Beranda blog Halaman 547

Kader Muda Hidayatullah Harus Jadi Pelopor Pelayanan Umat

Ketua Bidang Pelayanan Ummat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Drg. Fathul Adhim, M.KM

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Kader muda Hidayatullah didorong agar selalu menjadi pelopor dan terdepan dalam pelayanan umat, dalam karya dan amal shaleh. Terutama sebagai pioner dalam pembinaan dan pendidikan generasi muda.

Demikian disampaikan Ketua Bidang Pelayanan Ummat DPP Hidayatullah Drg. Fathul Adhim, M.KM, saat menerima rombongan pengurus PP Syabab Hidayatullah kala menjenguknya yang tengah menjalani perawatan di Pusat Kanker Nasional Rumah Sakit Dharmais, Jakarta, Selasa (7/03/2018).

“Syabab Hidayatullah harus terdepan dalam pelayanan, karya dan amal. Sekarang masanya Syabab untuk beramal sebaik-baiknya. Tanam kebaikan dari sekarang. Kerahkan segala potensi dimiliki untuk perjuangan Islam,” kata Fathul Adhim.

Ia berpesan, anak muda harus berani melangkah ke depan demi melahirkan suatu karya untuk generasi berikutnya yang dilandasi spirit Islam. Sejalan dengan itu, anak muda pun menurutnya mesti bekerja secara efektif dan terukur.

Dia menceritakan pengalamannya kala masih menjadi mahasiswa di ITS Surabaya, Jawa Timur. Sejak semester 2, sebagai anak muda ketika itu, dirinya sudah berjibaku dengan tugas-tugas mengurus panti asuhan Hidayatullah dan aktif melakukan pembinaan remaja.

Padahal, akunya, dia dan kawan-kawan mudanya saat itu nihil pengalaman. Tapi mereka mantap saja jalan terus. Dengan keuletan, langkah mereka pun diganjar penghargaan dari Departemen Sosial dan apresiasi dari berbagai pihak.

“Modal teman teman berani dan yakin. Yah, kita jalan aja walaupun tidak ada pengalaman. Syabab sekarang harus begitu,” kata Fathul yang juga merupakan perintis berdirinya Laznas BMH ini.

Fathul Adhim mengatakan mainstream gerakan Hidayatullah adalah dakwah dan pendidikan. Karena itu, kata dia, kampus-kampus Hidayatullah merupakan pendukung utama gerakan tersebut.

“Jangan sampai setelah berdiri kampus-kampus, kita sibuknya di dalam saja. Dakwah harus ekspansi keluar supaya semua orang bisa merasakan nikmatnya ‘Hidayatullah’. Syabab (harus) begitu!,” ujarnya.

Didampingi sang istri yang setia membersamai, pada kesempatan tersebut Fathul Adhim menekankan bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan harus berorientasi hanya untuk Allah Subhanahu Wata’ala semata. Tidak ada orientasi lain di luar itu.

Dengan demikian, lanjutnya, maka tidak akan ada pekerjaan atau usaha yang sia-sia sebab semua akan tercatat di sisi Allah Ta’aala sebagai amal kebaikan.

Ia pun mendorong Syabab Hidayatullah agar semakin maju dan profesional dalam pengelolaan organisasi. Sistem manajemen dan pendelegasian tugas diantara yang menurutnya perlu selalu dikonsolidasikan.

“Kerjakan yang bisa dikerjakan. Melangkah dan terus jalan mumpung masih muda. Tetap atur ritme kerjanya. Memang berat apalagi kalau baru memulai tapi tidak ada yang sia-sia kalau berkarya untuk Islam,” tandasnya.

Bahkan beliau menantang, dalam jangka waktu 4 tahun Syabab Hidayatullah harus memiliki lokal Rumah Pesantren Mahasiswa Dai sendiri. Bagaimana caranya, ia meminta pengurus Syabab Hidayatullah untuk memikirkannya.

“Harus bisa. Yakin, Insya Allah bisa,” katanya lugas. Kondisi kesehatan beliau kini semakin membaik dan diharapkan dalam waktu dekat kembali pulih seperti sedia kala, Aamiin. (ybh/hio)

Bersih-bersih Telinga Santri Ponpes Hidayatullah Ambon

0
Para dokter IDI Ambon berfoto bersama usai acara

AMBON (Hidayatullah.or.id) – Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bersinergi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Ambon menggelar aksi Bersih-Bersih Telinga dengan tema “Hear the Future and Prepare for it”.

Kegiatan dalam rangka memperingati World Hearing Day itu dilaksakan di Pesantren Hidayatullah Liang Ambon, Maluku, Sabtu (3/3).

Kepala BMH Perwakilan Maluku, Ikrom Tihurua menyatakan, program ini sangat dibutuhkan masyarakat, terutama mereka yang jarang tersentuh dari sisi medis.

“Alhamdulillah, BMH Ambon terus bergerak melaksanakan program-program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat kecil yang jarang sekali melakukan cek kesehatan, karena keterbatasan biaya. Alhamdulillah bersama IDI Ambon kita bisa fasilitasi ini bagi mereka dengan tanpa biaya,” kata Ikrom dalam rilisnya, Selasa (6/3/2018).

