Beranda blog Halaman 675

Hidayatullah Kabupaten Bone Terus Berfokus Pada Tiga Program Utama

Masjid sebagai pusat kegiatan warga di Komplek Pesantren Hidayatullah Bone / DOKPRI
Masjid sebagai pusat kegiatan warga di Komplek Pesantren Hidayatullah Bone / DOKPRI
Kantor Yayasan Al Fath Pesantren Hidayatullah Kabupaten Bonse, Sulsel / DOKPRI
Kantor Yayasan Al Fath Pesantren Hidayatullah Kabupaten Bonse, Sulsel / DOKPRI

Hidayatullah.or.id — Hidayatullah yang hadir kali pertama di Kabupaten Bone pada tahun 1994, kini terus konsen memfokuskan kegiatannya pada tiga program utama. Bone sendiri adalah salah satu Daerah otonom di provinsi Sulawesi Selatan dengan nama ibukota Watampone.

Ketua Yayasan Al Fath Pondok Pesantren HIdayatullah Bone, Ismail Mukhtar, mengatakan pihaknya menjalankan tiga program utama yakni dakwah, pendidikan dan sosial.

Di bidang dakwah, kata Ismail, Yayasan Al Fath sejak awal terus mengembangkan misi dakwah dengan rutin menyebarkan dainya melakukan khutbah Jum’at, pengajian rutin majelis taklim baik pemerintah maupun swasta masyarakat kota bahkan sampai kepelosok desa.

Sementara di bidang pendidikan, sejak memasuki tahun ajaran 2007 dibuka pendidikan tingkat TK dan pada 2010 membukan jenjang pedidikan SD, MTs dan MA sekaligus.

“Alhamdulillah, telah semua berjalan dengan baik,” kata Ismail Mukhtar kepada media ini, Senin (05/05/2014).

Adapun di bidang sosial, Yayasan Al Fath Hidayatullah Bone menyelenggarakan lembaga sosial berupa Pusat Pendidikan Anak Soleh (PPAS) atau panti asuhan dan resmi terdaftar pada Dinas Sosial Kabupaten Bone.
PPAS ini bertanggung jawab atas kelangsungan anak binaannya mulai dari kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Semua layananan yang diberikan kepada anak-anak asuh ini berupa pendidikan Islam, mental, dan konsumsi harian, ditanggung sepenuhnya oleh yayasan atas swadaya masyarakat.

Bone dengan wilayah yang sangat luas dan jumlah penduduk yang cukup besar menjadi pertimbangan mengapa yayasan dengan gerakan utama dakwah dan pendidikan ini hadir. Di samping jumlah lembaga pendidikan Islam dikawasan ini masih terbilang nihil, merambah ke wilayah berpenduduk mayoritas Bugis ini kian menambah spirit para pendiri untuk merambah melalui dakwah dan pendidikan serta sosial.

“Gerakan dakwah dan tarbiyah terus menerus dibangun oleh lembaga dimaksudkan untuk menguatkan ummat ini pada prinsip hidup berislam selain untuk membentengi dari budaya hidup sekuler,” kata Ismail.

Berdirinya Yayasan Al Fath Pondok Pesantren Hidayatullah adalah rintisan Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar dan kawan kawan yang kala itu sebagai koordinator Pondok Pesantren Hidayatullah se Sulawesi yang selanjutnya menjadi Pembina utama lembaga ini.

Sementara untuk pertama kalinya menunjuk Abdul Salam sebagai pimpinan dibantu beberapa orang diantaranya Suriadi, Haji Gassing, Abdul Rahaman, Abdul Waris dan lain lain.

Bahkan tanah seluas kurang lebih kl 8000 M2 dan menjadi kampus utama yang terletak di Jl Sungai Musi Km 5 Panyula adalah merupakan wakaf Haji Gassing.
Lembaga ini dalam perjalannya telah mengalami pergantian pimpinan yaitu Abdul Salam (1994-1999), Abu Bakar (1999–2000), Suriadi (2000–2002), Munansar (2002 –2008) dan Ismail Mukhtar (2008–sekarang). (ybh/hio)

Siaran Pers PP Hidayatullah Hadapi Pilpres 2014

Suasana Sidang Pleno PP Hidayatullah di Aula HiTC Kampus Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat / DUDI
Suasana Sidang Pleno PP Hidayatullah di Aula HiTC Kampus Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat / DUDI

Hidayatullah.or.id — Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah menggelar Rapat Pleno selama 3 hari di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, yang berakhir pada Ahad (04/05/2014) kemarin. Rapat Pleno ini dihadiri oleh unsur pengurus Pimpinan Pusat Hidayatullah, Dewan Syura Hidayatullah, Majelis Pertimbangan Pusat serta Pimpinan Umum Hidayatullah.

Rapat Pleno PP Hidayatullah yang berlangsung di Kota Depok ini mengusung tema “Penajaman Visi dan Strategi Gerakan”. Selain membahas program program kelembagaan dan organisasi, sidang pleno ini juga mengkaji dan mencermati mendalam hiruk pikuk politik nasional.

