Beranda blog Halaman 548

Mushida Merawat Ketahanan Keluarga untuk Kokohkan NKRI

Pembukaan Rapat Kerja Nasional II Muslimat Hidayatullah yang digelar di Puncak Bogor, Jawa Barat, Kamis (15/02/2018) / YBH

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Muslimat Hidayatullah (Mushida) baru saja selesai menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II tahun 2018 yang digelar di Kota Bogor, Jawa Barat, selama 3 hari, belum lama ini.

Sekretaris Jenderal PP Muslimat Hidayatullah, Leny Syahnidar Djamil, mengatakan Rakernas tersebut selain menghasilkan sejumlah kesepakatan program, pihaknya  pula merumuskan beberapa rekomendasi terkait dengan problem kebangsaan dewasa ini.

Dia menegaskan, ketahanan keluarga tetap menjadi isu penting yang disorot dan menjadi fokus Mushida. Leny mengatakan, problem keluarga merupakan fokus utama Muslimat Hidayatullah dalam rangka merawat ketahanan dalam rangka mengokohkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Sejak awal terbentuknya hingga kini, Mushida mengusung visi membangun keluarga menuju peradaban Islam. Visi tersebut diusung dilandasi keyakinan bahwa peradaban sebuah bangsa akan tegak melalui keluarga. Dimulai dari keluargalah akan terbangun akhlak mulia bangsa yang maju dan bahagia. Baldatun thoyyibatun warobbun ghofur,” kata Leny kepada media ini, Selasa (20/2/2018).

Leny menambahkan, sebuah keluarga yang sehat, bahagia dan para anggota keluarga yang istiqomah menjalankan nilai-nilai agung ajaran Islam yang rahmatan lil alaamin, maka itu berarti tengah membangun peradaban Islam.

“Melalui program kerja yang sudah kami tetapkan dalam Rakernas, penguatan atau ketahanan keluarga diwujudkan dalam program pelatihan parenting, seminar dan penerbitan buku jatidiri muslimat sebagai wujud komitmen kami dalam menyiapkan keluarga muslimah yang kuat dan mampu menjalankan perannya secara baik di tengah-tengah masyarakat,” tukas Leny.

Rekomendasi lainnya, Mushida akan terus berkomitmen mendukung dan mengupayakan kerjasama dengan organisasi eksternal yang mempunyai misi yang sama.

Selain itu, dalam rangka amal maruf nahi munkar, Mushida melaksanakan upaya mengawal proses perjuangan konstitusi nasional demi terwujudnya KUHP yang sesuai dengan nilai dan budaya luhur bangsa Indonesia.

Mushida juga mengajak segenap seluruh anggota Mushida untuk senantiasa selalu berdoa bermunajat kepada Allah SWT agar bangsa Indonesia menjadi negeri yang makmur dan diberkahi serta ummat Islam Indonesia khususnya dan ummat Islam dunia selalu berada dalam lindungan dan mendapat pertolongan-Nya.

Selain melaksanakan konsolidasi idiil, organisasi, dan wawasan kader di tingkat wilayah secara nasional, Rakernas Mushida ini juga sebagai momentum sosialisasi hasil Rakernas DPP Hidayatullah, evaluasi program Mushida 2016-2017, sosialisasi target dan program kerja organisasi 2018-2019, sosialisasi SKB tentang pengelolaan PAUD dan sebagainya.

Acara yang berlangsung khidmat ini terselenggara dengan sukses lancar yang didukung oleh berbagai pihak baik pemerintah maupun swasta seperti Bank Muamalat, Miracle Glutaskin, SOKA Socks, Mouza Busana, Elzatta, El Foundation, Danse Fashion, Halawa, Rabbani Hijab, KeKe, Santri Grafika, dan lain sebagainya. (ybh/hio)

Nashirul Haq: Remaja Muslimat Hidayatullah Harus Terampil

BOGOR (Hidayatullah.or.id) – Muslimat Hidayatullah (Mushida) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II tahun 2018 yang digelar di Kota Bogor, Jawa Barat, selama 3 hari, dibuka pada Kamis (15/02/2018).

Rakernas II ini mengusung tema “Revitalisasi Peran Muslimat Hidayatullah Membangun Peradaban Islam” yang dibuka oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ust Nashirul Haq.

Dalam sambutannya, Nashirul mendorong Mushida untuk semakin maju dan profesional, baik dalam pengelolaan organisasi secara internal maupun kiprah di tengah masyarakat.

Beliau juga mendorong agar setiap generasi muda muslimat menguasai kompetensi kewanitaan seperti keterampilan tataboga dan lain sebagainya sebab hal itu merupakan kunci tercapainya keluarga yang sakinah mawaddah warohmah.

