Beranda blog Halaman 687

Marak Bencana Alam, Hidayatullah Peduli Tanggap Nasional

Tim HPBN di Sinabung / FOTO: BMH
Tim HPBN di Sinabung / FOTO: BMH

Hidayatullah.or.id — Hidayatullah Peduli Bencana Nusantara (HPBN) hingga hari ini masih bertahan di lokasi bencana Gunung Sinabung, Sumatera Utara. Selain mendirikan posko, team yang terdiri dari relawan Baitul Maal Hidayatullah (BMH), SAR Hidayatullah, dan Islamic Medical Service (IMS) ikut membantu evakuasi dan rehabilitasi korban.

HPBN masih terus memberikan bantuan ke posko-Posko pengungsi erupsi Sinabung. Bahkan jumlah Posko pun kian diperbanyak seiring dengan bertambahnya jumlah pengungsi.

Untuk kebutuhan logistik, masih banyak Posko pengungsi menggantungkan kebutuhan hidupnya dari bantuan. Namun demikian, masalah tidak hanya pada soal logistik semata. Beberapa pengungsi memerlukan bantuan biaya untuk sekolah anak-anaknya yang sedang belajar di luar Kabupaten Karo.

Pak Ginting misalnya, sejak erupsi gunung Sinabung ia tak bisa lagi bekerja seperti biasa. Akhirnya, tidak ada penghasilan yang bisa digunakan untuk membayar kebutuhan sekolah anaknya yang sedang belajar di pesantren.

“Saya sudah tidak bisa membayar biaya hidup anak saya yang sekolah di salah satu pesantren yang ada di Medan. Saya sangat berharap kepada BMH agar anak saya bisa dibantu juga,” ujarnya kepada relawan BMH di Sinabung Masdar Ayub.

Trauma Healing

Selain itu BMH juga menggelar berbagai macam kegiatan. Di antaranya memberikan kajian motivasi spiritual di Posko Islamic Center. Hal ini merupakan satu program trauma healing yang diluncurkan BMH agar para pengungsi tidak terguncang kejiwaannya.

Menurut Kepala Cabang BMH Medan kebutuhan para pengungsi sebenarnya bukan soal logistik semata, tetapi juga spiritual.

“Memang banyak hal yang sangat dibutuhkan masyarakat di Posko pengungsian. Akan tetapi dengan motivasi spiritual yang kami laksanakan semoga para pengungsi semakin dekat kepada Allah, sehingga bisa melihat musibah ini sebagai media untuk lebih takwa kepada-Nya,” ujar Ayub.

Untuk itu BMH selalu berusaha memberikan bantuan secara integratif, baik logistik maupun spiritual. Pada saat penyerahan paket bantuan, kepala Cabang BMH Medan, Rahmat Afandi juga menyampaikan kepada seluruh pengungsi untuk bersabar dan berdoa.

Dan mengucapkan terima kasih banyak atas kerjasamanya PT. Ayu Septa Perdana dan Lazis PT. PLN (Persero) Wilayah Sumatera Utara. “Semoga Allah membalas dan memberikan gantinya yang lebih banyak lagi,” kata Rahmat.

Selain bencana Sinabung, HPBN juga menerjunkan tim relawan bekerjasama dengan lembaga amil zakat nasional BMH dan lembaga kesehatan nasional IMS serta team pencarian dan pemulihan (SAR) Hiayatullah ke sejumlah wilayah bencana lainnya seperti banjir Manado, banjir Jabodetabek, Karawang, dan Indramayu. (dbs/hio)

Sarana Sederhana Tak Surutkan Semangat Belajar Santri Hidayatullah Kendari

0
Meski masih serba sederhana, santri buktikan diri bisa berprestasi / Thamrin
Meski masih serba sederhana, santri buktikan diri bisa berprestasi / Thamrin

Hidayatullah.or.id — Keterbatasan sarana dan prasarana tidak menjadikan para guru dan santri Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari untuk berhenti melakukan aktfitas belajar mengajar. Mereka tetap semangat meskipun dengan sarana belajar yang sangat sederhana.

Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah yang dirintis oleh Ustadz Khairil Baits ini sejak tahun 1993 hingga sekarang masih terus eksis di kota Kendari ini.

