JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Wakil Presiden Republik Indonesia Muhammad Jusuf Kalla akan membuka helatan Silaturrahim Nasional (Silatnas) III Hidayatullah yang akan digelar di Kampus Pusat Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, 22-25 November mendatang.
Demikian disampaikan Ketua Steering Committee (SC) Silatnas III Hidayatullah Tasmin Latif usai diterima Wakil Presiden di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Kamis (25/10/2018).
“Bapak Wapres menyatakan kesiapannya untuk membuka Silatnas dan beliau menyebut untuk yang ketiga kalinya hadir di Kampus Gunung Tembak,” kata Tasmin Latif.
Silatnas Hidayatullah yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali itu mengusung tema “45 Tahun Hidayatullah Berkhidmat untuk NKRI Bermartabat”.
Selama lima hari berada di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, peserta yang diperkirakan 10.000 dai, akan mengikuti berbagai event yang dirancang sesuai kebutuhan dai dengan berbagai profesinya.
“Bapak Wapres mengapresiasi tema Silatnas sebagai bentuk komitmen Hidayatullah dalam membangun negeri. Beliau memuji Hidayatullah merupakan ormas yang cepat perkembangannya di Indonesia. Dan memberi perioritas dakwah di daerah pedalaman termasuk hampir semua kabupaten di Papua sudah berdiri Hidayatullah,” kata Tasmin.
Selain agenda umum; pembekalan dai, bedah buku peradaban, dialog antar pengurus lintas generasi Hidayatullah, lomba karya ilmiah dai muda, pelajar dan mahasiswa, pameran karya dai muda Hidayatullah, reuni alumni PTH, jambore SAR dan Syabab Hidayatullah, training wirausaha nasional, panitia juga menggelar kegiatan departemental, di antaranya: penugasan Dai transmigran, kegiatan hapus tato Sahabat Hijrah, seminar kewirausahaan dan sebagainya.
Dalam kesempatan tersebut, Wapres berpesan kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk para ulama dan dai, untuk tetap tenang dalam menghadapi situasi yang berkembang akhir-akhir ini dan tidak mudah terprovokasi.
Wapres kemudian berpesan agar Hidayatullah, sebagai salah satu organisasi massa Islam, dapat berperan dalam menjaga harmoni dengan mengajak masyarakat untuk tetap berkepala dingin menyikapi berbagai peristiwa yang terjadi.
Mendampingi Wapres dalam pertemuan tersebut Kepala Sekretariat Wakil Presiden Mohamad Oemar, Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan Bambang Widianto, dan Staf Khusus Wapres Bidang Penanggulangan Kemiskinan dan Otonomi Daerah Syahrul Udjud. (ybh/hio)
SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Kalimantan Timur, Andi Harun, mengatakan khidmat Hidayatullah untuk bangsa Indonesia dalam mengembangkan dakwah dan pendidikan merupakan luar biasa yang sangat berguna dalam pembangunan bangsa.
Hal tersebut disampaikan orang nomor satu di Partai Gerindra Kaltim ini saat menerima panitia Silatnas III Hidayatullah di Kota Samarinda, beberapa waktu lalu.
“Saya mengenal Hidayatullah sejak kecil. Hidayatullah adalah aset bangsa Indonesia yang wajib kita jaga. Hidayatullah telah memberikan peran luar biasa yang sangat berguna dalam pembangunan sumber daya manusia dan pendidikan agama di NKRI. Ini merupakan aset dan modal pembangunan bangsa Indonesia,” Andi Harun.
Pada kesempatan tersebut, ketua Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Provinsi Kaltim ini mendoalan dan menyampaikan ucapan selamat sukses atas agenda penyelenggaraan Silaturrahim Nasional Hidayatullah 2018 ini.
“Selamat, tahniah atas penyelenggaraan silaturahim nasional Hidayatullah dengan harapan dan doa semoga Hidayatullah terus menjadi bagian yang tidak pernah putus dari pembangunan bangsa Indonesia khususnya sumberdaya manusia dan keagamaan,” pungkasnya.
Selama lima hari berada di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, peserta yang diperkirakan 10.000 dai, akan mengikuti berbagai event yang dirancang sesuai kebutuhan dai dengan berbagai profesinya.
