SIDOARJO (Hidayatullah.or.id) — Islamic Medical Service (IMS) Jawa Timur mengadakan acara Hapus Tato Gratis Bersama Bonek dan Bonita di Kantor IMS, Jalan Taman Bunga Tropodo, Waru Sidoarjo, Jawa Timur.
Acara ini diselenggarakan bersinergi dengan Bank Muamalat Indonesia (BMI), KCU Surabaya Darmo, dan Baitul Maal Muamalat.
Acara tersebut dihadiri oleh Ketua Departemen Sosial dan Kesehatan DPW Hidayatullah Jawa Timur Suripto sekaligus Pembina I IMS Jawa Timur, Pimpinan DPD Hidayatullah Sidoarjo Sugeng, Ketua Ikatan Dai Eks Areal Lokalisasi (IDEAL) MUI Jatim H Muhammad Gatot Subiyantoro, Ketua Pelaksana Harian IMS Dwi Agus Widodo. Hapus tato ini diikuti oleh 50 peserta Bonek dan Bonita.
“Mari kita hijrah mulai dari hal kecil seperti hapus tato ini yang selanjutnya diikuti dengan kajian – kajian yang bisa saling menguatkan untuk tetap istiqamah,” jelas Gatot Subiyantoro.
Senada dengan hal tersebut, salah seorang peserta hapus tato, Hafidz menyatakan alasan dia melakukan hapus tato adalah ingin hijrah dari hal-hal yang tidak atau kurang baik menjadi lebih baik lagi.
Hafidz berharap setelah hapus tato ini, dia bisa lebih istiqamah dan bisa menjadi contoh untuk teman – teman Bonek yang lain.
Selain itu, Dwi Agus Widodo menginfokan, para partisipan yang sudah mengikuti kegiatan hapus tato ini akan tetap dibina oleh IMS selama 3 bulan dan wajib ikut serta dalam kajian – kajian yang diselenggarakan oleh IMS. Branch Manager Bank Muamalat KCU Surabaya Darmo, Rizma, mengatakan bahwa
“Bank Muamalat bersinergi dengan Baitul Maal Muamalat (BMM) senantiasa mendukung umat untuk hijrah dan menjadi insan yang lebih baik lagi. Harapannya ke depannya Bank Muamalat Indonesia (BMI), IMS dan BMM dapat terus bersinergi untuk terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait program – program hijrah.”
Dengan slogan Wani Hijrah, IMS memberikan semangat kepada seluruh peserta untuk menjadi lebih baik dan terus menebarkan kebaikan. Senada dengan tagline BMI, Ayo Hijrah yang sama – sama mengajak umat Islam untuk terus menjalankan syariat Islam. Menuju yang lebih berkah, Bersama Bank Syariah.
THAILAND (Hidayatullah.or.id) —“Allahumma Baarik Hidayatullah wa Ahluhaa.. Ya Allah, berkahilah (Gerakan) Hidayatullah dan seluruh anggota keluarga besarnya,” doa yang seketika diucapkan Prof. DR. Ismaillutfi Japakiya, Rektor Universitas Fatoni, seperti membungkus seluruh perjalanan di dua provinsi di Thailand Selatan itu, Satun dan Pattani.
Prof. Ismaillutfi menerima Tim Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah yang selama seminggu menziarahi berbagai lembaga da’wah, pendidikan dan kemasyarakatan di Thailand Selatan dan Semenanjung Malaysia.
Tim gabungan ini terdiri dari Ketua Departemen Luar Negeri, Ketua Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Ketua Departemen Da’wah. Selama dua hari mereka bersilaturrahim dengan 5 sekolah/ madrasah/ pesantren dan sebuah universitas di dekat perbatasan Thailand-Malaysia. Safari ini didukung organisasi HALUAN Malaysia yang bergerak di bidang pendidikan, da’wah dan kemanusiaan.
“Terus terang saya kaget juga, di wilayah yang Muslimnya minoritas, dan selama bertahun-tahun dicekam konflik bersenjata, sekolah dan pesantrennya bagus-bagus,” kata Ustadz Amun Rowi, Ketua Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah.
Bahkan, menurut Amun, dari sejarah dan perkembangan yang didengarnya, “Sekolah dan pesantren ini sangat menjanjikan bagi masa depan Muslimin Thailand.”
Ustadz Shohibul Anwar, Ketua Departemen Da’wah, juga menyatakan rasa gembiranya, “Alhamdulillah bisa menyambung hati dan perasaan dengan saudara-saudara kita di sini. Lebih lanjut terbuka peluang kerja sama da’wah yang sangat luas.”