Berikut ini siaran pers yang dikeluarkan Biro Humas PP Hidayatullah yang berisi seruan untuk kader Hidayatullah dan mengenai sikap Hidayatullah menghadapi pemilihan presiden (Pilpres) 2014 yang akan digelar pada 9 Juli mendatang:

 

_______________________
Bismillahirrahmanirahim

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Terkait hiruk pikuk politik yang terjadi akhir ini, terutama menyangkut Pemilihan Presiden pada 9 Juli mendatang, musyawarah Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah meminta agar para kader tidak berkurang konsentrasinya dalam mengurus organisasi dan menjalankan program utama (main stream) organisasi, yakni dakwah dan tarbiyah.

Adapun sikap politik terhadap pasangan-pasangan calon presiden dan wakil presiden yang sekarang ramai menjadi perbincangan, musyawarah DPP Hidayatullah menyerahkan sepenuhnya kepada pimpinan umum Hidayatullah bersama pimpinan tiga lembaga di Hidayatullah, yaitu Ketua Majelis Pertimbangan Pusat, Ketua Dewan Syuro, dan Ketua Pimpinan Pusat.

Unsur pimpinan ini akan membahas masalah tersebut secara lebih mendalam dengan memperhatikan banyak hal dan meminta masukan banyak pihak.

Demikian pernyataan pers ini kami buat. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi negara kita dari keburukan dan mencegah umat Islam dari perpecahan. Amin

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kepala Biro Humas PP Hidayatullah
Mahladi

Sekolah Hidayatullah Ikuti Rakerda Kemenag Gorontalo

Rapat Kerja Daerah Kemenag Gorontalo yang diikuti oleh Sekolah Integral Hidayatullah / KEM
Rapat Kerja Daerah Kemenag Gorontalo yang diikuti oleh Sekolah Integral Hidayatullah / KEM

Hidayatullah.or.id -– Madrasah Aliyah dan Madrasah Tsanawiyah Integral Hidayatullah Kota Gorontalo terus melakukan pembenahan dan peningkatan kinerja dalam mengelola lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah.

Salah satu kegiatan dan agenda yang yang diikuti adalah Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Kementerian Agama Kota Gorontalo. Hadir dalam agenda tersebut Kepala Madrasah Aliyah Integral Hidayatullah Marwan Husain, S.Pd.I dan Kamil Patingki, S.HI selaku kepala MTs. Integral Hidayatullah.

Kegiatan ini dilakukan sebagai langkah cepat dalam menindaklanjuti Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Gorontalo yang dilaksanakan beberapa hari lalu.

Kantor Kementerian Agama Kota Gorontalo melaksanakan Rakerda untuk seluruh jajarannya. Bertempat di Aula Hotel Aryaduta Kota Manado. Dibuka langsung Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Gorontalo H. Muhajirin Yanis, didampingi Kakankemenag Kota Gorontalo H. Syaifudin Sidiki serta Kasubag Tatausaha Hj. Sabrijah Podungge.

Syaifudin Sidiki mengatakan, Rakerda merupakan salah satu wadah dalam mendiskusikan permasalahan yang dihadapi lembaga, dalam menyukseskan berbagai macam program kerja yang direncanakan. Selain itu, Rakerda jajaran Kemenag Kota Gorontalo tahun 2014 tersebut, lebih ditekankan pada pelayanan aparat, baik struktural maupun fungsional dalam melayanai masyarakat.

Dari Rakerda ini diharapkan akan semakin bagus aparatur Kemenag yang bekerja secara professional, dapat mengemban amanah sebagai abdi masyarakat. Sesuai dengan tema Rakerda yang diusung yakni, mewujudkan aparatur Kementerian Agama professional dan amanah, turur kata Syaifudin.

“Rakerda ini diharapkan dapat menghasilkan program yang berorientasi terwujudnya aparatur professional dan berintegritas tinggi. Dapat menciptakan suasana kerja kondusif,” ungkap Syaifudin Sidiki.

Sementara Kakanwil H. Muhajirin Yanis menganggap, waktu pelaksanaan Rakerda untuk jajaran Kemenag kota Gorontalo, sesaat setelah pelaksanaan Rakerda jajaran Kanwil Kemenag Prov. Gorontalo dianggap sangat tepat.

Pasalnya, kata dia, program kerja yang telah dibahas dalam Rakerda Kanwil Kemenag Prov. Gorontalo beberapa hari lalu, dapat segera dijabarkan pada Rakor Kemenag Kota Gorontalo.

“Sehingga program kerja yang nantinya akan diputuskan oleh Kankemenag Kab/Kota akan selaras dengan program kerja yang ada di Kantor Wilayah,” ujar Kakanwil.

Lebih lanjut Kakanwil menegaskan, dalam pengimplementasian program kerja tidak hanya dibutuhkan program kerja yang baik maupun rencana strategis yang inovatif. Tapi juga dibutuhkan kerja sama tim yang solid. Terdiri dari unsur pimpinan dan staff, dengan senantiasa mensinergikan pola pikir serta tujuan masing-masing pihak, dalam merealisasikan program program kerja.

