Beranda blog Halaman 672

Isi Maklumat DPP Hidayatullah Tentang Pilpres 2014

hidayatullah benderaIsi Maklumat DPP Hidayatullah Tentang Pilpres 2014

Dalam menghadapi Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, Pimpinan Umum Hidayatullah perlu mengeluarkan maklumat yang hendaknya dipatuhi dan dilaksanakan secara sungguh sungguh oleh segenap kader dan jamaah Hiayatullah.

  1. Pemilihan umum, baik sebagai presiden dan wakik presiden, anggota legislatif, gubernur, dan bupati/ wali kota merupakan agenda rutin lima tahunan yang dilaksanakan bagi rakyat Indonesia. Oleh karena itu, peristiwa tersebut hendaknya disikapi secara proporsional, arif, dan tidak berlebihan.
  2. Kader dan jamaah Hidayatullah hendaknya tetap fokus menjadikan tarbiyah dan dakwah sebagai arus utama gerakan. Aktifitas politik sekecil apapun harus diarahkan untuk mendukung dan memperbesar gerakan tarbiyah dan dakwah.
  3. Hidayatullah dalam pemilihan presiden dan wakil presiden tahun 2014 bersikaf proaktif dengan menjaga jarak dan kedekatan yang sama kepada kedua calon. Hubungan silaturrahim dengan kedua calon dan pendukungnya hendaknya tetap terpelihara untuk kepentingan tarbiyah dan dakwah.
  4. Dalam menentukan pilihan, Hidayatullah memberikan kebebasan yang bertanggungjawab kepada jamaah dengan memperhatikan kaidah “Adillah Syar’iyah Ma’rifah” yang mempertimbangkan aspek maslahat dan mufsadat dari segi kepentingan tarbiyah dan dakwah.
  5. Seluruh kader dan anggota jamaah Hidayatullah hendaknya menjalin silaturrahim dan menjaga ukhuwah Islamiyah dengan organisasi massa dan pergerakan Islam.
  6. Kader dan jamaah Hidayatullah tidak boleh menggunakan atribut dan mengatasnamakan organisasi, terutama dalam soal dukung mendukung kandidat. Untuk memelihara ukhuwah Islamiyah, semua kader yang berada dlam struktur organisasi tidak boleh terlibat dalam kampanye dan menjadi tim pemenangan.
  7. Diserukan kepada seluruh kader dan anggota jamaah Hidayatullah dapat melaksanakan maklumat ini dengan segala kesungguhan, keikhlasan, dan ketaatan. Semoga Allah melimpahkan rahmat, hidayah, dan ma’unah-Nya seluruh kaum Muslimin.

Batam, 31 Mei 2014

KH Abdurrahman Muhammad

Muslimat Hidayatullah Giatkan Cinta Al Qur’an Sambut Bulan Ramadhan

Tak kurang dari 300 warga muslimah binaan Mushida menjadi peserta daurah yang kali ini  bertajuk “Tingkatkan Motivasi dan Ghirah Tilawah al-Quran Menuju Keluarga Qurani”. / MASYKUR
Tak kurang dari 300 warga muslimah binaan Mushida menjadi peserta daurah yang kali ini bertajuk “Tingkatkan Motivasi dan Ghirah Tilawah al-Quran Menuju Keluarga Qurani”. / MASYKUR

Hidayatullah.or.id — Ragam cara melampiaskan kerinduan kepada bulan Ramadhan. Layaknya seorang tamu agung, Ramadhan menjadi bulan yang paling dinanti oleh seluruh kaum muslimin. Boleh dikata, sejak beberapa bulan terakhir, segenap umat Islam di seluruh dunia sudah merasakan getaran rindu tersebut.

Boleh jadi getaran ini pulalah yang kini dirasakan oleh Pengurus Muslimah Hidayatullah (Mushida) Wilayah Khusus Gunung Tembak, Balikpapan. Untuk itu, Mushida menggelar kegiatan Daurah Tahsin al-Qur’an, beberapa waktu lalu.

Menariknya, meski Ramadhan masih berbilang puluhan hari lagi, tapi hal itu tak mengurangi antusias warga muslimah Gunung Tembak mengikuti kegiatan tersebut. Tak kurang dari 300 warga muslimah binaan Mushida menjadi peserta daurah yang kali ini bertajuk “Tingkatkan Motivasi dan Ghirah Tilawah al-Quran Menuju Keluarga Qurani”.

Bahkan, tak sedikit di antara mereka yang datang dari lokasi di luar kampus Hidayatullah Gunung Tembak.

“Alhamdulillah, saya dapat banyak ilmu dari acara daurah ini. Meski ternyata bacaan saya masih banyak yang keliru dan perlu dibetulkan,” ucap Juwairiyah (33) tersenyum. Ibu yang memiliki 4 orang anak ini mengaku rela berjalan kaki sekitar 1 km untuk mengikuti acara daurah tersebut.

Untuk mengantisipasi peserta yang membludak, acara yang digagas oleh Departemen Pengkaderan Mushida Balikpapan tersebut lalu dibagi per halaqah ummahat secara marathon selama empat pekan berturut-turut.

Selanjutnya, secara bergilir sebanyak 6 halaqah berbeda mengikuti acara Daurah Tahsin pada setiap pekan di hari Sabtu bulan Mei. Tercatat, Mushida Gunung Tembak yang dikomandani oleh Ustadzah Eming tersebut merangkul binaan warga muslimah sebanyak 24 halaqah ummahat. Biasanya, masing-masing halaqah ummahat terdiri dari 14-15 orang ibu-ibu.

