Beranda blog Halaman 636

BAN-PT Dorong STISHID Buka Prodi Lebih dari Satu

0
Ketua Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi (BAN-PT) Prof DR Mansyur Ramly saat menyampaikan pidatonya / RIZKY
Ketua Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi (BAN-PT) Prof DR Mansyur Ramly saat menyampaikan pidatonya / RIZKY

Hidayatullah.or.id — Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah (STIS) Hidayatullah Balikpapan, Kalimantan Timur, mengadakan studium generale (kuliah perdana atau kuliah umum) tahun ajaran 2014/2015 yang digelar Selasa pekan lalu.

Kuliah perdana kali ini terasa istimewa karena mendatangkan guru besar sekaligus Ketua Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi (BAN-PT) Prof DR Mansyur Ramly.

Kuliah perdana dilaksanakan di aula utama STIS Hidayatullah yang bertajuk “Peran Strategis Perguruan Tinggi Islam dalam Membangun Peradaban Islam”. Acara dihadiri oleh para pembimbing senior serta pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan, segenap civitas akademika, dan mahasiswa-mahasiswi STIS Hidayatullah.

Dalam pemaparannya, profesor Mansyur Ramly menegaskan, di antara syarat untuk membangun peradaban, khususnya peradaban Islam, tidak lepas dari iman dan taqwa, ilmu pengetahuan,skill, dan kultur.

Para peserta pun tampak serius mendengarkan setiap materi yang diberikan oleh narasumber dengan menggunakan slide, contoh-contoh, dan analogi yang aplikatif.

Menurut mantan Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar dua periode ini, STIS Hidayatullah Balikpapan sangat berpeluang menghasilkan alumni yang bisa mengusung peradaban Islam.

Sebab, katanya, sistem pendidikan berasrama (boarding) yang dijalankan STIS Hidayatullah dapat dengan mudah membentuk kultur atau karakter mahasiswa, yang saat ini menjadi isu hangat di dunia pendidikan. Yaitu dengan pengawasan 24 jam dengan melingkupi aspek ibadah, belajar, dan bermasyarakat.

Selama ini, lanjutnya, lembaga pendidikan Barat pada umumnya hanya mengenalkan baik dan buruk. Tapi ia yakin di STIS Hidayatullah tidak hanya mengenalkan kebaikan, tapi membiasakan berbuat kebaikan untuk menjadi kultur, dan selanjutnya menjadi karakter bagi para mahasiswanya.

Yaitu dengan tidak hanya memberi tahu yang buruk, tambahnya, tapi berusaha menjauhkan perbuatan buruk dengan berbagai aturan dan sanksi yang dibuat. Ini yang mahal dan berat sebenarnya di dunia pendidikan.

Jangan Puas

Di akhir pemaparannya, Mansyur Ramly berpesan kepada pengurus STIS Hidayatullah untuk tidak puas dengan pencapaiannya saat ini.

Mansyur Ramly mengemukakakan bahwa perjalanan STIS Hidayatullah yang sudah 10 tahun sejak 2004, sudah saatnya mengembangkan dan menambah prodi (program studi) baru. Agar ada tantangan baru dan bisa berbuat lebih banyak untuk umat.

“Sayang kalau hanya satu prodi, insya Allah saya siap untuk membantu. Kalau STIS Hidayatullah meminta saya maka itu adalah kehormatan sekaligus ladang amal kebaikan saya,” katanya.

Mansyur Ramly menjelaskan, dengan 1 jurusan saja (Akhwal Al-Syakhshiyyah) sudah mampu memberi dampak. Tapi itu tidak cukup menjadi bekal para alumninya menghadapi era globalisasi. Olehnya dia mengharapkan STIS (Hidayatullah) mampu membuka jurusan baru, dan Ekonomi Syariah adalah jurusan yang paling cocok untuk menghadapi era ekonomi global.

Sementara itu, Ketua STIS Hidayatullah Abdul Ghofar Hadi, MSI, mengatakan, kuliah perdana merupakan langkah formal setiap perguruan tinggi untuk menghadapi proses pembelajaran tahun ajaran baru.

Sehingga, jelas Ghofar, diharapkan kegiatan ini mampu menjadi bahan bakar yang menyulut api semangat para mahasiswa-i dalam mengikuti setiap proses perkuliahan dengan baik.

