Beranda blog Halaman 604

KTT OKI dan Seruan Indonesia Boikot Produk Israel

KONFERENSI Tingkat Tinggi Luar Biasa (KTT LB) Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang berlangsung 2 hari (6-7 Maret 2016) di Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat, telah usai dengan lancar dan diapresiasi berjalan sukses.

KTT LB OKI ini diikuti lebih dari 500 delegasi dari 49 negara anggota, termasuk pada tingkat kepala negara atau pemerintahan. KTT ini juga dilaporkan diikuti 3 negara observers, 4 negara/organisasi kuartet internasional, dan 5 anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

Pertemuan yang mengangkat tema “United for a Just Solution” ini adalah pertemuan luar biasa yang pertama kali diselenggarakan khusus untuk mencari terobosan guna menyelesaikan isu Palestina dan Al Quds Al-Sharif.

Dari KTT ini diharapkan dapat memberikan dorongan pada dunia internasional untuk tetap memprioritaskan penyelesaian isu Palestina dan Al Quds Al-Sharif.

Resolusi yang dihasilkan dalam KTT ini akan menegaskan posisi prinsip dan komitmen OKI untuk mendukung Palestina dan Al Quds Al-Sharif. Sedangkan Deklarasi Jakarta, yang digagas oleh Indonesia, memuat langkah-langkah konkrit bagi Palestina dan Al Quds Al-Sharif.

Pada pertemuan tingkat tinggi tersebut memang kemudian menelurkan resolusi “Deklarasi Jakarta” berisi seruan untuk mendukung Palestina dan status Kota Jerusalem beserta sejumlah langkah konkretnya.

Adapun sebanyak 23 poin dari deklarasi yang diusulkan Indonesia itu adalah sebagai berikut:

  1. Menyatukan upaya untuk mengakhiri pendudukan Israel sejak tahun 1967
  2. Memperpanjang dukungan penuh politik, diplomatik, dan upaya legal melindungi hak-hak dasar rakyat Palestina.
  3. Melindungi kesucian dan status Al-Quds Al-Sharif dengan mengambil aksi yang memungkinkan untuk mengakhiri pendudukan Israel.
  4. Mengambil semua tindakan yang memungkinkan untuk mendukung keteguhan rakyat Palestina di wilayah pendudukan dan secara khusus di al-Quds al-Sharif untuk melanjutkan perlindungan identitas sejarah dan budaya di Kota Suci.
  5. Mendukung semua upaya Saudi Arabia, di bawa kepemimpinan penjaga dua Masjid Suci, Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud, untuk menjaga situs suci Al-Quds Al-Sharif.
  6. Mendukung upaya, Raja Yordania Raja Abdullah II Ibn AL-Hussein dalam melindungi Al-Quds dan situs suci dalam konteks sejarah perwalian Hashemite terkait situs suci Muslim dan Kristen di Yerusalem. Kesepakatan ditandatangani di Amman pada 31 Maret 2013.
  7. Menyerukan semua tindakan untuk mengakhiri pendudukan Israel di Al-Quds Al-Sharif, melestarikan hak eksklusif Muslim.
  8. Mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mempertanyakan pendudukan ilegal Israel yang mengancam solusi dua negara dalam upaya perdamaian dan menyediakan perlindungan internasional terhadap rakyat Palestina dan menyerukan anggota OKI yang berada di DK PBB untuk melanjutkan upaya mereka memperjuangkan ini.
  9. Mengakui peran penting Dewan Hak Asasi Manusia, menyerukan peningkatan upaya mempertanyakan kekerasan terhadap hak asasi manusia dan hukum kemanusiaan internasional di wilayah pendudukan.
  10. Mengambil langkah penting untuk menjamin persatuan negara-negara Muslim, menghindari perbedaan dalam internasional forum.
  11. Memperluas dukungan untuk penyelenggaraan konferensi perdamaian internasional yang membangun upaya internasional baru untuk solusi dua negara.
  12. Meningkatkan bantuan finansial dan program pembangunan kapasistas oleh negara anggota OKI dan anggota komunitas internasional lainnya, untuk mendukung pembangunan dan penguatan insititusi nasional Palestina.
  13. Pengembangan ahli hukum di antarpemerintahan untuk membantu advokasi Palestina saat menjadi Negara di institusi pemerintahan dan mekanisme hukum lain.
  14. Mendukung upaya penempatan komite Al-Quds dibawah kepemimpinan Raja Mohamed VI dan mengundang negara anggota menyumbang kontribusi untuk Bayt Mal Al-Quds Agency
  15. Menyegarkan kembali kontribusi finansial untuk Al-Quds Fund dan Waqf. Menyerukan semua Muslim untuk menyumbang satu dolar untuk ini.
  16. Menyerukan masyarakat internasional mendukung boykot terhadap produk yang dihasilkan di permukiman ilegal.
  17. Mempromosikan upaya di jalur dua, termasuk dialog antar-agama, untuk mengkontribusi upaya yang bertujuan mencapai solusi dua negara.
  18. Memperkuat dukungan media untuk Palestina demi memobilisasi dan membangun kesadaran untuk opini publik internasional.
  19. Menekankan penguatan persatuan dan soidaritas di antara para anggota OKI untuk memastikan dukungan bagi Palestina.
  20. Mendorong para pemimpin OKI, untuk memobilisasi upaya lebih luas untuk mendukung Palestina dan al-Quds di forum internasional dan pemegang keputusan lainnya.
  21. Melanjutkan upaya Ministerial Contact Group dalam melindungi kota Al-Quds dari sistem Systematic Judaization.
  22. Menyerukan posisi persatuan dalam mendukung rakyat Palestina dan alasan mereka.
  23. Mengintensifkan upaya terpadu untuk mendukung rekonsiliasi nasional Palestina, di bawah kepemimpinan presiden Mahmoud Abbas sebavai kontribusi untuk meningkatkan oersatuan rakyat Palestina dalam menghadapi mesin perang Israel dan rencananya untuk menguasai dan mengekspansi.