Di setiap lembaga yang dikunjungi, Tim DPP untuk Pementaan Da’wah dan Pendidikan Asia Tenggara ini menawarkan beberapa hal:
Beasiswa bagi putra-putra Thailand Selatan untuk nyantri di pesantren-pesantren Hidayatullah
Setahun pengabdian mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir perguruan tinggi Hidayatullah
Undangan menghadiri Jambore Pandu Muslim Internasional 2022 di Balikpapan
Pengiriman tim da’wah dan daurah sesuai bidang yang diperlukan
Kunjungan pertukaran pelajar/santri dan ustadz/ustadzah selama sebulan
Lebih dari itu, Tim DPP ini bersepakat melanjutkan penjajakan berdirinya pesantren Hidayatullah di Thailand Selatan. “Yang penting niat, doa, dan pintunya kita mulai, Allah yang menetapkan jadualnya,” demikian kemufakatan tim ini.
Berikut ini maklumat singkat tentang lembaga-lembaga yang menjadi tuan rumah kunjungan Tim DPP Hidayatullah di Thailand Selatan.
1. Yayasan Pesantren Daarul Ma’aaref, Satun
Pesantren Daarul Ma’aaref didirikan hampir seratus tahun silam oleh seorang ‘alim berasal dari Painan, Minangkabau, bernama Ustadz Muhammad Zikri.
Pengelolaan pesantren di Provinsi Satun ini dilanjutkan oleh putra Almarhum bernama Ustadz Muhammad Zakiy, yang saat ini dilanjutkan oleh cucunya Ustadz Ahmad Muhammad.
Berdiri di atas tanah seluas 5 hektar, pesantren ini membagi dua kompleknya menjadi kawasan putra dan putri. Santri putra berjumlah 350an orang, santri putri berjumlah 600an orang. Wakil direktur pesantren ini, Ustadz Syafi’i yang menerima Tim DPP Hidayatullah, seorang sarjana Syar’iah lulusan Universitas Yarmouk, Yordania. Beliau juga cucu menantu dari pendiri pesantren ini.
“Kami sangat berbahagia atas kunjungan Hidayatullah ini, kami berharap jalinan kerja sama yang diniatkan bisa segera kita wujudkan,” katanya sambil sibuk menjamu tamunya.
2. Sekolah Nida Suksasat, Satun
Status sekolah Nida Suksasat tidak berbeda dengan sekolah swasta di seluruh Thailand. “Hanya saja bobot pendidikan agamanya kita perbanyak,” jelas Ust. Shalahuddin, Penasihat Yayasan Pendidikan dan Pengajian Nida’ul Islam, Satun.
Suksasat berarti “Pengajian” atau “Majlis Ta’lim”. Mengisyaratkan, bahwa sekolah yang memiliki murid sebanyak 1200an orang ini diawali dari sebuah majlis ilmu sekitar 11 tahun yang lalu. Ustadz Abdul Malik Ad-Darimi, Direktur Yayasan menjelaskan bahwa pihaknya banyak belajar dari Jaringan Sekolah Islam Terpadu di Indonesia.
3. Pesantren dan Madrasah Yatim Darul Barakah, Pattani
Berawal dari sebuah panti asuhan dengan belasan anak asuh yang berdiri sejak tahun 1990, dengan izin Allah, dan ketelatenan pasangan Haji Ismail dan Hajjah Fatimah, Madrasah Darul Barakah berkembang pesat menjadi pesantren dan sekolah yatim dan dhuafa untuk 1300an orang santri dan siswa.
“Kami memetik pelajaran berharga, untuk tidak pernah mengharapkan apapun selain kepada Allah Ta’ala saja,” kenang Hajjah Fatimah sambil berkali-kali matanya berlinang air.
Hal yang sama dibenarkan oleh suaminya, Haji Ismail pensiunan pegawai negeri di Departemen Pendidikan Thailand. “Sekali kita sudah memasang niat, bergantung hanya kepada Allah, terus sayangi anak-anak,” kata Haji Ismail penuh semangat.
Dibantu hampir 100 orangh guru dan pengasuh, Darul Barakah kini punya nakhoda baru Ustadz Haji Mahyuddin putra kedua pasangan itu yang lulusan Syari’ah Ma’had Abu Bakar di Lahore, Pakistan, dan Universitas Islam Riau di Pekanbaru. Menantunya, Ustadz Anas yang baru selesai S2 di Universitas Muhammadiyah Surakarta juga ikut memperkuat regenerasi pusat pendidikan ini.
4. Madrasah Al-Quran dan Multilingual Kalamullah, Pattani
Sembilan tahun jadi wakil rektor Universitas Fatoni, tak membuat Ust. Abdullah Hasan merasa cukup sudah berkiprah di dunia pendidikan. Bukannya istirahat setelah pensiun ia justru semakin sibuk dengan menjadi pendiri, pemegang izin, sekaligus manajer Sekolah Al-Quran dan Multilingual Kalamullah.
“Fokus sekolah ini adalah menanamkan iman dan Al-Quran kepada seluruh siswa yang berjumlah 350 orang di sini (sebagian berasrama) dan multi-bahasa.” Tiga level pendidikan Al-Quran: 1) Belajar membaca (metode Qira’ati, Semarang). 2) Halaqah Al-Quran membaca sampai khatam. 3) Halaqah Tahfizhul Quran. Fokus kedua memaksimalkan ketrampilan mereka dalam 4 bahasa: Melayu bahasa ibu mereka, Thai bahasa nasional, dan Arab-Inggris.”