“Sebagai upaya menghasilkan prestasi maksimal yang seluruhnya bermuara pada pencapaian tujuan lembaga,” katanya. (hio/ybh)

Ormas Hidayatullah Desak Pemerintah Sahkan PP Jilbab

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Dr H Abdul Mannan MM
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Dr H Abdul Mannan MM

Hidayatullah.or.id — Pengurus Pusat (PP) Hidayatullah menegaskan bahwa negara Indonesia akan menjadi negara sekuler jika tidak mengesahkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang kebolehan berjilbab bagi Muslimah di institusi negara seperti Polri, Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan juga siswi di sekolah negeri.

Hidayatullah mendesak agar pemerintah segera menerbitkan dan mengesahkan PP tentang jlbab tersebut agar hak hak dan kewajiban kaum Muslimah sebagai warga negara dan penganut kepercayaan agama Islam etap terlindungi.

Hal itu ditegaskkan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Hidayatullah Abdul Mannan menyusul adanya desakan dari Aliansi Pelajar Mahasiswa untuk Kemerdekaan Berjilbab. Aliansi ini mendesak presiden segara menetapkan izin yang menjamin kemerdekaan berjilbab bagi Muslimah di semua institusi.

Abdul Mannan menegaskan, pemakaian jilbab merupakan ajaran Islam dan kewajiban individu bagi Muslimah.

“Jadi, pemerintah Republik Indonesia yang menolak pengesahan PP tentang jilbab ini cenderung mengikuti asas negara sekuler,” tuturnya seperti juga dikutip Republika baru baru ini.

Abdul Mannan menerangkan bahwa meskipun negara tidak berasaskan Islam, namun asas Pancasila dengan terang melindungi kebebasan beragama dan berkeyakinan, termasuk hak untuk menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila, tegas beliau, jelas tidak sama dengan negara sekuler.

“Maka kalau ummat Islam menuntut jilbab pada pemerintah yang cenderung sekuler, dikabulkan atau tidak ya kembali kepada pemerintah,” katanya.

Namun sebagai negara Pancasila dengan mayoritas penduduk yang beragama Islam, Abdul Mannan mendesak pemerintah wajib memenuhi harapan rakyat dan mengesahkan PP tentang jilbab itu.

Sebelumnya, Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasaruddin Umar sepakat persoalan jilbab lebih aman dibuat dalam peraturan pemerintah (PP) agar tidak hanya berlaku di Polri, tapi semua instansi. Ia juga yakin presiden tahu tentang itu.

Wamenag mengatakan jilbab bagi Muslimah di instansi seperti Polri dan TNI, kebijakannya diserahkan ke instansi bersangkutan. Sebab mereka mempunyai ‘rumus sendiri’ sendiri terkait seragam korpsnya.

Diakuinya memang ada saran ke sebaiknya presiden segera mengeluarkan peraturan pemerintah. Menurut Wamenag pun memang akan lebih aman jika izin dibuat PP. Sehingga kebebasan berjilbab tidak hanya di Polri, tapi bagi semua instansi. (ybh/hio)

Jangan Sepelekan Pentingnya Komunikasi dalam Keluarga

Sejumlah muslimah peserta workshop yang memadati ruangan / MASYKUR
Sejumlah muslimah peserta workshop yang memadati ruangan / MASYKUR
Ustadz Zainuddin Musaddad (koko putih) saat hadir di Kampus Pesantren Hidayatullah Luwu Utara, Sulsel / MASYKUR
Ustadz Zainuddin Musaddad (koko putih) saat hadir di Kampus Pesantren Hidayatullah Luwu Utara, Sulsel / MASYKUR

Hidayatullah.or.id — Salah satu faktor keberhasilan hidup seseorang adalah komunikasi yang baik. Dengannya orang itu bisa menjalin hubungan dengan siapa saja tanpa perlu menimbulkan masalah.

Terlebih ketika berbicara tentang urusan dakwah dan keluarga, sebagai sesuatu yang tak terpisahkan bagi orang-orang beriman. Dakwah itu akan “mengena” ketika apa yang disampaikan dan kebaikan yang ditawarkan mampu dipahami dan diikuti dengan baik oleh orang lain.

Demikian intisari acara Seminar dan Workshop Parenting yang diadakan oleh Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Sulawesi Selatan bekerja sama dengan Muslimat Hidayatullah (Mushida) Luwu Utara, Sulsel, belum lama ini (26-27 April).

“Termasuk dalam hubungan sesama anggota keluarga, sudah jadi rahasia umum jika beberapa keretakan keluarga itu bermula dari komunikasi yang buruk di antara mereka,” kata Zainuddin Musaddad, selaku pemateri dalam seminar yang bertajuk “Membangun Komunikasi Produktif dalam Keluarga” itu.

Zainuddin menerangkan tinta emas sejarah menoreh nyata, tak sedikit dakwah yang dilakoni oleh Nabi Muhammad justru memesona para sahabat dengan ucapan yang santun dan akhlak yang mulia. Bukan semata mengandalkan retorika dakwah layaknya seorang orator ulung dan muballigh kondang pada umumnya.

“Inilah soalan penting yang hendaknya selalu disegarkan oleh para juru dakwah,” jelas Zainuddin Musaddad.

