Beranda blog Halaman 673

Pesantren Harus Mendukung Santrinya Aktif Menulis

Kru Majalah Hidayatullah saat mengisi kegiatan Madrasa Jurnalistik di Brebes / SKR
Kru Majalah Hidayatullah saat mengisi kegiatan Madrasa Jurnalistik di Brebes / SKR

Hidayatullah.or.id — Banyak cara untuk jadi wartawan atau penulis, termasuk bagi para santri. Salah satunya seperti yang diungkapkan Pemimpin Redaksi (Pemred) Kelompok Media Hidayatullah (KMH) Mahladi. Mau tahu?

Mahladi mengungkap, setiap pesantren sebaiknya membuat situs internet (website) internal. Lalu menggalakkan tulis-menulis di kalangan santri dan ustadz. Tulisan mereka nantinya ditayangkan di website tersebut.

Pesan ini disampaikannya saat mengunjungi Yayasan An-Nasr Hidayatullah Brebes, Desa Kalibuntu, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Kamis (22/05/2014).

Selain itu, ungkap Mahladi, pesantren juga perlu menerbitkan media cetak seperti buletin. Atau memanfaatkan jejaring sosial seperti Facebook.

“Kita perlu media untuk mempublikasikan tulisan kita. Kita kalau sudah menulis, kalau tidak ada media biasanya cepat bosan (menulis),” ujarnya, sebagai pengisi pelatihan jurnalistik yang diikuti puluhan santri se-Cirebon (Jawa Barat), Brebes, dan Tegal.

Kemudian, untuk semakin membuka peluang jadi wartawan, Mahladi berpesan, penulis harus rajin mengirim tulisannya ke media massa.

Semua itu harus dimulai dengan langkah awal, yaitu menumbuhkan minat menulis, kata Mahladi. Hal ini, menurutnya, perlu agak dipaksakan.

Lalu, langkah selanjutnya, “Adakan pelatihan jurnalistik untuk semua warga sekampus (pesantren),” ujarnya.

Jika rangkaian itu telah dilalui, dia meyakini akan lahir penulis-penulis pilihan. Orang pilihan itulah yang diyakininya kelak bisa dilirik media massa untuk dijadikan koresponden di daerah.

“Kalau sudah jadi koresponden, akan terkait reportase. Itulah jurnalistik,” ujarnya.

-Dakwah Bil Qalam-

Mahladi menjelaskan, tulis-menulis sangat berperan dalam dakwah pesantren. Sebab dakwah bisa lewat tulisan, disebut “dakwah bil qalam (dengan pena)”. Para dai pun disarankan agar pandai menulis.

“Selain berkomunikasi (kepada umat) secara lisan di atas mimbar, tapi juga berkomunikasi di atas kertas,” jelasnya, seraya menambahkan bahwa pengaruh tulisan di media luar biasa.

“Dakwah itu mengajak, dakwah lewat tulisan juga begitu. Mengajak orang lewat tulisan. Sangat erat sebenarnya dakwah dengan tulisan,” lanjutnya.

Mahladi menjelaskan, dakwah bertujuan mempengaruhi orang lain. Maka tujuan dakwah dengan tulisan juga begitu.

Bagaimana cara mempengaruhi orang lewat tulisan? Menurut Mahladi, sebuah tulisan harus berbobot informasinya dan menarik susunan tata bahasanya.

Hal senada disampaikan Pembicara lainnya, Dadang Kusmayadi, Pemred majalah Suara Hidayatullah. Dia mengungkap, para ulama terdahulu banyak yang berdedikasi dengan “dakwah bil qalam”.

Bahkan, katanya, dalam penjara pun ada ulama yang tetap menulis. Disebutlah Sayyid Quthb, ahli tafsir dari Mesir sebagai contohnya.

“Dalam rangka apa (menulis)? Dalam rangka ‘amar ma’ruf nahi mungkar’,” ujarnya.

Contoh lainnya, sebut Dadang, adalah pendiri Persatuan Islam (Persis), A Hassan. Tokoh ini melawan tulisan Presiden Soekarno yang mengagumi pemikiran Mustafa Kemal Atatürk soal sekularisme di Turki. A Hasan, ujar Dadang, rajin membantah tulisan Soekarno juga dengan tulisan di media yang sama kala itu.

