Hidayatullah.or.id — Hidayatullah telah hadir di Papua sejak puluhan tahun lalu dirintis oleh kader-kader awal santri Allahuyarham Abdullah Said, khususnya di ibu Kota Provinsi Papua, Jayapura. Pondok Pesantren Hidayatullah Jayapura beralamat lengkap Jalan Kelapa Dua, Entrop, Holtekamp, Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Kode pos 99224.
Selain menyelenggarakan kegiatan kepesantrenanan, Hidayatullah Jayapura juga aktif melakukan pembinaan umat melalui dakwah dan pendidikan. Pembinaan yang dilakukan tidak lepas dari dukungan unsur pemerintah setempat dalam rangka membangun wilayah ini dengan semangat kebhinnekaan.
Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) juga telah hadir di kota ini dan secara rutin menggelar kegiatan sosial dengan bekerjasama dengan semua elemen masyarakat seperti dengan Bank Papua, instansi pemerintah, dan lembaga swasta dan perusahaan.
Seperti pada akhir 2013 lalu, BMH Jayalura didukung oleh Bank Papua dan Pondok Pesantren Hidayatullah Jayapura, menyelenggarakan khitanan massal bagi seratus orang anak Jayapura. Khitanan massal ini melibatkan sedikitnya 10 orang tenaga medis terlatih dari Rumah Sakit (RS) Yowari Sentani. Khitanan massal ini diikuti oleh sedikitnya 120 anak yatim dan dhuafa di Masjid Darussalam Tanah Hitam, Jayapura.
Selain itu, Hidayatullah Jayapura juga kerap menjadi tuan rumah kegiatan-kegiatan keorganisasian Hidayatullah di provinsi ini. Hal ini mengingat kemudahan akses dan letak geografisnya yang relatif mudah dijangkau oleh petugas Hidayatullah di daerah lainnya. Berikut ini beberapa album kampus dan kegiatan di Kampus Hidayatullah Jayapura:
Sudut komplek Pesantren Hidayatullah Jayapura / ISTKegiatan sosial Laznas BMH Jayapura / ISTPeserta Pandu Hidayatullah se-Papua hadir di Kampus Hidayatullah Jayapura dengan menghadirkan pelatih dari kepolisian setempat /ISTKampus Hidayatullah Jayapura menjadi tuan rumah kegiatan Pandu Hidayatullah / ISTTampak bangunan representatif di komplek Pesantren Hidayatullah Jayapura / ISTLapangan komplek Pesantren Hidayatullah Jayapura / IST
Logo Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STISHID) Balikpapan, Kalimantan Timur
Hidayatullah.or.id — Dampak buruk paham ekonomi materialisme dan kapitalisme bukan lagi sekedar isapan jempol di tengah masyarakat. Hari ini seolah-olah umat Islam tak berdaya sama sekali di hadapan kekuatan cakar sistem ribawi.
Itulah fenomena sosial yang menjadi pengantar dalam kegiatan diskusi ilmiah yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian, Pengembangan, dan Pengabdian Masyarakat (LPPPM) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah, Balikpapan, Sabtu, 12 April 2014, lalu.
“Di mana-mana ada praktik riba. Kini setiap saat riba itu menghantui kita dalam segala aspek dan transaksi keuangan kita. Inilah fitnah akhir zaman yang harus kita hadapi bersama,” tegas Direktur Baitul Mal wat Tamwil (BMT) Umat Mandiri Balikpapan, Rohyadi.
Dalam kesempatan diskusi kali ini, LPPPM STIS Hidayatullah menggandeng BMT Umat Mandiri dengan tema pembahasan “Harapan dan Tantangan BMT Sebagai Lembaga Keuangan Syariah”.
Dijelaskan Rohyadi, bagi orang beriman, tentu tak bijak jika hanya menyesali nasib lalu berpasrah diri tanpa berbuat. Termasuk dalam menyikapi persoalan ekonomi umat Islam sekarang ini.
Menurut Rohyadi, hendaknya kondisi itu ditangkap sebagai tantangan dan peluang untuk mensosialisasikan tuntunan syariat Islam dalam hal ekonomi dan keuangan.
