Beranda blog Halaman 653

Menyiapkan Generasi Siap Tandang ke Gelanggang

Asisten II Bupati Mamuju Tengah Drs. Eman Hermawan, hadi membuka acara ini / BASHORI
Asisten II Bupati Mamuju Tengah Drs. Eman Hermawan, hadi membuka acara ini / BASHORI
Ketua PP Hidayatullah, Shohibul Anwar, hadir di Sulbar dalam rangka mengisi workshop parenting / BASHORI
Ketua PP Hidayatullah, Shohibul Anwar, hadir di Sulbar dalam rangka mengisi workshop parenting / BASHORI

Hidayatullah.or.id — Bimbing dan ajarkanlah anak-anak kita hari ini untuk bisa menghadapi keadaan yang tak serupa dengan keadaan saat ini. Ini mendesak dilakukan dan menjadi sebuah keharusan karena generasi hari ini akan hidup pada suatu zaman yang tidak seperti zaman kita hari ini.

Demikian ditegaskan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah Drs. Shohibul Anwar, MHI mengawali materinya dengan merepresenasti perkataan sahabat Nabi Muhammad SAW, Ali bin Abi Thalib.

“Kita dulu waktu masih kecil tidak pernah dikenalkan tentang internet oleh orangtua kita, tetapi karena dalam mendidik mereka menguatkan muatan agama maka kita bisa mengendalikan internet untuk kebaikan,” kata Anwar.

Terlebih dalam kode etik jurnalistik, meski benar dalam pemberitaan kasus-kasus kriminal atau asusila, informasi tersebut memiliki dampak negatif bagi penonton yang tidak memiliki filter. Sehingga, kata Anwar, anak-anak belia kita hari ini perlu dihindari melihat adegan kekerasan dan serupa dengannya dengan membatasi terpapar dengan saluran televisi.

“Kejadian-kejadian buruk akan menjadi santapan berita dan akan mengajari anak –anak kita sendiri. Orangtua harus berkorban memberikan waktu dan perhatian kepada mereka,” terang pemateri tunggl ini.

Anwar menegaskan, sesibuk apapun kita harus memberikan perhatian kepada mereka (anak-anak, red).

Bertempat di masjid Al-Maulana di bilangan Benteng Kayu Mangiwang Kecamatan Tobadak Kabupaten Mamuju Tengah, workshop parenting yang dihadiri puluhan peserta ini berlangsung hangat.

Menurut Ahmad Nur Fadli, S.Pd.I ketua panitia yang juga kepala departemen pendidikan di Hidayatullah Mamuju Tengah ini, acara yang baru pertama kali ada di kabupaten ini sangat diminati. Sebagaimana latar belakang diadakannya acara ini banyaknya pertanyaan majelis taklim seputar kepengasuhan anak.

“Jamaah di beberapa kecamatan dan desa banyak menanyakan tentang kepengasuhan anak yang Islami meski materi yang disampaikan sedang membahas aqidah dan yang lainnya,” papar Muhammad Bashori menguatkan ketua panitia dalam sambutannya.

Bekerja sama dengan pemerintah kabupaten Mamuju Tengah, workshop parenting untuk pertama kalinya diadakan ini mendapatkan respon baik.

Hanya saja waktu pelaksanaannya bukan pada hari libur, praktis para pegiat pendidikan anak khususnya lembaga formal di sekolah-sekolah menyayangkan karena tidak bisa hadir mengikutinya.

Beruntung bagi peserta asal kecamatan Karossa, meski latar belakang kesibukan yang berbeda mereka berhasil menyewa bus sekolah. Dengan menghabiskan perjalanan selama hampir dua jam dan banyaknya tikungan di jalur pegunungannya bisa mengaduk-aduk isi perut.

“Materinya bagus sekali, persis seperti yang dibutuhkan para pendidik anak,” ungkap Parti ketua rombongan Majelis Taklim Karossa, puas.

Sementara itu, menyikapi kejadian percobaan bunuh diri delapan kasus dan enam kasus tidak tertolong lagi oleh usia kanak-kanak di wilayah Mamuju, sebagaimana penyampaian Asisten II Drs. Eman Hermawan dalam sambutan pembukaan.

Mewakili Bupati Mamuju Tengah, Drs. Eman Hemawan menjelaskan pentingnya anak-anak dipilhkan sekolah yang mampu mengantar kepada pemahaman agamanya yang benar.

“Yang terpenting supaya anak memiliki pemahaman Islam yang baik selain bisa sekolah di sekolah-sekolah Islam,” tandasnya. (bash/hio)

Ponpes Hidayatullah Lapor Rusun yang Alami Kerusakan

Rusun Asrama Putri saat masih dalam tahap pembangunan / YBH
Rusun Asrama Putri saat masih dalam tahap pembangunan / YBH

Hidayatullah.or.id -– Pihak Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan, didampingi oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah melakukan pertemuan dengan Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera). Pertemuan itu terkait dengan bantuan bangunan Rumah Susun (Rusun) untuk asrama yang ditempati santri putri di kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah, Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur yang telah mengalami kerusakan.

