Beranda blog Halaman 687

Efektivitas Kepemimpinan

AKHIR akhir ini dunia menejemen serius membicarakan tentang efektivitas kepemimpinan. Para pakar menejemen sangat memahami arti dan makna serta fungsi kepemimpinan dalam organisasi.

Organisasi apa pun serta tingkatannya memerlukan kehadiran pemimpin yang memiliki jiwa kepemimpinan. Yaitu bagaimana seorang pemimpin berkemampuan memberikan semangat produktif kepada semua mitra kerja dengan penuh kesadaran.

Membentuk kesadaran diri dalam melakukan aktivitas yang bernilai produktif kapada organisasi bukanlah hal yang mudah. Setiap mitra kerja pasti berbeda latar  belakang hidup dan karakternya.

Di sinilah dalam organisasi bisnis setiap calon mitra kerja pasti mengirim surat lamaran kerja dengan tulisan tangan atau ketikan. Tetapi para ahli psikologi yang disewa oleh perusahaan biasanya menghendaki tulisan tangan asli.

Dari tulisan tangan ini sudah dapat dibaca sifat dan karakter calon mitra kerja. Selanjutnya, dilakukan wawancara, psikotes, dan keterampilan.

Biasanya, para psikiater menyarankan kepada menejemen agar dijadikan pertimbangan dalam penerimaan calon mitra kerja adalah masalah sifat dan karakter kendati skill-nya rendah. Mengapa?

Alasannya sangat sederhana. Yaitu, jika skill rendah tetapi sifat dan karakternya baik maka edukasi skill lebih mudah bila dibanding skill tinggi tetapi sifat dan karakternya rendah.

Psikotes yang dilakukan oleh departemen Human Resources Departement (HRD) melalui psikiater ini adalah dalam rangka memudahkan menejemen dalam seleksi, edukasi, alokasi potensi serta motivasi. Jika data personalia mitra kerja ini nyata, niscaya efektivitas menejemen dalam sisi kepemimpinan agak terbantu.

Maksudnya, menejemen dapat memberikan pekerjaan yang benar dan mengantarkan mitra kerja untuk melakukan pekerjaan dengan benar. Melakukan pekerjaan yang benar dan dengan benar itulah suatu hasil dari tugas kepemimpinan suatu organisasi.

Mengapa dunia menejemen modern saat ini serius mendiskusikan tentang efektivitas kepemimpinan? Perlu diketahui bahwa sejak kapitalisme mendominasi pemikiran manusia dengan tolok ukur materi, kemanusiaan mitra kerja tergerus oleh arus materi.

Secara tidak sadar bahwa pemilik aset yang banyak dapat nilai diri yang tinggi. Para pemegang kapital adalah orang yang dapat mengendalikan mitra kerja dengan memperlakukannya laksana budak.

Namun, para pemilik kapital lupa bahwa selain kapitalisme ada suatu aliran yang disebut komunisme. Komunisme  ini memiliki ajaran yang berlawanan dengan kapitalisme.

Komunisme mangajarkan asas hak kebersamaan, sedangkan kapitalisme mengajarkan asas hak  individual. Dari sisi ajaran kedua aliran ini terjadi benturan kepentingan.

Berbeda lagi dengan motivasi  yang harus dilakukan oleh pemimpin organisasi nirlaba yang orientasinya sosial keagamaan. Orientasi organisasi Islam yang memiliki visi “membangun peradaban Islam” misalnya.

Motivasi yang dilakukan oleh pemimpin adalah memberikan pencerahan kepada umatnya agar sadar terhadap visi dan misi organisasi. Kesadaran umat itu dibangun melalui pendidikan formal atau non-formal dengan sistematika pendidikan yang mengacu kepada sumber keyakinan yaitu al-Qur`an dan as-Sunnah.

Jika umat tercerahkan oleh guidance (bimbingan) pemimpin, dan umat menyadari bahwa tujuan hidup itu adalah melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, niscaya efektivitas pemimipin dapat terwujud.

Melalui efektivtas kepemimpinan ini maka umat akan efektif dalam melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Pertanyaannya adalah sejauhmana efektivitas kepemimpinan umat Islam saat ini? Jika efektif apa indikatornya? Wallahu a’lam bish shawaab. *

Pengunjung Mall Padati Talkshow Parenting BMH Luwuk PDF

0

Salah satu dari empat pilar program Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) yakni Pendidikan. BMH Luwuk Banggai pada hari Sabtu (6/7/2013) lalu menggelar even di tiga tempat dalam kota yang bertema pendidikan.

Even pertama yakni Seminar Nasional Pendidikan yang mengusung tema, “Betapa Menentukan Seorang Guru” oleh Sekretaris Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kab. Banggai, Bapak Dr. Tasman Malusa, M.Pd, & Ust. Mohammad Fauzil Adhim, seorang pembicara kelas dunia, konsultan pendidikan & pakar parenting dari Jogyakarta.

Even itu berlangsung digedung SKB Luwuk Banggai. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda & Olah Raga, Drs. Haris Dayanun, MH.

“Saya sangat mengapresiasi setinggi-tingginya terobosan yang dilakukan BMH. BMH Laznas pertama yang mengadakan acara seminar nasional seperti ini & langsung menghadirkan tokoh nasional. Ke depan kita akan buat acara seperti ini lagi dengan peserta yang lebih banyak,” harap Kepala Disdikpora ini.

Sore harinya, even Tarhib Ramadhan kembali digelar dengan mengusung tema ”Agar Anak Cerdas Dunia Akhirat”, dengan menghadirkan dua tokoh yakni Dr. Gasim Yamani, MA, selaku Kepala Kementerian Agama Kab. Banggai dan Ust. Mohammad Fauzil Adhim. Tarhib ini bertempat di Masjid Agung An Nur Luwuk.

“Saat ini kita butuh Uswah, yang mampu memberikan contoh. Negara kita saat ini sangat kering dengan contoh kongkrit dari para pemimpin,” ujar Dr. Gasim.

Terakhir adalah even Talkshow Parenting dengan Tema, “Orangtua Bijak, Memilih Sekolah Sesuai Potensi Anak”, yang disampaikan di depan ratusan pengunjung Luwuk Shopping Mall. Even ini mendapat apresiasi dari para pengunjung mall. Mayotitas pengunjung mall penasaran dan tampak antusias merapat ke depan panggung acara.

