Beranda blog Halaman 473

Pemerintah Berterima Kasih Kepada Hidayatullah Lutim

0

LUWU TIMUR (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kabupaten Luwu Timur menggelar tabligh akbar sekaligus Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Tahun 2020 pada Ahad (09/02/2020). Kegiatan yang berlangsung di Masjid Pondok Pesantren Hidayatullah Wotu, Desa Lampenai ini dibuka oleh Asisten Pemerintahan Setdakab Luwu Timur, Dohri As’ari mewakili Bupati Luwu Timur. Tabligh akbar menghadirkan Ketua  Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Provinsi Sulawesi Selatan, Drs. Mardatillah.

Dalam sambutannya, Asisten Pemerintahan Dohri As’ari memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan tabligh akbar dan Rakerda, ia berharap dengan digelarnya rakerda ini program kedepan bisa lebih baik, ada evaluasi dilakukan sehingga bisa mempercepat program yang telah direncanakan.

Selain itu, Dohri juga menyampaikan bahwa pembangunan yang dilakukan Pemerintah tidak hanya pembangunan fisik tetapi juga pembangunan sumber daya termasuk didalamnya pembangunan dibidang keagamaan, karena menurutnya, salah satu keberhasilan pembangunan dapat dilihat dari pembangunan dibidang keagamaannya. Salah satu program prioritas Pemerintah Kabupaten Luwu Timur yakni prioritas dibidang pendidikan termasuk sekolah-sekolah berbasis keagamaan.

“Saat ini, sudah tumbuh berkembang lembaga-lembaga pendidikan berbasis keagamaan di Luwu Timur. Tentunya hal ini perlu disambut dengan baik, karena dengan keberadaan pesantren dapat menangkal pengaruh negatif yang ada di masyarakat,” katanya.

Terakhir, ia menyampaikan ucapan terima kasih kepada Hidayatullah karena membimbing generasi Islami yang dapat memajukan Kabupaten lebih cerdas dan bermasyarakat.

“Saya berkeyakinan bahwa Hidayatullah akan semakin besar dengan berbagai perannya dalam mendukung pembangunan daerah,” ujar Asisten menutup sambutannya.

Ustdz Mardhatillah menyampaikan bahwa program-program yang dijalankan Hidayatullah sesungguhnya sama dan sejalan dengan apa yang pemerintah harapkan, yaitu membangun sumber daya manusia (SDM)

“Alhamdulillah program Hidayatullah secara wilayah sama dengan program Pemerintah Luwu Timur, bagaimana membangun Sumber daya manusia sehingga tidak ada kendala pengurus DPD Hidayatullah Luwu Timur untuk tidak melakukan program yang telah di canangkan di 2020” Ungkapnya.

Sementara Ketua DPD  Hidayatullah Kabupaten Luwu Timur, Ustadz Najamuddin mengucapkan terimah Kasih atas bantuan yang diberikan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dalam pelaksanaan kegiatan.

“Kami ucapkan terima kasih atas bantuan dan dukungan yang diberikan kepada Hidayatullah,” katanya.

Najamuddin melaporkan bahwa, pihaknya kini sedang merencanakan membangun beberapa pondok pesantren dibeberapa kecamatan untuk menopang penyelenggaraan program Hidayatullah di wilayah ini.

“Saat ini, kami telah hadir lima kecamatan, tahun ini juga akan merencanakan membangun Ponpes di Kalaena dan Wasuponda dan tahun 2023 direncanakan semua kecamatan Hidayatulllah akan hadir di Luwu Timur,” kata Najamuddin.

Ia berharap, dengan adanya dukungan dari pemerintah dan tak terkecuali swadaya masyarakat, rencana tersebut dapat segera terwujud dalam rangka pemanfaatannya untuk kepentingan umat dan bangsa.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Kabag Humas dan Protokol, Rizki Alamsyah, Kades Lampenai, Zaenal Bachri serta pengurus DPC Hidayahtullah se-Kabupaten Luwu Timur.

Semangat Dan Spirit Perjuangan Di Maros

0

Ustadz Mardatillah

MAROS (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel, Ustadz Mardatillah membakar semangat juang peserta Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Gabungan Hidayatullah Maros dan Pangkep. Selasa, 17 Jumadil Akhir 1441 H (11/02/2020), di Maros.

Ustadz Marda menyampaikan bahwa Al-Harakah Al-Jihadiyah dapat dimaknai dengan stamina dan semangat sehingga hal itu tidak boleh dan jangan pernah dikendurkan dalam rangka menghadirkan gagasan, fikiran dan aksi di lapangan.

“Apa yang telah kita nikmati hari ini, di Maros dan Pangkep ini, walau belum seberapa tentunya, adalah merupakan hasil dari kerja keras dan doa keras kita di masa masa yang lalu,” ujar Ustadz Marda, sapaan akrabnya.