Semenjak kehadirannya, menurut Ketua pengurus harian Pesantren Hidayatullah Kendari, Ghiroh Amrullah, Pesantren Hidayatullah telah banyak membantu pendidikan masyarakat dan meringankan beban pemerintah.

“Alhamdulillah santri yang kami bina setiap tahunnya meningkat, saat ini berjumlah 130 santri. Yang terdiri dari 50 santri putra dan 70 santri putri. Mereka tinggal di dalam pondok dan tidak dipungut biaya,” ujar Ghiroh kepada media Sultra di ruang kerjanya kemarin (29/1/2014).

Saat dikonfirmasi mengenai sumber pendanaan pesantren, ia menjelaskan bahwa, sampai saat ini sumber pendanaan Pesantren Hidayatullah masih dari swadaya masyarakat Muslim yang di kumpulkan oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH). Selain itu juga ada amal usaha pesantren seperti peternakan dan koperasi.

Meski dalam kondisi yang masih sangat terbatas, para guru dan santri masih tetap senang dan semangat tinggal dan belajar, karena di pesantren ini selain pelajaran agama yang di ajarkan tapi juga pelajaran Umum.

Menurut ayah 7 anak yang biasa disapa Aba Ipul ini, santrinya pernah meraih juara satu dan dua dalam lomba Bahasa Inggris dan Bahasa Arab tigkat kota yang diselenggarakan oleh Departemen Agama Kendari.

Dengan capaian prestasi itu membuat para guru dan santri semakin sungguh-sungguh dalam belajar, sekalipun tempat belajarnya di gode-gode yang hanya melantai dan cuma pakai meja kecil tanpa kursi. Tidak sebagaimana sekolah pada umumnya.

Kebanyakan para santri, kata suami Irmayani ini, datang dari kalangan menengah ke bawah dan sebagian orangtuanya bekerja sebagai nelayan dan petani, serta ada juga yang sudah yatim piatu.

Mereka datang dari berbagai daerah khususnya wilayah Sultra. Harapannya, kelak anak-anak itu akan menjadi contoh minimal dilingkungan kelurganya dan memiliki Ilmu pengetahuan, khususnya ilmu agama.

Oleh karena itu, para pengurus bertekad akan membebaskan lahan di sekitar pesantren yang belum dibebaskan dan membuat tempat belajar yang lebih permanen. Sehingga dengan adanya sarana yang bagus para santri semakin semangat lagi dalam menuntut ilmu di pesantren ini.

Kini, pengurus sedang menggagas pembangunana gedung pesantren tahfidz atau pesantren penghafal Al-Quran di Nanga-Nanga, sebagai pengembangan Pesantren Hidayatullah Kendari ke depan dan rencananya pesantren yang di bangun tersebut, untuk para santri yang ingin menghafal Al-Quran dan tidak di pungut biaya bagi kalangan yang tidak mampu.

Ghiroh sangat berharap semoga ada di antara umat Islam yang ikut andil dalam pembebasan lahan dan pembangunan gedung pesantren penghafal quran tersebut, yang saat ini telah selesai pemancangan tiang.

“Mari berlomba–lomba dalam kebaikan, semoga Allah SWT menggantinya dengan pahala surga, Aamiin,” harapnya.(knc/hio)

Manfaatkan Majelis Maulid Nabi untuk Raih Ilmu dan Eratkan Silaturrahim

0
Suasana Maulid Nabi di Kantor Kemenag Bintan / Kemenag
Suasana Maulid Nabi di Kantor Kemenag Bintan / Kemenag

Hidayatullah.or.id — Berbicara di hadapan jamaah acara Maulid Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam di Majsid Al Muhajirin, Komplek Kantor Kemenag Bintan, Riau, pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Bintan, Ustadz Maidin, berpesan agar kaum Muslimin menjadikan majelis maulid Nabi sebagai wadah untuk menuntut ilmu dan membangun silaturrahim.

Maidin mengatakan, tujuan utama dari peringatan maulid Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam adalah mempertemukan seluruh umat Islam dalam sebuah kegiatan yang di dalamnya terdapat majlis ilmu yang bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang agama Islam.