“Baru kali ini even digelar ditempat ini yang beda dari biasanya, temanya pendidikan yang sangat bermanfaat bagi kami khususnya orangtua” sahut salah seorang pengunjung.

Ketua BMH Luwuk Banggai Yusran Yauma, menyampaikan ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya Dinas Pendidikan, Pemuda & Olah Raga Kab. Banggai, Kementerian Agama Kab. Banggai, PGRI Kab. Banggai, DPD Hidayatullah Luwuk Banggai, Luwuk Shopping Mall, Primair, Perhimpunan Majelis Ta’lim (Permata) Kec. Luwuk, Apotek Al Kautsar, Apotek Nur, Toko Sepatu Baru, Muslimat Hidayatullah (Mushida) Kab. Banggai, para donatur, simpatisan, & pihak-pihak yang terlibat langsung dalam suksesnya ketiga acara tersebut “yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu”.

“Semoga segala bantuannya mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT. Amin,” ucap Yusran seraya berdoa. (ybh/hio)

Menyiapkan Generasi Unggul

0

PimpinanKalau ingin memanen untuk bekal beberapa bulan kedepan, tanamlah padi. Kalau ingin memanen beberapa tahun kedepan, tanamlah mangga. Tapi kalau tetap ingin memanen sampai puluhan dan ratusan tahun kedepan, bahkan hasilnya dibawa sampai akhirat, tanamlah generasi unggul. Yaitu anak-anak yang shalih dan shalihah. Sebab dengan merekalah perjuangan kita diteruskan. Melalui merekalah pahala kebaikan akan mengalir pada diri kita. Melalui doanya, segala dosa kita terampuni.

Kita tentu merindukan generasi yang membahagiakan dunia dan akhirat, bukan? Bagaimana menyiapkannya?

Bibit Unggul

Buah mangga yang manis hanya bisa dipanen dari mangga yang manis pula. Kalau Anda menanam mangga yang masam, yang Anda petik mangga yang masam pula. Karena itu pastikan bibit yang Anda tanam adalah mangga yang manis, kalau Anda ingin memanen mangga yang manis.

Kalau kita ingin mendapatkan anak yang shalih, pastikan anak kita berasal dari bibit yang shalih pula. Bibit anak tentu saja keluar dari kedua orang tuanya. Karena itu terkait dengan menyiapkan generasi yang unggul, dalam Islam tidak hanya bagaimana merawat setelah lahir. Tetapi sejak orang akan menikah hendaknya memilih pasangan yang baik. Dari pasangan yang shalih dan shalihah dapat diharapkan lahir anak yang shalih dan shalihah pula.

Biasanya seseorang dinikahi karena cantiknya (tampannya), hartanya, nasabnya, atau agamanya. Harapannya tentu semua kriteria terpenuhi. Tapi kalau tidak, Rasulullah memberi petunjuk :

“Hendaklah engkau memilih yang kokoh agamanya tentu akan menenangkan dirimu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jadi yang dilihat dulu agamanya dan akhlaknya. Tanpa melihat akhlak dan agamanya, cantik (tampan), nasab, harta, bisa berbalik menjadi fitnah. Pasangan yang memiliki akhlak yang buruk, akan menurunkan karakter itu pada anak-anaknya. Misal orang tua yang materialis, biasanya juga banyak melahirkan anak-anak yang materialis. Tapi kalau orang tua ahli beramal, juga akan menurunkan potensi itu pada anak-anaknya. Jika memilih pasangan ini mengikuti petunjuk di atas, Insya Allah hasilnya juga akan melahirkan anak-anak yang shalih.

Dalam proses ikhtiar tersebut, jangan lupa memohon bimbingan Allah. Misalnya melalui shalat istikharah. Jauhkan pilihan dari dominasi nafsu. Sebab pasangan yang kita pilih bukan untuk bersenang-senang sebulan dua bulan, tetapi untuk menurunkan generasi pelanjut. Kita berserah diri kepada Allah. Dialah Yang Maha Mengetahui dan Maha Mengatur.

Lingkungan Kondusif

Meski bibit mangga unggul, kalau tanah dan lingkungannya tidak kita perhatikan, hasilnya juga kurang baik. Pun demikian dengan anak-anak kita. Hendaklah lingkungan pertumbuhan pada masa anak-anak, benar-benar kita perhatikan. Berbagai hal yang berada di sekitar mereka, yang didengar, dilihat, dan dirasa, akan direkam dalam hati anak dan akan berpengaruh besar saat dewasa. Anak yang berada dalam suasana batin yang ikhlas dan saling menghormati, akan tumbuh menjadi anak-anak yang bisa menghormati orang lain. Tetapi kalau lingkungannya materialis dan egois, pertumbuhan jiwa mereka juga akan terkontaminasi. Segala kebiasaan orang tua akan dilihat anak-anaknya. Dan akan menjadi contoh. Karena itu, bapak dan ibu hendaklah mempunyai kebiasaan yang baik agar menjadi contoh yang baik juga.

Tentang peran kedua orang tua, Syaikh Abu Hamid al Ghazali mengatakan: ”Ketahuilah bahwa anak kecil merupakan amanat bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang masih bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya.”

Berikan panggilan yang baik pada anak-anak. “Wahai anak shalih”, tentu akan memberi kesan yang memotivasi pada anak. Terekam dalam benaknya; ”Saya anak shalih jadi saya harus berbakti.” Tentu beda dengan; ”Hai anak nakal.” Julukan negatif ini akan terekam dalam benak hati anak. ”Saya anak nakal. Wajar kalau saya mbalelo.” Fitrah anak yang suci tentu akan lebih sesuai jika diberi nama yang baik dan suci. Rasulullah sangat memberi perhatian dalam hal ini:

Diriwayatkan dari Whb Al Khats`ami bahwa Rasulullah bersabda: ”Pakailah nama nabi-nabi, dan nama yang sangat disukai Allah Ta`ala, yaitu Abdullah (hamba Allah) dan Abdurrahman (hamba Yang Maha Pengasih). Sedang nama yang paling manis yaitu Haris (penjaga) dan Hammam (yang bercita-cita tinggi) dan nama yang sangat jelek yaitu Harb (perang) dan Murrah (pahit)” (HR. Abu Daud An Nasa`i).

