Beranda blog Halaman 637

Buletin Hidayatullah Edisi Agustus 2014

cover Hidayatullah Newsletter Agustus 2014BULETIN HIDAYATULLAH adalah media informasi dan silaturrahim ormas Hidayatullah yang terbit reguler setiap bulan. Buletin ini diedarkan melalui saluran transimi virtual seperti email dan sejenisnya tanpa dikenakan biaya alias gratis bagi siapa saja yang ingin berlangganan.

Kami sangat merekomdendasikan supaya Anda menggunakan peramban (browser) Google Chrome ketika mengunduh (download) Buletin Hidayatullah ini untuk mendapatkan akses cepat dan kustomasi tampilan yang lebih dinamis. Download Buletin Hidayatullah di bawah ini:

BULETIN HIDAYATULLAH AGUSTUS 2014

 

 

 

 

 

 

 

 

Hidayatullah Gelar Upgrading Dai Pembangunan se-Kaltara

upgrading
Tampak kegiatan kegiatan workshop dan upgrading dai / IST

Hidayatullah.or.id — Pimpinan Wilayah Hidayatullah Kalimantan Utara (PW Kaltara) bekerjasama dengan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Bulungan, Tanjung Selor, menggelar workshop dan upgrading dai se-Kalimantan Utara. Acara yang berlangsung selama 2 hari ini di komplek Kampus Cordova Hidayatullah Tanjung Selor.

Upgraring ini diikuti oleh puluhan dai yang tersebar di wilayah Kalimantan Utara. Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang temu kangen para dai yang memiliki tempat tugas dakwah yang berbeda baik dari aspek kultur, budaya, maupun geografis.

Dalam kegiatan ini ditelurkan rekomendasi diantaranya seorang juru dakwah (dai) atau muballig dituntut harus memampu melakukan diagnosa terhadap banyak problematika yang dihadapi umat dewasa ini.

Zaman makin berkembang, sehingga dinamika masalah keummatan pun bisa semakin kompleks. Dari kemampuan “diagnosa” yang dilakukan, diharapkan dai dapat memerankan fungsinya dengan baik sebagai pengabdi umat.

Diharapkan dengan adanya “Up Grading Dai” ini, para dai Hidayatullah dapat menempatkan dirinya secara bijak di tengah kemajemukan ummat Islam, mampu “mendiagnosis” problematika ummat sekaligus menjadi “problem solver”nya.

Serta mampu mentranformasikan kondisi ummat menjadi lebih baik dalam hal ibadah, tata perilaku, dan keilmuan.

Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah Hidayatulla Kaltara, Ustadz Nur Yahya Asa, dalam kesempatan tersebut mengingatkan kepada segenap dai untuk selalu menjaga keikhlasan karena hanya niat yang luruslah yang bisa membuat seorang dai bisa tetap survive di berbagai medan tugas.

Dai yang tangguh, lanjut Yahya, adalah dai yang bekerja dan berbuat semata-mata mengharap balasan dari Allah Ta’ala semata. Dai tangguh selalu mengedepankan amal ma’ruf kepada umat yang ia bina dengan kebijaksanaan, kearifan, dan keteladanan.

Ia bahkan menegaskan, dai adalah pemimpin serta pelopor setiap kebajikan di mana saja dia berada. Dai tangguh semacam ini tak akan pernah terpengaruh dengan pujian juga cacian, ketika lemah dapat segera kembali bangkit, serta selalu menjaga shalat jamaah 5 waktu di masjid.

Seorang dai juga harus punya keberanian dan selalu bersemangat. Beliau menganalogikan segerombolan perampok atau pencuri yang dipimpin oleh orang yang penuh semangat dan keberanian. Dai seharusnya harus lebih dari itu karena ia hadir untuk memberi kebaikan dan kemaslahatan, bukan ketakutan dan ancaman.

Untuk mengetahui siapa yang menjadi pemimpin dari sekelompok pencuri itu tidak susah, cukup kita ketahui siapa yg paling semangat di antara mereka maka dia itulah yg menjadi pemimpinnya, tukas Yahya.

“Sebab, sudah menjadi fitrah bagi manusia bahwa seorang pemimpin itu harus lebih memiliki semangat berlipat ganda dibandingkan dengan orang-orang yang dipimpinnya,” tegas Yahya Asa menandaskan saat sesi Penutupan Upgrading Dai Hidayatullah tersebut.

