KENDARI (Hidayatullah.or.id) – Di tengah padatnya jadwal, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust Nashirul Haq hadir di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, dalam rangka memenuhi undangan tabligh akbar, Sabtu (18/11/2017).
Kehadirannya di kota tersebut sekaligus juga dalam rangka menghadiri acara Rapat Evaluasi Semester II Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sultra yang digelar selama 2 hari di (17-18 November 2017) di bilangan Ulukalo, Kabupaten Kolaka. Selepas acara ini, Nashirul melanjutkan perjalanan ke Konawe.
Pada kesempatan tabligh akbar yang diselenggarakan di Kabupaten Konawe yang turut dihadiri Bupati Konawe Kery Saiful Konggoasa dan unsur Muspida lainnya, Ust Nashirul Haq menekankan pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah dan Wathaniyah.
Tabligh akbar yang diselenggarakan oleh Majelis Taklim Riyadul Jannah ini merupakan rangkaian Milad ke-20 Majelis Taklim se-Kabupaten Konawe dengan mengusung tema “Mari Kita Tingkatkan Ukhuwah Islamiyah dan Wathaniyah”.
Dalam pidatonya di hadapan ratusan hadirin, Nashirul mengatakan ukhuwah adalah kunci kekuatan dan kedamaian, hidup menjadi nikmat karenanya, jiwa menjadi lapang, rezki diluaskan, dan umur pun dipanjangkan.
“Kemerdekaan negeri ini diperjuangkan oleh para ulama dan santri, didirikan oleh para tokoh Islam, karena itu umat Islam harus berperan aktif membangun negeri ini, membangun jiwa dan raganya,” pesannya. (ybh/hio)
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Wakil Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud, menyampaikan pesan agar gerakan Pramuka, selain berinovasi dan berkreasi, juga tetap agamis.
Itu disampaikannya pada acara Jambore Pramuka Regional Kalimantan gelaran Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Kalimantan Timur. Acara ini sekaligus dirangkai dengan pengukuhan pengurus Gugus Depan 01-057/01-058 Pangkalan ponpes itu.
Pengukuhan dilakukan oleh Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud yang juga menjabat Wawali.
Acara Jambore Pramuka Regional Kalimantan ini berlangsung di area Komplek Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan, Kecamatan Balikpapan Timur, berlangsung pada tanggal 10-12 November 2017.
Dalam pesan pengukuhannya berharap, “Agar dapat memberi manfaat yang baik dan dapat membentuk pramuka yang kreatif dan agamis. Kreatif dalam arti memberikan inovasi dan kreatifitas, dan agamis dalam arti tetap sesuai ajaran agama.”
Ketua Panitia Acara Jambore, Ibrahim mengatakan, tujuan diadakan acara ini adalah untuk menyambung silaturahim santri-santri ponpes itu se-Kalimantan dan penguatan nilai-nilai kemandirian, kekompakan tim, keterampilan, dan ketangkasan.
Menariknya dalam jambore ini, selain kegiatan khas Pramuka seperti tali temali, penjelajahan, ketangkasan, dipadu juga dengan kegiatan khas santri. Seperti lomba menghafal al-Qur’an juz 30, lomba adzan, dan pengetahuan tentang keagamaan lainnya.
Peserta berjumlah sekitar 200 orang dan 61 orang pendamping. Asal peserta dari Balikpapan, Samarinda, Bontang, Sangata, Berau, Bulungan, Tarakan, Paser, Palangkaraya, PPU, dan Kuaro.*/Usamah Sudiono
SOLO (Hidayatulah.or.id) – Rakernas BMH Bahas Optimalisasi Sistem Informasi untuk Tingkatkan Kinerja Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) menggelar kegiatan tahunan dalam menyongsong perhelatan zakat pada tahun 2018 yaitu Rapat Kerja Nasional (Rakernas) mengangkat tema “Optimaslisasi dan Pengembangan Sistem Informasi Teknologi untuk Meningkatkan Kinerja BMH”.
Rakernas BMH 2018 ini berlangsung selama 4 hari 3 malam yang bertempat di Hotel Syariah Solo – Surakarta, Jawa Tengah, yang dibuka pada Selasa (14/11/2017).
Rapat kerja ini diikuti oleh seluruh jajaran manajemen BMH secara nasional berikut hadir juga pada acara yang sama seluruh pengawas BMH perwakilan se Indonesia yang terdiri dari 120 Amil dan 28 Pengawas.
Kegiatan pembukaan rakernas BMH berjalan khidmat. Berbagai rangkaian kegiatan terus menghiasi tahapan acara demi acara. Dimulai dengan pembacaan Kalam Ilahi oleh salah satu Santri Binaan BMH Jawa Tengah Muhammad Hafidz Husein.
Kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan yang disampaikan oleh Ketua Dewan Pembina BMH Ust. Nashirul Haq, MA, dan Ketua Umum BMH Ust. Marwan Mujahidin.
Dalam sambutannya Ust. Nashirul Haq menekankan pentingnya menjaga kualitas ruhani dengan selalu meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kepada Allah Ta’aala.
Ketua Dewan Pembina sekaligus Ketua Umum DPP Hidayatullah ini juga menambahkan bahwa zakat menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan umat Islam.
“Kita harus camkan dalam diri seorang amil bahwa amil adalah juga bagian dari dai yang mana juga melakukan dakwah melalui edukasi zakat kepada masyarakat,” imbuhnya.
Beliau melanjutkan, zakat adalah salah satu kekuatan yang dapat menopang tegaknya peradaban Islam. Karenanya beliau berharap para dai amil terus melakukan pergerakan sosialisasi zakat bahkan menjadi amanat yang diemban seluruh Laznas yang ada di Indonesia.
Selaras dengan itu, Ketua umum BMH Marwan Mujahidin setelah menyampaikan beberapa progress report kinerja BMH pada 3 tahun terakhir, mengatakan bahwa era ini adalah eranya teknologi informasi yang dinilai terus mengalami perkembnagan dahsyat.
Tentunya, terang dia, dengan realitas tersebut akan semakin mendorong BMH berkonsentrasi untuk terus melakukan inovasi untuk meningkatkan kinerja baik dari aspek pelayanan, perhimpunan, pendayagunaan dan sebagainya.
“Komitment BMH untuk tahun 2018 adalah bagimana dapat menyediakan sebuah sistem informasi terbaik dalam segala aspek berbasis Informasi teknologi yang terintegrasi sehingga akan dengan mudah memberikan layanan terbaik baik kepada mustahik ataupun kepada muzakki,” kata Marwan.
Marwan menitip pesan kepada seluruh amil BMH se-Indonesia untuk terus meningkatkan layanan dan kinerja dalam mensyiarkan ZISWAF kepada masyarakat di Indonesia.
“Dan kepada para muzakki, dermawan yang ada di seluruh Indonesia besar harapan kami memberikan dukungan untuk terus bersama memberikan kontribusi dan perubahan nyata untuk kehidupan masyarakat indonesia yang lebih baik mulia dan bermartabat,” pungkasnya.
Penyelenggaraan Rakernas BMH yang digelar di Kota Solo ini didukung banyak pihak diantaranya Bank Mandiri KCP Surakarta, Telkomsel dan MTT Area Jateng-DIY, Syariah Hotel Solo, PT Mulia Mandiri Nusantara Raya Jakarta dan Rektor Universitas Sukoharjo. (ybh/hio)
Foto bersama di Konsulat Republik Indonesia di Tawau
SABAH (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Utara (Kaltara) bersama dengan perwakilan jajaran institusi dan amal usaha wilayah di bawahnya melakukan kunjungan silaturrahim ke beberapa tempat di Tawau, Negeri Sabah, Malaysia.
Kunjungan silaturrahim dalam rangka meningkatkan kerjasama yang telah terjalin serta menjajaki sinergi dakwah lainnya dengan beberapa lembaga setempat, dilakukan selama 5 hari terhitung sejak hari Senin (6/11/2017) hingga hari Sabtu (10/11/2017).
Rombongan berjumlah 9 orang terdiri dari unsur pengurus DPW Hidayatullah Kaltara secara lengkap dengan menggandeng perwakilan PW Syabab Hidayatullah Kaltara dan Dewan Pengurus Cabang (DPC) Hidayatullah Sebatik yang merupakan cabang Hidayatullah yang berbatasan dengan Malaysia.
Kepala Humas DPW Hidayatullah Kaltara Mazlis B. Mustafa mengatakan kunjungan ini dilakukan bertujuan untuk membangun jaringan dakwah dan pendidikan di negara jiran khususnya yang ada di negara bagian Sabah.
“Sasaran utama dari program yang akan dibangun adalah anak bangsa Indonesia yang sedang berada di sana untuk mendapatkan pendidikan formal yang layak, pembinaan mental, akhlak dan spiritual yang memadai serta penanaman life skill yang mumpuni agar dapat merasakan kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang,” jelas Mazlis.
Oleh karena itu, lanjutnya, dalam kunjungan tersebut, ada beberapa instansi maupun lembaga baik lembaga pemerintah, swasta, korporasi, maupun LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang dikunjungi.
