Beranda blog Halaman 577

Terima Pemuda Hidayatullah, Yul Martin Berbagi Pengalaman

terima-pemuda-hidayatullah-yul-martin-berbagi-ilmu-sdmHidayatullah.or.id – Deputi SGM Human Capital Center PT. Telkom Indonesia, Yul Martin, menerima audiensi silaturrahim rombongan Syabab (Pemuda) Hidayatullah di kantornya, Graha Merah Putih Telkom Indonesia, Jakarta Selatan, Senin (05/12/2016).

Ketua Umum PP Syabab Hidayatullah Naspi Arsyad yang memimpin rombongan mengawali perjumpaan tersebut dengan memperkenalkan satu-persatu rekan-rekannya yang hadir pada pertemuan yang didahului jamuan makan siang itu.

Pada kesempatan itu Naspi Arsyad mengutarakan maksud dan tujuannya. Selain dalam rangka bersilaturrahim, pertemuan tersebut dimaksudkan menjajaki kemungkinan sinergi positif terutama hal-hal berkait dengan pengembangan sumber daya manusia yang menjadi konsen Yul Martin.

Kesempatan tersebut juga dimanfaatkan untuk meminta arahan dan nasihat dari Yul Martin yang telah bertahun-tahun berpengalaman berkecimpung di bidang pengembangan manajemen sumber daya manusia.

Dalam penyampaiannya yang cair diselingi canda namun tetap dalam, Yul Martin mengungkapkan tren pengembangan manajemen sumber daya manusia saat ini.

Menurutnya, lembaga apapun termasuk lembaga-lembaga sosial seperti Hidayatullah dengan beragam turunan amal usahanya, mesti menerapkan pola manajemen layaknya perusahaan.

“Jadi walaupun konsennya sebagai lembaga sosial nirlaba atau lembaga dakwah, Hidayatullah misalnya, harusnya mengelolanya seperti perusahaan,” katanya.

Martin menekankan, yang sangat penting dari setiap lembaga atau institusi perusahaan agar iklimnya tetap baik dan stabil, harus memperhatikan frontliner.

Di bidang dakwah, kata Martin, frontliner ini adalah para pendakwah yang terjung langsung ke masyarakat. Merekalah yang menjadi ujung tombak meneguhkan mainstream gerakan yang telah menjadi ciri utama lembaga.

Demikian juga dalam lembaga keuangan seperti LAZ yang mengelola dana umat. Frontliner-nya adalah para amil yang bersentuhan langsung dengan umat.

“Para tenaga frontliner ini harus selalu diapresiasi. Apresiasi tidak selalu dalam bentuk materi, tepukan di pundak atau teguran yang simpatik saja itu juga sebuah penghargaan yang bahkan bagi mereka bisa lebih dari sekedar materi,” katanya.

Menurut Martin, setidaknya ada tiga aspek yang harus dimiliki oleh seorang tenaga kerja/ kader. Aspek tersebut yaitu integritas yang tecermin dalam karakter diantaranya mencakup kejujuran, totalitas dalam bekerja, dan mampu berkolaborasi.

“Sekarang ini yang penting adalah people, orangnya bagaimana. Jujur atau tidak. Diutamakan yang berintegritas. Kemudian sistem teknologi, dan selanjutnya organisasi,” ujarnya.

Menurut Martin, apa yang menjadi nilai dan budaya di perusahaan-perusahaan besar sebenarnya semuanya ada di dalam ajaran Islam. Hanya saja kemudian nilai-nilai tersebut dikemas ulang sehingga seolah-olah merupakan barang baru.

“Di Telkom, misalnya, budaya perusahaan yang selalu dibangun adalah Always the Best. Memberi yang terbaik dalam setiap pekerjaan. Dalam Islam ini kan disebut ihsan,” jelas Martin.

Selain itu, sumber daya manusia yang berintegritas merupakan kunci kesuksesan. Loyalitas dan kejujuran yang terpadu dengan baik akan melahirkan budaya kerja maksimal.

“Bagaimanapun, kita juga perlu cepat tapi terukur. Kalau lambat ketinggalan. Jadi tenaga yang ada harus cerdas. Cerdas artinya tau prioritas. Dan berusaha agar selalu ada cara baru. Ada inovasi. Tidak mentok pada satu cara penyelesaian masalah,” kata Martin mengingatkan.

“Harus tau target yang ingin dicapai. Harus tahu ujungnya apa yang dilakukan. Jadi skemanya, harus berawal dari akhir,” terang bapak yang telah mengenal Hidayatullah sejak lama ini.

