Beranda blog Halaman 557

Harmoni Kehidupan Toleransi di Kabupaten Mamasa dan Warga Muslim yang Dahaga Binaan

0
Sejumlah pengurus DPW Hidayatullah Sulawesi Barat berfoto usai shalat berjamaah di Masjid Agung Mamasa bersama Kepala Kemenag RI Kabupaten Mamasa H. Ahmad Barambangi, S.Ag. MA (berjas) serta warga lainnya / Bashori

MAMASA (Hidayatullah.or.id) – Kabupaten Mamasa berjarak sekira 330 kilometer perjalanan melalui kabuaten Polewali Mandar (Polman). Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Barat yang dinahkodai Ustadz Imron M. Djufri, S.Pd.I merutinkan rute itu untuk memantapkan rintisan dakwah Hidayatullah di Kabupaten yang terkenal dengan jargon “sitayuk, sikamasei, sirande maya maya (saling menghormati, saling menghargai, saling mengasihi).

Berbeda jika rute itu ditempuh dari arah utara Mamuju, melalui kecamatan Tasiu kemudian masuk ke kecamatan Tabulahan termasuk ke wilayah kabupaten yang lazim disebut Kondo Sapata. Lebih dekat dengan jarak tempuh 149 kilometer saja.

Dua jalan yang menghubungkan ke kabupaten yang bersuhu minimal 16*C itu masih lebih mulus jika ditempuh melalui kabupaten Polman. Dan, jika ditempuh di jalur utara akan banyak terkendala dengan belum tuntasnya pembangunan infrastruktur di wilayah itu.

Menegangkan karena secara topografi tempat yang didiami sub suku Toraja yang berpenduduk sekira 190 ribu jumlah jiwa itu disesaki dengan pendakian, kelokan tajam, dan jalan licin usai guyuran hujan karena hampir semua panorama di wilayah itu adalah perbukitan.

Meski sudah difungsikannya bandar udara Sumarorong yang terletak 35 kilometer dari kota kabupaten namun penerbangan Mamuju-Mamasa masih sering terkendala.

“Berapa pun jarak dan waktu tempuhnya tetap kita tembus, karena sudah jadi komitmen kita untuk membuka cabang di (kabupaten) Mamasa tetap harus dilakukan,” kata Imron saat menyemangati pengurus wilayah lainnya saat memutuskan rencana tersebut.

Lanjutnya, Mamasa adalah satu dari enam kabupaten di Sulawesi Barat dan belum terbuka cabang Hidayatullah di daerah tersebut walaupun telah diagendakan.

Terhambatnya pembukaan lahan dakwah Hidayatullah di Mamasa terkendala sumber daya insani dan beberapa program di daerah lain yang membutuhkan perhatian khusus. Padahal permintaan akan kebutuhan tenaga dai tak pernah surut.

Kabupaten yang menawarkan eksotime alam yang indah ini menyajikan panorama yang sangat memikat, penduduknya ramah serta sangat terbuka dengan pendatang bahkan beberapa destinasi wisata cukup memikat pengunjung.

Sebenarnya sudah lama masyarakat muslim di sini menginginkan adanya kegiatan pendidikan keagamaan yang lebih intensif dengan penguatan nilai-nilai Islam di wilayah yang tidak mempunyai garis pantai itu.

Apalagi To Mamasa (sebutan bagi orang bersuku Mamasa) yang sangat kuat memegang tradisi leluhur sangat toleran dengan penganut agama lain. Sehingga sikap toleransi itulah yang menurut Kepala Kementerian Agama Kabupaten Mamasa H. Ahmad Barambangi, S.Ag.MA, optimis rintisan cabang Hidayatullah segera hadir di Bumi Kondo Sapata itu.

“Saya yakin Hidayatullah sudah menasional dengan gayanya yang santun bisa melebur di Mamasa, apalagi muslim di sini sangat menunggu-nunggu hadirnya lembaga pendidikan Islam,” kata Ahmad Barambangi.

Ketua Kemenag Kabupaten Mamasa yang tidak asing dengan dakwah Hidayatullah itu menjelaskan, bahwa Mamasa dengan tujuh belas kecamatan dan memiliki 135 desa terdapat beberapa kantong-kantong muslim dan sangat membutuhkan binaan.

Hal tersebut dikuatkan Lukman warga muslim yang mengakui meski sudah ada pembinaan agama yang dilakukan oleh sejumlah pihak, namun kehadiran Hidayatullah di Mamasa , harapnya, mampu melengkapi kehidupan beragama warga kabupaten yang memiliki luas 3.006 km² itu.