Kendati sempat menuai sentimen negatif dari sejumlah analis, banyak pihak yang tetap optimis resolusi dan deklarasi KTT OKI itu akan berdampak signifikan terhadap upaya menyelesaikan krisis berkepanjangan Palestina dan Al Quds Al-Sharif.

Seruan boikot
Dari sejumlah rangkaian acara KTT OKI digelar cukup singkat ini, yang cukup menyita perhatian adalah seruan langkah kongkret disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, yang dengan tegas menyerukan boikot Israel.

Saat penutupan KTT LB OKI ke-5 ini, Senin (8/3), Presiden Jokowi mengatakan ingin negara Islam peserta OKI memberikan dukungan untuk dilaksanakannya konferensi perdamaian internasional.

Selain itu, Presiden meminta dukungan masyarakat internasional untuk melarang masuknya produk Israel yang diproduksi di tanah pendudukan.

Jokowi juga menekankan pentingnya penguatan tekanan kepada Israel termasuk boikot terhadap produk Israel yang dihasilkan di wilayah pendudukan. Ia menyampaikan, seluruh negara menyatakan kembali komitmen untuk melindungi al-Quds al-Sharif, antara lain dengan bantuan finansial bagi al-Quds.

Memang sempat ada klarifikasi dari juru bicara Istana bahwa seruan boikot dari Presiden Jokowi dimaksudkan lebih kepada boikot kebijakan, bukan produk Israel.

Namun, Kementerian Luar Negeri Indonesia (Kemlu) memastikan, bahwa negara-negara OKI, termasuk Indonesia, memboikot produk Israel, bukan semata kebijakannya.

Penegasan Kemlu tersebut berpegangan pada butir 16 Deklarasi Jakarta, yang merupakan salah satu produk KTT Luar Biasa OKI.

Seperti telah diuraikan di awal tulisan ini, butir 16 pada Deklarasi Jakarta hasil KTT Luar Biasa OKI di Jakarta ini, menyerukan kepada masyarakat internasional untuk mendukung boikot terhadap produk-produk yang dihasilkan di dalam atau oleh wilayah pemukiman ilegal Israel.

Dalam siaran persnya, Kemlu juga menyatakan bahwa seruan boikot kepada masyarakat internasional ini dimaksudkan untuk memperkuat posisi bersama OKI, dari sejak KTT OKI di Mekkah (1981) dan terakhir KTM ke-42 OKI di Kuwait tahun 2015.

Menurut Kemlu, seruan ini tidak saja merupakan posisi OKI, tapi juga negara-negara Gerakan Non-Blok (GNB) dan Organisasi Liga Arab. GNB menyatakan seruan ini antara lain dalam berbagai hasil pertemuan GNB, seperti Deklarasi Palestina KTM GNB di Durban pada tahun 2004, Deklarasi Palestina KTT GNB di Sharm El Sheikh pada tahun 2009, maupun Deklarasi Komite Palestina KTM di Algiers pada tahun 2014.

Lebih jauh menurut Kemlu, pada tahun 2015, Uni Eropa juga telah mengesahkan sebuah Guideline yang mengharuskan produk yang berasal dari wilayah pendudukan Israel diberikan label “Israeli settlement”, misalnya “products from the West Bank (Israeli settlement)”.

Seruan boikot produk Israel oleh Jakarta ini sangatlah penting yang sekaligus menegaskan komitmen Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina.

Aspek pokok lainnya, dampak aksi boikot dinilai signifikan. Namun, di waktu yang sama, aksi boikot produk Israel mengalami kemunduran terutama setelah perang di Gaza pada tahun 2014 berakhir.

Seperti dikemukakan Direktur Humas dan Informasi Sektor Industri dan Perdagangan di Gaza, Palestina, Maher Atthaba, aksi boikot sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu.

Akan tetapi, aksi boikot ini menurutnya “musiman” sehingga tidak memberikan dampak besar bagi perekonomian penjajah Israel. Karena itu, aksi ini harus dilakukan secara berkesinambungan.

Jika aksi boikot tidak dilakukan bekesinambungan, menurutnya, tidak akan memberikan tekanan pada perekonomian penjajah Israel. Terlebih sekarang ini terjadi penurunan setelah perang berakhir. (Hidayatullah.com, Jum’at, 28 November 2014).

Atthaba meyakini, aksi boikot ini akan lebih efektif dan memberikan dampak besar jika mendapat dukungan dari rakyat, media dan pemerintah. Analisa dia, jika aksi ini berhasil maka akan memukul perekonomian penjajah dan menyebabkan kerugian besar, terutama pada sektor ekspor yang dalam setahun bisa mencapai 90 miliar dolar (tahun 2014).

Dalam pada itu, kita patut memberi apresiasi yang tinggi kepada pemerintah Indonesia terkhusus dalam hal ini Presiden Jokowi yang telah menunjukkan sikap tegas dan berani yang itu tentu sangat berarti terhadap upaya kemerdekaan Palestina yang telah terjajah bertahun-tahun lamanya.

Sikap tegas pemerintah Indonesia tersebut tentu saja selaras dengan konstitusi negara kita yang termuat dalam UUD 1945 bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa.

Namun seiring dengan itu, problem bukan berarti lekas menguap. Hal selanjutnya akan menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat adalah komitmen negara-negara anggota organisasi OKI untuk menindaklanjuti resolusi dan deklarasi KTT luar biasa ini dengan melakukan langkah nyata yang lebih terukur dan simultan.

