Beranda blog Halaman 495

Walikota Resmikan Rusun Santri Ponpes Hidayatullah Bontang

0

BONTANG (Hidayatullah.or.id) — Satu lagi komplek hunian buah usulan Pemkot Bontang kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) siap dihuni, yakni Rumah Susun (Rusun) Santri Pondok Pesantren Hidayatullah, Jl. Imam Bonjol No. 33 Kelurahan Api-Api, Kota Bontang, Kalimantan Timur.

Peresmian ini ditandai pengguntingan pita oleh Walikota Bontang dr. Hj. Neni Moerniaeni, Sp.Og didampingi perwakilan SNVT Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Provinsi Kaltim Dhani Kushandito, pimpinan yayasan Ponpes Hidayatullah, Asisten II, Asisten III, kepala dan perwakilan OPD terkait, beberapa lurah, dan unsur Forkopimda, Senin (15/4/2019) siang.

Selain itu, hadir pula mantan Walikota Bontang dr. H. Andi Sofyan Hasdam, Sp.S.

Menelan anggaran sebesar 6.8 miliar, bangunan tersebut terdiri atas dua lantai dilengkapi dengan fasilitas tempat tidur dua tingkat serta lemari di setiap kamar, dengan daya tampung sebanyak 138 orang santri.

Mengawali sambutanya, Neni mengaku bersyukur karena Kota Bontang dipilih untuk mendapatkan beberapa unit rusun.

Menurut Neni, dipilihnya Kota Bontang disebabkan adanya hubungan serta koordinasi yang terjalin dengan baik antara Pemkot Bontang dengan pihak Kementerian PUPR. Termasuk rencana pembangunan rusun Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang akan direalisasikan pada 2020 mendatang.

Lebih jauh, Neni menghimbau kepada pengguna gedung agar selalu menjaga serta merawat dengan baik fasilitas yang telah dibangun.

“Yang penting bagi saya adalah perawatan, tolong dijaga dengan baik. Biasanya rumah seperti ini (rusun) yang bermasalah adalah septic tank, jadi anak-anak santri jangan buang barang yang tidak larut didalam kloset yang menyebabkan buntu,” pungkas Neni.

“Kita mengucapkan terima kasih kepada Kementerian PUPR, kepada Pemerintah RI dengan program strategis nasionalnya,” sambung Neni.

Sementara itu, perwakilan SNVT Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Provinsi Kaltim Dhani Kushandito berharap gedung baru tersebut dapat meningkatkan kualitas dan kenyamanan sehingga dapat menghasilkan santri dan santriwati yang berkualitas.

“Saya harapkan dengan adanya gedung ini dapat menambah motivasi belajar bagi para santri dan santriwati,” harap Dhani Kushandito.

Lebih lanjut, ia pun menyarankan untuk segera mengajukan kembali usulan hunian rusun untuk santriwati, mengingat rusun yang diresmikan tersebut diperuntukkan para santri.

Sehingga di 2020, pihaknya dapat segera merealisasikan pembangunan, minimal masuk dalam list Kementerian PUPUR.

“Kalo ada usulan untuk yang wanita (santriwati) dapat diususlkan di tahun ini sehingga Insyaallah tahun depan (2020) dapat kami dapat laksanakan pembangunannya, minimal kami makukan dalam list dari Kementerian (PUPR),” lanjutnya. (ppid/hio)

Siaran Pers DPP Hidayatullah Jelang Pemilu 17 April 2019

0

Siaran Pers
Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, washalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du

Beberapa hari lagi Bangsa Indonesia akan memilih pemimpin dan para wakil rakyat lewat Pemilihan Umum (Pemilu) pada 17 April 2019 mendatang. Sehubungan dengan hajatan penting yang akan menentukan nasib bangsa ini maka kami Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menyerukan hal-hal sebagai berikut:

1. Mari kita gunakan hak kita untuk memilih pemimpin, sebagaimana diserukan oleh para ulama dan pemerintah di negara ini. Jangan ada yang tidak peduli atau tidak ikut serta. Sebab, dalam Islam, memilih pemimpin bukan sekadar hak, namun juga kewajiban.  Rasulullah SAW, dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, menyatakan, “Jika ada tiga orang bepergian, maka mereka wajib mengangkat salah seorang di antara mereka menjadi pemimpinnya.”

2. Pemimpin dan wakil rakyat yang dipilih hendaklah mereka yang kita yakini bisa membawa negeri ini menjadi negeri yang adil, makmur, sejahtera, maju, bermartabat, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

3. Jagalah kondusifitas. Hindarilah saling mencaci, menghina, atau melakukan hal-hal yang bisa menimbulkan kericuhan dan memecah belah ummat.