“Inilah peluang yang paling baik untuk mengembalikan umat Islam kepada ajaran agamanya,” ujar Rohyadi.
Saat ini, jelas Rohyadi, masyarakat tidak perlu lagi diberitahu tentang bobroknya praktik riba itu karena mereka sudah merasakannya sendiri dampak buruknya secara langsung.
Dalam presentasi di hadapan peserta diskusi, Rohyadi juga mengurai panjang lebar tentang perbedaan mendasar dalam beberapa akad yang dipakai. Antara praktik transaksi riba dan transaksi syar’i menurut syariat Islam.
“Terkesan sama, sebab terkadang perbedaan di antara praktik keduanya sangat tipis. Namun ketimpangan itu jadi sangat terasa jika langsung berhadapan dengan kasus di lapangan,” terang pria yang mengaku banyak mendapatkan ilmu dari praktik langsung di lapangan.
Belajar pada Masa Lalu
Lebih jauh Rohyadi mengajak mencermati krisis keuangan yang menimpa negeri ini tahun 1997 silam. Saat itu, jelas dia, bank-bank syariah tetap mampu survive meski diterpa badai moneter. Sedang di saat yang sama, pemandangan berbeda melanda bank-bank konvensional.
Ibarat anak tangga yang roboh, satu persatu bank-bank yang menganut paham keuangan ribawi tersebut bertumbangan dan terkena likuidasi. Salah satu faktornya, karena lembaga keuangan syariah tak mengenal unsur ribawi dalam pengelolaannya.
Untuk itu, menurut Rohyadi, BMT Umat Mandiri yang dipimpinnya hadir di tengah masyarakat. Berangkat dari keprihatinan terhadap nasib masyarakat kecil yang banyak terjerat dengan cengkeraman para cukong dan rentenir. Oleh masyarakat, kelompok seperti ini biasa dikenal dengan istilah Pegel. Singkatan dari Pengusaha Golongan Ekonomi Lemah.
“Biasanya orang-orang tersebut susah dalam berurusan dengan bank,” papar Rohyadi. Selain itu, menurut temuan Rohyadi, antusiasme masyarakat terhadap prinsip ekonomi syariah juga sangat tinggi.
Tentu dengan catatan, ghirah dan kepercayaan itu terbayar dengan pengelolaan yang baik dan amanah. “Tinggal kita bagaimana menjawab kepercayaan tersebut,” ucap pria kelahiran Subang, Jawa Barat ini.
Berbasis Masjid
Berdiri sejak akhir 2006, dalam perjalanannya hingga kini BMT Umat Mandiri memiliki aset sebesar 2,8 Milyar. “Dulu modal awalnya hanya Rp. 4.500.000. Itupun hasil dari patungan sepuluh orang,” ungkap Rohyadi.
Setelah itu, BMT mendapat suntikan pinjaman dana segar dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH) sebesar Rp. 45.000.000. Dengan modal tersebut, BMT Umat Mandiri terus bermujahadah melayani kebutuhan masyarakat dengan berbagai macam program yang ada.
Di antara program unggulan BMT Umat Mandiri adalah KUM3, yaitu Kelompok Usaha Mandiri Menengah berbasis Masjid. Hingga sekarang, BMT memiliki tujuh masjid binaan yang tersebar di kawasan pinggiran kota Balikpapan. Sebut saja misalnya, mushalla al-Hikmah, Gunung Bubukan, masjid An-Nur, Aji Raden, dan masjid Mikrajul Mukminin, Gunung Bakaran.
Rata-rata dalam setiap masjid, terdiri dari 15-20 orang. Oleh BMT, setiap orang lalu mendapat tunjangan sebesar Rp. 2.000.000 sebagai modal usaha. Dengan kegiatan berbasis masjid, selain membantu dari sisi ekonomi, program tersebut juga diharapkan bisa memberikan pencerahan ruhiyah untuk beribadah lebih baik lagi.
“Untuk menjalin ukhuwah, kami juga mengadakan rihlah setahun sekali dengan mengajak seluruh sahabat dan kerabat yang lain,” ucap Rohyadi.