Martin mengungkapkan, adanya reward dan punisment dalam sistem kerja di semua lini kerja tak terkecuali lembaga sosial dan dakwah, akan turut membantu tegaknya profesionalisme dan kualitas tenaga yang ada. Penerapan sistem reward akan melahirkan totalitas karena sejatinya tidak ada manusia yang tidak mau melakukan aktualisasi.

“Sebagai dai atau amil, datang kepada umat adalah sebagai solution maker. Berikan kepuasan pelayanan,” imbuh pria yang pernah menjadi sales door to door ini.

Martin menutup penyampaiannya dengan kata kunci “IFA” yang menurutnya sebagai tiga hal penting menuju suatu pergerakan atau lembaga yang kuat, profesional, dan berdaya manfaat.

IFA adalah akronim Imaging, Focus, dan Action. Imaging, yakni bisa membayangkan target yang mau dicapai. Focus, yakni adanya komitmen yang kokoh untuk berpusat kerja pada apa yang telah ditargetkan. Kemudian, action, yakni ikhtiar nyata dalam bentuk kerja nyata.

Turut hadir pada kesempatan tersebut Direktur SDI Laznas BMH Suwito Fatah, Manajer SDI Laznas BMH DKI Jakarta Abdul Aziz, Humas BMH Imam Nawawi, dan Ketua Departemen Infokom Syabab Hidayatullah Ainuddin Chalik. (ybh/hio)

Hidayatullah Kaltim Menggelar Pelatihan Kader Dai di Bontang

0
Foto: Prokalco
Foto: Prokalco

Hidayatullah.or.id – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Timur (Kaltim) menggelar Daurah Marhalah Wustho atau pelatihan kader tingkat II, yang dirangkai dengan peletakan batu pertama pembangunan asrama putri.

Acara pelatihan dan pendidikan kader dai itu diikuti sedikitnya 60 peserta yang berasal dari Kaltim, Kaltara, Ternate, dan Maluku Utara.

Kegiatan yang dilangsungkan di Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang ini dilaksanakan mulai 4–7 Desember.

Salah seorang panitia, Muslim M. Salbu, menuturkan bahwa pelatihan dilakukan secara berjenjang. Dengan pelatihan ini, kata dia, dai yang terjun ke masyarakat semakin memahami dinamika dan mengetahui kultur masyarakat serta siap mengenalkan Islam.

“Sesuai dengan apa yang diharapkan, karena telah melalui proses pelatihan dan seleksi,” katanya didampingi Kosim, ketua Syabab Hidayatullah Bontang.

Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Alquran yang dibawakan dengan merdu oleh Sarman, yang merupakan santri dan aggota Pemuda Hidayatullah Bontang.

Dalam sambutannya, Ketua DPD Hidayatullah Bontang, Ustadz Firdaus, menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang tinggi kepada semua pihak yang telah turut mendukung suksesnya acara tersebut.

“Terimakasih terkhusus kepada Syabab, karena kegiatan ini terlaksana berkat kerja keras mereka. Kami sangat mengapresiasi. Saya mohon maaf kalau acara ini tidak sempurna,” ujar Firdaus.

Pada kesempatan itu, dia menerangkan, pesantren seputar sejarah singkat berdirinya Hidayatullah Bontang yang bercikal bakal pada tahun 1980.

Dalam perkembangannya, kiprah Hidayatullah Bontang semakin meluas yang saat ini mengelola amal usaha di bidang tarbiyah dan dakwah. Di bidang tarbiyah, Hidayatullah Bontang telah mendirikan lembaga pendidikan mulai dari PAUD, SD, SMP, dan SMA.

Sementara di bidang dakwah, Hidayatullah Bontang telah menjangkau dan membina ratusan masjid dan majelis taklim. Selain di kawasan perkotaan, dakwah pembinaan juga dilakukan secara massif hingga ke poros-poros jalan trans Kalimantan seperti di poros Bontang-Samarinda, Bontang-Kutai Timur, dan Bontang-Tenggarong-Bontang Lestari hingga ke Santan.

Dikatakan Firdaus, untuk menunjang aktifitas dakwah pdan tarbiyah, pembangunan sarana dan prasarana terus diupayakan.

