Santri Sekolah Pemimpin Hidayatullah (SPH) di Balikpapan, Kalimantan Timur / BASHORI
Hidayatullah.or.id —- Sebagai lembaga edukasi Islam tertua di negeri ini, pondok pesantren merupakan “pabrik” pencetak para calon pemimpin bangsa. Demikian ditegaskan Menteri Agama Suryadharma Ali (SDA) beberapa waktu lalu.
“Sejarah telah mencatat dan membuktikan hal itu. Dari masa ke masa, para alumni pesantren selalui mewarnai pentas politik nasional dengan ikut menjadi bagian dari kepemimpinan seperti di kabinet dan jabatan publik atau pemerintahan lainnya,” ujar Menteri Agama Suryadharma Ali (SDA) saat bersama Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz, meresmikan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Pondok Pesantren di Cicalengka, Bandung, Jawa Barat, Selasa (25/3) lalu.
Menag mencontohkan guru sekaligus tokoh yang dikaguminya, almarhum KH Idham Chalid. “Beliau beserta para kiai lain pernah beberapa kali menjadi menteri, dan jabatan penting lainnya yang didedikasikan untuk kemaslahatan umat,” ujar Menag.
Menag pun menegaskan urgensi madrasah dan pondok pesantren sebagai salah satu pilar penyelenggaraan kegiatan pendidikan di Indonesia. Meski diakuinya, mayoritas dikelola swasta, namun tak menghalangi kontribusi lembaga pendidikan agama ini dalam mencerdaskan bangsa.
“Ponpes seratus persen swasta, tak ada yang dimiliki pemerintah. Sama halnya dengan madrasah, 94 persen dikelola swasta, yaitu oleh para kiai dan ulama. Tapi keduanya berkontribusi besar bagi Indonesia,” ujarnya.
Menag menyatakan, Kementerian Agama (Kemenag) secara khusus mengapresiasi dan selalu mendukung kegiatan belajar-mengajar yang digelar ponpes dan madrasah.
Sementara itu, Menpera Djan Faridz, menyebutkan, pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, termasuk untuk kelayakan hunian, serta sarana mandi, cuci dan kakus (MCK) komunal.
Menurut dia, berdasarkan data yang dimiliki Kemenpera, kini ada 27.000 ponpes di seluruh Indonesia, dengan jumlah santri 3,4 juta siswa. “Kemenpera juga terus mendorong program pembangunan sarana pesantren, sehingga para santri bisa semakin maju dalam belajar,” ucapnya. (kem/ybh)
Latihan manasik haji anak anak SDIT Hidayatullah Depok / KHUMAINI
Hidayatullah.or.id — Sejak awal perlangkahannya, Pondok Pesantren Hidayatullah selalu menempatkan diri sebagai pemersatu umat dengan menjadikan dakwah, pemberdayaan, sosial, dan pendidikan sebagai concern aksi. Hal ini harus terus menjadi kultur lembaga ini hingga kini menjadi organisasi massa.
Demikian ditegaskan Pimpinan Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad, saat menyampaikan taushiah dalam kesempatannya berkunjung ke Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, belum lama ini. Beliau menegaskan bahwa gerakan Hidayatullah adalah gerakan dakwah kasih sayang yang mengesampingkan praktik-praktik anarkisme.
“Jangan merubah kejahatan dengan cara anarkis, tapi rubahlah dengan membawa cahaya cahaya (kebaikan) ini. Semoga kita membaca, bahwa sesederhana apa pun pekerjaan tapi kerjakanlah dengan maksimal. Libatkan semua potensi yang ada untuk menghadirkan kekuatan kekuatan baru,” kata beliau.
Sebagaimana kita ketahui, terang dia, telah disepakati bahwa eksistensi Hidayatullah adalah gerakan pejuangan Islam (al haraqah jihadiyah al islamiyah). Kita semua ini adalah pendudukung dari gerakan Islam yang menumbuhkan mahabbah dan kepekaan rasa.
“Kita ini adalah bagian kecil dari pendukung dari gerakan perjuangan Islam. Walaupun kelihatan pekerjaan-pekerjaan kita sederhana-sederhana saja, tetapi ada tonggak kepemimpinan untuk mempertanggungjawabkan kepemimpinan ini kepada manusia, Allah Ta’ala, dan kepada orang orang beriman,” imbuhnya.
Dalam kesempatan itu Ustadz Rahman mengingatkan bahwa kader Hidayatullah harus selalu berfikir dan beribadah keras.
“Semua tantangan apa saja itu sebenarnya otomatis bisa dihadapi ketika ada lokomotif. Lalu, apa lokomotif kita dalam kehidupan kita ini? Lokomotif kita adalah Laailaahaillallah,” ingatnya.
Dunia, kata Allah, hanyalah permainan dan sendau gurau semata. Sebagai orang beriman maka ‘bermainlah’ dengan sungguh-sungguh di dunia, jika tidak, engkau yang akan dipermainkan.
