Beranda blog Halaman 474

Menari Menurut Irama Orang Lain

0

Oleh Ustadz DR. H. Nashirul Haq, MA*

Misi utama Hidayatullah adalah membawa umat manusia kembali kepada fitrah mereka. Mengakui eksistensi Allah SWT sebagai Rabb yang Maha Tunggal, menyembah hanya kepada Allah SWT semata, dan mengakui Allah SWT sebagai satu-satunya Zat yang berhak terhadap kekuasaan tunggal atas hukum.

Kita sering kali terjebak pada agenda pihak lain. Padahal itu di luar konteks manhaj gerakan kita (Hidayatullah). Istilahnya “menari menurut irama orang lain”. Orang sibuk bicara pilkada, pemilu, dan pilpres, kita juga terpaksa ikut-ikutan bicara hal itu. Orang sibuk bicara masalah khilafiyah, kita juga ikut-ikutan sibuk membahasnya. Menghadapi serangan harakah lain, kita seperti kebakaran jenggot. Akhirnya, kita lupa dengan metode perjuangan kita sendiri, lupa dengan agenda kita sendiri.

Ideologi Islam yang ditanamkan oleh Allah SWT melalui wahyu kedua pada intinya adalah mengajarkan superioritas.  Suatu sikap mental untuk menjadi pemenang dan bukan pecundang. Realitas kaum Muslimin hari ini selalu diselubungi oleh sikap mental inferioritas. Tidak ada keyakinan yang sungguh-sungguh bahwa Islam yang mereka miliki dan perjuangkan adalah suatu kebenaran yang telah diturunkan oleh Allah SWT. Islam yang akan dapat mengatasi segala sistem, ideologi, ajaran dan bahkan kekuasaan politik manapun yang eksis pada hari ini. Sikap mental inferior inilah yang kemudian muncul dalam berbagai bentuk aksi dan tindakan yang tidak sesuai dengan contoh dan teladan yang telah diberikan oleh Rasulullah SAW.

Wahyu ketiga yaitu surat al-Muzzammil ayat 1-10 adalah metode pembinaan syakhsiyah mu’minah, individu yang beriman. Seorang mukmin yang sudah memiliki falsafah hidup yang benar, yaitu tauhid serta sudah pula memiliki ideologi yang benar, yaitu meyakini kebenaran dan keunggulan Islam akan diberikan pencerahan oleh Allah SWT sebelum mengarungi kancah perjuangan yang lebih luas.

Oleh karena itu, kesadaran dan keyakinan saja tidak cukup dan tidak memadai, melainkan harus dibekali dengan berbagai perangkat dan kemampuan personal yang mumpuni. Kemampuan personal itu meliputi kualitas spiritual, intelektual dan mental. Melalui perintah-perintah dalam surat al-Muzzammil, Allah SWT menyediakan kawah Candradimuka bagi pembinaan ruhani melalui aktivitas pada malam hari (qiyamul lail) yang meliputi shalat, tartil al-Qur’an dan berzikir. Sedangkan kekuatan intelektual diasah melalui memperbanyak tabattul atau kontemplasi. Sementara kekuatan mental disiapkan dengan mengasah kebiasaan untuk bersabar dan mengalah untuk menang.

Tidak ada metode gerakan perjuangan dalam dunia ini yang begitu lengkap dan detailnya dalam menyiapkan kekuatan individu, khususnya pada hal-hal yang bersifat soft skill. Yaitu yang menyangkut kekuatan ruhani (spiritual), intelektual dan mental.

Allah SWT tidak memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengasah pedang, atau membangun benteng, atau mengumpulkan dana, pada masa-masa awal turunnya wahyu ini. Allah SWT sebaliknya memerintahkan Rasulullah SAW bersama para pengikut beliau yang masih sangat sedikit pada waktu itu untuk menyiapkan diri, yaitu melalui riyadhah ruhiyah pada malam hari, berupa latihan-latihan yang bersifat ruhaniyah, intelektual dan mental.

Di balik rahasia pencerahan ruhani yang seperti itu, Allah SWT akan menurunkan kekuatan yang bersifat transenden, yaitu berupa qaulan tsaqiila, suatu perkataan yang berat.

Para ahli tafsir menerangkan qaulan tsaqiila adalah al-Qur-an itu sendiri yang mengandung keagungan, sehingga dikatakan perkataan yang berat. Akan tetapi, perkataan yang berat dapat pula dimaknai sebagai suatu kemampuan untuk meyakinkan manusia akan kebenaran wahyu yang beliau bawa.

