Beranda blog Halaman 527

Siswa YPS Ikuti Pesantren Kilat di Hidayatullah Towuti

TOWUTI (Hidayatullah.or.id) – SMA Yayasan Pendidikan Sorowako (YPS) Sorowako Kecamatan Nuha bekerjasama dengan Hidayatullah mengadakan kegiatan pesantren kilat kepada 30 siswa dan siswi, bertempat di Pondok Pesantren Hidayatullah Towuti, Rabu (04/07/18).

Menurut Ketua Pelaksana, Najamuddin, kegiatan ini sebagai upaya untuk mengantar para siswa mengenal Allah SWT agar mampu menggapai hidup bahagia tanpa batas sebagai tema kegiatan tersebut.

“Kita inginkan para peserta menjadi generasi rabbani yang menjalankan ajaran Islam untuk menjaga Islam dan khususnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini,” ungkapnya.

Acar ini menghadirkan Trainer Revolution dari Jakarta, yakni Ustadz Usman Abdul Hamid.

Ada beberapa materi dalam kegiatan ini dan dijadwalkan juga belajar Al-Qur’an dengan kegiatan Grand MBA atau Gerakan Dakwah Mengajar Belajar Al-Qur’an,

“Alhamduillah para siswa mampu menghafal beberapa ayat bersama dengan terjemahannya,” tambahnya.

Kegiatan ini berlangsung selama kurang lebih 3 hari, yakni mulai pada hari Rabu hingga Jumat.

Nanti para siswa ditempatkan, layaknya santri Pondok Pesantren Hidayatullah Towuti, tidur hanya beralaskan karpet dan makan bersama santri. Bagi yang memiliki Handpone, siswa hanya diperbolehkan pegang Handpone selama sejam setiap harinya. (ybh/hio)

Teknologi dan Kelangkaan Ulama; Problem Akhir Zaman

“BAPAK! Ananda mau tanya sesuatu, boleh?” tanya Azka kepada orangtua laki-lakinya yang merupakan kiai terkemuka dikampungnya.

“Boleh. Silakan, dengan senang hati bapak akan menjawabnya selagi mampu,” sembari menyunggingkan senyum khasnya.

“Saat ini, teknologi kan semakin canggih. Kita sudah memasuki era digital, di mana percepatan-percepatan teknologi-informasi sedemikian tinggi. Dengan mudahnya kita mengakses informasi dan data apa saja bisa didapat hanya dengan sambang ‘Mbah Google’ atau buku-buku dalam format digital kita bisa mendapatkan informasi dengan secepat kilat,” papar Azka memberi pendahuluan sambil menghela nafas.

“Tapi,” ia mulai menyampaikan problem, “kenapa ya, kecanggihan teknologi dan informasi ini tidak berbanding lurus dengan jumlah ulama (yang dakwah dengan lisan dan tulisan) sebagaimana yang ada di zaman generasi emas terdahulu. Padahal, dengan fasilitas ala kadarnya dan manual, zaman mereka mampu melahirkan ulama-ulama berkaliber dunia?”

Dengan jawaban bijak Bapak Azka yang bernama Asli Muhammad Fatih Aqsha ini menanggapi, “Nak! Kita sekarang berada di gerbong akhir zaman.” “Maksudnya apa pak? Kiamat ya?” tanya Azka penasaran.

“Kurang lebih demikian. Salah satu tanda akhir zaman, sebagaimana riwayat Bukhari dan Muslim misalnya, di akhir zaman ilmu akan dicabut oleh Allah secara bertahap dengan dicabutnya nyawa ulama. Konsekuwensinya, umat akan menjadikan orang yang sejatinya bodoh menjadi ulama, sehingga malah sesat dan menyesatkan.”

“Ananda bisa membuat penelitian kecil-kecilan baik skala nasional maupun internasional, ulama-ulama yang mumpuni satu persatu diwafatkan oleh Allah, sementara penggantinya belum tentu ada.”

