Beranda blog Halaman 605

PPI dan Pemuda Hidayatullah Bahas Toleransi Beragama

poros pemuda indonesia sinergi pemuda hidayatullahHidayatullah.or.id – Poros Pemuda Indonesia (PPI) Sulawesi Selatan bekerja sama dengan Pemuda (Syabab) Hidayatullah akan menggelar dialog, Senin (19/10/2015) siang ini. Dialog ini bertempat di Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah, Bumi Tamalanrea Permai (BT), Kota Makassar.

“Dialog tersebut mengangkat tema Islam sebagai Pilar Utama dalam Wewujudkan Toleransi Antarumat Beragama. Rencananya menghadirkan empat pembicara,” tulis Andi Aswadi, Sekretaris PPI Sulsel seperti juga dikutip laman Tibun Timur, Ahad (18/10/2015) siang.

Pembicara pertama, Ir Abdul Majid yang juga Ketua PW Hidayatullah Sulawesi Selatan. . Majid akan membahas tema Peran Santri dalam Mewujudkan Toleransi Antarumat Beragama.

Pembicara kedua, Dr KH Bakri Wahid Lc MA dari Persyarikatan Muhammadiyah sekaligus pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel. Bakri Wahid akan membahas tema Islam sebagai Agama Perdamaian dan Pelopor Toleransi Antarumat Beragama.

Pembicara ketiga, Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Kota Makassar Abdul Karim. Karim akan membahas tema Peran Pemuda dalam Mewujudkan Toleransi Antarumat Beragama.

Sedangkan pembicara keempat adalah perwakilan dari Kementrian Agama Bidang Hubungan Antarummat Beragama Kota Makassar yang akan membahas Peran Kementrian Agama dalam Mewujudkan Toleransi Antarumat Beragama.

Adapun dari PPI dan Syabab Hidayatullah selain sebagai fasilitator sekaligus menjadi pengarah acara dalam dialog yang akan berlangsung intensif ini. Kegiatan ini mengundang berbagai elemen masyarakat khususnya dari institusi kepemudaan nasional di Makassar, Sulawesi Selatan dan sekitarnya. (ybh/hio)

Halaqah Membangun Bangsa

mabit bersama hidayatullah depok mabit bersama hidayatullah depok2Hidayatullah.or.id -– Krisis multidimensi yang melanda negeri ini dinilai sulit diatasi jika hanya disandarkan kepada pemerintah semata.

Perlu ada partisipasi masyarakat dan dalam beberapa ormas, gerakan ke arah tersebut dinilai sudah lama berjalan dengan aneka ragam bentuknya.

Di Hidayatullah sendiri ada yang namanya halaqah yang menjadi basis gerakan kultural yang memompa semangat spiritual dan intelektual kader.

Pengaruh halaqah, dinilai tidak saja mampu menjadi penempaan ruh spiritual tetapi juga pengaruh positif bagi lingkungan sekitar, terutama dalam menghidupkan budaya belajar dan beribadah yang baik.

Demikian salah satu materi Mabit Bersama Hidayatullah Jabodebek bertema “Refleksi Hijrah: Halaqah sebagai Basis Gerakan Kultural Menuju Tegaknya Peradaban Islam”.

Acara ini ini dihadiri sedikitnya 500 peserta digelar di Masjid Ummul Qurro Depok Kampus Pesantren Hidayatullah Depok, belum lama ini.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Dr. Abdul Mannan, menegaskan bahwa halaqah adalah hal yang tak terpisahkan dan bagian dari sejarah bangsa Indonesia.

Kata belaiu, halaqah di jaman penjajahan juga ada dan targetnya adalah menolak penjajahan yang dilakukan oleh Belanda. Para tokoh-tokoh Islam pendiri bangsa, mereka semua membangun tradisi halaqah yang di sana kemudian melahirkan spirit nasionalisme untuk membela agama dan bangsa. Termasuk Walisongo memulai adalah figur-figur simpatik yang meneguhkan tradisi halaqah.

Beliau menegaskan, hari ini halaqah harus bisa juga menjawab tantangan kenegaraan, berupa krisis yang multidimensional, termasuk bagaimana halaqah bisa menjawab tantangan ekonomi negara dimulai dengan pemberdayaan ekonomi anggota halaqah itu sendiri.

“Jadi bisa melalui kultur berhalaqah, kita ikut juga membangun bangsa dan negara,” imbuhnya.

Namun demikian, beliau tetap menekankan bahwa semua tetap harus dilandasi iman dan ilmu, sehingga halaqah, meski secara kasat mata terlihat sebagai gerakan kecil, namun disana berlangsung perpaduan intelektual, spiritual dan emosional yang dinamis.

“Halaqah mampu menjaga kestabilan masyarakat secara mental dalam merespon segala macam bentuk krisis dan ketidakstabilan sosial, sehingga dalam kapasitasnya gerakan kultural ini setidaknya tidak menambah beban moral pemerintah,” pungkas beliau.