“Mungkin sebagian dari saudara-saudara kita ada yang menganggap peringatan semacam maulid Nabi ini sebagai perbuatan yang mengada-ngada. Namun, tujuan kegiatan ini jelas untuk mempererat ukhuwah Islamiyah serta merupakan sebuah majelis yang di dalamnya terdapat banyak ilmu agama yang disampaikan,” tutur Maidin saat memberi taushiah dalam acara maulid yang diikuti seluruh pejabat dan pegawai Kemenag Bintan Jum’at pekan lalu, ditulis Kamis (30/01/204).

Lebih lanjut, pimpinan Pondok pesantren Hidayatullah Bintan ini mengharapkan agar seluruh umat Islam bisa mengamalkan sunnah Nabi SAW.

“Mari kita berusaha untuk selalu mengamalkan sunnah baginda Rasul SAW. Mungkin kita tidak mampu untuk mengikuti seutuhnya sunnah baginda, akan tetapi setidaknya kita selalu berusaha untuk menjalankan setiap sunnahnya,” terang ustad Maidin.

Seraya juga mengatakan mengatakan bahwa salah satu sunnah nabi adalah membangun silaturrahim dengan segenap manusia tanpa pandang bulu dari kelompok mana pun dari ummat ini serta kewajiban shalat berjamaah di masjid, dan hal itu dilakukan oleh Nabi Muhammad setiap hari, bahkan dalam keadaan sakit sekalipun.

Selanjutnya acara maulid Nabi ini ditutup dengan doa yang juga dipandu oleh ustadz Maidin. Setelahnya, para hadirin disuguhkan dengan makanan yang telah disediakan oleh pengurus mushalla.

Jum’at (24/1) pekan lalu, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bintan mengadakan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW 1435 H. Kegiatan ini dilaksanakan di mushalla Al Muhajirin Kantor Kemenag Bintan dan diikuti oleh seluruh pejabat dan pegawai di lingkungan Kantor Kemenag Bintan.

Acara dimulai dengan bacaan barzanji bersama yang dipandu oleh Drs. H. Ahmad Husen, Kasi Pendidikan Madrasah Kantor Kemenag Bintan. Suasana menjadi lebih khidmat mengingat seluruh hadirin membaca kitab barzanji secara bergantian.

Acara selanjutnya, pengukuhan pengurus mushalla al Muhajirin Kantor Kemenag Bintan oleh Kepala Kantor Kemenag Bintan. Dalam pengarahannya, Kepala Kantor Kemenag Bintan Drs. H. Erizal, MH mengucapkan selamat kepada pengurus mushalla yang baru dikukuhkan.

Erizal berharap agar pengurus mushalla dapat menghidupkan mushalla al Muhajirin dengan kegiatan-kegiatan keagamaan. Selanjutnya Kankemenag mengungkapkan peringatan maulid Nabi ini bukan sekedar ceremony. Namun tujuan memperingati kelahiran nabi Muhammad SAW ini dalam rangka memantapkan keinginan untuk selalu menauladani baginda Rasul SAW serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

“Spirit untuk mengetahui sejarah Nabi inilah yang paling perlu kita ambil dalam peringatan maulid Nabi Muhammad SAW,” ujar Kepala Kankemenag Bintan seraya mengungkapkan sejarah Nabi Muhammad dapat dilihat dalam untaian-untaian kata pada kitab al-barzanji yang telah dibacakan di awal kegiatan ini.

Kepala Kankemenag Bintan ini menambahkan, seluruh aspek kehidupan pada diri Rasulullah itu harus diteladani, karena Muhammad merupakan uswatun hasanah, yakni suri tauladan yang paling baik. (kem/hio)

Grand MBA Tawarkan Metode Pembelajaran Al Qur’an Secara Tuntas

0

Hidayatullah.or.id — Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) adalah merupakan program nasional Hidayatullah sebagai metode pilihan pembelajaran Al Qur’an secara tuntas dan sistematis.

Instruktur Nasional Grand MBA Pusat, Ustadz Muhdi Muhammad, mengatakan program pembelajaran Al Qur’an metode Grand MBA ditawarkan kepada masyarakat semata-mata ingin memberikan support dan menemani masyarakat belajar Al Qur’an secara tuntas sesuai dengan tahapan-tahapannya mulai dari terbata-bata tidak bisa sama sekali sampai pada tahapan tartil.

