Beranda blog Halaman 580

Hidayatullah Sultra Gelar Nikah Mubarak 9 Pasang Santri

pernikahan-massal-hidayatullah-baubau2 pernikahan-massal-hidayatullah-baubauHidayatullah.or.id – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar pernikahan massal, Ahad (23/10/2016).

Prosesi pernikahan yang dipusatkan di Komplek Kampus Yayasan Pondok Pesatren Hidayatullah Cabang Kota Baubau itu, diikuti oleh sembilan pasangan kader Dai dan Daiyah se Sultra.

“Seluruh pasangan Dai dan Daiyah yang kita nikahkan berasal dari masing-masing yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah yang ada di Bumia Anoa. Diantaranya, Kota Kendari, Buton Selatan, Konawe dan Kabupaten Muna,” kata Ketua DPW Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Sultra, Drs Nasri Buhari MPd.i saat ditemui Kendari Post usai resepsi akad nikah Minggu (23/10).

Seluruh pasangan tersebut, lanjut dia, sama sekali belum saling mengenal. Karena, mereka dari yayasan beberapa Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Pondok Pesantren Hidayatullah yang berbeda-beda.
“Belum ada yang pernah ketemu. Mereka hanya saling kenal nama. Jadi, pernikahan mereka ini benar-benar hanya berdasarkan niat menjalankan amanah sesuai syariat Islam,” katanya.

Kata dia, awalnya yang direncanakan untuk mengikuti pernikahan masal ada 11 orang. Hanya saja, berdasarkan hasil seleksi, dua orangnya lagi belum memenuhi syarat.

“Dua pasanganya lagi kita masih pending. Karena kita nilai belum siap membangun bahtera rumah tangga. Sehingga, akan kita ikutkan pada proses pernikahan selanjutnya,” ucapnya.

Untuk mahar nikah, lanjut dia, hampir tidak ada. Sebab, kedua bela pihak baik keluarga mempelai perempuan maupun laki-laki sudah memahami hakikat dari sebuah pernikahan itu.

“Maharnya itu tidak ada. Kan mereka sudah bayar dengan menjalankan semua tugas-tugasnya selama di pesantren. Kalaupun ada paling itu tidak ada yang berlebihan,” ungkapnya.

Dia menambahkan, setelah proses pernikahan tersebut maka, dua pasangan tersebut diberi waktu satu minggu untuk bersama-sama.
Setelah itu mereka akan dikirim dan ditugaskan menjalankan dakwah di daerah-daerah tertentu.

“Jadi, tidak lama setelah ini, kita akan rapatkan untuk penempatanya masing-masing. Sehingga, proses pacaran dan bulan madu, akan dilakukan di tempat tugas baru,” pungkasnya.

Acara tersebut dihadiri juga oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ust Nashirul Haq yang sekaligus menyampaikan taushiah pernikahan dan hadir pula Wakil Ketua DPRD Kota Baubau, La Ode Yasin, (ybh/hio)

Ketum Ingatkan Kunci Sukses Hubungan yang Harmonis

0

pernikahan-massal-hidayatullah-baubau3 pernikahan-massal-hidayatullah-baubau2Hidayatullah.or.id – Di tengah kesibukannya, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust Nashirul Haq, hadir di Sulawesi Tenggara (Sultra) tepatnya di Kampus Hidayatullah Baubau, Ahad (23/10/2016).

Kehadirannya selain bersilaturrahim, ia didapuk menyampaikan taushiah pernikahan massal mubarak (walimatul ‘ursy) sembilan pasang santri yang digelar di komplek Kampus Hidayatullah Baubau tersebut.

Dalam penyampaian singkatnya tersebut, Ust Nashirul mengingatkan kembali tentang nilai-nilai penting yang terkandung dalam tradisi perhelatan nikah massal mubarak yang digagas pertama kali oleh Hidayatullah di Indonesia tersebut.

“Salah satu kunci sukses dalam mengarungi bahtera rumah tangga adalah saling menerima dan membangun saling pengertian,” katanya berpesan di hadapan para mempelai.

Beliau melanjutkan, pernikahan adalah sebuah syariat yang menjadi kebutuhan setiap orang.

Pernikahan seperti ini, terangnya, bertujuan untuk menjaga kehormatan diri, mendapatkan keturunan dan meraih kebahagiaan.

