Beranda blog Halaman 511

Setiap Muslim Harus Selalu Bersungguh-sungguh dalam Kebaikan

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Salah seorang tokoh perintis Hidayatullah, Ustadz Hasyim HS, mengingatkan bahwa setiap Muslim itu adalah dai pejuang dengan berbagai profesi yang berbeda.

Hal itu disampaikan Hasyim dalam lanjutan acara Dialog Peradaban Berbasis Gerakan Nawafil, yang digelar di Hall Utama Masjid Agung Ar-Riyadh, Balikpapan, 7 Rabiul Akhir (15/12/2018) lalu.

Artinya, terang dia, setiap muslim harus selalu bersungguh-sungguh dalam mengerjakan kebaikan dan memberi teladan kepada orang lain.

“Orang itu dai pejuang tapi jadi tukang. Dai pejuang sekaligus guru. Dai pejuang tapi kerja di kantor,” kata sahabat kental Ustadz Abdullah Said ini mengingatkan satu pesan Pendiri Hidayatullah seraya memberi contoh.

Menurut salah satu penggagas Hidayatullah ini, gerakan nawafil adalah bukan sesuatu yang baru. Dia merupakan sunnah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam (Saw) dan umum dikerjakan oleh kaum Muslimin.

“Jadi ini hanya wasilah. Harapannya, kesadaran berislam itu lebih terkawal dan menjadi sistem sosial di tengah masyarakat,” ucap ustadz jebolan Pesantren Darussalam, Ponorogo tersebut.

Jika gerakan ini berjalan, lanjut Ketua Dewan Pembina Pesantren Hidayatullah Balikpapan, maka akan lahir di tengah umat satu generasi yang punya kekuatan ruh dan spritual yang kuat untuk memikul amanah dakwah. Satu generasi yang tak henti berproses meningkatkan kualitas iman dan ibadah kepada Allah.

“Kita sadar semuanya lemah. Bisa apa kita tanpa pertolongan Allah. Tapi terlanjur amanah dakwah itu diambil oleh manusia.” terang Hasyim soal pentingnya ibadah nawafil dan menjaga hubungan kepada Penciptanya.

Diketahui, GNH adalah hasil rumusan Silaturahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah, lalu. Satu seruan kepada segenap umat Islam, khususnya kader Hidayatullah untuk senantiasa meningkatkan kualitas dan kuantitas keimanan mereka dengan merutinkan ibadah-ibadah nawafil.

Di antara yang tercantum adalah menegakkan shalat berjamaah di masjid dan shalat sunnah, membaca al-Qur’an satu juz setiap hari, merutinkan shalat lail setiap malam, infak setiap hari, menjaga wirid dan zikir, serta menunaikan hak sesama berupa dakwah fardiyah.*/Masykur Abu Jaulah

“Hidup Hanya Sekali, Semoga Selalu dalam Koridor Ilahi”

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) – Ketua Majelis Dewan Pertimbangan Pimpinan Umum (DPPU) Hidayatullah, Ust. Abdullah Ihsan, mengingatkan bahwa hidup ini hanya sekali maka pastikan semoga hidup kita selalu dalam koridor Ilahi serta sudah sesuai dengan cara dan tuntunan dari Allah dan Rasul-Nya.

Hal tersebut disampailan beliau saat mengisi taushiah dalam acara Forum Mudzakarah Hidayatullah di Semarang.  Acara ini berlangsung selama 2 hari diikuti oleh segenap kader dan jamaah Hidayatullah sejak Sabtu-Ahad (15-16/18).

“Iman itu indah. Tetapi apabila hati kita ini belum tergerak melakukan sesuatu yang dijanjikan oleh Dzat yang Maha menepati janji, berarti ada masalah dengan hati kita.  Periksa dan temukan solusi memperbaikinya,” katanya mengingatkan sekaligus memotivasi.

Diakhir taujihnya, Ketua I MUI Provinsi Bali ini kembali mengingatkan kiranya seorang mujahid dakwah itu harus selalu menjaga wudhu dan melaksanakan gerakan Nawafil Hidayatullah yang sudah dilaunching dan diikrarkan bersama saat Silatnas Hidayatullah beberapa waktu lalu di Kampus Pusat Hidayatullah Gunung Tembak yang dihadiri tidak kurang 11.000 orang.

