Beranda blog Halaman 632

Setiap Dai Dituntut Profesional dan Proporsional

utsman paleseHidayatullah.or.id -– Setiap dai kapan dan di mana pun harus dapat menempatkan diri secara proporsional dan bersikap profesional.

Profesional yakni dai harus memiliki keandalan serta kepandaian khusus untuk menjalankannya karena profesi ini bersentuhan langsung dengan umat. Adapun proporsional, dai mesti bisa menempatkan diri dengan seimbang dan memiliki kecakapan sosial.

Contohnya, adakalanya seorang pendakwah menghadapi para pejabat negara. Saat begitu, dai tidak boleh sembarang bersikap, ada trik dan tips khususnya. Setidaknya, hal yang perlu dilakukannya adalah bersikap luwes tapi tegas.

Demikian intisari dari tausiyah salah seorang perintis Hidayatullah Ustadz H. Usman Palese kepada para peserta Pelatihan Kepemimpinan V Hidayatullah Training Center (HiTC) di Masjid Ummul Quraa, Cilodong, Rabu (29/10/2014) lalu.

Dalam ceramah usai shalat Shubuh itu, Ustadz Usman mencontohkan sikap luwes yang dimaksud. Misalnya, kata dia, dai tidak melulu memakai baju koko.

“Sekarang bagaimana kita kalau ke kantor-kantor pemerintah jangan pakai baju koko. Pakai baju berkerah (kemeja. Red),” ujarnya pada kesempatan yang dihadiri ratusan jamaah masjid.

Misalnya pula, kata dia, seorang dai pandai-pandai menempatkan suasana dalam pembicaraan. Ada saat serius, ada saat bercanda.

Meski luwes, menurutnya, seorang dai sepatutnya bersikap tegas, termasuk saat di rumah para pejabat.

“Jadi kita di sana siap meniru (luwes. Red), siap menahan kalau nggak perlu (akan sesuatu),” pesan anggota Majelis Pertimbangan Pusat Hidayatullah ini.

Jangan Buta Politik

Pelatihan Kepemimpinan V HiTC diikuti hampir seratus dai Hidayatullah se-Indonesia. Beliau pun berpesan agar mereka menjalankan tips dan trik tersebut. Hal itu sudah dia praktekkan jauh sebelumnya sejak era Presiden Soeharto.

“Jadi kalau kita kembali ke daerah masing-masing, siapkan tenaga-tenaga yang siap (berdakwah) ke kantor. Jangan pakai baju putih yang sudah tiga hari nggak diganti-ganti,” pesannya disambut tawa sebagian hadirin.

Pada kesempatan itu, Usman Palese memperlihatkan kepada jamaah sebuah buku berjudul Surat-surat Rasul ﷺ Kepada Para Raja & Panglima Perang yang dibawanya.

Buku karangan Syaikh Uhaimid Muhammad Al-Uqaili ini, menurut Usman Palese, berisi tentang surat-surat politik Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

“Jadi dai jangan buta politik,” pesannya kemudian.

Usman Palese juga berpesan agar para dai tidak lepas dari wirid. “Wirid itu andalan, warisan dari nabi-nabi,” ujarnya.

Pelatihan tersebut berlangsung di Pesantren Hidayatullah Depok sejak Senin (27/10/2014) dan diagendakan berakhir pada Kamis (30/10/2014). (Skr aljihad)

BMH dan Sucofindo Kerjasama Bangun Pelosok

sunat massal bmh dan sucofindoHidayatullah.or.id -– Nemperingati hari ulang tahun yang Ke- 58 Tahun, PT. Sucofindo (Persero) menyelenggarakan kegiatan khitanan massal yang bekerjasama dengan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Samarinda.

Acara khitanan di laksanakan di Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda, Rabu (28/10/2014) lalu.

Acara khitanan massal yang dilaksanakn oleh PT. Sucofindo dan Batul Mall Hidayatullah, bertepatan dengan tahun baru hijrah 1436 Hijriyah. Sucofindu dan BMH menjalin kerjasama untuk sinergi membangun masyarakat pelosok. Selain mengadakan khitanan massal gratis, ke depan mereka juga menggelar amal bakti dalam bentuk lain di daerah pelosok di Kalimantan Timur.

