MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Sejumlah 100 orang Santri Hidayatullah aktif terlibat menjadi relawan dalam kegiatan bersih-bersih Masjid yang diinisiasi oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Sulawesi-Selatan.
Secara simbolik, 100 orang relawan ini diberangkatkan oleh Walikota Makassar diwakili oleh Kabag Kesra, Aswis Badwi; Ketua BMH Perwakilan Sulsel, Kadir; dan Yayasan Al-Bayan. Acara pemberangkatan relawan ini dikemas dalam Apel Siaga di halaman masjid Umar Al Faruq Pesantren Hidayatullah Makassar, Sabtu (29/2).
“Mewakili Pemerintah Kota Makassar, kami sangat berterima kasih kepada BMH atas inisiasi program baik ini. Semoga dapat berjalan dengan baik dan menjadi program yang berkelanjutan,” terang Aswis Badwi dalam arahannya selaku pembina upacara.
“Kegiatan Bersih-Bersih Masjid ini adalah kolaborasi program BMH bersama Milagros dan Al Bayan Islamic School Makassar,” ungkap Kadir, Kepala Perwakilan BMH Sulawesi Selatan.
Kegiatan ini ditargetkan dapat terlaksana di 50 lokasi masjid dan mushala di wilayah kota Makassar dan sekitarnya, sebelum bulan Ramadhan.
“Kami ingin memastikan masjid dan mushala di sekitar kita dalam keadaan bersih dan nyaman sebagai tempat ibadah,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, selain memberangkatkan relawan, BMH juga menyerahkan bantuan peralatan kebersihan, serta bantuan biaya perbaikan plafon untuk masjid Umar Al Faruq, Pesantren Hidayatullah Makassar.
Diperkirakan renovasi tersebut membutuhkan biaya Rp 150 juta. “Alhamdulillah pada kesempatan berbahagia ini bisa sekaligus melakukan penyerahan bantuan renovasi masjid. Bantuan ini merupakan tahap awal. Kami masih membuka kesempatan bagi dermawan untuk berdonasi,” tutup Kadir. (rep/hio)
Sepekan lamanya saya berkeliling Tanah Cenderawasih, baik Papua Barat maupun Papua. Selain melihat ciptaan Allah berupa alam yang begitu indah di Papua saya mendapati spirit yang selalu modern.
Spirit itu adalah yang diperas dan dimetodologikan dengan begitu sederhana, konkret, namun dahsyat oleh Allahuyarham Ustadz Abdullah Said, yakni Allah di Balikpapan sama dengan Allah di Papua.
“Ketika itu saya tidak pernah tahu apa itu Papua, mau menemui siapa, dan harus melakukan apa. Belum lagi, dari sisi alam, Papua punya tantangan sendiri, yakni Malaria. Pikiran sebagai manusia tidak jelas rasanya, tapi ingat pesan Ustadz Abdullah Said bahwa Allah di Balikpapan juga Allah yang di Papua, melangkahlah saya dan teman-teman yang tugas di Papua ini,” ucap Ustadz Sulthon, yang kini Ketua DPW Hidayatullah Papua Barat sekaligus pengurus teras MUI Papua Barat.
Sama namun dengan lika-liku yang berbeda dialami oleh Ustadz Mualimin Amin. Pria murah senyum itu kala mendapatkan tugas pertama adalah ke Medan. Namun karena satu dan lain hal, Ketua DPW Hidayatullah Papua saat ini diubah tugasnya ke Ambon Maluku.
“Ustadz Lathif Usman yang hubungi saya. Nak, kamu tugasnya dipindah ke Ambon. Silakan siap-siap berangkat. Kalau di Ambon nanti ketemu orang berjenggot, jilbab besar, maka itu sudah orang Hidayatullah, temui dan bergabunglah. Saya bilang, siap berangkat. Tak lama muncul pikiran, bagaimana bisa ketemu, di Ambon turun dari kapal ambil arah mana. Macam-macam. Tapi saya ingat spirit Allahuyarham, bahwa Allah di Balikpapan sama dengan Allah di Maluku, dengan bismirabbik saya melangkah tanpa ragu,” tuturnya.
