Hidayatullah.or.id -– Gubernur Propinsi Kepulauan Riau, M Sani meresmikan asrama putri Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Uncang, Batam, hari Sabtu (24/12/2015) lalu.
Acara peresmian yang dihadiri undangan sekitar 1.000 ini juga dihadiri oleh Walikota Batam, Dr Ahmad Dahlan, perwakilan dari BP Batam, PT BNI Syariah, dan Semen Bosowa.
Asrama yang memiliki kamar berjumlah 31 buah itu rencananya akan ditempati 234 santri putri, serta santri putri yang akan masuk tahun ajaran 2015 ini.
Menurut Ustadz Jamaludin Nur, Pimpinan Pesantren Hidayatullah Batam, dana pembangunan asrama ini berasal dari bantuan pemerintah Propinsi Kepri.
“Asrama ini dibangun dengan dana APBD senilai 4,5 milyar,” ujarnya.
Alhamdulillah, katanya, ini bentuk kepercayaan pemerintah terhadap Hidayatullah Batam.
Asrama santri putri ini berdiri di areal tanah pesantren seluas 2, 5 hektar yang beralamat di Jl Brigjen Katamso RT 003/003 Kel Tanjung Uncang, Kec Batu Aji, Kota Batam.
“Alhamdulillah, telah berjalan pendidikan taman kanak-kanak, SD Islam Integral, SMP Islam Integral, hingga Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan,” papar Jamal.
Sementara itu, Gubernur Kepri dalam acara peresmian itu menegaskan bahwa untuk membangun pendidikan tidak bisa dilakukan hanya pemerintah. Perlu dilakukan secara bersama.
“Pemerintah memang punya dana pendidikan, tapi itu harus dipegang oleh tangan dingin yang bisa mewujudkan dana itu menjadi manfaat untuk orang banyak,” ulasnya.
Sani mengakui bahwa Hidayatullah telah berjuang sejak lama dalam mewujudkan pendidikan wilayah Propinsi Kepri.
“Saya mengingatkan bahwa bantuan itu harus dianggap sebagai harta Allah yang mesti digunakan untuk fastabiqul khairat,” tegas orang nomor 1 di Kepri ini.
Usai sambutan, Gubernur Kepri menandatangai prasasti peresmian yang dilanjutkan dengan peninjauan asrama santri putri Pesantren Hidayatullah Tj Uncang.
Saat ini, Pesantren Hidayatullah Tj Uncang juga terus melakukan pembangunan, seperti: Masjid Ar-Riyadh, rumah pengasuh, pagar pesantren, dan lokal belajar. (hio/hic)
Hidayatullah.or.id — Ketua Dewan Syura Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, KH. Hamim Thohari, M.Si, mengatakan pelaku penginaan terhadap Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wassalam seperti yang dilakukan oleh majalah Charlie Hebdo di Perancis seharusnya dirajam sesuai dengan ketentuan hukum Islam.
“Kalau itu terjadi di Indonesia, pelaku harus diseret ke penjara. Kalau di negeri Islam, pelakunya dirajam,” kata KH Hamim Thohari kepada wartawan di Jakarta, baru baru ini.
Saat dihubungi, beliau mengaku baru saja melewati gang sempit sebuah pemukiman di bilangan Bekasi. Di mulut gang ada spanduk besar berbunyi ‘selamat datang pecinta Rasulullah’.
“Saya bayangkan bagaimana jika Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam yang begitu mereka cintai dihinakan,” imbuhnya.
Kiai Hamim menegaskan, siapa pun tidak boleh berdalih kebebasan berekspresi untuk melanggar hak asasi orang lain. Kebebesan berekspreasi tidak boleh sampai melanggar hak asasi manusia.
“Hak yang paling asasi manusia adalah hak beragama. Maka sangat naif alasan mereka (Chalie Hebdo, red),” tegasnya.
Beliau menambahkan, atas perbuatan absurd yang dilakukann berakibat perbuatan mereka telah menimbulkan fitnah. Ini jauh lebih bahaya lagi.
“Saya usul agar PBB membentuk mahkamah independen untuk mengadili pelanggar HAM khusus dalam masalah penistaan agama,” ujarnya.
Seperti diketahui, Majalah Charlie Hebdo awal bulan Janauri ini diserang orang bersenjata yang dilaporkan bernama Kouachi bersaudara lantaran menampilkan kartun satire Nabi Muhammad. Majalah satire itu memang kerap membuat kartun yang menghina Nabi Muhammad dan Islam.
