Beranda blog Halaman 638

Pemuda Hidayatullah Kecam Isu Pelarangan Jilbab di BUMN

jilbab di bumnHidayatullah.or.id — Isu larangan berjilbab syar’i, berjenggot, dan bercelana ngatung bagi pegawai badan usaha milik negara (BUMN) menghebohkan media sosial beberapa waktu terakhir. Banyak pihak khususnya dari pihak pemerintah menanggapi kabar tersebut. Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Hidayatullah, Muhammad Naspi Arsyad, mengatakan jika kabar ini benar, maka harus dilawan sebab ini merupakan sebuah langkah mundur.

Naspi Arsyad dengan tegas menyampaikan bahwa Penggunaan jilbab merupakan sebuah penghargaan dan penghormatan agama terhadap wanita.

“Dengan syariat jilbab, agama Islam menempatkan wanita pada posisi yang berwibawa, baik dihadapan Allah Ta’ala maupun dihadapan manusia,” kata Naspi Arsyad disela-sela kunjungan kerjanya di Kota Palu dan Makassar, beberapa waktu lalu.

Penggunaan jilbab dan atribut identitas keislaman lainnya seperti jenggot, tegas Naspi, merupakn ketetapan yang absolut dan tidak seorang pun yang berhak menintervensi ketetapan Allah ini termasuk persoalan mau kemana dan dimana seorang wanita yang berjilbab ingin berada, selama bukan tempat maksiat.

“Maka bila teroterial dan waktunya masih bersifat netral (mubah) maka tidak boleh ada larangan yang membatasi,” terangnya.

Pemuda (Syabab) Hidayatullah berharap agar wacana dan isu pelarangan jilbab ini tidak benar dan harus dipertimbangkan secara profesional. Apakah jilbab itu mempengaruhi kinerja atau tidak. Kalau tidak mengurangi kinerja, kenapa mesti ada larangan, imbu Naspi.

Dikatakan Naspi, Pemuda Hidayatullah menyampaikan ucapan terimakasih kepada pemerintah apabila mampu menahan diri untuk tidak terlalu jauh memasuki wilayah yg dapat menjadi sumber keresahan umat Islam yang sudah sangat bersabar dengan kondisi Indonesia dewasa ini.

Sebagaimana diberitakan, Kementerian BUMN diisukan melarang pegawai perempuan yang berjilbab panjang namun memperbolehkan pegawainya memakai tato.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kabinet Kerja Rini, Mariani Soemarno Soewandi, belum sekalipun membantah isu tersebut. Menteri wanita lulusan Wellesley College, Massachusetts, Amerika Serikat, ini sebelumnya juga menyatakan akan menjual Gedung BUMN dan mengangkat orang asing jadi direktur utama BUMN. Gagasannya ini dicekam banyak pihak karena dinilai merupakan bentuk kebijakan kaum neo-liberal.

Namun melalui Sekretraris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Imam Apriyanto Putro, membantah kementeriannya melarang penggunaan jilbab. Menurutnya, aturan Kementerian BUMN selalu transparan dan dipublikasi di laman resmi pemerintah.

Kontroversi larangan penggunaan jilbab panjang oleh Menteri BUMN Rini Soemarno berawal dari akun media sosial Twitter yang kemudian dikutip sebuah media nasional. Hal itu diungkap oleh pemilik akun @estiningsihdwi.

Esti memposting kriteria rekrutmen PNS Kementerian BUMN yang salah satunya memperbolehkan penggunaan tato asal tidak terlihat. Selain itu, kantor BUMN juga melarang pegawainya memelihara janggut, dan mensyaratkan tidak boleh menggunakan jilbab panjang bagi PNS di kementerian tersebut.

Dwi Estiningsih bahkan merasa perlu menegaskan bahwa apa yang ia unggah melalui akun Twitternya @estiningsihdwi adalah benar. Ia juga meluruskan beberapa hal yang berkembang di media sosial, namun tidak berasal dari pernyataannya.

Dalam akunnya tersebut dia menegaskan, foto tersebut adalah form atau catatan untuk asesor atau penguji yang boleh jadi bersifat terbatas. Selebarang itu bukan pengumuman atau selebaran yang dipublikasikan di laman resmi. (hio/ybh)

Hidayatullah Peduli Bertahan di Lokasi Longsor Banjarnegara

SAR Nasional Hidayatullah di Longsor Banjanegara (2) SAR Nasional Hidayatullah di Longsor Banjanegara (3)Hidayatullah.or.id — Tim pencari dan penyelamat nasional Hidayatullah atau Search and Rescue (SAR) Nasional Hidayatullah melaporkan hingga saat ini masih terus dilakukan operasi evakuasi korban longsor Banjarnegara. Sulitnya medan serta bahan logsitik kebutuhan primer yang terbatas cukup menghambat proses evakuasi ini.