Seorang individu mukmin harus pula senantiasa melakukan aktivitas tabattul, upaya untuk melepaskan diri dari semua pengaruh duniawi dan terfokus hanya semata-mata kepada Allah SWT. Atau dapat pula kita sebut sebagai kontemplasi. Melalui kontemplasi tidak hanya ruhani yang dapat tercerahkan, tetapi juga intelektual. Karena, merupakan sarana untuk menyerap ilham, petunjuk dan taufik dari Allah SWT. Jika dalam berzikir yang bekerja adalah hati dan lisan, maka dalam tabattul atau kontemplasi yang bekerja adalah pikiran, yang tertuju hanya kepada Allah SWT semata. Masya Allah, luar biasa perangkat yang telah disiapkan oleh Allah SWT bagi kejayaan umatnya

Persiapan terakhir adalah tawakkul, sabar dan hijrah. Tawakkul adalah kesadaran diri untuk menyerahkan segala keputusan akhir kepada Allah SWT. Dan persiapkanlah diri untuk bersabar. Karena, engkau pasti akan berhadapan dengan segala caci maki, hinaan dan pendustaan dalam misi menyebarkan risalah tauhid ke muka bumi.

Jalan dakwah yang akan engkau tempuh bukanlah jalan beralaskan permadani merah yang empuk, bertaburkan intan permata dan emas. Bukan pula jalan yang penuh pujian dan pengagungan. Persiapkanlah mentalmu untuk bersabar, siap untuk berhijrah meninggalkan kampung halaman, sanak keluarga, sahabat, orang-orang yang engkau kasihi. Bahkan ibu, bapak, anak dan saudara kandungmu, tidak jarang yang akan menjadi musuhmu.

Kalau metode ini dapat secara konsisten kita terapkan dalam mencetak kader-kader pejuang risalah tauhid, siapa lagikah yang sanggup untuk menandinginya? Misi dan tugas apakah yang tak akan sanggup dipikul oleh mereka yang tercerahkan dan terlatih dalam pelatihan Ilahiyah yang seperti itu?

Tapi kita sering tidak sabar, ingin cepat tiba, mau mencari short cut, sehingga tergoda untuk meninggalkan khazanah dan kekayaan yang kita punya, dan berpaling memakai metode pembinaan orang lain yang mungkin terlihat lebih bergemilau. Percayalah, tidak ada yang lebih sempurna dari madrasah Ilahiyah ini dalam mencetak kader-kader pejuang unggulan.

Manhaj ini juga memberikan garis-garis yang sangat jelas dan tegas dalam membangun kekuatan organisasi dan menjalankan perjuangan melalui dakwah. Perintah dan kewajibannya sangat jelas, yaitu qum fa andzir, bangun dan beri peringatan.

Kepada siapa? Kepada seluruh umat manusia, kepada seluruh dunia. Dengan apa? Dengan tauhid, memperingatkan manusia untuk kembali kepada Allah SWT. Bagaimana caranya? Dengan membesarkan dan mengagungkan Dia, mensucikan diri dan lingkungan, meninggalkan segala jenis kekotoran dengan banyak memberi tanpa mengharap balas, dan dengan bersabar. Wallahu a’lam.*


*Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah. Naskah diambil dari rubrik Khiththah Majalah Suara Hidayatullah edisi November 2019

Majelis Reboan: Pemanfaatan Energi Baru Dan Terbarukan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kegiatan diskusi rutin Majelis Reboan yang diadakan Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah bertempat di Aula DPP Hidayatullah Jakarta, pada Rabu (05/02/2020) membahas tema “Pemanfaatan Energi Terbarukan Tepat Guna di Indonesia”.

Kabid Perekonomian DPP Hidayatullah, Asih Subagyo mengatakan, ormas tersebut memilki pondok pesantren yang meliputi seluruh di seluruh Indonesia. Dengan jumlah pondok yang banyak, tentunya jika memanfaatkan energi yang terbarukan, akan berdampak sangat besar pada aspek ekonomi.

“Hidayatullah mempunyai jumlah cabang 580 pondok pesantren, rata-rata pembayaran listrik per bulan mulai dari Rp 5-50 juta, tentunya pondok-pondok ini akan bisa berhemat jika memanfaatkan energi terbarukan,” jelas Asih.

Asih menjelaskan bagaimana Indonesia mempunyai keanekaragaman alam sangat banyak, yang bisa dimanfaatkan menjadi sumber listrik. Sehingga, biaya listrik untuk rakyat bisa lebih murah.

“Kita sudah mempunyai beberapa sistem pembangkit listrik, namun masih sangat konvensional sehingga biaya masih terus naik,” jelasnya.

Praktisi Energi Baru Terbarukan Dipl Ing Haikal Jauhari MSc, selaku salah seorang pembicara dalam Majelis Reboan kali ini, menjelaskan, alam Indonesia sangat kaya akan energi baru dan juga terbarukan. Namun tidak semua tempat dapat memiliki energi yang cukup.