Selain agenda umum; pembekalan dai, bedah buku peradaban, dialog antar pengurus lintas generasi Hidayatullah, lomba karya ilmiah dai muda, pelajar dan mahasiswa, pameran karya dai muda Hidayatullah, reuni alumni PTH, jambore SAR dan Syabab Hidayatullah, training wirausaha nasional, panitia juga menggelar kegiatan departemental, di antaranya: penugasan Dai transmigran, kegiatan hapus tato Sahabat Hijrah, seminar kewirausahaan dan sebagainya.
Tak lupa pula, dalam menghadapi tahun politik 2019, para peserta akan mendapatkan pencerahan tentang politik keumatan dan kebangsaan. Seluruh peserta akan dibekali tentang politik siyasah, serta bagaimana sikap politik Hidayatullah pada Pileg dan Pilpres 2019.*/Usamah Sudiono
BONTANG (Hidayatullah.or.id) – Hidayatullah akan menyelenggarakan Silaturrahim Nasional (Silatnas) yang -insya Allah, digelar pada tanggal 22-25 November 2018 di Kampus Pusat Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur. Silatnas tersebut bertepatan dengan usia 45 tahun Hidayatullah.
Walikota Bontang Hj. Neni Moerniaeni saat menerima panitia Silatnas III Hidayatullah memuji dan memberi apresiasi atas kiprah Hidayatullah dan berharap Silatnas dengan tema “45 Tahun Hidayatullah Berkhidmat untuk Bangsa” ini berlangsung lancar.
“Hidayatullah tetap memberikan yang terbaik tidak hanya untuk kota Bontang, tetapi juga untuk Kalimantan Timur bahkan Indonesia,” kata Walikota Neni saat menerima panitia Silatnas III Hidayatullah di rumah dinasnya di Bontang, Senin (21/10/2018).
Neni lantas menceritakan pengalamannya sejauh ini tentang interaksinya dengan Hidayatullah. Ia mengatakan baginya Hidayatulllah tak asing lagi bahkan sudah dikenal dan mengetahui kiprahnya sejak masih belia.
“Karena Hidayatullah ada di pelosok-pelosok nusantara. Saat saya bertugas di Serui (Papua) saya pernah silaturahim dengan Hidayatullah di sana,” kata dokter spesialis kandungan ini.
Walikota Bontang yang karib disapa Bunda Neni berharap agar Hidayatullah tetap memberikan yang terbaik kepada bangsa Indonesia serta semakin memantapkan khidmatnya di setiap pelosok nusantara.
Dalam silaturrahim audiensi tersebut hadir Ketua Panitia Silatnas Akbar 2018, Hamzah Akbar, ditemani Ketua Dewan Pengurus wilayah Hidayatullah Kalimantan Timur DR Muhammad Tang Es. Selain itu tampak juga Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah Sofjan Sumlang, Sekretaris DPW Hidayatullah Kaltim Abdullah Sjarief dan pembina Yayasan Hiadyatullah Bontang Ust H Jamaluddin Ibrahim.
Selama lima hari berada di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, peserta yang diperkirakan 10.000 dai, akan mengikuti berbagai event yang dirancang sesuai kebutuhan dai dengan berbagai profesinya.
Selain agenda umum; pembekalan dai, bedah buku peradaban, dialog antar pengurus lintas generasi Hidayatullah, lomba karya ilmiah dai muda, pelajar dan mahasiswa, pameran karya dai muda Hidayatullah, reuni alumni PTH, jambore SAR dan Syabab Hidayatullah, training wirausaha nasional, panitia juga menggelar kegiatan departemental, di antaranya: penugasan Dai transmigran, kegiatan hapus tato Sahabat Hijrah, seminar kewirausahaan dan sebagainya.
Tak lupa pula, dalam menghadapi tahun politik 2019, para peserta akan mendapatkan pencerahan tentang politik keumatan dan kebangsaan. Seluruh peserta akan dibekali tentang politik siyasah, serta bagaimana sikap politik Hidayatullah pada Pileg dan Pilpres 2019.*/Usamah Sudiono
SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) – Walikota Samarinda, Syaharie Jaang, mengatakan pihaknya selaku pemerintah mengapresiasi dan menyampaikan terimakasih atas peran pembangunan kawasan oleh Hidayatullah di kota Tepian dan Indonesia secara umum.