Kisah di atas bukan sebuah “dongeng.” Itu kisah hidup, nyata, pelakunya masih tersenyum segar dan sampai detik ini kesibukannya dakwah dan tarbiyah umat. Hasil dari spirit itu pun jelas, yakni kampus-kampus Hidayatullah di seluruh Papua.
Dalam hati saya hanya takjub bukan main. Bagaimana keteladanan mengelola Gunung Tembak menjadi sebuah pelajaran hidup bagi banyak kader Hidayatullah. Mereka boleh jadi belum ikut training manajemen mendirikan dan mengembangkan pesantren, tapi dengan spirit itu, mereka bisa seiring berjalannya waktu yang dipenuhi ketaatan dan keyakinan luar biasa.
Bahkan, berpindah-pindah tempat tugas di Papua, bagi mereka bukan hal rumit. Kalau sudah tugas, bismillah jalan. Kini, mereka menjadi tokoh dengan kapasitasnya yang diakui oleh masyarakat.
Di sini saya menemukan pelajaran bahwa Islam ini bukan agama yang melulu harus dikaji, tapi juga harus segera diamalkan dengan penuh keyakinan. Bukan berarti abaikan ilmu, tapi ilmu yang ada segera ditajamkan. Sembari terus diperkuat sisi keilmuannya.
Dan, ungkapan Syaikh Ibn Athaillah memberikan penjelasan atas semua itu. “Cahaya adalah tentara hati, sebagaimana kegelapan adalah tentara nafsu.”
Ketika spirit syahadat yang meyakini Allah dimana saja akan memberikan pertolongan selama taat dan kokoh dalam jama’ah dihujamkan dalam hati dan diejawantahkan dalam kerja-kerja nyata, saat itu hati telah menjadi sosok tentara.
Syaikh Ibn Athaillah menjelaskan, karena begitu hati mendapatkan cahaya Ilahiyah, ia akan mendapatkan penyingkapan, ilmu, dan tahqiq. Itulah kenapa Ustadz Suharsono memberikan penilaian bahwa kader-kader awal Hidayatullah itu mampu merasakan dahsyatnya iman dan amal, namun tidak (sanggup) membahasakannya secara verbal.
Dalam bahasa Allahuyarham Ustadz Abdullah Said, syahadat yang baik yang menghasilkan iman adalah syahadat yang teruji dan terbukti.
“Untuk dapat merasakan iman yang sudah berkecambah dalam diri, atau mengukur kekuatan iman yang dimiliki, harus melalui uji coba menghadapi beban dan problema. Di sana baru dapat dirasakan keberadaannya. Iman baru dapat kita saksikan hasil kerjanya bila sudah mampu memikul sekian beban. Iman baru dapat kita ketahui kehebatannya disaat mampu menyelesaikan sekian problem.” (Buku Kuliah Syahadat halaman: 84).
Menariknya, para seniro di Papua Barat dan Papua tak mau itu berhenti pada diri mereka. Ustadz Sulthon, Ustadz Mualimin Amin, dan Ustadz Sudirman Ambal tak mau berhenti mewariskan spirit yang selalu modern itu ke dalam jiwa para pemuda.
Oleh karena itu, tanpa dinyana, Pemuda Papua Barat langsung mengundang saya menghadiri Muswil Papua Barat. Tak berselang lama, Pemuda Papua langsung meminta saya langsung ke Jayapura.
Dalam hati saya berpikir, “Kalau Pemuda Hidayatullah Papua dan Papua Barat bangkit, apakah masih mungkin Pemuda Hidayatullah di wilayah lain akan rela tidur dan tidak menyergap, menyadap dan menyedot spirit yang selalu modern, selalu dibutuhkan sepanjang masa, yang telah menghasilkan kekuatan besar itu? Allahu a’lam.
Tapi, sejak Papua kukunjungi, gelombang Muswil Pemuda Hidayatullah terus bergulir, Aceh, Lampung, Jakarta, Gorontalo, Palangkaraya, Kupang, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, dan Kalimantan Timur. Allahu Akbar!!!