Sebab, jangan sampai, deklarasi yang telah dihasilkan ini bernasib sama saja seperti deklarasi-deklarasi dilahirkan sebelumnya yang -sayangnya- tidak berdampak apa-apa. Dan, akhirnya dilupakan.

Indonesia harus terus memainkan peran fundamentalnya secara lugas dalam mendukung secara konkret independensi negara Palestina dari cengkraman penjajah Israel. Perhatian Jakarta terhadap krisis Palestina belum selesai dan tidak berhenti di sini.

Euforia helatan akbar itu sudah berlalu, sekarang waktunya jibaku pengaruh, yang tentu -tidak melulu- harus dengan mesiu peluru. Untuk masa depan rakyat Bumi al Quds yang lebih manusiawi di balik tembok-tembok hunian mereka yang rubuh.

____
*) NASPI ARSYAD, penulis adalah Ketua Umum PP Syabab Hidayatullah. Artikel ini sebelumnya telah dimuat di situs berita Islam News, 11 Maret 2016.

Yonif 411/Raider Gelar Bakti Sosial di Hidayatullah Jayapura

Yonif 411 Raider Gelar Bakti Sosial di JayapuraHidayatullah.or.id – Memperingati hari jadi ke-55 Kostrad, Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 411/Raider Kostrad melaksanakan kegiatan bakti sosial berupa pemberian bantuan sembako, kitab suci Al-Quran, dan alat tulis menulis bagi Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah di Holtekamp, Koya Timur, Distrik Muara Tami, Jayapura, belum lama ini.

Bantuan ini diberikan langsung oleh Dansatgas Yonif 411/Raider letkol Inf Nandang Dimyati, S.I.P kepada Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Jayapura yang juga ketua DPW Papua Hidayatullah, Mualimin Amin.

“Semoga bantuan ini dapat bermanfaat bagi semua yang ada di Pondok Pesantren Hidayatullah dan menjadi penyemangat bagi para santri untuk lebih rajin lagi dalam menuntut ilmu yang tentunya berguna bagi diri sendiri, bangsa dan negara kita tercinta ini”, ujar Dansatgas.

Di tempat terpisah, ucapan terima kasih disampaikan pula oleh Mualimin Amin kepada Satgas Yonif 411/Raider yang memberikan bantuan sekaligus bersilaturahmi di Pesantren-nya.

“Semoga di usia yang ke-55, Kostrad selalu menjadi solusi utama untuk mengatasi dan membantu rakyat Indonesia di segala bidang, karena TNI berasal dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyatnya,” ujarnya. (kpc/hio)

Ketua DPRD NTT Apresiasi Peran Kader Hidayatullah

Hidayatullah.or.id – Bertempat di masjid Nurul Hidayah, Kelapa Lima, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi NTT melangsungkan kegiatan Rapat Kerja Wilayah (RAKERWIL) yang dipadu dengan acara Tabligh Akbar yang menghadirkan dai lintas nusantara, Ustadz Akib Junaid yang juga selaku Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah.

Mengangkat tema “Meneguhkan Jati diri Menuju Sukses Tarbiyah dan Dakwah” Rakerwil Hidayatullah NTT ini dibuka oleh Ketua DPRD Provinsi NTT H. Anwar Puageno, SH, pada hari Ahad (28/02/2016) pagi lalu.

Dalam sambutannya, Ketua DPRD NTT Anwar Puageno menyampaikan begitu akrab dengan Hidayatullah, baik di NTT juga kala menjadi staf khusus di Jakarta dengan bertemu dengan para senior Hidayatullah di sana.

“Saya cukup akrab dengan Hidayatullah, kemanapun saya pergi selalu ada orang Hidayatullah, kader-kader Hidayatullah tersebar di manapun,” ungkap Ketua DPRD muslim pertama di NTT ini.

Anwar Puageno mendorong segenap kader Hidayatullah untuk selalu konsisten di dalam melakukan pengabdian keummatan di tengah masyarakat. Ia juga berharap Hidayatullah terus meningkatkan kualitas dan peranannya yang telah digalakkan selama ini.

Usai sambutan, acara dilanjutkan dengan taushiah tabligh akbar yang diisi oleh Ustadz Akib Junaid.

Dalam ceramah dihadapan ratusan jamaah yang hadir, beliau menyampaikan penting pentingnya kesehatan yang Allah SWT berikan sehungga harus tetap dijaga sebagai bentuk rasa syukur kita pada-Nya.

“Begitu mahal kesehatan ini, kebanyakan manusia lupa. Ada yang bekerja siang-malam tidak kenal waktu dan mengabaikan kesehatan yang penting mendapatkan uang. Setelah sakit berapapun uangnya yang harus keluar tidak menjadi soal yang penting sembuh,” ungkap Ustadz Akib Junaid sambil meneruskan beberapa contoh kasus yang telah terjadi di kalangan masyarakat tentang pengabaian terhadap nikmah kesehatan ini.

Acara ini juga turut di hadiri oleh anggota DPP Hidayatullah Bidang Dakwah dan Perkaderan, Ustadz Sholeh Usman, Imam Besar Masjid Islami Center Kota Kupang, Forum Majelis Ta’lim Kota Kupang (FOSIMATA), dan tokoh-tokoh masyarakat dan organisasi lainnya. (Muhammad Adianto)

FOTO-FOTO:

Rakerwir Hidayatullah NTT 2016 Rakerwir Hidayatullah NTT 2016_2 Rakerwir Hidayatullah NTT 2016_3 Rakerwir Hidayatullah NTT 2016_4

Hidayatullah Penajam Ingin Jadi Kebanggan Masyarakat

Kemenag Hadiri Pembukaan Rakerwil Hidayatullah Kaltim Tahun 2015 di Penajam Paser UtaraHidayatullah.or.id – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah bersama dengan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), berkomitmen ingin menjadi lembaga dakwah terdepan kebangaan masyarakat.