“Hidayatullah selalu menjaga keharmonisan dalam bingkai NKRI. Bahwa untuk kepentingan daerah dan bangsa, Hidayatullah luar biasa. Pembinaan generasi muda oleh Hidayatullah dalam bidang moral dan akhlak sungguh luar biasa,” kata Syaharie, Selasa.
Dalam pada itu, Syaharie pula memuji Hidayatullah khususnya di Kota Samarinda yang menurutnya terus mengalami kemajuan dan perkembangan serta seiring dengan itu kiprahnya semakin dirasakan masyarakat khususnya di bidang dakwah dan pendidikan.
Kampus Hidayatullah Samarinda sendiri kini membina ratusan santri. Bahkan baru baru ini siap memberikan beasiswa pendidikan gratis untuk 100 anak-anak korban gempa tsunami Sulawesi Tengah khususnya bagi anak-anak yang kehilangan orangtuanya.
Di tahap awal ini Hidayatullah Samarinda siap memberikan beasiswa penuh bagi 100 orang putra/i setingkat SMP dan SMA. Beasiswa ini meliputi biaya pendidikan, konsumsi dan akomodasi selama menempuh pendidikan dengan konsep pesantren.
Hidayatullah Samarinda kini mengelola dan menyelenggarakan pendidikan formal untuk tingkat menengah dan atas yaitu 2 sekolah SMP, 1 sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs), 1 sekolah SMA dan 1 Madrasah Aliyah (MA).
Dalam silaturrahim audiensi tersebut hadir Ketua Panitia Silatnas Akbar 2018, Hamzah Akbar, ditemani Ketua Dewan Pengurus wilayah Hidayatullah Kalimantan Timur DR Muhammad Tang Es. Selain itu tampak juga Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah Sofjan Sumlang, Sekretaris DPW Hidayatullah Kaltim Abdullah Sjarief dan pembina Yayasan Hiadyatullah Bontang Ust H Jamaluddin Ibrahim beserta panitia lainnya.*/Usamah Sudiono
Sehubungan telah terjadinya peristiwa pembakaran bendera bertuliskan lafadz La ilaha illallah Muhamad Rasulullah oleh oknum anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Limbangan, Garut, Jawa Barat, pada Ahad (21/10/2018) maka kami, Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, menyatakan sikap sebagai berikut:
1. Menyesalkan tindak pembakaran tersebut karena telah menyakiti perasaan seluruh umat Islam, terlebih lagi dilakukan bersamaan dengan peringatan Hari Santri Nasional.
2. Jika bendera yang dimaksudkan adalah bendera HTI, maka seharusnya tak perlu dibakar, cukup diamankan saja. Sebab, bagaimanapun, di dalam bendera tersebut ada kalimat syahadat yang amat sakral bagi umat Islam.
3. Meminta aparat mengusut tuntas motif pembakaran tersebut dan menghukum seluruh pelaku jika memang ditemukan unsur penghinaan terhadap agama pada aksi tersebut.
4. Meminta kaum Muslim untuk tidak berlebihan merespon tindakan pembakaran bendera ini. Tindakan berlebihan berpotensi dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin memecah belah ukhuwah kaum Muslim yang telah terjaga di negeri ini.
Demikian pernyataan sikap ini kami buat dan semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga bangsa ini dari tindakan makar dan fitnah. Aamiin.
MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) – DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan gelar Rapat Konsolidasi bahas persiapan dan suksesi Silaturrahim Akbar Nasional (Silatnas) Hidayatullah 2018, Sabtu (20/10/2018).
Rapat konsolidasi ini diikuti oleh sekretaris Hidayatullah se-Sulawesi Selatan dan panitia teknis pemberangkatan peserta Silatnas Hidayatullah dari kafilah Sulawesi Selatan.
Ketua DPW Hidayatullah Makassar Drs. Mardhatillah dalam sambutannya menyampaikan, “saya ingin kembali mengulanginya di sini adalah penguatan peran, tugas dan fungsi strategis sekretaris”.
“Seorang sekretaris diharapkan mampu membantu ketua mengoptimalkan tata kelola organisasi dengan kaidah tri tertib yaitu tertib administrasi, tertib program dan tertib organisasi,” kata Mardhatillah.
Lebih lanjut, Mardhatillah mengatakan, tak kalah pentingnya hari ini adalah kaitannya dengan kesiapan kita menyambut dan menyemarakkan agenda besar organisasi yakni Silatnas yang insya Allah digelar di Balikpapan.