*) IMAM NAWAWI,Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sebagai bentuk dari tanggung jawab secara keungan, Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah mengadakan pelatihan Sistem Keungan Hidayatullah (SISKAHID) bertempat di aula pertemuan Gedung Pusat Dakwah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak, Polonia, Otista, Jakarta, dibuka Rabu (26/2/2020).
Adapun peserta pelatihan ialah para bendahara dan kasir dari perwakilan Dewan Pengurus Wilayah seluruh Sumatera, Jawa, dan juga Jabodetabek.
Bendahara Umum DPP Hidayatullah Drs. Wahyu Rahman, MM, menjelaskan dalam sambutanya bahwa sistem keungan Hidayatullah setidaknya telah memenuhi tiga syarat utama dari laporan keungan. Baik secara Transparansi, Akuntabelitas, dan juga Profesionalitas.
Tentunya ketiga hal itu kata dia merupakan hal yang wajib bagi bagian keunagan di lembaga manapun, karena itu merupakan bagian dari konsekuensi dari sebuah tanggung jawab dari laporan keuangan.
“Kita harus memenuhi laporan keungan secara transpransi, akuntabelitas, dan juga profesionalitas karena ini ialah bentuk dari konsekuensi dari amanah yang telah diberikan kepada kita,” jelas Wahyu Rahman.
Wahyu menjelaskan bagaimana bentuk transparansi untuk menghindari perasaan su’udzon, yang dapat menimbulkan perasaan buruk sangka orang-orang yang telah mengamanakan dana mereka kepada lembaga Hidayatullah. Sehingga jika perasaan buruk sangka hilang, akan timbul rasa persaudaraan yang kuat.
“Transparansi bisa menghilangkan bentuk buruk sangka atau su’udzon, jika perasaan buruk sangka hilang maka kita akan tumbuh perasaan saling percaya, jika saling percaya sudah erat maka akan menjadikan ikatan persaudaraan yang kuat,” terang beliau.
Adapun alasan peningkatan akuntabelitas, belaiu menjelaskan bagaimana proses keuangan dapat dilaporkan secara urutan yang jelas sehingga tidak adanya miss informasi pada laporan keungan.
“Kita harus melakukan proses input, proses pengelolahan, dan juga proses output sehingga informasi keungan tidak menjadi miss informasi,” imbuhnya.
Dia menjelaskan, jika semua itu dapat dilakukan secara profesionalitas maka kepercayaan kepada lembaga Hidayatullah akan terus meningkat.
Wahyu Rahman juga memberikan apresiasi kepada perwakilan daerah Hidayatullah, karena berkat kontribusi daerah DPP Hidayatullah dapat mengelolah keungan secara baik dalam sekala nasional.
“Tentunya kita berterima kasih kepada perwakilan daerah, dengan semanagat kontribusi kita daerah, kita dapat mengelolah lembaga lebih baik lagi” jelas Wahyu.
Lalu, beliau juga memberikan semanagat kepada segenap pengurus yang hadir untuk terus semangat dalam belajar dan terus belajar dalam meningkatkan pengetahua dalam pengelolahan laporan keungan karena ilmu dapat menjadi warisan di masa depan.
“Insya Allah apa yang kita pelajari hari ini, menjadi ilmu yang dapat kita jadikan sebagai warisan pahala di masa yang akan datang,” tutup beliau.*Amanji Kefron
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Task Hidayatullah yang terdiri dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dan search and rescue (SAR) Hidayatullah memberikan respon cepat untuk membantu korban banjir ibu kota yangterjadi pada Selasa (25/2/2020). Kali ini Task Hidayatullah bekerja sama denan Vanila Hijab.
BMH sendiri menyalurkan bantuan berupa makanan siap saji yang diantaranya distribusikan
kepada jamaah dan warga Mushola Baitul Khair Kebon Pala II RT 011 RW 05 Kampung
Melayu Jakarta Timur.