“Kami ingin masyarakat muslim di sini juga terbina sebagaimana di kabupaten lain. Apalagi di sini kami minoritas sehingga kami khawatir nantinya tidak dapat pendidikan dan mengamalkan agama ini sesuai dengan tuntunan sebenarnya,” sambung Abdul Hafidz menguatkan sahabatnya itu.

Langkah selanjutnya, DPW Hidayatullah Sulbar akan memastikan ketersediaan tenaga dai dan guru agama yang memang masih terbatas jumlahnya untuk melakukan pembinaan agama Islam menyusul desakan masyarakat muslim di Mamasa yang membutuhkan pembinaan.*/ Muhammad Bashori

Melahirkan Generasi Berprestasi, Teladan Mulia Penuntut Ilmu

Hidayatullah.or.id – Kebakaran hutan seluas ratusan hektar terkadang hanya tersulut oleh bara api dari puntung rokok. Sebaliknya, menghijaunya berhektar-hektar kawasan gersang dapat disemai dari sebutir benih.

Begitulah, karunia maupun bencana, acapkali dipicu oleh sebab-sebab kecil. Sesuatu yang pada mulanya diremehkan, ternyata mendorong perubahan besar yang mempengaruhi kehidupan segenap makhluk di sekitarnya.

Dalam sejarah hidup para tokoh besar, kita mendapati episode-episode kecil semacam ini. Kejadiannya sangat sepele. Sedemikian sepelenya, sampai-sampai buku-buku biografi hanya menceritakannya sepintas lalu.

Tapi, jangan tanya bagaimana efeknya, sebab ia telah mengubah sejarah dan mempengaruhi perjalanannya hingga berabad-abad kemudian.

Misalnya, Ibnu Hajar menceritakan dalam muqaddimah Fathul Bariy bahwa Imam al-Bukhari berkata, “Kami berada di sisi Ishaq bin Rahawaih, lalu beliau berkata: ‘Andai engkau mengumpulkan satu kitab ringkas untuk (memuat) Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang shahih.’ Maka, perkataan beliau mengena di hati saya, dan saya pun mulai menyusun kitab Al-Jami’ Ash-Shahih.” (Hadyu as-Sariy, hal. 7).

Di zaman itu, hadits-hadits Nabi memang masih bercampur dengan riwayat-riwayat dari Sahabat, Tabi’in, dll. Selain itu, belum disendirikan antara yang shahih dan dha’if, sehingga tidak setiap orang bisa memilahnya dengan mudah. Diperlukan keahlian tersendiri agar mampu membedakan mana hadits yang shahih, hasan, dha’if, matruk, maudhu’, dsb.

Demikianlah. Kisah yang melatarbelakangi kemunculan kitab Shahih al-Bukhari sangat sederhana. Tapi siapa sangka energi yang diletupkannya demikian luar biasa, sebab kitab itu disusun secara bertahap dan terus-menerus diperbaiki selama 16 tahun (Siyaru A’lamin Nubala’, XII/405).

Efeknya pun sangat mengesankan, sebab kita masih merujuk dan mengambil manfaat darinya, padahal penyusunnya telah wafat tahun 256 H (870 M) atau 1.145 tahun silam. Bahkan, karyanya dianggap sebagai kitab yang paling shahih sesudah Al-Qur’an, bersama karya Imam Muslim (Muqaddimah Ibnu ash-Shalah hal. 18).

Ada kisah lain, tentang al-Hafizh adz-Dzahabi (Syamsuddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman, w. 748 H). Tatkala menceritakan salah satu guru di masa kecilnya, yaitu al-Hafizh al-Birzali (‘Alamuddin Abu Muhammad al-Qasim bin Muhammad), adz-Dzahabi berkata: “Beliaulah orang yang menggemarkan saya untuk menekuni hadits. Beliau pernah melihat tulisan tangan saya, lalu berkata: ‘Tulisan tanganmu mirip dengan tulisan para Ahli Hadits.’ Maka, hal itu sangat berkesan kepada saya. Saya mendengar (periwayatan) hadits dari beliau, dan menguasai beberapa bidang ilmu di bawah bimbingannya.” (Tsalatsu Tarajum Nafisah, hal. 40, dan ad-Durar al-Kaminah, IV/278-279).

Isyarat sederhana itu menjadi awal karir ilmiah al-Hafizh adz-Dzahabi yang sangat cemerlang. Sejarah kemudian mengenalnya sebagai salah satu tokoh terpenting dalam Ilmu Hadits. Jasanya dirasakan seluruh ulama’ di belakang beliau, sebagaimana dinyatakan Imam as-Suyuthi:

“Sesungguhnya para Ahli Hadits sekarang berhutang budi dalam masalah (biografi) para perawi hadits dan bidang-bidang Ilmu Hadits lainnya kepada empat orang, yaitu: al-Mizzi, adz-Dzahabi, al-‘Iraqi, dan Ibnu Hajar.” (Dzail Tadzkiratil Huffazh, hal. 348).

