Beranda blog Halaman 547

Daurah yang Berat tapi Meringankan Jiwa di Sudan

0

KHARTOUM (Hidayatullah.or.id) – Saat kebanyakan muda-mudi ingin hidup “mengalir saja, enteng, seperti air..” para mahasiswa Hidayatullah di Sudan memilih jalan yang berat: hidup di atas Sistem Wahyu.

Selama tiga hari tiga malam, Daurah Marhalah Ula yang diantarkan Tim DPP (Dewan Pengurus Pusat) Hidayatullah membekali mereka dengan landasan Manhaj Sistem Wahyu.

Al-‘Alaq ayat 1-5 buka mata jiwa dan akal, menuju Revolusi Syahadatain.

Al-Qalam ayat 1-7 kokohkan keyakinan serta komitmen kepada benarnya Jalan Al-Quran, Jalan Akhlaq Mulia, Jalan Pahala Tanpa Henti.

Al-Muzzammil ayat 1-10 sempurnakan bekal-bekal wajib bagi Generasi Al-Quran, yang jika ditinggalkan, lemahlah jiwa, rasa dan raga.

Al-Muddatstsir ayat 1-5 bangkitkan Hamasah Da’wah selama-lamanya sampai nafas terakhir di dunia.

Al-Fatihah ayat 1-7 bentangkan cita-cita seluas alam semesta serta wajibnya hadir Imamah (kepemimpinan) yang kuat, berilmu, penuh kasih sayang. Hidup berjamaah tanpa keluh kesah.

“Saya dilahirkan, dibesarkan oleh ibu dan bapak yang aktif di Hidayatullah, tapi baru sekarang saya benar-benar faham dan menjiwai Sistem Wahyu. Masya Allah,” begitu pengakuan Abdurrahman Sibghatullah, mahasiswa semester akhir Universitas Afrika Internasional, yang juga Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Indonesia di universitas itu.

“Saya akan mengajak seluruh keluarga saya di Aceh memahami Sistematika Wahyu dan bergabung dalam barisan da’wah ini,” sambil menangis terharu Abu Hurairah, mahasiswa semester 3 Universitas Afrika Internasional, meluapkan perasaannya.

Tindak lanjut dari Daurah ini adalah Halaqah Al-Quran, tegas Ust Hamim Thohari, Sekretaris DPPU (Dewan Pertimbangan Pimpinan Umum) yang memimpin Tim Instruktur Daurah.

Seluruh peserta Daurah berikrar untuk istiqomah melaksanakan halaqah subuh dan halaqah mingguan demi mengokohkan terus kerja-kerja Wahyu di kalangan mereka.

“In syaa Allah, di tahun 2018 nanti ada hadiah manis dari para mahasiswa ini untuk gerakan tarbiyah dan dakwah di Afrika,” ungkap Dzikrullah, Ketua Departemen Luar Negeri DPP Hidayatullah (E-mail: [email protected]), tanpa menjelaskan lebih rinci hadiah yang dimaksud.

Semoga Allah istiqamahkan dan ridhai para mahasiswa kader ini di Jalan Wahyu. (Hidayatullah.or.id)

Ustadz Hamim Thohari: “In syaa Allah, di Munas Hidayatullah V tahun 2020, Sudah Akan Hadir Wakil dari Afrika”

0

KHARTOUM (Hidayatullah.or.id) – Kalimat itu seperti jadi husnul khatimah bagi rangkaian kunjungan Tim Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah ke Khartoum, Sudan, pekan lalu.

Ustadz Hamim Thohari, Sekretaris Dewan Pertimbangan Pimpinan Umum (DPPU) yang memimpin Tim itu menyampaikan kalimat tersebut di hadapan para mahasiswa kader Hidayatullah yang sedang menuntut ilmu di Afrika Timur, sesaat sebelum terbang kembali ke tanah air.

“Gembira, tambah semangat, tapi sekaligus sedih karena para asatidz sudah harus pulang meninggalkan kami,” kata Nuruzzaman, salah seorang mahasiswa kader mengungkapkan perasaannya.