Lembaga-lembaga yang dimaksud diantaranya adalah Konsulat Republik Indonesia di Tawau, Jabatan Kemajuan Agama Islam Malaysia (JAKIM) Tawau, Jabatan Hal Ehwal Agama Islam Negeri Sabah (JHEAINS) Tawau, JHEAINS Semporna, Koordinator Gerakan Sabah Bridge, Yayasan Serat Bangsa di Kampung Tun Fuad (Kunak), Community Learning Centre (CLC) Hidayatullah di Kampung Ladang Segaria (Semporna), Madolin Technology (Malaysia) Sdn. Bhd., Rastamas Group Sdn. Bhd., Tokoh Persatuan Komuniti Bugis Sabah Tawau, dan lain-lain.
Kunjungan rombongan ke Konsulat Republik Indonesia di Tawau diterima langsung oleh Kepala Konsulat RI Tawau Krishna Djelani dan Sekretaris III Konsulat RI Firma Agustina beserta jajaran.
Pada kesempatan itu Sekretaris III Konsulat RI Firma Agustina memaparkan ada beberapa hal yang menjadi permasalahan utama Warga Negara Indonesia (WNI) / Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia khususnya di Sabah yakni masalah keimigrasian, perlindungan dan ketenagakerjaan.
“Dalam hal keimigrasian contohnya, masih maraknya kedatangan WNI/TKI lewat jalur yang tidak resmi, jalur samping atau jalur haram,” kata Agustina.
Agustina menyebutkan, data yang dimiliki oleh lembaga perwakilan RI di Tawau ini, menunjukkan sebanyak 173.000 orang WNI yang berkedudukan di Negara Bagian Sabah.
Padahal, jelas Agustina, pada kenyataannya angka tersebut bisa dua kali lipat dari data apabila melihat kondisi di lapangan dengan sebagian besar bekerja sebagai buruh ladang perusahaan kelapa sawit.
Selain itu, sambung dia, persoalan yang tidak kalah pelik adalah data anak TKI yang mengenyam pendidikan formal di Sabah.
Disebutkan Agustina, di dalam data ada sebanyak 13.000 anak yang bersekolah di sekolah-sekolah yang ada baik sekolah swasta milik lembaga setempat maupun sekolah-sekolah yang yang dibangun oleh lembaga-lembaga asal Indonesia sendiri.
Padahal, dalam kenyataannya, jumlah tersebut hanya 1/3 (sepertiga) dari keadaan yang sesungguhnya. “Artinya masih ada sekitar 25.000 anak yang belum masuk dalam data tersebut dan sedang dalam keadaan tidak bersekolah,” ujar Agustina prihatin.
Menanggapi hal tersebut, Ketua DPW Hidayatullah Kaltara Ust. H. Nur Yahya Asa menawarkan beberapa program yang diharapkan dapat membantu meringankan masalah yang dihadapi anak bangsa Indonesia yang sedang berjuang sebagai pahlawan devisa negara tersebut.
Pertama, program kemudahan pendidikan bagi anak WNI/TKI di seluruh sekolah-sekolah milik Hidayatullah mulai dari SD-SLTA untuk wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, hingga kemudahan masuk 5 Perguruan Tinggi milik Hidayatullah.
Kedua, diharapkan dengan adanya anak-anak WNI/TKI yang sekolah di wilayah Indonesia menjadi stimulan bagi orangtuanya untuk mencari lahan dan tempat yang lebih baik untuk masa depan keluarganya di wilayah Indonesia.
Hal tersebut, menurut Nur Yahya, menjadi langkah strategis tersendiri dikarenakan banyaknya WNI/TKI yang sanggup tinggal secara ilegal di Malaysia karena faktor sudah tidak punya kampung di Indonesia.
“Sehingga, ketika suatu waktu mereka berhenti atau diberhentikan, mereka sudah memiliki tempat yang layak untuk melanjutkan kehidupan yang baru di Indonesia,” kata Nur Yahya.
Penawaran ketiga dari DPW Hidayatullah Kaltara adalah penempatan guru/dai di ladang-ladang perusahaan kelapa sawit untuk peningkatan pembinaan dari sisi keagamaan, keilmuan dan budi pekerti kepada para WNI/TKI.
Penawaran terakhir yang diajukan DPW Hiadyatullah Kaltara adalah meminta ijin dan perkenan agar Perwakilan BMH Kaltara dapat menempatkan kounter zakat di kantor Konsulat RI Tawau selama Ramadhan.
“Diharapkan dari perolehan dana ZIS yang terkumpul dapat disalurkan buat kepentingan beasiswa pendidikan anak-anak TKI yang disekolahkan sebagaimana program yang dijelaskan sebelumnya,” imbuh Nur Yahya.
Program-program yang ditawarkan tersebut mendapatkan sambutan baik dari Kepala Konsulat RI Tawau Krishna Djelani.