Demikian dikatakan Koordinator Lapangan Operasi Tanggap Darurat Bencana Hidayatullah Peduli – SAR Nasional Hidayatullah, Salman Alfarisi, dalam keterangannya di Banjarnegara, Sabtu.

Salman menegaskan, pihaknya masih akan tetap bertahan di lokasi longsor di Dukuh Jemblung, Karangkobar, Banjarnegara, Jawa Tengah, hingga waktu yang tidak bisa dipastikan sampai keadaan betul betul terkonfirmasi normal.

Seperti diketahui, puluhan rumah yang dihuni sekitar 300 jiwa dari 53 keluarga di Dusun Jemblung RT 05 RW 01, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara, terkena musibah tanah longsor yang terjadi pada hari Jumat (12/12), sekitar pukul 17.30 WIB.

Salman yang bergesar ke lokasi bencana bersama belasan tim dari SAR Hidayatullah Jawa Tengah langsung berkoordinasi dengan Badan SAR Nasional (Basarnas) selaku lembaga pemerintah non-kementrian yang bertugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pencarian dan pertolongan.

“Yang mendesak saat ini adalah logsitik seperti bahan konsumsi dan peralatan tempat pemukikan sementara sebagai upaya rehabilitasi awal para korban. Bukan saja korban, relawan juga harus rela menahan lapar sementara ini dan proses evakuasi tetap berjalan,” kata Salman.

Karenanya, Salman mengimbuhkan, masyarakat dapat turut serta membantu meringankan beban para korban yang tertimpa bencana dengan menyalurkan bantuannya langsung ke lokasi bencana atau melalui lembaga resmi nasional yang ada seperti Laznas Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) yang saat ini juga telah membuka posko di lokasi bencana.

Sementara itu, Bupati Banjarnegara, Sutejo Slamet Utomo, dalam keterangannya kepada media menyatakan menetapkan bencana longsor yang terjadi di Dusun Jemblungan, Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara, ini berstatus bencana tanggap darurat untuk tiga bulan ke depan.

Pemerintah daerah setempat menegaskan sudah memberikan instruksi kepada seluruh warga yang berada di kawasan sekitar bencana untuk mengungsi sementara waktu.

Diinformasikan pula agi masyarakat yang membutuhkan informasi terkait bencana longsor Banjanegara dan informasi lain seperti distribusi dan bantuan kemanusiaan melalui SAR Hidayatullah, dapat menghubungi saluran mobile phone SAR Hidayatullah di +62-823-5430-9777 dan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) di telepon : 021-7975770, Fax : 021-7975614. (ybh/jsk)

Kemenag Anugerahkan “Penebar Kasih” untuk Dai Hidayatullah

Hadir pada acara tersebut Ketua Mahkamah Konstitusi Hamdan Zoelva, Sekjen Kemenag Nur Syam, Dirjen Pendis Kamaruddin Amin, dan sejumlah pejabat eselon I dan II Kementerian Agama.
Hadir juga pada acara tersebut Ketua Mahkamah Konstitusi Hamdan Zoelva, Sekjen Kemenag Nur Syam, Dirjen Pendis Kamaruddin Amin, dan sejumlah pejabat eselon I dan II Kementerian Agama.
Ustadz Abdul Haris Amin, dai Hiadyatullah yang menerima anguerah API 2014 kategori "Dai Penebar Kasih"
Ustadz Abdul Haris Amin, dai Hiadyatullah yang menerima anguerah API 2014 kategori “Dai Penebar Kasih”

Hidayatullah.or.id — Ormas Islam yang fokus pada bidang dakwah, pendidikan, dan sosial, Hidayatullah, mendapatkan anugerah sebagai Penebar Kasih dari Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) dalam ajang Apresiasi Pendidikan Islam (API) 2014.

Ajang apresiasi tersebut diberikan dan diresmikan langsung oleh Menteri Agama RI Lukman Hakmim Saifuddin pada malam anugerah Apresiasi Pendidikan Islam (API) 2014 di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (16/12) malam.Jpeg Jpeg

Hadir pada acara tersebut Ketua Mahkamah Konstitusi Hamdan Zoelva, Sekjen Kemenag Nur Syam, Dirjen Pendis Kamaruddin Amin, dan sejumlah pejabat eselon I dan II Kementerian Agama.

Dai Hidayatullah, Ustadz Abdul Haris Amin, yang mewakili Hidayatullah menerima anugera API dalam kategori “Dai Penebar Kasih di Bumi Cendrawasih”.

Dalam sambutannya, Menteri Lukman Hakim mengatakan perkembangan pendidikan Islam di Tanah Air mengalami lompatan luar biasa yang tidak terduga sebelumnya, ibarat cendawan di musim hujan. Karena itu Menag mengajak para pelaku pendidikan untuk berupaya menjadikan Indonesia sebagai kiblat pendidikan Islam dunia.