“Alhamdulillah, tahun ini sekolah kita mendapat berkah yang begitu besar, salah satunya dengan kehadiran Pak Prof (Mansyur Ramly) sebagai Ketua BAN-PT menjadi narasumberstudium generale,” ujarnya.*/stishid

BMH Lakukan Survei Langsung untuk Qurban Tepat Sasaran

0
Tim suveri Laznas BMH di Gunungkidul / AR
Tim suveri Laznas BMH di Gunungkidul / AR

Hidayatullah.or.id — Sebagaimana tradisi tahun-tahun sebelumnya dalam rangka mempersiapkan gelaran Qurban pada Idul Adha 1435 H, lembaga amil zakat nasionak Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) kembali melakukan Survei secara langsung ke lokasi pendistribusian hewan qurban.

Kepala Departemen Program BMH Muhammad Suwito Fatah, mengatakan kegiatan suveri langsung ke lapangan ini dimaksudkan untuk menyiapkan hajatan qurban agar pada pelaksanaanya berjalan sesuai rencana dan tepat sasaran.

“(Kami) bersama BMH Yogyakarta diantaranya blusukan ke pelosok Gunungkidul. Memang benar apa adanya, kami membuktikan sendiri. Gunungkidul gersang dan tandus, geografisnya yang bebatuan dan berbukit sebagian besar hanya bisa ditanami pohon jati dan sejenisnya,” ujar Fatah usai turun ke lokasi kepada Hidayatullah.or.id belum lama ini.

Dalam blusukannya ke Dusun Kembangan, Botodayaan, Rongkop, Gunungkidul memang masih terbilang masih sanga pelosok. Fatah bersama rombongan mengaku selama bersilaturahim ke sana semua gadget yang mereka bawa bawa off karena tidak ada sinyal.

“Suasanyanya masih sunyi, sangat bersebrangan dengan hiruk pikuk keramaian kota Gudeg ini,” imbuhnya.

Perjalanan menggunakan roda empat ke desa yang berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri tersebut memakan waktu 2,5 jam dari kota Yogyakarta. Tepatnya sebelah tenggara kota Yogyakarta. Bukan kali yang pertama BMH ke wilayah tersebut, sebab di sini memang terdapat desa binaan yang dikelola oleh BMH Pusat bekerjasama dengan BMH Yohyakarta dan Pesantren Hidayatullah itu.

Sebagai kelanjutan program-program sebelumnya, BMH Yogyakarta menjadikan Desa Botodoayakan dan sekitarnya sebagai pusat pendistribusian Qurban Berkah Nusantara, yang mengambil tema Qurban di Kota Manfaat di Desa 1435 H ini.

Sampai berita ini tayang, rencana qurban yang akan distribusikan oleh BMH keBotodayakan dan sekitarnya ada 15 masjid dengan sejumlah sementara 60 ekor kambing.

“Kami masih terus menerima apabila masyarakat hendak menitipkan qurbanya untuk masyarakat Gunungkidul dan plosok lain di Indonesia,” imbuh Fatah.

Selain pendistribusian hewan qurban, BMH juga siap membangunkan fasilitas air bersih di sana. “Tahap pertama sudah kami buatkan fasilitas air bersih beberapa bulan yang lalu,”.

Dalam waktu dekat, BMH Yogyakarya membuat saluran air bersih untuk masyarakat. “Agar kaum muslimin bisa tunaikan qurban plus membantu warga Gunungkidul yang kesulitan air bersih”, kata Firman Zainal Abidin, selaku kepala BMH cabang Yogyakarta.

Tak hanya di Yogyakarta, sebanyak lebih dari 50 cabang BMH seluruh Indonesia melakukan pemantauan lapangabn dan selanjutnya distribusi hewan Qurban kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Distribusi hewan Qurban oleh BMH ini diprioritaskan ke daerah-daerah minoritas, tertinggal, pedalaman-pedalaman, dan daerah rawan kristenisasi. (Arifin/ybh/hio)

Anak Cerdas Keshalihan Ayah

0

anak cerdas istAL HAFIDZ AHMAD BIN SHIDDIQ AL GHUMARI waktu awal menuntut ilmu di Al Azhar, ia amat cepat memahami kitab-kitab yang ia baca di hadapan para gurunya. Sehingga dalam waktu singkat ia sudah mengkaji kitab-kitab tingkat tinggi.