Ustadz Abu Bakar guru bahasa Arab asal Pantai Gading, Afrika dan belasan lain dari negara lain menunjukkan Kalamullah serius. Tiga orang guru asal Indonesia mengajar bahasa Inggris, diantaranya Rizki dari Cilacap lulusan Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Lalu ada Ustadz Mumtaz dari India.
“Kami bayar mereka dengan jumlah gaji di atas rata-rata guru di sekolah-sekolah Thailand, karena kami yakin, iman, akhlaq dan ketrampilan guru memang harus sebagus mungkin untuk menghasilkan lulusan terbaik,” kata Abdullah Hasan. Dia sendiri yang mewawancarai semua guru, termasuk mengecek kemampuan mereka membuat perencanaan pengajaran setiap mingggu.
5. Madrasah Thaluban
Sebuah madrasah waqaf yang berusia hampir seratus tahun dan banyak mengkonservasi bangunan-bangunan tua seperti masjid, kantor dan sekolah dari abad ke-18 dan ke-19 di kota Pattani.
6. Universitas Fatoni
Universitas Islam terbesar di Thailand ini berdiri 22 tahun silam (1998) telah tumbuh berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi yang berwibawa di Thailand. Rektornya Prof. DR. Ismaillutfi Japakiya menyelesaikan seluruh studinya dari S1 sampai S3 di Universitas Islam Madinah, dan menetapkan motto universitas ini: “Jaami’atiy Jannatiy. Universitasku Syurgaku.” “Bermakna bahwa semua orang di sini, baik civitas akademika maupun mahasiswa, bersama-sama menjadikan universitas ini sebagai kendaraan menuju Syurganya Allah Ta’ala, in syaa Allah,” tukas Prof. Ismaillutfi kepada Tim DPP Hidayatullah. Fakultas Ilmu Sosi, Bisnis, Kimia, Pendidikan, Hukum, dan Teknologi.
Satun
Satun (warna merah di peta) merupakan salah satu dari 5 provinsi di Thailand Selatan yang berbatasan dengan Semenanjung Malaysia bagian utara. Luas: 2.479 km2. Penduduk: 321.574 jiwa (2018). Kepadatan: 130 jiwa per km2. Agama: 67,8% Muslim; 31,9% Buddha. Sampai 1909, Satun masih disebut Kerajaan Setul Mambang Segara, berhubungan dekat dengan Kesultanan Kedah.
Sejak Perjanjian Keamanan Inggris-Siam (1909), Inggris yang menjajah Semenanjung Malaysia menghadiahkan Setul /Satun memiliki banyak warga Thai kepada Kerajaan Siam (Thailand). Berbeda dengan Muslimin Pattani, Yala, dan Narathiwath, Muslimin Satun hampir tak pernah terlibat bentrok senjata dengan rezim Buddha yang beribukota di Bangkok.
Pattani
Pattani (provinsi pesisir yang di peta tampak disangga dua provinsi lain yang berbabasan dengan Malaysia) atau Fathoni, orang yang cerdas. Pattani juga adaptasi bahasa Thai untuk kata Melayu yang artinya “Pantai Ini”. Luas: 1.940 km2. Penduduk: 718.077 jiwa. Kepadatan: 370 jiwa per km2. Agama: 88% Muslim, sisanya Buddha.
Sampai 1785, Pattani merupakan Ibukota Kesultanan Patani Darul Ma’arif, sampai dijajah oleh Kerajaan Siam pada tahun itu. Tahun 1980an bentrokan bersenjata antara gerilyawan Muslim lawan serdadu rezim Buddha Bangkok meningkat.
Sampai hari ini, pos-pos pemeriksaan militer masih bertebaran di mana-mana di Pattani, Yala, Narathiwath dan Satun. Tapi ketegangan sudah tidak terlalu nampak.*/
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Jakarta Selatan menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) yang diikuti oleh seluruh pengurus DPD Hidayatullah Jakarta Selatan. Kegiatan yang berlangsung dua hari ini membawa tema besar “Konsolidasi Daerah Untuk Pencapaian Target Organisasi” Dalam kesempatan itu hadir pula Dewan Pengurus Wilayah (DPW).
“Jakarta Selatan ini cukup luas, artinya ladang dakwah kita di tempat tugas ini sangat besar, tentu kita harus memikirkan bagaimana kita bisa memaksimalkan apa yang menjadi target kita satu tahun ke depan,” Jelas Ryan Abu Haq selaku ketua DPD Hidayatullah Jakarta Selatan pada sambutan Rakerda, di Villa Sentul, Sabtu (15/02/2020).
Dia juga mengajak kepada segenap pengurus untuk bersama-sama saling merangkul, saling menguatkan diantara pengurus dalam mengemban amanah ini.
“Mari kita senantiasa menguatkan, merangkul, bersama dalam mengemban amanah ini, kemudian kembali merapatkan shaff kita,”ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa Daerah yang menjadi tanggung jawab DPD Jaksel itu terdiri dari 10 Kecamatan dan terdapat 65 Kelurahan. Kemudian dia mengingatkan apa yang menjadi fokus meanstream dakwah yang selama ini konsen pada Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) dan Ojol Mengaji (Ojek Online).