Zainuddin menegaskan bahwa bagi seorang pendakwah tak cukup berbekal hanya materi ceramah yang bagus lalu seorang dai melalaikan metode penyampaian yang santun dan akhlak yang mulia.

Dalam acara yang berlangsung di Kampus Hidayatullah Bunga Didi, Luwu Utara itu, Ustadz Zain, demikian panggilan akrabnya, juga mengingatkan ajaran Nabi tersebut dalam hal interaksi dalam sebuah keluarga.

Menurut Zainuddin, komunikasi yang sehat dan produktif itu tidak hanya sebatas bertukar sapa dan saling bertanya kabar dalam sebuah keluarga. Sebab komunikasi itu juga bisa berfungsi untuk menguatkan jiwa-jiwa yang ada dalam keluarga tersebut.

Maka tak heran, lanjut dia, banyak ulama-ulama besar dan tokoh pemimpin yang lahir dari pola didikan komunikasi yang produktif dalam rumah. Uniknya, terkadang para juru dakwah pun tak luput dari kelalaian itu sendiri.

Menurut Zainuddin, hal itu biasa disebabkan oleh kesibukan dakwah dan mengajar yang begitu tinggi. Hingga akhirnya lupa atau lalai dengan diri dan keluarga sendiri.

“Ini sangat fatal, jika itu betul-betul terjadi,” tegas ustadz yang dikenal suka main badminton bersama menantunya tersebut.

Zain mengatakan, jangan sampai ada yang berdalih gara-gara sibuk mengajar atau berdakwah hingga anak sendiri tak pernah disapa atau buta terhadap perkembangan anak-anaknya.

Masih menurut Zainuddin, sebenarnya faktor inilah yang hilang di tengah keluarga Muslim saat sekarang. Komunikasi dalam keluarga berjalan apa adanya. Tanpa pernah ada rekayasa komunikasi yang didesain sebagai bentuk pembelajaran terhadap anak-anak.

Dalam kesempatan tersebut, Zainuddin memaparkan panjang lebar dampak dari buruknya sebuah komunikasi dalam keluarga Muslim. Selain bisa menjadikan hubungan renggang, hal itu juga menyebabkan anak-anak kehilangan figur yang bisa diteladani oleh mereka.

Akibatnya, alih-alih berbagi masalah dan persoalan kepada orangtuanya, anak-anak tersebut seringkali lebih memilih melampiaskan masalahnya kepada apa yang ia senangi. Tanpa peduli lagi baik atau buruk perbuatan tersebut.

“Lihatlah anak-anak pecandu narkoba tersebut. Sebenarnya semua itu hanyalah pelampiasan sesaat atas buruknya komunikasi dalam kelurga sebelumnya,” papar Zainuddin.

Selain menampilkan pemateri Ustadz Zain dari Balikpapan, kegiatan yang direncanakan digelar secara berkala itu juga menyajikan dua pembicara berikutnya. Yaitu Sulmiati Shaleh yang mengampu materi “Ibu adalah Madrasah Pertama” dan Hani Akbar yang tampil dengan tema “Character Building dengan nilai-nilai Sitematika Nuzul Wahyu (SNW)”.

Kedua pemateri terakhir tak lain adalah instruktur nasional Pimpinan Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida) sekaligus Dewan Pembina ibu-ibu warga yang berdomisili di Hidayatullah Kampus Gunung Tembak, Balikpapan.

Acara Workshop Parenting ini ditutup oleh Kaisar, Ketua Departemen Pendidikan PW Hidayatullah Sulsel. Dalam sambutan penutupnya, Kaisar berharap semoga para peserta benar-benar menyerap seluruh ilmu yang disajikan oleh pemateri.

Rupanya, menurut Kaisar, masih terlalu banyak yang perlu kita benahi untuk sebuah cita-cita besar membangun peradaban Islam ini.

“Terkadang kita anggap sepele urusan-urusan itu, namun ternyata dampaknya sangat besar,” Ucap Kaisar mengakui. */ Masykur Abu Jaulah

Batam Akan Gelar Sarasehan Nasional Perintis Hidayatullah

Rapat panitia acara agenda silaturrahim dan sarasehan perintis-perintis Hidayatullah di Batam / HMAK
Rapat panitia acara agenda silaturrahim dan sarasehan perintis-perintis Hidayatullah di Batam / HMAK

Hidayatullah.or.id — Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Batam akan menggelar kegiatan bertaraf nasional bertajuk silaturrahim dan sarasehan nasional perintis dan senior Hidayatullah yang rencananya akan diselenggarakan pada 1-2 Juni 2014 mendatang.

Kegiatan yang diagendakan akan digelar di Kampus Terpadu Hidayatullah Batam tersebut rencananya akan mengundang tokoh-tokoh penting lembaga dan ormas Hidayatullah dari seluruh nusantara. Adapun tempat yang dipilih adalah lingkungan Kampus I Kibing Batu Aji dan Kampus II Tanjung Uncang, Batu Aji, Kota Batam.

Humas Pesantren Hidayatullah Batam mengatakan kegiatan besar Pesantren Hidayatullah Batam tersebut bertujuan untuk mengikat ukhuwah dengan mengadakan sarasehan perintis-perintis Pesantren Hidayatullah.