Sampai pada suatu saat, sang guru Syeikh Muhammad Imam Saqqa yang saat itu menjabat sebagai imam masjid Al Azhar mengatakan kepada Syeikh Ahmad bin Shiddq Al Ghumari:

“Ayahmu pasti laki-laki yang shalih. Yang terjadi padamu ini adalah keberkahannya tanpa diragukan. Sesungguhnya kami tidak mengetahui ada yang mampu berpindah kepada buku tingkatan tinggi dengan secepat ini. Sesungguhnya penuntut ilmu yang ada pada kami tidak akan menghadiri kajian Al Asymuni atau Ash Shaban, kecuali setelah mempelajari nahwu selama 6 tahun serta telah membaca Al Ajrumiyah dan Al Qathr lantas mengulang-ulanginya. Sedangkan engkau sudah naik kepadanya dalam waktu hanya tiga bulan”. (Bahr Al Amiq, 1/ 60-61). */ Hidcom

Gerakan dan Strategi Perubahan

0
Oleh Dr H Abdul Mannan*
Oleh Dr H Abdul Mannan*

KITA MENGENAL dua strategi perubahan. Pertama, strategi perubahan yang memiliki dampak luas terhadap pertumbuhan organisasi. Kedua, strategi perubahan yang sifatnya parsial dan teknis.

Kedua strategi perubahan tersebut harus kita rumuskan menjadi satu program kerja. Program kerja itulah yang kemudian kita pakai sebagai acuan untuk mencapai visi organisasi.

Lantas, perubahan strategis apa yang mendesak dalam tubuh organisasi Hidayatullah saat ini? Berdasarkan pengamatan selama tujuh tahun terakhir ini, masalah krusial yang perlu segera diatasi adalah konsolidasi. Sedangkan konten penting konsolidasi terdiri atas ideologi, organisasi, dan wawasan (tri konsolidasi).

Hampir semua komponen Hidayatullah masih belum matang pemahamannya terhadap ideologi yang berdimensi imamah dan melahirkan budaya sam’an wa tha’atan dan jama’aah (ukhuwah).

Begitu pula pemahaman terhadap organisasi Hidayatullah yang sentralistik (komando), belum dimengerti secara baik. Sementara wawasan perjuangan masih banyak diwarnai oleh latar belakang anggota yang berbeda-beda.

Tri konsolidasi tersebut menjadi sangat penting karena sangat menentukan maju-mundurnya atau tegak-ambruknya sebuah organisasi. Di sisi lain, perubahan strategis memerlukan konsep dan seni yang kuat, serta dilaksanakan secara bertahap.

Begitu pula nilai idealisme hendaknya tercermin pada sikap setiap pejuang dewasa. Indikatornya adalah tidak berperilaku responsif, bekerja keras dan cerdas dalam menjalankan kebijakan organisasi.

Perubahan strategis cenderung radikal. Sedangkan perubahan operasional hanya bersifat rutinitas, sekadar memelihara keseimbangan organisasi.

Jadi, jika kita hanya melakukan perubahan operasional, kita bakal beku, jenuh, dan semua menjadi tak menarik lagi. Kita perlu perubahan radikal. Kita perlu mengubah referensi, kebijakan organisasi, dan mengarahkan semua sumberdaya internal untuk pencapaian visi.

Terkait perubahan strategi, pendekatan yang digunakan adalah proaktif , konseptual, sistematis, bertahap, dan konsisten, dengan penerapan manajemen 4 co (commitment, communication, cooperation, coordination).

Kita tak boleh membabi-buta atau mengubah berdasarkan selera pribadi. Kita harus menggunakan prinsip prinsip manajemen yang tepat dan proses yang diyakini bisa dilewati secara konsisten.

Kurangnya “darah segar” (cash flow) dan “energi” (idealisme, reputasi dan motivasi) akan teratasi jika tri konsolidasi sudah kita lakukkan.

Kondisi krisis yang menerpa Hidayatullah disebabkan tingkat elite organisasi hanya melakukan perubahan yang sifatnya operasional. Akibatnya tak ada kemajuan strategis yang kita capai.