Upgrading Dai Pembangunan se-Kalimantan Utara ini terselenggara atas kerjasama diantaranya Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH), PD Hidayatullah Bulungan, dan lain-lain. Sponsor berbagai instansi pemerintah maupun swasta turut serta melancarkan kegiatan yang berlangsung selama 2 hari ini. (ziz/hio)

Dewan Syura Rapat Pleno di Hidayatullah Batam

pleno syura hidayatullah di batam 3Hidayatullah.or.id — Dewan Syuro Pimpinan Pusat Hidayatullah menggelar Rapat Pleno dio Kampus Hidayatullah Batam, beberapa waktu lalu. Acara ini diiikuti oleh seluruh pengurus di Dewan Syura dan Pimpinan Umum Hidayatullah.

Rapat ini membahas kebijakan-kebijakan organisasi, mengevaluasi, dan penguatan peran Hidayatullah untuk pembangunan bangsa, pemberdayaan umat, dan maksimalisasi pelayanan sosial serta vitalisasi pendidikan holistik dalam rangka meretas kader umat berkemajuan dan berperadaban mulia. (nh/hio)

Diklat SAR Hidayatullah untuk Personil Tingkat Dasar

Sejumlah Tim Instuktur SAR Hidayatullah Pusat berfoto bersama / DOK
Sejumlah Tim Instuktur SAR Hidayatullah Pusat berfoto bersama / DOK
Salah satu sesi diklat yang diikuti oleh peserta / ALFARO
Salah satu sesi diklat yang diikuti oleh peserta / ALFARO
Suasana di arena diklat yang digelar di alam terbuka / DOK
Suasana di arena diklat yang digelar di alam terbuka / DOK
Rehat sejenak / ALFARO
Rehat sejenak / ALFARO
Berlatih membuat simpul / ALGFARO
Berlatih membuat simpul / ALFARO

Hidayatullah.or.id — Unit pencarian dan penyelematan (Search and Rescuer) di bawah koordinasi ormas Hidayatullah, Tim SAR Hidayatullah Pusat, menggelar pendidikan dan pelatihan SAR untuk tingkat dasar di Komplek Terpadu Kampus Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.

Kegiatan yang rencanya berlangsung selama sebulan tersebut dibuka secara resmi di Lapangan Utama Kampus Pesantren Hidayatullah Balikpapan, beberapa waktu lalu.

Ketua SAR Hidayatullah, Syaharuddin Yusuf mengatakan pelatihan SAR tingkat dasar ini merupakan bentuk pembelajaran awal yang dilakukan oleh pihaknya untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta pembentukan sikap mental kepada para calon rescuer di dalam tubuh SAR Hidayatullah.

Diklat rutin seperti ini, jelas Syahar, juga dalam rangka untuk mengembangkan dan mensosialisasikan pentingnya penyelamatan dini terhadap berbagai kemungkinan yang tak terduga oleh faktor alam di sekitar kita.

“Peserta yang dianggap berkompetensi dan dan berkeahlian nantinya akan dikukuhkan menjadi anggota SAR Hidayatullah untuk selanjutnya mengikuti training tingkat lanjut,” terang Syaharuddin, Senin (08/09/2014).

Syahar menegaskan, untuk menjadi anggota SAR Hidayatullah personil diharapkan harus memiliki keandalan mental, fisik, dan keahlian dalam pengananan-pengangan bencana alam secara massif dan sistematis.

Sebab itu bagi seorang relawan SAR memiliki tugas dan tanggung jawab yang tidak ringan karena akan menangani masalah-masalah musibah atau bencana alam di lapangan. Syahar menilai kondisi alam di Indonesia relatif susah diprediksi sehingga dibutuhkan selalu kesigapan.

Kondisi tersebut, lanjut Syahar, menuntut personil SAR Hidayatullah untuk selalu siap siaga melakukan tugas penyelamatan dan pencarian di titik lokasi musibah dengan tentu selalu berkoordinasi dengan lembaga-lembaga terkait lainnya seperti Badan SAR Nasional (Basarnas), aparat, dan pemerintah serta instansi terkait.

Para instruktur yang melakukan pendidikan dan dan pelatihan untuk calon personil tingkat dasar SAR Hidayatullah telah tersertifikasi di BASARNAS sebagai Instruktur Muda.

Adapun materi-materi lapangan yang diterima peserta dalam latihan dasar ini adalah lebih kepada keandalan dalam penyelamatan (rescuer) seperti kemampuan navigasi darat, survival, medical first responder, dan lain-lain.

Ormas Hidayatullah mendirikan unit SAR Hidayatullah dalam rangka mengantisipasi banyaknya musibah dan bencana alam di Indonesia. SAR Hidayatullah mulai dikukuhkan pada 2004 dan termasuk tim yang paling pertama menembus lokaso bencana tsunami di Aceh.