Selama tak kurang dari 6 hari, Tim DPP Hidayatullah yang terdiri dari gabungan unsur DPPU, Dewan Mudzakarah dan Departemen Luar Negeri menziarahi Khartoum, ibukota Republik Sudan, tempat bertemunya dua sungai Nil: Nil Biru dan Nil Putih.

“Ini bagian dari kewajiban Deplu memfasilitasi pembinaan dan pendampingan para mahasiswa kader di berbagai negara, agar aqidah, fikrah, dan manhaj-nya tetap istiqamah,” jelas Dzikrullah, Ketua Departemen Luar Negeri DPP Hidayatullah (Silakan kontak melalui e-mail: [email protected]).

Selain Daurah Marhalah Ula yang meletakkan pondasi Manhaj Sistem Wahyu, kunjungan ini juga diisi dengan silaturrahim ke beberapa kampus universitas, ulama, Kedutaan Besar Republik Indonesia dan Persatuan Pelajar Indonesia.

Muhammad Irsyadul ‘Ibad, Ketua Panitia, mengharapkan, “Kalau bisa lebih sering mengunjungi kami lebih baik. Kami selalu perlu bimbingan para Asatidz.”

Republik Sudan berpenduduk 39,5 juta jiwa (sensus 2016), menempati luas daratan 1,8 juta km2 hampir seluas daratan Indonesia.

Menurut Ruhiyat Haririe, Wakil Ketua Persatuan Pelajar Indonesia di Sudan, ada 863 mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di jenjang S1, S2, dan S3 di negeri itu.

“Ada tambahan sekitar 230 mahasiswa baru yang belum terdata,” kata Haririe (HP/WA ‭+249 11 167 3998‬).

Semoga Allah luruskan niatnya ikhlas menuntut ilmu karena Allah, sehingga kelak ikut memperbaiki Indonesia jadi bangsa Muslim yang kuat di dunia. (Hidayatullah.or.id)

Majelis Ulama Indonesia Serukan Elemen Masyarakat Ikut Aksi Bela Palestina

0
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Ma’ruf Amin (tengah) berfoto bersama Ketua Gerakan Dakwah Komunitas Taqarrub (Gardakota) Muhammad Isnaini (kanan) dan Ketua Departemen Organisasi DPW Hidayatullah DKI Jakarta Ahmad Maghfur usai rapat gabungan MUI dengan perwakilan lintas ormas untuk persiapan Aksi Bela Palestina di Gedung MUI, Jakarta, Kamis (14/12/2017). (HIDORID/Dokumentasi)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Majelis Ulama Indonesia menyerukan agar seluruh elemen masyarakat lintas agama dan golongan untuk ikut serta dalam Aksi Bela Palestina yang akan dipusatkan di Monumen Nasional, Jakarta, Ahad (17/12/2017).

“Kami ajak seluruh pihak umat Islam bergabung karena yang paling bertanggung jawab. Kami juga mengajak kepada umat lain,” kata Ketua Umum MUI Maruf Amin dalam Rapat gabungan MUI dengan ormas persiapan unjuk rasa di Gedung MUI Pusat, Jakarta, Kamis.

Dia mengatakan sia

papun warga Indonesia sudah seharusnya mendukung kemerdekaan Palestina. Negara tersebut hingga saat ini belum merdeka dan menjadi satu-satunya anggota Konferensi Asia Afrika yang belum kunjung mendapatkan independensinya sebagai bangsa.

Di tempat yang sama, dai KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) mengajak setiap unsur masyarakat yang hadir dalam Aksi 1712 akhir pekan nanti agar selalu menjaga niat perjuangan berada di jalan Allah.

“Jangan sampai ada kepentingan politik dan golongan kecuali untuk membebaskan Palestina dari belenggu penjajahan,” kata Aa Gym.

