Beranda blog Halaman 484

Dai-daiyah Hidayatullah Harus Siap Emban Tugas Keummatan

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah, Ustadz Naspi Arsyad menutup secara resmi acara Training for Trainer (TOT) Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Quran (Grand MBA) di Aula II Kampus Hidayatullah Depok, pada Ahad (27/11/2019) sore.

UNA dalam sambutan menutup acara ini mengatakan kader kader dai Hidayatullah harus siap dikagetkan dengan tugas tugas keummatan. Dia mengatakan, hal-hal yang berat diemban harus diangkat dengan tangan-tangan yang tersambung erat dengan tali-tali Allah.

“Orang-orang beriman selalu bisa mengambil hikmah dari setiap apa dia jalani,” katanya.

Selain itu, ia mendorong kepada anggota Mushida yang telah mengikuti TOT ini agar selalu memantapkan pengabdiannya untuk agama, bangsa dan negeri kita tercinta. Termasuk di dalamnya adalah mendoakan pemimpin bangsa.

“Salah satu hak pemimpin adalah didoakan oleh yang dipimpinnya. Jangan sampai kita yang apriori dengan pemimpin sehingga kita berat untuk mendoakan kebaikan untuknya,” kata UNA.

Dia menerangkan, di jalan dakwah akan banyak ditemui hal-hal yang mengagetkan kita. Karena itu, kalau belum terjadi bicarakan baik baik, tapi kalau sudah terjadi tinggal diambil hikmahnya.

Lebih jauh beliau mengimbuhkan, bahwa orang beriman ketika mendapatkan berita tidak serta merta reaktif dan responsif. Dia haruslah mempelajarinya baik-baik sebelum bertindak dan merespon kabar tersebut.

“Jangan sampai seperti mobil yang belum dinyalakan atau belum dipanaskan sudah berjalan. Percuma kita mengaku beriman, percuma kita mengaku berjuang kalau ternyata sikap apriori masih merasuki pikiran kita. Inilah yang menjadi penghalang dalam gerakan dakwah dan tarbiyah kita,” ujarnya.

Menurut beliau, kalau sampai sikap apriori murobbiyah terhadap mutarobbiyah ini wujud maka sudah jelas jalan dakwah ini tidak selamat.

Salah satu konsep dakwah adalah sebagaimana dalam ungkapan kaidah Arab, ” “Al-Jaar qobla ad-Daar”, artinya memilih tetangga sebelum membeli rumah. Maksudnya, yang dekat-dekat itu lebih utama untuk diajak berislam sebelum yang jauh-jauh.

“Masyarakat atau mutarobbi diajak berislam jangan hanya ditumpahi dengan berbagai macam teori, tapi juga difasilitasi dan diberi sarana ketika ia tidak mampu,” katanya.

Lahirkan Muallimat Bidang Al Quran

Dalam rangka melahirkan tenaga pengajar dalam menunjang upaya pengembangan baca tulis Al Quran di masyarakat, Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah menggelar kegiatan Training for Trainer (TOT) dengan mengangkat tema “Mencetak Muallimat Grand MBA yang Memiliki Kompetensi Dalam Bidang Al Quran”, diselenggarakan di kota Depok, Jawa Barat, 24-28 Shafar 1441 H (23-27 Oktober 2019).

Dalam kegiatan yang digelar intensif selama lima hari ini, sebanyak 67 peserta perwakilan daiyah Muslimat Hidayatullah dari seluruh Indonesia menerima materi Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Quran (Grand MBA).

Grand MBA sendiri merupakan metode pembelajaran Al Quran yang diinisiasi oleh Hidayatullah yang selanjutnya dikembangkan oleh Posdai melalui Majelis Quran Hidayatullah (MQH).

Dalam muatannya, Grand MBA memuat sejumlah tahapan diantaranya mengenal makhrajul huruf, shifat huruf, sampai kaidah tajwid. Dalam kegiaan kali ini peserta mendapatkan materi Grand MBA tentang panduan cara cepat belajar Al Qur’an dengan metode 8 jam dengan durasi 1 jam setiap pertemuan.

Panitia acara Ustadzah Hapseni Dirwan mengatakan dengan program pembelajaran Al Qur’an metode Grand MBA diharapkan lahir lebih banyak lagi muallimat yang kelak menjadi duta pengajar dalam pemberantasan buta huruf Al Quran di masyarakat.