Saat itu SAR telah terjun sejak hari kedua di lokasi tsunami Aceh dengan membuka posko di Lanud Iskandar Muda. Tim SAR Hidayatullah dilatih oleh instruktur dari Badan SAR Nasional, dan telah mengikuti berbagai kegiatan bersama Tim SAR dari Kepolisian, Angkatan Laut, Angkatan Udara, maupun Angkatan Darat.

SAR Hidayatullah juga secara rutin terjun ke berbagai lokasi musibah di Indonesia seperti bencana banjir, longsor, kapal tenggelam, dan sukses menyelenggarakan pengibaran bendera merah putih sepanjang 1000m2 dengan menggunakan bambu di Pantai Lamaru, Kalimantan Timur. Helatan tersebut tercatat dalam rekor dunia. (ybh/hio)

Hidayatullah Bidik Kurikulum Global untuk Indonesia Unggul

kurikulum global hidayatullahHidayatullah.or.id — Hidayatullah terus berbenah salah satunya dengan terus meningkatkan layanan pendidikan yang berkualitas, unggul, dan berdaya saing. Dalam rangka upaya tersebut, Yayasan Hidayatullah Depok bekerjasama dengan Departemen Pendidikan Pesantren Hidayatullah Depok (DP2HD) menyelenggarakan kegiatan upgrading guru berupa seminar intensif selama sehari.

Kegiatan yang berlangsung pada hari Sabtu, 30 Agustus 2014 lalu bertempat di Aula Training Center Hidayatullah Depok dengan mengusung tema “Pesantren yang Unggul dengan Kurikulum Global menuju Indonesia Memimpin”.

Pemateri yang diundang adalah praktisi ekonomi Romeo Rissal Panjialam dan pakar pendidikan nasional Prof. Dr. Arif Rahman, M.Pd. Namun karena kendala waktu dan sesuatu lain hal, Profesor Arif Rahman yang telah dijadwalkan menjadi pembicara bersama Bapak Romeo berhalangan hadir. Namun ketidakhadiran tokoh pendidikan tersebut tak mengurangi antusiasme peserta yang seluruhnya adalah guru dan pengasung di bawah lembaga pendidikan Hidayatullah Depok.

Dalam pemaparannya, Romeo Rissal yang banyak berkecimpung di dunai perbankan mengatakan bahwa salah satu yang harus menjadi perhatian lembaga pendidikan adalah pengembangan sumber daya manusia. Kata dia, sumber daya yang tidak beretos kerja hanya akan merusak sistem.

Untuk itu, kata Romeo, Pesantren Hidayatullah Depok harus bisa secara konsisten mambangun kemandirian ekonomi lembaga guna menopang kebutuhan organisasi dan juga memenuhi tuntutan stakeholders. Dengan demikian, maka diharapkan kemudian akan terjadi siklus pengembangan dan pembangunan lembaga yang berkelanjutan (sustainable development) baik pada aspek sumber daya manusia penyelenggaranya, pelayanan, dan output yang dihasilkan.

“Salah satu potensi yang dilupakan oleh lembaga pondok-pondok pesantren adalah kemandirian ekonomi. Hidayatullah Depok saya lihat sudah ada Mulia Mart, tapi itu tidak maksimal karena baru menyasar konsumen internal. Seharusnya harus diluaskan jangkaunnya,” imbuh beliau menyarankan.

Pada kesempatan tersebut, Romeo juga menyarankan kepada pengasuh dan guru di lingkungan Pesantren Hidayatullah Depok untuk selalu membangun etos kerja yang tinggi dan senatiasa menumbuhkan semangat untuk menuntut ilmu karena ilmu tidak terbatas.

“Soal komunitas bahasa Inggris yang sudah saam-sama kita bangun di Hidayatullah Depok, ini harus dikawal dan dijalankan bersama-sama karena tanpa motivasi yang tinggi kita tidak akan jadi apa apa,” pungkasnya.

Dengan demikian, lanjut dia, untuk menjadi Indonesia unggul, maka kurikulum berbasis global memang sebaiknya menjadi perhatian bersama. Kurikulum global tersebut harus mengacu kepada semangat dasar pendidikan yaitu mencetak generasi bermoralitas agung dan beriman kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Sekretaris Yayasan Hidayatullah Depok, Bapak Lalu Mabrul, kepada media ini mengagatakan, acara ini seyogyanya diisi juga materi dari pakar pendidikan Profesor Arif Rahman.

“Tapi, karena ada halangan, beliau mengkonfirmasi kepada panitia bahwa beliau tidak bisa hadir. Di kesempatan yang lain beliau bersedia, Insya Allah,” ujar Mabrul.

Beliau pun mengapresiasi setinggi-tingginya antusiasme peserta dalam acara ini yang tidak pernah merasa puas dan cukup dalam menimba ilmu. Meskipun dilingkupi kesibukan mengajar dan kegiatan di sekolah, para guru masih dapat menyempatkan diri hadir dalam acara yang berlangsung hingga azan dzhuru itu.