Hal itu disampaikan Ketua DPD Hidayatullah Penajam, Ustadz Iwan Abdullah, saat memberikan sambutan dalam acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) di kampus Pondok Pesantren Hidayatullah, Jalan Silkar Girimukti Kecamatan Penajam, belum lama ini.

“Hidayatullah seperti di daerah-daerah lain begitupun Hidayatullah di Kabupaten Penajam Paser Utara, ingin menjadi kebanggaan kabupaten ini. Sehingga nantinya ketika ada pertanyaan di mana lokasi ponpes, dimana ada kawasan religius, dan perkampungan yang tertata secara islami, kita semua bisa menjawab di sini tempatnya,” harap Iwan.

Iwan Abdullah selaku ketua panitia acara Rakerwil Hidayatullah Kaltim 2016 dalam laporannya, berharap dukungan dan doa yang juga diharapkan datang dari Pemerintah Kabuten (Pemkab), seiring perjalanan Hidayatullah akan aktif dan turut serta terlibat dalam pembangunan spiritual, sebagaimana yang digiatkan oleh penggagas dan pendiri Hidayatullah Kabupaten Penajam Paser Utara.

“Kendatipun hari ini sebagian masih mimpi dan masih harapan namun cita-cita besar Hidayatullah Penajam sudah mulai tergambarkan,” katanya.

Pria murah senyum yang kini menjabat sebagai Ketua DPD Hidayatullah Balikpapan menyampaikan sambutan selamat datang kepada seluruh peserta Rakerwil di Kampus Ponpes Hidayatullah PPU.

“Semoga dengan kedatangan peserta menambah spirit dan dukungan. Disadari tanpa dukungan dan doa dari peserta semua mustahil acara tersebut dan kelanjutan Pondok Pesantren Hidayatullah di Penajam Paser Utara dapat dilanjutkan seperti yang diharapkan bersama,” kata Iwan.

Pada kesempatan itu Iwan Abdullah juga meminta kesediaan kepada Wakil Bupati Mustaqim MZ dapat menandatangani masterplan dan penyematan kepada peserta secara simbolis.

Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Kalimantan Timur ke-5 tahun 2016 ini dihadiri seluruh perwakilan Hidayatullah Kab/Kota se-Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, dan secara resmi dibuka oleh Wakil Bupati Kabupaten Penajam Paser Utara Drs. H. Mustaqim MZ, MM.

Wabup Mustaqim saat membacakan secara tertulis sambutan Bupati Yusran Aspar yang sesekali menjelaskan makna dari isi sambutan itu menyampaikan ucapan terima kasih atas dipilihnya Kabupaten Penajam Paser Utara menjadi tempat Rakerwil Hidayatullah se-Kaltim/Kaltara.

Wakil Bupati berharap peserta selama berada di PPU bisa merasa nyaman sehingga dapat mengikuti Raker dengan baik dan lancar. Dan ketika waktu senggang dapat menikmati tempat-tempat wisata dan kuliner.

Sebagaimana disampaikan dan permohonan panitia, “Insya Allah mimpi Hidayatullah akan tercapai,” janji Wabub Mustaqim.

Secara pribadi Wabup mengaku siap selalu membantu kiprah Hidayatullah di kawasan ini, “Tetapi tidak di halaman depan, nanti di halaman belakang saja,” candanya yang disambut tawa seluruh peserta rapat.

Lanjut Wabup, dengan diselenggarakannya Rakerwil diharapkan mampu menjadi wahana konsolidasi, koordinasi dan komunikasi diantara seluruh jajaran pengurus dan anggota di dalam menentukan rencana dan program kerja ke depan sehingga dapat meningkatkan peran Hidayatullah mensukseskan pembangunan nasional melalui peningkatan kualitas keimanan.

Pemerintah Penajam Paser Utara menyambut baik keberadaan Hidayatullah di Kabupaten Penajam Paser Utara ini, karena jelasnya, keberadaannya sangat membantu pemerintah di dalam membangun masyarakat Penajam Paser Utara, khususnya dibidang ilmu keagamaan.

“Kalau pemerintah sendiri saja tidak sanggup untuk mengadakan ponpes. Disinilah peran masyarakat, peran swasta karena pada hakekatnya pelaku pembangunan ada tiga (3) yaitu pemerintah, swasta dan masyarakat,” katanya.

Bupati mengajak mari bersama-sama bekerja, membangun PPU sesuai dengan bidang tugas kita masing-masing. Kalau semua itu bisa berjalan pararel maka, lanjut Wabup, apa yang menjadi visi pemerintah.

“Insya Allah semua bisa tercapai yaitu mewujudkan masyarakat PPU yang sejahtera, mandiri, berkualitas dalam suasana yang agamis,” tutup Wabup.

Tampak hadir dari jajaran Hidayatullah, Ketua DPW Hidayatullah Kaltim DR Muhammad Tang, Sekretaris Abdullah Syarif, dan pimpinan ponpes Hidayatullah perwakilan kab/kota se-Kaltim, dari unsur Muspida hadir beberapa kepala SKPD, Ketua MUI, Kepolisian, Kejaksaan serta undangan. (kem/hio)

Wakil Ketua DPR RI Buka Raker Hidayatullah Jabodebek

Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon membuka secara resmi Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jakarta Bogor Depok Bekasi (Jabodebek) di di Gedung BPLM (CEVEST) Kementerian PDT & Transmigrasi, Jl Pengantin Ali, Ciracas, Jakarta Timur, Jumat, (26/02/2016).