“Alhamdulillah para peserta tidak ada yang takut sama sekali ketika berhadapan dengan para dokter dan alat alat medis untuk dihitan,” ucap Hardi, Ketua Panitia Hitanan dan Kadiv. Pendayaguna BMH Samarinda.

Khitanan diikuti oleh 57 anak tingkat TK,SD dan SMP yang berasal dari daerah Kota Samarinda dan luar kota Samarinda, seperti Muara Badak, Loa Janan (Batuah) Tenggarong (Loa Kulu) Muara Kaman.

Selain ikut serta dalam khitanan massal secara cuma-cuma, anak-anak tersebut juga mendapatkan santunan berupa baju koko, sarung, bingkisan makanan, dan paket perlengkapan sekolah.

Acara yang di buka langsung oleh perwakilan PT. Sucofindo Widoko Wimbo, Kepala Bagian Penjualan Dan Dukungan Oprasi.
“Anak-anak yang mau dikhitan jangan ada yang takut,” sambil tersenyum dan memberi motivasi buat anak-anak yang mau di hitan.

Tahun depan pihaknya berharap bisa melaksanakan khitan dengan jumlah peserta sebayak 100 anak.

“Alhamdulilah proses khitanan berjalan dengan lancar, aman dan tertib dan peserta juga sangat antusias sekali.”

Hadi, salah satu orang tua wali yang ikut memeriahkan acara khitanan ini mengaku berterima kasih adanya khitanan ini.

“Saya ini pak dari tempat terpencil, tidak ada biaya sama sekali, Alhamdulillah dan banyak berterima kasih kepada penyelenggara sudah bisa membantu kami warga pedalaman yang tidak mampu,” papar Shabirin, salah satu orangtua yang anaknya ikut hitanan.*/Khuluq

Organisasi yang Melayani

melayani dan menguatkanPATUT kita syukuri, setelah 35 tahun membangun Hidayatullah, keberadaan organisasi ini kian diterima oleh umat. Di tingkat lokal, kader-kader Hidayatullah telah memberi andil terhadap proses perbaikan masyarakat. Di tingkat nasional, Hidayatullah juga telah memperoleh apresiasi yang baik karena terlibat langsung mengatasi problema keumatan.

Ini semua tantangan besar sekaligus peluang yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) untuk menguji kita, baik secara individu, kader, maupun organisasi.

Sebagai individu, setiap kita dituntut untuk dapat menunjukkan performa yang baik dalam memberikan sumbangsihnya kepada lingkungan. Kader–kader Hidayatullah beperan aktif membantu masyarakat yang terkena musibah. Itu semua merupakan investasi dunia dan akhirat.

Secara organisasi, Hidayatullah dituntut terus meningkatkan kualitas dan kuantitas layanan yang dibutuhkan umat. Peran Hidayatullah dalam bidang pendidikan akan semakin dapat dirasakan oleh masyarakat kelas bawah jika subsidi silang sekolah-sekolah integral Hidayatullah tetap dipertahankan.

Kita juga sering mengirimkan dai ke berbagai wilayah Nusantara, khususnya daerah pedalaman dan pulau terpencil. Kita memiliki media massa Suara Hidayatullah yang muatannya sarat dengan visi membangun peradaban Islam.

Organ lain yang kita miliki adalah Baitul Maal Hidayatullah (BMH), klinik Islamic Medical Service (IMS), Search and Rescue (SAR) Hidayatullah, Pusat Pendidikan Anak Saleh (PPAS), dan Gerakan Wakaf al-Qur`an.

Mari kita tingkatkan standar layanan untuk menjawab jeritan umat. Setelah itu, semoga Allah SWT memberikan pertolongan sebagaimana telah kita yakini, min haitsu laa yahtasibu, dari arah yang tidak kita duga-duga.

Waktu kita terbatas. Oleh sebab itu, selayaknyalah kita berjalan secara teratur dan terencana, sehingga tahapan yang sedang berjalan ini bisa kita selesaikan dengan baik, lalu dilanjutkan oleh generasi penerus tanpa gagap.

Membangun sebuah peradaban butuh banyak perangkat dan beberapa tahapan. Masa sekarang merupakan tahap mengantar Hidayatullah pada posisi organisasi leader tingkat nasional, atau organisasi nasional yang unggul dan berpengaruh.
Insya Allah ini bisa tercapai pada tahun 2010.

