Beranda blog Halaman 687

“Kader Bermental Pengusaha, Jadilah Entrepreneur”

0

Rabu, 21 Agustus 2013 12:33

Dorongan besar selayaknya disampaikan kepada para pengusaha Muslim, khususnya kader Hidayatullah, agar lebih sukses dalam usahanya. Yang bermental pengusaha, jadilah seorang entrepreneur yang amanah dan berkarakter.

Hal itu disampaikan Sekjen PP Hidayatullah Ir Abu A’la Abdullah yang juga mendorong pemerintah untuk selalu melakukan pembinaan dan dukungan terhadap pengusaha kecil.

Mereka, para pengusaha kecil biasanya tak memiliki banyak modal. Ketika akan meminjam uang ke bank untuk pengembangan usaha, kata Abu, mereka tak mempunyai jaminan. Tentu saja pihak perbankan keberatan memberikan dana kepada mereka.

“Padahal, dana tersebut sangat dibutuhkan. Karena itu, sebaiknya lembaga keuangan syariah memberikan bantuan,” kata Abu A’la dikutip Harian Republika, belum lama ini.

Di sisi lain, ia berharap lembaga amil zakat turut berperan dalam pengembangan ekonomi umat ini, yaitu memberdayakan para pengusaha kecil.

Ia melihat sudah ada beberapa lembaga zakat yang telah menginisiasinya. Di antaranya, Dompet Dhuafa dan Baitul Maal Hidayatullah. Mereka membantu pengusaha kecil itu dengan dana pengembangan usaha.

Abu mengatakan, pengusaha Muslim yang sudah mapan dapat pula melakukan aksi yang sama. Mereka membina orang lain agar bisa mandiri secara ekonomi. Dengan demikian, nantinya akan semakin banyak Muslim yang memiliki usaha sendiri

Sementara itu, pakar ekonomi syariah Muhammad Syafii Antonio mengatakan perlunya memperkuat bidang ekonomi. Ia juga mengapresiasi langkah sebagian orang yang berusaha mewujudkan kerajaan bisnis dengan mengandalkan kekuatan dana umat.

Seperti sekarang yang digalang oleh Ustaz Yusuf Mansur. Baginya ini niatan yang baik. Sang ustaz menghimpun dana masyarakat untuk mengembangkan usaha ekonomi.

Meski demikian, semangat semacam ini mesti didukung sistem administrasi mumpuni.  Dengan demikian, tak ada permasalahan hukum dan lainnya di kemudian hari.

“Sebab, jika investasi yang berlaku, banyak skema yang bisa dilakukan agar investasi ini berkembang baik,” kata Syafii, di harian yang sama.

Namun, yang pasti pengelolaan dana ini harus menyertakan pihak ketiga, baik berupa bank maupun manajemen investasi. Hal lain yang perlu diperhatikan, investasi mestinya sesuai syariah.

Ia meminta seluruh upaya membangun ekonomi umat yang dilakukan lewat investasi bersama seharusnya tak melanggar aturan syariah.

Wakil Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Fahmi Salim mengatakan, penguatan ekonomi perlu segera dilakukan. Banyak terobosan yang ia harapkan agar umat Islam menguasai perekonomian karena selama ini terpinggirkan.

Menurut Fahmi, langkah penting yang dapat dijalankan adalah memperkuat jaringan pengusaha Muslim. Bagi Fahmi, dibutuhkan keberanian untuk mengajak dan menggerakkan para pemilik modal untuk mengembangkan usaha yang menguntungkan umat Islam. *

Digelari Umar bin Khattab, Dikenang Pemimpin Lurus

0

SATU Subuh pada 1974. Suara azan baru selesai bergema untuk wilayah Karang Bugis, Balikpapan. Santri Hidayatullah khusyuk membaca Alquran. Sebagian lagi sedang menikmati dua rakaat salat sunah qabliyah fajar.