Penerima manfaat dari program ini adalah para santri dari Pesantren Al-Anshor Liang-Ambon dan santri-santri Pesantren Hidayatullah Liang, Ambon. Jumlah peserta keseluruhan 150 santri.

Ketua panitia kegiatan, dr Hasni Arusad berharap sinergi ini bisa berkelanjutan. “Semoga ke depannya, IDI Cabang Ambon dapat terus bekerja sama dengan BMH di Ambon,” tuturnya. (ybh/hka)

Hidayatullah Peduli Bantu Korban Banjir Longsor Brebes

BREBES (Hidayatullah.or.id) – Hidayatullah Peduli sejak Jum’at (23/02) sampai Rabu (28/02) terus berada di Desa Pasir Panjang sebagai titik longsor.

Hingga hari ini, Jum’at (03/03/18) aktivitas pembersihan lumpur masih terus dilakukan warga bersama relawan yang masih terus membersamai korban banjir bandang.

“Hari ini Jum’at, (2/3/18) kembali Hidayatullah Peduli menyuplai sembako ke dapur umum di Posko Cikarae Desa Pasir Panjang, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes Jawa Tengah, urai Ahmad Hamim, Korlap Hidayatullah Peduli.

Data terupdate saat ini masih ada sekitar 100-an warga atau sekitar 30-an KK yang belum bisa kembali ke rumah masing-masing karena rumah mereka masih tertutup lumpur.

“Saat ini, warga dan relawan masih bahu membahu untuk membersihkan luapan lumpur di rumah-rumah warga.” Urai Riswan Kordinator Posko Cikarae.

“Terima Kasih Hidayatullah yang masih terus bersama warga dan masih berkontribusi mensuplai kebutuhan posko di Cikarae ini. Setiap hari kami ibu-ibu harus menyediakan nasi bungkus kisaran 500-600 bungkus untuk warga dan relawan di Posko ini.” Ungkap Ibu Dartem.

“Hidayatullah Peduli, Insya Allah besok, Sabtu (3/3/18) akan menyalurkan bantuan sembako dan kegiatan Trauma Healing kepada anak-anak dan hari Ahad, Insya Allah akan melakukan Pelayanan Kesehatan bersama Islamic Medical Service (IMS) Jakarta.” Pungkas Yusran PJ Program Hidayatullah Peduli Brebes. (ybh/hio)

Kunjungan Kak Seto ke Kampus Ponpes Hidayatullah Timika

0

TIMIKA (Hidayatullah.or.id) – Kak Seto Beri Wejangan Murid SD Hidayatullah Timika Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Indonesia, Seto Mulyadi (Kak Seto), melakukan kunjungan silaturrahim ke Kampus ondok Pesantren Hidayatullah Timika, Papua, belum lama ini.

Pada kesempatan tersebut Kak Seto memberikan wejangan kepada murid-murid dan segenap santri Pondok Pesantren Hidayatullah Timika. Dia mendorong anak untuk selalu giat belajar.

Pada kesempatan tersebut dia juga menyampaikan perhatiannya terhadap generasi penerus di Tanah Papua khusus generasi Timika.

Kak Seto ke Papua yakni ke Kabupaten Asmat dan Kabupaten Mimika untuk melihat anak-anak generasi penerus bangsa di dua daerah ini. Selama kunjungannya di Timika, LPA Mimika didukung oleh PT Srikandi.

Selama kurang lebih lima jam berada di kota Timika, Kak Seto didampingi Ketua LPA Kabupaten Mimika dan Sekretaris, Abdul Syakir, SPdI dan Syakir Lacoro langsung mengunjungi PAUD dan TK Nurul Hidayah, SD Yapis dan SD Hidayatullah.

Rangkaian kunjunganya pada Rabu (21/2) ini disambut penuh ceria oleh anak-anak hingga ibu-ibu dan guru-guru yang mendampingi anak-anak.

Kunjungan Kak Seto ke Papua bertujuan untuk melihat secara langsung kondisi anak-anak Asmat yang mengalami gizi buruk dan kasus campak. Kak Seto dan rombongan tidak segan berada di lokasi selama empat hari.

“Saya memang melihat bahwa dengan kondisi seperti itu, dimana anak masih kurang mendapat perhatian itu memang bisa terjadi (gizi buruk dan campak), ini tentu saja kurang baik,” jelas dia.

Selama di Asmat maupun di Timika, Kak Seto langsung bercengkrama dengan anak-anak. Dia begitu familiar dan dekat dengan anak sambil menggendong, juga main sulap dan beri motivasi. Menurut dia anak-anak Papua sangat luar biasa.

Kak Seto memuji keberanian anak-anak yang secara spontanitas bahkan melebihi anak-anak di pulau Jawa dan di Jakarta. Sistim pendidikan sebutnya kadang kala yang membuat anak-anak ini tertekan.

“Anak-anak di Asmat dan Timika sini mungkin karena lingkungan alam yang leluasa dan penuh tantangan membuat mereka jadi begitu percaya diri, disiplin juga mereka tidak kalah. Saya lihat ini ibarat tambang emas untuk generasi yang akan datang, sayang kalau ibarat bunga bibit unggul ini layu sebelum berkembang,” pinta Kak Seto.