“Pernikahan sesama santri diharapkan agar ada kesamaan visi sehingga ada kesiapan mental dalam mngemban amanah perjuangan,” imbuhnya memungkasi.

Keberkahan

Pernikahan Mubarak 9 pasang kader dai dan daiyah se Sulawesi Tenggara pada Ahad (23 /10/2016) digelar di Kampus Pesantren Hidayatullah Baubau ini dihadiri juga oleh Ketua DPW Sultra Nasri Bukhari, Wakil Ketua DPRD Kota Baubau La Ode Yasin, sejumlah Kepala Dinas dan Anggota DPRD,Ketua-ketua DPD Hidayatullah se-Sultra, Keluarga Besar Hidayatullah Baubau dan masyarakat setempat.

Dalam sambutannya selaku panitia, Nasri Bukhari yang juga Ketua DPW Hidayatullah Sultra, mengatakan pernikahan massal ini dinamakan pernikahan mubarak karena diharapkan mendatangkan keberkahan bagi para mempelai dan seluruh warga pesantren serta para tamu undangan yang hadir.

Lebih lanjut dijelaskan Nasri Bukhari, semua kegiatan nikah massal mubarak Hidayatullah dimanapun mewajibkan semua peserta calon pengantin memenuhi persyaratan administrasi yang berlaku karena ini terkait dengan legalitas pernikahan sehingga dapat dipertanggungjawabkan dari sisi agama dan pemerintah.

Karena itu, terang Nasri, tradisi nikah mubarak ini tidak boleh dianggap lebih rendah dibandingkan dengan nikah sendiri-sendiri. Sebab, jelas dia, di sini ada penghulu dari Kantor Urusan Agama (KUA), ada hidangan makanan dan minuman serta hal-hal lain yang diatur sedemikian rupa seperti tempat para undangan yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Kemeriahannya pun terasa dengan tetap menjaga kesakralan acara dalam bingkai syariah Islam.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Babau, La Ode Yasin, dalam kesempatan sambutannya mengaku bangga atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Saya merasakan ada suasana spritual dalam acara pernikahan di Pesantren Hidayatullah ini, berbeda dengan acara pernikahan pada umumnya,” ungkap La Ode Yasin.

Di akhir sambutannya La Ode Yasin mengapresiasi peran Hidayatullah dalam membangun kawasan tersebut dan mendorong agar kiprah-kiprah tersebut terus dilanjutkan.

“Kami mengajak Hidayatullah untuk bersama-sama dengan pemerintah terus membangun Kota Baubau, khususnya di bidang moral keagamaan,” pungkas La Ode Yasin. (ybh/hio)

Nikah Mubarak 6 Pasang Santri di Hidayatullah Mamuju

nikah-mubarokah-6-pasang-di-hidayatullah-mamuju3 nikah-mubarokah-6-pasang-di-hidayatullah-mamuju2 nikah-mubarokah-6-pasang-di-hidayatullah-mamujuHidayatullah.or.id – Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulawesi Barat kembali mengadakan hajatan walimatul ‘Ursy atau biasa dikenal “pernikahan mubarak” dengan menikahkan enam pasang dai dan daiyah yang berasal dari tiga kabupaten.

Herman DJ, S.Sos.I selaku ketua panitia menyebutkan pihaknya sudah lama mempersiapkan perhelatan yang ke empat kalinya ini.

Alhamdulillah tidak ada halangan yang berarti dalam proses pernikahan ini, meski kami harus mendatangi rumah calon mempelai saat pelamaran ke pelosok dan hingga ke kabupaten Soppeng di Sulawesi Selatan” ungkapnya lega dikutip Radar Sulbar.

Ia mengimbuhkan seluruh proses penikahan sejak awal hingga usai acara dilakukan oleh panitia palaksana yang disetir oleh penatia pengarah yang tentunya pelakasanaannya dibarengi oleh seluruh warga dan santri Hidayatullah Mamuju.

Sebagaimana mafhum, pernikahan di Hidayatullah dengan gaya khas yang mengedepankan nilai-nilai syariat sejak dari proses pelamaran, resepsi walimah hingga penugasan paska pernikahan.

Penyampaian Herman tersebut dikuatkan dengan tausiah Ustadz Naspi Arsyad, Lc. MA. Anggota Majelis Mudzakarah Hidayatullah ini mengatakan, “Pernikahan mubarokah ini adalah bagian dari upaya menyerasikan pasangan yang bukan pada fisik dan profesinya saja melainkan menyerasikan visi dan misi pernikahan yang dibingkai dalam perjuangan dan bisa menopang tugas di lapangan dalam membangun peradaban yang mulia”.