Dinginnya Kampus Al Izzah yang ada di Desa Tangkil, Kelurahan Pringapus, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah, semalam dirasakan semakin larut semakin ‘hangat.’

Kehangatan itu bukan karena suguhan camilan tuan rumah malam itu secara jasmani yang terus menghangatkan peserta mudzakarah, tetapi yang lebih ‘menghidupkan’ lagi adalah taujih yang disampaikan Ust. Abdullah Ihsan.

Beberapa hari lalu beliau bertolak dari Pulau Bali melalui jalan darat menyebrang ke pulau Jawa. Dipilihnya jalan darat karena ia selain harus bersilaturahim juga mengisi beberapa tempat untuk menguatkan semangat dan spirit perjuangan para kadernya.

Dalam lawatan dakwah kali ini, Jateng kebagian dua tempat yakni Pesantren Hidayatullah Kudus dengan agenda Tabligh Akbar dan Pondok Pesantren rintisan Al Izzah Hidayatullah Kabupaten Semarang.

Petuah-petuah yang lahir dari lubuk hati seorang yang sehari-hari aktivitasnya adalah dakwah dan diterima oleh hati-hati yang sudah di’kosongkan’ untuk siap menerima pesan-pesan taujih, maka serasa hati ini terisi kembali penuh dengan spirit-spirit perjuangan.

Semalam, di Kampus rintisan Al Izzah Hidayatullah Kabupaten Semarang, Ust. Abdullah Ihsan berulang kali mengingatkan kepada seluruh jama’ah untuk selalu menjaga spirit keimanan.*/Yusran Yauma

Kemenag Mamasa Apresiasi Kiprah Dakwah Hidayatullah

0

MAMASA (Hidayatullah.or.id) – Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, H. Imran K. Kesa, M.Pd, menyampaikan apresiasi atas kiprah Hidayatullah yang sudah lebih setahun melebarkan sayap dakwahnya ke daerah tersebut.

Hal itu disampaikannya dalam acara Rapat Kordinasi Pimpinan Ormas Islam yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama kabupaten Mamasa bertempat di Aula FKUB kabupaten Mamasa, beberapa waktu lalu.

Kepala Kemenag menjeaskan, “Sejak dua bulan menjabat sebagai kepala, saya sangat bangga dengan kinerja tim dalam lingkup institusi yang ia pimpin”. Ia meraskan suasana kerja yang penuh toleransi, demikian imbuhnya.

Disadari, bertugas menyelesaikan sebagian amanah kementerian agama pusat, ia dan rekan-rekan sejawatnya turut mengapresiasi ormas Islam di kabupaten Mamasa dalam mengemban amanah dakwah dengan keberagaman beragama di tanah Kondosapata itu.

“Kami tidak bisa bekerja sendiri, kami mencoba ingin menghadirkan mereka (para dai dari ormas manapun) dan akan diperluas agar mengokohkan gerak yang tersistem dan dibenarkan secara undang-undang Negara kita” imbuhnya.

Ia mengaku sangat bersukur dengan hadirnya Hidayatullah dan ormas lain di Mamasa ini, menurutnya Hidayatullah sebagai bagian penting sangat diharapkan dalam mengangkat sumber daya manusia.

Ditemui diruang kerjanya Imran Kesa menyebutkan “Saya berharap secara pribadi dan pemerintah mengapresiasi Hidayatullah bisa ambil bagian dalam mencerdaskan masyarakat”.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Mamasa, Abdul Kadir,  juga turut hadir sebagai peserta dalam Rapat Kordinasi Pimpinan Ormas Islam Kabupaten Mamasa tersebut. Juga hadir pula Pimpinan Daerah Muhammadiyah, Pimpinan Daerah Nahdlatul Ulama (NU), Wahdah Islamiyah dan beberapa imam masjid di kota Mamasa.

Salah satu rekomenasi pertemuan tersebut adalah tergagasnya dua rumah tahfidz di kota yang diprakarsai oleh Kemenag. Dikerjasamakan dengan ormas Islam dalam penyelenggaraannya. Juga membuka wadah komunikasi ormas Islam sebagai sarana dalam merapikan gerakan dakwah di daerah tersebut.