Dari hasil kunjungan ke Papua, Kak Seto mengakui akan menyampaikan apa yang ia rasakan, ia lihat di sini ke Presiden Jokowi dan para Menterinya. Ini harus disampaikan agar anak-anak Papua jangan sampai kurang mendapatkan perhatian.

Perhatian kepada anak-anak kata Kak Seto, memang harus ditingkatkan terus oleh semua pihak. Saat ini di Timika ada ujung tombaknya yakni LPA Papua dan Papua Barat serta Kabupaten Mimika yang akan memberikan perhatian pada anak-ana ini.

“Kami juga percaya bahwa, kakak-kakak (LPA Timika) juga sangat peduli tentang anak,”terang Kak Seto. (ina/ybh)

Kewajiban Setiap Muslim Mencegah Kemunkaran

0
Ilustrasi amar maruf nahi munkar

KEMUNKARAN adalah segala bentuk kemaksiatan terhadap Allah Subhanahu Wata’ala seperti zina, LGBT, korupsi, khalwat, berjudi, minum minuman keras, menipu, membunuh, pergaulan bebas, pacaran, berboncengan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram, menampakkan aurat, dan sebagainya, dan segala bentuk penyimpangan terhadap syariat Islam seperti ajaran sesat, syirik, perdukunan, bid’ah, khurafat dan maksiat lainnya.

Selama ini kita menemukan banyak kemunkaran di sekitar kita. Di antaranya pergaulan bebas berupa pacaran dan berboncengan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram. Namun, tidak ada seorangpun dan tidak ada aturan yang melarang kemunkaran tersebut dan yang memberi sanksi atas pelanggaran syariat ini.

Padahal perbuatan itu maksiat terang-terangan. Perbuatan ini melanggar syariat dan hukumnya haram. Selain itu, maksiat tersebut jalan menuju maksiat lain seperti zina dan khalwat.

Parahnya lagi, pacaran dan berboncengan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram menjadi suatu trend saat ini dan ramai diminati oleh para pelanggar syariat.

Hal ini dikarenakan kemunkaran tersebut sudah menjadi “kebiasaan” yang tidak dilarang dan dikenakan sanksi. Maksiat tersebut tidak dianggap sebagai bentuk pelanggaran syariat dan tidak pula dianggap suatu dosa dan aib yang memalukan.

Selain itu, kemunkaran berupa syirik, perdukunan, bid’ah dan khurafat banyak terjadi di mana-mana dengan bebasnya. Begitu pula kemunkaran berupa paham/aliran sesat seperti syiah, sekulerisme, plurarisme, liberalisme, dan sebagainya.

Semua kemunkaran tersebut merajalela dalam masyarakat tanpa ada upaya dari pemimpin, ulama, dan da’i dalam mengingkari dan melarang kemunkaran tersebut. Kalaupun ada, hanya sedikit para ulama dan da’i yang peduli persoalan ini dan berani melarangnya.

Kewajiban Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar

Setiap muslim wajib melaksanakan amar ma’ruf (menyeru berbuat kebaikan) dan nahi munkar (mencegah kemunkaran) sesuai kemampuannya.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, menyeru (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah daripada yang Munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104).

Imam Al-Hafiz Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata: “Maksud ayat ini adalah, harus ada sekelompok dari umat ini yang melakukan tugas dakwah, meskipun sebenarnya dakwah itu merupakan kewajiban bagi setiap individu sesuai dengan kemampuannya.”

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

“Barangsiapa di antara kamu melihat kemunkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak sanggup, maka ubah dengan lisan. Jika tidak sanggup, maka dengan hati. Yang demikian itu selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).

Hadits ini menjelaskan bahwa setiap muslim wajib mencegah kemunkaran sesuai dengan kemampuan masing-masing, baik dengan tangan, lisan ataupun hatinya.

Berdasarkan kedua dalil tersebut, maka para ulama sepakat mengatakan bahwa melaksanakan amar ma’ruf dan nahi nunkar hukumnya wajib kifayah sesuai kemampuannya. Meskipun demikian, kewajiban ini bisa menjadi wajib a’in bila tidak ada orang yang melaksanakannya di suatu komunitas masyarakat atau kampung.

Setiap muslim wajib mencegah kemunkaran sesuai dengan kemampuannya masing-masing, baik dengan tangan, lisan ataupun hatinya. Seorang pemimpin wajib mencegah kemunkaran dengan kekuasaannya. Seorang ulama, ustaz dan da’i wajib mencegah kemunkaran lewat khutbah, ceramah dan pengajian.

Begitu pula lewat tulisan, baik artikel dan maupun buku. Bila tidak mampu dengan tangan dan lisan, maka dengan hati yaitu membenci kemunkaran tersebut.

Ibnu Mas’ud r.a berkata: “Mungkin di antara kalian ada mengetahui kemunkaran, tapi ia tidak mampu memberantasnya. Ia hanya bisa mengadu kepada Allah Subhanahu Wata’ala bahwa ia benci kemunkaran itu.”