“Semoga dapat terlaksana dengan sebagaimana mestinya, Insya Allah,” katanya dalam pernyataannya beberapa saat lalu dikutip Hidayatullah.or.id, Rabu (30/04/2014).

Selain itu, kegiatan tersebut diharapnakn dapat memberi manfaat salah satunya memotivasi kader-kader penerus Hidayatullah untuk meningkatkan kiprah dan gerakan dakwah. Dan bagi sekolah integral dapat menjadi ajang penguatan Pendidikan Berbasis Tauhid. (ybh/hio)

Puluhan Murid Maramah Ikuti Daurah Kelembagaan Usai UN

Sejumlah murid Marama Putri peserta daurah berbincang di sela-sela jeda acara / MASYKUR
Sejumlah murid Marama Putri peserta daurah berbincang di sela-sela jeda acara / MASYKUR

Hidayatullah.or.id — Banyak cara seorang pelajar dalam mengisi waktu liburan. Namun umumnya para pelajar memaknai liburan itu sebagai masa berlepas diri dari berbagai aktifitas yang mengikat. Semunya harus bebas dan lepas. Tak ada beban lagi. Apalagi bagi siswa kelas XII Sekolah Menegah Umum (SMU) yang baru saja melewati masa-masa tegang bersama Ujian Nasional (UN).

Bahkan, tak sedikit di antara mereka lalu terlibat hura-hura atas dalih mereka sudah menempuh ujian akhir dan (merasa) telah tamat belajar. Kita butuh refreshing sejenak, kira-kira seperti itu kilah klasik sebagian mereka.

Meski jamak terjadi, rupanya fenomena umum itu tak berlaku bagi siswi kelas XII Madrasah Aliyah Raadhiyatan Mardhiyyah (Marama) Putri, Balikpapan. Setidaknya hal itu terlihat dari berbagai kegiatan yang diadakan oleh siswi kelas XII, usai pelaksanaan UN silam. Termasuk di dalamnya pada kegiatan Daurah Kelembagaan yang digelar selama tiga hari (28-30 April) tersebut.

“Prinsip kami, setiap waktu adalah kebaikan. Sehingga tak ada waktu untuk bersantai apalagi berleha-leha dengan kegiatan yang tak bermanfaat,” kata Nur Hasanah, siswi kelas XII Bahasa mewakili rekan-rekannya.

Bertempat di Mushalla Asrama Putri Sakinah Jamilah, Marama Putri kembali menggelar agenda tahunan berupa Daurah Kelembagaan. Sebuah kegiatan pengayaan tentang visi dan misi Hidayatullah sebagai lembaga dakwah dan tarbiyah di tengah masyarakat.

“Ia disebut Daurah Kelembagaan sebab memuat materi-materi yang berkisar pada pengenalan lebih jauh tentang Lembaga Hidayatullah yang menjadikan mainstream (arus utama) gerakannya berporos pada dakwah dan tarbiyah,” tutur St. Syamsiah, Ketua Panitia Daurah menjelaskan.

Sebagai contoh materi yang disampaikan pada kegiatan tersebut sebut saja misalnya studi lanjutan pendalaman tentang pokok-pokok ajaran Islam, internalisasi visi misi Hidayatullah untuk tegaknya kehidupan Islam, eksistensi nilai-nilai kekaderan terhadap Kesuksesan dakwah, dan generasi sukses dalam perspektif al-Qur’an.

Selain materi-materi di atas, panitia juga menyiapkan beberapa materi khusus terkait dunia muslimah. Seperti Berhijab dan Pengaruhnya Terhadap Kepribadian Muslimah dan Generasi Muslimah, antara Idealitas dan Realitas, dan Transformasi Manhaj Sistematika Nuzul Wahyu (SNW) Terhadap Kehidupan Muslimah.

Agenda rutin tahunan tersebut biasanya acap digelar siswi kelas XII Marama Putri setelah menuntaskan Ujian Nasional dan seabrek ujian lainnya. Selain mengisi waktu liburan, diharapkan siswi Marama Putri juga mendapatkan motivasi yang lebih kuat dalam mengarungi tantangan belajar selanjutnya dalam dunia perkuliahan atau tugas dakwah lainnya.

“Kami berharap seluruh anak didik kian menyadari kerasnya benturan dan tantangan kehidupan di luar. Mereka wajib membekali diri dengan ilmu dan ibadah yang kuat. Sebab hanya itulah sebaik-baik bekal yang ada,” papar Irma, S.S, Kepala Sekolah Madarasah Aliyah Raadhiyatan Mardhiyyah Putri menambahkan.

Waktu yang terus bergulir mengantarkan Madrasah Aliyah Raadhiyatan Mardhiyyah (Marama) menamatkan ratusan alumninya yang telah tersebar di segenap titik dakwah di belahan penjuru nusantara. Beberapa di antaranya bahkan sudah menjadi tokoh masyarakat. Sebut misalnya, Nashirul Haq, alumnus angkatan pertama. Selain sebagai anggota Dewan Syura Hidayatullah, Nashirul juga tengah menyelesaikan disertasi doktoral di IIUM, Malaysia.