“Kami menyambut baik program-program yang ditawarkan Hidayatullah. Semoga dengan adanya program ini dapat membantu mengatasi masalah yang dihadapi selama ini, khususnya persoalan pendidikan anak-anak TKI di Sabah”, tutur Krishna.
Tanggapan positif juga datang dari seluruh pihak yang dikunjungi. Dari pihak JAKIM Tawau contohnya, melalui ketua, Ust. H. Muhd. Amin Nasir, mengatakan pihaknya siap menjadi fasilitator agar program ini dapat terlaksana.
Sedangkan pihak JHEAINS Tawau melalui Puan Ustz. Dayang Armah Binti H. Ahmad selaku lembaga yang berwenang memberikan lisen kepada para dai, menyatakan siap memberikan rekomendasi kepada para dai Hidayatullah untuk bisa ceramah, khutbah maupun sosialisasi program di wilayah kerjanya.
“Alhamdulillah, sangat terasa bantuan Allah bagi orang yang mengurus agama-Nya, khususnya perjalanan kita selama beberapa hari ini di Tawau,” demikian kalimat pembuka ceramah Ust. Nazar pada acara tazkirah rutin tiap hari Jum’at di Wisma Rastamas Group di Tawau.
Sebuah luapan rasa syukur atas karunia Allah yang telah memberikan kemudahan, kelancaran dan keberkahan dari seluruh rangkaian kegiatan kunjungan resmi rombongan Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kalimantan Utara ke Tawau.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang, rombongan pun kembali ke Tanah Air melalui jalur laut pada hari Sabtu sore (11/11/ 2017).
Semoga perjalanan tersebut membawa dampak positif yang signifikan dalam perkembangan dakwah dan syiar Islam di seluruh penjuru dunia lewat Ormas Hidayatullah.*/ Mazlis B. Mustafa
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Tabligh Akbar bertajuk “Merajut Ukhuwah untuk Indonesia” yang diselenggarakan DPD Hidayatullah Jakarta Selatan bersama Lazis PLN, Kafilah Consulting, Laznas BMH, Laznas BSM, dan DKM Masjid Nurul Amal di Masjid Nurul Amal, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (11/11/2017).
Acara ini juga menghadirkan Ketua Korps Muballigh Hidayatullah Zainuddin Musaddad.
Dalam paparannya tentang silaturahim, ayah dari enam anak yang kesemuanya hafal al-Qur’an itu menegaskan, negeri ini akan terjaga keutuhannya jika umat Islam menjaga tali silaturahim.
“Negeri ini rasanya seakan-akan sebentar lagi rusak parah, indikasinya jelas, banyak orang pintar tapi jauh dari sujud, pemimpin hebat tangguh hadir ke permukaan, tapi licik kepada rakyatnya, dan membiarkan kerusakan agama merajalela,” ucapnya yang langsung membuat suasana Masjid Nurul Amal hening.
“Allah masih jaga negeri ini, karena masih ada orang yang mau silaturahim, hadir di majelis ilmu, tidak menarik mungkin materi dan penyampaiannya, tapi masih ada yang setia duduk menyimak untuk saling bertemu, bertegur sapa, dan bersalaman di majelis-majelis yang para malaikat menaungi kita,” urainya pada acara di Kompleks Bank Indonesia, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (11/11/2017) itu.
Pria kelahiran Tasikmalaya itu pun menegaskan bahwa silaturahim adalah obat penting bagi hati dan kehidupan setiap insan beriman.
“Silaturahim adalah salah satu obat atas penyakit-penyakit hati. Stress, frustasi, galau atau apapun yang mengganjal dalam hidup ini, bisa habis insya Allah, karena silaturahim. Jadi, silaturahim, silaturahim,” tegas instruktur parenting Qur’ani ini.
“Dalam dalam silaturahim ada berkah, bukan semata teori komunikasi, mendekati orang, tapi ini adalah sunnah Rasul,” imbuhnya.
Ustadz yang biasa disapa Abah Zain, ini menegaskan, silaturahim tidak saja dalam konteks hubungan dengan tetangga atau orang di luar rumah, tetapi juga di dalam rumah.
“Kalau makan bersama (di dalam rumah) sudah langka, maka kian jauh silaturahim di dalam rumah tangga, dan itu berbahaya. Karena sakinah tidak mungkin ada di dalam rumah yang sudah langka saling sapa, langka saling senyum, langka saling bejabat tangan, dan tentu saja langka peluk cium di antara istri dan anak-anak,” jelasnya.
Ia pun memberikan contoh perihal Sayyidina Umar bin Khaththab.