Syaikh Dr. Mushthafa Dieb Al-Bugha berkata: “Mampu mengetahui hal-hal yang ma’ruf dan mengingkari hal-hal yang Munkar melalui hati merupakan fardhu ‘ain bagi setiap individu muslim, dalam kondisi apapun. Adapun yang dikatakan lemah atau tidak mampu adalah kondisi di mana dimungkinkan jika ia mengingkari kemunkaran dengan tangan atau lisan adanya suatu bahaya yang akan menimpa dirinya atau hartanya, dan ia tidak mampu menanggung itu semua. Jika kemungkinan ini tidak ada, maka tetap diwajibkan untuk memberantas kemunkaran dengan tangan atau lisan. (Al-Wafi, hal. 290)

Oleh karena itu, setiap muslim wajib mencegah kemunkaran sesuai dengan kemampuan masing-masing, baik dengan tangan, lisan atau hatinya. Seorang pemimpin wajib mencegah kemunkaran dengan tangannya melalui kekuasaannya.

Seorang ulama, ustaz dan da’i wajib mencegah kemunkaran dengan lisannya melalui khutbah, ceramah dan pengajian. Begitu pula melalui tulisan. Bila tidak mampu dengan tangan dan lisan/tulisan, maka dengan hati yaitu membenci kemunkaran tersebut.

Meridhai perbuatan dosa dan kemunkaran hukumnya dosa besar. Nabi Saw bersabda:

“Jika satu kemaksiatan dilakukan di muka bumi, maka orang yang melihatnya tapi membencinya, seperti orang yang tidak mengetahuinya. Sedangkan orang yang mendengar dan merestuinya, ia seperti orang yang melihatnya.” (HR. Abu Daud).

Oleh karena itu, siapa yang mengetahui perbuatan dosa, dan ia ridha terhadap dosa tersebut, maka dia telah melakukan dosa besar, baik dia melihat secara langsung atau mendengar.

Ini tidak lain karena ia telah ridha terhadap suatu dosa berarti tidak mengingkari dosa tersebut, meskipun dengan hati. Padahal mengingkari dosa dengan hati hukumnya fardhu ‘ain, sedangkan meninggalkan fardhu ‘ain itu termasuk dosa besar.

Melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar merupakan salah satu sifat orang mukmin. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman: “Orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebahagian mereka menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang Munkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah.”(At-Taubah: 71).

Imam Al-Qurthubi mengatakan dalam tafsirnya: “Allah telah menjadikan amar ma’ruf dan nahi Munkar sebagai pembeda antara orang mukmin dan munafik. Dengan demikian, hal ini menunjukkkan bahwa di antara ciri-ciri yang paling istimewa dari orang-orang yang beriman adalah amar ma’ruf dan nahi munkar.

Allah Subhanahu Wata’ala memuji umat Islam sebagai umat yang terbaik karena mereka melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman: “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang Munkar”. (Ali Imran: 110)

Setiap pemimpin wajib menegakkan syariat Islam dan melakukan amar ma’ruf dan nahi Munkar. Allah berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang jika kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari yang Munkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (Al-Hajj: 41).

Syaikh Dr. Ali Abdul Halim Mahmud berkata: “Mencegah dari kemunkaran dalam ayat tersebut adalah salah satu dari empat amal perbuatan yang wajib dilakukan oleh mereka yang diberikan kekuasaan dan kepemimpinan di muka bumi, dengan agama, manhaj, dan sistem Allah Subhanahu Wata’ala.” (Fikih Responsibilitas, hal. 123)

Bahaya Mengabaikan Amar ma’ruf dan Nahi Munkar

Mengabaikan kewajiban amar ma’ruf dan nahi munkar sama saja mengundang bencana atau azab Allah Subhanahu Wata’ala. Jika kita hanya berdiam diri menyaksikan kemunkaran di sekitar kita tanpa ada upaya pencegahan sesuai dengan kemampuan kita, maka Allah akan menimpakan bencana atau azab-Nya kepada kita di dunia maupun di akhirat.

Begitu pula mentolerir kemunkaran bagi yang mampu menghentikannya berarti meridhai dan melegalkan kemunkaran tersebut. Bila kemunkaran atau kemaksiatan itu telah merajelela dan tidak ada yang melakukan kewajiban amar ma’ruf dan nahi munkar, maka Allah Subhanahu Wata’ala akan timpakan bencana (azab)-Nya, karena penyebab utama turunnya azab Allah Subhanahu Wata’ala adalah kemaksiatan yang merajalela.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

“Dan tidaklah Kami membinasakan Kami membinasakan suatu negeri kecuali penduduknya melakukan kezaliman.” (Al-Qashash: 59). Allah Subhanahu Wata’ala juga berfirman: “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-‘Araf: 96).

Bencana atau azab itu datang tidak hanya menimpa para pelaku maksiat saja, namun juga menimpa orang-orang yang shalih dalam komunitas tersebut. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman: “Dan Takutlah kamu sekalian akan siksa yang tidak hanya menimpa orang-orang zhalim saja.” (Al-Anfal: 25).

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Allah Subhanahu Wata’ala menyuruh kaum mukminin untuk tidak melegalkan kemunkaran yang terjadi pada mereka. Jika tidak, Allah akan menimpakan azab secara menyeluruh kepada mereka”.