Sebelumnya Ketua DPRD Balikpapan H Andi Burhanuddin Solong, telah meminta kepada Komisi III DPRD Balikpapan agar segera bertemu dengan Kemenpera untuk melaporkan kerusakan Rusun Ponpes Hidayattullah yang ditempati santri putri ini.

Pihak yayasan didampingi Dewan melaporkan kepada Kemenpera bahwa banyak ditemukan kejanggalan dalam pembangunan rusun ini, seperti kondisi plafon, jaringan instalasi listrik, toilet hingga kualitas plester dinding.

“Kondisi begini sangat bahaya sekali dan harus segera disikapi. Nanti Komisi III akan ke Kemenpera minta penjelasan dan pertanggungjawaban seperti apa. Karena fasilitas ini belum diserahkan ke kita (Pemkot),” aku ABS saapan akrab Andi Burhanuddin Solong dikutip Balikpapan Pos belum lama ini.

Sementara itu, Pengurus Santri Putri Ponpres Hidayatullah Ustadzah Mastuha mengatakan, sejak jaringan instalasi listrik terjadi rembesan air kamar mandi maka para santri ini takut untuk menggunakan kamar mandi.

“Anak-anak santri takut menggunkan toilet karena kena listrik dari rembesan air,” beber Mastuha.

Asrama putri Hidayatulah ini mampu menampung 300 santri wanita dari berbagai daerah. Rumah pondok putri ini berbentuk persegi panjang dan dibangun sejak 2012 oleh Kemenpera. Hingga kini belum diserahterimakan kepada Pemkot.

Sementara itu Kepala Kampus Hidayatullah Gunung Tembak, H. Sugiono, kepada media ini dalam kesempatan ke Jakarta usai bertemu pihak Kemenpera mengatakan pihaknya telah melaporkan kondisi rusun tersebut ke Kemenpera untuk selanjutnya bisa segera ditindaklanjuti.

“Kami menemukan banyak kerusakan dini pada bangunan ini. Sehingga kami menganggap ini harus segera dilaporkan kepada pihak-pihak terkait. Alhamdulillah, dewan Balikpapan siap mendampingi kami,” katanya.

Sekedar diketahui, pembangunan Rusun bantuan Kemenpera ini sepenuhnya dipegang oleh pihak yang ditunjuk langsung oleh Kemenpera tanpa melibatkan sedikitpun pihak yayasan. Sehingga diduga keras ada ketidakberesan. (hio/ybh)

Hidayatullah Terus Berkiprah Dakwah di Dusun Tobajo

Menyeberangi sungai Benggaulu menggunakan rakit yang terhubung dengan katrol pada kawat besar merupakan satu skill tersendiri / BASHORI
Menyeberangi sungai Benggaulu menggunakan rakit yang terhubung dengan katrol pada kawat besar merupakan satu skill tersendiri / BASHORI

Hidayatullah.or.id — Rakit itu terbuat dari potongan drum yang dibentuk seperti perahu berukuran panjang tiga meter lebar sekitar tujuh puluh sentimeter. Dua buah perahu itu berukuran sama digabung dengan meletakkan gladak papan kayu seluas 2 x 3 meter di atasnya.

Menyeberangi sungai Benggaulu menggunakan rakit yang terhubung dengan katrol pada kawat besar merupakan satu skill tersendiri. Dengan memainkan posisi rakit, arus sungai secara otomatis akan mengantar penumpang rakit menyeberangi sungai seluas seratus meter ini. Kemudian mengikatnya pada tempat yang sudah disediakan di tepian.

Masalah besar bagi mereka yang tidak pernah menyeberang dengan alat transportasi sederhana ini, biasanya kalau bukan rakitnya diam karena tidak mendapatkan tekanan arus atau akan menyeberang dengan laju yang tidak beraturan dan tenggelam.

Alat ini sangat vital keberadaannya bagi warga Dusun Tobajo yang mendiami hamparan sisi barat hutan lidung Mamuju Utara ini.

Terdapat sebuah taman kanak-kanak di dusun dalam wilayah Desa Bulubonggu, Kecamatan Dapurang, ini sedangkan mereka yang sudah duduk di bangku sekolah dasar dan menengah harus puas dengan lalu-lalang menyeberangi sungai dengan rakitnya.

Seluruh warganya berprofesi sebagai petani sawit dan kakao, beberapa masih memilih menanam kopi dan tanaman jangka pendek seperti jagung.

Dua buah masjid di sini cukup untuk mereka melakukan shalat berjamaah sekali dalam sepekan, yakni shalat Jumat. Posisi Tobajo masih terpencil dari keramaian faktor utamanya adalah keberadaan jembatan yang sejak dibukanya dusun ini tahun 1995 belum pernah ada.

Otomatis untuk memaasarkan hasil panenan mereka membutuhkan biaya tambahan dengan menyewa pembonceng dan menyeberangkan hingga ke desa Bulubonggu.