“Harapannya, semakin banyak muallimat yang mengajak ummat agar kembali kepada Al Quran, memudahkan mereka untuk mengenalkan Islam lebh baik lagi. Kita semua adalah daiyah mari bersama-sama untuk kembali menyeru kepada Allah dalam segala keadaan karena semuanya akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah nantinya,” kata Hapseni yang juga Ketua Departemen Dakwah PP Mushida ini.

Peserta pun sangat antusias dalam mengikuti training yang diikuti oleh para ibu in dan berharap sekembali ke daerah mereka dapat mempraktikkan ilmu yang telah didapatkan selama mengikuti pelatihan.

Acara ini terselenggara atas dukungan dari berbagai pihak diantaranya Posdai, Laznas BMH, Wardah Kosemtik, Majalah Sahid, Sahabat Siroh, Ummu Maryam Collection, Roti Naylifia dan lain-lain.[]

BMH Kirim Bantuan Air Bersih ke Desa Grabagan Grobogan

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) – Meski hujan telah turun di beberapa wilayah di Jawa Tengah, kekeringan masih melanda beberapa daerah. Seperti yang terjadi di Desa Grabagan, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Masyarakat masih mengalami krisis air bersih, akibatnya warga masih harus bersusah payah memenuhi kebutuhan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Untuk itu, Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Jateng berkoordinasi dengan BMH Grobogan berusaha untuk membantu warga yang terkena dampak kekeringan dengan mengirim air bersih ke wilayah Kradenan.

“Alhamdulillah, hari ini realisasi penyaluran bantuan air bersih di Dusun Jati Semi, Desa Grabagan, Kecamatan Kradenan, Grobogan dapat terlaksana. Sebanyak 32.500 liter berhasil tersalurkan untuk warga RT 01-04,” tutur ketua Gerai BMH Grobogan, Muhammad Muslim. Selasa (29/10/19).

Kegiatan penyaluran air bersih ini mendapat sambutan positif dari warga di empat rukun tetangga ini. Mewakili warganya, Ketua RT 04, Jasmo mengaku berterima kasih kepada BMH atas kepeduliannya untuk membantu warganya yang hingga kini masih mengalami krisis air bersih.

“Matursuwun saget atas bantuan air bersih di RT kami. Kami warga di sini mendo’akan semoga BMH dan para donatur terus peduli dengan kesulitan-kesulitan yang ada di masyarakat,” kata Jasmo penuh rasa haru dan bahagia.

Penyaluran air bersih ini terlaksana berkat kerja sama Yayasan Amanah Pondok Pesantren Hidayatullah Purwodadi, Sekolah Integral Hidayatullah Purwodadi, Baitul Maal Hidayatullah Gerai Purwodadi dan Sakinahmart Grobogan.

“Masih ada beberapa wilayah di Jawa Tengah yang masih membutuhkan. Kami masih akan terus berusaha mengirimkan kembali air bersih di daerah-daerah yang masih membutuhkan. Saat ini yang masih menanti untuk kami kirimkan air bersih, masih ada 6 daerah. Di antaranya yakni daerah Pringgapus, Unggaran, Boyolali, Pati, Cepu dan Jepara,” kata General Manager BMH Jateng, Misdawi Syarif.(HS)

UAS Dorong Santri Hidayatullah Meniru Tradisi Ulama Menulis

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Dai kondang berdarah Melayu, Ustadz Abdul Somad (UAS) mendorong para santri untuk meniru kegigihan para ulama terdahulu dalam menghidupkan budaya literasi. Hal ini disampaikan dalam kegiatan Tabligh Akbar yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan Kalimantan Timur, Kamis bakda Shubuh (31/10/2019).

“Menulislah menulislah dan menulislah. Supaya orang di masa datang tahu bahwa kita pernah hidup dan berkarya di dunia ini,” Seru Ustadz Abdul Somad penuh semangat.

“Penuhilah media-media sosial itu dengan kebaikan dari Al-Qur’an, Sunnah, dan perkataan-perkataan menyejukkan dari ulama,” lanjutnya.

Menurut UAS, untuk memelihara motivasi menulis, santri bisa berkaca kepada para ulama terdahulu. Mereka disebut begitu gigih mengikat ilmu dan menyebarkannya, sampai-sampai ada di antara ulama yang lebih mendahulukan menulis dan membaca daripada memikirkan menikahi perempuan.