Zainab Ummul Mukminin radhiyallahu anha pernah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apakah kita akan dibinasakan, sedangkan orang-orang shalih di tengah-tengah kita? Rasulullah saw bersabda: “Ya, jika kejahatan merajalela. (HR. Muslim). Rasulullah saw juga bersabda: “Sesungguhnya manusia jika melihat kemunkaran tapi tidak menghentikannya, maka Allah Subhanahu Wata’ala akan menimpakan hukuman kepada mereka secara menyeluruh.” (HR. Tirmizi).

Bencana atau azab di dunia itu berupa kelaparan , kekeringan, gempa, banjir, kebakaran, gunung meletus, tsunami dan sebagainya. Selain itu, bisa jadi berupa rasa takut, tidak aman, dan merajalelanya maksiat seperti pembunuhan, pemukulan, khalwat, zina, mabuk-mabukan, korupsi, penipuan, perampokan, dan sebagainya.

Adapun bencana atau azab Allah di akhirat berupa laknat dan azab Allah kepada orang-orang yang tidak mau melaksanakan nahi munkar (mencegah kemunkaran), sebagaimana yang pernah menimpa bani Israil.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

“Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat dengan lisan (ucapan) Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas . Mereka tidak saling mencegah perbuatan Munkar yang selalu mereka perbuat. Sungguh, sangat buruk apa yang selalu mereka perbuat. (Al-Maidah: 78-80).

Selain itu, Allah Subhanahu Wata’ala melaknat orang-orang yang tidak mau menyuruh kepada kebaikan dan tidak mau melarang kemunkaran.

Rasulullah saw bersabda, “Tidak, demi Allah kalian akan benar-benar menyuruh yang ma’ruf dan mencegah dari yang Munkar, atau Allah akan menyiksa dengan dengan hati sebahagian kalian atas sebahagian yang lain, kemudian Allah akan melaknati kalian sebagaimana melaknati mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Selama ini berbagai bencana telah menimpa bangsa Indonesia seperti konflik di Aceh dan Papua, rasa takut dan tidak aman, kebakaran, gempa, longsor, banjir, sampai bencana terbesar Tsunami di Aceh dan sebagainya. Kita tidak tahu pasti apakah bencana ini merupakan ujian, teguran atau azab.

Yang jelas, selama ini kemunkaran telah merajalela di sekitar kita, namun kita tidak mencegah kemunkaran tersebut. Akibatnya, Allah Subhanahu Wata’ala menimpakan berbagai bencana kepada kita.
Bisa jadi ini azab dari Allah. Maka, mari kita introspeksi diri dan waspada terhadap bencana atau azab Allah Subhanahu Wata’ala yang datang secara tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan.

Tentu introspeksi kita dengan cara mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan melaksanakan amar ma’ruf dan nahi Munkar.

Mengingat amar ma’ruf dan nahi Munkar merupakan kewajiban bagi setiap muslim sesuai dengan kemampuan, maka tidak ada alasan bagi kita meninggalkannya. Terlebih lagi meninggalkan amar ma’ruf dan nahi Munkar bisa berdampak buruk terhadap individu, masyarakat, bahkan negara.

Semoga kita komitmen dan konsisten dalam mengamalkan syariat, termasuk melaksanakan amar ma’ruf dan nahi Munkar.(Muhammad Yusran Hadi)

Sumber: Hidayatullah.com

Menengok Kampus Pesantren Hidayatullah Tuapejat Mentawai

0

SIPORA UTARA (Hidayatullah.or.id) – Keberadaan Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah di Jalan Raya Tuapejat, Kilometer 7, Desa Siporajaya, Kecamatan Sipora Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai memang belum begitu banyak terdengar.

Namun, siapa sangka, Kampus Hidayatullah ini telah mendidik anak-anak mualaf, anak yatim dan dhuafa di bumi Sikerei sejak 21 tahun yang lalu. Seperti apa?

Tidak sulit menjumpai lokasi Kampus Hidayatullah Mentawai yang dirintis oleh dai pertama Hidayatullah, yakni, Muhammad Bakrie Taisirebeb semenjak tahun 1996 tersebut.

Kampus Hidayatullah yang berada di kawasan pemukiman warga dan berdiri di atas tanah wakaf seluas 10 hektare tersebut, hingga kini masih terus mengukuh karya dakwah umat kendati belum banyak perkembangan.

Meski memiliki kawasan yang cukup luas, namun, sarana prasarana berupa gedung atau bangunan pesantren masih sangat terbatas. Walaupun begitu, Kampus Hidayatullah di Sipora Utara ini tetap konsisten dalam melaksanakan pendidikan yang terintegrasi secara utuh.

Di mana, dengan menerapkan dua model pembelajaran boarding atau asrama dan full day school tersebut, diharapkan dapat memberi solusi terhadap persoalan yang dihadapi umat.

Ketua Yayasan Ponpes Hidayatullah Kepulauan Mentawai, Mahrus Salam, mengatakan kehadiran Ponpes Hidayatullah didasari atas kondisi umat. Di mana, ponpes mencoba memberikan solusi terhadap persolan tersebut.

