Khattab, Salahuddin and Muhammad Al-Fatih had proven (this stance), we must only follow their paths,” he concluded.

Pandemic, Charity Organization, Hope

On the following Friday, May 1, Hüseyin Oruç, the Vice President of IHH, shared a similar view to that of El-Awaisi regarding the shifs in global powers. “We’d never (have) thought that the superpowers (could) become this weak in facing the pandemic,” he said. Hüseyin highlighted how those superpowers had in the past sent thousands of troops to Muslim countries to kill Muslims, but during this pandemic

Allah Subhaanahu wa Ta’ala has sent millions of His troops, “in the (form) of only approximately 5 grams of virus to cripple the world including those superpowers.”

This situation has given the Muslim Ummah an opportunity to improve ourselves as well, Hüseyin continued. “It is true the pandemic has affected ourselves severely in many countries. But (it is) my belief, this pandemic has also stopped the disasters in the world (that have been) caused by the superpowers from going on,” he stated.

Hüseyin also explained the IHH’s approach in dealing with the pandemic. First of all, he said, the humanitarian organization must keep the hope alive among the people. “People are frustrated by the daily situation, they lost jobs, the schools stopped, the prices rocketing, and so on. If nobody maintains their hope (toward) Allah, the situation would get much worse,” he said.

IHH is well known for its relief programs to more than 130 countries. He maintained, it is important to show the Turkish public that IHH is not lending greater priority to aid programs abroad over its domestic aid programs.

At the early stage of the outbreak, President of IHH Fehmi Bülent Yıldırım appeared in social media to address the Turkish citizens with two important announcements : Firstly, IHH has launched a US$2 million relief in the forms of foods, sanitary kits, medical supplies and cash gifts. Secondly, IHH called on all members of the Turkish public to carry out similar charitable activities in their respective neighbourhoods.

“That initiated the growth of hope among the people,” stated Hüseyin. He believed that the Turkish government was inspired by IHH’s action and has thus followed the approach.

He believed this is the most important role that any non-governmental organisations, especially the Muslim organisations, must play, namely to give hope to the people in the middle of devastating situations.

One similar question was raised, both by PKPU’s Chairman Tomy Hendrajati and Hidayatullah’s Economic Chairperson Asih Subagyo, about how to improve the capacity of NGOs amidst the worsening economic situation. Hüseyin, who is also in charge of IHH relations with the OIC (Organization of Islamic Cooperation), acknowledged that the NGOs’ capacity has been adversely affected by the pandemic.

He mentioned that in the previous Ramadans, IHH sent relief to more than 80 countries. But this Ramadhan it has had to limit its operations to 35 most needy countries.

Hüseyin reminded all the Forum’s participants, most of whom charity and humanitarian activists, to maintain the spirit of sadaqah as the Messenger of Allah taught the Muslims. “In the worse situation, even if a Muslim has only a piece of date, he is encouraged to give sadaqah (in the form of) a half of the date.” Regardless of the amount of donations being raised, the NGOs should continue to initiate good deeds and to keep inviting people to follow. “After that, we put the result completely to Allah’s decision,” Hüseyin concluded.

During the Ramadan 1441, amidst the pandemic, Hidayatullah Global Forum has been organised online on the TeamLink platform, hosted by the head of Hidayatullah Foreign Relations Department Dzikrullah W. Pramudya.