“Imam An-Nawawi misalnya. Siapa yang tidak mengenal An-Nawawi? Meski tidak menikah bukan berarti usianya putus setelah mati. Orang berzikir baca kitab Al-Azkar, karyanya. Orang pengajian, pakai Riyadhus Shalihin, berupa kumpulan hadits. Baca kitab Mazhab Asy-Syafi’i, ada penjelasan berupa Kitab Syarh al-Muhadzdab. Untuk penuntut ilmu pemula ada kumpulan Hadits Al-Arbain, sampai puncaknya Kitab Raudhah ath-Thalibin,” jelas UAS.

Terkait dengan tulisan, Ustadz Abdul Somad mengaku kenalannya dengan pondok pesantren yang kini memiliki ratusan jaringan se-Indonesia juga diawali dengan tulisan pada Majalah Suara Hidayatullah.

“Saya pertama kali tahu Hidayatullah itu dari majalah Hidayatullah,” lanjutnya. UAS mengaku waktu itu belum tahu kalau ternyata pesantren tersebut punya banyak program pembinaan dan pelayanan umat.

Dalam rangkaian dakwah di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, UAS berkesempatan menyapa ribuan santri Pondok Pesantren Hidayatullah Kampus Gunung Tembak. Meski digelar bakda Shubuh, itu tak menghalangi santri dan masyarakat sekitar berbondong-bondong memadati Masjid Ar-Riyadh, Kel. Teritip Balikpapan.

“Alhamdulillah, akhirnya bisa menimba ilmu langsung dari UAS. Semoga ke depan, para ulama dan tokoh-tokoh nasional lainnya bisa datang ke tempat ini,” ucap Ahmad Mujaddid, santri asal Pare-Pare, Sulawesi Selatan.*/Masykur Suyuthi

Dakwah dan Amat Pentingnya Komunikasi dalam Keluarga

0

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Adab dan Pembinaan Keluarga DPP Hidayatullah Drs H Zainuddin Musaddad MA dalam kunjungan kerjanya ke Mamuju, Sulawesi Barat, menyampaikan tentang sangat pentingnya mengutamakan komunikasi keluarga sebagai dasar penguatan tugas suami di lapangan sebagai dai.

“Jangan menyepelekan hal kecil dan sederhana kalau kemudian banyak masalah besar dalam rumah tangga karena diawali hal kecil – kecil itu dianggap tidak penting,” terangnya ketika memberikan ceramah di Kampus Hidayatullah Mamuju, belum lama ini.

Dia menegaskan, tidaklah rugi atau bahkan terhina jika suami menjadi pendengar yang baik. Karena, menurutnya, mendengar adalah model komunikasi yang efektif.

Lebih lanjut Ustadz Zain menerangkan bahwa suami dalam kondisi apapun sebelumnya di tempat kerja, ia harus bisa menghadirkan wajah teduhnya dengan senyum terbaiknya di depan istri dan anak anaknya ketika di rumah.

“Karena, jangan sampai, masalah di tempat kerja terlampiaskan ke anak atau istri yang tidak tahu menau jeluntrungnya urusan sang suami,” imbuhnya.

Sebagai ketua departemen yang fokus pada adab secara umum dan pembinaan keluarga dalam organisasi yang memiliki ranah dakwah, menurutnya, semua person harus cakap memerankan figur yang dapat dicontoh oleh anggota keluarga, bawahan termasuk binaannya.

Hal senada pun disampaikan Ustadz Zain dikala diminta mengisi ceramah di Masjid Jabal Rahmah, Komplek Polda Sulawesi Barat. Di hadapan para penegak hukum tersebut, Zain mengemukakan keutamaan jalinan komunikasi antar pasangan suami istri tak terkecuali bagi polisi yang sehari-hari “berdakwah” memastikan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

“Wajah bapak bapak polisi yang biasa memburu penjambret dan pelaku kriminal lainnya, lalu jangan wajah itu juga yang dihadirkan depan istri dan anak di rumah,” katanya.

Di hadapan jamaah yang umumnya polisi itu, Zain melalui ceramahnya juga menekankan agar para penegak hukum juga terus meningkatkan kualitas ibadah agar dalam bertugas mampu menghadirkan tidak saja pendekatan pelanggaran dan hukuman tetapi juga dengan pendekatan kebenaran yang hakiki.

Memanfaatkan waktu kunjungannya ke Mamuju selain mengisi pengajian rutin di Masjid Raya Suada Mamuju, beliau juga menyanggupi hadir dan memberikan penekanan tentang pentingnya memperhatikan hal–hal lecil dan yang selama ini dianggap sepele dalam berumah tangga di majelis taklim Marmatun Najah.