“Terima kasih atas kontribusi Pemkot Bontang kepada Hidayatullah Bontang, sebagai pendukung setiap diadakannya rangkaian acara. Juga semua instansi negeri dan swasta termasuk perusahaan-perusahaan yang ada di Kota Bontanh atas segala dukungan dan sinerginya,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Ketua DPW Hidayatullah Kaltim Muhammad Tang berharap, dukungan yang diberikan tidak sebatas pada peletakan batu pertama.

Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni yang turut hadir dalam acara menegaskan, walaupun APBD tengah menurun, pembangunan tetap diprioritaskan.

Secara pribadi, dia menyumbang 100 sak semen untuk pembangunan asrama putri yang pembangunannya diresmikan yang ditandai dengan seremoni peletakan batu pertama oleh walikota wanita pertama di Kota Bontang tersebut. (ybh/prk/kp)

PLN Persero Peduli Pendidikan Dhuafa Pesantren Hidayatullah

pln-salurkan-bantuan-untuk-pendidikan-dhuafa-pesantren-hidayatullah2 pln-salurkan-bantuan-untuk-pendidikan-dhuafa-pesantren-hidayatullahpln-salurkan-bantuan-untuk-pendidikan-dhuafa-pesantren-hidayatullah2 pln-salurkan-bantuan-untuk-pendidikan-dhuafa-pesantren-hidayatullahHidayatullah.or.id – PT PLN Persero terus menunjukkan kepeduliaanya khususnya di bidang pendidikan. Kali ini PLN menyalurkan bantuan pendidikan kepada puluhan mahasiswa dhuafa di Pondok Pesantren Hidayatullah.

Acara resmi tersebut dilangsungkan di Aula Prasmanan, Pondok Pesantren Hidayatullah, Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur, pada Selasa (6/12/2016).

Seremonial itu berlangsung pada pukul 08.57 Wita yang dihadiri Djoko Abumanan Direktur PLN Regional Kalimantan, yang didampingi General Manager PLN wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, Tohari Hadiat.

Program itu persembahan Lembaga Amil Zakat Infak Sadaqah (LAZIS) PLN yang diberi nama beasiswa Cahaya Pintar.

Saat memberikan kesempatan, Heri Hasanudin, Ketua LAZIS PLN, menjelaskan, sumber dana beasiswa Cahaya Pintar berasal dari dana zakat karyawan PT PLN seluruh Indonesia.

Pembayaran zakat tersebut dilakukan melalui automatic payroll system, yang secara otomatis gaji terpotong untuk zakat.

Mereka yang menerima beasiswa merupakan mahasiswa Sekolah Tinggi Islam Hidayatullah dengan total bantuan sebanyak Rp 1 miliar selama empat tahun.

“Di sini ada 50 mahasiswa yang terima beasiswa Cahaya Pintar,” tuturnya yang saat itu mengenakan kopiah hitam.

Dukung Masyarakat Terpencil

Selain memberikan beasiswa pendidikan untuk mahasiswa dhuafa, PLN juga membuktikan komitmennya dalam perhatiannya kepada masyarakat muslim terpencil.

Selain memberi beasiswa, perusahaan plat merah ini salurkan bantuan operasional pesantren, pada Selasa (6/12/2016).

Saat memberikan sambutan, Djoko Rahardjo Abumanan, Direktur Bisnis PT PLN Regional Kalimantan mengungkapkan, melalui LAZIS PLN mengirim bantuan pesantren di wilayah Kalimantan Timur.

Seperti Pesantren Tahfidz Hidayatullah Gunung Binjai sebesar Rp 100 juta pengadaan sarana pesantren berupa listrik.

Lalu salurkan program ekonomi Ponpes Hidayatullah Bontang sebanyak Rp 100 juta.

Serta Pesantren Assalam Arya Kemuning Kutai Barat sebanyak Rp 100 juta dan bantuan klinik dhuafa Hidayatullah sebesar Rp 200 juta.

Tepat pada pukul 09.25 Wita dilakukan penandatanganan penyerahan bantuan beasiswa antara Direksi PLN dengan pimpinan Ponpes Hidayatullah.

Ketika berpidato, Ust Nashirul Haq selaku Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, menjelaskan, 34 provinsi terdapat pendidikan Hidayatullah.

Selama ini, mahasiswa yang digembleng di lembaga pendidikan Hidayatullah bertujuan untuk mengabdi bagi dakwah Islam, sebagai generasi baru yang membawa kemanfaatan bagi negara Indonesia.

