Beranda blog Halaman 659

Hidayatullah Kepri Lakukan Percepatan Kaderisasi

Suasana Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Kepulauan Riau di Aula Hidayatullah Batam / ANCHA
Suasana Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Kepulauan Riau di Aula Hidayatullah Batam / ANCHA

Hidayatullah.or.id — Hidayatullah Batam yang ditunjuk sebagai salah satu kampus utama akan terus melakukan percepatan dalam berbagai bidang. Antara lain peningkatan kader dan pembangunan sarana pendukung. Demikian salah satu rekomendasi Rakerwil Hidayatullah Kepulauan Riau, belum lama ini.

Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah Kepulauan Riau menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) di yang digelar selama 2 hari secara intensif di Aula Pondok Pesantren Hidayatullah Batu Aji, Batam, Kepri (08-09/02/2014).

Acara yang mengusung tema “Spirit Kepemimpinan, Menuju Standarisasi dan Sentralisasi Organisasi” ini dihadiri oleh perwakilan dari Pimpinan Pusat, pengurus Pimpinan Wilayah Kepri, dan perwakilan Pimpinan Daerah se-Kepulauan Riau.

Acara tahunan ini mengagendakan sosialisasi hasil-hasil Rapat Koordinasi Nasional (Rakorwil) Hidayatullah yang di gelar belum lama ini.

Dalam acara pembukaan, Ustadz Fathul Adhim yang mewakili Pimpinan Pusat Hidayatullah mengatakan, Rakerwil ini harus memberikan hasil yang lebih baik dalam menjalankan program dakwah.

“Terlebih Hidayatullah Kepulauan Riau ini merupakan proyek nasional setelah ditunjuknya Kampus Hidayatullah di Batam sebagai salah satu dari tujuh kampus utama Hidayatullah,” papar Fathul Adhim.

Selain Hidayatullah Batam, yang juga ditunjuk sebagai kampus utama, yaitu: Hidayatullah Balikpapan, Hidayatullah Surabaya, Hidayatullah Makassar, Hidayatullah Medan, Hidayatullah Depok, dan Hidayatullah Timika.

Dalam kegiatan ini juga dipaparkan Laporan Pertanggungjawaban PW Hidayatullah Kepri yang disampaikan oleh Ustadz H Jamaluddin Nur selaku ketua.

Dalam laporan itu, Ustadz Jamal mengatakan, Hidayatullah Batam yang ditunjuk sebagai salah satu kampus utama ini terus melakukan percepatan dalam berbagai bidang. Antara lain, tambah Ustadz Jamal, peningkatan kader dan pembangunan sarana pendukung.

Katanya di hadapan peserta Rakerwil, Hidayatullah jangan pernah lelah berbuat demi tegaknya Islam di tengah umat. Konsep Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW) yang dimiliki Hidayatullah, papar Ustadz Jamal, harus dapat dijabarkan dalam bukti nyata di lapangan dakwah.

“Semangat perjuangan kader Hidayatullah harus mengacu pada manhaj SNW yang di jabarkan melalui 5 strategi akselerasi, yaitu akselerasi intelektual, spiritual, sosial, kepemimpinan, dan finansial,” tegas Ustadz Jamal yang mengaku Hidayatullah kembali dipercaya pemerintah berupa pembangunan sarana pendidikan untuk kampus Hidayatullah di Batu Aji dan Tanjung Uncang.

Di akhir acara, Pimpinan Wilayah Hidayatullah Kepri melantik 4 Pimpinan Cabang yang ada di Kota Batam, antara lain PC Hidayatullah Batu Aji, PC Hidayatullah Sagulung, PC Hidayatullah Sai Beduk, dan PC Hidayatullah Sekupang. Kepada pimpinan cabang yang baru, Ustadz Jamal berpesan, “Hidayatullah hadir untuk menyelesaikan masalah umat dan pejuang Hidayatullah adalah tetap pejuang sampai kapan pun.”