Ustadz Zain mengingatkan, “Berapa banyak orang yang jago berkomunikasi di luar sana tapi terbunuh kalimatnya di depan istri dan anak-anaknya di rumah, dan semoga kita bukan dari golongan orang yang seperti itu”.*/Muhammad Bashori

Hidayatullah Sangatta Majukan Dakwah Melalui Masjid

0

SANGATTA (Hidayatullah.or.id) — Sebagai lembaga Islam yang memiliki mainstream gerakan di bidang dakwah, Hidayatullah di Kabupaten Kutai Timur dituntut untuk selalu memastikan ketersediaan penyuluh agama dalam rangka mencerahkan kehidupan masyarakat dengan nilai-nilai agung ajaran Islam.

Bersamaan dengan agenda pembangunan sumber daya manusia bermartabat tersebut, DPD Hidayatullah Kutai Timur bersama dengan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah di kawasan, kini membangun Masjid Al Huda yang berlokasi di Kampus Hidayatullah Sangatta yang dekat bilangan Bukit Pelangi, pusat pemerintahan Kabupaten Kutim.

Dalam kesempatan acara Sosialisasi Hasil Rakornas Hidayatullah yang digelar di Kampus Hidayatullah Sangatta hari ini, Rabu (30/10/2019) juga sekaligus dilakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) sebagai tanda dimulainya proyek pembangunan Masjid Al Huda Ponpes Hidayatullah Sangatta Kutai Timur yang diresmikan oleh Ketua DPRD Kaltim H. Makmur HAPK.

Dalam sambutannya, Makmur yang juga mantan Bupati Berau ini menyampaikan pesan pentingnya masjid sebagai wadah pembinaan umat sekaligus dalam rangka mengeratkan silaturrahim ulama dan umara.

“Mari menjaga keharmonisan sinergi sesama warga masyarakat sehingga dapat mewujudkan cita-cita pembangunan wilayah Kaltim yang makmur sejahtera bermartabat dan berdaulat,” katanya.

Makmur mengatakan, dirinya sengaja memulai masa resesnya dengan start dari masjid ke Masjid guna mendapatkan kebaikan dan keutamaan serta kemuliaan Allah SWT. Hal ini juga diharapkan menjadi tanda kebaikan perlangkahan tugasnya sebagai Ketua DPRD Kaltim.

Pada kesempatan itu dia mengajak semua pejabat eksekutif dan legislatif dan tokoh-tokoh masyarakat memperhatikan pembangunan dan kemakmuran masjid.

“Sebagai anggota DPRD Kaltim, agar membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa melihat partai dan sebagainya. Karena kita sudah menjadi Wakil Rakyat semua golongan,” ujar Makmur.

Ia pula menegaskan tentang kedekatannya dengan Hidayatullah selama ini. Dia mengatakan, keberadaannya tidak terpisahkan dengan Hidayatullah.

Ketua Dewan Pembina Hidayatullah Sangatta KH Jamaluddin Ibrahim dalam sambutannya, menyampaikan ucapan terima kasih atas kesediaan Ketua DPRD Kaltim dalam masa reses pertamanya memprioritaskan gerakan silaturrahim dari masjid ke masjid dan sekaligus mensejarahkan amal kebaikannya untuk peletakan batu pertama pembangunann Masjid Al Huda Hidayatullah Sangatta.

“Terima kasih atas perhatian dan dukungan segenap pejabat pemerintahan maupun masyarakat dalam pembangunan dan kemakmuran masjid, semoga menjadi wasilah terbangunnya rumah-rumah surga di hadapan Allah SWT,” kata Jamaluddin.

Jamaluddin, masih dalam kesempatan yang sama, mengatakan bahwa adalah kehormatan bagi segenap warga Hidayatullah di Kaltim karena Makmur sebagai Ketua DPRD Kaltim merupakan bagian keluarga Hidayatullah semenjak beliau sebagai bupati Berau hingga sekarang.

“Senantiasa beliau pioner berkontribusi bagi gerakan dakwah Hidayatullah,” ujar Jamaluddin yang juga Bendaraha DPW Hidayatullah Kaltim ini.