“Kita jangan pesimis bahwa aku tidak bisa. Kita harus mengatakan aku adalah bahagian dari proses ini. Kita harus dikuatkan dengan sesuatu di luar yang nyata ini”.
Ustadz Rahman juga menerangkan bahwa ujian keimanan yang dihadapi umat Islam saat ini belumlah seberapa daripada ujian yang dialami oleh Nabi Nuh Alaihissalam. Saking kerasnya tantangannya, Nuh sampai berdoa kepada Allah untuk membinasakan saja semua orang-orang kafir seluruh dunia.
“Untungnya kita mengikuti khittah dakwah Rasulullah, jadi kita tidak berdoa seperti Nuh. Tapi, karena dahsyatnya gelombang tantangan Islam saat ini, maka kita harus membangun kapal Nabi Nuh,” imbuh beliau.
Dalam rangka mendakwahkan Islam ini, seorang dai kata Ustadz Rahman jangan pernah mengatakan banyak betul sudah pengorbanan yang saya berikan tapi hanya seberapa saja yang saya dapatkan.
“Berfikir rata rata manusia adalah pragmatis, mengukur apa yan dilihat mata. Anda jangan menjadi orang yang rata-rata. Umat menanti tangan tangan pemuda yang mengeluarkan cahaya untuk menerangi umat seperti Musa mengeluarkan umatnya dari kegelapan,” tandasnya. (ybh/hio)
Salah satu kegiatan “Pernikahan Mubarak” santri Ponpes Hidayatullah Bali / AMROZI
Hidayatullah.or.id — Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah yang telah menjadi organisasi massa (ormas) Islam selalu berkomitmen untuk melakukan pembinaan umat melalui dakwah serta pemberdayaan melalui pendidikan dan amal sosial. Kiprah itu tak terkecuali telah digalakkan di Provinsi Bali di mana lembaga ini telah hadir di sana sejak belasan tahun lalu.
Hidayatullah melalui Yayasan Al-Islam Pesantren Hidayatullah Bali sekarang telah memasuki usia 18 tahun. Tentu saja ini adalah usia matang dengan berbagai tantangan dan ujian yang selama ini dihadapi. Apalagi lembaga ini dirintis dengan bermodalkan tekad dan keyakinan yang kuat dari para perintisnya.
Secara legalitas lembaga ini telah terdaftar pada Dinas Kesejahteraan Sosial Kota Denpasar Nomor:460/033/Dinkessos dan di Dinas Sosial Provinsi Nomor: 466.3/ 46/ DAYASOS/ DINSOS/ 2009 dan juga mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Nomor:AHU – 2131.AH.01.02.Tahun 2008.
Yayasan Hidayatullah Bali sekarang yang berkantor di Jalan Raya Pemogan No. 54 Kampung Islam Kepaon, Pemogan, Denpasar, memiliki asset tanah seluas 2300M persegi yang sebagian besar berada di Jalan Pemogan Gang Taman 20X, Banjar Sakah. Aset-aset itu berupa gedung asrama santri pondok, Gedung MI Hidayatullah, Gedung MTs Hidayatullah dan Gedung Madrasah Aliyah Hidayatullah.
Kegiatan yang telah ada adalah Taman Kanak-Kanak / Raudhotul Atfal (RA), Madrasah Ibtida’iyah Hidayatullah (MI) setingkat SD, Madrasah Tsanawiah (MTS) setingkat SLTP dan Madrasah Aliyah ((MA) setingkat SMA. Saat ini tercatat 900 siswa dan siswi yang belajar di Pendidikan Hidayatullah.
Sementara jumlah tenaga guru 50 orang semua, tenaga pegawai atau non kependidikan 8 orang. Sedangkan pendidikan non formal yakni kepesantrenan saat ini ada santri sebanyak 80 anak yang tinggal di dalam asrama Pondok Pesantren Hidayatullah Denpasar.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Denpasar, Bali, Ustadz Fery Indarto, menjelaskan kegiatan sosial yang dilakukan oleh lembaganya adalah dengan menyantuni biaya hidup bagi anak –anak yatim piatu dan terlantar di asrama pondok. Program ini sudah berjalan sejak awal lembaga ini berdiri.
“Kebetulan mereka baik konsumsi, pendidikan, dan kesehatan menjadi tanggungan dari lembaga ini. Program penyantuna ini juga sedang di kembangkan ke daerah– daerah,” kata Fery.
Adapun di antaranya program santunan sistem berasrama yang telah berdiri di Bali yakni Yayasan Al-Islam Hidayatullah Cabang Karangasem, Ds Kecicang, Kec Bebandem, menyantuni sebanyak 30 anak asuh, 10 anak tinggal di asrama, 20 anak tinggal di luar asrama. Ada juga Yayasan Al-Islam Hidayatullah Cabang Badung dan Yayasan Al-Islam Hidayatullah Cabang Tabanan dengan mengasuh dan mendidik sejumlah anak asuh serta Yayasan Al-Islam Hidayatullah Cabang Buleleng menyantuni 5 anak asuh.