4. Cegahlah semua bentuk kecurangan yang mungkin terjadi di TPS-TPS tempat kita menyalurkan suara.

5. Mari kita perbanyak doa semoga Allah ‘Azza wa Jalla menganugerahkan kepada bangsa kita pemimpin yang takut kepada-Nya, bukan pemimpin yang sombong dan memusuhi agama-Nya. Semoga Allah Ta’ala membuka pintu-pintu kebaikan dan menutup pintu-pintu keburukan bagi negeri ini. Hanya Dialah sebaik-baik tempat berharap.

Demikian seruan ini kami buat.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Jakarta, 10 Syaban 1440 H/16 April 2019
Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Dr Nashirul Haq
Ketua Umum

Tumbuhkan Wirausaha Santri Pesantren Hidayatullah Gutem

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) -— Upaya menumbuhkan kewirausahaan baru kalangan santri di tengah perkembangan teknologi industri terus diupayakan termasuk bersinergi dengan pemerintah. Seperti dilakukan Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak (Gutem), Kota Balikpapan, dengan Kementerian Perindustrian (Kemenprin).

Beberapa waktu Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, memberikan bantuan pada Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung tembak sebanyak 10 unit mesin jahit, 2 mesin obras serta mesin pasang dan lubang kancing dengan nilai anggaran sebesar Rp400 juta.

Dirjen IKMA Kementerian Perindutrian, Gati Wibawaningsih, mengungkapkan program peningkatan sumber daya manusia yang ada di kalangan pondok pesantren digullirkan sejak tahun 2019, salah satunya dengan memberikan bantuan untuk menumbuhkan kewirausahaan.

“Karena santri di pesantren itu lebih disiplin, waktu shalat ya mereka shalat, waktu belajar ya belajar dimana pesantren itu lebih tertib,” tuturnya usai penyerahan bantuan yang disaksikan Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian, di Balikpapan, Jumat (12/4/2019).

Gati menyebutkan sudah ada sejumlah pesantren yang berhasil menjalankan program itu diantaranya Pondok Pesantren Sunan Drajat dan Pondok Pesantren Lirboyo. Termasuk Pondok Pesantren Nurul Iman Bogor.

“Dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0, para santri diajari berkreasi. Bisa jadi animator atau menjadi ahli membaca coding dan juga ahli evaluasi data, karena itu yang dibutuhkan ke depan,” tukasnya.

Menurutnya, bantuan yang diberikan oleh Kementerian Perindustrian juga harus melihat kemampuan pondok pesantren yang disasar.

“Kalau di sini (Hidayatullah) kurang pas untuk diarahkan menjadi animator, karena belum ada sarana prasarana. Beda dengan Ponpes Sunan Drajat yang memiliki sekolah animasi,” ucapnya.

Untuk itu, bantuan yang diberikan kepada ppondok pesantren di Kalimantan Timur lebih pada pada kerajinan tangan dan konveksi. “Jadi lebih kepada memenuhi kebutuhan ponpes-nya, misal makanan, minuman sampai pakaian,” ujarnya.

Selain menyerahkan bantuan peralatan, Direktorat Jenderal IKMA juga memberikan bantuan teknis kepada satriwati dan warga sekitar Pondok Pesantren Hidayatullah. Bimtek itu berupa IKM Pakaian Jadi yang berlangsung selama 5 hari mulai 12 hingga 16 April mendatang.

“Cakupan ruang lingkup pembinaan kami, diantaranya pelatihan produksi dan bantuan mesin atau peralatan di bidang olahan pangan dan minuman, perbengkelan roda dua, kerajinan boneka dan kain perca hingga konveksi busana muslim dan seragam,” bebernya.

Di lokasi yang sama, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, Ustaz Hamzah Akbar menyambut program santripreneur karena menambah kegiatan positif para santri ketika mondok di pesantren.

“Para santri nanti berguna bagi masyarakat, menumbuhkan ekonomi daerah dan bisa menyerap tenaga kerja,” timpalnya seraya membeber unit pendidikan di Pondok Pesantren Hidayatullah.

Dia menyebutkan, jumlah santri di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak sekitar 1.000 santri, unit pendidikan di sini mulai dari PAUD, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah dan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah.

Pemberian bantuan alat konveksi dan bimtek disambut baik oleh para santri. Farida misalnya santri yang sudah tiga tahun mondok di Pondok Hidayatullah Gunung Tembak.