Sekretaris MUI kabupaten Mamasa, Abdul Hafidz, yang hadir dalam acara itu menyebutkan di Mamasa ada empat agama dan dua aliran kepercayaan. “Ini berarti menuntut kita para dai untuk bekerja lebih rapi  dan santun”.*/Muhammad Bashori

Penguatan dalam Pengamalan Gerakan Nawafil Hidayatullah

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Menindaklanjuti Deklarasi Ummul Quro pada helatan Silaturahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah lalu, Pesantren Hidayatullah Balikpapan menggelar acara “Dialog Peradaban Berbasis Gerakan Nawafil”, Sabtu malam, 7 Rabiul Awal 1440 H.

Acara bertempat di Hall Utama Masjid Ar-Riyadh, Balikpapan dengan menghadirkan beberapa kader senior Hidayatullah sejak masa perintisan pesantren era 1970-an. Di antaranya, Ustadz Amin Mahmud, Ustadz Abdul Qadir Jailani, Ustadz Abdul Qadir Abdullah, Ustadz Manandring Abdul Gani, dan Ustadz Zainuddin Musaddad.

“Sebenarnya ada banyak ustadz yang layak jadi nara sumber dalam acara dialog, tapi setidaknya mereka mewakili semua untuk digali spirit dan ilmunya,” ucap Abdul Ghofar Hadi, selaku pemandu acara.

Mengawali dialog, Ustadz Amin Mahmud berpesan selalu berdoa dan mendoakan orang lain agar diberi hidayah dan istiqamah dalam ibadah.

Menurutnya, itulah kekuatan sesungguhnya selain dari upaya manusia secara sungguh-sungguh.

“Kalau belum hafal al-Qur’an ya kemana-mana harus bawa mushaf al-Qur’an. Minimal itulah bukti usaha kita mencintai Allah,” ucap Amin Mahmud, yang didaulat menjadi tokoh penggiat baca al-Qur’an.

Menurut Amin, orang beriman itu mesti rindu dengan Allah. Dia berasal dari ciptaan Allah dan akan kembali kepada Penciptanya.

“Itu yang bikin rindu setiap saat baca al-Qur’an. Ada komunikasi yang terjaga dan itu menjadikan hati tenang,” ucap ustadz yang mengaku punya target tertentu baca al-Qur’an setiap hari.

Selanjutnya giliran  Ustadz Abdul Qadir Jailani, penggiat shalat wajib berjamaah sekaligus shalat malam. Ia menyebut Program GNH bukan sesuatu yang baru. Tapi amalan mulia Nabi dan sudah jadi tradisi lama pesantren, secara khusus.

“Sejarah panjang Hidayatullah tidak bisa lepas dari shalat wajib berjamaah dan shalat malam,” ungkap Abdul Qadir. “Hidayatullah hadir dimana-mana karena pertolongan Allah lewat shalat malam itu,” lanjutnya.

“Masa awal pesantren, para santri bahkan shalat malam di kebun singkong atau di gubuk reot,” kenang ustadz yang pernah menjelajah dakwah ke sejumlah wilayah.

“Jadi memang harus ada peningkatan, kalau dulu itu kebiasaan, saatnya menjadi kebutuhan dan sesuatu yang dicintai,” ujarnya sambil menyebut beberapa keutamaan shalat malam.

Hampir senada apa yang diutarakan Ustadz Manandring dan Ustadz Abdul Kadir Abdullah. Masing-masing berbagi pengalaman spritual tentang suka duka berdakwah di masyarakat dan pentingnya menjaga kondisi spritual melalui berbagai amalan nawafil (sunnah)

“Jadi tantangan dakwah dan merasa berjuang itulah yang membuat aktifis dakwah itu selalu menjaga hubungannya kepada Allah.

Terakhir, ustadz Zainuddin Musaddad berbagi pengalaman tentang budaya infak. Menurutnya ini berkaitan dengan keyakinan akan janji Allah.

“Infak itu rumus matematika Allah yang pasti. Janji kelipatan pahala itu pasti benar. Bahkan ada sampai tidak terbilang jumlahnya,” paparnya.