Sejumlah pengamat menilai serangan terhadap kantor Charlie Hebdo sebagai bentuk protes kalangan Muslim terhadap pemuatan kartun Nabi Muhammad SAW oleh majalah tersebut. Meskipun cara kekerasan yang dilakukan para penyerang juga tidak dapat dibenarkan. Namun jika Charlie Hebdo tetap ‘keras kepala’, gelombang protes internasional bisa kembali pecah.
Peristiwa yang terjadi di Perancis tersebut dianggap berpotensi merembet ke negara lain kalau Charlie Hebdo terus-terusan membuat kartun satire Nabi Muhammad. Sehingga, harap beliau, pemerintah harus menekan pemerintah Perancis untuk menghentikan tindakan media satir tersebut. (ybh/hio)
INTI ilmu ekonomi pembangunan adalah kesejahteraan masyarakat. Konsep kesejahteraan masyarakat dapat terlaksana jika pertumbuhan ekonomi mampu dipacu.
Menurut ilmu ekonomi konvensional, tingkat pertumbuhan yang signifikan bisa tercapai bila faktor produksi dimanfaatkan secara maksimal. Masyarakat akan sejahtera jika pendapatan per kapita naik dari tahun ke tahun.
Realitasnya, kehidupan masyarakat saat ini justru semakin mengkhawatirkan. Bank-bank di Amerika banyak yang gulung tikar. Begitu pula di belahan dunia lain, termasuk di Indonesia.
Apa yang menyebabkan ini semua terjadi? Berkaca pada kasus Bank Century, krisis keuangan muncul akibat moral hazard (sikap mental yang dapat menyebabkan terjadinya kerugian besar). Begitu juga krisis keuangan yang melanda dunia saat ini.
Salah satu sikap mental yang menyebabkan krisis ini adalah diagung-agungkannya sistem ekonomi konvensional yang berdasarkan pemikiran positif, bukan normatif. Pemikiran positif mensyaratkan agar setiap pelaku ekonomi dapat meningkatkan pendapatannya dengan menempuh segala cara. Dalam ajaran Islam, sistem ekonomi positif tidak mengenal haram atau halal.
Itulah sebabnya, mendirikan perusahaan yang memproduksi barang haram seperti minuman keras, narkoba, serta perusahaan jasa seperti pelacuran, tidak menjadi masalah dalam konsep ekonomi konvensional.
Tak heran, bila di benak para pelaku ekonomi konvensional tumbuh keinginan untuk menghalangi berlakunya ajaran Islam secara sempurna. Mereka menilai, ajaran Islam bisa menghalang-halangi cita-cita mereka.
Tiada seorang pun di dunia ini yang menampik bahwa kekayaan alam Indonesia berlimpah. Semua ahli ekonomi, baik di dalam maupun di luar negeri sepakat akan hal itu.
Bila kekayaan alam ini dikelola dengan tepat, niscaya Indonesia akan dapat mencapai pertumbuhan rata rata 20 persen per tahun, melampaui pertumbuhan negara lain di Asia, tanpa dililit pinjaman luar negeri.
Apalagi industri pengolahan sumber daya alam sangat menguntungkan karena capital output ratio (COR), atau perbandingan antara modal yang diperlukan dengan hasil yang diperoleh sangat kecil. Semakin kecil COR, semakin besar laba investasi.
Sayangnya, yang terjadi adalah kebalikannya. Laba besar hasil penggalian tambang (extractive) tidak untuk membangun rakyat. Justru yang diterima rakyat adalah efek dari kerusakan lingkungan akibat pemerkosaan sumber daya alam yang tidak kenal ampun.
Tak aneh bila alam yang diekspolitasi habis-habisan itu kemudian ”berteriak” dengan bahasanya. Mereka enggan menampung air hujan karena hutan sudah gundul. Banjir pun datang dan rakyat kembali sengsara.
Begitu pula longsor, gempa bumi, stunami, dan badai yang menggulung kota, semua akibat ulah manusia yang rakus, yang menganggap kesejahteraan hanya bisa diraih lewat materi.
Tak dapat dibayangkan betapa besar biaya pemulihan pasca tsunami di Aceh, Yogyakarta, Padang, Cianjur, Sukabumi, juga banjir di Sulawesi dan Sumatera Utara. Cita-cita pembangunan menuju tinggal landas telah gagal sebelum landasannya dibangun.
Belum lagi budaya korupsi yang seakan merata di semua daerah. Mulai level atas sampai level paling bawah. Mulai tingkat pusat, sampai ke kampung-kampung.