Acara Mabit ini merupakana rangkaian acara konsolidasi dan koordinasi dalam rangka menyongsong Musyawarah Nasional (Munas) IV Hidayatullah yang rencanannya akan digelar pada awal bulan November mendatang di Balikpapan, Kalimantan Timur. */Ibnu Suradi

Syabab Hidayatullah Sulsel Gelar Seminar Kepemudaan

seminar nasiolan syabab hidayatullah sulawesi selatan (1) seminar nasiolan syabab hidayatullah sulawesi selatan (2) seminar nasiolan syabab hidayatullah sulawesi selatan (5) seminar nasiolan syabab hidayatullah sulawesi selatan (6)Hidayatullah.or.id — Dalam rangka menyambut Musyawarah Nasional (Munas) IV Hidayatullah, organisasi kepemudaan Syabab Hidayatullah menggelar acara seminar nasional di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan.

Seminar dengan tema “Pemuda Menyongsong Kepemimpinan Nasional yang Berintegritas” ini digelar pada hari Rabu, 14 Oktober 2015 atau bertepatan dengan tahun baru Islam 1 Muharram 1437 Hijriyah, kemarin.

Hadir sebagai narasumber akademisi yang juga profesor termuda UIN Alauddin Makassar, Prof. Hamdan Johannis, MA., Ph.D, Wakil Walikota Makassar Dr. Syamsu Rizal MI, dan Ir. Anggota DPD RI Asal Sulsel H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si. Dan, hadir menjadi pemandu acara adalah Ketua Umum Syabab Hidayatullah Naspi Arsyad.

Seminar yang diadakan di Auditorium Al-Jibra Universitas Muslim Indonesia (UMI) ini, dihadiri sekitar delapan ratus peserta dari berbagai kalangan diantaranya pelajar/ mahasiswa dari berbagai sekolah/ perguruan tinggi dan perwakilan organisasi kepemudaan di Kota Makassar.

Ketua Syabab Hidayatullah Sulawesi Selatan, Muhammad Robianto, dalam sambutannya, mengatakan, pemuda harus mempersiapkan diri melanjutkan estafeta kepemimpinan di negeri ini. Estafeta kepemimpinan ini, kata Robianto, bisa berhasil jika pemuda memiliki integritas.

“Sebagai pemuda, kita harus siap melanjutkan estafeta kepemimpinan di negeri ini. Presiden Jokowi tidak akan selamanya jadi presiden, Pak Jusuf Kalla sudah juga mulai tua dan estafeta ini bisa berhasil kalau kita sebagai pemuda memiliki integritas” jelas Robianto.

Sambutan selanjutnya, oleh Rektortorat Universitas Muslim indonesia dalam hal ini diwakili oleh Profesor Abdul Ghani selaku wakil Rektor III, mengatakan bahwa pihak Universitas Muslim Indonesia sangat mengapresiasi kegiatan seminar ini.

“Seharusnya mahasiswa aktif mengikuti kegiatan seperti ini karena memang tugas mahasiswa adalah belajar dan bukan turun ke jalan raya dan menggangu perjalanan masyarakat,” ujarnya.

Sebelum mengakhiri sambutannya, secara khusus Profesor Abdul Ghani mengapresiasi Syabab Hidayatullah yang telah memasang hijab untuk memisahkan peserta ikhwan dan akhwat. Hal ini kata Ghani sejalan dengan orientasi pendidikan kita di UMI yang memisahkan laki-laki dan perempuan dalam proses belajar mengajar di kampus.

Dalam pemaparannya ketiga narasumber umumnya menekankan pentingnya peran strategis pemuda dalam menentukan masa depan perjalanan sebuah bangsa. Terutama kiprah-kiprah pemuda yang konsisten meneguhkan moralitas sebagai salah satu pelecut utama kesejahteraan dan kemandirian suatu bangsa.

Karenanya, seturut dengan tema Munas IV Hidayatullah yang mengusung jargon “Membangun Moralitas Bangsa, Menuju Kesejahteraan Ummat”, kepemimpinan berintegras menjadi isu mendasar yang dianggap penting untuk terus disuarakan.

Ketua Umum Syabab Hidayatullah Naspi Arsyad dalam pengantarnya yang memoderatori acara itu, mengutarakan bahwa model kepemimpinan berintegritas merupakan serangkaian penyelenggaraan pemerintahan di semua aspek yang menjunjung tinggi nilai keagungan moral.

Bangsa yang bermoral, kata Naspi, sudah barang tentu berangkat dari sumber daya manusia (SDM) yang berintegratis. Integritas inilah yang kelak melahirkan kejujuran, keadilan, etos kerja, semangat berkorban, serta membangun kultur kesalingpengertian.

Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar yang menjadi pembicara pertama dengan membawakan materi berjudul, “Abdullah Said, dari Desa Membangun Bangsa”, mengatakan bahwa salah satu landasan epistimologis lahirnya kampus-kampus Hidayatullah di seluruh Indonesia adalah apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim terhadap istri dan anaknya yang rela menempatkannya di padang yang tandus dan tidak ada tanda-tanda kehidupan karena menjalankan perintah Allah.

“Abdullah Said juga melakukan hal yang sama terhadap santri–santrinya. Setelah santri tersebut dinikahkan, dikirim ke daerah terpencil dan minoritas untuk membuka cabang hanya dengan modal sami’na wa ata’na,” kata Abdul Aziz.