“Baik aja, karena saya dapat ilmu dapat mendesain dan menjahit dan ini menjadi bekal nanti setelah lulus dari pondok. Tapi nanti ilmunya juga akan kami kembangkan di pondok dengan membuat baju sendiri dan santri lainnya,” imbuhnya. (cdn/hio)

Kementan Canangkan Program Santri Tani Milenial di Sorong

0

SORONG (Hidayatullah.or.id) — Kelompok Santri Tani Milenial (KSTM) Kementerian Pertanian menjangkau wilayah Sorong Papua Barat. Program ini mengajak masyarakat Muslim, terutama generasi muda, untuk bercocok tanam.

Sebelumnya program ini diluncurkan pada awal 2019 di Tasikmalaya. Tujuannya untuk menggerakkan dan memotivasi generasi muda agar mau menjadi petani, yang dalam ungkapan Arab sering disebut sayyidul bilad (pemilik negara).

Wakil Direktur II Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari Dr Aswandi menyebutkan, ada sepuluh KSTM. Realisasinya diawali dengan pendataan penerima program dan dilanjutkan dengan bimbingan teknis (Bimtek).

Sebelum menjangkau wilayah Sorong, Bimtek telah dilakukan di Kabupaten Manokwari. Bertempat di Pondok Pesantren Hidayatullah, Manokwari pada hari selasa (26/3). Ayam buras menjadi ternak pilihan yang akan dibudidayakan peserta program ini.

Sebanyak empat kelompok telah memperoleh teori-teori dasar serta praktik pembuatan kandang. Kini giliran para santri kabupaten dan kota Sorong yang mendapatkan pengarahan. Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sorong, Magriet Beatriks Hendrika Nauw, membuka secara resmi Bimtek KSTM ini.

Peserta terdiri dari dua kelompok santri yang berasal Pondok Pasantren (Ponpes) Hidayatulloh, dua kelompok dari Ponpes Nurul Yaqin 2 KSTM, satu kelompok dari Ponpes Salafiyah. Kemudian ada satu kelompok dari Ponpes Darul Atsar. Total jumlah peserta sebanyak 60 orang.

Generasi muda

Program KSTM diharapkan dapat meningkatkan minat generasi muda pada sektor pertanian, percepatan pembudidayaan perternakan, meningkatkan minat, serta kompetensi santri bidang pertanian. Santri-santri yang terpilih dan tergabung dalam KSTM merupakan Santri Tani Milenial memiliki minat di bidang pertanian dan adaptif terhadap teknologi digital.

Tujuan dari Program ini yakni untuk meningkatkan PKS Santri Tani Milenial, serta memberi kesempatan santri untuk belajar bidang pertanian dengan pendekatan kelompok. Salah seorang santri dari Ponpes Daurl Atsar, Ahmad merasa senang dengan adanya kegiatan ini.

“Bagi saya Program KSTM sangat bermanfaat, terlebih ini menjadi peluang usaha bagi teman-teman santri serta dapat menambah pendapatan,” ujar Ketua KSTM Ponpes Daurl Atsar, Sorong.

Dandim 0831 Shalat Tahajjud Bersama Santri Hidayatullah

0

MULYOREJO (Hidayatullah.or.id) — Kodim 0831 Surabaya Timur menggelar safari salat tahajud bertempat di Masjid Aqshol Madinah, Pondok Pesantren Hidayatullah, Jl. Kejawaan Putih Tambak Gg. 6 No. 1, Kelurahan Kejawaan Putih Tambak, Kecamatan Mulyorejo, Surabaya, beberapa waktu yang lalu.

Dalam Sambutan Ketua 1 Pendidikan Pondok, Ustad Abdul Cholik LC menyampaikan ucapan terimakasih pada Anggota TNI yang telah meluangkan waktunya sudah datang ke Pondok Pesantren Hidayatullah untuk bersilaturahmi dengan Para Santri Pondok Pesantren Hidayatullah.

“Kami sangat mengapresiasi kepada TNI, khususnya, Kodim 0831/ST sebagai penjaga negara ini telah hadir disini. Dengan datangnya Bapak TNI, telah dapat berkontribusi memberikan rasa aman pada para santri Pondok Pesantren Hidayatullah,” terang Ustad Abdul Chalik LC.

Ditempat yang sama, Dandim 0831/ST, Letkol Inf La Ode Muhammad Nurdin, S.Sos, M.I.Pol menyampaikan rasa terima kasih pada Yayasan Pondok Pesantren beserta anggota Kodim 0831/ST yang telah meluangkan waktunya dalam meningkatkan Iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha esa.