Di sana juga ada Naspi Arsyad, alumnus Marama angkatan kedua. Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Syabab Hidayatullah dan Kholis Mukhlis. Imam besar Masjid Istiqamah, Komplek Pertamina, Balikpapan yang tak lain adalah lulusan Marama angkatan kesatu pula.

Tentunya masih banyak lagi para alumni lainnya yang semuanya telah berkiprah secara nyata dalam dakwah di tengah masyarakat

Untuk diketahui, dalam dokumentasi madrasah, angkatan tahun 2014 ini tercatat sebagai alumni angkatan ke-22. Untuk angkatan sekarang, Marama berhasil menamatkan 81 siswa. Dengan pembagian, 46 orang putra dan 35 orang putri.

Mereka itu lalu terbagi dalam dua kelas jurusan, yaitu Jurusan IPA dan Jurusan Bahasa. Untuk Marama Putra, sebanyak 24 siswa masuk dalam Kelas IPA sedang 22 siswa lainnya bergabung dalam Kelas Bahasa. Sebagaimana di Marama Putri, 16 siswi belajar di kelas XII IPA dan 19 orang lainnya di Kelas Bahasa. */ Masykur Abu Jaulah

Keharuan Khataman Ma’had Ahlus Shuffah Hidayatullah

Santri putra Ma'had Tahfidzul Qur'an Ahlus Shuffah, Hidayatullah Balikpapan / IST
Santri putra Ma’had Tahfidzul Qur’an Ahlus Shuffah, Hidayatullah Balikpapan / IST

Hidayatullah.or.id — Jam di dinding Aula “Prasmanan” Kampus Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, menunjukkan pukul 06.00 WITA. Suasana masih pagi, ketika seratusan santri Ma’had Tahfidz al-Qur’an Ahlus Shuffah Putri, telah memadati ruang serba guna milik pesantren.

Hari itu, Ahad (27/04/2014), para santri Tahfidz memiliki hajatan istimewa. Yaitu acara khataman atau sima’an 30 juz dari santri yang dianggap sudah menyempurnakan hafalannya sebanyak 30 juz.

Berbeda dengan setoran hafalan biasa (sima’an), acara Khataman tersebut mewajibkan santri memperdengarkan seluruh hafalan mereka tanpa putus dalam sekali waktu (pen; sekali duduk) saja. Umumnya, acara Khataman digelar dalam sekali dalam setahun. Sebagai sarana menguatkan sekaligus memastikan hafalan 30 juz seorang santri penghafal.

Kali ini, Ma’had Tahfidz al-Qur’an Ahlus Shuffah Putri menampilkan Ulin Nuha, salah seorang santri terbaik mereka dari kelas III Madrasah Ulya (setingkat Madrasah Aliyah). Putri dari pasangan Ir. Khairil Baits yang juga salah satu Ketua PP Hidayatullah dan Rusmini, ini berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz dalam kurun waktu 3 tahun.

Dalam kesempatan yang sama, Majrah, Kepala Ma’had Tahfidz al-Qur’an Ahlus Shuffah Putri menyatakan rasa syukur yang sangat mendalam atas keberhasilan santri-santrinya menyelesaikan hafalan kamil (sempurna) sebanyak 30 juz.

“Kita semua layak untuk bersyukur sebab hal ini tentu bukan capaian yang mudah atau sederhana,” ucap Majrah dalam sambutannya mengawali acara.

“Namun hendaknya semua ini tidak lalu melalaikan kita untuk mengamalkan apa yang telah kita hafal dari al-Qur’an,” imbuh ustadzah lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah ini.

Usai acara sambutan, selanjutnya Ulin Nuha dipersilakan memperdengarkan hafalannya di hadapan dewan penguji. Dewan penguji yang terdiri dari sejumlah ustadzah hafidzah senior itu bertugas menyimak dan menilai hafalan Ulin Nuha, sebagai santri teruji.

Untuk meningkatkan kualitas hafalan, para dewan penguji tersebut juga dibantu oleh beberapa orang santri yang sudah mencapai hafalan 20 juz lebih.

“Selain membantu menyimak hafalan, kita berharap para santri tersebut juga kian termotivasi dalam menyelesaikan hafalan mereka,” ujar Majrah menerangkan.

Tepat pukul 11.30 Ulin Nuha berhasil menyelesaikan tilawah hafalannya sebanyak 10 juz tanpa putus. Ulin mengawali hafalannya mulai dari juz ke-21 hingga juz paling akhir, yaitu juz ke-30. Dengan hafalan yang nyaris tanpa cacat tersebut Ulin Nuha berhasil memukau dewan juri dan seluruh undangan serta para santri yang turut hadir memenuhi hari bersejarah tersebut.

Alhamdulillah, kak Ulin berhasil dalam acara khataman ini,” kata Layla Farhana, santri kelas II Ulya yang merasa turut berbahagia mewakili rekan-rekannya yang lain.

Berbagai ucap syukur dari segenap santri dan para undangan menjadi penghias di penghujung acara Khataman tersebut. Setidaknya hal itu terungkap dari sambutan penutup yang disampaikan oleh Ibu Aida Chered, istri dari Abdullah Said, pendiri Pesantren Hidayatullah.