“Sekarang banyak komunitas penulis. Ada ibu-ibu doyan menulis, anggotanya dua ribuan yang aktif lewat email, Facebook,” pungkasnya.* (Skr Aljihad)

Pengurus Hidayatullah DIY-Jateng Ikuti Konsolidasi Rutin

Pengurus PW Hidayatullah DI Yogyakarta - Jawa Tengah, Suwahya Tommi Djanto, saat menyampaikan sambutannya / HDGK
Pengurus PW Hidayatullah DI Yogyakarta – Jawa Tengah, Suwahya Tommi Djanto, saat menyampaikan sambutannya / HDGK

Hidayatullah.or.id — Pengurus Pimpinan Daerah (PD) Hidayatullah di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah mengikuti kegiatan upgrading dan konsolidasi rutin dua bulanan selama 2 hari di Masjid Jogokariyan, Daerah Istimewa Yogyakarta, belum lama ini (10-11/05/2014).

Kegiatan yang berlangsung intensif ini diikuti oleh Pimpinan Daerah Hidayatullah se-DI Yogyakarta, PD Cilacap, PD Purworejo, PD Kebumen, PD Magelang, PD Solo, PD Karanganyar, PD Klaten, dan PD Wonogiri. Acara penuh kekerabatan ini dipandu oleh pengurus DPD Hidayatullah Kodya Yogyakarta.

Setelah pembukaan dilanjutkan sambutan shohibul bait Masjid Jogokariyan dan sambutan ketua DPW Hidayatullah DI Yogyakarta yang diwakili oleh Suwahya Tommy Janto. Pada kesempatan tersebut ketua PW Hidayatullah Ustazd Drs Budi Gunawan berhalangan hadir karena baru mendapatkan ujian dari Allah Ta’ala dan sedang dirawat di Rumah Sakit PKU Yogyakarta.

Selesai sambutan dilanjutkan tausiah oleh ustazd Fathurrohman dari Yayasan Pondok Pesantren Pesantren Al-Kahfi Hidayatullah Solo. Dalam tausiahnya Fathurrohman menekankan para kader untukk terus membangun budaya kerja yang dilandasi dengan pengabdian kepada Allah.

“Setiap amal dan perbuatan harus dilandasi dengan etos kerja Ilahiyah yaitu semata-mata karena Allah, ikhlas, dan ittiba’,” kata Ustadz Fathurrohamn mengingatkan.

Fathurrahman mengimbuhkan bahwa pengabdian Hidayatullah di masyarakat dalam bidang dakwah, pendidikan, dan sosial harus selalu melakukan revitalisasi program yang bersenyawa dengan akulturasi lokal di mana Hidayatullah berada agar senantiasa sejalan dengan kebutuhan umat dimasa yang akan datang.

Selain itu, beliau menyampaikan bahwa memegang agama di akhir zaman memang berat ibarat seperti memegang bara api. Bila dipegang panas tetapi bila dilepaskan bara api itu akan mati. Untuk itu, kata dia, segenap pengurus Hidayatullah agar terus meningkatkan kualitas Ibadahnya agar pertolongnya Allah selalu menyertainya.

Selesai tausiah para peserta istirahat dan pagi dini hari dilanjutkan shalat Lail berjama’ah yang diimami oleh ustazd Fathurrohman yang dilanjutkan sholat Subuh.

Selesai sholat Subuh pengurus Masjid Jogokaryan meminta kepada pengurus Hidayatullah agar mengisi Kultum pagi. Ustazd Suwahya Tommi Djanto akhirnya mewakili Hidayatullah menyampaikan kultum yang didahului pengantar pengenalan Hidayatullah kepada para jamaah sholat Subuh.

Selesai sholat Subuh para peserta kembali ke ruang pertemuan untuk melanjutkan acara konsolidasi pengurus. Ustazd Muhammad Sukamto, Ustadz Slamet dan pengurus pimpinan daerah lainnya menyampaikan beberapa program dan evaluasi program kepada para peserta. Setelah konsolidasi pengurus dan MCK pagi dilanjutkan materi Mudzakaroh yang disampaikan oleh ustazd Syakir. (ybh/hio)

“Saya Panggil Sampeyan Melalui Shalat Tahajjud”

Oleh Alimin Mukhtar*
Oleh Alimin Mukhtar*

SUATU KALI, beberapa tahun silam, ustadz-ustadz di Hidayatullah Malang bersilaturrahim ke rumah Mister Kalend di Kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur.

Beliau yang nama aslinya Kaelani itu merupakan pionir di sana, dan beliau membagi kiat-kiatnya kepada kami tentang bagaimana merintis suatu amal yang kemudian menasional bahkan mendunia. Saat itu kami masih mengawali perintisan Sekolah Ar-Rohmah Putri.