Dengan keberadaan masjid Al Huda tersebut diharapkan nantinya akan semakin meningkatkan peran pembangunan khususnya di Sangatta dalam bidang dakwah dan pendidikan yang selama ini telah berjalan

Dalam rangka memajukan dakwah di Kota Sangatta dan di Kutim pada umumnya, Masjid Al Huda ini kelak akan menjadi sentra kegiatan pengembangan kapasitas sumber daya insani umat serta melakukan penguatan fungsi masjid sebagai pusat peradaban Islam, pusat kegiatan ibadah, pusat pengembangan ilmu, pusat kebudayaan Islam, pusat pengembangan karakter dan kepemimpinan umat.

Pada kesempatan tersebut turut hadir sejumlah ‘alim ulama seperti KH Amin Fattah yang juga mantan Ketua FKUB Kutim, Wakil Bupati Kabupaten Kutai Timur H. Kasmidi Bulang, ST, MM, perwakilan Dandim 0909 Sangatta serta perwakilan Kapolres Kutai Timur, tokoh dan pimpinan ormas serta sejumlah jajaran DPW Hidayatullah Kaltim dan DPD Hidayatullah Kutai Timur serta pengurus yayasan. (ybh/hio)

Ideologi dan Pembawanya

Oleh Dr Nashirul Haq, Lc, MA*

“NUN, demi kalam dan apa yang mereka tuliskan. Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah yang paling mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. [Wahyu kedua, surat al-Qalam (68): 1-7]

Menurut keterangan ulama, wahyu kedua turun dengan rentang masa yang cukup panjang, setelah wahyu pertama. Betapa kita bisa melihat, Allah SWT memberi waktu dan kesempatan yang sangat luas kepada Rasulullah SAW untuk mengkaji dan merenungi kandungan wahyu pertama sehingga benar-benar tumbuh kesadaran iman kepada Allah Ta’ala secara utuh dan sempurna.

Pada saat keimanan sudah mantap, mungkin Allah Ta’ala menganggap sudah saatnya Rasulullah SAW diberikan wahyu kedua, ketiga, dan selanjutnya.

Dalam wahyu kedua ini, Allah Ta’ala menanamkan keyakinan kepada Rasulullah SAW akan kebenaran dan keunggulan misi risalah yang beliau terima. Tidak dengan cara indoktrinasi sebagaimana yang sering dilakukan, melainkan dengan membangun kesadaran yang tumbuh di atas ilmu pengetahuan, yang dilambangkan dengan al-Qalam, sebuah pena. Bukan pedang, bukan senjata, tapi pena.

Luar biasa sesungguhnya pendekatan wahyu ini. Ideologi ditanamkan melalui pena, melalui kesadaran. Sesungguhnya di tengah-tengah pertarungan ideologi dunia (saat itu antara Romawi, Persia, dan China), kamu datang dengan ideologi yang benar, yang tidak membuat kamu gila, bahkan kamu akan mendapatkan kemenangan demi kemenangan yang tak putus-putus (ajran ghaira mamnuun), dengan status yang mulia dan agung (khuluqin ‘azhiim).

Engkau akan menyaksikan dan mereka pun akan menyaksikan, siapa sesungguhnya yang gila (kalah, hina, lemah). Dan akhirnya, sesungguhnya Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang sesat dan siapa yang benar.

Tolok ukur kebenaran adalah Allah Ta’ala. Apa yang dinyatakan Allah Ta’ala benar, maka itulah kebenaran, sedangkan apa yang dikatakan Allah Ta’ala sesat dan salah, itulah kesesatan dan kesalahan. Kebenaran dalam Islam sangat jelas, tidak abu-abu, tidak ambigu.

“Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, maka janganlah kamu menjadi orang yang ragu. Al-Kitab itu (al-Qur-an), tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya. Petunjuk bagi orang yang mau bertaqwa. Maka apakah lagi yang tersisa setelah kebenaran itu selain kesesatan.”

Ideologi, seperti yang sudah kita urai sebelumnya adalah kesadaran yang sudah menjadi keyakinan dan cita-cita, berisikan ajaran yang pasti dan jawaban-jawaban yang mutlak terhadap masalah kehidupan manusia.

Wahyu kedua sepenuhnya mengandung ideologi, yaitu keyakinan dan cita-cita. Keyakinan akan kebenaran risalah yang diterima, dan cita-cita yang pasti serta kemenangan yang akan dicapai. Bahkan dengan jaminan: “Engkau dan mereka akan bersama-sama melihat dengan mata kepala siapa yang sesungguhnya tidak gila.”