Kegiatan Dakwah yang telah dilakukan adalah pembinaan bagi kaum muslimin dan muslimat termasuk para muamalat dalam majelis – majelis pengajian. Khususnya dengan program membaca dan menterjemahkan kitab suci Al-Qur’an.
“Alhamdulilah program ini telah mendapat sambutan positif dari jamaah, khususnya di masjid–masjid Kota Denpasar,” imbuh Ustadz Fery.
Ia menjelaskan, sumber pendanaan yayasan dalam mencukupi kebutuhan operasional berupaya akan terus berusaha melalui program ekonomi mandiri yaitu dengan adanya koperasi yang melayani dan menyediakan kebutuhan para jamaah pengajian pada khususnya dan kaum muslimin pada umumnya.
“Walaupun sampai saat sekarang ini sebagian besar pendanaan untuk kegiatan dakwah dan pembinaan lembaga masih ditopang dari SPP wali murid, donator dan simpatisan,” ujarnya. (ybh/hio)
Asisten II Bupati Mamuju Tengah Drs. Eman Hermawan, hadi membuka acara ini / BASHORIKetua PP Hidayatullah, Shohibul Anwar, hadir di Sulbar dalam rangka mengisi workshop parenting / BASHORI
Hidayatullah.or.id — Bimbing dan ajarkanlah anak-anak kita hari ini untuk bisa menghadapi keadaan yang tak serupa dengan keadaan saat ini. Ini mendesak dilakukan dan menjadi sebuah keharusan karena generasi hari ini akan hidup pada suatu zaman yang tidak seperti zaman kita hari ini.
Demikian ditegaskan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah Drs. Shohibul Anwar, MHI mengawali materinya dengan merepresenasti perkataan sahabat Nabi Muhammad SAW, Ali bin Abi Thalib.
“Kita dulu waktu masih kecil tidak pernah dikenalkan tentang internet oleh orangtua kita, tetapi karena dalam mendidik mereka menguatkan muatan agama maka kita bisa mengendalikan internet untuk kebaikan,” kata Anwar.
Terlebih dalam kode etik jurnalistik, meski benar dalam pemberitaan kasus-kasus kriminal atau asusila, informasi tersebut memiliki dampak negatif bagi penonton yang tidak memiliki filter. Sehingga, kata Anwar, anak-anak belia kita hari ini perlu dihindari melihat adegan kekerasan dan serupa dengannya dengan membatasi terpapar dengan saluran televisi.
“Kejadian-kejadian buruk akan menjadi santapan berita dan akan mengajari anak –anak kita sendiri. Orangtua harus berkorban memberikan waktu dan perhatian kepada mereka,” terang pemateri tunggl ini.
Anwar menegaskan, sesibuk apapun kita harus memberikan perhatian kepada mereka (anak-anak, red).
Bertempat di masjid Al-Maulana di bilangan Benteng Kayu Mangiwang Kecamatan Tobadak Kabupaten Mamuju Tengah, workshop parenting yang dihadiri puluhan peserta ini berlangsung hangat.
Menurut Ahmad Nur Fadli, S.Pd.I ketua panitia yang juga kepala departemen pendidikan di Hidayatullah Mamuju Tengah ini, acara yang baru pertama kali ada di kabupaten ini sangat diminati. Sebagaimana latar belakang diadakannya acara ini banyaknya pertanyaan majelis taklim seputar kepengasuhan anak.
“Jamaah di beberapa kecamatan dan desa banyak menanyakan tentang kepengasuhan anak yang Islami meski materi yang disampaikan sedang membahas aqidah dan yang lainnya,” papar Muhammad Bashori menguatkan ketua panitia dalam sambutannya.
Bekerja sama dengan pemerintah kabupaten Mamuju Tengah, workshop parenting untuk pertama kalinya diadakan ini mendapatkan respon baik.
Hanya saja waktu pelaksanaannya bukan pada hari libur, praktis para pegiat pendidikan anak khususnya lembaga formal di sekolah-sekolah menyayangkan karena tidak bisa hadir mengikutinya.
Beruntung bagi peserta asal kecamatan Karossa, meski latar belakang kesibukan yang berbeda mereka berhasil menyewa bus sekolah. Dengan menghabiskan perjalanan selama hampir dua jam dan banyaknya tikungan di jalur pegunungannya bisa mengaduk-aduk isi perut.
“Materinya bagus sekali, persis seperti yang dibutuhkan para pendidik anak,” ungkap Parti ketua rombongan Majelis Taklim Karossa, puas.
Sementara itu, menyikapi kejadian percobaan bunuh diri delapan kasus dan enam kasus tidak tertolong lagi oleh usia kanak-kanak di wilayah Mamuju, sebagaimana penyampaian Asisten II Drs. Eman Hermawan dalam sambutan pembukaan.
