Beranda blog Halaman 675

Hidayatullah Maksimalkan Wakaf Umat untuk Dakwah dan Pemberdayaan

0
Tanah wakaf / Ilustrasi
Tanah wakaf / Ilustrasi

Hidayatullah.or.id — Ormas Islam Hidayatullah terus mengembangkan potensi wakaf keummatan untuk menggenjot kiprah dakwah, pendidikan dan pemberdayaan sosial persyarikatan ini. Kepala Bidang Pelayanan Umat Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah Tasyrif Amin mengatakan banyak pondok pesantren dikelola oleh ormas Hidayatullah berasal dari wakaf.

Khusus wakaf uang, jelas Tasyrif, pengelolaannya diserahkan kepada Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Mal Hidayatullah (Laznas BMH).

Laznas BMH merupakan lembaga legal nasional yang menerima wakaf, mayoritas berupa benda, seperti tanah dan bangunan. Tasyrif menuturkan, kendala wakaf tanah adalah soal sertifikasi. Rata-rata tanah yang mereka terima di daerah belum memiliki sertifikat.

“Sebelum bisa kami gunakan, tanah yang diwakafkan harus kami urus sertifikatnya,” kata Tasyrif seperti juga dikutip Republika, beberapa saat lalu.

Sementara, wakaf uang yang diserahkan masyarakat ke Laznas BMH juga diputar untuk kegiatan usaha keummatan dan pemberdayaan, seperti bantuan dana wirausaha dan minimarket.

“Kami berusaha profesional dan terbuka seperti lembaga-lembaga serupa milik organisasi Islam lain,” ujar Tasyrif. Kendati demikian, beliau mengatakan belum mendata sepenuhnya berapa jumlah wakaf uang yang sudah diserahkan masyarakat ke Hidayatullah.

Tasyrif memperkirakan wakaf uang masih sedikit. Sebab, sebagian besar wakaf yang Hidayatullah dapatkan merupakan wakaf berupa benda, baik bangunan maupun tanah.

Sementara itu, dalam pernyatannya belum lama ini Badan Wakaf Indonesia (BWI) akan mempercepat pertumbuhan wakaf uang. Menurut Wakil Ketua BWI Mustafa Edwin Nasution, potensi wakaf uang di Indonesia mencapai Rp 3 triliun, namun yang tergali masih sangat kecil.

Dalam kurun tiga tahun terakhir, BWI baru memperoleh Rp 3,7 miliar. Ini tergolong kecil. “Hanya sepersepuluh dari potensi yang ada,” kata Mustafa akhir tahun lalu. Dana ini digunakan untuk membantu pendidikan taman kanak-kanak di berbagai perkampungan.

Alokasi lainnya adalah pembangunan rumah sakit ibu dan anak di Serang, Provinsi Banten. BWI berencana meningkatkan penghimpunan dengan menggiatkan pengelolaan wakaf melalui baitul maal wa tamwil (BMT). Alternatif lainnya lewat koperasi jasa keuangan syariah.

Belum lama ini, BWI baru melakukan uji kelaikan dan kepatutan 38 BMT yang akan menjadi pengelola wakaf uang. Dari target 100 BMT, lembaga ini baru menyetujui delapan unit. Ada syarat ketat yang diterapkan pada BMT yang akan mengelola wakaf uang.

Di antara syaratnya, memiliki aset minimal Rp 3 miliar, sudah beroperasi minimal lima tahun, dan hasil pengelolaan BMT sudah bisa dilihat. BWI menargetkan 100 BMT yang menjadi pengelola wakaf uang bisa terwujud tahun depan.

Jika total anggota 100 BMT itu mencapai 500 ribu orang dan setiap orang berwakaf Rp 1.000 per hari maka terkumpul Rp 1 miliar hanya dalam dua hari. “Hal terpenting, BMT bisa mengelolanya dengan amanat. Ini langkah memakmurkan masyarakat,” kata Mustafa.

BMT yang dipilih tersebar di berbagai wilayah agar wakaf uang mampu melahirkan kemakmuran lebih luas. “Jadi, konsepnya pengembangan komunitas,” kata Mustafa. BWI berperan memastikan pengelolaan wakaf uang sesuai syariat dan transparan.

