Beranda blog Halaman 460

Merawat Indonesia

0

Andaikan sebuah pertanyaan harus disampaikan, “Siapakah pemilik Indonesia?” maka semua pasti sepakat menjawab, “Rakyat.” Akan tetapi, mengapa dalam roda kehidupan berbangsa dan bernegara, pertentangan (katakan kebijakan untuk rakyat oleh pemerintah) kerap sering dihadirkan?

Tidak main-main, pemerintah dan masyarakat terutama di media sosial terlibat pertentangan sengit. Katakanlah isu tenaga kerja asing, pemindahan ibu kota baru, berikut sosok kontroversial yang diangkat sebagai pemegang kebijakan otorita ibu kota baru, bahkan yang paling konyol, perihal salam Pancasila.

Masyarakat atau rakyat sering merasa aspirasinya tidak diperhatikan. Pada saat yang sama pemerintah menegaskan bahwa setiap kebijakannya adalah untuk kebaikan rakyat. Cukup sulit dicerna, namun fakta itu terus menganga.

Di sini semua pihak mesti menyadari bahwa membangun bangsa dan negara ini, lebih-lebih merawat warisan Indonesia yang damai dan bersatu bukan perkara biasa. Pemerintah, sebagai pihak yang memegang amanah untuk membawa kesejahteraan bagi rakyat, mesti benar-benar sadar dan membela hak-hak rakyat.

Logika ini, sebenarnya secara otomatis dapat mendorong pikiran para pemegang kebijakan mengorientasikan setiap kebijakan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, bukan sebaliknya.

Langkah ini hanya mungkin dilakukan, ketika pemerintah memang mau membuka telinga lebar-lebar, dan membuka hati seluas-luasnya, sehingga tidak phobia dengan kritik dan aspirasi rakyat.

Secara konkret, hal itu dibuktikan dengan keterbukaan pemerintah menerima masukan, bahkan memberi ruang keterlibatan rakyat dalam upaya bersama mewujudkan kemajuan bagi bangsa dan negara.

Dalam konteks ini, maka sejatinya jabatan dan kekayaan negara bukanlah hal yang patut diperebutkan, apalagi sampai saling sikut dengan sesama anak bangsa.

Akan tetapi, sebagai sebuah amanah, tanggung jawab, yang tak boleh maju melainkan yang merasakan derita rakyat sekaligus kokoh dalam kejujuran dalam mengemban kepemimpinan, dimana tidak ada kata terbaik selain meneladankan kebaikan.

Seperti penilaian seorang Natsir terhadap kawan dekatnya, Kasman Singodimejo. “Begitu bila satu kali Kasman sudah mengatakan, ‘Ya!’ Kasman tidak membiasakan diri hanya menganjurkan sesuatu kepada orang lain. Dia melaksanakan lebih dulu apa yang dia anjurkan. Begitulah Kasman.” (Buku Merawat Indonesia; Belajar dari Tokoh dan Peristiwa).

Dengan kata lain, pemerintah semestinya membuka diri terhadap beragam rencana dan kebijakan yang akan diambil, sebagai wujud bahwa tidak ada langkah akan diambil melainkan telah dipahami dan disetujui oleh rakyat. Pada saat yang sama, pemerintah mesti mampu menjadikan media sosial sebagai ruang aspirasi rakyat. Sehingga, kritik yang konstruktif dapat diambil sebagai penawar dari kelalaian pemerintahan yang selama ini berjalan.

Tetapi, mungkinkah itu terjadi kala kepemimpinan negeri ini tersandera oleh kepentingan kapital dan desakan pihak bermodal?

Saat itu terjadi, maka siapapun penguasa, presiden, atau apapun akan berhadapan dengan spirit sejarah yang amat penting di negeri ini, yakni spirit bangsa, bahasa, dan bertanah air satu, Indonesia. Jika kepentingan modal lebih dominan maka jelas, upaya merawat Indonesia dengan sendirinya akan hilang, sirna.

Saat merawat tak lagi menjadi komitmen, maka pertengkaran adalah keniscayaan. Ujaran, keadilan, hukum, dan ketertiban sosial akan terus terjadi, sehingga pemerintah tidak dipandang sebagai wakil rakyat. Sedangkan pemerintah tidak memandang rakyat melainkan sebagai hambatan kepentingan yang harus ditekan, dibungkam, dan dikendalikan.

Di sinilah, beragam kebijakan akan keluar yang semakin mengoyak persatuan rakyat dengan pemerintah yang secara formal dipilih melalui Pemilihan Umum (Pemilu).

Omnibus Law, agama musuh terbesar agama, hingga tenaga kerja asing, adalah wujud bahwa pemerintah telah kehilangan kemampuan menerima nasihat, kritik, dan seruan dari rakyat yang dipimpinnya sendiri. Alih-alih sadar, kini dikenal istilah buzzer yang diberikan peluang besar untuk melakukan beragam hal terkait informasi agar publik percaya dan mendukung pemerintah. Sebuah langkah yang sejatinya kian menjauhkan pemerintah dari sikap yang seharusnya.