Uniknya, walau peserta dibatasi sesuai pembagian halaqah ummahat yang ada, rupanya tak sedikit ibu-ibu warga yang memilih hadir dalam setiap pekannya untuk belajar. Meski demikian, hal itu tidak menjadi soal bagi panitia. Bagi panitia, yang demikian justru bisa menjadi pemicu dan teladan bagi yang lain untuk tetap semangat memperbaiki bacaan al-Qur’an.

“Kami sangat bersyukur atas respon ibu-ibu warga dalam pembelajaran ini. Hal ini jadi motivasi dan contoh yang baik dalam fastabiqul khairat menjelang bulan Ramadhan ini,” terang Siti Syamsiah Abdullah, panitia acara.

Acara yang bertempat di Gedung Serbaguna Prasmanan Hidayatullah tersebut menghadirkan Muhammad Yahya bersama istrinya, Ayu Sumayyah sebagai pemateri. Sepasang suami istri itu didaulat untuk mengisi daurah sekaligus sebagai pembina bacaan al-Qur’an warga muslimah Gunung Tembak selama ini.

Selain praktik secara langsung, para peserta juga banyak menambah ilmu tentang materi makharij al-huruf (tempat keluarnya huruf-huruf) dan sifat al-huruf (sifat-sifat huruf Hijaiyah).

“Khusus untuk kegiatan daurah ini kami menggabungkan antara teori tahsin dan praktiknya secara langsung.” Ucap Yahya menjelaskan.

Untuk itu, seluruh ibu-ibu warga secara bergantian diminta mempraktikkan langsung pelajaran yang telah disimak sebelumnya. Bahkan tak jarang beberapa ibu terpaksa harus mengulang hingga berkali-kali, jika ternyata bacaannya belum tepat dan belum dianggap lulus oleh pemateri.

“Terkadang kita asyik dengan bacaan sendiri. Rupanya jika bacaan itu diperdengarkan ke orang lain, masih banyak yang perlu dibenahi,” ungkap Ummi Salami, seorang peserta daurah. Ia mengaku harus lebih giat membaca al-Quran selama Ramadhan nanti.

“Mudah-mudahan daurah ini menjadi motivasi untuk lebih banyak tadarrus al-Quran. Sebab memang ia butuh banyak latihan dan pembiasaan,” imbuh Salami semangat.

Kini seiring waktu, bulan Ramadhan terus berjalan mendekat. Bulan yang hari-harinya sarat dengan berkah dan ampunan. Di dalamnya ada janji kemenangan yang mencerahkan. Namun semua itu tentu berpulang kepada sambutan dan persiapan serta cara orang itu menyiikapi Ramadhan.

“Kemenangan itu hak mutlak dan pemberian dari Allah. Namun seperti apa kadar kemenangan yang diberikan, itu bergantung dengan seperti apa kadar persiapan itu sendiri,” tegas Ustadz Abdurrrahman Muhammad, Pimpinan Umum Hidayatullah, di hadapan warga Gunung Tembak, beberapa waktu lalu.

Sudahkah kita telah bersiap menyambut kemenangan yang dijanjikan itu?. (Masykur)

Kopertais Apresiasi STIS Hidayatullah dalam Pengabdian Masyarakat

Sebagian peserta ujian skripsi berfoto bersama / MASYKUR
Sebagian peserta ujian skripsi berfoto bersama / MASYKUR

Hidayatullah.or.id — Ketua Kopertais XI Wilayah Kalimantan Prof. Dr. Akhmad Fauzi Aseri, M.A, menyatakan kekagumannya terhadap kontribusi Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STISHID) yang aktif mengambil peran positif dalam pengabdian masyarakat.

Hal itu diungkapkan Profesor Fauzi saat berkunjung ke kampus Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan sekaligus sebagai salah satu penguji skripsi bagi mahasiswa semester VIII Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan.

Dalam sambutannya, Prof Fauzi, demikian sapaan karibnya, memuji mujahadah dan kesiapan para mahasiswa STIS dalam menghadapi ujian skripsi. Ia juga mengingatkan hakikat ilmu yang sebenarnya, yaitu ilmu yang mendekatkan diri kepada Allah.

“Jangan pernah ada di antara mahasiswa yang hanya bangga dengan gelarnya saja. Sebab ilmu itu berguna jika diamalkan di masyarakat,” tegas beliau di hadapan puluhan mahasiswa semester VIII STIS.

Dalam kesempatan itu Prof Fauzi menyampaikan apresiasinya terhadap peran mahasiswa STIS Hidayatullah dalam pengabdian masyarakat. Menurut dia, kebijakan STIS Hidayatullah yang menugaskan seluruh alumninya ke berbagai daerah untuk berdakwah adalah langkah yang sangat positif.

Bahkan jauh sebelum lulus pun, mahasiswa STIS Hidayatullah telah dikaryabaktikan secara mandiri ke berbagai lapangan soft skill yang terintegrasi dengan lingkungan kampus seperti pertanian atau perkebunan, guru, pengasuh, dan dikirim menjadi dai ke wilayah-wilayah pelosok.