Jika ini terus dibiarkan, musibah tak akan pernah berhenti. Oleh karena itu, sebelum semuanya terlambat, marilah kita bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memiliki alam semesta ini. Wallahu a’lam.
_______________ Dr. H. Abdul Mannan, SE, MM,penulis adalah Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah. Artikel ini juga telah dimuat di majalah nasional Suara Hidayatullah edisi Maret 2010.
DOWNLOAD TERBARU! Buletin Hidayatullah edisi Janauri 2015. Bagi Anda yang belum mendapatkannya, bisa didownload pada lampiran di akhir artikel ini. Tentu banyak hal yang menarik di dalamnya, jangan sampai ketinggalan.
BULETIN HIDAYATULLAH adalah media informasi dan silaturrahim ormas Hidayatullah yang terbit reguler setiap bulan. Buletin ini diedarkan melalui saluran transimi virtual seperti email dan sejenisnya tanpa dikenakan biaya alias gratis bagi siapa saja yang ingin berlangganan.
Kami sangat merekomdendasikan supaya Anda menggunakan peramban (browser) Google Chrome ketika mengunduh (download) Buletin Hidayatullah ini untuk mendapatkan akses cepat dan kustomasi tampilan yang lebih dinamis. Download Buletin Hidayatullah di bawah ini:
Hidayatullah.or.id — Menjalani hidup dengan fisik yang sempurna, hidup berkecukupan, memiliki fisik normal, dan berkumpul bersama keluarga merupakan dambaan setiap orang. Dan, untuk hal itu berbagai carapun dilakukan untuk mewujudkan apa yang diimpikan.
Tak berbeda dengan anak-anak yatim dhuafa penyandang disabilitas di Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara ini. Namun apalah daya, kepada siapakah mereka dapat menaruh harapannya.
Alhamdulillah kehadiran Ibu Meli dan para donatur BMH Kukar lainnya dalam program “Bahagiakan Yatim dan Dhuafa” bertempat di Pondok Pesantren Hidayatullah Marangan Loa Kulu, Kutai Kartanegara sedikit memberikan keceriaan mereka, beberapa waktu lalu.
Dalam acara yang dihadiri 100 yatim dhuafa penyandang cacat tersebut, yang dibuka langsung oleh Ikhsan Fadhillah S.H.I selaku kepala BMH Cabang Tenggarong anak-anak yang Allah muliakan itu menampakkan kegembiraan.
Dalam sambutannya, Ikhsan pun bertutur, “Terima kasih atas kepercayaan para donatur kepada BMH selama ini, atas zakat, infak dan sedekah anda lah anak-anak yatim dhuafa ini dapat lebih diperhatikan dan diberdayakan, setidaknya kita bisa turut bahagia dengan kegembiraan yang nampak pada mereka saat ini,” tururnya antusias.
“Insya Allah untuk mempersiapkan generasi bangsa yang unggul dan mandiri, anak-anak binaan BMH ini akan terus mendapatkan pembinaan, pembelajaran Al-Qur’an dan juga berbagai macam pelajaran lainnya,” sambungnya.
Acara tersebut pun disambut haru oleh Nur Rahman yang selama ini merasa kesulitan untuk membelikan perlengkapan sekolah untuk anak-anaknya.
”Alhamdulillah terima kasih kepada BMH, insya Allah dengan santunan ini saya mau belikan perlengkapan sekolah anak saya,” ujarnya penuh rasa haru.
Apa yang dirasakan anak-anak yatim dhuafa penyandang cacat tersebut merupakan gambaran kecil dari begitu banyak nya yatim dhuafa yang membutuhkan kemurahan hati kita semua.
Bersama BMH, zakat, infak dan sedekah anda akan menjadi awal perubahan dan keceriaan generasi bangsa menuju hidup yang lebih baik. Zakat pilar perubahan.
Pimpinan Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, meminta kepada seluruh pengurus Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah untuk terus bersemangat mengurus Islam lewat organisasi Hidayatullah.
Hidayatullah.or.id -– Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) periode 2014-2019 Mahyudin ditemani Wakil Ketua Komisi II dari fraksi PKB Lukman Edy dan rombongan hari Sabtu (17/01/2015) melakukan kunjungan kerja ke Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan.
Rombongan mengunjungi pesantren di Jalan Mulawarman RT 25 Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kaltim itu untuk bersilaturahim serta berdialog bersama para ustad dan santri.