Bernaung di bawah ormas Hidayatullah, BMT Umat Mandiri yang bernomor SIUP 00431/17-05/SIUP/PK/VII/2007 terus melakukan berbagai pembinaan dan pemberdayaan masyarakat secara luas di wilayah tempatnya berkedudukan ini.
Selain bermitra dengan Baitul Maal Hidayatullah (BMH), BMT Umat Mandiri juga tercatat memiliki mitra dengan beberapa lembaga keuangan yang lain. Termasuk dalam program KUM3 di atas, BMT mendapat bantuan hibah sebesar Rp. 250.000.000 dari Baitul Maal Muamalat (BMM).
“Kami terus berupaya menjalin kerjasama dengan seluruh elemen masyarakat dan wadah ekonomi keumatan yang ada. Sebab semua ini adalah dari, oleh dan milik umat semata,” pungkas Rohyadi semangat.
Diskusi ilmiah yang diselenggarakan LPPPM STIS Hidayatullah ini berlangsung hangat diikuti oleh mahasiswa dan staf akademik. Kegiatan yang dilakukan rutin ini sebagai upaya membangun kultur ilmiah civitas guna menawarkan solusi atas berbagai problematika umat dewasa ini. */ Masykur Abu Jaulah
Kreatifitas di dtand Bazaar SMP Putri Hidayatullah Tanjung Uncang / ITGBStand Bazaar SMP Putri Hidayatullah Tanjung Uncang / ITGB
Hidayatullah.or.id — Dalam rangka menanamkan etos kemandirian dan berwirausaha bagi santriwati, Hidayatullah Islamic Boarding School Tanjung Uncang Batam belum lama ini menyelenggarakan kegiatan bazar santri sebagai bentuk latihan (training) rutin bagi santri untuk membangun kultur mandiri.
Acara yang berlangsung semarak dirangkai dengan penerimaan raport UTS Genap tahun pelajaran 2013/2014 untuk tingkat SD dan SMP Hidayatullah Tanjung Uncang.
Kegiatan Bazar yang digelar di teras sekolah ini diikuti oleh seluruh santriwati dan mahasantri Hidayatullah Islamic Boarding School Tanjung Uncang yang terbagi dalam 14 stand.
Kepala sekolah Ustadz Sumarno M.Pd.I dalam sambutannya di hadapan orangtua santri dan ratusan hadirin mengatakan bahwa kegiatan bazar ini sebagai upaya dalam menubuhkan jiwa kewirausahaan dan kemandirian pada diri anak didik, karena kekuatan ekonomi merupakan salah satu elemen dari kekuatan umat Islam.
“Kegiatan ini sudah menjadi agenda rutin yang dilaksanakan setahun dua kali, dan jualan yang mereka jajakan murni karya para santri,” kata Sumarno dalam keterangan tertulisnya kepada media ini, ditulis Senin (14/04/2014)
Walaupun dalam kondisi hujan mengguyur sekitar wilayah Tanjung Uncang, tidak menyurutkan semangat para santri untuk mengikuti kegiatan ini dan menjajakan dagangannya baik kepada sesama santri maupun pengunjung stand yang mayoritas adalah orang tua dan wali santri serta masyarakat sekitar. Adapuan jenis dagangan yang ada bervariasi mulai dari makanan, minuman dan busana muslimah, pernak-pernik kebutuhan keseharian lainnya.
Dalam bazar ini harga yang ditawarkan oleh masing-masing stand beragam, untuk makanan dan minuman mulai dari Rp. 1.000 hingga Rp. 10.000, sedangkan untuk busana muslimah dan perangkat kebutuhan primer mulai dari Rp. 75.000 hingga Rp. 100.000. (yhb/hio)
Hidayatullah.or.id — Salah satu organisasi massa (ormas) Islam, Hidayatullah, sangat mencermati pelaksanaan Pemilu Legeslatif (Pileg) 2014. Hidayatullah berharap, para caleg terpilih dapat mewujudkan suasana baru di DPR.
Ketua umum PP Hidayatullah KH. DR. Abdul Mannan menegaskan, para caleg terpilih harus bisa mengubah citra DPR RI yang sudah lekat dengan skandal korupsi dan kejahatan lainya.