Aida Chered mengaku tak sanggup berkata-kata lagi dan sangat terharu dengan keberhasilan santri-santri Tahfidz al-Qur’an menyelesaikan hafalannya.

“Kita semua berharap semoga semakin banyak hafidz dan hafidzah al-Qur’an yang lahir dari rahim Gunung Tembak sebagai markas dakwah dan perjuangan Islam ini,” ujar Aida yang diaminkan oleh seluruh hadirin yang ada. */ Masykur Abu Jaulah

Bachar M Yohannes: Pemuda Harus Jadi Pelopor Perbaikan

0
Pengurus PW Hidayatullah Gorontalo berfoto bersama / MAR
Pengurus PW Hidayatullah Gorontalo berfoto bersama / MAR

Hidayatullah.or.id — Pemuda Hidayatullah harus terus membangun budaya kerja dan tidak boleh berpangku tangan. Pemuda tidak pantas mengabiskan waktu hanya berhubungan dengan lawan jenis melalui SMS (pesang singkat), atau lebih sibuk nongkrong di jejaring sosial internet seperti Facebook dan Twitter. Kini pemuda senantiasa dituntut berperan aktif dalam pergaulan sosial di masyarakat.

Demikian penggalan pidato yang disampaikan oleh Ketua Pimpinan Wilayah (PW) terpilih Syabab Hidayatullah Gorontalo periode 2014-2019, Bacharuddin Majid Yohannes, S.Pd.I.

“Pemuda adalah mereka yang selalu menggeliat dan resah terhadap kondisi zaman yang semakin bobrok. Ini yang harus menjadi kegelisahan Pemuda Hidayatullah untuk membaktikan diri pada kerja-kerja keummatan demi ukiran karya monumental di masa mendatang,” kata Bachar Yohannes di hadapan puluhan hadirin usai dilantik di Gorontalo, baru baru ini.

Pemuda, jelas Bachar, adalah mereka yang terus berusaha dengan kemampuan yang dimiliki untuk memberikan kontribusi pemikiran dan karya dalam rangka merubah wajah dunia.

“Sudahkah kita mampu mengobrak-abrik pemikiran sekuler dan kemudian menawarkan gagasan ideologis untuk perubahan yang lebih baik, inilah yang menjadi tantangan kita bersama,” ungkapnya.

Dalam lanjutan pidatonya, Bachar mengatakan bahwa peranan pemuda dalam mewujudkan mimpi dan cita-cita sebuah lembaga adalah mutlak untuk dilakukan. Ini tegas dia bukanlah sebuah isapan jempol belaka dan cerita fiktif semata yang terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bachar menerangkan bahwa terbentuknya NKRI ini adalah geliat para pemuda Indonesia yang terus bergerak, bersuara, dan senantiasa berada di garis depan dalam mewujudkan mimpi demi terbentuknya NKRI.

“Mereka melakukan perjuangan yang panjang dan pengorbanan yang berdarah-darah sampai para penjajah berhenti menggorogoti negeri ini,” cetus Bachar.

Salah satu gerakan konkrit yang dilakukan oleh Pemuda Indonesia saat itu adalah mengumpulkan seluruh pemuda untuk menyatukan pandangan, visi, dan ide yang tercetus dalam Sumpa Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1942. Pada titik puncak gerakan pemuda Indonesia adalah “menculik” Bung Karno dan mendesaknya untuk memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia.

Tak lupa Bachar juga sedikit menapaktilasi perjalanan sosok pemuda bernama Abdullah Said yang tak lain adalah pendiri Pesantren Hidayatullah. Pemuda Islam dengan keberanian yang luar biasa itu mampu mengobrak abrik pemikiran sekuler dan menawarkan ideologinya.

“Beliau seorang pemuda yang menjadi inspirator bagi seluruh kader-kader Hidayatullah yang mampu mengubah hutan belantara di Kalimantan Timur menjadi Kampus Peradaban Islam. Lalu, bagaimana dengan Pemuda Hidayatullah Gorontalo,” imbuh dia menutup pidatonya seraya berharap Pemuda Hidayatullah Gorontalo dapat semakin eksis.

Musyawarah Wilayah (Muswil) II Syabab Hidayatullah Gorontalo yang dilaksanakan pada tanggal 27 April 2014 lalu berlangsung cukup alot, kerap terjadi adu argumentasi antara peserta musyawirin namun tetap berlangsung tertib dengan suasana kekeluargaan yang kental.

Agenda pembukaan Muswil ini dihadiri oleh puluhan peserta yang terdiri dari pemuda MA, SMK dan Mahasiswa Hidayatullah se-Gorontalo. Musyawarah wilayah II Syabab Hidayatullah Gorontalo kali ini mengusung tema “Transformasi Idealisme Gerakan Pemuda Menuju Kepemimpinan Gorontalo Yang Bermartabat”.

Hadir pula dalam agenda tersebut Ketua Wilayah Hidayatullah Gorontalo Fahruddin Rifai, S.Pd.I, M.Si yang sekaligus sebagai pemberi arahan dan membuka acara MUSWIL dengan resmi.