Situasi akan semakin runyam kala sebagian dari penguasa, selain mengurus urusan publik, ternyata juga ikut bermain dalam bisnis atau perdagangan. Dalam pasal ke-40 Ibn Khaldun dalam Mukaddimah menuliskan, “Perdagangan yang dilakukan Sultan merugikan rakyat dan merusak pendapatan pajak.”

Lebih jauh Ibn Khaldun menerangkan, “Ketika suatu kerajaan (kini pemerintahan) hasil pajaknya menjadi berkurang karena hal-hal sebagaimana telah kami kemukakan, yaitu kemewahan, banyaknya tradisi, belanja-belanja, penghasilan tidak mencukupi dengan berbagai kebutuhan dan belanjanya dan perlu adanya tambahan harta dan pajak, maka kadangkala ditetapkanlah berbagai macam pajak atas transaksi-transaksi jual beli dan pasar-pasar rakyat.”

Sekalipun Ibn Khaldun hidup berabad-abad silam, penjelasannya itu seakan memandu kita semua untuk melihat lebih objektif, bagaimana belakangan ini pemerintah melalui Kementerian Keuangan sedang agresif menetapkan cukai untuk minuman berpemanis saat menghadiri rapat dengan Komisi XI DPR (19/2).

Sebaliknya, terhadap mereka yang bukan rakyat biasa, pemerintah terkesan memanjakan. Seperti santer dalam pemberitaan Maret 2019, Kementerian Keuangan sempat menyatakan ke media bahwa tarif pajak penjualan barang mewan (PPnBM) atas kendaraan bermotor akan dikurangi tarif pajaknya. Alasannya semakin rendah emisi semakin rendah tarif pajak.

Masyarakat awam dengan mudah akan memberikan kesimpulan, kopi kena pajak, kendaraan bermotor, walau mahal harganya asal emisi rendah, tarif pajaknya dikurangi, berarti pemerintah lebih sayang kepada orang bermodal dibanding rakyatnya yang kesusahan. Jika pemerintah memang peduli dengan kesehatan masyarakat, bukankah solutif jika mendorong produsen minuman menghadirkan produk yang nihil pemanis atau sekaligus dilarang produksi makanan yang seperti itu, sehingga masyarakat tidak sakit apalagi sampai obesitas dan terserang diabetes.

Di sini, semua unsur mesti duduk bersama, jangan lagi ada yang merasa paling berkuasa, paling mengerti, sehingga masalah yang coba disolusikan ternyata tidak senafas dengan nilai Pancasila, yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Seluruh rakyat, yang biasa maupun yang kaya.

*Imam Nawawi (Ketua Umum Pemuda Hidayatullah)

TASK Hidayatullah Evakuasi, Distribusi Logistik dan Layanan Kesehatan di Bolmut

BOLMUT (Hidayatullah.or.id) — Musibah banjir bandang yang melanda Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) telah menyebabkan jatuhnya korban. Sampai Senin, 9 Maret 2020, Tim Aksi Siaga Kemanusiaan (TASK) Hidayatullah masih membantu pencarian (evakuasi) warga tepatnya di Kecamatan Sangkub Bolaang Mongondow Utara.

“Kemarin (9/3) tim melakukan pencarian korban atas nama Erna Tamarola. Umur 41 tahun. Alhamdulillah tim berhasil menemukan tepat pada pukul 14.30 WITA,” terang Koordinator Lapangan TASK Hidayatullah, M. Yusuf Syaiful.

Pada saat yang sama, TASK Hidayatullah bersama BMH terus melakukan distribusi bantuan untuk warga terdampak banjir.

“Kemarin juga bersama BMH tim menyalurkan bantuan logistik ke Desa Pangkusa, Kecamatan Sangkup, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Sulawesi Utara,” imbuh M. Yusuf Syaiful.

Pendistribusian bantuan logistik itu terdiri dari paket sembako sejumlah 30 paket, air mineral, telur, juga disertai pelayanan medis.

“Masih banyak yang kita perlukan untuk meringankan beban saudara kita di sini. Mari terus bergerak sinergis dengan kekuatan yang dapat kita hadirkan untuk membantu mereka yang terdampak musibah,” tutup M. Yusuf Syaiful.

Sebelumnya Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, menetapkan status tanggap darurat bencana banjir bandang dan longsor yang ditetapkan sejak tanggal 4 Maret 2020 atau pada hari pertama kejadian.

Dilaporkan lebih dari 3.000 warga Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dan Kabupaten Bolaang Mongondow mengungsi akibat bencana banjir bandang yang terjadi pada Rabu (4/3/2020) itu. Kerugian pun ditaksir mencapai miliaran rupiah.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bolmut mencatat total pengungsi mencapai 3.650 jiwa, mereka tersebar di empat kecamatan. Warga mengungsi di Kecamatan Sangkub 1.100 jiwa, Bintauna 1.000 jiwa, Bolangitang Timur 800 jiwa, dan Bolangitang Barat 750 jiwa.