Ustadz Fathul Adhim yang menutup secara resmi kegiatan Rakerwil ini juga memberikan apresiasi kepada PD Hidayatullah Batam yang telah merintis pimpinan cabang di sekitar Kota Batam. (ak/hio)

Buletin Hidayatullahh Edisi Februari 2013

buletin hidayatullah FEBruari 2013BULETIN HIDAYATULLAH adalah media informasi dan silaturrahim ormas Hidayatullah yang terbit reguler setiap bulan. Buletin ini diedarkan melalui saluran transimi virtual seperti email dan sejenisnya tanpa dikenakan biaya alias gratis bagi siapa saja yang ingin berlangganan.

Kami sangat merekomdendasikan supaya Anda menggunakan peramban (browser) Google Chrome ketika mengunduh (download) Buletin Hidayatullah ini untuk mendapatkan akses cepat dan kustomasi tampilan yang lebih dinamis. Download Buletin Hidayatullah di bawah ini:

BULETIN HIDAYATULLAH FEBRUARI 2013

 

Hidayatullah Cirebon Gelar Pelatihan “Dai Membangun Negeri”

Sejumlah peserta berfoto bersama disela-sela acara pelatihan / IAZ
Sejumlah peserta berfoto bersama disela-sela acara pelatihan / IAZ

Hidayatullah.or.id — Bertempat di kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Cirebon, Jawa Barat, PD Hidayatullah Cirebon bekerjasama dengan Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Cabang Cirebon mengadakan pelatihan dai dengan tema “Dai Membangun Negeri: Optimalisasi Dakwah dan Pemberdayaan Dai, belum lama ini (1-2/02/2014).

Training ini diikuti oleh para dai muda dari kalangan pengurus dan takmir masjid, mahasiswa, dan aktivis dakwah di kampus maupun masyarakat umum.

Dalam acara ini tampil sebagai pembicara utama yaitu Ustadz Ahmad Yani, MA selaku Ketua Islamic Center Kota Cirebon, Ustadz Dedi Ahyadi, Lc sebagai dai dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Yani Nurdani Suwita Sastra, Apt (Herbalis), Ismail Abu Zahfa(Kepala BMH Cabang Cirebon), dan Ustadz Sigit Setiawan, MA selalu pendiri Hidayatullah Cirebon.

Pada pelatihan tersebut Ustadz Ahmad Yani menyampaikan pentingnya peran dai berbasis masjid. Sementara Sigit Setiawan membagikan pengalamannya dalam berdakwah, khususnya perjalanan dakwah sampai berdirinya Pesantren Hidayatullah Cirebon.

Sementara itu, Ustadz Yani Nurdani memberikan materi pentingnya seorang dai memiliki jiwa enterpreneur yang andal sehingga mampu hidup secara mandiri. Materi terakhir disampaikan oleh Dedi Ahyadi yang mengupas tuntas problematika dalam berdakwah. Serta ditutup dengan pemaparan Kepala BMH Cirebon Ismail Abu Zahfa, yang menyampaikan mudahnya belajar dan menerjemahkan Al-Qur’an dengan metode Grand MBA (Gerakan Dakwah Mengajar dan Belajar Al-Qur’an) yang digagas oleh PP Hidayatullah.

“Sengaja acara ini didesain agar para peserta bisa menginap, agar peserta juga bisa menikmati sholat lail bersama dan merasakan nikmatnya hidup berjamaah,” kata Ismail selaku panitia pelaksana.

Ia menambahkan, harapan dari acara ini mudah mudahan peserta dapat lebih optimal dalam melakukan dakwah di masyarakat dan mampu memberdayakan, baik dai itu sendiri maupun masyarakat secara umum.