Hari ini, menurutnya, pada momentum seperti ini, kita berharap semangat dan spirit kejuangan kita kembali menyala untuk mengarungi samudra amanah setahun kedepan. Dengan nyala semangat yang seperti itulah sehingga kita mampu menghadirkan inovasi bergagasan dan bertindak.

“Ini tuntutan, bukan tawaran. Sebagaimana keyakinan kita, bahwa tantangan dan peluang ke depan pasti lebih ketat dan lebih berat dibandingkan hari ini,” tambahnya.

Lebih jauh, Ustadz Marda melanjutkan, inovasi gagasan dan tindakan menjadikan kiprah dan kehadiran kita di tempat ini semakin dirasakan oleh umat. Terasa dengan lurusnya tauhid dan nawaitu kita, terasa dengan indahnya akhlak dan pola interaksi kita, terasa dengan kuatnya ikatan ukhuwah dan pertautan hati diantara kita. terangnya.

Hidayatullah merupakan lembaga yang menyatukan ummat. Kehadirannya untuk memperkuat tauhid agar tali persaudaraan semakin erat. Untuk menjaga itu, dibutuhkan komitmen persatuan yang baik dan berusaha memproses diri dan orang orang yang terlibat di lembaga tersebut agar meningkat kualitas imannya.

“Sebab tidak perlu ada Hidayatullah di Maros ini kalau ternyata kawan-kawan yang terlibat di sini tidak tegak tauhidnya dan tidak lurus nawaitunya. Tak perlu ada Hidayatullah di Pangkep sana itu jika ukhuwah dan hati para pengurusnya tidak lagi erat dan menyatu. Tidak mesti ada Hidayatullah di mana saja di Sulsel ini jika ternyata di sana itu tidak ada usaha memproses orang-orang yang terlibat didalamnya berakhlak dan beradab,” tandasnya.

Artikel ini pertama kali tayang di laman HidayatullahMakassar.id

Murid Hidayatullah Kobi Belajar Tata Boga dan Napak Tilas RRI

0

SERAM (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Kobisonta, Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah mengadakan rihlah study tour untuk para santrinya pada Senin, 10 Februari 2020.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kobisonta Ust Hasan Hanif mengatakan para peserta study tour ini merupakan santri Sekolah Menengah Pertama (SMP) awal Pondok Pesantren Hidayatullah Kobisonta.

“Adik adik yang ikut kegiatan adalah adik adik kelas satu dan kelas dua, karena kita baru membuka kelas SMP tahun ini,” kata Hasan yang juga merupakan Koordinator Dai KPB Kobisonta.

Agenda kunjungan pertama dari kegiatan ini bertempat di sebuah pabrik roti Renno. Alasan pemilihan pabrik roti Renno menjadi tempat kunjungan belajar ialah sebagai bertambahnya wawasan peserta didik dalam pembelajaran tematik dan juga sebagai bekal pembelajaran dasar kepada peserta didik tentang tata boga atau dunia makanan.

“Kunjungan ini untuk menggali minat serta bakat santri, siapa tahu di kemudian hari ada diantara adik adik kita yang ingin menekuni usaha tata boga roti,” jelasnya.

Selanjutnya, para santri diajak untuk berkeliling melihat-lihat studio Radio Republik Indonesia (RRI). Para santri diajak menapaktilasi bagaimana dahulu Indonesia pernah mempunyai sebuah stasiun radio yang besar dan hampir diminati semua kalangan pada masanya.

Dengan kemajuan teknologi yang ada para pengurus pondok pesantren Hidayatullah ingin mengajarkan kepada peserta didik bahwa stasiun RRI masih berusaha eksis.

“Zaman era digital saat ini banyak generasi muda sudah mulai melupakan radio. Maka kami ingin siswa mengenal penyiaraan dalam bentuk radio sekaligus mengetahui bahwa RRI masih berusaha tetap eksis sampai saat ini,” kata Hasan.

Hasan berharap dengan adanya agenda kunjungan belajar ini para siswa dapat belajar bahwa seiring berjalannya waktu banyak perubahan di sekeliling mereka terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sehingga kelak, lanjut Hasan, para peserta didik di masa yang akan datang, bisa memahami teknologi dan menjadikannya alat dalam berdakwah sesuai kebutuhan perubahan zaman.

“Menjadi pengusaha, ilmuan, penyiar, pengusaha roti atau apapun yang mereka inginkan. Mereka harus berkembang sesuai minat dan bakat kemudian menjadikan profesi, sembari terus berdakwah sehingga mereka tidak kalah oleh zaman, tapi merekalah yang menaklukkan zaman,” tukas Hasan.*/Amanji Kefron

BMH Salurkan Al-Quran untuk Minoritas Muslim Pedalaman

0

Pengurus BMH Sumut menyerahkan Alquran kepada masyarakat minoritas Muslim di Kabupaten Karo.

DELI SERDANG (Hidayatullah.or.id) Hasil survei Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta menyebutkan bahwa 65 persen umat Islam di Indonesia ternyata masih buta aksara Al-Qur’an dan 35 persennya hanya bisa membaca Alquran saja. Sedangkan yang membaca dengan benar hanya 20 persen.