“Hendaknya para caleg terpilih pemilu Legislatif 2014 dapat melaksanakan amanat rakyat secara konsekuen, jangan pernah menghianati kepercayaan rakyat,” tutur Abdul Manan dikutip Harian Republika, Kamis (10/4/2014) lalu.
Ia pun mengkritisi sistem demokrasi di Indonesia yang masih memiliki banyak kelemahan.
“Saya saja tidak kenal satu pun caleg yang akan dipilih saat memilih di tempat pemungutan Suara (TPS). Jadi mencoblos gambar partai politik saja,” ujarnya.
Untuk menjamin pemerintahan yang efektif dan efisien, menurutnya, seharusnya ada sinergi dan kerja sama antara pihak pemerintah, lembaga legislatif, dan merangklul lembaga atau ormas kemasyarakatan sebagai bagian dari instrumen penting pembangunan.
“Kalau kedua lembaga itu tidak berkerja sama, pemerintah akan berjalan tersendat-sendat dan tidak efektif,” tandasnya. (hio/rep)
View Masjid Ummul Quro Hidayatullah Depok jelang fajar / IST
Hidayatullah.or.id — Menghadapi problematika umat yang begitu kompleks sekarang ini tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan fisik dan intlektual saja, tapi dibutuhkan kekuatan ruhiyah (spiritual).
Demikian ditegaskan Sekjen PP Hidayatullah, Abu A’la Abdullah, saat menyampaikan materi dalam acara Halaqah Peradaban di Masjid Ummul Quro Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Sabtu pekan lalu.
Abu Al’a menjelaskan sesunguhnya tarbiyah ruhiyah bukan ibadah yang berdiri sendiri, tetapi merupakan rangkaian dari amaliyyah meliputi kekuatan aqidah sebagai inti “kekuatan” bagi seorang muslim.
Rangkaian itu selanjutnya adalah perpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai landasan bertauhid, bersyariah, berakhlaq, serta memperkuat kualitas dan kuantitas sholat, tilawah dan zdikir.
“Tapi ternyata untuk memaksimalkan amal-amal tersebut sangat berat, karena memang manusia memiliki sifat-sifat yang Allah takdirkan pada setiap individu seperti sifat tamak, jahula (bodoh), sifat isti’jal (tergesa-gesa), lemah, dan dzholim,” imbuhnya.
Realitasnya tugas sebagai khalifah (khaliifatullah) dan hamba Allah (Abdullah) adalah pekerjaan yang teramat berat. Maka untuk menjalankannya perlu solusinya diantranya.
“Pertama, memperkuat tauhid karena hakikat tauhid adalah al-ikhlas. Kedua adalah memahami Al-Qur’an dan as-sunnah. Ketiga adalah kuantitas dan kualitas ibadah terbaik,” terangnya di hadapan ratusan jamaah.
Di akhir pembahasannya, pria kalem yang biasa disapa Ustadz Abu mengajak untuk melakukan perenungan. Kenapa Indonesia yang mayoritas muslim tidak bisa bersatu. Korupsi dan pezinahan merajalela. Dan, kenapa di Negeri yang secara geografis sangat subur ini tidak jua sejahtera.
“Jawabannya sederhana. Karena tidak menjalankan Al-Qur’an dan sunnah dengan baik”, tukas Ustadz Abu.
Beliau menerangkan, salah satu cara untuk meningkatkan kualitas ruhiyyah perlunya “design” suasana praktis untuk membuat “benteng” ruhiyyah agar tetap terjaga yaitu melalui lingkungan yang Islami, bergaul dengan orang-orang yang baik, baik kulturnya, juga baik sistem pendidikannya.
Bagi yang berada “zona nyaman” seperti telah berprofesi dengan gaji yang cukup, tempat tinggal yang aman dan nyaman, untuk tetap melakukan dakwah dengan fantasiru fil ardh yakni keluar dari kenyamanan karena kenyamanan biasanya melalaikan sehinga malas untuk taqarub kepada Allah.