Pendidikan Tauhid

Selain kemampuan intelektualnya, aspek spiritualnya janganlah dilupakan. Masa anak-anak, masa yang baik untuk memberikan bekal kesadaran tauhid. Kalau terlambat, apalagi sudah berumur remaja akan sulit mengarahkannya. Ibarat pohon sudah bengkok, agak sulit meluruskannya.

Bahkan penanaman tauhid ini sudah dilakukan saat anak baru lahir. Kita disunnahkan untuk menyerukan adzan di telinga bayi. Kesan pertama mendengarkan alunan kalimat tauhid ini tentu akan terpatri dalam hati.

Abu Rafi` RA menuturkan: ”aku meilhat Rasulullah memperdengarkan adzan pada telinga Hasan Bin Ali ketika dilahirkan Fatimah.” (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi).

Dengan kasih sayang, didiklah anak mengenal Allah. Mislanya, saat ditepi pantai lakukan dialog kecil. “Luas sekali ya lautan itu. Siapa yang meciptakan lautan yang indah ini?” “Allah…subhanallah …” Tentu sang anak akan kian takjub. Tidak hanya kagum melihat lautan, tetapi juga sangat kagum dengan kebesaran Allah. Saat demikian itu kita mengukir kesadaran tauhid dalam jiwanya.

“Betapa banyak nikmat yang telah diberikan Allah. Tidaklah ananda ingin berterimakasih kepada-Nya? Sujud dan ruku` menghadapnya?” dengan menyentuh kesadarannya, perintah agama bukan lagi sebagai beban yang menyiksa, tetapi panggilan hati yang akan dilakukan dengan senang hati dan ikhlas.

Jangan lupa sertakan doa. Hadirkan hati ini ke haribaan Allah. Kita pasrah dan ikhlas kepada-Nya. Mengakui betapa lemahnya diri ini menghantar anak yang shalih. Kita hanya bisa berikhtiar, tetapi Allah-lah yang memberi hidayah. Dia Maha Kuasa, Maha Pengasih Dan Maha Penyayang. Saat hati ini dalam keadaan khusyu`, ikhlas, dan pasrah, sampaikan permohonan pada-Nya.

Rabbi habli minash shalihin.. (Wahai Tuhanku, karuniakan padaku anak yang shalih…)

Upaya menghantarkan bertauhid sejak dini pada mereka itu kan menjadi pondasi yang kokoh bagi jiwanya saat mereka dewasa. Dengan semata mencari ridha Allah, segala kelebihan dan keahliannya akan digunakan untuk memberi manfaat bagi sesama. Mereka kelak bisa menjadi orang yang profesional sekaligus spritual. Inilah orang terbaik yang sebenarnya yang akan membawa kebahagiaan yang hakiki.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan manfaat sesamanya.’’ (Al Hadist)

Karena itu dari sekian investasi yang telah kita lakukan, janganlah lupa menyiapkan generasi unggul ini.* mitrafm.com

Menjadi Orang Kuat

0

Oleh : Ustd. Abdurrahman Muhammad.

Pimpinan“Orang yang kuat itu bukan orang yang (tak terkalahkan) saat berkelahi, akan tetapi orang yang kuat adalah mereka yang dapat mengendalikan dirinya pada saat emosi. “(Riwayat Bukhari, Muslim, dan Abu Daud)
Kekuatan selalu kita ukur secara fisik. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bukan menolak ukuran yang bersifat fisik, tapi ada dimensi lain yang sering dilupakan sebagian manusia, yaitu dimensi “rasa”. Justru pada dimensi itulah terletak keberadaan manusia yang sebenarnya.

Orang yang kuat, menurut Rasulullah adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya saat hatinya bergejolak marah. Pada saat seperti itu, ia mampu menahannya dengan kesabarannya dan mengalahkannya dengan keteguhan hatinya. Ia tidak membiarkan jiwanya terlepas liar bersama dengan letupan bunga api kemarahannya, yang kemudian dengan seenaknya mengeluarkan caci maki, kata-kata murka, dan omongan kotor lainnya. Ia tetap dapat mengendalikan kata-kata yang keluar dari mulutnya agar tetap normal, rasional, dan proporsional.

Marah adalah watak yang tersembunyi pada diri setiap manusia yang sewaktu-waktu dapat terpancing oleh allergen (pemicu alergi) yang selalu ada di sekitar kita. Orang yang sehat hatinya tidak mudah terpengaruh oleh pemicu tersebut, akan tetapi bagi orang yang sudah terjangkiti penyakit “asma”, pemicu di sekitarnya dapat mengubahnya menjadi sesak nafas, bahkan tersumbat saluran pernafasannya. Begitulah gambaran orang yang tidak dapat mengendalikan nafsu marahnya. Ia mudah tersulut, terprovokasi, dan terpancing oleh hal-hal yang semestinya tidak perlu sampai membangkitkan amarahnya.

Kita harus mempu memblokir semua jalan keinginan nafsu yang menghancurkan itu. Kita harus membentuk tentara yang kuat dan perkasa untuk mengendalikan nafsu yang menjatuhkan kehormatan diri dan kemanusiaan kita.

Betapa banyak orang yang jatuh kehormatannya hanya gara-gara tidak mampu menahan marahnya? Seorang akademisi tak lagi bicara ilmiah jika sedang marah. Seorang ustadz tak lagi berkata santun saat marah. Seorang ibu tak lagi berkata lembut kepada anaknya saat marah. Seorang ayah berkata dengan tindakan kasarnya saat marah. Seorang pejabat berkata dengan menggebrak mejanya saat marah. Seorang istri menangis histeris saat marah. Tidak ada yang rasional, tidak ada yang proporsional, dan tidak ada yang normal saat orang tak mampu menahan marahnya.

Apalagi jika kemarahan itu sudah bercampur-aduk dengan dendam, sakit hati, dan perasaan terhina. Kolaborasi penyakit hati ini bisa membuncah menjadi bola api besar yang membakar apa saja yang ada di depannya. Pada mulanya hanya kata-kata kotor, kasar, dan menyakitkan yang keluar dari mulutnya. Tak puas dengan sekadar berkata-kata, ia lampiaskan kemarahannya dengan perbuatan dan tindakan. Tak cukup dengan mencaci dan menghina, tangannya kini mulai bergemeretak, lalu memukul, menendang, melempar, bahkan membunuh, na’udzubillah.