Mustafa mengatakan, uang wakaf tidak boleh habis, seperti halnya benda wakaf lainnya. Maka, pengelolanya pun tidak boleh sembarangan. Ia juga mengatakan, kesiapan masyarakat mengelola wakaf uang masih menjadi kendala. Ini yang harus segera diatasi BWI. (rep/ybh/hio)

Ahli Tahajjud Memiliki Wajah “Menawan”

H. Uti Konsen
H. Uti Konsen

SUDAH pasti orang yang bertahajjud, bukan bertujuan untuk memiliki wajah yang menawan. Kalaupun itu terjadi adalah semata-mata karunia Allah yang diberikan oleh Allah di dunia ini kepada hamba-Nya yang ikhlas dan istiqamah bertahajjud, seperti dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Ketika Rasulullah saw dan rombongan hijrah dari Mekah sampai di Madinah, mereka disambut dan dielu–elukan oleh masyarakat. Diantara yang hadir adalah Abdullah bin Salam yang waktu itu belum memeluk Islam. Ia berkata, “Ketika aku menatap wajahnya, tergambar bahwa ia bukanlah orang yang pernah berbohong”.

Kalimat yang pertama-tama diucapkan oleh beliau saat tiba di Madinah, ‘Wahai manusia, tebarkanlah ucapan salam, berikanlah makanan, bersilaturrahmilah dan salat malamlah ketika orang sedang tidur, niscaya kamu masuk surga dengan sejahtera“ (HR.Ibnu Majah, Al Hakim, dan Tirmizi).

Umar bin Khattab RA meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa salat malam, dan salat itu dilakukannya dengan baik, maka Allah memuliakannya dengan sembilan perkara lima di dunia dan empat di akhirat. Diantara lima perkara yang di dunia ini ialah
Tampak bekas ketaatannya pada wajahnya. Dalam hadis lain yang senada Rasul saw bersabda, “Barangsiapa yang mendirikan salat tahajjud, maka wajahnya akan terlihat elok di siang hari.“

Ada orang bertanya kepada imam Al Hasan Al Barsi, ulama kharismatik Damaskus waktu itu, “Kenapa wajah ahli tahajjud tampak menawan?“ Beliau menjawab, “Tidak usah heran, karena ketika malam ia berduaan dengan Allah, lalu Allah memancarkan nur-Nya kepada si Abid itu.“

Dikisahkan, kalau orang menatap wajah Al Hasan Al Basri, maka selama seminggu membuat khusyuk mereka beribadah. Hal ini tidak heran, sebab Rasulullah saw menegaskan, menatap wajah ulama akhirat itu menuai kebaikan, seperti membangkitkan semangat untuk beribadah.

Allahuyarham KH. Abdullah Said, pendiri Ponpes Hidayatullah Balikpapan, yang digelari Dai Tahajjud, karena dalam setiap ceramahnya selalu mengangkat Tahajjud, menantang siapapun yang belum salat lail untuk salat lail. Bisa dibuktikan secara lahiriyah. “Coba salat lail tujuh malam berturut-turut,” kata beliau.

Sebelum salat lail, silakan berfoto dulu. Setelah salat lail berturut-turut itu, berfoto lagi. Lihat bedanya, pasti wajah akan kelihatan bersinar. Jangankan wajah kita, rumah ahli Tahajjud juga akan bersinar. Rasulullah saw dalam satu hadis menegaskan kurang lebih, “Rumah yang didalamnya didirikan salat tahajjud akan bercahaya dilihat oleh penghuni langit.“

Seorang santriwati di Ponpes Hidayatullah Balikpapan yang wajahnya dianggap jelek oleh ibunya, bisa menikah dengan seorang pemuda ganteng. Ibunya heran dan berdecak kagum dengan berkata, “Pintar betul orang pesantren membuat orang laku”. Dijawab oleh KH. Abdullah Said, “Itu bukan kepintaran orang pesantren, tapi karena pengaruh salat lail. Di wajah santriwati itu ada sebuah cahaya yang bersinar sehingga orang melihatnya cantik. Selain itu tentu karena doa-doanya ketika salat lail, makbul”.

Seorang wartawan ke Bangkok. Ia dikenal pengamal Tahajjud. Ketika berdiri di depan hotel untuk mencari taksi mencari Rumah Makan Muslim, tanpa diduga disapa oleh seorang sopir “Are you Moslem?“ Padahal sang Wartawan itu tidak memakai peci, sebagai salah satu identitas Muslim.