“Sulawesi Selatan adalah pintu gerbang Indonesia timur, kita tidak hanya akan mengurusi warga dan kader kita di Sulawesi Selatan namun juga kawan-kawan dari daerah lain baik itu pemberangkatan maupun kepulangan,” jelasnya.
Olehnya itu, lanjut dia, kesiapan kita akan ‘diuji’, sejauh mana layanan-layanan tersebut bisa kita hadirkan.
“Disini kita tak lagi berbicara DPW, Kampus Utama, BMH, tapi kita berbicara Hidayatullah Sulawesi Selatan. Kesiapan dan kesigapan kita tersebut adalah wajah Hidayatullah Sulawesi Selatan sesungguhnya,” kuncinya.*/Andi AM. Salassa
PALU (Hidayatullah.or.id) – Merasakan derita yang dialami oleh korban terdampak bencana gempa dan tsunami di Donggala–Palu dan Sigi, Pengurus Daerah Muslimat Hidayatulah Kabupaten Mamuju, Rumah Tahfidz Al-Furqan dan TK Integral Al-Furqan membagikan paket bantuan langsung ke tenda-tenda pengungsi di wilayah tersebut.
“Semoga apa yang kami berikan bisa mengurangi sedikit beban mereka di pengungsian,” ungkap Miftahus Saadah, kepala rombongan yang juga anggota Departemen Organisasi dan Annisa PD Mushida Mamuju, beberapa waktu lalu.
Aksi Mushida yang dilakukan pada Rabu tanggal 17 Oktober atau hari ke-20 paska bencana itu masih sangat dirasakan manfaatnya oleh korban.
Banyaknya bantuan yang masuk ke daerah tersebut masih belum merata faktor beberapa hal di lapangan rombongan berinisiatif langsung menuju ke titik pengungsi.
Dari penelusuran Mushida Mamuju, diketahui bahkan bantuan yang datang ke pengungsi terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan. Pakaian bekaspun tidak sesuai dengan ukuran badan dan kebutuhan mereka. Meskipun tetap ada beberapa juga yang sesuai.
“Terpaksa dipakai saja meski sempit daripada tidak pakai baju,” ujar salah seorang pengungsi sebut saja namanya Mawar.
Pengungsi asal kelurahan Mamboro yang sejak hari pertama tinggal di tendanya sekitar dua kilometer ke arah timur tepatnya di atas bukit yang lebih tinggi dari perkampungan itu membagi tugas dengan keluarganya.
Siang hari mereka berdiam di tenda sambil menunggu bantuan, malam harinya para lelakinya sebagian turun ke kampung untuk memastikan rumahnya aman dari penjarahan.
“Kami ini sudah kena musibah gempa dan tsunami dijarah lagi rumah,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Sehingga sejak penggalangan dana dari wali murid dan umum dari amal usaha yang dikelola Mushida tersebut diutamakan pakaian dan perlengkapan bayi, perlengkapan pribadi wanita dan bahan makanan pokok.
Bantuan langsung diberikan kepada pengungsi korban dan terdampak bencana yang masih mendiami tenda-tenda pengungsian karena mereka masih trauma mendiami rumahnya dengan seringnya gempa susulan.*/Muhammad Bashori
MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) Syabab (Pemuda) Hidayatullah Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar Bincang Keummatan dengan mengangkat tema “Menjaga Harmonisasi Antar Ummat dengan Mengedepankan Nilai-nilai Pancasila Menyongsong Pileg dan Pilpres 2019 yang Damai dan Dejuk”, Ahad (21/10/2018).
Ketua PW Syabab Hidayatullah Sulawesi Selatan Muhammad Roby Sebastian, dalam kesempatan tersebut mengatakan gelaran acara ini sekaligus memuat seruan agar penyelengggaraan Pemilihan Umum (PemilU) serentak 2019 mendatang untuk menentukan Presiden dan anggota legistalif agar berlangsung damai dan sejuk.
Dia mengatakan, setiap kompetisi, pasti ada riak-riak negatif yang menyertai. Sehingga tugas kita sebagai pemuda dan santri bagaimana agar tidak terprovokasi, tidak terperdaya pada isu yang bisa merusak harmonisasi kita sesamaa umat.