Menurut pantauan BPBD setempat wilayah kecamatan terdampak banjir di Kabupaten Bolmut, yaitu Kecamatan Sangkub 13 desa, Bolangitang Timur 10 desa, Bolangitang Barat 8 desa, Bintauna 7 desa, Kaidipang dan Pinotaluman masing-masing 2 desa. Tinggi muka air di wilayah tersebut beragam antara 60 – 120 cm. (ybh/hio)

Sempurnanya Ajaran Islam Mengajarkan Pendidikan Seks pada Anak

SEORANG guru bimbingan dan konseling (konselor) bercerita, bahwa ia pernah diundang menghadiri acara terkait pembinaan remaja usia sekolah. Salah satu tema yang diangkat adalah penanggulangan HIV/AIDS.

Namun, ia menjadi jengah, jijik, dan protes sebab salah satu langkahnya adalah “pacaran sehat” dan penggunaan kondom. Ia semakin jijik sebab pada sesi itu juga ditampilkan gambar-gambar cara memasang kondom pada alat peraga (maaf) penis buatan!

Ketika diprotes atas pertimbangan-pertimbangan moral dan agama, sang narasumber justru berkilah bahwa berhubungan intim merupakan Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilindungi undang-undang.

Menurutnya, pertimbangan agama tidak bisa dipakai, padahal ia sendiri seorang muslimah dan berjilbab. Ia enggan merujuk asas-asas keagamaan (Islam) dan lebih memilih HAM. Astaghfirullah!

Tentu saja, ini sangat memprihatinkan. Tampaknya, narasumber ini percaya kepada tuduhan-tuduhan bahwa Islam tidak memiliki konsep pendidikan seks.

Namun, masalah sebenarnya terletak pada definisi dan cara pandang. Para pengkritik ini berharap menemukan pernyataan eksplisit dalam Islam tentang cara bersebadan dan bagaimana mengajarkannya kepada anak, apa resiko-resikonya, juga hal-hal lain terkait proses biologis dan organ reproduksi.

Sebenarnya, Islam telah mengajarkan tema-tema itu, dalam usia lebih dini dan dengan cara-cara yang sangat santun. Perhatikanlah kitab-kitab fiqh, dan bacalah ulasan-ulasan para ulama’ dengan sabar. Anda akan menemukan bagaimana Islam menjabarkannya. Banyak sekali bab fiqh yang secara spesifik ditulis di atas asumsi adanya fakta-fakta jenis kelamin yang berbeda ini.

Diantaranya adalah kajian tentang tahap-tahap perkembangan manusia, terutama pada usia balig. Disini, tidak hanya diulas tanda-tandanya tetapi sekaligus apa konsekuensi hukum syariatnya. Bagian ini saja sudah membedakan cara pandang psikologi sekuler (Barat) dengan konsep Islam seputar tahap-tahap perkembangan manusia.

Segera setelah seseorang memasuki usia balig, psikologi sekuler akan bicara tentang kematangan seksual dan kesiapan reproduksi, sebuah tema yang khas materialisme dan sekedar “di permukaan”. Inilah yang melatarbelakangi ide pendidikan seks untuk anak dan remaja. Konon katanya, guna mencegah penularan HIV/AIDS dan kehamilan di luar nikah.

Sayangnya, gagasan absurd dan ironi ini dengan penuh semangat dijajakan oleh sebagian kaum muslimin sendiri, seperti kisah di muka. Belakangan, ide ini juga diterapkan melalui PKN (Pekan Kondom Nasional), sebuah kampanye amoral yang justru didanai dengan uang pajak rakyat.

Berbeda dengan konsep Barat, maka pada usia balig tersebut Islam berbicara tentang taklif serta kewajiban-kewajiban religius, moral, dan sosial. Setelah seseorang balig, ia didorong untuk menutup aurat, menundukkan pandangan, merawat diri ketika haid, menjaga pergaulan, dsb.

Ditekankan pula pentingnya kesadaran perihal telah dimulainya pencatatan amal baik dan buruk oleh malaikat. Bab-bab fiqh seperti thaharah (najis, wudhu, tayamum, istinjak, mandi junub), hukum terkait haid/nifas, aurat, muhrim, pernikahan, waris, dan hudud (zina, homo/lesbi, dsb), adalah cara Islam mengajarkan tema-tema seksual secara elegan, arif, dan bertanggung jawab.

Di dalamnya seorang anak diajari memahami dan menerima fakta-fakta perkembangan seksualnya, kemudian dididik untuk memperlakukannya secara bijak dan bertanggung jawab. Bagi Islam, pendidikan seks bukan melulu soal bersetubuh, tetapi diajarkan sebagai bagian integral dari keseluruhan sistem hukum dan moral.