Dalam mempersiapkan diri menjadi organisasi leader, semua sumberdaya internal harus mengarah pada visi. Langkah pertama adalah merekrut dan membina anggota. Turunan dari itu adalah menyiapkan berbagai sarana seperti software (konsep pendidikan dan perangkatnya), hardware (peralatan rekrutmen dan pembinaan), operator, dan infrastruktur dari pusat hingga daerah.

Rekrutmen anggota baru diartikan juga sebagai rekrutmen sumberdaya yang dimiliki oleh anggota tersebut. Dengan demikian, maka, pengembangan amal-amal usaha, aksi-aksi sosial, gerakan dakwah, pengembangan infrastruktur di daerah baru, termasuk pengembangan bisnis, dapat dilakukan secara lebih cepat.

Salah satu sarana rekrutmen adalah Gerakan Mengajar Belajar al-Qur`an (Gran MBA). Implementasi Gran MBA berupa pembentukan Majelis Taklim al-Qur`an (MTQ). Gerakan ini dapat dilakukan oleh seluruh kader dan simpatisan Hidayatullah melalui berbagai segmen.

Insya Allah dengan perencanaan yang baik, didukung kader-kader yang siap berbagi pekerjaan, kita dapat menyelesaikan program dengan mudah tanpa menghabiskan seluruh waktu masing-masing. Mari kita buktikan bahwa dengan berjamaah, saling membantu, maka pekerjaan besar dapat kita lakukan, beban berat dapat kita pikul, dan harapan umat dapat kita penuhi.*

____________________
DR. H. ABDUL MANNAN, penulis adalah Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah. Artikel ini telah dimuat di majalah Suara Hidayatullah edisi Juni 2008.

 

 

Muallaf PNG di Ranting Hidayatullah Paumako

0

muallaf papua nugini di hidayatullah papuaHidayatullah.or.id — Tampak sejumlah muallaf dan umat muslim Papua berfoto di pelataran masjid di kampus Hidayatullah ranting Paumako, beberapa waktu lalu.

Diberitakan, ratusan muallaf dari negara Papua New Guinea (PNG) belajar dan memperdalam Islam di ranting Hidayatullah di bilangan distrik Paumako. Muallaf ini hadir bersama dengan jamaah tabligh Timika. Kegiatan jaulah silaturrahim ini berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan.

Dai Hidayatullah di Paumako, Ustadz Munawwir Situmorang, mengatakan rombongan muallaf dari PNG ini tidak tahu berbahasa Indonesia. Bahasa pengantarnya mesti bahasa Inggris.

Hampir semua mereka memiliki kemampuan berbahasa Inggris walaupun masih tinggal di tengah rimba. (hio/jsk)

Reaktualisasi Spirit Muharram dari KH. Abdullah Said

berhijrah ilustrasiMERAPIKAN Shaff dan membenahi jamaah dengan mempertajam garis komando merupakan kerja paling mendasar dan paling mendesak selalu yang harus setiap tahun disegarkan. Sebab, itulah modal dasar kekuatan kita yang harus selalu dijaga dengan baik.

Maka perlu penyegaran kembali eksistensi keberadaan kita kalau kita ini satu jamaah yang kita telah bangun bersama-sama. Merakit dan menguatkan ulang yang longgar ikatannya. Menambal dan menjahit lagi kain yang robek. Memasang dan menguatkan kancing yang mulai goyah.

Mencoba memasang mana yang lepas bila memang masih mungkin, mendorong maju yang nampak mulai ketinggalan agar nampak bisa lebih rapi, memperbaiki posisi mana yang kurang pas letaknya.

Sehingga setiap selesai pertemuan langsung terasa adanya suasana lebih segar, semangat kembali meningkat. Rasa berjamaah kembali lebih merasuk, dan melahirkan tekad untuk membayar kekeliruan yang sudah terlanjur sebagai utang yang perlu dibayar di hari esok.

Jangan sampai kita terlalu laju melangkah dan memacu program pelayanan dan pengembangan lembaga, sementara kondisi barisan dan jamaah dalam keadaan morat marit.

Maka dapat kita bayangkan akan menjadi ibarat lilin, kita sementara menerangi sekitar sementara kita sendiri pelan-pelan hancur ke dalam. []

____________
Sepenggal spirit pendiri Hidayatullah, KH Abdullah Said Rahimahullah yang disampaikan pada 1 Muharram 1413 H di Balikpapan.