Tak salah jika Rasulullah mendefinisikan orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan marahnya. Menahan kemarahan itu membutuhkan kekuatan yang besar, lebih besar dari letupan kemarahannya. Untuk menahan nafsu marah, dibutuhkan tentara yang perkasa, lebih perkasa dari tentara yang terlatih dan terbiasa dengan membiarkan kemarahannya. *SAHID Oktober 2010

Sekolah Tauhid, Pilihan yang Menentramkan

0

 Hati ibarat seorang sopir pada sebuah kendaraan. Tentunya sopir yang baik haruslah mempunyai kapasitas yang layak agar mampu membawa sebuah kendaraan berikut para penumpangnya selamat hingga mencapai suatu di tujuan. Ia tahu bagaimana harus menggunakan rem, bagaimana menggunakan kopling, menggunakan spion, dan semua accesoris kendaraan.

Bahkan ia mampu mengukur berapa besarnya pijakan yang dibutuhkan pada pedal gas agar mencapai suatu tujuan dengan waktu yang telah ditetapkan. Selain itu sopir yang baik mustinya mempunyai pengetahuan yang lengkap bagaimana mengemudi dengan baik berdasarkan aturan – aturan berkendara yang berlaku.

Sebagaimana diketahui bahwa setiap rambu – rambu dalam berkendara itu dibuat untuk memberikan jaminan rasa aman dan keselamatan bagi para pengguna jalan agar bisa mencapai tujuan perjalanannya dengan selamat dan gembira. Apa jadinya apabila seorang sopir tidak memahami hal tersebut? Tentulah kendaraan yang ia kemudikan akan banyak mengalami kendala bahkan hancur sebelum beranjak dari tempatnya start. Andaipun mampu bergerak menuju tujuan, bisa ditebak bahwa perjalanan yang ia lakukan akan mengalami banyak hambatan atau bisa jadi mengalami musibah yang besar sehingga menjadikan kendaraan beserta penumpangnya tidak selamat sampai di tujuan.

Sekolah ibaratnya adalah kendaraan, sementara Kepala Sekolah dan para Guru atau Karyawannya adalah kru dari kendaraan tersebut. Kurikulum adalah rambu – rambunya, sedangkan visi dan misi sekolah adalah tujuan yang hendak dituju oleh kendaraan tersebut. Para penumpangnya adalah para siswanya dan juga orangtua siswa maupun lingkungan.

Maka hal pertama yang harusnya menjadi perhatian sebelum seseorang bepergian adalah menentukan arah dan tujuan kemana ia hendak pergi. Demikian halnya bagi setiap orang tua mustinya sudah faham betul arah atau tujuan pendidikan bagi putra putrinya. Tidaklah mungkin tujuan itu sekedar atau ‘pokoke’ sekolah, seperti dalam ungkapan “kemana kaki melangkah, kesana arah dituju”.

Sebenarnya apa sih yang diinginkan oleh orang tua terhadap pendidikan anaknya? Mau ia jadikan apa si anak dan mau dibody seperti apa anaknya tersebut dengan pendidikan yang ia pilih itu. Dan yang paling penting adalah apa harapan tertinggi yang diinginkan oleh orang tua terhadap anaknya tersebut? Bahkan kalau perlu (dan ini harus) adalah harapan orangtua ketika dia telah pergi meninggalkan dunia ini.

Apabila telah jelas kemana tujuannya, maka selanjutnya ia harus bisa memilih kira – kira kendaraan apa dan dengan spesifikasi bagaimana yang bisa  atau memenuhi criteria yang dapat digunakan agar bisa sampai pada tujuan yang hendak  dituju.

Saat ini jumlah sekolah sangatlah banyak. Masing – masing menawarkan kelebihan – kelebihannya, baik berupa deretan presatsi akademik hingga fasilitas fisik dan non fisik. Bahkan ada beberapa sekolah menawarkan sekolahnya dengan standart fasilitas ‘menyerupai’ hotel berbintang. Maka disinilah pergeseran orientasi kemudian terjadi. Sekolah / bersekolah adalah menjadi sesuatu yang bertarif atau bertaraf. Mulai dari tarif ekonomi dengan level taraf ‘ndeso’ sampai yang bertarif eksekutif dengan level bertaraf Internasional.

Dan salah satu yang menyebabkan pembelokan atau bahkan kerusakan orientasi pendidikan adalah hal – hal tersebut diatas. Dengan bahasa yang dipermudah, maka akan kita dapat simpulkan dengan pernyataan seperti ini : “ Kalau anak anda sekolah di tempat  kami, maka akan mendapatkan pelayanan begini, begini dan begini. Tapi untuk dapatkan fasilitas itu ‘maaf’ biayanya segini …… “. Itu adalah bahasa dari pengelola / penyelenggara sekolah. Lain lagi wali muridnya, mereka akan mengatakan : “ Saya mampu bayar berapa saja, asal anak saya … bla bla bla … dan mendapat … bla bla bla …. “.

Sebaliknya, bagi sekolah yang bertarif ekonomi dan bertaraf ‘ndeso’ akan semakin jatuh tersungkur. Sebab sekolah ini akan berfikir ‘apa adanya’ tanpa greget dan terkesan menyerah dengan keadaan. Dimulai dengan permakluman – permakluman kecil; maklum sekolah ndeso, maklum sekolah urip – uripan, daripada tidak sekolah, dan lain – lain, maka kemudian akan terjadi sebuah pembenaran dan yang lebih akut lagi phobia atau semacam alergi dengan sesuatu yang bersifat inovasi.

Fenomena di atas jika dibiarkan berlarut – larut, maka akan menjadikan lembaga pendidikan menjadi lembaga bisnis oriented, terkotak – kotak dan saling menjaga bahkan menciptakan gap antara sekolah satu dengan lainnya, antara masyarakat satu dengan lainnya, antara tujuan satu dengan tujuan lainnya.

Lalu dimanakah sekolah yang diharapkan itu? Seperti apa modelnya? Dimana keberadaannya? Berapa biayanya? Siapa saja yang boleh sekolah di sana?