“Jadi kita harapkan di 10 kecamatan nantinya minimal ada satu binaan PPSU (mengaji). Adapun di kelurahan minimal sekali kita membuka sepertiganya dari 65 kelurahan, artinya kita harus membuka 20 binaan mengaji di PPSU Jaksel ini,” Ujarnya.
Sampai saat ini, DPD Jaksel telah memiliki binaan mengaji di Kecamatan Pasar Minggu, dan keluarahan Pejaten Barat, ada pun dalam waktu dekat ini, DPD Jaksel akan membuka di Tiga kecamatan, Pancoran, Kebanyoran Baru dan Tebet. Artinya ke depan akan ada PPSU Mengaji di setiap kecamatan di Jakarta Selatan.
Selain fokus pada PPSU Mengaji, DPD Jaksel juga memiliki program ideal yang berfokus pada Ojek Online Mengaji. Saat ini setiap harinya terlaksana Ojol mengaji di markas DPD Hidayatullah Jakarta Selatan, kedepan dalam waktu dekat akan melauncing Ojol Mengaji di daerah Lebak Bulus, dan Petukangan.
Dua fokus tersebut, akan menjadi program unggulan utama dakwah DPD Hidayatullah Jakarta Selatan. Ditambah, fokus yang menjadi angenda besar DPW Hidayatullah Jabodebek bagaimana melahirkan 100 Rumah Qur’an, alhamdulillah saat ini DPD Jaksel telah memiliki empat RQ, tersebar di RQ Alfatih, RQ JFM, RQ Poltangan, dan RQ, Kelapa Dua.
Terakhir Ryan sebagai ketua DPD Jaksel berpesan kepada seluruh pengurus agar mengutamakan apa yang menjadi target bersama untuk mensukseskan program bersama yang telah disepakati.
“Mudah-mudahan kita semua bisa mencapai target yang telah kita sepakati bersama,” Kilahnya.
Sejalan dengan Ryan, Isnaeni selaku Sekertaris Wilayah DPW Jabodebek juga mengamini apa yang menjadi program dakwah utama DPD Jaksel. Baginya dua program yang dibangun oleh DPD Jaksel itu sangat unik, ideal dan seksi.
“Dengan program unggulan PPSU mengaji dan OJol mengaji kami mengapresiasi teman-teman, dalam melahirkan program jenius seperti ini, sebagai media dakwah kita juga,”Ujar Isnaeni yang membersamai Rakerda DPD Jaksel pada kesempatan kali ini.
Dia juga mengaku awalnya kebingungan, bagaimana mencari formulasi dakwah yang tepat di daerah Jakarta Selatan ini.
“Setelah bergelut selama tiga tahun memikirkan bagaimana menemukan formula yang pas di Jakarta Selatan, alhamdulillah akhirnya ketemu dengan hadirnya darah baru yang memberi warna baru pula,”tambahnya.
Pada kesempatan yang sama Isnaeni juga mengatakan bagaimana pentingnya menjaga momentum, dan membuat sejarah, tentunya dengan niat fastabiqul khairat (Berlomba dalam kebaikan).
“Momentum ini ada dihadapan kita, jadi mari kita bersama-sama berfastaqul khairat (berlomba dalam kebaikan). Kita balut, solidaritas tim, untuk bisa menghadirkan sejarah,” tambahnya.
Dia juga menjelaskan bahwa pekerjaan dakwah bukanlah pekerjaan yang mudah dan sederhana, walau menurutnya dihadapan manusia biasanya terlihat sederhana tapi nyatanya penuh tanggung jawab yang besar, bagaimanapun juga perkerjaan ini adalah perkerjaan yang dikerjakan oleh para nabi.
“Mudah-mudahan apa yang terlihat sederhana di mata manusia, tapi sejatinya besar dihadapan Allah. Pekerjaan Dakwah dan tarbiah itu tidak sederhana, karena itu pekerjaan para nabi,” Katanya.
Terakhir Isnaini sebagai perwakilan DPW memberi apresiasi dan dukungan kepada seluruh elemen yang terlibat dalam kepengurusan DPD Jaksel.
“Kami sekali lagi harus mengulang kami sangat mengapresiasi teman-teman di DPD Jakarta Selatan, Kami mengapresiasi apa yang sudah dibuat, dan mendukung apa yang kemudian kelak ditetapkan pengurus daerah,” tutupnya.
Dalam kegiatan Rakerda Jaksel ini, hadir Ustadz Munawir perwakilan DPW, Ustadz Dzikrullah dan Ustadz Ahkam Sumadiana, selaku Pembina di Yayasan Jayakarta Fathan Mubiina.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah Micro Finance selaku operator Departemen Koperasi dan Kewirausahaan DPP Hidayatullah menggelar Rapat Konsolidasi Nasional Baitut Tamwil Hidayatullah selama 2 hari, 15 – 16 Februari 2020.