Tampaknya, dua kisah di atas tidak sendirian. Sampai era modern ini, banyak tokoh termasyhur yang menceritakan momen-momen kecil dalam hidupnya yang memicu aneka prestasi gemilang yang mereka torehkan di masa-masa selanjutnya.

Dan, banyak di antaranya yang dipengaruhi oleh satu dua pribadi hebat yang pernah mereka jumpai, entah seorang ayah, ibu, guru, teman, atau sosok-sosok lain yang dijumpai di sembarang tempat tanpa disengaja.

Dengan kata lain, seringkali “mesiu” (yakni, potensi) manusia terpendam tanpa disadari bahkan oleh pemiliknya sendiri. Namun, ketika seberkas api dipantik pada bagian yang tepat, tiba-tiba terjadi ledakan hebat.

Sosok yang semula sangat bersahaja pun bangkit mempersembahkan prestasi-prestasi mencengangkan, meski bisa juga sebaliknya (yakni: tersesat sejauh-jauhnya).

Oleh karenanya, para pelajar di masa silam dianjurkan mengembara meninggalkan keluarga dan tanah kelahirannya. Mereka menyinggahi berbagai negeri dan menjumpai para ulama’ yang hidup di zamannya, demi mengejar berkah-berkah seperti yang didapatkan Imam al-Bukhari dan al-Hafizh adz-Dzahabi.
Misalnya, Habib bin asy-Syahid (w. 145 H) berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, dampingilah para fuqaha’ dan ulama’. Pelajari ilmu dari mereka dan contohlah adab mereka, sebab hal itu lebih aku sukai dibanding banyaknya hadits (yang engkau dengarkan).” (dari: Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, pada muqaddimah).

‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal pernah bertanya kepada ayahnya: “Dari siapa seseorang mencari ilmu? Menurut Anda, apa ia cukup menetap pada satu orang berilmu lalu mencatat darinya, atau menurut Anda ia harus melakukan perjalanan jauh ke tempat-tempat di mana ilmu berada lalu mendengarkannya dari mereka (yakni: para ulama’)?” Imam Ahmad menjawab, “Sebaiknya ia pergi dan mencatat dari para ulama’ Kufah dan Basrah, penduduk Madinah dan Makkah. Ia melihat orang banyak dan mendengar dari mereka.” (Ar-Rihlah fi Thalabil, Hadits, no. 11).

Maka, di bulan-bulan seperti sekarang, ketika para pelajar (dan juga walinya) mulai merancang hendak melanjutkan pendidikan kemana, ada baiknya memperhatikan aspek ini. Jangan hanya tergiur oleh imej fakultas keren atau sekolah favorit.

Perhatikan pula lingkungan dan suasana pendidikan yang ditawarkan. Sebab, kita tidak tahu pemicu seperti apa yang kelak ditemui anak-anak kita di sana.

Iya kalau bagus seperti yang ditemui Imam al-Bukhari dan al-Hafizh adz-Dzahabi; bagaimana kalau sebaliknya? Na’udzu billah. Wallahu a’lam.

ALIMIN MUKHTAR

Siaran Pers DPP Hidayatullah Tentang Kejahatan Rezim Militer Budha Myanmar Atas Muslimin Rohingya​

0

Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Beberapa Tanggapan Terhadap Kejahatan dan Kekejaman Rezim Militer Budha Myanmar Atas Muslimin Rohingya​

Mengikuti berbagai kejahatan dan kekejaman rezim militer Budha Myanmar, kami menyerukan kepada kaum Muslimin Indonesia di manapun berada untuk:

  1. Melakukan solat janazah ghaib sesudah solat Jum’at untuk lebih dari 2.000 orang Muslimin Rohingya yang telah dibunuh rezim militer Budha Myanmar seminggu terakhir ini.
  2. Membacakan Doa Qunut Nazilah untuk kesabaran, kekuatan dan kemenangan saudara-saudara dan keluarga-keluarga kita Muslimin Rohingya di Myanmar khususnya di negara bagian Arakan.
  3. Menggalang infaq untuk menguatkan saudara-saudara Muslimin Rohingya kita di Myanmar sebagai pengamalan Al-Quran ayat 72 surat Al-Anfaal yang mewajibkan kita menolong saudara-saudara Muslim kita yang sedang mengalami kezhaliman kaum kafir.
  4. Mendesak kaum Muslimin yang menduduki berbagai jabatan penting di dalam Pemerintahan Republik Indonesia, khususnya di bidang luar negeri dan militer untuk melakukan usaha maksimal demi segera menghentikan kejahatan dan kekejaman rezim militer Budha Myanmar atas kaum Muslimin Rohingya yang sudah berlangsung puluhan tahun.
  5. Menyerukan Majelis Ulama Indonesia pusat dan provinsi untuk melakukan kunjungan resmi kepada Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi) untuk membicarakan, merencanakan serta melakukan tindakan nyata demi menghentikan berbagai kejahatan dan kekejaman rezim militer Budha Myanmar, serta agar perdamaian kembali terwujud di Myanmar.