Mewakili Bupati Mamuju Tengah, Drs. Eman Hemawan menjelaskan pentingnya anak-anak dipilhkan sekolah yang mampu mengantar kepada pemahaman agamanya yang benar.
“Yang terpenting supaya anak memiliki pemahaman Islam yang baik selain bisa sekolah di sekolah-sekolah Islam,” tandasnya. (bash/hio)
Rusun Asrama Putri saat masih dalam tahap pembangunan / YBH
Hidayatullah.or.id -– Pihak Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan, didampingi oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah melakukan pertemuan dengan Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera). Pertemuan itu terkait dengan bantuan bangunan Rumah Susun (Rusun) untuk asrama yang ditempati santri putri di kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah, Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur yang telah mengalami kerusakan.
Sebelumnya Ketua DPRD Balikpapan H Andi Burhanuddin Solong, telah meminta kepada Komisi III DPRD Balikpapan agar segera bertemu dengan Kemenpera untuk melaporkan kerusakan Rusun Ponpes Hidayattullah yang ditempati santri putri ini.
Pihak yayasan didampingi Dewan melaporkan kepada Kemenpera bahwa banyak ditemukan kejanggalan dalam pembangunan rusun ini, seperti kondisi plafon, jaringan instalasi listrik, toilet hingga kualitas plester dinding.
“Kondisi begini sangat bahaya sekali dan harus segera disikapi. Nanti Komisi III akan ke Kemenpera minta penjelasan dan pertanggungjawaban seperti apa. Karena fasilitas ini belum diserahkan ke kita (Pemkot),” aku ABS saapan akrab Andi Burhanuddin Solong dikutip Balikpapan Pos belum lama ini.
Sementara itu, Pengurus Santri Putri Ponpres Hidayatullah Ustadzah Mastuha mengatakan, sejak jaringan instalasi listrik terjadi rembesan air kamar mandi maka para santri ini takut untuk menggunakan kamar mandi.
“Anak-anak santri takut menggunkan toilet karena kena listrik dari rembesan air,” beber Mastuha.
Asrama putri Hidayatulah ini mampu menampung 300 santri wanita dari berbagai daerah. Rumah pondok putri ini berbentuk persegi panjang dan dibangun sejak 2012 oleh Kemenpera. Hingga kini belum diserahterimakan kepada Pemkot.
Sementara itu Kepala Kampus Hidayatullah Gunung Tembak, H. Sugiono, kepada media ini dalam kesempatan ke Jakarta usai bertemu pihak Kemenpera mengatakan pihaknya telah melaporkan kondisi rusun tersebut ke Kemenpera untuk selanjutnya bisa segera ditindaklanjuti.
“Kami menemukan banyak kerusakan dini pada bangunan ini. Sehingga kami menganggap ini harus segera dilaporkan kepada pihak-pihak terkait. Alhamdulillah, dewan Balikpapan siap mendampingi kami,” katanya.
Sekedar diketahui, pembangunan Rusun bantuan Kemenpera ini sepenuhnya dipegang oleh pihak yang ditunjuk langsung oleh Kemenpera tanpa melibatkan sedikitpun pihak yayasan. Sehingga diduga keras ada ketidakberesan. (hio/ybh)
Menyeberangi sungai Benggaulu menggunakan rakit yang terhubung dengan katrol pada kawat besar merupakan satu skill tersendiri / BASHORI
Hidayatullah.or.id — Rakit itu terbuat dari potongan drum yang dibentuk seperti perahu berukuran panjang tiga meter lebar sekitar tujuh puluh sentimeter. Dua buah perahu itu berukuran sama digabung dengan meletakkan gladak papan kayu seluas 2 x 3 meter di atasnya.
Menyeberangi sungai Benggaulu menggunakan rakit yang terhubung dengan katrol pada kawat besar merupakan satu skill tersendiri. Dengan memainkan posisi rakit, arus sungai secara otomatis akan mengantar penumpang rakit menyeberangi sungai seluas seratus meter ini. Kemudian mengikatnya pada tempat yang sudah disediakan di tepian.
Masalah besar bagi mereka yang tidak pernah menyeberang dengan alat transportasi sederhana ini, biasanya kalau bukan rakitnya diam karena tidak mendapatkan tekanan arus atau akan menyeberang dengan laju yang tidak beraturan dan tenggelam.
Alat ini sangat vital keberadaannya bagi warga Dusun Tobajo yang mendiami hamparan sisi barat hutan lidung Mamuju Utara ini.
Terdapat sebuah taman kanak-kanak di dusun dalam wilayah Desa Bulubonggu, Kecamatan Dapurang, ini sedangkan mereka yang sudah duduk di bangku sekolah dasar dan menengah harus puas dengan lalu-lalang menyeberangi sungai dengan rakitnya.
