Beranda blog Halaman 582

Hidayatullah Dorong Semarakan Tahun Baru Islam 1438 Hijriyah

Ketua Bidang Dakwah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ustaz Tasyrif Amin / dok
Ketua Bidang Dakwah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ustaz Tasyrif Amin / dok

Hidayatullah.or.id – Kampus-kampus Pondok Pesantren Hidayatullah se-Indonesia khususnya yang berpredikat Kampus Induk dan Kampus Utama didorong untuk turut menyemarakan pergantian tahun baru 1438 hijriyah.

Ketua Bidang Tarbiyah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Drs Tasyrif Amin, M.Pd.I, mengatakan syiar tahun baru islam Hijriyah dapat dilakukan diantaranya dengan kegiatan lailatul ijtima’, pengajian umum, seminar, atau silaturrahim gabungan.

“Salah satu tema pencerahan adalah membangun sinergitas, mengokohkan tarbiyah dan dakwah,” kata Tasyrif dalam keterangannay diterima media ini, Rabu (28/09/2016).

Tasyrif mengatakan, tahun baru Hijriyah mengingatkan kita pada peristiwa besar dalam sejarah perjuangan Islam.

Momentum tersebut, sambung dia, adalah tonggak baru Peradaban Islam, sebuah tahapan manisfestasi Islam sebelum ekspansi secara terbuka.

Karenanya, menurut Tasyrif, umat muslim dan juga lembaga perjuangan Islam hendaknya menyambut datangnya tahun baru untuk menghadirkan spirit hijrah, yaitu spirit membangun peradaban Islam, sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah dan shahabatnya setelah hijrah ke Madinah.

“Dalam konteks tarbiyah dan dakwah Hidayatullah, peristiwa hijrah menjadi momentum sangat berharga sejak periode awal lembaga ini,” imbuhnya.

Tasyrif menjelaskan, pada masa pendiri Hidayatullah Allahu Yarham Abdullah Said, tanggal 1 Muharram adalah momen transformsi dan konsolidasi secara nasional yang disebut dengan Silatnas.

“Dan, terbukti bahwa Silatnas saat itu adalah magnet power yang mampu menghadirkan dan merekrut tenaga-tenaga potensil Hidayatullah,” tukasnya.

Seperti diketahui, sebentar lagi umat Islam akan memasuki tahun baru hijriyah 1 Muharram 1438 yang dalam perhitungan kalender masehi jatuh pada tanggal 2 Oktober mendatang. (ybh/hio)

Keteladanan Ilmu, Proses Tarjih Berlapis-lapis dalam Madzhab

0

tarjih-berlapis-lapis-dalam-madzhabHidayatulah.or.id – YANG amat penting untuk diketahui sebelum membahas lebih jauh mengenai tarjih dalam madzhab, adalah makna madzhab itu sendiri. Imam Al Mahalli menyatakan mengenai madzhab As Syafi’i, yakni apa-apa yang dipilih oleh Imam As Syafi’i dan para pengikutnya terhadap hukum dalam berbagai masalah. (lihat, Hasyiyata Al Qalyubi wa Amirah, 1/7)

Dari keterangan di atas, maka madzhab sejatinya adalah hasil ijtihad kolektif antara imam madzhab dengan para ulama pengikutnya, yang jumlahnya ribuan dalam kurun waktu yang cukup lama. Dimulai dari sejak sang imam hidup hingga pada saat ini. Di masa yang amat panjang itu, pemikiran yang dihasilkan dalam madzhab “digodog”, ada sanggahan ada jawaban, ada tambahan ada pengurangan, ada penguatan ada pelemahan. Hingga sampai pemikiran madzhab itu sampai kepada kita di masa ini.

Baiklah, untuk melihat betapa panjangnya proses “penggodogan” pemikiran dalam madzhab fiqih ini, mari sama-sama mengikuti aliran panjang sebuah pimikiran madzhab, sebagai contohnya, dalam hal ini madzhab Asy Syafi’i.

Imam As Syafi’i, mujtahid yang telah menggabungkan pemikiran ahlul hadits dan ahlu ra’yi ini setelah melakukan perjalanan panjang dalam menuntut ilmu, di Makkah, Madinah, Yaman, dan Iraq. Imam Asy Syafi’i telah mengambil ilmu dari para ulama besar seperti Muslim bin Khalid, Imam Malik serta Muhammad bin Hasan murid Imam Abu Hanifah. Setelah menetap di Iraq, Imam As Syafi’i pun menulis hasil ijtihadnya yang dikenal dengan Al Hujjah, yang disebut madzhab qadim.

Namun, Imam Asy Syafi’i tidak berhenti dengan kitab Al Hujjah. Setelah melakukan pengembaraan di Mesir, Imam As Syafi’i banyak merubah pendapatnya. Bahkan sang Imam melarang menisbatkan pendapat madzhab qadim kepadanya. Pendapat Imam Asy Syafi’i di Mesir ini yang disebut madzhab jadid. Hingga akhirnya Imam As Syafi’i mengahasilkan empat kitab, yakni Al Imla’, Mukhtashar Al Buwaithi, Mukhtashar Al Muzani, dan Al Umm. Nah, di masa sang Imam masih hidup, proses penggalian tidak berhanti. Proses revisi terus berlanjut.

Setelah Imam Asy Syafi’i (204 H) wafat, ganti, para murid beliau meneruskan penyempurnaan. Mereka berijtihad terhadap persoalan yang belum dihukumi imam, juga melakukan ijtihad yang hasilnya berbeda dengan imam dalam satu masalah.

Kemudian datanglah Imam Al Haramain Al Juwaini (478 H) menulis Nihayah Al Mathlab fi Dirayah Al Madzhab, yang merangkum keempat kitab Imam As Syafi’i atau mensyarah Muktashar Al Muzani. Dikupas di dalamnya khilaf para ulama Syafi’iyah dan tarjih terhadap persoalan.