Belakangan, isu mengenai kemerdekaan kembali mengemuka seiring pernyataan kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui secara sepihak Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Tindakan Trump tersebut memicu reaksi banyak masyarakat dunia karena isu soal Yerusalem sangat sensitif terlebih pengakuannya itu disebut-sebut ilegal karena tidak melalui prosedur yang sesuai rekomendasi Persatuan Bangsa-bangsa.

Aa Gym juga mengajak peserta Aksi Bela Palestina nanti untuk selalu menjaga akhlak yang baik meski para pengunjuk rasa memiliki kemarahan yang besar terhadap AS dan Israel yang berlaku tidak adil terhadap Palestina.

Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhid itu juga menyerukan agar peserta aksi unjuk rasa untuk selalu menjaga ketertiban dan menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan serta memungut sampah di sekitar lokasi demonstrasi.

“Meski kita marah tapi akhlakul karimah adalah senjata kita. Kita berikan akhlak terbaik sehingga kemarahan tidak berbuah kekasaran,” katanya. (Antara)

Ketua STIS Hidayatullah Peserta Pertukaran Tokoh Muslim Australia-Indonesia

0

CANBERRA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan, Dr Abdurrohim, menjadi salah satu peserta Australia-Indonesia Muslim Exchange Program (MEP) Tahun 2017 yang berlangsung pada bulan Desember ini.

Program ini diselenggarakan oleh Australia-Indonesia Institute (AII) yang membuka kesempatan kepada tokoh agama dan akademisi untuk mengikuti program tahunan pertukaran tokoh muda Muslim kedua negara tersebut.

Program MEP 2017 ini sudah digelar sejak tahun 2002 bertujuan membangun hubungan baik antara masyarakat Muslim Australia dan Indonesia. Yaitu dengan meningkatkan pemahaman dan pengertian peranan agama dalam masyarakat di masing-masing negara.

Program ini meliputi kegiatan kunjungan selama dua minggu ke Australia oleh tokoh muda Muslim dari Indonesia dan kunjungan dua minggu ke Indonesia oleh mitra mereka dari Australia.

Program ini berupa kunjungan selama dua minggu ke Australia dimana para tokoh dan aktivis muslim muda antara kedua negara dapat bertukar pikiran akan kehidupan sosial, budaya, serta peranan agama di negara masing-masing.

Selain dalam rangka meningkatkan saling pengertian, kerjasama, dan toleransi antara Australia dan Indonesia, program ini bertujuan untuk membangun persaudaraan antara masyarakat Muslim di Australia dan Indonesia dan meningkatkan kesadaran tentang kemajemukan dan dialog antar agama di Australia dan Indonesia.

Untuk menjadi peserta harus mampu berpartisipasi aktif di dalam diskusi berbahasa Inggris dan sekurang-kurangnya memiliki nilai TOEFL min.450 (IELTS 5.0) diutamakan di atas TOEFL 500 (IELTS 5.5).

Pada kesempatan ini, Abdurrohim bersama dengan dengan rombongan Indonesia dari berbagai latar belakang berkesempatan mengunjungi kota Canberra, Melbourne dan Sydney.

Abdurrohim dan rombongan bersilaturrahim ke Islamic Sciences and Research Academy (ISRA) Sydney, Akademi Islam yang menyelenggarakan pendidikan dari S1 hingga S3. Ia juga bertamu ke Australian National Imam Council dan bertatap muka dentan Grand Mufti Australia, Dr. Ibrahim Shalih.

Selain itu, rombongan ini juga menjelajahi beragam keunikan yang ada di Australia. Mereka juga berjumpa dengan komunitas muslim Australia yang dalam kesempatan tersebut mereka berdialog serta saling bertukar pengalaman.