Kami memang biasa bersama-sama mengunjungi para tokoh di mana-mana untuk banyak belajar dan membangun jaringan, dan ini sudah lazim di lingkungan Hidayatullah. Saya kebetulan tidak ikut ketika itu dan cerita ini saya dapat dari Ustadz Zaenal Mustofa. Saya share di sini, semoga ada manfaatnya.

Banyak hal yang kami tanyakan dan beliau pun menceritakan berbagai hal. Tapi, ada satu yang berkesan dan sangat menarik. Kata beliau: “Saya tidak pernah membuat brosur selembar pun. Saya panggil sampeyan-sampeyan ini melalui shalat tahajjud!”.

Dalam obrolan santai, diskusi, dan rapat sampai sekarang, cerita itu kerap muncul kembali. Dan, itu pasti mengingatkan pada “ilmu lama” yang diajarkan Ustadz Abdullah Said kepada kita semua, yang pada dasarnya adalah tuntunan Allah kepada Nabi-Nya di awal-awal dakwahnya, yang terangkum dalam surah al-Muzzammil.

Bila saya refleksikan pada diri saya sendiri, sampai sekarang saya masih belum betul-betul paham bagaimana caranya saya kemudian bisa sampai ke Hidayatullah Surabaya.

Info yang saya terima ketika itu samar-samar, tapi saya kok bisa yakin dan percaya. Entah bagaimana juga ayah-ibu saya yang semula meminta saya mondok di Lirboyo Kediri bisa merestui saya masuk Kampus Kejawan.

Saya juga heran karena di angkatan saya jumlah mahasiswa barunya sekitar 60 orang, lebih malah; meski yang bertahan sampai wisuda hanya 26 orang. Entah bagaimana mereka masing-masing bisa sampai ke kampus di balik kuburan di tengah rawa di pinggiran Surabaya itu. Mereka pasti punya kisahnya masing-masing.

Asramanya pun jelek ketika itu. Kami menyebutnya bivak; sebuah bangunan kayu knock-down dua lantai yang berlantai plester dilapisi perlak plastik. Yang lantai atas berlantai multiplek dengan perlak juga, yang terdengar glodak-gloduk dari lantai bawah jika ada yang berjalan di atas.

Airnya sulit, dan itu pun payau (setengah asin). Yang susah adalah jika harus bersih-bersih saat malam karena air terkadang samasekali tidak mengalir dan bak mandi pun kosong. Terpaksa menunggu, atau –jika ada duit– mandi di tandon kampung sebelah. Tapi, asal tahu saja, mandi air tawar itu kemewahan bagi kami saat itu. Tidak setiap hari, tentu saja; sehingga rambut kami kebanyakan agak kemerah-merahan seperti rambut jagung.

Soal nyamuk dan panas, jangan tanya. Masih ada banyak kera di pohon-pohon belakang bivak selatan yang saat ini jadi ruang makan/dapur itu. Kadang kera-kera itu mencuri makanan atau memberantaki dapur kami sehingga yang kebagian piket pasti sewot.

Kelasnya? Ah, jadi malu menceritakannya. Dulu, menempati ruang setengah jadi di balik mihrab masjid yang sekarang dipakai perpustakaan. Tapi, dulu belum ada dinding penutup terpaan angin dan hujan, tembok timur (bagian dari masjid) belum dipelur rapi, belum dicat, belum dikeramik juga. Kursinya pun seadanya.

Gedung tiga lantai di depan itu, belum jadi. Baru selesai pondasi dan pengecoran dak lantai dua. Kami masih ikut kerjabakti melepas bagasting, angkut pasir, menyerok koral, mengaduk semen, ditemani gorengan Cak Li yang kadang dibeli dari uang hasil menjual paku-paku bekas bagasting corcoran.

Kondisi lahiriahnya memprihatinkan. Tapi, kok banyak juga yang datang dan berminat? Banyak juga yang tetap bertahan, walau banyak pula yang berguguran. Saya tetap merasa takjub sampai sekarang. Entah bagaimana saya bisa sampai ke sana dan mengapa tetap bertahan meski keadaannya tidak nyaman dari sègi fasilitas.

Sekarang, bagaimana dengan cabang-cabang dan amal-amal usaha Hidayatullah di tempat kita màsing-masing? Bangunan ada, guru banyak, fasilitas lebih bàik, manajemen lebih profesional, cetak brosur gampang, beriklan di majalah Suara Hidayatullah juga menjangkau nasional/internasional, bikin websites di internet juga murah.