“Dengan adanya kecemasan terhadap kondisi umat maka akan timbul rasa tidak nyaman, dengan begitu insya Allah akan ada upaya keras dan terus menerus untuk berusaha dan ibadah kepada Allah Ta’ala. Dengan demikian kondisi ruhiyah meningkat,” tandasnya. /* Lalu Mabrul
Rombongan peserta Arab English Camp Hidayatullaj Kolaka saat roadshow ke wilayah Sulawesi Selatan dan sekitarnya / HKLSejumlah peserta program Arab English Camp berfoto di Kampus Hidayatullah Kolaka
Hidayatullah.or.id — Berita gembira buat warga Hidayatullah berdomisi di Sulawesi Tenggara dan sekitarnya yang ingin mahir bahasa asing. Pasalnya, Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Kolaka, Sulawesi Tenggara, memiliki tempat khusus yang sangat strategis dan fokus dalam mempelajari Bahasa Arab dan Inggris yang disebut Kampung.
Program ini digagas dan dirintis oleh Ustadz Alfitrah Piama, Lc, yang sekaligus menjadi Direktur Camp. Program ini terbilang unggul karena didukung dengan SDM yang luar biasa, juga sarana dan prasarana yang memadai seperti menggunakan kurikulum LIPIA dan Kampung Inggris Pare.
Tenaga pengajarnya berasal dari alumni LIPIA dan Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur, serta berada di atas lokasi seluas 8 hektar. Nama lembaga ini adalah Hidayatullah Arabic & English Camp.
“Alhamdulillah, sekarang ini Hidayatullah Arabic English Camp sudah memasuki angkatan kedua,” kata Alfitrah kepada Hidayatullah.or.id, Kamis (10/04/2014).
Alfitrah menjelaskan, peserta didik di periode pertama berjumlah peserta 45 orang dan angkatan kedua 78 orang. Mereka semua adalah utusan Hidayatullah dari setiap daerah di Sulawesi Tenggara.
Selama lima hari lalu dari tanggal 2-7 April 2014, rombongan Hidayatullah Arabic & English Camp mengadakan tour ke beberapa daerah di Sulawesi Selatan untuk mensosialisasikan program ini karena Insya Allah bulan depan, Mei 2014, akan dibuka lagi untuk periode ketiga.
Dijelaskan Alfitra, lama pendidikan program bahasa ini selama 3 bulan dan terbuka untuk semua kader Hidayatullah khususnya Indonesia Timur. Pihaknya menargetkan peserta periode ketiga 80 orang yaitu 40 peserta untuk Arabic Camp dan 40 untuk English Camp.
Camp ini didirikan tahun 2013, termasuk salah satu program unggulan Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah Sultra, dan merupakan amal usaha Departemen Pendidikan Wilayah Hidayatullah Sultra bekerja sama dengan Hidayatullah Kabupaten Kolaka.
Tujuan Camp ini didirikan adalah untuk mencetak ribuan kader Hidayatullah untuk mampu menguasai Bahasa Arab dan Inggris dengan sistem cepat.
Direktur Camp Ustadz Alfitrah Piama, Lc sendiri adalah pengajar bahasa Arab dan Inggris yang sangat mumpuni dan telah lama malang melintang di dunia kependidikan bahasa. Alfitrah adalah alumni LIPIA Jakarta dan lulusan Kampung English Pare, Kendiri.
Sebagai pengajar, Alfitrah yang diamanahi memimpin program bahasa ini pernah juga mengajar di TEST English School Pare serta perintis model pendidikan Arab & English untuk Boarding School di dua cabang Hidayatullah di Bogor.
Dia menargetkan semua kader Hidayatullah bisa Berbahasa Arab dan Inggris. Adapun beberapa kelebihan bergabung di Hidayatullah Arabic dan English Camp adalah tenaga pengajarnya alumni dari LIPIA dan Kampung English Pare, menggunakan kurikulum LIPIA dan Kampung English Pare, Arabic dan English Area yang paling ketat, disiplin, dan sangat luas.
Selain itu, sistem belajar alam sehingga suasana pembelajaran sangat menyenangkan. Jangka waktu belajar hanya 3 bulan, setelah itu bisa langsung mengajar Arab dan Inggris di kampus Hidayatulah masing-masing. Sistem pembelajarannya lebih banyak menggunakan multimedia di dalam pembelajaran (menggunakan LCD) dan praktik di lapangan.