Watak pandangan tauhidi dalam Islam bisa menyatukan berbagai elemen sehingga berjalan beriringan, sementara psikologi sekuler (Barat) justru berusaha melakukan dikotomi, ciri khas filsafat dualisme yang dianutnya.

Psikologi sekuler mendorong seseorang – segera setelah balig – untuk memperhatikan kesenangan badani dan syahwat, lalu memperturutkan ‘keingintahuan’ antar jenis kelamin secara terbuka.

Sementara itu, Islam menyiapkan mereka untuk memberi sumbangsih nyata dan positif kepada kehidupan, bertanggung jawab, serta memiliki kepribadian yang stabil. Psikologi sekuler hanya akan berbicara tentang hidup di dunia fana, sementara konsep Islam sekaligus mengaitkannya dengan akhirat. Kita pun segera tersadar bahwa diantara keduanya terdapat jurang pemisah yang tak terjembatani.

Oleh karena itu, dalam buku Islam at the Crossroads, Muhammad Asad (Leopold Weiss) menyatakan betapa parameter-parameter Barat dan Islam berada di titik-titik yang saling berlawanan secara diametral.

Beliau menulis, “Satu-satunya konklusi yang mungkin disimpulkan daripadanya adalah bahwa peradaban semacam itu (Barat) akan menjadi racun maut bagi setiap kebudayaan yang berdasar nilai-nilai keagamaan. Pertanyaan asal kita, apakah mungkin untuk menerapkan jalan pemikiran dan jalan hidup Islam pada tuntutan-tuntutan hidup peradaban Barat dan sebaliknya, harus dijawab dengan “tidak”.

Dalam Islam tujuan pertama dan paling utama adalah kemajuan moral manusia, dan oleh karena itu pertimbangan-pertimbangan etika mengatasi pertimbangan-pertimbangan kemanfaatan material.

Di Barat di mana pertimbangan-pertimbangan kemanfaatan material menguasai segala manifestasi-manifestasi kegiatan manusia, dan etika sedang diundurkan ke latar belakang yang kabur dari kehidupan masyarakat dan dipojokkan kepada keadaan teoritis melulu; tanpa sedikit pun kekuatan untuk mempengaruhi masyarakat; (maka) berbicara tentang etika – dalam keadaan-keadaan semacam itu – tidak jauh bedanya dari bersikap munafik.

Sikap penyimpangan kepada etika semacam itu tentu saja tidak dapat dipertemukan dengan pandangan keagamaan; dan oleh karena itu dasar moral kebudayaan Barat modern tidak dapat dipertemukan dengan Islam.

Masih menurut Leopold Weiss yang orientalis lalu masuk Islam itu dalam bukunya, “untuk melangkah lebih jauh dan meniru jiwa kebudayaan Barat, mode hidup dan organisasi kemasyarakatannya, tidaklah mungkin tanpa memberikan pukulan maut terhadap kehidupan Islam sebagai bentuk pemerintahan ketuhanan dan agama yang praktis. Wallahu a’lam.

UST. M. ALIMIN MUKHTAR

Kader Hidayatullah Harus Menebar dan Memelihara Kebaikan

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Pimpinan Umum Hidayatullah Ust Abdurrahman Muhammad mengiingatkan bahwa kader Hidayatullah adalah figur tercerahkan yang diharapkan selalu menebarkan kebaikan dan memeliharanya.

“Kunu Rabbaniyyin, Jaddidu imanakum. Jadilah orang yang rabbani. Orang yang menjaga dan memelihara kebaikan. Perbaharui terus imanmu karena semangat juang itu perlu pembaharuan terus,” kata Ust Abdurrahman di acara penutupan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kampus Induk dan Utama di Kampus Utama Hidayatullah Batam, Ahad (8/3/2020).

Oleh karena itu, lanjut beliau, dirinya dan kita semua harus ada semangat baru untuk terus berjuang. Harus ada proses untuk menciptakan manusia manusia Rabbani itu dan harus ada satu perjalanan yang dilalui untuk menjadi pendidik dan pemelihara kebaikan itu.

“Juga terus menjaga adab karena adab adalah upaya untuk menguatkan kepribadian dalam kebaikan, dengan cara bersama dengan orang-orang baik dan benar,” imbuhnya.

“Kunu ma’as shadiqin. Lagi lagi ini menggunakan kata kunu, artinya memang harus ada proses menjadi itu, karena tidak serta merta orang itu dapat menjadi baik, harus ada prosesnya. Menjadi kunu rabbaniyyin dan kunu ma’as shaadiqin, itu butuh proses yang ketat,” jelasnya dengan menukil masing-masing ayat dalam al-Qur’an surah Al-Taubah [9]: 119 dan surah Ali Imran [3]: 79.

Inilah kata dia penemuan yang luar biasa dari almarhum Ustadz Abdullah Said, Pendiri Hidayatullah, dimana beliau mampu menemukan sebuah ide, cara untuk memproses manusia menjadi baik. Yaitu mengkader manusia menjadi baik, menjadi rabbani, dan juga membuat kampus-kampus untuk membebaskan bumi Allah.