Dalam sambutan dan arahannya, Fahruddin mengatakan bahwa para pemuda yang ada hari ini merupakan harapan lembaga ke depan. Maju dan mundurnya lembaga Hidayatullah tergantung pada peranan Pemuda Hidayatullah. Fahruddin juga mendorong kepada ketua syabab terpilih untuk membawa organisasi ke arah yang lebih baik dan selalu bersinergi dengan organisasi induk. (hio/ybh)

Pengurus Hidayatullah Wilayah Kaltara Dikukuhkan

Pengurus PW Hidayatullah Kaltara saat dibacakam SK penugasan oleh Ketua PP Hidayatullah Ir Khairil Baits / DOCHIDORID
Pengurus PW Hidayatullah Kaltara saat dibacakam SK penugasan oleh Ketua PP Hidayatullah Ir Khairil Baits / DOCHIDORID

Hidayatullah.or.id -– Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) melalui Asisten II Bidang Pembangunan dan Ekonomi, Syaiful Herman, bersama dengan Sekretaris Daerah Kabupaten Bulungan, Syafril, dan sejumlah pengurus Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, mengukuhkan dan melantik sedikitnya 12 pengurus wilayah Hidayatullah Kalimantan Utara (Kaltara).

Pengukuhan yang dilangsungkan pelataran pondok pesantren tersebut juga dirangkaikan dengan sejumlah agenda tambahan yakni peresmian asrama santri Pesantren Hidayatullah Bulungan, peletakan batu pertama masjid Jami Hidayatullah, launching rumah baca Banuanta serta program bina muallaf.

Turut hadir dalam acara tersebut yakni sejumlah unsur dan jajaran Muspida Kabupaten Bulungan, segenap jajaran pimpinan Pesantrean Hidayatullah, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta santri dan tenaga pengajar pesantren Hidayatullah Bulungan.

Dalam sambutannya, Asisten Bidang Pembangunan dan Ekonomi Setprov Kaltara, Syaiful Herman sangat mengapresiasi terbentuknya pengurus wilayah Hidayatullah Kaltara, sebab menurutnya keberadaan Hidayatullah akan memberikan arti positif bagi kemajuan masyarakat, khususnya dalam bidang kerohanian terlebih dalam syiar Islam di Kaltara.

“Mudah-mudahan benar-benar bisa mengemban amanah ini dengan sebaik-baiknya untuk kemaslahatan umat,” ucapnya, mewakili Penjabat Gubernur Kaltara Irianto Lambrie.

Dikatakannya pula, sejauh ini Pemprov Kaltara telah berkomitmen penuh melakukan sinergi dengan siapapun, termasuk dengan Hidayatullah. Melalui empat program prioritas, yakni pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui peningkatan mutu kesehatan, pendidikan, serta pembangunan ekonomi daerah, dan pencanangan pembangunan infrastruktur.

Dalam hal peningkatan SDM misalnya, dengan keberadaan pondok pesantren Hidayatullah ini akan sejalan dengan program Pemprov Kaltara. Tentunya ke depan akan menghasilkan generasi-generasi yang tidak saja cerdas nan kompetitif tapi yang juga bermodalkan iman dan taqwa.

Untuk itu pihaknya manyarankan kepada segenap pengurus pondok pesantren Hidayatullah Bulungan untuk segera mengajukan proposal pembangunan di tahun ini, perihal pemenuhan sarana pondok pesantren.

“Bahkan tinggal pilih. Apakah mau melalui Pemprov atau Kabupaten. Karena di Tanjung Selor ini ada dua pemerintahan. Karena saya juga melihat bahwa wilayah pesantren ini masih sangat luas, tentunya masih sangat potensial untuk dikembangkan,” ucanya.

Senada dengan Syaiful Herman, Sekdakab Bulungan, Syafril mengatakan, juga sangat siap untuk meningkatan kualitas para generasi muda dengan mengedepankan prinsip islami ini, dengan jalan memberikan bantuan secara berkala.

Pihaknya juga mengharapkan agar sarana dan prasarana pondok pesantren yang ada dapat dijaga dan dirawat, terutama asrama santri dan ruang belajar yang baru saja diresmikan maupun yang tengah dalam tahap pembangunan.

“Kepada yang pengurus yang baru saja dilantik, saya juga berpesan untuk mengemban amanah ini dengan baik. Terus merangkul semua golongan masyarakat, termasuk saudara kita yang non muslim. Agar pembangunan di Bulangan dan Kaltara dapat berjalan lancar tanpa ada gesekan-gesekan antar golongan,” terangnya.

Sementara, dengan terpilihnya ketua pengurus Hidayatulla Kaltara yakni Ustadz Nur Yahya Asa, akan mengemban tugas untuk menghidupklan kedamaian, kesejukan, menyampingkan ikatan primordial dengan jalan membangun kebersamaan antar golongan, dan tetap menjadikan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta.

“Insyaa Allah, saya siap mengemban amanah yang diberikan kepada saya dan segenap pengurus. Khusus untuk ponpes Hidayatullah ini ke depan, Hidayatullah Kaltara harus mampu untuk membangun infrastuktur yang lebih memadai, begitu juga SDM ponpes di sini,” pungkasnya. (hum/hio)