Untuk diketahui, Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) adalah program nasional terbaru yang dituang dalam Deklarasi Ummul Quro.

Piagam tersebut menyeru kepada segenap umat Islam, khususnya kader Hidayatullah untuk senantiasa meningkatkan kualitas dan kuantitas keimanan mereka dengan merutinkan ibadah-ibadah nawafil.

Di antara yang tercantum adalah menegakkan shalat berjamaah di masjid dan shalat sunnah, membaca al-Qur’an satu juz setiap hari, merutinkan shalat lail setiap malam, infak setiap hari, menjaga wirid dan zikir, serta menunaikan hak sesama berupa dakwah fardiyah.*/Masykur Abu Jaulah

Sosialisasi Empat Pilar MPR di Pesantren Hidayatullah Gutem

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Empat Pilar Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI paling sejalan dengan keyakinan agama umat Islam. Selain karena berjumlah mayoritas, kaum Muslimin juga telah terbukti kontribusinya terhadap bangsa Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan oleh KH Aus Hidayat Nur, anggota DPR RI dalam acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, yang diadakan di Aula Abdullah Said, Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak (Gutem), Balikpapan, Kalimantan Timur, semalam, Rabu (12/12/2018).

Dikatakan Aus, sejak awal, umat Islam bahu membahu memperjuangkan kemerdekaan bangsa, terlibat aktif menyusun dasar negara, serta terus bersinergi mengisi kemerdekaan dan pembangunan negeri.

“Jadi atas izin Allah, tidak mungkin umat Islam mau mengkhianati bangsa Indonesia,” jelas politisi dari Dapil Kalimantan Timur tersebut.

Di hadapan para santri yang terdiri dari 200 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) dan Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH), Aus menerangkan beberapa faktor yang berpotensi mencederai Empat Pilar MPR RI.

Paling utama, lanjut Aus, adalah pemahaman yang bertentangan dengan agama dalam persoalan bangsa. Fenomena belakangan ini dianggap Aus, justru bertentangan dengan agama dan pilar itu sendiri.

“Ada orang berteriak NKRI tapi bakar bendera tauhid. Berteriak Pancasila tapi korupsi. Mengaku toleran padahal melakukan persekusi dan kriminalisasi pada ulama,” ungkap Aus memberi contoh.

Demikian itu sebut Aus sebagai bentuk salah kaprah terhadap pilar yang ada.

Terakhir, Aus berharap sosialisasi Pilar MPR terus berjalan beriring dengan peningkatan pemahaman agama, khususnya di kalangan mahasiswa dan generasi muda.

“Kalian jangan ragu mengambil peran optimal di tengah masyarakat. Sejak dulu bangsa kita ini akrab dengan pemuda dan semangatnya,” tutupnya memberi motivasi.*/Masykur Abu Jaulah

Kejati Sulut Sambangi Kampus Hidayatullah Tomohon

0

TOMOHON (Hidayatullah.or.id) – Rombongan pejabat dan pegawai Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Utara (Sulut), menyambangi Pondok Pesantren Hidayatullah Tomohon, Selasa (11/12/2018).

“Kami hadir di sini tak lain untuk saling berbagi pada sesama, dan tentunya dengan etika baik,” ujar Mamudi, Asisten Pembinaan Kejati Sulut di sela-sela kegiatan.

Sementara itu, Ketua Panitia Anjangsana Ledrik Takawendengan memberikan semangat pada anak-anak panti, agar apa yang dicita-citakan kelak akan tercapai.

“Saya pribadi sudah yatim piatu sejak berusia 11 tahun. Tak ada bedanya dengan kalian (anak panti) sejak saya anak-anak. Teruslah belajar dan tetap mengadalkan Tuhan, yakin dan pasti masa depan itu cerah,” jelas Takawendengan.

Pada kesempatan itu pihaknya menerahkan sejumlah bingkisan kepada Pondok Pesantren Hidayatullah Tomohon. Kata dia, apa yang diberikan ini, lanjut Takawendengan, jangan dilihat dari segi barang dan nominalnya, tapi nilailah ketulusan untuk saling berbagi.