Memikirkan masalah ini, saya teringat kata-kata Mister Kalend itu, juga “ilmu lama” yang diwariskan Allaahuyarham Ustadz Abdullah Said. Sepertinya, ini yang bèlum kita lakukan, atau kita abaikan, atau kita anggap tidak penting dan relevan lagi.

______________
ALIMIN MUKHTAR, Penulis adalah alumni STAIL Hidayatullah Surabaya dan saat ini pengasuh di Pondok Pesantren Hidayatullah Malang, Jawa Timur.

Hidayatullah Purwodadi Bekali Wali Murid Smart Parenting

Kegiatan smart parenting yang dihadiri orangtua murid yang bersekolah di Pesantren Hidayatullah Purwodadi / BASHORI
Kegiatan smart parenting yang dihadiri orangtua murid yang bersekolah di Pesantren Hidayatullah Purwodadi / BASHORI
Kegiatan smart parenting yang dihadiri orangtua murid yang bersekolah di Pesantren Hidayatullah Purwodadi / BASHORI
Kegiatan smart parenting yang dihadiri orangtua murid yang bersekolah di Pesantren Hidayatullah Purwodadi / BASHORI

Hidayatullah.or.id — Yayasan Amanah Pondok Pesantren Hidayatullah Purwodadi mengadakan workshop sehari bertajuk Smart Parenting dengan tema “Peran Orangtua dalam Membangun Adab Anak”berlangsung di Gedung Reptaloka Kompleks Setda Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah (18/05/2014) lalu.

Workshop berlangsung semarak ini diikuti oleh 160 calon wali murid KB-TK-SD dan SMP Integral Hidayatullah Purwodadi.

Ketua Yayasan Amanah Pesantren Hidayatullah Purwodadi, Ustadz Ahmad Tsaqif dalam sambutannya, mengatakan bahwa kegitan Smart Parenting ini merupakan kegiatan rutin digelar untuk membangun silaturrahim dan membangun kesepahaman antara orangtua dan sekolah dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Harapannya, terang dia, agar ada kesamaan persepsi dalam menangani pendidikan anak.

Sementara itu, tampil sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut yaitu pakar parenting dari Yogyakarta, Muhammad Fauzil Adhim, menjelaskan tentang bagaimana membangun kepercayaan anak terhadap orangtua sehingga mereka mampu menghormati sebagaimana orangtua terdahulu.

“Orang terdahulu sangat ditaati oleh anak-anaknya karena mereka mampu memberikan teladan yakni apa yang diucapkan sesuai dengan tindakannya di hadapan anak-anak,” imbuh Fauzil mengingatkan.

Acara yang berlangsung setengah hari ini dimoderatori oleh Achmad Bashori yang juga kepala SMP Integral Luqman al Hakim Hidayatullah Purwodadi. Peserta nampak antusias menyimak pemaparan pemateri selama 60 menit dan dilanjutkan tanya jawab 120 menit.

Pada sesi dialog tanya jawab yang berlangsung 3 sesi, para calon wali murid “berebut” curhat dan menanyakan masalah-masalah dalam pengasuhan anak. Ada yang menanyakan tentang anaknya yang malas untuk bersekolah sampai kekhawatiran anak-anak SMP yang tidak taat pada orangtua.

Lebih lanjut Fauzil Adhim dalam kesempatan tersebut, menjelaskan bahwa tanggung jawab orangtua dan pihak sekolah adalah bagaimana mampu membangun orientasi hidup anak agar bertaqwa pada Allah Ta’ala dan membangun adab mereka berdasarkan keimanan.

Pendidikan adab ini, tegas Fauzil, harus diberikan sekolah sejak 3 bulan awal anak-anak masuk sekolah dengan kontol dari orangtua. Karena saat ini dengan pengaruh media massa utamanya TV yang memasuki rumah-rumah ummat Islam sangat mempengaruhi perkembangan karakter anak-anak.

“Mereka kadang lebih mendapatkan contoh negatif dari dari idola yang mereka tonton. Sebab itu, orang tua berusaha sebaik mungkin menjadi contoh utama bagi anak-anaknya,” tandas Fauzil (Achmad Bashori, Purwodadi).

Tokoh Sorong Papua Barat Apresiasi Peran Hidayatullah

Sejumlah santri berfoto di depan masjid Komplek Kampus Pesantren Hidayatullah Serui / INT
Sejumlah santri berfoto di depan masjid Komplek Kampus Pesantren Hidayatullah Serui / INT

Hidayatullah.or.id — Tokoh masyarakat Sorong, Papua Barat, Muhammad Ja’far, mengapresiasi peran ormas dan Pesantren Hidayatullah dalam menopang pembangunan di wilayah tersebut. Hal itu dikatakan Ja’far saat membuka acara Marhalah Ula yang digelar di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Sorong, baru baru ini.