Aziz memberikan contoh bahwa salah seorang santri ditugaskan ke Papua untuk membuka cabang Hidayatullah hanya dengan modal tiket kapal, tanpa alamat dan kenalan. Kala itu Abdullah Said hanya mengatakan bahwa Tuhan yang disini (Balikpapan) sama juga Tuhan yang di Papua. Dengan begitu Hidayatullah dalam waktu singkat, sudah tersebar dari Sabang sampai Merauke.

“Tidak muluk-muluk, kader Hidayatullah hanya diperintahkan menceramahkan dan menyampaikan kepada umat tentang apa yang mereka terima dan rasakan selama tinggal atau dibina di Gunung Tembak. Tetapi tidak saja diceramahkan, tetapi juga dipraktikkan di mana mereka betugas. Jadi dakwah bil haal dan bil lisan sekaligus” kata Abdul Aziz.

Seminar semakin menarik saat Profesor Hamdan Juhanis memaparkan makalahnya yang berjudul “Membangun Mentalitas Pemuda Berintegritas”, yang sebagian besar materinya disadur dari buku fenomenalnya “Melawan Takdir”.

Profesor Hamdan dalam pemaparannya mengatakan bahwa untuk menjadi pemuda yang berintegritas, ada dua modal besar yang harus kita miliki yaitu kejujuran dan kedisiplinan. Hamdan mendorong pemuda untuk membangun etos kerja sebab katanya kesuksesan sejatinya tidak ditentukan oleh kecerdasan yang bahkan porsinya hanya 1 persen, yang menentukan kerja keras.

“Jangan terpesona dengan capaian yang berhasil seseorang, tetapi pahami dan terpesonalah dengan kerja keras orang besar untuk mendapatkan hasil itu. Jadi prosesnya itu yang penting,” katanya.

Profesor muda yang sukses menyelesaikan studi strata dua di Kanada serta doktoralnya di Australia ini menekankan bahwa anak muda harus berani melawan takdir. Ia memberi tanda kutip bahwa takdir yang ia maksud disini bukanlah takdir dalam pengertian teologis, tetapi lebih kepada pengertian sosiologis.

“Bangun kedisipilan, budayakan kejujuran, serta terus bekerja keras. Insya Allah, dari sini akan lahir pemuda berintegritas yang beriman dan bertakwa kepada Allah Ta’ala,” katanya.

Sebelum mengakhiri materinya, Profesor Hamdan mengungkapkan perasaan bahagianya dapat menghadiri seminar ini, karena salah satu keinginan besar dalam hidupnya adalah dapat bersanding dengan salah satu tokoh Sulsel Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar sebagai narasumber. “Dan hari keingin itu terwujud,” tutup beliau. (Arfah Bandule)

Pendidikan Mencetak Kader, Materi Tetap Diperlukan

GAMBAR ILUSTRASI: Tampak santri Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Bogor yang diketuai oleh Ustadz Jailani Jakfar menerima tali asih dari doantur. Santri di pesantren ini sepenuhnya gratis dan tidak dipungut biaya sepeserpun / dok
GAMBAR ILUSTRASI: Tampak santri Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Parung, Bogor, Jawa Barat, yang diketuai oleh Ustadz Jailani Jakfar menerima tali asih dari donatur. Santri yang tinggal di pesantren ini sepenuhnya gratis dan tidak dipungut biaya sepeserpun / dok

Hidayatullah.or.id — Kepala sekolah adalah pilar perjuangan yang bersentuhan langsung dengan mainstream gerakan tarbiyah dan dakwah. Sementara Hidayatullah adalah ormas berbasis kader, sehingga pendidikan Hidayatullah harus berbasis pelayanan, bukan berorientasi profit atau materi semata.

“Tidak masalah mahal, setengah mahal atau tidak membayar, karena pendidikan memerlukan biaya. Tetapi yang terpenting tetap orientasi kader dan pelayanan umat,” kata Pimpinan Umum Hidayatullah, Ustadz Abdurrahman Muhammad dalam arahanya di hadapan puluhan kepala sekolah di Kota Depok, Jawa Barat, belum lama ini.

Beliau menekankan, perlu terus dilakukan penguatan terhadap standar sistem sosial dan kultur pendidikan di Hidayatullah. Sistem sosial berdasarkan nilai nilai filosofis dan paradigmatik pendidikan berbasis Tauhid.

Beliau juga menyampaikan bahwa masih ada sebgian jamaah yang belum memahami maksud perubahan Hidayatullah dari organisasi sosial menjadi organisasi massa. Sehingga kemudian memunculkan kesalahpahaman dengan kebebasan karena dianggap terbuka tanpa taat kepemimpinan.

Sehingga, lanjut beliau, kepemimpinan hidayatullah mengambil kebijakan strategis yaitu perumusan konsep untuk alih konsepsi dan kultur Hidayatullah.

Dengan adanya alih konsepsi dan kultur yang dipadukan dengan keilmuan diharapkan ada kesempurnaan, semangat untuk melihat Hidayatullah ke depan.

“Kita tidak perlu terjebak dengan perangkap masalah sosial dan politik. Kita tetap harus fokus atau memperhatikan lebih terhadap pengembangan SDM yaitu lembaga lembaga pendidikan Hidayatullah yang sudah berdiri di seluruh nusantara,” ujarnya.

Training kepemiminan untuk kepala sekolah ini hanya pemicu untuk kepala sekolah bisa lebih baik, sehingga harus bisa mengembangkan diri lagi. Training ini juga sarana untuk wasilah pengalaman, keunikan, kelebihan masing masing pelaku pendidik, dan pengkader.