“Anjangsana ini akan terus kami lakukan. Selain di Tomohon, beberapa tempat juga di Manado kami sasar, baik itu Muslim maupun Non Muslim,” ungkap Takawendengan.

Ketua Yayasan Panti Asuhan Hidayatullah Nuryadin Majid mengucapkan banyak terima kasih pada Kejati Sulut yang sudah peduli pada panti asuhan.

“Terima kasih banyak atas segala bantuan, dan terima kasih juga panti asuhan kami masuk dalam agenda Kejati dalam hal pemberian bantuan,” jelas Majid.

Mohon dimaafkan juga, sebab pelaksanaan serah bantuan ini di tempatkan di dalam masjid. Tak ada pilihal lain, sebab aula belum ada. Untuk ruang belajar sendiri memang luas. Berhubung karena sudah disekat-sekat jadi sudah menjadi kecil.

“Insya Allah ke depannya akan ada donatur atau siapa pun untuk membantu pengadaan aula di panti ini, agar bila ada pertemuan dan kegiatan lainnya dan membutuhkan tempat yang besar, kami bisa laksanakan di aula,” ungkap Majid.

Adapun beberapa barang yang diberikan Kejati Sulut pada Yayasan Panti Asuhan Hidayatullah berupa kasur, dan beberapa keperluan belajar dan harian lainnya.

Di penghujung acara, keluarga besar Kejati Sulut bersama para pegurus panti dan anak panti foto berjamaah di dalam dan luar masjid.*/Mardi Golindra/kn

Hidayatullah Batam Daurah Bahasa Arab Metode Fashih

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) – Bekerjasa sama Departemen Luar Negeri DPP Hidayatullah, Pondok Pesantren Hidayatullah Batam menggelar Daurah Pengajaran Bahasa Arab Metode Fashih, di Kampus Utama Hidayatullah Tanjung Uncang, Kota Batam, beberapa waktu lalu (10/12/2018).

Acara dilaksanakan di Aula Serbaguna Gedung Hidayatullah Asia Raya. Hadir sebagai nara sumber Dr. Datres Hidayat, Lc. MEd, alumnus Universitas Al-Qur’an Alkarim Oumdurman Sudan dan Syaikh Muhammad Muhammad bin Abdul Karim, asal Mesir, serta bersamanya Dzikrullah W. Pramudya, Kepala Departemen Luar Negeri (Deplu) DPP Hidayatullah.

Turut juga hadir Kepala Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, Ustadz Muhammad Sholeh Utsman, Ketua Yayasan PP Hidayatullah Batam, Ustadz Jamal Nur, Ketua DPW Hidayatullah Kepri, Ustadz Khoirul Amri, serta ratusan peserta dan tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya pada pembukaan, Kadep Deplu DPP Hidayatullah, Dzikrullah, demikian ia disapa, menjelaskan tujuan diadakannya acara ini, yaitu untuk menegakkan peradaban al-Qur’an lewat wasilah bahasa Arab. Sebab, dengan memahami bahasa Arab, maka orang akan lebih mudah memahami al-Qur’an.

“Al-Qur’an itu akan memberi pesona pada manusia dan negeri yang ditempatinya, oleh karena itu pelajari dan ajarkan bahasa Arab”, papar wartawan senior ini.

Dengan al-Qur’an, lanjutnya, maka negeri itu akan maju, terpesona, dan menjadi peradaban yang unggul.

Ia mencontohkan tentang negeri Suriah (Syam). Selama ribuan tahun tidak pernah menggunakan bahasa Arab, tapi bahasa Syiriac dan Armaic, saat dalam kekuasaan Romawi. Tapi saat ditaklukkan oleh para sahabat pada abad ketujuh, seketika itu pula peradabannya berubah padahal peradaban Romawi pada saat itu sudah maju.

“Bahasanya diganti dengan bahasa Arab, kulturnya berubah dengan Islam, masyarakatnya terpesona oleh al-Qur’an,” terang Dzikrullah.

“Itu karena Islam adalah peradaban yang lebih maju dibanding peradaban Romawi, dan al-Qur’an ditegakkan disana”, lanjutnya.