Dalam pidatonya, Fadli Zon mengaspresiasi gerakan yang dilakukan organisasi masyarakat (Ormas) Islam nasional, Hidayatullah, utamanya di bidang pendidikan dan dakwah Islam.

“Kita membutuhkan ormas-ormas seperti ini, yang kiprahnya bagi masyarakat konkret dan nyata terutama di bidang pendidikan dan dakwah yang kontributif,” ungkapnya seperti dikutip laman resmi DPR RI.

Lebih lanjut, Fadli Zon mengatakan pemerintah harus memberikan dukungan dan perhatian positif terhadap ormas semacam ini.

Berikut ini beberapa foto dokumentasi acara Rakerwil Hidayatullah Jabodebek yang kami kutip dari akun resmi Twitter Fadli Zon.

FOTO-FOTO:

[BERITA FOTO] Rakerwil Hidayatullah Jabodebek 2016 [BERITA FOTO] Rakerwil Hidayatullah Jabodebek 2016_2 [BERITA FOTO] Rakerwil Hidayatullah Jabodebek 2016_3

[BERITA FOTO] Rakerwil Hidayatullah Jabodebek 2016_4

Hidayatullah Luwu Timur dan Kabupaten Paser Gelar Raker

Hidayatullah.or.id – Wakil Bupati Luwu Timur Irwan Bachri Syam membuka secara resmi Rapat Kerja Daerah (Rakerda) VI Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Hidayatullah yang dipusatkan di Mesjid Pesantren Hidayatullah, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Sabtu (27/02/2016).

Irwan didampingi oleh Camat Towuti, Aswan Asis dan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Hidayahtullah Sulawesi Selatan, Mardhatillah.

Wabup dalam sambutannya mengajak seluruh komponen Hidayatullah bersama-sama pemerintah memberikan pencerahan kepada masyarakat khususnya umat Islam agar tidak gampang terpedaya. Apalagi banyak propaganda yang mengaitkan gerakan Islam dengan aksi terorisme.

“Kita harus mengubah stigma negatif terhadap umat Islam. Kita harus tunjukkan bahwa Islam itu Rahmatan Lil Alamin” katanya dikutip LKBN Antara Sulsel.

Dia menegaskan bahwa aliran sesat atau pun paham-paham menyimpang yang mengatasnamankan Islam perlu disikapi bersama agar tidak menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat.

“Camat dan kepala desa, saya minta selalu memantau kondisi wilayahnya, laporkan bila ada hal-hal yang perlu kita sikapi bersama,” katanya.

Terkait rakerda, Irwan berharap pengurus Hidayatullah dapat merumuskan berbagai hal yang bermanfaat bagi masyarakat dan selalu sejalan dengan program yang dicanangkan pemerintah.

Irwan juga bersyukur karena pidato pertamanya sebagai wakil pemerintah dilakukan di masjid. “Semoga ini awal yang baik dan mendapatkan berkah dari Allah SWT” ungkapnya.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Mardhatillah mengatakan visi utama Hidayatullah ditujukan untuk membangun peradaban Islam melalui dakwah dan tarbiyah.

“Sejak dulu, Hidayatullah memang selalu sejalan dengan pemerintah dan memfokuskan pada pendidikan Islam, sebab untuk membangun peradaban harus didasari ilmu,” jelasnya.

Usai membuka Rakerda, Wabup Irwan melakukan peletakan batu pertama pembangunan Aula, Guest House dan asrama Putri pondok Pesantren Hidayatullah.

Di waktu yang relatif bersamaan, Dewan Pimpinan Daerah Hidayatullah menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) 2016 Kabupaten Paser. Kegiatan itu dipusatkan di Masjid Pesantren Hidayatullah di Kecamata Kuaro, Sabtu (27/2).

Rakerda itu dibuka Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan SDM Ir Bahruddin Msi. Dia mengajak seluruh komponen Hidayatullah bersama-sama pemerintah memberikan pencerahan kepada masyarakat, agar tidak gampang terpedaya. Mengingat, banyak propaganda yang mengaitkan gerakan Islam dengan aksi terorisme dan ajaran radikal.

“Kita harus mengubah stigma negatif terhadap umat Islam, agar tidak menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat. selain itu kita harus tunjukkan bahwa Islam itu agama rahmatan lil alamin,” kata Bahruddin dikutip Kaltim Post (Prokal Grup).

Selanjutnya, diharapkan pegurus Hidayatullah dapat merumuskan berbagai hal-hal. Terlebih yang bermanfaat bagi masyarakat dan selalu sejalan dengan program yang dicanangkan pemerintah.

“Semoga ini awal yang baik dan mendapatkan berkah dari Allah SWT. Mengingat Hidayatullah memang selalu sejalan dengan pemerintah dan memfokuskan pada pendidikan Islam. Sebab, untuk membangun peradaban harus didasari ilmu,” lanjutnya.

Hadir pada kesempatan tersebut Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah Hidayatullah Kaltim dan Kepala Kantor Kementerian Agama Paser H Maslekhan. (ybh/hio)

FOTO-FOTO

Hidayatullah Luwu Timur dan Paser Dukung Program Pembangunan Hidayatullah Luwu Timur dan Paser Dukung Program Pembangunan2 Hidayatullah Luwu Timur dan Paser Dukung Program Pembangunan3

Mencari Kajian Islam Intensif

Ketua Bidang Dakwah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ustaz Tasyrif Amin / dok
Ketua Bidang Dakwah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ustaz Tasyrif Amin / dok

Hidayatullah.or.id – Berbagai kajian Islam tumbuh subur di tengah masyarakat Muslim saat ini. Ada yang diselenggarakan oleh organisasi Islam, institusi pemerintah, kantor swasta, kelompok masyarakat, maupun perorangan.