Di tengah begitu gemerlapnya panggung kemewahan dunia yang diciptakan oleh perkembangan teknologi dan budaya, sungguh bukan sesuatu yang mudah untuk mendapatkan sekolah yang mampu memberikan solusi penawar racun dan penyakit dunia lainnya. Kalau tidak boleh dikatakan ‘mustahil’ maka adalah seperti mencari jarum ditumpukan jerami gambaran mencari sekolah yang benar – benar mampu memberikan harapan dan masih punya komitmen pendidikan yang lurus yang membela terhadap kepentingan peserta didik.

Meskipun demikian, sebenarnya tidak begitu sulit mewujudkan sekolah yang diharapkan itu. Sebab, Allah SWT melalui Rosulnya Muhammad SAW telah menunjukakan sebuah sekolah yang sempurna, dengan guru / pendidik yang sempurna, kurikulum yang sempurna, visi dan misi yang sempurna, dan sejarah mencatat para alumni sekolah / madrasah itu adalah para alumni yang sempurna pula.

Sekolah itu adalah Sekolah Islam. Guru – gurunya adalah mereka yang senantiasa mengabdi dengan selalu itba’ nabi, kurikulum yang digunakan adalah bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah, Visi dan misinya adalah menuju ketauhidan dan menyiapkan manusia taat kepada Allah dan RosulNya dengan senantiasa hidup dengan selalu mengharap keridhaan rabbnya.

Ia boleh saja didirikan di kota, di desa, di pinggir pantai, atau di puncak gunung, maupun di dasar laut. Asal criteria – criteria diatas menjadi pijakan, maka ia pantas menjadi pilihan. Sekolah itu hadir untuk alam semesta, kehadirannya adalah rahmatan lil ‘alamin. Disana berkumpul bersama antara si kaya dan si papa, antara rakyat dan pejabat, antara hitam dengan yang putih, dan sebagainya. Ia tidak mengenal berapa besarnya biaya untuk menyelenggarakannya, sebab biaya sepenuhnya berasal dari Allah SWT melalui para aghniya pilihanNYA, melalui para Muzakki dan munfiqin panggilanNYA.

Sekolah ini menjadikan hidup ini sebagai butir – butir soal yang diambil dari setiap detail kehidupan, kemudian dikerjakan dengan mencari jawaban pada Al Qur’an dan sunnah – sunnah yang berlaku atasnya. Para siswa tidak dijauhkan dari jawaban sebenarnya dengan ’dikondisikan‘ mengikuti pendapat dan rujukan yang bersal dari akal pikran maupun persangkaan manusia belaka, akan tetapi jawabannya senantiasa disandarkan pada kebesaran dan kekuasaan rabbnya dan apa yang menjadi takdirNYA. Setiap materi yang diajarkan menghunjam dalam dilubuk hati peserta didiknya, yang kemudian membuka pintu hidayah dan mencabut akar – akar kemusyrikan dan kekufuran padaNya dan RosulNya. Maka kemudian yang terjadi adalah lahirnya para alumni – alumni pendidikan tauhid yang cerdas dan selamat karenanya.

Bagaimanakah pendidikan saat ini, bukankah banyak sekolah Islam telah berdiri dengan kurikulum diniyyah yang lengkap dipadu dengan berbagai macam methode pembelajaran modern?

Fenomena banyak munculnya sekolah – sekolah Islam saat ini, dengan berbagai macam tawaran ‘plus’ didalamnya memang patut disyukuri. Namun hendaknya mata dan hati haruslah padu dalam melihat kemudian bersikap padanya. Masih dengan jelas tampak di mata bahwa kehadiran sekolah – sekolah itu pada awalnya menumbuhkan harapan baru yang menyejukkan. Mulai dari penampilan yang cukup meyakinkan dan dipadu dengan performance yang cukup mengesankan, sekolah – sekolah itu berdiri menawarkan sebuah model sekolah pilihan.

Maka berbondong – bondonglah masyarakat (khususnya masyarakat muslim dari kalangan menengah ke atas) datang memberikan simpati dan kepercayaan padanya. Mulai dari menyekolahkan anaknya di sana hingga turut serta memberikan fasilitas pendidikan atasnya. Namun kemudian justru inilah yang menjadi sebuah tantangan atau ujian yang akhirnya menjatuhkan mental dan kelurusan niat para pelaku atau penyelenggaranya. Satu persatu mereka gugur dan roboh diterjang badai materi dan tuntutan nafsi – nafsi para pemilihnya.

Terlebih lagi ternyata, banyak dijumpai bahwa salah satu komponen terpenting dari sebuah penyelenggaraan sekolah, yaitu kurikulum-nya tidaklah dirancang dan diambil dari sumber utamanya yaitu Al Qur’an dan Sunnah. Sebaliknya kurikulum yang dipakai hanya sekedar dipadukan atau dikumpulkan jamnya atau sekedar nama pelajarannya dengan warna – warna Islam yang masih sebatas slogan. Yang lebih mengerikan lagi adalah Al Qur’an dan Sunnah baru dipakai sebagai pembenaran saja apabila dibutuhkan atau dimintakan sebuah pembelaan. Isi dan muatannya serta segala hal yang menyangkut esensinya tidak disampaikan dengan alasan “sudah tidak sesuai tuntutan jaman“ atau kalah dengan ”menurut pakar ini ….. Prof. Dr. …… MM. MBA. Phd“.

Belum lagi kalau bicara methode – methode pembelajaran, maka larislah methode – methode hasil olah akal manusia yang kemudian dijadikan pilihan dalam pembelajaran. Sulit memang kalau ingin menghindar dari hal tersebut, sebab dari presentasinya yang begitu memukau menjadi hal yang wajar kalau kemudian para pelaku pendidikan tertarik dan tergila – gila mengagumi dan mengikutinya. Namun pertanyaannya, Apakah Islam tidak mengajarkan sebuah methode pendidikan untuk ummatnya?

Jawabannya adalah Islam memiliki methode yang lebih baik dan telah terbukti hasilnya dengan sempurna. Mana referensinya? Tidakkah cukup seorang alumni pendidikan Islam dengan methode ilahiyyah yang bernama MUHAMMAD bin Abdullah bin Abdul Muthallib menjadi bukti kehebatan methode Islam itu? Lalu hadir berikutnya Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Tholib, Abdurrahman bin Auf, Khadijah binti Khuwailid, Fathimah az Zahra, Aisyah binti Abu Bakar, Asma binti Abu Bakar, Hafshah binti Umar bin Khattab, dan seterusnya. Ada Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ahmad, dan seterusnya. Kemudian ada Ibnu Taimiyyah, Ibnu Farabi, Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, dan juga seterusnya.