Daurah dibuka secara resmi oleh Ketua Yayasan PP Hidayatullah Batam, Ust. Jamaluddin Nur. Dalam sambutannya ia menyampaikan harapan besar agar terwujudnya kampus bahasa di Kampus Hidayatullah Batam ini, yaitu Arab, Inggris dan Mandarin.

“Ini adalah langkah awal. Besar harapan saya agar kampus ini menjadi pusat pembelajaran tiga bahasa, Arab, Inggris serta Mandarin. Kita mulai dulu yang utama, yaitu bahasa Arab, karena ia bahasa al-Qur’an”, ucapnya.

Jadi, terangnya, para guru, dosen, dan pengasuh ini harus menjadi penggerak bahasa di setiap level unitnya, imbau Jamal di hadapan seluruh peserta daurah.

Ia juga mengucapkan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Deplu DPP, yang telah menginisiasi acara daurah pengajaran bahasa Arab ini di Kampus Batam.

Daurah diikuti sebanyak 64 peserta dari para pengajar bahasa Arab di unit pendidikan masing-masing Yayasan PP Hidayatullah Batam dan para utusan dari Kampus Hidayatullah yang ada di wilayah Kepulauan Riau. Acara akan berlangsung selama tiga hari, Senin-Rabu (10-12/12/2018), dari pagi hingga sore.*/Azhari

Baharun Tampil dalam Program Penyuluh Al Qur’an UIM Saudi

0

MADINAH (Hidayatullah.or.id) – Fakultas Al-Qur’an Universitas Islam di Madinah (UIM), Saudi Arabia, menghadirkan sebuah program spesial dalam rangka penyuluhan untuk memasyarakatkan seni bacaan Al Qur’an dimana program ini dipimpin oleh Pengawas Umum yang juga Dekan Perguruan Tinggi Universitas Islam Madinah, Dr. Amr Abdel Azim El Deeb, yang sekaligus sebagai Direktur Eksekutif program tersebut.

Video berikut ini adalah episode pertama dari program ini. Dalam keterangannya, program memilih suara para mahasiswa dari perguruan tinggi untuk membaca Ayat-ayat Al-Qur’an dengan berbagai bacaan, dan dari berbagai tempat, berpusat di sekitar makna Al-Quran yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Adapun tujuan program diantaranya dalam rangka menyebarkan budaya membaca bacaan Al-Quran sesering mungkin. Program ini juga untuk menyoroti bakat para mahasiswa Fakultas Al-Qur’an di Universitas Islam, mengenalkan jenis-jenis bacaan atau metodogi bacaan yang sesuai sanad, menghubungkan kalimat dari satu ayat tujuan serta dalam rangka meningkatkan pemahaman pengetahuan dengan menerjemahkan makna Al-Quran Suci.

Dalam proyek video perdana ini, Fakultas Al-Qur’an Universitas Islam di Madinah memberi kesempatan pertama kepada Muhammad Baharun Musaddad sebagai pembaca Al Qur’an dan dua kerabat mahasiswa lainnya.

Muhammad Baharun yang jebolan Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan dan Pesantren Tujutuju, Kajuara, Sulsel, ini adalah putra Indonesia peraih juara II Hifzul Quran 30 JUZ yang diadakan oleh Universitas Islam Madinah Saudi dan Juara II perlombaan Al Qur’an di Sudan yang diikuti 16 negara dengan peserta 200 an peserta yang diselenggarakan oleh Munadzzomah Riaayatul Tullab Al-Wafidiin, dimana saat itu ia menjadi mahasiswa Universitas Internasional Afrika, Khortoum, Sudan

Semoga ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua khususnya anak muda Indonesia agar semakin cinta dan dekat dengan Al-Quran. (ybh/hio)

[youtube width=”100%” height=”300″ src=”24dvkGXe32A”][/youtube]

Jenjang Marhalah Ula, Berilmu untuk Berkhidmat pada Negeri

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Kaum Muslimin membutuhkan solusi fundamental untuk merancang bangun kembali peradaban Islam. Sejarah membuktikan, tak sedikit perjuangan umat Islam kandas di tengah jalan akibat daripada arah gerakan yang keliru.

Penajaman visi di atas diungkap oleh Ustadz Sholeh Usman dalam acara Pembukaan Marhalah Ula bertema “Berilmu untuk Berkhidmat pada Negeri” yang dihadiri 130 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan, 6-7/12.