Nihayah Al Mathlab, dengan formatnya yang cukup besar tidak semua pihak bisa mengkajinya, akhirnya datanglah sang murid, Imam Al Ghazali (505 H) meringkas Nihayah Al Mathlab menjadi Al Basith dalam format ringkasan yang besar, kemudian diringkas lagi menjadi Al Wasith dalam format tanggung, kemudian diringkas lagi menjadi Al Wajiz dalam format yang lebih kecil, kemudian diringkas lagi menjadi Al Khulashah dalam format yang paling kecil.

Tarjih Ar Rafi’i dan An Nawawi

Setelah itu, datanglah Imam Ar Rafi’i (624 H), ulama tarjih dalam madzab As Syafi’i menulis Al Aziz atau Fath Al Aziz yang mensyarah Al Wajiz Imam Al Ghazali. Kemudian, Imam Ar Rafi’i juga menulis Al Muharrar, yang mana ada pihak yang berpendapat bahwa ia merupakan ringkasan dari Al Wajiz atau Al Khulashah Imam Al Ghazali, meski ada yang berpendapat bahwa ia karya yang independen tidak meringkas ke dua-duanya. Imam Ar Rafi’i dalam hal ini berperan mentarjih pendapat-pendapat dalam madzhab.

Kemudian datanglah Imam An Nawawi (676 H) menulis Raudhah Ath Thalibin yang merupakan ringkasan dari Al Aziz atau Fath Al Aziz karya Ar Rafi’i, juga meringkas Al Muharar menjadi Minhaj Ath Thalibin. Di sini, Imam An Nawawi tidak sekedar meringkas, namun terkadang mendukung tarjih Imam Ar Rafi’i atau kadang mengkritiknya.

Karena penguasaan Imam Ar Rafi’i dan Imam An Nawawi dalam madzhab As Syafi’i dan kajian terhadap madzhab sangat mumpuni, maka para muhaqiqin dalam madzhab Asy Syafi’i sepakat bahwa kitab-kitab yang ada sebelum Imam Ar Rafi’i dan An Nawawi, tidak bisa dijadikan pijakan, kecuali setelah melakukan pengkajian hingga akhirnya mengetahui pendapat paling rajih dalam madzhab, tentu bagi yang memiliki kemampuan tersebut. Hal ini dikarenakan banyak ikhtilaf dan banyak tarjih. Dan puluhan penulis telah menetapkan hukum namun pada kenyataannya hal itu merupakan pendapat yang syadz dan menyelisihi jumhur (lihat, Al Khazain As Saniyah, hal. 162).

Tarjih yang disepakati oleh Imam An Nawawi dan Imam Ar Rafi’i adalah tarjih yang paling kuat. Kecuali jika muta’akhirin bersepakat bahwa dalam sejumlah perkara keduanya melakukan kesalahan tidak disengaja. Jika berbeda antara tarjih antara Imam An Nawawi dan Ar Rafi’i, maka kebanyakan didahulukan pendapat Imam An Nawawi. Hal ini dikerenakan Imam An Nawawi telah melakukan pengkajian secara maksimal dalam madzhab (lihat, Al Khazain As Saniyah, hal. 170).

Imam An Nawawi sendiri, semasa beliau hidup, telah menghidmatkan umurnya untuk melakukan kajian mendalam terhadap syariat, hingga tarjih masih terus dilakukan. Dimana kadang terjadi perbedaan hukum antara kitab karya ulama besar ini sendiri. Sebab itulah yang diutamakan adalah kitab yang paling terakhir ditulis, yakni At Tahqiq baru Al Majmuk, kemudian At Tanqih lalu Raudhah Ath Thalibin, lalu Minhaj Ath Thalibin lalu Syarh Shahih Muslim, lalu Al Fatawa, lalu Tashih At Tanbih lalu Nukat At Tanbih (lihat, Al Khazain As Saniyah, hal. 170).

Gerakan Tarjih Kurun ke 10

Berhenti? Belum. Gerakan penulisan madzhab dan tarjih masih terus beranjut. Di kurun ke 10 Hijriyah, muncullah deretan ulama Syafi’iyah melanjutkan gerakan ini. Ada Syeikh Al Islam Zakariya Al Anshari (926 H) yang meringkas karya Imam An Nawawi, Minhaj Ath Thalibin dengan nama Manhaj Ath Thullab yang kemudian disyarh kembali menjadi Fath Al Wahhab. Syeikh Zakariya juga mensyarah Raudh Ath Thalib karya Ibnu Muqri yang merupakan ringkasan Raudha Ath Thalibin karya An Nawawi dengan judul Asna Al Mathalib.

Syeikh Zakariya tidaklah sendirian. Di sana ada tiga muridnya yang memperkuat gerakan ini, ke tiga-tiganya mensyarh kitab Minhaj Ath Thalibin karya Imam An Nawawi. As Syarbini mensyarah Minhaj Ath Thalibin menjadi Mughni Al Muhtaj, Ar Ramli mensyarahnya menjadi Nihayah Al Muhtaj sedangkan Al Haitami mensyarahnya menjadi Tuhfah Al Muhtaj. Ketika 4 guru-murid ini sepakat dalam satu pendapat, maka itulah yang mu’tamad dalam madzhab (lihat Al Khaza`in As Saniyyah, hal. 170).

Tarjih Ar Ramli dan Al Haitami

Meski peran ke empat ulama cukup besar, namun akhirnya semua kembali kepada dua, Ar Ramli dan Al Haitami. Jika keduanya sepakat dalam satu masalah, maka itulah yang mu’tamad dalam madzhab, kecuali jika ada keroksi dari ulama setelahnya bahwa telah terjadi kekeliruan yang tidak disengaja (Al Haza`in As Saniyyah, hal. 174).