“Umar bin Khaththab itu kurang apa, pemimpin tangguh, pemimpin hebat, tetapi kalau sudah masuk ke dalam rumah, sejajar ia dengan anak-anaknya, sejajar ia dengan istrinya. Tidak ada pantangan bagi Umar untuk menjulurkan tangan mengajak salaman kepada anak-anak, juga tidak pernah telunjuknya menuding hidung sang istri sembari marah-marah. Umar di dalam rumah adalah sosok pemimpin keluarga yang benar-benar bersilaturahim, berkasih sayang,” pungkasnya. (Abu Ilmia)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Hal mendasar yang mesti dipahami oleh umat Islam Indonesia atas eksistensinya sebagai mayoritas penduduk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah masih adanya nikmat persaudaraan.
“Persaudaraan itu nikmat dari Allah, tidak ada yang bisa menyatukan hati-hati kita bersaudara kecuali Allah. Dan, Allah menyatukan kita hanya karena iman, bukan yang lain,” kata Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust Nashirul Haq, dalam taushiyahnya pada Tabligh Akbar bertajuk “Merajut Ukhuwah untuk Indonesia” di Masjid Nurul Amal, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (11/11/2017).
Nashirul pun melanjutkan penegasannya dengan apa yang Allah turunkan di dalam al-Qur’an tentang persaudaraan itu dilandasi iman.
“Allah tegaskan innamal mukminuna ikhwah, bukan innamal muslimuna ikhwah. Karena ke-Islam-an sangat luas, sebatas menampakkan Islam seseorang sudah bisa dianggap Muslim, tapi belum tentu hadir iman di dalam hatinya.
“Oleh karena itu, kita akan tahu nanti kala ada kepentingan umat Islam, mengapa dia Muslim tapi tidak mau bersatu, bersinergi untuk kepentingan besar umat,” urainya.
Alumni Universitas Islam Madinah itu pun memberikan contoh konkret tentang bagaimana persaudaraan karena iman.
“Persaudaraan yang didasari iman itu luar biasa, tapi sederhana wujudnya. Ulama mengatakan, orang beriman itu dalam kasih sayang, dalam cinta kasih seperti satu tubuh. Jadi, sangat kuat persaudaraannya,” terangnya.
Untuk itu, umat Islam mesti kembali kepada al-Qur’an dalam hal bagaimana memenangkan pertarungan peradaban di abad kekinian.
“Lantas apa yang mesti kita perbuat sebagai insan beriman. Kembali kepada al-Qur’an, ialah dengan pertama, berpegang teguh pada Islam, kebenaran, dan al-Qur’an. Hal ini bisa diwujudkan dalam rumah kita dengan merencanakan keluarga kita menjadi ahlul Qur’an”.
Kedua, jelasnya, harus kita pahami soal larangan untuk bercerai berai dan perintah untuk bersatu. Ini prinsip, tidak bisa dipisahkan. Ketiga, disebabkan nikmat Allah kalian bersaudara. Ini poin mendasar bagaimana umat Islam bisa menjadi umat yang kuat, menjaga nikmat bersaudara,” paparnya.
Terakhir Nashirul pun mengingatkan, mengapa umat Islam belum mampu menjadi penentu arah dan kebijakan bangsa dan negara ini, karena umat Islam sendiri belum menyadari nikmat besar berupa persaudaraan dan masih terlena dengan kekuatan yang belum tertata dalam perisatuan.
“Umat Islam umat yang besar, tapi kenapa belum memiliki peran yang besar? Padahal umat Islam pendiri, pejuang negeri ini. Semua itu karena masih terpecahbelahnya kekuatan umat Islam. Hingga umat Islam gentar, kehilangan kekuatan. Oleh karena itu, umat ini butuh kelapangan, kesabaran, dalam menjauhkan ego sektoral dan mengutamakan kepentingan bersama umat Islam,” urainya.
Pada kesempatan itu, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi memberikan tausiyah kepada para jamaah lewat sambungan telepon. TGB Zainul sejatinya dijadwalkan hadir sebagai pembicara pada Tabligh Akbar itu, namun karena kondisi kesehatan yang tidak maksimal, ia berhalangan datang.
“Saya bersyukur bisa menyapa mesti melalui telepon. Sekaligus saya mohon maaf, mohon maaf. Kemarin rangkaian Hari Pahlawan sangat padat, (sehingga menguras tenaga) dan sekarang kurang sehat,” terangnya.
Tabligh Akbar ini hasil dari kerja sama Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Jakarta Selatan bersama Lazis PLN, Kafilah Consulting dan Laznas Baitul Maal Hidayatullah, serta Laznas BSM dan DKM Masjid Nurul Amal Kompleks Bank Indonesia Pasar Minggu Jakarta Selatan.*(Abu Ilmia)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Gubernur Nusa Tenggara Barat, Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, dalam taushiyahnya yang disampaikan kepada jamaah Tabligh Akbar “Merajut Ukhuwah untuk Indonesia” mengingatkan umat Islam bahwa dakwah harus visioner.