“Selama ini ada kesan kiblat dan pusat pendidikan Islam berada di negara-negara Timur Tengah yang menggunakan Bahasa Arab. Kini sudah saatnya Indonesia menjadi kiblat pendidikan Islam bagi warga dunia,” kata Menag pada malam anugerah Apresiasi Pendidikan Islam (API) 2014 di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (16/12) malam.

Selain itu pesantren dan diniyah diakui sebagai sistem pendidikan nasional. Pendidikan tinggi keagamaan mendapatkan payung hukum yang sama kuat dengan UU No.12 tahun 2012 tentang Pendidikan tinggi. Menurut Menag, jumlah dan bentuk satuan pendidikan Islam di Indonesia yang beragam dan khas, serta memiliki kesiapan yang cukup untuk menjadi tuan rumah bagi warga negara lain belajar Islam di Indonesia.

Menurut Menag, momentum itu sudah tiba. Dasarnya, salah satunya karena Indonesia negara demokratis terbesar di dunia dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Pada saat negara-negara Islam Timur Tengah, terutama kawasan Arab Spring, dilanda persoalan politik yang berujung pada suasana kacau, bangsa Indonesia dengan penduduk Muslim mayoritas menjadi magnet baru bagi bangsa-bangsa lain.

Ketua Mahkamah Konstitusi Hamdan Zoelva sependapat dengan Menag Lukman bahwa pendidikan Islam di Tanah Air semakin maju. “Saya optimis pendidikan Islam makin maju,” ujar sosok yang pernah mengecap pendidikan madrasah ini.

Hamdan mengungkapkan dirinya belajar di Madrasah Ibtidaiyah, lalu Madrasah Tsanawiyah berlanjut ke Madrasah Aliyah. “Saya diterima di dua perguruan tinggi di IAIN Alauddin dan fakultas hukum Universitas Hasanuddin, ayah saya perintahkan agar kuliah di IAIN, tapi saya ambil dua-duanya,” ungkapnya.

Hamdan menambahkan, selain dirinya di Mahkamah Konstitusi sudah ada Ketua MK yang berlatar belakang pendidikan Islam yaitu Ketua MK pertama Jimly Asshidiq dan Mahfudz MD. “Kita harus bangga,” pungkas Hamdan Zoelva.

Dirjen Pendis Kamaruddin Amin melaporkan, Apresiasi Pendidikan Islam bertujuan untuk memberikan apresiasi dan penghargaan baik kepada individu, lembaga dan insitusi yang telah melakukan pengembangan pendidikan Islam.

“Kegiatan ini untuk mengapresiasi pengabdian para pendidik, tokoh pendidik, prestasi peserta didik dan pemerintah daerah yang peduli dengan pendidikan Islam,” jelasnya.

Sementara itu, Abdul Haris Amin yang hadir didampingi pengurus pusat Persaudaraan Dai Nusantara (POSDAI) mengatakan, apresiasi pemerintah yang diberikan kepada Hidayatullah yang diwakili dirinya tersebut semakin mendorong Hidayatullah untuk terus memantapkan kiprah di masyarakat.

Kata Haris, apa yang telah di lakukan Hidayatullah dalam rangka turut serta membangun nusantara melalui pendidikan, dakwah, dan layanan sosial, masih terdapat kekurangan di banyak sisi. Karenanya, tegas dia, dukungan pemerintah dan masyarakat akan mendorong terciptanya siklus pembangunan yang terintegrasi yang tidak saja mencakup aspek fisik tapi juga menumbuhkan semangat pembangunan moral bangsa.

“Semoga apresiasi ini terus meningkatkan kontribusi postif Hidayatullah di masyarakat guna menyongsong Indonesia berperadaban mulia dengan selalu menjunjung tinggi entitas pluralitas sosialnya, Insya Allah,” pungkasnya. (ks/mkd)

Hidayatullah Terus Dukung Kepedulian Lingkungan Hidup

linkungan hidup hidayatullahHidayatullah.or.id — Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan belum lama ini kedatangan tamu dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Balikpapan.

Kedatangan satuan perangkat kerja pemerintah kota Balikpapan yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup ke pesantren yang didirikan oleh Allahuyarha Abdullah Said ini dalam rangka ingin mensosialisasikan pola hidup ramah lingkungan kepada masyarakat, dalam hal ini kepada warga pondok pesantren.

Selain dari BLH, pemerintah kota juga mengutus Kementrian Agama Kota Balikpapan dan Dinas Pendidikan Kota Balikpapan serta PDAM Balikpapan ikut menjadi penyuluh pada kegiatan ini.

Meski sudah setelan rapi, ternyata zainuddin musaddad masih menyempatkan diri merapikan beberapa meja di ruang pertemuan. Pagi itu, pesantren beroleh kesempatan sebagai tuan rumah yang dikunjungi beberapa dinas. Instruksikan kepada kepala kampus dan kepala unit pendidikan mengutus santri dan warganya segera disampaikan, sehingga yang mengikuti kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan di meeting room kantor yayasan ini berjumlah 70 orang.