Seorang warga mengaku bahagia dengan kiriman bantuan siap
saji tersebut. “Terima kasih atas bantuan makanan ini. Bagi kami ini luar
biasa. Saat kami tak bisa berpikir bagaimana bisa makan, Allah datangkan
orang-orang baik yang memikirkan makan untuk kami. Sekali lagi, terima
kasih,” ujar Syamsuddin, seorang warga terdampak banjir.
Syamsuddin juga mengisahkan kronologi banjir yang kembali
menimpa tempat tinggalnya.
“Posisi awal banjir ini karena curah hujan. Selasa
(25/2), pukul 3 dini hari air sudah naik satu meter. Pagi naik menjadi 3
meter. Sampai Rabu (26/2) belum surut juga, tapi sudah di bawah 50 cm.
Sekarang Alhamdulillah sudah bisa bersih-bersih rumah. Kami pasrah sebagai
warga, mungkin karena kondisi, atau takdir dari Kali Ciliwung,” tuturnya.
Sampai hari ini, Kamis (27/2), TASK Hidayatullah masih
akan terus turun ke lokasi-lokasi banjir untuk memberikan bantuan, baik
evakuasi maupun logistik.
“Insya Allah, sampai hari ini BMH bersama seluruh
relawan Task Hidayatullah akan selalu
siaga membatu warga terdampak,” tutup Direktur Program dan Pemberdayaan
BMH Pusat, Zainal Abidin.
Owner Vanilla Hijab, Aisyah mengatakan bahwa pihaknya juga
akan melakuan distribusi bantuan melalui Task Hidayatullah
“Kami melihat dalam dua bulan ini banjir cukup
dekat terjadi. Termasuk yang terjadi pada Selasa (25/2). Padahal
masyarakat pada awal tahun sudah pasti sekuat tenaga membersihkan rumah mereka.
Jadi kami dari Vanilla Hijab Peduli mengirimkan makanan siap saji agar mereka
terbantu. Sebab pasti kan kompor mereka terendam dan belum bisa masak seperti
biasa, kami sangat berempati kepada mereka yang terdampak,” terang Owner
Vanilla Hijab, Aisyah, Rabu (26/2).
“BAYANGKAN, bila Pak Jokowi tiba-tiba masuk ke masjid ini. Kira-kira bagaimana reaksi jamaah?”
Pertanyaan itu dilontarkan Ust Aqib Junaid, anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah, saat berceramah selepas shalat magrib di Masjid Baitul Karim, Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, jelang akhir Februari 2020.
Tanpa menunggu jawaban jamaah, Ust Aqib langsung melanjutkan ceramahnya. “Reaksi jamaah tentu sangat tergantung sejauh mana mereka mengenal Pak Jokowi.”
Maksudnya, jika jamaah tak tahu Pak Jokowi seorang presiden di Republik ini, maka reaksi mereka akan biasa-biasa saja, sama seperti ketika mereka melihat kebanyakan jamaah lainnya. Jika mereka tahu namun tak kenal wajahnya, maka reaksi mereka juga akan biasa-biasa saja.
Tapi, bila mereka tahu, kenal, bahkan paham seperti apa kekuasaan seorang presiden di Republik ini, maka tentu sikap mereka akan sangat berbeda. Boleh jadi ada yang berdiri dan menyalami Sang Presiden. Boleh jadi juga ada yang mempersilahkan Pak Jokowi untuk shalat di shaf terdepan.
Rupanya, penjelasan itu disampaikan Ust Aqib untuk memberikan analogi mengapa banyak manusia yang telah mengucapkan Kalimat Syahadat, namun tetap ingkar kepada Tuhannya. Itu semua terjadi karena mereka tak tahu siapa Tuhannya.
Boleh jadi mereka sebetulnya tahu, tapi tidak mengenal siapa Tuhannya. Bahkan boleh jadi juga mereka mengenal, namun tak mengimaninya.
Karena itulah, agar reaksi manusia benar terhadap Allah Ta’ala, maka manusia harus betul-betul tahu siapa Rabb-nya, mengenal siapa Rabb-nya, lalu mengimani semua tentang Rabb-nya.