“Indonesia merupakan negara kepulauan, oleh karena itu cuaca seringkali berubah. Jika menggunakan energi surya, terkadang awan tiba-tiba menutupi,” jelasnya.

Namun, walaupun cuaca yang seringkali berubah, di Indonesia mempunyai kesempatan memanfaatkan sumber energi yang lain.

“Selain energi matahari, Indonesia juga bisa memanfaatkan energi tanaman semisalnya singkong, jika energi panas tidak memungkinkan,” terangnya.

Oleh karena itu, Haikal menjelaskan, dengan jumlah pondok pesantren yang sangat banyak, Hidayatullah mempunyai kesempatan yang besar untuk memanfaatkan energi terbarukan di beberapa tempat.

“Akan sangat menarik jika Hidayatullah memakai sistem solar di tempat yang sangat memungkinkan. Tentunya ini akan menghemat pengeluaran,” pungkasnya.

Dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta Dr Saiful Bahri Lc MA selaku pembicara kedua, menjelaskan bahwa sesungguhnya proses memanfaatkan alam untuk dijadikan sumber energi listrik sudah ada di dalam Al-Qur’an.

“Kata khilafah ada di dalam Al-Qur’an. Prinsip khilafah ialah memakmurkan bumi. Allah Subhanahu Wata’ala meminta kita untuk mengurus bumi, baik untuk hari ini maupun hari ke depan,” terang Wakil Ketua Komisi Seni Budaya MUI Pusat ini.

Walaupun kebanyakan orang menyebutnya arti khilafah kebanyakan ialah penguasa, namun sesungguhnya khilafah ialah mereka yang memakmurkan bumi. Mereka yang menggunakan energi terbarukan tanpa merusak sistem alam yang bisa berakibat buruk.

Khilafah prinsipnya memakmurkan bumi Allah, sekalipun disebutkan sebagai penguasa, maka tidak seharusnya bumi dieksploitasi memakai hawa nafsu, karena ada aturan dan panduannya.*Amanji Kefron

Pengurus Hidayatullah Balikpapan Silaturrahim dengan Kapolda

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan melakukan silaturrahim dengan Kapolda Kalimantan Timur yang baru Irjen Pol. Muktiono, bertempat di ruang kerjanya di Balikpapan, Selasa, 4 Februari 2020.

Agenda kunjungan ini merupakan salah satu agenda rutin Yayasan Hidayatullah Balikpapan dalam rangka menguatkan jalinan silaturrahim dan terciptanya sinergi yang lebih mantap lagi antar dua bela pihak.

Sebelumnya Kapolda Irjen Muktiono meminta maaf kepada pengurus harian Pondok Pesantren Hidayatullah karena belum sempat bersilturahmi ke Gunung Tembak.

“Mohon maaf belum sempat silaturrahim, ada agenda untuk memenuhi panggilan ke Jakarta,” kata Irjen Muktiono.

Ia sangat mengapresiasi silaturahim ini. Semua elemen masyarakat, polisi dan pesantren, kata dia, memang harus selalu menjalin sinergi dalam rangka menjaga dan membangun Kaltim. Apalagi mengusik keseriusan pemerintah menjadikan Kaltim sebagai Ibu Kota Negara (IKN).

“Ini adalah anugerah yang harus disyukuri. Dengan terus meningkatkan layanan kepada masyarakat,” ungkapnya.

Ustadz Hamzah Akbar selaku ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan menjelaskan bahwa sesungguhnya Pondok Pesantren Hidayatullah telah menyatu menjadi bagian dari elemen pemerintah yang akan terus bersinergi membangun Indonesia, khususnya Kaltim untuk menjadi lebih baik lagi

“Ponpes Hidayatullah Balikpapan bersinergi dengan kepolisian yang merupakan bagian dari elemen pemerintah dalam membangun masyarakat, bangsa dan negara untuk menciptakan generasi yang unggul dan amanah,” kata Hamzah.

Dia menerangkan, antara kepolisian dan pondok pesantren akan terus bersinergi membangun Kaltim dengan salah satu fokusnya ialah membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) yang unggul untuk mempersiapkan realisasi pemindahan ibu kota.

“Menyikapi Provinsi Kalimantan Timur sebagai calon Ibu Kota Negara (IKN) tentu harus mempersiapkan SDM yang terampil, unggul, profesional dan mandiri serta spritual yang kuat,” kata Hamzah yang pernah menjabat Ketua DPW Hidayatullah Kaltim ini.

Pihaknya pun menyampaikan terima kasih kepada Kapolda atas arahan dan apresiasinya kepada Hidayatullah Balikpapan untuk terus maju dan berkhidmat untuk nusa dan bangsa.