Komposisi acara sosialisasi dibagi menjadi tiga, yakni pembukaan, penyuluhan materi sosialisasi dan tanya jawab. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Kementrian Agama kota Balikpapan. Adapun yang menjadi pembicara yaitu bapak Muhammad Usman (Dinas Pendidikan) dengan tema pemanfaatan pohon bambu sebagai penampung air, bapak Sulthon (PDAM/Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang menjelaskan cara proses pengolahan air limbah menjadi air layak pakai, dan bapak Muhammad Fahri (BLH) menjelaskan tentang program pemerintah dalam menjaga lingkungan hidup di Balikpapan.

Dalam sambutannya mewakili Pondok Pesantren, ustadz Zein sapaan akrabnya mengajak BLH bekerja sama dengan pondok untuk mengaplikasikan lingkungan hidup di lingkungan pesantren, salah satu yang bisa dilakukan yaitu dengan sering mengunjungi pesantren dan mensosialisasikan masalah lingkungan kepada warga dan santri. “Dosa besar jika pihak BLH hanya datang setahun sekali ke pondok kami, sebab pesantren ini milik masyarakat kota Balkpapan dan menjadi tanggung jawab pemerintah memelihara lingkungan wilayah pesantren”, Ucapnya. */Ibnu Sahl

Pesantren Hidayatullah Bersama BNN Perangi Narkoba

bnn narkobaHidayatullah.or.id — Bukan hanya masyarakat dan aparat kepolisian, Badan Narkotika Nasional Kabupaten/ Kota (BNNK) ingin memerangi bahaya narkoba bersama instansi pemerintahan di Balikpapan. Untuk menyamakan persepsi itu, BNNK Balikpapan menggelar Forum Group Discussion (FGD) dengan melibatkan instansi Polres dan seluruh Polsek di Balikpapan.
Kegiatan yang digelar beberapa waktu tersebut dihadiri Pesantren Hidayatullah, perwakilan Dinas Pendidikan (Disdik), Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar), Dinas Perhubungan (Dishub), Dinas Tenaga Kerja dan Sosial (Disnakersos), Rutan Klas IIB, Lapas IA, Balai Permasyarakat, Satpol PP, Badan Pemberdayaan Masyarakat.

Selain Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMP2KB), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Badan Kepagawaian Daerah (BKD), Bagian Humas dan Protokoler Sekdakot serta Pesantren Hidayatullah.

Menurut Ketua BNNK Balikpapan Drs I Ketut Rasna, kegiatan FGD ini sangat penting. Tanpa kesepahaman dalam upaya pencegahan, akan sulit menghentikan laju peredaran narkoba di Balikpapan, termasuk bahaya ngelem yang sudah sangat mengkhawatirkan. “Kita (BNNK) ingin menyamakan persepsi dulu dengan teman-teman di instansi pemerintahan di kota Balikpapan.

Jika sudah sama-sama paham, program penyuluhan dan sosialisasi sebagai bentuk pencegahan dini bisa sama-sama menjadi program utama. Khususnya bahaya lem hirup, karena fenomena ngelem di Balikpapan sangat banyak dan mudah ditemukan,” jelas Ketut Rasna saat pemaparan FGD di rumah jabatan (rumjab) wali kota, Jl Syarifuddin Yoes.

Melalui FGD, dia juga menjelaskan proses rehabilitasi tidak hanya untuk para pecandu narkoba, tetapi juga fokus kepada anak-anak terutama anak jalanan (anjal) yang memerlukan rehabilitasi sosial. Rehabilitasi sosial bagi anak jalan ini sangat dibutuhkan untuk menanggulangi kenakalan anak dan remaja terutama fenomena ngelem yang mengarah pada penyalahgunaan Narkoba, karena hukuman mental yang biasa dilakukan tidaklah mempan.

“Bahaya ngelem sama dengan bahaya narkoba yang dapat merusak otak dan menimbulkan kecanduan,” ucap didampingi Kepala Seksi Pencegahan BNNK dr Agus Iriansyah dan psikolog Fajar Asa, dra. Nuryana Ilaude.

Untuk regabilitasi kasus narkoba ini, Ketut berharap di Balikpapan dibangun segera Rumah Rehabilitasi Sosial yang dapat menampung kasus anak-anak jalanan. Instansi Pemerintah dapat bekerja sama dengan program Cirporate Social Responsibily (CSR) perusahaan-perusahaan yang ada di Balikpapan dengan dipayungi hukum dengan sebuah peraturan wali kota (perwali).

“Sekarang ini juga sangat perlu adanya peraturan tegas yang mengatur perdagangan lem untuk anak- anak di bawah umur,” tandas mantan Kabid Sosial Disnakersos Kota Balikpapan ini.