“Untuk menjadi lebih baik, belajar, dan terus belajar harus menjadi kebiasaan bagi setiap muslim. Apalagi jika ia mengemban amanah sebagai pendidik, maka upaya upgrade diri adalah keniscayaan,” imbuh beliau.

Kegiatan ini dimulai jam 09.30 hingga waktu dzhuhur. Acara ditutup dengan doa dan ramah tamah. (ybh/hio)

Pendidikan Hidayatullah Harus Rangkul Semua Potensi

Sejumlah murid di Hidayatullah Kudus
Sejumlah murid di Hidayatullah Kudus

Hidayatullah.or.id — Sistem pendidikan kapitalis yang menjalankan proses pendidikan layaknya industri dipandang gagal melahirkan output ber-Tauhid dan nihil loyalitas terhadap Islam.

Akibat pengaruh sistem tersebut, lembaga pendidikan berlomba mengusung slogan “modern” dengan membuat ketentuan baku bahwa seorang siswa atau murid bisa lulus atau tidak lulus hanya berdasarkan angka-angka hasil ujian di atas kertas. Aspek emosional, kultur, dan lainnya pun dicampakkan.

Itulah beberapa yang menjadi keprihatinan Yayasan Al Aqsha Hidayatullah Kudus yang selama ini terus concern menyelenggarakan pendidikan berbasis Tauhid yang tak memandang apakah seorang perserta didik mampu secara akademik atau tidak. Semua mendapat porsi yang sama untuk mengecap pendidikan Islam. Sebab, pada prinsipnya, fitrah manusia adalah men-Tauhid-kan Allah Ta’ala.

Ketua Yayasan Al Aqso Hidayatullah Kudus, Abdullah, mengatakan, sekulerisasi dan kapitalisasi pendidikan telah dimulai sejak lama karena belum maksimalnya pola pendidikan Tauhid dalam sosialisasi dan transformasi. Kendati demikian, tak ada kata terlambat untuk berbenah.

“Terdapat kesan sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) adalah suatu hal yang berada di wilayah bebas nilai sehingga sama sekali tak tersentuh oleh standar nilai agama,” kata dia.

Kalaupun ada, sambungya, hanyalah etik (ethic) yang tidak bersandar pada nilai agama. Sementara, pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan justru kurang tergarap secara serius.

Menurut dia, dari seluruh permasalahan yang ada dalam pendidikan, yang pertama harus ditata kembali adalah adalah permasalahan yang muncul akibat konsepsi pendidikan secara paradigmatik. Tataran paradigamatik ini yang akan memberi visi, misi, dan orientasi proses pendidkan yang dilaksanakan. Karena itu, kekeliruan paradigmatik pendidikan akibatnya akan sangat fatal.

“Pengaruh yang ditimbulkan bukan hanya terhadap individu peserta didik, tetapi juga teradap sistem kehidupan yang dibangun oleh peserta didik tersebut,” terangnya.

Secara paradigmatik, imbuhnya, pendidikan harus ditata pada asas Tauhid. Suatu pandangan kehidupan, pemahaman, penghayatan, serta implentasi dalam pola sikap, ucap dan tindakan (iman), atas realitas kehidupan. Serta, entitas dari realitas tersebut akan adanya penciptaan, ketergantungan, pengaruh, tujuan, dan rujukan serta keberadaan pencipta. Dalam bahasa sehari-hari Tauhid sering diartikan meng-Esa-kan Tuhan.

Asas Tauhid ini merupakan landasan, jiwa, dan ortientasi pendidikan. Karena pendidikan itu objeknya adalah manusia, maka persepsi manusia juga harus berdasarkan Tauhid, bukan atas persepsi manusia itu sendiri. Inilah, tegas Abdullah, otoritas Tuhan sebagi bagian nilai dari Tauhid.

Atas dasar itu pula, kata Abdullah, kita memahami bahwa manusia dikategorisasi dari status dan fungsinya, baik sebagai individu, atau sebagai bagian dari masyarakatnya, lingkunganya, dan alamnya serta ditunjau berdasarkan instrumentasi yang dimilikinya.

“Manusia memiliki status dan fungsi hidup sebagi Abdullah dan Khaliffatulah. Dalam rangka mengemban amanat tersebut, maka diperlukan kemampuan berupa tumbuh dan berkembangnya aspek-aspek instrumentasi kemampuan manusia secara integral dan seimbang, yaitu aspek aqliyah, ruhiyah dan jismiyah,” terangya.