“Seluruh nusantara kami mengirim dai ditempatkan ke pelosok daerah. Di Papua saja kami sudah eksis,” tutur Nasirul, yang mengenakan baju koko hijau. (Tribun Kaltim)

Terus Mempelajari Al-Qur’an sebagai Pedoman Hidup

0

tessHidayatullah.or.id – Tidak kurang seratus empat puluh orang dari dua belas kabupaten/kota ikuti Dauroh Al-Quran Bersanad yang dihelat Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Tenggara (Sultra) baru baru ini.

Kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari di Kendari ini, menghadirkan pemateri Pemegang Sanad Matan Jazariyah dan Tahfatul Athfal ke 12, Rifai Al Haq Bin Abbas.

Menurut Ketua Panitia, Kamaruddin ST, kegiatan ini diharapkan memberikan pemahaman dan mendidik masyarakat agar bisa membaca alquran dengan benar, juga memberi motivasi untuk menjadikan alquran sebagai petunjuk dalam hidupnya serta semakin cinta kepadanya.

“Kita harapkan kegiatan ini memberikan pemahaman terhadap masyarakat bahwa Alquran adalah petunjuk hidup yang harus dipelajari, makanya, peserta juga diajarkan dasar-dasar teori baca alquran, dan kaidah-kaidah tajwid,” harapnya.

Sementara itu, Ketua DPW Sultra, Nasri Buhari, mengatakan, masyarakat harus lebih fokus pada bacaan alquran yang disepakati oleh ulama dunia.

Sehingga dari kegiatan ini, masyarakat, khususnya kader Hidayatullah, punya kompetensi dan pemahaman alquran yang sesuai standar internasional dan bisa dipertanggungjawabkan.

“Kami berikan pemahaman kepada masyarakat, khususnya kader, supaya bisa fokus baca alquran yang disepakati oleh ulama dunia. Nah, dari kegiatan ini, mereka punya kompetensi dan pemahaman alquran yang sesuai standar internasional, dan yang bisa dipertanggungjawabkan”katanya.

Nasri menambahkan, pihaknya sudah menyiapkan guru-guru yang sudah direncanakan untuk melakukan follow up terhadap kader-kader Hidayatullah yang sudah ikut kegiatan ini.

Sehingga, lanjutnya, mereka nantinya bisa buat kajian-kajian alquran di daerahnya masing-masing.

“Setelah ini, ada kegiatan follow up agar peserta bisa lebih matang, karena mereka nantinya bisa buat kajian alquran di daerahnya masing-masing, sehingga dari situ, masyarakat bisa mendapatkan pemahaman alquran yang benar” tambahnya.*/Amanah

Konsep Toleransi Membuktikan Keagungan Ajaran Agama Islam

Salah satu kegiatan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah / dok
Salah satu kegiatan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah / dok

Hidayatullah.or.id – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah, menggelar Bedah Buku, “Tafsir Hubungan Antar Umat Beragama” di Aula STIS Putri, Balikpapan, belum lama ini dan ditulis Rabu, (30/11/2016).

Acara yang menggandeng Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIS Putri dan Komunitas Pendidikan Gratis Anak Indonesia tersebut menghadirkan penulis buku, Kusnadi, M.Hum, dan Masykur Suyuthi, M.Pd.I sebagai pembedah.

Di hadapan 200 peserta, Kusnadi memaparkan isi buku mengenai konsep toleransi antar agama dengan membandingkan pandangan dua ahli tafsir (mufassir), Muhammad bin Jarir al-Thabari dengan Fakhr al-Din al-Razi yang punya corak penafsiran berbeda.

“Al-Thabari itu ahli tafsir yang masyhur dengan tafsir bi al-ma`tsur (tafsir dengan riwayat) sedang al-Razi itu bisa dikata simbol penafsir bi ar-ra`yi (dengan akal),” ujar ustadz jebolan Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Menurut Kusnadi, adanya ajaran toleransi dan kerukunan umat beragama sebagai bukti  nyata keagungan agama Islam.

Islam, tegas Kusnadi, bukan sekadar berkutat di urusan akidah dan ibadah. Tapi juga sosial dan muamalat antar umat beragama.

“Hal itu diungkap oleh Al-Thabari dan al-Razi dalam tafsir keduanya. Mulai dari hubungan politik, persahabatan, administrasi, penetapan hukum, hingga hubungan transaksi jual beli, serta kiriman makanan,” ungkap Kusnadi.

“Piagam Madinah itu bukti sejarah yang tak bisa diingkari hingga sekarang,” imbuhnya lagi.