Hasil FGD ini akan menjadi referensi utama dalam rencana dibentuknya tim sosial yang akan menjadi pelaksana Rumah Rehabilitasi di Balikpapan dan eks lokalisasi Km 17 Karang Joang pun dinilai tepat menjadi lokasi rehabilitasi. (bp/hio)

Strategi Meningkatkan Mutu Diri sesuai Tuntunan Ilahi

0

Kualitas MutuSTRATEGI dalam upaya meningkatkan mutu diri memiliki makna rencana, yakni bagaimana menyusun program untuk mengubah kebiasaan berpikir tidak produktif menjadi produktif. Kebiasaan malas menjadi rajin.

Rajin mengandung arti sangat luas, tergantung sejauh mana kita memaknai nilai kehidupan. Ini amat terkait pula dengan visi hidup kita.

Apa visi hidup dalam pandangan seorang Mukmin dan siapakah yang patut dicontoh dalam membentuk visi hidup tersebut? Jawabnya, tentu saja visi hidup sang idola kita, yaitu Nabiullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW).

Pertanyaan selanjutnya, apakah mungkin kita mampu mengadopsi visi sang manusia agung tersebut? Dari sisi visi secara umum, yaitu menjadi manusia yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT), tentu saja kita bisa.

Nah, mari kita urai bagaimana strategi mencapai ridha Allah SWT dalam kehidupan nyata. Kita telah mendengar, melihat, dan memahami realitas kehidupan umat Islam saat ini bahwa kebanyakan umat Islam di negeri ini bodoh dan miskin. Kedua hal itu bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisah. Kebodohan melahirkan kemiskinan, begitu pula sebaliknya.

Lantas, bagaimana strategi kita mengubah realitas tersebut agar umat Islam bangkit menjadi kaum yang lebih bermartabat? Marilah kita jawab pertanyaan tersebut dengan pola sebagaimana al-Qur`an diturunkan.

Menurut manhaj Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW), untuk menyadarkan individu dan masyarakat agar mampu berubah dan bisa menjadi ”agen perubahan” diperlukan kesadaran menatap posisi dirinya sendiri. Apakah selama ini kita hanya sebagai pengikut atau pemimpin?

Jika posisi kita sebagai pengikut maka segeralah ganti posisi itu. Kita harus menjadi manusia pemimpin, bukan pengikut. Kita harus mampu bersaing dalam semua aspek kehidupan.

Lalu, kapankah manusia tersentuh kesadarannya untuk bangkit bersaksi bahwa dirinya adalah seorang pemimpin?

Fakta sejarah menunjukkan, Nabi Muhammad SAW mulai bangkit bersaksi bahwa dirinya adalah pemimpin umat tatkala wahyu pertama turun. Iqra’, bacalah, renungkanlah, analisislah, dan simpulkanlah!

Apa yang dibaca, direnungkan, dianalisis, dan disimpulkan? Pertanyaan ini hanya dapat dijawab oleh orang yang memiliki visi hidup seperti Nabiullah Muhammad SAW.

Berat sekali. Pasti berat. Sebab, seorang pemimpin dituntut mampu mengarahkan dirinya dan umat menuju jalan yang diridhai oleh Allah SWT.

Bertolak dari pemikiran inilah Hidayatullah mengajak semua lapisan masyarakat untuk bangkit menuju posisi memimpin. Tentu saja, mewujudkan visi memimpin ini tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu direncanakan dan diperjuangkan secara bertahap, dimulai dari diri sendiri,

Kunci agar kita bisa mampu bersaing dalam hidup adalah iqra’, yaitu membaca dalam arti seluas-luasnya. Secara sempit membaca dapat diartikan belajar sesuai jenjang pendidikan formal. Ini akan mengantar kita berpikir sistematis dalam perspektif kognitif. Adapun aspek afektif dapat diperoleh melalui rumah tangga sebagai inti dari pendidikan, sekolah, dan masyarakat.

Sudahkah rumah tangga kita menjadi lembaga pendidikan yang efektif untuk mengantar diri dan keluarga menjadi agen perubahan? Jika belum maka mimpi menjadi pemimpin tidak akan terwujud.

Oleh karena itu, kita harus sadar untuk senantiasa belajar. Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang kubur. Begitulah pesan Rasululah SAW.*

__________________
Dr. H. Abdul Mannan, SE, MM, penulis adalah Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah. Artikel ini juga telah dimuat di majalah nasional Suara Hidayatullah edisi Januari 2009.

Bina Leadership, Hidayatullah Medan Vitalkan Dewan Santri

0

dewan samtri 3 dewan samtri 5 dewan samtri 4Hidayatullah.or.id — Menyadari besarnya skill dan potensi manajerial santri, Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Medan, Sumatera Utara, yang beralamat di Desa Bandar Labuhan, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, menguatkan pembinaannya dengan memvitalkan Dewan Santri sebagai organisasi ekstrakurikuler keasramaan.

Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Medan, Sumatera Utara, H. Choirul Anam, mengungkapkan, Dewan Santri yang merupakan organisasi santri sebagai wadah bagi santri untuk belajar menjadi pemimpin dalam rangka mempersiapkan generasi terdepan dimana santri di tuntut agar mempunyai kemampuan berorganisasi dalam mengelola organisasi santri dengan baik.