Rakornas BTH ini diadakan bertujuan untuk mensolidkan BTH-BTH yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Selain itu Rakolnas BTH ini juga bertujuan meningkatkan kualitas terkhusus menyambut era industri baru 4.0.
Rakornas yang pertama kali diadakan ini bertempat di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah di Jakarta. Diikuti oleh 30-an peserta terdiri dari utusan 15 BTH, perwakilan kampus utama Hidayatullah, juga beberapa utusan khusus dari Perguruan Tinggi Hidayatullah.
Pembukaan Rakolnas 1 BTH dibuka langsung oleh Ust. Asih Subagyo selaku Kabid Perekonomian DPP Hidayatullah. Didampingi juga oleh Ust. Ruhyadi Kadep Koperasi dan Kewirausahaan serta Ust. Saiful Anwar ketua Hidayatullah Micro Finance.
Acara yang berlangsung selama dua hari ini juga diisi dengan beberapa Upgrading. Pertama; “Strategi Pendirian dan Pengembangan Baitut Tamwil Hidayatullah” yang diisi oleh Ust. Ruhyadi.
Upgrading kedua; “Meletakkan Fondasi Pertumbuhan untuk BTH berkemajuan” yang diisi oleh Bpk. Jularso Presiden PBMT. Dilanjutkan dengan Upgrading ketiga “Akad-Akad Syariah dan Implementasinya pada Baitut Tamwil Hidayatullah” oleh Ust. Abdul Kholiq, Lc, MHI.
Terakhir, Ust. Ruhyadi selaku penanggung jawab acara ini berharap besar dari Rakolnas BTH ini smoga bisa menumbuhkan BTH baru di kampus-kampus Hidayatullah serta smakin meningkatkan kualitas dan nilai aset/modal BTH-BTH yang sudah existing. Aamiin.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Baitut Tamwil Hidayatullah (BTH) pada Sabtu 15 Februari 2020 mengadakan rapat konsolidasi Nasional 1. Bertempat di Aula Rapat Dewan perwakilan pusat (DPP Hidayatullah). Rencananya acara ini akan berlangsung 15-16 Februari 2020 yang di ikuti perwakilan wilayah BTH yang ada di seluruh Indonesia.
Ustad Ruhyadi selaku ketua Departemen Koperasi dan Ekonomi Umat dalam sambutannya mengatakan bahwa sejatinya BTH telah memiliki cabang yang banyak dengan total aset yang banyak pula
“BTH telah mencapai 12 Titik wilayah perwakilan, dengan titik perwakilan sebanyak ini, total aset kita telah mencapai 26 M” jelasnya
Tentunya dengan aset dan juga perwakilan yang banyak maka dirasa Kososlolidasi Sangat diperlukan. Sehingga permasalah-permasalahan yang ada di lapangan dapat dirembukan Secara bersama sama
“Dengan adanya permasalahan di lapangan, tentunya menjadi alasan terselenggaranya Konsolidasi ini. Kita akan membahas masalah-masalah sehingga BTH akan terus berkembang” pungkas Ruhyadi
Menambahkan penjelasan Ustad Ruhyadi, Ustad Asih Subagyo selaku ketua bidang perekonomian Hidayatullah menjelaskan bahwa sesungguhnya Hidayatullah saat ini masih berfokus pada pendidikan dan dakwah itu dibuktikan dengan banyaknya sekolah sekolah yang ada di seluruh Cabang Hidayatullah. Maka bagi Ustad Asih, kini saatnya bagian ekonomi juga mengambil alih peran tersebut. Walaupun perkembangan pendidikan serta dakwah yang pesat, geliat para kader dalam memajukan ekonomi juga terus tumbuh.
“Meskipun demikian geliat Ekonomi diberbagai tempat tidak bisa di bendung. Dan sebagian telah memberikan kontribusi yang nyata bagi gerakan tarbiyah dan Dakwah. Sebab gerakan Hidayatullah ini saling terintegrasi dan terhubung, sehingga tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya”
Lanjut Ustad Asih menjelaskan bagaimana seharusnya kita terus mengembangkan geliat pertumbuhan ekonomi umat ini.
“Bagaimana kita menjadikan ekonomi Ini Menjadi Salah satu Pilar, karena saat Ini Organisasi Kita Belum Menjadikan Ekonomi sebagai Gerakannya Utama. Saat imi gerakan utama Organisasi kita masih berfokus pada pendidikan dan dakwah, itu dibuktikan dengan pencapaian mereka membangun sekolah.” Terang Ustad Asih.
Ustad Asih Juga memberikan semangat kepada para peserta bahwa sesungguhnya bergerak manjadikan ekonomi sebagai sektor utama merupakan sebuah ladang jihad yang seharusnya diseriusi.
“Karena ini merupakan ladang jihad kita bersama, sudah seharusnya kita menjadi Profesional, transparan dan juga akuntabelitas”
Selain itu Ustad Asih menjelaskan bahwa setiap orang yang bergerak di bidang ini sudah seharusnya memahami mengenai hukum hukum syariah pada bidang ekonomi.