Dalam kesempatan sama, Masykur mengingatkan konsep toleransi yang benar. Sebab toleransi adalah bagian dari ajaran agama. Ia bukan sekadar realitas sosial atau dampak sosial dari kehidupan bermasyarakat.

“Pahami makna toleransi yang benar, sesuai agama Islam. Jangan pahami toleransi menurut kehendak mereka, non Muslim,” ucap lulusan Pondok Pesantren Mahasiswa dan Sarjana (PPMS) Ulil Albab, Bogor tersebut.

Menurut Masykur, saat ini berkembang pemahaman toleransi atas dasar semua agama benar. Sebab semuanya sama-sama mengajarkan kebaikan dan taat kepada Tuhan.

“Ini pemahaman yang keliru. Sebab toleransi itu bagian dari ajaran Islam. sehingga dasarnya harus benar. Ia bukan sebatas hubungan sosial belaka. Dan Islam sudah membutikan itu dalam sejarah,” papar Masykur.

Terakhir, LPPM dan BEM STIS selaku penyelenggara memberi apresiasi atas karya Ustadz Kusnadi. Mengingat belakangan hubungan antar umat beragama sedang hangat dibicarakan dengan maraknya beberapa kasus sosial yang terjadi di tengah masyarakat.

Untuk diketahui, buku tersebut adalah karya penulisan tesis yang diajukan sebelumnya Kusnadi saat kuliah di Pascasarjana UIN Yogyakarta.*/Istiqomah, mahasiswi STIS HIdayatullah

Cabang Pertama Posdai Hidayatullah Diresmikan

whatsapp-image-2016-11-28-at-11-50-15 whatsapp-image-2016-11-28-at-12-28-02 whatsapp-image-2016-11-28-at-12-28-46Hidayatullah.or.id – Gerakan dakwah harus melahirkan masyarakat yang terbimbing dan terpimpin. Pesan itu disampaikan Direktur Posdai Pusat Ust Ahmad Suhail ketika saat melantik pengurus cabang Posdai Hidayatullah Batam.

Posdai Cabang Kota Batam merupakan cabang Posdai yang pertama kali diresmikan.

“Insyaa Allah, di bulan Desember ada dua cabang yang akan diresmikan yaitu Posdai Jawa Timur dan Makassar,” ujar Ust Ahmad Suhail yang membacakan SK pengurus Posdai Batam.

Posdai akan terus mengembangkan jaringan agar gerakan dakwah sebagai mainstream Hidayatullah dapat mencapai tujuannya.

Pada peresmian ini ustadz Ahmad Suhail melantik ustadz Ahmad Hanafi Taher, M.pd.I sebagai kepala cabang posdai Kota Batam, ustadz M.Nurman Ardiansyah sebagai sekretaris dan ustadz Muhammad Maulana sebagai bendahara. Pelantikan ini diselenggarakan di aula kampus Hidayatullah Kota Batam.

Pelantikan ini juga dihadiri oleh beberapa pengurus pusat Hidayatullah diantaranya ustadz ir. Khairil Baits (ketua bidang organisasi), ustadz H. Jamaluddin Noor (ketua bidang kerjasama antar lembaga) sekaligus perintis Hidayatullah Kota Batam dan ustadz Shohibul Anwar (ketua bidang dakwah Hidayatullah).

Pelantikan ini dilanjutkan dengan dauroh muallim (pelatihan guru al-Qur`an) grand MBA (gerakan dakwah mengajar dan belajar Al-Qur`an) yang merupakan program utama yang akan diankat oleh posdai Hidayatullah Batam. Dauroh muallim ini dihadiri oleh 30 orang da’i dan guru dari Kota Batam dan sekitarnya seperti Bintan, Karimun dan Lingga.

“Grand MBA adalah gerakan membangun masyarakat dengan Al-Qur`an, dimulai dari pengentasan buta huruf dan buta makna Al-Qur`an, dilanjutkan dengan membentuk komunitas-komunitas majelis Al-Qur’an Hidayatullah untuk pembinaan selanjutnya,” jelas Suhail.

Grand MBA adalah kependekan dari gerakan dakwah mengajar dan belajar Al-Qur`an. Gerakan ini merupakan program nasional yang digagas oleh Hidayatullah. Fokus dari gerakan ini adalah pengajaran Al-Qur`an, dimulai dari membaca, memperbaiki bacaan (tahsin) hingga melatih untuk bisa memahami Al-Qur`an dan membaca kitab gundul.