Bersama Abdurrohim, ada juga perwakilan dari Ponpes tertua di Indonesia, Raudhtuthalibin Babakan Cirebon, yaitu Gus Mu’tashimbillah, Dr. Ahmad Handayani, Cardiologis, yang juga ketua MERC Cabang Medan, Nati Sajidah, dari Komunitas Pencinta Al-Quran Jakarta, dan Jayanti, Volunter Dompet Dhuafa bidang pendidikan. Diantara alumni MEP ada Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti dan Ust. Muzakkir Usman, Direktur SIT Lukman al-Hakim Hidayatullah Balikpapan. (ybh/hio)

Santri Ponpes Hidayatullah Medan Ikuti Daurah Ilmiyah

0

MEDAN (Hidayatullah.or.id) – Santri di Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Sumatera Utara, mengikuti Daurah Ilmiyah oleh Syaikh Muhammad Suud dari Yaman, beberapa waktu lalu.

Acara yang berlangsung khidmat ini dilaksanakan di Masjid Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Medan yang diikuti oleh semua warga dan santri.

Pada kesempatan tersebut, Syeikh Suud menyampaikan metodologi belajar yang efektif bagi santri yang ingin mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Syaikh Suud memaparkan beberapa persyaratan yang harus di miliki bagi para penuntut ilmu.

Pertama, kata Suud, seorang penuntut ilmu harus dzaka’ atau memiliki kecerdasan.

“Ilmu akan mudah dipahami jika kita menjadi pribadi yang cerdas baik hati maupun pikiran. Imam Syafii berkata bahwa ilmu itu adalah cahaya dan cahaya itu tidak diberikan oleh Allah kepada orang yang bermaksiat kepada Allah,” kata Syaikh Suud.

Kedua, seorang pelajar harus hars (semangat). Kata dia, siapa yang sungguh sungguh dialah yang akan sukses. Menuntut ilmu juga demikian.

Ketiga, seorang pembelajar harus Ishtibar (sabar). Selanjutnya, dalam proses belajar membutuhkan bulghoh atau biaya tidak saja uang, tetapi juga tenaga, waktu, dan pikiran.
Selanjutnya, Syaikh Suud melanjutkan pointer yang juga wejangan dari Imam Syafii tersebut, bahwa seorang pelajar dituntut untuk belajar langsung kepada guru (Suhbatul Usradz).

Selain itu, tegas dia, pelajar juga harus mau dan rela mengalokasikan waktunya yang tidak sedikit untuk menuntut ilmu (thuluzzaman) sebab yang namanya belajar memang membutuhkan waktu yang lama. (ybh/hio)

Kuatkan Persatuan, Hadirkan Damai Sejati di Muka Bumi

0
Qubbah Al-Sakhrah (Dome of the Rock) bagian dari kompleks Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis terjajah. Foto: Mahfouz Abu Turk/Apa Images

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Menyikapi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang telah membuat keputusan kontroversial mengakui Baitul Maqdis sebagai Ibukota Israel, Hidayatullah menyerukan segenap khalayak bangsa Indonesia untuk menguatkan persatuan.

“Hidayatullah mengingatkan setiap pribadi Muslim Indonesia untuk terus menguatkan persatuan dan kesatuan di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita mohon kepada Allah Ta’ala agar dijadikan sebagai bagian dari kekuatan shaf umat Islam yang akan menghadirkan perdamaian sejati di muka bumi,” kata Ketua Umum DPP Hidayatullah Nashirul Haq dikutip dari pernyataan persnya belum lama ini yang juga ditandatangni Sekretaris Jenderal Candra Kurnianto.

Hidayatullah juga mengingatkan seluruh keluarga dan para pendidik Muslimin Indonesia supaya tak henti menjelaskan kepada anak-anak, remaja dan pemuda bahwa perjuangan panjang membebaskan Masjidil Aqsha akan selalu berusaha dilemahkan lewat perang aqidah dan pemikiran seperti pornografi, gerakan pemurtadan, sekularisasi, pluralisme, liberalisasi, dan aliran-aliran sesat.

Dalam pernyataan tersebut, Hidayatullah juga menitipkan agar keluarga-keluarga dan para pendidik Muslimin Indonesia senantiasa mengajak anak-anak, remaja dan para pemuda kita untuk terus-menerus mendoakan para Mujahidin pembebas Masjidil Aqsha di garis depan.