Dalam kondisi seperti ini, diperlukan pemimpin yang berani menghadapi semua lapisan organisasi (stakeholders) yang mulai pudar kepercayaannya terhadap organisasi, berpikir individualis, dan parsial.

Organisasi pun perlu menerapkan strategi proaktif (proactive strategy) sebagai strategi dasar, ditindaklanjuti dengan strategi umum, dijabarkan melalui strategi fungsional.

Adapun fokus kebijakan adalah pendidikan dan dakwah. Pendidikan sebagai basis mencetak kader, dan dakwah sebagai sarana merekrut teman-teman lama dan sanak-saudara untuk bersama-sama membangun jamaah menuju terwujudnya peradaban Islam.

Bila seluruh aktifis Hidayatullah mampu menjadi teladan di lingkungannya, tak henti belajar serta mengajarkan Islam, insya Allah cita-cita mulia ‘izzul Islam wal Muslimin akan dapat kita capai.

Namun, bila dakwah masih di awang-awang, tidak ada yang merasa mendapatkan manfaat dari kehadiran kita, maka cita-cita yang hendak kita raih akan kian berada di awang-awang pula.*

___________________
DR. H. ABDUL MANNAN, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hidayatullah

Malas dan Indisipliner Akan Bikin SDM Indonesia Tersingkir

Studium General Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat / SG
Studium General Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat / SG

Hidayatullah.or.id — Indonesia akan memasuki era perdagangan bebas atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di tahun 2015 mendatang. Kondisi ini mau tidak mau pasti akan mempengaruhi bursa kerja di dalam negeri di mana akan berlaku sistem seleksi ketat untuk dapat bersaing di lapangan kerja.

Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIEHID) Dr Abdul Mannan, MM, mengatakan MEA akan sangat mempengaruhi bursa kerja dalam negeri. Meskipun pribumi, kalau sumber daya manusia (SDM) Indonesia saja tidak berkualitas dan kompetitif maka akan tersingkir, terutama pada aspek mental.

“Kalau mentalnya tidak dirubah, kulturnya tetap malas dan tidak disiplin, maka SDM bangsa Indonesia tidak akan memiliki cukup ruang untuk bersaing dalam bursa kerja ke depan,” tegas beliau dalam pidatonya di acara General Studium STIEHID Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu (13/09/2014).

Kinerja sangat dipengaruhi oleh sikap mental, untuk itu ia menjadi kunci tumbuh kembang kemandirian. Sikap mental disiplin akan meningkatkan kinerja. Sebaliknya, sumber daya manusia loyo dan pemalas akan tersingkir dari peredaran.

“Fakta ekonomi di dalam negeri semua serba impor. Mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali di sekeliling kita adalah produk impor. Itu karena SDM kita yang tidak kreatif, bermental follower, users. Kita hanya menjadi pengguna serta tidak berdaya cipta,” tegasnya.

Peran pemerintah dinilai sangat nihil dalam membangun sikap mental mandiri, disiplin, dan berkemajuan SDM bangsa ini. Pada realitasnya pemerintah dipandang tidak serius memfasilitasi kebutuhan rakyat untuk menumbuhkan ekonomi yang berdikari dan swasembada pangan.

“Kebijakan pemerintah lebih sering tidak tidak sesuai dengan yang diucapkan,” prihatin beliau.

Padahal, pasar bebas adan ASEAN pasti akan sangat mempengaruhi bursa kerja di dalam negeri. Abdul mengatakan, saat ini sudah mulai marak para tenaga kerja dari luar negeri yang menempuh kurus bahasa Indonesia dalam rangka siap bersaing di bursa kerja dalam negeri pada pasar bebas ASEAN nanti.

SDM dari luar umumnya mempunyai kompetensi yang lebih baik ketimbang tenaga kerja yang ada di Indonesia. Hal yang sederhana saja seperti sopir, tenaga driver dari luar dinilai lebih disiplin ketimbang sopir kita karena sudah terbiasa mematuhi peraturan. Sopir-sopir di Indonesia, khususnya pada transportasi publik, cenderung indisipliner terhadap peraturan. Untuk itu, tegas Abdul, mental pekerja di Indonesia harus diperbaiki untuk bisa bersaing dalam bursa kerja ASEAN.