Seluruh warganya berprofesi sebagai petani sawit dan kakao, beberapa masih memilih menanam kopi dan tanaman jangka pendek seperti jagung.
Dua buah masjid di sini cukup untuk mereka melakukan shalat berjamaah sekali dalam sepekan, yakni shalat Jumat. Posisi Tobajo masih terpencil dari keramaian faktor utamanya adalah keberadaan jembatan yang sejak dibukanya dusun ini tahun 1995 belum pernah ada.
Otomatis untuk memaasarkan hasil panenan mereka membutuhkan biaya tambahan dengan menyewa pembonceng dan menyeberangkan hingga ke desa Bulubonggu.
Dengan kondisi demikian menjadi dinamika yang menarik karena warga dusun yang rata-rata berasal dari daerah Palopo, Sulawesi Selatan ini tidak menyurutkan untuk membentuk pengajian rutin di dusunnya.
Diakui Bahar Samaila, imam masjid Al-Mukarromah Dusun Tobajo yang juga beprofesi petani ini, ia dan jamaahnya banyak mendapat pencerahan sejak sering masuknya dai-dai Hidayatullah Bulubonggu menggencarkan dakwah ke Tobajo sejak awal 2009 silam.
Sedikitnya 60 anggota majelis taklim rutin menghadiri pengajian bulanan setiap tanggal 22. Jumlah ini menurut kepala dusun Tobajo, Ahmad Amir, masih sangat sedikit dibandingkan 79 kepala keluarga warganya dan semuanya muslim.
“Kami senang ada kegiatan taklim di dusun ini, sangat bermakna dalam kehidupan kami di sini dan (taklim) inilah menjadi bekal kami yang sebenarnya” sahutnya antusias.
“Alhamdulillah, dengan Qur’an dari YAWASH (Yayasan Waqaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah) ini ada alat untuk kami lebih dekat dengan jamaah di sana,” ungkap ustadz Marsuki Darusman dai yang juga pengasuh di Hidayatullah Bulubonggu ini.
Marsuki menjelaskan, kalau dirinya menginginkan suatu saat sambil membawakan materi ceramah ada sesuatu yang bisa dibagi kepada jamaahnya di Tobajo.
Keruan saja, bagi dai yang dulunya berprofesi sebagai karyawan di perkebunan kelapa sawit ini membagikan al-Qur’an dari Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah adalah bekah tersendiri.
______________________
Laporan Muhammad Bashori, reporter Hidayatullah.or.id di Sulawesi Barat
Pelatihan Grand MBA di Bantaeng / IRFAN JAHJAKegiatan Grand MBA di Pangkep yang umumnya diikuti oleh muslimah / PWSLSLPeserta memadati ruang acara pelatihan Grand MBA di Soppeng / IRFAN JAHJA
Hidayatullah.or.id — Besarnya pengaruh gaya hidup modern yang serba instan dan praktis, dinilai ikut membuat orang malas untuk berlama-lama dalam belajar Al-Qur’an. Fenomena ini misalnya dapat dilihat dengan maraknya metode baca Qur’an dalam bentuk digital yang tak lagi mengharuskan ada temu sekemuka antara guru dengan murid.
Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para dai dan guru mengaji yang bertugas di daerah perkotaan. Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah strategis untuk mempersiapkan tenaga-tenaga pengajar al-Qur’an yang kreatif, yang siap memberikan jawaban terhadap problematika umat Islam dewasa ini.
Untuk menunjang hal tersebut, Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah Sulawesi Selatan dibawah koordinasi Departemen Dakwah mengadakan upgrading kompetensi dengan menggelar acara pelatihan guru mengaji metode “GranD MBA -SISTEM 8 JAM”.
Acara yang mendaulat Kepala Departemen Dakwah PW Hidayatullah Sulawesi Selatan Ustadz Bachtiar Aras selaku “Master Traineer” ini diadakan di 3 kabupaten.
Pada Tanggal 02 Maret 2014, acara ini dihelat di Kabupaten Soppeng, bekerjasama dengan BKPRMI Kecamatan Lilirilau bertempat di wisata Water Boom Salaonro. Pelatihan ini dihadiri sedikitnya 200 guru ngaji dari 3 kecamatan berbeda.
Pelatihan yang juga dihadiri oleh Pembina Hidayatullah Sulawesi Selatan Ustadz Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar ini kemudian dilanjutkan ke Kabupaten Pangkajene Kepulauan empat hari kemudian, tepatnya pada Tanggal 06 Maret 2014 di Wisma Terminal Baru Kabupaten Pangkep.
“Kegiatan ini dihadiri sekitar 300 orang peserta yang kemudian pulang dengan membawa sertifikat pelatihan yang langsung dibagikan setelah acara ditutup,” jelas Humas PW Hidayatullah SUlsel, Irfan Yahya, kepada media ini ditulis Jum’at, (28/03/2014).