Ketika ditanya kepada sang sopir, dimana ia tahu bahwa dirinya Muslim? Sang sopir itu menjawab, pada wajahnya terpancar sinar seorang Ahli Ibadah. Masya Allah.

Diantara keistimewaan Tahajjud, menurut pengalaman seorang ahli Tahajjud. Pada wajahnya memancarkan cahaya keimanan, perkataannya dituruti oleh orang lain, analisa tulisannya tajam dan akan mendapatkan perhatian dan kecintaan dari orang-orang yang mengenalnya.
Ibnu Al Hajj berkata, “Diantara manfaat Tahajjud, pertama menggugurkan dosa, kedua menyinari kuburan, ketiga mencerahkan wajah dan keempat membugarkan tubuh.“ Wallahualam.*

 

____________________

USTADZ H. UTI KONSEN, penulis adalah dai dan tokoh masyarakat Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat

Melalui Dakwah dan Pendidikan Hidayatulllah Bangun Nusa Tenggara Barat

0
Hidayatullah Membangun NTB
Hidayatullah Membangun NTB

HIDORID — Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengadakan training akidah dan penguatan manhaj untuk kader-kader Hidayatullah di NTB. Acara yang diikuti oleh 40 peserta yang berasal dari seluruh Pesantren Hidayatullah se-NTB.

Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari sejak Jumat-Ahad (27-29/12/2013) bertempat di Pesantren Ishlahul Ummah, Kampus Hidayatullah, Sambelie, Kabupaten Lombok Timur.

Ustadz Zulkifli, SE, MM, salah seorang dari instruktur, menyatakan bahwa kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menguatkan semangat dakwah para da’I dalam ikhtiar Hidayatullah untuk membangun NTB melalui peran mereka di dunia dakwah dan pendidikan.

“Para Kader Hidayatullah harus memberi manfaat di mana mereka berada dan sebagai apa mereka di tengah-tengah masyarakat, sehingga Hidayatullah sebagai salah satu Ormas Islam dirasakan manfaatnya di tengah-tengah ummat,” ujarnya.

Salah seorang peserta dari Gunung Sari, Lombok Barat, Ustadz Muhammad,S.Ag menggambarkan kesannya selama mengikuti kegiatan tersebut.

“Dalam suasana libur ini, kita berkumpul bersama menguatkan semangat dakwah kita sebagai kader Hidayatullah. Ini luar biasa, mudah-mudahan saya bisa mengaplikasikannya di tengah ummat,” ungkapnya.

Kegiatan penguatan manhaj diikuti oleh alumni Marhalah Ula (Basic Training) Hidayatullah sedangkan peserta training akidah adalah calon-calon peserta Marhalah Ula.

Pelaksanaan kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap musim liburan sekolah. (zul/ybh/hio)

Buka Program Tahfidzul Qur’an, Hidayatullah Kediri Bertekad Cetak Imam Unggul

0
Peserta tahfidzul Qur'an Hidayatullah Kediri
Peserta tahfidzul Qur’an Hidayatullah Kediri

HIDORID — Mulai tahun ini Pusat Pendidikan Anak Shalih (PPAS) Yayasan Ar-Risalah Pondok Pesantren Hidayatullah Kediri, Jawa Timur, menyelenggarakan program Tahfidzul Qur’an (lembaga penghafal Al-Qur’an) untuk para santri di mana pesertanya sebelumnya harus melalui seleksi.

Pembimbing utama Lembaga Tahfidzul Qur’an Yayasan Ar-Risalah Hidayatullah Kediri, Ustadz Mujahid, mengatakan program pendidikan Al Qur’an PPAS Yayasan Ar-Risalah Hidayatullah Kediri sebagai pembelajaran awal bagi para santri untuk bisa menghafalkan Al-Qur’an.
“Bukan cuma hafal saja, santri juga di tuntut mampu menghafal dengan bacaan yang baik dan benar sesuai dengan kaidah bacaan Al-Qur’an,” kata Ustadz Mujahid, ditulis Selasa (31/12/2013).