Semoga Allah kuatkan saudara-saudara kita Muslimin Rohingya dan hindarkan bangsa Muslim Indonesia dari musibah seperti itu.

Jakarta, 30 Agustus 2017

Nashirul Haq​
Ketua Umum

STT STIKMA Internasional Malang Menggelar Wisuda Sarjana dan Diploma

Foto bersama jajaran pengurus STT STIKMA Internasional Malang bersama Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust Nashirul Haq, MA

MALANG (Hidayatullah.or.id) – Sekolah Tinggi Teknologi STIMA Internasional Malang menggelar Wisuda Sarjana dan Diploma STT STIKMA Internasional yang digelar pada Sabtu (27/08/2017).

Wisuda ini diikuti mahasiswa Strata-1 Program Studi Teknik Informatika dan Arsitektur dan mahasiswa D3 Program Studi Komputer Multimedia, Manajemen Informatika dan Komputerisasi Akuntansi.

Hadir pada kesempatan tersebut Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Nashirul Haq yang turut didampingi Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah Tasyrif Amin, Ketua Departemen Organisasi Syamsuddin, dan Ketua Departemen Dakwah DPP Hidayatullah Shohibul Anwar.

Tampak juga Pembina Ponpes Hidayatullah Surabaya KH Abdul Rahman, Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur Ust Muhammad Syuhud dan Ketua DPD Hidayatullah Kota Malang Ust Muhammad Fahmi beserta jajaran pengurus STT STIKMA Internasional. (ybh/hio)

Kerjasama dengan Swalayan Hidayatullah, Koperasi Syariah 212 Dilaunching di Surabaya

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) – Koperasi Syariah 212 baru saja melaunching Minimarket 212 Mart di Surabaya. Minimarket pertama ini diresmikan di Wonorejo, Manukan, Surabaya, Ahad (27/8/2017).

Pendirian Koperasi Syariah 212 Surabaya ini dilakukan berkat kerjasama dengan Koperasi Pondok Pesantren Hidayatullah Assakinah sebagai Pengelola 212 Mart di Surabaya.

Koperasi Syariah 212 mengumpulkan iuran anggota di seluruh Indonesia dengan prinsip pemerataan dan kepemilikan bersama, dimana modal dibatasi agar profit terdistribusi ke banyak orang.

Di Surabaya sendiri telah terkumpul lebih dari 270 anggota dengan rata-rata iuran sejumlah 1-5 juta rupiah per anggota dan cukup untuk membuka satu unit usaha minimarket 212 Mart.

DR Ahmad Juwaini, Direktur Koperasi Syariah 212 Nasional yang turut hadir meresmikan 212 Mart mengatakan hampir setiap pekan di seluruh Indonesia rata-rata muncul 212 Mart baru.

“Dan targetnya untuk Surabaya minimal terbuka 5 minimarket 212 Mart hingga akhir tahun,” kata Juwaini.

Juwaini menambahkan, Koperasi Syariah 212 juga memiliki unit bisnis lain selain 212 Mart. Unit Bisnis tersebut berupa bisnis properti yakni Properti 212 yang bekerjasama dengan developer-developer muslim, untuk membuka perumahan muslim seperti Kampung Tahfidz berjumlah 1000 unit di Purwakarta.

Selain DR Ahmad Juwaini, turut hadir dalam peresmian 212 Mart tersebut petinggi Sakinah Swalayan, perwakilan Dinas Koperasi Surabaya, MUI Jawa Timur, dan segenap masyarakat sekitar 212 Mart yang menyambut dengan baik adanya 212 Mart di kawasan mereka. (ajq/smn)

Alumni Diklat BTH Sebagai Mujahid Iqtishodiyah Penggerak Ekonomi Pemberdayaan Umat

0
Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Asih Subagyo / Dok. Hidorid

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Asih Subagyo mengatakan para alumni peserta Pelatihan dan Pendidikan Baitul Tamwil Hidayatullah (Diklat BTH) adalah mujahid Iqtishodiyah yang berjuang untuk menegakkan izzah Islam di bidang ekonomi.

Kata Asih, “musuh” utama para alumni Pelatihan dan Pendidikan Baitul Tamwil Hidayatullah ini adalah kemiskinan dan ketidakberdayaan ekonomi.