Menurut Ketua Departemen Pengkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, potensi dan energi umat Islam selama ini nyaris terkuras untuk hal-hal yang kurang strategis dalam dakwah.

“Kita kebanyakan masih bereaksi bukan sebagai aksi yang terencana dalam membina umat,” terang Sholeh.

Untuk itu Marhalah Ula diharapkan mendorong mahasiswa untuk menganalisis dan mengkaji apa yang sesungguhnya menjadi pokok persoalan umat sekaligus mendapatkan solusi yang jitu.

Hilangnya kesadaran bertuhan, lanjut Sholeh, disebut asas permasalahan tersebut. Manusia berilmu, bekerja, dan beraktifitas, namun justru kehilangan orientasi dari semua rutinitas yang dikerjakan.

“Jangankan berpikir untuk umat dan bangsa ini, orang demikian tidak bisa merasakan kebahagiaan pada dirinya. Padahal setiap hasrat dunianya sudah terpenuhi semua,” papar ustadz yang pernah diamanahi Direktur Kuliah Dai Mandiri, di Balikpapan.

Persoalan kedua, lanjut Sholeh, umat Islam belum menapaktilasi secara utuh perjalanan dakwah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.

“Nabi mengawali dakwahnya dengan penguatan pondasi iman. Maka kita pun mestinya mengkaji Al-Alaq 1-5 sebagai basis akidah,” terangnya lebih jauh.

Dikatakan Sholeh, turunnya wahyu secara berkaitan dan berurutan bukanlah sebagai peristiwa biasa begitu saja tanpa hikmah apa-apa.

“Justru itulah pola dakwah dan pembinaan pribadi sekaligus umat. Satu pola sistemis dan sistematis untuk gerakan dakwah. Inilah sunnah Nabi dalam dakwah,” jelasnya lagi.

Diketahui, Marhalah Ula terintegrasi dari pendidikan dan pengkaderan bagi seluruh mahasiswa di lingkup Perguruan Tinggi Hidsyatullah (PTH). Kelak, setelah menjadi dai sarjana, mereka semua akan diterjunkan ke seluruh pelosok negeri untuk berdakwah dan membina masyarakat.

Terakhir, acara ditutup dengan pembacaan ikrar mahasiswa sebagai Kader Ula bagi yang dinyatakan lulus pada jenjang pembinaan Marhalah Ula tersebut.

“Kita bersyukur karena mahasiswa PTH sejak awal sudah disiapkan menjadi penerus dakwah di tengah umat,” ujar Nanang Nur Patria, Ketua Departemen Pendidikan Tinggi (Dikti) DPP Hidayatullah.

“Syukurnya lagi, STIS dan Kampus Gunung Tembak yang pertama melaksanakan hasil Rakernas Hidayatullah lalu. Tentu ini teladan buat kita semua,” tutupnya.*/Abu Jaulah

Kesabaran Imam at Thobari

ADALAH Imam Thobari, salah satu ulama mufassir, muhadist sekaligus muarikh. Lahir di Thabaristan (sebuah wilayah di negeri Parsi, yang terletak antara Jurjan dan Dailam), pada tahun 224 H, dan meninggal di Baghdad pada tahun 310 H.

Karya-karya yang telah ditulisnya adalah Jami’ul Bayan Fannu Ta’wili Ayil Qur’an yang lebih dikenal dengan Tafsir Thobari, Ikhtilaful Fuqaha’, Attarikh Atthabari, dll.

Dia adalah seorang ‘alim yang memiliki kepribadian yang mulia dan tawadhu’, baik terhadap para tamu dan murid-muridnya. Tidak memiliki sifat takabur atau menjadi sombong karena ilmu yang telah dimilikinya (Lihat, Al Imam At Thobari, karya Dr. Muhammad Zuhayli, hal. 79).