“Kegiatan safari salat tahajud bertujuan untuk meningkatkan Iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta menjalin silaturahmi antara anggota TNI, khususnya, anggota Jajaran Kodim 0831/ST dengan pengurus yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah beserta santri,” papar Dandim 0831/ST.

Tingkatkan Kondusifitas Wilayah

Dandim menambahkan, kegiatan ini merupakan salah satu program Kodim 0831/ST untuk menciptakan situasi kondusif diwilayah Surabaya Timur.

Letkol Inf La Ode M Nurdin mengatakan kegiatan ini merupakan salah satu Program dari Kodim 0831/ST untuk bersilaturahmi di Pondok Pesantren ini, juga dalam menciptakan situasi yang kondusif diwilayah Surabaya Timur.

“Kegiatan salat tahajud ini akan terus dilaksanakan setiap hari Jumat dan tempatnya berpindah-pindah atau bergantian di wilayah Surabaya Timur,” imbuhnya.

Dandim berpesan kepada para santri, agar melaksanakan pendidikan dengan baik, menghormati para guru, supaya bisa diterapkan di kehidupan bermasyarakat dengan baik.

“Hargailah guru-guru yang ada disini. Karena di sini ada berbagai macam latar belakang dan pengetahuan yang luar biasa. Saya harap kepada para santri, manfaatkan waktu untuk mencari ilmu yang sebanyak-banyaknya, sehingga, dapat bermanfaat bagi nusa dan bangsa, dan dapat diaplikasikan dalam hidup bermasyarakat,” harap Dandim.

Masih kata Dandim 0831/ST, ia berharap, silaturahmi dan bahu-membahu antara TNI dan masyarakat untuk menjaga keamanan wilayah terus ditingkatkan, supaya tercipta kondusifitas di wilayah teritorialnya.

“Apabila ada waktu, kami mengharap agar bisa bersilaturahmi dan saling bahu membahu dalam menjaga keamanan di wilayah Surabaya timur. Teruslah berlomba-lomba dan Saling bahu membahu dalam menjaga Keamanan di wilayah Kodim Surabaya Timur sehingga tercipta situasi dan kondisi yang aman dan Kondusif khususnya wilayah Sukolilo,” tandas Dandim.

Safari salat tahajud dihadiri Dandim 0831/ST, Letkol Inf. La Ode Muhammad Nurdin, S.Sos, M.I.Pol, dan diikuti personel Kodim 0831/ST yang terdiri dari jajaran Danramil, Wadanramil, perwira Staf, hingga para Babinsa. Selain itu kegiatan dihadiri oleh Pengurus yayasan Pondok pesantren Hidayatullah beserta Santri sekitar 250 orang. (duta)

Prihatin Kasus Audrey, Mushida Ajak Kuatkan Pendidikan Adab

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah mengungkapkan prihatin yang mendalam atas kasus dugaan pengeroyokan oleh sejumlah anak perempuan SMA yang menimpa siswi SMP di Pontianak, Audrey (14 tahun).

Atas peristiwa yang kini telah mendunia tersebut, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida), Leny Syahnidar Djamil, mendorong semua pihak khususnya para orangtua dan pendidik untuk tak berhenti menguatkan pendidikan adab.

Dalam pada itu, Leny mengatakan, kasus Audrey tak musykil telah mencoreng dunia pendidikan, terutama tentang moral dan nilai agama. Pendidikan adab harus selalu menjadi arus utama dalam penyelenggaraan pendidikan, tegas Leny.

“Para pelaku tidak memahami bagaimana cara menyelesaikan masalah dan mengendalikan emosi. Karena itu para pelaku masih berada dalam bimbingan dan asuhan orangtua. Di sisi yang lain orangtua mereka harus bertanggungjawab juga terhadap kesalahan yang dilakukan pelaku,” kata Leny kepada media ini, Rabu (10/4/2019).

Leny menilai, kasus yang terjadi dari para pelaku, biasanya banyak berasal dari keluarga yang kurang serius dalam melakukan pendampingan dalam bimbingan adab dan agama.

Kendati demikian, tambah Leny, kendatipun sekiranya pelaku masih usia anak-anak sebagaimana diatur dalam undang-undang, mereka tetap perlu mendapatkan hukuman.

“Meskipun usia mereka secara hak masih tergolong remaja, tetap diberikan hukuman. Jangan sampai karena dianggap masih anak-anak, mereka lolos dari jerat hukum. Karena dengan begitu mereka tidak akan menyesali dan memikirkan kembali langkah ceroboh yang telah dilakukannya,” kata Leny.