Herman, S.Pd.I, dai bujang yang selama ini bertugas sebagai tenaga pendidik di SD Islam Terpadu Hidayatullah kecamatan Baras –sebagaimana lima peserta lain- hari pernikahannya adalah jumpa pertamanya kepada istrinya.

Bertempat di halaman sekolah SD dan SMP Integral Al-Furqan Hidayatullah Mamuju, dihadiri sekira 500 undangan dan beberapa tokoh masyarakat dan pemerintah.

Hadir dalam acara itu mewakili Gubernur Sulawesi Barat H. Anwar Adnan Saleh, Asisten DR. Muhammad Jamil Barambangi yang juga urun nasehat dalam sambutannya.

”Kami sangat mengapresisi upaya Hidayatullah di masyarakat dalam melakukan pembinaan yang nyata, bukan hanya sekedar berkata-kata saja.” katanya.

“Saya pikir, melalui pernikahan model seperti (walimatul ‘urusy) ini diharapkan bisa memerikan contoh pernikahan yang mudah dan murah meski tidak bisa dianggap murahan karena menampilkan syiar agama kita tanpa ada pembauran adat dan tradisi yang bertentangan dengan syara,” imbuhnya memungkasi. */ Muhammad Bashori   

Halaqah Muharram Kader Hidayatullah se-Sumatera

0

Tahun baru Islam 1 Muharram 1438 hijriyah menjadi momentum evaluasi dan konsolidasi diri untuk menguatkan peran di masyarakat. Seperti yang dilakukan oleh kader Hidayatullah di Sumatera ini. Halaqoh Muhaarram kedua kader-kader Hidayatullah se-Sumatera digelar di Medan, Sumatera Utara, pada pertengahan Oktober lalu. Selamat menyaksikan:

[youtube width=”100%” height=”300″ src=”LgUN0kfL5jM?rel=0&autoplay=1″][/youtube]

Umat Islam Jangan Malu Belajar dan Perbaiki Bacaan Al-Qur’an

0

pimpinan-umum-hidayatullah-abdurrahman-muhammad-copyHidayatullah.or.id – Pimpinan Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad mengimbau kader dan umumnya kaum muslimin agar tak malu memperbaiki bacaan al-Qur’an.

“Jangan bilang tidak ada waktu belajar al-Qur’an, terus waktunya habis buat apa,” tegasnya dalam acara Haflah dan Wisuda Daurah al-Qur’an Bersanad yang diselenggarakan di Masjid Agung ar-Riyadh, Balikpapan, Kaltim, Sabtu, 15/10/2016.

Dengan tegas beliau menampik alasan sebagian orang yang mengaku sibuk dan tak punya waktu belajar al-Qur’an.

“Jangan malu belajar huruf-huruf al-Qur’an kepada yang lebih muda usianya. Apa tidak malu menghadap Allah sedang masih belepotan membacanya?,” paparnya lantang.

Beliau melanjutkan, sumber keilmuan Islam paling mendasar adalah al-Qur’an. Sehingga dibutuhkan metodologi Islam untuk menggali dan mengoptimalkan nilai al-Qur’an.

Menurutnya, cita-cita terbesar yang mesti dipunyai oleh setiap Muslim dan kelompok Islam adalah mewujudkan agama Islam hadir di muka bumi.

“Dari nilai-nilai al-Qur’an itu baru bisa dirasakan nikmatnya berislam dengan baik,” ucap beliau sambil mengutip Surah al-Maidah [5]: 3.

Untuk itu di hadapan peserta daurah dan jamaah masjid ar-Riyadh, Pimpinan Umum mengingatkan kembali pentingnya adab yang menyertai ilmu, terutama al-Qur’an.

“Dengan menjaga adab, dakwah al-Qur’an bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat. Umat Islam mudah diatur dan tidak tersekat,” terangnya.

“Jadi yang ditonjolkan itu dakwah al-Qur’an, bukan ajakan kepada kelompok atau golongan tertentu,” lanjutnya kembali.

Diketahui, acara Daurah al-Qur’an Bersanad diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan dan Pengkaderan (LPP) Hidayatullah Balikpapan.