“Kecanggihan teknologi seperti saat ini, cukup susah mencari ulama sejati. Yang terkenal di media masa belum tentu adalah ulama sejati. Cukup bermodalkan kefasihan lisan, beberapa dalil al-Qur`an-Hadits serta kepiawaian retorika, secara kasat mata bisa dipermak menjadi ulama. Maka jangan heran ketika banyak ‘ulama gadungan merebak’ di akhir zaman.”

“Ayah jadi ingat kata-kata Ibnu Mas’ud dalam kitab ‘al-Adabu al-Mufrad’ (Bukhari, 1989: 275), ‘Saat ini kalian berada pada zaman yang ulamanya banyak dan oratornya sedikit. Kelak –sesudahnya- ada zaman di mana ulama kian sedikit sedang orator menjadi banyak’.”

“Memang dulu sarana dan prasarana untuk mencari ilmu tidak secanggih zaman now. Serba manual dan menghabiskan waktu yang tidak sebentar. Namun ananda, perlu kamu tahu bahwa di balik sarana terbatas itu, hidup dan perjuangan mereka tertempa dengan baik sehingga melahirga teknologi internal yang jarang dimiliki secara kolektif oleh orang-orang kekinian.”

“Contoh teknologi internal itu apa Pak?” tanya Azka dengan nada ingin tahu. “Contohnya keimanan, keikhlasan, kesabaran, keuletan, kegigihan, tak gampang menyerah dan tidak pernah berhenti hingga berjumpa mati”.

“Bayangkan, Baqi bin Makhlad Rahimahullah misalnya, rela berjalan ribuan kilo meter dari Andalusia ke Baghdad untuk berguru kepada Imam Ahmad bin Hanbal; ada yang dari Madinah ke Syam hanya mencari satu hadits dan lain sebagainya. Kalau mereka tidak memiliki teknologi internal tersebut, maka susah kiranya menghadapi kondisi yang cukup sulit.”

“Ilmu-ilmu mereka tersimpan dalam hati, pikiran dan karya tulis. Sedangkan sekarang, kebanyakan ilmu berada di lur diri manusia dikemas dalam bentuk buku standar atau didigitalisasi. Perlu kamu tahu nak, semakin canggih teknologi –kalau tidak cermat dalam menggunakannya- malah melahirkan budaya instan. Pada gilirinnya akan muncul generasi yang malas mencari ilmu, gampang melempem, masuk angin dan tidak tangguh dalam berjuang.”

“Makanya jangan heran ketika berbagai fasilitas sekarang begitu melimpah, namun tidak berbanding lurus dengan jumlah ulama.”
“Azka sudah mulai paham Yah. Azka juga pernah membaca hadit Bukhari bahwa di antara tanda-tanda kiamat adalah ilmu semakin sedikit dan kebodohan merajalela. Yang tidak kalah penting, ada merajalelanya fenomena penyerahan sesuatu kepada yang bukan ahlinya di berbagai bidang kehidupan yang turut menjadi faktor kerusakan sosial.”

“Sebagai tambahan nak, teknologi yang begitu mentereng dan luar biasa di zaman ini, di akhir zaman kelak akan rusak dan tak berfungsi akibat jatuhnya meteor –bisa dibaca dalam riwayat Ibnu Abbas yang dinyatakan Jayyid sanadnya oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari- yang kemudian mengeluarkan Dukhan (asap tebal) 40 hari 40 malam. Semua yang tercipta dari besi akan terinduksi dan rusak.”

“Alhamdulillah,” tanggapan Azka, “saya pernah membacanya dalam buku ‘Dzikir Akhir Zaman’ (Abu Fatiah, 2017: 263) mengenai hadits dan analisis ilmuan mengenai kejatuhan meteor yang akan bisa mengakibatkan kerusakan luar biasa hingga teknologi rusak sebagaimana yang dinyatakan oleh Michael Pine. Perang pun di akhir zaman dan transaksi jual-beli akan kembali manual.”