“Karena Kita Lembaga Syari’ah, yang menargetkan terciptanya Profesionalitas, Transparansi, dan juga akuntabelitas maka wajib hukumnya memahami Hukum hukum syar’iah” jelas Ustad Asih.*Amanji Kefron
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Organisasi masyarakat (ormas) Islam Hidayatullah menargetkan pembiayaan sebesar Rp200 miliar pada tahun 2020 dari Bank Muamalat. Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Asih Subagyo menyampaikan bahwa sebesar Rp70 miliar diantaranya diperkirakan akan cair pada Maret 2020.
“Kami berharap bisa Rp 200 milia, sebenarnya bisa lebih besar lagi tetapi tentunya kami tidak ingin terlalu drastis peningkatannya,” jelas Asih Subgyo usai menandatangani kerja sama dengan Bank Muamalat di Muamalat Tower, Jakarta, Rabu (12/2).
Hingga akhir 2019, pembiayaan yang disalurkan pada Hidayatullah sebesar Rp 93,2 miliar. Subagyo mengatakan pembiayaan tersebut disalurkan ke 14 lokasi cabang Hidayatullah yang ada di seluruh Indonesia dengan segmen usaha ritel seperti minimarket, sekolah, dan klinik.
Hidayatullah memiliki lini bisnis yang disebut amal usaha. Dengan jaringan pesantrennya mencapai 580 pesantren di seluruh Indonesia yang mayoritas diantaranya sudah memiliki unit bisnis.
“Mereka mengajukan proposal untuk pembiayaan amal usaha, kita seleksi melalui komite investasi di pusat (DPP Hidayatullah), jika lolos kita berikan corporate guarantee,” katanya.
Sehingga DPP akan menanggung tanggung jawab jika pembiayaannya bermasalah. Untuk awalan kuartal I 2020, sudah ada proposal yang akan diajukan dengan nilai sekitar Rp 70 miliar.
Mayoritas diantaranya untuk sekolah. Subagyo menyampaikan sebanyak 70-80 persen dari total portofolio pembiayaan disalurkan untuk segmen pendidikan ini.
Setelah diadakanya perjanjian bersama dalam bentuk penandatangan MoU antara kedua bela pihak, dilanjutkan diskusi bersama pada focus group discussion (FGD), Kamis (13/2/2020).
Kata Subagyo, tujuan FGD ini tentunya sebagai forum penyamaan presepsi antara Muamalat dan juga Hidayatullah yang mana saat di lapangan seringkali terjadi miss presepsi antara keinginan Bank dan keinginan Hidayatullah.
“FGD ini dilaksanakan agara presepsi-presepsi yang tidak sama yang dapat menimbullkan miss comunication dapat diatasi dan juga dicarikan solusinya,” terang Asih Subagyo.
Subgyo menjelaskan bahwa usaha untuk membentuk persamaan presepsi ini bukan semata-mata Hidayatullah mencari kemudahan semata. Beliau menjelaskan bahwa hal ini bertujuan agar menghindari masalah yang tidak diharapkan akan muncul dikemudian hari.
Salah satu isi kesepakatannya ialah dibentuknya komite investasi dari Hidayatullah yang bertugas untuk menyeleksi proposal-proposal yang akan masuk pada lembaga bank, sehingga sebelum proposal itu masuk ke bank, proposal itu telah sesuai dengan kriteria yang diharapkan.
“Dengan demikian ketika ada jaringan Hidayatullah yang mengakses ke lembaga pembiayaan harus sepengetahuan komisi investasi, agar nanti komite investasi mengeluarkan corporate guarantee. Dari corporate guarantee menjadi pegangan lembaga pembiayaan bahwa proposal ini telah mendapat jaminan dari DPP Hidayatullah,” jelasnya.*/Amanji Kefron
TAWAU (Hidayatullah.or.id) — Departemen Pendidikan DPW Hidayatullah Kaltara telah mengadakan Rapat Koordinasi Wilayah di Tawau, Sabah, Malaysia, pada tanggal 07-09 Februari 2020.
Kegiatan ini dilakukan dalam rangka melejitkan pencapaian pendidikan yang dikelola Hidayatullah Kalimantan Utara mulai dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga SLTA. Acara ini diikuti oleh 40 orang peserta terdiri dari unsur DPW Hidayatullah Kaltara, Pengurus Yayasan, Kadepdik daerah dan kepala sekolah beserta staf.
Dalam laporannya, Kadep Dikdasmen DPW Hidayatullah Kaltara, Ust. Abd Ghoffar, S.Sos.I menyampaikan bahwa rapat koordinasi ini dilaksanakan dalam rangka evaluasi kinerja dan penetapan program kerja tahun 2020.
“Rakorwil Pendidikan ini dilaksanakan untuk mengevaluasi program-program yang sudah kita laksanakan di tahun 2019; mana yang sudah berjalan mana yang belum. Hal ini kita lakukan agar ke depan institusi pendidikan yang dikelola Hidayatullah di Kaltara semakin melejit pencapaiannya, baik dari segi kualitas maupun kuantitas,” kata Abd Ghoffar.