Tiba-tiba, mereka dikejutkan dengan kedatangan orang nomor satu di Balikpapan ketika itu. Letkol H Asnawi Arbain, wali kota Balikpapan datang berkunjung secara mendadak ke Pesantren Hidayatullah.

Menilik waktunya yang berbeda, ini tentu bukan kunjungan biasa. Rupanya benar. Asnawi datang ingin mengecek kebenaran laporan yang ia terima dari seseorang. Ia dapat laporan ada kegiatan eksklusif yang diadakan sekelompok pemuda di Karang Bugis. Kegiatan yang menurut laporan terindikasi sebagai ajaran sesat dan dianggap meresahkan masyarakat.

Setelah berdialog dengan Abdullah Said, pendiri Pesantren Hidayatullah, Asnawi mendadak berubah pikiran. Jika sebelumnya sempat curiga, setelah itu Asnawi justru langsung menawarkan bantuan berupa peralatan tidur para santri. Sejak itulah keakraban Pesantren Hidayatullah dan Asnawi terjalin mesra. Selanjutnya mudah ditebak. Layaknya keislaman Umar bin Khattab, Asnawi berubah menjadi salah satu benteng kokoh utama Hidayatullah.

“Dulu Almarhum (Abdullah Said) biasa menggelari Pak Haji (panggilan Asnawi) itu dengan julukan Umar bin Khattab,” kenang Amin, seorang santri awal Hidayatullah, lantas tersenyum. Kiprah Asnawi tak berhenti sampai di situ. Dalam urusan pembebasan lahan pertama Hidayatullah di Gunung Tembak, Asnawi lagi-lagi menorehkan tinta emas kemurahan hatinya. Ketika ia mendapat laporan lokasi yang ditemukan, Wali Kota Balikpapan periode 1974-1981 ini segera meluncur menemui Darman, pemilik tanah di Gunung Tembak.

“Tanah ini milik saya, Pak. Di dalamnya pernah saya buka usaha pembakaran batu bata, tapi sekarang sudah berhenti,” ujar Darman kepada Asnawi. Usai mendapat penjelasan dari Wali Kota perihal keberadaan dan kebutuhan pesantren akan lokasi dakwah, Darman tiba-tiba menangis. Antara sedih dan haru. Hanya saja tak ada yang tahu, mengapa ia menangis ketika itu. Hingga beberapa tahun berselang, Darman lalu menjelaskan.

“Sudah dua tahun lamanya saya pernah bermimpi didatangi orang berpakaian putih dengan muka yang bercahaya. Sejak itu saya tidak pernah lagi makan nasi. Saya hanya makan buah-buahan dan minum air putih. Saya juga tidak tahu mengapa saya berbuat demikian. Hanya dalam hati saya ada perasaan bahwa ini pasti kebaikan yang akan muncul di tempat ini,” tutur Darman, yang juga ketua RT setempat.

Singkat kata, Wali Kota memberi instruksi kepada Abdul Muin, kepala Agraria Balikpapan saat itu untuk meninjau langsung lokasi bersejarah tersebut. Akhirnya, tepat tanggal 3 Maret 1976, Gunung Tembak menjadi lokasi baru Pesantren Hidayatullah. Selang dua hari, atas permintaan Asnawi juga, Darman resmi menyerahkan tanahnya kepada Pesantren Hidayatullah. Tercatat, lokasi tersebut seluas 5,4 ha dan diserahkan pada Sabtu, 5 Maret 1976. Atas inisiatif Wali Kota, Darman diberangkatkan ke Tanah Suci bersama istrinya untuk naik haji. Sepulang haji, nama Darman lalu diubah menjadi H Darmawan.