“Tepat sekali. Makanya, kalau kita di zaman ini terlalu bergantung dengan teknologi tanpa mempersiapkan keilmuan –dan berbagai persiapan menghadapi akhir zaman- secara mandiri, maka bagaimana nasib kita kalau menjumpai zaman itu. Ulama langka, yang dijadikan rujukan bertanya kebanyakan orang bodoh yang bersolek laiknya orang alim, maka kita akan menjadi rusak sebagaimana mereka.”

“Terus apa yang perlu kita siapkan yah?” “Mumpung masih diberi kesempatan hidup, belajarlah ilmu yang sungguh-sungguh, bangun komunitas yang fokus dalam bidang keilmuan, jangan lupa mengamalkannyam, cari guru ulama yang mumpuni, jangan terlalu bergantung pada teknologi (pergunakan sesuai dengan kadar kebutuhan saja), teruslah berjuang, serahkan sesuatu kepada ahlinya dan terus berupaya dan berusaha keraslah untuk menjadi ulama. Semoga, kamu akan menjadi ulama rujukan di kala ulama semakin langka di akhir zaman.” */Sumber: Hidayatullah.com

Wakil Bupati Lutim Saksi Nikah Massal Santri Hidayatullah

LUWU TIMUR (Hidayatullah.or.id) – Wakil Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, didampingi Staf Ahli Bidang Hukum dan Pemerintahan, Budiman, menjadi saksi saat nikah massal di Masjid Pondok Pesantren Hidayahtullah Wotu, Ahad (01/07/2018).

Tiga pasangan santri Pondok Pesantren Hidayatullah Kecamatan Wotu mengikuti prosesi nikah massal.

Wakil Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, mengatakan, pernikahan merupakan fitrah kehidupan.

“Setiap manusia sudah sesuai fitrahnya untuk menikah dan berkembang biak untuk melangsungkan kehidupan,” kata Irwan.

Menurutnya, setiap laki-laki dan wanita itu wajib hukumnya menikah. Jika sudah cukup usianya sebaiknya menikah.

Hanya saja, jelasnya, banyak tradisi yang berkembang di masyarakat yang membuat pernikahan itu menjadi sulit terutama biaya pernikahan.

Padahal, kata Irwan, dalam ajaran Islam sangat dianjurkan untuk menikah bagi setiap laki-laki dan perempuan yang sudah cukup usia. Bahkan dalam hadis, Rasulullah Saw mengatakan bahwa sebaik-baik wanita adalah yang paling sedikit maharnya.

Terkait prosesi nikah massal ini, Irwan menyampaikan apresiasinya atas dukungan penuh dari seluruh pimpinan dan pengurus DPD Hidayatullah sehingga pelaksanaan nikah massal ini dapat dilakukan.

“Atas nama pemerintah, saya sangat mengapresiasi terlaksananya isbat nikah ini. Karena kami pemerintah merasa terbantu atas adanya program semacam ini yang memberikan kesempatan bagi muda-mudi yang siap lahir dan batin nikah tetapi belum memiliki kemampuan secara finansial,” tandasnya. (shd/fjo))

Telkom Kunjungi Pesantren Tahfizh Ashabul Kahfi Bekasi

0

BEKASI (Hidayatullah.or.id) – General Manager Wilayah Telkom Bekasi Dwi Pratomo Juniarto yang didampingi Ketua Majelis Talim Telkom Group (MTTG) Nor Cholil datang mengunjungi Pondok Pesantren Tahfizh Ashabul Kahfi Hidayatullah Bekasi yang berlokasi di Jalan Desa Satria Jaya Tambun Utara Kabupaten Bekasi, belum lama ini.

Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Ashabul Kahfi Hidayatullah Bekasi Ust Hidayatullah, M.Ag dalam kesempatan tersebut menyampaikan ihwal ponpes yang dibinannya.