Namun, jika terjadi perbedaan antara keduanya, maka bagi ulama Mesir, mereka lebih mendahulukan Ar Ramli, karena Nihayah Al Muhtaj secara lengkap telah dibaca oleh 400 ulama di hadapan penulisnya, dan mereka telah melakukan koreksi dan kritikan. Sedangkan untuk ulama Hijaz dan Yaman. Namun, setelah para ulama, baik Mesir maupun Hijaz berinteraksi, maka dalam fatwa bisa memilih salah satu dari keduanya, atau memilih berdasarkan ijtihad jika memiliki kemampuan untuk itu.

Karena terus dilakukan kajian, proses tarjih kedua ulama ini pun terus berjalan. Hingga tidak heran ada perbedaan tarjih. Sebab itulah untuk Ibnu Hajar Al Haitami, tarjih yang paling diutamakan adalah yang diambil dari Tuhfah Al Muhtaj, baru Fath Al Jawwad, lalu Al I’ab kemudian Al Fatawa. Sedangkan untuk Ar Ramli jika ada perbedaan antara Nihayah Al Muhtaj dengan Syarh Al Idhah, maka didahulukan An Nihayah (Al Khaza`in As Saniyyah, hal. 177).

Gerakan Pasca Ibnu Hajar dan Ar Ramli

Fiqih dalam madzhab As Syafi’i terus menerus mengalir, penyempurnaan dan penghukuman terhadap masalah-masalah baru terus berjalan. Tatkala terdapat persoalan yang belum dihukumi oleh Ibnu Hajar dan Ar Ramli, maka fatwa diambil dari pendapat Syeikh Zakariya dan Khatib Asy Syarbini lalu para Ashab Al Khawasi, yakni mereka yang mencatat pendapatnya dalam mengomentari karya-karya ke empat ulama ini.

Ashab Al Khawasi yang banyak dirujuk dalam fatwa diantaranya adalah Az Ziyadi, Ibnu Qasim, Amirah, Asy Syubramulusi, Al Halabi, Asy Syubari, dan Al Inani.

Demikianlah jalan panjang pemikiran madzhab yang terus menyempurnakan diri dalam kurun lebih dari 10 abad. Diarsiteki oleh mereka yang memiliki otoritas, ribuan ulama dari mujtahid dengan metode yang konsisten yang telah digariskan oleh imam madzhab, didukung oleh mufasir, muhaddits, lughawi dan lainnya. Tentu, hal ini tidak akan didapati dari fiqih hasil pemikiran yang baru menjalani proses perjalanan di masa kontemporer ini, baik yang digagas oleh kelompok, lebih-lebih perorangan.

Dengan menelusuri perjalanan yang teramat panjang ini, kita akhirnya mengetahui bahwa madzhab fiqih bukanlah bentuk kejumudan, namun penuh dengan dinamika, ijtihad dan tarjih dilakukan terus-menerus secara berkesinambungan. Meski demikian, tetap berpegang kepada otoritas dan kemampuan para pelakunya.

Dengan menelusiri perjalanan yang teramat panjang ini, kita akhirnya juga mengetahui bahwa tidak semua kitab karya penganut madzhab bisa diambil. Ada kitab-kitab yang mu’tabar. Ada kitab-kitab telah menempuh proses tarjih secara maksimal dan ada yang belum. Dan yang diajarkan di pesantran As Syafi’iyah di negeri ini adalah kitab-kitab muta’akhirin yang telah melalui proses tarjih berlapis-lapis seperti di atas. Kitab mutaqadimin dipelajari ketika seseorang sudah mengetahui pendapat rajih dalam madzhab. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.*/ Sumber: Thoriq/ Hidayatullah.com

Walikota Resmikan PP Tahfidz Quran Hidayatullah Ternate

0

Hidayatullah.or.id – Walikota Ternate H. Burhan Abdurahman, SH, MM, hari Selasa (06/09/2016) melakukan peletakan batu pertama pembangunan Pondok Pesantren Tahfidz Hidayatullah Ternate di Kelurahan Gambesi Ternate Selatan, Provinsi Maluku Utara.

Walikota Ternate mengatakan, pembangunan Pondok Pesantren ini sejalan dengan salah satu misi Pemkot Ternate, yaitu menjadikan Kota Ternate menjadi Kota yang agamais.

“Prores Pembangunan ini adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya beban panitia. Tinggal sampaikan saja kebutuhannya ke pengusaha-pengusaha dan kepala SKPD Kota Ternate. Insya Allah mereka akan bantu, “ ujar Walikota Burhan Abdurahman.

Ditambahkan, sebagai modal awal Pemkot Ternate akan memberikan dana sumbangan sebesar 150 juta.

Hadir juga dalam acara ini Ustadz Naspi Arsyad, Anggota Dewan Mudzakarah sebagai perwakilan DPP Hidayatullah.

Naspi Arsyad mengatakan, pembangunan Pondok Pesantren Tahfidz ini merupakan salah satu wasilah umat untuk meraih kebaikan dan Surga Allah Subhanahu Wata’ala.

“Oleh karena itu mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan ini,” ujarnya.

Ketua Panitia, Ibu H. Jubaidah mengatakan, semoga dari Pondok Pesantren Tahfidz ini akan muncul bibit-bibit pengahal al-Quran di Maluku Utara, khuhusnya Kota Ternate.

Karena merekalah yang dapat memberikan syafaat kita nanti di Surga. Mengingat selama ini, penghafal al-Quran di Ternate dan Maluku Utara umumnya sangatlah sedikit. Karena mereka belajar penghafal al-Quran keluar daerah, misalnya ke Makasar atau Jawa, ujarnya.

“Oleh karena itu, melalui Pondok Tahfidz ini kita akan cetak kader-kader penghafal al-Quran di Kota Ternate, “ tandasnya.