Ia menambahkan, program tahfidzul Qur’an yang mulai digalakkan lembaganya termasuk terbilang lambat diselenggarakan pihaknya. Sebab, kata dia, seperti yang telah banyak diketahui di berbagai pondok pesantren lainnya, fokus pendalaman Kitab Suci ini sudah menjadi rutinitas untuk mengisi kegiatan pondok pesantren.

Ia menegaskan, program tahfidzul qur’an ini juga menjadi program utama dari Yayasan Ar – Risalah Hidayatullah Kediri.

Lebih jauh Ustadz Mujahid menerangkan, PPAS Ar-Risalah Hidayatullah Kediri dengan segala aspek perkembangannya bukan tanpa maksud untuk melaksanakan program ini. Menurut beliau, tujuan dari pada program tahfidzul qur’an ini yaitu untuk mencetak para santri sebagai kader-kader yang memiliki jiwa yang tangguh, akal yang jernih, dan mampu menjadi dai pembangunan di masyarakatnya.

“Semoga program tahfidzul qur’an ini mampu meningkatkan kualitas para santri agar nantinya bisa menjadi imam-imam yang unggul dan ber-akhlaq mulia,” tandasnya. (hdk/hio/ybh)

Siswa Hidayatullah Jember Raih Perak di Olimpiade Matematika Internasional

Ahmad Ghozi Fidinillah (tengah) bersama peserta lainnya
Ahmad Ghozi Fidinillah (tengah) bersama peserta lainnya

HIDORID – Satu lagi anak bangsa yang menoreh prestasi di dunia internasional. Ahmad Ghozi Fidinillah siswa SD Integral Luqman al Hakim Hidayatullah Jember memperoleh medali perak Olimpiade Matematika Internasional yang berlangsung diFilipina, belum lama ini.

Lomba ini diikuti oleh 234 peserta dari 16 negara ini Ghozi masuk tim Indonesia setelah lolos seleksi dari tingkat Kecamatan, Kabupaten, propinsi dan tingkat nasional.

Kini sekolah dan orangtua ikut berbangga atas pencapain prestasi yang diperoleh Ghozi.

“Alhamdulillah saya bangga dua kali, pertama karena Ghozi juara dan yang kedua karena dia telah mewakili sekolah Islam, Ia telah mengharumkan agama dan bangsanya, “ujar Siti Nurul Hasanah, Ibunda Ghozi pada hidayatullah.com.

Menurut Nurul, tahun ini peserta olimpiade yang perwakilan Muslim yang mewakili Indonesia sudah meningkat. Biasanya peserta yang Muslim sangat sedikit.

Perwakilan Indonesia yang Muslim ada tiga dari delapan delegasi Indonesia yang ikut Olimpiade di Philipina.

“Biasanya peserta yang Muslim sangat sedikit, tapi alhamulillah tahun ini siswa yang Muslim sudah banyak,”tutur Nurul.

Sebagai seorang ibu, Nurul bangga anaknya ikut mengharumkan nama Islam dan Indonesia. Menurutnya ia mempersiapkan anaknya bukan untuk meraih prestasi, tetapi sebagai bagian dari perjuangannya sebagai umat Islam.

“Ini bagian dari perjuangan saya sebagai umat Islam, saya ingin anak-anak mengharumkan nama Islam lewat prestasi matematika,” ucap Nurul.

Dengan semangat prestasi untuk agama, ibu tujuh orang anak initelah menghantarkan empat anaknya menjuarai olimpiade matematika di tingkat nasional maupun internasional.

Atas kesuksesan diraih anak-anaknya, kini ia ingin berbagi dengan yang lain dengan membuka kelas khusus bimbingan matematika untuk olimpiade dan kelas reguler dikediamannya. (Hidcom)

Khairil Baits Harap Porseni Hidayatullah Lahirkan Kader Multi Potensi

0
Ustadz Khairil Baits (berkacamata) dalam sebuah kesempatan menguji mahasiswa
Ustadz Khairil Baits (berkacamata) dalam sebuah kesempatan menguji mahasiswa

HIDORID — Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), menyelenggarakan kegiatan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) yang diikuti oleh segenap santri mulai dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau Sekolah Dasar hingga Madrasah Aliyah (MA) atau tingkat menengah atas.