MERAKYAT

Ciri kebaikan itu niscaya melahirkan kebaikan selanjutnya. Demikian rumus kehidupan mengajarkan. Selanjutnya, irama langkahan Hidayatullah tak pernah sepi dari kemurahan hati Asnawi Arbain. Meski berstatus Wali Kota Balikpapan, bersama sang istri, Asnawi tak sungkan turun tangan langsung membantu kebutuhan di lapangan. Termasuk dalam urusan mencari dana di masyarakat. “Istri Pak Haji itu teman akrab dengan ibu saya (Ibu Aida Chered),” ungkap Muntadziruzzaman, putra bungsu Abdullah Said. “Mereka berdua sampai ikut keliling cari dana di masyarakat,” imbuhnya.

Asnawi Arbain bukan lagi sekadar Wali Kota bagi santri Hidayatullah di Balikpapan. Tapi Asnawi juga berperan sebagai orangtua yang mengayomi dan membina santri. Lebih dari itu, mantan Bupati Bulungan, Kaltim ini juga sebagai sahabat karib, tempat para santri dan warga Hidayatullah berbagi masalah.

Tanggal 5 Agustus 1976, diadakan peresmian Pondok Pesantren Hidayatullah di kampus Gunung Tembak. Berbeda dengan pejabat pemerintah lain, Asnawi malah lebih memilih sebagai “yang punya hajat” atau yang turut mengundang. Tampak beberapa tokoh hadir dalam acara peresmian. Di antaranya Prof Dr KH Mukti Ali, MA (Menteri Agama RI), KH Abdullah Syafi’i (Ketua Majelis Ulama Indonesia Pusat) dan putrinya Tutty Alawiyah, serta HA Wahab Sjahranie (Gubernur Kaltim).

Demikian seterusnya, sesuai janji Allah. Dia dan Pertolongan-Nya sangat dekat kepada hamba-Nya yang menolong agama Allah. Kemesraan berjuang di jalan Allah terus terjalin antara Pesantren Hidayatullah dan Asnawi Arbain. Tercatat, blangko permohonan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) yang diedar oleh para santri Hidayatullah itu ditandatangani oleh Wali Kota Balikpapan sejak 1974.

Tradisi ini lalu dilanjutkan oleh penerusnya Wali Kota Syarifuddin Yoes. Pak Yoes, demikian sapaannya, bahkan pernah membubuhi tandatangan langsung hingga ribuan lembar Proposal Pembangunan Masjid Hidayatullah. Ketika disodori stempel tandatangan, dengan tersenyum Pak Yoes berujar, “Semoga menjadi amal bagi saya”.

Kiprah keteladanan dan kebaikan Asnawi Arbain tak hanya dirasakan oleh warga dan santri Pesantren Hidayatullah. Tapi seluruh masyarakat Balikpapan turut merasakan hal yang sama. Hal itu disampaikan oleh Rizal Effendi, wali kota Balikpapan sekarang dalam sambutannya saat takziyah di kediaman almarhum beberapa hari yang lalu.

“Beliau (Asnawi Arbain) adalah pemimpin yang lurus,” ucap Rizal di hadapan ratusan warga yang melayat di rumah duka Jalan Wiluyo Puspoyudo, Balikpapan, Sabtu (27/7) lalu.

“Dialah sesungguhnya peletak pertama pondasi awal konsep Balikpapan religius (kini dikenal dengan istilah Balikpapan Madinatul Iman),” lanjut Rizal.

Senada dengan itu, Awang Faroek Ishak, gubernur Kaltim saat ini, juga tak segan memberi apresiasi kepada Asnawi yang tak lain merupakan purnawirawan.

“Asnawi Arabin adalah sosok teladan pemimpin yang punya jiwa integritas tinggi,” ungkap Awang dalam sambutan takziyah mewakili pemerintah Kaltim.

Kini Asnawi Arbain telah berpulang menghadap Sang Pencipta. Pada pengujung usianya, ia masih sempat meluangkan waktunya membina Pesantren Insan Kamil di dekat kediamannya di Balikpapan. Sebelum meninggal, Asnawi juga sempat berpesan untuk dikubur di lokasi pesantren yang dibinanya itu. Atas wasiat tersebut, pihak keluarga akhirnya menolak tawaran untuk dikebumikan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Balikpapan.