Hal itu diutarakan Asih Subagyo dalam pernyataan pokok pikirannya penutupan acara Diklat BTH I di Kampus Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, Ahad (27/08/2017).

“Musuh antum adalah kemiskinan dan ketidakberdayaan umat di sektor ekonomi. Juga dikangkanginya sektor ekonomi dan keuangan oleh kapitalisme. Sehingga beban yang ada dipundak antum tidak ringan,” kata Asih Subagyo.

Asih menjelaskan, dalam PDO (Pedoman Dasar Organisasi) dan kemudian jadi salah satu jatidiri, Hidayatullah adalah Al Harokah al Jihadiyah al Islamiyah.

Artinya, terang Asih, bahwa Hidayatullah merupakan gerakan jihad yang melingkupi berbagai aspek kehidupan dalam rangka landingnya Peradaban Islam.

Menurut Asih, sebagai harakah (gerakan) tentu dibutuhkan penggerak agar gerakan bisa jalan. Butuh mesin penggerak, yang dinamakan dengan sistem. Butuh bahan bakar penggerak berupa dana. Lalu, harus ada pengemudi yang menentukan arah. Ada tujuan yang jelas dan ada kompas yang menunjukkan arah.

“Sehingga setiap tahapan kita tahu sampai dimana, dan berapa jauh serta lama lagi perjalanan ditempuh. Dan ini secara organisasi sudah ditata dengan baik,” kata Asih.

Sebagai lembaga al Jihadiyah al Islamiyah, maka Hidayatullah, mengartikan jihad dengan makna yang luas. Baik bermakna qital, maupun dalam rangka bersungguh-sungguh untuk menegakkan peradaban Islam.

“Tidak bisa parsial, harus integral alias syumuliyah. Semua sektor mesti harus disentuh, digarap secara profesional dan akuntabel, sehingga darinya akan terpancar kemuliaan Islam,” jelasnya.

Sehingga, lanjut dia, kita yang bergerak di sektor ekonomi, harus meyakini bahwa, amaliah kita sesungguhnya adalah implementasi dari jihad. Dan ini merupakan bagian, bahkan salah satu pilar peradaban Islam.

“Artinya, jika kita mampu menegakkan ekonomi, sama artinya dengan memperkokoh bangunan Peradaban Islam,” imbuhnya.

Begitu pula sebaliknya. Menurut Asih, gagal membangun ekonomi yang baik berarti kita sedang menggerogoti, bahkan merobohkan bangunan Peradaban Islam itu sendiri. Sehingga, tegasnya, betapa vital dan strategisnya peran kita, tidak bisa main-main, tidak bisa sambilan.

“Ekonomi yang tegak, juga berarti mandiri, berdaya dan sejahtera umatnya. Sehingga umat yang sejahtera, berarti pula menuju kemandirian organisasi. Sebab dari sini, anggota (umat) akan berkontribusi ke organisasi, baik melalui iuran, infaq maupun bentuk lainnya,” ujar dia.

Asih menerangkan, dana dalam organisasi ibarat darah dalam tubuh manusia. Dia harus mengalir ke seluruh anggota tubuh sesuai kebutuhannya. Kelebihan dan kekurangan dalam satu anggota tubuh, bisa menyebabkan penyakit. Sehingga selain darah yang mengalir harus bersih, juga mesti merata dan proporsional.

“Olehnya, antum yang kini sedang mengikuti Diklat Pengelola BTH ini, sesungguhnya adalah seorang mujahid. Sehingga pada diri antum harus menggelora semangat jihad itu,” pesannya seraya menambahkan seorang mujahid haruslah faham rukun dan syarat mujahid.

“Medan jihad antum adalah membebaskan umat dari jeratan riba, mengangkat kaum dhuafa dan mustadhaafin jadi berdaya, meningkatkan orang yang berdaya agar lebih bermanfaat bagi orang banyak demi tegaknya Peradaban Islam,” tambahnya.

Dia menegaskan, musuh para peserta Diklat adalah kemiskinan dan ketidakberdayaan umat di sektor ekonomi. Juga dikangkanginya sektor ekonomi dan keuangan oleh kapitalisme. Sehingga beban yang ada dipundak mereka tidaklah ringan.

“Selesainya antum dari Diklat ini, artinya antum akan memasuki medan jihad yang sesungguhnya. Tantangan yang menghadang tersebut, meskipun berat, akan terasa ringan. Sebab antum telah dibekali ‘persenjataan’ yang komplit selama Diklat,” tantangnya.

Asih berpesan, sebagai mujahid, tentu tidak akan putus asa jika ada problem yang dihadapi. InsyaAllah akan selalu ada cara penyelesaian bagi orang yang beriman.