Artinya ada jaminan bahwa kemenangan akan diraih pada masa beliau masih hidup, dan itu terbukti dengan penaklukan kota Makkah di masa Rasulullah SAW.

Wahyu kedua juga berisikan ajaran yang pasti dan jawaban-jawaban yang mutlak terhadap masalah kehidupan manusia, yaitu hanya dengan ni’mati rabbik (wahyu al-Qur`an yang kamu terima ini), kamu akan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusiaan yang ada.

Wahyu Ketiga
Wahyu ketiga surat Al-Muzzammil [73] ayat 1-10 merupakan metode gerakan yang dimulai dengan metode pembinaan pribadi-pribadi kader pejuang pembawa risalah. Salah satu kunci keberhasilan suatu perjuangan adalah terletak kepada kualitas manusia yang membawa, membela dan mempertahankan perjuangan itu.

Membawa, membela, dan mempertahankan risalah tauhid adalah puncak dari segala perjuangan di atas muka bumi ini. Membutuhkan stamina sangat prima, terutama stamina ruhani, intelektual, dan juga mental, selain stamina fisik tentunya.

Sistem dan metode pembinaan sumber daya insani yang paripurna (insan kaamil) telah diberikan oleh AllahTa’ala kepada Rasulullah SAW melalui wahyu ketiga. Uniknya, pembinaan ini tidak saja berlaku untuk para Sahabat yang merupakan kader Rasulullah SAW. Akan tetapi, lebih utama lagi diperuntukkan bagi pemimpin perjuangan risalah itu sendiri yaitu Rasulullah SAW. Sehingga dikatakan bahwa meskipun shalat Lail (Tahajjud) hukumnya sunnah bagi kaum Muslimin, tetapi menjadi wajib bagi Rasulullah SAW sendiri.

Subhanallah, pemimpin mana di dunia ini yang sanggup memaksa dirinya untuk lebih keras mempersiapkan stamina pribadinya dibandingkan kepada para kadernya. Pemimpin biasanya hanya bisa keras terhadap para pengikutnya, terhadap para kader dan anak buahnya, tetapi sulit untuk keras kepada dirinya sendiri.

Pemimpin perjuangan risalah tauhid, Rasulullah Muhammad SAW adalah pemimpin sejati. Beliau tidak pernah lelah memperkuat kualitas ruhani dan spiritualitasnya sendiri guna memastikan perjuangan dapat berjalan sebagaimana mestinya, dan visi yang dituju dapat berhasil dicapai.

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menganugerahkan pemimpin kepada jamaah Hidayatullah, yaitu sosok panutan yang setidaknya telah berusaha untuk mengikuti jejak Rasulullah SAW dalam pembentukan kualitas spiritual, intelektual, dan mental.

Beliau berdua sudah “memaksa” diri mereka untuk menjalankan perintah-perintah dalam wahyu ketiga surat Al-Muzzammil [73] ayat 1-7 secara lebih keras daripada yang ditekankan kepada para kader. Beliau berdua selalu dapat menjadi teladan dan contoh dalam keras, tekun, dan istiqamahnya dalam menjalankan shalat malam, membaca al-Qur`an, berzikir, berkontemplasi, bersabar, bertawakal, dan berhijrah.

Kita berdoa kepada Allah Ta’ala agar menerima segala amal dan perjuangan beliau, memberikan ampun atas segala kesalahannya, kekhilafannya, dan membalas segala kebaikannya. Juga kepada kita semua para kader dan pengikut beliau. Amiin ya Rabbal ‘alamiin. Wallahu a’lam.

*)Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah. Naskah diambil dari rubrik Khiththah Majalah Suara Hidayatullah edisi September 2019

Siapkan Muallimat Al Quran, Mushida TOT Grand MBA

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka melahirkan tenaga pengajar untuk pengembangan baca tulis Al Quran di masyarakat, PP Muslimat Hidayatullah dengan menggandeng Persaudaraa Dai Indonesia (Posdai) menggelar kegiatan training for trainer (TOT) dengan mengangkat tema “Mencetak Muallimat Grand MBA yang Memiliki Kompetensi Dalam Bidang Al Quran”, diselenggarakan di kota Depok, Jawa Barat, 24-28 Shafar 1441 (23-27 Oktober 2019).