“Saya berpesan, bahwa bagi setiap orang beriman ada yang namanya wajibud dakwah (kewajiban berdakwah), menyebarkan semua kebaikan iman, kebaikan Islam. Kewajiban tersebut, melekat pada diri kita, iman kita, bahkan seluruh keadaan dan hal kita,” terangnya disampaikan melalui sambungan telepon kepada jamaah di Masjid Nurul Amal, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (11/11/2017).
Gubernur yang hafal al-Qur’an itu pun menambahkan bahwa setiap Muslim dengan profesi apapun wajib hukumnya ikut berdakwah.
“Apapun profesi kita adalah kewajiban dakwah ini adalah kewajiban yang built in, melekat dalam diri kita semua,” imbuhnya dengan suara yang terdengar menandakan seseorang sedang sakit flu.
Namun demikian, yang dimaksud dakwah adalah gerakan pembinaan, bukan sebatas menghimpun umat.
“Penting saya tekankan di sini, sebagian ulama memberikan kita nasihat, bahwa dakwah kita kadang-kadang lebih kelihatan pentasnya daripada kerja-kerja visionernya. Padahal dakwah itu hakikatnya membina, membangun.
Kalau dakwah ini diarahkan untuk membangun peradaban, maka pilarnya yang harus lebih awal kita bangun, pilar itu tentu saja mulai dari diri kita, keluarga, dan lingkungan di sekitar kita. Ini yang harus kita terus bangun,” urainya.
Oleh karena itu, TGB Zainul berharap agar umat Islam jangan salah paham dalam memahami sukses dakwah. “Tidak serta merta banyak panggung, berarti semakin berhasil dakwah kita, belum tentu,” tegasnya.
“Berteriak Allahu Akbar tentu penting. Tetapi, jangan sampai dakwah kita itu yang dominan malah teriakannya, bukan membangunnya, bukan amalnya. Padahal dakwah sesungguhnya adalah gerakan membangun, membangun,” tambahnya.
Gubernur NTB sejatinya dijadwalkan hadir, namun karena kondisi kesehatan yang tidak maksimal, akhirnya taushiyah disampaikan melalui sambungan telepon.
“Saya bersyukur bisa menyapa mesti melalui telepon. Sekaligus saya mohon maaf, mohon maaf. Kemarin rangkaian Hari Pahlawan sangat padat, (sehingga menguras tenaga) dan sekarang kurang sehat,” terangnya.
Pada acara itu, hadir pula Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Nashirul Haq, memberikan taushiyah.
Tabligh Akbar ini hasil dari kerja sama Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Jakarta Selatan bersama Lazis PLN, Kafilah Consulting dan Laznas Baitul Maal Hidayatullah, serta Laznas BSM dan DKM Masjid Nurul Amal Kompleks Bank Indonesia Pasar Minggu Jakarta Selatan. (Abu Ilmia)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Jakarta Selatan menggelar acara tabligh akbar yang bertajuk “Merajut Ukhuwah untuk Indonesia” yang akan digelar di Masjid Nurul Amal Komplek Bank Indonesia Pasar Minggu, Jln Raup Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (11/11/2017).
Acara ini terbuka untuk umum dan insya Allah akan menghadirkan narasumber Dr. TGH. M. Zainul Majdi, MA (Gubernur NTB) dan KH. Nashirul Haq, Lc., MA (Ketua Umum DPP Hidayatullah)
Bagi anda yang ingin mengikuti acara ini bisa menghubungi panitia Fuad 0857-1065-2503 / Maghfur 085217502133.
ULAMA sekaligus dai produktif asal Mesir yang wafat tahun 1996, Syaikh Muhammad al-Ghazali bercerita:
Seorang wanita berpakaian ‘tak pantas’ masuk ke kantorku. Aku sedikit risih saat melihat penampilannya pertama kali.
Namun dari tatapan matanya ia tampak sedih dan kebingungan. Wanita ini patut dikasihani, pikirku. Aku pun duduk, mendengarkan keluh-kesah yang ia sampaikan kepadaku dengan seksama.
Dari sela-sela obrolan tersebut aku tahu bahwa wanita itu adalah pemudi Arab yang mengeyam pendidikan di Prancis, dan nyaris tak mengenal sedikitpun tentang Islam, agama yang ia peluk.
Kepadanya, aku berusaha menerangkan hakikat Islam, menjawab sejumlah syubhat dan pertanyaan yang ia ajukan. Serta mengungkap berbagai kedustaan yang disampaikan para orientalis.
Tak lupa pula aku sampaikan terkait peradaban modern yang kerap memposisikan wanita sebagai ‘daging’ pemuas nafsu, yang tak mengenal keindahan, ketenangan, dan makna ‘iffah di dalam keluarga.