Dengan kondisi demikian menjadi dinamika yang menarik karena warga dusun yang rata-rata berasal dari daerah Palopo, Sulawesi Selatan ini tidak menyurutkan untuk membentuk pengajian rutin di dusunnya.

Diakui Bahar Samaila, imam masjid Al-Mukarromah Dusun Tobajo yang juga beprofesi petani ini, ia dan jamaahnya banyak mendapat pencerahan sejak sering masuknya dai-dai Hidayatullah Bulubonggu menggencarkan dakwah ke Tobajo sejak awal 2009 silam.

Sedikitnya 60 anggota majelis taklim rutin menghadiri pengajian bulanan setiap tanggal 22. Jumlah ini menurut kepala dusun Tobajo, Ahmad Amir, masih sangat sedikit dibandingkan 79 kepala keluarga warganya dan semuanya muslim.

“Kami senang ada kegiatan taklim di dusun ini, sangat bermakna dalam kehidupan kami di sini dan (taklim) inilah menjadi bekal kami yang sebenarnya” sahutnya antusias.

“Alhamdulillah, dengan Qur’an dari YAWASH (Yayasan Waqaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah) ini ada alat untuk kami lebih dekat dengan jamaah di sana,” ungkap ustadz Marsuki Darusman dai yang juga pengasuh di Hidayatullah Bulubonggu ini.

Marsuki menjelaskan, kalau dirinya menginginkan suatu saat sambil membawakan materi ceramah ada sesuatu yang bisa dibagi kepada jamaahnya di Tobajo.

Keruan saja, bagi dai yang dulunya berprofesi sebagai karyawan di perkebunan kelapa sawit ini membagikan al-Qur’an dari Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah adalah bekah tersendiri.

______________________
Laporan Muhammad Bashori, reporter Hidayatullah.or.id di Sulawesi Barat

Grand MBA Tekankan Peserta Belajar Qur’an Sampai Mati

Pelatihan Grand MBA di Bantaeng / IRFAN JAHJA
Pelatihan Grand MBA di Bantaeng / IRFAN JAHJA
Kegiatan Grand MBA di Pangkep yang umumnya diikuti oleh muslimah / PWSLSL
Kegiatan Grand MBA di Pangkep yang umumnya diikuti oleh muslimah / PWSLSL
Peserta memadati ruang acara pelatihan Grand MBA di Soppeng / IRFAN JAHJA
Peserta memadati ruang acara pelatihan Grand MBA di Soppeng / IRFAN JAHJA

Hidayatullah.or.id — Besarnya pengaruh gaya hidup modern yang serba instan dan praktis, dinilai ikut membuat orang malas untuk berlama-lama dalam belajar Al-Qur’an. Fenomena ini misalnya dapat dilihat dengan maraknya metode baca Qur’an dalam bentuk digital yang tak lagi mengharuskan ada temu sekemuka antara guru dengan murid.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para dai dan guru mengaji yang bertugas di daerah perkotaan. Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah strategis untuk mempersiapkan tenaga-tenaga pengajar al-Qur’an yang kreatif, yang siap memberikan jawaban terhadap problematika umat Islam dewasa ini.

Untuk menunjang hal tersebut, Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah Sulawesi Selatan dibawah koordinasi Departemen Dakwah mengadakan upgrading kompetensi dengan menggelar acara pelatihan guru mengaji metode “GranD MBA -SISTEM 8 JAM”.

Acara yang mendaulat Kepala Departemen Dakwah PW Hidayatullah Sulawesi Selatan Ustadz Bachtiar Aras selaku “Master Traineer” ini diadakan di 3 kabupaten.

Pada Tanggal 02 Maret 2014, acara ini dihelat di Kabupaten Soppeng, bekerjasama dengan BKPRMI Kecamatan Lilirilau bertempat di wisata Water Boom Salaonro. Pelatihan ini dihadiri sedikitnya 200 guru ngaji dari 3 kecamatan berbeda.

Pelatihan yang juga dihadiri oleh Pembina Hidayatullah Sulawesi Selatan Ustadz Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar ini kemudian dilanjutkan ke Kabupaten Pangkajene Kepulauan empat hari kemudian, tepatnya pada Tanggal 06 Maret 2014 di Wisma Terminal Baru Kabupaten Pangkep.

“Kegiatan ini dihadiri sekitar 300 orang peserta yang kemudian pulang dengan membawa sertifikat pelatihan yang langsung dibagikan setelah acara ditutup,” jelas Humas PW Hidayatullah SUlsel, Irfan Yahya, kepada media ini ditulis Jum’at, (28/03/2014).

Selanjutnya Tim PW Hidayatullah Sulawesi Selatan bergerak ke selatan menuju Kabupaten Bantaeng. Daerah yang bergelar “Butta Toa” yang dalam bahasa setempat berarti “Tanah Tua” ini kini mendapat giliran, tepatnya pada Tanggal 13 Maret 2014. “Pelatihan Guru Mengaji ; GranD MBA -SISTEM 8 JAM” kembali dihelat di Gedung Balai Kartini Bantaeng.