Profesor Fauzi menilai ada cara pandang yang salah tentang gelar sarjana saat ini. Menurutnya, sarjana adalah orang-orang yang sebenarnya telah tercerahkan dengan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah.

“Sarjana Muslim itu mencerahkan. Kehadirannya memberi solusi di tengah masyarakat. Bukan justru menjadi pengangguran yang jadi beban masyarakat,” pungkas pakar pendidikan Islam dan Guru Besar Ilmu Tafsir yang juga menjabat sebagai Rektor Insitut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari, Banjarmasin ini.

Bagi seorang mahasiswa, tugas akhir atau penulisan skripsi biasanya selalu mendapat tempat di hati. Terlebih jika berhasil melewati ujiannya yang popular dengan sebutan ujian munaqasyah. Selalu ada sensasi dan perasaan yang berbeda. Ada rasa bangga sekaligus syukur bisa menyelesaikan tahapan terakhir dari bertahun-tahun masa kuliah. Biasanya fenomena itu berlaku umum bagi jamak mahasiswa yang duduk di semester akhir perkuliahan.

Tak terkecuali bagi mahasiswa semester VIII Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan. Sebanyak 52 orang kader Hidayatullah berhasil menuntaskan hari-hari berat mereka bakda ujian skripsi, beberapa waktu lalu.
“Alhamdulillah, akhirnya kami bisa melewatinya juga. Syukran atas dukungan semuanya,” ucap Syarifuddin, seorang mahasiswa STIS mewakili rasa syukur teman-temannya.

Terkait pelaksanaan ujian skripsi, STIS Hidayatullah bekerja sama dengan Koordinasi Perguruan Tinggi Agama Islam (Kopertais) XI Wilayah Kalimantan. Untuk tahun ini, STIS menghadirkan enam orang penguji sekaligus. Empat orang di antaranya ditunjuk langsung oleh Kopertais XI.

Selanjutnya para penguji itu lalu berbagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok beranggotakan tiga orang penguji. Yaitu sebagai Ketua Sidang, Penguji Satu, dan Penguji Dua.

Berbeda dengan pelaksanan ujian skripsi lalu, saat ini STIS Hidayatullah mendapat kehormatan dengan kesediaan Prof. Dr. Akh Fauzi Aseri, M.A. Bersamanya, hadir pula Dr. Sukarni (Ketua Dekan Fakultas Syariah IAIN Antasari, Banjarmasin), Muhammad Amin Djamaluddin, M.A (Direktur Pengembangan Bahasa IAIN Antasari), dan Dr. Nur Kholis (Dosen Fakultas Syariah IAIN Antasari).

Sementara dua penguji berikutnya tak lain adalah Dr. (Cand) Nashirul Haq, M.A (International Islamic University, Malaysia) dan Abdul Ghofar Hadi, M.S.I (Ketua STIS Hidayatullah).

Untuk diketahui, hingga saat ini STIS Hidayatullah Balikpapan telah menamatkan sebanyak 7 angkatan dengan ratusan alumni yang telah menyebar ke berbagai wilayah di nusantara. Uniknya tak ada satupun di antara mereka yang menganggur. Sebab seluruh alumni tersebut telah dinanti oleh medan dakwah yang begitu luas.

Bagi seorang kader dakwah, amanah dakwah dan perjuangan ini terlalu berat untuk menjadikan seseorang lalu santai dan tak berbuat. Demikian motivasi yang sering dipompakan oleh Abdul Ghofar Hadi, Ketua STIS kepada seluruh mahasiswa.

“Ilmu itu hanya bermanfaat jika diamalkan. Ilmu itu hanya bernilai jika bertaut dengan keimanan dalam jiwa,” pesan Abdul Ghofar. (Masykur)

Mereduksi Islam

Oleh Alimin Mukhtar*
Oleh Alimin Mukhtar*

SETIAP KALI kita memutlakkan sesuatu sebagai hakikat Islam, dengan tanpa hujjah dan/atau dengan mengekstrimkan bagian-bagiannya, seringkali kita telah mereduksinya sebatas apa yang kita mutlakkan itu.

Yang kita dapati setelah itu bukan lagi Islam yang sebenarnya, tapi pikiran kita sendiri yang secara sepihak kita klaim sebagai hakikat Islam.

Ada yang bersikukuh mengatakan Islam adalah agama akal dan logika, lalu menolak hal-hal yang mengedepankan penggunaan rasa. Tapi, ini pun keliru. Sebab dalam Islam kita mengenal sabar, syukur, tawakkal, ridha, qana’ah, dsb. Semua itu perasaan-perasaan, dan diakui bahkan diberi bimbingan dalam Islam.

Sebaliknya, ada yang ngotot mengatakan bahwa Islam adalah agama yang mengedepankan perasaan, lalu mengesampingkan penggunaan logika dan akal pikiran. Tapi, ini juga keliru. Dalam Islam ada ilmu, ijtihad, hujjah, dalil, dst. Semua ini memakai logika-logika, dan dibimbing dalam Islam.

Ada juga yang gembar-gembor mengatakan Islam agama damai, dan berusaha keras menafikan hal-hal yang berbau militerisme maupun penggunaan kekerasan. Akibatnya dia mati-matian menolak jihad fii sabilillah -dalam arti perang- dan berusaha memberikan “tafsir-tafsir alternatif”.