Beliau mengatakan, Hidayatullah sebagai lembaga perjuangan harus dipahami keunikan, perbedaannya dengan lembaga perjuangan yang ada. Salah satu keunikan Hidayatullah adalah adanya manhaj SNW dan kultur kepemimpinan.

“Organisasi tidak ada tanpa kepemimpinan atau leadership yang baik. Organisasi tidak ada tanpa manajerial yang baik. Organisasi tidak ada tanpa role atau aturan yg disepakati seperti pedoman dasar atau anggaran dasar.

Sehingga transformasi kultur banyak lewat halaqah, semua jamaah dan terutama guru wajib mengikuti halaqah,” ingatnya.

Karena itu beliau mendorong kepada para kader Hidayatullah khususnya kepala sekolah untuk berhalaqah, sebab ini adalah sarana untuk implementasi kultur sehingga akan lahir komunitas komunitas yang akhirnya menjadi penopang terbangunnya peradaban Islam.

Halaqah ini bisa dilalakukan dari rumah ke rumah, masjid masjid dan masyarakat. Mengingat begitu pentingnya halaqah yang merupakan manajemen kenabian dan kultur nubuwwah, maka halaqah diharapkan dari halaqah ini mentransformasikan kultur dan memimpin anggotanya.

“Sehingga halaqah berperan sebagai struktur kepemimpinan atau komando jamaah Hidayatullah,” pesannya.

Beliau menuturkan dalam diri orang beriman melekat fungsi kepemimpinan. Artinya, tidak ada keimanan jika tidak ada dalam dirinya karakter memimpin diri, keluarga, dan orang orang terdekat untuk mendekat bertauhid atau beriman kepada Allah.

“Karena iman itu sifatnya ekspansif. Harus ada ambisi berbuat baik. Agar bisa menarik orang juga berbuat baik atau peduli dengan orang lain untuk berbuat baik. Keinginan untuk terdepan dalam kebaikan adalah fitrah yang dibangun di atas wahyu. Itulah idealisme,” cetusnya.

Jadi, terang beliau, idealisme adalah implementasi semangat berwahyu untuk membangun masyarakat. Beliau menegaskan Islam berbeda dengan ideologi materialisme, sosialisme dan komunisme. Ideologi mereka terbangun di atas kepentingan materi. Karena itu, pesannya, guru dan murid harus dibentuk sesuai dengan persepsi, paradigma, dan idealisme yang benar.

“Jika mencari materi pribadi maka terjebak kapitalisme. Jika mencari keuntungan materi secara institusi, maka sosialisme. Jika memaksakan membuat lembaga pendidikan pribadi maka materialisme.

Hidayatullah berbeda dengan yang lain. Jika pendidikan Hidayatullah sama dengan yang lain maka lebih baik bergabung lembaga lain atau tidak perlu lahir Hidayatullah,” pungkasnya. /*Paryadi Abdul Ghofar

Pendiri Hidayatullah Ingatkan Pentingnya Regenerasi

Ustadz Hasan Ibrahim,MA
Ustadz Hasan Ibrahim,MA

Hidayatullah.or.id — Salah seorang pendiri Hidayatullah yang masih hidup dan Alhamdulillah sehat hingga hari ini, Ustadz Hasan Ibrahim, menegaskan bicara perjuangan kalau tidak ada generasi kader maka bohong saja karena perjuangan tidak cukup satu generasi tapi bergenerasi.

Penegasan tersebut disampaikan diharapan puluhan Kepala Sekolah yang mengikuti training kempemimpinan di Kota Depok, Jawa Barat, belum lama ini.

“Mari kuatkan perjuangan di Hidayatullah sekuat tenaga sampai berhasil. Kalau belum berhasil maka kita wariskan perjuangan ini kepada anak anak kader kita. Kalau mereka belum berhasil maka diteruskan oleh cucu cucu kader kita dan seterusnya,” kata beliau menukil tausyiah almarhum Abdullah Said.

Kata beliau, Nabi Muhammad mengawali kenabian dengan menekuni pengkaderan di Daarul Arqam. Di sana bibit lahirnya kader para sahabat yang akhirnya berhasil membawa risalah Islam hingga keluar jazirah Arab, ke Afrika dan Asia.

Beliau melanjutkan, Allahuyarham Abdullah Said mengawali Hidayatullah ini dengan training ke training, sangat sering training kemudian penugasan. Penugasan santri dakwah ke masjid masjid Balikpapan. Programnya adalah PBBTQ (Pemberantasan Buta Baca Tulis Quran).

Sehingga, saat walikota Balikpapan kala itu, Arbain Asnawi, seorang yang religius dan ahli ibadah keliling ke masjid masjid Balikpapan dan bertanya kepada pengurus masjid tentang kegiatannya, hampir semua pengurus menjawab sama.

“Kegiatan kami taklim, anak anak mengaji dan di asuh oleh para ustadz, santri Hidayatullah”. Itulah awal kepincut pak walikota.

“Itulah ketika pekerjaan mengurus agama Allah ini dilakukan dengan ikhlas dan bersungguh sungguh maka Allah akan memberikan pertolongan dengan cara-Nya yang kita tidak tahu dan tidak sangka sangka,” kata Ustadz Hasan Ibrahim.