Asisten III Pemkab Bantaeng Maulana Akil yang hadir membuka acara tersebut menyampaikan ungkapan terima kasih di hadapan 150 guru mengaji mewakili pemerintah daerah kepada Hidayatullah yang bersedia menggelar kegiatan yang menurutnya sangat penting dan bermanfaat. Hal itu kemudian dibuktikan dengan kesiapan Akil menjadi peserta pelatihan dan sekaligus menutup acara.

Tentang Grand MBA
Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) adalah merupakan program nasional Hidayatullah sebagai metode pilihan pembelajaran Al Qur’an secara tuntas dan sistematis.

Instruktur Nasional Grand MBA Pusat, Ustadz Muhdi Muhammad, mengatakan program pembelajaran Al Qur’an metode Grand MBA ditawarkan kepada masyarakat semata-mata ingin memberikan support dan menemani masyarakat belajar Al Qur’an secara tuntas sesuai dengan tahapan-tahapannya mulai dari terbata-bata tidak bisa sama sekali sampai pada tahapan tartil.

Itulah mengapa, kata dia, metode Grand MBA adalah metode yang mengharuskan peserta belajar, mengkaji, mentadabburi Al Qur’an sampai mati. Sebab sejatinya seorang Muslim mesti mengazzamkan selalu untuk hidup bersama Al Qur’an karena inilah hudan dan bayan.

“Secara sederhana, tahapan belajar Qur’an itu adalah memulai dengan terbata-bata atau mutata’ti’, mempelajari makhraj dan shifat, mengetahui kaidah tajwid, memahami tata bahasa, memahami dan merasakan balaghah, dan terakhir hakikat tartil,” kata Muhdi.

Setelah sampai pada tahapan terakhir yaitu tartil, peserta akan dibina dalam halaqah atau majelis-majelis taklim yang dibangun Grand MBA bekerjasama dengan masjid-masjid yang intinya mempelajari 5 T yaitu tilawah atau membaca dengan tartil, tahfidz (menghafal sebanyak mungkin), tafaqquh (memahami dengan benar), tathbiq (mempraktikkan dalam kehidupan), dan tabligh (menyampaikan kepada orang lain).

“Inilah yang ditawarkan Grand MBA kepada masyarakat,” kata Muhdi.

Dalam tahapan belajar metode Grand MBA, Muhdi menjelaskan, untuk tahap pertama yaitu mengenal makhrajul huruf dan shifat sampai kaidah tajwid menggunakan buku Grand MBA Jilid I dan II dalam paket Bimbingan Tajwid dan Tahsin Al Qur’an. Sementara untuk pelajaran tata bahasa dan maknanya di buku paket Terampil Menerjemah Al Qur’an dengan isi 6 jilid.

Grand MBA juga punya metode cepat belajar Al Qur’a dengan judul buku paket Grand MBA: Cara Cepat Belajar Membaca Al Qur’an dengan metode 8 jam dengan durasi 1 jam setiap pertemuan.

“Tapi harus dipahami, metode cepat ini hanya sekedar mengenal huruf dan membaca, selebihnya harus belajar dengan membutuhkan waktu yang cukup lama. Karena dalam beberapa hal ada ilmu yang tidak bisa dipelajari secara instan atau otodidak seperti Al Qur’an,” jelas UstazMuhdi.

Menurut Muhdi, maraknya metode pembelajaran Qur’an dengan metode cepat salah satunya dipengaruhi oleh budaya masyarakat yang mau serba cepat, terutama Ini akibat dari pola hidup atau pola pikir yang sebetulnya dipengaruhi oleh materialisme.

“Jadi, ketika orang menawarkan sesuatu, itu langsung, berapa kali pertemuan, berapa harganya, berapa lama, ditanya langsung bisa nggak. Begitu,” ujarnya.

Belajar dari fenomena tersebut, para dai dan guru ngaji juga ingin mensiasati kondisi masyarakat yang demikian tadi. Maka mereka juga ingin melakukan pendekatan bagaimana metode pembelajaran Al Qur’an itu mereka bisa diterima.

“Metode pembelajaran Al Quran cepat sebenarnya hanya sebagai tahap awal agar masyarakat bisa lebih mengenal Quran lebih dekat, bisa timbul rasa suka, rasa cinta, terhadap Qur’an. Sehingga mereka meneruskan pelajaran Al Qur’an sampai mencapai target yang ideal,” kata pria lulusan LIPIA Jakarta ini.

Ia menjelaskan bahwa metode cepat membaca Qur’an itu yang ditawarkan saat ini sepenuhnya masih parsial. Sebab Al Qur’an itu bukan hanya membaca, tapi ada tahapan-tahapan pembelajaran yang harus diikuti dengan baik.