Tentunya hasil survei tersebut sangat meyedihkan yang mana Indonesia merupakan negara dengan mayoritas muslim terbesar di Indonesia.

Maka dari itu lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) turut serta berperan memberantas buta huruf Al-Quran.

Kali ini melalui Program Sedekah Al-Quran, BMH perwakilan Sumatera Utara telah menyalurkan bantuan mushaf untuk didistribusikan ke daerah-daerah yang sangat membutuhkan.

Kepala BMH Perwakilan Sumatera Utara, Lukman A Mutthalib mengatakan, ia bersama tim program BMH Sumut melakukan survei progres pembangunan Rumah Quran di Lau Gedang, Deli Serdang, Ahad (2/2/2020).

Pada Senin (3/2/2020), mereka  melanjutkan survei untuk menyalurkan Al Quran di dua desa minoritas di Kabupaten Karo. “Tepatnya di Desa Tanjung Pulo,  Kecamatan Tiganderket dan Desa Kutabuluh,  Kecamatan Kutabuluh,” jelasnya

Manager Program BMH Sumut, Irfan Mendrofa mengatakan, kedatangan BMH ke lokasi tersebut berkat informasi dari Komunitas Gerakan Sumut Mengajar (GSM) yang tengah melakukan pembinaan di lokasi tersebut.

“Sebuah pemandangan yang mengharukan sesungguhnya melihat sekelompok anak muda yang mengorbankan masa libur kuliahnya untuk membina masyarakat pedalaman. Kami sangat apresiasi,” ungkapnya.

Tiba di Masjid Istiqomah Kutabuluh, kehadiran tim BMH Sumut disambut hangat oleh GSM dan seorang dai, Ustaz Muhammad Soleh Harahap.

“Kami berterima kasih atas kunjungan dan perhatian BMH terhadap dakwah di kampung kami ini. Insya Allah ini menambah semangat kami, bahwa kami tidak sendirian di sini,” kata Ustaz Soleh dengan semangat.

Ia menjelaskan bahwa Masjid Istiqomah tersebut  merupakan masjid satu-satunya di Desa Kitabuluh. “Perjuangannya luar biasa. Guru agama menjadi hal yang sangat langka di sini,” katanya.

Lebih lanjut, Irfan menggungkapkan sebanyak 55 Alquran dan 50 Iqro disalurkan untuk TPA di dua desa tersebut.

“Memang memprihatinkan, anak-anak yang belajar ngaji harus bergantian menggunakan Alquran dan Iqro milik masjid.” tuturnya. “Ayo siapa yang mau Quran dan Iqro baru,” seru Irfan yang kemudian disambut acungan telunjuk oleh anak-anak.

“Terima kasih, abang-abang BMH datang membawakan kami Iqro dan Alquran. Kami janji akan lebih semangat belajar Alquran,” ucap seorang santri yang akrab disapa Dendi.

Selain Dendi, Aisyah juga mengungkapkan hal yang sama. “Sangat senang dapat Iqro ini. Iqro yang kemarin sudah rusak dan gak bagus lagi. Dan ini boleh dibawa pulang, jadi bisa belajar di rumah juga,” tuturnya.

Artikel Ini Pertama Kali Terbit Di Republika.co.id dengan judul “BMH Salurkan Alquran ke Minoritas Muslim di Pedalaman”

Terus Menjaga, Merawat Dan Menyuburkan Kemuliaan Diri

0

DUSTUR Ilahi dalam Al Quran surah Al-Isro’ ayat 70: “Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Kemudian, Al Quran surah Fathir ayat 10:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولَٰئِكَ هُوَ يَبُورُ

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, Maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. dan rencana jahat mereka akan hancur”.

Sesungguhnya manusia itu diciptakan mulia. Mereka mendapat kesempatan untuk mengarungi darat, laut dan udara. Mereka diberikan rezeki yang baik. Mereka diberikan kelebihan yang sempurna daripada mahluk-mahluk-Nya yang lain.

Dan bagi siapa saja yang ingin kemuliaan, maka yang punya kewenangan yang punya otoritas tentang kemuliaan itu hanyalah Allah SWT. Allah akan mengangkat orang yang ingin mendapatkan kemuliaan itu dengan melalui kalimatuttoyyib dan dengan amal-amal shaleh.

Sebaliknya, mereka akan diturunkan derajat kemuliaanya (hancur) ketika mereka Yamkuruunas-sai ’aat merencanakan suatu makar atau kejahatan.

Dua ayat ini patut untuk kita cermati, dan pahami agar dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas ketaatan dan ketaqwaan kita kepada Allah, sebab hanya dengan taqwalah kemuliaan itu dapat kita raih.

Di saat kita membentengi, meluruskan dan menyuburkan ketaqwaan yang pada akhirnya akan mengeskalasi kita untuk dapat menjadi orang yang mulia, maka perlu kiranya untuk membaca diri.