Kemudian penugasan keluar Balikpapan yang pertama adalah wilayah Kaltim itupun yang kotamadya tepatnya di Berau. Pesan Abdullah Said saat itu, “Sampaikan ke umat apa saja yang kalian tahu dan lakukan apa kalian amalkan di Gunung Tembak ini” sebuah pesan sederhana tapi memiliki makna yang kuat.

Ustadz Hasan menceritakan, awal penugasan ke daerah daerah, rata rata kader tidak ada yang dikenal, tidak ada alamat yang dituju. Sehingga ada cerita santri di kapal saat hendak berangkat tugas ke Papua. Ditanya oleh penumpang lain.

“Adik mau ke mana?”
“Ke Papua?
“Siapa yang menjemput”
“Tidak ada”
“Tapi, sudah ada yang dikenal?
“Belum”
“Sudah tau alamat yang dituju?
“Belum juga”
Penumpang tersebut semakin penasaran.
“Terus apa tujuan adik ke Papua?”
“Mendirikan pesantren”
“Lho, bagaimana bisa, tidak ada yang dikenal, tidak ada alamat?
“Insyaallah, doanya saja,” jawab penumpang tersebut, tambah terheran heranlah penumpang yang bertanya ini.

Alhamdulillah hari ini telah berdiri Hidayatullah di ratusan titik kabupaten dengan proses yang mirip mirip begitu. Ada keyakinan yang ditanamkan oleh Ustadz Abdullah Said, bahwa dimana mana ada Allah.
“Tidak mungkin Allah Ta’ala menyia siakan hamba yang memperjuangkan agama-Nya. Inilah spirit keyakinan dan nilai kejuangan yang mahal di Hidayatullah. Dulu sekolah tidak ada meja, belum ada gedung, buku ajar juga belum ada, pendidikan guru guru belum banyak sarjana tapi mampu melahirkan kader kader yang hebat,” kata Ustadz Hasan yang merupakan pelaku sejarah berdirinya Hidayatullah ini.

Kata beliau, meskipun dulu banyak orang yang mencemooh Hidayatullah dengan mengatakan tidak ada kyainya, tidak ada yang bisa baca kitab, sarang teroris, dan cemoohan sebagai sumber bid’ah dan segainya, tapi Hidayatullah terus bekerja.

Karenanya menurut beliau training kepemimpinan ini adalah Kesempatan untuk menata dan membina diri dengan membuat pelatihan pelatihan. Tidak terpengaruh oleh omongan orang.
Dulu bahkan banyak pihak memprediksi umur Hidayatullah seumur dengan pendiriannya.
“Alhamdulillah, sampai empat dekade ini, Hidayatullah masih eksis dan terus berkembang.
Salah satu sebabnya, pengkaderan masih jalan untuk mencetak generasi penerus,” ujar beliau.

Maka it, pesan beliau, fungsi sekolah dan perguruan tinggi Hidayatullah bersama guru dan dosennya itu sangat strategis untuk pengkaderan menanam akidah yang kuat dan orientasi hidup yang benar.

Di akhir pemaparannya Ustadz Hasan Ibrahim tidak mau disebut tua hanya karena rambut yang sudah memutih atau badan yang sedikit lemah.

“Karena semangat saya masih muda dan cita cita masih kuat. Apalagi teman teman yang fisik masih kuat, rambut masih hitam, harus lebih semangat dan kuat perjuangannya,” pungkas beliau. */ Paryadi Abdul Ghofar

DR. Deding Ishak: Ormas Islam Hidayatullah Aset Bangsa

Deding Ishak (pegang mic) saat berbicara di depan wartawan di Gedung MPR RI/ ilustrasi sumber Okezone
Deding Ishak (pegang mic) saat berbicara di depan wartawan di Gedung MPR RI/ Sumber: Okezone

Hidayatullah.or.id — Pimpinan Panitia Khusus Rancangan Undang-undang (Pansus RUU) Ormas DR. H. Deding Ishak, mengatakan seluruh ormas Islam di Indonesia termasuk Hidayatullah merupakan aset bangsa. Bahkan dapat dikatakan tanpa ormas Islam negara ini belum tentu meraih kemerdekaan.

“Kita tahu sejarah pergerakan kemerdekaan bangsa sangat jelas dari peran perjuangan ormas Islam mulai Budi Utomo, Sarekat Islam, Nahdhatul Ulama, Muhammadiyah dan lain sebagainya,” kata Ishak saat dihubungi hidayatullah.com, belum lama ini.

Demikian juga, lanjut Ishak, paska kemerdekaan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia melalui pembangunan untuk kesejahteraan bangsa melalui kiprahnya di berbagai bidang seperti pendidikan, sosial, dakwah maupunn ekomomi umat.

“Seperti yang dilakukan ormas Hidayatullah itu sungguh sangat positif dan kontributif,” ungkapnya mengapresiasi.

Menurut Ishak yang juga Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI ini, pemerintah sangat terbantu dengan keberadaan dan peran ormas yang sejatinya adalah mitra stategis dan utama pemerintah dalam mensejahterakan serta mewujudkan kemaslahatan bangsa Indonesia.