Yang tak kalah penting dari itu, sambung Leny, adalah pendampingan orangtua terutama kepada korban agar tak mengalami kerusakan mental. Pertolongan kepada korban menurut Leny harus tuntas hingga mendampingi psikologisnya dan bisa keluar dari traumatik.

“Kita prihatin sekali. Mereka masih remaja. Baik pelaku maupun korban perlu mendapatkan perhatian. Pelaku selain dihukum, juga mesti menjalani terapi perilaku oleh spesialis. Korban pun demikian, harus mendapatkan treatment agar dapat kembali sehat dan hidup normal,” pungkasnya.

Kasus ini mendapat perhatian luas di media sosial sehingga muncul tagar #JusticeForAudrey yang sempat jadi trending topic nomor 1 dunia. Ada pula petisi #JusticeForAudrey yang sekarang sudah diteken lebih dari 3 juta kali.

Pihak Audrey telah melaporkan tiga orang ke polisi. Kasus ini sekarang ditangani oleh Polresta Pontianak dan sudah ditingkatkan ke penyidikan.

Berdasarkan pengakuan Audrey yang disampaikan sang ibu ke polisi, Audrey dianiaya oleh tiga orang dengan disaksikan sejumlah siswi SMA lainnya. Polisi telah menerima hasil visum Audrey dari rumah sakit. Visum itu dilakukan sepekan setelah peristiwa. Hasilnya, tidak ada lagi memar dan lebam di tubuh Audrey. (ybh/hio)

Ka’ab bin Malik dan Ujian Kejujuran Pemimpin Publik

KEJUJURAN bagaikan mutiara sangat indah yang mampu menarik pesona setiap manusia. Kalau ada yang lebih indah dari mutiara, maka kejujuran adalah perhiasan terindah yang berada dalam jiwa.

Ia memang susah dicari dan sukar didapatkan karena tak gampang dilakukan. Untuk menggapainya, perlu perjuangan dan pengorbanan. Karenanya, banyak sekali yang gagal menghadapi ujian ini.

Perhatikan efek yang ditimbulkan dari kejujuran! Para Nabi dipilih karena kejujuran. Abu Bakar menjadi Sahabat yang tercinta di mata Nabi di antaranya karena kejujuran dan terdepan dalam membenarkan setiap apa saja yang dikatakan Nabi. Para sahabat Nabi itu mulia karena kejujuran mereka.

Meski demikian, kejujuran tidak akan mendapatkan tempat pada hati orang yang tak menghargai keindahan nilai akhlak mulia. Kejujuran tidak akan mampu ditampung oleh manusia yang membebaskan diri dari nilai-nilai luhur.

Memang untuk mempertahankan dan meneguhkan diri agar senantiasa konsisten memegang eratnya penuh dengan dilema, penuh dengan onak duri dan rintangan. Kejujuran memang penuh risiko. Namun bak mutiara, apakah mutiara itu mampu didapat tanpa menyusuri ke dalam samudera?

Nabi Muhammad ﷺ diutus ke Jazirah Arab yang sangat mengindahkan kejujuran, oleh Dzat yang memerintahkan kejujuran, melalui Jibril; makhluk yang patuh dan penuh kejujuran.

Sahabat yang mengitarinya digembleng dan dilatih sedemikian rupa agar senantiasa jujur dalam segala hal. Tentu saja ada juga pengecualian-pengecualian seperti misalnya dalam konteks peperangan. Namun secara umum kejujuran benar-benar didawami secara sungguh-sungguh.

Pembaca yang budiman pernah mendengar Sahabat yang bernama Ka`ab bin Malik? Beliau merupakan Sahabat yang lulus dari ujian kejujuran ini. Kepahlawanannya bertolak dari peristiwa kejujuran yang ia pegang teguhi.

Ketika perang Tabuk (9 H) terjadi, dia absain tidak ikut padahal ia mampu, akibat bujukan nafsu hingga menunda-nunda waktu, perbuatan ini harus dibayar mahal berupa sanksi yang sangat-sangat berat.
Karena perbuatannya itu, dia diisolasi bicara selama 50 malam, bahkan istri tercintanya yang halal baginya diperintah meninggalkannya ketika malam ke empat puluh.

Suatu kondisi yang begitu berat baginya. Dia benar-benar diuji, betapa getirnya balasan orang-orang yang tak taat dan menunda-nunda perintah Nabi.