Tokoh agama yang mewakili Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sorong ini, mengungkapkan mewakili seluruh elemen umat Islam di Sorong, pihaknya mengaku bersyukur atas kehadiran Hidayatullah di berbagai titik dakwah, khususnya yang ada di Sorong.

“MUI merasa sangat terbantu dalam membina masyarakat khususnya para pemuda Islam,” kata Ja’far.

Menurut Ja’far, pemuda sebagai generasi pelanjut hendaknya menyadari peran strategisnya sebagai pelanjut risalah dakwah dan pelopor pembangunan umat dan bangsa. Tidak justru larut dalam dunia gemerlap dan tindakan sia-sia lainnya.

“Akan dibawa ke mana agama Islam ini jika pemuda-pemuda Muslim justru telah kehilangan arah duluan,” papar Ja’far menyayangkan sikap sebagian pemuda yang ada.

Dalam kesempatan yang sama, MUI Sorong juga mengingatkan pemuda Islam akan bahaya laten pemikiran liberal yang tengah berkembang di berbagai perguruan tinggi di negara ini.

Masih menurut Ja’far, virus yang bernama Jaringan Islam Liberal (JIL) tersebut benar-benar harus diwaspadai.

“Kita semua harus waspada terhadap JIL, sebab mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan logika yang baik, namun akidah mereka rusak,” terang Ja’far di hadapan puluhan peserta Daurah.

“Jika para pemuda Islam tidak dibentengi dan diselamatkan, maka alamat negara dan agama ini bisa hancur oleh ulah mereka nantinya,” lanjut Ja’far menegaskan.

Selama dua hari, para peserta antusias mengikuti seluruh rangkaian acara yang diisi secara bergantian oleh dua orang pemateri yaitu Sultan, S.Pd.I dan Sanusi,S.Pd.I. Mereka berdua tak lain adalah instruktur khusus wilayah Papua Barat sekaligus pemangku amanah di Departemen Dakwah Hidayatullah Papua Barat.

Untuk diketahui wilayah tersebut meliputi cabang Hidayatullah Manokwari, Fak-Fak, Kota Sorong, dan Kabupaten Sorong.

“Kalau boleh berharap acara semacam ini diperbanyak buat kami para pemuda. Meski tinggal di pelosok Papua, tapi kami juga punya semangat untuk berdakwah Insya Allah,” ungkap Arman Kelirey, mewakili harapan peserta Daurah marhalah Ula.

Arman Kelirey sendiri adalah putra asli Sorong yang kini duduk di bangu kelas III Madrasah Aliyah (MA) Sorong, Papua Barat. (Miftahuddin, Sorong)

Inilah Mengapa Tradisi Hidayatullah Hidup Berkampus

hidayatullah di papua
Masyarakat dan warga dalam sebuah kegiatann di Pondok Pesantren Hidayatullah Papua Barat / SELLY SETY

Hidayatullah.or.id — Kehadiran Hidayatullah dengan pola gerakan dakwah “berkampus” di seluruh penjuru nusantara tentu memiliki alasan tertentu.

Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Sudirman Ambal, salah seorang santri awal Hidayatullah Gunung Tembak yang kini berdakwah di Sorong, Papua Barat.

Kesan itu terungkap dalam sambutan Sudirman pada acara Daurah Marhalah Ula yang digelar oleh Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Papua Barat, pertengahan Mei lalu.

“Berislam itu harus dilandasi oleh dasar yang benar dan kuat. Ibarat bangunan, ia harus punya pondasi yang kokoh. Inilah alasan mengapa pola dakwah Hidayatullah harus berkampus di mana-mana. Sebab Allah memerintahkan untuk berislam secara kaffah (total),” ungkap Sudirman yang kini memangku amanah sebagai Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) Hidayatullah di Papua Barat.

Berbeda dengan kegiatan sebelumnya, acara yang bertempat di Kampus Hidayatullah Kabupaten Sorong tersebut mengkhususkan para peserta dari generasi kader pemuda. Umumnya mereka berasal dari santri dan lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) Hidayatullah se-Papua Barat.

Diharapkan, lewat kegiatan Daurah Marhalah Ula tersebut, para peserta mendapat wawasan dan bekal keilmuan Islam sebelum melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

“Peran pemuda tak dapat dinafikan dalam berdakwah. Mereka bahkan menjadi tulang punggung dakwah di masa para sahabat Nabi Muhammad,” ucap Miftahuddin, Ketua Panitia Daurah menjelaskan.