Ke depan, katanya, setelah acara ini selesai peserta diharapkan ada pertemuan setiap bulan sekali untuk mempertajam dan memperkuat dasar-dasar berdakwah bagi seorang dai. (hio/bmh)

Dewan Syura Dorong Kader Hidayatullah Hafal Qur’an

Siswa SMP Lukman Al Hakim Putri Hidayatullah Surabaya mengikuti ujian terbuka Tahfidzul Qur'an
Siswa SMP Lukman Al Hakim Putri Hidayatullah Surabaya mengikuti ujian terbuka Tahfidzul Qur’an

Hidayatullah.or.id — Ketua Dewan Syura Hidayatullah KH. Hamim Thohari mendorong kepada semua kader dan jamaah Hidayatullah untuk selalu mempelajari Al Qur’an, menghafal, dan mengamalkannya.

“Hafalkan al-Qur’an, kita mengharapkan santri-santri kita sekarang menjadi pecinta dan hafal al-Qur’an, dan antumlah (kalian) yang akan menjadi musyrif-musyrif mereka, maka sudah menjadi rumus bahwa seorang musyrif harus terlebih dahulu hapal al-Qur’an,” pesan beliau saat bersilaturrahim dengan santri Hidayatullah yang menuntut ilmu di Makkah Al Mukarramah disela-sela umroh beliau, belum lama ini.

Kata Hamim yang lebih karib disapa dengan ustadz ini, yang sudah selesai hapalannya, dilanjutkan dengan mengambil sanad hapalan dari para Ulama Huffadz. Ini supaya ada pertanggungjawaban dari hapalannya tersebut.

“Kita butuh para santri yang bisa mengimami kita dengan sanad tersambung pada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam,” kata Ustadz Hamim.

Santri sekolah Tahfidzul Qur'an Ahlus Shuffah Hidayatullah Balikpapan tampak sedang serius membaca Qur'an
Santri sekolah Tahfidzul Qur’an Ahlus Shuffah Hidayatullah Balikpapan tampak sedang serius membaca Qur’an

Selain itu, beliau juga mendorong para generasi muda Hidayatullah untuk senantiasa memperkuat budaya keilmuan dan mempertahankan budaya dasar yang telah ada.

Sebab, Hidayatullah akan membutuhkan ulama yang banyak ke depannya, tapi bukan sembarang ulama, melainkan ulama yang Robbany, yang bisa mengamalkan apa yang dia tahu secara hikmah.

“Maksimalkan waktu yang ada dalam menuntut ilmu, jangan kecewakan orang-orang tua yang menanti kalian di sana,” ujar beliau berpesan. (hio/mdh)

“Kader Harus Shalat Berjamaah di Manapun Berada”

Ketua Dewan Syura Hidayatullah KH Hamim Thohari
Ketua Dewan Syura Hidayatullah KH Hamim Thohari

Hidayatullah.or.id — Bagaimana pun kondisinya, kader dan jamaah Hidayatullah harus menyegerakan sholat ketika panggilan azan berkumandang. Dan, kader Hidayatullah harus melaksanakan sholat berjamaah di masjid di mana pun.

Demikian ditegaskan Ketua Dewan Syura Hidayatullah KH. Hamim Thohari saat bersilaturrahim dengan mahasiswa Inddonesia di Makkah Al Mukarromah dalam sebuah kesempatan umroh beliau, belum lama ini.

“Perhatikan ibadah Antum (kalian), terutama sholat lima waktu berjamaah. Kultur kita di Hidayatullah adalah komitmen kuat dalam menjaga sholat berjamaah di masjid,” pesan beliau.

Beliau menyatakan agar budaya shalat berjamaah ini jangan sampai lebur, apalagi pada diri kader-kader muda yang ada di sini (Makkah).

Tanpa komitmen yang sudah menjadi budaya kebaikan ini, kita tidak ada bedanya dengan yang lainnya.

“Santri Hidayatullah itu menjaga sholat lima waktunya berjamaah, kapan pun, di mana pun, dalam kondisi apa pun,” tegas beliau.

Ustadz Hamim menuturkan bahwa masa untuk merintis telah berlalu seperti yanng telah dilalui oleh para pendahulu dakwah Hidayatullah. Sekarang kampus-kampus Hidayatullah berdiri di mana-mana dan sebagian besar telah mendirikan sekolah-sekolah.