Menurut Mahyudin, sebagai seorang politisi dia mengaku harus dekat dengan para kiai dan santri.
“Biar lancar dan lebih berkah,” katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa lembaga pesantren adalah lembaga pendidikan yang masih utuh mengajarkan norma-norma dan nilai-nilai keagamaan.
Di tengah arus globalisasi dengan menguatnya gaya hidup individual, pesantrean terus berjuang mengajarkan kebersamaan.
Sementara itu Ustad Abdul Qadir Abdullah, salah satu pembimbing di pondok tersebut mengatakan, ini adalah kunjungan pertama MPR ke pesantren tersebut.
Hal senada juga di sampaikan Ustad Hamzah Akbar, pengurus pondok tersebut, ia mengaku terkejut dengan kunjungan pimpinan MPR itu.
Di tengah-tengah pertemuan tersebut, seorang santri bertanya kepada Mahyudin mengenai Otonom Khusus (Otsus) di Kaltim.
Menurutnya, dasar utama pemberian Otsus kepada daerah adalah pemerataan pembangunan. Bukan karena suatu daerah menginginkan kemerdekaan.
Dia mencontohkan, Papua yang kini menyandang Otsus sebagai daerah tertingal. Begitu juga di Aceh lantaran perang dan konflik panjang sehingga pembangunan di sana menjadi tertinggal.
Sementara Yogyakarta memang daerah kerajaan. Saat bergabung dengan NKRI mereka meminta otonomi khusus.
“Kaltim dasarnya adalah keadilan. Karena merasa sumberdayanya besar. Kenapa masih banyak masyarakat yang miskin. Itu perasaan. Tetapi perlu dicek apakah benar. Saya tak tahu peluangnya nanti seperti apa. Yang jelas tahapannya, Gubernur Kaltim rapat di DPRD untuk menyiapkan naskah akademiknya. Kami akan berjuang bersama baik di daerah maupun pusat,” ungkasnya.*/(Siraj)
Hidayatullah.or.id — Seorang Muslim, asal New York, Amerika Serikat Hassan Abdullah Muhammad hari Kamis (15/01/2015) lalu berkunjung ke Pesantren Hidayatullah Makassar.
Hasan datang ke pesantren yang terletak di kompleks BTP itu bersama rekannya orang Indonesia, Muhammad Zuhair.
Kunjungan Hasan disambut oleh Ketua Pesantren Hidayatullah Makassar, Ustadz Sarmadani, Sulton, dan Arvah Bandule.
Hasan yang kini bekerja di RasGas Company Limited, di Doha, Qatar ini berada di Pesantren Hidayatullah sekitar tiga jam. Dia berkeliling pesantren sambil melihat-lihat lingkungan, dan sekolah bahkan juga sempat berpoto bareng dengan siswa SD Al Bayan.
Selain itu, dia juga sempat shalat zuhur berjamaah di Masjid Umar Al Faruq. Usai shalat, Hasan sempat memberikan motivasi singkat kepada para santri SMP/SMA Al Bayan.
“Saya berbahagia datang ke tempat ini. Tempat yang indah dan orangnya juga ramah,” ujarnya. Ia mengaku sangat berkesan sekali dengan umat Islam di Indonesia, khususnya Makassar. Kunjungannya ke Indonesia adalah untuk pertama kalinya.
Hasan adalah seorang mualaf. Dia masuk Islam sejak 40 tahun yang silam. Dia merasa bahagia sekali jadi Muslim.
Kini, pria yang sudah fasih membaca al Quran berharap, para santri dapat meneruskan perjuangan Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam agar Islam tetap jaya.
“Semoga kalian dapat menjadi generasi pelanjut dakwah,” harapnya.*/ (Danny/Makasar)
PUNCAK kejayaan peradaban Islam adalah ketika Rasulullah memimpin Islam di kota Madinah. Salah satu indikatornya adalah kesiapan para pemuda untuk mengambil tanggungjawab dalam membangun umat demi kejayaan Islam.
Kesiapan para pemuda ini untuk mengisi perannya di semua lini adalah karena keberhasilan mendidik menuju aqil baligh mereka. Tersebutlah sahabat-sahabat yang menjadi ujung tombak dalam pergerakan dakwah pada masa itu, seperti: Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, Anas bin Malik, Zubair bin Awwam, dan masih banyak sahabat muda lainnya.
Apa yang kita dapat lihat di zaman sekarang ini adalah bukti kelemahan para orangtua untuk mengantarkan anak-anak menuju aqil balighnya. Peran-peran yang ditawarkan oleh peradaban saat ini telah membutakan generasi kepada tujuan sebenarnya; yang berorientasi pada materi semata.