“Syababul yaum, zu’amaul ghad,” imbuh Miftahuddin mengutip sebuah pepatah Arab seraya tersenyum menutup perbincangan. (ybh/hio)

SDIT Hidayatullah Pekalongan Batasi Jumlah Pendaftar

Sejumlah murid si SDIT Hidayatullah / HDD
Sejumlah murid si SDIT Hidayatullah / HDD
Para calon murid SDIT Lukman Al-Hakim Hidayatullah Pekalongan saat mengikuti lomba menggambar / RADAR PEKALONGAN
Para calon murid SDIT Lukman Al-Hakim Hidayatullah Pekalongan saat mengikuti lomba menggambar / RADAR PEKALONGAN

Hidayatullah.or.id — Untuk memberikan alternatif pendidikan berbasis Islami kepada masyarakat, Yayasan Sabilillah Pondok Pesantren Hidayatullah Pekalongan mendirikan SDIT Lukman Al-Hakim untuk tingkat sekolah dasar atau sederajat yang berlokasi di Jalan Jenggala Kota Pekalongan, Jawa Tengah.

Pengurus yayasan setempat Saroni kepada menjelaskan, sebelumnya yayasan sudah mendirikan TK Yabunaya, dan banyak dari orang tua wali ingin kelanjutan pendidikan yang berkualitas untuk anak mereka setelah dari TK.

“Oleh karenanya dorongan dan desakan tersebut, kami mendirikan SDIT Lukman Al-Hakim sebagai pilihan prioritas pendidikan mereka,” ucapnya, beberapa saat lalu (10/5).

Sistem pendidikan yang dipakai SDIT Lukman Al Hakim Pekalongan mengacu pada kurikulum Pendidikan Nasional (Diknas) namun memiliki nilai lebih dari sekolah dasar lainnya karena juga mengaplikasikan kurikulum berbasis agama Islam.
“Kami menggunakan Kurikulum Berbasis Tauhid untuk menanamkan pemahaman agama secara utuh kepada para siswa,” lanjutnya

Saroni menambahkan, bahwa keunggulan lain dari SDIT Lukman Al-Hakim adalah pada proses penilaian.

“Jika sekolah lain menilai siswanya secara umum saja atau dipukul rata dalam satu kelas. Di SDIT Lukman Al-Hakim, penilaian siswa dilakukan secara individual, yaitu perkembangan masing-masing siswa akan dipantau secara intensif oleh pengajar,” tambahnya.

Namun sayangnya, untuk pembukaan tahun pertama, SDIT Lukman Al-Hakim hanya membuka untuk 25 siswa saja.

“Respon masyarakat sangat baik, hal ini terbukti dengan jumlah pendaftar yang berdatangan kepada kami, bahkan sebelum acara launching,” paparnya.

Saroni berharap SDIT Lukman Al-Hakim mampu berkontribusi positif bagi Kota Pekalongan.

“Semoga apa yang kami lakukan ini mampu membuat pendidikan di Kota Pekalongan menjadi semakin baik, dan dapat membentuk generasi islami yang berkualitas,” pungkasnya. (ap3/hio)

Hidayatullah dan Ormas Islam Desak Penutupan Dolly

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, menerima audiensi rombongan ormas Islam yang tergabung dalam Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) / HUMAS PEMKOT
Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, menerima audiensi rombongan ormas Islam yang tergabung dalam Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) / HUMAS PEMKOT

Hidayatullah.or.id — Upaya penutupan lokalisasi prostitusi Dolly oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, Jawa Timur, terus menuai dukungan dari publik. Kali ini Gabungan Umat Islam Bersatu (GUIB) menyatakan mendukung penuh langkah Pemkot Surabaya untuk menutup lokalisasi yang berada di Kecamatan Sawahan, Surabaya, itu.

GUIB yang merupakan gabungan dari puluhan ormas Islam itu mendatangi Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini untuk menyatakan dukungannya menutup Dolly.

Sekretaris GUIB Jatim Muhammad Yunus mengatakan, agar Pemkot Surabaya tetap memastikan penutupan Dolly pada 19 Juni mendatang.

“Kami siap apapun yang terjadi. Kami akan tetap membantu menutup Dolly,” kata pria yang juga Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim, belum lama ini (14/5/2015).

Dia menilai, langkah penutupan lokalisasi, yang konon pernah terbesar se-Asia Tenggara itu, sepenuhnya diserahkan kepada Pemkot Surabaya. “Jika gagal kami yang akan turun,” tegasnya.