“Dengan proses memperbaharui iman itulah senantiasa orang akan terproses menjadi manusia rabbani,” imbuh beliau.

Abdurrahman juga menyebut adab sebagai proses yang mesti dijalani oleh setiap manusia. Sebab, katanya, Nabi Muhammad shallalahu alaihi wasallam saja di-ta’dib hingga beliau menjadi manusia yang paling ahsan adabnya.

Masih di kesempatan yang sama, Pimpinan Umum Hidayatullah juga menyampaikan pentingnya penguatan komitmen berjamaah kepada seluruh kader Hidayatullah.

Di hadapan peserta rakor, Abdurrahman menyebut pertemuan ini dengan istilah majelis mulia karena banyaknya faidah yang diperoleh dari acara ini.

“Ada komitmen berjamaah bagi para kader, dan itu kekayaan yang sangat besar, juga saya dapat bertemu dengan para pendiri Hidayatullah,” katanya.

“Ada kerinduan bertemu pendiri dan berharap beliau bisa sehat dan besama sama kita dalam sebuah aktifitas. Alhamdulillah, ini karunia besar. Karena ada keutamaan mendatangi majlis mulia ini,” lanjutnya.

Dalam kesempatan ini, Abdurrahman menekankan pentingnya komitmen berjamaah karena cita kita bersama adalah menegakkan Islam kaffah.

“Ini penting karena sebenarnya pemahaman keislaman kita itu sudah bagus. Cuma memang harus dihilangkan rasa angkuhnya agar menjadi manusia manusia rabbani, tawadhu, qanaah, dan wara,” lanjutnya.

Akhirnya, Abdurrahman berpesan kepada seluruh kader Hidayatullah untuk terus berkarya di medan juang tanpa pernah menyerah dan putus semangat, dan tetap memohon pertolongan Allah.

“Bermunajat dengan syahdu di malam hari, bertarung dengan seluruh pekerjaaan di siang hari”, pungkasnya.

Acara Rakornas yang mengangkat tema “Optimalisasi Peran LPIH-PTH sebagai Wadah Pembinaan dan Perkaderan” ini di hadiri oleh Kampus Induk dan Utama Hidayatullah terdiri dari Kampus Ummul Qura, Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, dan Kampus Utama: Hidayatullah Depok, Hidayatullah Surabaya, Hidayatullah Makassar, Hidayatullah Samarinda, Hidayatullah Timika, Hidayatullah Medan, dan Hidayatullah Batam.*/Azhari

Penguatan Kajian Kelembagaan Pendidik Hidayatullah Samarinda

0

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Dasar Luqman al-Hakim Hidayatullah Samarinda mengundang pengurus DPW Hidayatullah Kaltim, Ustadz Jumain, untuk mengisi tausiah kelembagaan dalam rangka agar para guru lebih fresh dan semangat dalam berlembaga khususnya sebagai pendidik. Semua guru dan karyawan sekolah wajib mengikuti kajain ini agar supaya apa yang menjadi harapan bersama dapat terpenuhi maksimal.

Dalam penguatan kelembagaan ini Jumain, M.Pd menyebutkan bahwa sebagai pendidik sukar dalam tidurnya, karena harus memikirkan hal yang bermanfaat yang akan diberikan untuk anak esok hari.

“Seharusnya, sebagai pendidik kita tidak akan bisa tidur di malam hari hanya karena memikirkan hal apa lagi yang akan kita sampaikan kepada anak didik kita. Karena itu akan dipertanggung jawabkan dan jangan sampai kita sebagai pendidik tidak menyampaikan misi misi kerasulan kepada anak didik kita,” katanya.

Jumain juga mewanti-wanti para guru, bahwa kebutuhan dan kemauan pasar sampai harus melepas hal-hal yang prinsip dari agama ini dan takut kehilangan murid karena tidak memenuhi semua kebutuhan mereka. Padahal kebutuhan mereka juga bukanlah hal yang prinsip dalam berlembaga.

“Jangan sampai kita berbuat hanya untuk mengejar kemauan pasar sampai harus melepaskan hal hal prinsip dari agama ini. Kita terkadang takut kehilangan murid karena tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka. Padahal kebutuhan mereka itu bukanlah hal prinsip dalam lembaga ini,” katanya mengingatkan.

Terakhir dia berpesan bahwa apapun yang kita berikan keanak didik kita tidak boleh terlepas dari nilai-nilai al-Qur’an, apalagi dari sumber lain.