Ketua DPW Hidayatullah Kaltara, Ust. H. Nur Yahya Asa menyampaikan bahwa Hidayatullah menjadikan pendidikan dan dakwah sebagai mainstream gerakan. Sehingga, tegasnya, pendidikan pada khususnya harus menjadi perhatian agar ke depan dapat melahirkan generasi yang cerdas dan beradab.
Lanjut daripada itu, Nur Yahya juga menyampaikan laporan perkembangan program beasiswa pendidikan gratis bagi anak tenaga kerja Indonesia (TKI) di jiran yang ada di Kaltara.
“Lebih dari 50 orang anak TKI yang kita sekolahkan secara gratis di unit-unit pendidikan Hidayatullah Kaltara. Sedangkan untuk tingkat Perguruan Tinggi (PT), kita sudah mengirimkan lebih dari 15 orang untuk kuliah di PT milik Hidayatullah yang tersebar di STIE Hidayatullah Depok, STIS Balikpapan, STAIL Surabaya, IAI Abdullah Said di Batam, dan lain-lain,” sebut Nur Yahya.
Turut hadir dalam acara tersebut adalah Konsulat Republik Indonesia (KRI) Tawau, Iskandar Abdullah dan Emir, LO Polri KRI Tawau Ahmad Fadhilan, Tokoh Agama dan Pengurus Yayasan Al Hikmah Ustadz Amin Nasir, Ph.D, Ketua Forum Komunikasi Dakwah Borneo (FKDB) Ustadz Najar Jul, Ketua Kumpulan Selawat PKBS Datin Hjh. Aliyah Hj. Ali, Timbalan Presiden Kalabakan 4×4 Club Abang Alang dan beberapa mitra pengurus masjid di kawasan Tawau.
Pasca acara, pihak KRI Tawau memberikan apresiasi atas terselenggaranya acara ini. Konsulat Republik Indonesia (KRI) Tawau Iskandar Abdullah mengatakan pihaknya menyambut baik kegiatan ini dan program pendidikan yang telah dilakukan Hidayatullah Kaltara khususnya beasiswa anak TKI.
“Kami berharap ke depan bisa bekerjasama lebih baik dalam mensukseskan program tersebut sehingga anak-anak TKI yang ada di sini juga dapat melanjutkan pendidikan di Tanah Air melalui sekolah-sekolah Hidayatullah,” tukas Iskandar Abdullah.
Selain untuk melaksanakan rapat koordinasi, dipilihnya Tawau sebagai tempat acara juga dimaksudkan agar para pengelola sekolah yang tiap harinya bergelut dengan pekerjaan rutinitas yang padat dapat rihlah/refreshing di negeri jiran.*/Mazlis B Mustafa
KATA INI bukan saja menantang kesadaran, tetapi juga nyata dalam kehidupan. Saat tengah malam kita bangun, lalu beranjak mengambil air wudhu dan sholat dengan tenang menghadap Rabb, sungguh itu adalah buah perjuangan.
Ya, perjuangan para pahlawan yang telah merelakan diri dan hartanya untuk kemerdekaan negeri ini. Berbekal aqidah dan visi yang kuat mereka tak pernah risau dengan kemampuan diri yang dimiliki. Bedil dan meriam penjajah sama sekali tak membuatnya bertekuk lutut lalu rela hidup menjadi jongos.
Sekarang, dalam kehidupan kita yang serba mudah ini, hakikatnya adalah rangkaian dari perjuangan tak kenal lelah dari para pejuang umat. Saat diri sadar akan hal ini, maka syukur akan menjadi generator dalam hidup sehari-hari.
Hanya orang yang tak mau berpikir yang akan mengisi hidup dengan kesia-siaan. Seakan maju sescara ekonomi, padahal hakikatnya hanya berputar pada urusan syahwat. Itulah peradaban Barat.
Kaum muda Muslim Indonesia tak sepatutnya lupa untuk bersyukur. Bersyukur yang membuat kita sadar dan mampu menangkap spirit perjuangan para pejuang masa lalu.
Di Hidayatullah saja, sudah jelas, semua capaian kita hari ini tak mungkin lepas dari jerih payah dan perjuangan para pendiri lembaga, assabiqunal awwalun, dan mereka yang total membantu dakwah melalui Hidayatullah.
Pertanyaannya kemudian, bersyukur seperti apa yang harus kita lakukan agar api perjuangan itu terjaga dan semakin membakar semangat kita semua?
Pertama, jadilah pribadi yang disiplin. Disiplin dalam hal apapun yang bermanfaat, terlebih kala diberi kepercayaan, entah sebagai pengasuh, guru, amil, penggerak ekonomi lembaga, atau bahkan dai. Jagalah amanah itu dengan sebaik-baiknya kedisiplinan.