Beliau menyampaikan pentingnya organisasi santri dalam rangka untuk membangun solidaritas civitas pondok pesantren. Kata Choirul, Dewan Santri diharapkan akan menjadi wadah bagi santri/santriwati dalam menempa diri menjadi pemimpin dan organisatoris handal yang kaya akan ide kreatif dalam membangun peradapan pesantren.

“Bagi santri, Pesantren Hidayatullah harus dijadikan sebagai wadah belajar, membaca, menulis, dan mengembangkan potensi praktis. Karenanya, dirasa perlu kami membuatkan organisasi Dewan Santri ini,” imbuhnya.

Dengan mendapatkan kesempatan di Dewan Santri, para santri yang diamanahkan sebagai pengurus ybisa terus meningkatkan dan mengembangkan organisasi santri yang ada di lingkungan Pesantren Hidayatullah Medan.

“Itu semua sebagai bekal santri untuk belajar mengelola sebuah organisasi sehingga melahirkan organisasi santri berdaya saing tinggi, produktif, kretif dan inovatif sehingga mampu melahirkan kader-kader ulama’ masa depan,” tegas Choirul Anam.

Pada tanggal 6 Desember 2014 lalu bertempat di lapangan terbuka Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa diselenggarakan pelantikan pengurus Dewan Santri Pondok Pesantren Hidayatullah Medan Tanjung Morawa.

Sebelumnya pada tanggal 5 Desember 2014 secara khusus juga dilaksanakan pergantian pengurus dan pelantikan OSIM putri di Pendopo Agung Pondok Pesantren Hidayatullah Medan ini.

Untuk Pelaksanaan Acara ini di laksanakan pada malam hari mulai pukul 20.00 WIB ba’ada Isya’ hingga selesai. Acara tersebut diikuti oleh 600 orang santri dan 75 orang guru dan warga Pondok.

Kegiatan berlangsung sangat hikmat pada acara pelantikan yang kemudian dilanjutkan dengan taushiyah Pimpinan Pondok. Di penghujung acara dimeriahkan dengan beberapa pementasan kreativitas seni santri yang sangat menyedot perhatian pengunjung dan sangat meriah yaitu nasyid, drama Santri, dan pantomim.

Ketiga acara ini sangat membuat para penonton betah duduk berlama-lama karena drama dan pantomimnya sungguh mengocok perut para pengunjung, tahulah santri Hidayatullah Medan jagonya bikin drama dan pantomim.

“Sudah bisa menyaingi dan mengalahkan para komedian yang biasa tampil di TV dan tentunya tetap bernuansa Islami dan tetap mempertahankan gaya kesantriannya,” ujar Sinaga, salah seorang santri. (ybh/hio)

Wanita Tionghoa Bersyahadat di Ponpes Hidayatullah Depok

Muallaf Tionghoa, Djing Lie Lie, saat mengikrarkan syahadat di Hidayatullah Depok / AHK
Muallaf Tionghoa, Djing Lie Lie, saat mengikrarkan syahadat di Hidayatullah Depok / AHK

Hidayatullah.or.id — Alhamdulillah, atas kuasa dan hidayah-Nya, seorang wanita keturunan Tionghoa (Tiongkok) masuk Islam dengan menyatakan persaksian dua kalimat syahadat (syahadatain) di Masjid Ummul Quro, Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, Senin malam lalu.

Perempuan tersebut bernama asli Djing Lie Lie yang berusia 38 tahun. Ayahnya sendiri bernama Chen Fa Kiun. Djing Lie Lie datang didampingi rombongan kerabatnya usai shalat Magrib.

Pembacaan dua kalimat syahadat Ibu Djing Lie Lie dipandu oleh Ustadz Lalu Mabrul yang juga sekretaris Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok. Ikrar syahadat yang dibacakan Djing Lie Lie yang dipandu oleh Ustadz Mabrur disaksikan oleh ratusan santri.

Pada kesempatan tersebut, Djing Lie Lie secara resmi juga berganti nama menjadi Nur Fitria Azizah. Yayasan Pesantren Hidayatullah Depok juga mengeluarkan surat keterangan resmi tentang keislaman Nur Fitria Azizah yang diberikan kepada yang bersangkutan untuk digunakan sebagai kelengkapan berkas dalam pengurusan surat dokumen ke instansi negara terkait.

Ustadz Lalu Mabrul dalam taushiah sambutannya sebelum ikrar syahadat dilakukan, menerangkan bahwa untuk menjadi seorang muslim sangatlah mudah. Yang diperlukan hanyalah membaca dua kalimat syahadat (kesaksian) dengan penuh keyakinan. Yang kedua, hendaknya ada saksi.

“Jadi cukup dua itu saja, tidak ribet, dan sangat mudah. Tapi harus ditekankan bahwa tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam. Seorang yang masuk Islam tidak boleh karena dipaksa atau pemaksaan, tapi karena memang penuh kesadaran dan kesukarelaan,” ujarnya menjelaskan.