Dengan demikian, imbuh dia, kemampuan yang dimiliki manusia dengan tumbuh dan berkembangnya kemampuan intrumentasinya, adalah dalam rangka memerankan secara fungsional dan integratif antara sebagai hamba (‘abid) yang berdimensi sebagai pribadi dan sebagai khalifah yang berdimensi sosial dan lingkungan alam.

Penyelenggara dan lembaga pendidikan pun, lanjutnya, tak boleh mengabaikan aspek tersebut dengan terus mendaraskan keikhlasan dalam diri dalam mendidik sehingga semua potensi dapat dimaksimalkan tanpa ada pembeda-bedaan. Selama seseorang memiliki komitmen untuk berubah menjadi lebih baik, maka harus diapresiasi.

“Sehingga suatu hal yang naif kalau ada lembaga pendidikan berlabel Islam menolak calon murid atau pelajar hanya karena dia tak memenuhi syarat akademik atau secara lahir terlihat mbalelo, padahal di aspek lain bisa jadi dia memiliki potensi untuk menjadi baik karena itulah fitrahnya,” pungkasnya.

Yayasan Al Aqsho Pesantren Hidayatullah Kudus sendiri merupakan cabang dari Hidayatullah Balikpapan Kalimantan Timur yang dirintis oleh almarhum KH Abdullah Said. Sebelum Kudus, Hidayatullah lebih dulu berdiri di Situbondo dengan nama Yayasan Al-Amin.

Perintisan Yayasan Situbondo diawali oleh diskusi-diskusi yang dilakukan oleh beberapa anak muda mahasiswa muslim yang sedang menyelesaikan kuliah di berbagai Perguruan Tinggi di Surabaya. Mereka antara lain Abdurrahman (UNAIR), Hamim Thohari (IKIP), Elvenus Yahya (ITS), Sulaiman (ITS), Rahmad Rahman (UNAIR), dan Chusnul Chuluk (IKIP).

Atas izin Allah SWT, kepercayaan masyarakat kepada Yayasan Al Aqsho Hidayatullah Kusud terus meningkat. Hingga pada akhirnya Yayasan Al Aqsho Kudus mampu mewujudkan sebuah kompleks asrama di atas tanah seluas 10.000 m2 dan terus eksis hingga kini.

Kegiatan yang awalnya hanya berupa penyantunan yatim piatu, pembinaan anak putus sekolah terus ditingkatkan menjadi lembaga pendidikan yang dikelola secara profesional terdiri dari Play Group dan TK “Yaa Bunayya”, SD Luqman Al-Hakim yang berdiri pada tahun 1999 serta SD Integral pada tahun 2012. (ybh/hio)

“Pondok Pesantren Tak Perlu Label Modern”

Potret santri-santri awal Pesantren Hidayatullah yang lebih banyak "belajar" di lapangan ketimbang di ruang kelas karena keterbatasan fasilitas / dok
Potret santri di awal perlangkahan Pesantren Hidayatullah yang lebih banyak “belajar” di lapangan ketimbang di ruang kelas karena keterbatasan fasilitas / IST

Hidayatullah.or.id — Pondok pesantren diminta untuk kembali mengambil peran utama dalam kemajuan bangsa Indonesia. Pondok pesantren sudah saatnya harus kembali seperti dulu tanpa perlu label modern. Demikian ditegaskan Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar.

“Sudah saatnya kembalikan nilai pesantren yang mulai tergerus. Pondok pesantren tidak perlu pakai label modern karena dari survei, pondok pesantren justru lembaga pendidikan paling modern,” ujar Nasaruddin dalam acara pengukuhan Dewan Hakim Musabaqah Qiroatil Kutub (MQK) di kantor Gubernur Jambi, Selasa (2/9/2014) malam lalu.

Saat ini, ungkap Nasaruddin, pondok pesantren yang ada kerap meninggalkan ajaran-ajaran tradisional yang justru bermanfaat seperti pendalaman bahasa Arab. Padahal, ujar dia, dengan memahami bahasa Arab maka keaslian makna dari ayat-ayat Al Quran akan tetap terjaga.

Di sisi lain, Nasaruddin mengaku bangga dengan keberadaan pondok pesantren. Konsep pesantren bahkan sudah ditiru Inggris. Saat ini, kata dia, Inggris mulai mengembangkan konsep boarding school atau housing student yang sistemnya mirip dengan pesantren.

Selain itu, Nasaruddin menyinggung peran pondok pesantren selama perjalanan sejarah Indonesia yang cukup besar. Tokoh-tokoh yang berasal dari kalangan santri bahkan menjadi tokoh nasional yang menyatukan bangsa ini.

“Ada pengamat Amerika bilang, Indonesia akan terkotak-kotak menjadi 20 negera seperti yang terjadi di Balkan. Tapi hingga tahun 2014, kita belum bubar. Rahasianya sepanjang pondok pesantren berdiri tegak, maka Indonesia tidak akan hancur,” kata Nasaruddin.