Untuk itu, pesannya lagi, mujahid ekonomi tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan otak dan ilmu saja dalam menghadapi tantangan tersebut. Mujahadah harus membersamainya.

“Kita mesti memperbaiki diri, terutama aspek ibadah. Baik ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah. Baca Qur’an, Sholat Sunnah terutama Qiyamul Lail, Dzikir dan lain sebagainya, jangan pernah ditinggalkan. Justru ini merupakan senjata pamungkas yang perlu terus diasah. Dan kekuatan ilahiyah dan ruhiyah itulah yang sesungguhnya menjadi kunci kemenangan disetiap sejarah umat Islam.,” imbuh Sekjen Muslim Information Technology Association (MIFTA) ini.

Selanjutnya, Asih juga mengingatkan, tugas alumni Diklat BTH adalah melandingkan berdirinya BTH di tempat tugas masing-masing. Koordinasi dan komunikasi yang baik dengan seluruh stake holder, agar memberikan dukungan yang proporsional.

Asih menyebutkan, data empiris menunjukkan bahwa BTH akan eksis, jika didukung oleh komunitas. Maka, BTH ini ditegaskan dia merupakan bagian dari pemberdayaan ekonomi berbasis halaqah.

Komunitas dalam berbentuk halaqah, menurut Asih, adalah merupakan komunitas yang dibangun atas dasar ikatan iman. Sehingga BTH ini diharapkan akan membawa keberkahan bagi masyarakat (umat) sekitar.

“Akhirnya, selamat bertugas wahai para mujahid. Antum semua adalah mujahid Iqtishodiyah, yang berjuang untuk menegakkan izzah Islam di bidang ekonomi. Allahu Akbar!,” pungkasnya.

Departemen Koperasi dan Kewirausahaan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah bekerjasama dengan Laznas BMH bersama  menggelar acara Diklat Baitut Tamwil Hidayatullah  selama 4 hari (2-5 Dzulhijjah 1438 H/ 24-27 Agustus 2017 M) di Kampus Utama Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat.

Acara yang bertujuan mempersiapkan calon pengelola BTH itu dihadiri oleh 40 peserta. Mereka merupakan utusan dari delapan kampus utama Hidayatullah se-Indonesia, dan satu kampus madya dari Bontang, Kalimantan Timur.

Kepala Departemen Koperasi dan Kewirausahaan DPP Hidayatullah Hamzah Akbar menjelaskan, target jangka pendek dari pelatihan BTH ini adalah lahirnya pegiat micro finance di seluruh Indonesia.

“Pelatihan ini diharapkan melahirkan para pegiat ekonomi di bidang micro finance yang dapat mendorong bergeliatnya gerakan ekonomi real di tengah-tengah masyarakat,” kata Hamzah saat membuka acara ini.

Hamzah menambahkan, usai pelatihan ini diharapkan semua peserta segera mendirikan Baitut Tamwil di daerah-daerah secara profesional.

“Dengan demikian, upaya menggerakkan kegiatan ekonomi masyarakat secara konkret bisa segera dimulai dan terus dikembangkan melalui BTH ini,” tuturnya (ybh/hio)

Nursyamsa Hadist Ingatkan Guru Harus Kembangkan Kompetensi Diri

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) – Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah Drs H Nursyamsa Hadits mengingatkan guru khususnya di kalangan internal Hidayatullah agar selalu mengembangkan kompetensi diri.

“Seorang guru seharusnya mewajibkan diri untuk bisa profesionalisme dalam bidangnya,” katanya pada acara Pengajian Umum Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Batam, Kepulauan Riau, Sabtu (26/08/2017).

Acara yang bertempat di Masjid Agung tersebut dihadiri oleh jamaah hidayatullah, segenap pembina dan pengasuh santri dan guru.

Nursyamsa menegaskan bahwa guru harus mampu menjadi seorang jembatan masa depan dengan membangun tradisi profesional.

Selain itu, beliau mengingatkan bahwa seorang pendidik Hidayatullah seharusnya selalu berpacu mengembangkan potensi diri, tidak mudah menyerah, selalu optimis, dan semaksimal mungkin menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungannya.

Dia menyebutkan, ketimbang di awal masa pendirinya, Hidayatullah pada saat era awal perintisan di Gunung Tembak, Balikpapan belum memiliki tenaga guru yang memadai.

“Hidayatullah pada perintisan tergolong masih kekurangan seorang lulusan sarjana,” terang Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah Depok ini.

Menariknya, lanjut Nur, menjadi seorang guru merupakan salah satu keistimewaan, dikarenakan bisa memperpanjang umur dan memperlama proses penuaan.