Lalu bagaimana caranya agar kemuliaan yang ada pada diri kita yang telah diberikan oleh Allah itu dapat terawat dan terjaga? Ada tiga benteng untuk menjaga dan merawat kemuliaan kita agar tidak rusak tercederai.

Pertama, ilaihi yash’adul kalimuttoyyibu. Angkat kepermukaan, kedepankan dan lebih dahulukan kalimat thoyyib daripada kalimat khobis. Dalam bahasa Tauhidnya adalah “komunikasi orang yang beragama”. Kemudian Al-Qur’an memberikan bimbingan seperti apa bahasa komunikasi orang yang beragama itu.

Dalam berkeluarga agar keluarga itu menjadi mulia maka berbahasalah dengan bahasa “qulu qoulan ma’rufan”, berkomunikasilah atau berbahasalah dengan bahasa yang ma’ruf.

Dalam hubungan interaksi antar sesama manusia maka berbahasalah, berbicaralah dengan bahasa “qulu qoulan layyinah” berbicaralah dengan lembut santun karena orang lain juga perlu dihargai.

Dalam hubungan kebijakan mengambil keputusan maka berbahasalah, berbicaralah dengan bahasa “qulu qoulan sadiidan” berbicaralah dengan jelas, tegas dan konsisten tidak berubah-rubah.

Dan dalam hubungan sebagai pendidik, dai, guru, dosen maka berbahasalah, berbicaralah dengan bahasa “qulu qoulan baligho” berbicaralah dengan dalil dengan nas yang jelas berdasarkan Qur’an dan Sunnah.

Oleh karena itu mari kita muliakan kemuliaan kita dengan terus mencerdaskan komunikasi kita, menempatkan komunikasih wajib yakni “kalimuttoyyib”, jauhi komunikasi yang “khobis” yang jelek dan yang buruk dengan cara melatih, menata dan meningkatkan serta mengembangkan kualitas kita dalam melakukan pola interaksi dan kominukasi yang baik dan benar “Ilaihi yash’adul kalimuttoyyib”.

Kedua, “wal ‘amalussholih”. Izzah kita, kemuliaan kita akan lebih mantap lagi ketika waktu hidup kita diisi dengan amal yang produktif, amal yang bermanfaat, karya yang produktif, karya yang bermanfaat.

Karena sesungguhnya untuk bisa hidup yang mulia adalah kita perlu karya yang banyak mangandung manfaat buat diri terlebih juga kepada orang lain.

“Yarfa’uhu”, kata Allah, derajatmu, martabatmu dan Izzahmu, akan menjadi baik-baik kalau hidupmu engkau penuhi dengan amal-amal atau karya-karya produktif yang semangkin banyak.

Tapi kalau amal atau karya yang engkau lakukan banyak mengandung kerusakan, keburukan baik bagi dirimu sendiri terlebih kepada banyak orang yang terkena dampaknya maka dengan sendirinya kemuliaan yang telah Allah berikan kepadamu akan berkurang bahkan bisa menghilang dari dalam dirimu.

Jadi jangan biarkan hidup dan kehidupan kita terhiasi oleh pengaruh amalan buruk dengan bentuk karya yang dihasilkan dari pola komunikasi yang keliru.

Komunikasi keliru akan menjebak kita untuk terjerembab ke dalam perbuatan amal atau karya yang sia-sia tak berguna bahkan merugikan serta melenyapkan kemuliaan yang telah Allah berikan kepada kita.

Yang Ketiga, “wallaziina yamkuruuna as saii’aati”. Kemuliaan kita akan tergerusi ketika melakukan “makar saii’aat”. Makar ini bukan berarti sekedar melawan negara maksudnya, tapi ada urusan jahat. Dalam terminologi Qur’an istilah “makrun” diterjemahkan dalam empat istilah yaitu:

  1. Makar dalam bentuk “bughot” artinya melawan pemimpin yang sah, atau melawan negara.
  2. Makar dalam bentuk “mungkar” artinya melanggar atau melawan peraturan-peraturan formal yang sudah disepakati.
  3. Makar dalam bentuk “ma’siat” artinya segala sesuatu atau bentuk perbuatan yang bertentangan, dengan akhlak dan moral.
  4. Makar dalam bentuk saii-ah artinya bentuk pelanggaran yang berkaitan dengan hasanah oleh karena yang melanggar Istighfar

Kesimpulan

Jaga, rawat dan tumbuh suburkanlah kemuliaan diri kita dengan terus menata, dan mencerdaskan pola serta cara kita berinteraksi serta berkomunikasi dengan kalimuttoyyib, kemudian jauhi komunikasi yang khobis yang jelek dan yang buruk.

Setiap makrus saii’aati atau rencana jahat, tidak akan pernah bisa berhasil, bahkan pelakunya kelak akan mendapatkan resiko yang berat berupa azab/siksaan baik semasa hidup di dunia apalagi kelak di akhirat.