Asnawi Arbain wafat pada usia 87 tahun di Rumah Sakit Pertamina Balikpapan, meninggalkan 12 anak dan 33 cucu. Jumat, (26/7), bertepatan dengan 17 Ramadan 1434 H adalah hari terakhir masa hidup beliau di dunia. (*/kp/bjo/far/k1)

Jadikan Keluarga Sakinah Sebagai Ikon Pembangunan Nasional

0

Kantor Urusan Agama Islam (KUA) merupakan ujung tombak Kementerian Agama dalam memberikan pelayanan dan bimbingan kepada masyarakat. KUA bersentuhan langsung dengan berbagai masalah di masuyarakat. Untuk itulah, keberadaan KUA menjadi sorotan sekaligus tolak ukur kualitas pelayanan dari Kementerian Agama.

Hal ini disampaikan Wamenag Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA pada perhelatan Pemilihan KUA Teladan dan Keluarga Sakinah Tingkat Nasional di Jakarta, 16-20 Agustus. Dalam pembukaan yang dihelat di Auditorium HM Rasjidi Gdm Kemenag JL MH Thamrin, hadir para pejabat eselon I dan II Kemenag, para peserta dari 33 provinsi dan tamu undangan.

Dalam laporannya, Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, DR. Muchta Ali, menegaskan, Pemilihan KUA teladan diikuti 33 kepala KUA dari seluruh Indonesi dan 33 pasang keluarga sakinah yang telah lolos dari seleksi tingkat privinsi. Selain mendorong motivasi dalam membangun KUA yang profesional, Acara ini diharapkan mampu mendotrong jajaran KUA untuk secara menyeluruh menerapkan reformasi birokrasi, terutama aspek tertib adminsitrasi,pelayanan prima dan profesionalisme.

Muchtar Ali menambahkan, KUA juga berperan besar dalam pembentukan keluarga sakinah. Selain melakukan pencatatan pernikahan, KUA juga melakukan pendidikan pra nikah kepada para calon pengantin. Di sinilah profesinalisme KUA dibutuhkan agar target pembekalan tercapai denhan baik.

Wakil Menteri Agama memberikan apresiasi yang besar terhadap kegiatan ini. Menurutnya, sudah saatnya keluarga sakinah menjadi ikon pembangunan nasional. Bahwa penguatan keluarga adalah unsur utama pembangunan nasional. “Keluarga sakinah bukan hanya memiliki ketahanan ekonomi,melain jugha ketahanan pendidikan, moralitas dan agama. Inilah sesunguhnya yang kini dibutuhkan bangsa Indonesia“, ujarnya.

Wamenag menambahkan, event ini sejalan dengan semanghat revitalisasi KUA senagai bagian dari reformasi birokrasi. Kementerian Agama kini fokus untuk melakukan revitalsiasi KUA melalui peningkatan sarana, infrastruktur, pelayanan prima dan tertib adminsitasim.

Pemilihan KUA teladan dan Keluarga Sakinah Teladan dirangkai dengan beberapa kegiatan kenegaraan,diantarnya upacara HUT RI di Istana Negara, silaturahim dengan Bapak Presiden RI dan berbagai kegiatan lainnya.(kangjeje/foto:bimasislam)

Hidayatullah Serukan Kaum Muslimin Bantu Mesir

0

Organisasi massa Islam Hidayatullah mendesak pemerintah RI agar aktif mengupayakan perdamaian di Mesir lewat segala cara. Bahkan bila perlu memutuskan sementara hubungan diplomatik kepada Mesir hingga negara itu kembali normal seperti sedia kala.

“Hidayatullah mengutuk keras aksi keji pembantaian sadis tersebut, serta pembantaian-pembantaian sebelumnya,” tegas Kepala Biro Humas PP Hidayatullah Mahladi dalam rilis persnya diterima media ini, belum lama ini..