Hidayatullah juga mendorong menyebarluaskan informasi yang shahih tentang Masjidil Aqsha, menginfaqkan sebagian harta untuk keluarga-keluarga kita yang bersabar di garis depan Palestina, Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsha, dan menyiapkan iman, ilmu, akhlaq dan amal untuk membebaskan Masjidil Aqsha.

Seperti diketahui, keputusan Presiden Amerika Serikat Trump mengakui Al Quds (Yerussalem) sebagai ibukota Isral telah memantik kecaman dunia. Sikap Trump tersebut rentan memicu kegaduhan dan polemik baru bagi tatanan dunia.

Pernyataan Trump yang telah membuat keputusan kontroversial mengakui Yersussalem sebagai Ibukota Israel dan memindahkan kantor kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke wilayah Al Quds tersebut dinilai banyak pihak sebagai keputusan yang sangat gegabah. (ybh/hio)

Hidayatullah Ajak Teladani Rasulullah dan Belajar Al Quran

 

Suasana pembelajaran Al Quran di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat / IST

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum DPP Hidayatullah Nashirul Haq mengajak segenap khalayak luas untuk meneladani Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam serta mempelajari Al Quran secara seksama.

Hal itu diserukannya menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang telah membuat keputusan kontroversial mengakui Yersussalem sebagai Ibukota Israel dan memindahkan kantor kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke wilayah Al Quds tersebut dalam pidatonya di Diplomatic Reception Room, Gedung Putih, seperti dikutip dari nytimes.com, Kamis (7/12/2017).

Menurut Nashirul, bagi kaum Muslimin Indonesia yang dengan seksama membaca Al-Quran dan meneladani sejarah hidup Rasulullah serta sejarah pembebasan Masjidil Aqsha baik di zaman Rasulullah, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Khalifah ‘Umar bin Khattab, dan Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi, kita memahami bahwa keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh pihak-pihak semacam Donald Trump hanya akan mempercepat kehancuran penjajah dan para pendukungnya.

“Dengan kerendahan hati dan niatan ikhlas, Hidayatullah menyerukan kepada seluruh umat Islam di manapun berada, khususnya di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, untuk tetap istiqamah mendidik generasi muda yang beriman, berakhlaq mulia, cerdas, rela berkorban, dan istiqamah sebagaimana generasi para sahabat dan penerusnya sampai generasi ini layak mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah,” pesannya seperti dikutip dari siaran persnya, Kamis (7/12/2017).

Hidayatullah juga mengingatkan seluruh keluarga dan para pendidik Muslimin Indonesia supaya tak henti menjelaskan kepada anak-anak, remaja dan pemuda kita bahwa perjuangan panjang membebaskan Masjidil Aqsha akan selalu berusaha dilemahkan lewat perang aqidah dan pemikiran (seperti pornografi, gerakan pemurtadan, sekularisasi, pluralisme, liberalisasi, dan aliran-aliran sesat. (ybh/hio)

Kampus Hidayatullah Bandung Ajari Santri Kultur Berjamaah

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) – Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Bandung, Jawa Barat, tengah melakukan penyelesaian pembangunan asrama santri lantai II yang dimulai sejak hari Senin pagi (5/12/2017) dengan melibatkan para santri.

Ketua Departemen Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Bandung, Mukhsin Abuneil mengatakan bahwa tujuan dari diadakannya kerja bakti ini merupakan bagian dari kurikulum integral yang dikembangkan dalam proses pendidikan di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Bandung.

“Melalui kerja bakti ini, para santri kita ajarkan tentang pentingnya hidup berjamaah yang selalu mengedepankan ukhuwah Islamiyah, punya kepedulian yang tinggi terhadap sesama dan terhadap lingkungan sekitar, siap dipimpin dan memimpin serta tumbuh jiwa tolong-menolong dalam jiwa mereka,” kata Abuneil beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, kurikulum pendidikan yang dikembangkan di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah merupakan kurikulum integral yang terdiri dari tiga komponen pendidikan yang sekaligus menjadi karakteristik khas, yakni aspek ruhiyah, aqliyah dan jasmaniyah.