Menurut Abdul Mannan, persaingan di bursa tenaga kerja akan semakin meningkat menjelang pemberlakuan pasar bebas Asean pada akhir 2015 mendatang terutama pekerja yang berkecimpung pada sektor keahlian khusus.

Seperti diketahui, pembentukan pasar tunggal yang diistilahkan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini nantinya memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi akan semakin ketat.

Pada MEA nanti berbagai profesi seperti tenaga medis boleh diisi oleh tenaga kerja asing. Bahkan harus diketahui bahwa Masyarakat Ekonomi Asean tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional, seperti dokter, sopir, pengacara, akuntan, dan lainnya.

Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dita Indah Sari, dalam satu kesempatan menjelaskan bahwa MEA mensyaratkan adanya penghapusan aturan-aturan yang sebelumnya menghalangi perekrutan tenaga kerja asing.

“Sehingga pada intinya, MEA akan lebih membuka peluang tenaga kerja asing untuk mengisi berbagai jabatan serta profesi di Indonesia yang tertutup atau minim tenaga asingnya,” kata Dita Sari seperti dikutip BBC, belum lama ini.

Kendati demikian, dalam riset terbaru dari Organisasi Perburuhan Dunia atau ILO menyebutkan pembukaan pasar tenaga kerja mendatangkan manfaat yang besar.
Selain dapat menciptakan jutaan lapangan kerja baru, skema ini juga dapat meningkatkan kesejahteraan 600 juta orang yang hidup di Asia Tenggara.

Pada 2015 mendatang, ILO merinci bahwa permintaan tenaga kerja profesional akan naik 41% atau sekitar 14 juta. Sementara permintaan akan tenaga kerja kelas menengah akan naik 22% atau 38 juta, sementara tenaga kerja level rendah meningkat 24% atau 12 juta.

Namun laporan ini memprediksi bahwa banyak perusahaan yang akan menemukan pegawainya kurang terampil atau bahkan salah penempatan kerja karena kurangnya pelatihan dan pendidikan profesi. (ybh/hio)

Hidayatullah Dukung Upaya Kemandirian Pangan Bangsa

Panen padi raya di sawah pertanian Pesantren Hidayatullah Merauke, Papua / DOK
Panen padi raya di sawah pertanian Pesantren Hidayatullah Merauke, Papua / DOK

Hidayatullah.or.id — Alhamdulillah, itulah ucapan serentak Ustadz Al-Djufri Muhammad bersama santrinya kala takmir di masjid mengumumkan padaAhad (6/4) lalu bahwa seluruh warga dan santri Pesantren Hidayatullah Merauke, Papua, diminta untuk turun ke sawah guna melakukan panen padi.

Di Merauke dai Hidayatullah tidak saja sibuk mendidik dan berdakwah tetapi juga mengelolah sawah. Aktifitas itu dalam rangka untuk menumbuhkan semangat dan kreatifitas berswasembada sumber-sumber alam.

“Alhamdulillah, kini kami mengelolah sawah seluas enam hektar. Namun yang bisa ditanami dan dipanen sekarang baru empat hektar,” ujar Muhammad Suryanto pembina santri di Pesantren Hidayatullah Merauke.

Ke depan, kata Suryanto, yang dua hektar akan juga kita tanami padi. Sehingga diharapkan hasil panennya bisa semakin meningkat dan terus ditingkatkan. Dengan demikian, ketersediaan beras untuk kebutuhan santri dan warga pesantren bisa ditangani secara internal.

“Sehingga ada kemandirian pangan. Selain itu para santri juga bisa terlatih bagaimana menanam, merawat dan memanen padi dengan baik,” tutur Suryanto.

Kendati demikian, ada ketimpangan kebijakan dalam upaya swasembada pangan di dalam negeri tersebut. Ini kemudian mendesak Hidayatullah untuk senantiasa mendorong pemerintah untuk mendukung penuh target pencapaian kemandirian pangan tersebut.

Meskipun masih jauh dari target yang dicanangkan, upaya kemandirian pangan ini harus terus didukung dan diperjuangkan. Terutama pada tingkat kesejahteraan dan keberimbangan lahan bagi para petani agar sektor ini dapat berjalan sinergi dan berkesinambungan. Untui itu, pemerintah sebagai regulator harus aktif melakukan pemantauan.