Ia juga menyayangkan pernyataan Wakil Wali Kota Surabaya Wisnu Sakti Buana yang dinilai kontraproduktif dengan upaya penutupan Dolly. Salah satunya, meminta agar penutupan Dolly ini diundur tidak pada 19 Juni.

“Wawali menyatakan seolah-olah warga belum siap dengan penutupan Dolly, sementara Walikota menyatakan warga sudah siap ditutup. Ini kan kontraproduktif, kami menyatakan siap membantu penutupan Dolly,” tandasnya.

GUIB sendiri merupakan gabungan sejumlah eleman ormas islam. Setidaknya ada 58 Ormas yang tergabung dalam organisasi tersebut. Diantaranya Hidayatullah Jatim, FPI (Front Pembela Islam), Muhammadiyah, Al Irsyad, Dewan Dakwah Islamiyah (DDI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Persatuan Islam (PI), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PTI), Al Bayyinat, Forum Umat Islam (FUI) dan lain-lain. (kem/hio)

Syabab Hidayatullah Kepri Terbentuk, Zainal Arifin Ketua

Musyawarah Wilayah Pimpinan Wilayah Syabab Hidayatullah Kepulaian Riau. Muhammad Zainal Arifin diamanahkan memimpin pemuda di wilayah ini / HIDORID
Musyawarah Wilayah Pimpinan Wilayah Syabab Hidayatullah Kepulaian Riau. Muhammad Zainal Arifin diamanahkan memimpin pemuda di wilayah ini / HIDORID

Hidayatullah.or.id — Pengurus Wilayah (PW) Syabab Hidayatullah Kepulauan Riau (Kepri) resmi terbentuk dengan dipimin ketua Muhammad Zainal Arifin, S.Pd. Amanah yang diemban oleh Zainal sekaligus ketua kali pertama untuk kepengurusan Pemuda Hidayatullah di Kepri inii melalui keputusan Musyawarah Wilayah (Muswil) untuk pertama kali yang digelar pada hari Ahad (18/05/2014) kemarin.

Ketua PW Syabab Hidayatullah Kepulauan Riau periode 2014-2016 terpilih, Zainal Arifin, dalam pidato sambutannya mengatakan Syabab Hidayatullah di Kepulauan Riau akan terus berbenah, apalagi dengan usianya yang masih sangat belia. Dia menukaskan, agenda utama untuk kepengurusannya saat ini adalah konsolidasi internal meliputi tertib organisasi, administrasi, dan konseptualisasi untuk pengembangan sumber daya manusia.

“Banyak hal yang harus senantiasa diperbaiki ke dalam sambil terus membangun komunikasi keluar dengan berbagai pihak. Program utama ini sekaligus mengacu pada semangat dasar di kepengurususan tingkat pusat untuk intensif melakukan revitalisasi internal,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Pusat (PP) Syabab Hidayatullah, Naspi Arsyad, Lc yang hadir di Batam di kesempatan yang sama, mengutarakan pentingnya dedikasi dan loyalitas dalam menumbuhkembangkan Syabab Hidayatullah sebagai organisasi kepemudaan yang diharapkan menelurkan calon-calon pemimpin umat dan sebagai pelopor perbaikan di masa mendatang.

Sebagaimana kerap ia tegaskan, bahwa Syabab Hidayatullah merupakan “nyawa” daripada gerakan dakwah Hidayatullah. Hidayatullah di masa mendatang berada di pundak anak anak muda Hidayatullah hari ini. Untuk itu, harapnya, pilar-pilar pendukung organisasi kepemudaan ini khususnya sumber daya manusianya dituntut untuk senantiasa mempertajam spiritual, meningkatkan kapasitas intelektual, dan tak jemu mengasah mematangan emosional.

“Organisasi ini membutuhkan kader-kader pendobrak yang memiliki dedikasi dan loyalitas dan itu tentu saja tidak mudah. Semoga dengan penempaan spiritual dan kesadaran intelektual akan melahirkan sosok penggerak itu,” katanya.