Acara daurah ini berlangsung selama sepuluh hari dan diikuti oleh 305 orang peserta dari seluruh unit pendidikan di Kampus Gunung Tembak, Balikpapan.

Dalam acara penutupan, diadakan penyerahan ijazah sanad oleh Rifai Mujahidin al-Haq, pemateri tunggal dalam daurah, kepada 35 orang santri.

Mereka dianggap lulus dalam ujian dan punya kecakapan menghafal matan tajwid Tuhfatul Athfal dan matan al-Jazairiyah.

Adapun materi tahsin (perbaikan) bacaan al-Qur’an, panitia memilih surat al-Fatihah dan surat al-Qalam sebagai latihan mempraktikkan teori ilmu tajwid tersebut. */Masykur Abu Jaulah

Puluhan Ribu Umat Islam Unjuk Rasa Kecam Penistaan Agama

0

puluhan-ribu-umat-islam-unjuk-rasa-kecam-penistaan-agama2 puluhan-ribu-umat-islam-unjuk-rasa-kecam-penistaan-agamaHidayatullah.or.id – Sedikitnya 50.000 massa dari ormas Islam termasuk Hidayatullah melakukan unjuk rasa turun ke jalan geruduk Bareskrim dan Balaikota DKI Jakarta pada Jum’at (14/10/2016).

Aksi yang dilakukan umat Islam tersebut terkait dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Ribuan massa Umat Islam aksi Long March dari Masjid Raya Istiqlal usai shalat Jum’at menuju ke Bareskrim dan Balaikota serta orasi di sana.

Aksi tersebut digelar untuk mendesak aparat kepolisian segera melakukan pemeriksaan terhadap Ahok yang dianggap telah melakukan penistaan terhadap Al Quran Surat Al Maidah ayat 51.

Aksi unjuk rasa ini berjalan tertib dan tenang tanpa sama sekali ada kekerasan.

Komponen dari berbagai kalangan Hidayatullah turut mengambil peran dalam aksi unjuk rasa damai yang berlangsung hingga sore ini seperti dari Syabab Hidayatullah, Gerakan Dakwah Komunitas Taqarrub (Garda Kota), DPW Hidayatullah Jabodebek, mahasiswa STIE Hidayatullah, SAR Hidayatullah, dan lain-lain. (ybh/hio)

Orang Beriman Tidak Malas!

orang-beriman-tak-mungkin-malasHidayatullah.or.id – Iman itu menggerakkan. Karena itu, kata Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Ustadz Nashirul Haq dalam kajian Halaqoh Muharram di Medan, Sumatera Utara, Sabtu (15/10/2016), orang yang beriman tak mungkin malas.

Kata Allah Subhanahu Wata’ala, jelas Nashirul lagi, sifat malas adalah ciri-ciri orang munafik. Orang beriman jelas bukan orang munafik.

“Orang beriman tak mungkin malas berhalaqoh. Tak mungkin pula malas shalat berjamaah,” kata Nashirul di hadapan 260-an peserta halaqoh.

Namun kadang-kadang muncul sifat futur (loyo) pada diri kita. Di sisi lain, godaan setan begitu kuat. Setan mengganggu kita lewat dua pintu, yakni subhat dan syahwat.

Lalu bagaimana mengatasinya?

Pertama, kata beliau, tumbuhkan irodah (keinginan yang kuat) pada diri kita untuk beribah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Kedua, berdekat-dekatanlah kepada ulama dan orang-orang baik.

“Karena itulah seluruh kader Hidayatullah harus berhalaqoh. Mudah-mudahan dengan berhalaqoh, setan sulit masuk,” jelas Nashirul.

Halaqoh Muharram

Halaqoh Muharram yang berlangsung selama dua hari, 15 dan 16 Oktober, adalah kali kedua. Yang pertama digelar di Bengkulu pada 2014 lalu.

Halaqoh Muharram ini diikuti oleh tujuh Dewan Pengurus Wilayah se-Sumatera. Selain Nashirul Haq, pemateri yang lain yang diminta mengisi tausiyah adalah Ustadz Aqib Junaid (anggota Dewan Muzakarah Hidayatullah), dan Ustadz Hamim Thohari, pembina pesantren Hidayatullah Medan, Sumatera Utara.