Tapi, ada lagi yang sebaliknya juga. Dia bersikeras mengatakan bahwa Islam adalah agama jihad. Maka semuanya pun dipusatkan di sekitar i’dadul quwwah, dan apapun disikapi dari cara pandang ini. Maka, segala cara yang mengedepankan sikap lemah-lembut dan dialog dianggap banci atau pengecut.

Lantas, Islam itu apa?

Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah memberikan pedoman-pedomannya dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Semua itulah Islam. Kita harus menerimanya, apa adanya, seluruhnya. Kerasnya, juga lembutnya. Perasaannya, juga logikanya. Perangnya, juga damainya.

Pada saat kita memilih-milih bagian Islam sesuai selera kita, pada dasarnya kita belum berserah diri, belum ber-Islam, dan sedang memperkokoh dominasi hawa nafsu dalam beragama.

Tidak masalah dicap ekstrem, atau sebaliknya dituduh pengecut. Jangan pedulikan kata orang. Sepanjang kita mengikuti apa maunya Allah, maka Dialah yang akan menyingkirkan seluruh fitnah itu dari jalan kita.*

______________
ALIMIN MUKHTAR, Penulis adalah alumni STAIL Hidayatullah Surabaya dan saat ini pengasuh di Pondok Pesantren Hidayatullah Malang, Jawa Timur.

Hidayatullah Sulsel Gelar Halaqah Kubro se-Luwu Raya

Anggota Dewan Syura Hidayatullah, KH Nashirul Haq, saat mengisi taushiah dalam acara Silaturrahim dan Halaqah Gabungan dai Hidayatullah se-Luwu Utara / SMR
Anggota Dewan Syura Hidayatullah, KH Nashirul Haq, saat mengisi taushiah dalam acara Silaturrahim dan Halaqah Gabungan dai Hidayatullah se-Luwu Utara / SMR

Hidayatullah.or.id — Departemen Pengkaderan Pimpinan Wilayah Hidayatullah Sulawesi Selatan (PW Hidayatullah Sulsel) menggelar kegiatan Silaturrahim Halaqah Kubro atau halaqah gabungan se-Luwu Utara bertajuk “Urgensi Halaqah Dalam Tarbiyah Umat” bertempat di Kampus Hidayatullah Lambara Harapan, Luwu Timur, baru baru ini (24-25/05/2014).

Acara ini dipadati oleh ratusan kader Hidayatullah. Mereka tersebar sebagai dai-dai di berbagai titik dakwah di wilayah Luwu Raya, Sulsel. Hingga kini, tercatat ada 4 Pengurus Daerah (PD) dan 5 Pengurus Cabang (PC) yang menjadi titik sentral dakwah Hidayatullah di wilayah Luwu Raya.

Kegiatan yang digagas oleh Departemen Pengkaderan Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Sulawesi Selatan (Sulsel) ini berlangsung secara rutin dan berkala. Diharapkan dari acara tersebut, selain sebagai wadah silaturahim para dai Hidayatullah, mereka juga mendapatkan penguatan kembali tentang peran penting keaktifan dalam berhalaqah tersebut.

“Selain bersilaturahim, kami berharap ada evaluasi menyeluruh tentang pelaksanaan halaqah kader di daerah-daerah,” ujar Sumaryadi, ketua panitia yang juga menjabat Ketua Bidang Pengkaderan PW Hidayatullah Sulsel.

Senada dengan itu, dalam kesempatan yang sama, Abdul Majid, Ketua Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulsel mengingatkan para dai agar senantiasa menjaga keutuhan ukhuwah dalam hidup berjamaah.

Sebab, jelasnya, terkadang masalah yang berlarut itu berakar dari hati-hati yang sulit menyatu. Problem lama yang tidak tuntas-tuntas menurutnya adalah sebagai akibat dari peran halaqah yang tidak berjalan maksimal.

“Kalau ada halaqah yang tidak berjalan maksimal, berarti proses tarbiyah jadi mandeg. Ujung-ujungnya hatinya sulit menyatu dan sulit diatur lagi,” ucap Abdul Majid menguatkan.

Sementara itu, anggota Dewan Syuro Hidayatullah PP Hidayatullah, Dr (cand) Nashirul Haq yang hadir dalam kesempatan tersebut menegaskan pentingnya kegiatan halaqah karena merupakan kebutuhan setiap dai dan kader.

Beliau menyatakan, tidak ada alasan bagi para dai atau seorang kader untuk tidak aktif mengikuti halaqah. Sebab baginya, halaqah adalah asupan ruhani yang dibutuhkan oleh jiwa setiap saat.

“Jika ada seorang kader yang malas-malasan berhalaqah biasanya ia justru kian gelisah dengan masalah yang dihadapinya. Sebab ia jauh dari komunitas yang menjadi tautan hatinya selama ini,” tegas Nashirul, ustadz kelahiran Belawa, Sengkang ini.

“Ibarat domba yang tercecer dan suka menyendiri dari kawanan domba yang lain. Tinggal menunggu waktu bagi seekor serigala untuk menerkamny.” pungkas Nashirul mengingatkan kembali.

Acara yang bertempat di kampus Hidayatullah Lambara Harapan, Luwu Timur ini dipadati oleh 150 orang kader Hidayatullah. Mereka tersebar sebagai dai-dai di berbagai titik dakwah di wilayah Luwu Raya, Sulsel. Hingga kini, tercatat ada 4 Pengurus Daerah (PD) dan 5 Pengurus Cabang (PC) yang menjadi titik sentral dakwah Hidayatullah di wilayah Luwu Raya.