“Kita lihat saja apa visi misinya, mana yang baik di antara para calon. Kita tidak boleh saling mencederai kalau ada yang mencederai itu pasti melanggar aturan,” jelas Roby yang baru menanggalkan masa lajangnya belum lama ini.
Syabab Hidayatullah, jelas dia, akan terlibat aktif dalam mengkampanyekan pemilu damai dan sejuk serta mendorong segenap pemuda tidak terjebak dalam siklus politik yang sudah barang tentu tidak selalu linier.
Lebih jauh dia menerangkan Syabab Hidayatullah adalah organisasi kepemudaan nasional yang berfokus pada pembinaan dan pemberdayaan generasi muda dalam rangka menyiapkan kader bangsa dalam bingkai Islam yang berdedikasi serta memililiki loyalitas keindonesiaan.
Sementara itu, pembina Kampus Hidayatullah Makassar, Ust Abdul Majid, selaku pembicara di hadapan santri, ini mengatakan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi. Sehingga, nilai-nilai demokrasi haruslah dijunjung tinggi dalam setiap even politik.
Dijelaskan Majid, proses Pileg maupun pilpres, ini banyak diwarnai isu hoax yang bisa saja memunculkan perpecahan ummat. Karena itu Majid berharap, mereka yang berada di balik calon presiden dan wakil presiden mengedepankan aspek moralitas karena masing-masing calon juga mewakili kalangan umat.
“Ketika idealisme sudah tidak ada, maka inilah yang bisa merusak harmonisasi di pilpres, harusnya kita tidak perlu saling gontok-gontokan ketika bicara Pilpres. Kita harus pelajari dulu, ketika kita paham makna dan tujuannya itu pilpres, Insya Allah pilpres berjalan dengan damai,” kata ustad Majid di Ponpes Hidayatullah, Jl Bumi Tamalanrea Permai, Makassar, Ahad (21/10/2018).
“Harmonisasi bisa terjadi ketika pihak-pikak di balik kedua tokoh (capres-cawapres) saling menjaga dan tidak menyebar isu hoax. Tugas utama ummat hari ini bagaimana membekali diri dengan nilai-nilai Pancasila terutama nilai-nilai ketuhanan dan nilai-nilai tauhid,” tambah Majid.
Hadir juga pembicara lain, Sekretaris Kammi Sulselbar Abdul Karim. Abdul Karim, menyatakan, Indonesia bukan hanya satu kelompok atau golongan, tapi beragam. Menurutnya, menjelang Pileg dan Pilpres itu rentan terjadi perpecahan, sering kali dibenturkan isu yang mencoba memecah belah antar ummat beragama.
“Tindakan provokatif bisa kita minimalisir dengan tidak percaya isu hoaks,” katanya.*/Abdul Aziz Alimuddin
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menggelar Rapat Pleno Hidayatullah selama 3 hari di Jakarta yang dibuka pada hari Selasa (16/10/2018). Sidang Pleno ini dihadiri oleh segenap pengurus DPP Hidayatullah dan Dewan Mudzakarah Hidayatullah.
Rapat Pleno Hidayatullah mengangkat tema “Menguatkan Mainstream Gerakan Dakwah dan Tarbiyah Membangun Indonesia Bermartabat”. Rapat berlangsung di ruang pertemuan sementara di Komplek Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah yang saat ini sedang dalam proyek pembangunan.
Sidang dipimpin langsung oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Dr H. Nashirul Haq dan didampingi Ketua Dewan Mudzakarah Hidayatullah Abu A’la Abdullah, MH.I
Sidang berlangsung khidmat walaupun suhu ruangan yang relatif panas karena kapasitasnya yang terbatas sehingga pendingan ruangan tak berfungsi dengan baik.
Keputusan keputusan dalam Sidang Pleno Hidayatullah khususnya terkait program mainstream dakwah dan tarbiyah ini juga akan disosialisasikan pada helatan Silaturrahim Nasional III Hidayatullah di Kampus Pusat Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan, Kalimantan Timur, 26-28 November mendatang.(ybh/hio)
Suasana silaturrahim nasional atau Silatnas Hidayatullah yang dulu dikenal dengan usrah. Acara ini digelar kali pertama pada tahun 1973 di Karang Bugis, Balikpapan [DOK]Oleh Dr Abdurrohim*
TIDAK terasa Hidayatullah memasuki usia setengah abad. Banyak lompatan sejarah yang telah ditorehkan dan membuat decak kagum. Sebagai bagian dari gerakan kebangkitan umat (harakah al-Jihadiah al-Islamiah), kader-kader Hidayatullah terus berupaya konsisten menjaga ritme organisasi (jamaah) dalam semangat ketaatan pada kepemimpinan dan memegang teguh manhaj nubuwah (Sistematika Wahyu).