Dan, sebab itu pula, ungkap Aqib, rangkaian ayat al-Qur’an yang pertama diturunkan oleh Allah Ta’ala, tidak bicara soal Kalimat Syahadat. Tak ada perintah bersyahadat pada 5 ayat pertama surat al-‘Alaq. Yang ada justru perintah untuk ber-iqro.
Bukan berarti perintah Syahadat tidak penting. Bukan pula berarti perintah Syahadat tidak utama. Justru Syahadat adalah pintu masuk seseorang menjadi Muslim. Semua kebaikan seseorang akan percuma di mata Allah Ta’ala manakala ia tak bersyahadat.
Namun, perintah beriqro akan mengantarkan manusia bersyahadat secara benar. Perintah ber-iqro akan menyadarkan manusia memahami siapa Tuhannya dan bagaimana posisi dia di hadapan Tuhannya.
Jika manusia sudah mengenal Sang Khaliq, maka mudah sekali ia untuk bersyahadat. Andai ia dilarang sekalipun, bahkan diancam agar tidak mengucapkan Syahadat, maka manusia yang sudah mengimani Rabb-nya tak akan peduli dengan larangan dan ancaman itu.
Semoga kita semua telah menjadi Muslim yang beriqro, bukan sekadar bersyahadat.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara Indonesia Ke-7 Prof. Dr.(H.C.) Dahlan Iskan mengatakan diantara ketakutan para orangtua di era disrupsi saat ini adalah mengenai masa depan anak-anak mereka.
“Karakteristik orangtua sekarang, mereka takut anaknya tidak pintar atau tidak cerdas,” kata Dahlan Iskan.
Hal itu disampaikan Dahlan dalam acara silaturrahim sekaligus diskusi bertajuk “Memahami dan Menyikapi Revolusi Industri 4.0 Serta Membangun Kekuatan Sumberdaya SDM, Ekonomi dan Bisnis Organisasi di Era Tersebut” di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Otista, Polonia, Jakarta, Selasa (25/2/2020).
Dahlan mengungkapkan pentingnya keberadaan pondok pesantren di tengah ketakutan orangtua mengenai masa depan anak-anak mereka. Menurutnya, peran pondok pesantren sangat penting keberadaanya untuk pembentukan karakter peserta didik.
“Sekarang banyak orangtua yang takut anaknya tidak cerdas, takut anaknya sakit, dan juga khawatir anaknya tidak mempunyai akhlak yang baik. Ini adalah ladang juang bagi pesantren untuk menjawan kekhawatiran tersebut,” jelas pengusaha lulusan madrasah ini.
Menurutnya, jangan sampai ladang juang tersebut diambil alih oleh mereka yang hanya mementingkan bisnis semata saja tanpa memerdulikan pembangunan karakter yang kuat bagi generasi selanjutnya.
Dahlah berharap, Hidayatullah dengan ratusan jaringan pondok pesantrennya, mampu melakukan lebih banyak lagi dengan melahirkan terobosan cemerlang yang bahkan ide tersebut belum terpikirkan oleh orang, tidak saja di bidang dakwah dan pendidikan, ia juga mendorong terus merambah amal usaha lainnya seperti di bidang kesehatan dan pemajuan perekonomian bangsa.
“Hidayatullah mempunyai peluang yang sangat besar untuk melakukan itu,” pungkasnya.*/Amanji Kefron
Dokumentasi foto oleh Yacong B. Halike/ Hidayatullah.or.id
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Tokoh nasional yang juga mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Prof. Dr.(H.C.) Dahlan Iskan, bersilaturrahim ke Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah sekaligus meluangkan waktu berdiskusi dengan jajaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah di bilangan Otista, Polonia, Jakarta (25/2/2020).
Kedatangan Iskan diterima langsung Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr. H. Nashirul Haq beserta sejumlah jajaran pengurus harian.
Selain sejenak bernostalgia selama interaksinya dengan Hidayatullah sejak mula di Kalimantan Timur, dalam kesempatan anjangsana ini Dahlan Iskan juga mengutarakan ide dan juga masukan-masukannya untuk kiprah Hidayatullah yang menurutnya sudah luar biasa.