Sedianya, kegiatan yang digagas oleh Departemen Pengkaderan Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Sulawesi Selatan (Sulsel) berlangsung secara rutin dan berkala.

Diharapkan dari acara tersebut, selain sebagai wadah silaturahim para dai Hidayatullah, mereka juga mendapatkan penguatan kembali tentang peran penting keaktifan dalam berhalaqah tersebut. (Masykur)

Halaqah Warisan Nubuwah untuk Seleksi Militansi Kader

Halaqah sebagai wadah seleksi militansi kader. Foto: Kader Hidayatullah Bekasi dalam sebuah kesempatan halaqah taklim / ROHIM
Halaqah sebagai wadah seleksi militansi kader. Foto: Kader Hidayatullah Bekasi dalam sebuah kesempatan halaqah taklim / ROHIM

Hidayatullah.or.id — Halaqah yang merupakan warisan nubuwah tersebut sanggup menjadi seleksi militansi seorang kader. Demikian ditegaskan anggota Dewan Syura Hidayatullah, Dr (cand) Nashirul Haq, di hadapan peserta Silaturahim Halaqah Kubra Hidayatullah se-Luwu Raya belum lama ini (24-25/05/2014).

Beliau mengimbuhkan, kader Hidayatullah harus ikut aktif dalam halaqah yang telah dibentuk oleh pengurus wilayah dan daerah sebab kegiatan seperti ini sangat penting untuk meng-charge (mengisi ulang) iman yang memang tidak selalu stabil.

“Jadi tak perlu heran ketika ada seorang kader yang goncang. Cukup koreksi keaktifan dia dalam mengikuti kegiatan halaqah,” terang ustadz yang juga diamanahi sebagai Murabbi halaqah di wilayah Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan ini.

“Insya Allah, kader yang aktif mengikuti halaqah dijamin lebih terjaga spirit dakwah dan perjuangannya daripada yang malas-malasan,” sambung Nashirul kembali.

Senada dengan itu, dalam kesempatan yang sama, Abdul Majid, Ketua Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulsel mengingatkan para dai -dalam sambutannya- agar senantiasa menjaga keutuhan ukhuwah dalam hidup berjamaah.

Sebab, jelasnya, terkadang masalah yang berlarut itu berakar dari hati-hati yang sulit menyatu. Problem lama yang tidak tuntas-tuntas menurutnya adalah sebagai akibat dari peran halaqah yang tidak berjalan maksimal.

“Kalau ada halaqah yang tidak berjalan maksimal, berarti proses tarbiyah jadi mandeg. Ujung-ujungnya hatinya sulit menyatu dan sulit diatur lagi,” ucap Abdul Majid menguatkan.

Acara Silaturahim Halaqah Kubra Hidayatullah se-Luwu Raya yang bertempat di kampus Hidayatullah Lambara Harapan, Luwu Timur ini dipadati oleh ratusan kader Hidayatullah. Mereka tersebar sebagai dai-dai di berbagai titik dakwah di wilayah Luwu Raya, Sulsel. Hingga kini, tercatat ada 4 Pengurus Daerah (PD) dan 5 Pengurus Cabang (PC) yang menjadi titik sentral dakwah Hidayatullah di wilayah Luwu Raya.

Kegiatan yang digagas oleh Departemen Pengkaderan Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Sulawesi Selatan (Sulsel) ini berlangsung secara rutin dan berkala. Diharapkan dari acara tersebut, selain sebagai wadah silaturahim para dai Hidayatullah, mereka juga mendapatkan penguatan kembali tentang peran penting keaktifan dalam berhalaqah tersebut.

“Selain bersilaturahim, kami berharap ada evaluasi menyeluruh tentang pelaksanaan halaqah kader di daerah-daerah,” ujar Sumaryadi, Ketua Bidang Pengkaderan PW Hidayatullah Sulsel. (Masykur)

Ditegaskan Kader Hidayatullah Wajib Berhalaqah Taklim

Halaqah sebagai wadah pengutana iman dan menjalin ukhuwah Islamiyah. Tampak halaqah kader Hidayatullah Medan / CHA
Halaqah sebagai wadah pengutana iman dan menjalin ukhuwah Islamiyah. Tampak halaqah kader Hidayatullah Medan / CHA

Hidayatullah.or.id — Salah satu cara menghindari kelesuan (futur) dalam berdakwah adalah dengan giat mengikuti halaqah. Sebab bagi seorang dai atau pegiat dakwah, halaqah tidak sekedar ajang kumpul-kumpul saja bersama orang lain.

Halaqah taklim yang di dalamnya ada proses transformasi ilmu dan kultur sudah menjadi kebutuhan dan kewajiban mutlak bagi setiap Muslim, terlebih bagi para dai atau seorang kader Hidayatullah.

Demikian yang tersimpul dalam pencerahan yang disampaikan anggota Dewan Syura Hidayatullah, Dr (cand) Nashirul Haq, di hadapan peserta Silaturahim Halaqah Kubra Hidayatullah se-Luwu Raya (24-25/05/2014) lalu.

Dalam pemaparan yang bertajuk “Urgensi Halaqah Dalam Tarbiyah Umat” Nashirul menjelaskan peran penting halaqah sebagai sarana pembinaan.