Ada beberapa progam dalam Pondok Pesantren Tahfidz Hidayatullah Ternate ini. Misalnya; mewajibkan siswa untuk tahu baca tulis Al-Quran, menambah jam pelajaran diniyah pada kelas 4,5 dan Kelas 6 SD, serta pengiriman siswa-siswa daerah ke program tahfidzul quran di luar Ternate.*/Nurhadi (Halmahera)

Rasionalisasi Berdalih HAM Pengaruhi Perilaku Permisif

0
Ketua Umum PP Syabab Hidayatullah Muhammad Naspi Arsyad / dok
Ketua Umum PP Syabab Hidayatullah Muhammad Naspi Arsyad / dok

Hidayatullah.com – Terbongkarnya prostitusi anak ini tidak semata menunjukkan negara dan masyarakat lalai melindungi anak-anak, tapi terdapat masalah serius dalam cara pandang.

Demikian dikatakan Ketua Umum PP Syabab Hidayatullah Muhammad Naspi Arsyad dalam keterangannya kepada media di Jakarta, Ahad (04/09/2016).

“Semakin ke sini generasi muda kita terhantar menjadi semakin permisif dan hedonis. Ini saya kira terutama dipicu beragamnya usaha rasionalisasi terhadap hal yang selama ini dianggap tabu seperti perilaku LGBT,” kata Naspi.

Akibatnya kemudian, lanjut Naspi, upaya rasionalisasi dengan dalih akademik dan keleluasaan HAM yang dianut semakin mendorong generasi muda terpengaruh dengan arus yang ada.

“Apalagi yang memang sudah bermasalah dari rumah atau lingkungannya, peluang terseret semakin terbuka. Perilaku yang sebelumnya secara umum adalah abnormal, akhirnya pelan-pelan dianggap normal bahkan mendesak dilegalisasi,” tukasnya.

Karena itu, Naspi mengatakan pihaknya mendukung uji materil dan berharap Mahkamah Konstitusi (MK) merevisi pasal 284, 285 dan 292 KUHP tentang perzinaan, perkosaan, dan perbuatan cabul sesama jenis, agar tidak ada kekosongan hukum untuk perlindungan generasi bangsa.

Selain itu, Syabab Hidayatullah mengapresiasi jajaran kepolisian khususnya Cyberpatrol Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri yang berhasil mengungkap praktik besar prostitusi anak untuk kalangan homoseks.

“Ekspektasi publik terhadap polisi selalu tinggi. Kita berharap polisi selalu menjadi garda terdepan terutama dalam melindungi generasi muda Indonesia dari paparan negatif perilaku asusila,” katanya.

Naspi menambahkan, semua elemen masyarakat perlu membangun kesadaran bersama bahwa masalah prostitusi gay anak ini merupakan satu persoalan serius diantara sekian banyak problem kebangsaan kita yang hendaknya ditangani bersama.

“Masalah ini harus dilihat secara konfrehensif. Bukan saja pelaku yang harus ditindak setegas-tegasnya, melainkan juga para korban perlu mendapat perhatian serius agar tidak semakin tertekan,” pungkasnya.

Sebelumnya Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise menyebutkan korban yang masuk dalam jaringan prostitusi gay anak jumlahnya lebih dari 99 anak.

Menteri Yohana menyatakan ada 3.000 anak laki-laki yang menjadi korban perdagangan anak yang menyasar klien penyuka sesama jenis kelamin di Indonesia.

Hal itu disampaikan Yohana kepada wartawan usai menghadiri rapat kerja anggaran bersama Komisi VIII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (1/9/2016).

Menteri Yohana mengatakan data ini didapat pihaknya melalui pendataan beberapa bulan lalu dari seluruh daerah di Indonesia.

Karena itu Yohana menyiapkan langkah konkret berupa koordinasi intensif dengan lembaga di daerah yang berfokus pada perlindungan perempuan dan anak.

Wakil Presiden Jusuf Kalla kepada wartawan di kantornya, Jum’at (02/09/2016) menyatakan prostitusi anak online adalah pelanggaran berat sehingga meminta dilakukan tindakan tegas agar tindakan serupa tidak terjadi lagi.

Seperti diketahui, Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri membongkar praktik prostitusi homo online yang melibatkan anak usia di bawah umur pada salah satu hotel di Jalan Raya Puncak KM 75 Cipayung Bogor Jawa Barat pada Selasa (30/08/2016).

Meski Usia Kian Senja Harus Tetap Semangat dan Bijaksana

Pimpinan Umum Hidayatullah Abdurrahman Muhammad (kanan) berbincang dengan  mantan Rais Syuriah PBNU KH Ali Yafie / Syakur
Pimpinan Umum Hidayatullah Ust Abdurrahman Muhammad (kanan) berbincang dengan mantan Rais Syuriah PBNU KH Ali Yafie / Syakur

Hidayatullah.or.id – Pimpinan Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad berpesan agar para dai bijaksana dan terus bersemangat walaupun usia sudah menua.

Hal itu beliau sampaikan saat memberikan taushiah usai shalat shubuh di Masjid Agung Ummu Quro, Komplek Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu (03/09/2016) lalu.

“Di usia 60 tahun ke atas menurut Dokter THT, semua orang mengalami kemerosotan panca indera, dan fakta yang dirasakan juga seperti itu. Oleh karenanya, yang harus dilakukan oleh orangtua adalah bagaimana memberikan inspirasi kejuangan yang harus diwariskan kepada generasi pelanjut,” kata beliau.

“Nabi Nuh juga mengeluhkan perasaan yang sama disaat usia senja, bagaimana mewariskan risalah kepada generasi pelanjut. Sehingga, mesti tua semangat nggak boleh kendur,” ucapnya berpesan.

Beliau menceritakan baru datang dari menghadiri silaturrahim dan sarasehan pendiri Hidayatullah di Batam, Kepulauan Riau, yang turut dihadiri senior diantaranya Ust. Hasan Ibrahim, Ust Hasyim HS dan ust. Nadzir Hasan. Acara sarasehan tersebut digelar bersamaan dengan halaqoh DPPU dan MP.

“Semuanya, dalam rangka menggali inspirasi selama beliau dalam perjalanan di Hidayatullah ini, sejak awal sampai kini. Dan ini menjadi bagian dari transformasi itu. Dalam proses transformasi, diperlukan suasana dan lingkungan yang memadai,” imbuhnya.