“Yang mana dari ketiga komponen tersebut isi kurikulumnya terdiri dari ilmu agama, ilmu umum dan ilmu keterampilan,” terang Abuneil.

Dia menjelaskan, sesuai dengan visi dan misi lembaga pendidikan Hidayatullah untuk menyelenggarakan pendidikan Islam secara integral dalam aspek ruhiyah (rohani), aqliyah (akal), dan jismaniyah (fisik), sehingga dapat melahirkan insan yang salah satunya berupaya untuk melanjutkan, menumbuh kembangkan, khazanah (pembendaharaan) ilmu pengetahuan dan teknologi umat manusia, khususnya umat Islam, dan untuk membangun peradaban Islam di muka bumi pada umumnya.

“Atas dasar inilah kemudian kerja bakti di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah merupakan suatu kultur yang wajib untuk dilaksanakan, tidak hanya bagi santri tapi bagi seluruh aktifis Hidayatullah secara umum,” ujar ustadz asli Mentawai itu.

Kegiatan kerja bakti ini diikuti oleh seluruh santri beserta warga Ponpes Hidayatullah Bandung. Kerja bakti dimulai pukul 16.00 wib sampai dengan 17.00 wib, dilanjutkan dengan bersih diri. (ybh/hio)

Hidayatullah Kaltim Menggelar Pelatihan Kurtilas basis Tauhid

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Selain berupaya dengan sungguh-sungguh mengaktualisasi muatan Kurikulum Pendidikan Nasional (Diknas),  komitmen mengembangkan pendidikan berbasis Tauhid oleh jaringan sekolah pada Lembaga Pendidikan Islam Hidayatullah (LPIH) Kalimantan Timur juga semakin dimantapkan.

Hal ini terlihat dengan diadakannya pelatihan dan pengembangan Kurikulum 2013 Berbasis Tauhid yang digelar di Aula Serbaguna Kampus Hidayatullah Karang Bugis, Balikpapan pada Jumat-Ahad (1-3/12/17).

Kegiatan yang digagas oleh Depertemen Pendidikan DPW Hidayatullah Kalimantan Timur ini diikuti oleh Kepala Sekolah, Waka Kurikulum dan guru senior perwakilan sekolah Hidayatullah tingkat SD, SMP, dan SMA berbagai daerah di Kalimantan Timur.

Kendatipun materi pelatihan cukup mengerahkan pikiran peserta pelatihan, namun mereka tetap bersemangat dan ceria berkat ice breaking, yel-yel dan motivasi yang selalu disegarkan instruktur Adi Purwanto, Pakar pendidikan dari Surabaya dan Rully Cahyo Fathur pakar pendidikan dari Malang Jawa Timur.

Rully Cahyo mengatakan pada dasarnya Kurikulum 2013 berbasis Tauhid adalah pengembangan kurikulum 2013 dengan menginternalisasikan nilai-nilai ketauhidan yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits ke dalam materi pembelajaran.

“Lebih spesifik pada aqidah Tauhid dalam ajaran Islam,” kata alumni manejemen pendidikan UIN Malang Ini.

Sejalan dengan Rully, Ketua Depertemen Pendidikan DPW Hidayatullah Kaltim, Sirajuddin mengatakan bahwa untuk mencapai kejayaan sebagaimana yang telah sukses didemonstrasikan Rasulullah SAW maka perlu mengikuti pola pendidikannya.

“Pola pendidikan Rasulullah adalah untuk mendidik generasi bertauhid,” kata Sirajuddin di hadapan puluhan peserta.