Sebagai orang yang beriman maka hidupkanlah rasa kepedulian terhadap sesama untuk saling mengingatkan dengan komunikasi, ucapan dan perkataan yang baik dan benar.

Rasulullah SAW sabda: “Jika melihat kemungkaran maka ubahlah dengan lisanmu, jika tak mampu, ubahlah dengan tanganmu, jika tak mampu ubahlah dengan doamu dan itu adalah selemah-lemahnya Iman”.*/Cik Meron, sekretaris DPW Hidayatullah Sumatera Barat

Hidayatullah Ngawi Menggelar Acara Seminar Parenting

0

NGAWI (Hidayatullah.or.id) — Pendidikan Integral Pesantren Hidayatullah Ngawi yang terdiri dari unit Lembaga Pendidikan TK Yaa Bunayya, SD Luqman Al Hakim dan SMP Luqman Al Hakim menggelar seminar parenting bertempat di Gedung Seni Pemkab Ngawi, Jl. Teuku Umar, Kabupaten Ngawi, Ahad (9/2/2020)

Seminar yang mengambil tema “From Good to Great Parent: Membangun Imunitas Anak Terhadap Efek Negatif Gadget” itu menghadirkan narasumber Ust. Suhadi Fadjaray yang dikenal sebagai motivator nasional dan konsultan pendidikan.

Seminar diawali dengan penampilan senandung nasyid dari putra putri anak didik KB-TK Ya Bunayya dan SD Luqman Al Hakim Ngawi.

Dilanjutkan acara pembukaan dan pembacaan ayat suci Al Qur’an dari santri SMP Luqman Al Hakim Ngawi, dalam kesempatan itu ananda Hafidz membacakan Al Qur’an Surat Luqman ayat 12-19. Ayat inilah dasar dan motivasi Lembaga Pendidikan Islam Integral Hidayatullah Ngawi menamai unit pendidikannya dengan nama “Yaa Bunayya” dan “Luqman Al Hakim”.

Ketua panitia penyelenggara, Septyadi David, menyampaikan bahwa kegiatan seminar parenting ini dilakukan rutin setiap tahun sebagai upaya menyelenggarakan pendidikan yang sinergi antara sekolah dan orang tua.

“Mendidik anak menjadi pribadi yang sholeh, sholehah, cerdas, dan taat pada orang tua bukan hanya tugas guru saja. Peran orang tua sebagai madrasah utama juga sangat penting,” kata David dalam sambutannya.

Dikatakan David, menjadi orang tua yang bijak dan baik dalam mendidik anak adalah dambaan seorang anak. Lantas bagaimana cara orang tua mendidik anak dengan baik serta bagaimana peran ayah dan Ibu dalam membangun imunitas anak terhadap efek negatif gadget di era ini?

“Maka dari problematika inilah, seminar parenting ini diadakan,” terang ustadz muda yang mengampu pelajaran IPA di SMP Luqman Al Hakim Ngawi ini.

Sementara itu, dalam penyampaian materinya, Ust Fadjaray mengawali dengan mengajak orang tua untuk selalu bersyukur menerima karunia terbesar Allah SWT berupa anak.

“Apapun keadaan anak kita, harus kita syukuri. Jangan banyak menuntut anak untuk bisa ini dan itu. Jangan bandingkan anak kita dengan anak lain,” terang Fadjaray mengawali materinya.

Padahal jika disadari, lanjut Fadjaray, jika anak bisa mengeluh, bisa jadi anak akan mengadu seperti ini, “Ya Allah mengapa engkau lahirkan aku dari orang tua yang tidak faham mendidik anak dan tidak faham agama” tambah penulis buku Ayah Penyejuk Jiwa itu, mengundang perhatian peserta seminar.

Fadjaray menyampaikan lebih lanjut dalam pemaparannya, untuk menjadi orang tua yang pantas memiliki anak keturunan yang idaman, shalih dan bertaqwa maka wajib bagi orang tua untuk memperbaiki diri menjadi orang tua yang baik dan bertaqwa.

“Orang tua harus menjadi contoh baik bagi anak, karena itu yang lebih mudah diterima anak dari pada kata-kata nasihat kepada anak. Karena anak lebih mudah menangkap sesuatu yang dilihat dari pada yang didengar. Maka perlihatkan dan dengarkanlah yang baik-baik kepada anak-anak kita.” Lanjutnya.

Untuk membentengi anak dari efek negatif gadget, Fadjaray memberikan beberapa tips diantaranya adalah membatasi penggunaan gadget pada anak.

Dia menyebutkan, anak usia 0-2 tahun tidak boleh terkena paparan teknologi sama sekali. Anak usia 3-5 tahun dibatasi menggunakan teknologi hanya satu jam per hari, dan anak usia 6-18 tahun dibatasi 2 jam saja per hari.