[youtube width=”100%” height=”300″ src=”D5VcyVnrmOA”][/youtube]

Bahagianya Bertemu Ulama

SATU HAL yang membahagiakan saya adalah saat bertemu ulama. Bukan untuk “ngalap berkah”, namun memang setiap ketemu ‘alim itu, selalu ada energi baru, yang tanpa disadari mengalir dalam jiwa.

Bersanding saja, seolah terjadi transfer spiritual. Apalagi berbincang, mendengar tausyiah dan atau membaca buku-buku (kitab-kitab) karangannya. Seolah asupan ruhiyah terpenuhi, secara sempurna.

Berkali-kali saya mengalami hal semacam ini. Baik ulama nusantara maupun dunia. Pernah dua tahun lalu ketemu pengarang buku al jihad bil maal fi sabilillah, Dr. Nawaf Takruri di kediaman beliau di Istanbul Turki.

Demikian juga saat silaturrahim dengan Syaikh Amin Al Hajj di Khartoum Sudan. Bahkan dari beliau, Alhamdulillah mendapatkan hadiah 12 kitab karangan beliau. Salah satu kitab beliau berjudul Ulama Suu’.

Dan saat di Khartoum juga sempat silaturrahim ke Rektor Universitas Al Qur’an, Serta ulama muda Syaikh Abdullah Hayyi dan sebagainya.

Alhamdulillah, kemarin 3/2/2018 juga sempat berjumpa dengan Habib Abdurrahman al Habsy Kwitang, saat peletakan batu pertama pembangunan Masjid dan Gedung Dakwah Hidayatullah. Dan sekali lagi, setiap berjumpa ulama, siapapun itu, selalu saja ada insight baru.

Qadarulllah pagi ini (4/2/2018) juga sempat berjumpa dengan seorang ulama muda dari negeri jiran, yang juga Mufti Negeri Perlis. Beliau adalah Shahibus Samahah (SS) Prof. Madya Dato’ Arif Perkasa Dr. Mohd Asri Zainul Abidin.

Kami dengan agenda yang berbeda ketemu saat breakfast di salah satu Hotel Syariah di bilangan Cikini. Beliau bersama rombongan dalam rangka lawatan ke Indonesia untuk mensosialisasikan buku beliau yang baru, yang bertajuk, “Bahaya Memahami Hadits Tanpa Melihat Konteks”, sebagai pengantar Studi Asbabul Wurud.

Sebuah buku yang memang layak beliau tulis, karena kapasitas beliau sebagai Doktor di bidang Hadits pada Al Qur’an and As-Sunah Studies di International Islamic University of Malaysia Itu. Kami bisa bertemu karena kami juga sedang ada kegiatan di tempat yang sama.

Yang menarik dari beliau adalah mengajar di berbagai Universitas di Malaysia, serta aktif berceramah di forum resmi atau medsos.
Selain itu juga mengajak anak-anak muda untuk berhimpun dalam NGO sebagai wadah bagi aktivis muslim dalam Yayasan Kebajikan Institut al-Qayyim (IQ) yang kini mulai berpengaruh di Malaysia.

Kecintaan Prof. MAZA terhadap ilmu juga ditandai dengan aktif menulis buku dan artikel antara lain Hadits Palsu – Kesan Terhadap Imej Islam, Arus Tajdid – Fikrah Merentasi Jamaah dan Islam Liberal – Tafsiran Agama yang Kian Terpesong, dan termasuk yang baru ini.

Selain itu, tutur katanya lembut, tetapi tetap tegas, jernih dan jelas. Sehingga nampak terukur, meski ada joke-joke segar yang menghiasinya. Dan kedalaman ilmunya, cukup terasa saat beliau berbicara.

Terkait dengan buku baru beliau, bukan kapasitas saya untuk menilainya. Tetapi dalam pengantar tulisannya, disampaikan tentang bahaya memahami hadits tanpa melihat konteks.

Beliau sampaikan bahwa tujuan dari agama (Islam) adalah li mashlahat al ibad, untuk kemanfaatan manusia. Sehingga beberapa materi hadits ada yang sifatnya tak terbatas oleh waktu dan tempat, khususnya hadits-hadits yang berkenaan dengan akidah, ibadah dan praktik umum dari akhlak, seperti berbuat baik pada orang tua, berbuat baik pada tetanggasebagainya. Akan tetapi, terdapat pula hadits-hadits yang secara intrinsik terkait dengan asbab al wurud (sebab dan kondisi) mereka.