Musyawarah Wilayah Syabab Hidayatullah Kepualaun Riau ini berlangsung di aula utama Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Batam. Adapun struktur kepengurusan Syabab Hidayatullah Kepulauan Riau Periode 2014-2016 yang telah terbentuk yaitu Ketua Zainal Arifin, Sekretaris Muhammad Maulana, Bendahara Ali Ikrom, Kepala Departemen Pengkaderan dan Dakwah dijabat Darmansyah, Departemen Organisasi oleh Muhammad Ramli, dan Ketua Departemen Hubungan Masyarakat Umar Said. (ybh/hio)

IMS Akan Didirikan Rumah Sakit Madani Hidayatullah

View rencana lokaso proyek pembangunan Rumah Sakit Madani Hidayatullah dan STIKES / MAD
View rencana lokaso proyek pembangunan Rumah Sakit Madani Hidayatullah dan STIKES / MAD

Hidayatullah.or.id — Lembaga Layanan Kesehatan Nasional Islamic Medical Service (IMS) akan mendirikan Rumah Sakit Madani Hidayatullah dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) di Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Sosialisasi kepada masyaralat atas proyek pendirian rumah sakit dan sekolah tinggi tersebut telah dilakukan beberapa waktu lalu di Cikarang berupa bakti sosial kesehatan gratis.

Sosialisasi dan bakti sosial pengobatan gratis tersebut merupakan bentuk kesyukuran IMS dilakukan kepada masyarakat khususnya masyarakat di wilayah Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi Jawa Barat, atas akan dimualinya proses pembagunan Rumah Sakit Madani dan STIKES di atas lahan seluas 1.1 Hektare.

IMS mengadakan acara bakti sosial pengobatan gratis meliputi pemeriksaan kesehatan umum, gigi, dan pemeriksaan lab yang meliputi asam urat, kolestrol, dan Gula darah.

Dalam sambutannya Direktur IMS, drg. Fathul Adhim. M,KM, mengatakan kegiatan sosial kali ini merupakan bukti komitmen IMS dalam memperhatikan kesehatan masyarakat tidak mampu dan sebagai rasa syukur atas akan dimulainya proses pambangunan klinik 24 jam dan gigi yang merupakan pembangunan Tahap 1 dari rencana pembangunan Rumah Sakit Madani Hidayatulla dan STIKES.

“Program ini merupakan tindak lanjut atas program keumatan khususnya program emergency dan pendirian klinik di nusantara serta sebagai upaya untuk mewujudkan lebih banyak layanan keummatan di bidang kesehatan lainnya di seluruh Indonesia,” kata Fathul Adhim.

Selain acara sosial pengobatan gratis, acara bakti sosial yang dirangkai dengan tasyakuran ini juga dijadikan sebagai media silaturahmi antara dewan Pengawas, Pengurus, Team medis dan juga dihadiri oleh Direktur Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Pusat, Pos Dai Hidayatullah, Muslimah Hidayatullah (Mushida) yang kesemuanya adalah sebagai lembaga mitra sinergis keumatan IMS.

Sekjen PP Hidayatullah, Ir Abu A’la Abdullah, dalam kesempatan silaturrahim dengan masyarakat tersebut menukaskan bahwa Hidayatullah sebagai organisasi masyarakat (ormas) merupakan komponen penting dalam perannya menjawab secara riil persoalan persoalan kebangsaan.

Untuk itu, jelas Abu, organisasi massa Islam Hidayatullah dituntut untuk senantiasa terlibat aktif dalam memberikan kontribusi positif baik di bidang pendidikan, sosial, dan kulturisasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Sehingga dengan kehadiran layanan keummatan yang digagas Hidayatullah dengan dukungan masyarakat seperti lembaga amil zakat, layanan kesehatan, pendidikan, dakwah, dan lainnya, diharapkan menjadi sumbangsih riil untuk mengentaskan problem kebangsaan yang tak bisa diatasi sendiri oleh negara,” jelasnya.

Acara bakti sosial ini dimulai dari jam 08.30- 13.30 WIB. Warga tampak antusias untuk mengikuti acara. Terlihat dari banyaknya masyarakat yang datang untuk menerima pelayanan kesehatan walaupun sempat diguyur hujan. Mayarakat yang memeriksakan kondisi kesehatan mereka kebanyakan mengalami penyakit ISPA, hipertensi, asam urat, alergi dan lainnya.

Salah seorang warga bernama Tini mengaku sangat terbantu dengan adanya bakti sosial semacam ini. Apalagi katanya kegiatan seperti ini sangat langka digelar di desanya. Sehingga ia berharap proyek rumah sakit yang akan dibangun ini segera terealisasi agar ia dan warga lainnya bisa mendapatkan layanan kesehatan yang murah dan berkualitas.

“Semoga pembangunan Rumah Sakit dan STIKES-nya cepat terwujud sehingga kami mudah berobat serta gatis kalau bisa,” seloroh ibu Tini mewakili warga lainnya. (ybh/hio)