Pembukaan acara Halaqoh Muharram digelar pada Sabtu pagi (15/10/2016), dibuka oleh Asisten 3 Gubernur Sumatera Utara, Oka Zulkarnaen MSi. Dalam acara pembukaan tersebut diserahkan 12 unit motor kepada dai-dai se-Sumatera Utara oleh Baitul Mal Hidayatullah. */ Mahladi (Hidcom)

Syabab Hidayatullah Jatim dan SCI Gelar Kajian Sirah

syabab-hidayatullah-jatim-dan-sci-gelar-kajian-sirahHidayatullah.or.id – Bertempat di masjid Aqshol Madinah, Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur, Sirah Community Indonesia (SCI) bekerjasama dengan PW Syabab Hidayatullah Jatim menyelenggarakan kajian Umum dan Launching Sirah Community untuk kota Surabaya pada hari Sabtu (08/10/2016).

Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci al-Quran tanpa melihat mushaf oleh Ali Akbar, mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman al-Hakim (STAIL) Hidayatullah Surabaya kelas takhassus tahfidz semester 5. Lalu dilanjutkan dengan sambutan dari ketua umum Badan Pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah surabaya, Ust Aep Saefuddin.

Dalam sambutannya, Aep menyampaikan terima kasih kepada pihak SCI yang memilih Pesantren Hidayatullah Surabaya sebagai tempat launching Sirah Community untuk daerah Jawa Timur.

Sambutan kedua diisi oleh Muhammad Idris M.Pd.I selaku Ketua Syabab Hidayatullah Jatim.

Pihaknya menyampaikan terima kasih kepada pihak SCI karena telah bekerja sama dengan Syabab Hidayatulah Jatim dalam menyelenggarakan acara dan launching SCI Surabaya ini.

Ia juga menyampaikan bahwa setelah agenda launching Sirah Community untuk wilayah Jawa Timur ini akan diadakan agenda lanjutan berupa kajian sirah baik berupa kajian umum maupun dengan sistem klasikal.

“Kita akan adakan kajian umum yang bersifat reguler selama tiga bulan. Kemudian setelah tiga bulan akan diadakan kajian secara lebih intensif dan dibuat sistem klasikal,” katanya.

Acara selanjutnya adalah launching Sirah Community untuk wilayah Jatim oleh pendiri sekaligus pembina SCI, Asep Sobari, Lc yang dilanjutkan dengan kajian umum.

Pengurus Pusat Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini menyampaikan latar belakang dia mendirikan Sirah Community.

Keberadaan sirah dalam kajian ilmu keislaman, paparnya, sangatlah penting. Dengan mempelajari sirah, kita akan memahami isi al-Quran dengan baik karena Rasulullah sebagai peraga utama isi al-Quran.

“Sirah adalah implementasi yang paling nyata bagaimana al-Quran diterapkan,” jelasnya.

Selain itu, dengan memahami sirah maka kita juga akan memahami disipin ilmu yang lain seperti akidah, tafsir, fikih, dan lain-lain. Hal itu dikarenakan ada keterkaitan antara sirah dengan berbagai disiplin ilmu.

Namun, lanjutnya, yang tidak kalah pentingnya dalam mempelajari sirah adalah membuktikan kebenaran akidah Islam lalu mengambil ibrah darinya.

Makanya tidak mengherankan generasi awal Islam sangat mementingkan pelajaran sirah. Bahkan mereka mempelajari sirah sebagaimana mempelajari al-Quran.

“Para sahabat mengajari generasi tabiin sirah . sebagaimana mereka mengajarkan al-Quran,” tegasnya.

Maka dari itulah dia mengajak kepara masyarakat agar ikut bergabung denga Sirah Community untuk belajar lebih mendalam tentang sirah untuk kebangkitan Islam.

Dialog Kader Muda di Kaltim

img-20161009-wa018 img-20161009-wa019 img-20161009-wa021 img-20161009-wa024 img-20161009-wa028Selain itu, kegiatan intensif Syabab Hidayatullah digelar juga oleh pengurus wilayah Kalimantan Timur berupa sarasehan dialog kader muda Hidayatullah dihadiri perwakilan pengurus PD Syabab Hidayatullah se-Kalimantan Timur.

“Diskusi ini ingin menemukan ide dan pandangan kader muda yang kesemuanya bermuara pada harapan kiprah Hidayatullah ke depan lebih baik lagi dengan mendorong keterlibatan aktif anak-anak muda,” kata Ketua Organizing Committee Pusat Dialog Kader Muda Hidayatullah, Soehardi Soekiman.