Kedua, memiliki mental mujahadah. Harus hadir dalam diri kita mental kesungguhan (mujahadah) dalam mengemban amanah ini. Bagi seluruh penggerak inti Pemuda Hidayatullah misalnya, upayakan bagaimana apa yang bisa dilakukan benar-benar diwujudkan dengan sungguh-sungguh. Jangan ada pesimis yang mengganggu. Jangan sampai terhambat oleh realita yang “meremehkan” perubahan yang akan kita lakukan.
Yakin, dan jangan goyah, itulah pemilik mental mujahadah.
“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS 35:5).
Ketiga, istiqomah dalam jama’ah. Di dunia ini tak kekurangan umat akan orang kaya, orang pintar, bahkan orang hebat. Tetapi semua tidak bisa menjadi kekuatan dengan daya ledak besar, karena berdiri masing-masing. Maka bersyukurlah, sedari muda kita sudah dikenalkan bahkan menikmati indahnya hidiup berjama’ah.
Tetaplah dalam jama’ah karena ini adalah kekuatan sejati yang pasti suatu saat akan mengantarkan kita pada visi tertinggi organisasi. Jangan ragu, jangan goyah. Setiap pertanyaan kritis harus mengantarkan pada kesiapan mental lebih gigih, lebih optimis, dan lebih loyal dalam jama’ah. Bukan malah menjadi daya retorik yang tak menghasilkan apa-apa.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk dapat menjadi pejuang sejati. Pejuang yang dirindukan oleh umat, pejuang yang senantiasa dijaga oleh Allah.
Pejuang yang tak berharap dalam hidup dunia ini selain bagaimana menjadi sebaik-baik pribadi dengan manfaat yang besar dan luas bagi seluruh umat manusia. Seperti kata Allahuyarham Ustadz Abdullah Said, kita harus bisa menjadi pribadi yang membawa rahmat bagi semesta alam dan segenap umat manusia.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI Fadli Zon beranjangsana ke Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah di Jakarta, Kamis (13/2/2020).
Fadli diterima Ketua Umum Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, Lc, MA bersama sejumlah jajaran. Pada kesempatan tersebut Fadli juga menyapa jamaah shalat dzuhur di Masjid Baitul Karim Komplek Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah.
Fadli mengatakan anjangsana ini adalah kunjungan kali pertamanya setelah kurang lebih 30 tahun tak bersua. Kendati lama tak bertandang, komplek DPP Hidayatullah sendiri sebenarnya merupakan tempat yang tak asing bagi pria ini.
Saat masih mahasiswa Fadli menjadi tenaga guru Bahasa Inggris di sekolah SMP Al Qalam Hidayatullah Jakarta Timur yang berada di lokasi yang sama yang sekaligus wartawan majalah Suara Hidayatullah. Usai shalat dzuhur berjamaah, silaturrahim dilanjutkan dengan ramah ramah berfoto bersama. (ybh/hio)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — PT Bank Muamalat Indonesia Tbk memperkuat kerja samanya dengan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah melalui penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) di Muamalat Tower lantai 19, Jl Prof Dr Satrio Kav 18, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (12/02/2020).
CEO PT Bank Muamalat, Achmad Kusna Permana mengungkapkan kesyukuran dapat terus berkaloborasi dengan Hidayatullah, dimana ormas Islam ini memiliki 580 pondok pesantren serta banyak amal usahanya.
“Suatu bentuk kesyukuran kami dari Bank Muamalat dapat berkaloborasi dengan Hidayatullah. Sebuah lembaga yang memiliki banyak pesantren dan juga amal usaha,” ujarnya pada acara tersebut.
Achmad mengatakan, dengan jumlah pondok pesantren dan amal usaha Hidayatullah yang banyak, maka Bank Muamalat menetapkan sebuah tim khusus untuk bekerja menjalankan kaloborasi ini.
“Dengan jumlah pondok 580, tentu ini merupakan bentuk peningkatan ekonomi umat, kami akan membentuk tim khusus mengenai hal ini,” ujarnya.
Ketua Umum DPP Hidayatullah Ustad Nashirul Haq mengatakan, kerja sama ini merupakan bagian komitmen dari Hidayatullah membangun peradaban Islam, salah satunya memajukan ekonomi umat.
“Peradaban Islam yang kami maksud di sini ialah implementasi keimanan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu bentuk yang sangat harus diperhatikan ialah bagaimana terbangunnya sistem ekonomi dan dakwah yang baik,” jelas Ustad Nashirul.
Ustad Nashirul menjelaskan, kerja sama ini bukan hanya sekadar kerja sama duniawi, namun juga melibatkan kerja sama ukhrawi.
“Kerja sama ini juga merupakan kerja sama ukhrawi sebagi bentuk memajukan izzul Islam,” ujarnya.
Acara ini ditutup dengan penandatanganan MOU oleh kedua belah pihak dan penyerahan plakat piagam dari masing-masing pihak.
Selain itu, sebagai bentuk kepercayaan Bank Muamalat kepada Hidayatullah yang telah lama berkerja sama mulai dari tahun 2016, Bank Muamalat memberikan hadiah satu unit mobil untuk keperluan kegiatan operasional Hidayatullah.*/Amanji Kefron