Ia menyebutkan, Pesantren Ashabul Kahfi mempunyai 30 santri putra dan 50 santri putri yang berasal dari berbagai daerah seperti Sumatera, Kalimantan, Flores, Maluku, Jakarta, bahkan Papua.
“Sebagian besar santri yang mondok di pesantren ini adalah para yatim dan kaum dhuafa,” katanya.

Kemudian, ia memaparkan bahwa Pesantren Ashabul Kahfi telah lima kali pindah lokasi mulai kontrak di Cikarang, kontrak lagi di Bumi Anggrek, pindah lagi di Taman Alamanda hingga akhirnya menempati lokasi yang sekarang di Tambun Utara.

“Alhamdulillah akhirnya ada seorang dermawan yang mewakafkan tanahnya seluas 3000 meter dengan 4 lokal yang ditempati oleh 30 santri. Kami masih memerlukan banyak dana, karena untuk operasional saja masih kesulitan untuk menunjang kegiatan para santri,” ungkap Ustadz Hidayatullah.

Saat ini sedang proses pembangunan dua lantai untuk 8 lokal. Ia masih berusaha mencari donator untuk operasional dan kebutuhan pesantren. Ia pun memohon dukungan nya untuk berlangsungnya kegiatan para santri.

Lebih lanjut Ustadz Hidayatullah menyampaikan, Pesantren Tahfizh Ashabul Kahfi telah meraih prestasi yang cukup membanggakan dalam lomba Tahfizh dengan meraih Juara umum tingkat kecamatan pada tahun 2017.

Sebelum berpamitan, General Manager Wilayah Telkom Bekasi Dwi Pratomo Juniarto menyampaikan kepada Ustadz bahwa ia akan berusaha menggalang dana untuk pembangunan Pesantren Tahfizh Ashabul Kahfi.
“Semoga kita semua dimudahkan dalam segala urusan oleh Allah SWT, Aamiin,” tutup Tomy, sapaan karibnya. (dbs/hio)

“Dalam Setahun Jangan Satupun Putus Shalat Malam”

0
ILUSTRASI: Dr H Abdul Mannan berbincang dengan tokoh Malaysia, Anwar Ibrahim (kini Wakil PM Malaysia), dalam sebuah kesempatan dimana keduanya menjadi narasumber seminar peradaban di Jakarta beberapa tahun silam/ Dok. Hidayatullah

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Kualitas seorang dai ditopang oleh kekuatan spiritualnya. Spiritual yang menggerakkan. Seorang dai apalagi dai Hidayatullah, utamanya yang mengemban amanah pucuk pimpinan, dalam setahun jangan satupun putus shalat malam.

Demikian dikatakan Ketua Dewan Pertimbangan Pimpinan Umum  (DPPU) Hidayatullah Dr H Abdul Mannan, MM, dalam dalam acara bedah buku “Era Peradaban Baru” karyanya di Masjid Ummul Quro Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, belum laga ini.

“Dalam setahun jangan satupun putus shalat lail (malam). Kalau ada yang bolong, bagaimana mau manhaji,” tegasnya.

Dengan gaya khasnya, beliau mengatakan bagi seorang yang telah aktif spiritualnya, maka semua malam-malam di bulan Ramadhan sejatinya adalah adalah malam Lailatul Qadr.

Bahkan, dengan setengah berkelakar, beliau mengatakan Qiyaamullail justru sudah turun sejak di hari kedua Ramadhan. Sehingga, lanjutnya, seharusnya tidak ada waktu bagi kader Hidayatullah untuk bermalas-malasan dalam rangka memaksimalkan bulan suci ini dengan intensifikasi ibadah.

Beliau pun sempat berguyon dengan menyindir orang yang masih tinggal di rumah kontrakan, hidup terbatas, tapi di waktu yang sama enggan menjaga ibadahnya kepada Allah SWT. “Karena rumah kontrakan, spiritual kontrakan juga,” selorohnya.

Beliau mengatakan, pesan tersebut perlu disampaikan olehnya semata bentuk kecintaan dan tanggungjawab untuk menggugah kesadaran kader demi lahirnya generasi terbaik.