Sehingga disimpulkan, maka seseorang janganlah menduga-duga arti suatu hadits tanpa mempertimbangkan sabab wurud-nya, agar memastikan tidak tercapainya kesimpulan yang keliru atas aturan tertentu yang berasal dari hadits tersebut.

Maka wajib bagi siapapun yang ingin menerjemahkan hadits dalam kategori ini, untuk memahami pengetahuan tentang sabab wurud al hadits, yang menyediakan kemampuan untuk memahami konteks dari teks-teks tersebut.

Singkatnya, meski berkatagori “ringkasan”, buku ini mampu memberikan wawasan yang cukup luas tentang bagaimana ruang lingkup asbab wurud hadits dan berbagai aspek teknis implementasi.

Hal ini tentu merupakan sebuah panduan yang memang sungguh layak untuk diketahui oleh bahkan seorang Muslim yang awam sekalipun, terutama karena memperhitungkan konteks sebuah kelahiran sebuah hadits akan, misalnya, memberikan pemahaman yang boleh jadi tidak terbayangkan sebelumnya.

Kembali ke soal judul tulisan ini. Sebagai orang awam, saya berbahagia jika bisa bertemu dan duduk bersama ulama. Ingin rasanya bertemu dengan sebanyak-banyaknya ulama, baik lokal maupun internasional, diseluruh belahan dunia.

Ingin mengaji, ber-talaqi dan menimba ilmu serta transformasi spirit, nilai, keimanan dan ruhul jihad serta tradisi keilmuan dari beliau-beliau itu.

Jelas cuma itu yang saya bisa. Tetapi saya terus mendorong dan mengantarkan anak-anak saya kelak agar mampu menjadi ulama. Sebuah keinginan yang semoga di mudahkan Allah SWT. Wallahu a’lam

_____
ASIH SUBAGYO, 
penulis adalah Ketua Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah

Mengenal Ayat Muhkamat dan Mutasyaabihat

PEMAHAMAN tentang ayat-ayat al-Qur’an dalam masih terjadi perbedaan diantara kaum Muslimin. Perbedaan tersebut kemudian ditangkap oleh orang-orang di luar Islam sebagai bukti bahwa al-Qur’an memang banyak pertentangan.

Kemudian mereka menyamakan al-Qur’an dengan kitab-itab terdahulu yang di dalamnya memang banyak pertentangan.

Sebagai contoh pada Bibel, terjadi pertentangan yang sangat banyak. Misalnya dua ayat tentang siapa yang membujuk Daud agar memusuhi orang Israel.

Pada II Samuel 24:1 disebutkan yang membujuk adalah Tuhan sedangkan dalam I Tawarikh 21:1 disebutkan yang membujuk adalah iblis.

Matius 11:13-14 menyebutkan bahwa Yohanes Pembabtis adalah Elia tapi dalam Matius 17:11-13 dan Yohanes 1:21 disebutkan bahwa Yohanes Pembabtis bukanlah Elia.

Demikian juga masalah siapa yang membawa salib. Dalam Matius, Markus, dan Lukas disebutkan Simon yang membawa salib. Tapi di dalam Yohanes, disebutkan Yesus yang membawa salibnya.

Selain contoh di atas masih banyak pertentangan antar ayat lainnya dalam Bible. Bahkan ada ayat yang bertentangan dengan beberapa halaman sebelumnya.

Tentu hal tersebut tidak akan terjadi dalam al-Qur’an sebagai kitab yang terpelihara. Karena Allah menegaskan dalam firman-Nya:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? Kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (al-Nisa’[4]: 82).

Ayat di atas menegaskan bahwa tidak mungkin terjadi pertentangan antara ayat yang satu dengan lainnya dalam al-Qur’an. Allah telah berjanji memelihara kitabnya (Al-Hijr[15]: 9), termasuk di dalamnya menjaga dari berbagai pertentangan.

Harus Paham Makna Ayat

Namun tidak dipungkiri, ada beberapa ayat yang zhahirnya terkesan bertentangan, namun sesungguhnya maknanya tidak.
Artinya, untuk memahami ayat-ayat yang zhahirnya terkesan bertentangan, harus dikembalikan pada masing-masing makna sesuai kondisi atau keadaannya.

Contoh dalam Qur’an dinyatakan tidak ada paksaan untuk masuk Islam (al-Baqarah [2]:256). Tapi di ayat lain diperintahkan untuk memaksa orang-orang masuk Islam bila perlu dengan kekerasan /memeranginya (at-Taubah [9]:5, dan at-Taubah [9]:29).

Untuk memahami masalah tersebut harus mengetahui asbabul nuzul ayat masing-masing. Surat at-Taubah ayat 5, turun ketika sebelumnya telah ada perjanjian antara orang-orang muslim dan orang-musyrikin di dekat Masjidil Haram.