“Sekarang tiba masa Antum untuk mengisi kampus-kampus tersebut dengan ilmu, tiba masa kalian untuk melanjutkan bangunan peradaban,” ujarnya.

“Pastikan dalam diri Antum bahwa Antum adalah kader. Mencari kader dari luar itu banyak, tapi kita menginginkan kader yang dilahirkan dari rahim perjuangan, dari rahim Hidayatullah,” lanjutnya.

Hal itu bukanlah sebagai bentuk fanatisme golongan, tapi ada nilai-nilai dasar yang telah Antum serap yang belum diserap oleh yang lain, dan itu modal besar dalam sebuah gerakan perjuangan Islam.

“Terakhir, apa kalian sudah siap dipanggil untuk menikah,” tandasnya disambut senyum malu-malu mahasiswa-mahasiswa di Universsitas Islam Madinah tersbeut. (hio/mdh)

Jadi Wartawan Tidak Mudah, Inilah Syaratnya

0
Sejumlah peserta pelatihan jurnalsitik berfoto bersama narasumber / CHA
Sejumlah peserta pelatihan jurnalsitik berfoto bersama narasumber / CHA

Hidayatullah.com — Legislator DPR RI Meutya Viada Hafid melatih tekhnik jurnalistik para santri di Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa, Medan, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu, ditulis Jum’at (07/02/2014). Dalam kesempatan itu dia mendorong santri Hidayatullah menjadi jurnalis muda yang handal.

Mantan wartawan yang pernah disandera saat invasi Irak ini membeberkan beberapa hal yang harus dimiliki seorang wartawan dan calon wartawan.

Untuk menjadi jurnalis professional harus memiliki beberapa keterampilan, seperti memiliki kemampuan menulis, keterampilan berkomunikasi, memiliki kreativitas, memiliki keterampilan mempengaruhi, keterampilan mendengarkan, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, serta kemampuan public speaking.

“Orang yang tidak memiliki keterampilan menulis tidak akan bisa menjadi jurnalis. Keterampilan menulis harus di asah terus-menerus. Latihan dengan menulis buku harian pribadi. Maka ketika sudah terbiasa menulis jurnal pribadi maka insya Allah sudah tidak ada kendala yang berat untuk menjadi jurnalis,” kata Meutya dihadapan ratusan santri peserta pelatihan.

Seorang jurnalis atau calon jurnalis harus juga memiliki keterampilan berkomunikasi, karena akan bertemu dengan berbagai macam orang, dari berbagai latar belakan sosial dan budaya serta dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari abang becak, tukang sayur sampai pejabat tinggi negara bahkan pejabat tinggi dunia.

“Karenanya pendekatan komunikasinya pun tentunya berbeda-beda. Karenanya dibutuhkan keterampilan berkomunikasi yang baik,” jelas dia.

Seorang jurnalis juga Kreatif, karena di era sekarang media massa jumlahnya sangat banyak tidak seperti pada era-era sebelumnya dimana jumlah media masih terbatas. Karenanya, kata Meutya, terkadang kita melihat beberapa media mengangkat obyek berita yang sama, tetapi cara penyajiannya yang berbeda-beda.

“Disini yang dituntut dari seorang jurnalis adalah kreatifitas untuk membuat sebuah berita menjadi menarik dan memancing serta mendorong masyarakat untuk mengetahuinya dan memilih mengikuti berita yang disiarkan atau ditulis dimedia. Oleh karena itu diperlukan kreatifitas yang super,” kata Meutya yang pernah menjadi wartawan dan host di sejumlah televisi swasta ini.

Wartawan dituntut untuk memiliki keterampilan mempengaruhi orang lain, agar mau mengikuti berita yang sampaikan, baik itu dengan cara melihatnya, seperti tanyangan televisi, atau mendengarnya seperti siaran radio, ataupun membacanya melalui Koran, majalah dan media online atau social media di internet.