SARNAS Hidayatullah Diminta Turut Menjaga Indonesia

pelantikan sar hidayatullahHidayatullah.or.id -– Fungsi keberadaan Tim Search and Rescue Nasional (SARNAS) Hidayatullah bukan sebatas untuk tanggap bencana dan kerja kemanusiaan. Lebih dari itu, organisasi otonom ini diharapkan turut serta menjaga Indonesia dari bahaya komunis.

Ketua Umum (Ketum) PP Hidayatullah Dr Abdul Mannan mengharapkan demikian kepada Pengurus Pusat SARNAS Hidayatullah periode 2014-2017 yang dilantik di Kalimulya, Cilodong, Depok, Jawa Barat, Sabtu (01/11/2014).

Menurut Abdul Mannan, SARNAS Hidayatullah bisa terinspirasi dari sejumlah lembaga atau badan otonom milik ormas Islam lain seperti NU dan Muhammadiyah. Mereka turut melawan pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada masa silam.

Acara pelantikan itu dihadiri oleh Pimpinan Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad, anggota Dewan Syura Hidayatullah Drs Nusyamsa Hadis, dan hampir seratusan dai se-Indonesia.

“Kepengurusan SAR Nasional Hidayatullah periode 2014-2017 ini dilantik pas fajar ya, serangan fajar. Luar biasa ini. Baru kali ini nih pelantikan SAR dihadiri oleh seluruh Indonesia. Maka kalau pekerjaannya nggak nasional, dipertanyakan,” ujar Abdul Mannan.

Pengamatan hidayatullah.com pada acara yang digelar usai shalat Shubuh berjamaah itu, sedikitnya 12 orang pengurus dilantik. Ditandai dengan pembacaan ikrar kesiapan bertugas yang dipimpin langsung oleh Abdul Mannan.

“Memelihara dan menjaga jagad alam semesta dengan sepenuh hati. Menjunjung tinggi Kode Etik Rescue dan menjadi tim yang solid di setiap medan tugas. Selalu siap siaga dan bertanggungjawab dalam keadaan darurat demi kemanusiaan. Rela berkorban demi nilai-nilai luhur kemanusiaan,” ujar para pengurus itu mengikuti penggalan lafadz ikrar yang dibacakan.

Halaqah SAR

Ketua SARNAS Hidayatullah Saharuddin Yusuf dalam sambutannya mengatakan, amanah yang diembankan kepada mereka sungguh berat. Namun, ia dan jajarannya berkomitmen kuat menjalankan amanah tersebut.

“Pagi hari ini Allah Subhanahu Wata’ala menaqdirkan (kita) untuk sama-sama berkumpul di ruangan ini, mendukung dan mendoakan kami semua untuk bagaimana SAR Hidayatullah saat ini, esok, dan yang akan datang menjadi pionir-pionir yang terdepan,” ujarnya pada acara yang berlangsung di aula Pesantren Hidayatullah ini.

Saharuddin mengatakan, di antara fungsi utama lembaganya adalah tampil terdepan, dalam upaya menyelamatkan korban-korban bencana yang terjadi khususnya di Indonesia.

“SAR Hidayatullah akan tampil terdepan untuk memberikan penyelamatan (korban) bencana yang ada, baik dalam berupa bencana alam ataupun bencana diakibatkan oleh manusia. Semoga kami semua ini ke depannya insya Allah menjadi generasi-generasi yang tangguh, militan, kapan dan dimana saja,” ujarnya.

Menurutnya, lembaga yang dipimpinnya itu berciri khas khusus. “SAR Hidayatullah punya halaqah sendiri. Tidak seperti SAR yang lain. Ada juga musyawarahnya. Satu minggu dua kali itu pertemuannya, dan alhamdulillah semua pengurus pusat hadir,” jelasnya.

Acara pelantikan ini dirangkai dengan acara penutupan Pelatihan Kepemimpinan V gelaran Hidayatullah Training Center (HiTC). Pelatihan ini diikuti sekitar 80 orang dai se-Indonesia. (hidcom)

Santri Hidayatullah Semarakkan Tahun Baru Islam

Siswa/siswi KB/TK LPI HIdayatullah Batam melakukan Long March sambut tahun baru muharram
Siswa/siswi KB/TK LPI HIdayatullah Batam melakukan Long March sambut tahun baru muharram
Santri putri SMP Arrohmah Hidayatullah Malang mengadakan Long March
Santri putri SMP Arrohmah Hidayatullah Malang mengadakan Long March

Hidayatullah.or.id — Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1436 H yang bertepatan dengan hari Sabtu, 25 Oktober 2014 M, ribuan santri yang bernaung di Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Hidayatullah se Indonesia mengadakan berbagai acara.