Selanjutnya Tim PW Hidayatullah Sulawesi Selatan bergerak ke selatan menuju Kabupaten Bantaeng. Daerah yang bergelar “Butta Toa” yang dalam bahasa setempat berarti “Tanah Tua” ini kini mendapat giliran, tepatnya pada Tanggal 13 Maret 2014. “Pelatihan Guru Mengaji ; GranD MBA -SISTEM 8 JAM” kembali dihelat di Gedung Balai Kartini Bantaeng.
Asisten III Pemkab Bantaeng Maulana Akil yang hadir membuka acara tersebut menyampaikan ungkapan terima kasih di hadapan 150 guru mengaji mewakili pemerintah daerah kepada Hidayatullah yang bersedia menggelar kegiatan yang menurutnya sangat penting dan bermanfaat. Hal itu kemudian dibuktikan dengan kesiapan Akil menjadi peserta pelatihan dan sekaligus menutup acara.
Tentang Grand MBA
Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) adalah merupakan program nasional Hidayatullah sebagai metode pilihan pembelajaran Al Qur’an secara tuntas dan sistematis.
Instruktur Nasional Grand MBA Pusat, Ustadz Muhdi Muhammad, mengatakan program pembelajaran Al Qur’an metode Grand MBA ditawarkan kepada masyarakat semata-mata ingin memberikan support dan menemani masyarakat belajar Al Qur’an secara tuntas sesuai dengan tahapan-tahapannya mulai dari terbata-bata tidak bisa sama sekali sampai pada tahapan tartil.
Itulah mengapa, kata dia, metode Grand MBA adalah metode yang mengharuskan peserta belajar, mengkaji, mentadabburi Al Qur’an sampai mati. Sebab sejatinya seorang Muslim mesti mengazzamkan selalu untuk hidup bersama Al Qur’an karena inilah hudan dan bayan.
“Secara sederhana, tahapan belajar Qur’an itu adalah memulai dengan terbata-bata atau mutata’ti’, mempelajari makhraj dan shifat, mengetahui kaidah tajwid, memahami tata bahasa, memahami dan merasakan balaghah, dan terakhir hakikat tartil,” kata Muhdi.
Setelah sampai pada tahapan terakhir yaitu tartil, peserta akan dibina dalam halaqah atau majelis-majelis taklim yang dibangun Grand MBA bekerjasama dengan masjid-masjid yang intinya mempelajari 5 T yaitu tilawah atau membaca dengan tartil, tahfidz (menghafal sebanyak mungkin), tafaqquh (memahami dengan benar), tathbiq (mempraktikkan dalam kehidupan), dan tabligh (menyampaikan kepada orang lain).
“Inilah yang ditawarkan Grand MBA kepada masyarakat,” kata Muhdi.
Dalam tahapan belajar metode Grand MBA, Muhdi menjelaskan, untuk tahap pertama yaitu mengenal makhrajul huruf dan shifat sampai kaidah tajwid menggunakan buku Grand MBA Jilid I dan II dalam paket Bimbingan Tajwid dan Tahsin Al Qur’an. Sementara untuk pelajaran tata bahasa dan maknanya di buku paket Terampil Menerjemah Al Qur’an dengan isi 6 jilid.
Grand MBA juga punya metode cepat belajar Al Qur’a dengan judul buku paket Grand MBA: Cara Cepat Belajar Membaca Al Qur’an dengan metode 8 jam dengan durasi 1 jam setiap pertemuan.
“Tapi harus dipahami, metode cepat ini hanya sekedar mengenal huruf dan membaca, selebihnya harus belajar dengan membutuhkan waktu yang cukup lama. Karena dalam beberapa hal ada ilmu yang tidak bisa dipelajari secara instan atau otodidak seperti Al Qur’an,” jelas UstazMuhdi.
Menurut Muhdi, maraknya metode pembelajaran Qur’an dengan metode cepat salah satunya dipengaruhi oleh budaya masyarakat yang mau serba cepat, terutama Ini akibat dari pola hidup atau pola pikir yang sebetulnya dipengaruhi oleh materialisme.
“Jadi, ketika orang menawarkan sesuatu, itu langsung, berapa kali pertemuan, berapa harganya, berapa lama, ditanya langsung bisa nggak. Begitu,” ujarnya.
Belajar dari fenomena tersebut, para dai dan guru ngaji juga ingin mensiasati kondisi masyarakat yang demikian tadi. Maka mereka juga ingin melakukan pendekatan bagaimana metode pembelajaran Al Qur’an itu mereka bisa diterima.
“Metode pembelajaran Al Quran cepat sebenarnya hanya sebagai tahap awal agar masyarakat bisa lebih mengenal Quran lebih dekat, bisa timbul rasa suka, rasa cinta, terhadap Qur’an. Sehingga mereka meneruskan pelajaran Al Qur’an sampai mencapai target yang ideal,” kata pria lulusan LIPIA Jakarta ini.