Namun, Allah beserta Rasul-Nya telah menyatakan memutuskan hubungan itu. Hal ini dikarenakan kaum musyrikin tidak bisa menepati janjinya. (Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur‘anil ‘Azhim)

Jadi umat muslim diperintahkan untuk memerangi dan membunuh kaum musyrikin karena mereka inkar janji. Perintah memerangi bukan untuk memaksa kaum musyrikin memeluk agama Islam.

Disebutkan dalam beberapa ayat bahwa tidak ada hubungan nasab antara manusia pada hari kiamat, sementara di ayat yang lain disebutkan ada hubungan nasab. Hubungan nasab yang diakui ada yaitu hubungan nasab yang terjalin sejak hidup di dunia. Seperti dalam firman Allah Azza wa Jalla: “Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya [Abasa [80]:34-35]

Sedangkan yang dinafikan yaitu manfaat dari hubungan nasab itu. Karena banyak orang kafir menyangka bahwa hubungan nasab mereka bisa mendatangkan manfaat bagi mereka.

Allah Azza wa Jalla berfirman: “(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. [asy-Syu’arâ`[26]:88-89]

Semisal dengan ini, disebutkan bahwa ada juga nasab yang bermanfaat di hari kiamat, yaitu bahwa anak-anak kaum Mukminin akan diangkat dan disamakan derajatnya dengan orang tua mereka, meskipun si anak belum mencapai derajat orang tua.

Allah Azza wa Jalla mengumpulkan bagi penduduk surga, orang-orang yang baik dari keluarganya seperti orang tua, pasangan dan anak-anak mereka. Hal ini terjadi karena mereka semua beriman dan memiliki watak dasar yang baik. (Syaikh Abdurrahmân bin Nâshir as-Sa`di, Al-Qawâidul Hisân, 41).

Muhkamaat dan Mutasyaabihat

Selain dibawa kepada pemahaman makna, yang perlu diketahui yaitu dalam al-Qur’an ada ayat yang sifatnya muhkamat, yaitu pasti dan mutasyabihat, yang samar-samar.

Di antara ayat-ayat mutasyabihat diantaranya berkaitan dengan sifat-sifat Allah. Apabila ayat-ayat tersebut diartikan secara literal, akan menimbulkan pengertian bahwa Allah memiliki sifat kekurangan dan menyerupai makhluk-Nya.

Contoh ayat mutasyabihat seperti ayat, “Tuhan yang Maha Pemurah, ber-istiwa’ di atas ‘Arsy”. (Thaha[20]: 5).

Dalam ayat lain Allah berfirman,” Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (al-Baqarah[2]: 115).

Demikian pula dengan ayat, Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menuju kepada Tuhanku, dan dia akan memberi petunjuk kepadaku”. (al-Shaffat [37]: 99). Nabi Ibrahim dalam ayat tersebut mengatakan akan pergi ke Palestina.

Dari ketiga ayat di atas terkesan keberadaan Allah ada di tiga tempat. Ayat pertama menyimpulkan, Allah ada di Arsy. Ayat kedua Allah ada di berbagai arah di muka bumi. Dan ayat terakhir menyimpulkan Allah ada di Palestina.

Ayat-ayat tersebut menurut para ulama bersifat mutasyabihat sehingga maknanya tidak boleh diartikan secara literal. Sebab jika diartikan secara literal akan menimbulkan pengertian yang paradoks.

Padahal terjadinya pertentangan dalam al-Qur’an itu tidak mungkin. Karenanya, harus meninggalkan maksud literal ayat-ayat mutasyabihat tersebut, dan mengembalikan pemahamannya kepada ayat yang muhkamat. Dalam hal ini ayat yang muhkamat yaitu firman Allah yang artinya:”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia.” (al-Syura[42]: 11).

Berangkat dari ayat yang muhkamat ini, maka akan dapat disimpulkan bahwa Allah itu ada tanpa tempat dan tanpa arah, karena tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya.

Kesimpulan

Apabila ditemukan nash-nash yang terkesan bertentangan, tidak boleh menyalahkan nash. Salahkan diri sendiri akibat kurangnya ilmu dan pemahaman, atau dangkalnya penelitian dan pembahasan. Kita harus ber-husnudhdhan (berbaik sangka) pada nash, dan ber-su’udhdhan (berburuk sangka) pada diri sendiri.

Dalam salah satu cabang ilmu Al-Qur’an diketemukan cabang pembahasan tentang hal itu, yaitu dalam pembahasan Ta’arudl Al-Qur’an.