“Secara sederhana, tahapan belajar Qur’an itu adalah memulai dengan terbata-bata atau mutata’ti’, mempelajari makhraj dan shifat, mengetahui kaidah tajwid, memahami tata bahasa, memahami dan merasakan balaghah, dan terakhir hakikat tartil,” kata Muhdi Tranajaya ditemui Hidayatullah.or.id di kantornya, ditulis Kamis (30/01/2013).

Setelah sampai pada tahapan terakhir yaitu tartil, peserta akan dibina dalam halaqah atau majelis-majelis taklim yang dibangun Grand MBA bekerjasama dengan masjid-masjid yang intinya mempelajari 5 T yaitu tilawah atau membaca dengan tartil, tahfidz (menghafal sebanyak mungkin), tafaqquh (memahami dengan benar), tathbiq (mempraktikkan dalam kehidupan), dan tabligh (menyampaikan kepada orang lain).

“Inilah yang ditawarkan Grand MBA kepada masyarakat,” kata Muhdi.

Dalam tahapan belajar metode Grand MBA, Muhdi menjelaskan, untuk tahap pertama yaitu mengenal makhrajul huruf dan shifat sampai kaidah tajwid menggunakan buku Grand MBA Jilid I dan II dalam paket Bimbingan Tajwid dan Tahsin Al Qur’an. Sementara untuk pelajaran tata bahasa dan maknanya di buku paket Terampil Menerjemah Al Qur’an dengan isi 6 jilid.

Grand MBA juga punya metode cepat belajar Al Qur’a dengan judul buku paket Grand MBA: Cara Cepat Belajar Membaca Al Qur’an dengan metode 8 jam dengan durasi 1 jam setiap pertemuan.

“Tapi harus dipahami, metode cepat ini hanya sekedar mengenal huruf dan membaca, selebihnya harus belajar dengan membutuhkan waktu yang cukup lama. Karena dalam beberapa hal ada ilmu yang tidak bisa dipelajari secara instan atau otodidak seperti Al Qur’an,” jelas Ustaz Muhdi.

Menurut Muhdi, maraknya metode pembelajaran Qur’an dengan metode cepat salah satunya dipengaruhi oleh budaya masyarakat yang mau serba cepat, terutama Ini akibat dari pola hidup atau pola pikir yang sebetulnya dipengaruhi oleh materialisme.

“Jadi, ketika orang menawarkan sesuatu, itu langsung, berapa kali pertemuan, berapa harganya, berapa lama, ditanya langsung bisa nggak. Begitu,” ujarnya.

Belajar dari fenomena tersebut, para dai dan guru ngaji juga ingin mensiasati kondisi masyarakat yang demikian tadi. Maka mereka juga ingin melakukan pendekatan bagaimana metode pembelajaran Al Qur’an itu mereka bisa diterima.

“Metode pembelajaran Al Quran cepat sebenarnya hanya sebagai tahap awal agar masyarakat bisa lebih mengenal Quran lebih dekat, bisa timbul rasa suka, rasa cinta, terhadap Qur’an. Sehingga mereka meneruskan pelajaran Al Qur’an sampai mencapai target yang ideal,” kata pria lulusan LIPIA Jakarta ini.

Ia menjelaskan bahwa metode cepat membaca Qur’an itu yang ditawarkan saat ini sepenuhnya masih parsial. Sebab Al Qur’an itu bukan hanya membaca, tapi ada tahapan-tahapan pembelajaran yang harus diikuti dengan baik.

Al Qur’an memang bahasa Arab tetapi memiliki cara membaca yang khusus yang berbeda dengan bahasa Arab pada umumnya. Yang membedakan adalah kaidah tajwid. Yaitu tentang bagaimana cara mengucapkan huruf huruf hijaiyah dengan benar sesuai dengan makhraj dan shifatnya.

Kemudian selanjutnya, jelas Muhdi, mempelajari makna dan tata bahasa Al Qur’an dari setiap ayat dan bagaimana cara mengamalkannya.

Tidak cukup sampai di situ, kalau mau jadi ulama dan ingin memahami betul-betul Al Qur’an maka seseorang harus mempelajari apa yang disebut dengan ilmu keindahan bahasa atau dalam bahasa Arab disebut ilmu Balaghah. Balaghah adalah ilmu untuk merasakan keindahan bahasa dan kedalaman makna Al Qur’an.