Selain itu, seorang jurnalis harus kepo, atau memiliki kepedulian dan rasa ingin tahu yang tinggi. Istilah “KEPO” atau Knowing Every Particular Object itu sendiri biasa diartikan negative, mau tahu aja.

“Tetapi memang seorang wartawan itu harus kepo, tetapi yang terarah, tidak semua mau ditahu dan dipedulikan secara berlebihan, kecuali jika hal itu penting untuk diketahui,” imbuh dia.

Selain itu, kata Meutya, terkadang seorang wartawan harus membawa kamera sendiri, mengambil gambar sendiri, meng-editnya sendiri dan menulis beritanya sendiri bahkan dia sendiri juga yang harus siaran di media. Karenanya terkadang sebuah perusahaan media, terutama televisi, akan menggunakan orang yang memiliki multi talenta dan bisa multi-fungsi, terutama jika ingin melakukan liputan yang jauh, seperti diluar negeri dan membutuhkan biaya yang tidak murah dan membutuhkan penghematan biaya, mulai dari ongkos perjalanan, biaya penginapan di hotel dan sebagainya. “Itulah yang disebut dengan istialah Video-Journalis,” sebutnya.

Selanjutnya, seorang jurnalis juga harus menjaga sikap professional sebagai seorang jurnalis, misalnya harus membuka identitas diri dihadapan narasumber. Misalnya ketika jurnalis sedang mau mewancarai seseorang yang sedang dilanda musibah, bencana alam, atau sedang dirundung duka, maka seorang jurnalis harus memperkenalkan diri terlebih dahulu sebelum melakukan wawancara.

“Harus tunjukkan empati terlebih dahulu. Jangan membuat narasumber yang sedang berduka itu menjadi tersinggung apalagi marah karena ulah jurnalis yang secara tiba-tiba mewancarainya, terburu-buru karena alasan mengejar deadline,” ingat dia.

Lebih dari itu semua, seorang jurnalis haram hukumnya menyuap dalam menggali informasi tidak juga disuap. Ditegaskan dia, seorang wartawan tidak boleh meminta-minta uang untuk membuat dan memuat sebuah berita, juga tidak boleh memberi uang untuk membeli berita. Tidak boleh menyuap untuk membeli informasi.

“Tidak boleh pula melakukan rekayasa untuk melakukan pengambilan, pemuatan ataupun penyiaran gambar, foto dan suara, tidak boleh mencampur aduk antara fakta dan opini, juga harus menghormati azaz praduga tak bersalah,” pungkasnya. (cha/hio)

Santri Hidayatullah Didorong Tekuni Citizen Journalism

Meutya Hafid saat mengisi pelatihan jurnalistik di Ponpes Hiadyatullah Medan / CHA
Meutya Hafid saat mengisi pelatihan jurnalistik di Ponpes Hiadyatullah Medan / CHA

Hidayatullah.or.id — Berita yang mengandung fitnah itu seringkali berdampak luas. Berita fitnah tidak mencerdaskan bangsa tetapi justru malah membodohi bangsa. Sehingga penting bagi kaum muda Muslim untuk terjun ke kancah jurnalistik atau lebih dari itu menekuni citizen journalism.

Demikian dikatakan mantan wartawan perang Irak Meutya Viada Hafid saat melatih tekhnik jurnalistik para santri di Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa, Medan, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu, ditulis Jum’at (07/02/2014).

Disinilah, kata Meutya, pentingnya generasi muda Islam khususnya santri Hidayatullah untuk menguasai jurnalistik agar jangan non-muslim saja yang menguasainya, sehingga diperlukan keseriusan mencetak jurnalis muda muslim untuk menguasai Media.

“Hari ini kita menyaksikan bahwa perusahaan-perusahaan media lebih banyak dimiliki oleh kalangan non-muslim sehingga pemberitaan-pemberitaan yang ada, misalnya mengenai terorisme cenderung mendiskreditkan Islam,” kata mantan wartawan sejumlah televisis swasta ini.