Al Qur’an memang bahasa Arab tetapi memiliki cara membaca yang khusus yang berbeda dengan bahasa Arab pada umumnya. Yang membedakan adalah kaidah tajwid. Yaitu tentang bagaimana cara mengucapkan huruf huruf hijaiyah dengan benar sesuai dengan makhraj dan shifatnya.

Kemudian selanjutnya, jelas Muhdi, mempelajari makna dan tata bahasa Al Qur’an dari setiap ayat dan bagaimana cara mengamalkannya.

Tidak cukup sampai di situ, kalau mau jadi ulama dan ingin memahami betul-betul Al Qur’an maka seseorang harus mempelajari apa yang disebut dengan ilmu keindahan bahasa atau dalam bahasa Arab disebut ilmu Balaghah. Balaghah adalah ilmu untuk merasakan keindahan bahasa dan kedalaman makna Al Qur’an.

“Jadi Al Qur’an itu sangat indah dan maknanya sangat dalam. Kemudian barulah dia akan sampai pada hakikat tartil. Hakikat tartil itu adalah keselaran antara lisan yang fasih, hati yang penuh iman dan akal yang mengambil pelajaran serta fisik yang ingin segera mengamalkan Al Qur’an,” tandasnya.(ybh/hio)

Tingkatkan Kualitas Murabbi, Hidayatullah Bone Dauroh

Dauroh Murabbi Hidayatullah Bone / IRFAN JAHJA
Dauroh Murabbi Hidayatullah Bone / IRFAN JAHJA

Hidayatullah.or.id — Pimpinan Daerah (PD) Hidayatullah Bone bekerjasama dengan Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah Sulawesi Selatan mengadakan “Daurah Murabbi Ula” yang dilaksanakan di Kawasan Wisata Tanjung Pallette Kabupaten Bone, belum lama ini (21 – 24/04/2014).

Kegiatan yang juga didukung Hidayatullah Training Center (HiTC) Pusat ini mengangkat tema “Mencetak Pemimpin, Membangun Kultur Jamaah”. Acara yang mendatangkan instruktur dari Jakarta seperti, Ustadz Ahkam Sumadiana, Ustadz Hanifullah Hannan dan instruktur nasional Grand MBA Ustadz Muhammad ini diikuti oleh puluhan peserta yang merupakan utusan dari kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.

Harapannya setelah mengikuti daurah ini, para murabbi dapat memaksimalkan seluruh potensi dan menjadi motor gerakan dari kultur dakwah dan tarbiyah yang ingin dibangun oleh Hidayatullah melalui halaqoh. (mass/hio)

Shalat Shubuh ke Masjid? Tak Perlu Lagi Panaskan Motor

0
Speedmotor / ist
Speedmotor / ist

Hidayatullah.or.id — Sudah menjadi pemandangan umum shalat berjamaah di Masjid Ar-Riyadh Kampus Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, selalu ramai dipadati baik oleh santri, pengasuh, maupun warga. Tak terkecuali waktu shubuh. Parkir kendaraan khususunya roda dua (motor) pun kerap meluber di halaman masjid.

Namun ternyata, tidak sedikit warga yang merasa khawatir soal kendaraan motor mereka yang langsung di-starter tanpa dipanasi (warm) terlebih dahulu khususnya waktu sholat shubuh. Sekedar diketahui, jarak sebagian rumah warga dengan masjid memang terbilang jauh, bahkan ada yang hingga berkilo-kilo.

Kan sayang juga kalau ada kegiatan ta’lim shubuh baru tidak ikut. Jadi walaupun jauh jarkanya, tetap diusakakan sholat shubuh di sini,” aku salah seorang warga kepada media ini, belum lama ini.

Lalu, amankah motor kita apabila dikendarai pada pagi atau subuh dini hari tanpa dipasankan terlebih dahulu?. Nah, Anda yang suka memanaskan mesin motor atau mobil di pagi hari sebaiknya meninggalkan cara lama ini. Sebab, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bakal semakin boros.

Menurut pakar dari ITB, saat ini mesin kendaraan baik itu roda empat dan roda dua sudah didesain dengan baik sehingga mesin tidak perlu lagi dipanaskan.

“Jangan memanaskan mesin sebelum pergi. Itu emisinya tinggi,” kata Peneliti dan Dosen Laboratorium Motor Bakar dan Sistem Propulsi Institut Teknologi Bandung (ITB) Tri Yuswidjajanto di sela-sela acara Diskusi Sepeda Motor ITB-Yamaha di Lapi, ITB, Bandung, Jabar, seperti dikutip DetikOto, belum lama ini (3/2/2014).

Pria yang akrab disapa Yus ini menjelaskan sebaiknya pengguna kendaraan meninggalkan cara yang kuno ini. Menurutnya, pengendara cukup menyalakan mesin dan langsung jalan. Dia menjelaskan cara ini lebih baik dan hemat BBM.

“Artinya kalau bahan bakar dibakar banyak, emisinya tinggi. Cukup masuk mobil atau naik motor dan starter, langsung pergi,” ucapnya.