“Kami mencoba menawarkan tiga solusi. Persoalan pendidikan kami hadirkan melalui sekolah, persoalan ekonomi melalui pembinaan sektor pertanian dan perdagangan dan persoalan sosial melalui santunan,” ungkap suami dari Andi Nurhayati ini seraya menambahkan, saat ini ada sebanyak 50 orang santri di ponpes tersebut.

Di samping itu, Ponpes Hidayatullah juga menyiapkan sekolah formal dari play group hingga SMA/Aliyah. Dikatakannya, Ponpes juga melatih santri untuk bisa mandiri. Sebab, subtansi dari ilmu yakni, memberikan perubahan karakter terhadap seseorang.

Dikatakan Mahrus, pihaknya juga membagi kepada tiga sistem dalam menerapkan proses pembelajaran. Yakni, pada pukul 08.15 hingga pukul 15.00 santri belajar di sekolah formal.

Lalu, pada pukul 15.00 hingga Maghrib, santri belajar di asrama. Sedangkan, pada malam harinya, santri belajar di masjid.

“Ilmu di sekolah, karakter di asrama dan spiritual melalui masjid. Artinya, Ponpes Hidayatullah juga sebagai lembaga asuh. Sebab, rata-rata santri di sini merupakan mualaf, anak yatim dan dhuafa. Ponpes Hidayatullah memiliki tanggung jawab iman dan amal shaleh terhadap umat,” kata ayah dua putri dan lima orang putra ini.

Bahkan, lanjut Mahrus, orangtua santri, rata-rata masih dalam kondisi non-muslim. Namun, karena ada keinginan dan semangat belajar agama Islam, mereka rela meninggalkan keluarga dan kampung halaman mereka tersebut.

Ke depan, dia berharap, bagaimana Ponpes Hidayatullah menjadi salah satu perkampungan mualaf di Kepulauan Mentawai. Di mana, juga dapat menjadi salah satu tempat untuk berinvestasi akhirat bagi umat.

“Kalau di dunia ada bank, nah untuk akhiratnya, banknya ada di sini. Siapa pun yang ingin berinvestasi akhirat, dapat langsung ke Ponpes Hidayatullah,” ucapnya setengah berseloroh dikutip Harian Padang Ekspres.

Saat ini, tenaga pengajar Ponpes yang berjumlah lebih kurang 24 orang tersebut, merupakan alumni ponpes itu sendiri. Bahkan, santri yang sudah alumni, bersedia mengabdi di ponpes dan diberikan beberapa kapling tanah untuk tempat tinggal mereka.

Terkait persoalan kondisi umat Islam di Kepulauan Mentawai, Mahrus menilai, belum banyak tokoh atau lembaga yang menjembatani persoalan umat di Kepulauan Mentawai. Dia mengatakan, yang berbuat, baru sebatas melihat, tambah, bagi, kali dan kurang.

“Harus ada tokoh yang tidak memikirkan keuntungan apa yang didapatnya. Sekarang ini, yang ada baru saling menonjolkan bendera masing-masing. Mesti ada forum umat tempat bertanya dan silaturrahmi umat,” pungkasnya. (ybh/hio)

Hidayatullah Kutai Barat Bangun Daerah dengan Dakwah

0

MELAK (Hidayatullah.or.id) – Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPD) Hidayatullah Kutai Barat (Kubar), Muhammad Irsyad Istoyo, mengatakan Hidayatullah berkomitmen berperan aktif dalam pembangunan di daerah khususnya di Kutai Barat melalui amal dakwah dan pendidikan yang menjadi mainstream gerakan Hidayatullah.

“Kami selalu bekerjasama dan membantu pemerintah dengan mengajarkan masyarakat membaca Al-Quran, terutama para Kaum muallaf,” kata Irsyad dalam sambutannya dalam acara pembukaan Rapat Kerja Daerah Ke-III DPD Hidayatullah Kubar dan Mahakam Ulu di Masjid Pesantren Hidayatullah Kubar Jalan H Nurdin RT 3 Kelurahan Melak Ulu, Kecamatan Melak, Sabtu (24/2/2018).

Irsyad menerangkan, telah menjadi upaya sungguh-sungguh Hidayatullah untuk selalu terlibat dalam pembangunan khususnya dalam pemgembangan kapasitas sumber daya insani melalui mainstream gerakan Hidayatullah yakni dakwah dan pendidikan.

“Sementara ini Yayasan Pasantren Hidayatullah Kubar telah memilki dua sekolah, yaitu SMP dan Yayasan Rumah Tahfiz Imam Syafi‘i,” jelasnya.

Irsyad mengatakan, Hidayatullah selalu siap berdakwah dimana pun dan di pelosok mana pun demi menyukseskan program pembangunan pemerintah di bidang yang bersesuaian dengan core lembaga ini yaitu di bidang pendidikan dan dakwah.

Kepaka Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kutai Barat Muhammad Isnaini dalam sambutannya ketika membuka acara ini mendorong Hidayatullah semakin maju dan memantapkan perannya dalam mengembangkan ajaran Islam yang kaffatan linnas rahmatan lil ‘aalamiin.