Oleh karena itu, menurut Meutya, ummat Islam harus menguasai media supaya pemberitaan tentang Islam menjadi berimbang dan jangan sampai kita tidak perduli sama sekali, imbuhnya.

Dalam pelatihan yang dihadiri sedikitnya 200 santri Hidayatullah Medan ini Meutya Hafid membawakan materi dengan suasana belajar yang santai, fun, dan penuh canda. Dalam kegiatan itu Meutya Hafid juga menjelaskan tentang arti dan seluk beluk Jurnalistik dikaitkan dengan sejumlah pengalaman dia selama menjadi pewarta nasional dan luar negeri.

“Seorang jurnalis adalah seseorang yang secara teratur menulis berita berupa laporan yang kemudian dimuat di Media massa. Jika ada yang mengaku sebagai jurnalis tetapi tidak pernah melihat tulisannya dimuat di media, berarti dia adalah bohong,” kata Meutya.

Kendati demikian, Meutya menegaskan bahwa saat ini telah berkembang tradisi baru dalam dunia pewartaan yakni Citizen Journalism atau jurnalisme warga, yang memungkinkan siapa saja untuk menjadi jurnalis non mainstream.

Citizen Jourlaism menurut Meutya ke depan menjadi penting. Ia mencontohkan, kita sering melihat ada berita televisi kiriman dari warga. Sehingga ia memandang kedepan mungkin semua stasiun televisi harus punya kanal Citizen Journalizm, kolom atau rubrik yang diberikan kepada pemirsa atau pembaca untuk memberikan beritanya, karena kedepan masyarakat ingin berbicara, urun rembug ikut serta untuk memberikan informasi.

“Hal ini penting karena bisa menjembatani keterbatasan jurnalis dalam meliput semua kejadian atau peristiwa yang sewaktu–waktu terjadi diluar dugaan, prediksi dan jangkauan wartawan,” terangnya yang mengenakan jilbab merah jambu.

Disamping itu hal, kata dia, ini bisa menghindari sentralistik dalam pemberitaan, misalnya setiap hari yang ada hanya berita tentang banjir yang melanda Jakarta saja. Padahal wilayah Indonesia ini luas. Maka harus ada warga yang bisa merekam kejadian-kejadian di sekelilingnya dan mengirimkannya kepada media untuk diberitakan.

Soal liputan peran penting jurnalisme warga, Meutya mencontohkan ketika terjadi tsunami di Aceh. Pada saat awal terjadinya, tak seorangpun dari kalangan wartawan yang hadir di sana. Karena sesungguhnya tak satupun wartawan yang bisa memprediksi sebuah kejadian bencana seperti itu.

Kata Meutya, jurnalisme warga itu terjadi karena ada warga yang bukan berprofesi sebagai wartawan, namun karena memiliki kepekaan terhadap peristiwa yang ada dilingkungannya, dia memiliki insting kewartawanan, kemudian merekam peristiwa-peristiwa penting yang disaksikannya, kemudian melaui bantuan wartawan atau membawanya sendiri ke media untuk disebarluaskan, maka itulah yang disebut Citizen Jurnalizm.

“Maka sebenarnya citizen journalism itu penting kita miliki juga untuk merekam peristiwa diluar jangkauan para wartawan dan itu sangat berguna bagi masyarakat dan membantu tugas para wartawan dan media,” tukasnya. (cha/hio)

Pusat Peradaban Islam dan Masjid Sriwijaya Segera Hadir di Sumsel

Maket Masjid Sriwijaya dan Pusat Peradaban Islam
Maket Masjid Sriwijaya dan Pusat Peradaban Islam

Hidayatullah.or.id — Setelah cukup lama tertunda rencana pembangunan masjid Sriwijaya akhirnya segera terealisasi. Ketua Yayasan Wakaf Masjid Sriwijaya Zamzami Achmad mengungkapkan rencana tersebut.

“Kami dari yayasan sudah bertemu langsung Gubernur Sumatera Selatan Bapak Alex Noerdin dan meminta gubernur menjadi pemimpin atau menjadi panglima dalam pembangunan Masjid Sriwijaya,” jelas Zamzami, belum lama ini dikutip Republika.