Ketua Pimpinan Pusat Hidayatullah Bidang Organisasai dan Politik, Ir. Khairil Baits, mendorong kegiatan ini dapat terus dilanggengkan, tidak hanya di Sultra, tapi di kampus-kampus Hidayatullah lainnya di Indonesia. Dari kegiatan edukatif ini Khairil berharap akan lahir santri kader Hidayatullah multi potensi yang tajam spiritualnya, kuat fisiknya, serta cerdas emosionalnya.

Hal itu diungkapkan Ustadz Khairil saat menutup kegiatan tahunan tersebut dalam kesempatannya melakukan silaturrahim dakwah dan koordinasi ke Provinsi Sultra tersebut.

Ustadz Khairil Baits dalam sambutannya mengharapkan agar santri yang berhasil meraih prestasi agar terus dipertahankan dan ditingkatkan lagi. Serta tidak lekas berpuas diri dengan capaian-capaian yang telah diraih.

“Hidayatullah Sultra akan terus berkibar dengan prestasi dan amal shalih. Santri Hidayatullah harus terus berprestasi baik di sekolah, di masjid, dan lingkungan masyarakat dengan menjunjung semangat ukhuwah Islamiah,” kata Ustadz Khairil saat menutup acara ini, Sabtu malam (27/12/2013) lalu.

Kata Khairil, siapa yang berprestasi dengan kerja untuk amal baktinya kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan menebar manfaat untuk segenap manusia dengan potensi yang dimilikinya, maka ia akan bahagia di dunia dan di akhirat.
Sementara itu, Koordinator Porseni Hidayatullah Sultra 2013, Giroh Amrullah, menjelaskan, jenis kegiatan yang diperlombakan oleh para santri tidak hanya berupa kegiatan fisik, tetapi memperlombakan kegiatan yang sifatnya moral edukatif lainnya seperti lomba qiraah, tahfidzul Qur’an, cerdas cermat, dan sebagainya.

Giroh menambahkan, tujuan pelaksanaan kegiatan tersebut yakni untuk memantapkan spiritual dan mentalitas secara akademik para santri serta dalam rangka mempererat tali silaturrahim antar sesama santri di seluruh Sultra.

“Dari kegiatan ini kami berharap peserta tidak hanya kuat secara fisik tapi juga kuat dalam spiritual,” paparnya.

Dewan Pendidikan Wilayah Hidayatullah Sulawesi Tenggara menutup Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) antar santri Hidayatullah se-Sultra di halaman Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari, Jalan Jenderal Ahmad Nasution Nomor 8, Sabtu (27/12/2013) malam. (hio/ybh)

Dalami Manhaj Melalui Dauroh, Bukan untuk Bangun Egoisme Organisasi

Acara dauroh Hidayatullah Makassar
Acara dauroh Hidayatullah Makassar

HIDORID — Pengurus Daerah (PD) Hidayatullah Makassar, Sulawesi Selatan, menggelar pengkaderan melalui diklat dasar atau Daurah Marhalah ‘Ula di Aula Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar, BTP, selama 3 hari, Jumat-Minggu (27-29/12/2013) lalu.

Peserta dauroh berasal dari kader, simpatisan, dan warga Hidayatullah dari wilayah Makassar, Barru, dan Bantaeng. Daurah berjenjang tersebut merupakan tahapan pengkaderan Hidayatullah untuk melahirkan kader dakwah unggul dan berkarakter.

Ketua Steering Committe Daurah Marhalah ‘Ula Hidayatullah Makassar, Ustadz Burhanuddin, mengatakan marhalah ini diselenggarakan untuk setiap pribadi yang ingin menjadi bagian dari komunitas dakwah Hidayatullah. Dauroh ini sebagai metode untuk memahami dan mendalami pedoman dan ciri khas Hidayatullah melalui konsepnya yang dikenal dengan Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW).

“Pengurus Hidayatullah memastikan daurah yang dilaksanakan ini semata-mata untuk memahamkan manhaj Hidayatullah yang diyakini sebagai manhaj nubuwwah sebagai visi perjuangan dalam membangun umat dan meretas peradaban mulia, bukan untuk membangun egoisme organisasi,” jelas Ustadz Burhanuddin.