“Izinkan aku suatu hari untuk kembali ke tempat ini menemuimu, Syaikh,” ujar sang wanita. Ia pun mohon pamit keluar.
Tak lama berselang seorang pemuda berpenampilan religius masuk membentakku, “Apa yang membuat wanita kotor seperti itu datang kemari!?”
Aku jawab, “Tugas seorang dokter adalah menyembuhkan orang yang sakit sebelum orang sehat.”
Ia menyela, “Kenapa kau tak menasehatinya memakai hijab!?”
Aku katakan, “Perkara yang dihadapi wanita tadi jauh lebih besar dari sekadar memakai atau melepas hijab. Ada proses yang harus dilalui, terkait esensi iman kepada Allah dan Hari Kiamat, menegaskan makna taat kepada wahyu yang tertuang dalam al-Quran dan as-Sunnah, serta pilar-pilar inti agama ini dalam aspek ibadah dan akhlak.”
Lagi-lagi ia memotong pembicaraanku. “Bukankah hal-hal tersebut sama sekali bukan halangan bagimu untuk menyuruhnya berhijab!?”
Dengan tenang aku berupaya menjelaskan, bahwa aku tak bisa berbahagia melihat wanita itu datang ke sini sedangkan hatinya sunyi dari keagungan Allah Tuhan yang Maha Esa, hidupnya tak mengenal yang namanya rukuk dan sujud.
Sesungguhnya aku sedang berupaya menanam di hatinya sejumlah pondasi yang jika pondasi itu tertancap dengan kuat, dengan sendirinya membuat ia sadar pentingnya menutup aurat.
Saat pemuda tadi hendak memotong pembicaraanku untuk yang kesekian kalinya, aku berkata dengan tegas, “Aku tak mampu menarik orang kepada Islam melalui selembar kain sebagaimana yang kerap kalian lakukan. Namun aku berusaha menancapkan pondasi, lalu memulai membangun di atasnya, dan menyampaikan semuanya dengan penuh hikmah.”
Dua minggu kemudian wanita itu kembali mendatangiku dengan pakaian yang lebih baik dari sebelumnya. Ia menutup kepalanya dengan secarik kain tipis.
Ia kembali bertanya tentang Islam, dan akupun kembali menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Lantas aku bertanya, “Mengapa kau tak pergi ke masjid terdekat dari rumahmu (untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini)?”
Meski akhirnya aku menyesal mananyakan hal ini, karena aku teringat bahwa wanita-wanita itu terlarang untuk pergi ke masjid. Namun pemudi itu menjawab, “Aku membenci para da’i dan tak ingin mendengarkan ceramahnya.”
“Mengapa?” tanyaku penuh penasaran.
“Hati mereka keras, berwatak kasar. Mereka memperlakukanku dengan pandangan penuh kehinaan.”
Tiba-tiba aku teringat sosok Hindun bintu Utbah, istri Abu Sufyan Ra. Seorang wanita yang di masa kekufurannya membunuh secara sadis serta memakan jantung paman Nabi Sayyidana Hamzah Ra.
Saat itu dia belum mengenal Rasulullah SAW. Namun, setelah memeluk Islam dan mengenal Rasulullah, ia mendekat dan mengucapkan sebuah kalimat yang menggetarkan hati:
يا رسول الله, والله ما كان على ظهر الأرض أهل خباء أحب أن يذلوا من أهل خبائك, وما أصبح اليوم على ظهر الأرض أهل خباء أحب إلي أن يعزوا من أهل خبائك
“Wahai Rasulullah, Demi Allah, dahulu tidak ada satu penghuni rumah pun di permukaan bumi ini yang aku ingin mereka terhina kecuali penghuni rumahmu. Namun sekarang tidak ada satu penghuni rumah pun di permukaan bumi ini yang aku ingin mereka mulia selain penghuni rumahmu.”
Sungguh cahaya cinta dan kasih sayang yang terpancar dari hati Rasulullah SAW sanggup mengubah kondisi hati setiap orang yang melihatnya.
Maka, apakah para dai hari ini telah belajar dari sosok Nabinya, sehingga mereka menjadi dai yang menyatukan, bukan justru memecah-belah? Menjadi dai yang memberikan kabar gembira, bukan justru membuat orang-orang lari dari agama?
(Disarikan oleh Ust Bahrul Ulum, dai Hidayatullah Surabaya, dari kitab al-Haqq al-Murr (Kebenaran yang Pahit) hal. 23 karya Syaikh Muhammad al-Ghazali).