Ketika menengok kembali Sirah Nabawiah, ada beberapa landasan kultural yang melatari terbangunnya peradaban Islam. Di mana landasan kultural ini memiliki pengaruh penting atas terbentuknya suatu komunitas masyarakat beriman yang mendapatkan celupan dan siraman wahyu di bawah bimbingan langsung Rasulullah saw. Landasan kultural tersebut antara lain; kesalehan, militansi, ketaatan, dan persaudaraan (ukhuwah).
Landasan kultural tersebut sudah barang tentu juga harus menjadi landasan kultural gerakan Hidayatullah, atau bahkan telah menjadi khittah Hidayatullah secara kultural. Karena berdasarkan penuturan dan nasehat para sesepuh dan perintis Hidayatullah, hal-hal tersebut bisa jadi telah menjadi nilai-nilai inti (core values) dan menjadi faktor penentu tercapainya lompatan sejarah Hidayatullah di Indonesia.
Pertama adalah kesalehan. Sudah mafhum diketahui bahwa pada awal perlangkahan gerakan Hidayatullah, Allahu Yarham Ust. Abdullah Said sangat menekankan pada kader-kader awal Hidayatullah untuk mengartikulasikan prinsip-prinsip kesalehan baik secara individu (infiradhi) maupun organisasi (jama’i).
Proses membangun kesalehan tersebut diaplikasikan dengan melibatkan para santri secara konsisten pada rutinitas amaliah seperti sholat jama’ah, baca Qur’an, sholat tahajjud, puasa sunnah dan amaliah lainnya. Amaliah tersebut dilaksanakan secara konsisten dan telah menjadi kekhasan tersendiri dalam gerakan Hidayatullah. Dibuktikan dengan adanya pernyataan bahwa untuk mengetahui dia orang Hidayatullah atau bukan, dilihat dari durasi yang lama ketika sholat sehingga meninggalkan bekas tanda sujud di dahi.
Terbangunnya kesalehan para kader Hidayatullah tidak terjadi secara alamiah, tapi karena kesadaran yang muncul setelah melalui proses internalisasi nilai-nilai kesalehan yang terkandung dalam surah al-Muzammil ayat 1-10 dalam manhaj Sistematika Wahyu yang mengandung tujuh azimat untuk memperkuat kapasitas spiritual (spiritual capacity).
Dengan kapasitas spiritual yang mumpuni dari para pendiri dan perintis Hidayatullah, ternyata telah menjadi modal kultural yang sangat penting dalam proses perintisan cabang-cabang Hidayatullah di Nusantara.
Kedua adalah militansi. Semangat tinggi dan militansi juga telah menjadi ciri khas kader Hidayatullah. Militansi di sini tidak dimaknai sebagai etos perjuangan yang mengebu-gebu dalam jargon-jargon seperti khilafah dan daulah Islamiah. Juga tidak ditafsirkan dengan tindakan menghakimi kelompok masyarakat lain dengan tindakan teror dan sebagainya. Akan tetapi militansi dimaknai dengan sikap meleburkan diri dalam upaya memperjuangkan Islam dalam koridor yang telah ditetapkan oleh Hidayatullah, yaitu gerakan membangun kesadaran Islam melalui ranah pendidikan (tarbiyah) dan dakwah.
Tidak jarang militansi tersebut dibuktikan dengan melepaskan properti, materi, jabatan yang telah dimiliki ketika sebelum bergabung, dan siap menerima berapa pun gaji yang diberikan ketika telah bergabung dengan Hidayatullah. Militansi tergambar dalam etos kerja yang tinggi para santri dan kader Hidayatullah ketika melakukan kerja fisik untuk merintis dan membangun pesantren Hidayatullah serta cabangnya di seluruh Indonesia.
Militansi juga tercermin dengan jelas pada karakter resiliensi (keuletan/ketabahan) yang dimiliki oleh kader-kader Hidayatullah dalam merintis cabang-cabang Hidayatullah, dan merupakan salah satu efek yang timbul dari upaya menjaga khittah kultural yang pertama, yaitu kesalehan.