Beliau menerangkan, umat manusia saat ini dikepung oleh sistem yang sangat berat, yaitu sistem global. Kita, lanjutnya, harus memenangkan sistem itu dengan membuat sistem yang lebih dari itu dengan meningkatkan kualitas kita.

“Perubahan yang dianggap mustahil oleh manusia itu, tidak akan pernah mustahil bila semua berawal dari inspirasi langit. Pasti Allah memberikan mukjizat, jalan keluar. Dan, ini butuh proses,” tukasnya.

Dalam pada itu, beliau mengingatkan bahwa orang-orang tua harus berusaha untuk mewariskan inspirasi ini kepada generasi baru. Sehingga generasi baru dapat memandang kehidupan ini secara menyeluruh، dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada di sekelilingnya.

Dikatakannya, para orangtua perlu terus menginjeksikan prinsip-prinsip perjuangan kepada kader-kader muda dengan diantaranya seruan meneladani figur Umar bin Khattab yang dikenal sebagai khalifah prestisius yang jasanya tak berbilang dalam mengekspansi dakwah Islam yang luhur.

“Bukan berarti Umar lebih hebat dari yang lain, sebab semua khalifah dan sahabat sesudahnya memiliki kemampuan dan keutamaan di atas rata-rata,” imbuhnya.

Karenanya, beliau mendorong umat Islam khususnya para kader untuk membangun sistem kepemimpinan yang kokoh dengan menjalin relasi internasional sehingga kita tidak tertinggal oleh kekuatan lain. Apalagi umumnya di Eropa saat ini telah menunjukkan tren kesadaran berislam yang kian menggemberikan.

“Maka interaksi kita dengan dunia internasional harus ditingkatkan. Namun secara intens kita perlu meningkatkan prinsip-prinsip yang kita bawa seperti kultur Ibadah, karakter, bersih, etos kerja, dan lain-lain,” pesannya.

Dengan demikian, dia berharap umat semakin mengagumi Hidayatullah sebagai lembaga yang mengimplementasikan nilai-nilai luhur ajaran Islam tersebut dengan intelektualitas kadernya yang selaras dengan tuntunan Islam.

“Saat ini anak-anak kita lebih cepat menyerap perkembangan teknologi. Mereka tidak mengalami kesulitan dibandingkan dengan orang tua. Namun, kita sekali lagi perlu menanamkan prinsip-prinsipnya atas adasar iman,” ujarnya.

Komitmen Pembinaan

Masih pada kesempatan yang sama, Ustadz Rahman, demikian ia karib disapa, mendorong program pembinaan dan kaderisasi agar dialukan sedini mungkin.

“Sebaiknya kita tidak mulai membina kader saat mereka di Perguruan Tinggi. Karena tokoh-tokoh nasional dulu adalah yang kenyang dengan pengalaman sejak usia belia. Maka sejak anak SMP dan SMA perlu dibekali dengan idealisme,” pesannya.

Dan, lanjutnya, di setiap pondok perlu ada orangtua yang selalu memberikan spirit. Di samping itu juga perlu ada pelayanan berupa pengasuh-pengasuh yang berkualifikasi standar Hidayatullah.

“Dan kini kita perlu mempersiapkan itu semua dan harus dilakukan proses sesuai dengan manhaj Nubuwwah. Hidayatullah telah mempersiapkan itu dengan manhaj Sistematika Wahyu,” katanya.

Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya diadakannya halaqah untuk para kader. Halaqah akan melahirkan kultur yang baik itu.

“Sehingga kita hadir dibumi ini harus melahirkan ​ahsanul amala. Sebab jangan sampai orangtua gelisah, jika tidak ketemu generasi pelanjut risalah, namun hanya berjumpa ​pecinta harta dan dunia,” pungkasnya. */Asih Subagyo

[DOWNLOAD] Naskah Khutbah Idul Adha 1437 Hijriyah

0

HIDORID – Berikut ini naskah khutbah Idul Adha 1437 Hijriyah, dirilis PP Hidayatullah. Semoga bermanfaat dan dapat dimanfaatkan seluas-luasnya kaum muslimin.

DOWNLOAD, KLIK DI SINI (Acrobat Reader/Pdf)

Imam Malik dan Uswah Mulia dalam Toleransi Madzhab

0

Imam Malik dan Uswah dalam Toleransi MadzhabHidayatullah.or.id – IMAM MALIK BIN ANAS selaku mujtahid, lebih-lebih mujtahid mutlak yang merupakan sebutan bagi sejumlah orang yang memiliki derajat tertinggi dalam ijtihad pastilah memahami Al Qur`an dan As Sunnah lebih banyak daripada ulama yang tidak sampai pada derajat itu, lebih berhati-hati dalam berfatwa, serta telah mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimiliki dalam berijtihad, hingga sampai bahwa pendapatnya paling dekat dengan kebenaran.

Namun meski demikian, Imam Malik enggan untuk memaksakan pendapatnya kepada mereka yang ternyata telah berpegang kepada selain madzhab beliau. Bahkan beliau menolak usulan tiga khalifah Abasiyah yang menginginkan agar madzhab ulama Madinah ini diterapkan di seluruh negeri Muslim dan malah menyarankan agar umat Islam tetap dibiarkan menganut madzhabnya masing-masing.

Permintaan Khalifah Abu Ja’far Al Manshur kepada Imam Malik

Sejumlah ulama telah mencatat percakapan antara ulama besar salaf ini dengan para khalifah mengenai parkara di atas. Ibnu Abi Hatim dalam muqadimah Al Jarh wa At Ta’dil (hal. 59) mencatat bahwa suatu saat Khalifah Abu Ja’far Al Manshur mengatakan kepada Imam Malik,”Aku benar-benar menginginkan agar ilmu ini hanya satu saja, maka aku tulis ilmu itu kepada para pemimpin pasukan lantas dan para hakim lantas mereka menerapkannya. Barang siapa menolak maka aku penggal lehernya!”