Berkata Abu Bakar bin Kamil, salah satu ulama yang hidup semasanya:

“Aku menjenguk Abu Ja’far (Imam Thabari) ketika ia hendak meninggal, dan aku memintanya untuk memaafkan semua orang yang telah memusuhinya. Aku berbuat demikian dikarenakan guruku, Abu Hasan bin Husain, dimana aku telah menimba ilmu tentang Al Qur’an darinya” (dan dia telah memusuhi Imam Thobari, dikarenakan Imam Thobari telah memuji Imam Abu Hanifah). Maka Imam Thobari pun menjawab permintaan Abu Bakar bin Kamil: “Semua yang telah memusuhiku telah aku maafkan, kecuali mereka yang telah menuduhku berbuat bid’ah.” (Mu’jamul Addiba’, hal 84, vol.18).

Muhammad bin Dawun Adhahiri, salah satu ulama Madzhab Dhahiri, anak dari Dawud Adhahiri, pendiri Madzhab Dhahiri, telah telah menuduh Imam Thabari dengan beberapa-tuduhan batil, mencelanya dan mengkritiknya.

Hal itu dikarenakan Imam Thabari telah mendebat ayah Muhammad bin Dawud. Namun setelah Imam Thabari bertemu dengan Muhammad bin Dawud ia memaafkannya seluruh perbuatan si anak dan ia memuji ayahnya, sehingga Muhammad bin Dawud tidak lagi melemparkan tuduhan buruk terhadap Thobari (Al Imam At Thobari hal. 76, lihat juga Mu’jamul Addiba’ hal. 80, vol 18).

Ketika Imam Thobari sampai ke Bagdad dari Thabaristan, para pengikut Madzhab Hambali menanyakan kepadanya beberapa hal, salah satunya adalah sebab Imam Thobari tidak mencantumkan nama Imam Ahmad dalam kitabnya, Ikhtilaful Fuqaha’.

Maka Imam Thobari menjawab: “Adapun Imam Ahmad tidak dihitung khilafnya”. Lalu mereka menyanggah: “Tapi para ulama menyebutnya dalam ikhtilaf”.

Lalu dijawab Oleh Imam Thobari: “Aku tidak melihat bahwa hal itu diriwayatkan dari Imam Ahmad, dan aku juga tidak melihat para sahabatnya merujuk kepadanya dalam masalah fiqih, adapun Imam Ahmad adalah imam dalam hadits dan tidak membangun sebuah Madzhab fiqih”.

Maka ketika mereka mendengar jawaban Imam Thabari mereka menganiayanya dan melempari pintu rumahnya dengan bebatuan.

Tidaklah Imam Thabari kecuali berbicara kepada mereka sesuai dengan akal, pemahaman dan ta’ashub mereka. Dan ia menulis sebuah buku untuk menjelaskan alasannya, lalu ia menyebut madzhab dan akidahnya yang sesuai dengan madzhab dan aqidah Imam Ahmad dan salaf, lalu membacakan buku itu untuk mereka. Maka usailah perselisihan.

Akan tetapi sebagian dari sebagian dari kaum awam mdzhab Hambali tetap tetap memperlakukan Imam Thabari, ketika ia sudah wafat, mereka melarang penguburan jenazhanya di siang hari dan munuduhnya sebagai pengikut Rafidhan dan orang-orang bodoh menuduhnya sebagai orang yang telah murtad. Hingga akhirnya jenazah Imam Thobarai dikebumikan di dalam rumahnya (Lihat Mu’jamul Addiba’ hal. 59, vol. 18, juga At Thabaqah As Syafi’iyah Al Kubra, hal. 124, vol. 3, juga Al Bidayah wan Nihayah, hal. 146, vol. 11).

Ibnu Katsir, dalam kitabnya, Al Bidayah wan Nihayah ia mengatakan: “Hal itu merupakan hal yang mustahil terdapat pada diri Imam Thobari akan tetapi sebaliknya, ia adalah salah satu ulama dan imam umat Islam, yang beramal berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah (Al Bidayah wan Nihayah, hal. 154, vol. 11).

Bahkan beberapa ulama menyampaikan pujian untuknya, salah satunya adala Imam Ad Dzahabi, ia berkata dalam Mizanul I’tidal: “Seorang imam besar, mufassir, Abu Ja’far, pemilik banyak karya tertulis…, salah satu dari ulama besar yang dijadikan rujukan (Mizanul I’tidal ). (Hidcom)