Menurutnya, evaluasi diri seorang dai dan kewajiban dakwah kepada umat adalah sesuatu yang tak terpisahkan. Ibarat dua sisi mata uang. Keduanya saling melengkapi dan menguatkan.

“Seorang dai tidak boleh hanya asyik berdakwah kepada orang lain tapi ia sendiri lupa membina dan mengevaluasi kesehariannya,” terang pria jebolan Fakultas Syariah Universitas Islam Madinah ini.

Hal itu bisa tercapai, masih menurut Nashirul, jika setiap dai atau pegiat dakwah punya kesadaran yang benar tentang peran penting kegiatan halaqah tersebut. Sebab halaqah bagi seorang kader adalah sarana tarbiyah yang mencakup tilawah al-Quran, muhasabah diri (tazkiyatun nafs), dan taklim serta transformasi nilai-nilai manhaj Sistematika Nuzul Wahyu (SNW).

“Halaqah juga bisa berfungsi sebagai media muakhah (persaudaraan) yang menguatkan ikatan jamaah,” imbuh kandidat doktor di International Islamic University Malaysia (IIUM) Malaysia ini.

Acara Silaturahim Halaqah Kubra Hidayatullah se-Luwu Raya yang bertempat di kampus Hidayatullah Lambara Harapan, Luwu Timur ini dipadati oleh ratusan kader Hidayatullah. Mereka tersebar sebagai dai-dai di berbagai titik dakwah di wilayah Luwu Raya, Sulsel.

Hingga kini, tercatat telah ada 4 Pengurus Daerah (PD) dan 5 Pengurus Cabang (PC) yang menjadi titik sentral dakwah Hidayatullah di wilayah Luwu Raya dan akan terus dikembangkan di masa mendatang.

Kegiatan yang digagas oleh Departemen Pengkaderan Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Sulawesi Selatan (Sulsel) ini berlangsung secara rutin dan berkala. Diharapkan dari acara tersebut, selain sebagai wadah silaturahim para dai Hidayatullah, mereka juga mendapatkan penguatan kembali tentang peran penting keaktifan dalam berhalaqah tersebut.

“Selain bersilaturahim, kami berharap ada evaluasi menyeluruh tentang pelaksanaan halaqah kader di daerah-daerah,” ujar Sumaryadi, Ketua Bidang Pengkaderan PW Hidayatullah Sulsel. (Masykur)

Komitmen Hidayatullah Lahirkan Ilmuan Muslim

Bertempat di Kampus Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, 323 Wisudawan/i UIKA Bogor resmi dilantik / PPS UIKA
Bertempat di Kampus Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, 323 Wisudawan/i UIKA Bogor resmi dilantik / PPS UIKA

Hidayatullah.or.id — Kabar gembira menghampiri dunia pengkaderan Hidayatullah khususnya bagi perguruan tinggi Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STISHID) di Balikpapan, Kalimantan Timur. Herianto Muslim, salah seorang kader Hidayatullah Gunung Tembak, berhasil meraih gelar master dalam acara wisuda yang digelar oleh Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Jawa Barat, pertengahan Mei lalu.

Capaian tersebut menjadi kebanggan tersendiri bagi STIHID yang sedang concern mengembangkan aspek studi selain bidang hukum Islam (ahwal asysyakhsiyah) yakni ekonomi syariah yang mensyaratkan tenaga akademik berkualitas di bidangnya.

Bersama wisudawan lainnya, Muslim, demikian sapaan akrabnya, berhasil menyelesaikan pendidikan di UIKA program studi (Prodi) Magister Ekonomi Islam. Untuk itu, Muslim berhak menyandang gelar Master Ekonomi Islam atau yang biasa disingkat dengan sebutan gelar M.E.I.

Secara umum, hal ini tentu menjadi kesyukuran bagi Hidayatullah sebagai salah satu organisasi massa (ormas) Islam yang mainstream gerakannya fokus pada bidang dakwah dan tarbiyah. Terlebih, Muslim, saat ini tercatat sebagai salah seorang pengajar di almamaternya dahulu, STIS Hidayatullah, Balikpapan.

“Alhamdulillah, semua capaian ini kami dapatkan atas dukungan doa dari semuanya,” ujar Muslim yang meraih predikat cum laude (dengan kehormatan) dalam pengukuhannya tersebut.

Untuk program pengembangan kualitas SDI, STIS secara berkala mengirim kader-kader terbaiknya melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi dan lembaga pendidikan yang ada. Hal ini dimaksud sebagai respon terhadap dinamika tantangan dan harapan dalam dunia pendidikan sekarang.

“Ini salah satu cara STIS bersyukur lewat peningkatan kualitas Sumber Daya Insani (SDI) dosen,” ujar Abdul Ghofar Hadi, Ketua STIS Hidayatullah.
“Tantangan dan harapan tersebut hanya bisa dijawab dengan bekerja dan berdoa secara sungguh-sungguh,” imbuh Abdul Ghofar.

Selain Universitas Ibn Khaldun di Bogor, selama ini STIS Hidayatullah juga berinvestasi kader di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan bahasa Arab (LIPIA) Jakarta dan Ma’had ar-Rayah, Sukabumi, Jawa Barat.

Di luar itu, puluhan kader Hidayatullah saat ini juga tengah menyebar menuntut ilmu di berbagai universitas di luar negeri. Sebut saja misalnya, Universitas al-Iman, Yaman, Universitas Islam Madinah, Universitas al-Azhar, Kairo, Universitas Islam Afrika Internasional di Khartoum, Sudan, dan Universitas Islam Internasional Malaysia.