Para ulama ketika membahas ilmu tersebut dibingkai semangat untuk menggabungkan makna ayat sehingga bisa dipahami tanpa mempertentangkan antara satu dengan yang lainnya.

Hanya orang-orang yang tidak paham atau mengikuti hawa nafsunya yang menggunakan metode mempertentangkan antara satu nash dengan nash lainnya.

Oleh karena itu, menjadi kewajiban kita untuk membawa nash yang mutasyaabih (samar) kepada nash yang muhkam (jelas).*

________
BAHRUL ULUM, penulis peneliti Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPas) dan Sekretaris MIUMI Jawa Timur. Dikutip dari situs berita nasional Hidayatullah.com

Sekolah Unggul Hidayatullah

MALANG (Hidayatullah.or.id) – Rakornas Pendidikan Integral Hidayatullah yang digelar oleh Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah DPP Hidayatullah telah ditutup pada Kamis, (8/2/2018).

Dengan mengusung tema “Menjadi Sekolah Unggul dengan Sistem Pendidikan Integral Bebasis Tauhid’, Rakornas kali ini bertujuan untuk memperkuat program pendidikan yang selama ini dilakukan di tiap satuan pendidikan di daerah-daerah.

Ketua Dikdasmen DPP Hidayatullah, Amun Rowi M.Pd, mengatakan, pendidikan yang selama ini diterapkan di setiap sekolah yang berada di bawah naungan Dikdasmen DPP Hidayatullah selalu menerapkan pendidikan berbasis Tauhid yang senantiasa mengedepankan aspek agama. Bahkan, setiap pelajaran pun tak lepas dari pembinaan keagamaan.

“Yang dimaksud dengan berbasis tauhid itu mengagungkan nilai dakwah dalam setiap aktivitas. Intinya di sini dalam setiap pelajaran ada nilai agama. Karena untuk masalah akhlak, masalah moralitas, tidak hanya tanggung jawab guru agama, tapi juga semua guru. Bahkan sampai dikenal tagline di sini itu setiap guru pelajaran ya guru agama,” kata Amun.

Dia menjelaskan, Setiap satuan pendidikan di bawah Dikdasmen DPP Hidayatullah juga memiliki beberapa program unggulan yang menjadi andalannya.

Amon menyebutkan seperti di sekolah Ar Rohmah Dau, yang menjadi tempat penyelenggaraan Rakornas kali ini, memiliki progam Tahfidzul Quran. Setiap lulusannya bahkan ditargetkan untuk bisa menghafal hingga 30 juz.

Selain program unggulan tersebut, Amun juga sedang mewacanakan untuk penerapan ekstrakurikuler panahan dalam waktu dekat. Amun menjelaskan, banyak manfaat yang didapatkan dari olahraga bidang panahan tersebut.

“Kita sedang mengembangkan ekstra panahan, karena disamping itu merupakan sunnah, juga melatih tingkat konsentrasi dan fokus siswa. Ada beladiri juga yang mengasah keseimbangan. Konsentrasi dan keseimbangan itu sangat diperlukan dalam keberhasilan di bidang akademik,” ungkapnya.

Selama 3 hari pelaksanaan Rakornas ini, Amun berharap, semua program dan kebijakan dari Dikdasmen dapat dilaksanakan sesuai dengan harapan.

“Harapannya satu, ada motivasi dari teman-teman untuk meningkatkan kualitas mutu sekolah. Kebijakan dari Dikdasmen ini bisa tersampaikan dan dilaksanakan dengan baik,” katanya.

Bertempat di SMP Ar Rohmah Tahfidzul Quran, Dau, kegiatan rutin tahunan kali ini mempertemukan seluruh kepala sekolah yang berada di bawah naungan Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah DPP Hidayatullah.

Tak kurang dari 250 peserta yang hadir pada kegiatan tersebut. Turut hadir pada kegiatan tersebut yakni dari jajaran muspika, Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, MUI, NU dan Muhammadiyah.

Rakornas kali ini membahas seluruh program dari Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah yang akan disinkronkan kepada seluruh satuan pendidikan Hidayatullah.

Pendidikan konfrehensif

Sementara itu, Ketua Umum DPP Hidayatullah Nashirul Haq, Lc. MA., yang membuka Rakornas ini menyampaikan, pendidikan integral yang dilakukan oleh Hidayatullah adalah pendidikan yang bertujuan untuk mengintegrasikan seluruh aspek. Mulai dari aspek spritual hingga kemampuan atau skillnya.

“Jadi ini suatu sistem yang utuh, lengkap, sempurna, konprehensif. Yang memadukan semua nilai-nilai positif yang selama ini sudah menjadi karakter pendidikan Islam itu sendiri. Oleh karenanya pendidikan Hidayatullah ini mengintegrasikan pendidikan mental spiritual, intelektualitasnya, dan psikomotorik atau skill,” kata Nashirul Haq.