“Ya, karena tiap hari kita selalu didepan anak-anak muda, sehingga rasa syukur perlu juga kita nikmati,” jelasnya.

Diakhir penyampaiannya, ia berpesan bahwa seorang pendidik harus menjadi salah satu pembantu problematika dalam kehidupan. Sejatinnya guru adalah ratunnya dunia pendidikan, demikian pungkasnya. */Andre Rahmat

Pesantren Hidayatullah Medan Tanamkan Nilai Patriotisme kepada Santri Sejak Dini

0

MEDAN (Hidayatullah.or.id) – Kampus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan Sumatera Utara berkomitmen terus menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme kepada segenap santri sejak dini.

Pimpian Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Drs. H. Khoirul Anam mengatakan semangat cinta tanah air itu harus terus ditumbuhkan sejak dini sehingga NKRI tertanam di benak mereka sebagai negeri yang diperjuangkan kemerdekaannya oleh santri dan umat Islam dengan penghargaan segala keragaman yang ada di dalamnya.

“Perjuangan untuk memperolah kemerdekaan Indonesia tidaklah muncul begitu saja, namun melalui proses perjuangan panjang yang telah mendahuluinya,” kata Khoirul Anam dalam keterangannya diterima baru-baru ini.

Menurutu Anam, kemerdekaan Indonesia memiliki kaitan yang sangat erat dengan umat Islam. Pada masa perang merebut kemerdekaan, umat Islam di Indonesia memiliki peran besar.

Anam mengimbuhkan, langkah-langkah pendudukan penjajah yakni bangsa Eropa tidak bersahabat. Mereka datang ke Nusantara dengan membawa bedil dan meriam dengan pendekatan perang dengan semboyan Gold-Glory-Gospel.

Gold-Glory-Gospel yakni merupakan gramatika sejarah tentang pencaplokan kawasan dan mencari daerah jajahan dan kejayaan serta melakukan gerakan missionaris sekaligus.

“Mereka (penjaja) dengan politik Devide et Impera memecah belah masyarakat Indonesia, lantas sedikit demi sedikit menguasai jagat Indonesia ini,” imbuhnya.

Dikatakan Anam, dalam perjuangan di kawasan Nusantara, khususnya Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, maka peranan ajaran Islam dan umatnya punya arti yang sangat penting dan tidak dapat dihapus dalam panggung sejarah Indonesia.

Ajaran Islam yang dipeluk oleh sebagaian besar rakyat Indonesia telah memberikan kontribusi besar, serta dorongan semangat, dan sikap mental dalam perjuangan kemerdekaan yang berhasil menanamkan “ruhul Islam” yang di dalamnya memuat antara lain Jihad fi Sabilillahdan semboyan ummat Islam “Khubbul Wathon minal Iman”, cinta tanah air sebagian dari Iman. Hal itu menumbuhkan semangat partiotik bagi umat Islam dalam melawan penjajahan.

“Apabila tidak ada semangat Islam di Indonesia, sudah lama kebangsaan yang sebenarnya lenyap dari Indonesia,” kata Anam mengutip perkataan Dr. Douwwes Dekker.

Menurut Anam, semangat dan pergerakan perjuangan tersebut begitu menggeliat di kalangan kelompok masyarakat Muslim, menunjukkan bahwa mereka menganut ajaran Islam, yang secara tegas melarang adanya praktik penjajahan di muka bumi.

Apalagi, terang dia, dalam aspek pendidikan, dimana para Kiai di pesantren-pesantren saat itu menjadi Panglima Perang, menjadikan pesantren sebagai basis pertahanan Indonesia dari serangan penjajah.

Karenanya, kata Anam, Islam yang sudah merakyat di Indonesia ini, punya peranan yang sangat penting, berjasa, dan tidak dapat diabaikan dalam perjuangan di Indonesia. (ybh/hio)

Pejabat PTP Kemhan Kaltim Silaturrahim ke Hidayatullah Sempaja Samarinda

0

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) – Pejabat Pelaksana Tugas Pokok (PTP) Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI Perwakilan Kalimantan Timur Brigjend TNI Rukman Ahmad, S.IP. M.S.S, melakukan kunjungan silaturrahim ke Kampus Pesantren Hidayatullah Samarinda, Jalan Perjuangan No.22 Sempaja, Kota Samarinda, Kamis (24/08/2017).

Brigjend Rukman Ahmad disambut gembira Ketua Yayasan Kampus Utama Hidayatullah Samarinda KH. Jamaluddin Ibrahim sekaligus Bendahara DPW Hidayatullah Kaltim yang didampingi sejumlah jajaran pengurus DPW Hidayatullah Kaltim diantaranya Sekretaris DPW Hidayatullah Kaltim Abdullah Syarif, S.Sos, MM, Kadep Perkaderan dan Organisasi Muhammad Arfan AU, M.Pd.I dan Direktur Kampus Ust.Jumain. M.Pd.I. Turut menyertai beliau Humas KKSS Kaltim H. Abdurrahman Daeng Sikki. S.Sos.