“Maka dari itu kita berupaya bagaimana mengambil hati Allah dan jika itu suah kita raih, maka apa yg menjadi kekhawatiran kita akan beres. Bagaimana caranya, dengan meninggikan nilai-nilai al-Qur’an, jangan sampai ayat Alquran yang datang dari tempat tinggi yang mulia kita rendahkan,” jelasnya.*/Kiriman Khalilurrahman, S.Kom

Hidayatullah Towuti Perkuat Silaturahmi dengan SMP YPS Soroako

0

TOWUTI (Hidayatullah.or.id) — Rohis SMP YPS Soroako mengadakan kunjungan silaturahmi ke Pondok pesantren Hidayatullah Towuti pada sabtu 7 Maret 2020. Pondok pesantren Hidayatullah menyambut langsung kedatangan siswa pelajar SMP YPS Singkole.

Rencanya selain mengadakan silaturahmi. SMP YPS juga akan mengadakan bakti sosial di Pondok Pesantren Hidayatullah Towuti. Tercatat sebanyak 60 siswa-siswi di dampingi lima guru berkesempatan bersilaturahmi.

Pembina Rohis SMP YPS Singkole Soroako, Abdul Somad, menjelaskan bahwa agenda ini merupakan agenda rutin tahunan yang sebelumnya telah dilakukan dua kali. Ia juga menjelaskan bahwa tujuan dari silaturahmi ini untuk menumbuhkan jiwa sosial peserta didik.

“Alhamdulilllah, ini merupakan kali ketiga kami dapat bersilaturahmi, harapan kami dengan silaturahmi serta bakti sosial, anak-anak bisa tumbuh jiwa sosialnya,” jelas Abdul Somad.

Ust Najamuddin, Ketua Yayasan Hidayatullah Towuti menyampaikan rasa terima kasihnya atas kunjungan Rohis SMP YPS. Najamuddin berharap bahwa kunjungan yang telah rutin dilakukan ini dapat terus terlaksana sebagai bentuk silaturahmi.

“Semoga jalinan ini bukanlah yang terakhir, nanti siswa-siswi YPS lain waktu boleh dicoba bermalam di Asrama santri,” jelas Najamuddin.

Dalam serangkaian baksos kali ini, para siswa membersihkan masjid ondok juga secara bersama-sama mengecat kantor serta menyusul memperindah bangku belajar pesantren sebanyak 30 buah.*/Kiriman Hidayatullah Soroako

BMH Peduli Peningkatan Dunia Literasi

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Literasi merupakan indikator penting untuk meningkatkan prestasi generasi muda dalam mencapai kesuksesan, literasi juga merupakan faktor pendukung majunya sebuah bangsa. Maka dari itu Guna mendorong tingkatkan literasi di kalangan santriwati, Lembaga Amil Zakat Naional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bekerjasama dengan Madrasah Aliyah Luqman Al-Hakim Aceh Besar gelar training jurnalistik pada 9 Maret 2020. Acara yang berlangsung di aula Pesantren Hidayatullah Putri Aceh besar itu pun ditutup dengan pengumpulan hasil praktek dari seluruh peserta yang berjumlah 40 orang.

Dalam kesempatan ini BMH menghadirkan narasumber Imam Nawawi, Pemimpin Redaksi majalah Mulia dan juga Ketua Umum Pemuda Hidayatullah. Imam Nawawi menjelaskan bagaimana dunia literasi tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan santri untuk memajukan sebuah bangsa.

“Generasi santri terdahulu adalah entitas pelajar yang banyak melahirkan karya tulis dan diantaranya berupa produk jurnalistik. Oleh karena itu belajar jurnalistik bagi kalangan santri adalah hal yang harus terus ditingkatkan,” terangnya.

Menurut Imam Nawawi, banyak dari kalangan umat islam tidak menjadikan dunia jurnalistik menjadi sebuah hal yang penting. Hasilnya banyak kegiatan positif umat islam yang tidak dapat disebarluaskan. Sehingga tidak dapat mengispirasi umat islam lainya untuk turut serta melakukan kebaikan.

“Terlebih saat ini umat Islam masih sangat sedikit yang peduli dengan jurnalistik, sehingga banyak kegiatan positif bahkan menginspirasi tidak dapat disebarluaskan karena memang belum banyak yang terampil dalam dunia jurnalistik ini,” imbuhnya.

Tidak hanya mendapatkan materi, usai pemaparan para santri putri itu pun langsung masuk sesi praktek. seorang santri bernama Putri mengaku sangat tercerahkan dengan training jurnalistik itu.

“Jujur saya sering mendengar kata jurnalistik. tapi baru sekarang saya mengenal dengan baik dan tertarik untuk menjadi seorang jurnalis atau penulis. Apalagi tadi bukan sekedar teori tapi juga langsung praktek,” katanya.

Sementara itu Kepala BMH Perwakilan Aceh menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen lembaga yang dipimpinnya dalam ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

“BMH merasa perlu untuk terus memberikan motivasi, pembelajaran, kepada segenap santriwati yang ada di sini karena melalui jurnalistik kita juga dapat mendorong lahirnya generasi yang cerdas. ini juga menunjukkan bahwa kepedulian BMH terhadap dunia pendidikan bukan semata biasiswa tetapi juga keilmuan,” jelasnya.