Sebagai organisasi kemasyarakatan berbasis Islam, Hidayatullah juga diingatkan pentingnya merawat visi lembaga untuk tetap menjaga keharmonisan antar sesama.

“Dewan Pimpinan Daerah Hidayatullah Kubar dan Mahulu diharapkan menjadi mitra pemerintah dalam berkegiatan. Selain di bidang dakwah atau siar Islam, namun juga dalam dunia pendidikan,” kata Kakanwil Menag Kutai Barat, Isnaini.

“Saya harapkan ormas-ormas Islam di Kubar ini agar selalu menjaga toleransi antar umat beragama dan keharmonisan antar sesama,” pesan Isnaini.

“Kami imbau ormas-ormas Islam agar selalu menjaga kebersamaan kita di tahun politik ini,” tegasnya dalam Rakerda yang bertema Optimalisasi Program Dakwah dan Tarbiyah Menuju Sukses Berperadaban Islam, yang diikuti 60 peserta.

Ditambahkan Ketua Deparemen Dakwah Hidayatullah Kubar, Ustadz Nurdin, pihaknya selalu berdakwah dan tarbiyah menuju sukses peradaban Islam di Kubar dan Mahulu.

“Kami Hidayatullah Kaltim ke depan akan mengadakan silaturahmi nasional pada Desember di Hidayatullah Kota Balikpapan,” ujarnya.

Pembukaan Rakerda Ke-III DPD Hidayatullah Kubar dan Mahulu ini dihadiri Komandan Kodim 0912/KBR Letkol Infantri Rudi Setiawan dan Kabag Sumda Polres Kubar Kompol Teguh Joko Suryono. Hadir pula Anggota DPRD Kubar Mulyadi Effendi, Ketua Majelis Ulama Indonesia Kubar H Ahmad Asrori, Camat Melak H Jafar dan Ketua DPD Hidayatullah Mahulu Muhammad Taufik. (ybh/hio)

Aziz Qahhar Tegaskan Politik sebagai Ajaran Islam

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) – Pendiri yang juga pembina Pesantren Hidayatullah Makassar, Sulawesi Selatan, Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, mengatakan politik adalah ajaran Islam.

Hal itu ditegaska dia saat memenuhi undangan dari Lembaga Dakwah Mahasiswa Indonesia (LIDMI), pada Persidangan Muktamar II yang diselenggarakan di Pondok Madina Jalan Perintis Kemerdekaan Makassar, Minggu (25/2/2018).

Aziz mengungkapkal hal tersebut menyinggung mengenai maraknya pro kontra seputar larangan bagi para pemuka agama bicara politik di dalam Masjid.

Bagi senator tiga periode ini, sebagai wacana tersebut mesti disikapi dengan kepala dingin dan tak boleh terprovokasi.

Menurutnya Aziz, manusia diciptakan untuk melakukan dua hal, yakni menyembah kepada Allah dan menjadi khalifah.

“Nah, menjadi khalifah (perwakilan Allah) inilah termasuk politik di dalamnya, maka itu, politik itu bagian yang sangat mutlak dari ajaran Islam,” kata Aziz.

Aziz menegaskan, jika para ustaz dilarang bicara politik dalam masjid, maka banyak ayat-ayat Al Quran yang tidak boleh dibicarakan di dalam masjid.

“Nah ini yang membuat saya tersinggung, padahal begitu banyak ayat-ayat di dalam Al Quran yang membahas tentang politik,” jelasnya.

Lebih lanjut Aziz menjelaskan, Rasulullah SAW sebagai panutan umat Islam pun berpolitik. Rasulullah diutus bukan hanya sebagai pemimpin umat, namun juga untuk memimpin suatu bangsa.

“Nah Rasulullah saja berpolitik. Beliau tidak hanya mengurus masalah satu umat saja namun juga mengurus umat lain dan berada di garda terdepan membangun bangsa dengan memimpin suatu negara,” jelasnya.

Untuk itu, kata Aziz, sebagai aktivis Islam yang memahami permasalahan ini, harus mengambil bagian dari pemerintahan. Ini karena untuk mensejahtarakan masyarakat dibutuhkan peran para ulama.

“Umat itu tidak akan sejahtera jika yang memimpin mereka bukan pemimpin yang baik, untuk itu kita harus mengambil bagian di dalamnya,” tegas Aziz. (mrd/ybh)

Pembangunan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Dimulai

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Alhamdulillah, Insya Allah, jika tak ada aral melintang konstruksi pembangunan gedung Pusat Dakwah Hidayatullah segera dimulai.

Hal itu ditandai dengan penyerahan Surat Perintah Kerja (SPK) oleh DPP Hidayatullah yang diwakili Ketua Bidang Perekonomian Asih Subagyo kepada kontraktor PT Rasi Bintang Mas yang diwakili oleh Direktur Utama Nanang Efendi, IAI, yang dilakukan secara sederhana di Ruang Rapat DPP Hidayatullah, Selasa (20/02/2018).

Pada kesempatan tersebut hadir pula H. Mursalim selaku Komisaris Utama PT Rasi Bintang Mas dan turut menyaksikan Pengurus DPP dan DM lainnya, termasuk Ketua Umum DPP Hidayatullah, H Nashirul Haq, Lc. MA dan Ketua DMH Abu A’la Abdullah, MHI.