Gerakan ini mengambil spirit dari surat Ali Imran ayat 79:tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, Hikmah dan kenabian, lalu Dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.

Lahirnya generasi rabbani adalah dengan mengajarkan Al-Qur`an dan mempelajarinya. Itulah pesan inti dari ayat di atas. Penempatan kata mengajar terlebih dahulu baru kemudian mengajar mengandung arti bahwa jika kita ingin belajar dengan sungguh-sungguh maka kita harus mengajar karena belajar tentu akan menjadi kebutuhan pokok bagi para pengajar.

Pada Dauroh Muallim ini dibahas tentang bagaimana metode mengajarkan Al-Qur`an dengan benar. Buku-buku paket Grand MBA juga ikut dibedah. Grand MBA saat ini memiliki beberapa buku paket, diantaranya buku 8 jam terampil membaca Al-Qur`an, buku bimbingan tahsin Al-Qur`an (2 jilid) dan buku terampil menerjemah Al-Qur`an dan membaca kitab gundul (6jilid).

Dauroh muallim ini dihadiri oleh 30 orang da’i dan guru dari Kota Batam dan sekitarnya seperti Bintan, Karimun dan Lingga. Di akhir dauroh muallim ini dibentuk kepengurusan majelis Al-Qur`an Hidayatullah kota Batam dan ustadz Muhammad Yahya ditetapkan sebagai ketua. */ Abu Fikar

Hidayatullah Solo Tasyakuran Pendirian Masjid Al Musafirin

hidayatullah-solo-tasyakuran-pendirian-masjid-al-musafirin-copyHidayatullah.or.id – Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust Nasirul Haq, MA, meresmikan dimulainya pendirian Masjid Al Musafirin berlangsung di Komplek Pesantren Hidayatullah Solo, Surakarta, Jawa Tengah, Ahad (20/11/2016).

Pada kesempatan tersebut Ketua Umum menyampaikan terimakasih kepada keluarga pewakaf yang telah memberikan dukungan moril maupun materil dalam rangka kelancaran pendirian masjid tersebut.

Dalam taushiahnya Ust Nasirul menyampaikan bahwa keberadaan masjid tidak hanya sekedar untuk shalat jamaah melainkan juga sebagai pusat segala aktifitas kaum muslimin sehingga kesemuanya bermuara karena Allah Ta’ala semata.

“Masjid juga sebagai tempat untuk mewujudkan visi besar yaitu tegaknya peradaban Islam,” katanya.

Acara peresmian penanda dimulianya pendirian masjid ini bertempat di halaman Yayasan Al-Kahfi Pesantren Hidayatullah Surakarta Jawa Tengah, bersama berbagai pihak yang diprepasi oleh Laznas BMH Kantor Perwakilan Surakarta.

Masjid Al-Musafirin merupakan masjid yang terbilang megah, terutama jika melihat konstruksi bangunan yang tediri dari tiga lantai yang sepenuhnya disupport seorang muhsinin (donatur).

“Dibangun dalam waktu tujuh bulan dari target rencana awal yang ditetapkan delapan bulan,” kata Ketua Panitia Pembangunan, Ustadz Sunoto Ahmad.

Sunoto menyampaikan terimakasih kepada donatur yang sudah membangunkan masjid di pesantren ini. “Semoga Allah bangunkan rumah di syurga kelak,” ucapnya.

Helatan acara tersebut dirangkai beberapa kegiatan mulai dari pentas anak asuh binaan BMH mulai dari TK, SD, MTs dan MA Hidayatullah Surakarta.

Tri Wardoyo mewakili keluarga pewakaf menyampaikan terimakasih kepada BMH yang sudah menjadi media dan partner amal shalih sehingga bangunan masjid bisa diwujudkan dalam waktu yang sangat singkat.

“Terimakasih kepada BMH yang sudah menjadi media dan patner amal shalih dalam pembangunan masjid ini. Mohon didoakan yang terbaik untuk keluarga pewakaf karena saat ini sedang diuji sakit oleh Allah dan semoga masjid ini makmur untuk para musafir dan masyarakat lebih-lebih adik-adik santri binaan BMH yang 24 jam menggunakannya,” jelasnya.

Terkait dengan nama masjid memang ada maksud tersendiri. Sunoto menjelaskan, masjid Al-Musafirin ini erat kaitannya dengan keberadaannya yang strategis di pinggir jalan raya tepatnya di ringroad Utara Mojosongo Solo.