Dari Kota Malang, semenjak pukul 06.30 WIB, 700-an santri putra Pesantren Hidayatullah Malang mengikuti Apel Muharram 1436 H di lapangan utama LPI Ar-Rohmah Putra Malang.

Lapangan utama tersebut tiba-tiba berubah warna orange dipenuhi santri yang berseragam orange khas Pandu Hidayatullah.

Selain santri, seluruh tenaga pengajar dan karyawan ikut serta meramaikan kegiatan tersebut.

Tampil memberikan orasi adalah Ustadz Fahmi Ahmad, M.M yang juga sebagai Kepala SMA Ar-Rohmah Malang.

Dalam orasi yang penuh semangat tersebut, berkali-kali beliau menekankan pentingnya mengambil spirit hijrah sebagai titik tolak perubahan.

Sebelumnya, jumat malam, Jum’at (24/10/2014) digelar renungan tentang perjalanan hijrah Nabi Muhammad .

Arabic Menu

Sementara itu, rangkaian acara menyambut Tahun Baru Islam di LPI Hidayatullah Surabaya digeral Muharram Day. Sabtu (25/10/2014) siang para siswi SMP Luqman Al Hakim Hidayatullah surabaya mengadakan kegiatan bazar makanan di lapangan Ponpes Hidayatullah Surabaya.

“Even Muharram ini sangatlah bagus dan menarik, untuk bisa melatih life skill para siswi untuk bisa berenterpreneurship sejak dini,” demikian usjar Venny kepada hidayatullah.com.

“Kami menyuruh mereka untuk mencari menu-menu hidangan Arab dalam even ini,” ujar Ulfa, guru mata pelajaran Tata Boga di SMP Putri ini.

Bazar hari itu menghidangkan aneka makanan. Di antaranya minuman khosaf es campur orang Arab, air zam-zam dan minuman lainnya. Sedangkan makanannya berupa kebab, roti maryam, kurma, nasi kebuli dan makanan khas Indonesia lainnya yang semua kreatifitas siswi.

Sebelumnya, pagi hari, diadakan syiar Muharram berupa long march yang diikuti hampir 1000 santri dari KBTK, TK, SD, SMP/SMA dan perguruan tinggi di bawah naungan LPI Hidayatullah Surabaya.

Di Batam, acara menyambut Tahun baru Islam juga dilakukan TK Yaa Bunayya Hidayatullah. Para santri menyelenggarakan berbagai kegiatan diantaranya pawai, long mach melewati jalan Perumahan Genta kel kibing kec Batu Aji Kota Batam sejau 1,5 KM.

Berbagai macam jenis topi hias digunakan santri melewati sepanjang jalan Perumahan Genta. Santri sangat antusias dan semangat. */Laporan Anca (Batam), Khuluq (Surabaya), Abd Aziz Ibnu Basyier (Malang)

Kemenkumham Anjangsana ke Hidayatullah Manokwari

Jajaran petinggi Kemenkumham Papua Barat berfoto bersama santri Pesantren Hidayatullah Manokwari / RK
Jajaran petinggi Kemenkumham Papua Barat berfoto bersama santri Pesantren Hidayatullah Manokwari / RK

Hidayatullah.or.id — Dalam rangka memperingati HUT Dharma Karyadhika, jajaran Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Papua Barat, melakukan anjangsana ke Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari. Selain itu rombongan ini juga menggunjungi Sekolah Pendidikan Guru Jemaat (SPGJ) Lahai-Roi Arfai dan Yayan Tuna Netra di Reremi, Rabu (22/10) lalu.

Anjangsana ke Pesantren Hidayatullah Manokwari yang dirangkai dengan kegiatan bakti sosial ini selain dihadiri oleh seluruh staf dari Kementerian Hukuk dan HAM Papua Barat, juga dihadiri langsung oleh 3 UPT dipimpin langsung Kakanwil Kemenhukam Prov Papua Barat, Agus Soekono, Bc.IP., SH.