Lebih lanjut Mahladi, pihaknya juga menghimbau kepada seluruh masyarakat Muslim di Indonesia untuk menggalang solidaritas kepada masyarakat Muslim Mesir yang saat ini tengah ditimpa musibah.

Sebagaimana diwarta media, tragedi berdarah di Mesir yang menewaskan lebih dari 2 ribu warga sipil di negeri itu pada Rabu malam (14/8) menjadi peristiwa memilukan bagi kaum Muslim di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Aksi biadab yang dilakukan hanya dalam tempo 8 jam tersebut merupakan satu dari rangkaian pembantaian sebelumnya setelah tergulingnya pemerintahan yang syah pada awal Juli lalu.

“Kami berdoa semoga Allah SWT menganugerahkan ketabahan kepada masyarakat Mesir atas musibah ini,” tandas dia.*

BMH Salurkan Ratusan Mushaf Qur’an ke Wilayah Minoritas

0

Baitul Maal Hidayatullah (BMH) menyalurkan wakaf berupa mushaf Alquran. Wakaf ini merupakan amanah dari PT Indonesia Power berupa 300 mushaf. Keseluruhannya diperuntukkan para dai dan jamaah di pedalaman. BMH menyalurkannya ke pedalaman Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Jumat (26/07) lalu.

Koordinator Tebar Wakaf Sejuta Alquran BMH Jules Amarta Sofyan mengungkapkan, NTT menjadi target sebaran karena di daerah tersebut Muslim masih minoritas dan dhuafa.

Sofyan menambahkan, saat ini sejumlah titik masih membutuhkan Mushaf Alquran, terutama di pedalaman Papua dan SulawesiM seperti daerah Sorong Selatan, Nabire, Jayapura, Majene, Kolaka.

Kepala BMH Cabang Kupang M Ridwan mengatakan, di pedalaman NTT terdapat dai-dai muda binaan Pesantren Hidayatullah Kupang. Misi mereka adalah membina Muslim pedalaman.

Di Jakarta, Jumat (26/7) lalu, Direktur Eksekutif BMH Wahyu Rahman mengatakan, wakaf Alquran merupakan bentuk kepedulian BMH terhadap masyarakat yang membutuhkan mushaf, khususnya warga pedalaman. Program mulia ini terbuka untuk umum dengan nominal wakaf sebesar Rp 50 ribu.

Wahyu menambahkan, BMH akan mendistribusikan wakaf Alquran ini ke 50 kabupaten dan kota, 225 pesantren, serta 6.125 dai yang tersebar di pelosok dan pedalaman di Tanah Air. “Seperti, Merauke, pedalaman Papua, Mentawai, dan lainnya,” ujarnya.

Wilayah-wilayah tersebut, Wahyu mengungkapkan, memiliki kebutuhan terhadap mushaf Alquran. Selain jarak tempuh yang jauh, akses untuk memperolehnya masih sangat sulit. Oleh karena itu, pendistribusiannya melibatkan para dai di pedalaman.

Prosesi resmi penyaluran wakaf Alquran tersebut berlangsung Ahad (4/8). Hadir sejumlah tokoh dalam acara yang berlangsung di parkiran Mal Kalibata, yaitu Dik Doank dan Ustaz Bachtiar Nasir serta tim nasyid Justice Voice.

Ini sekaligus acara Gema Nuzulul Quran yang disemarakkan dengan bazar dan pentas seni. Secara simbolik, wakaf Alquran diserahkan dalam kegiatan tersebut.

Menjadi Warga Negara yang Baik

0

ust mananAPA indikator warga negara yang baik? Baik menurut siapa? Apa standar warga negara yang baik itu? Bagaimana strategi membangun warga negara yang baik? Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan pertanyaan warga negara yang menghendaki agar semua warga negara menjadi baik, dan menjadi suatu negara yang adil, makmur, aman dan damai tanpa anarki.