Yus menambahkan kendati langsung jalan tapi tidak serta merta langsung memacu kendaraan. Pengguna mobil ataupun motor harus pelan-pelan sampai indikator mesin naik pada suhu normal.

Masih menurut Yus, cara ini sudah diadopsi oleh masyarakat Amerika dan Eropa. Pengetahuan berkendara seperti ini sudah sangat melekat untuk menekam konsumsi BBM.

“Tapi jangan langsung ngebut. Pelan-pelan dulu, tunggu sampai indikator mesin sampai titik normal,” pungkasnya. (hi/ikh/ddn)

Hidayatullah Mendorong Perkembangan Herbal

0
Ketum PP Hidayatullah Dr Abdul Mannan berbincang dengan pendiri Klinik Rastura Indonesia Prof Muhammad Sudjana
Ketum PP Hidayatullah Dr Abdul Mannan berbincang dengan pendiri Klinik Rastura Indonesia Prof Muhammad Sudjana
Seminar nasional bertajuk agromedicine
Seminar nasional bertajuk agromedicine

Hidayatullah.or.id — Ormas Hidayatullah menyatakan sangat mengapresiasi upaya terus bertumbuhnya pengobatan herbal atau Thibbun Nabawi dan siap menjadi fasilitator pengembangan perubatan Islami ini.

Demikian dikatakan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Dr Abdul Mannan, MM, saat menjadi pembicara dalam seminar nasional bertema “Membangun Ekonomi Kerakyatan Berbasis Potensi Agromedicine” digelar Yayasan Rastura Indonesia di Bekasi, Jawa Barat, Ahad (23/03) lalu.

Hidayatullah, tegas Abdul, akan selalu menjadi fasilitator dan pendukung perkembangan pengobatan herbal di Indonesia umumnya.

Manan menjelaskan ribuan jenis tanaman obat ada di Indonesia. Fakta merupakan anugrah sehingga dirinya yakin jika ini dapat dikembangkan akan menjadi salah satu sumber kemajuan bangsa terutama dalam bidang ekonomi kerakyatan.

“Banyak pebisnis menanamkan modal di pengobatan agromedicine sehingga apapun hasilnya dan efeknya akan terus didorong. Sehingga harus dimulai adanya pengelolaan rempah herbal dengan cara yang modern guna mendorong perkembangan pengobatan herbal,” kata Abdul.

Sementara itu, Prof Muhammad Sudjana seorang praktisi herbal, pakar diabetes serta pendiri Yayasan Rastura, mengatakan pada abad ke 21 mulai berkembang pengobatan melalui herbal atau rempah. Hal ini terjadi menurutnya karena pengobatan secara medicine akan berimbas pada penyakit baru.

Menurutnya, One village One Production (OVOP) merupakan salah satu strategi dari pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang menggali potensi kemandirian dari pengembangan ekonomi rakyat melalui pemberdayaan dan pengembangan ekonomi strategis dalam pengelolaan sumber daya alam agraria secara adil dan berkelanjutan.

“Pengembangan ekonomi kerakyatan berlandaskan pada alat produksi. Faktor produksi tetap berada pada penguasaan kontrol dan pengelolaan rakyat,” ujar Profesor Sudjana.

Mengamini pendapat Abdul Mannan, Sudjana memandang bahwa peluang produksi dan industri pasar herbal di Indonesia mulai di lirik banyak pebisnis. Pemerintah diwakili Departemen Kesehatan juga nampaknya sudah memberi perhatian yang serius dengan menerbitkan Peraturan Nomor 006 Tahun 2012 tentang bisnis obat tradisional dan Industri.

Selain itu, menurut Ketua Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia, ini potensi pasar domestik akan produk herbal bisa mencapai Rp.25 triliun per-tahunnya. Sedangkan berdasarkan data Kementerian Perdagangan, nilai impor obat tradisional dan herbal sepanjang tahun 2011, tercatat USD,40,5 juta.
“Indonesia mengimpor 60 persen dari obat-obatan herbal dan ektrak dari negara lain seperti China dan India,” beber Sudjana.

Seminar yang dihadiri ratusan praktisi dan pebisnis ini digelar oleh Klinik Diabetes Rastura Indonesia yang berdiri sejak tahun 2004 oleh Prof. Ir. Mochammad Sudjana Phd atau yang dikenal Kang Jana.

Klinik itu mulai berkembang sejak tahun 2006 sampai sekarang aktif dalam memberikan pelayanan pengobatan herbal dan terapi diabetes. Klinik tersebut menangani ribuan pasien penderita diabetes dari seluruh dunia.

Pada awal 2011 pemimpin Klinik Diabetes Rastura, Mochammad Sudjana, mendapatkan tugas ke Genewa, Swiss, untuk program belajar dan mengajar di lingkungan WHO (World Health Organization) PBB hingga awal 2013.