Seiring dengan perkembangan zaman yang ditandai dengan disrupsi dan bonus demografi, menurut Dahlan, Hidayatullah perlu terus meluaskan pelayanannya terutama dalam memantapkan gerakan dakwah dan pendidikan.
Dahlan menyampaikan pentingnya memanfaatkan teknologi sebagai ladang dakwah yang di waktu yang sama punya kendali diri untuk mengelolanya.
Menurut Dahlan teknologi tidak dapat lagi dihindari. Kita hanya bisa mengendalikan teknologi menjadi ladang dakwah karena dapat di akses dan memudahkan berbagai pihak.
“Dakwah online itu sangat baik, pengaruhnya kuat, dan, yang terpenting, lebih murah,” jelas Dahlan.
Dalam silaturrahim dan diskusi yang dipandu oleh Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah Ir Candra Kurnianto tersebut turut dihadiri juga oleh Ketua Dewan Pertimbangan Pimpinan Umum (DPPU) Hidayatullah Dr H Abdul Mannan dan Ketua Dewan Mudzakarah Ir Abu A’la Abdullah.*/Amanji Kefron
PERPUSTAKAAN perpustakaan kita mengenal karya-karya besar dan berpengaruh. Daya gugah yang dikandungnya melampaui zaman, berkali-kali lipat lebih panjang dibanding usia penulisnya sendiri.
Terkadang kita pun kesulitan menunjuk negeri tempat pengarangnya berasal, namun karya mereka sangat akrab di telinga kita. Sudah pasti penyusunnya samasekali tidak mengenal kita sebab telah meninggal jauh di masa silam, namun buah pikirannya mampu menjangkau kita dengan sempurna.
Satu diantaranya adalah al-Jami’ ash-Shahih karya Imam Bukhari, atau kita lebih mengenalnya sebagai Shahih al-Bukhari. Konon, beliau mulai menyusunnya ketika berusia 18 tahun, dan baru selesai kurang lebih 14 tahun kemudian.
Lalu, ia disodorkan kepada para ulama’ Ahli Hadits di masa itu untuk mendapatkan komentar dan koreksi. Sampai akhir usia beliau, karya ini terus-menerus diperbaiki. Sedemikian banyaknya perbaikan itu, sampai-sampai salah seorang perawi yang sempat melihat naskah aslinya di kediaman Muhammad bin Yusuf al-Firabriy (murid terakhir Imam Bukhari), mendapati sebuah manuskrip yang penuh dengan coretan dan sisipan.
Imam Bukhari wafat pada usia 62 tahun; usia rata-rata umat Nabi Muhammad. Hanya saja, kitab yang beliau susun masih terus dirujuk sampai sekarang, padahal telah berlalu lebih dari satu milenium sejak kewafatannya pada tahun 256 H (870 M).
Naskahnya disalin dan dicetak ulang entah berapa juta kali, diterjemahkan ke dalam aneka bahasa, dan direkam dalam berbagai media (cetak, audio, video, digital, dll). Kalau kita mencari buku-buku karya manusia yang bisa disebut best-seller of the best, pasti Shahih al-Bukhari pantas termasuk diantaranya.
Jadi, inilah usia yang berkah itu; ditempuh dalam masa yang sepadan manusia biasa pada umumnya, namun memiliki daya tahan yang tidak biasa dan tidak umum.
Belum lagi kenyataan bahwa kitab itu memuat penafsiran sebagian ayat-ayat Al-Qur’an, Sunnah-sunnah Rasulullah, juga Sirah Nabawiyah; sehingga setiap kali ada seorang muslim yang mengkaji atau mengamalkannya maka Imam Bukhari juga mendapat bagian pahala darinya. Entah sudah berapa juta orang yang termotivasi dan terbimbing menuju kebaikan melaluinya.