Fenomena ini tak jarang menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat untuk memperoleh kajian yang sesuai dengan kebutuhan spiritual mereka. Bagaimana umat Islam seharusnya memaknai fenomena ini dan menyikapinya dengan tepat?

Sekretaris Umum (Sekum) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu’thi mengatakan, tren kajian Islam semakin berkembang sejak tahun 1990-an. Masa ini menjadi titik awal kebangkitan Islam di kota-kota besar.

Menurut Mu’ti, ini merupakan efek kebijakan pemerintah saat itu yang membatasi kegiatan politik di kalangan kampus dan masyarakat. Pembatasan politik itu menyebabkan kegiatan keagamaan menjadi tersendat.

Kedua, perkembangan kajian Islam juga tak lepas dari kebangkitan kelompok santri, terutama dari kalangan menengah. Di kelompok ini, muncul kesadaran dan minat yang tinggi untuk memperdalam Islam dan memperkenalkan Islam secara lebih luas.

Faktor ketiga yang menyuburkan kajian-kajian Islam di masyarakat yaitu munculnya jaringan baru dalam kajian keagamaan. Kelompok dan jaringan ini merupakan bagian dari kelompok tertentu dari luar negeri.

Dipandang dari materinya, kajian Islam yang berkembang umumnya dapat dikategorikan dalam empat kelompok kajian. Keempat kelompok tersebut antara lain kajian yang berkaitan dengan ibadah, kajian untuk memperdalam Alquran dan assunnah misalnya kajian-kajian tafsir, kajian politik Islam, dan kajian umum kontemporer.

Senada dengan Mu’ti, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Agil Siradj mengakui terjadinya perkembangan jumlah kajian Islam di Indonesia. Namun, dilihat dari perbandingan jumlah penduduk dan kegiatan keislaman yang ada, ia menilai ini belum memadai.

“Masalahnya bukan banyaknya, tapi efektif tidak? Untuk syiar ini bagus, tapi diharapkan pengajian itu berbuah,” ujar Kiai Said saat dihubungi Republika, Rabu (24/2).

Menurut Kiai Said, kajian-kajian Islam bukan hanya ritual dan formalitas. Kajian itu hendaknya mengarahkan umat Islam untuk membentuk pribadi Muslim yang memiliki pengetahuan yang utuh tentang Islam. Lebih jauh lagi, kajian yang ada hendaknya mampu mendorong mereka untuk melakukan perubahan diri.

Pendapat ini didukung oleh Ketua Bidang Dakwah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ustaz Tasyrif Amin. Ia mengatakan, maraknya perkembangan kajian Islam belum diimbangi dengan sistematika kajian yang baik, sehingga cenderung bersifat responsif.

“Kalau kita mau meniru Nabi, seharusnya kita terapkan sistem itu. Bagaimana membangun akidahnya, akhlaknya, kemudian membangun masyarakat yang Islami. Karena Islam bukan karena ajaran. Bukan hanya konsep,” ujar dia.

Ia mencontohkan, pada masa Rasulullah hijrah ke Madinah, Islam mendapatkan simpati bukan karena ajaran dan konsep-konsepnya saja. Lebih jauh lagi, ajaran itu tertuang dalam perilaku masyarakat Muslim dan memikat masyarakat Madinah ketika itu.

Ustaz Tasrif mengatakan, kegiatan kajian dan pendidikan Islam perlu dibangun dengan sistem yang kuat. Diperlukan rekonsiliasi dari berbagai kelompok yang ada untuk memulai gerakan dakwah Islam dengan standar keilmuan tertentu.

“Bagaimana berakidah dengan baik, bersyariah, bermoral, sampai menjadi akhlak yang Islami, pada akhirnya nanti ini disebut sebagai peradaban,” ujar dia.

Rekonsiliasi juga penting untuk membendung persaingan antar kelompok yang sering muncul dalam dunia dakwah Islam. Ia memandang perbedaan metodologi dalam berdakwah merupakan hal yang wajar, sebab ada keinginan untuk berlomba dalam kebaikan di setiap kelompok Islam (fastabiqul khaiat).

Sistem yang baik dan kokoh akan mendorong terbentuknya masyarakat Muslim yang kuat. Hal ini juga diamini oleh Mu’ti. Ia menilai, perlu ada kesepakatan di kalangan ormas Islam, termasuk takmir masjid, untuk membahas bagaimana membangun kehidupan keagamaan yang rukun.

Bagi Kiai Said, hal yang perlu diperhatikan dalam persaingan antar kelompok ialah adanya pemahaman terhadap perbedaan itu sendiri. Perbedaan yang ada hendaknya tak menimbulkan sikap saling menjelekkan, merasa paling benar, dan sejenisnya.

“Perlu ada komunitas antarmasjid, kantor, atau tempat pengajian di setiap daerah. (Mereka) perlu melakukan rembugan untuk menyiapkan kajian yang bisa memberikan pengetahuan Islam secara utuh dan mendorong umat Islam agar tambah rajin mengamalkan Islam,” ujar dia.

Adanya kajian-kajian intensif menjadi kebutuhan tersendiri untuk membangun pengetahuan keislaman yang utuh dan berbuah pada pengamalan. Kiai Said menilai, kajian intensif yang ada saat ini masih belum maksimal. Kajian-kajian yang ada umumnya bersifat umum dengan mengangkat tema-tema yang umum pula. Ia berpendapat, perlu ada kajian-kajian yang fokus pada tema-tema tertentu, misalnya fikih, akidah, dan sebagainya.

Kaderisasi dai dan ulama juga menjadi kunci pengembangan kajian Islam yang intensif. Sayangnya, kata Kiai Said, proses kaderisasi yang dilakukan ormas-ormas Islam saat ini baru mencakup cara-cara dan metode dakwah saja.