“Dan tentu saja kultur Hidayatullah tetap kuat dan terjaga karena tenaga pengajar adalah kader-kader Hidayatullah,” tandas Alfitrah. (ybh/hio)
Asrama santri Ponpes Hidayatullah Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan / RTK
Hidayatullah.or.id — Pembangunan asrama putra Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah telah rampung akhir Maret lalu, sehingga April ini sudah bisa diresmikan. Bahkan, sudah dijadwalkan oleh pihak ponpes yang berada di Jalan Jelarai Selor ini untuk diresmikan langsung Bupati Bulungan H. Budiman Arifin.
Pimpinan Ponpes Hidayatullah Nur Yahya Asa mengatakan, bangunan yang terdiri dari enam kamar dan bisa menampung sekitar 70 santri itu merupakan bantuan sepenuhnya dari Pemkab Bulungan dengan anggaran sebesar Rp 1,850 miliar.
Oleh karena itu, pihak ponpes sangat berharap bupati bisa meresmikan langsung di awal April ini.
Yahya sendiri berharap dengan rampungnya pembangunan asrama yang dikerjakan sejak 2012 itu bisa memberikan pelayanan dan pengawasan yang lebih maksimal terhadap para santri, karena juga akan dilengkapi langsung dengan tim pengasuh. Berbeda dengan asrama yang ada sekarang terpisah-pisah sehingga pengawasan tidak bisa maksimal.
Disamping itu, kata dia, asrama yang lama juga sudah tidak layak lagi sehingga perlu adanya asrama yang lebih representatif apalagi Tanjung Selor saat ini sudah menjadi ibu kota provinsi Kalimantan Utara dan keberadaan pondok pesantren yang dipimpinnya ini berada di sekitar jalan protokol.
“Jadi perlu dibangun yang refresentatif. Santri yang tinggal di asrama saat ini ada sekitar 60 santri. Tahun ajaran baru nanti kami akan menerima lagi sekitar 45 santri,” kata Yahya.
Dia melanjutkan untuk tahun ini, pihak pesantren sedang berfokus untuk melakukan rekonstruksi masjid yang rutin digunakan santri dan warga masyarakat untuk kegiatan kepesantrenan dan shalat berjamaah. Karena, keberadaan mushalla yang ada sekarang ini dianggap sudah tidak refrsentatif lagi terutama dari segi daya tampung. (rdt/hio)
Santri Madrasah Aliyah Putra Ponpes Hidayatullah Medan / CHASantri Madrasah Aliyah Putri Ponpes Hidayatullah Medan / CHA
Hidayatullah.or.id —- Perbedaan yang kasat mata antara siswa madrasah dan siswa lainnya adalah nyaris tidak terdengarnya berita tawuran antar siswa madrasah.
“Apakah bapak dan ibu pernah mendengar siswa madrasah terlibat tawuran,” tanya Direktur Pendidikan Madrasah Kemenag RI Nur Kholis Setiawan kepada guru dan kepala madrasah yang hadir saat Tatap Muka dan Sosialisasi Ujian Nasional di Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara, beberapa waktu (04/04) lalu. Serentak para guru dan Kepala Madrasah yang hadir menjawab, “tidak!”.
Inilah, lanjut Nur Kholis, yang membedakan madrasah dengan pendidikan umum. Madrasah terbukti telah berhasil menanamkan dua hal sekaligus dalam pendidikan, yaitu ilmu (intelektual) dan moral (ahlakul karimah).
Nur Kholis menjelaskan, Islam menganjurkan manusia untuk memiliki pengetahuan sekaligus mempunyai tanggung jawab atas ilmu yang dimilikinya. Seorang muslim yang mempunyai ilmu kehutanan misalnya, harus mampu bertanggungjawab atas dampak yang ditimbulkan dari ilmu tersebut.
“Jadi indikator keberhasilan pendidikan di madrasah salah satunya adalah jika mampu mencetak siswa dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan sekaligus bertanggungjawab atas ilmunya,” ujarnya.