Tujuan saksi dalam sebuah pelafazan kalimat syahadat bagi seorang muallaf adalah agar muallaf ini diakui dan diketahui telah pindah agama oleh masyarakat muslim lainnya secara luas. Sehingga selanjutnya, dia disikapi sebagaimana layaknya seorang muslim.

Hanya dengan melakukan dua hal di atas, berikrar syahadat dan disaksikan muslim yang lain, maka sang muallaf telah dinyatakan sebagai muslim yang sah islamnya. Dia mendapatkan hak dan kewajiban, sebagaimana muslim lainnya.

Oleh karenanya, beliau kembali menegaskan bahwa untuk menjadi seorang muslim sangatlah mudah. Tidak perlu acara khusus, dan dilakukan tanpa modal. Yang sulit adalah memastikan keikhlasan dan kejujuran hati ketika masuk Islam. Untuk yang disebut terakhir, maka hanya Allah Ta’ala dan yang bersangkutan yang tahu.

Beliau juga menyitir bahwa seorang non-muslim dari agama apapun baik dia berasal dari Hindu, Buddha, Kristen, Katolik, Konghucu, Atheis, Shinta, Bahai, Zoroastrian, Yahudi, dan lainnya, maka ketika dia masuk Islam seluruh dosa-dosa masa lalunya akan terhapus sebagaimana bayi yang baru lahir berdasarkan dalil-dalil Q.S. Al-Anfaal ayat 38 yang berbunyi:

“Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi, sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (ketetapan Allah) terhadap orang-orang dahulu.“

Beliau menerangkan, mendapatkan petunjuk untuk masuk Islam adalah nikmat besar bagi setiap hamba. Karena sejatinya, orang yang masuk islam, berarti dia kembali kepada fitrahnya. Fitrah untuk bertuhan satu, fitrah mengikuti utusan tuhan yang terakhir, dan fitrah untuk mengamalkan al-Quran sebagai kitab Tuhan. Lebih dari itu, Islam merupakan satu-satunya agama yang akan menyelamatkan manusia dari hukuman neraka.

Ustadz Mabrul juga mengingatkan beberapa anjuran yang disunnahkan dilakukan oleh seseorang yang baru memeluk agama Islam. Diantaranya dianjurkan mandi besar. Dalam beberapa penjelasan ulama, dianjurkan bagi orang yang baru saja masuk islam untuk mandi besar dengan membasahi seluruh badan mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Seorang muallaf juga harus mulai belajar dan mengerjaka kewajiban shalat sebab shalat merupakan rukun Islam yang kedua setelah syahadat. Karena itu, setelah muallaf mengikrarkan syahadat, dia berkewajiban menjalankan shalat sebagaimana muslim yang lainnya.

“Lalu, jika sudah memahami tata cara shalat dan hafal al-Fatihah serta bacaan shalat yang wajib, maka dia bisa shalat sendiri,” kata Ustadz Mabrul.

Dan jika muallafnya adalah seorang laki-laki, maka hendaknya selalu diajak untuk jamaah shalat wajib di masjid. Dengan tetap terus mengkaji tata cara shalat yang sempurna.

Ustadz Mabrul menambahkan, Islam tidak pernah memberatkan umatnya dalam menjalankan amal ibadah jika memang belum cukup mampu. Sehingga apabila seorang muallaf belum memahami cara shalat yang benar, setidaknya dia elajar tata cara shalat yang benar, dan menghafal bacaan-bacaan wajib dalam shalat.

Beliau juga menerangkan bahwa seorang muallaf jika dia laki laki harus di-Khitan apabila memang belum berkhitan. Sebab khitan hukumnya wajib bagi lelaki. Karena khitan bagian dari menjaga fitrah kesucian manusia.

Selanjutnya, muallaf diarahkan untuk mempelajari syariat islam lainnya, yang wajib baginya, seperti tata cara puasa, menjawab salam, mendoakan orang bersin, dan jika dia orang yang mampu, diajari tentang syariat zakat.

“Semakin sering belajar, akan semakin membuat sang muallaf mencintai agama Islam,” ujarnya.

Pihak Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, kata Ustadz Mabrul, akan mengeluarkan surat resmi keterangan keislaman Djing Lie Lie sebagai dokumen yang disertakan untuk melaporkan ke dinas pemerintah untuk masalah pembaharuan data administrasi pada Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarha (KK).

Bagi masyarakat yang kebetulan sedang ingin memeluk agama Islam dengan benar-benar penuh kesadaran dan pemahaman yang benar serta tanpa adanya pemaksaan atau kehendak dari orang lain, maka bisa menyatakan keislamannya dengan melafazkan 2 kalimat syahadat (syahadatain) dengan disaksikan oleh sejumlah orang saksi.