Adakah yang cacat dari mereka sebagai the real produk pendidikan Islam itu? Lalu apa kunci keberhasilan pendidikan mereka? Tidak lain adalah karena mereka dididik dengan pendidikan berbasis TAUHID.  Wallahu a’lam bish showab. *Abu Fina (Kepsek SD Integral Hidayatullah Ngawi)

Menjadi Khairu Ummah

0

Oleh : Ustd. Abdurrahman Muhammad

PimpinanKamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (karena kamu) menyuruh (berbuat) kepada yang makruf, mencegah kemungkaran, dan kamu beriman kepada Allah. (Ali Imran [3]: 110)

Menjadi juara umum (global champion) berarti menjadi orang paling berpengaruh, yang terbaik, dan memimpin dunia secara adil dan benar menurut Islam. Kaum Muslim seperti ini akan menjadi teladan bagi bangsa-bangsa lain.

Untuk itu, yang pertama harus ada dalam diri kaum Muslim adalah kebanggan berislam. Kita harus bangga menjadi bagian dari miliaran umat Islam dunia. Kita harus merasa mulia dengan syariah Islam. Kita memiliki izzah, harga diri. Kita tidak merasa rendah di hadapan kaum yang lain.

Kita harus merasa bangga dengan Islam karena Islam adalah ajaran agung yang sengaja diperuntukkan bagi keselamatan dan kesejahteraan manusia. Allah Yang Maha Agung telah merancang ajaran Islam untuk kemuliaan dan keagungan manusia.

Ajaran ini juga dibawa oleh manusia agung, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikenal memiliki akhlak mulia dan perilaku yang sempurna.

Islam didesain menjadi ajaran yang sempurna, komprehensif, dan meliputi apa saja. Islam merupakan ajaran yang lengkap, tak ada cela. Semua hal mengenai kehidupan manusia tidak ada yang luput dari pengaturannya.

Islam tidak saja mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tapi juga mengajarkan bagaimana cara berhubungan secara baik antara manusia dengan manusia dan antara manusia dengan makhluk Tuhan lainnya.

Perhatikanlah, belum pernah ada praktek toleransi yang berjalan begitu baik dan damai melebihi penerapannya saat di Cordova, Spanyol. Kala itu, golongan Kristen menikmati kebebasan beragama sepenuhnya pada pemerintahan Islam. Demikian juga golongan Yahudi. Sementara orang-orang Barat saat itu baru mengadopsi ajaran ini untuk diterapkan di negara-negara yang belum mengenal arti peradaban. Orang-orang Barat harus berterimakasih kepada Islam.

Saat dunia Barat masih gelap gulita, belum mengenal peradaban, bahkan belum mengenal mandi, Islam sudah jauh lebih maju. Saat itu, umat Islam sudah memakai sabun mandi, menggunakan parfum, bahkan sudah terbiasa dengan tradisi bersih.

Saat dunia belum mengenal sains, para ilmuwan Islam sudah banyak yang menemukan teori-teori ilmiah di bidang fisika, biologi, matematika, astronomi, geografi, dan lainnya.

Dalam hal penghormatan terhadap wanita, belum ada satu pun agama yang memberi tempat yang pas bagi wanita. Di masa jahiliyah, masyarakat Arab merasa malu dan terhina jika mempunyai anak perempuan. Ketika Islam datang, justru para perempuan diberi tempat yang mulia, dilindungi dan dihormati.

Di dunia modern sekarang ini, atas nama kebebasan dan hak asasi, justru wanita ditempatkan pada posisi yang tidak terhormat. Sebagian besar mereka dieksploitasi untuk kepentingan bisnis dan ekonomi.
Di era industri ini justru para wanita dijadikan alat atau barang industri. Ironisnya justru sebagian mereka bangga dengan perlakuan seperti itu.

Sebagai Muslim kita harus bangga dengan keislaman kita. Kebanggan itu harus kita wujudkan dalam bentuk penampilan identitas. Kita bangga memakai pakaian Muslim, karena pakaian merupakan identitas yang paling mudah dikenali.

Merasa mulia dan bangga dengan ajaran Islam menuntun kita agar senantiasa terarah dalam berpikir dan bertindak. Orang yang merasa bangga dengan syariahnya akan senantiasa menjaga dirinya tetap dalam jalur syariah tersebut. Mereka senantiasa terjaga dari segala bentuk pelanggaran. Sebab, setiap pelanggaran sekecil apa pun akan menjatuhkan harga dirinya. *SAHID Agustus 2010

Dr. Abdul Mannan Kembali Pimpin Hidayatullah

Dr. Abdul Mannan akhirnya terpilih kembali sebagai ketua umum DPP Hidayatullah periode [highlight type=”badge” style=”green”]2010-2015[/highlight]. Terpilihnya Abdul Mannan berdasarkan mufakat atau aklamasi. Tak ada voting. Meski awalnya, diakui ketua sidang Ir. Abu ‘Ala voting akan terjadi. Itu didapat dari sejumlah isu arus bawah. “Awalnya kita khawatir jika ada voting, tapi alhamdulillah tidak terjadi” ujarnya.
Selain Abdul Mannan, ada dua calon definitif lainnya, yaitu ir. Aziz Qahhar dan Drs. Hamim Tohari. Ketiga calon tersebut berdasarkan rekomendasi dari pimpinan umum. Ketiga calon ketum tersebut lalu dipilih oleh tim formatur yang berjumlah 38 orang.

Dari musyawarah itu terpilih Abdul Mannan sebagai ketua umum dan Hamim Tohari sebagai wakil ketua umum. Sedangkan Aziz Qahhar, menurut Abu ‘Ala berpeluang menjadi ketua dewan Syura.