Nasaruddin berharap pondok pesantren benar-benar mengajarkan ajaran Islam secara mendalam termasuk kefasihan menghafal, memahami, hingga melaksanakan ayat-ayat Al Quran. Dia juga menekankan perlunya pemahaman lebih atas bahasa Arab. (kem/kem)

Rekat Ukhuwah di Marhalah Ula Hidayatullah Sulbar

Ketua Departemen Pelayana Umat PP Hidayatullah, Drs Tasyrif Amin Lathif, M.Pd.I / BAS
Ketua Departemen Pelayanan Umat PP Hidayatullah, Drs Tasyrif Amin Lathif, M.Pd.I saat menyampaikan materi / BAS
Sejumlah pesreta dan panitia berfoto bersama saat penutupan / BAS
Sejumlah peserta dan panitia berfoto bersama usai penutupan Marhalah Ula II PW Hidayatullah Sulbar / BAS
Peserta menyantap hidangan lezat khas sajian tuan rumah Kampus Hidayatullah Satutalawar / BAS
Dai peserta training Marhalah Ula II PW Hidayatullah Sulbar tampak antusias menyantap hidangan lezat khas sajian tuan rumah Kampus Hidayatullah Satutalawar / BAS

Hidayatullah.or.id — Ikhwan Syaifullah merasa senang sekali bisa mengikuti Training Marhala Ula angkatan ke-2 yang dilaksanakan pimpinan wilayah Hidayatulah Sulawesi Barat, beberpa waktu lalu.

Seperti 14 peserta lainnya, Ikhwan memanfaatkan waktu di sela-sela acara resmi yang terbilang padat ini untuk saling bebagi cerita dan trik bertugas di daerah dakwah masing-masing.

Diselingi senda gurau dai, “Saya tenang saja waktu nama Ikhwan Syaifullah dipanggil waktu akan akad nikah. Ternyata itu nama saya, saya lupa kalau ternyata sudah diganti,” kisah dai yang sebelumnya bernama Darsin ini.

Kegiatan training Marhalah Ula ini diakui Ikhwan melegakan dirinya yang dahaga dengan spirit rohani. Pria yang kini beretugas di dusun bernama Tarailu ini mengaku sangat bahagia bisa mendapatkan nasihat-nasihat dari pengurus pusat dan wilayah.

Training ini sendiri menghadirkan pemateri instruktur nasional Hidayatullah yang didampingi Ketua PW Hidayatullah Sulbar Drs. Abu Bakar Muis dan Ketua Bidang Pengkaderan PW Hidayatullah Sulbar, Abdurrahman Hasan, S.Pd.I.

Peserta pelatihan berasal dari kabupaten Mamuju sebanyak 9 orang. Pimpinan Daerah Hidayatullah Mamuju Utara (PD Mamut) mengutus dainya dua orang, peserta dari Kabupaten Mamuju Tengah (PD Mateng) 2 orang, dan satu dai juga berasal dari Kabupaten Polman.

“Kita fokuskan semua acara di kampus II Hidayatullah di Salutalawar,” kata Herman DJ, S.Sos.I selaku ketua panitia event ini.

Pihaknya memaparkan, dipilihnya kampus II Hidayatullah Satutalawar dengan tujuan untuk efesiensi anggaran dan upaya mempererat silaturahim warga dan petugas-petugas dari berbagai daerah di mana daerah ini memang yang paling mudah dijangkau ketimbang kampus lainnya.

Acara yang diadakan selama tiga hari ini, sejak hari Jumat tanggal 29 Agustus dan berakhir pada Ahad lusanya yang berlangsung di Ruang Kegiatan Belajar (RKB) SMP Al-Furqon Hidayatullah Satutalawar.

Seluruh rangkaian acara ini berpusat dalam lokasi pesantren mulai dari ruang siding, sholat, dan olahraga di pagi hari.

“Pilihan tempat acara ini merupakan sugesti untuk percepatan melakukan pembenahan kampus bagi tuan rumah, juga bernilai penguatan tali silaturahim,” kata Ketua PW Hidayatullah Sulawesi Barat Drs. Abu Bakar Muis seraya berseloroh.

Dijelaskan dia, sebagai kader yang sedang bertugas di daerah harus memiliki standar kemampuan dalam memberikan pencerahan di masyarakat. Dituntut bisa memainkan peran dalam berdakwah dengan mad’u (pendengar) dan karakter masyarakat yang berbeda di setiap daerah binaan.