“Pesan pesan beliau menjadi masukan untuk memperkuat pembangunan generasi dalam memasuki pasar digital yang super cepat dan canggih,” imbuh Hamzah.

Dia menambahkan, selama kurang lebih 45 tahun Hidayatullah berkhidmat, pihaknya terus berupaya untuk menyiapkan sarana pendidikan dalam menyiapkan santri yang lebih siap memasuki era industri 4.0 yang semakin menantang.*/Amanji

Sinergi TASK Salurkan Bantuan Banjir Bondowoso

0

BONDOWOSO (Hidayatullah.or.id) — TASK Hidayatullah yang terdiri dari Laznas BMH, SAR Hidayatullah, dan IMS serta Pemuda Hidayatullah menutup rangkaian aksi peduli banjir Bondowoso,  Jawa Timur, dengan membagikan bantuan sembako kepada para korban.

Setelah bergotong royong selama tiga hari, mulai dari Kamis sampai Sabtu adapun rangkaian yang dilakukan TASK Hidayatullah selain melakukan melakukan aksi kemanusiaan, TASK Hidayatullah juga membersihkan jalan, rumah warga, mushala dan masjid serta fasilitas umum lainnya. 

“Alhamdulillah hari ini, Ahad  (2/2) TASK Hidayatullah menyalurkan bantuan logistik untuk warga terdampak banjir, terutama warga RT 07 RW 03 Dusun Kalisat, Desa Kampung Baru, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso,” terang Koordinator Lapangan TASK Hidayatullah, Rijal Muttaqin

Rijal Muttaqin  menambahkan, bahwa sebanyak 142 KK terdampak banjir ini merupakan daerah warga yang terparah dampak dan kondisinya.  Adapun 35 rumah rusak parah. 

Dengan bantuan serta gerakan yang TASK lakukan, masyarakat  bisa merasakan manfaatnya dan bantuan ini sangat membahagiakan para warga. “Alhamdulillah keberadaan relawan TASK Hidayatullah selama empat  hari ini sangat membantu sekali. Mereka ,24 jam siaga.  Mereka juga menyalurkan  bantuan sembako, kebutuhan. balita, dan kebutuhan sekolah. Terima kasih yang sebesar-besarnya. Semoga Allah mengganti dengan pahala yang lebih besar,” ungkap seorang warga penerima manfaat,  Hendro (28 tahun).*Amanji

Kenang Almarhum Gus Sholah sebagai Pemimpin dan Ulama

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menyampaikan belasungkawa sekaligus mendoakan kebaikan atas berpulangnya ke Rahmatullah, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) sekira pukul pukul 20.55 WIB pada Ahad (02/02/2020) malam.

“Selamat jalan Gus Sholah, sang pemimpin dan ulama, semoga kami dapat meneruskan perjuanganmu,” kata Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH DR Nashirul Haq, MA, mengenang Gus Sholah, seraya menukil Al Quran surah Al-Baqarah ayat 154.

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”

Dr. (H.C.) Ir. H. Salahuddin Wahid atau biasa dipanggil Gus Solah lahir di Jombang, 11 September 1942 yang meninggal pada umurnya yang ke 77 tahun ini adalah seorang aktivis, ulama dan politisi dan pemimpin yang kharismatik. Ia pernah menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada masa awal reformasi 1998.

Salahuddin Wahid merupakan putra dari pasangan K.H. Wahid Hasyim (ayah) dengan Sholehah (ibu), dan adik kandung dari mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ayahnya adalah putra dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU), K.H. Hasyim Asy’ari.

Salahuddin meninggal dunia RS. Harapan Kita, Jakarta, pada hari Ahad, 2 Februari 2020, sekitar pukul 20:55 WIB, setelah sebelumnya mengalami masa kritis usai menjalani bedah jantung. (ybh/hio)

Kebenaran Harus Disampaikan dengan Cara Baik dan Benar

DENPASAR (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, DR. H. Nashirul Haq, MA, mengatakan Islam adalah kebenaran namun belum disampaikan dengan cara yang baik dan benar, sehingga banyak dari umat ini yang belum merasakan kebahagiaan berislam.

“Kebenaran tidak disampaikan dengan cara yang benar. Disinilah letaknya kenapa gerakan dakwah kita selama ini belum menghasilkan sebuah kekuatan umat dan belum bisa menghantarkan umat ini memilki kesadaran iman yang tinggi,” kata Nashirul saat menyampaikan taushiah di hadapan jamaah Masjid Baitul Makmur, Monang Maning, Gn. Merbuk II, Tegal Kertha, Denpasar, belum lama ini.

Sebab itu, Nashirul mengingatkan pentingnya segenap kaum muslimin terutama para dai menyadari pentingnya dakwah yang mencerahkan. Menurutnya, hal yang amat penting harus dipahami dalam gerakan dakwah adalah materi atau konten dan metode atau manhaj.