“Jadi Al Qur’an itu sangat indah dan maknanya sangat dalam. Kemudian barulah dia akan sampai pada hakikat tartil. Hakikat tartil itu adalah keselaran antara lisan yang fasih, hati yang penuh iman dan akal yang mengambil pelajaran serta fisik yang ingin segera mengamalkan Al Qur’an,” tandasnya.(ybh/hio)

Hidayatullah Medan Terima Hibah Tanah untuk Pesantren

0
Kerjabakti santri di tanah hibah
Kerjabakti santri di tanah hibah

Hidayatullah.or.id — Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, mendapat hibah tanah seluas 800m2 di bilangan Mareland Medan, kurang lebih berjarak 40 km dari Kampus Utama Tanjung Morawa.

Ketua Yayasan Hidayatullah Medan Ustadz Choirul Anam, mengatakan hibah tanah tersebut berasal dari seorang dermawan Muslim di kota tersebut bernama H. Mintar Sandi. Ia adalah seorang simpatisan dan donatur tetap Pesantren Hidayatullah Medan yang sehari- harinya bekerja sebagai nahkoda kapal angkutan barang dan batubara.

Sudah lama Haji Mintar ingin menghibahkan tanah tersebut untuk pengembangan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan yang menyantuni dan memberikan layanan pendidikan cuma cuma untuk ratusan anak tidak mampu ini.

“Letaknya cukup strategis, di daerah yang sudah masuk dalam rencana pengembangan kota, dikelilingi kampung–kampung yang padat penduduk dan mayoritas adalah kaum muslimin,” kata Choirul Anam dalam keterangannya pada Hidayatullah.or.id, ditulis Selasa (28/01/2014).

Beliau menambahkan, di tanah hibah tersebut belum berdiri lembaga pendidikan Islam yang sangat dibutuhkan masyarakat.
Sehingga ke depan, kata dia, di lokasi ini akan didirikan lembaga pendidikan Pondok Pesantren Hidayatullah.

“Apalagi saat penyerahan lahan tersebut Bapak kepala desanya mengatakan sangat menunggu kehadiran Pesantren Hidayatullah di sana,” ujar Anam.

Meskipun lahan ini hanya 800m2, namun di kanan kiri masih banyak tersedia lahan kosong yang siap dijual.

Pihaknya berharap ada kaum muslimin yang berkenan membantu pengembangannya yang masih sangat memungkinkan untuk diperluas sehingga memenuhi target luasan minimal sebuah kampus pendidikan yang memadai yaitu 10 ha.

“Lahannya sangat subur sehingga untuk sementara bisa diberdayakan dengan tanaman produktif seperti jagung dan penanaman Ubi mukibat,” pungkas Anam yang ikut bekerja bakti bersama santrinya di lokasi ini Ahad lalu. (ybh/hio)

IMS Resmikan Klinik Kesehatan Dhuafa di Bojong Kulur

Peresmian klinik IMS Bojong
Peresmian klinik IMS Bojong

Hidayatullah.or.id — Dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan yang lebih optimal dan memperbanyak penerima manfaat pelayanan kesehatan untuk masyarakat tidak mampu, Islamic Medical Service (IMS), selaku lembaga kemanusiaan nasional dibidang kesehatan di bawah koordinasi ormas Hidayatullah pada 26 Januari 2014 lalu meresmikan klinik di wilayah Bojong Kulur Bogor, Jawa Barat.

Selain peresmian klinik, IMS juga membagikan kartu berobat gratis untuk 250 KK masyarakat dan acara pengobatan gratis untuk 150 masyarakat tidak mampu berupa pelayanan kesehatan umum dan gigi.

Kartu berobat gratis yang diterima oleh masyarakat berlaku selama satu tahun dan dapat diperpanjang setelah hasil evaluasi tim IMS. Dengan fasilitas kartu berobat gratis yang diberikan oleh IMS, mayarakat dapat memanfaatkan fasilitas berobat di klinik IMS.

Acara peresmian klinik sekaligus cabang IMS Bogor ini dihadiri oleh beberapa pimpinan lembaga dan tokoh masyarakat. Kegiatan terasa sangat istimewa karena pada peresmiannya, IMS kedatangan Pimpinan Umum Ormas Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad dan beberapa tokoh Hidayatullah lainnya.