Betapa merananya, hidup di tengah-tengah keluarga dan saudara sesama Muslim, namun sama sekali tak mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan mereka. Itu adalah sanksi yang sangat wajar bagi Sahabat sekaliber Ka’ab bin Malik.

Menariknya, betapa beratnya ujian yang dihadapi, beliau tetap bisa teguh tegar memegang erat kejujuran. Ia menyadari betul sebenarnya ia mampu bersilat lidah, karena dia penyair Islam yang kondang.
Tapi hati kecilnya menolak kebohongan itu. Kebohongan apapun akan nampak di mata Allah ta`ala. Kalau ia ngotot (bersikeras) berbohong pasti akan turun wahyu yang akan membeberkan kedoknya.

Lebih pelik lagi, di sela-sela menjalani sanksinya, sebenarnya bukan hanya ia merasa sesak dadanya di tengah kelapangan bumi, namun ia juga mendapat godaan lain berupa bujukan dan rayuan dari utusan penguasa Gassan untuk bergabung dengan mereka.

Ia tetap teguh tegar, bahkan menyobek-nyobek surat ajakan mereka. Pada akhirnya Ka`ab bin Malik lulus dalam ujian kejujuran ini. Rasulullah ﷺ sampai mengatakan: “Selamat atas kebaikan di hari yang telah kamu lalui sejak engkau dilahirkan ibumu.”

Ka`ab Radhiyallahu ‘anhu gembira bukan main. Sejak saat itu pula ia berkomitmen pada Rasul ﷺ: “Saya akan senantiasa memegang prinsip kejujuran selama nyawa ini masih bersemayam dalam raga”.

Ia pun benar-benar membuktikannya hingga akhir hayatnya. Berangkat dari kejujuran hingga mati dalam kejujuran. Inilah kunci dari kepahlawanan Ka`ab bin Malik.

Ia mampu mengolah dan mengarahkan hatinya untuk senantiasa jujur dalam berbuat dan bertutur. Cermin hatinya selalu memantulkan kejujuran.*/ Mahmud Budi Setiawan (Hidcom)

Ponpes Hidayatullah Surabaya Harumkan Indonesia di Thailand

THAILAND (Hidayatullah.or.id) — Empat murid tim olimpiade Sekolah Integral Luqman Al Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur, mengharumkan nama Indonesia usai berhasil membawa pulang 4 medali dalam ajang Thailand International Mathematics Olympiad (TIMO) di Kota Phuket, Thailand, Ahad (07/04/2019).

Empat siswa membanggakan itu adalah Kurnia Amatullah Husna Rahmanto (Primary 5 meraih medali emas), Abdullah Nabil Adam Yusuf (Primary 4 meraih medali perak), Abdullah Nawwaf Malik Fajar (Primary 6 meraih medali perunggu) dan Aura Najma Kustiananda (Secondary 3, membawa pulang medali perunggu).

TIMO 2019 merupakan kompetisi bergengsi bidang matematika level internasional. Kompetisi se-Asia ini diikuti ratusan siswa level sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Tahun ini, babak final diadakan di Phuket, Thailand, 5-8 April 2019.

Penanggungjawab Tim Olimpiade Sekolah Integral Luqman Al Hakim Surabaya, Ust. Adi Purwanto, M.Pd yang juga menjabat sebagai Kepala Sekolah SD Luqman Al Hakim Hidayatullah Surabaya, menjelaskan bahwa raihan prestasi ini merupakan hasil dari proses panjang pembinaan yang dilakukan timnya.

“Alhamdulillah, raihan medali internasional ini memang sudah kami targetkan sejak awal. Sebelum kami terjunkan di level internasional, mereka kami uji latih di kompetisi tingkat lokal dan nasional terlebih dahulu. Selain untuk menakar kemampuan, proses ini bertujuan mengasah mental berkompetisi mereka”, jelasnya.

Proses memang tidak pernah mengkhianati hasil. Sejak tim olimpiade dibentuk 4 tahun yang lalu, ratusan medali dan piala berhasil diraih. Proses pembinaan berjenjang berkelanjutan, guru pembina yang kompeten, dukungan wali siswa, dan tim yang solid merupakan kuncinya.

“Diluar itu semua, pertolongan Allah SWT adalah segala-galanya. Tanpa-Nya, mustahil kami berada pada titik ini. Pencapaian ini semata-mata kami niatkan untuk li i’lai kalimatillah. Untuk meninggikan kalimat Allah. Menunjukkan pada dunia, bahwa kami sekolah Islam mampu berprestasi”, ujarnya.

Tidak hanya sekolah, orangtua wali siswa-pun ikut berbahagia atas pencapaian membanggakan ini.