Penyelesaian pembangunan proyek ini ditargetkan tuntas dalam masa 287 hari kalender dan Insya Allah akhir tahun ini sudah dapat digunakan.

Pembangunan Masjid Baitul Karim dan gedung Pusat Dakwah Hidayatullah ini dibiayai secara swadaya dengan konstribusi dari seluruh kader Hidayatullah di Indonesia serta dukungan dari donatur dan kaum muslim.

Panitia juga menerima sumbangan baik berbentuk uang maupun barang yang sesuai dengan spesifikasi. Nomor rekening 7051891451 BSM a/n Pusat Dakwah Hidayatullah dan 3010179304 Bank Muamalat a/n DKM Baitul Karim.

Konfirmasi dan informasi lainnya terkait dengan pembangunan proyek amal ini dapat langsung menghubungi kantor DPP Hidayatullah Jl. Cipinang Cempedak 1/14 Polonia Jakarta Timur Telepon: 021-8190049, CP: +628128067257, 081282334498 Email: [email protected]

LBH Hidayatullah Akan Gelar Pendidikan Paralegal untuk Dai

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Dalam upaya meningkatkan kemampuan masyarakat umum, khususnya Para dai dan aktivis keagamaan Islam akan pengetahuan dasar tentang hukum dan hak asasi manusia, Lembaga Bantuan Hukum Hidayatullah (LBH Hidayatullah) yang concern terhadap kelompok masyarakat tersebut memandang perlu sebuah pelatihan paralegal.

Karena itu, kondisi tersebut mendorong LBH Hidayatullah untuk mencetak paralegal dengan membekalinya dengan pengetahuan dasar hukum dan hak asasi manusia yang dapat melindungi haknya dalam melakukan perjuangan yang pro demokrasi, sehingga mampu membuat solusi dan/atau strategi dalam penyelesaian kasus-kasus yang berhadapan dengan hukum.

“Diharapkan dari pendidikan ini akan memberikan keterampilan dalam melakukan advokasi yang berkaitan dengan penerapan norma-norma hukum. Serta membentuk jaringan antar Paralegal lintas sektor dan membentuk poskoposko bantuan hukum, sehingga dapat menjadi ”unit reaksi cepat” atau menjadi pertolongan pertama pada kasus dan/atau kejadian yang mereka hadapi,” kata Kepala Biro Hukum DPP Hidayatullah, Dr Dudung A. Abdullah, Rabu (21/02/2018).

Dudung menjelaskan, jaminan atas hak bantuan hukum merupakan implementasi dari prinsip persamaan dihadapan hukum (equality before the law) sebagaimana amanat konstitusi dalam Pasal 28D ayat (1) dan Pasal 28H ayat (2) UUD1945.

Negara terutama pemerintah sebagai penyelenggaran negara memiliki tanggung jawab dalam pemenuhan hak atas bantuan hukum sebagai hak konstitusional warga negara. Berdasarkan pertimbangan inilah secara yuridis urgennya eksistensi Undang Undang Bantuan Hukum.

Dijelaskan, bantuan hukum diberikan oleh lembaga bantuan hukum atau organisasi kemasyarakatan yang memberi layanan bantuan hukum, yang meliputi menjalankan kuasa, mendampingi, mewakili, membela, dan/atau melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan hukum penerima bantuan hukum.

Dalam pelaksanaannya, selanjutnya pemberi bantuan hukum diberikan hak melakukan rekrutmen terhadap Advokat, Paralegal, Dosen, dan Mahasiswa Fakultas Hukum. Inilah bentuk legitimasi yuridis terhadap eksistensi Paralegal dalam pemberian layanan bantuan hukum bagi masyarakat miskin atau kelompok masyarakat miskin yang berhadapan dengan masalah hukum.

“Guna menghadapi tantangan tersebut, maka kedepan Paralegal harus memiliki kapasitas dan integritas yang kuat, sehingga kader-kader Paralegal perlu mendapatkan pendidikan secara komprehensif dan berkelanjutan, baik mengenai pengetahuan hukum dasar, keterampilan maupun nilai etis seorang Paralegal,” terangnya.

Dengan demikian, lanjut Dudung, sangat perlu kiranya lembaga pemberi bantuan hukum untuk segera mempersiapkan adanya lembaga pendidikan khusus bagi Paralegal sebagai wadah untuk melahirkan kader-kader Paralegal handal.

“Disamping itu, perlu dipertegas ruang lingkup atau batasan peran dan tugas Paralegal agar tidak disalah artikan sebagai sebuah pekerjaan atau profesi,” tandasnya.

Pendidikan Paralegal ini rencananya akan digelar pada 8-11 Maret 2018 di Kota Bogor, Jawa Barat. Untuk mengoptimalkan kegiatan ini, panitia membatasi kuota peserta maksimal hingga 60 orang saja.

Informasi lebih lanjut dapat mengubungi kantor LBH Hidayatullah di Jalan Cipinang Cempedak 1/14 Polonia Jakarta Timur Indonesia. Telepon 021-8190049 – 021-8574406 HP: 082227719975 – 081386434672, Email: [email protected]