Selain itu hadir pula  Direktur Utama IMS Drg. Fathul Adhim, Direktur Pusat Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Drs Wahyu Rahman serta para tokoh  masyarakat di wilayah cabang IMS Bojong Kulur Bogor.

“Semoga dengan pendirian cabang ini masyarakat bisa terbantukan khususnya masyarakat tidak mampu yang berada di Desa Bojong Kulur ini dan IMS bisa terus tumbuh diberbagai daerah menjadi sebuah lembaga kemanusiaan yang menolong orang banyak,” kata Direktur Utama IMS, Fathul Adhim saat memberi sambutan.

IMS mengajak semua pihak baik instansi maupun perorangan untuk berkerjasama dalam membantu masyarakat tidak mampu khusunya di bidang kesehatan dengan pendirian klinik, rumah sakit dan kegiatan mobile lainnya di berbagai wilayah. (rp/hio)

Kitab Almarhum KH Sahal Dikaji Ulama Timur Tengah

0
Mantan Ketum MUI Almarhum KH Sahal Mahfudz
Mantan Ketum MUI Almarhum KH Sahal Mahfudz

Hidayatullah.or.id — Kiai Sahal Mahfudh, salah seorang ulama kharismatik yang dimiliki Indonesia tidak hanya kesohor di dalam negeri. Di Timur Tengah, wilayah para nabi yang memiliki banyak ulama, nama Rais Am PBNU KHM Ahmad Sahal Mahfudh itu juga tidak asing.

Pria yang karib disapa Mbah Sahal ini dikenal lewat karyanya, kitab Thariqathul Hushul ‘ala Ghayatil Wushul. Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab dan dicetak pertama oleh penerbit Dianatama Surabaya pada tahun 2000/1421 H.

Sebagai ulama yang mendalami ilmu tentang hukum Islam, kitab tersebut berisi 460 halaman yang mengupas ilmu Ushul Fiqih. Mbah Sahal menguraikan kitab Ghayatul Wushul karya Syekh Abu Zakaria Al-Anshari.

Ketua Pengelola Perpustakaan PBNU, Syatiri Ahmad kepada NU Online mengatakan kitab karya Mbah Sahal menjadi sumber referensi utama di salah satu universitas di Timur Tengah.
“Selain patut diapresiasi, perihal ini juga dapat mendorong para kiai di Indonesia untuk lebih produktif dalam menulis kitab,” tambah Syatiri dikutip NU Online.

Masih dengan sumber NU Online, Biro Kerja Sama Beasiswa Timur Tengah PBNU, Ahmad Ridho mengatakan kitab Mbah Sahal ini dikaji di Universitas Jamiatul Quranul Karim, Sudan.

Meski menjadi bahan kajian di Sudan, namun kitab karya Mbah Sahal kurang begitu dikenal di Indonesia. Hanya beberapa pesantren yang mengkajinya, seperti Pesantren Benda Brebes.

Menurut Syatiri, tidak dikenalnya kitab kuning tersebut karena keterbatasan jumlah cetak kitab. Selain itu, kurangnya sosialisasi dari pihak penerbit dan ketertutupan pesantren di Indonesia dalam menerima karya-karya ulama Nusantara.

Seperti diberitakan, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Mohammad Ahmad Sahal Mahfudz, meninggal dunia pukul 01.05 WIB dini hari tadi, Jumat 24 Januari 2014 lalu. KH Sahal wafat dalam usia 78 tahun.

Sekjen PP Hidayatullah Ir Abu A’la Abdullah dalam keterangan persnya, mengatakan almarhum Kiai Sahal adalah sosok ulama panutan umat yang bersahaja, tegas namun tetap santun, serta mewarisi gaya kepemimpinan yang kharismatik.

“Kita selalu merindukan ulama bersahaja seperti beliau,” tandasnya. (nu/hio)

KPK Sindir Muslim dan Ustadz Rajin Shalat tapi Tetap Korupsi dan Lalaikan Anak Yatim

0
Koruptor / IST
Koruptor / IST

Hidayatullah.or.id — Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas menyatakan bahwa kebanyakan koruptor di Indonesia beragama Islam. Ia menyindir orang-orang yang beribadah, namun masih tetap melakukan korupsi.

“Banyak koruptor di Indonesia dari kalangan Islam. Karena Islam menjadi mayoritas,” kata Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas dikutip Republika, belum lama ini.