Serukan Doa untuk Kaum Muslimin dan Dijauhkan dari Wabah Virus

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr. H. Nashirul Haq, MA, menyampaikan pentingnya mensyukuri nikmat iman dan aman. Dalam pada itu, ia mengajak bersama mendoakan kaum muslimin yang masih terus tertindas di berbagai belahan bumi dan bermunajat kepada Allah SWT agar menghindarkan kita dari virus corona yang mewabah.

Hal itu disampaikan beliau saat memberika sambutan dalam acara Koordinasi Nasional (Rakornas) Kampus Induk dan Utama Hidayatullah, yang berlangsung di Kota Batam, Riau, Jum’at (6/3/2020).

“Ada nikmat iman dari Allah, tapi tidak ada rasa aman dan damai, maka yang terjadi apa yang kita saksikan hari ini. Saudara kita, umat Islam India terdzalimi di negaranya. Muslim Uighur di China ditindas, belum lagi yang memang sudah sejak lama berlangsung seperti Palestina, Rohingnya, dan daerah lainnya. Itu semua karena pentingnya nikmat aman itu”, tegas Nashirul.

Begitu juga dengan wabah virus Corona yang menimpa dunia hari ini, lanjut Nashirul, menjadi pelajaran untuk semua manusia betapa lemah mereka. Tinggal kita sebagai umat Islam menyikapinya dengan baik.

“Allahlah sebaik baik penjaga. Menjaga negeri dari wabah, menjaga diri kita dari penyakit dan virus. Berdoa saja terus. Kuatkan wirid pagi dan sore. Allah akan memberikan rasa aman itu kepada kita”, jelas anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat ini.

Juga kita kuatkan, lanjutnya, dengan ikhtiar. Misalkan, tidak mendatangi negeri yang terkena wabah, melakukan tindakan preventif yang sesuai, serta tawakkal kepada Allah.

Rakornas Kampus Induk dan Utama Hidayatullah kali ini, lanjut Nashirul, mengangkat tema tentang peran lembaga pendidikan integral dan pendidikan tinggi Hidayatullah sebagai wadah perkaderan, dan itu dimulai dari Kampus Induk dan Utama Hidayatullah, agar menjadi role model kampus kampus di wilayahnya.

Jadi, lanjutnya lagi, bagaimana para pelaku perkaderan di lembaga pendidikan Hidayatullah, khususnya pengasuh, fokus terhadap pembinaan mental dan adab.

“Ilmu dimana saja dapat dicari, tapi adab atau proses tazkiyah hanya dapat digapai dari wasilah seorang guru. Sehingga para pengasuh harus lebur untuk mentazkiyah santri”, paparnya.

Menurutnya, inilah nilai yang akan kita tawarkan kepada dunia, sistem pendidikan Islam yang berbasis boarding. Ilmu mereka dapatkan. Pembinaan adab senantiasa berjalan karena bersama pengasuh, serta diberikan wasilah kepada anak didik agar mempunyai skill dan keterampilan dengan menempanya di lapangan.

Hari ini, masih menurut Nashirul, kegelisahan masyarakat modern adalah takut anaknya tidak dapat belajar atau sekolah, dan takut juga kalau sakit, dan yang paling penting takut anaknya tidak punya etika, moral, atau adab.

“Tantangan dan harapan inilah yang harus segera disergap oleh Hidayatullah, yaitu menampilkan pendidikan yang unggul di semua lini, sebab inilah tawaran kita kepada dunia”, tukasnya.

Terakhir, Alumnus Universitas Islam Madinah (UIM) ini juga tak luput mengucapkan apresiasi yang tinggi kepada semua panitia yang terus bekerja tak kenal lelah untuk suksesnya acara ini.

Untuk diketahui, Kampus Induk dan Utama Hidayatullah terdiri dari Kampus Ummul Qura, Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, dan Kampus Utama: Hidayatullah Depok, Hidayatullah Surabaya, Hidayatullah Makassar, Hidayatullah Samarinda, Hidayatullah Timika, Hidayatullah Medan, dan Hidayatullah Batam.*/Azhari

Rakornas Kampus Hidayatullah di Batam Ajang Temu Kangen Para Kader Dai Senior

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Kampus Utama Hidayatullah Batam menjadi tuan rumah dalam perhelatan acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kampus Induk dan Utama Hidayatullah yang berlangsung selama tiga hari (6-8/3/2020). Acara tersebut juga menjadi ajang temu kangen para pendiri dan dai senior Hidayatullah.

Rakornas pamungkas di periode kepengurusan DPP Hidayatullah ini dibuka secara resmi oleh Gubernur Kepulauan Riau yang diwakilkan kepada Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kabiro Kesra) Pemerintah Provinsi Kepri, H. Aiyub, M.Si.