Beliau menjelaskan, untuk melahirkan kader berkualitas dan terbaik sebagaimana dinukil dalam frame “kuntum khaira ummah”, adalah pekerjaan yang tidak sederhana dan mengharuskan adanya seleksi yang ketat.

“Bukan diterima semua. Bagaimana mau jadi kader kalau diajak disiplin shalat malam saja tidak mau,” katanya.

Terakhir, dia berpesan kepada jajaran guru dan yayasan Hidayatullah untuk membangun budaya iqra melalui kegiatan-kegiatan ilmiah seperti seminar dan melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dengan spirit ibda’ binafsik. (ybh/hio)

Peradaban Islam Hindarkan Perpecahan Antar Sesama

Ketua Yayasan Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan Ust Hamzah Akbar

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Setiap kader dai Hidayatullah hendaknya berupaya menjadi peraga peradaban Islam mulai dari kehidupan pribadi, keluarga, hingga level kehidupan sosial di masyarakat dalam berbangsa dan bernegara. Karena itu, kader Hidayatullah selalu menghindari perpecahan dan permusuhan antar sesama. Terlebih lagi permusuhan sesama muslim.

“Nilai-nilai mulia tersebut harus selalu terpatri di setiap pribadi kader Hidayatullah yang mengusung visi membangun peradaban Islam,” kata Ketua Yayasan Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak Kota Balikpapan Ust Hamzah Akbar, dalam obrolan dengan Hidayatullah.or.id beberapa waktu lalu.

Hamzah menambahkan, kasih sayang (al-hikmah wa al-mauidhati al-hasanah) merupakan bagian penting dari adab Islam sehingga ia musti terejawantah dalam praktik dakwah dan relasi sosial bagi setiap kader-kader Hidayatullah.

Karena itulah, lanjut Hamzah, Hidayatullah tak mengenal radikalisme dan terorisme atau sifat berlebih-lebihan (ghuluw) dalam beragama dan menjadikan Islam wasathiyah sebagai muatan utama jatidiri Hidayatullah.

Lebih jauh Hamzah menukil pesan yang acapkali disampaikan oleh pendiri Pesantren Hidayatullah Allaahuyarham KH Abdullah Said yang selalu menekankan kader-kadernya untuk menjadi teladan dalam dakwah dan keseharian.

Kata Hamzah, bagi almarhum Abdullah Said, kerja dakwah itu sebenarnya sederhana. Yakni membahasakan kepada umat (audience) apa yang sudah dirasakan dalam melakukan pendekatan diri kepada Allah SWT. Seperti mengutarakan perasaan nikmatnya mendekatkan diri kepada Allah lewat pengabdian kepada-Nya. Merasakan enaknya hidup tanpa menyombongkan diri.

“Arogansi di hadapan manusia apalagi Tuhan adalah sifat yang dibenci Allah. Sehingga tak mungkin merasakan ketenangan hidup,” kata Hamzah mengutip pesan Abdullah Said.

Hamzah mengatakan tantangan Hidayatullah dewasa ini adalah bagaimana bisa konsisten menata dai sebagai pencerah umat dan rahmat seluruh alam.

“Hal yang penting, bagaimana mempertahankan ciri khas dai Hidayatullah yakni berdakwah dengan penuh rahmat. Kami percaya dengan sistem regulasi yang tertata dan ketat, serta pembinaan kultur di kampus dapat tetap mencetak dai dengan ciri khas Hidayatullah,” imbuhnya.

Adapun ciri khas dai lulusan Hidayatullah adalah bisa menghadirkan suasana yang damai dan menjadi pencerah masyarakat. Sehingga dai tidak hanya membawa formula transformasi keilmuan, tapi juga punya skill praktis di masyarakat.