[youtube width=”100%” height=”300″ src=”LOqZWtV7gC4?rel=0&autoplay=1″][/youtube]

SAR Hidayatullah Gelar Diklat se-Papua Selama 9 Hari

0

NABIRE (Hidayatullah.or.id) – Search And Rescue (SAR) Hidayatullah kembali menggelar kegiatan pendidikan dan latihan yang kali ini digelar di Nabire yang diikuti oleh relawan SAR Hidayatullah dari Provinsi Papua dan Papua Barat. Pembukaan Diklat SAR Hidayatullah ini Bupati Kabupaten Nabire yang diwakili oleh Asisten I Setda Nabire, La Halim S.Sos.

Diketahui, SAR Hidayatullah adalah badan pendukung ormas Hidayatullah yang bertugas mengkoordinasi dan memobilisasi sumberdaya dalam tanggap darurat bencana, mitigasi, kewaspadaan dini dan rehabilitasi pasca bencana.

Kegiatan Diklat SAR dibuka pada hari ini bertempat di Aula Pondok Pesantren Hidayatullah Nabire, Senin (28/10/2019). Kegiatan ini sendiri akan dilaksanakan selama 9 hari yang dimulai pada hari ini hingga tanggal 5 November 2019 mendatang.

Turut hadir pula Kapolsek Nabire Kompol A. Ruwayari, Kepala Pos Basarnas Nabire Tri Joko Lalang Buana, Ketua DPW Hidayatullah Papua Ust Muallimin Amin, dan beberapa ketua DPD Hidayatullah se-Papua dan Papua Barat.

Menurut ketua panitia pelaksana Diklat SAR Hidayatullah Papua-Papua Barat ini, Yusur Qordowi, kegiatan diikuti oleh kurang lebih 50 peserta dari beberapa kota dan kabupaten di Papua dan Papua Barat diantaranya dari Boven Digoel, Merauke, Jayapura, Sentani, Biak, Serui, Timika, Waropen, Keerom, Nabire, Sorong, Manokwari, Fak-Fak, Kaimana dan Bintuni.

Lebih lanjut dia menyampaikan bahwa kegiatan Diklat SAR Hidayatullah ini adalah kegiatan diklat perdana se-Papua yang nantinya diagendakan dilaksanakan berkesinambungan kedepannya. .

Diklat SAR Hidayatullah ini akan dipandu langsung oleh Abbas Usman yang merupakan Kepala Pusat SAR Hidayatullah dan dibantu oleh 2 orang Instruktur nasional SAR Hidayatullah dari Jakarta yaitu Irwan Harun dan Murdianto serta Instruktur dari TNI dan Basarnas Pos Nabire.

Kegiatan ini dapat terlaksana atas kerjasama dan dukungan dari SAR Hidayatullah, DPW Hidayatullah Papua dan Papua Barat, DPD Hidayatullah Papua dan Papua Barat, Syabab Hidayatullah Papua dan Papua Barat serta organisasi pendukung lainnya. (prs/ybh)

LBH Hidayatullah Gelar Acara Pelatihan Hukum Bagi Muslimah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah menggelar acara pelatihan hukum tentang pembelaan diri dalam hukum (self advocacy) bagi muslimah dan aktivis dakwah. Acara yang berlangsung intensif setengah hari ini bertempat di Aula Gedung Dakwah Hidayatullah, Jln Cipinang Cempedak I/14 Otista, Polonia, Jakarta Timur, Sabtu (26/10/2019).

Dalam kesempatan tersebut hadir sebagai pembicara Direktur LBH Hidayatullah DR Dudung Amadung Abdullah, SH dan turut dibersamai narasumber lainnya yaitu Ketua Ustadzah Peduli Negeri Dr Nurdiati Akma dan dimoderatori oleh Iramawati Oemar.

Selain itu, pula hadir Kepala Pembina Rohani Lapas Nusakambangan, KH Hasan Makarim, yang didapuk memberikan materi tentang dakwah di dunia kelapasan dan pemasyarakatan.

Dalam materinya, Dudung menerangkan dasar-dasar tentang tindakan membela diri atau self defense nodweer sebagaimana tertuang dalam Pasal 49 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Tidak saja mengulas soal pembelaan diri dalam keadaan darurat, penasehat hukum FPII Korwil Kota Bogor ini juga memaparkan tentang muatan-muatan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang menurutnya perlu diperhatikan agar kita lebih proporsional dan bijak dalam bermedia sosial.

Training hukum yang digelar bersama komunitas Barisan Emak-Emak Milenial (BEM) ini berjalan sukses. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 150 orang peserta dari beberapa daerah.