Dipilihnya Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Alex Noerdin sebagai ketua pembangunan, menurut dia, merupakan hasil rapat terbatas pengurus pembangunan Masjid Sriwijaya 21 Desember 2013 di Hotel Borobudur Jakarta dan disetujui Ketua Dewan Pembina Yayasan Wakaf Masjid Sriwijaya (YWMS) Prof Jimly Asshiddiqie.

Menurut Zamzami pembangunan Masjid Sriwijaya membutuhkan dana yang sangat besar mencapai Rp 1,2 triliun. Dana untuk pembangunannya menurut mantan Ketua DPRD Sumsel berasal dari sejumlah donatur.

Di antara para donatur itu beberapa BUMN yang sudah menyatakan komitmennya untuk merealisasikan masjid yang akan dibangun di atas lahan seluas 15 hektar.

Gubernur Alex Noerdin menyatakan siap dan akan segera merealisasikan pembangunan Masjid Sriwijaya di kawasan Jakabaring. “Ini sebuah Kehormatan besar dan tanggung jawab untuk dapat menyelesaikan pembangunan Mesjid Sriwijaya,” ujarnya.

Menurut Alex, Sumatera Selatan sudah terbiasa dengan proyek besar dan tentunya tantangan besar, seperti menyelenggarakan SEA Games dengan persiapan hanya 11 bulan dan juga Islamic Solidarity Games dengan persiapan hanya dua bulan,” katanya.

Ia akan segera mengambil langkah menyelesaikan proyek tersebut. ”Saya menginstruksikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sumatera Selatanl Rizal Abdulah sebagai ketua pelaksana bersama pelaksana tugas Sekretaris Daerah Mukti Sulaiman sebagai penanggung jawab harian,” ujar Alex Noerdin.

Ia optimistis daerah ini segera memiliki salah satu masjid termegah di Asia Tenggara. Menurut Alex Noerdin untuk pembangunan masjid megah yang diberi nama Masjid Raya Sriwijaya dan pusat peradaban Islam di Indonesia tersebut membutuhkan dana Rp 1,2 triliun.

“Haji Alex Noerdin yakin dengan dukungan semua pihak dan kerja sama pembangunan Masjid Sriwijaya ini akan dapat selesaikan dengan baik,” kata mantan Bupati Musi Banyuasin (Muba).

Diantara bantuan dana pembangunan Masjid Sriwijaya yang sudah diterima berasal dari PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) yang disampaikan Direktur Utama Musthofa kepada Yayasan Wakaf Masjid Sriwijaya pada awal September 2013 lalu. PT Pusri menyerahkan bantuan kepada Yayasan Wakaf Masjid Sriwijaya sebesar Rp 450 juta.

Untuk merealisasikan Masjid Sriwijaya, Alex Noerdin, tak segan meminta bantuan kepada perusahaan-perusahaan besar yang ada di Sumatera Selatan untuk menyisihkan dananya.

”Semua ini kita lakukan, Untuk mempercepat pembangunan masjid yang akan menjadi kebanggaan rakyat di bumi Sriwijaya. Ini kita lakukan demi rakyat. Kalau untuk rakyat Sumsel tidak ada yang tidak bisa kita lakukan,’’ katanya. (hio/rep)

Ratusan Remaja Hidayatullah Batam Ikut Mabit

0
Sejumlah peserta Mabit tampak lesehan di depan gedung sekolah
Sejumlah peserta Mabit tampak lesehan di depan gedung sekolah

Hidayatullah.com — Memanfaatkan waktu liburan sekolah, sebanyak 200 orang santri putri dari SMP Islam Lukman Hakim 02 Tanjung Uncang dan SMP Islam Lukman Hakim Batu Aji Pondok Pesantren Hidayatullah Batam, mengikuti kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) pada hari Kamis-Jum’at, 30-31 Januari 2014 lalu.