“Alhamdulillah, raihan emas ini kami dedikasikan untuk seluruh anak Indonesia. Semoga anak-anak Indonesia yang lain bisa turut mengharumkan nama bangsa, negara, dan agama di kompetisi dan kejuaraan dunia lainnya”, ujar Ida Nurhidayati, ibunda Kurnia Amatullah Husna Rahmanto.

Sebagai seorang ibu, Ida bangga, bahagia, dan bersyukur bisa ikut mengharumkan nama Islam dan Indonesia. Ia mengaku, putrinya yang juga seorang penghafal Al Qur’an ini dipersiapkan bukan hanya untuk meraih prestasi semata, tetapi sebagai bagian dari perjuangan Islam.

“Bagi saya, prestasi ini sebagai bagian untuk memperjuangkan Islam. Saya ingin anak-anak mengharumkan nama Islam lewat prestasi matematika,” ucap Ida.

Barakallahu Fiikum wahai kader-kader pejuang Islam. Harumkan terus nama Indonesia. Junjung setinggi-tingginya ad-dienul Islam. Tunjukan kepada dunia, bahwa anak-anak muslim Indonesia bisa.*/Cakrud

Santri Hidayatullah Manokwari Dapat Bimtek Budidaya Ayam

0

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Santri Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari, Papua Barat, khususnya yang diseleksi memiliki minat di bidang peternakan, mengikuti kegiatan bimbingan tekhnis (bimtek) budidaya ayam buras bagi Santri Tani Milenial Kabupaten Manokwari di Pondok Pesantren Hidayatullah, Manokwari, belum lama ini.

Kegiatan yang diselenggarakan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Manokwari, ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap, serta memberikan kesempatan kepada santri tani milenial untuk mempelajari bidang pertanian melalui pendekatan kelompok.

Wakil Direktur II Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari, Dr. Aswandi menyebutkan, kegiatan ini merupakan program Kementerian Pertanian dalam gerakan penumbuhan SDM pertanian mendukung Indonesia sebagai lumbung pangan Dunia 2045.

“Para generasi muda tersebut diwajibkan menjadi satu kelompok yang disebut Kelompok Santri Tani Milenial (KSTM),” kata Aswandi.

Sebanyak sepuluh KSTM menerima bantuan unggas yang tersebar di Kabupaten Manokwari, Kota Sorong, dan Kabupaten Sorong. Polbangtan Manokwari turut mendapat amanah dalam penumbuhan dan penguatan KSTM di Wilayah Papua Barat.

Dalam kegiatan Bimtek, para Dosen Peternakan Polbangtan Manokwari turut berpartsipasi, diantaranya: Sritiasni, S.Pt., M.Si., Dr. Aswandi, Susan C. Labatar, S.Pt., M.Si, Ir. Enos The, M.P., serta perwakilan Dinas Peternakan, drh. Esti Vivi Damayanti D. Peserta dengan antusias menerima materi yang disampaikan.

Bimtek Budidaya Ayam Buras diikuti oleh empat KSTM yang terdiri dari 40 orang peserta yang berasal dari tiga pondok pesantren, Ponpes Hidayatullah, Ponpes Darussalam, dan Ponpes Salafiyah.
Turut hadir dalam kegiatan, Perwakilan Distrik Manokwari Selatan, serta Kepala Balai Penyuluh Pertanian Manokwari. Direktur Polbangtan Manokwari beserta Markus Sahetapy, S.ST. mengindentifikasi Kabupaten Sorong dan Kota Sorong, sedangkan Dr. Aswandi beserta Ir. Nani Zurahman, MP menelusuri Kabupaten Manokwari.

Program KSTM mensyaratkan Pondok Pesantren (Ponpes) memiliki lahan untuk penempatan kandang dengan kapasitas 500 ekor. Setiap KSTM beranggotakan 20-30 orang dengan umur 15-39 tahun yang memiliki keminatan di bidang peternakan. Tiap Ponpes dapat mengajukan maksimal 3 KSTM.

KSTM yang terpilih akan mendapatkan bantuan ayam 500 ekor umur 4 minggu, bantuan pakan 2 kilogram per ekor untuk 2 bulan. Paket vitamin dan desinfektan pun diberikan. Termasuk paket bantuan kandang serta Bimbingan Teknis budidaya ayam untuk 10 orang per-KSTM.