Agus Soekono mengatakan kegiatan bakti sosial yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Hidayatullah ini merupakan awal dari seluruh rangkaian kegiatan.

Panitia HUT Dharma Karyadhika telah mengagendakan beberapa kegiatan yang intinya berbagi dengan sesama.

“Kami coba berbagi dengan sesama. Ini semua merupakan ucapan syukur atas segala berkat nikmat dari Yang Kuasa oleh sebab itu kami datang dan ingin berbagi dengan saudara-saudara kita di Pondok Pesantren ini,” tutur Agus kepada wartawan seperti dikutip juga harian Lokal Radar Timika.

HUT Kemenhukam ke-69 jatuh pada 30 Oktober besok. Kata Soekono, jajaran Kanwil Kemenkumham Papua Barat ingin berbagi dengan warga yang membutuhkan bantuan.

“Kita berbagi dengan saudara kita di Pondok Pesantren Hidayatullah ini dan beberapa tempat lain. Dengan silaturahmi ini maka dapat membuka pintu rejeki untuk kita semua dan dapat mempererat tali persaudaraan kita,” harap dia.

Sementara itu, Ustad Nurdin Alimudin, Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari mengatakan bahwa pondok pesantren ini merupakan lembaga dakwah, sosial, dan pendidikan.

“Di pondok ini, anak didik kami dibina. Untuk santriwan dan dan santriwati kita pisah. Jika sudah selesai dari sini bisa kita sekolah dan kuliahkan lalu ditarik kembali untuk mengajar. Kami berterima kasih dengan adanya bakti sosial ini,” kata Nurdin.

Pada anjangsana ini, Kanwil Kemenkumham memberikan bingkisan kasih berupa bahan makanan pokok dan lain-lain. (ybh/hio)

Dalang Cilik SMP Integral Lukman Hakim Surabaya Ingatkan Pemimpin Bangsa

Dalang cilik yang juga murid di SMP Hidayatullah Surabaya, Sultan Fakhruddin.
Dalang cilik yang juga murid di SMP Hidayatullah Surabaya, Sultan Fakhruddin.

Hidayatullah.or.id — Dalang cilik yang juga siswa SMP Integral Luqman Al Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Sultan Fakhruddin, menasihati pemimpin bangsa Indonesia lewat pertunjukan wayangnya di halaman sekolah setempat, Jumat (24/10/2014) lalu.

Dalam pertunjukan di halaman sekolah yang beralamat di Jalan Kejawan Putih Tambak, Mulyorejo, Surabaya, itu Sultan menampilkan tiga tokoh wayang yang memerankan Cepot, Gareng dan Dawala.

Misalnya, Cepot. “Jadi pemimpin itu sanggane abot (bebannya berat) lho, jadi harus amanah,” ucap Cepot yang dilafalkan dalang cilik Sultan.

Dalam percakapan lainnya, seorang pemimpin harus memegang teguh janjinya. Cepot dan Gareng dalam percakapannya menyinggung soal itu.

“Nanti, pemimpin itu akan banyak ditanya di hari penghisaban lho,” kata Cepot, lalu Gareng pun menjawab, “Ditanya apa lho, Pot?,” ujar Gareng.

“Ya, ditanya dulu sewaktu memimpin itu adil opo ora, ditanya sewaktu memimpin iku korupsi opo ora, ditanya sewaktu memimpin iku mbelo wong cilik opo ora. Juga, pas blusukan itu bakal membawa perubahan opo ora,” kata Gareng menjawab Cepot.

Maksud dari kalimat Gareng dalam Bahasa Jawa tersebut adalah, pemimpin akan ditanya di akhirat, apakah sudah adil, apakah tidak korupsi, apakah membela orang kecil.

Dalam kesempatan itu, Wakasek Kesiswaan SMP Luqman al Hakim Hidayatullah Surabaya, Ibadurahman, menyatakan percakapan itu dimaksudkan untuk nasihat agar pemimpin negeri dalam menjalankan roda pemerintahan itu amanah dan memenuhi janji.

“Kegiatan itu akan menjadi edukasi kepada siswa bahwa jadi pemimpin itu tidak mudah. Sekaligus juga memberikan nasihat kepada presiden baru agar memenuhi segala janjinya. Karena janji itu akan dipertanggungjawabkan di hari akhir nanti,” katanya.