Ustadz Burhanuddin menerangkan pihaknya berharap peserta yang telah mengikuti daurah harus memiliki karakter yang bersahabat dengan Qur’an, berahlak mulia, berkarakter rahmatan, dan gemar menunaikan Qiyamul lail (shalat malam).

Sehingga, tegas dia, dengan amalan tersebut diharapkan kader Hidayatullah akan menjadi teladan dan berperan aktif bagi perbaikan pola pikir dan akhlak masyarakat. Dalam kiprahnya, Hidayatullah di Sulsel telah memiliki kampus dan pesantren hampir di semua kabupaten/kota, kecuali Toraja.

Kegiatan serupa baru-baru ini juga telah diadakan di Kabupaten Luwu dan Bone. Dalam daurah peserta diberikan materi yang menjadi metode dakwah Hidayatullah dalam membangun pribadi jamaah/warga dan peradaban Islam. (fir/hio/ybh)

Dolar Melonjak, Mahasiswa Hidayatullah di Timteng Tetap Semangat Belajar

Sejumlah mahasiswa Indonesia di Sudan
Sejumlah mahasiswa Indonesia di Sudan

HIDORID — Meski dilanda ketidakstabilan ekonomi, para pelajar Indonesia di Timur Tengah, khususnya Yaman dan Sudan, tetap konsisten menuntut ilmu. Bagi mereka, naiknya kurs dolar maupun harga-harga barang dan jasa tak menyurutkan semangat belajar.

“Alhamdulillah tetap semangat karena ini termasuk jihad. Seandainya (ekonomi) itu menjadi sebuah alasan untuk tidak semangat dalam belajar, seharusnya musim dingin yang sedang berlangsung ini sudah cukup membuat kita untuk down (turun semangat),” ujar Abdul Mannan Hajar, mahasiswa Universitas Yemenia kepada Hidayatullah.com via surat elektronik, Jumat, 24 Shafar 1435 H (27/12/2013).

Menurut mahasiswa asal Pesantren Hidayatullah Balikpapan ini, pilihan menuntut ilmu di negeri yang jauh dari kampung halaman sudah dipertimbangkan baik-baik sebelumnya. Apa pun yang terjadi harus siap diterima.

“Ke sini kan sudah harus siap segalanya. Mau belajar jauh-jauh ke negeri orang, berarti harus siap menghadapi apa pun yang akan terjadi di sini karena ini sebuah konsekuensi,” tegas pria asli Makassar ini.

Semangat senada disampaikan Muzhirul Haq, mahasiswa jurusan hadits di Al-Iman University, Sana’a, yang sudah sekitar 6 tahun menetap di Yaman.

“Kurs boleh turun naik, tapi semangat belajar harus naik terus,” ujar alumnus Madrasah Aliyah Raadhiyatan Mardhiyyah Putra Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Kalimantan Timur ini.

Di Sudan, Fathi Farhat mengemukakan optimisme yang sama. Menurut mahasiswa Ma’had Lugho Arobiyyah Wa Dirosatil Islamiyah Li Annatiqin Ghoiru Arob, Hajj Yusuf, Khartoum ini, pantang surut hanya gara-gara kurs dolar. Pesan serupa diserukan buat rekan-rekannya di luar negeri.

“Alhamdulillah semangat. Ibarat jebur sumur, mending sekalian minum. Tetap belajar meski dolar menggubar. Gubar, terpedo padang pasir,” aku pria yang belum lama ini menikahi seorang Muslimah asal Mojokerto, Jawa Timur.

Faiz Ahmad Kholis, mahasiswa semester 1 International University of Africa segendang sepenarian dengan Farhat. Faiz mengaku rugi jika sudah jauh-jauh meninggalkan Tanah Air namun harus mundur hanya gara-gara ekonomi.

“Harus tetap semangat, karena sama di Indonesia juga lagi susah. Susah ke luar negeri harus ada yang dihasilkan, yaitu belajar dan belajar. Baru nanti sukses, sukses dunia dan akhirat,” tegas lajang asal Dumai, Kepulauan Riau yang mengambil jurusan Syari’ah (Dirosat Islamiyah) ini.