Manusia diukur dalam takaran harta. Siapa yang banyak hartanya maka ialah yang sukses, tanpa peduli apakah kehidupannya memberi manfaat bagi umat karena benarnya syari’ah yang dijalani. Andil para orangtua adalah memberikan toleransi yang besar terhadap tawaran ini.
Secara syariah ketika seorang anak mencapai aqil baligh, maka berlakulah sinnu taklif; yaitu masa-masa pembebanan syariah. Artinya, anak kita yang mencapai aqil baligh maka kewajiban syariahnya akan setara dengan kedua orangtuanya.
Baligh atau kedewasaan fisik biologis mesti sejalan dengan aqil atau kedewasaan psikologis, sosial, maupun syariah. Ketika itu, anak-anak kita akan setara kewajibannya dengan kedua orangtuanya dalam shalat, puasa, zakat, haji, jihad, nafkah dan kewajiban sosial lainnya. Mereka telah menjadi manusia dewasa, yang memikul semua beban kewajiban seorang manusia dewasa.
Lalu pertanyaanya, apakah anak-anak kita telah siap dengan kepahaman akan hukum-hukum ini sebelum mereka mencapai aqil baligh?. Kelemahan ilmu yang kita miliki adalah salah satu alasan, tapi bukan tidak ada solusi.
Yang pertama harus kita jadikan titik start dalam mengantarkannya adalah paham makna aqil baligh, lalu merencanakan bagaimana mereka diantarkan. Kemudian melepas mereka dengan percaya dan yakin akan melalui tahapan usia dewasanya dengan langkah yang benar.
Akan terjadi percepatan yang luar biasa dalam membangun peradaban ini, jika masalah ini tuntas dalam sebuah keluarga. Kemudian membangun jamaah dengan kepastian bahwa dari keluarga-keluarga ada jaminan kesiapan para pemuda mengemban misi peradaban.
Mendidik menjelang usia baligh berarti mendidik di usia tamyiz (7-12 tahun), usia ini adalah usia SD dan pra tamyiz (usia 0-6 tahun) usia PAUD.
Pada ujung tahapan tamyiz, anak-anak sudah harus dapat mulai terlatih menjalankan syari’at berdasarkan hukumnya. Misalnya hukum menutup aurat, pergaulan, thoharah, dan adab adab, termasuk kecenderungannya untuk mengambil bagian dari kerja-kerja sosial atau amal-amal jama’i. Sehingga ketika masuk usia balighnya hal hal tersebut sudah menjadi karakter dari mereka.
Bisa dibayangkan bahwa jika hal ini telah menjadi karakter maka betapa mudahnya mengatur mereka dan memberikan amanah yang besar dalam tanggungjawab keumatan.
Tahapan tamyiz mudah untuk dilakukan jika usia pra tamyiz, anak-anak juga sudah disiapkan menuju usia tamyiznya. Golden age, begitulah istilah yang diberikan pada usia pra tamyiz. Perkenalan dengan syariat dimulai di usia ini berupa adanya teladan atau uswah yang dicontohkan oleh orangtua atau para pendamping mereka seperti pengasuh, guru, teman, nenek atau lingkungan sosial lainnya dimana ia berada.
Alangkah indahnya jika dari lisan mereka kita sudah mendengar kalimat-kalimat thayyibah meluncur dengan lugas, tak ada kumpulan nama-nama binatang atau sumpah serapah lainnya. Apalagi jika mereka sudah dapat mengucapkan “Kata Allah, kita harus saling tolong-menolong” atau “Kata Rasulullah, makanlah dengan menggunakan tangan kananmu”. Sungguh, yang akan kita saksikan adalah anak- anak akan menjadi agen-agen penegakan syari’at.
Para guru PAUD dan SD juga menjadi penentu bagi kesiapan anak untuk menuju usia aqil baligh. Kompetensi ilmu para guru, harus terus dikuatkan terutama internalisasi terhadap nilai-nilai Islam kepada anak. Internalisasi akan menjadi sinkron apabila apa yang disampaikan bukan karena hanya misi menuntaskan materi pengajaran saja, tetapi lebih karena apa yang diajarkan sudah menjadi karakter guru yang bersangkutan.
Oleh karena itu, salah satu hal yang prinsip adalah memilihkan anak-anak kita tempat untuk tumbuh kembang yang aman, kukuh, terjamin, dan terkondisi baik (secure) dalam aqil dan balighnya, termasuk memilihkan sekolah yang tepat baginya.