Sementara itu, Sultan mengaku senang memerankan cerita wayang ini, karena warga negara Indonesia itu harus mengingatkan pemimpinnya.

“Saya bisanya mengingatkan presiden lewat wayang ini,” kata Sultan yang memakai beskap layaknya dalang profesional.

Sebelumnya (10/10), sekitar 750 siswa TK se-Surabaya, Sidoarjo, dan Bangkalan mengikuti latihan manasik haji di Kompleks Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jalan Kejawan Putih Tambak, Mulyorejo Surabaya. (ybh/hio)

Hidayatullah Dukung 1 Muharram Jadi Hari Nasional

Presiden Joko Widodo saat masa kampanye pilpres 2014 berjanji akan menjadikan 1 muharram sebagai hari libur nasional / net
Presiden Joko Widodo saat masa kampanye pilpres 2014 berjanji akan menjadikan 1 muharram sebagai hari libur nasional / net

Hidayatullah.or.id — Sekjen Pimpinan Pusat Hidayatullah Ir Abu A’la Abdullah mengusulkan tanggal setiap 1 muharram hijriyah menjadi hari nasional resmi yang ditetapkan oleh negara.

“Kita usulkan agar (tanggal) 1 Muharram jadi hari libur, Hari Santri Nasional. Tapi esensinya bukan libur atau tidak libur,” cetusnya.

Hal itu dikatakan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pimpinan Pusat Hidayatullah Ir Abu A’la Abdullah di Depok, Jawa Barat, Jumat (24/10/2014) lalu.

Beliau menilai, Semarak penyambutan tahun baru Islam 1436 H di Indonesia saat ini dinilai kurang. Sebab, perhatian masyarakat tersedot oleh situasi politik di negeri ini.

“Fenomena-fenomena presiden baru, fenomena wakil presiden baru, fenomena politik, menutupi peristiwa-peristiwa Hijriyah,” ujarnya saat menyampaikan tausiyah singkat usai mengimami shalat Ashar di Masjid Ummul Quraa, Kalimulya, Cilodong.

Di depan para jamaah termasuk awak hidayatullah.com, Sekjen Hidayatullah berharap agar awal tahun baru Islam diperingati secara nasional.

Lantas ia menjelaskan, esensi 1 Muharram adalah bagaimana mengangkat kualitas seorang Muslim (berhijrah) menjadi lebih baik lagi.

“Hijrah dari yang kurang baik menjadi baik. Dari yang malas jadi rajin,” ujarnya mencontohkan. [Baca juga: Tahun Baru 1436 Hijriah Momentum Umat Islam Bermuhasabah]

Abu A’la pun mengimbau kepada para ustadz, dosen, dan guru khususnya di Pesantren Hidayatullah, agar menyemarakkan spirit hijriyah. Yaitu dengan mengangkat cerita-cerita dan nilai-nilai dari peristiwa hijrah untuk disampaikan kepada para santri atau mahasiswa.

Sebagaimana diketahui, Presiden Joko Widodo saat masa kampanye Pilpres 2014 lalu sempat berjanji akan menjadikan 1 muharram sebagai hari santri nasional. Gagasan itu pun mendapat dukungan dari banyak pihak khususnya elemen umat Islam.

Pada perayaan 25 Oktober lalu mantan Deputi Tim Transisi Jokowi-JK Andi Widjajanto di Jakarta menerangkan Presiden Jokowi pasti akan segera menetapkan Hari Santri pada 1 Muharram yang juga merupakan Tahun Baru Islam.

Meski belum bisa ditetapkan saat ini, Bambang Widjajanto menambahkan, bakal terdapat sejumlah rangkaian kegiatan setelah acara puncak penetapan Hari Santri.

Memang sampai hari memang Presiden Joko Widodo belum mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppers) terkait dengan Hari Santri yang pada masa kampanye Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) dilontarkan janji akan ditetapkan pada 1 Muharram.

“Presiden tidak hanya ingin mengeluarkan selembar keppres guna menetapkan Hari Santri, tetapi melaksanakan aktivitas-aktivitas yang lebih substansial,” kata Widjajanto di Jakarta dikutip Antara, Sabtu.

Menurut dia, sejumlah hal yang lebih substansial itu antara lain membangun dan memajukan lembaga pendidikan, menjalin interaksi komunikasi yang lebih erat dengan kyai dan ulama, serta memajukan perekonomian umat. (ant/hio)