Lebih lanjut, kata Ishak, Hidayatullah diharapkan mampu terus berkiprah untuk umat dan bangsa, serta tidak hanya berkiprah melalui pendidikan, dan dakwah tetapi juga ekonomi umat agar umat menjadi cerdas sehingga tercerahkan dan berakhlakul karimah dengan dakwah rahmatan lilalamin.

“Serta bangsa ini sejahtera dengan bangunan ekonomi yang berwawasan amal shaleh,” demikian imbuh legislator pusat dari Partai Golar asal pemilihan provinsi Jawa Barat ini.

Diketahui, Hidayatullah akan menggelar acara Musyawarah Nasional (Munas) Hidayatullah ke-IV yang insyaAllah akan diselenggarakan di Balikpapan, Kaltim, mulai 7 sampai 10 November 2015. Menyongsong helatan tersebut, sejumlah tokoh nasional turut mengapresiasi dan memberi sumbang saran atas kiprah Hidayatullah. (Ahmad Fazeri)

Kemenag Bareng Hidayatullah FGD Bahas Bahaya Narkoba

Kemenag Kerjasama Hidayatullah Jakarta Gelar FGD Bahaya NarkobaHidayatullah.or.id -– Masyarakat sekarang menghadapi tantangan yang sangat besar yaitu arus globalisasi. Selain ada sisi positifnya tentu ada sisi negatifnya. Tapi masyarakat tidak bisa menolaknya. Karena itu, ambil sisi positifnya saja.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang unggul harus mampu meningkatkan kualitas iman dan takwa pendidiknya dan para santrinya. Pendidikan agama adalah paling utama sebagai benteng pertahanan.

Hal itu disampaikan Dr Nanang Fatchurochman M.Pd dari Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama (Ditpdpontren Kemenag) dalam acara Focus Group Discustion yang diselenggarakan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerjasama dengan Pesantren Hidayatullah Jakarta dan Kemenag, di aula Masjid Baitul Karim komplek Hidayatullah Jakarta, belum lama ini.

“Fasilitas modern seperti handphone, dan internet, menjadi sarana yang digunakan oleh jaringan narkoba untuk merusak pembentukan karakter di kalangan remaja dan usia anak sekolah,” ujar Nanang.

Tantangan lainnya, kata Nanang, adalah persoalan-persoalan sosial, dan alam demokrasi membuat tatanan keluarga menjadi rapuh, sehingga banyak orangtua yang kurang memperhatikan anak-anak di lingkunagan keluarga maupun di masyarakat.

Selain itu, yang mengkhawatirkan adalah masuknya jaringan narkoba internasional di Indonesia yang mengakibatkan meningkatnya pemakai narkoba di kalangan remaja dan anak usia sekolah.

Sementara itu, AKP Agus Yulianto Danardono, SE, bidang Pemberdayaan Masyarakat BNN mengatakan bahwa peredaran narkoba sudah masuk pada kalangan remaja dan anak usia sekolah.

“BNN terus melakukan sosialisasi P4GN di sekolah-sekolah umum dan pesantren. Karena itu, BNN kini menggandeng Kemenag,” ujar Agus.

“Namun kerjasama ini jangan sampai membuat kesan negatif terhadap pesantren. Pesantren bukan sarang narkoba. Karena itu, BNN harus pandai mengemas dan mengkomunikasikannya. Jangan seperti BNPT yang menimbulkan kesan bahwa pesantren adalah sarang teroris,” kata Nanang.

Kerjasama Hidayatullah Jakarta Timur dengan Kemenag ini merupakan yang kedua kalinya.

“Sebelumnya kami juga pernah bekerjasama dengan Kemenag yaitu sebagai penyelenggara Musabaqah Qira’atil Kutub antar pesantren se-Jakarta Timur. Semoga kerjasama dengan BNN juga bisa ditindaklanjuti oleh Pesantren Hidayatullah lainnya,” ujar Ustadz Mahmud Efendi, Pimpinan Pesantren Hidayatullah Jakarta Timur.

Acara yang bertema Kepedulian Masyarakat Melalui Pemberdayaan Lingkungan Pesantren dalam Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) ini dihadiri oleh pengurus Pesantren Hidayatullah Jadetabek, Pesantren Ulul Ilmi, Pustaka Imam Syafi’i, Yayasan Marhamah, Pos Dai, BMH, dan Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) se-Jakarta Timur. (Dadang)

Annisa Hidayatullah Didorong Siap Jadi Pelanjut Mushida

annisa hidayatullah makassar2Hidayatullah.or.id — Annisa Hidayatullah Makassar, Sulawesi Selatan, menggelar acara sarasehan silaturrahim dibarengi dengan agenda musyawarah dalam rangka konsolidasi organisasi terkait dengan beragam program dan revitalisasi gerakan Annisa Hidayatullah di wilayah tersebut.

Momentum konsolidasi yang dihadiri puluhan anggota Annisa Hidayatulah Makassar ini mengusung tema, “Eratkan Ukhuwah dan Bangun Tim dakwah yang Solid Demi Mewujudkan Karakter Annisa Tangguh dan Berkepribadian”. Peserta acara yang umumnya adalah mahasiswi dan remaja pelajar putri ini berlangsung semarak dengan sejumlah kegiatan selingan di masa jeda rehat.