“Programnya bagus, tapi baru sebagai metode untuk membekali orang menjadi mubaligh. Lebih banyak praktik, sementara pembekalan tentang materi keislaman yang utuh tidak diajarkan karena butuh wktu lama,” ujar dia.

Problem yang sama juga menjadi perhatian Mu’ti. Ia melihat adanya fenomena yang sumbang dalam pengkaderan mubaligh di Indonesia. Para dai seringkali tidak dipilih berdasarkan kemampuan dan latar belakang keilmuan, namun hanya sebatas kemampuan berorasi dan melebarkan jaringan.

“Kelompok ini yang menurut saya gagal menyampaikan gagasan Islam yang luas kepada audiens dengan sebaik-baiknya,” ujar dia.

Untuk dapat memperoleh pandangan yang utuh melalui kajian-kajian yang diikuti, Mu’ti mengatakan, masyarakat perlu melakukan pengkajian lebih mendalam. Perlu ada upaya untuk membandingkan satu pendapat dengan pendapat lain.

Selanjutnya, ketika menemukan hal-hal yang dirasa kurang jelas atau menimbulkan pertanyaan, umat Islam disarankan untuk bertanya kepada guru yang mempunyai kualifikasi ilmu dalam bidang yang sesuai. (HU Republika, Jumat, 26 Februari 2016)

Dibutuhkan, Generasi Ikhlas untuk Indonesia Bermartabat

[youtube width=”100%” height=”300″ src=”JazcybUz_Bc”][/youtube]

Hidayatullah.or.id – Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon, memuji ormas Islam yang memiliki kader berkarakter pemberani dan ikhlash dalam berdakwah. Karakter ini dibutuhkan dalam pembangunan bangsa.

“Untuk menuju Indonesia bermartabat, saya kira memerlukan ini,” ujarnya dalam acara pembukaan Rakerwil Hidayatullah Jabodebek di Ciracas, Jakarta Timur, Jumat, 17 Jumadil Awwal 1437 (26/02/2016).

Ia mengatakan, dalam dakwah, sangat banyak tantangan yang dihadapi ormas Islam maupun para dai. Tantangan itu bisa membuat pelaku dakwah kehilangan jati diri.

“Kita harus punya suatu basis yang kuat,” ujarnya pada acara di Gedung BPLM (CEVEST) Kementerian PDT & Transmigrasi, Jl Pengantin Ali itu.

Basis tersebut, lanjut politis Partai Gerindra ini, di antaranya meliputi aspek keagamaan dan keorganisasian.

Di sisi lain, Fadli Zon memandang optimis, tidak ada hambatan berarti bagi gerakan dakwah di Indonesia. “Kecuali kita berdiam diri,” imbuhnya di depan 200-an dai.

Oleh karena itu, ia berpesan agar ormas Islam turut andil mempersiapkan calon-calon pemimpin Indonesia ke depan.

“Mudah-mudahan Hidayatullah berperan mengedukasi (masyarakat) supaya jangan salah memilih pemimpin. Kalau salah, (dampaknya) bisa lima tahun, sepuluh tahun, dan seterusnya,” harapnya.

Dalam rangka itu, kata Fadli Zon, ormas Islam terlebih dahulu harus mendapat kepercayaan oleh umat dan masyarakat. Kepercayaan itu pun harus dijaga.

Agar dipercaya, ormas Islam mesti menumbuhsuburkan semangat kesukarelaan dalam gerakannya. [Baca: Ormas Islam Dinilai Sudah Tepat di Jalur Dakwah, bukan Politik]

Mendekati Masyarakat

Sementara itu, Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr (cand) Nashirul Haq, mengatakan, di antara program pendekatan kepada umat adalah dengan mengajak kembali ke al-Qur’an.

“Kita datang ke rumah-rumah, bukan meminta sumbangan, tapi memberikan sumbangan. Sumbangannya apa? Kita mengajarkan al-Qur’an,” ujarnya dalam rakerwil bertema “Meneguhkan Jati Diri Bangsa Menuju Indonesia yang Bermartabat” ini.

Terkait kepemimpinan, ia mengatakan, ormas Islam sepatutnya mulai bergerak secara masif untuk melahirkan para pemimpin Indonesia.

Ormas Islam pun perlu meyakinkan masyarakat, bahwa, kata dia, “Kalau bapak-ibu mau selamat, pemimpin kita ini harus yang dekat sama Allah, bukan cuma dekat sama rakyat. (Hidcom)

Hidayatullah Jayapura Tuan Rumah Outbond Kebangsaan

Hidayatullah Jayapura Tuan Rumah Outbond Cinta Tanah Air Hidayatullah Jayapura Tuan Rumah Outbond Cinta Tanah Air2Hidayatullah.or.id – Ratusan anak yang merupakan pelajar SD/MI di se-wilayah Jayapura, Papua, mengikuti Latihan Kepemimpinan dan Outbond Nasionalisme Kebangsaan, yang digelar Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 411/Raider, Salatiga. Kegiatan itu digelar di Pondok Pesantren Hidayatullah, Holtekam, Jayapura, Sabtu – Minggu (27-28/2) kemarin.

Dansatgas Yonif 411/Raider, Salatiga melalui Pasiter Satgas Letda Inf Nowo Kiswanto mengatakan, bahwa kegiatan yang dilaksanakan bersama anak-anak SD/MI di Jayapura ini, bertujuan untuk melatih keberanian, kepemimpinan serta kedisiplinan dalam menumbuhkan rasa cinta tanah air.

“Inti dari kegiatan ini adalah untuk melatih keberanian, memiliki jiwa kepemimpinan serta rasa kedisiplinan dalam menumbuhkan rasa cinta tanah air,” terang Letda Inf Nowo Kiswanto dalam rilisnya.