Abu Bakar menjelaskan, gencar memberikan pencerahan kepada ummat itu sudah berjalan fungsi standar. Akan tetapi mengaktifkan sholat lail (malam) baik secara pribadi dan jamaah di kampus-kampus Hidayatullah merupakan rutinitas yang mencirikan dai yang cerah dan mencerahkan.

“Konsep dasar yang dkenalkan adalah manhaj Hidayatullah sebagai organisasi massa Islam yang berbasis kader, dengan dakwah dan tarbiyah sebagai program utamanya,” terang dia.

Sementara itu, Ketua Bidang Pelayanan Umat Pimpinan Pusat Hidayatullah Drs. Tasrif Amin Latif, M.Pd.I yang juga pemateri pada Training Marhala Ula angkatan ke-2 ini memberikan motifasi kepada peserta agar terus berbuat lebih banyak kepada ummat.

“Bahwa pembangunan yang dilakukan para dai di kampus-kampus tempat mereka bertugas yang dengan itu mereka bisa memberikan layanan pendidikan formal, santunan anak yatim dan dhuafa, itu semua adalah dakwah yang efektif hari ini,” pesan Tasyrif.

Beliau mengatakan, dirinya pernah sangat heran mendengar jawaban dai yang bertugas di sebuah daerah, “Saya belum sempat berdakwah karena sibuk membenahi kampus”. Padahal, tegasnya, justeru membenahi kampus dengan pelayanan optimal di masyarakat itulah dakwah.

“Jangan sampai banyak daerah binaannya tetapi belum memiliki kampus atau sudah memiliki kampus tetapi tidak maksimal kegiatan internalnya. Jadi harus proporsional,” pungas beliau mengingatkan. (Muhammad Bashori)

Hidayatullah Bangun Fasilitas Air Bersih di Gunungkidul

BMH-Jogja-bangun-fasilitas-air-bersih-di-Gunungkidul-400x300Hidayatullah.or.id — Untuk mempersiapkan dan mengantisipasi datangnya musim kemarau, beberapa waktu lalu Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bekerjasama dengan pimpinan daerah Hidayatullah Yogyakarta mengadakan pembuatan sarana air bersih di Dusun Kembang, Botodayaan, Rongkop, Gunungkidul.

“Daerah Botodayaan menjadi sasaran pertama penerima bantuan sarana air bersih ini karena di wilayah tersebut menjadi langganan kekeringan ketika kemarau tiba,” kata pengurus PD Hidayatullah Yogyakarta, Iyal Harist Munandar, dalam perbincangan dengan media ini, Rabu (03/09/2014)

Bantuan sarana air bersih yang dilakukan mulai Sabtu (23/08) lalu tersebut berupa pembuatan bak penampungan air, sanitasi, dan pengecatan masjid yang berada di Desa Botodayaan. Pembangunan tersebut dikerjakan secara gotong royong oleh warga sekitar.

Harist menjelaskan, daerah yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai pembuat geplak (berupa olahan khas Gunungkidul yang berbahan dasar singkong) tersebut memang tandus.

“Banyak batu-batu cadas yang berada di sekeliling rumah warga,” kata Harist.

Sementara itu, Syaiful Prihatin, salah satu warga dusun Kembang mengatakan bahwa di daerahnya tersebut pernah dilakukan pengeboran secara manual oleh warga sedalam delapan puluh meter, akan tetapi belum terlihat tanda-tanda adanya air.

“Dulu pernah kita coba gali lubang sedalam delapan puluh meter lebih, tetapi hasilnya nihil,” katanya.

“Kami sangat berterima kasih pada BMH Yogyakarta yang telah membangunkan bak penampungan air bersih ini, semoga kami bisa memanfaatkan amanah ini dengan baik,” pungkasnya.

Sementara itu Firman Zainal Abidin selaku kepala cabang BMH Yogyakarta ikut bergabung langsung bersama warga dalam proses pembuatan penampungan sarana air bersih tersebut.

Firman, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa pembuatan sarana air bersih ini adalah lanjutan dari program-program sebelumnya yang sudah berjalan di dareah tersebut.

“Ke depan InsyaAllah kita masih berlanjut untuk membantu warga Gunungkidul yang kesulitan sarana air bersih. Mohon doanya semoga berbarengan dengan gelaran qurban besok, kita bisa bangunkan sarana air bersih lagi,” harapnya. (fath/hio)

Hidayatullah Medan Terapkan Ospek Santri Berperadaban

Dalam ospek ini, santri baru diajak untuk melakukan tadabbur alam / CHA
Dalam ospek ini, santri baru diajak untuk melakukan tadabbur alam / CHA

Hidayatullah.or.id — Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus atau Ospek Pondok Pesantren Hidayatullah Medan merupakan momentum bersejarah bagi setiap santri yang memasuki pintu gerbang pendidikan di kampus ini. Sehingga kegiatan ospek dengan seluruh rangkaian acaranya merupakan wahana awal pembentukan watak bagi para santri baru.