Apakah mungkin harapan tersebut menjadi kenyataan? Apakah sejarah kemanusiaan telah mencatat bahwa pernah terjadi suatu pemerintahan yang harmoni antara warga masyarakat dan pemerintah?

Pernah. Ketika Umar bin Abdul Aziz menjabat sebagai penguasa, semua warga masyarakat yang dipimpinnya hidup aman dan damai tanpa anarkis. Pendapatan perkapita setiap tahunnya menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Bahkan, warga masyarakat tidak ada yang berhak menerima zakat. Semuanya menjadi muzakki.

Lantas, sistem ketatanegaraan apa yang diterapkan oleh Umar bin Abdul Aziz dalam memenej negara sehingga warga masyarakatnya dapat hidup tentram gemah ripah loh jinawi? atau yang sering kita dengar sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur?

Umar bin Abdul Aziz jika dirunut dari silsilahnya adalah keturunan Khalifah Umar bin Khaththab, seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sosok Umar bin Khaththab dikenal jujur dan berani dalam mengambil kebijakan untuk menerapkan keadilan termasuk untuk dirinya sendiri.

Umar bin Abdul Aziz, nampaknya mengikuti karakter dan jejak datuknya. Ia berlaku adil pada diri, keluarga, dan masyarakat yang dipimpinnya. Model tata negara khilafah yang ia terapkan adalah menurut ajaran Islam yang bersumber pada al-Qur`an dan Sunnah. Model kepemimpinannya adalah mendahulukan kepentingan masyarakat dari pada dirinya. Saat ia memimpin, negara aman sentosa, dan bebas dari korupsi. Negara yang dalam naungan dan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dewasa ini, kita disuguhi tayangan tindakan anarkis yang menjugkalkan penguasanya. Seperti, penguasa Tunisia, Mesir, Libya, Bahrain, Yaman, dan yang lainnya. Ini menunjukkan bahwa dunia sedang bergolak menuntut ketidakpuasan masyarakat. Pertanyaannya, mengapa anarkisme terjadi pada negara–negara yang mayoritas pendudukanya Muslim dan juga penguasanya Muslim?

Terlepas dari pemerintah atau masyarakatnya Muslim suatu negara bukanlah menjadi ukuran dasar. Ukuran dasar adalah terletak pada adil dan tidaknya para penguasa dalam suatu negara. Jika keadilan ditegakkan dan diberlakukan pada semua warga, pejabat atau penguasa negara, niscaya hidup bernegara akan aman dan damai. Tindakan anarkis  yang merugikan semua pihak tidak akan terjadi.

Masalahnya, apakah mungkin pada zaman ini akan lahir suatu pemerintahan yang adil seperti zaman Umar bin Abdul Aziz?

Sangat utopis kedengarannya. Walau masyarakat dunia saat ini gencar meneriakkan dan memperjuangakan HAM yang berdimensi keadilan bagi semua penduduk dunia adalah hanya berupa slogan kosong. Sebab, mereka tidak menghendaki adanya keadilan versi ajaran Islam yang pernah diterapkan oleh Umar bin Abdul Aziz.

Kesimpulannya, bahwa keadilan itu harus dimulai dari diri penguasa. Masyarakat akan mengikuti kebijakan yang ditetapkan oleh penguasa.

Ajaran Islam yang diterapkan oleh Umar bin Abdul Aziz dalam memanej negara adalah sebuah contoh saja. Semua warganya yang terdiri dari berbagai agama dapat menikmati hidup rukun dan damai di bawah panji  ajaran Islam. *

Naskah Khutbah Idul Fitri 1434 Hijriyah PP Hidayatullah

0

Alhamdulillah, semoga kita semua dalam keadaan sehat wal afiat. Berikut ini kami tayangkan file unduhan materi Khutbah Idul Fitri 1434 H rilis resmi Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah.