“Pertama, kita harus memahami isi kandungan Al Quran dan Sunnah dengan benar sebelum disampaikan kepada umat. Kedua, memahami thariqah atau cara berdakwah yang benar,” imbuhnya.

Nah, lanjut dia, dalam dakwah yang disampaikan adalah kebenaran Al Quran dan sunnah, namun sayangnya seringkali tidak disertai dengan cara, metode, atau manhaj yang benar. Akibatnya, umat tidak tercerahkan, padahal yang disampaikan adalah kebenaran.

“Inilah yang diingatkan Allah dalam Surah Al Isra ayat 105, “Dan kami turunkan Al Quran itu, dengan sebenar benarnya. Dan turun membawa kebenaran,” katanya seraya menukil ayat suci Al Quran.

Dia menyebutkan penjelasan ulama tafsir bahwa Al Quran turun dengan sebenar-benarnya, artinya Al Quran turun dengan cara yang benar.

Cara yang benar itu dijelaskan dalam ayat berikutnya: “Dan Alquran ini Kami turunkan secara berangsur-angsur agar engkau membacakannya kepada manusia dengan perlahan-lahan,”

“Jadi manhaj dakwah yang benar itu harus sistematis atau bertahap”. jelasnya

Beliau juga menukil penjelasan seorang ulama tafsir, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam kitabnya, Taisir Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, bahwa al Qur’an diturunkan bagian demi bagian artinya sedikit demi sedikit agar umat bisa mentadabburi dan merenungi isi dari Al Quran dan memikirkan makna-makna yang terkandung didalamnya serta bisa menggali lebih dalam ilmu-ilmu yang terkandung dalam setiap ayat.

“Inilah yang menjadi rahasia, kenapa Al Quran ini bisa eksis dalam jiwa para sahabat-sahabat Nabi SAW. Bukan saja dipahami, tetapi betul-betul menjadi sebuah keyakinan dan merasuk ke dalam jiwa yang menggerakan untuk beribadah, berakhlak mulia dan bermuamalah yang benar,” jelasnya.

Nashirul pun menceritakan perihal aksi protes yang dilakukan orang-orang musyrik yang mempersoalkan kenapa wahyu Al Quran diturunkan sedikit demi sedikit bahkan selama kurang lebih 23 tahun lamanya. Allah SWT pun menjawab kegalauan orang musyrik tersebut sebagaimana dalam Surat Al-Furqan Ayat 32

“Ini agar Al Quran benar benar tidak hanya dipahami tetapi menjadi kenyakinan dan dari keyakinan itulah kemudian melahirkan sikap dan tindakan yang nyata untuk menjadikan Al Quran ini sebagai pedoman dalam hidup,” kata Nashirul.

Dalam rangka mereaktualisasi gerakan dakwah yang intensif, kohesif dan inklusif dengan menyasar semua umat manusia yang membutuhkan obat kegersangan hati, Hidayatullah pun melahirkan metodologi dakwah yang diistilahkan dengan nama Sistematika Wahyu (SW) yang menjadi manhaj gerakan tarbiyah dan dakwah Hidayatullah.

“Lahirnya Sistematika Wahyu agar dapat membumikan Al Quran ini sesuai dengan tahapan tahapan yang dilalui dan dijalani oleh Rasululullah SAW dan para sahabatnya. Itulah cara yang benar, yakni memulai dari mana Allah memulainya, yakni dari wahyu pertama diturunkan Surah al Alaq 1-5” tegasnya. (ybh/hio)

Bagaimana Para Ulama Merespon Suatu Wabah?

SEBAGAI umat Islam, sudah sepatutnya kita prihatin terhadap musibah yang tengah menimpa saudara-saudara kita di China berupa virus mematikan yang dikenal dengan virus corona.

Diketahui virus ini telah merambah sejak minggu yang lalu dan telah memakan korban hampir 302 orang dan 12 ribu terinveksi (data 2 Februari 2020). Virus ini secara cepat merebak ke luar Wuhan, China, tempat pertama kali virus ini ditemukan.

Bukan hanya itu, bahkan virus ini tidak hanya merambah di beberapa propinsi di China, bahkan disebutkan telah menjalar ke luar negeri seperti Singapura, Thailand, Amerika Serikat, Korea Selatan dan negara Indonesia.

Virus Corona sendiri adalah golongan virus dari familia coronaviridae yang dapat menyebabkan penyakit pada burung dan mamalia, termasuk juga manusia. Virus ini dapat menimbulkan gejala penyakit yang bervariasi, mulai hampir tidak timbul gejala apapun hingga gejala yang fatal. Infeksi Virus Corona dapat menyebabkan berbagai penyakit, seperti bronkitis, ensefalitis, gastroenteritis, dan hepatitis.