Ketiga, adalah ketaatan. Salah satu faktor penentu lompatan sejarah Hidayatullah adalah proses kaderisasi secara massif dan sistemik. Proses perkaderan dilakukan berdasarkan manhaj nubuwwah Sistematika Wahyu untuk melahirkan kesadaran memperjuangkan Islam.
Dengan kesadaran tersebut para santri dan kader Hidayatullah telah mempersiapkan diri untuk memikul amanah kelembagaan dalam bentuk penugasan kader. Secara umum para kader Hidayatullah dengan sigap merespon amanah penugasan. Sehingga penugasan dan kaderisasi adalah dua sisi yang tak terpisahkan. Kesigapan tersebut juga menggambarkan semangat ketaatan yang telah terbangun.
Dalam hal ini, ketaatan menjadi modal kultural yang sangat penting dalam pengembangan kelembagaan Hidayatullah. Proyeksi ketaatan menjadi etos kepengikutan yang positif (followership) para kader kepada kepemimpinan (qiyadah) Hidayatullah yang mengadopsi sistem kepemimpinan Imamah-Jama’ah. Di mana pola kepemimpinan ini berusaha mengikuti sistem kepemimpinan Rasulullah saw dan Khulafaurrasyidin.
Dengan modal kultural ini, tingkat keterlibatan dan partisipasi kader Hidayatullah sangat tinggi di dalam menyokong program-program keumatan ormas Hidayatullah. Hal tersebut juga menjadi faktor psikologis yang penting dalam pembangunan sumberdaya manusia di Hidayatullah. Tidak dapat dinafikan bahwa ketersiapan kader yang dengan sigap menerima amanah penugasan, menjadi faktor penentu perkembangan Hidayatullah ke seluruh Indonesia.
Keempat, adalah ukhuwah. Sejak awal mula dirintis, Hidayatullah hadir di tengah umat untuk menjadi perekat hubungan persaudaraan antar sesama Muslim di Indonesia yang saat itu terfragmentasi dalam perselisihan mazhab dan organisasi. Misalnya kompetisi dan persaingan yang tidak sehat terjadi antara NU dan Muhammadiyah, dan membuat jurang yang semakin lebar antara paham tradisionalisme yang diusung oleh NU dan paham modernisme Islam Muhammadiyah.
Pada sisi inilah Hidayatullah hadir dalam merekatkan kembali persatuan umat (ukhuwah Islamiah). Dalam praktiknya, para da’i Hidayatullah secara eklektik memiliki kemampuan beradaptasi dengan masyarakat Nahdliyin dan Muhammadiyah, karena membekali diri dengan skill yang dibutuhkan pada masyarakat dengan latar belakang tertentu. Bisa jadi hal tersebut menjadi faktor penyebab cepatnya perluasan cabang-cabang Hidayatullah se-Indonesia, karena sikap adaptif para da’i Hidayatullah. Konsep ukhuwah di sini adalah Ukhuwah Insaniah, Ukhuwah Islamiah, dan Ukhuwah Wathaniah.
Selain itu Hidayatullah secara organisasi telah menetapkan sebagai diri sebagai jama’atun min jama’atil Muslimin dengan prinsip jati diri Ahlussunnah Wal Jama’ah dan Wasathiyah. Dengan prinsip moderasi (wasathiyah), Hidayatullah tidak ingin terjebak dalam kutub ekstrim tertentu, dan bahkan tidak ingin terjerumus dalam politik praktis.
Kegiatan Silaturrahim Akbar Nasional Hidayatullah telah menjadi tradisi organisasi sejak era Allahu Yarham Ust. Abdullah Said, sebagai bentuk usaha menjaga ukhuwah sesama kader Hidayatullah, dan telah menjadi khittah kultural Hidayatullah sejak lama.
Semoga dengan Silatnas ditahun 2018 ini, para kader Hidayatullah bisa menjadikannya sebagai wahana untuk melestarikan kesalehan, militansi, ketaatan, dan ukhuwah Islamiah, agar cita-cita tertinggi terbangunnya Peradaban Islam bisa tercapai. Selamat Ber-Silatnas. Wallahu A’lamu Bisshawwab.
___________ *) Dr Abdurrohim,penulis adalah Kepala Lembaga Penjaminan Mutu STIS Hidayatullah Balikpapan.