Sementara, Yudi, salah seorang guru Pesantren Hidayatullah Jayappura, mengatakan, bahwa kegiatan ini juga untuk menumbuhkan sifat patriotisme bagi para siswanya. Pasalnya, bagaimanapun juga tongkat estafet pembangunan harus tetap berjalan dan mereka mau tidak mau harus menerimanya.

Selain itu, dalam kegiatan tersebut di dalamnya dilakukan penggemblengan mental. Meski masih terlalu dini, namun jika mental anak-anak ini sudah jadi maka mereka siap menjadi generus yang berani, siap memimpin serta penuh kedisiplinan.

“Kami selaku guru, menyampaikan rasa terima kasih atas kerjasamanya dalam mendidik anak-anak sehingga ke depan dapat menjadi generasi yang penuh tanggungjawab,” tandas Yudi. (red/hio)

Gubernur Apresiasi Peran Hidayatullah di Sulbar

Hidayatullah.or.id – Gubernur Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) Anwar Adnan Saleh mengapresiasi Hidayatullah dalam peranannya turut serta membangun kawasan yang dimekarkan sejak tahun 2004 tersebut. Gubernur berharap Hidayatullah sebagai organisasi yang memiliki konsen di bidang dakwah dan pendidikan untuk terus melanjutkan kiprahnya di tengah masyarakat.

Hal itu disampaikan Gubernur saat membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Sulawesi Barat yang dilangsungkan di Hotel Maleo, Mamuju, Kamis (25/02) lalu.

Gubernur Anwar meminta dai-dai Pondok Pesantren Hidayatullah Sulawesi Barat untuk menyampaikan kepada masyarakat hal-hal yang menjadi ancaman bagi generasi muda khususnya di Sulawesi Barat.

“Munculnya persoalan LGBT dan beberapa hal lain yang bisa mengancam negara maupun generasi muda menjadi perhatian khusus bagi pemerintah Sulawesi Barat untuk disampaikan kepada masyarakat, salah satunya melalui bantuan dai-dai Hidayatulllah yang ditepatkan di beberapa daerah terpencil di Sulawesi Barat,” kata Gubernur.

Dikatakan Anwar, dai Hidayatulllah yang akan ditempatkan didaerah terjauh di Sulawesi Barat perlu menyampaikan kepada masyarakat hal yang menjadi ancaman bagi negara sehingga tidak diikuti terutama penyakit sosial LGBT yang perlu diwaspadai agar tidak merusak generasi muda.

Anwar menambahkan yang perlu dipawaspadai saat ini adalah darurat narkoba kerena informasi yang didapatkan di Sulawesi Barat sendiri para petani sebagian sudah mengkonsumsi barang haram tersebut untuk dijadikan penyemangat dalam bekerja dan itu, kata dia, tidak bisa dibiarkan begitu saja.

Dalam sambutannya Anwar Adnan Saleh juga menyampaikan kekaguman dan kedekatannya dengan Hidayatullah.

“Saya sangat dekat dengan Hidayatullah, di berbagai daerah saya berusaha singgah saat ada kunjungan kerja waktu menjabat sebagai anggota DPR RI dulu,” katanya.

“Khusus di Sulbar saya tau persis perkembangannya melalui kegiatan kegiatan yang dilakukan di masyarakat. Namun baru kali ini saya bisa hadir langsung dalam acara yang diadakannya dan bagi saya ini adalah berkah,” sambungnya.

Dalam acara ini turut hadir anggota DPD RI DR. Ir. H. Abdul Aziz Kahar Muzakkar, M.Si serta Kanwil Kemenag, Sekda Provinsi, Polres, Dandim dan beberapa SKPD lainnya.

Abdul Aziz dalam arahannya mengingatkan pentingnya peran-peran pembinaan umat serta urgennya setiap muslim untuk selalu meluruskan niatnya dengan dekapan wahyu Ilahi.

“Hendaknaya kita menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan dan pedoman kita karena Qur’an adalah sumber kebahagiaan,” kata Aziz yang juga perintis Pesantren Hidayatullah Makassar ini.

Pada kesempatan itu beliau juga menekankan kepada dai dai Hidayatullah agar terus menggencarkan gerakan dasar mengajar dan belajar Al-quran yang familiar kita kenal sebagai Grand MBA.

“Termasuk di wilayah gubernuran kita akrabkan semuanya dengan Al-Qur’an” tandasnya.

Spirit para peserta dan undangan semakin kuat dengan sambutan yang dikemas lugas menjadi bahasa khasnya H. Jamaluddin Noor, M.Si selaku Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga DPP Hidayatullah.

“Insya Allah kalau spiritnya para dai bagus, silaturahminya bagus dan proposalnya kecil itu 1 milyar bahkan pak gubernur akan bantu lebih dari itu,” Sontak pernyataannya disambut tepuk tangan dan riuh rendah hadirin.

Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat Drs. Imran M. Djufri mengatakan kehadiran Hidayatullah adalah gerakan riil yang dikemas melalui domain dakwah, pendidikan dan sosial.

“Alhamdulillah tinggal kabupaten Mamasa yang belum ada pesantren kita tapi sudah ada dakwah kita di sana,” sambutnya.

Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Sulawesi Barat ini dihadiri sekitar 300 undangan dan 50 peserta Rakerwil yang berasal dari lima kabupaten di antaranya kabupaten Majene, Polman, Mamuju, Mamuju Tengah dan Mamuju Utara. (Muhammad Bashori)

FOTO-FOTO:

3 Gubernur Apresiasi Peran Pembangunan Hidayatullah di Sulbar Rakerwir Hidayatullah Sulbar 2016 Rakerwir Hidayatullah Sulbar 20164 Rakerwir Hidayatullah Sulbar 20165