Busyro menyindir orang-orang yang beribadah seperti shalat namun tetap melakukan korupsi. Padahal, ketika sedang shalat itu, mereka telah diancam oleh tuhan.

Misalnya, ia mencontohkan, ada ayat dari surat pendek yang dibaca ketika shalat, yaitu ‘fawailul lil musholin’ atau maka celakalah bagi orang yang tidak shalat. Yaitu, orang yang lalai dari shalatnya.

Mereka lalai telah mendustakan agama dengan melalaikan anak yatim dan orang miskin. Anak yatim dan orang miskin itu merupakan simbol kelompok lemah, kata Busyro mengutip Alquran, surat Al Maun.

Menurut Busyro, berdasarkan penjelasan ayat itu, ada orang yang shalat namun tidak berpihak pada anak yatim dan orang miskin. Sikap mereka itu sudah diancam Allah SWT.

“Nah ini sekarang malah ada orang yang shalat namun korupsi, menjarah, mencuri. Ini lebih fatal. Shalat yang dikerjakan orang seperti itu tidak memiliki efek sosial,” katanya.

Busyro Muqoddas juga mengaku heran dengan seorang yang dipanggil ustadz tapi pribadinya tidak mencerminkan sebagai seorang ustadz. Sehingga, panggilan ustadz mengalami penurunan makna.

Padahal, seorang ustadz adalah orang yang memiliki pengetahuan tinggi dan akhlak baik. Kenyataannya, banyak orang dipanggil ustaz namun tidak mencerminkan akhlaknya seperti ustadz. Dalam bahasa Indonesia, ustadz definisinya berarti guru agama.

“Contoh saja itu beberapa orang yang disebut ustadz, (Muqoddas menyebut nama seorang pentolan partai yang kini ditahan KPK), siapa lagi, Fathanah?” ujar Busyro saat menghadiri seminar anti korupsi di Yogyakarta, hari ini.

Busyro mengatakan, ia tidak mau dipanggil ustadz oleh teman-temannya. Karena seorang ustadz punya tanggung jawab besar terhadap agama. Suatu hari, Busyro pernah dipanggil ustadz oleh beberapa anggota DPR, tapi ia menolaknya.

“Saya sampai enggak mau dipanggil ustadz, soalnya di Jakarta itu kadang-kadang sebutan ustadz itu untuk melecehkan,” ungkapnya.

Sebagai contoh, dalam beberapa sadapan KPK, Busyro kerap mendengar sandi-sandi yang menggunakan sebutan ustadz dalam pembagian jatah hasil korupsi.

“Lima persen jangan diganggu, itu buat ustadz, yang lima persen lagi buat pesantren,” seloroh Busyro. (rep/wpc/hio)

Walikota Depok Serukan Tegakkan Peradaban Islam dengan Akhlak Mulia

Walikota Depok Nurmahmudi Ismail membuka acara training Posdai
Walikota Depok Nurmahmudi Ismail membuka acara training Posdai

Hidayatullah.or.id — Persaudaraan Dai Nusantara (POSDAI) Hidayatullah menggelar kegiatan pelatihan kepemimpinan dan motivasi untuk pemuda-pemudi se-Jabodetabek selama 2 hari di Gedung Pusdiklat Komplek Ponpes Hidayatullah Depok, Sabtu-Ahad (25-26/01/2014).

Kegiatan ini dihadiri oleh puluhan pemuda dari unsur remaja masjid dan mahasiswa dari di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Acara yang bertajuk “Meraih Bahagia Hakiki” ini menghadirkan trainer andal dari tim Super Live Revolution (SLR) sehingga membuat peserta tampak mengikuti acara dengan seksama.

Sementara itu, Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail yang hadir membuka acara ini, berpesan kepada peserta untuk membangun peradaban Islam pertama-tama dengan akhlak mulia.

Untuk membangun peradaban Islam, kata dia, harus diidentifikasi berbagai unsur, problema, serta tantangan yang dihadapi. Ketiga hal ini berlaku bagi umat Islam di Indonesia, di antaranya terkait masalah kejujuran. Misalnya budaya menyontek yang masih subur di dunia pendidikan.