“Dai bisa memiliki peran dan kontribusi, mulai ekonomi, pertanian, politik, dan berbagai sektor lain yang berhubungan dengan persoalan umat,” tandasnya. (ybh/hio)

[DOWNLOAD] Naskah Khutbah Idul Fitri 1439 Hijriyah

BERIKUT naskah khutbah Idul Fitri 1439 Hijriyah rilis DPP Hidayatullah. Semoga bermanfaat dan dapat dimanfaatkan seluas-luasnya kaum muslimin. Selamat Idul Fitri,  minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.

DOWNLOAD

GPMP Berbagi Buka Puasa Bersama Santri Hidayatullah Kupang Barat NTT

0

KUPANG (Hidayatullah.or.id) – Gerakan Peduli Masyarakat Pedalaman (GPMP) menyalurkan 220 Paket Buka Puasa bersama santri Hidayatullah Kupang NTT. Acara yang di gelar pada Selasa (05/06/2018) di Kampus putri diikuti oleh seluruh santri dengan penuh antusias.

Seperti yang di sampaikan Rini salah satu santriwati yang merasa berbahagia dengan paket buka puasa, sehingga bisa menambah gizi santri sekaligus menambah semaraknya Romadhan di lingkungan mereka sebagai muslim yang minoritas.

“Alhamdulillah, kami sangat berterimakasih karena ini bulan puasa kami bisa menambah gizi, sekaligus kian semaraknya Romadhan di pondok kami yang lingkungan hanya kami yang beragama Islam”, ucap Rini penuh antuasias.

Selain itu, Uju selaku penangungjawab Pondok menguncapkan terimakasih kepada GPMP, yang telah menjangkau pondok mereka dalam penyaluran paket buka puasa kali ini meskin jauh.

“Kami mengucapkan banyak terimakasih, karena GPMP mau menjangkau pondok kami, meski jauh dari area kantor GPMP di Depok, semoga Allah melimpahkan keberkahan untuk GPMP agar terus menjangkangkau lebih banyak saudara-saudari muslim lain di pelosok,” imbuhnya.

GPMP adalah salah satu lembaga yang konsen memperhatian saudara-saudari muslim di pedalaman yang beralamat di Jalan Kelapa Dua Raya, Gg H Muin. No 10a RT/RW 009/009. Kelapa Dua, Kec. Cimanggis – Tugu, Depok – Jawa Barat.*/Muhammad Adianto

Indonesia Siap Jadi Rujukan Peradaban Islam Dunia

Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla didampingi pejabat lain menjawab wartawan usai peletakan batu pertama pembangunan kampus UIII, di Cimanggis, Depok, Jabar, Selasa (5/6) pagi. (Foto: Setgab.go.id/Jay)

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Pemerintah ingin menjadikan Indonesia sebagai pusat peradaban Islam dunia yang dapat mengembangkan dan memperkuat Islam wasathiyah atau moderat. Salah satu upaya mewujudkan keinginan itu antara lain dengan mendirikan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).

Selain berstandar internasional, UIII diharapkan juga jadi model pendidikan tinggi Islam terkemuka dengan kajian keIslaman strategis.

Saat meresmikan dimulainya pembangunan kampus UIII di Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (5/6/2018), Presiden Joko Widodo berharap UIII benar-benar menjadi kampus masa depan.

“Menjadi pusat peradaban Islam di Indonesia, sebab kita dikenal di dunia sebagai negara besar dengan penduduk muslim terbesar. Sudah sepatutnya, Indonesia jadi rujukan peradaban Islam dunia,” kata Presiden.

Peresmian pembangunan kampus UIII yang ditandai peletakan batu pertama oleh Presiden Jokowi, disaksikan juga oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, serta sejumlah menteri, pejabat negara dan duta besar negara sahabat. Hampir dua tahun, Wapres Kalla ditunjuk mempersiapkan rencana pembangunan kampus yang dananya disiapkan dari APBN dan non-APBN.

Pusat kajian Islam moderat

Kampus yang akan dibangun di atas lahan seluas 142,5 hektare, yang selama ini dipakai untuk pemancar Radio Republik Indonesia, tahap awal pembangunannya, dialokasikan dana Rp 700 miliar dari Rp 3,5 triliun total dana.