Ia melanjutkan, generasi muda Hidayatullah adalah generasi yang mendapatkan nilai-nilai dan ajaran Sistematika Wahyu dari generasi awal namun tidak menutup kemungkinan terjadi bias, kedalaman, dan derajat peragaan yang berkurang dibandingkan yang diterima generasi awal dari pendiri Hidayatullah, Allahu Yarham Ustadz Abdullah Said.

Dengan adanya bias, hal ini dinilai Soehardi, boleh jadi akan menyebabkan generasi muda Hidayatullah berkurang ketertarikannya terhadap Manhaj Sistematika Wahyu yang merupakan metode pergerakan Hidayatullah.

Karena itu, Soehardi mengatakan kegiatan yang terselenggara atas diinisiasi oleh DPP Hidayatullah ini menjadi penting untuk mengurai benang merah tersebut.

Di tengah perubahan zaman di era globalisasi, generasi muda Hidayatullah saat ini tentu berbeda dengan generasi pendahulu lembaga ini. Sebab itu, kata Soehardi, cara berfikir dan cara melihat mereka terhadap sesuatu baik masalah maupun peluang punya spektrum yang berbeda dengan pendahulunya.

“Maka kita memandang perlunya terus membangun komitmen kebersamaan dan keterpaduan gerak dalam mengawal langkah berlembaga kita agar tetap on the track,” jelas Soehardi.

Semangat penyadaran untuk penguatan visi gerakan ini dinilai Soehardi selaras dengan komitmen Hidayatullah dengan beragam jejaring turunannya untuk berbakti bagi umat dan bangsa yang semata mengharapkan ridha Allah Ta’ala semata.

Acara ini disponsori oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) yang selama ini menjadi mitra strategis Syabab Hidayatullah dalam pemanfaatan sumber daya manusia.

Diantara program kemitraan yang sudah terjalin adalah penyediaan SDM hasil binaan atau anggota Syabab Hidayatullah yang dimanfaatkan Laznas BMH untuk mendukung program-program keummatan BMH seperti aksi kerelawanan bencana alam, tenaga konsultan ihwal perzakatan, staf pendamping untuk penerima beasiswa BMH, dan kebutuhan sosial lainnya. (ybh/luk)

Yulius Buka Pekan Muharram Ponpes Hidayatullah Daik

yulis-buka-gelaran-pekan-muharram-ponpes-hidayatullah-daikHidayatullah.or.id – Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Daik, Kepulauan Riau, menjadi tuan rumah gelaran acara Pekan Muharram 1438 hijriyah yang diikuti oleh peserta dan tamu undangan.

Camat Lingga, Yulius membuka kegiatan pekan Muharram 1438 H di Pondok Pesantren Hidayatullah Daik, Minggu (09/10) ini. Pembukaan dihadiri oleh tokoh agama, wali santri, unsur pimpinan kecamatan, lurah serta warga sekitar.

“Kegiatan pada hari ini sebenarnya merupakan baru langkah awal dan langkah kecil dari kita untuk membangun generasi yang Islami. Jadi perlu usaha giat lagi dari kita semua dan secara bersama-sama untuk mengawal dan menjaga akhlak generasi kita kedepan,”ucap Yulius dihadapan tamu undangan.

“Saya melihat geliat Pondok Pesantren Hidayatullah Daik ini sungguh sangat luar biasa. Ketertarikan orang tua untuk mengantarkan anaknya belajar disini semakin hari semakin tinggi. Wajar kalau kami memilih tempat ini sebagai lokasi peringatan menyambut 1 Muharram 1438 H,”kata Yulius lagi.

Sementara itu, Ustadz Awwalin selaku pembina Ponpes Hidayatullah Daik mengatakan bahwa rencana awal kegiatan Muharram diserangkaikan dengan peresmian 2 (dua) Ruang Kelas Baru hibah dari Bank Riau Kepri.

“Rencana awal peresmian bangunan dari Bank Riau sekaligus kegiatan Muharram, tapi dikarenakan pihak Bank Riau belum bersedia jadi kita laksanakan kegiatan Muharram saja,”jelas Awwalin.

“Untuk biaya kegiatan ini disponsori oleh pihak Kecamatan Lingga serta para donatur yang ada di Daik. Untuk penutupan akan kita laksanakan Selasa nanti,” lanjut Awwalin.