Proses penyebarannya bisa melalui udara yang terinhalasi atau terhirup lewat hidung dan mulut sehingga masuk dalam saluran pernafasan.

Sikap Ulama

Namun, tahukah kita bagaimana para ulama Islam menyikapi sebuah virus yang melanda sebuah daerah? Mari kita simak ulasan berikut.

Dalam Kitab al-Bidayah wa al-Nihayah karangan Ibnu Katsir, disebutkan bahwasanya Kota Syam pernah dilanda sebuah wabah yang dinamakan Tha’un.

Ibnnu Jarir menyatakan, wabah ini terjadi pada tahun 17 Hijriah ketika kepemimpinan Khalifah Umar bin Khatab. Tha’un ini dinisbatkan kepada sebuah daerah yang bernama Amawas, dari sinilah pertama kali wabah Tha’un muncul dan kemudian menyebar ke seluruh Negeri Syam.

Al-Waqidi berkata, “Tha’un Amawas telah melanda Negeri Syam. Wabah ini telah memakan korban 25.000 jiwa.” Ada yang mengatakan korbannya sebanyak 30.000 jiwa.

Adapun diantara para sahabat yang terkena wabah ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, al-Harits bin Hisyam, Syarahbil bin Hasanah, Fadhl bin Abbas, Muadz bin Jabal, Yazid bin Abi Sufyan dan Abu Jandal bin Suhail.

Tatkala wabah ini memuncak dan telah sampai beritanya kepada Khalifah Umar bin Khatab r.a, Umar segera mengirim surat kepada Abu Ubaidah yang isinya meminta agar ia segera keluar dari daerah yang terkenah wabah tersebut.

Namun, Abu Ubaidah justru menjawab suratnya dengan mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, aku mengerti apa yang engkau inginkan terhadapku. Sesungguhnya aku berada di antara tengah-tengah tentara kaum Muslimin dan aku tidak ingin berpisah dari mereka. Aku tidak akan meninggalkan mereka hingga Allah menetapkan apa yang telah ditetapkan-Nya kepadaku dan seluruh pasukanku. Maafkanlah, aku tidak dapat mengabulkan keinginanmu.”

Mengetahui respon Abu Ubaidah, Umar menangis dan mengirimkan surat kepada Abu Ubaidah dan memintanya agar memindahkan pasukan ketempat yang tinggi dan mencari udara yang sejuk.

Lain halnya sikap Abu Musa ketika dia ditanya perihal wabah yang sedang menimpa penduduk Syam, “Janganlah orang yang keluar dari tempat ini beranggapan bahwa jika dia bermukim di sini dia akan mati. Dan jangan pula orang yang sudah terjangkit berkata bahwa seandainya dia keluar dari tempat ini dia akan terkena wabah. Jika seorang muslim memiliki prasangka seperti ini maka tak mengapa jika dia keluar dan menjauhi wabah seperti ini.”

Setelah peristiwa tersebut, wabah itu pun hilang.

Begitulah sikap para ulama terhadap wabah yang sedang melanda suatu negeri. Semoga kita selalu dijauhkan dari setiap musibah yang buruk. Wallahu ‘alam.*/Jundi R, mahasiswa Hidayatullah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir

Dari Batanghari ke Muaro Jambi, Serap Energi Konsolidasi Dai

0
Ketua DPW Hidayatullah Jambi, Awaluddin mendampingi Ketua Departemen Pendidikan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Amun Rowie, menyalami Almi yang mendapatkan bantuan kendaraan motor dakwah.

MUARO JAMBI (Hidayatullah) — Ada kisah menarik dari helatan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Provinsi Jambi. Acara Rakerwil sekaligus ajang konsolidasi dai tersebut membuat Almi Tadjri begitu bersemangat menghadiri acara yang berlangsung pada tanggal 25-26 Januari 2019 bertempat di kampus Madya Hidayatullah Muara Jambi tersebut.

Almi Tadjri adalah salah satu orang yang ikut menjadi peserta dalam Rakerwil ini. Ustadz Almi, begitulah sapaan akrabnya, merupakan alumni Sekolah Menengah Atas (SMA) Hidayatullah pada tahun 2019.

Setelah lulus, Almi mendapatkan amanah untuk merintis sebuah rumah dakwah sekaligus menjadi Dewan Perwakian Daerah (DPD) Hidayatullah di Kabupaten Batanghari.

Sudah terbayang dibenak Almi, untuk mengikuti Rakerwil dia harus berangkat 5 jam lebih awal. Namun tekatnya sudah kuat. Tidak ada kata terlambat untuk ikut Rakerwil ini. Sebab baginya Rakerwil merupakan sebuah konsolidasi yang teramat penting.