Imam Malik pun menjawab,”Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dulu berada di tengah umat ini, dan mengirim pasukan serta beliau sendiri keluar untuk berperang dan tidak banyak negeri yang dibebaskan sampai Allah Azza wa Jalla memanggil beliau. Kemudian setelah beliau, Abu Bakr Radhiyallahu’anhu melanjutkan dan tidak terbebaskan banyak negeri.

Kemudian selanjutnya Umar Radhiyallahu’anhu melanjutkan, hingga terbebaskanlah banyak negeri melalui tangannya. Sebagai akibatnya, maka Umar mengirim para sahabat Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam sebagai guru. Dan secara berkesinambungan diambillah ilmu dari mereka oleh ulama besar dari ulama besar hingga saat ini. Jika engkau pergi untuk mengubah mereka dari apa-apa yang mereka ketahui menuju hal-hal yang tidak mereka kenal, maka mereka akan menilai hal itu sebagai kekufuran. Akan tetapi biarkanlah penduduk setiap negeri berpijak kepada ilmu yang ada pada mereka. Ambillah ilmu ini untuk dirimu sendiri”

Khalifah Abu Ja’far Al Manshur pun menjawab,”Perkataan Anda tidaklah salah. Tulislah ilmu ini untuk Muhammad”, yakni putranya Al Mahdi yang akan menjadi khalifah setelahnya.

Dalam riwayat Ibnu Sa’d dari gurunya Al Wakidi, bahwa ketika Abu Ja’far Al Manshur melakukan haji, ia mengundang Imam Malik. Dalam kesempatan itu, Abu Ja’far Al Manshur menyampaikan,”Aku telah bertekad untuk memerintahkan dengan kitabmu ini- yakni Al Muwaththa’-, lalu engkau salin, kemudian aku mengirimnya ke setiap negeri kaum Muslimin satu naskah dan aku memerintahkan mereka untuk menerapkannya serta tidak berpaling kepada selainnya, lalu mereka meninggalkan ilmu baru selainnya. Sesungguhnya aku berpendapat bahwa ilmu yang murni adalah adalah riwayat Madinah dan ilmu mereka”.

Imam Malik pun menjawab,”Wahai Amirul Mukminin, janganlah Anda lakukan hal itu. Sesunggunya telah sampai terlebih dahulu kepada mereka pendapat-pendapat, mereka menyimak hadits-hadits, mereka juga meriwayatkan periwayatan. Dan setiap kaum mengambil dari apa yang datang terlebih dahulu kepada mereka dan mereka mengamalkannya. Serta dengan ilmu itu, mereka hina dengan perselisihan manusia dan selainnya. Dan jika Anda jauhkan mereka dari apa yang mereka yakini, maka hal itu cukup memberatkan. Maka biarkan manusia bersama dengan apa yang mereka pijak dan apa yang dipilih oleh setiap negeri untuk mereka masing-masing”. (Thabaqat Ibnu Sa’d, hal. 440)

Al Wakidi dikenal dhaif dalam hadits, namun dalam periwayatan sejarah para ulama menerima periwayatnnya.

Permintaan Khalifah Al Mahdi kepada Imam Malik

Dalam Tartib Al Madarik juga disebutkan dialog, kali ini antara Imam Malik dengan Khalifah Al Mahdi. Al Mahdi berkata,”Wahai Abu Abdullah, tulislah sebuah kitab yang aku bawa umat ini kepadanya”.

Imam Malik pun menjawab,”Adapun negeri Maghrib, engkau telah dicukupkan olehnya. Adapun Syam, terdapat Al Auza’i, sedangkan penduduk Iraq, mereka adalah ahlul Iraq” (Tartib Al Madarik, 1/193)

Hal itu disebabkan karena banyak murid Imam Malik yang berada di Mahgrib, sedangkan di Syam ada Imam Al Auza’i, maka tidak perlu mendesak madzhab mereka serta membiarkan setiap negeri dengan madzhab yang dianut. Kisah yang sama dicatat Imam Adz Dzhabi dalam Siyar A’lam An Nubala 8/78)

Permintaan Khalifah Ar Rasyid kepada Imam Malik

Al Hafidz Abu Nu’aim dalam Hilyah Al Auliya (6/322)meriwayatkan bahwa Imam Malik bermusyawarah dan Ar Rasyid dalam tiga perkara, salah satunya adalah usulan untuk menempelkan Al Muwaththa dan membawa manusia sesuai dengan apa yang di dalamnya. Maka Imam Malik pun menjawab,”Sesungguhnya sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berselisih dalam masalah furu’, dan mereka menyebar di seluruh penjuru, dan semuanya bagi diri mereka sendiri adalah perkara yang benar”.

Kisah ini sanadnya hasan menurut Imam Adz Dzhabi, namun beliau berpendapat bahwa kisah terjadi antara Al Mahdi dengan Imam Malik, bukan Ar Rasyid.

Sedangkan Al Hafidz Al Khatib Al Baghdadi dalam Ar Ruwat ‘an Malik menyebutkan bahwa Ar Rasyid menyampaikan,”Wahai Abu Abdullah, kita tulis kitab-kitab ini dan kita sebar ke seluruh penjuru negeri Islam untuk membawa umat kepadanya!”

Imam Malik pun menjawab,”Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ikhtilaf umat adalah rahmat dari Allah atas umat ini, semuanya mengikuti apa yang benar menurut mereka, semuanya di atas hidayah, semuanya menginginkan Allah”. (lihat, Kasyf Al Khafa’, 1/65)

Dalam Hilyah Al Auliya disebutkan periwayatan yang sama, namun antara Imam Malik dan Al Makmun, dan riwayat ini dikritik oleh Qadhi Iyadh dalam Tartib Al Madarik (1/209), karena Imam Malik tidak mengalami masa Al Makmun dan wafat sebelumnya sedangkan riwayat yang shahih adalah dialog antara Imam Malik dan Ar Rasyid.