Sesuai Peraturan Presiden Nomor 57 Tahun 2016 tentang Pendirian UIII, kampus tersebut tak hanya khusus menggelar program magister dan doktor bidang studi Ilmu Agama Islam.

Nantinya secara keseluruhan, UIII akan memiliki tujuh fakultas, yakni: Kajian Islam (Islamic Studies), Ilmu Sosial (Social Sciences), Humaniora (Humanities), Pendidikan (Education), Ekonomi Islam (Islamic Economics and Finance), Sains (Sciences), serta Arsitektur dan Seni (Architecture and Fine Arts.

“Jika kelak kampus ini sudah dapat beroperasi, saya ingin tempat ini jadi pusat kajian Islam moderat, Islam jalan tengah, yang selama ini dikampanyekan para pemuka agama,” tutur Presiden berkali-kali.

Di kampus ini, Presiden berharap munculnya ide-ide kreatif mewujudkan keadilan umat, keadilan sosial bagi rakyat Indonesia, dan gagasan mewujudkan negeri yang aman, damai, makmur.

Walaupun targetnya empat tahun, kampus UIII dapat diselesaikan bertahap tahun depan agar bisa gunakan untuk kuliah, setidaknya dua program studi terlebih dulu.

Saat membuka rapat terbatas di Istana Merdeka, awal Januari, Presiden memberi alasan pemerintah membangun UIII meskipun kini banyak berdiri Universitas Islam Negeri.

“Ini kita bangun bukan untuk penuhi kebutuhan domestik, tetapi juga menjawab kebutuhaan internasional, di antaranya memperkokoh kepemimpinan Indonesia di dunia,” tuturnya.

Untuk segera membantu perkuliahan, Wapres Kalla pernah menyatakan, pihaknya sudah menjajaki kerja sama dengan sejumlah negara seperti AS, Inggris, Kanada, Australisa dan Mesir, yang akan mengirimkan dosen-dosen terbaiknya ke UIII.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin selaku penanggungjawab pembangunan menyampaikan pentingya kampus UIII di tengah situasi sekarang ini.

“Berbeda dengan kampus lainnya, tugas dan fungsi UIII tak hanya sebagai penyelenggara belajar mengajar semata. Tetapi juga sebagai upaya membangun peradaban Islam lewat jalur pendidikan,” kata Lukman.

Terkait itu, UIII dilengkapi antara lain pusat kajian strategis Islam, budaya Islam, studi kawasan Islam, museum, dan tempat seni. (ybh/hio)

Satlantas Polres Bukber dengan Santri Hidayatullah Biak Numfor

0

BIAK NUMFOR – Tingkatkan amal ibadah di bulan suci Ramadhan, Keluarga besar Satuan Lalu Lintas Polres Biak Numfor menggelar buka puasa bersama dengan santri dan pengasuh di Pondok Pesantren Hidayatullah Biak, Rabu (30/5/2018).

Acara buka puasa di hadiri Kasat Lantas Iptu Novindriani bersama personil Satlantas dan keluarga besar Pondok pesantren Hidayatullah dibawah pimpinan Ustadz Jamaluddin S.Pd.I.

Acara diawali dengan taushiah pengantar buka puasa dan doa oleh Ustadz Sukriadi.

“Diharapkan dengan kegiatan buka puasa bersama ini dapat menambah keimanan dan ketakwaan. Selain itu kegiatan yang kita laksanakan bisa bernilai ibadah. Semoga apa yang kita berikan dapat berguna dan bermanfaat bagi para santri,“ ungkap Kasat Lantas.

Dalam kegiatan itu, juga berikan bantuan kepada 25 santri. Hal ini sebagai wujud kepedulian sosial anggota kepolisian untuk berbagi dengan sesama manusia di bulan Ramadhan.

Sementara itu Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Ustadz Jamaluddin sangat berterimakasih atas kepedulian Satlantas Polres Biak Numfor yang telah berbagi dengan para santri. (ybh/trb)