Acara yang berlangsung selama 2 hari sejak tanggal 10 hingga 11 Oktober ini digelar di Pulang Lakkang, Makassar. Hadir sebagai narasumber utama dalam acara tersebut yakni Sabriati Aziz yang merupakan anggota Majelis Pertimbangan Pusat – Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (MPP-PP Mushida).

Sabriati Aziz dalam arahannya, mendorong Annisa Hidayatullah untuk terus menguatkan kepribadian gerakan dengan komitmen yang tinggi terhadap Islam serta menyiapkan diri menjadi pelanjut estafeta kepengursan di Muslimat Hidayatullah.

Dengan karakter khas gerakan dan komitmen yang tinggi terhadap nilai-nilai luhur Islam, menurut Sabriati, Annisa Hidayatullah akan melahirkan kebersahajaan yang tidak saja muncul secara lahir tapi juga diteguhkan pula oleh kekuatan dari dalam (inner beauty).

“Annisa Hidayatullah harus terus menunjukkan jatidiri sebagai remaja putri yang cerdas, shalehah, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dan persaudaraan,” kata Sabriati berpesan.

Diingatkan Sabriati, Annisa Hidayatullah adalah layaknya sebuah suaka generasi untuk menempa kader-kader Muslimat Hidayatullah yang siap mengemban amanah organisasi dan berperan aktif dalam merespon permasalahan bangsa.

“Dalam merespon permasalahan bangsa yang semakin banyak, diharapkan generasi muda dalam jejaring Annisa Hidayatullaj terus meningkatkan kualitasnya dan melakukan peran aktif di masyarakat,” kata Sabriati berpesan.

Sementara itu, Ketua Annisa Hidayatullah Makassar, Nuryanti, mengatakan tujuan acara ini digelar adalah dalam rangka melakukan konsolidasi organisasi Annisa Hidayatullah khususnya untuk wilayah Makassar.

Menurut Nuryanti kegiatan ini digelar untuk melakukan sejumlah penguatan gerakan, apalagi mengingat ?Annisa Hidayatullah adalah merupakan wadah berakselerasi bagi remaja putri yang umumnya dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Sehingga demikian mereka dapat mengembangkan diri melejitkan potensinya.

Seperti diketahui, Annisa Hidayatullah merupakan lembaga atau organisasi pendukung dibawah koordinasi Pengurus Pusat (PP) Muslimat Hidayatullah.

Organisasi pendukung khusus mewadahi pelajar dan mahasiswi remaja putri ini diharapkan dapat terus berkiprah aktif di masyarakat terutama di bidang pendampingan dan pengembangan potensi sumber daya Muslimat.

Hadir juga pada acara itu Ketua PD Mushida Makassar Warni, didampingi pengurus lainnya yakni Azizah dan Yuliana Dewi.

Acara Annisa Hidayatullah ini sengaja digelar di Pulau Lakkang agar lebih tersuasana dengan eksotisme alamnya yang indah. Pulau Lakkang sendiri merupakan sebuah perkampungan pesisir pantai yang terletak di antara Sungan Tallo dan Sungai Pampang.

Pulau eksotis yang dulunya bernama Bonto Mallangngere ini dihasi dengan kekhasan jalan-jalan kecil dan setapak, rumah panggung di antara kerimbunan pohon, kebun, dan tambak. (hio/ybh)

Polda Beri Jaminan Keamanan Munas IV Hidayatullah

kapoldda kaltim memberikan arahan di hidayatullah gutemHidayatullah.or.id — Aparat keamanan yakni polisi akan turut mensukseskan helatan akbar Musyawarah Nasional (Munas) IV Hiadyatullah yang akan digelar di Kota Balikpapan, awal November mendatang.

Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Kalimantan Timur, Irjen Pol Safarudin, menegaskan pihaknya siap mengamankan acara yang berlangsung selama 4 hari tersebut mulai tanggal 7 hingga 10 November tersebut.

“Polda Kaltim siap memberikan jaminan keamanan selama penyelenggaraan Munas berlangsung,” kata Kapolda saat melakukan anjangsana silaturrahim ke Kampus Hidayatullah Gunung Tembak, Jum’at pekan lalu.

Perwira tinggi polisi yang juga mantan Wakabag Intelkam Polri ini mengatakan pihaknya juga siap memenuhi kebutuhan tenda properti milik Kapolda lengkap dengan tempat tidurnya yang akan diperuntukan sebagai tempat tinggal sementara ratusan santri selama event munas berlangsung.

Untuk diketahui, pemetaan lokasi tempat penyelenggaraan Munas yang akan digunakan ribuan peserta akan menyerap penggunaan seluruh bangunan yang ada, termasuk asrama 3 gedung asrama santri.

“Saya kira ini Musyawarah Nasional Hidayatullah yang sungguh luar biasa, sebab ini adalah even akbar yang diselenggarakan oleh santri,” kata Irjen Safaruddin.

Mantan Kapolda Kalimantan Barat ini menyatakan bahwa acara Munas yang diselenggarakan Hidayatullah ini begitu unik. Keunikannya, kata dia, yaitu dari peserta munas itu sendiri yang merupakan santri-santri jebolan Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak.

“Sebetulnya yang akan menghadiri Munas ini juga kan adalah dahulunya adalah santri alumni sini yang kemudian ditugaskan untuk melakukan syiar agama (Islam) di berbagai pelosok Indonesia. Di sini mereka akan berkumpul lagi,” ujarnya.