Beberapa cabang lomba yang diadakan seperti azan, tartil Qur’an, bacaan sholat untuk golongan Sekolah Dasar; ceramah agama, dan cerdas cermat untuk SMP dan SMA sederajat. Serta hafalan surat Al Mulk, Waqiah, Yasin serta Arrohman untuk ibu-ibu.

“Di malam penutupan akan diadakan ceramah oleh 3 (tiga) orang Ustadz, yaitu Setiadi, Badiul Hasani, serta Andi Arco. Juga akan dihibur oleh musik rebana MA YPKL Daik,” tutup Awwalin. (zaid/kem)

Mengarungi Romantisme Dakwah Bersama Pasangan

img_1387 img_1369Hidayatullah.or.id – Praktisi parenting yang juga pengasuh di Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat Balikpapan, Kalimantan Timur, Ustadz Zainuddin Musaddad, menekankan pentingnya para pelaku dakwah bersinergi dengan pasangannya.

Abah Zain, demikian ia karib disapa, melanjutkan, dengan sinergi dalam perjalanan mengawal dakwah ini akan melahirkan kesan romantis dalam tabuhan geraknya.

“Romantisme jihad dakwah itu jangan dibayangkan dampak positifnya nanti hanya bisa dirasakan pada yaumil akhir. Tetapi romantisme jihad ini bisa dirasakan di dunia sekarang ini,” urainya dengan nada menggugah.

Lebih jauh, Zainuddin menekankan, perjuangan dakwah kita ini harus terus dibarengi dengan doa, saling menyemangati, dan saling mendukung.

“Selalu hadirkan suasana surga di rumah-rumah kita sembari melakoni kerja-kerja dakwah yang memang tidak ada selesainya ini,” imbuhnya”.

Beliau meningatkan kepada segenap pengurus untuk terus bergerak melandingkan dakwah khususnya di Bali.

Abah Zain berpesan untuk melawan tiga “musuh” yang sering bercokol dalam diri, yakni, (1) jangan tunduk pada alasan, (2) jangan tunduk pada kemalasan dan (3) jangan tunduk pada sikap manja.

“Jika ketiga ini sudah mampu kita aplikasikan dalam berorganisasi, niscaya kejutan-kejuatan dari Allah sebagai ‘hadiah’ akan kita rasakan bersama,” tegasnya.

Muhasabah Muharram Hidayatullah Bali

Zainuddin Musaddad melaksanakan kegiatan silaturahim dakwah yang dibingkai dalam Muhasabah Muharram di Kota Denpasar Bali sejak tanggal 6-8 Muharram 1438 H.

Ketua Dewan Pembina Hidayatullah Bali Ust Abdullah Ihsan, mengingatkan pentingnya evaluasi atau muhasabah diri dan lembaga secara kolektif.

“Allah selalu memberikan apa yang terbaik kepada kita. Namun kadang kala manusia belum mampu menerima kenyataan terhadap yang diberikan oleh Allah karena belum sesuai dengan ‘kemauan’ manusia itu sendiri. Inilah salah satu fungsi kita muhasabah dalam rangka penguatan akan tugas-tugas kita di lembaga ini”, ujarnya.

Pengurus Wilayah Hidayatullah Daerah Istimewa Bali mengimbuhkan agenda dakwah ini akan terus dikuatkan agar semangat dakwah di Bali tetap terjaga bahkan terus meningkat.

Gelaran silaturahim ini menjadi agenda rutin yang dibingkai dalam kegiatan safari dakwah setiap tiga bulan sekali, seperti disampaikan oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Bali, Ust. Muhammad Salim, MA.

“Kegiatan silaturahim dakwah ini akan kita kawal bersama sebagai ajang berbagi rasa semangat dakwah, memperkokoh silaturahim, sehingga menuju proses dalam bingkai ketaatan kepada Allah Ta’ala,” kata Salim.

Salim melanjutkan, kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan pencerahan dan penguatan kepada pengurus baik tingkat wilayah dan daerah. Juga bagi pengurus Mushida tingkat Wilayah dan juga daerah.

Momentum bulan Muharram, terang dia, diharapkan dapat menjadi momentum evaluasi sejauh mana pencapaian di tahun lalu dan menancapkan program di tahun ini dengan program yang lebih baik lagi.*/ Yusran Yauma, Hidayatullah Bali