Sirajuddin melanjutkan, konsep pendidikan yang paling tinggi adalah pendidikan yang mampu mengundang simpati Allah SWT dalam mewujudkan sekolah yang maju dan melahirkan kader generasi bangsa yang baik.

“Mudah-mudahan dengan pelatihan ini Allah membantu dan membimbing urusan sekolah untuk mewujudkan pendidikan tauhid” harap Sirajuddin yang diamini peserta.

Sebagaimana dikatakan Sirajuddin bahwa kegiatan Pelatihan ini merupakan rangkaian terakhir dari program kerja Depertemen Pendidikan DPW Hidayatullah Kaltim pada tahun 2017.

“Nanti kita akan kembali merumuskan program kerja pendidikan bulan Februari 2018 mendatang pada kegiatan Rakerwil Pendidikan Wilayah,” jelas Sirajuddin.

Ketua Pelaksana Pelatihan, Abdul Basith, mengatakan untuk membangkitkan semangat juang para peserta, pelatihan ini diadakan di Kampus Hidayatullah Karang Bugis yang merupakan tempat paling bersejarah bagi perkembangan Hidayatullah yang telah berada di berbagai daerah di Indonesia saat ini.

“Di tempat inilah para pendahulu kita merumuskan perjalanan organisasi ini (Hidayatullah) ke depan” kata Basith yang merupakan kepala sekolah SDIT Luqman Al-Hakim Balikpapan.*/ Shabirin Ibnu Hambali

Geliat Hidayatullah Enrekang Cetak Santri Tahfidz Quran

0
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Enrekang mengucurkan bantuan kepada pesantren tahfiz Alquran Hidayatullah di Kelurahan Buntu Sugi, Kecamatan Alla, Enrekang.

ENREKANG (Hidayatullah.or.id) – Bingung mencari pesantren tahfidz di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan? Tak perlu jauh-jauh, silahkan ke Kelurahan Buntu Sugi, Kecamatan Alla, Enrekang.

Di sana terdapat Pesantren Tahfiz Hidayatullah. Saat ini cabang Pesantren Hidayatullah ini telah membina 62 tahfidz calon penghafal Al-Quran.

Pesantren Hidayatullah Enrekang memiliki lokasi yang cukup besar dan tenaga pendidikn berpengalaman.

Sekretaris Pesantren Hidayatullah Enrekang, Ust Muhammad Yani, mengatakan saat ini sudah ada lima santri binaannya yang menghafal 30 juz Alquran.

Selain itu, santri lulusan pesantren ini juga tetap punya masa depan dengan memiliki ijazah Pendidikan formal MTs dan Aliyah.

“Alhamdulillah, program mencetak tahfidz di pesantren ini terus berjalan dan kita akan terus mendidik mereka,” kata Ust Yani, Kamis dikutip Tribun Timur (7/12/2017).

Ia menjelaskan, beberapa siswa usia Madrasah tsanawiyah (MTS) binaannya, sudah hafal di atas lima sampai tujuh juz Alquran.
Bahkan sudah ada beberapa santri yang telah mampu menghafal 30 juz Al-Quran.

“Tiap habis Salat Ashar, Isya, dan Subuh santri wajib hafal Alquran. Tiga kali dalam sehari secara terus menerus itu cukup kalau hanya untuk menuntaskan hafalan 30 juz,” tuturnya.

Selain memantapkan hafalan, santri juga diajari ilmu agama seperti, fiqih, usuhul fiqih, nahwu, ilmu faraid, dan lainnya. Tak hanya itu, pesantren ini juga punya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Madrasah Aliyah.

Ust Yani berharap masyarakat terlebih pemerintah turut memberikan mendukungan pengembangan pesantren, terutama fasilitas sarana prasarana, ruang kelas, dan pondokan santri. Apalagi santri yang dibina umumnya dari kalangan masyarakat tak mampu (dhuafa).

“Kami membuka ruang sumbangan wakaf dalam bentuk apapun, baik barang maupun jasa semua kami terima untuk kemajuan pesantren kita ini,” tuturnya.*