Hidayatullah Medan yang saat ini membina ratusan santri mulai dari tingkat SD, SMP, dan SMA putra putri ini telah menerapkan metode orientasi pengenalan kampus yang terintegrasi.

“Metode ini bertujuan untuk mengenalkan dan memahami lingkungan kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Medan sebagai suatu lingkungan akademis yang Islami serta memahami mekanisme yang berlaku di dalamnya,” jelas Ketua Yayasan Hidayatullah Medan, Ustadz Choirul Anam, dalam keterangan tertulisnya diterima

Peserta ospek santriwati di tengah lapangan sebelum mengikuti kegiatan educative game / CHA
Peserta ospek santriwati di tengah lapangan sebelum mengikuti kegiatan educative game / CHA

Hidayatullah.or.id, Rabu (03/09/2014).

Choirul menjelaskan, kegiatan ospek merupakan kegiatan untuk memperkenalkan kampus kepada santri baru. Kegiatan ini merupakan kegiatan institusional yang menjadi tanggung jawab lembaga untuk mensosialisasikan kehidupan di Pondok Pesantren ini dan proses pembelajaran yang pelaksanaannya melibatkan unsur pimpinan, pengelola dan pengurus, serta ewan guru.

Choirul menuturkan, tujuan dari ospek yang mengusung tema “Ospek Santri Berperadaban” ini dalam rangka untuk menambah wawasan para santri baru dalam penggunaan sarana akademik yang tersedia di kampus Pondok Pesantren Hidayatullah secara maksimal. Memberikan pemahaman awal tentang wacana ke Islaman serta pendidikan yang mencerdaskan berdasarkan pada nilai-nilai AL-Qur’an dan Assunnah.

Selain itu, ospek ini digelar untuk mempersiapkan mental para santri agar mampu belajar di Pesantren ini serta mematuhi dan melaksanakan norma-norma yang berlaku di kampus, khususnya yang terkait dengan Kode Etik dan Tata Tertib Santri.

Tujuannya juga adalah untuk menumbuhkan rasa Ukhuwwah Islamiyah sesama santri dan seluruh masyarakat Pondok yang penuh rasa ukhuwah kemanusiaan menciptakan lingkungan kampus yang nyaman, tertib, dan dinamis ( Islamiyah, Ilmiyah dan Alamiyah ). Serta agar Menumbuhkan kesadaran para santri baru akan tanggungjawab akademik dan sosialnya sebagai santri sebagaimana di inginkan oleh Allah dan RasulNya.

Adapun fungsi orientasi ini agar para santri baru paham untuk memasuki dunia Pondok Pesantren yang berbeda dengan belajar di tempat-tempat lain.

“Secara normatif, diharapkan para calon santri akan memahami, menghayati, dan mengamalkan aturan-aturan yang berlaku di kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Medan dimana tujuan hadirnya adalah membangun Miniatur Peradaaban Islam. Dari aspek akademis, ini akan mendorong pengembangan budaya intelektual, memngembangkan bakat, minat dan kepemimpinan bagi para santri,” imbuh dia.

Ospek Beradab

Jika kita sering mendengar bahwa ada kegiatan Ospek di Indonesia sering kali diisi oleh kekerasan dalam bentuk verbal dan bahkan tidak jarang terjadi kekerasan fisik. Dengan konsep junior harus patuh kepada senior, apapun perintahnya.

Sehingga, sering kali para peserta Ospek mengenakan pakaian dan ornamen yang tidak wajar bahkan harus mau menerima hukuman fisik dari senior bahkan sampai berujung pada kematian. Ini kemudian memunculkan karakter balas dendam

Maka, Ospek yang berlangsung di Pondok Pesantren Hidayatullah ini dirancang serekreatif mungkin dan seedukatif mungkin sehingga nuansanya betul-betul menyenangkan dan akan susah dilupakan bagi santri.

“Santri diantar untuk menjadi kader yang kreatif, innovative dan leadership. Semua merasa gembira, semua merasa mendapat pengalaman baru, semua jadi saling mengenal, semua jadi merasa mendapat saudara baru, keluarga baru dan mengenal dunia baru Islam yang sungguh mereka rindukan selama ini, dan baru sekarang mereka menemukannya,” kata salah Fachri, salah seorang staf pengasuh dan panitia penyelenggara ospek ini.

Selain kegiatan rekreatif yang dilaksanakan secara outdoor, kegiatan ospek dengan sistem indoor yang berkaitan dengan membuka wawasan keislaman tidak boleh ditinggalkan. (ybh/hio/)