Sedianya, khusus kerjasama dengan UIKA Bogor, STIS Hidayatullah berupaya secara rutin menempatkan utusannya kuliah di kampus yang beralamat di Jl. KH. Sholeh Iskandar Km. 2 Bogor ini. Tercatat, Azhari (lulusan STIS angkatan (2011) menjadi duta pertama STIS yang menempuh pendidikan di UIKA, Bogor.
Kini Azhari telah bergabung mengajar di STIS dan mengampu mata kuliah Metodologi Penelitian. Sebelumnya ia berhasil menggondol gelar M.Pd.I pada prodi Pendidikan Islam.

Sebagai informasi, Universitas Ibn Khaldun, Bogor kini membuka peluang bagi kader-kader muda Muslim untuk mendalami berbagai bidang terkait pendidikan dan pemikiran Islam. Menariknya selain tawaran beasiswa pendidikan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), para mahasiswa yang mengikuti proses perkuliahan tersebut wajib mondok berasrama di Pondok Pesantren Mahasiswa dan Pasca Sarjana (PPMS) Ulil Albab Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor selama satu tahun.

Selanjutnya para mahasiswa itu wajib mengikuti sejumlah kegiatan pembinaan dan penunjang di pesantren. Mulai dari shalat berjamaah di masjid. qiraah al-kitab (text reading), hafalan al-Qur’an, pelatihan jurnalistik, dan berbagai diskusi dan kajian ilmiah lainnya.

Seiring waktu, kini UIKA yang merupakan kampus Islam tertua di wilayah Bogor ini telah menghasilkan sejumlah tokoh Pendidikan dan Pemikiran Islam. Beberapa di antaranya bahkan menjadi tokoh nasional dan ahli di bidangnya masing-masing.

“Mohon doa, semoga kami semua bisa istiqamah di jalan dakwah dan perjuangan ini,” pungkas Muslim meminta dukungan. (Masykur)

Pemerintah Harus Awasi Lembaga Pendidikan Asing

Ketua Presidium BMOIWI Pusat Sabriati Aziz saat berorasi menolak eksploitasi seks terhadap wanita di Bundaran HI Jakarta / SUARA ISLAM
Ketua Presidium BMOIWI Pusat Sabriati Aziz saat berorasi menolak eksploitasi seks terhadap wanita di Bundaran HI Jakarta / SUARA ISLAM

Hidayatullah.or.id – Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) sebagai federasi dari 32 ormas muslimah mendesak pemerintah menertibkan segala bentuk penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan dasar, prinsip, dan tujuan pendidikan nasional.

Penertiban itu tak terkecuali terhadap penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga negara lain, dan harus tetap menjaga rasa keadilan masyarakat, kedaulatan negara yang bermartabat.

Desakan BMOIWI itu menyusul adanya sejumlah aksi kekerasan seks terhadap anak yang terjadi lembaga pendidikan Jakarta International School (JIS) yang dilakukan oleh orang dalam sendiri.

Disebutkan bahwa Departemen Luar Negeri Amerika Serikat melaporkan bahwa kurikulum Jakarta International School memiliki fokus internasional yang kuat.

“Kita prihatin maraknya kasus kejahatan kekerasan seksual terhadap anak terutama yang terjadi di lembaga pendidikan. Sangat memprihatinkan kita semua,” kata Presidium BMOIWI Sabriati Aziz kepada hidayatullah.com, Sabtu (24/05/2014).

Kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di institusi pendidikan menimbulkan keresahan bagi para orang tua dan munculnya rasa was-was terhadap anak ketika berada di sekolah.

Untuk itu, terang Sabriati, lembaga pendidikan manapun dan khususnya penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga negara lain di Indonesia harus mendasari kegiatannya sesuai dengan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945.

Ia menegaskan, pembukaan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 dengan terang mengamanatkan kepada negara untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia serta untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

“Negara tidak boleh absen mengawal spirit tujuan pendidikan nasional yang berakar pada nilai-nilai agama,” tegas Sabriati yang juga Ketua Majelis Petimbangan Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah ini.

Seperti diketahui, pada April 2014 lalu dilaporkan bahwa seorang siswa Jakarta Internatiobal School berusia lima tahun telah berulangkali diperkosa oleh karyawan bagian kebersihan saat sedang pergi ke toilet.

JIS adalah sebuah sekolah internasional swasta di Jakarta yang telah berdiri sejak ahun 1951 untuk anak-anak ekspatriat yang tingal di Jakarta dan merupakan sekolah dasar dan menengah internasional terbesar di Indonesia.

Sekolah ini mengikuti model kurikulum Amerika Utara dari prasekolah sampai kelas 12 dan telah diakreditasi oleh Western Association of Schools and Colleges dan Council of International Schools. Kurikulum Jakarta International School memiliki fokus internasional yang kuat.

Sementara dalam Pasal 2 UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 serta dalam ketentuan umum disebut berakar pada nilai-nilai agama dan kebudayaan nasional Indonesia. (ybh/hio)

Jangan Pernah Sepelekan Pendidikan Anak Usia Dini

pawai paud 01
Kegiatan main peran sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Al-Aulad Hidayatullah, Balikpapan / MASYKUR
pawai paud 02
Para ustazah dengan telaten menampingi kegiatan main peran sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Al-Aulad Hidayatullah, Balikpapan / MASYKUR

Hidayatullah.or.id — Suasana masih pagi di kampus Hidayatullah Gunung Tembak. Ketika puluhan kendaraan tumpah menyesaki halaman sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Al-Aulad Hidayatullah, Balikpapan, beberapa waktu lalu.