Disebutkan bahwa perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan indikator yang kerap digunakan untuk melihat perkembangan tingkat kesejahteraan petani. Kenaikan nilai NTP menunjukkan perbaikan tingkat kesejahteraan petani, begitupula sebaliknya.

Tercatat sepanjang periode Januari hingga April 2013 lalu, nilai NTP bahkan terus mengalami penurunan secara konsisten. Itu artinya, tingkat kesejahteraan petani terus memburuk meski pada saat panen raya, di saat produksi berlimpah.

Kondisi tersebut tentu saja menyedihkan sebab pembangunan pertanian selama ini terlalu dititikberatkan pada peningkatan produksi secara aggregate dan cenderung abai terhadap peningkatan kesejahteraan petani.

Dengan tak kunjung dilaksanakannya reforma agraria sebagaimana yang dijanjikan, pemerintah seolah menutup mata bahwa peningkatan produksi yang terjadi sejatinya merupakan hasil perjuangan dan jerih payah para petani kecil.

Secara faktual, hasil Sensus Pertanian tahun 2013 yang dirilis Badan Pusat Statistik pada awal bulan Desember 2013 lalu menyebutkan bahwa sebagian besar petani kita adalah petani gurem, dan rata-rata luas lahan sawah yang dikelola petani hanya sebesar 0,2 hektar.

Kondisi tersebut merupakan sinyalemen bahwa distribusi penguasaan lahan di tingkat petani kian timpang dan dominasi petani kaya dengan akses penguasaan lahan yang luas.

Sehingga tidak mengherankan apabila kebanyakan petani tetap miskin meski pada saat yang sama produksi melimpah bahkan swasembada. Karena sejatinya, dampak ekonomi dari peningkatan produksi yang terjadi lebih dinikmati oleh para petani kaya. Sebaliknya, para petani kecil dan buruh tani tetap miskin. (dbs/hio)

Buletin Hidayatullah Edisi September 2014

cover Hidayatullah Newsletter September 2014BULETIN HIDAYATULLAH adalah media informasi dan silaturrahim ormas Hidayatullah yang terbit reguler setiap bulan. Buletin ini diedarkan melalui saluran transimi virtual seperti email, website, linked, dan sejenisnya. Buletin ini diedarkan secara umum tanpa dikenakan biaya alias gratis bagi siapa saja yang ingin berlangganan.

Kami sangat merekomdendasikan supaya Anda menggunakan peramban (browser) Google Chrome ketika mengunduh (download) Buletin Hidayatullah ini untuk mendapatkan akses cepat dan kustomasi tampilan yang lebih dinamis. Download Buletin Hidayatullah di bawah ini:

BULETIN HIDAYATULLAH SEPTEMBER 2014

Kemandirian Ekonomi Bangsa Tanggungjawab Mahasiswa Kini

IST
IST

Hidayatullah.or.id -– Kemandirian ekonomi bangsa sudah saatnya diupayakan sejak sekarang, utamanya melalui para generasi muda negeri ini, siapa lagi kalau bukan mahasiswa. Demikian ditegaskan Dr. Abdul Mannan, dalam Stadium General STIE Hidayatullah Depok, Sabtu, (13/09/2014).

Ketua STIE Hidayatullah yang memiliki konsen membangun kesadaran para mahasiswa agar bergerak nyata dalam pembelajaran ekonomi menekankan para mahasiswa agar memiliki kesadaran tinggi bahwa kemandirian ekonomi bangsa ada di pundak mereka.

“Kita sudah tidak bisa berharap, kecuali pada generasi muda, yaitu kalian para mahasiswa. Kemandirian ekonomi negeri ini sangat ditentukan oleh kualitas dan kepedulian kalian semua,” ujarnya di hadapan para mahasiswa.

“Maka sangat penting sedari kini, kalian semua mengambil peran nyata dalam masyarakat dengan menumbuhkan jiwa entrepreneudship yang kuat dan leadership yang tangguh. Meski berangkat dari usaha kecil-kecilan,” imbuhnya.

Sementara itu, dalam sambutan pembukaan stadium general, Drs. Wahyu Rahman selaku ketua Yayasan Hidayatullah Depok menegaskan, bahwa sayap umat Islam masih lemah dalam hal ekonomi.