“Bila anak bermain game 15 jam/minggu atau lebih dari 2 jam/hari maka anak akan menjadi kecanduan secara pathologis,” jelas Fadjaray lebih rinci.

Orang tua sangat diharapkan mampu menjadi teman bermain dan figur yang penuh kasih sayang kepada anaknya untuk mengalihkan kecenderungan anak kepada gadget maupun hal negatif lain sebagai tantangan zaman modernisasi dan liberalisasi komunikasi.

“Jika anak laki-laki kehilangan figur dan kasih sayang dari ayahnya maka ia bisa tumbuh menjadi gGay. Begitu juga jika anak perempuan kehilangan figur dan kasih sayang dari ayahnya maka ia bisa tumbuh menjadi lesbi. Na’udzubillahi minta dzalik,” jelas Fadjaray, yang juga menulis buku Berseri Menjadi Ibu.

Orang tua dan wali murid yang hadir mengikuti acara mengikuti seminar dengan penuh antusias. Pemaparan materi yang lugas, interaktif dan atraktif dari Suhadi Fadjaray tak pelak membuat peserta seminar bersemangat, terkadang diselip tawa riang dan juga haru memenuhi ruangan.

Di akhir sesi banyak orang tua yang sharing pengalaman mendidik anak. Salah satunya wali murid kelas V SD Luqman Al Hakim Ngawi, yang menyatakan bahwa, “Sesungguhnya yang juga perlu diimunisasi terhadap efek negatif gadget selain anak adalah orang tuanya bahkan kakek dan neneknya,” jelas ibu separuh baya itu, membagi kisahnya.

Menyadari banyak tantangan mendidik buah hati pada generasi saat ini, memang dibutuhkan usaha yang lebih baik lagi.

“Semoga dengan adanya seminar ini mampu membantu orang tua dalam mendidik putra putrinya untuk menjadi generasi yang shalih, shalihah tangguh dan berkualitas di era modern ini,” harap ketua penyelenggara, Septyadi David, diakhir acara.*/Galih Pratama Yoga

Semangat Pengantin Baru Merintis Pesantren

Arjun (Paling Kiri) dai Hidayatullah yang langsung ditugaskan merintis pembukaan pondok sesaat setelah menikah.

SELAYAR (Hidayatullah.or.id) — Belum juga kering janur kuning, begitulah istilahnya ketika Arjun harus memboyong istrinya ke lokasi tugas dakwahnya usai mengikuti Pernikahan Mubarokah 43 pasang di Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur beberapa waktu lalu.

Setelah lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok, pria berdarah bugis itu diamanahkan kepada Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan.

Dalam pandangannya, setelah menikah ia akan ditugaskan di bagian amal usaha, pengasuh atau guru di sejumlah cabang Hidayatullah di Sulsel.

“Namun ternyata saya diamanahkan di Pulau Selayar. Belum ada apa-apa di sana, belum ada cabang Hidayatullah, belum ada bangunan, masih tanah kosong. Kami harus membangun dari nol merintis pesantren Hidayatullah,” kisahnya kepada mmn baru-baru ini.

Pulau Selayar mungkin masih sangat asing di telinga banyak orang, pun jika sudah pernah mendengar yang terbayangkan adalah sebuah pulau terpencil di Sulawesi Selatan berikut dengan cerita-cerita naas kapal tenggelam ketika berlayar di dekat perairannya.

Namun sesulit apa pun medannya, tak ada dalam kamus dakwah untuk menyerah, dengan perlengkapan seadanya, pengantin baru itu berangkat ke Selayar ditemani seorang pengurus DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan.

“Sebelum berangkat sebenarnya kita sudah deal mengontrak rumah di sana di daerah kotanya. Tapi setelah sampai ternyata rumah itu naik harganya. Akhirnya kita menumpang di rumah seorang tokoh setempat, namanya Haji Patta Timoro. Seiring waktu Pak Aji mengizinkan kami untuk tinggal di rumah lamanya sampai tempat tinggal di lokasi yang akan kami jadikan pondok selesai,” ungkapnya.

Dari rumah itulah, ia setiap hari harus bolak-balik ke lokasi lahan yang akan dibangun pondok pesantren sekitar 7 kilometer ke arah perkampungan. Tepatnya di Dusun Cinimabela, Desa Perak, Kecamatan Bontomanai, Kabupatan Kepulauan Selayar.

Lahan itu waqaf dari orangtua Ustadz Massiara, pengurus DPW Hidayatullah Sulsel yang mengantarnya ke Selayar. Pelan-pelan ia mulai merintis Hidayatullah di sana, silaturahim ke masyarakat dan mengenalkan Hidayatullah.

“Syukur Alhamduliah, kami disambut baik oleh masyarakat karena memang pesantren di tempat ini masih sangat minim,” pungkasnya.

Rencana kedepannya, lahan kosong itu akan disulap menjadi Pondok Pesantren Tahfizh Qur’an -SMA-SMP.