Kendaraan? Tentunya ia juga mempunyai kendaraan pribadi. Namun, jangan dibayangkan kendaraan itu sebuah motor kokoh bermesin 4-tak. Hanya sebuah sepeda onthel, menjadi sahabat Almi dalam perjalanan menuju arena Rakerwil.

Ia pun mantap melalui jalanan yang terjal, menanjak, ditambah lagi dengan kerikil-kerikil kecil sering membuat tergelincir roda depan atau belakang. Berjibaku antara ayunan kedua kaki dengan kucuran keringat yang mengalir deras membasahi tubuh ini, untuk bisa sampai tepat waktu.

Lelah sudah tentulah ada. Namun semangat yang begitu membara membuat semua rasa lelah itu tidak terasa sama sekali. Bagi Almi, bagaimanapun keadaanya, apapun rintanganya selalu ada doa dan semangat yang membara pada beliau.

“Ini merupakan sebuah amanah dan merupakan sebuah tanggung jawab karena telah mengikrarkan untuk mengabdi kepada masyarakat,” kata Almi.

Selama kurang lebih 4,5 jam perjalan yang dilalui, Almi dengan terus menebar senyum kepada siapa saja yang ia temui. Beratnya perjuangan ini harus dilalui, walaupun sarana yang ada tidak terlalu mendukung untuk mempercepat lajunya perjuangan di medan dakwah ini.

Perjalanan Almi ini pun turut menjadi inspirasi bagi peserta Rakerwil lainnya yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Ketua Departemen Dikdasmen DPP Hidayatullah, Drs Amun Rowie, yang mendampingi Rakerwil Hidayatullah Jambi pun merasakan haru mendalam seraya mengajak kepada peserta menyedot energi dari acara ini terutama menyerap ketelatenan dakwah yang ditunjukkan Ust Almi.

“Semoga sekembali ke tempat tugas, pengabdian kita semakin mantap dan dakwah yang semakin giat,” katanya.

Mengawali tahun 2020 ini, DPW Hidayatullah se Indonesia secara serentak tengah menjalani Rakerwil dengan pimpinan cabang yang terdiri sebanyak 34 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW). Rakerwil merupakan sebuah hal yang harus dilakukan untuk meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan.(ybh/hio)

Rakerwil Hidayatullah Sumbar Dibekali Spirit Al Muzzammmil

0

MENTAWAI (Hidayatullah.or.id) — Peserta Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Sumatera Barat (Sumbar) mendapatkan pembekalan dari Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, Ust Sholeh Usman, yang membahas muatan-muatan spirit Al Quran surah Al Muzzammil.

“Bekal spirit seorang dai itu adalah Al-Muzammil. Itulah mengapa Al-Muzammil itu bukan hanya asyik dibajas dan dikaji semata tapi bagaimana ia bisa hidup dalam bentuk pengamalan yang istiqamah,” kata Sholeh Usman di Kampus HIdayatullah Kepulauan Mentawai, Ahad (26/1/2020).

Dan hal ini, lanjut dia, “adalah modal kita yang sesungguhnya dan jalan untuk menjaga agar istiqamah juga agar dapat saling menguatkan diantara para dai yakni dengan berhalaqah,” sambungnya.

Sholeh menjelaskan, Al-Qur’an adalah wahyu yang harus disampaikan saat kapan dan dimana saja. Karenanya, sungguh jika majelis-majelis Qur’an dihidupkan maka akan ada jalan kemudahan yang akan diberikan Allah dalam kita mencapai visi dan misi dakwah Islamiyah.

“Tiada pekerjaan yang mulia selain dari berjuang dan berdakwah. Sebagai seorang dia, itu mesti peka dan tanggap kepada umat,” kata Sholeh.

Dia mengungkapkan, hari ini umat kekeringan dan dahaga spiritual. Semula harta, kedudukan dan jabatan yang dianggap dan diharap dapat memberikan kebahagiaan dan kemuliaan, ternyata tidak ditemukan dan dirasakan dalam hidup dan kehidupan hari-hari mereka.

“Saat-saat seperti itu jika yang datang dan menemui mereka adalah para ahli maksiat maka bertambah-tambah kerusakannya,” imbuhnya.

Beliau mengatakan, jikalau sekiranya kita para dai yang datang dengan kelembutan dan menyampaikan dakwah dengan menggunakan bahasa kaum serta atas kerisauan dan kasih sayang karena Allah, maka insya Allah akan mampu membawa kesegaran dan kecerahan hidupnya.

“Karena kita datang bukan karena apa tapi karena membawakan doa. Sehingga dengan itu hidayah akan datang memberikan bimbingan hidup dan jalan kebenaran sesuai dengan tujuan hidup didunia yang sesungguhnya,” kata alumni STIBA Makassar ini.