File naskah khutbah ini ada 2 jenis, yaitu dalam bentuk Acrobat Reader (PDF) dan Microsoft Word (Office/ compatible). Silahkan dipilih sesuai yang diinginkan. Kami sampaikan bahwa file PDF dalam format desain sehingga relatif membutuhkan memori unduh lebih besar, sementara file yang Microsoft Word lebih kecil ukurannya dan tanpa desain. Silahkan dipilih saja sesuai kemampuan kuota.

Link dowload/unduh ada di bawah akhir tulisan ini. Caranya gampang, ketika Anda mengklik link download, Anda langsung menuju ke halaman utama unduh di FileDropper di mana file berada. Tidak perlu login atau daftar, Anda cukup klik tulisan “Download This File”. Setelah itu akan muncul kolom kecil, isi kolom tersebut sesuai dengan frase atau huruf-huruf yang muncul dan setelah itu, klik “Download Now”. Selesai.

Semoga ibadah Ramadhan kita diberkahi dan diterima oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Karena akan fokus i’tikaf dan khawatir tidak sempat online selama beberapa hari ke depan atau bahkan hingga Idul Fitri, kami selaku administrator portal PP Hidayatullah sekaligus ingin mengucapkan lebih awal mohon maaf lahir dan bathin.

Taqobbalallaahu minnaa wa minkum, shiyaamana wa shiyaamakum. Ja’alanallaahu minal aidin wal faizin, kullu aamin wa antum bi khaiir.

 

Selamat ber-Idul Fitri!

 

Salam,

Administrator

 

DOWNLOAD FILE:

Polresta Bukber Bersama Santri Hidayatullah Medan

0

Kepolisian Resort Kota Medan (Polresta), Kamis (25/07/2013) lalu melaksanakan acara berbuka puasa bersama (bukber) ratusan anak santri Pesantren Hidayatulah Medan dan personil Polresta Medan di Lantai II Ruang Satreskrim Polresta Medan.

Sebelum acara berbuka puasa, para personil dan anak Pesantren Hidayatullah mendengarkan tausiyah dari Pesantren Hidayatullah.

Selanjutnya begitu mendengarkan Azan Maghrib berkumandang, para personil yang menjalankan ibadah puasa berbaur dengan para anak Pesantren Hidayatullah dan para wartawan untuk berbuka puasa dengan hidangan yang telah disediakan.

Selain berbuka puasa bersama, Kasat Reskrim Polresta Medan juga memberikan santunan kepada anak-anak pesantren yang hadir .

Usai menyantap makanan berbuka puasa, akhirnya para personil dan anak pesantren meninggalkan ruang Reskrim Polresta Medan.

Disela-sela acara berbuka puasa tersebut, Kasat Reskrim Polresta Medan Kompol J Calvijn Simanjuntak mengatakan acara buka bersama ini diadakan untuk mempererat tali silaturahmi kepada anak-anak Pesantren Hidayatullah dan sekaligus mempererat talisilaturahmi kepada para personil Polresta Medan.

“Di Bulan Ramadhan ini kita harus saling berbagi dan saling menghormati sesama umat, khususnya terhadap umat Muslim yang sedang menjalankan Ibadah Puasa,” ujar Kasat Reskrim.

Hadir juga dalam acara berbuka puasa tersebut Kapolresta Medan Kombes Nico Afinta, Wakapolresta Medan AKBP Yusuf Hondawantri Naibaho, para Kasat dan Kanit serta personil di jajaran Polresta Medan serta beberapa Kapolsek jajaran Polresta Medan juga tampak hadir. (Dav/Red)

Tokoh Balikpapan Sesepuh Hidayatullah Meninggal Dunia

0

Kamis, 01 Agustus 2013 15:23

Innalillahi wainnailaihiroji’un.  Mantan Walikota Balikpapan periode 1974-1981, Letkol Pol (Purn) HM Asnawi Arbain meninggal dunia. Pria yang juga dikenal sebagai salah satu sesepuh pesantren Hidayatullah ini menghembuskan nafas terakhir pada  Jumat (26/7/2013) sekitar pukul 17.12 Waktu Indonesia Tengah.