Menurut Nur Mahmudi, membicarakan masalah jujur itu penting. Namun, mengaplikasikan kejujuran dalam keseharian itu tidak mudah. Ambil contoh saat ujian di sekolah atau perguruan tinggi (PT), selalu ada peserta didik yang menyontek.

“Mengimplementasikan akan sekolahan kita tidak akan ada satu pun murid yang tidak nyontek, untuk mewujudkan di tempat perkuliahan kita tidak ada satu pun mahasiswa yang tidak nyontek, (itu) tidak gampang,” ujarnya di depan 40-an mahasiswa-mahasiswi dari berbagai PT se-Jabodebek.

Di tengah penyampaiannya pada acara gelaran Pos Dai Hidayatullah itu, Nur Mahmudi bertanya kepada sebagian peserta, apakah di PT mereka ada mahasiswa yang menyontek? Semua yang ditanya mengiyakan.

Nur Mahmudi mengatakan, Islam membangun dan mewarnai peradaban dunia hingga sekitar tahun 1900. Setelah itu, perlahan-lahan mengalami penurunan dalam berbagai aspek. Kini saatnya umat Islam khususnya di Indonesia berkompetensi membangun kembali tatanan peradaban yang benar.

Berbagai unsur dalam peradaban saat ini lebih banyak diperbincangkan. Namun, menurutnya, letak problemnya bagaimana menarik masyarakat untuk mengamalkan hal itu.

Inilah yang menjadi tantangan, lanjutnya, apakah kaum Muslimin di Indonesia ini juga akan menjadi salah satu pionir pembangunan peradaban. (Skr aljihad)

Anggota Hidayatullah Harus Aktif Ajarkan Grand MBA

Hidayatullah.or.id — Instruktur Program Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) Pusat, Ustadz Muhdi Muhammad mengatakan jamaah dan kader Hidayatullah harus belajar metode Grand MBA dan mengajarkannya kepada masyarakat.

“Ini harus, karena orang Hidayatullah yang tidak mengajar ngaji berarti bukan kader. Pengkaderan yang dilalui santri mulai fase yatim (berasrama) sampai berkhadijah (menikah) akan percuma kalau dia tidak bisa ngaji dan mengajarkan,” kata Ustadz Muhdi kepada media ini beberapa waktu lalu.

Kader Hidayatullah harus bisa mengaji dan mengajarkannya. Sebab, tegas Muhdi, itulah tujuan utama pola kaderisasi Hidayatullah dilakukan yakni bagaimana mendakwahkan Al Qur’an kepada segenap manusia.

Muhdi menjelaskan, Grand MBA adalah sistem atau metode pembelajaran Al Qur’an yang mengajak kaum Muslimin untuk lebih akrab dengan Qur’an dan lebih merasakan nikmat mempelajarinya.

Ada 3 (tiga) paket utama yang ditawarkan Grand MBA. Pertama, paket cara cepat membaca Al Qur’an metode 8 jam. Paket pertama ini diperuntukkan bagi masyarakat yang sama sekali belum mengenal huruf Arab. Paket ini dapat diselesaikan dalam 8 kali pertemuan dengan durasi setiap pertemuan 1 jam.

Paket kedua, bimbingan tahsin dan tadwid. Paket ini merupakan kelanjutan dari paket baca atau dapat juga diikuti oleh mereka yang sudah bisa membaca Al Qur’an, namun masih memiliki kesulitan dalam melafadzkan huruf huruf hijaiyah. Paket ini juga disarankan bagi mereka yang masih kesulitan dalam menerapkan kaidah kaidah tajwid mengingat huruf huruf hijaiyah memiliki karakteristik pengucapan yang sama sekali berbeda dengan huruf huruf Indonesia.
Paket ketiga, adalah paket terjemah. Pada paket ini peserta diantar untuk menggali pemahaman yang dalam tentang al Qur’an. Setiap kata diuraikan dari makna dan tata bahasanya. Paket ini tidak hanya membahas al Qur’an dari sisi tata bahasanya saja namun juga dilengkapi dengan pembahasan tafsir dan tadabbur.

“Semua kader harus mempelajari ini dan mulai mengajarkan kepada masyarakat yang membutuhkan melalui Majelis Taklim Hidayatullah yang dibuka bekerjsama dengan masjid-masjid atau mushallah di setiap wilayah,” pungkasnya.(ybh/hio)