Masing-masing murid tampak mengendarai sebuah kendaraan sepeda. Ada pula yang menarik kereta api atau mobil-mobilan. Sedianya pagi itu murid-murid PAUD menggelar pawai mengitari kampus Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan. Kali ini PAUD mengusung tema pawai “Mengenal Sarana Transportasi”.

Untuk diketahui, kegiatan pawai tersebut adalah agenda rutin PAUD yang bersifat rihlah alamiyah. Selain menyusuri perumahan warga yang bermukim di lokasi pesantren, biasanya murid-murid PAUD juga dipersilakan menikmati dari dekat keindahan danau yang tepat berada di jantung kompleks pesantren tersebut.

“Selain belajar di kelas, kami juga ingin murid-murid PAUD mampu menimba ilmu dari lingkungan sekitarnya.” Ujar Sulmiati Shaleh, seorang guru senior di PAUD Al-Aulad.

Meski terlihat sederhana, kegiatan-kegiatan outdoor seperti yang dilakukan Al-Aulad tersebut dipandang sebagai proses stimulasi efektif untuk pengembangan karakter dan potensi anak yang tak boleh dianggap sepele.

Pakar pendidikan anak menjelaskan bahwa fungsi main peran baik indoor maupun outdoor akan menunjukkan kemampuan berpikir anak yang lebih tinggi. Sebab anak mampu menahan pengalaman yang didapatnya melalui pancaindra dan menampilkannya kembali dalam bentuk perilaku berpurapura.

Main peran dalam kegiatan di luar ruang membolehkan anak memproyeksikan diri ke masa depan lalu menciptakan kembali ke masa lalu dan mengembangkan ketrampilan khayalan.

Meski digelar sekali setahun, namun ia tak mengurangi antusias murid-murid PAUD dalam mengikuti acara pawai “Sarana Transportasi” tersebut. Setidaknya hal itu terlihat dari usaha mereka menghias kendaraan masing-masing.

Bahkan, tak sedikit murid-murid PAUD yang menyulap kendaraan mereka berubah menjadi pesawat tempur, kereta api, atau mobil balap Formula Satu.
“Sebenarnya PAUD tidak pernah membebani apalagi mewajibkan murid-murid kami agar menghias kendaraan mereka,” terang Muliati, Kepala Sekolah PAUD al-Aulad. “Cuma biasanya murid-murid kami sangat senang mengikuti acara pawai ini,” imbuh Muliati semringah.

Selain kegiatan pawai, PAUD Al-Aulad juga aktif dalam berbagai kegiatan yang bersifat sosial lainnya. Menjelang bulan Ramadhan ini misalnya, PAUD Al-Aulad sudah menyiapkan program bakti sosial. Yaitu pengumpulan dan pembekalan sembako kepada orang tua lanjut usia (lansia) dan janda tua yang tinggal di lingkungan sekitar sekolah PAUD.

Berbeda dengan lembaga pendidikan pada umumnya, PAUD Al-Aulad punya metode tersendiri dalam membina murid-muridnya. Yaitu dengan cara melibatkan secara aktif orangtua/ wali murid dalam membina anak-ananya. Hal itu ditandai dengan adanya komitmen bersama dewan guru dan seluruh orangtua/ wali murid untuk sama-sama memantau perkembangan pendidikan anak-anaknya.

Mujahadah ini ditempuh sebab tak sedikit orangtua murid yang menyekolahkan anaknya lalu merasa urusan pendidikan anaknya telah selesai di sekolah. Seolah-olah orangtua tak lagi punya kewajiban mendidik anak-anaknya di rumah.
Untuk itu di antara bentuk komitmen bersama tersebut, para orangtua/ wali murid wajib mengikuti kegiatan pencerahan parenting yang digelar sebulan sekali di Pesantren Hidayatullah Balikpapan.

Untuk kegiatan pencerahan parenting tersebut, biasanya PAUD Al-Aulad bekerja sama dengan Muslimah Hidayatullah (Mushida) dengan menghadirkan Zainuddin Musaddad, seorang pakar parenting dan tokoh masyarakat di Balikpapan.

“Kami bersyukur dengan adanya acara pencerahan parenting itu. Banyak ilmu yang kami dapatkan di sana,” ujar Fitriani (32), orangtua Sulaim, salah seorang murid PAUD.

Kini seiring perjalanan PAUD Al-Aulad mulai mendapatkan kepercayaan dalam membina anak usia dini (Play Group). Berdiri sejak tahun 2005, PAUD Al-Aulad telah menamatkan ratusan murid.

Untuk saat ini, bahkan murid-murid PAUD Al-Aulad tak lagi sebatas anak warga Pesantren Hidayatullah yang bermukim di kawasan Kampus Gunung Tembak. Tidak sedikit murid yang berasal dari masyarakat luar sekitar pesantren. Mereka rela antar jemput anak-anak mereka dengan satu harapan sederhana. Semoga anak-anak mereka menjadi generasi anak yang shalih dan shalihah. (Masykur)