Diberitakan sebelumnya oleh Hidayatullah.com, melejitnya kurs dolar berpengaruh pada tabungan rupiah para pelajar Indonesia di Timur Tengah, khususnya Yaman dan Sudan. Mereka “kehilangan” nilai uang hampir 50 persen, dan harus menjerit dengan segala keterbatasan ekonomi. Apalagi yang masih mengandalkan kiriman dari Tanah Air.* (Hidcom)

Gencarkan Dakwah dan Pemberdayaan, Hidayatullah Makassar Dirikan Pos Dai

0
Pembukaan Raker Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar /CODC
Pembukaan Raker Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar /CODC

HIDORID — Dalam rangka mendukung dan mengoptimalkan peran dai/muballigh di setiap aktifitas dakwahnya, Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar mendidirikan Persaudaraan Dai Nusantara atau Pos Dai untuk wilayah selatan Provinsi Sulawesi tersebut.

Hal itu dikatakan Media Relation Yayasan Al Bayan Pesantren Hidayatullah Makassar Firmansyah Lafiri. Kata Lafiri, peresmian Pos Dai Sulawesi Selatan itu terbentuk bertepatan dengan rotasi pengurus Yayasan Al Bayan Pesantren Hidayatullah Makassar.

Sekedar diketahui, Yayasan Al Bayan pengelola Pesantren Hidayatullah Makassar memiliki struktur kepengurusan baru mulai bulan Desember. Yayasan Al Bayan kini dipimpin ketua Sarmadani dan Sekretaris Muh Arfah.

Tindaklanjut dari terbentuknya pengurus baru tersebut, digelar Rapat Kerja (Raker) yayasan yang digelar di Aula Pesantren Hidayatullah, kawasan BTP Makassar, Rabu (25/12).
Hadir membuka raker tersebut, Ketua Dewan Pembina Hidayatullah Makassar Aziz Qahhar Mudzakkar. Dalam sambutannya anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Sulsel tersebut mengharapkan pengurus baru agar lebih responsif terhadap perubahan dan kebutuhan masyarakat yang cepat dan meningkat.

“Hidayatullah Makassar beberapa tahun belakangan ini dianggap jalan di tempat karena dinamika internal dibanding harapan masyarakat terhadap lembaga pendidikan dan dakwah ini lebih tinggi sekarang. Realitas ini yang patut menjadi motivasi bagi pengurus baru,” kata Ustadz Aziz.

Dari raker tersebut, pengurus baru Yayasan Pesantren Hidayatullah menetapkan satu tekad baru yakni Unggul dan Berkarakter untuk menjadi lima besar Kampus Utama Hidayatullah sebagai miniatur peradaban Islam.

“Untuk membangun peradaban Islam yang mulia maka titik tolaknya adalah dengan mengentalkan kultur dan tradisi keilmuan yang berlandaskan tauhid,” kata Ketua Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulsel Ust Abdul Majid yang juga hadir dalam raker itu.

Sementara itu, dibentuknya wadah pemberdayaan dai bernama Pos Dai menurut Ketua Pos Dai Sulsel Ust Qadir al Qitri untuk mem-back up aktivitas dan kebutuhan dakwah di Sulsel.

“Bentuknya mulai dari pengiriman dai ke pelosok, kajian islam, memfasilitasi para pelaku dakwah dengann memberikan kafalah (insentif) bagi para dai,” jelasnya di warkop Teras Ukhuwah Ponpes Hidayatullah BTP Makassar.

Melalui Pos Dai pula akan membantu menyalurkan bantuan dari masyarakat untuk dakwah. “Misalnya bantuan kendaraan untuk digunakan bagi dai yang berdakwah di daerah,” urainya.

Lembaga yang terbentuk mulai November lalu tersebut dibentuk untuk lebih mengorganisir dan memenej dakwah dan para pelakunya.

“Supaya dakwah dan syiar Islam lebih terorganisir dan masalah para pelaku dakwah di lapangan bisa dicarikan solusi,” tambahnya.

Untuk semakin mengembangkan kemampuan dan wawasan para dai, Pos Dai juga akan secara periodik menyelenggarakan pelatihan, seminar, tablik akbar, pelatihan penyelenggaraan jenezah, pelatihan qira’ah/tajwid al Quran.