Hanya saja, selain usia yang berkah ada pula usia yang lacur. Inilah umur yang penuh kemalangan, keburukan, dan kesia-siaan. Kesialan yang ditimbulkannya tidak hanya menimpa pemiliknya, namun juga orang-orang di sekitarnya, bahkan seluruh umat manusia pada umumnya, baik di masa hidupnya maupun jauh sesudahnya. Ambil contoh Karl Marx dan karya monumentalnya, Das Kapital.
Menurut catatan, Marx meninggal dalam usia 65 tahun di London pada bulan Maret 1883. Konon, selama 34 tahun Marx hampir tidak pernah keluar dari perpustakaan British Museum, kecuali sesekali mengunjungi keluarganya yang terbengkalai.
Setiap hari Marx hanya membaca dan mencatat. Volume pertama dari karya itu diterbitkan di masa hidupnya (1867), sedangkan dua volume sisanya terbit setelah ia meninggal.
Antara Imam Bukhari dan Karl Marx terdapat kemiripan-kemiripan tertentu, selain juga perbedaan-perbedaan besar yang tak terjembatani. Keduanya sama-sama meninggal pada usia 60-an, dan memiliki sebuah karya monumental yang gaungnya tetap bertahan berabad-abad.
Masa yang mereka habiskan untuk menulis dan mengedit karya pun kurang lebih setara. Akan tetapi, efek yang mereka berikan lewat tulisannya sangatlah berbeda. Imam Bukhari menginspirasi jutaan pengabdi kebaikan, sementara Karl Marx merupakan sosok di balik para penjahat perang paling kejam sepanjang sejarah modern.
Diktator pertama Uni Soviet, Vladimir Lenin, adalah pengagum setia Marx. Dan, sebagai konsekuensi ideologi komunisnya, selama berkuasa ia telah menjagal jutaan orang. Penggantinya, Joseph Stalin, juga penganut Marxisme fanatik dan telah membantai sekitar 20 juta orang yang menentangnya maupun anggota masyarakat tak berdosa.
Di China, ada Mao Zedong yang masa kepemimpinannya dibanjiri dengan darah dan air mata. Lebih dari 70 juta rakyatnya tewas kelaparan, dibunuh, disiksa, atau menjadi korban revolusi komunis yang dikendalikannya.
Rezim Pol Pot di Kamboja yang komunis juga menghabisi nyaris 29 persen (2 dari 7 juta) rakyatnya sendiri. Kisah serupa terjadi di banyak negara lain seperti Yugoslavia, Vietnam, Polandia, bahkan Indonesia.
Jadi, inilah usia yang lacur itu; dilalui dalam rentang yang setara orang biasa pada umumnya, namun memiliki daya rusak yang tidak biasa dan tidak umum.
Sungguh, setiap kali ada seseorang yang mengkaji atau mengamalkan isi kandungan Das Kapital maka Karl Marx juga mendapat bagian dosa darinya. Entah sudah berapa juta orang yang terseret dan tersesat menuju kebinasaan melaluinya.
Oleh karenanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:
“Tidak ada satu jiwa pun yang dibunuh secara zhalim melainkan putra Nabi Adam yang pertama (yakni, Qabil) pasti ikut menanggung dosa (dari penumpahan) darahnya itu, sebab dialah yang pertamakali mencontohkan pembunuhan.” (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Mas’ud).
Beliau juga bersabda,
“Barangsiapa yang merintis tradisi baik dalam Islam maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya dengan tanpa dikurangkan dari pahala mereka sedikit pun. Dan, barangsiapa yang merintis tradisi buruk dalam Islam maka ia mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya dengan tanpa dikurangkan dari dosa mereka sedikit pun.” (Riwayat Muslim, dari Jarir bin ‘Abdullah).
Pertanyaannya sekarang: “Bagaimana kita akan menghabiskan usia?” Kitalah yang harus memilih dan menentukannya. Wallahu a’lam.
SURAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Tahfidzul Quran (PPTQ) Al-Kahfi Hidayatullah Surakarta, JawaTengah, mengadakan Musabaqah Hifdzil Quran (MHQ) atau Lomba Tahfidz Quran Internal yang diikuti seluruh santri MTs-MA Al-Kahfi.