Tentu saja pekerjaan rumah Arjun masih banyak, ia harus melakukan banyak pendekatan ke berbagai pihak. Selama ini ia bolak-balik dari kontrakannya dengan ojek atau motor pinjaman. Ia juga harus mencari operasional pembangunan pondok. Anda berminat membantu?


Artikel ini pertama kali terbit di Hidayatullah.com dengan judul “Ketika Pengantin Baru Ditugaskan Merintis Pesantren”

TASK Hidayatullah Turun untuk Korban Kebakaran di Tolitoli

0

TOLITOLI (Hidayatullah.or.id) — Musibah kebakaran besar yang menimpa pemukiman warga di Kelurahan Sidoarjo, Tolitoli,  pada Ahad (2/2) malam membuat 385 rumah warga terkena dampak kebakaran. Dampak dari musibah tersebut membuat 526 Kepala Keluarga (KK)  dengan total lebih dari 1.500 jiwa terpaksa mengungsi.

Sebagai bentuk tanggung jawab untuk hadir dan mengambil peran, Tim Aksi Siaga Kemanusiaan (TASK) Hidayatullah langsung terjun ke lokasi kejadian. TASK Hidayatullah terdiri dari antara lain, Laznas BMH dan SAR Hidayatullah.

“TASK Hidayatullah langsung hadir ke lokasi untuk memberikan bantuan evakuasi sekaligus bantuan logistik dan beragam kebutuhan pengungsi pada umumnya, seperti makanan cepat saji, air mineral, selimut dan pakaian layak,” terang Korrdinator Lapangan TASK Hidayatullah Tolitoli, Ismail.

Ismail lalu menambahkan, sejak hari pertama hingga sampai Kamis (6/2), TASK Hidayatullah terus membersamai para pengungsi yang beralamat di Kelurahan Sidoarjo, Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah.

“Kondisi lokasi sekarang luluh lantak, tidak ada yang tersisa. Masyarakat memang membutuhkan makanan dan air minum serta pakaian dan perlengkapan wanita dan bayi. Tetapi yang sangat mendesak sekarang adalah adanya MCK darurat bagi warga, sekaligus tenda-tenda untuk mereka berteduh dari terik dan hujan. Terlebih sekarang memasuki musim penghujan, juga alas tidur yang layak,” jelas Ismail Ali.

Selain telah memberikan bantuan makanan dan minuman, TASK Hidayatullah Kamis (6/2) pagi juga telah menyalurkan bantuan seragam sekolah untuk beberapa anak yang tidak lagi memiliki seragam sekolah berikut perlengkapan lainnya.

TASK Hidayatullah juga akan masih berada di lokasi kejadian hingga masyarakat secara keseluruhan mendapatkan bantuan. Baik bantuan berupa moral maupun berupa moril

Teknologi dan Ketaatan

UMUMNYA orang kagum dengan teknologi yang terus maju dan berkembang, sampai-sampai ada yang memandang agama tak begitu penting lagi dalam kehidupan.

Hal ini wajar, karena hidup manusia dapat berjalan begitu cepat dan mudah karena temuan teknologi, sehingga tidak ada urusan teknis yang membutuhkan waktu panjang seperti dahulu.

Masak misalnya, dahulu harus cari kayu bakar dan meletakkan panci di atas tungku. Kini, cukup masukkan beras ke dalam ricecooker sambungkan ke listrik, beberapa saat kemudian matang. Bismillah, “Allahumma bariklana fima rozaqtana.”

Kalau mau bertanya lebih dalam memikirkan, kita bisa ajukan pertanyaan, “Kira-kira apa maksud Allah hadirkan kehidupan akhir zaman secara mudah dalam hal kebutuhan teknis manusia dengan temuan teknologi yang seakan tiada henti?”

Menjawabnya kita bisa melakukan beberapa pendekatan. Pertama, normatif. Kedua, empiris. Ketiga, rasional.

Secara normatif, kehadiran teknologi dalam kehidupan dunia ini adalah keniscayaan, sebab Allah memang yang menghendaki kehidupan ini mudah bagi manusia. Bahkan dalam konteks laut, sejak 1400 tahun silam, Allah telah menyebut yang namanya kapal di laut.

وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنْشَآَتُ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ

“Dan kepunyaanNya-lah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung.” (QS. Ar Rahman: 24).

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mengatakan bahwa bahtera tersebut nampak besar seperti gunung. Jadi, jangan pernah merasa teknologi itu hadir karena usaha manusia belaka, tapi karena memang Allah kehendaki itu terjadi bagi kehidupan ini.

Bahwa kemudian belakangan banyak penemu teknologi dari peradaban Barat, hal ini harus mendorong kita untuk melihat secara lebih tajam, darimana peradaban Barat itu bangkit dan berkembang dalam hal teknologi.

Secara empiris, Allah mewajibkan manusia untuk beribadah. Dalam sehari semalam ada sholat 5 waktu. Mungkinkah manusia menunaikan kewajiban itu jika dalam sisi memenuhi kebutuhan sehari-hari memerlukan waktu yang lama dan tenaga yang besar?