Pelatihan hukum ini berjalan lancar tanpa ada hambatan apaun. Bahkan peserta bukan hanya datang di Jabotabek, tapi juga ada dari daerah-daerah lain. Seperti diantaranya, Garut, Yogyakarta, Cilacap dan lain-lain.

Dudung berharap, training hukum tersebut bisa bermanfaat bagi peserta yang mengikuti kegiatan ini. “Semoga kegiatan ini berkah untuk umat, menjadi media perjuangan untuk keadilan dan kebenaran,” harapnya. (ybh/hio)

IAIN Sultan Amai Gorontalo Minati Metode Grand MBA

GORONTALO (Hidayatullah.or.id) — Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo mengikuti pelatihan Grand MBA (Gerakan Dakwah Nasional Mengajar-Belajar Al-Qur’an) yang digelar di Kampus II IAIN Gorontalo pada Sabtu (19/10/2019).

Ketua Jurusan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Dr. Razak H. Umar, MPd yang memberikan sambutan dalam acara ini berpesan bahwa calon guru harus membekali ilmu dengan berbagai macam metode pengajaran khususnya dalam baca tulis Al-Quran.

Acara yang diselenggarakan oleh Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Gorontalo ini mengangkat tema “Pelatihan Cara Cepat & Mudah Baca Tulis Al-Quran dengan Metode Grand MBA”.

Dr. Razak mengatakan, tujuan diadakannya kegiatan tersebut agar para mahasiswa bisa mengajarkan Al-Quran dengan menggunakan metode yang cepat dan mudah bagi mad’u.

“Hal ini dituntut kepada para mahasiswa karena mengingat mereka adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam, tentunya mereka akan menjadi calon-calon guru agama kelak,” ucapnya.

Sebagai pemateri pelatihan ini, Ustadz Saiful dari PosDai Gorontalo mengatakan, pelatihan ini disambut baik oleh 200 orang mahasiswa yang hadir dalam pelatihan tersebut.

“Alhamdulillah, senang rasanya materi Grand MBA ini mendapatkan perhatian yang serius dari para mahasiswa yang hadir. Mereka menganggap metode ini mudah dan menarik untuk dipelajari, ” ujar ustadz muda sekaligus ketua PosDai Gorontalo itu.

Grand MBA atau Gerakan Dakwah Nasional Mengajar-Belajar Al-Qur’an adalah salah satu program PosDai secara nasional, yang bertujuan untuk mengakrabkan masyarakat dengan Al-Qur’an. Lewat gerakan ini masyarakat diantarkan untuk dapat membaca, menerjemahkan, menghafal dan mengamalkan al-Qur’an dengan standar yang baik.

Saiful mengatakan program pembelajaran Al Qur’an metode Grand MBA ditawarkan kepada masyarakat semata-mata ingin memberikan support dan menemani masyarakat belajar Al Qur’an secara tuntas sesuai dengan tahapan-tahapannya mulai dari terbata-bata tidak bisa sama sekali sampai pada tahapan tartil.

Dia menjelaskan, secara sederhana tahapan belajar Qur’an itu adalah memulai dengan terbata-bata atau mutata’ti’, mempelajari makhraj dan shifat, mengetahui kaidah tajwid, memahami tata bahasa, memahami dan merasakan balaghah, dan terakhir hakikat tartil.

Setelah sampai pada tahapan terakhir yaitu tartil, peserta akan dibina dalam halaqah atau majelis-majelis taklim yang dibangun Grand MBA bekerjasama dengan masjid-masjid yang intinya mempelajari 5 T yaitu tilawah atau membaca dengan tartil, tahfidz (menghafal sebanyak mungkin), tafaqquh (memahami dengan benar), tathbiq (mempraktikkan dalam kehidupan), dan tabligh (menyampaikan kepada orang lain).

Dalam tahapan belajar metode Grand MBA, untuk tahap pertama yaitu mengenal makhrajul huruf dan shifat sampai kaidah tajwid menggunakan buku Grand MBA Jilid I dan II dalam paket Bimbingan Tajwid dan Tahsin Al Qur’an. Sementara untuk pelajaran tata bahasa dan maknanya di buku paket Terampil Menerjemah Al Qur’an dengan isi 6 jilid.

Grand MBA juga punya metode cepat belajar Al Qur’a dengan judul buku paket Grand MBA: Cara Cepat Belajar Membaca Al Qur’an dengan metode 8 jam dengan durasi 1 jam setiap pertemuan.