Sementara, Aziz Qahhar mengapresiasi hasil pemilihan tersebut. Itu ia katakan, saat mengumumkan hasil musyawarah tim formatur. Kendati tidak terpilih, menurutnya ia masih sangat berkuasa. Ko bisa? “Ya, karena kekuasaan tertinggi itu tanpa kekuasaan,” ujarnya. *www.hidayatullah.com

Munas Hidayatullah

0

Oleh : Ustd. Abdurrahman Muhammad

PimpinanTinggal beberapa lagi Hidayatullah akan menggelar hajatan besar, berupa Musyawarah Nasional (Munas). Munas merupakan institusi tertinggi dalam pengambilan keputusan. Hal-hal pokok dan mendasar yang menyangkut  dinamika organisasi diputuskan dalam forum besar, baik yang menyangkut perubahan Pedoman Dasar Organisasi, Program Kerja Umum, maupun pergantian kepemimpinan.

Tidak seperti organisasi pada umumnya, Hidayatullah tidak terbiasa dan tidak mentradisikan  Munasnya dengan  meramaikan  bursa calon “Ketua Umum” maupun kepengurusan yang lain. Justru yang lebih ramai adalah membicarakan soal “Program Kerja Umum” yang menjadi mandat   Munas kepada Ketua Umum terpilih. Soal pemilihan Ketua Umum itu bukannya tidak penting, tapi yang lebih penting adalah apa yang dimandatkan kepada Ketua Umum, baru bicara soal siapa yang paling sesuai untuk menjadi mandatarisnya.

Alhamdulillah, Hidayatullah tidak kekurangan kader terbaiknya untuk menjadi Ketua Umum. Masing-masing kandidat mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Masalahnya menjadi sederhana, karena yang akan dipilih adalah kader terbaik yang paling sesuai dengan tugas dan mandat yang akan dipikulkan kepadanya. Ini bukan pilihan ideologis, sebab semua kandidat pastilah kader-kader terbaik yang mempunyai ideologi yang sama, cita-cita perjuangan yang sama, spirit dan semangat yang sama pula. Karenanya, siapa pun yang terpilih nanti harus diterima dengan lapang dada.

Kami patut bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT)  bahwa di Hidayatullah sejak awal menjadikan ukhuwah sebagai pondasi  organisasi. Oleh karenanya, sepanjang sejarahnya di Hidayatullah tidak dikenal istilah “kubu-kubuan”.  Di sini tidak popular pengelompokan suku. Pernikahan antar suku bahkan sudah dipelopori oleh pendiri dan perintis organisasi ini, dan tradisi itu terus berkembang hingga sekarang. Secara berkelakar, Allahu yarham, Ustadz Abdullah Said dulu pernah mengatakan, ”Suatu saat nanti, anak-anak kita tidak menyebut dirinya berasal dari suku Bugis, suku Jawa, atau suku mana saja. Mereka akan dengan bangga mengatakan: saya adalah anak Indonesia.”

Musyawarah di Hidayatullah selama ini bisa berlangsung alot, bahkan menegangkan. Akan tetapi, masing-masing peserta tetap dapat mengendalikan emosi. Mempertahankan pendapat tidak dilarang, asal tetap menjaga etika dan kesantunan dalam berbicara. Adab-adab musyawarah yang selalu disosialisasikan secara intensif  sama sekali bukan dimaksudkan untuk membungkam, apalagi membatasi hak berpendapat, tapi semata-mata menjadikan musyawarah itu dapat berjalan indah, lancar, tanpa ada yang terlukai hati dan perasaannya.

Musyawarah Hidayatullah tidak ingar bingar. Kalau ada publikasi, itupun dalam batas-batas yang wajar dan  proporsional. Kita berkentingan terhadap publikasi karena organisasi ini milik umat, bukan milik pribadi-pribadi. Umat perlu tahu perkembangan Hidayatullah sampai hari ini, sebab mereka tidak bisa mengikuti setiap hari. Mereka tetap mendukung, walau tidak terlibat  setiap hari.

Kalau  Anda ingin datang untuk melihat peserta sidang saling melempar kursi atau menggedor meja, jangan datang ke Munas Hidayatullah. Dijamin di sini tidak akan bakal terjadi. Hidayatullah akan melaksanakan Munasnya dengan tertib, lancar, dan bermutu tinggi, Insya Allah semua akan berjalan mulus, beretika, beradab, dan santun. *SAHID Mei 2010

Terbelenggu Masa Lalu

0

Pimpinan“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-Ahqaaf [46]:13-14)

Setiap manusia terlahir dalam keadaan merdeka, bahkan merdeka dari kehendak ibu yang melahirkannya. Seorang ibu tidak bisa mengatur kapan bayinya lahir, siang atau malam, sekarang atau besok. Jika sang bayi hendak lahir jam satu malam, maka lahirlah jabang bayi itu pada jam tersebut, sekalipun sang ayah harus pontang-panting mencari kendaraan untuk mengantar ke rumah sakit, meskipun sang ibu lagi asyik-asyiknya tidur, sekalipun dokter dan bidan sedang terlelap tidur.

Kemerdekaan yang menjadi hak semua manusia itu sering terkikis seiring dengan perjalanan waktu. Semakin dewasa bertambah banyak penjara atau belenggu yang mengekang kebebasannya. Lebih aneh lagi, ternyata sebagian besar penjara itu dibuat oleh mereka sendiri. Penjara-penjara itu diciptakan oleh pikiran mereka sendiri.

Sebutlah penjara “masa lalu”, siapa yang menciptakan. Betapa banyaknya orang yang menyia-nyiakan waktunya hanya untuk menyesali masa lalunya. Sebagian merasa menjadi korban, mereka mengeluh; mengapa saya dilahirkan dalam keluarga yang broken home. Seandainya saya dilahirkan oleh  ayah dan ibu yang kaya raya, sekiranya saya dilahirkan dari garis keturunan bangsawan.

Masa lalu merupakan himpunan peristiwa yang terjadi sebelum sekarang. Masa lalu tidak bisa diulang, kecuali sekadar rekaman peristiwanya. Karenanya, masa lalu tidak boleh disesali, diratapi, apalagi dijadikan kambing hitam. Orang yang gagal (pecundang) selalu menjadi masa lalunya sebagai kambing hitam (alasan pembenaran), sedangkan orang sukses menjadikan masa lalu sebagai cermin untuk menciptakan masa depan.