Beliau mengungkapkan bahwa Hidayatullah siap menjawab amanat Undang-Undang Dasar (UUD) Tahun 1945 sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 31 ayat 3.

“Tidak sekedar mengajarkan ilmu, tetapi juga tranformasi nilai dan pengamalannya dalam kehidupan,” katanya.

Undang-Undang Dasar (UUD) Tahun 1945 sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 31 ayat 3 mengamanatkan pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan bagi rakyat Indonesia yang meningkatkan keimanan dan ketakawaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Konsep pendidikan integral berbasis tauhid Hidayatullah akan berkontribusi mewujudkan sistem pendidikan yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia sebagaimana cita-cita bangsa yang diamanatkan dalam UUD tersebut,” tegas Nashirul.

Sebab, lanjut Nashirul, dengan penyelenggaraan pendidikan secara integral berarti melaksanakan pendidikan secara komprehensif. (yan/sir/oci/ybh)

Hidayatullah dan Dandim 0419 Tanjabar Jajaki Kerjasama

0

TANJABAR (Hidayatullah.or.id) – Hidayatullah melakukan menjajaki kerjasama pembinaan keagaamaan dan wawasan kebangsaan dengan Komandan Distrik Militer 0419 Tanjung Jabung Barat (Dandim 0419/Tanjabar).

Penjajakan kerjasama tersebut dilakukan bertepatan dengan kesempatan kunjungan kerja Ketua Biro Hukum DPP Hidayatullah, Dr Dudung A. Abdullah dibersamai Kepala Biro Umum Muhammad Musyaafir ke Provinsi Jambi.

Disela-sela kunjungan kerjanya tersebut, keduanya meluangkan waktu bersilaturrahim ke markas Komandan Distrik Militer 0419 Tanjung Jabung Barat (Dandim 0419/Tanjabar) di bilangan Tungkal Ilir, Jambi, dan diterima langsung oleh Komandan Kodim 0419/ Tanjabar Letkol ARH Harry Sasono Utomo, Jambi Kamis (8/2/2018).

Pada kesempatan tersebut kedua pihak saling bercengkrama di beranda masjid Komplek Dandim 0419 membicarakan tentang banyak hal diantaranya pembinaan masyarakat, pengembangan pendidikan dan dakwah Islam.

Dandim menyatakan siap melibatkan Babinsa untuk sosialisasi program dakwah Hidayatullah di Tanjabar. Dandim 0419/Tanjabar pun siap memberikan wawasan kebangsaan dan character Building bagi santri Hidayatullah di kawasan.

Dalam waktu dekat kdua pihak bekerjasma akan melaksanakan kegiatan bersama berupa Persami (perkemahan sabtu minggu) dan Pelatihan Dai se-Tanjabar. (ybh/hio)

Kampus Hidayatullah Bengkulu Gelorakan Spirit Cinta NKRI

0

BENGKULU (Hidayatullah.or.id) – Dalam rangka menamamkan spirit nasionalisme dengan meningkatkan wawasan kebangsaan yang merupakan bentuk tanggung jawab pada anak didik,  santri Pesantren Hidayatullah Bengkulu, pengurus yayasan bekerjasama dengan RBTV mengadakan kegiatan Sarasehan Wawasan Kebangsaan bertema “Memperkuat Semangat Nasionalisme Dalam Jiwa Santri Bengkulu Untuk NKRI”, Rabu lalu (07/02/18).

Hadir sebagai pembicara diantaranya adalah Prof. Dr. Rohimin yang merupakan Ketua Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) Provinsi Bengkulu.

Dari unsur kepolisian diwakili oleh AKBP Ahmad Sosianta dari Kapolda Bengkulu dan dari TNI diwakilkan oleh Letkol Aswin Suradi. Sedangkan pembicara dari Hidayatullah adalah Subur Pramudya yang merupakan Ketua DPW Hidayatullah Bengkulu.

Dalam pemaparannya Prof. Dr. Rohimin menekankan bahwa santri merupakan benteng terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI. Dia menegaskan bahwa bangsa ini membutuhkan pemimpin yang baik, dimana sejak masa mudanya sudah ditempa dengan pendidikan berkarakter dan akhlak yang mulia.

“Saya kira di Pesantren Hidayatullah Kota Bengkulu adalah tempat yang baik untuk mendidi santri-santri memiliki kepribadian unggul yang sangat cinta pada Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Letkol Aswin Suradi. Letkol Aswin berharap sebagai santri yang setiap hari dididik dengan nilai-nilai agama nantinya, santri Hidayatullah selalu terdepan dalam membela kepentingan bangsa dan menjaga keutuhan NKRI yang sama-sama kita cintai.