Terkait dengan eksistensi madrasah yang dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) No 20 Tahun 2003 disebut dengan sekolah umum berciri khas Islam, Nur Kholis berharap agar para guru diharapkan selalu menggali dan mengkaji sekaligus menerapkan teori-teori pengetahuan Islam untuk mengembangkan mutu madrasah. Oleh karenanya, lanjutnya, penguasaan mata pelajaran umum harus diimbangi dengan penguasaan ilmu-ilmu agama (tafaqquh fiddin).
Dalam kesempatan ini, Nur Kholis juga menyampaikan rasa bangganya atas prestasi siswa madrasah dalam ujian nasional. “Sudah banyak di beberapa daerah, madrasah yang dalam capaian UN melampaui sekolah-sekolah,” tegasnya.
Menurutnya, kita perlu terus-menerus memupuk semangat para siswa untuk terus berprestasi dan bersaing dengan siswa lainnya. Slogan lebih baik madrasah dan madrasah lebih baik, harus terus kita tanamkan. Nur Kholis berkomitmen untuk menata manajemen pendidikan madrasah dengan berbasis data agar kita bisa bersaing dengan pendidikan lainnya.
Kepala Bidang Pendidikan Islam Kanwil Kemenag Maluku Utara Amar Manaf, menyampaikan rasa gembiranya atas kedatangan Direktur Pendidikan Madrasah. Amar menyampaikan perkembangan pendidikan Islam, utamanya madrasah dan pondok pesantren yang menurutnya berkembang dengan pesat.
Banyak madrasah terutama madrasah negeri di Maluku Utara yang menolak siswa didik karena kekurangan ruang kelas. Sementara dalam pendidikan pesantren, saat ini sedang dilakukan rintisan pesantren perbatasan yang berlokasi di Pulau Morote. (kem/hio)
Santri siswi putri SMP Ar Rohmah Hidayatullah Malang / IST
Hidayatullah.or.id — Orang tua dan siswi Muslim di Provinsi Bali dilanda kekhawatiran menjelang tahun ajaran baru 2014/2015. Sebab, mereka belum memperoleh kepastian boleh tidaknya anak-anaknya berjilbab saat berada di sekolah.
SK Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 100 tahun 1991 tentang seragam yang juga membolehkan pemakaian jilbab, tak membuat mereka nyaman. Masih terjadi kasus pelarangan jilbab di puluhan sekolah.
Menurut Kepala SD Muhammadiyah 3 Denpasar, Mastulin banyak orang tua yang anaknya kini kelas enam, meminta saran kepadanya ke SMP mana mereka menyekolah anaknya. Mereka berharap agar kebebasan beragama anaknya tetap terjamin.
“Para wali murid itu menginginkan agar anak-anak mereka bisa tetap mengenakan jilbab, seperti saat bersekolah di SD Muhammadiyah,” kata Mastulin, kepada Republika, Ahad (6/4). Ia hanya bisa menyarankan agar siswi-siswi SD Muhammadiyah melanjutkan ke sekolah yang mengizinkan jilbab.
Sangat disayangkan kalau anak-anak yang sudah terpupuk akidah agamanya, harus membuka jilbabnya. Namun, ungkap Mastulin, sampai sekarang belum ada kepastian SMP dan SMA negeri mana saja yang membolehkan jilbab.
Mastulin mendorong para orang tua, menanyakan hal itu langsung ke sekolah-sekolah yang akan menjadi tempat belajar anaknya. Siswi SD Muhamadiyah 3 Denpasar, Fitratun Nisa kepada teman-temannya, mengaku bingung ke mana akan melanjutkan setelah tamat SD nanti.
Nisa bercita-cita meneruskan pendidikan ke pondok pesantren agar tetap berjilbab. Namun orang tuanya memintanya belajar di SMP negeri. Ia menegaskan keberatannya bila harus membuka jilbabnya saat bersekolah.