Adakalanya orang terbelenggu oleh masa lalunya, sebagian yang lain justru terpenjarakan oleh masa yang akan datang. Mereka dihantui oleh perasaan takut, gelisah, dan gundah gulana. Mereka merasa belum cukup bekal untuk menghadapi masa depannya. Mereka khawatir bersaing dengan sesamanya. Apalagi menyadari tentang pendidikannya yang rendah, keterampilannya yang belum bisa diandalkan, sedangkan modal finansial belum memadai.

Akibat kekhawatiran dan ketakutan yang berlebihan ini, mereka tidak berbuat apa-apa. Mau memulai langkah saja sudah takut. Mereka merasa kalah sebelum bertanding. Menyerah sebelum berbuat apa-apa. Inilah gambaran orang-orang yang dipenjara oleh masa depannya sendiri.

Bagi kita, yang ada di hadapan kita sekarang adalah “masa kini”, kita juga tidak tahu apakah besok atau nanti masih hidup dan memiliki kesempatan.  Kita tidak tahu jatah umur kita, pendek atau panjang. Kita tidak tahu kapan kematian itu bakal menjemput. Yang pasti kita sudah berada dalam antrian. Di sana, nama kita sudah tercatat dalam “daftar tunggu” yang mau tidak mau harus diikuti dan diterima dengan ikhlas dan lapang.

Kematian bukanlah suatu yang menakutkan, karena kematian itu adalah sesuatu yang sudah pasti. Kematian hanyalah proses perpindahan alam, dari alam dunia menuju alam akhirat. Kematian merupakan salah satu stasiun dari beberapa stasiun kehidupan kita. Satu per satu stasiun itu kita lalui.

Hari ini akan menjadi masa lalu bagi hari berikutnya, dan hari berikutnya adalah masa depan hari ini. Untuk itu, jalani hari ini dengan sebaik-baiknya. Jangan menunda-nuda pekerjaan, jangan sia-siakan kesempatan. Kalau bisa diselesaikan hari ini, mengapa disisakan untuk hari esok. * SAHID April 2010

Strategi Menciptakan Keseimbangan

Oleh Dr. H Abdul Mannan

DUNIA adalah fana. Kefanaan dunia bisa berlangsung lebih cepat, bisa juga lebih lambat, tergantung bagaimana manusia mengaturnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) sudah mendelegasikan pengelolaan alam semesta ini kepada manusia. Mengingat alam semesta, juga manusia, adalah makhluk Allah SWT, maka harus ada interaksi yang harmonis antara keduanya. Itulah sunnatullah.

Sunnatullah mengandung makna sangat dalam jika ditilik dari sudut teosentris. Seorang tasawuf yang sudah mencapai maqam ‘irfan akan menganggap laa wujuuda illallah atau tiada yang wujud di alam ini kecuali Allah SWT. Artinya, alam semesta ini merupakan karya Allah SWT dan manusia mutlak memeliharanya.

Pertanyaannya, bagaimana sebaiknya manusia mengelola alam agar bisa sejahtera? Jawabnya, harus berdasarkan hukum Sang Pencipta yang termaktub dalam al-Qur`an dan Sunnah.

Jika al-Qur`an dijadikan dasar pengelolaan alam tentu akan terjadi keseimbangan hidup lahir dan batin. Dalam bahasa ekonomi konvensional, ajaran al-Qur`an menghendaki sistem ekonomi normatif. Artinya, penerapan sistem produksi tidak berlandaskan keinginan (wants), melainkan kebutuhan (needs).

Teori ekonomi konvensional yang berdasarkan “keinginan” mendapat dukungan penuh dari paham rasionalisme dan ilmu pengetahuan.

Dominasi rasionalisme terhadap segala pemikiran dan filsafat berlangsung sejak munculnya teori Copernicus (1543), dilanjutkan oleh pelopor rasionalisme modern, Francis Bacon (1561–1626) dengan semboyannya “pengetahuan adalah kekuasaan” (knowledge is power), serta Rene Descartes (1596–1650) yang menyatakan “saya berpikir, maka saya ada” (cogito ergo sum).

Paham rasionalis yang berkembang di Perancis dan Inggris ini terbentur pada pertanyaan bagaimana seseorang bisa hidup sebagai anggota masyarakat jika secara individu mereka bebas mementingkan diri sendiri?

Pertanyaan ini dijawab oleh David Hume dengan konsep moral yang kemudian dikembangkan oleh Adam Smith (1766) dengan menggabungkan pemikiran; kebutuhan kebersamaan (fellow feeling), dukungan dari orang lain (need of approval), sikap menahan diri (self restraint), dan nilai etika (rules of morality).

Bagi Adam Smith, sifat keadilan dan etika merupakan hukum alam. Jika tidak ada etika maka manusia akan saling menghancurkan dan saling tidak percaya.

Sebenarnya Adam Smith sudah memberikan solusi yang tepat untuk menjaga keseimbangan hidup.  Namun, pemikiran Smith tidak memiliki dimensi spiritual, yaitu Islam. Smith sendiri tidak berminat mempelajari Islam sebagai dasar pemikiran ekonomi solutif.

Ide Smith hanya dipakai oleh kapitalisme dari sisi keleluasaan swasta atau individu (self interest) memanfaatkan faktor produksi. Kekayaan alam dipaksa kering kerontang bagaikan sapi perahan, sedangkan pemerintah hanya berfungsi sebagai regulator untuk memenuhi keinginan swasta atau individu tersebut.

Saat ini kapitalisme memang mengendalikan dunia. Namun, kedigdayaan semu paham ini mulai memperlihatkan kebobrokannya. Amerika sebagai punggawa ekonomi kapitalis telah dilanda tsunami krisis yang dahsyat.

Krisis ini akan lebih berkepanjangan jika aksi penjajahan mereka ke Afghanistan tak dihentikan. Sebab, mereka memerlukan dana yang besar sementara harapan menang tidak akan terwujud.

Jadi, jalan satu-satunya menciptakan keseimbangan hidup di bumi ini adalah hentikanlah niat jahat pemerintah sekuler yang memusuhi Islam.  Tak ada gunanya, karena umat Islam sendiri tak takut mati. Bahkan, mati dalam perjuangan penegakan syariat menjadi harapan kaum Mukmin.

Meraih ridha Allah SWT adalah tujuan, mati syahid adalah jalan, dan dunia adalah alat untuk mencapai kehidupan akhirat. Itulah hidup seimbang yang abadi. *

(Dinukil dari Majalah Suara Hidayatullah edisi April 2010)