Kegiatan dua sekolah yang menjadi binaan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Batam, Kepulauan Riau ini menggunakan tempat di lapangan olahraga SMP Islam Lukman Hakim 02 Tanjung Uncang, Batam.

Acara yang dibuka pada hari Kamis sore ini dibuka oleh Kepala Departemen Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Batam, Sumarno, M.Pd.I.

Dalam sambutannya, Sumarno mengatakan, kegitan Mabit ini diadakan untuk mempererat silaturahim antara keluarga besar Hidayatullah terutama yang berada di kampus Batu Aji dan Tanjung Uncang.

“Sekaligus juga dalam rangka memperkenalkan dan mempromosikan pembukaan SMA Islam Lukman Hakim 02 khusus putri di kampus Tanjung Uncang,” ujar Sumarno yang juga Kepala SMP Islam Lukman Hakim 02 Tanjung Uncang.

Usai pembukaan, para santri menjalankan shalat Maghrib berjamaah yang dilanjutkan dengan kegiatan mengulang hafalan al-Qur’an dan shalat Isya berjamaah.

Setelah makan malam, para santri langsung dihidangkan dengan materi yang diisi oleh Ustadz Ahmad T Darussalam dari Tsabit Media Kreatif. Ustadz Ahmad yang dikenal sebagai trainer di kalangan remaja dan pemuda Batam ini menyajikan Zero Motivation Training.

“Pelatihan ini akan mengantarkan peserta untuk memahami materi 7 Kunci Mencetak Muslim Sejati, 7 Pintu Membentuk Mukmin Bermutu, dan 7 Prasyarat Menjadi SuperMuslim,” ujar pria kelahiran Bandung, Jawa Barat yang pernah berguru kepada KH Abdullah Gymnastiar ini.

Namun, tambah Ustadz Ahmad, karena terbatasnya waktu tak semua materi akan disampaikan dalam kesempatan ini.

Selain itu, kegiatan yang dipandu oleh para ustadzah dan mahasiswi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Batam ini akan melaksanakan shalat Lail berjamaah dan tesmental para santri putri.

“Di pagi hari para santri akan mengikuti kegiatan senam dan juga permainan,” jelas Sumarno. Insya Allah, katanya, acara akan berakhir pada hari Jum’at pukul 10 pagi.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Batam, Ustadz Jamaluddin Nur mengatakan bahwa setiap kegiatan pesantren selalu diarahkan kepada proses pengkaderan.
Dengan itu, katanya, Hidayatullah memiliki kader-kader yang berkualitas. “Termasuk melalui program Mabit ini, sehingga para santri kian terbiasa untuk menghidupkan shalat Lail dalam kesehariannya,” ujar pria yang kerap disapa Ustadz Jamal.* (ad/hio)

Hidayatullah Tarakan Bangun Asrama untuk Putri

Warga masyarakat, pembina, pengasuh, dan santri bekerjabakti bersama
Warga masyarakat, pembina, pengasuh, dan santri bekerjabakti bersama
Pondasi asrama
Pondasi asrama

Hidayatullah.com — Karena kian memludaknya jumlah santri khususnya putri, Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Tarakan akhirnya menambah lokal asrama.

Hidayatullah Tarakan sendiri saat ini memiliki 2 kampus yakni di Gunung Lingkas dan di bilangan Kuburan Cina. Asrama untuk putri ini didirikan di Kampus Gunung Lingkas, sementara kampus Kuburan Cina menjadi pusat kerajinan dan budidaya tambak untuk warga. Serta diselenggarakan pula layanan pendidikan tingkat PAUD dan TK.

Warga bersama-sama dengan santri Pondok Pesantren Hidayatullah Tarakan, Ahad lalu, melakukan pengecoran pondasi dasar Asrama Putri ini. Terlihat orangtua, remaja maupun anak-anak turun bersama-sama dalam menyelesaikan pengecoran pondasi dasar Asrama Putri tersebut.

FOTO/TEKS: Muhammad Naim