Siswi lainnya, Iman Hurun Ain, menyatakan bersyukur karena sudah diterima di SMP Islam Terpadu Ar-Rohmah Malang, Jawa Timur. Ia dan beberapa siswi SD Muhammadiyah 3 Denpasar lainnya yang diterima di sekolah milik Hidayatullah itu, tak lagi berpikir soal izin berjilbab. “SMP Ar-Rohmah memang mewajibkan santrinya mengenakan pakaian yang menutup aurat,” ujar Ain.
Meski putrinya, Manik Madini sudah belajar di SMAN 4 Denpasar, Asmudi juga tetap belum tenang. Sebab, hingga sekarang belum ada kejelasan dari sekolah itu mengenai jilbab. ‘’Sampai saat ini keinginan berjilbab belum kesampaian,’’ katanya.
Tak ada aturan yang menoleransi agar Manik dapat berjilbab. Padahal, Manik menjadi wakil SMAN 4 Denpasar dan meraih juara tiga dalam Olimpiade Biologi Nasional. Asmudi mengatakan hanya saat Ramadhan, yaitu acara buka puasa bersama dan tarawih, jilbab boleh dipakai.
Sekretaris Umum Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia, Bali Fatimah Azzahra terus mendorong siswi SMP dan SMA mengenakan jilbab ke sekolah. Untuk itu, PII melakukan pembinaan dan berdialog dengan sekolah dan dinas pendidikan di Bali. (rep/hio)
Baharun bersama rekan-rekannya usai penutupan musabaqah / ABID
Hidayatullah.or.id – Muhammad Baharun Musaddad, mahasiswa asal Indonesia yang juga alumni Pesanten Hidayatullah Balikpapan telah berhasil menyabet juara kedua dalam perlombaan Al-Qur’an (musabaqah) yang diselenggarakan oleh “Munadzzomah Riaayatul Tullab al Wafidiin”, sebuah organisasi yang menaungi mahasiswa international di Sudan.
Musabaqah diikuti sekitar dua ratus peserta dari 16 negara. Harun, demikian sapaan akrab Muhammad Baharun Musaddad merupakan mahasiswa Indonesia pertama yang berhasil lolos ke babak final dalam kategori (hafalan al-Quran) hifdzil qur’an 30 juz beserta tafsir surat An Nur.
Atas prestasinya tersebut Harun yang masih berstatus sebagai mahasiswa Universitas International Afrika, Khortoum, Sudan, ini berhak meraih tiket umrah gratis beserta uang tunai sebesar 10.000 Pound. Juga berkesempatan mendapat beasiswa studi di Universitas Al-Quran Alkarim.
Sementara itu di kategori berbeda diraih Heri Sholeh, mahasiswa asal Palembang yang juga mahasiswa dari Universitas International Afrika setelah berhasil menjuarai musabaqah 10 Jus hifdzil Quran dan meraih hadiah laptop beserta uang.
“Sebelumnya saya belum memprediksikan akan meraih gelar juara dua di perlombaan ini karena sebelumnya saya minder ketika melihat para peserta banyak yang sudah menguasai ”qiroaah saba’ah” tapi akhirnya Allah memiliki perencanaan tersendiri,” ujar Harun sambill tersenyum saat ditemui koresponden hidayatullah.com, di kamarnya.
Sebagaimana diketahui, Harun merupakan alumni Ma’had Darul Huffadh,TujuTuju, Bone, Sulawesi Selatan, dan anak dari pasangan Ustadz Zainuddin Musaddad dan Sulmiyati Saleh, keduanya, pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Kalimantan Timur.
Musabaqah yang dilaksanakan secara ketat ini memakan waktu lebih sebulan ini ditutup Sabtu (05/04/2014) lalu dan dihadiri sejumlah rektor rektor sejumlah universitas di Sudan. Salah satunya rektor Universitas Al-Quran Alkarim yang menjanjikan beasiswa studi para juara sampai program doktor di universitas Al-Quran Alkarim.
Yang cukup menarik, dalam pembacaan penutupan acara yang dibawakan Harun, banyak hadirin menitikkan air mata. Semoga prestasi dan semangat Ananda Baharun semakin melecut spirit kader Hidayatullah lainnya untuk tak berhenti menuntut ilmu dan senantiasa mencintai Al Qur’an, Aamiiin. */Abidurrahman (Sudan)