Sedangan Al Muhaddits Muhammad Awwamah berpendapat bahwa tidak ada masalah adanya permintaan berulang-ulang dari Abu Ja’far, kemudian anaknya Al Mahdi lalu Ar Rasyid karena hal itu memang memungkinkan.

Dan yang paling penting dari seluruh periwayatan ini adalah kesamaaan pernyataan mengenai penolakan Imam Malik terhadap usulan untuk membawa seluruh umat Islam kepada madzhab beliau dan membiarkan agar umat Islam tetap berada dalam madzhab yang mereka anut.

Apa yang disampaikan oleh Imam Malik merupakan tauladan bagi semua umat Islam dalam merespon perbedaan madzhab fiqih dengan sikap yang sangat bijaksana. Semoga kita bisa mengikutinya.*/ Sumber: Hidayatullah.com

Umat Islam Diingatkan Tidak Euforia Rayakan Kemerdekaan

IMG-20160902-WA036 IMG-20160902-WA037 IMG-20160902-WA028 IMG-20160902-WA031 IMG-20160902-WA034 IMG-20160902-WA030Hidayatullah.or.id – Masih dalam suasana perayaan kemerdekaan RI, umat Islam diingatkan untuk tidak tenggelam dalam euforia perayaan. Apalagi jika berimbas kepada perayaan yang sia-sia dan tak bermanfaat.

Hal itu disampaikan oleh Tokoh Perbankan Syariah Indonesia, Dr. Muhammad Syafii Antonio, M. Ec, di Masjid Agung ar-Riyadh, Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat Balikpapan, Kalimantan Timur, beberapa waktu lalu.

“Indikasi kemerdekaan suatu bangsa dilihat dari kemerdekaan ekonomi. Tak ada kemandirian ekonomi tanpa ditopang oleh kemandirian finansial,” ungkap Syafii Antonio.

Bedanya, lanjut tokoh yang sudah “mengislamkan” belasan bank konvensional itu, seorang Muslim yang jadi pegiat ekonomi tidak boleh mementingkan keuntungan pribadi dan keluarga semata.

“Lihatlah teladan para sahabat Nabi yang konglomerat. Semua kekayaannya habis untuk kepentingan dakwah dan memajukan umat Islam,” ujar cendekiawan Muslim keturunan Tionghoa tersebut.

Lebih jauh, Syafii Antonio mengajak untuk melakukan redefenisi dari istilah “fardhu kifayah”. Dikatakan, selama ini makna ungkapan itu sudah tergerus dan mengalami penyempitan makna.

“Fardhu kifayah itu jadi sempit artinya. Orang tahunya hanya memandikan jenazah dan mengantar ke kuburan saja,” ucap pendiri Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia.

Padahal, menurut Syafii, jihad di bidang ekonomi juga mutlak dlakukan oleh umat Islam untuk memajukan dakwah.

Jika diabaikan, semua bisa menanggung dosa. Akibatnya, seluruh sektor ekonomi dikuasai oleh non Muslim sekarang ini.

“Kini hampir seluruh produk yang dikonsumsi kaum Muslimin berasal dari non Muslim. Termasuk industri makanan dan obat-obatan,” tutup Syafii mengingatkan.

Dalam kunjungan ke Kota Balikpapan tersebut, dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) STEi Tazkia dengan Pesantren Hidayatullah.

Acara itu dilakukan sederhana dan wakil dari Hidayatullah adalah Ketua Umum Nashirul Haq Lc MA. Sinergi dengan Hidayatullah dilakukan karena kedua lembaga ini mempunyai visi yang sama yaitu pengembangan pendidikan, dakwah, serta pemberdayaan ekonomi umat berbasis syariah.

Melalui MOU ini diharapkan terjadi penguatan diantara kedua pihak sehingga bisa menjadi lembaga yang kuat dan solid untuk mencapai visi masing-masing dimasa datang.

Doktor banking micro finance dari University of Melbourne ini  juga beraudiensi dengan Wali Kota Balikpapan H Rizal Effendi SE di rumah dinasnya */ Masykur Abu Jaulah

Sarasehan Nasional III Perintis Hidayatullah Kembali Digelar

IMG-20160902-WA012Hidayatullah.or.id – Kampus Pesantren Hidayatullah Batam kembali menjadi tempat berkumpulnya para pendiri dan perintis Hidayatullah dalam ajang temu silaturrahim bertajuk Sarasehan Nasional III Pendiri dan Perintis Hidayatullah.

Dalam pembukaan saraseham III tahun ini mengangkat tema “Menggali Pemikiran dan Kiprah Abdullah Said”.

Pada pembukaan acara hari ini di Gedung Asia Raya Kampus Hidayatullah Batam, Jum’at (02/09/2016) sesepuh pendiri dan perintis Hidayatullah diberi kesempatan untuk menyampaikan nasihat dan testimoni. Diantaranya Ust Hasan Ibrahim, Ust Hasyim dan Ust Nazir Hasan.

Kesempatan pertama diberikan kepada Hasan Ibrahim. Tidak banyak yang beliau sampaikan, hanya mengambil spirit dari kisah Muhammad Al Fatih dan gurunya Aaq Syamsuddin.

Kata Ust Hasan, kekuatan doa telah mengantarkan Al Fatih menaklukkan Konstantinopel. Artinya, terang beliau, kita (para pendiri dan perintis) statusnya sudah menjadi guru yang senantiasa mendoakan murid-murid generasinya.

Ust Hasan yang juga satu dari 5 pendiri Hidayatullah yang masih hidup ini berseloroh bahwa kehadirannya Ke Batam bagi beliau adalah “numpang sakit”, “numpang mati” karena sakit diabetes yang sedang diderita.

Namun, dengan modal tekad dan keyakinan silaturrahim beliau tetap berangkat dan Alhamdulillah sehat.