Senada dengan itu, AKBP Ahmad Sosianta menekankan pentingnya sinergi antara sesama elemen bangsa termasuk Polri dengan masyarakat termasuk lembaga-lembaga agama seperti Pesantren Hidayatullah.

Sosianta pun mengajak para santri maupun para pengurus untuk terus bersama dengan polri menjaga keamanan dan kenyamanan dalam bermasyarakat serta mendidik masyarakat dengan nilai semangat kecintaan pada Negara Kesauan Repbulik Indonesia.

Sebagai pembicara pamungkas, Ketua DPW Hidayatullah Bengkulu, Ust Subur Pramudya, mengatakan Hidayatullah Bengkulu selalu menggelorakan semangat cinta NKRI, seraya menjelaskan bahwa NKRI sebagai tanah air adalah negeri tempat kelahiran kita.

Karena itu, lanjut Subur, Indonesia sebagai tanah air tidak semata tempat kita dilahirkan melainkan juga termasuk di dalamnya adalah tempat di mana kita menetap dalam bingkai ibadah kepada Allah Ta’aala dan tempat mengais rejeki kehidupan.

“Sehingga demikian mencintai tanah air adalah berarti mencintai tanah kelahiran dan tempat di mana kita tinggal,” kata Ust Subur.

Lebih jauh Subur menukaskan bahwa ungkapan hubbul wathan minal iman (Cinta tanah air sebagian dari iman) mengandung pesan positif agar kita sebagai warga negara selalu menjaga negeri yang kita tinggali ini dari pihak-pihak yang ingin merongrongnya.

“Kehadiran Hidayatullah di Bengkulu dan Hidayatullah se Indonesia sejak awal adalah dalam rangka unuk mengisi nilai kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh pahlawan kita dengan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamiin, sebagai bagian dari pengalaman terhadap nilai-nilai Pancasila,” pungkas Subur.

Acara seminar tersebut berlangsung dengan khidmat yang dihadiri seluruh santri, pembina, dan pengurus Hidayatullah se-Bengkulu. Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan ramah tamah.*/ J.S Amarta

Dai Mesti Ikut Menjadi Bagian Solusi Mengatasi Problem Umat

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Dinamika kekinian tidak bisa direspon dengan cara lama, dai sebagai pegiat dakwah mesti menjadi bagian dari problem solver dari setiap masalah yang ada di tengah-tengah masyarakat.

“Dai tidak melulu dakwah di atas mimbar. Harus juga mampu menjadi bagian penting dalam penyelesaian permasalahan masyarakat di lapangan. Ada banjir, turun. Bukan evakuasi tapi sadarkan umat untuk saling peduli,” terang dai senior Hidayatullah, DR. Abdul Mannan, MM dalam paparan materinya di hadapan dai BMH se-Jabodebek (6/2).

Lebih jauh, pria yang malang melintang dalam dunia dakwah di Indonesia ini menegaskan bahwa tantangan apapun harus bisa ditaklukkan oleh setiap dai.

“Sekarang ini tidak ada tantangan berat, melainkan mindset hidup. Dulu, saat fasilitas hidup tak secanggih sekarang, effort dai dalam dakwah luar biasa. Sekarang, fasilitas sudah ada, silaturrahim jarang, dakwah hanya yang mudah. Alasannya apa, capek, macet dan sebagainya. Dai tidak boleh demikian,” tegasnya.

Shofiyullah seorang dai muda dari Cisarua Bogor mengaku semangat setelah mengikuti upgrading dai ini.

“Benar memang yang disampaikan oleh DR. Abdul Mannan, dai mesti bisa menjadi bagian solusi. Insya Allah akan kami terapkan di tempat tugas kami,” katanya.

Upgrading dai ini diselenggarakan di tengah situasi umat dilanda beragam persoalan, termasuk sisi kebencanaan.

“Nah bagaimana dai juga bisa menjadi garda terdepan dalam merespon masalah ini. Agar masyarakat atau umat bisa lebih cerdas dalam bersikap dan kian meningkat sisi kepeduliannya dalam membantu sesama, khususnya mereka yang diuji dengan musibah seperti banjir, tanah longsor dan lain sebagainya,” terang Direktur Operasional BMH DKI Jakarta, Rama Wijaya.