“Sehingga harapannya menjadi persinggahan masyarakat yang sedang dalam perjalanan (musafir) dalam mendirikan sholat dan istirahat,” ungkap Sunoto Ahmad. */ Ikhwan

Akrab Silaturrahim Kapolsek di Kampus Hidayatullah Makassar

0

akrab-silaturrahim-kapolsek-di-kampus-hidayatullah-makassar2Hidayatullah.or.id – Amanah yang diemban polisi dengan pesantren tidak jauh berbeda. Bahkan punya kesamaan identik yakni mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada keburukan (amal makruf nahi munkar).

Bedanya, polisi menjalankan tugasnya dengan beragam atribut dan kewenangan legal yang dimilikinya untuk keperluan kamtibmas, maka pesantren atau dai menjalankan tugasnya dengan dakwah yang penuh hikmah.

Demikianlah simpul merah dalam acara silaturrahim Kapolsek Tamalanrea dengan pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar, Jalan Tamalanrea Raya No.36, Tamalanrea, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (22/11/2016).

Kapolsek Tamalanrea Kompol Aisyah Saleh diterima oleh wakil Ketua Pengurus Harian Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar, Muhammad Sultan, S.Ag. M.Ag.

Kapolsek Tamalanrea didampingi oleh PS. Panit Binmas Ipda Harisa dan Panit 1 Sabhara Ipda Abd Azis SH dan Bhabinkamtibmas Kelurahan Tamalanrea Aiptu Amiruddin SM.

Dalam pertemuan silaturrahim tersebut Kapolsek Tamalanrea menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan adalah bersilaturrahim sebagai pejabat baru di Polsek Tamalanrea.

Pada kesempatan silaturrahim dengan bincang-bincang hangat tersebut, mengajak kepada pengurus Pesantren Hidayatullah mengajak untuk bersama-sama mengatasi gangguan Kamtibmas.

Pada kesempatan tersebut Ketua Pengurus Harian Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar, Muhammad Sultan, mengapresiasi pihak kepolisian yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

Dia mengatakan, Pesantren Hidayatullah yang berpusat di Balikpapan dan memiliki ratusan cabang di seluruh Indonesia ini memiliki komitmen yang sama untuk mendorong kemajuan dan kemandirian bangsa.

Insya Allah dengan saling bergandengan tangan dengan semua elemen umat, kita bangun negeri ini dengan semangat kebersamaan,” tukasnya. (ybh/hio)

Siaran Pers DPP Hidayatullah​ tentang Tragedi Pembantaian Minoritas Muslim Rohingya

0

press-releaseSiaran Pers DPP Hidayatullah​ tentang Tragedi Rohingya

Siaran Pers Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah​

Bismillahirrahmanirrahim​

Alhamdulillah, washalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in.​

Amma ba’du​

Tragedi pembantaian masyarakat Muslim Rohingya telah berulangkali dan sejak lama dilakukan oleh junta militer Myanmar bersama ekstrimis Budha. Masyarakat Muslim Rohingya dibunuh, diperkosa, diusir, dan diperlakukan dengan biadab tanpa bisa dicegah hingga saat ini.

Terakhir, kampung-kampung mereka telah dibakar bersama para penghuninya. Ini jelas kejahatan kemanusiaan yang serius dan tidak dibenarkan atas dalih apapun.

Kami meyakini, tidaklah mereka diperlakukan demikian selain karena mereka telah menyatakan Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah. Mereka Muslim, sama seperti kebanyakan masyarakat di Indonesia.

Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah SAW berkata, “Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam hal cinta dan kasih sayang mereka adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu bagian tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota badan akan merasa demam dan susah tidur”.

Allah SWT juga berfirman, “Dan jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan”. (Al Anfal: 72).

Karena itu, kami Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menyatakan sikap sebagai berikut:

1. Mengutuk keras tindakan biadab dan keji yang dilakukan junta militer Myanmar dan ekstrimis Budha atas masyarakat Muslim Rohingya.

2. Mendesak pemerintah Indonesia untuk segera mengambil langkah diplomatik untuk menyelamat masyarakat Muslim Rohingya yang mengalami genosida. Jika upaya ini, tak juga menghentikan langkah biadab junta militer Myanmar dan ekstimis Budha, maka kami mendesak pemerintah Indonesia untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan pemerintah Myanmar dan mengusir Duta Besar Myanmar dari Indonesia.