“Kami membuka diri kepada pelaku dakwah dan organisasi Islam secara umum,” ucap pengasuh rubrik konsultasi zakat di Tribun Timur ini. Pos Dai menyiapkan dai untuk pengajian-pengajian baik oleh masyarakat maupun majelis taklim. “Kami juga melayani konsultasi syariah melalui SMS di 085255799111,” jelas Qadir. (ttn/ybh/hio)

Bangun Nasionalisme, Pemerintah Kembangkan Pesantren Perbatasan

0
Sejumlah anak-anak binaan Ponpes Hidayatullah Pulau Sebatik/ FOTO: Ainuddin Chalik
Sejumlah anak-anak binaan Ponpes Hidayatullah Pulau Sebatik/ FOTO: Ainuddin Chalik

HIDORID — Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) mengembangkan program pesantren perbatasan di beberapa wilayah Tanah Air. Sebab, pembangunan di wilayah perbatasan dinilai masih belum memadai.

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Ace Saepuddin mengatakan, latar belakang pengembangan program pesantren perbatasan ini sebagai bentuk penguatan nilai-nilai keagamaan. Selain itu, untuk menjaga rasa nasionalisme santri yang berasal dari wilayah perbatasan tersebut.

“Tahun ini adalah tahun keempat pengembangan porgram pesantren perbatasan. Saat ini, pengembangan program ini sudah berjalan di enam wilayah di daerah perbatasan,” kata Ace, Senin (23/12) lalu.

Di antaranya, dia menjelaskan, di Pulau Sebatik yang berada di perbatasan Kalimantan Utara dan Sabah, Malaysia, dan di wilayah Sanggau, Kalimantan Barat, yang berbatasan dengan Serawak, Malaysia. Di pulau ini telah terdapat Pondok Pesantren Hidayatullah di bilangan Sungai Nyamuk dekat daerah Bambangan menunju pelabuhan.

Juga, di wilayah Sabang, Aceh, yang berbatasan dengan Laut India dan Thailand-Malaysia. Kemudian, di wilayah Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berbatasan dengan Timor Leste dan di Merauke, Papua, yang berbatasan dengan Papua Nugini.

“Saat ini, Kemenag tengah fokus mengembangkan pesantren perbatasan di Pulau Parit di Kabupaten Karimun yang berbatasan dengan Malaysia dan Singapura,” jelas Ace.

Sama seperti program pesantren perbatasan lainnya. Di wilayah Karimun ini pemerintah daerah (pemda) bertugas menyediakan lahan 10 hektare, sedangkan Kemenag menyiapkan dana awal Rp 2,5 miliar untuk pembangunan pesantren perbatasan.

Kemenag juga menyiapkan tenaga pendukung pengembangan pesantren perbatasan yang diambil dari santri berprestari dan santri yang lulus dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Mereka akan menjadi guru agama sekaligus pendamping pengembangan pertanian.

Ace mengungkapkan, saat ini enam program pengembangan pesantren perbatasan sudah menunjukkan hasil yang cukup membanggakan.

“Yang paling maju ada di Kaltim, di sana tidak hanya pesantren, tapi juga ada pendidikan formal,” jelasnya. Sebagian besar santri di sana adalah anak para pekerja sawit yang kurang mendapat akses pendidikan formal.

Menurut Ace, program ini juga ingin menepis pandangan orang yang menganggap tidak penting pendidikan agama di perbatasan.

Padahal, pendidikan pesantren dapat menggembleng karakter keislaman maupun kebangsaan. Dengan demikian, nasionalisme siswa dan santri yang berada di perbatasan semakin tumbuh.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karimun Afrizal mengatakan, pengembangan pesantren perbatasan, khususnya di wilayah Pulau Parit, Kabupaten Karimun, akan dapat menjaga wilayah ini dari berbagai nilai negatif dari luar Indonesia.

“Wilayah kami berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura. Sering kali wilayah perbatasan ini menjadi akses mudah masuknya nilai buruk dari luar,” ujar Afrizal dirilis laman Kemenag.

Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah di Pulau Sebatik, Ustadz Sudirman Ahmad, mengatakan pesantrennya kini terus menyelenggarakan pembinaan kemasyarakatan untuk anak-anak perbatasan baik dengan pendidikan TK/TPA dan sederajat. Sudirman menambahkan, pondok pesantrennya yang berada di tapal batas antara Indonesia dan Malaysia ini membina juga sejumlah anak anak TKI yang bekerja di jiran. (ant/kem/hio)