“Kekuatan penting yang belum dibangun secara sistematik dari kalangan umat ini adalah bidang ekonomi,” terang Wahyu Rahman.

Tanggung jawab kita semua, tegas dia, untuk mengantarkan mahasiswa masa kini memahami tantangan kemandirian ekonomi bangsa sejak kini. Karena di pundak kalianlah nasib umat dan bangsa ini kedepannya, paparnya.

Stadium General STIE Hidayatullah Depok ini merupakan awal perkuliahan mahasiswa baru di lingkungan kampus STIE Hidayatullah Depok.

Kegiatan ini adalah ajang silaturrahim seluruh warga Pesantren Hidayatullah Depok dan civitas akademik guna menyamakan langkah dan gerakan pendidikan ekonomi secara serempak. Sekaligus sebagai tanda tahun akademik baru telah dibuka dan dimulai.*/Abu Ilmia

Murid Hidayatullah Surabaya Kirim Surat ke Presiden RI

0
Surat suara hati ini dikirimkan bertepatan dengan Hari Hijab Internasional
Surat suara hati ini dikirimkan bertepatan dengan Hari Hijab Internasional
Surat-surat yang ditulis lalu dikumpulkan untuk segera dikirim
Surat-surat yang ditulis lalu dikumpulkan untuk segera dikirim
Salah satu sisiwi memperlihatkan surat yang akan dikirimkan ke presiden dan Kapolri
Salah satu sisiwi memperlihatkan surat yang akan dikirimkan ke presiden dan Kapolri

Hidayatullah.or.id — “Pak Presiden dan Pak Kapolri yang saya hormati. Tulisan saya ini mewakili wanita Indonesia yang berjilbab untuk mendukung Polisi Wanita yang ada dibawah jajaran bapak untuk memakai hijab. Jangan dihalangi.

Mereka berhijab karena panggilan hati. Berhijab adalah aturan Allah yang harus ditaati. Salam dari Adiba siswi SMP Putri Luqman al Hakim Hidayatullah Surabaya.”

Demikianlah salah satu isi surat yang ditulis oleh siswi SMP Putri Lukman al Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur. Surat tersebut adalah surat cinta dan penuh harap yang akan dikirimkan kepada Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dan Kapolri, Bapak Jenderal Sutarman.
Siswi SMP Putri Luqman al Hakim Hidayatullah, Surabaya, Yustika Asih, menulis surat cinta tentang Undang-Undang Jilbab bagi Polwan kepada Kapolri Jenderal Pol Sutarman dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Hari Hijab Internasional.

“Hijab itu hak asasi yang harus dijunjung tinggi, karena itu saya berharap undang-undang hijab bagi polwan dituntaskan,” ucapnya saat menulis surat cinta itu di sekolahnya di kompleks Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya (8/9) lalu.

Dalam surat cintanya pada Hari Hijab Internasional yang jatuh setiap tanggal 4 September itu, ia mengharap dengan tulisan tangan yang ia hasilkan bisa memberi penguatan tentang kebebasan berhijab di lembaga manapun.

“Khususnya hijab bagi Polwan,” tukasnya tentang Hari Hijab Internasional (4 September) yang berdekatan dengan Hari Polwan pada setiap tanggal 1 September.

Pandangan Yustika itu juga didukung rekannya, Adiba Nurul Khoirina. “Pak Presiden dan Pak Kapolri yang saya hormati. Tulisan saya ini mewakili wanita Indonesia yang berjilbab untuk mendukung Polisi Wanita untuk memakai hijab. Jangan dihalangi,” ujar Adiba.

Baik Yustika maupun Adiba menegaskan bahwa mereka berhijab karena panggilan hati, selain berhijab juga merupakan aturan Allah yang harus ditaati untuk kebaikan kaum perempuan itu sendiri.