“Beliau wafat di Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB). Insya Allah besok (hari ini. Red) dimakamkan,” ujar salah seorang ustadz Hidayatullah Balikpapan, Fathun Qarib, kepada hidayatullah.com usai membesuk almarhum di kediamannya, Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat malam.

Almarhum yang saat menjabat sempat meletakkan dasar-dasar pembangunan RSPB, wafat setelah menderita penyakit komplikasi. Menurut anak ke-8 beliau, Kusuma Palindi, sejak 1 Juli lalu, ayahnya memang menjalani perawatan secara intensif di rumah sakit tersebut, demikian dikutip dari laman kaltim.tribunnews.com.

Awalnya disebabkan gejala sesak nafas, namun dari hasil diagnosa dokter ada gejala penyakit jantung dalam sakit yang diderita tersebut. Selama kurang lebih 26 hari menjalani perawatan, kondisinya memang tak banyak mengalami perubahan, bahkan untuk bernafas. Almarhum yang pada November nanti genap berusia 87 tahun harus dibantu dengan oksigen.

Seperti diketahui, semasa hidupnya Asnawi Arbain berperan penting dalam perjalanan Hidayatullah. Terutama di awal-awal berdirinya pesantren prakarsa (alm) KH Abdullah Said ini. Pada tahun 1976, Abdullah Said sedang membutuhkan lokasi calon pesantren yang tepat.

Saat itu Hidayatullah juga sempat dituding sebagai aliran sesat. Datanglah Asnawi Arbain untuk memastikannya. Bukannya melarang, beliau justru menunjuk tanah wakaf seluas lima hektar di Gunung Tembak, Balikpapan Timur sebagai lokasi yang cocok bagi pendirian Hidayatullah hingga lembaga ini bisa eksis dan terus melebarkan sayap dakwahnya hingga saat ini.(skr)

Puluhan Mualaf Terima Bingkisan Lebaran

0

Puluhan mualaf dari berbagai desa dan kecamatan di Malinau, Kaltim, menerima santunan Hari Raya Idul Fitri, berupa perlengkapan shalat, kerudung, dan pakaian Muslim. Pemberian santunan dilakukan usai pengajian rutin yang dilakukan Perkumpulan Dzikir Mualaf Malinau (PDMM) di Mushola Al Islami, komplek Gigantea Town House Desa Malinau Hulu Kecamatan Malinau Kota, kemarin.

Ketua Perkumpulan Dzikir Mualaf Malinau, Hj Christina Debora, menjelaskan, puluhan set perlengkapan shalat, mukena, kerudung dan pakaian muslim diberikan sejumlah dermawan dari Malinau dan Tarakan.

Mewakili para mualaf, Hj Debora menyampaikan terima kasih pada Wakil Bupati Topan Amrullah, Ketua MUI H. Edy Marwan, Anggota DPRD Khairani dan kepada Pondok Pesantren Hidayatulah selaku pembina rutin para muallaf.

Dari para dermawan, pihaknya dapat melakukan kegiatan rutin keagamaan setiap pekan, termasuk pekan ketiga Juli yang disertai pembagian santuan.  Dari para dermawan, pihaknya mendapat 60 buan Al Quran dan puluhan buku Iqra serta buku agama lain. Selanjutnya 250 kerudung, 60 lebih mukena serta puluhan baju muslim.

Puluhan mualaf yang memenuhi Mesjid Al Islami terlihat sangat senang menerima pemberian itu.  Mereka terlihat bersemangat mengikuti pengajian yang diberikan Pembina Pesantren Hidayatullah.

Hj Debora menjelaskan perihal rencana pendirian Pemaaf, organisasi mualaf di bawah naungan MUI, Kemenag dan BAZ. Organisasi ini, terangnya, akan segera dibentuk di Kaltara. Termasuk di Malinau.

“Untuk Pemaaf Malinau, sementara ini saya yang memimpinnya,” tutur Debora. (kk/hio)