Kapolda menuturkan, mungkin akan ada hal-hal baru, metode-metode baru, serta evaluasi yang lahir dari peserta dari berbagai daerah terhadap organisasi ini, yang berujung pada bagaimana pengembangan Islam ke depan di daerah masing-masing.

“Sebab saya yakin, santri-santri (peserta Munas) dari daerah pasti mendapati dan menghadapi permasalahan-permasalahan dan hambatan-hambatan,” imbuhnya.

Kapolda berharap semoga dari Musyawarah Nasional Hidayatullah yang ke-IV ini akan lahir solusi yang bisa ditelurkan untuk maslahat umat dan bangsa.

“Sebagai aparat kepolisian, saya sangat berharap Hidayatullah tetap konsisten memberikan syiar-syiar agama dan konsisten menjaga keamanan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,“ harapnya.

Beliau menambahkan, tugas pokok kepolisian sebagaimana yang diamanatkan oleh undang-undang adalah memelihara dan menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Sehingga pada kesempatan itu juga, mantan Kapolres Surabaya Timur ini juga berharap santri Hidayatullah terus turut membantu menyelesaikan tugas polisi tersebut.

Kapolda mengatakan, apabila nanti santri Hidayatullah telah menyebar ke seluruh penjuru Indonesia, maka merekalah yang akan menyebarkan rahmatan lil ‘alamin kepada seluruh masyarakat.

“Artinya, kalian telah membantu polisi menjaga keamanan dalam masyarakat. Dan kalau sudah demikian, maka tugas polisi sudah selesai,” kelakarnya seraya memberi motivasi. (Rizky Kurnia Syah)

Ulama Tokoh Betawi Doakan Keutuhan untuk Hidayatullah

kh cholil ridwanHidayatullah.or.id -– Musyawarah Nasional (Munas) IV Hidayatullah akan digelar di Balikpapan, Kalimantan Timur. Menyambut gelaran ini, tokoh umat Islam Indonesia yang juga salah satu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Ahmad Cholil Ridwan, menyampaikan apresiasinya terhadap Hidayatullah.

“Saya termasuk yang mengapresiasi dan bangga terhadap Hidayatullah sebagai organisasi massa,” ujar Kiai Cholil saat ditemui hidayatullah.com di lokasi Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta, belum lama ini.

Ulama Betawi itu lantas berdoa agar ormas tersebut senantiasa dijaga keutuhannya.

“(Saya) mendoakan, insya Allah, Hidayatullah selalu dipelihara oleh Allah Subhanahu Wata’ala dari perpecahan,” ujarnya usai menghadiri acara tabligh akbar Memperingati Hari Pengkhianatan PKI terhadap NKRI, Kamis (01/10/2015).

Kiai berharap, Hidayatullah tidak bergeser dari konsentrasi pergerakannya selama ini. “Dan lebih meningkatkan kualitas pendidikan, kemudian persatuan umat,” ujarnya, seraya mengingatkan bahwa berbagai pencapaian Hidayatullah itu merupakan pemberian Allah Subhanahu Wata’ala.

Terkesan

Munas IV Hidayatullah insya Allah akan digelar pada 25-28 Muharram 1437 H (7-10/11/2015) di kampus pusat Gunung Tembak. Kiai Cholil mengaku, ia pernah mengunjungi kampus tersebut puluhan tahun silam.

“(Saat) KH Abdullah Said (pendiri Hidayatullah. Red) masih hidup. Saya sempat ke markasnya di kota Balikpapan,”ujarnya yang tak ingat tahun kunjungannya itu.

Dalam silaturahimnya itu, ia begitu terkesan dengan kultur yang dibangun di kampus Gunung Tembak.

“Para penghuni (kampus) sangat loyal terhadap pimpinan. Kemudian ibadahnya juga, tidak pernah kosong masjid dari shalat jamaah dan juga shalat lail. (Itu) menjadi satu mesin penggerak dari kegiatan Hidayatullah,” ujarnya.

Ia pun berharap agar kultur di Gunung Tembak itu menjalar ke kampus-kampus Hidayatullah lainnya se-Indonesia.

“KH Abdullah Said luar biasa. Beliau sebagai tokoh yang bersatunya kata dengan perbuatan. Dia mempunyai contoh gitu. Apa yang diseru, itu yang dilakukan (lebih) dulu,” ujar Pemimpin Umum Ponpes Husnayain, Jakarta ini.

Saat ke Gunung Tembak, Kiai Cholil sempat reunian dengan Ustadz Ahmad Fitri, salah seorang pembimbing Hidayatullah Balikpapan. Sang ustadz merupakan sahabat Cholil saat sama-sama belajar di KMI Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo.

“Saya di Gontor dari (tahun) 1960-1965. Seingat saya satu kelas dengan Ahmad Fitri di kelas 5 dan 6,” ungkap kiai.

Munas IV Hidayatullah rencananya akan dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Informasi seputar gelaran lima tahunan ini bisa dilihat di website resminya, http://munas4.hidayatullah.com. Hingga saat ini, panitia sedang menggalakkan program “GEMPAR MUNAS IV”, akronim dari Gerakan Massa untuk Partisipasi Munas IV Hidayatullah. Selengkapnya baca di sini!. (Muh. Abdus Syakur)