Hadir dalam acara, Pimpinan Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad, Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr. Nashirul Haq, Lc, MA, para pendiri dan perintis Hidayatullah, jajaran dewan Pembina dan pengurus kampus induk dan utama, pihak kepolisian dan keamanan, tokoh masyarakat, serta ratusan hadirin tamu undangan yang memenuhi ruang utama Masjid Agung Hidayatullah, Kampus 01 Batu Aji, Kelurahan Kibing, Kecamatan Batu Aji, Kota Batam.

Mengawali acara, sambutan singkat dari tuan rumah,H. Jamaluddin Nur, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Batam. Dalam paparannya, Jamaluddin mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaan atas terselenggaranya acara Rakornas di Batam di tengah isu wabah yang menimpa negeri ini.

“Alhamdulillah, bersyukur kepada Allah dan senang sekali rasanya, akhirnya rakor terakhir ini dapat juga terselenggara, meski sempat ada kekhawatiran karena adanya wabah yang menimpa negeri ini. Karena Batam termasuk yang disebut,” ucap Jamaluddin.

Jamaluddin juga menyampaikan ucapan selamat datang kepada peserta rakor dan tamu undangan yang hadir. Menurutnya, kehadiran para senior lembaga membuat kita para pengurus semakin bersemangat dalam berkarya.

“Menyenangkan sekali rasanya jika berjumpa kembali dengan para sesepuh lembaga ini, membuat kita semangat untuk terus berkarya, karena kekuatan spirit. Begitu juga dengan kawan-kawan dari kampus lain,” ungkapnya.

Untuk diketahui, Kampus Induk dan Utama Hidayatullah terdiri dari Kampus Ummul Qura, Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, dan Kampus Utama: Hidayatullah Depok, Hidayatullah Surabaya, Hidayatullah Makassar, Hidayatullah Samarinda, Hidayatullah Timika, Hidayatullah Medan, dan Hidayatullah Batam.

Adapun untuk Kampus Utama Hidayatullah Batam, kini telah memiliki tiga Perguruan Tinggi, yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Hidayatullah Batam, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Mumtaz Karimun, dan Institut Agama Islam (IAI) Abdullah Said Batam.

Kampus Hidayatullah Batam kini juga memiliki tiga kampus pendidikan, Kampus 01 Batu Aji, Kampus 02 Putri Tanjung Uncang, dan Kampus 03 Putra Marina, serta memilki 4000 an santri, dari jenjang TK, SD, SMP, SMA, SMK, Tahfiz, hingga PTH.*/Azhari

Hidayatullah Kutai Barat Turut Gerakkan Laju Pembangunan Daerah

KUTAI BARAT (Hidayatullah.or.id) — Staf Ahli Bupati Pemerintah Kabupaten Kutai Barat, Zulkarnaen, mengapresiasi kiprah Hidayatullah khususnya di Kutai Barat dan berharap hal itu dapat terus dirawat dalam rangka mendukung laju pembangunan daerah di bidang pendidikan dan pembinaan keagamaan.

Hal itu disampaikan Staf Ahli Bupati Pemerintah Kabupaten Kutai Barat saat membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) V Hidayatullah Kutai Barat yang membacakan sambutan Bupati Kubar FX Yapan.

Bupati dalam sambutan tertulisnya mengajak Hidayatullah terus memberikan peran pentingnya dalam menjaga kerukunan dan berperan aktif bersama pemerintah menggerakkan laju pembangunan di daerah.

Pesan penting lainnya yang disampaikan pemerintah, memasuki tahun politik 2020 diharapkan masyarakat mampu menjaga kondusiftas.

“Pilihan boleh beda namun kebersamaan tetap terus dijaga,” sebut Zulkarnain.

Pembukaan Rakerda Hidayatullah Kubar ini dihadiri juga Kepala Kantor Kemenag Kubar H.Muhammad Izzat Solihin, SAg, MPd dan para tokoh agama, tokoh masyarakat, undangan serta peserta rakerda.

Pada kesempatan ini Zulkarnain mendapat amanah membuka sekaligus membacakan sambutan Bupati Kubar FX Yapan, serta ikut meletakkan batu pertama pembangunan Gedung Dakwah Pondok Pesantren Hidayatullah yang beralamat di Jl Naras Gunaq .Kampung Mencimai, Kecamatan Barong Tongkok.

Sementara itu Ketua DPD Hidayatullah Kutai Barat Ust Irsyad Istoyo, S.Pd.I dlm sambutannya menjelaskan pentingnya tujuan pencapaian gerakan dakwah dan tarbiyah dan berharap dapat lebih ditingkatkan terutama pembenahan Hidayatullah di tingkat kecamatan kecamatan se Kutai Barat.

“Kita harus terus meningkatkan pembenahan,” jelas Irsyad.

Irsyad menyebutkan, bangunan gedung dakwah dua lantai tersebut diperkirakan menelan dana yang cukup besar. Oleh sebab mengajak segenap jamaah dan masyarakat turut mendoakan dan membantu kelancaran pembangunan gedung ini.*/Amanji Kefron