Di hari dan jam yang sama, saat sebagian dai mengikuti upgrading dai, relawan BMH bersama SAR Hidayatullah juga sedang berjibaku di lapangan membantu evakuasi korban banjir Jakarta yang berlangsung dua hari satu malam.*/Herim

Anjangsana Persit TNI-AD ke Kampus Hidayatullah Malinau

0

MALINAU (Hidayatullah.or.id) – Persatuan Istri Prajurit (Persit) Kartika Chandra Kirana Cabang LVII Kodim0910/Malinau TNI Angkatan Darat melakukan anjangsana ke Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Malinau, belum lama ini (5/2/2018).

Anjangsana silaturrahim tersebut dalam rangka memupuk rasa solidaritas sosial dan kemanusiaan sesama sekaligus melakukan kegiatan bakti sosial dengan memberikan bantuan berupa sembako kepada santri Pondok pesantren Hidayatullah Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.

Wakil Ketua Persit KCK Cabang LVII Dim 0910/Malinau Ny. Eko Budi. P, disela-sela acara kegiatan tersebut menyampaikan sambutan singkatnya.

“Kami membawa sedikit sembako, kami mohon jangan dilihat banyak sedikitnya pemberian dari kami. Yang terpenting adalah keikhlasan kami dalam membantu sesama yang lebih membutuhkan. Semoga bantuan ini bermanfaat dan dapat dipergunakan sebaik-baiknya, selamat menempuh pendidikan yang sebaik-baiknya bagi adik-adik sekalian, semoga kalian dapat menjadi penerus bangsa yang dapat dibanggakan” katanya seraya menitipkan motifasi kepada para santri.

Ucapan terima kasih dan apresiasi yang tinggi ddisampaikan Ustadz Ustad Toto yang juga pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Malinau.

“Kami dan santri mengucapkan terima kasih banyak yang sebesar-besarnya atas kepedulian ibu-ibu Kodim 0910/Malinau memberikan bantuan segini banyaknya, terus terang kami tidak dapat membalas ini semua,” katanya.

“Kami serahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk membalas semua ini. Kami mendoakan agar rejeki ibu-ibu sekalian keluarga melimpah, sekali lagi kami mengucapkan terima kasih banyak semoga Tuhan menyertai kita semua, Aamiin,” tandasnya. (Korem 091 ASN)

Hidayatullah Siap Menjawab Amanat UUD 1945

0
Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ust Nashirul Haq, MA, ketika menyampaikan sambutan sekaligus membuka Rakornas Pendidikan Hidayatullah 2018 di Kota Malang, Selasa (6/2/2018)

MALANG (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, H Nashirul Haq, MA, mengatakan Hidayatullah siap menjawab amanat Undang-Undang Dasar (UUD) Tahun 1945 sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 31 ayat 3.

“Tidak sekedar mengajarkan ilmu, tetapi juga tranformasi nilai dan pengamalannya dalam kehidupan,” kata Nashirul saat membuka Rapat Koordinasi (Rakornas) Pendidikan Integral Hidayatullah 2018 di Kota Malang, Selasa (6/2/2018).

Undang-Undang Dasar (UUD) Tahun 1945 sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 31 ayat 3 mengamanatkan pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan bagi rakyat Indonesia yang meningkatkan keimanan dan ketakawaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Konsep pendidikan integral berbasis tauhid Hidayatullah akan berkontribusi mewujudkan sistem pendidikan yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia sebagaimana cita-cita bangsa yang diamanatkan dalam UUD tersebut,” tegas Nashirul.

Sebab, lanjut Nashirul, dengan penyelenggaraan pendidikan secara integral berarti melaksanakan pendidikan secara komprehensif.

Rakornas Pendidikan Integral Hidayatullah 2018 yang mengambil tema “Menjadi Sekolah Unggul dengan Sistem Pendidikan Berbasis Tauhid” ini diselenggarakan di Aula Serbaguna Kampus Pendidikan Tahfizdhul Quran Ar Rohmah, Hidayatullah Malang.

Kegiatan ini diikuti oleh ratusan stakeholder jaringan Pendidikan Integral Berbasis Tauhid (PIBT) Hidayatullah dari berbagai daerah se Indonesia.

Menurut Ketua Depatemen Pendidikan DPP Hidayatullah, Amun Rowi, Rakornas Pendidikan Hidayatullah tahun ini berbeda dengan Rakornas sebelumnya.

“Kita mengambil tagline ‘kembali nyantri,” katanya.

Amun menjelaskan, “kembali nyantri”, karena kendatipun peserta Rakornas berasal dari unsur Kepala Sekolah dan pemangku amanah di Departemen Pendidikan Wilayah se-Indonesia, mereka para peserta ini diperlakukan layaknya santri terutama dalam hal kedisiplinan selama mengikuti rangkaian acara ini.*/Shabirin Ibnu Hambali