3. Mengajak seluruh kaum Muslim untuk membantu meringankan beban penderitaan saudara kita di Rohingya lewat aksi kemanusiaan dan penggalangan dana. Bahkan, bila telah dianggap mendesak maka kami mengajak kaum Muslim untuk melakukan upaya sungguh-sungguh dan maksimal untuk menghentikan kebiadaban dan kemungkaran yang menimpa masyarakat Muslim Rohingya.

Demikian pernyataan sikap Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah. Semoga Allah SWT menolong orang-orang yang sedang menegakkan agama-Nya dan menghinakan orang-orang yang berbuat kezaliman dan aniaya kepada umat Islam.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh​

Jakarta, 23 Shafar 1438 H/ 23 November 2016 M

Nashirul Haq
Ketua Umum

Disiarkan oleh:
Mahladi
Kabiro Humas
08158328442

Penistaan Agama Menciderai Pancasila dan Kebhinnekaan

Ketua Umum PP Syabab Hidayatullah Muhammad Naspi Arsyad / dok
Ketua Umum PP Syabab Hidayatullah Muhammad Naspi Arsyad / dok

Hidayatullah.or.id – Penistaan dan penodaan terhadap agama menciderai Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika bangsa Indonesia yang selama ini telah berusaha dirajut dan dirawat bersama.

Demikian dikatakan Ketua Umum PP Syabab Hidayatullah, Naspi Arsyad, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (23/11/2016).

“Penistaan atau penodaan apalagi dilakukan oleh orang yang tak sejalan dengan keyakinan agama tersebut tidak saja sebagai aksi lompat pagar, namun juga berpotensi merusak stabilitas nasional,” kata Naspi Arsyad.

Karenanya, Naspi menilai aksi unjuk rasa damai umat dalam rangka menyuarakan keberatan dan tuntutan penegakan hukum yang berkeadilan terhadap pelaku penista agama, tak lain merupakan seruan kebangsaan untuk meneguhkan kembali Pancasila sebagai falsafah berbangsa dan bernegara.

Naspi menyesalkan sikap terduga pelaku penistaan Al-Qur’an, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang menurutnya tak cakap sosial padahal ia seorang public figure yang hidup di tengah komunitas masyarakat heterogen.

“Sejak dulu masyarakat Indonesia tidak lepas dari nilai ajaran agama karena memang segala aktifitasnya dipengaruhi olehnya. Karena kesadaran tersebut pula umat Islam yang mayoritas di negeri ini telah mendemonstrasikan sikap keberagamaan yang luar biasa tidak ada duanya di dunia. Kalau ini dipahami, mestinya penistaan terhadap Al-Qur’an tidak perlu ada,” katanya.

Naspi mengatakan pihaknya mendorong umat Islam dan semua komponen umat terus berjuang membela Pancasila dan menjaga Kebhinnekaan yang otentik dari pihak-pihak yang ingin meruntuhkannya.

Naspi juga kembali menegaskan perlunya memperhatikan nasihat ulama bahwa kaum muslimin Indonesia harus memperbaiki kualitas perjuangan dengan tetap menjaga kemurnian tujuan aksi bela Al-Quran dan penistaan agama.

“Perjuangan jangan sampai tercampur dengan isu disintegrasi kawasan, isu khilafah, pendirian negara Islam, dan sebagainya, karena isu-isu tersebut berpotensi menjadi alat pukul balik terhadap kaum muslimin itu sendiri dan dapat mengakibatkan umat Islam bercerai-berai,” katanya.

Terkait dengan rencana aksi unjuk rasa umat bertajuk Bela Islam Jilid III yang akan digelar pada 2 Desember mendatang, Naspi mengatakan tidak menganjurkan anggotanya untuk turut serta dalam aksi ini namun ia mengaku tidak dapat melarang jika ada yang ikut.

“Tidak harus ikut, tapi tidak bisa juga melarang. Berunjuk rasa menyuarakan pendapat kan hak dan itu sah-sah saja dalam iklim berdemokrasi kita. Namun kita mengimbau tertib, patuhi peraturan, kedepankan kesantunan, akhlak mulia, dan jangan terprovokasi,” pesan Naspi.

Naspi berharap kasus penistaan agama yang santer diberitakan akhir-akhir ini tidak semakin meruncing. Karenanya dia mendesak aparat penegak hukum benar-benar bekerja secara serius.

“Sehingga keputusannya dapat memenuhi rasa keadilan masyarakat,” pungkas pemuda yang juga pembina Pesantren Putri Tahfidz Al Qur’an Al Humairah Sukabumi ini. (ybh/hio)