Lalu kemudian testimoni kedua disampaikan oleh Ust Hasyim. Kata dia, sepeninggal Ust Abdullah Said menjadi kegelisahan tersendiri bagi para pendiri dan perintis serta santri awal karena sesungguhnya ide Ust Abdullah Said belum sampai kepada puncaknya.

“Namun, harapan-harapan dari beliau Alhamdulillah sudah terwujud,” kata Ust Hasyim.

Selanjutnnya testimoni dari Ust Nadzir Hasan. Beliau menilai kehadiran sosok almarhum Abdullah Said dan spiritnya karena beliau sangat mengkaji dengan matang wa idzqaala rabbuka lil malaikati inni jaa’ilu fil ardhi khalifah.

Kemudian beliau juga mengutip beberapa prinsip dakwah.

“Rubahlah diri anda baru merubah negara dan dunia. Bentuklah Islam pada dirimu baru bentuk Islam pada yang lain,” imbuh Nadzir.

Acara pembukaan dengan penyampaian serak pengalaman dakwah dari ketiga tokoh senior ini ditutup tausyiah yang disampaikan Pimpinan Umum, Ust Abdurrahman Muhammad yang membuka tausyiahnya dengan materi Ikhlas.

“Ikhlas adalah surat Al Ikhlas. Hidup dan mari karena kalimat Al Ikhlas yaitu Laa Ilaa Ha Illallah,” katanya.

Beliau menerangkan, pencapaian ikhlas melalui doa dan perjuangan. Ikhlas adalah ketergantungan hanya kepada Allah. Ikhlas memuat kandungan pesan nilai-nilai pengorbanan.

Sarasehan ini, terang beliau, adalah merupakan bagian dari pewarisan nilai untuk sebuh proses alih generasi yang dipersiapkan.

Pimpinan Umum juga menyinggung tulisan pengantarnya dalam buku “Generasi Progresif” karya Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga DPP Hidayatullah, Jamaluddin Nur.

Ust Abdurrahman menyebutkan, untuk melakukan percepatan lahirnya generasi Islam progresif dapat terlaksana karena, pertama, adanya pemahaman yang utuh.

Lalu yang kedua, adanya ketaatan. Dan, ketiga, harus ada uswah atau peragaan Islam yang kelak menjadi tauladan bagi generasi.

Beliau juga menyinggung fenomena Kebangkiatan yang ada, baik di negeri mayoritas Muslim maupun yang minoritas.

Acara pembukaan sarasehan ini ditutup dengan doa dan dilanjutkan dengan ramah tamah menyantap nasi tumpeng bersama. */ Muhammad Ramli

Melalui App Laznas BMH, Kini Anda Beribadah Lebih Mudah

Aplikasi Zakat BMHHidayatullah.or.id – Diantara kita barangkali pernah merasakan bagaimana susahnya mencari hewan qurban ketika tiba masanya musim haji.

Namun kini hal seperti itu tidak ada lagi dengan hadirnya aplikasi digital yang diluncurkan Lembaga Amil Zakat Nasiona Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH).

Baitul Maal Hidayatullah baru-baru ini meluncurkan Aplikasi zakat dan qurban untuk memudahkan para muzaki menunaikan kewajiban zakat.

Dengan peluncuran Apps ini, pihak BMH berharap bisa semakin dekat dengan umat sehingga berzakat dapat semakin mudah dan cepat. Termasuk di momentum kurban seperti sekarang, berkurban pun bisa lebih mudah melalui Apps LAZNAS BMH.

“Dalam aplikasi ini terdapat fitur yang beragam dan menu pembayaran multifungsi yang mudah digunakan untuk menunaikan donasi dalam menunaikan kewajiban dan mengasah kepedulian. Jadi, donasi lebih simple bisa ditunaikan dimana saja dan kapan saja,” kata Direktur Laznas BMH Supendi.

Kelebihan dari Aplikasi ini juga memberikan pembaruan info seputar BMH yang juga dilengkapi dengan chanel donasi ATM Bersama, kartu kredit, Mandiri Click Pay, Mandiri e-cash, XL Tunai dan beragam kemudahan lainnya.

Baitul Maal Hidayatullah merupakan lembaga amil zakat yang bergerak dalam penghimpunan dana zakat, infaq, sedekah kemanusiaan, CSR perusahaan. BMH juga melakukan distribusi melalui program pendidikan, dakwah, sosial dan ekonomi secara nasional.

Pada tahun 2001 Menteri Agama menerbitkan SK Legalitas yang mengukuhkan BMH sebagai lembaga amil zakat nasional (LAZNAS). Namun, kiprahnya telah lebih dahulu berjalan ketika awal berdirinya pesantren Hidayatullah di Gunung Tembak, Balikpapan.

Kini dengan hadirnya jaringan kantor cabang di seluruh Indonesia, Laznas BMH semakin mengukuhkan langkah untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam menunaikan serta mengoptimalkan dana ZIS yang terhimpun melalui program yang berorientasi pada kemaslahatan umat.

Melalui program pendidikan, dakwah, ekonomi dan sosial merupakan upaya mengurai masalah sosial dan membangun insan yang lebih bermartabat. Kini kiprahnya tersebar di 33 provinsi, dari perkotaan hingga desa terpencil dan pedalaman.

Aktifitas pemberdayaan dibangun melalui 238 pesantren yang mayoritas di daerah terpencil, ratusan sekolah serta ribuan dai yang berkiprah. Tak lupa juga komunitas masyarakat merupakan energi untuk menjadi penggerak perubahan menuju masyarakat yang lebih berdaya, religius dan mulia.

BMH kini hadir sebagai lembaga zakat yang lebih flesksibel dan bisa di jangkau dengan mudah, dengan menghadirkan aplikasi ZIS dan kurban untuk smartphone.

Download dan instal App BMH berbasis android berikut, klik tautan https://play.google.com/store/apps/details?id=com.proiptek.bmh atau klk di sini (ybh/hio)