Dapat juga datang ke lembaga-lembaga Islam seperti pesantren untuk mengikrarkan syahadat, atau datang dengan identittas yang jelas dan valid ke Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah di mana saja di nusantara atau ke perwakilan kantor Persaudaraan Dai Nusantara (POSDAI) yang saat ini sedang membuka layanan informasi dan rehabilitasi muallaf. (ybh/hio)

Dakwah Adalah Revolusi yang Tak Pernah Berhenti

revolusi dakwahHidayatullah.or.id — Pimpinan Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad, meminta kepada seluruh pengurus Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah untuk terus bersemangat mengurus Islam lewat organisasi Hidayatullah.

“Dakwah adalah revolusi yang tak pernah berhenti,” kata beliau dalam acara Majelis Syuro dan Sidang Pleno Hidayatullah di Batam, Kepulauan Riau, pada Rabu (3 Desember 2014).

Usia Hidayatullah yang kini mencapai 40 tahun adalah usia emas. Pada usia itulah, katanya lagi, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu.

Karena itu, pada usia seperti itu juga, Hidayatullah sudah harus bisa benar-benar menapaki jalan sesuai tuntunan wahyu menuju cita-cita membangun peradaban Islam. “Kita harus yakin bahwa harapan kita bukanlah fatamorgana,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa jalan yang dipilih ini adalah jalan kemuliaan. Karena itu semua kader Hidayatullah harus ridho menjalaninya meski dalam keadaan berat atau ringan.

Hal ini telah jelas diingatkan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an Surat At Taubah [9] ayat 41. “Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu sekiranya kamu mengetahui.”

Musyawarah pleno dan Rapat Pleno Hidayatullah berlangsung selama 4 hari, yakni tanggal 2 hingga 5 Desember 2014. Acara dihadiri oleh 42 pengurus dari tiga lembaga pusat Hidayatullah, yakni Pimpinan Pusat, Dewan Syuro, dan Majelis Pertimbangan Pusat Hidayatullah. (hidcom)

Hidayatullah Rejang Lebong Diusulkan Pemerintah Terima PBPF TA 2014

Muhibat-Curup-Rejang Lebong 2 Muhibat-Curup-Rejang Lebong 3Hidayatullah.or.id — Pemda Kabupaten Lebong, Bengkulu, terus berupaya membantu masyarakatnya yang kurang mampu. Salah satunya dengan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) tahun 2015 mendatang.

Pemda Lebong mengusulkan setidaknya 424 KK penerima bantuan BSPS kepada Kementrian Perumahan Rakyat (Kemenpera) RI. Termasuk usulan pemerintah setempat Program Bantuan Perumahan Formal (PBPF) sebanyak satu unit untuk Gedung Asrama Pondok Pesantren Hidayatullah Rejang Lebong.

Demikian disampaikan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Lebong, Fauzi Taher SH MSi melalui Kabid Fisik dan Prasarana (Fispra) Erobonaparte SKom MSi.

“Usulan PBPF (Program Bantuan Perumahan Formal) sebanyak satu unit untuk Gedung Asrama Pondok Pesantren Hidayatullah. Semuanya sudah dilakukan survey dan sudah diusulkan kepada Kemenpera RI tahun anggaran 2014 ini, mudah-mudahan seluruh usulan bisa diakomodir oleh Pemerintah RI,” kata Bona, sapaan Erobonaparte, seperti dikutip harian Bengkulu Ekspress, Kamis (04/12/2014)

Dijelaskan Erobonaparte, mayoritas bantuan yang diusulkan adalah perbaikan kualitas atau rehab. Usulan difokuskan seluruhnya di wilayah Kecamatan Lebong Utara.

Dirincikan Bona, diantaranya untuk Desa Gandung sebanyak 96 unit, Gandung Baru 60 unit, Kampung Muara Aman 68 unit dan Kelurahan Pasar Muara Aman 14 unit. Kemudian Desa Ladang palembang 73 unit, Lokasari 53 unit dan Desa Tunggang 60 unit.

“Untuk pembangunan baru hanya ada 3 unit, masing-masing di Kelurahan Pasar Muara Aman satu unit dan Desa Tunggang sebanyak 2 unit,” ungkap Bona.

Selain program BSPS, lanjut Bona, Kabupaten Lebong juga mengusulkan penerima program Bantuan Stimulan Peningkatan Kualitas Perumahan Kumuh dan Pemukiman Kumuh (BSPK) tahun 2015. Usulan juga difokuskan ke wilayah Kecamatan Lebong Utara untuk perbaikan drainase di Kelurahan Pasar Muara Aman.

“Serta usulan Program Bantuan Perumahan Formal sebanyak satu unit untuk Gedung Asrama Pondok Pesantren Hidayatullah. Semuanya sudah dilakukan survey dan sudah diusulkan kepada Kemenpera RI tahun anggaran 2014 ini, mudah-mudahan seluruh usulan bisa diakomodir oleh Pemerintah RI,” pungkas Bona.(bek/hio)