Klinik Diabetes Rastura dan komplikasinya menjadai pusat terapi dan pengobatan diabetes dengan menggunakan ekstrak buah Kesemek yang menjadi unggulan dan andalan untuk pengobatan diabetes dalam bentuk OP2PNC1 dan super Bio Colagen. (ybh/hio)

Islam Punya Pengaruh Besar di Republik Malawi

0
Umat Muslim di Republik Mawali / ist
Umat Muslim di Republik Mawali / ist

Hidayatullah.or.id — Kerap mendapat perlakuan tidak adil tak lantas membuat Muslim Malawi tak menunjukan prilaku arif dan santun. Sikap ini yang banyak dipuji lantaran layak untuk menjadi contoh kehidupan beragama di Afrika.

“Ketika Islam datang 200 tahun lalu, pengaruhnya luar biasa,” ucap Sheikh Ahmed Chienda, ulama berpengaruh di negara itu seperti dilansir onislam.net, Senin (24/3).

Ahmed mengungkap meski umat Islam merupakan minoritas pengaruhnya telah menyentuh berbagai aspek kehidupan. Ini merupakan fenomena yang menandakan Islam menjadi contoh bagi agama-agama lain. “Islam telah menentukan bagaimana hidup sebagai Muslim. Inilah yang disebut rahmatan lil alamain,” kata dia.

Sebagai minoritas, Muslim Malawi telah melalui masa kelam. Namun, kondisi itu tidak begitu saja membuat pengaruh Muslim terpinggirkan. Misalnya saja, bagaimana sunat kini menjadi praktik umum.

“Agama lain banyak menolak sunat. Nyatanya, melalui sunat kita sudah bisa mencegah penyakiy menular seksual. Ini terobosan yang luar biasa,” kata dia.

Sekjen Dewan Ulama Malawi, Imrah Shareef mengungkap pengaruh yang tak kalah penting adalah ekonomi syariah turut mendorong kemajuan perekonomian Malawi selama setengah abad terakhir. “Umat Islam memiliki andil. Kami menekan angka pengangguran, karena dasarnya kami mempekerjakan individu tanpa melihat latar belakang agama,” kata dia.

Menurut Shareef, jiwa intrepreneurship memang dikedepankan dalam ajaran Islam. Malawi banyak mendapat pengaruh itu.

Kordinator Departemen Halal, Asosiasi Muslim Malawi (MAM), Sheikh Shallim Chikwatu mengatakan konsep halal dalam ajaran Islam juga mendorong terbentuknya standar makanan sehat di Malawi. Mereka yang bergerak dibidang ini umumnya mengalami kesulitan. baru, ketika mereka mengadopsi konsep halal, usaha mereka maju pesat.

“Ini menjadi indikasi jelas, Islam telah menjadi agama berpengaruh di Malawi,” ucap dia.

Pengaruh lain yang tak kalah peting adalah soal tata cara berpakaian. Islam sejak awal mengedepankan bagaimana cara Muslim berpakaian. “Anda tahu, Muslimah Malawi menjadi panutan, karena mereka adalah simbol dari kesopanan,” ucapnya.

Republik Malawi adalah sebuah negara yang terkurung daratan di Afrika bagian selatan. Malawi berbatasan dengan Tanzania di sebelah utara, Zambia di barat laut, dan Mozambik di timur, selatan dan barat. Danau Malawi yang memanjang di sepanjang perbatasan timur Malawi mencakupi seperlima wilayah negara itu.

Asal mula nama Malawi tidak diketahui; nama itu diyakini berasal dari suku di wilayah selatan atau inspirasi dari ‘cahaya matahari yang menyinari danau’ (lihat bendera). (rep/hio)

Hidayatullah Dukung Pedoman Pembangunan Madura Islami

Sejumlah warga melintas di depan Masjid Agung Sumenep yang bergaya arsitektur China, di Sumenep, Jatim. Masjid yang dibangun sejak tahun 1763 M, oleh penembahan Sumolo itu, merupakan salah satu bukti sejarah perkembangan Islam di Madura yang selalu ramai dikunjungi warga terutama saat bulan Ramadhan. ANTARA FOTO/ Saiful Bahri
Sejumlah warga melintas di depan Masjid Agung Sumenep yang bergaya arsitektur China, di Sumenep, Jatim. Masjid yang dibangun sejak tahun 1763 M, oleh penembahan Sumolo itu, merupakan salah satu bukti sejarah perkembangan Islam di Madura yang selalu ramai dikunjungi warga terutama saat bulan Ramadhan. ANTARA FOTO/ Saiful Bahri

Hidayatullah.or.id — Hidayatullah menyatakan mendukung konsep yang disusun oleh MUI Pamekasan tentang pembangunan Kabupaten Madura. Seperti diketahui, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pamekasan, Jawa Timur, membuat buku Pedoman Pembangunan Madura Bernuansa Islami sebagai upaya mempertahankan identitas nilai-nilai keislaman di Pulau Garam itu.

“Ada lima hal yang menjadi pembahasan MUI dalam buku pedoman pembangunan Madura,” kata Bagian Hubungan Masyarakat MUI Pamekasan Azis Maulana, belum lama ini dikutip Republika.