Ia menjelaskan bahwa metode cepat membaca Qur’an itu yang ditawarkan saat ini sepenuhnya masih parsial. Sebab Al Qur’an itu bukan hanya membaca, tapi ada tahapan-tahapan pembelajaran yang harus diikuti dengan baik.
Al Qur’an memang bahasa Arab tetapi memiliki cara membaca yang khusus yang berbeda dengan bahasa Arab pada umumnya. Yang membedakan adalah kaidah tajwid. Yaitu tentang bagaimana cara mengucapkan huruf huruf hijaiyah dengan benar sesuai dengan makhraj dan shifatnya.
Kemudian selanjutnya, jelas Muhdi, mempelajari makna dan tata bahasa Al Qur’an dari setiap ayat dan bagaimana cara mengamalkannya.
Tidak cukup sampai di situ, kalau mau jadi ulama dan ingin memahami betul-betul Al Qur’an maka seseorang harus mempelajari apa yang disebut dengan ilmu keindahan bahasa atau dalam bahasa Arab disebut ilmu Balaghah. Balaghah adalah ilmu untuk merasakan keindahan bahasa dan kedalaman makna Al Qur’an.
“Jadi Al Qur’an itu sangat indah dan maknanya sangat dalam. Kemudian barulah dia akan sampai pada hakikat tartil. Hakikat tartil itu adalah keselaran antara lisan yang fasih, hati yang penuh iman dan akal yang mengambil pelajaran serta fisik yang ingin segera mengamalkan Al Qur’an,” tandasnya.(ybh/hio)
Hidayatullah.or.id — Pimpinan Daerah (PD) Hidayatullah Bone bekerjasama dengan Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah Sulawesi Selatan mengadakan “Daurah Murabbi Ula” yang dilaksanakan di Kawasan Wisata Tanjung Pallette Kabupaten Bone, belum lama ini (21 – 24/04/2014).
Kegiatan yang juga didukung Hidayatullah Training Center (HiTC) Pusat ini mengangkat tema “Mencetak Pemimpin, Membangun Kultur Jamaah”. Acara yang mendatangkan instruktur dari Jakarta seperti, Ustadz Ahkam Sumadiana, Ustadz Hanifullah Hannan dan instruktur nasional Grand MBA Ustadz Muhammad ini diikuti oleh puluhan peserta yang merupakan utusan dari kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.
Harapannya setelah mengikuti daurah ini, para murabbi dapat memaksimalkan seluruh potensi dan menjadi motor gerakan dari kultur dakwah dan tarbiyah yang ingin dibangun oleh Hidayatullah melalui halaqoh. (mass/hio)
Hidayatullah.or.id — Sudah menjadi pemandangan umum shalat berjamaah di Masjid Ar-Riyadh Kampus Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, selalu ramai dipadati baik oleh santri, pengasuh, maupun warga. Tak terkecuali waktu shubuh. Parkir kendaraan khususunya roda dua (motor) pun kerap meluber di halaman masjid.
Namun ternyata, tidak sedikit warga yang merasa khawatir soal kendaraan motor mereka yang langsung di-starter tanpa dipanasi (warm) terlebih dahulu khususnya waktu sholat shubuh. Sekedar diketahui, jarak sebagian rumah warga dengan masjid memang terbilang jauh, bahkan ada yang hingga berkilo-kilo.
“Kan sayang juga kalau ada kegiatan ta’lim shubuh baru tidak ikut. Jadi walaupun jauh jarkanya, tetap diusakakan sholat shubuh di sini,” aku salah seorang warga kepada media ini, belum lama ini.
Lalu, amankah motor kita apabila dikendarai pada pagi atau subuh dini hari tanpa dipasankan terlebih dahulu?. Nah, Anda yang suka memanaskan mesin motor atau mobil di pagi hari sebaiknya meninggalkan cara lama ini. Sebab, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bakal semakin boros.
Menurut pakar dari ITB, saat ini mesin kendaraan baik itu roda empat dan roda dua sudah didesain dengan baik sehingga mesin tidak perlu lagi dipanaskan.
“Jangan memanaskan mesin sebelum pergi. Itu emisinya tinggi,” kata Peneliti dan Dosen Laboratorium Motor Bakar dan Sistem Propulsi Institut Teknologi Bandung (ITB) Tri Yuswidjajanto di sela-sela acara Diskusi Sepeda Motor ITB-Yamaha di Lapi, ITB, Bandung, Jabar, seperti dikutip DetikOto, belum lama ini (3/2/2014).
Pria yang akrab disapa Yus ini menjelaskan sebaiknya pengguna kendaraan meninggalkan cara yang kuno ini. Menurutnya, pengendara cukup menyalakan mesin dan langsung jalan. Dia menjelaskan cara ini lebih baik dan hemat BBM.
“Artinya kalau bahan bakar dibakar banyak, emisinya tinggi. Cukup masuk mobil atau naik motor dan starter, langsung pergi,” ucapnya.