Di sini kita harus paham, mengapa teknologi itu dihadirkan, sehingga orang mau makan tidak perlu waktu lama. Bahkan mau ke luar negeri tinggal terbang dengan pesawat juga tidak begitu lama.

Artinya, tak akan bisa diterima alasan orang tidak beribadah karena sulitnya memenuhi kebutuhan hidup. Idealnya, semakin canggih teknologi semakin kuat ketaatan umat manusia kepada-Nya. Faktanya?

Terakhir secara rasional. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa suatu waktu Khalid bin Walid menjadi imam sholat, karena kepribadiannya lebih dominan sebagai panglima di medan perang, ia pun membaca surah pendek dan dinilai oleh yang ahli Al-Qur’an sempat bacaannya kurang tepat. Ketika diingatkan perihal itu, Khalid menjawab, “Saya memang sibuk jihad.”

Sekarang apakah masih rasional seseorang mengatakan dirinya tak sempat baca Al-Qur’an karena kesibukan? Apakah bisa diterima akal sehat dalam sehari orang tidak sempat sholat lima waktu. Bukankah kehidupannya sudah Allah mudahkan.

Cuaca panas, tinggal on-kan ac, sejuk pun diperoleh. Ingin minum kopi panas, dispenser pun sudah tersedia. Kurang apalagi? Di sini, rasio kita sebenarnya dalam “gugatan” nyata, mengapa masih malas dalam ibadah dan ketaatan, padahal semua sisi kehidupan manusia saat ini benar-benar telah mudah. Allahu a’lam.

Imam Nawawi

Keberuntungan Dekat dengan Orang Mukmin

0

Oleh Ust Hamim Thohari*

PENGARUH teman sungguh sangat besar. Rasulullah SAW memberi gambaran yang sangat pas tentang teman. Beliau bersabda:

“Perumpamaan teman yang baik dan perumpamaan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, setidak-tidaknya engkau tetap dapat bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi percikan apinya mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap akan mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, setidaktidaknya engkau tetap dapat bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi percikan apinya mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap akan mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Ada dua keuntungan yang bisa didapat dari berteman dengan orang baik. Pertama, kita akan terpengaruh atas kebaikannya. Aura teman yang baik akan memancar, memberi pengaruh positif, dan mengubah akhlak menjadi mulia dan terpuji.

Orang yang bergaul dengan teman yang baik, tanpa disadari akan menjadi baik. Kata-katanya terkontrol, perbuatannya terjaga, dan adabnya mulia. Jika masih ada kehendak-kehendak jahat dalam dirinya, masih ada penjaga yang dapat djandalkan, yaitu sifat malu. Malu kepada Allah SWT dan malu kepada teman baiknya.

Keuntungan kedua, bimbingan, arahan, tausiyah, dan nasehat senantiasa akan didapat dari teman yang baik. Teman baik tentu tidak akan membiarkan temannya terjerumus dalam kesesatan. Teman yang baik akan menghentikan langkah kaki temannya yang menjurus ke jurang kehancuran.

Teman yang baik akan menghentikan ayunan tangan temannya yang mengarah kepada kejahatan. Teman yang baik akan menghentikan lisan temannya yang berkata-kata kasar, kotor, keji, bohong, dan munkar.

Selain dua keuntungan tadi, masih ada manfaat lain. Kecintaan dan doanya sangat kita butuhkan. Teman yang baik akan senantiasa mendoakan kebaikan bagi kita, baik saat diminta ataupun tidak diminta. Saat kita masih hidup atau pada saat kita sudah meninggal dunia.

Tak hanya itu, teman yang baik akan memberi pertolongan terakhir saat kita di akherat. Jika nanti kita divonis masuk “neraka”, masih ada teman baik kita yang bisa diharapkan akan dapat menolong kita, yaitu dengan memberikan syafaat bagi kita.

Rasulullah SAW bersabda,

“Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari nereka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudaranya-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari Kiamat. Mereka memohon, Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat dan juga haji.”

Dijawab, “Keluarkan (dari nereka) orangorang yang kalian kenal”. Hingga wajah mereka diharamkan dibakar oleh api neraka.”

Para mukminin inipun mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di neraka. Ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya.

Kemudian orang mukmin itu lapor kepada Allah SWT;, “Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dientaskan dari neraka sudah tidak tersisa”.

Allah berflrman, “Kembali lagi, keluarkanlah yang masih memiliki iman walau seberat dinar.” Maka orang mukmin yang disiksa di neraka banyak yang dikeluarkan. Kemudian mereka melapor, “Wahai Tuhan, kami tidak meninggalkan seorangpun orang yang Engkau perintahkan untuk dientas.” (Riwayat Muslim)

*Anggota DPPU Hidayatullah. Artikel ini diambil pada majalah Suara Hidayatullah edisi September 2019.