Kelima poin isi buku pedoman Pembangunan Madura Islami yang dibuat MUI Pamekasan itu meliputi pedoman industrialisasi islami, pedoman pengelolaan pendidikan islami, dan pedoman pariwisata islami.

Selanjutnya, pedoman pengembangan budaya islami, dan pedoman hotel islami.
Menurut Azis Maulana, buku itu diluncurkan Minggu (23/2) dlalu i aula SMK Negeri 3 Pamekasan dan dihadiri oleh parwakilan MUI se-Madura, yakni MUI Bangkalan, Sampang dan MUI Sumenep dan wakil ormas-ormas Islam termasuk Hidayatullah.

“Kami berharap buku ini akan menjadi pedoman pembangunan di Madura, sehingga pembangunan di Pulau Garam ini tetap mengacu kepada nilai-nilai keislaman dan tradisi yang berkembang di Madura,” kata Azis Maulana.

Ia menjelaskan, buku akan dikirimkan ke masing-masing pemkab di Pulau Madura dan diharapkan bisa diperhatikan oleh pimpinan daerah sehingga kemajuan pembangunan di Madura nantinya adalah kemajuan yang tetap berpijak pada nilai-nilai religius.

“Dalam artian kemajuan yang dicapai adalah kemajuan yang tetap berpedoman pada nuansa agama,” kata Azis Maulana menjelaskan.

Penyusunan itu, berdasarkan hasil studi banding dan kajian MUI Pamekasan yang dilakukan selama ini.

Buku pedoman sebanyak 92 halaman yang diluncurkan MUI Pamekasan ini menurut Azis Maulana telah disetujui MUI Jawa Timur dan institusi itu mendukung upaya MUI Pamekasan agar tetap melestarikan nilai-nilai ke-Islam-an.

Ormas Islam lainnya seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Al-Irsyad dan Hidayatullah menyambut positif buku pedoman pembangunan Madura Islami yang dibuat MUI Pamekasan itu. (rep/hio)

Silaturrahim Gaya MT Bank Papua di Ponpes Hidayatullah

pengajian mt bank papuaHidayatullah.or.id — Dalam rangka menjalin ukhuwah Islamiyah dan silaturrahim dengan masyarakat, Majelis Ta’lim Bank Papua berkerja sama dengan Pondok Pesantren Hidayatullah dan Laznas BMH Jayapura Mengadakan pengajian secara outdoor di komplek Ponpes Hidayatullah Jayapura, pertengahan Maret ini.

Acara yang berlangsung di ruang terbuka komplek Pondok Pesantren Hidayatulah di bilangan Holtekamp, Distrik Muara Tami, Jayapura, Minggu, 16 Maret 2014, ini dihadiri puluhan jamaah Majelis Taklim Bank Papua dan dipadati oleh warga pesantren dan warga.

Kegiatan berlangsung penuh keakraban dan kehangatan. Pada kesempatan itu Bank Papua menyerahkan uang tunai dan bantuan satu unit wireles kepada Pondok Pesantren Hidayatullah guna menjadi fasilitas internet untuk warga pesantren.

Ketua Majelis Taklim Bank Papua, Muhammad Sanusi, mengatakan bahwa pengajian rutin seperti ini biasanya diadakan pihaknya di kantor alias digelar secara indoor. Namun kali ini mereka menggelar acara ini secara outdorr untuk mendapatkan suasana baru dalam rangka menyegarkan kembali semangat karyawan.

“Kami sangat senang dapat menggelar kegiatan ini, semoga silaturrahim dan hubungan baik ini senantiasa langgeng,” kata Sanusi dalam sambutannya.

Kata Sanusi, kegiatan pengajian dan penyerahan sejumlah tali asih ini bukan pertama kalinya dilakukan pihaknya, sebab pihaknya juga pernah melakukan khitanan massal yang berkerjasama dengan BMH Jayapura.

“Kita berharap kegiatan-kegiatan seperti ini tidak putus disini dan akan berkelanjutan dalam acara-acara berikutnya,” lanjut Sanusi di sela-sela acara.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Jayapura, Ustadz Nur Fatahudin Amin mengatakan Hidayatullah khususnya yang berada di Jayapura sangat mengapresiasi peran sosial yang telah dilakukan oleh Bank Papua selama ini. Menurutnya, Majelis Taklim Bank Papua yang juga merupakan bank daerah telah berkontribusi signifikan untuk menunjang aktifitas dakwah dan sosial lembaganya.

“Tentu saja kami selalu menyambut sangat baik gelaran keagamaan yang dirangkai dengan kegiatan sosial edukasi semacam ini. Semoga dapat senantiasa berkesinambungan, Insya Allah,” kata Fatahuddin.

Sebelum pengajian dan silaturahmi ini, Majelis Taklim Bank Papua juga pernah mengadakan Khitanan massal di sini yang berkerjasama dengan Hidayatullah. (Achmad Muslim)