Selain saling memperkenalkan lebih lekat profil lembaga, pada kesempatan pertemuan yang berlangsung hangat di Ruang Kantor Yayasan Hidayatullah Samarinda tersebut, Brigjen Rukman Ahmad menyampaikan sejumlah agenda Kementerian Pertahanan RI Perwakilan Kaltim, diantaranya lomba diskusi Parade Cinta Tanah Air (PCTA).

Lomba diskusi Parade Cinta Tanah Air (PCTA) tahun 2017 yang telah digelar belum lama ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI sejak tahun 2012 sebagai pembentukan karakter generasi muda Indonesia.

Melalui kegiatan tersebut diharapkan dapat membentuk generasi muda bangsa mampu menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa, memiliki karakter yang berwawasan kebangsaan bela negara.

Brigjend Rukman yang juga Staf Khusus Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) ini mengapresiasi serta mendorong Hidayatullah selalu menjadi jantung ketahanan dan pertahanan NKRI di Benua Etam.

Dia berpesan agar terus melanjutkan cita-cita pendiri Hidayatullah Allahuyarham KH Abdullah Said dalam komitmennya membangun bangsa.

“Membangun dan menyelamatkan umat dari segala bahaya yang mengancam saat ini (seperti) disintegrasi bangsa dan narkoba serta pengaruh isme-isme yang tidak selaras dengan Pancasila sebagau dasar negara dengan nilai-nilai Kaffatan Linnas Rahmatan Lil Alamin,” katanya.

Brigjend Rukman Ahmad menyempatkan sejenak melihat-lihat suasana Kampus Hidayatullah Samarinda. Silaturrahim lalu ditutup dengan berfoto bersama. (ybh/hio)

Pemerintah Diimbau Beri Perhatian Minimnya Porsi Pendidikan Agama di Sekolah

0
Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust Nashirul Haq, MA

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) menggelar rapat pleno ke-19, Rabu (23/08/2017).

Rapat yang berlangsung di Gedung MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, itu mengambil tema dialog Kebijakan Pendidikan Nasional dan Kepentingan Umat Islam.

Perwakilan ormas Islam yang juga Anggota Dewan Pertimbangan MUI, mengeluhkan kebijakan pendidikan yang dirasa kurang berpihak pada pembelajaran agama.

Ketum DPP Hidayatullah, Ust Nashirul Haq, mengatakan porsi pendidikan agama di sekolah umum saat ini masih jauh dari kata cukup.

“Porsi pendidikan agama di sekolah umum, itu sangat minim sekali dibandingkan kebutuhan,” ujarnya di lokasi rapat, Rabu (23/8).

Nashirul mengimbau pemerintah untuk memberikan perhatian lebih terhadap hal tersebut, dengan membuat kebijakan pendidikan agama.

Ia berharap pemerintah tak hanya fokus pada aspek kognitif atau intelektualitas siswa, sebab menurutnya agama dapat membentuk moralitas.

Dalam rapat tersebut hadir Mendikbud Muhadjir Effendy dan Sekjen Kemenristekdikti Ainun Naim sebagai narasumber. Porsi pendidikan agama di sekolah yang hanya dua jam sepekan sekali, kata Muhadjir, sudah diatur oleh Kementerian Agama.

Secara tidak langsung, hal tersebut menjadi kendala bagi Kemendikbud untuk ikut andil melakukan pengaturan porsi pengajaran agama secara langsung.

“Jadi guru-guru agama yang di sekolah umum itu guru Kementerian Agama,” jelasnya dilansir Kumparan.

Untuk menanggulangi minimnya ilmu pengetahuan agama yang didapat para siswa di sekolah, Muhadjir mengimbau peran serta orang tua siswa untuk memberikan pendidikan agama tambahan baik di lingkup keluarga maupun melalui pengajian.

Sementara itu berbeda dengan pendidikan agama di tingkat sekolah, Sekjen Kemenristekdikti Ainun menilai pendidikan agama di perguruan tinggi saat ini telah berkembang.

Perguruan tinggi yang dikelola Kemenristekdikti, kata dia, pendidikan agama diberi porsi sebanyak 4 SKS, dengan materi yang cenderung bersifat konseptual.

“Pendidikan agama di perguruan tinggi itu telah berkembang, kontekstual, sesuai dengan bidang ilmunya,” jelas Ainun. (kdc/hio)