Tugas ini boleh jadi “susah tapi bisa” bukan “bisa tapi susah”. Mari kita menguatkan niat dan membuat harapan ini menjadi kenyataan yang menyenangkan dengan penuh kesyukuran, yang akan kita dapatkan di yaumil haq nanti. Seperti digambarkan pada hadits Nabi SAW dinukil dari kitab Nuzhah al-Majalis wa Muntakhib an-Nafais ash-Shufuri dikeluarkan oleh Abu Na’im dari jalan ath-Thabrani, berikut :
Dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Pada hari kiamat kelak diserulah anak-anak kaum Muslim, ‘Keluarlah kalian dari kubur kalian’. Merekapun keluar dari kuburnya. Lalu, mereka diseru, ‘Masuklah ke dalam syurga bersama-sama’. Seraya mereka berkata: ‘Duhai, Tuhan kami, apakah orang tua kami turut bersama kami?’. Hingga pertanyaan keempat kalinya menjawablah Dia, ‘Kedua orang tua kalian bersama kalian’.
(Maka) berloncatanlah setiap anak menuju ayah ibunya, memeluk dan menggandeng mereka, mereka memasukkan orang tuanya kedalam sorga. Mereka lebih mengenal ayah dan ibu mereka pada hari itu melebihi pengenalan kalian terhadap anak-anak kalian di rumah kalian.”. *
________ AMALIA HUSNAH BAHAR, penulis adalah Sekjen PP Muslimat Hidayatullah (Mushida) dan kini diamanahi sebagai tim pakar di Departemen Pendidikan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok (DP2HD).
Tampak bangunan lama Masjid Baitul Makmur Pesantren Hidayatullah Sebatik yang akan direkonstruksi untuk dapat menampung jamaah sholat lebih banyak /ANC
Hidayatullah.or.id — Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara), Rabu pekan lalu (7/1), mengirim tim Pengukuran Titik Koordinat Arah Kiblat ke Masjid Baitul Makmur Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah yang tepat berada di daerah Perbatasan NKRI yang terletak di Desa Aji Kuning Kecamatan Sebatik Tengah.
Turunnya tim pengukur dari Kanwil Kemenag Nunukan ke kelapangan ini sehubungan dengan adanya permintaan pengurus Masjid Baitul Makmur yang akan merenovasi bangunan Masjid tersebut menjadi lebih besar dan representatif.
Tim dipimpin langsung oleh Penyelenggara Syariah Kanwil Kemenang Nunukan, Jaimun, S.IP, MM serta didampingi 2 orang Pegawai Kemenag lainnya yaitu Salahuddin, SHI dan Sayid Abdullah, SH.
Jaimun mengatakan, pengukuran titik koordinat arah kiblat perlu dilakukan sebagai salah satu usaha kehati-hatian agar masyarakat umum ketika sholat tidak menghadap ke arah yang salah.
Ia pun mengutip penggalan hadits bahwa penduduk Mekah ketika sholat harus menghadap Kabah, sedangkan masyarakat di luar Mekah mereka harus menghadap Masjidil Haram, kemudian untuk umat Islam yang berada di belahan dunia lain arah sholat mereka harus mengarah ke Kota Mekah.
Jaimun menegaskan, kesalahan fatal yang telanjur dilakukan umumnya masyarakat muslim adalah saat hendak mendirikan tempat ibadah baik masjid atau mushola. Mereka hanya berpatokan ke arah terbenamnya matahari, hingga menimbulkan paradigma di masyarakat luas bahwa tempat matahari terbenam itu sejajar dengar Kota Mekah (Kiblat).
“Akibatnya, banyak terjadi perbedaan arah kiblat dalam setiap masjid,” kata Jaimun mengimbuhkan.
Jaimun juga menambahkan, ke depan pihaknya perlu mengadakan sosialisasi kepada para masyarakat atau pengurus masjid jika ingin membangun atau merenovasi tempat ibadah dengan terlebih dahulu berkooradinasi dengan pihak-pihak terkait termasuk Kemenag.
Masjid Baitul Makmur tersebut berada di lokasi Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah yang ada di Pulau Sebatik. Saat pengukuran arah kiblat masjid tersebut disaksikan tiga orang saksi dari pengurus masjid yakni ketua yayasan Ustadz Sudirman beserta pengurus lainnya yaitu Muslimin dan Ayyub. (syd/hio)