Langkah Yustika dan rekan-rekannya pun didukung Kepala SMP Putri Luqman al Hakim Hidayatullah, Surabaya, Amin Rahayu. “Momen Hari Hijab Internasional itu tepat untuk menegaskan pentingnya hijab, sekaligus dukungan bagi Polwan Indonesia yang ingin berhijab dalam bekerja,” tandasnya. (prs/hio)

Pemkab Sukabumi dan Sesmen PDT Sambut Hidayatullah

0
Tampak Ketum PP Syabab Hidayatullah Naspi Arsyad, Sekda Sukabumi Drs Adjo Sarjono, dan Sesmen PDT M. Nurdin berfoto di hadapan fotografer usai dialog / YBH
Tampak Ketum PP Syabab Hidayatullah Naspi Arsyad, Sekda Sukabumi Drs Adjo Sarjono, dan Sesmen PDT M. Nurdin berfoto di hadapan fotografer usai dialog / YBH
Sejumlah kerajinan tangan hasil karya masyarakat dalam Sukabumi / YBH
Sejumlah kerajinan tangan hasil karya masyarakat dalam Sukabumi / YBH

Hidayatullah.or.id — Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi Drs.H. Adjo Sarjono menerima pengurus Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah di Aula Utama Guest House Sekda Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (09/09/2014) kemarin.

Dalam pertemuan itu hadir pula Sekretaris Menteri Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemen PDT) M. Nurdin, yang kebetulan di kesempatan yang sama sedang melakukan kunjungan kerja bersama rombongan ke wilayah tersebut. Baik Sekda maupun Sesmen, dalam kesempatan dialog yang berlangsung hangat tersebut mengapresiasi peran persyarikatan Hidayatullah dan Syabab Hidayatullah.

Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi Drs.H. Adjo Sarjono mengatakan, akan melakukan kunjungan silaturrahim ke komplek Ma’had Tahfidzul Qur’an Al Humairah di Caringin yang saat ini sedang dirintis dan dikembangkkan oleh Hidayatullah melalui PP Syabab Hidayatullah yang didukung oleh tenaga ahli di bidangnya.

“Bagus. Terus kembangkan. Insya Allah kalau ada waktu kita silaturrahim ke sana,” kata Adjo di sela-sela bincang-bincang tersebut.

Di kesempatan yang sama Sekretaris Menteri (Sesmen) PDT M Nurdin mendorong Hidayatullah dan gerakan pemudanya untuk terus melakukan terobosan yang selama ini telah dilakukan untuk menunjang aspek-aspek pembangunan daerah untuk pengembangan kualitas sumber daya manusia khususnya di bidang pendidikan, dakwah, dan kepemudaan.

Seperti diketahui Sukabumi masih berpredikat sebagai wilayah tertinggal. Untuk itu Nurdin berharap kehadiran dan kiprah Hidayatullah di wilayah tersebut akan berkontribusi positif terhadap kelangsungan pembangunan dan pengembangan kualitas sumber daya manusia.

“Saya titip ke Pak Sekda, agar lembaga penghafal Al Qur’an Al Humairah ini diperhatikan karena merupakan bagian penting dari elemen pembangunan bangsa,” kata dia.

Ketua Umum PP Syabab Hidayatullah, Naspi Arsyad, pada kesempatan tersebut mengemukakan kepada Sekda dan Sesmen PDT bahwa lembaga penghafal Al Qur’an yang kini dirintis pihaknya baru mulai beroperasi tahun ini. Selanjutnya nanti dimungkinkan akan dibuka Pimpinan Daerah (PD) Hidayatullah dan PD Syabab Hiadyatullah yang berkedudukan di daerah tersebut.

Usai dialog, rombongan Sesmen dan Sekda mengajak pengurus PP Syabab Hidayatullah untuk melakukan kunjungan ke lokasi-lokasi pemberdayaan ekonomi kemasyarakatan yang dibina oleh Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal tersebut.

Pengurus PP Syabab Hidayatullah mendapatkan banyak masukan dan saran dalam rangka pengembangan industri kreatif untuk kemandirian ekonomi.

Menurut Naspi, kerajinan tangan dan hasil kreatifitas bahan alam lainnya yang dihasilkan oleh masyarakat Sukabumi layak dicontoh oleh pengurus-pengurus Syabab Hidayatullah di daerah dalam rangka pemanfaatan sektor-sektor riil untuk menopang terciptanya sumber daya yang maju dan bertumbuh lebih baik.

“Sebenarnya ini juga bisa dikembangkan oleh kawan-kawan di daerah, kita akan dorong,” tukas dia sembari meminta koleganya untuk mendokumentasikan karya-karya unik tersebut. (ybh/hio)