Acara ini dibuka pada hari jum’at 21 Februari 2020, dimulai dengan sambutan oleh kepala madrasah dan Ketua bagian (Kabag) Ketahfidzan. Dalam sambutannya Kepala Madrasah Ust. Arfan Hamdani, Menyemangati santri agar istiqomah menghafalkan Al Quran.
Setelah itu Ketua bagian Ketahfidzan Ust Khoirul Imam juga memberikan himbauan serta semangat kepada para tahfidz untuk terus menerus meningkatkan semangat dalam menghafal Alquran.
“Tentunya kita akan terus menghimbau kepada seluruh santri untuk terus membaca Al Quran dan jangan pernah bosan, agar kita dan keluarga mendapatkan syafaat Al Quran dihari akhir,” terangnya.
MHQ ini terdiri dari beberapa bagian, pada hari Jumat sendiri para santri mengikuti bapak penyisihan dan peserta yang lolos pada babak penyisihan akan masuk babap final pada Ahad 23 Februari 2020.
MHQ internal ini sendiri terbagi menjadi 3 kategori yaitu 3 juz untuk santri kelas 7 MTs & 10 MA, 5 juz untuk santri kelas 8 MTs, dan 11 MA terakhir 10 Juz untuk santri kelas 9 MTs & 12 MA.
Setiap kategori diambil tiga pemenang sesuai jenjangnya, jadi akan muncul 18 nama pemenang yang diumumkan malam senin selepas babak final di Masjid Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Al Kahfi Hidayatullah Solo.
Tentunya dengan terselenggaranya acara ini diharapkan agar santri-santri semakin semangat menghafal dan menguatkan hafalannya. *Admin @kahfiqurani
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Memasuki pekan kelima perkuliahan, Program Studi (Prodi) Hukum Ekonomi Syariah Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah kembali mengadakan Kuliah Umum. Kali ini acara yang digelar di Aula Marfuah, lantai II mengusung tema “Wakaf sebagai Lifstyle di Era 4.0”, Jumat (21/2/2020).
Dalam paparannya, Asih Subagyo membahas tentang pentingnya wakaf dalam pembangunan ekonomi umat. Terlebih negara-negara maju juga telah menggunakan potensi wakaf tersebut sebagai roda pembangunan ekonomi bangsa mereka.
“Terlihat menonjol itu misalnya di Singapura, Malaysia, Turki, Arab Saudi dan Kuwait,” ucap Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah ini.
Menurut Asih, gerakan wakaf ini tak melulu harus dengan biaya mahal atau nominasi tinggi. Sebab wakaf bisa dalam banyak bentuk dan jenis waktu yang bersifat pilihan (optional).
“Jadi semua orang bisa berwakaf sebagaimana yang dikenal pada zakat, infak, dan sedekah,” lanjutnya menjelaskan.
Termasuk mahasiswa, kata praktisi wakaf tersebut, mereka semua bisa memulai wakaf dari kampus atau asrama. Setidaknya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membantu sesama selama masa perkuliahan di STIS.
“Awali gerakan ini dari hal sederhana dulu,” ajak Asih yang juga Pembina Baitul Wakaf di Hidayatullah.
Di hadapan ratusan mahasiswa STIS, Asih juga bercerita tentang kekuatan ekonomi umat apalabila ditopang dengan gerakan wakaf. Hal ini disebutnya akan berdampak kepada pertumbuhan ekonomi yang semakin mandiri dan berdaya.
“Saat krisis ekonomi, seharusnya solusinya adalah wakaf dan ajaran Islam lainnya. Bukan malah berutang ke luar negeri,” jelasnya.
Kaitan dengan era 4.0, Asih meyakini wakaf justru semakin berkembang dan diminati oleh umat. Sebab wakaf disebutnya memiliki banyak kelebihan dibanding dengan akad atau transaksi lainnya.
“Itu terbukti dengan maraknya praktik wakaf di Negara-negara besar hari ini. Bahkan sampai pada kampus-kampus perguruan tinggi ternama dunia, semuanya memakai wakaf,” tutup Asih.*/MS Daeng Situju