KUKAR (Hidayatullah.or.id) – Dalam rangka memperkuat ukhuwah dan akidah Islamiyah, pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) bekerjasama dengan DPD Hidayatullah setempat menggelar safari dakwah ke Kecamatan Sebulu, Kukar, Kaltim, beberapa waktu lalu dan ditulis Senin (106/11/2017).
Pada kesempatan tersebut, silaturrahim safari dakwah dilakukan di Kecamatan Sebulu atau tepatnya di SP 1 Kukar. Acara ini dikemas dalam bentuk Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit).
Kegiatan yang rutin dilakukan minimal sekali sebulan ini diikuti oleh seluruh elemen amal usaha yang tergabung di lingkungan kerja Pondok Pesantren Hidayatullah Kukar.
“Jadi setiap institusi atau amal usaha yang ada di DPD Hidayatullah Kukar harus mengirimkan minimal 1 orang perwakilan,” kata Ust Endi Haryono selaku pimpinan Ponpes Hidayatullah Kukar.
Dalam tausiah Mabit, Ust Endi Haryono berpesan kepada seluruh hadirin yang ada agar senantiasa meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah Ta’aala. Serta, memahami keduudukan manusia di permukaan bumi ini.
“Kalau kita shalat, mengaji, puasa, dan sedekah itu merupakan tugas kita sebagai hamba Allah di bumi ini. Adapun tugas kita sebagai Khalifatullah adalah bagaimana menjadikan orang yang tidak bisa mengaji menjadi bisa, menjadikan orang yang tidak bisa shalat menjadi bisa sholat,” pesan Endi.
Dia melanjutkan, sebagai orang-orang yang beriman ada 2 kesyukuran yang wajib kita lakukan. Yang pertama, kata dia, kita bersyukur karena Allah telah menciptakan kita dengan sebaik-baik ciptaan selaku hamba-Nya (Abdullah), dengan kesempurnaan fisik yang begitu sempurna tanpa sedikitpun kekurangan di dalamnya.
Kesyukuran yang kedua, lanjut Endi, adalah karena derajat kita lebih tinggai dari semua makhluk ciptaan Allah yang ada di muka bumi ini (khalifatullah). Seraya mengutip firman Allah dalam Quran Surah At Tiin [95] 1-6.
“Demi buah Tiin dan buah Zaitun, demi Gunung Sinai, dan demi negeri (Mekkah yang aman ini, sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.”
“Ini merupkan karunia yang patut kita syukuri dengan banyak mengingat Allah baik di waktu senggang maupun sempit. Namun kedudukan manusia yang begitu mulia tersebut bisa hina dina manakalah manusia sudah tidak taat lagi kepada Allah Ta’aala. Kedudukan manusia yang derajatnya paling tinggi tersebut bisa hancur manakala kemaksiatan kepada Allah terus dilakukan. Allah kembalikan manusia ke derajat yang serendah-rendahnya,” ungkap Endi.
Kegiatan Rutin
Dakwah silaturrahim ke berbagai tempat termasuk ke pemukiman warga dan tokoh-tokoh ini merupakan program rutin yang digalakkan oleh Pesantren Hidayatullah Kukar. Kegiatan ini diikuti oleh segenap perwakilan institusi amal usaha Hidayatullah Kukar.
Selain dalam rangka mengkondisikan peserta untuk menjaga serta terus merawat tradisi silaturrahim guna mempererat ukhuwah antar sesama umat Islam dan sesama manusia, kegiatan ini kerap diisi khutbah Jumat di tempat tujuan, pengajian ibu-ibu setelah sholat Jumat dan pada malam harinya dilanjutkan dengan pengajian akbar yang dihadiri oleh masyarakat yang ada di daerah SP 1 dan sekitarnya (SP adalah istilah untuk setiap distrik wilayah transmigrasi)
Sebulu sebenarnya termasuk kawasan di Kaltim yang cukup terpelosok. Pembangunan dan infrastruktur yang memadai belum sepenuhnya tersedia di sini. Untuk bisa tiba di Kecamatan Sebulu setidaknya butuh waktu kurang lebih 1 setengah jam lamanya.
Perjalanan tersebut itu sudah termasuk dengan menyeberang sungai Mahakam menggunakan kapal Feri kayu, kapal penyebrangan masyarakat yang sudah 24 jam beroperasi beberapa bulan terakhir.
Menurut informasi dari sejumlah pihak, naik kapal feri sebenarnya cukup berisiko aman. Sudah ada beberapa yang tenggelam.
“Dulu sebelum jalannya yang ada di buat, masyarakat harus memutar lewat simpangan Lembuswana Tenggarong-Samarinda, sekitar dua setengah jam lebih untuk bisa tiba dengan selamat,” ungkap Ust Ngali, dai Hidayatullah yang sudah 5 tahun lebih bertugas di Sebulu.*/Hasan Kunio