Yus menambahkan kendati langsung jalan tapi tidak serta merta langsung memacu kendaraan. Pengguna mobil ataupun motor harus pelan-pelan sampai indikator mesin naik pada suhu normal.
Masih menurut Yus, cara ini sudah diadopsi oleh masyarakat Amerika dan Eropa. Pengetahuan berkendara seperti ini sudah sangat melekat untuk menekam konsumsi BBM.
“Tapi jangan langsung ngebut. Pelan-pelan dulu, tunggu sampai indikator mesin sampai titik normal,” pungkasnya. (hi/ikh/ddn)
Ketum PP Hidayatullah Dr Abdul Mannan berbincang dengan pendiri Klinik Rastura Indonesia Prof Muhammad SudjanaSeminar nasional bertajuk agromedicine
Hidayatullah.or.id — Ormas Hidayatullah menyatakan sangat mengapresiasi upaya terus bertumbuhnya pengobatan herbal atau Thibbun Nabawi dan siap menjadi fasilitator pengembangan perubatan Islami ini.
Demikian dikatakan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Dr Abdul Mannan, MM, saat menjadi pembicara dalam seminar nasional bertema “Membangun Ekonomi Kerakyatan Berbasis Potensi Agromedicine” digelar Yayasan Rastura Indonesia di Bekasi, Jawa Barat, Ahad (23/03) lalu.
Hidayatullah, tegas Abdul, akan selalu menjadi fasilitator dan pendukung perkembangan pengobatan herbal di Indonesia umumnya.
Manan menjelaskan ribuan jenis tanaman obat ada di Indonesia. Fakta merupakan anugrah sehingga dirinya yakin jika ini dapat dikembangkan akan menjadi salah satu sumber kemajuan bangsa terutama dalam bidang ekonomi kerakyatan.
“Banyak pebisnis menanamkan modal di pengobatan agromedicine sehingga apapun hasilnya dan efeknya akan terus didorong. Sehingga harus dimulai adanya pengelolaan rempah herbal dengan cara yang modern guna mendorong perkembangan pengobatan herbal,” kata Abdul.
Sementara itu, Prof Muhammad Sudjana seorang praktisi herbal, pakar diabetes serta pendiri Yayasan Rastura, mengatakan pada abad ke 21 mulai berkembang pengobatan melalui herbal atau rempah. Hal ini terjadi menurutnya karena pengobatan secara medicine akan berimbas pada penyakit baru.
Menurutnya, One village One Production (OVOP) merupakan salah satu strategi dari pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang menggali potensi kemandirian dari pengembangan ekonomi rakyat melalui pemberdayaan dan pengembangan ekonomi strategis dalam pengelolaan sumber daya alam agraria secara adil dan berkelanjutan.
“Pengembangan ekonomi kerakyatan berlandaskan pada alat produksi. Faktor produksi tetap berada pada penguasaan kontrol dan pengelolaan rakyat,” ujar Profesor Sudjana.
Mengamini pendapat Abdul Mannan, Sudjana memandang bahwa peluang produksi dan industri pasar herbal di Indonesia mulai di lirik banyak pebisnis. Pemerintah diwakili Departemen Kesehatan juga nampaknya sudah memberi perhatian yang serius dengan menerbitkan Peraturan Nomor 006 Tahun 2012 tentang bisnis obat tradisional dan Industri.
Selain itu, menurut Ketua Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia, ini potensi pasar domestik akan produk herbal bisa mencapai Rp.25 triliun per-tahunnya. Sedangkan berdasarkan data Kementerian Perdagangan, nilai impor obat tradisional dan herbal sepanjang tahun 2011, tercatat USD,40,5 juta.
“Indonesia mengimpor 60 persen dari obat-obatan herbal dan ektrak dari negara lain seperti China dan India,” beber Sudjana.
Seminar yang dihadiri ratusan praktisi dan pebisnis ini digelar oleh Klinik Diabetes Rastura Indonesia yang berdiri sejak tahun 2004 oleh Prof. Ir. Mochammad Sudjana Phd atau yang dikenal Kang Jana.
Klinik itu mulai berkembang sejak tahun 2006 sampai sekarang aktif dalam memberikan pelayanan pengobatan herbal dan terapi diabetes. Klinik tersebut menangani ribuan pasien penderita diabetes dari seluruh dunia.
Pada awal 2011 pemimpin Klinik Diabetes Rastura, Mochammad Sudjana, mendapatkan tugas ke Genewa, Swiss, untuk program belajar dan mengajar di lingkungan WHO (World Health Organization) PBB hingga awal 2013.
Klinik Diabetes Rastura dan komplikasinya menjadai pusat terapi dan pengobatan diabetes dengan menggunakan ekstrak buah Kesemek yang menjadi unggulan dan andalan untuk pengobatan diabetes dalam bentuk OP2PNC1 dan super Bio Colagen. (ybh/hio)