Sholeh mengingatkan, tujuan hidup seorang muslim yang sesungguhnya tak lain dan bukan adalah mengabdi kepada Allah serta berjuang di jalan-Nya.

“Seorang dai itu selalu siap saat. Di laut, di sungai dan di rawa-rawa, Di gunung, di desa dan di kota-kota, selalu siap bergerak dalam tugas berdawah,” imbuhnya.

Seorang dai pun dituntutk untuk bergerak cepat dan tepat dalam merubah maksiat menjadi hidayah

“Semoga Allah memberikan keistiqamahan kepada kita semua hingga akhir hayat kita,” harapnya seraya memipin doa.*/Cik Meron

Pelatihan Cakep Mushida Didorong Kuatkan PAUD Integral

JAKARTA (Hidayatullah) — Penyelenggara Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Hidayatullah didorong untuk terus menguatkan konsep pendidikan integral yang menerapkan model pendidikan utuh menyeluruh yang mengkombinasikan penanaman nilai pengetahuan Islam dan keilmuan umum.

Hal tersebut ditekankan oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH DR Nashirul Haq saat hadir memenuhi undangan mengisi pengarahan dalam acara Pelatihan Calon Kepala Sekolah (Cakep) PAUD/TK Hidayatullah se-Indonesia.

“Materi, metode dan guru sebagai murobbi harus menyatu dalam sebuah sistem tarbiyah (pendidikan dan perkaderan) agar dapat melahirkan output berkualitas,” kata Nashirul di hadapan peserta pelatihan di Jakarta, Kamis (30/1/2020).

Dalam kesempatan tersebut Ketua Umum DPP Hidayatullah menyampaikan materi tentang konsep pendidikan menurut al Qur’an. “Konsep Sistematika Wahyu harus dijadikan sebagai materi, metode sekaligus kepribadian bagi guru,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, merujuk Surah al Jumu’ah ayat 2, proses pendidikan dimulai dari tilawah, yaitu pencerahan dan penyadaran melalui pembacaan ayat-ayat al Qur’an. Kemudian tazkiyah, yaitu mensucikan jiwa, pikiran dan perilaku. Dan, selanjutnya ta’lim, yaitu mengajarkan ilmu pengetahuan.

“Pengajaran ilmu yang tidak diiringi dengan tazkiyah (penyucian) dan ta’dib (pembentukan karakter) biasanya justru melahirkan orang sombong dan angkuh bangkan menyalahgunakan ilmunya,” terangnya.

Beliau mengungkapkan, jika konsep ini dijalankan, insya Allah lembaga pendidikan akan melahirkan manusia beriman dan bertakwa. Konsep inilah yang dianut dalam sistem pendidikan Hidayatullah yang disebut Pendidikan Integral Berbasis Tauhid.

Kepada peserta pelatihan Cakep PAUD Hidayatullah ini, Ketua Umum berpesan agar Muslimat Hidayatullah benar-benar memanfaatkan masa emas usia PAUD dan TK untuk pembentukan karakter sejak dini serta pembelajaran al Qur’an sebagai asas untuk mengikuti jenjang pendidikan selanjutnya.

“Zaman dulu pernah lahir orang-orang hebat di usia muda seperti Imam Syafii yang memberi fatwa sejak umur 16 tahun. Itu karena masa kanak-kanak beliau telah dididik oleh guru-guru yang hebat. Maka guru PAUD dan TK ke depan mestinya orang-orang yang hebat dan berkualitas,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua panitia Pelatihan Calon Kepala Sekolah (Cakep) PAUD/TK Hidayatullah se-Indonesia, Marhamah AQJ, mengatakan acara pelatihan ini akan berlangsung 29 Januari hingga 2 Februari 2020.

Dijelaskan Marhamah, acara ini diadakan guna terciptanya penguatan untuk bakal calon Kepala PAUD maupun kepala TK Hidayatullah yang ada di seluruh Indonesia.

Selain itu pula, lanjut dia, pengurus Mushida mengadakan pelatihan ini agar terciptanya kepala pendidikan tingkat dasar yang memiliki kompetensi profesional guna terselenggaranya misi pendidikan Hidayatullah yaitu pendidikan integral yang berbasis Tauhid.

Para peserta terdiri dari 15 dari 19 perwakilan wilayah yang ada di seluruh Indonesia dengan rangakaian acara pemaparan delapan materi standar untuk bagaimana menjadi kepala pendidikan yang profesional.

“Mushida berharap dengan adanya pelatihan ini kepala pendidikan tingkat dasar Hidayatullah menjadi kepala pendidikan yang profesional serta memahami penyelanggaraan kurikulum pendidikan berbasis Tauhid,” tukas Marhamah. (ybh/hio)