Dengan berjalannya Program KSTM, menjadi salah satu upaya dalam mendukung terwujudnya Indonesia sebagai lumbung pangan dunia 2045. Program KSTM diharapkan dapat memberikan bekal ilmu dunia bagi santri, meningkatkan kualitas, kompetensi santri di bidang peternakan dan santri dapat menjadi job creator sebagai wirausaha bidang peternakan.

Sementara itu pihak Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari menyambut baik program tersebut dan berharap dapat dilakukan secara berkelanjutan. “Kami berharap ditambah kuotanya,” Ust Suwandi, pengasuh Ponpes Hidayatullah, Manokwari, Papua Barat. (ybh/hio)

Direktur LBHH Narasumber Diskusi Islamic Lawyer Forum

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Direktur Lembaga Bantuan Hukum Hidayatullah (LBHH) Dr Dudung Amadung Abdullah, SH, MH, menjadi narasumber acara Diskusi Hukum bertema  “Pilpres & Masa Depan Penegakan Hukum di Indonesia’ diselenggarakan Islamic Lawyer Forum (ILF) yang diinisiasi oleh LBH Pelita Umat, digelar di Hotel Sofyan Cikini, Tebet, Jakarta, Ahad (7/4/2019).

Selain Dudung, hadir juga narasumber lainnya yaitu Direktur Divisi Pengembangan & SDM LBH Paham  Busyara, SH, CLA, Advokat LKBH Universitas Sahid Wahyu Nugroho, Sekjen LBH Pelita Umat  Chandra Purna Irawan, SH, MH, Mudir Ma’had Al-Ukhuwah Al-Islamiyah Semarang  KH Ainul Yaqin dan dipandu langsung oleh Direktur LBH Pelita Umat Ahmad Khozinudin, SH.

Ahmad Khozinudin yang menjadi host dalam diskusi ini mengatakan bahwasanya tema ini sangat penting diangkat karena mengingat waktu Pilpres tinggal hitungan hari.

“Maka perlu didiskusikan secara perspektif hukum. Apa dan bagaimana kondisi dunia hukum saat Pilpres dan setelahnya,” kata Khozin menjelaskan dalam pembukaan diskusi.

Dudung selaku pembicara pertama terlebih dahulu menjelaskan kondisi dunia hukum di Indonesia saat ini. Menurut Dudung, masih terjadi keburaman hukum saat ini, terbukti dengan kacaunya penegakan hukum dan semakin banyaknya kriminalisasi para ulama, ustadz dan dai.

“Saat ini, di tengah masyarakat tercipta dua kondisi. Yang pertama, terbangunnya rasa ketakutan, maksudnya ketakutan dalam menyampaikan kebenaran. Masyarakat dibayangi dengan persekusi dan kriminalisasi apabila menyuarakan kebenaran. Tentu ini hal buruk dalam dunia demokrasi,” kata Dudung yang juga pendiri Kantor Hukum DRDR ini.

“Kedua, terbangunnya rasa permusuhan antar anggota masyarakat. Masyarakat terbelah. Hal ini diperparah dengan kondisi ekonomi dan sosial masyarakat yang semakin jauh perbedaannya,” tambahnya.

Terakhir dalam closing statemennya Dudung berkata mengutip Hakim Artidjo, “Jika di sebuah negara tidak terjadi penegakan hukum maka wibawa negara akan runtuh.”

Senada para pembicara lainnya mengaminkan bahwasanya memang saat ini terjadi kekacauan hukum. Banyak sekali produk dan keputusan hukum yang tidak sesuai tujuan dan nilai-nilai hukum itu sendiri. Belum lagi penerapan hukum yang masih lemah.

Narasumber sependapat dengan kian masih tajamnya pedang hukum ke bawah namun tumpul ke atas. Tambah lagi fakta di masyarakat masih sering terjadinya persekusi, intimidasi bahkan kriminalisasi terhadap para aktivis, ulama dan da’i.

Di akhir diskusi, narasumber sepakat bahwasanya kita semua sesuai dengan kapasitasnya perlu untuk mengawal Pilpres, baik secara langsung di TPS dengan menjadi saksi maupun pengawas.

Kemudian bagi para aktivis hukum dipandang perlu menyiapkan langkah-langkah hukum secara konstitusional untuk mengawal penegakan hukum secara adil.

Diskusi hukum yang lebih dikenal dengan nama Islamic Lawyer Forum (ILF) ini diinisiasi oleh LBH Pelita Umat Umat, sebuah lembaga bantuan hukum yang aktif dalam membantu pembelaan dan pendampingan hukum bagi masyarakat terutama yang tidak mampu (probono). */Hidayatullah,MH, anggota LBH Hidayatullah